Wednesday, June 10, 2015

Kepanikan Iran dan Kroco-kroconya menghadapi Tindakan Keras Islam dan Arab !

Presiden Iran: ”Kami Akan Mendukung Assad Sampai Titik Akhir”

10.000 orang Iraq, antara lima dan tujuh ribu petempur Syiah Hizbullah-Libanon sudah berada di Suriah sejak pertama kali dimulainya konflik
Pemerintah Iran berjanji Iran telah berjanji untuk membela rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad “sampai titik akhir”, untuk menunjukkan dukungan dalam menghadapi kemunduran yang signifikan di medan perang.

Tentara Suriah menghadapi tekanan kuat dalam menghadapi para milisi-milisi pejuang pembebasan dalam perang selama empat tahun terakhir.
Akibatnya, kini rezim Assad sangat bergantung pada dukungan Iran untuk mengisi kesenjangan keuangan dan tenaga kerja akibat kehilangan sebagai kehilangan wilayah dan dukungan.
“Iran akan tetap berada di sisi Suriah dan pemerintahnya sampai akhir perjuangan,” demikian disampaikan Presiden Iran, Hassan Rouhani sebagaimana dikutip media Iran, IRNA belum lama ini.
“Teheran tidak akan melupakan kewajiban moral kepada Suriah dan akan terus memberi bantuan dan dukungannya tanpa batas kepada pemerintah dan bangsa Suriah,” ucap Rouhani dalam pidatonya hari Selasa dalam pertemuan dengan Ketua Parlemen Suriah Mohammad al-Lahham di Teheran. Dia mengatakan Teheran tidak melupakan nya “kewajiban moral” untuk membantu rezim Suriah, demikian ujar Rouhani dilansir Reuters.
Dikutip media Iran, IRIB News, hari Senin (01/06/2015) Ali Larijani, Ketua Parlemen Iran dan Mohammad Al-Laham, memimpin delegasi parlemen dua negara dalam perundingan. Ketua Parlemen Suriah bersama rombongan tiba pekan ini di Tehran.
Selain bertemu dengan Ketua Parlemen Iran, rencanaya Mohammad Al Laham juga dijadwalkan akan menemui beberapa petinggi Iran lainnya.
Kunjungan al-Laham adalah kunjungan terbaru dalam serangkaian kunjungan tingkat tinggi antara Damaskus dan Teheran, mencerminkan koordinasi yang erat adanya tekanan kuat pada Assad.
Pernyataan Rouhani datang sehari setelah Qassem Soleimani, Komandan Pasukan elit Quds-Iran, berjanji bila masyarakat internasional akan “terkejut” oleh perkembangan wilayah Suriah dalam beberapa hari mendatang. Soleimani baru-baru ini melakukan tur wilayah utara Latakia, jantung pesisir sekte Syiah Alawi.
Kekuatan Syiah Iran telah didukung Bashar al Assad dan ayahnya sejak jauh sebelum pemberontakan pada tahun 2011, yang belangan berkembang menjadi perang panjang setelah pasukan pemerintah rezim membantai rakyatnya sendiri akibat menginginkan perubahan.
Ayah Bashar, Haffez al-Assad berpihak kepada Iran dalam “Perang Iran Iraq” (1980-1988).

Mohsen Rafiqdust, mantan menteri Pasdaran (Korps Pengawal Revolusi Iran) di era perang melawan Saddam Hussein, kepada Fars News pernah mengungkapkan alsan dukungan Iran kepada pemerintah Suriah.

Menurutnya, Suriah termasuk di antara segelintir negara yang berada di samping Iran dan memberikan bantuan terbanyak dari sektor militer di era Hafez Assad (Ayah Bashar al-Assad).
“Ketika Iran saat itu memiliki sedikit pengalaman, Suriah memberikan bantuan pelatihan satuan rudal dan roket Pasdaran dan juga memberikan bantuan persenjataan, pada era Perang Pertahanan Suci melawan rezim Saddam,” katanya.
Phillip Smyth, seorang peneliti di University of Maryland yang juga dikenal ahli Syiah mengatakan, sekitar 10.000 orang Iraq, antara lima dan tujuh ribu adalah petempur Syiah Hizbullah-Libanon sudah berada di Suriah sejak pertama kali dimulainya konflik.
Iran juga menawarkan ribuan dolar untuk tentara bayaran Syiah asal Afghanistan dan Pakistan untuk bisa bergabung melawan milisi pejuang pembebasan.
http://www.eramuslim.com/berita/naim-qassem-allah-menugaskan-hizbullah-untuk-melawan-sunni.htm#.VXcXYM-qqkp

Tokoh Syiah Na’im Qassem: “Allah Menugaskan Hezbolah Untuk Melawan Sunni”

Wakil Sekretaris Jenderal syiah Hezbollah Lebanon, Naim Qassem menyatakan bahwa Allah telah menugaskan partainya untuk melawan yang ia sebut sebagai “kelompok-kelompok takfiri” yang merupakan bagian dari “proyek Israel Amerika,” katanya

Dalam pidatonya saat acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Iran di Lebanon di Istana UNESCO di Beirut, Kamis, untuk memperingati 21 tahun Khomeini, Qassem mengatakan bahwa apa yang dia sebut sebagai “kelompok-kelompok takfiri” mereka adalah “proyek AS-Israel”, yang bertujuan untuk “merusak citra Islam dan memecah daerah dan melakukan perlawanan, “menurut pendapatnya.

Pemimpin Syiah tersebut, dimana kelompoknya (hizbullah) ikut terlibat secara teebuka dalam pertempuran Suriah, mengisyaratkan bahwa maksud kata “kafir” adalah kelompok oposisi Sunni dan para “pemberontak” terhadap rezim syiah Assad dan hegemoni Iran di negara itu, yang dihadapi “hizbullah” di sejumlah kota Suriah.
Qasim mengatakan bahwa ketika “hizbullah” menghadapi ” takfiri”, kita menghadapi bagian dari terorisme Israel.” Dia mengatakan: “. Kami akan membalas dendam dan Allah akan membalas kemudian, dan Dia telah menugaskan kami untuk membalas mereka.”


Analisa : Rezim Assad Diambang Kehancuran

Semakin banyak pemerhati dunia Arab dan Barat yang percaya bahwa tanda tanda runtuhnya rezim Presiden Bashar al Assad semakin nyata, mengingat kekalahan rezim di Hama dan propinsi Idlib, dimana Jisr al Shughur, kota terakhir di wilayah tersebut baru saja direbut para pejuang.
Capaian terbaru para pejuang, khususnya oleh al Qaeda yg berafiliasi dgn front Al Nusra, adalah bagian dari”Operation Syria Liberation Storm”.
Para pejuang juga mencapai kemenangan yang signifikan di wilayah pertempuran dekat kota Qardaha, yang merupakan kota kunci Alawite di propinsi Latakia, yang merupakan basis wilayah Assad.
Para pengamat berpendapat kekalahan pasukan Assad mewakili perubahan strategis di Timur Tengah, karena kemenangan pejuang di propinsi Latakia dipengaruhi kekuatan militer.
Para pengamat mengatakan kepada Al Arab bahwa Latakia akan menjadi target utama berikutnya dalam gerakan oposisi menggulingkan diktator Suriah.
Jisr al Shughur adalah wilayah penting dan strategis karena lokasinya antara Latakia dan Aleppo. Juga dikarenakan lokasinya yang dekat dengan perbatasan Turki, dimana menjadi jalur transportasi para pejuang dan perlengkapan persenjataan.
Adanya Gerakan baru di wilayah Utara Suriah ditujukan untuk menciptakan keseimbangan baru di wilayah tersebut yang akan berakibat melemahkan rezim Suriah dan memaksa mereka duduk di meja perundingan.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa tujuan strategis dari gerakan ini adalah menghancurkan “jembatan” Iran yang menghubungkan antara Baghdad ke Beirut melalui Suriah.
Robert Ford, mantan duta besar Amerika untuk Suriah, menulis dalam sebuah analisis untuk Middle East Institute, menyatakan bahwa meskipun Assad terus mendapat bantuan dari Iran dan Rusia, perkembangan terbaru di Suriah menunjukkan awal berakhirnya rezim Assad.
Ford menunjukkan adanya perpecahan internal dalam lingkaran rezim, dengan adanya laporan kematian (penghilangan) mantan personil keamanan senior Rostam Ghazaleh, Rafiq Shehadeh dan Hafiz Makhluf, sepupu Assad. Mereka semua dilaporkan telah menghilang enam bulan terakhir.
Ford mengamati bahwa ada perpecahan yang sangat jelas dalam rezim Assad selama tiga setengah tahun pertama meletusnya revolusi.
Rezim Suriah telah mulai menunjukkan keinginan untuk menghadiri negosiasi yang difasilitasi oleh Rusia, tidak seperti penolakan yang mereka lakukan pada perundingan di Jenewa tahun lalu. Langkah ini menunjukkan Assad sudah tidak lagi sekuat dulu.
Sumber : TheTower


Serangan yang dilakukan Arab Saudi dan sekutunya di Yaman nampaknya tidak akan berakhir segera. Ini terlihat dari pernyataan pemimpin Saudi Raja Salman yang menegaskan serangan di Yaman akan terus berlanjut.
Berbicara saat menghadiri pertemuan ke-46 Liga Arab, Salman menyatakan serangan itu akan terus berlanjut hingga kelompok pemberontak Houthi berhasil dikalahkan dan stabilitas kembali menyelimuti Yaman.
"Kampanye akan terus berlajut sampai kita berhasil mencapai tujuan yang kita inginkan, yakni keamanan dan stabilitas bagi warga Yaman," ucap Salman dalam pernyataanya saat membuka pertemuan tersebut, seperti dilansir Al Arabiya pada Sabtu (28/3/2015).
Saudi sendiri merupakan negara terdepan yang melakukan serangan terhadap Yaman. Hari ini saja, negara kaya minyak kembali menerjukan empat pesawat tempur mereka untuk menggembur basis-basis Houthi di seluruh Yaman.
Selain mengirimkan jet-jet tempur, Saudi juga dikabarkan telah mengirimkan kapal-kapal tempur mereka ke perairan di sekitar Yaman. Ini membuat Houthi terkepung dari berbagai sudut, terlebih Saudi juga berencana untuk mengirimkan pasukan darat ke Yaman.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/982511/44/raja-saudi-serangan-ke-yaman-terus-berlanjut-1427548009