Monday, October 5, 2015

Seruan Jihad Ulama Saudi Lawan Rusia, Pelindung Syiah !! ( Medan Jihad Afganistan 2 Segera Dimulai ! )

Irak-suriahNegara-negara Teluk Merencanakan Operasi Militer atas Meningkatnya Pertaruhan Putin di Suriah
Puluhan Akademisi dan Ulama Saudi Serukan Jihad Lawan Rusia, Pelindung Syiah

Senin, 22 Zulhijjah 1436 H / 5 Oktober 2015 16:30 WIB
Rusia telah sungguh-sungguh menyatakan diri sebagai pelindung Syiah, sebuah agama yang meniru-niru Islam yang diciptakan oleh seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba, guna menghancurkan Islam itu sendiri. Di Suriah, tatkala rakyat Suriah mengangkat senjata hendak menggulingkan tiran Assad yang beragama Syiah, Iran dengan aktif mendukung Assad. Dan kini Rusia juga mendukug Assad. Komunis telah bergandengan tangan dengan Syiah untuk memerangi Islam. Komunis diciptakan oleh Marx, Yahudi dari Trier. Dengan demikian, baik Komunis maupun Syiah sama-sama lahir dari rahim kaum Yahudi.
Sebab itu, sebanyak 52 akademisi dan ulama Saudi meminta warga Arab dan Dunia Islam untuk berjihad ke Suriah memerangi pasukan Rusia yang membela rezim syiah Bashar al-Assad. Mereka menyeru umat yang merasa mampu, termasuk di luar Saudi untuk memenuhi panggilan jihad.
Seperti dikutip Al-Arabiya, Senin (5/10), sejumlah pengamat menilai, seruan itu akan berdampak ke Saudi, Negara Teluk, dan pemuda Muslim melawan pasukan Rusia. Hal ini pun mengingatkan pertempuran antara Afghanistan dan Uni Soviet.
Mereka juga mendesak agar oposisi Suriah menyatukan barisan dan meminta yang mampu untuk bertempur dan tidak meninggalkan negara itu.(ts)


Berita Suriah Terkini 2015. Kondisi Terbaru Suriah 2015: Surat kabar Inggris The Observer mengatakan bahwa negara-negara Teluk sedang berencana menyiapkan operasi militer untuk membalas intervensi militer yang dilakukan Rusia dalam perang Suriah.
Surat kabar itu menunjukkan dalam sebuah laporan pada hari Minggu bahwa Rusia yang menjadikan faksi perlawanan sebagi target serangannya membuat marah negara-negara Teluk yang selama ini berusaha menggulingkan rezim Bashar al-Assad, beberapa pengamat menyatakan bahwa Arab Saudi, Qatar dan Turki cenderung meningkatkan dukungan militer terhadap faksi perlawanan menghadapi rezim Bashar.
Riyadh dan fokus dukungannya pada pejuang di selatan, sementara sekutunya Qatar dan Turki berfokus pada dukungan bagi para pejuang di utara Suriah, termasuk di dalamnya terdapat batalyon Islam seperti Ahrar al-Sham.
Seorang pengamat, Ali Bakir, mengatakan kemungkinan ke depannya segala upaya akan terfokus pada peningkatan efektivitas koalisi besar, dan koordinasi serta kerjasama antar faksi perlawanan yang paling berpengaruh dalam pertempuran di dalam wilayah Suriah
Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/the-observer-negara-teluk-siapkan-serangan-balasan-terhadap-rusia.htm#.VhHTzia0tDQ

Negara-negara Teluk Merencanakan Operasi Militer atas Meningkatnya Pertaruhan Putin di Suriah

Posted on October 5, 2015 by tabayyunnews
NEGARA-NEGARA TELUK MERENCANAKAN OPERASI MILITER ATAS MENINGKATNYA PERTARUHAN PUTIN DI SURIAH
Pemboman Rusia atas posisi pejuang oposisi dan warga sipil di Suriah telah membangkitkan amarah negara-negara di wilayah teluk yang selama ini berusaha menggulingkan Bashar al Assad. Analis mengatakan Arab Saudi, Qatar dan Turki sekarang semakin meningkatkan bantuan militer kepada kelompok anti-Assad yang mereka dukung.
Jet tempur Rusia diluncurkan dari pangkalan udara baru di Suriah telah membuat para kritikus Barat mulai menonaktifkan tuntutan mereka untuk menggulingkan Bashar al-Assad, tetapi kelompok lawan-lawannya yang lain melihat intervensi Moskow sebagai tindakan provokatif..
Kekuatan regional di Teluk secara diam-diam, tapi efektif, menyalurkan dana, senjata dan dukungan lainnya kepada kelompok-kelompok pejuang Suriah yang berhasil membuat terobosan terbesar melawan rezim Damaskus. Dalam melakukannya, mereka menginvestasikan dana besar dalam konflik yang mereka lihat sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan pengaruh di wilayah Teluk atas serangan dan perang proksi Iran.
Dalam seminggu terakhir ketika Rusia melakukan serangan puluhan bom, negara-negara Teluk telah menyatakan dengan jelas bahwa mereka tetap berkomitmen untuk menghapus Assad saat Moskow berusaha mempertahankannya.
“Tidak ada masa depan bagi Assad di Suriah,” Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir memperingatkan, beberapa jam sebelum pemboman pertama Rusia dimulai. Jika itu tidak belum cukup, ia menambahkan bahwa jika Assad tidak mengundurkan diri sebagai bagian dari transisi politik, negaranya akan menjalankan opsi militer, “yang juga akan berakhir dengan penghapusan Bashar al-Assad dari kekuasaan”.

Setidaknya 39 warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan bom pertama Rusia, prospek eskalasi antara pendukung Assad dan lawan-lawannya akan menambah lebih banyak penderitaan bagi rakyat Suriah.

“Intervensi Rusia adalah ancaman bagi negara-negara pendukung oposisi, khususnya – Qatar, Arab Saudi dan Turki – dan kemungkinan untuk memberikan respon yang kuat dalam hal kontra-eskalasi,” kata Julien Barnes-Dacey, anggota senior di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa
Sejak perang Suriah berlangsung, Arab Saudi telah jelas menyatakan posisinya, kata analis. “Sejak awal revolusi di Suriah, pandangan Riyadh sangat jelas bahwa Bashar al-Assad harus mundur. Tidak ada indikasi Riyadh akan mengubah posisi ini, “kata Mohammed Alyahya, pengamat ahli dari Pusat Penelitian dan Studi Islam King Faisal di Riyadh.
“Yang jelas untuk Riyadh dan sekutu regionalnya, eskalasi Rusia dan Iran baru-baru ini hanya akan membuat Suriah semakin tidak stabil dan menumpahkan lebih banyak darah,” katanya.
Riyadh telah mefokuskan dukungan pada pejuang di selatan, kata analis, sementara sekutunya Turki dan Qatar dilaporkan mendukung pejuang di utara, termasuk milisi Islam konservatif seperti Ahrar al Sham.
Kelompok itu, dalam aliansi dengan afiliasi al-Qaida Jabhat al Nusra, baru-baru ini mencapai kesepakatan gencatan senjata lokal dengan Assad di utara. Keberhasilannya dalam menekan pasukan rezim diperkirakan telah menjadi salah satu pemicu untuk kampanye pemboman Rusia dan menempatkan mereka sebagai target utama.
“Kemungkinan besar, upaya mendatang akan fokus pada meningkatkan efektivitas koalisi besar, koordinasi dan kerjasama antara kelompok pejuang paling berpengaruh dan efektif di Suriah,” kata analis daerah Ali Bakeer.
Kekhawatiran bahwa pemerintah rezim Assad bisa runtuh, meninggalkan kekosongan kekuasaan yang berbahaya, telah membujuk sekutu untuk mendukung transisi politik termasuk dukungan untuk pejuang oposisi, tapi kampanye pemboman Rusia merubah perhitungan itu, katanya.
“Ada kerjasama dan koordinasi tingkat tinggi yang sangat intens antara Arab Saudi, Qatar dan Turki. Mereka berdiri pada pihakyang sama di Suriah. ”
Dukungan Turki telah terhambat oleh gejolak dalam negeri, yang sedang mempersiapkan diri untuk mengulangi pemilihan yang kontroversial setelah gencatan senjata dengan kelompok Kurdi gagal. Qatar dan Arab Saudi, bagaimanapun, jelas memiliki dana, koneksi dan kemauan politik untuk menanggapi eskalasi Moskow.
Arab Saudi dan Qatar telah terlibat dalam perang yang mahal dan berdarah di Yaman yang mungkin membatasi sumber daya militer dan keuangan mereka. Barat juga menangguhkan transaksi senjata hi-tech, termasuk rudal anti pesawat dengan Saudi dan Qatar, karena khawatir senjata tersebut akan digunakan untuk melawan mereka.
“Cara terbaik untuk menanggapi intervensi Rusia adalah dengan melibatkan pejuang Suriah dan semakin meningkatkan dukungan sehingga mereka dapat menghadapi eskalasi dan menciptakan keseimbangan di wilayah tersebut,” kata analis Hassan Hassan. “Rusia akan menyadari ada batas untuk apa yang dapat mereka capai di Suriah, dan memodifikasi pendekatan mereka.” Tapi perjuangan regional yang lebih luas antara Arab Saudi dan Iran membuat Riyadh tidak mungkin berpaling, berapapun biaya yang harus dibayar.
The Guardian

RUSIA BAJINGAN, 19 dari 20 Serangan Rusia Menargetkan Rakyat Sipil Penentang Assad

Berita Suriah Terkini 2015. Kondisi Terbaru Suriah 2015: WASHINGTON - Sekretaris Pertahanan Inggris, Michael Fallon mengatakan, mayoritas serangan udara yang dilakukkan oleh Rusia di Suriah ditujukan kepada kelompok pemberontak dan warga sipil.

Fallon mengungkapkan, sejauh ini, hanya satu dari 20 serangan udara yang dilancarkan oleh Rusia yang benar-benar menyasar ke ISIS. "Setiap pagi kami menganalisis serangan yang dilakukan oleh Rusia. Sebagian besar sama sekali tidak mengenai ISIS," kata Fallon, seperti dikutip dari laman Guardian, Sabtu (3/10/2015).

"Bukti yang kami miliki menunjukkan Rusia menjatuhkan bom secara tepat di wilayah sipil, membunuh warga sipil, dan mereka menjatuhkan bom kepada pihak yang berperang melawan Assad," tambahnya.

Menurut Fallon, berdasarkan hal tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin tengah menunjukkan dukungannya kepada Assad. Namun ia membantah jika apa yang dilakukan oleh Putin telah membuat Eropa dan AS terlihat lemah.

"Saya tidak menerima jika ia dikatakan telah mengalahkan kami. Dia justru telah membuat situasi di Suriah semakin rumit. Tapi, bukan berarti kami tidak berdaya," cetusnya.
Sumber: http://international.sindonews.com/read/1050126/42/inggris-hanya-1-dari-20-serangan-rusia-menargetkan-basis-isis-1443862042