Sunday, November 29, 2015

Presiden Turki Tayyib Erdogan: Rusia Jangan Bermain Api Di Suriah, Rezim Assad Dan Sekutunya (Rusia-Iran) Donatur Utama ISIS . Kami Akan Terus Tembak Jatuh Pesawat Asing Yang Langgar Wilayah Udara Turki.

Presiden Turki Tayyib Erdogan: Rusia Jangan Bermain Api di Suriah

Presiden Turki Tayyib Erdogan: Rusia Jangan Bermain Api di Suriah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak tunduk tekanan Presiden Rusia Vladimir Putin, sesudah jatuhnya pesawat jet tempur Rusia, di perbatasan Turki-Suriah. Turki menembak jatuh pesawat jet tempur Rusia, dan kemudian berkembang menjadi ketegangan politik internasional.
Sosok Erdogan sangat kuat. Bukan hanya memiliki legitimasi politik, sesudah Partai AKP menang pemilihan parlemen secara mayoritas mutlak, 1 Nopember lalu. Tapi, pribadi Erdogan sangat kuat dan karismatis, sebagai negarawan yang sangat disegani oleh pemimpin-pemimpin dunia.
Tentu, paling monumental, saat berlangsung pertemuan pertemuan Forum Ekonomi Global di Davos, Swiss, Erdogan dengan sangat jelas, dan berani mengkritik dan mengecam Presiden Israel Shimon Peres, atas invasi Zionis-Israel ke Gaza, dan kemudian meninggalkan pemimpin Zionis, dan dia kembali ke negaranya, tanpa ikut pertemuan Forum Ekonomi Global di Davos.
Sekarang, Erdogan harus menghadapi “Tsar” Vladimir Putin, yang mempunyai pengaruh sangat kuat sebagai pemimpin Rusia, dan pengaruhnya terhadap kecenderungan politik global. Terutama konflik yang sekarang berlangsung di Suriah.
Erdogan sebagai pemimpin Turki berani melawan Putin, dan tidak takut terhadap raksasa Rusia, yang belum lama ini mengirim Rudal S-400 ke Suriah, sesudah insiden penembakan pesawat tempur Rusia.
Erdogan menjadi “magnit ” bagi pemimpin di dunia Islam, yang sekarang ini menghadapi berbagai malapetaka, dan konlfik, perang kawasan yang sudah memporak-porandakan kondisi regional.
Tantangan yang sangat luar biasa, dan sangat membutuhkan pemimpin yang dapat menjadi “katalisator” dan berbagai kepentingan global. Termasuk di negara-negara Sunni yang sekarang menghadapi hegemoni Syiah-Iran, yang terus menggerogoti negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah.
Presiden Turki Tayyib Erdogan memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin, tidak bermain api dengan mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad rezim di Suriah.
Pernyataan Erdogan mewakili kepentingan negara-negara Arab, yang merasa sangat prihatin dengan keterlibatan Rusia, dan dukungannya kepada rezim Syiah Bashar al-Assad. Bahkan, sekarang memasok jenis senjata Rudal S-400, yang sangat modern. Ini akan menjadi ancaman bagi negara di sekelilingnya.
Pernyataan Presiden Erdogan menanggapi pernyataan Presiden Putin yang sebelumnya mengatakan: "Mereka yang menerapkan standar ganda dalam melawan terorisme, sejatinya sedang bermain api”, ujar Putin. Pernyataan Putin membuat Erdogan dan Ankara marah, karena dianggap memiliki standar ganda, dan tidak tegas menghadapi “terorisme” di Suriah.
Sebaliknya, Presiden Erdogan menegaskan bahwa "Mendukung rezim Syiah Assad yang telah membunuh lebih 500.000 penduduk di Suriah dan menerapkan terorisme negara, juga bermain dengan api," tambah Erdogan dalam pidato di provinsi Bayburt timur laut Turki.
Rusia memiliki sikap dan tindakan tidak jelas, dalam konflik di Suriah, dan Erdogan menambahkan bahwa memerangi kelompok oposisi di Suriah dengan dalih memerangi IS/ISIS juga "bermain api". Erdogan mengatakan: "Kami terus terang mendesak Rusia tidak bermain dengan api di Suriah”, tegasnya.
Ketegagan antara Turki dan Rusia ini sangat berahaya bagi keamanan kawasan Timur Tengah. Pada akhirnya, yang terlibat dalam konflik ini, bukan hanya antara Turki – Rusia, tapi sudah melibatkan Organisasi Fakta Pertahan NATO.
Perdana Menteri Turki Ahmed Dovutoglu, bertemud dengan para pemimpin NATO di Brussel, membahas situasi keamanan di Suriah dan Irak, serta insiden penembakan pesawat tempur Rusia, yang jatuh di perbatasan Turki-Suriah.
Para pemimpinn NATO dan Barat mendukung sikap dan tindakan Turki, yang menembak pesawat Turki yang dinilai melanggar kedaulan udara Turki. Akankah konflik antara Turki-Rusia mengancam keamanan global? Wallahu'alam.

Presiden Erdogan: “Kami Akan Terus Tembak Jatuh Pesawat Asing yang Langgar Wilayah Udara Turki

Presiden Erdogan-11-jpeg.image

14 Safar 1437 H / 27 November 2015 19:28
Turki akan terus menembak pesawat asing yang melanggar wilayah udara Turki. Presiden Recep Tayyip Erdogan memperingatkan hal itu di tengah krisis diplomatik yang disebabkan jatuhnya sebuah pesawat perang Rusia, Su-24, setelah ditembak oleh Angkatan Udara Turki.
“Jika pelanggaran lain dari perbatasan udara kami terjadi, kami dapat merespon dengan cara yang sama,” kata Erdogan seperti dikutip Russia Today, Kamis (26/11). “Pesawat itu ditembak jatuh sudah sesuai dengan aturan dengan peringatan sebelumnya,” tegasnya.
Seperti diberitakan, pada Selasa (24/11), pesawat militer F-16 Turki menembak jatuh sebuah pesawat perang Rusia yang tengah melakukan misimya membela rezim Basyar Asad di Suriah. Militer Turki sudah memberi peringatan sebanyak 10 kali, bahwa pesawat tempur Su-24 Rusia itu telah melanggar wilayah udara Turki, tapi tidak digubris.
Tentu saja Rusia membantah pelanggaran itu. Mereka menolak klaim militer Turki yang menyebut telah berulang kali memperingatkan pilot jet Rusia sebelum penembakan itu.
Namun rekaman audio yang dirilis Turki menunjukkan Pusat Komando Angkatan Udara Turki telah memperingatkan bahwa jet tempur Su-24 itu telah mendekati perbatasan.
Peringatan dalam bahasa Inggris itu meminta pesawat tempur Rusia tersebut untuk mengubah arah ke Selatan segera. Peringatan ini dikeluarkan sebanyak 10 kali, tapi jet Rusia itu tetap tak hirau. Karena tak digubris, maka angkatan udara Turki via F-16-nya kemudian menembak jatuh pesawat tempur Su-24 itu. (mus)
Sumber: rt.com

Erdogan: Rezim Assad Dan Sekutunya (Rusia-Iran) Donatur Utama ISIS


Posted by Muslimuna.com on Jumat, November 27, 2015
Presiden Turki, Rajeb Tayyeb Erdogan menantang Rusia untuk memberikan bukti-bukti bahwa Ankara pernah membeli minyak dari Daesh (ISIS). Erdogan juga mengatakan, bahwa Basyar Assad dan para pendukungnya (Rusia-Iran) yang menjadi donator utama dan yang mempersenjatai ISIS. Seperti yang dilansir situs huffpostarabi.com, Kamis (26/11).


"Those accusing Turkey of buying oil from Daesh are liars. Daesh sells oil to Assad, [whom Russia supports]" (Mereka yang menuduh Turki membeli minyak dari Daesh adalah pendusta. Daesh menjual minyak ke Assad, [yang didukung Rusia]) -- Kata Presiden Erdogan yang di livetwitkan @DailySabah. 

Pada saat pertemuan dengan petinggi Ankara, Erdogan menyatakan bahwa Turki senantiasa mewaspadai dan melakukan tindakan preventif untuk menghalangi terjadinya penggelapan minyak yang dilakukan oleh Daesh, di seluruh perbatasan Turki, dan kedisplinan Turki dalam melawan Daesh tidak dapat diragukan lagi.

"Hampir tidak ada satupun negara yang serius dalam memerangi Daesh selain Turki. Dan Turki adalah negara pertama yang melabel Daesh sebagai organisasi teroris pada tahun 2005. Waktu itu Belum lagi bernama ISIS. Dan pada tahun 2013 ketika resmi bernama ISIS barulah ramai-ramai ikut melabelnya sebaga teroris. Dan kami akan terus istiqamah dalam memeranginya," tegas Erdogan.

Erdogan memastikan, "Bahwa mereka-mereka yang mengirim pasukannya ke Syiria dengan alasan melawan ISIS; tujuan mereka yang sesungguhnya adalah membasmi oposisi moderat yang berperang melawan rezim Basyar Assad. Sementara ISIS dibiarkan begitu saja tanpa pernah tersentuh. Semua dapat melihat hal itu secara kasat mata".

Erdogan berjanji akan terus-menerus membantu kelompok-kelompok oposisi moderat dan Suku Turkmen Syiria dalam melawan rezim Basyar.

Pernyataan-pernyataan Erdogan tersebut disampaikan dua hari setelah pesawat tempur Rusia ditembak jatuh oleh Turki karena telah melanggar batas wilayah udara Turki.

Sementara itu Perdana Mentri Rusia, Dmitry Medvedev menginstruksikan kepada pemerintahannya untuk segera melakukan berbagai proses yang mencakupi penghentian sebahagian proyek investasi bersama dengan Turki, sebagai balasan untuk Ankara karena sudah menjatuhkan pesawat tempur Rusia. (Syafruddin Ramly)
Sumber:

Erdogan: Bukan Turki Namanya Bila Meminta Maaf Atas Penembakan Jet Tempur Rusia

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan pada Kamis (26/11/2015) bahwa Ankara tidak akan meminta maaf kepada Moskow atas jatuhnya sebuah pesawat tempur Rusia di perbatasan Suriah, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan sebelumnya bahwa negaranya belum menerima permintaan maaf dari pemimpin Turki.

“Kami tidak perlu meminta maaf, pada kesempatan itu kita benar,” kata Cavusoglu.

Turki tidak akan meminta maaf atas penembakan jatuh jet tempur Rusia yang melanggar wilayah udara Turki dekat perbatasan Suriah, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNN, Kamis (26/11), di Ankara.

“Saya pikir jika ada pihak yang perlu meminta maaf, itu bukan kami,” kata Erdogan.

“Mereka yang melanggar wilayah udara kami adalah yang perlu meminta maaf. Pilot kami dan angkatan bersenjata kami, mereka hanya menjalankan tugas-tugas mereka, yang diantaranya termasuk menanggapi pelanggaran terhadap aturan keterlibatan. Saya rasa ini adalah esensinya.”

Dalam pertemuan dengan para pemimpin masyarakat di Ankara, Erdogan mengatakan, “Jika pelanggaran yang sama terjadi saat ini, Turki harus bereaksi dengan cara yang sama,” lansir CNN.

Turki telah berulang kali mengatakan bahwa pihaknya telah menembak jatuh pesawat perang Rusia pada Selasa hanya setelah pesawat itu mengabaikan beberapa peringatan dan memasuki wilayah udara Turki.
Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/menlu-turki-kita-benar-turki-tidak-akan-minta-maaf-pada-rusia.htm

Mujahidin Chechnya Nyatakan Siap Menunggu Komando Erdogan Untuk Hadapi Rusia


Dilansir Shehab News Agency, para pejuang/mujahidin Chechnya mengumumkan pada Kamis (26/11) kemarin bahwa mereka mendukung Turki dan sedang menunggu perintah dari Pemimpin Ummat Islam, Recep Tayyip Erdogan untuk 'bertindak' menyusul ketegangan antara pemerintah Turki dan Rusia pasca ditembak jatuh jet tempur Su-24 Rusia oleh Turki.


Pejuang Chechnya sebut Erdogan sebagai pemimpinnya umat Islam.

المجاهدون الشيشان: ننتظر أمرا من قائد المسلمين أردوغان



Mujahidin Chechnya: Kami Menunggu Perintah Dari Pemimpin Muslimin Erdogan

Pernyataan tegas Mujahidin Chechnya ini disampaikan menanggapi statemen Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov pada hari Selasa sebelumnya yang menyatakan, "tidak diragukan lagi bahwa Turki akan menyesal panjang atas tindakannya itu, harusnya pengkhianatan seperti ini tidak dilakukan oleh orang-orang yang pada setiap kesempatan berbicara tentang persahabatan dan kerjasama". 

Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov merupakan sekutu Rusia, dia sangat loyal dengan Putin. Sebelumnya, saat Presiden Rusia Vladimir Putin mulai mengerahkan jet-jet tempurnya ke Suriah untuk menyokong rezim Assad, Kadyrov juga menyatakan siap mengirimkan pasukan Chechnya ke Suriah membantu misi Putin. (Baca: Ramzan Kadyrov Meminta Ijin Putin Untuk Mengirim Pasukan Chechnya ke Suriah)

Para pejuang Chechnya yang selama ini bertempur melawan pasukan Rusia menyatakan pernyataan Kadyrov ini hanya untuk menjilat, "Kadyrov membuat pernyataan tersebut bertujuan untuk menjilat Presiden Putin belaka. Oleh karena itu kami siap menunggu perintah apapun dari Erdogan, Sang Pemimpin Bangsa-Bangsa Muslim."




Thursday, November 26, 2015 18:49 WIB
Perdana Menteri (PM) Turki, Ahmet Dayutoglu mengaku bahwa dialah yang memerintahkan militer Turki untuk menembak jatuh pesawat jet pembom (bomber) Su-24 Rusia. Pengakuan PM Turki itu disampaikan kepada media Kanada, ThinkPol.


Dalam insiden yang menghancurkan pesawat jet pembom itu, salah satu pilot Rusia tewas. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, tetap menyalahkan Rusia yang dia anggap melanggar wilayah udara Turki, meski Rusia dengan data radar telah menyangkal tuduhan itu, terlebih faktanya pesawat jet itu jatuhnya di wilayah Suriah, bukan Turki.

”Kami tidak ingin situasi ini terjadi, tapi semua orang harus menghormati hak Turki untuk membela perbatasannya," katan Erdogan kepada wartawan.”Tindakan militer sepenuhnya sejalan dengan aturan Turki.”

Banyak klaim Turki terkait alasan penembakan pesawat tempur Rusia itu telah dipertanyakan. Di saat muncul banyak keraguan, PM Davutoglu tiba-tiba mengklaim bertanggung jawab atas penembakan pesawat jet pembom Su-24 Rusia yang dia sebut sebagai kecelakaan.

”Meskipun semua peringatan (diberikan), kami harus menghancurkan pesawat,” katanya dalam pertemuan partai politiknya. “Angkatan Bersenjata Turki melakukanna atas perintah saya pribadi,” aku PM Turki itu.

Turki sebelumnya mengklaim telah memberikan peringatan selama lima menit kepada pilot tempur Rusia agar menjauh dari perbtasan Turki sebelum akhirnya pesawat tempur F-16 Turki menembak pesawat jet pembom Rusia itu. Tapi, salah satu pilot pesawat Su-24 yang masih hidup menyangkal klaim Turki. Menurutnya, tidak ada peringatan yang diberikan oleh Turki dan tiba-tiba pesawat tempur Rusia ditembak jatuh.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia telah memberikan bukti video yang membuktikan bahwa pesawat jet pembom tidak pernah memasuki wilayah udara Turki. Hal itu bertentangan dengan klaim Ankara yang menuduh bahwa pesawat jet pembom Su-24 Rusia melanggar wilayah udara Turki selama 17 detik.

Pengakuan PM Davutoglu diduga sebagai respons atas pernyataan keras Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, yang menyatakan penembakan pesawat jet pembom Su-24 telah direncanakan.

”Kami memiliki keraguan yang serius bahwa itu tidak disengaja, sepertinya provokasi yang direncanakan," katanya. "Kami tidak berencana untuk mengobarkan perang melawan Turki, sikap kami terhadap orang-orang Turki tidak berubah. Kami memiliki pertanyaan hanya kepada pemimpin Turki.” /*SND
Sumber: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID