Wednesday, December 4, 2019

Kitab Al-Fiqhul Al-Akbar Adalah Kepalsuan Dan Kedustaan Terbesar Atas Nama Imam Asy-Syafi’i. Apa Kata Imam Al-Muzani Asy-Syafi’i (Wafat 264 H) ?



*Imam Al-Muzani Asy-Syafi’i (Wafat 264 H) adalah murid terbaik beliau rahimahullah), yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H).

Aqidah Menyerupai Mulhid Atheis, Mereka Yang Mengatakan Bahwa Dzat Alloh Tidak Bertempat (Ada Tanpa Bertempat).

Baca dengan hati tenang dan fitrah yang bersih.

Telah masyhur bahwa dikatakan Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam PASAL 7 KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR,


“Ketahuilah, Rabb al-Bari tidak bertempat. Dia tidak diliputi oleh ruang dan tidak berlaku pada-Nya waktu/masa, bahwasannya Dia Mahasuci dari batas-batas dan tepian, tidak membutuhkan tempat dan segala sisi.”


Kemudian perkataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah tersebut dijadikan hujjah oleh golongan Asy’ariyah di Indonesia bahkan di seluruh dunia dengan mengatakan bahwa Imam asy-Syafi’i rahimahullah beraqidah Asy’ariyah. Laa Hawla Wala Quwwata Illa Billah.
Pertama, ketahuilah bahwa kitab al-fiqhul al-akbar tersebut adalah kepalsuan dan kedustaan terbesar atas nama imam asy-syafi’i rahimahullah karena kitab al-fiqhul akbar baru pertama kali diterbitkan pada tahun 1318 H / 1900 M Di Mesir Oleh Maktabah Ali Shubaih Kairo jauh setelah Imam asy-Syafi’i wafat pada tahun 204 H / 819 M, dan kitab tersebut tidak dikenal oleh murid-murid dan para pembesar Mazhab Syafi’i karena memang bukan risalah yang ditulis oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah sendiri.

Kemungkinan besar kitab tersebut adalah hasil karangan tangan jahil kaum Asy’ariyah Mu’tazilah sendiri agar mereka dapat mengatakan dan berhujjah bahwa Aqidah Imam asy-Syafi’i rahimahullah atau Aqidah Ahlu Sunnah adalah Aqidah Imam Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah ketika ia masih bermanhaj Mu’tazilah sebelum beliau ruju’ kepada Manhaj Salaf.

Dan sungguh sangat batil pengakuan mereka yang mengatakan bahwa Imam asy-Syafi’i rahimahullah beraqidah Asy’ariyyah Mu’tazilah karena imam asy-syafi’i rahimahullah wafat tahun 204 h sedangkan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari Rahimahullah Baru Lahir Pada Tahun 260 H.

Bagaimana Mungkin Orang Yang Telah Wafat Mengikuti Aqidah Orang Yang Belum Dilahirkan ?

Kedua, Ketahuilah ! Aqidah Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang sesungguhnya adalah mengimani, menetapkan dan membenarkan bahwa Allah Istiwa’ di atas Arsy-Nya dengan membiarkannya (mengimani) seperti apa adanya tanpa ditakwilkan dengan akal logika, tanpa takyif (menanyakan bagaimana), tanpa tahrif (penyimpangan), tanpa tasybih (penyerupaan), tanpa ta’thil (penolakan) dan tanpa tamtsil (persamaan), dan INILAH AQIDAH AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH YANG HAQ.

Imam Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) mengatakan,

“Aqidah yang saya yakini dan diyakini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan Syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwasannya Allah di atas Arsy-Nya yakni di atas langit-Nya.”

- Ibnu Abi Hatim, Kitab Adab Syafi’i wa Manaqibuhu, hlm. 93

Imam Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) mengatakan,

“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya,

“Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Lalu Imam asy Syafi’i rahimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya Allah Berada Di Atas ‘Arsy-Nya Yang Berada Di Atas Langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.”

- Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Kitab Itsbatu Shifatul ‘Uluw hlm 123-124. adz-Dzahabi, Kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghafar, hlm 165., Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Kitab Ijtima’ al Juyusy al-Islamiyyah, hlm. 94. Lihat juga Ibnu Taimiyyah, Majmu Fatawa, IV/181, Aunul Ma’bud, XIII/41, Mukthasar al-Uluw hlm. 176 dan 47, Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbat al Aqidah, hlm. 409

Ketiga, Kalau memang KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR dinisbatkan sebagai tulisan tangan dan risalah yang ditulis oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah sendiri maka Kitab tersebut pasti dikenal, terkenal dan masyur di tengah-tengah murid-murid Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan pastinya mereka lah yang duluan serta pertama kali mengikuti Manhaj Aqidah beliau -rahimahullah-, Namun Pada Kenyataannya Tidak.

Kenapa ?

Sebagai contoh adalah murid terbaik beliau rahimahullah yaitu Imam al-Muzani asy-Syafi’i (wafat 264 H) yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H)

“Al-Muzani ialah pembela mazhabku.”

- Siyar A’lam an-Nubala, XII/493

Imam al-Muzani asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 264 H) mengatakan,

“Asy-Syafi’i rahimahullah berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan hadits (budak wanita) ini karena Keyakinan Beliau (Imam Syafi’i) Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Di Atas Mahluk-Mahluk-Nya, Dan Di Atas Tujuh Langit Di Atas Arsy-Nya Sebagaimana Keyakinan Kaum Muslimin Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.”

- Syarah Syarhus Sunnah Imam al-Muzani, hlm. 66

Imam al-Muzani asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 264 H) mengatakan,

“TINGGI DI ATAS ‘ARSY-NYA, Dia (Allah) dekat pada hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.”

- Syarḥ al-Sunnah lil al-Muzani hlm. 79 no. 1 (tahqiq: Jamal ‘Azzun)

Imam al-Muzani asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 264 H) mengatakan

“Tidak Sah Tauhid seseorang hingga dia mengetahui bahwa ALLAH DI ATAS ARSY dengan sifat-sifat-Nya.”

- Adz-Dzahabi, Kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghafar, I/186

Kemudian mari kita lihat juga salah satu Aqidah murid beliau yaitu Imam Ahmad bn Hanbal -rahimahullah-

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 241 H) pernah ditanya,

“Apa makna firman Allah, ‘Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada ( QS. Al Hadid [57] : 4)”

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya (QS. Al Mujadilah [58] : 7).”

Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut, dalam ( QS. Al Hadid [57] : 4, adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang gaib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun RABB KITA TETAP MENETAP TINGGI DI ATAS ‘ARSY, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.”
.
Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa Al Ghadadiy, beliau berkata, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanyakan,

“Apakah Allah Azza Wa Jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pun menjawab,

“Betul sekali. ALLAH BERADA DI ATAS ‘ARSY-NYA dan setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”

- Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Kitab Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hlm 116. Lihat al-Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, II/674-675

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 241 H) menceritakan dari Ibnu Mubarak rahimahullah (wafat 181 H) ketika ada yang bertanya padanya,

“Bagaimana kami bisa mengetahui Rabb kami?”

Ibnu al- Mubarak rahimahullah menjawab,

“ALLAH DI ATAS LANGIT YANG TUJUH, DI ATAS ‘ARSY-NYA.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah lantas mengatakan,

“Begitu juga keyakinan kami.”

- Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Kitab Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hlm. 118

Dari sini dapat diketahui dan sangat membuktikan bahwa KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi’i rahimahullah adalah KITAB KEPALSUAN DAN KEDUSTAAN BESAR ATAS NAMA IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH.

Keempat, Kalau memang KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR dinisbatkan sebagai tulisan tangan dan risalah yang ditulis oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah sendiri maka Kitab tersebut pasti dikenal, terkenal dan masyur di tengah-tengah para pembesar mazhab beliau -rahimahullah- dan pastinya mereka juga lah yang duluan serta pertama kali mengikuti Manhaj Aqidah beliau -rahimahullah-, NAMUN PADA KENYATAANNYA TIDAK.

KENAPA ?

Mari kita simak Manhaj Aqidah para pembesar Mazhab Syafi’i yang masyhur yang juga sebagai AQIDAH AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH YANG HAQ bukan yang DUSTA DAN PALSU.

Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat 280 H) mengatakan,

“Telah bersepakat kalimat kaum Muslimin dan kafirin bahwa ALLAH DI ATAS LANGIT.”

- Naqdhu Abi Sa’id Mirisi al-Jahmi al-Anid, I/228

Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat 280 H) mengatakan,

“ALLAH TABARAKA WA TA’ALA BERADA DI ATAS ‘ARSY-NYA, DI ATAS LANGIT-LANGIT-NYA, TERPISAH DARI MAKHLUK-NYA. Barangsiapa yang tidak mengetahui hal itu, maka itu berarti ia tidak mengetahui Tuhan yang ia sembah/ibadahi.”

- Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, hal. 39 no. 66

Ibnu Khudzaimah asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 311 H) mengatakan,

“Maka hadist-hadist ini seluruhnya menunjukkan bahwa PENCIPTA BERADA DI ATAS LANGIT YANG TUJUH. Hal ini tidak sebagaimana yang dipersangkakan oleh al-Mu‘aththilah (para penafi/penolak sifat-sifat Allah) bahwasanya sembahan mereka bersama mereka di rumah-rumah mereka.”

- at-Tauḥid, I/273

Ibnu Khudzaimah asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 311 H) mengatakan,

“Kabar ini menjelaskan bahwa Arsy-Nya Rabb kita berada di atas Sruga-Nya dan Dia telah memberitahukan kepada kita bahwa DIA BERSEMAYAM (ISTIWA’) DI ATAS ARSY-NYA. JADI PENCIPTA KITA (ALLAH) BERADA DI ATAS ARSY-NYA YANG TERLETAK DI ATAS SURGA-NYA.”

- at-Tauḥid, I/241. Syarah Hadits Bukhari, Kitab Tauhid, no. 2700. Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbat al Aqidah, hlm. 405

Ibnu Khudzaimah asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 311 H) mengatakan,

“KITA BERIMAN KEPADA KABAR ALLAH JALLA WA ‘ALA BAHWA PENCIPTA KITA BERSEMAYAM (ISTIWA’) DI ATAS ARSY-NYA. Kita tidak mengubah kalam Allah dan tidak mengatakan selain apa yang dikatakan kepada kita. Tidak seperti Kaum Mu’aththilah Jahmiyah yang berkata,
“Sesungguhnya Dia Istaula (berkuasa) atas Arsy-Nya, bukan Istawa (bersemayam).”

- at-Tauḥid, I/231. Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbat al Aqidah, hlm. 406

Ibnu Khudzaimah asy-Syafi'i rahimahullah (wafat 321 H) mengatakan,

"Barangsiapa yang tidak mengakui bahwa ALLAH DI ATAS ARSY-NYA, ISTIWA (BERSEMAYAM) DI ATAS TUJUH LANGIT-NYA, terpisah jauh dengan mahluk-Nya, maka dia kafir, harus dituntut bertaubat. Jika dia bertaubat (maka itulah yg semestinya), jika tidak maka dia dipenggal dan dibuang di tempat sampah agar bau busuknya tidak mengganggu ahli kiblat dan ahli dzimmah."

- Adz Dzahabi, Kitab Mukthasar al-Uluw, hlm. 225

Abu Utsman Ash-Shabuni asy-Syafi’i (wafat 449 H) mengatakan

“Para ulama dan tokoh imam-imam dari kalangan Salaf (Para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) tidak pernah berbeda pendapat bahwa ALLAH AZZA WA JA’ALA BERADA DI ATAS ARSY-NYA DAN ARSY-NYA BERADA DI ATAS TUJUH LAPIS LANGIT. Mereka menetapkan segala apa yang ditetapkan Allah, mengimaninya dan membenarkannya.”

- Kitab Aqidah Salaf Ashabul Hadits hlm. 176

Abu Utsman Ash-Shabuni asy-Syafi’i (wafat 449 H) mengatakan,

“Para ahli hadis berkeyakinan dan bersaksi bahwasanya ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA BERADA DI ATAS TUJUH LANGIT, DI ATAS ‘ARSY-NYA sebagaimana tertuang dalam Kitab-Nya dalam surat Yūnus: ‘Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.’ (QS Yūnus [10]: 3).”

- Mukthasar Aqidah Salaf Ashabul Hadits, hlm. 6

Abu Utsman Ash-Shabuni asy-Syafi’i (wafat 449 H) mengatakan,

“Asy-Syafi’i rahimahullah berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan hadits (budak wanita) ini karena keyakinan beliau bahwa ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DI ATAS MAHLUK-MAHLUK-NYA, DAN DI ATAS TUJUH LANGIT DI ATAS ARSY-NYA sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.”

- Syarah Syarhus Sunnah Imam al-Muzani, hlm. 66

Abu al-Qasim Isma‘il al-Asbahani asy-Syafi‘i rahimahullah (wafat 535 H) mengatakan,

“Para ulama umat dan imam dari Salafush Shalih tidak berselisih pendapat bahwa ALLAH DI ATAS ARSY-NYA DAN ARSY-NYA DI ATAS LANGIT-NYA.”

- Al-Ḥujjah bi Bayan al-Maḥajjah, II/83

Yahya al-‘Imrani asy-Syafi‘i rahimahullah (wafat 558 H) mengatakan,

“Di sisi ahli hadis dan Sunnah, bahwasannya Allah Subḥānahu dengan Zat-Nya terpisah dari makhluk-Nya, BERISTIWA DI ATAS ‘ARSY-NYA DI ATAS LANGIT, tanpa menyentuhnya, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.”

- Al-Intiṣar fi al-Radd ‘ala al-Qadariyyah al-Asyrar, II/607

Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 774 H) mengatakan,

“lalu Dia istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy.”

Mengenai firman Allah Ta’ala ini, para ulama mempunyai pendapat yang banyak sekali. Disini bukan tempat pemaparannya. TETAPI DALAM HAL INI KAMI MENEMPUH JALAN PARA ULAMA AS-SALAF ASH-SHALIH yaitu Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan imam-imam lainnya, baik yang terdahulu maupun yang hidup pada masa berikutnya. Yaitu dengan membiarkannya (mengimani) seperti apa adanya, tanpa adanya takyif (mempersoalkan kaifiyyahnya/hakikatnya), tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (penolakan). Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut paham musyabbihah (menyerupakan Allah dengan mahluk), maka makna tersebut terjauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menyerupai-Nya. Seperti yang difirmankan-Nya berikut ini,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Allahlah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 11)

Tetapi persoalannya adalah seperti apa yang dikemukakan oleh para Imam yang di antaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru Imam Bukhari, ia mengatakan,

“Barangsiapa menyamakan Allah dengan sesuatu dari mahluk-Nya, maka dia kafir. Barangsiapa mengingkari apa yang dengannya Allah menyifati diri-Nya maka dia kafir, apa yang dengannya Allah mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya, tidaklah mengandung tasybih. BARANGSIAPA YANG MENETAPKAN BAGI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA SETIAP APA YANG DISEBUTKAN OLEH AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG JELAS DAN HADITS-HADITS SHAHIH, DENGAN PENGERTIAN YANG SESUAI DENGAN KEBESARAN ALLAH, SERTA MENAFIKAN SEGALA KEKURANGAN DARI DIRI-NYA, BERARTI IA TELAH MENEMPUH JALAN PETUNJUK.”

- Tafsir al-Qur’an al-Karim, III/392

Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 774 H) juga mengatakan,

“Pembahasan mengenai hal ini (Allah Istiwa’ di atas Arsy) telah diberikan pada surat Al-A’raf, sehingga tidak perlu untuk diulang lagi disini. JALAN YANG PALING SELAMAT DALAM HAL TERSEBUT ADALAH MANHAJ SALAF, YAITU MENETAPKAN APA YANG TERDAPAT DIDALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH (AL-HADITS) TANPA TAKYIF (MENANYAKAN BAGAIMANA), TAHRIF (PENYIMPANGAN), TASYBIH (PENYERUPAAN), TA’THIL (PENOLAKAN) DAN TAMTSIL (PERSAMAAN).”

- Tafsir al-Qur’an al-Karim Ibnu Katsir V/370

Sehubungan dengan perkataan al-Hafizh Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullah dalam tafsirnya yang mengatakan,

”TETAPI DALAM HAL INI KAMI MENEMPUH JALAN PARA ULAMA AS-SALAF ASH-SHALIH YAITU IMAM MALIK, AL-AUZA’I, ATS-TSAURI, AL-LAITS BIN SA’AD, ASY-SYAFI’I, AHMAD, ISHAQ BIN RAHAWAIH dan imam-imam lainnya, baik yang terdahulu maupun yang hidup pada masa berikutnya. Yaitu dengan membiarkannya (mengimani) seperti apa adanya.”

Maka berikut ini adalah perkataan mereka yang telah menjadi ijma’ (kesepakatan) bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala istiwa’ (bersemayam) di atas Arsy.

Imam Al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) mengatakan,

“KAMI DAN SELURUH TABI’IN BERSEPAKAT MENGATAKAN “ALLAH BERADA DI ATAS ARSY-NYA. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.”

- al-Baihaqi, Kitab Asma Wa Shifat hlm. 408, adz-Dzahabi, Kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghafar, hlm. 192, Ibnu Taimiyyah, Kitab Majmu Fatawa V/39 dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, , Kitab Ijtima’ al Juyusy al-Islamiyyah, hlm. 131

Imam Malik bin Anas rahimahullah (wafat 179 H) mengatakan,

“ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”
- Abdullah bin Ahmad, Kitab As-Sunnah, hlm 5. Abu Dawud, Kitab al-Masail, hlm 263. Al-Lalika’i (1/92/2) dengan sanad shahih - dinukil melalui perantaraan adz-Dzahabi, Kitab Mukhtashar Al ‘Uluw, Tahqiq : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hlm 140. adz-Dzahabi, Kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghafar, hlm. 138.

Imam Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) mengatakan,

“Aqidah yang saya yakini dan diyakini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan Syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwasannya ALLAH DI ATAS ARSY-NYA YAKNI DI ATAS LANGIT-NYA.”

- Ibnu Abi Hatim, Kitab Adab Syafi’i wa Manaqibuhu, hlm. 93

Imam Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) mengatakan,

“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya,

“Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Lalu Imam asy Syafi’i rahimahullah mengatakan,

“SESUNGGUHNYA ALLAH BERADA DI ATAS ‘ARSY-NYA YANG BERADA DI ATAS LANGIT-NYA, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.”

- Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Kitab Itsbatu Shifatul ‘Uluw hlm 123-124. adz-Dzahabi, Kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghafar, hlm 165., Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Kitab Ijtima’ al Juyusy al-Islamiyyah, hlm. 94. Lihat juga Ibnu Taimiyyah, Majmu Fatawa, IV/181, Aunul Ma’bud, XIII/41, Mukthasar al-Uluw hlm. 176 dan 47, Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbat al Aqidah, hlm. 409

Ishaq bin Rahawaih rahimahullah (wafat 238 H) mengatakan,

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy ( QS. Thaha: 5).”

PARA ULAMA SEPAKAT (BERIJMA’) BAHWA ALLAH BERADA DI ATAS ‘ARSY DAN BERISTIWA’ DI ATAS-NYA. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh.”

- adz-Dzahabi, Kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghafar. hlm 179 dan Mukhtashar Al ‘Uluw, Tahqiq : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. hlm 194

Kelima, Di dalam PASAL 7 KITAB AL-FIQHUL AKBAR tersebut, Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

“Oleh karena itu Malik menghardik si penanya ketika yang bersangkutan bertanya keapdanya tentang ayat Thaha : 5, ia berkata, “Istiwa” itu bisa dipahami, sedangkan caranya tidaklah mungkin dikethui, iman kepadanya wajib, sedangkan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Lalu ia (Malik) mengancamnya,

“JIKA ENGKAU KEMBALI MENGULANGI PERTANYAANMU, NISCAYA AKU AKAN PERINTAHKAN SESEORANG UNTUK MEMENGGAL LEHERMU.”

Laa Hawla Wala Quwwata Illa Billah. INI MERUPAKAN KEDUSTAAN DAN KEPALSUAN YANG SANGAT BESAR ATAS NAMA IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH DAN JUGA KEPADA GURUNYA YAITU IMAM MALIK BIN ANAS RAHIMAHULLAH,

KENAPA ?

Karena bukanlah Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang mengabarkan riwayat tersebut melainkan Ja’far bin Abdullah.

Diriwayatkan oleh Ja’far bin ‘Abdullah, ia mengatakan,

“Seseorang laki-laki datang kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah, lalu berkata,

“Wahai Abu ‘Abdullah (Imam Malik bin Anas rahimahullah), ‘Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arsy (QS. Taha [20] : 5)’, Lalu bagaimana Allah bersemayam (istiwa’) ?”

Ja’far bin ‘Abdullah melanjutkan,

“Aku tidak pernah melihat Imam Malik bin Anas rahimahullah mengalami guncangan seperti guncangannya akibat perkataan laki-laki tersebut, dan Imam Malik pun berkeringatan. Urat beliau pun naik. Orang-orang pun menunduk dan menantikan apa yang dikemukakannya. Lalu Imam Malik rahimahullah bergembira (kecemasan beliau pun pudar), kemudian Imam Malik rahimahullah berkata,

“Istiwa’ (bersemayam) diketahui maknanya, kaifiyah (cara) nya tidak diketahui oleh akal, MENGIMANINYA ADALAH WAJIB dan mempertanyakannya adalah bid’ah, dan menurutku, kamu adalah seorang ahli Bid’ah.”

KEMUDIAN IMAM MALIK RAHIMAHULLAH MEMERINTAHKAN UNTUK MENGUSIR LAKI-LAKI TERSEBUT.”

- al-Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah no. II/664. adz-Dzahabi, Kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghafar, hlm. 378. Al-Baihaqi, Kitab Al Asma wa ash-Shifat hlm 408. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, XXXVI/560. Al-Baghawi, Kitab As-Sunnah, I/171. As-Siyar, VIII/100-101.

Dan dalam riwayat aslinya, IMAM MALIK RAHIMAHULLAH HANYA MENGUSIRNYA DAN TIDAK MENGANCAM UNTUK MEMENGGAL LEHER ORANG YANG BERTANYA.

SEDANGKAN DI DALAM KITAB PALSU DAN DUSTA AL-FIQHUL AL-AKBAR DIKATAKAN BAHWA IMAM MALIK RAHIMAHULLAH HINGGA MENGANCAM INGIN MEMENGGAL LEHER.

Kelima, Di dalam PASAL 12 KITAB AL-FIQHUL AKBAR tersebut, Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

“Ketahuilah, Allah Ta’ala itu kuasa untuk mengembalikan ciptaan setelah kepunahannya. ADAPUN GOLONGAN AL-KARAMIYAH …”

Ini sudah sangat menunjukan dan membuktikan bahwa KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi’i rahimahullah adalah KEDUSTAAN DAN KEPALSUAN YANG SANGAT BESAR.

KENAPA ?

SEKTE AL-KARAMIYYAH BELUM MUNCUL DI ZAMAN IMAM ASY-SYAFI'I RAHIMAHULLAH
IMAM ASY-SYAFI’I WAFAT TAHUN 204 H sedangkan pendiri sekte AL-KARAMIYAH yaitu ABU ABDULLAH MUHAMMAD BIN KARRAM BARU LAHIR TAHUN 190 H DAN WAFAT TAHUN 255 H, dan SEKTE AL-KARAMIYAH ITU SENDIRI BARU BERKEMBANG SETELAHNYA DI WILAYAH KHURASAN.

BAGAIMANA MUNGKIN IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH MENULISKAN DI DALAM KITABNYA KEPADA SESUATU HAL YANG BELUM MUNCUL DI ZAMAN HIDUP BELIAU TERLEBIH SETELAH 51 TAHUN WAFATNYA IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH ?

Ini merupakan BUKTI KEDUSTAAN DAN KEPALSUAN TERBESAR KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR YANG DINISBATKAN KEPADA IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH.

Keenam, di dalam KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR juga terdapat kata-kata jauhar (substansi) dan aradh (aksiden) dalam Pasal 15nya. Ketahuilah ! kata-kata jauhar (substansi) dan aradh (aksiden) hanya digunakan oleh PARA ILMU KALAM.

Dan juga pada Pasal 10nya, termuat redaksi kasab (usaha) dan penamaan kasab sangat populer di KALANGAN ASY’ARIYYAH

BAGAIMANA MUNGKIN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLAH YANG WAFAT TAHUN 204 H MENUKIL KATA-KATA IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARI RAHIMAHULLAH YANG BARU LAHIR TAHUN 260 H DI DALAM KITABNYA ?

INI BUKTI KEPALSUAN DAN KEDUSTAAN TERBESAR ATAS NAMA IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH !!!.

Belum ditambah dengan redaksi-redaksi hadits palsu dan dhaif serta ada beberapa yang dikarang-karang !!!.

KESIMPULAN, KITAB AL-FIQHUL AL-AKBAR ADALAH KITAB PALSU DAN DUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLAH.

Akhir kata, sedikit kami bawakan Aqidah Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah setelah ia ruju’ kepada Manhaj Salaf yang kemungkinan besar tidak akan diakui oleh golongan Asy’ariyyah sendiri.

Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah (wafat 324 H) mengatakan,

“Dan bahwasanya Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya, ‘Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) tinggi di atas ‘Arsy.”

- Al-Ibanah fi Uṣhul Diyanah hlm. 17

Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah (wafat 324 H) mengatakan,

“Dan mereka (para ulama Ahlusunah) bersepakat bahwasannya Allah berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya.”

- Risalah ila Ahl al-Ṡagr hlm 231–234 (tahqiq: ‘Abdullah ibn Syakir al-Junaidi)

Atha Ibnu Yussuf
“Saya hanya seorang peneliti”
Jakarta, 24 Muharram 1439 H
AIAS (Al-Ikhwanul As-Sunnah)

Sumber utama,
Kitab Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbat al Aqidah dan kitab-kitab lainnya yang telah disebutkan
https://www.facebook.com/VidgramSunnah/photos/a.1514784928601729/1529444947135727/?type=3&theater


Ajaran-Ajaran Madzhab Syafi’i Yang Dilanggar Oleh Sebagian Pengikutnya 5 – Keyakinan Bahwa Allah Di Atas Langit

Diantara aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah –yang juga merupakan aqidah para as-Salaf as-Sholeh- bahwasanya Allah berada di atas langit.
Aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i tentang Allah di atas telah diakui oleh para ulama Asy-Syafi’iyah diantaranya Imam Al-Baihaqi, Al-Imam Adz-Dzahabi, dan Al-Barzanji rahimahumullah.
Al-Baihaqi (wafat 458 H) –salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’iyah-  berkata :
https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/01-1.jpg

“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdillah Al-Haafiz, ia berkata : Inilah naskah kitab yang didiktekan oleh Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ayyuub tentang madzhab Ahlus Sunnah, tentang apa yang terjadi antara Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah dengan para sahabatnya… dan ia menyebutkan diantaranya :

الرحمن على العرش استوى بلا كيف
Ar-Rahman berada di atas ‘Arsy tanpa ditanya bagaimananya. Dan atsar dari para salaf tentang yang seperti ini banyak. Dan madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i radhiallahu ‘anhu menunjukkan berada di atas jalan ini, dan ini juga merupakan madzhab Ahmad bin Hanbal, dan Al-Husain bin Al-Fadhl Al-Bajali dan dari kalangan para ulama mutaakhirin adalah Abu Sulaiman Al-Khotthoobi” (Al-Asmaa’ wa as-Shifaat 2/308)
Pernyataan Imam Al-Baihaqi ini juga dinukil dan dikuatkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolaani –salah seorang ulama besar madzhab Syafi’iyyah-, ia berkata :

https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/02-1.jpg

“Dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ahmad bin Abil Hawaari…dan dari jalan Abu Bakr Adl-Dhoba’i ia berkata : “Madzhab Ahlus Sunnah terhadap firman Allah “Dan Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy’…” adalah tanpa ditanya bagaimananya. Dan atsar-atsar dari salaf banyak. Dan ini adalah jalan Al-Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal” (Fathul Baari 13/407)

Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya “Manaaqib Asy-Syaafi’i” juga menukil perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i tentang persyaratan budak mukmin yang bisa dimerdekakan sebagai kaffaaroh.

https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/03-1.jpg

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Dan yang lebih aku sukai jika ia menguji sang budak tentang pengakuannya terhadap hari kebangkitan setelah kematian dan yang semisalnya”. Dan Al-Imam Asy-Syafii menyebutkan hadits Mu’aawiyah bin Al-Hakam, bahwasanya Ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang budak wanita yang ditampar olehnya, “Apakah wajib bagiku untuk membebaskan seorang budak?”. Maka Rasulullah bertanya kepada budak wanita tersebut, “Dimanakah Allah?”. Sang budak berkata, “Di langit”. Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah saya?”. Maka sang budak wanita berkata, “Anda adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka Rasulullah berkata, “Bebaskan budak wanita ini” (Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/394)

Lihatlah dalam nukilan di atas ternyata Al-Imam Asy-Syafi’i menjadikan hadits tentang dimananya Allah sebagai dalil untuk menguji keimanan dan islamnya seorang budak, sehingga jika diketahui bahwa ia seorang budak muslimah maka bisa sah sebagai kaffarah pembebasan budak.
Setelah itu Al-Imam Al-Baihaqi mengomentari dengan berkata :

https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/04-1.jpg

“Kemudian makna firman Allah dalam Al-Qur’an “Dzat yang di langit..” artinya adalah “Dzat yang di atas langit, di atas ‘Arsy, sebagaimana firman Allah “Allah beristiwaa’ di atas ‘Arsy”.

Dan seluruh perkara yang tinggi maka ia adalah samaa’/langit. Dan ‘Arsy adalah sesuatu yang tertinggi. Dan Allah berada di atas ‘Arsy –sebagaimana Allah kabarkan-, tanpa ditanya bagaimananya, terpisah dari makhlukNya dan tidak menyentuh makhlukNya
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat” (Manaaqib Asy-Syafi’i 1/397-398)
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah –salah seorang ulama madzhab syafi’iyah- juga berkata :
روى شيخ الإسلام أبو الحسن الهكاري والحافظ أبو محمد المقدسي بإسنادهم إلى أبي ثور وأبي شعيب كلاهما عن الإمام محمد بن إدريس الشافعي ناصر الحديث رحمه الله تعالى قال القول في السنة التي أنا عليها ورأيت عليها الذين رأيتهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء
“Syaikhul Islam Abul Hasan Al-Hikaari dan Al-Haafizh Abu Muhammad Al-Maqdisi meriwayatkan dengan sanad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib, mereka berdua meriwayatkan dari Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i sang penolong hadits rahimahullah ia berkata :
“Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya dan aku melihat orang-orang yang aku lihat berada di atasnya seperti Sufyan, Malik, dan selain mereka berdua yaitu mengakui syahadah Laa ilaaha illaallah dan Muhammad Rasulullah, dan bahwasanya Allah berada di atas ‘ArsyNya di langit, ia dekat dengan makhukNya sebagaimana yang Ia kehendaki dan ia turun ke langit dunia sebagaimana yang Ia kehendaki” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliy al-Goffaar hal 165 no 443, atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi wafat 620 H dalam kitabnya Itsbaat Sifat al-‘Uluw hal 180 no 92)
Riwayat dari Al-Imam Asy-Syafi’i ini sangat tegas menyatakan akan Allah berada di atas langit. Atsar ini ternyata diriwayatkan dari banyak jalur oleh para ulama, diantaranya oleh murid Al-Imam Asy-Syafi’i yaitu Al-Imam Al-Muzani.
Al-Barzanji (wafat 1103 H) –salah seorang ulama madzhab syafi’iyah- berkata

https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/05-1.jpg

“Asy-Syafi’iyah berkata –sebagaimana telah meriwayatkan dari beliau, yaitu Yunus bin Abdil A’la, Ibnu Hisyaam Al-Baladi, Abu Tsaur, Abu Syu’aib, Harmalah, Ar-Robi’ bin Sulaiman, dan Al-Muzaniy, serta selain mereka- hadits mereka saling bercampur dan dibawakan riwayat-riwayat mereka dalam satu konteks :

“Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya….”

https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/06-1.jpg

“Dan bahwasanya Allah di atas ‘Arsy berdasarkan firman Allah

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Kemudian Dia beristiwaa di atas ‘Arsy”
Dan juga firman Allah
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Dan Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy”
Dan bahwasanya Allah turun setiap malam ke langit dunia sebagaimana yang Allah kehendaki berdasarkan pengkabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu, dan aku beriman terhadap melihat Allah sebagaimana datang dalam hadits”
(Aqidah Al-Imaam Nashir Al-Hadiits wa As-Sunnah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i hal 89-91)
Diantara para ulama syafi’iyah yang mengikuti aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah tentang Allah di atas langit selain Al-Baihaqi, Adz-Dzahabi, dan Al-Barzanji adalah :
Pertama : Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H),
Beliau adalah ulama besar madzhab Syafi’iyah, sampai-sampai Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Majmuu’ berulang-ulang menyebut gelar beliau dengan Imaamul A’immah (Imamnya para imam). Diantaranya An-Nawawi berkata

https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/07-1.jpg

‘Dan telah kami riwayatkan dari Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Ishaq ibn Khuzaimah, yang ma’ruuf (dikenal) dengan imaamul a’immah/imamnya para imam. Dan beliau telah mencapai puncak yang tinggi dalam menghafal hadits dan mengenal sunnah” (Al-Majmuu’ 1/28). Demikian pula As-Subkiy menyebutnya sebagai Al-Mujtahid Al-Mutaq (Tobaqoot Asy-Syaafi’iyah Al-Kubro 3/109). Dan masih banyak sanjungan para ulama terhadap Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah. (Silahkan lihat biografi beliau di Siyar A’laam An-Nubalaa 14/365-383 dan Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubro karya As-Subki 3/109-119)

Al-Imam Ibnu Khuzaimah berkata :
وقالت عائشة رضي الله عنها :”سبحان من وسع سمعه الأصوات”، فسمع الله -جل وعلا- كلام المجادلة، وهو فوق سبع سموات مستو على عرشه وقد خفي بعض كلامها على من حضرها وقرب منها
“Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Maha suci Allah yang pendengaranNya meliputi semua suara”. Maka Allah mendengar perkataan sang wanita yang mengajukan gugatan, padahal Dia berada di atas langit yang tujuh beristiwa di atas ‘arsyNya. Sementara terluputkan sebagian perkataannya pada orang yang hadir dihadapannya atau yang dekat denganya” (Kitaab At-Tauhiid wa Itsbaat Sifaat Ar-Robb ‘Azza wa Jalla,  1/107, tahqiq : DR Abdul Aziz Syahwaan)
Beliau mengomentari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
وإذا سألتم الله فاسألوه الفردوس، فإنه وسط الجنة، وأعلا الجنة وفوقه عرش الرحمن، ومنه تفجر أنهار الجنة
“Dan jika kalian meminta kepada Allah maka mintalah surga Firdaus, karena ia adalah bagian tengah surga dan yang paling tertinggi. Dan diatasnya ada ‘Arsy nya Ar-Rahman, dan darinya mengalir sungai-sungai surga” (Shahih Al-Bukhari), beliau berkata :
فالخبر يصرح أن عرش ربنا –جل وعلا- فوق جنته، وقد أعلمنا – جل وعلا- أنه مستو على عرشه، فخالقنا عال فوق عرشه الذي هو فوق جنته
“Maka kabar riwayat hadits ini jelas menunjukkan bahwasanya ‘Arsy Robb kita berada di atas surganya, dan Allah telah mengabarkan kepada kita bahwasanya Ia beristiwaa’ di atas ‘ArsyNya. Maka pencipta kita tinggi di atas ‘arsyNya yang berada di atas surgaNya” (Kitaab At-Tauhiid 1/241)
Beliau juga berkata :
“Maka hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa Pencipta berada di atas langit yang tujuh. Hal ini tidak sebagaimana yang dipersangkakan oleh Al-Mu’atthilah (pala penafi/penolak sifat-sifat Allah-pen) bahwasanya sesembahan mereka bersama mereka di rumah-rumah mereka” (Kitaab At-Tauhiid 1/273)
Kedua :  Abu Bakr Ahmad bin Ishaq bin Ayyub As-Shubgi Asy-Syaafi’i (wafat 342 H)
Beliau berkata :
قد تضع العرب «في» بموضع «على» قال الله عز وجل): فسيحوا في الأرض)، وقال : (لأصلبنكم في جذوع النخل) ومعناه: على الأرض وعلى النخل، فكذلك قوله): في السما)ء أي على العرش فوق السماء، كما صحت الأخبار عن النبي صلى الله عليه وسلم)
“Terkadang orang Arab meletakkan kata “fi” pada posisi “alaa”. Allah berfirman :
فسيحوا في الأرض
“Berjalanlah kalian di atas muka bumi”.
Allah berfirman :
لأصلبنكم في جذوع النخل
“Sungguh aku akan menyalib kalian di atas pangkal pohon kurma” (QS Toohaa : 71)
Demikian pula firman Allah “في السماء” maknanya adalah di atas ‘Arsy di atas langit, sebagaimana telah shahih hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Asmaa wa As-Shifaat, karya Al-Baihaqi, tahqiq : Abdullah Al-Haasyidi 2/324)
Ketiga : Abu ‘Utsmaan As-Shoobuuni Asy-Syaafi’i (wafat 449 H).
Al-Baihaqi telah memuji beliau dengan berkata :
إمام المسلمين حقا وشيخ الإسلام صدقا وأهل عصره كلهم مذعنون لعلو شأنه في الدين والسيادة وحسن الإعتقاد وكثرة العلم ولزوم طريقة السلف
“Imam kaum muslimin yang sesungguhnya, Syaikhul Islam yang sebenarnya, dan para manusia sezamannya seluruhnya tunduk karena ketinggiannya dalam agama dan kepemimpinan, dan baiknya aqidahnya, banyaknya ilmunya, serta konsisten beliau di atas jalan salaf” (Tobaqoot Asy-Syaafi’iyah Al-Kubro 4/283)
Beliau berkata dalam kitabnya Aqidatus Salaf Ashaabil Hadiits :

https://i0.wp.com/firanda.com/wp-content/uploads/2013/08/08-1.jpg

“Dan Ashaabul hadits meyakini dan bersaksi bahwasanya Allah subhaanahu di atas langit yang tujuh, beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana diebutkan dalam kitab-Nya…” (Aqidatus Salaf hal 175, lalu beliau menyebutkan dalil-dalil yang menunjukan ketinggian Allah)

Keempat : Al-Baghowiy, Abu Muhammad Husain bin Mas’uud Asy-Syaafi’i (wafat 516 H), penulis kitab-kitab yang masyhuur, seperti Ma’aalim At-Tanziil (yang dikenal dengan Tafsiir Al-Baghowiy), At-Tahdziif fi fiqhi Al-Imaam Asy-Syaafi’i, Syarh As-Sunnah, dan Mashoobiihus Sunnah.
As-Suyuuthi berkata tentang Al-Baghowi,
كان إمامًا في التفسير، إمامًا في الحديث، إمامًا في الفقه
“Beliau adalah imam dalam ilmu tafsir, imam dalam ilmu hadits, dan imam dalam ilmu fikih” (Tobaqoot Al-Mufassiriin hal 38)
Ibnu Qoodi Syahbah (wafat 851 H) dalam kitabnya Tobaqoot Asy-Syafi’iyyah berkata tentang Al-Baghowi
وكان دينًا، عالمًا، عاملًا على طريقة السلف
“Beliau adalah seorang yang ta’at beragama, seorang alim, dan seorang yang beramal di atas jalannya salaf” (Tobaqoot Asy-Syafi’iyah 1/281)
Al-Baghowi rahimahullah berkata dalam tafsir beliau:
وأولت المعتزلة الاستواء بالاستيلاء، وأما أهل السنة فيقولون: الاستواء على العرش صفة لله تعالى، بلا كيف، يجب على الرجل الإيمان به، ويكل العلم فيه إلى الله عز وجل
“Kaum mu’tazilah mentakwil sifat al-istiwaa’ dengan al-istilaa’ (menguasai), adapun Ahlus Sunnah maka mereka berkata, “Beristiwaa di atas ‘arsy merupakan sifat Allah, tanpa ditanyakan bagaimananya, wajib bagi seseorang untuk beriman akan hal ini dan menyerahkan ilmu bagaimananya kepada Allah” (Tafsiir Al-Baghowi 3/235)
Kelima : Abul Qoosim Ismaa’iil Al-Ashbahaani Asy-Syaafi’i (wafat 535 H)
Beliau berkata dalam kitab beliau “Al-Hujjah fi bayaan Al-Mahajjah”
فصل في بيان أن العرش فوق السموات، وأن الله عز وجل فوق العرش
“Pasal : Penjelasan bahwa ‘arsy di atas langit dan bahwasanya Allah azza wa jalla di atas ‘arsy” (Al-Hujjah bi Bayaan Al-Mahajjah 2/83)
Keenam : Adi bin Musaafir Al-Hakaari Asy-Syaafi’i (wafat 555 H).
Beliau berkata di kitabnya:
وأن الله على عرشه، بائن من خلقه، كما وصف نفسه في كتاب وعلى لسان نبيه بلا كيف، أحاط بكل شيء علمًا وهو بكل شيء عليم، قال تعالى {الرحمن على العرش استوى
“Sesungguhnya Allah di atas ‘arsyNya, terpisah dari makhlukNya sebagaimana Ia telah mensifati diriNya dalam al-Kitab dan melalui lisan NabiNya tanpa (menyebutkan) bagaimananya. Ilmunya meliputi segala sesuatu dan Ia mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman :
الرحمن على العرش استوى
“Ar-Rahman beristiwaa di atas ‘arsy” (“I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah” hal 30)
Ketujuh : Yahya Al-‘Imraani Asy-Syaafi’i (wafat 558 H)
Beliau berkata :
عند أصحاب الحديث والسنة أن الله سبحانه بذاته، بائن عن خلقه، على العرش استوى فوق السموات، غير مماس له، وعلمه محيط بالأشياء كلها
“Di sisi ahlul hadits dan sunnah bahwasanya Allah dengan dzatNya terpisah dari makhlukNya, beristiwa di atas ‘arsynya di atas langi-langit, tanpa menyentuhnya, dan ilmunya meliputi segala sesuatu” (Al-Intishoor fi Ar-Rod ‘alaa al-Qodariyah al-Asyroor 2/607
Kedelapan : Ibnu As-Solaah Asy-Syafi’i (wafat 643 H)
Beliau telah mengomentari qosidah tentang sunnah yang disandarkan kepada Abul Hasan Al-karkhi (wafat 532 H)
Qosidah tersebut diantaranya :
عقيدة أصحاب الحديث فقد سمت *** بأرباب دين الله أسنى المراتب

عقائدهم أن الإله بذاته *** على عرشه مع علمه بالغوائب

Aqidah ashaabul hadits telah membawa para pemeluk agama ke derajat yang tinggi
Aqidah mereka bahwasanya Allah dengan dzatNya di atas ‘arsyNya, disertai ilmuNya tentang perkara-perkara ghaib
Ibnu As-Sholaah mengomentari qoshidah tersebut dengan berkata, هذه عقيدة أهل السنة وأصحاب الحديث “Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah dan Ashaabul hadiits” (Kitaab al-‘Arsy, karya Adz-Dzhabiy 2/342)
Inilah aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i dan para pengikutnya dari para pendahulu ulama syafi’iyah bahwasanya Allah berada di atas langit. Akan tetapi aqidah ini banyak diselisihi oleh orang-orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i, bahkan memusuhi dan menyesatkan aqidah keberadaan Allah di atas langit.
Padahal aqidah Allah tidak di atas langit merupakan aqidah yang dipelopori dan diperjuangkan oleh kaum jahmiyah. Karenanya banyak para ulama salaf yang mengingkari keyakinan jahmiyah ini.
 قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الأَوْسِي : سَمِعْتُ وَهْبَ بْنِ جَرير يَقُوْلُ : إِنَّمَا يُرِيْدُ الْجَهْمِيةُ أَنَّهُ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ شَيْءٌ
Abu Abdillah Al-Ausi berkata, “Aku mendengar Wahb bin Jarir berkata :”Sesungguhnya Jahmiyah menginginkan bahwasanya tidak ada di atas langit sesuatupun” (Itsbaat sifat Al-‘Uluw 118)
 قال الأثرم : وَقُلْتُ لِسُلَيْمَانَ بْنِ حَرْبٍ أَيُّ شَيْءٍ كَانَ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ يَقُوْلُ فِي الْجَهْمِيَّةِ؟ فَقَالَ : كَانَ يَقُوْلُ :إِنَّمَا يُرِيْدُوْنَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ شَيْءٌ
Al-Atsrom berkata, “Dan aku berkata kepada Sulaiman bin Harb, “Apakah yang dikatakan oleh Hammad bin Salamah tentang Jahmiyah?, maka ia berkata, “Hammad berkata : Mereka (Jahmiyah) hanyalah menginginkan bahwasanya tidak ada sesuatupun di atas langit ” (Al-Ibaanah li Ibni Batthoh 3/194 dan As-Sunnah li Abdillah bin Ahmad 1/118 dan Itsbaat sifat Al-‘Uluw 118)
يقول جرير بن عبدالحميد : كلامُ الجهمية أَوَّلُهُ عَسلٌ وَآخِرُهُ سُمٌّ وَإِنَّمَا يُحَاوِلُوْنَ أَنْ يَقُوْلُوْا لَيْسَ فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ
Jarir bin Abdil Hamiid berkata, “Perkataan Jahmiyah awalnya adalah madu dan akhirnya adalah racun, mereka hanyalah berusaha untuk mengatakan bahwasanya tidak ada Tuhan di atas langit” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-Goffaar 149)
عَنِ ابْنِ الْمُبَارَك قَالَ لَهُ رَجُلٌ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمن قَدْ خِفْتُ اللهَ مِنْ كَثْرَةِ مَا أَدْعُو عَلَى الْجَهْمِيَّةِ، قَالَ : لاَ تَخَفْ فَإِنَّهُمْ يَزْعُمُوْنَ أَنَّ إِلَهَكَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ لَيْسَ بِشَيْءٍ
Dari Ibnul Mubaarok  berkata, “Ada seseorang yang berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdirrohman, aku takut kepada Allah karena sering mendoakan kejelekan bagi Jahmiyah !”, Ibnul Mubaarok berkata, “Jangalah kau kawatir sesungguhnya mereka menyangka bahwa Tuhanmu yang berada di atas langit bukanlah sesuatu apapun” (Al-Ibaanah li Ibni Batthoh 3/195, As-Sunnah li Abdillah bin Ahmad 1/112 no 24)
عن عبدالحمن بن مهدي وقيل له : إن الجهمية يقولون : إن القرآن مخلوق ، فقال : إن الجهمية لم يريدوا ذا ، وإنما أرادوا أن ينفوا أن يكون الرحمن على العرش استوى ، وأرادوا أن ينفوا أن يكون الله تعالى كلم موسى ، وقال الله تعالى : {وكلم الله موسى تكليما} وأرادوا أن ينفوا أن يكون القرآن كلام الله تعالى ، أرى أن يستتابوا فإن تابوا وإلا ضربت أعناقهم
Dari Abdurrahman bin Mahdi, dikatakan kepada beliau : “Sesungguhnya Jahmiyah berkata sesungguhnya Al-Qur’an adalah makhluq”, maka Abdurrahman bin Mahdi berkata : “Mereka Jahmiyah bukanlah menghendaki hal ini, akan tetapi mereka ingin untuk menafikan bahwasanya Ar-Rohman (Allah) beristiwa di atas ‘arsy, dan mereka menghendaki untuk menafikan bahwasanya Allah telah berbicara dengan Musa padahal Allah berfirman “Dan Allah telah berbicara kepada Musa” (QS An-Nisaa :164), dan mereka menghendaki untuk menafikan bahwasanya Al-Qur’an adalah perkataan Allah. Aku memandang mereka hendakya dimintai tobat, jika mereka bertaubat (maka baik), akan tetapi jika mereka tidak bertaubat maka dipukul leher mereka” (Al-Asmaa wa As-Sifaat li Al-Baihaqi 1/608 no 546 dan Al-‘Uluw li Adz-Dzahabi 159 no 434)
عن سعيد ابن عامر الضبعي أنه ذكر الجهمية فقال : هم شر قولا من اليهود والنصارى، قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس عليه شيء
Dari Sa’iid bin ‘Aamir Ad-Dhoba’iy bahwasanya beliau menyebutkan tentang Jahmiyah maka beliau berkata : “Perkataan mereka (Jahmiyah) lebih buruk dari perkataan kaum Yahudi dan kaum Nashrani, sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashrani serta seluruh pemeluk agama-agama telah bersepakat dengan kaum muslimin atas bahwasanya Allah Azza wa Jalla berada di atas ‘arsy, sementara Jahmiyah berkata bahwasanya tidak ada sesuatupun di atas ‘arys” (Al-‘Uluw li Adz-Dzahabi 158 no 430)
Dan masih banyak pernyataan para imam Islam dari kalangan salaf tentang bantahan dan celaan terhadap kelompok Jahmiyah.
Para ulama telah memberi perhatian khusus dalam membantah firqoh Jahmiyah seperti Imam Ahmad dalam kitabnya “Ar-Rod ‘ala Al-Jahmiyah wa Az-Zanaadiqoh, Utsamaan bin Sa’iid Ad-Darimi dalam kitabnya “Ar-Rod ‘ala al-Jahmiyah” dan “Ar-Rod ‘Ala Bisyr Al-Mariisi”, demikian juga Ibnu Quthaibah (wafat 276) dalam kitabnya “Al-Ikhtilaaf fi al-Lafz wa Ar-Rod ‘ala al-Jahmiyyah wa al-Musyabbihah”, Ibnu Bathhoh (wafat 387) dalam kitabnya “Al-Ibaanah” dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lain yang telah ditulis oleh para ulamaa mutaqoddimiin untuk membantah ahlul bid’ah.
Bahkan para ulama hadits yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi juga membantah pemahaman Jahmiyah ini. Seperti Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya berkata كتاب الرد على الجهمية “Kitab bantahan terhadap Jahmiyah” (dan judul seperti ini terdapat dalam shahih Al-Bukhari dalam riwayat Al-Mustamli, dan juga terdapa pada nuskhoh Ibnu Battol dan Ibnu At-Tiin, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/344)
Dan dalam kitab tersebut Imam Al-Bukhari membawakan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit sebagai bantahan kepada aqidah Jahmiyah yang mengingkari adanya Allah di atas langit. Imam Al-Bukhari berkata :
باب قول الله تعالى {تعرج الملائكة والروح إليه} وقوله جل ذكره {إليه يصعد الكلم الطيب} وقال أبو جمرة عن ابن عباس بلغ أبا ذر مبعث النبي صلى الله عليه وسلم فقال لأخيه أَعْلِمْ لِي عِلْمَ هذا الرجلِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ يَأْتِيْهِ الْخَبَرُ مِنَ السَّمَاءِ
“Bab firman Allah Ta’aala “Para malaikat dan Jibril naik ke Allah” (QS Al-Ma’aarij :4), dan firman Allah “Kepada Allah lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amalan sholeh dinaikkanNya” (QS Faathir : 10). Dan Abu Hamzah berkata, “Dari Ibnu Abbaas : Bahwasanya tatkala kabar tentang diutusnya Nabi Muhammad sampai kepada Abu Dzar maka Abu Dzar –radhiallahu ‘anhu- berkata kepada saudaranya : Kabarkanlah kepadaku tentang ilmu orang ini (yaitu Nabi Muhammad) yang menyangka bahwasanya telah datang kepadanya khabar dari langit !” (Shahih Al-Bukhari 9/126)
Pendalilan Imam Al-Bukhari ini telah diisyaratkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam perkataannya:
حديث أخرجه البخاري في كتاب الرد على الجهمية من صحيحه في باب قوله إليه يصعد الكلم الطيب عن ابن عباس قال بلغ أبا ذر مبعث النبي فقال لأخيه أعلم لي علم هذا الرجل الذي يزعم أنه يأتيه الخبر من السماء
“Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Bantahan terhadap Jahmiyah dari kitab shahihnya, yaitu pada Bab firman Allah Ta’aala “Kepada Allah lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amalan sholeh dinaikkanNya” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-Goffaar)
Al-Imam Abu Dawud juga membantah Jahmiyah yang mengingkari bahwasanya Allah berada di atas langit, beliau berkata باب فِى الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ “Bab : Bantahan kepada Jahmiyah”, lalu beliau membawakan hadits yaitu
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ »
“Dari Abu Huroiroh bahwasanya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Rob kita turun ke langit dunia setiap malam tatkala tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Ia berkata, “Siapakah yang berdoa kepadaKu maka Aku akan kabulkan permintaannya, barang siapa yang meminta kepadaKu maka Aku akan memberinya, dan barang siapakah yang memohon ampunanku maka Aku akan mengampuninya” (Sunan Abi Daawud no 4735)
Hadits tentang nuzul (turunya) Allah ke langit dunia menunjukkan bahwasanya Allah berada di atas langit, yang dijadikan dalil oleh Imam Abu Dawud untuk membantah Jahmiyah yang mengingkari bahwa Allah di atas langit.  Ibnu Maajah dalam sunannya membawakan satu bab yang berjudul بَاب فِيمَا أَنْكَرَتْ الْجَهْمِيَّةُ “Perkara-Perkara Yang Diingkari Oleh Al-Jahmiyyah”, Imam At-Tirmidzi juga dalam sunannya membantah Al-Jahmiyyah yang menolak hadits-hadits sifat, demikian juga At-Thobrooni dalam “Al-Mu’jam Al-Kabiir” berkata بَابُ بَيَانِ كُفْرِ الْجَهْمِيَّةِ الضُّلالِ بِرُؤْيَةِ الرَّبِّ عز وجل في الْقِيَامَةِ “Bab Tentang Penjelasan Kafirnya Al-Jahmiyyah Yang Sesat Terhadap Melihat Allah Pada Hari Kiamat”
Lalu perjuangan para ulama tersebut diteruskan oleh para ulama abad ke delapan seperti Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “Bayaan talbiis Al-Jahmiyyah”, dan Ibnul Qoyyim dalam kitabnya “As-Sowaaiq Al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wa al-Mu’atthilah”.
1.      Dalil bahwasanya Allah berada di atas
Dalil yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit di atas seluruh makhlukNya sangatlah banyak. Dalil-dalil tersebut terbagi dalam berbagai sisi pendalilan. Pada tiap sisi pendalilan terdapat banyak dalil. Sisi-sisi pendalilan tersebut di antaranya:
Pertama: Penyebutan al-fauqiyyah (ketinggian) tanpa diikuti kata penghubung apapun. Seperti dalam firman Allah:
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
“ dan Dialah Yang Maha Menundukkan di atas hamba-hambaNya”(Q.S al-An’aam:18).
Kedua:  Penyebutan ‘alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah:
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (49) يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
 “Dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50).
Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan:
فأعْلمَنا الجليلُ جلَّ وعلا في هذهِ الآيةِ أنَّ ربَّنا فوقَ ملائكتهِ، وفوقَ ما في السَّماواتِ وما في الأرضِ مِنْ دَابَّةٍ، وأَعْلَمَنا أنَّ ملائكتَهُ يخافونَ ربَّهم الذي فوقهم
“Maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111).
Sisi pendalilan yang kedua ini juga sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Sa’ad bin Mu’adz ketika Sa’ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:
لقدْ حَكَمَ فيهمُ اليومَ بحُكْمِ اللهِ الذي حَكمَ بهِ مِنْ فوقِ سبعِ سماواتٍ
“ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa’niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor. Silakan dilihat penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany dalam Silsilah al-Ahaadits Asshohiihah juz 6/556).
Jika ada yang berkata : ((Al-Hâfizh Ibn al-Jauzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh, dalam penjelasan firman Allah: “Wa Huwa al-Qahiru Fauqo ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), menuliskan sebagai berikut: “Penggunaan kata fauqo biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam bahasa Arab bila dikatakan:“Fulan Fauqo Fulan”, maka artinya si fulan yang pertama (A) lebih tinggi derajatnya di atas si fulan yang kedua (B), bukan artinya si fulan yang pertama berada di atas pundak si fulan yang kedua. Kemudian, firman Allah dalam ayat tersebut menyebutkan “Fauqo ‘Ibaadih”, artinya, sangat jelas bahwa makna yang dimaksud bukan dalam pengertian arah. Karena bila dalam pengertian arah, maka berarti Allah itu banyak di atas hamba-hamba-Nya, karena ungkapan dalam ayat tersebut adalah “’Ibaadih” (dengan mempergunakan kata jamak)“ (Daf’u Sybah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzih, h. 23).
Maka saya katakan : Memang benar bahwasanya “Penggunaan kata fauqo biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam bahasa Arab bila dikatakan:“Fulan Fayqo Fulan”, maka artinya si fulan yang pertama (A) lebih tinggi derajatnya di atas si fulan yang kedua”, akan tetapi:
–         Hal ini tidaklah menafikan bahwasanya Allah juga lebih tinggi secara dzatnya di atas makhluknya. berdasarkan ayat-ayat yang lain. karena tatkala kita mengatakan bahwasanya Allah Maha Tinggi, yaitu maha tinggi dari sisi keagungan dan juga maha tinggi dari sisi dzatnya.
–         Jika ditafsirkan “Allahu Fauqo ‘Ibaadihi” (Allah di atas hamba-hambaNya) maksudnya adalah “Allah lebih tinggi derajatnya dari pada hamba-hambNya” sebagaimana dikatakan “Emas di atas perak” (Emas lebih tinggi derajatnya dari pada perak”, maka pada hekekatnya hal ini merupakan bentuk perendahan kepada Allah. Karena ungkapan seperti ini hanya cocok dalam membandingkan dua perkara atau dua dzat yang berdekatan kedudukannya. Seperti kita katakan : “Imam Bukhari di atas Imam Muslim”, atau “Abu Bakar di atas Umar”, atau “Emas di atas perak”. Akan tetapi jika ungkapan seperti ini digunakan untuk membandingkan dua dzat yang sangat jauh perbedaannya maka ini merupakan bentuk perendahan bagi dzat yang lebih tinggi kedudukannya. Jika kita berkata “Emas di atas kulit bawang”, maka ini merupakan perendahan terhadap derajat emas. Akan tetapi jika kita katakan “Emas di atas perak” maka ini tentunya mengangkat derajat emas. Sebagaimana jika kita berkata, “Imam As-Syafii di atas tukang sol sepatu dalam ilmu fiqh” maka ini perendahan terhadap Imam As-Syafi’i, akan tetapi jika kita berkata, “Imam As-Syafi’i di atas Imam Ahmad dalam ilmu fiqh” maka ini mengangkat derajat Imam As-Syafii.
Sungguh benar perkataan seorang penyair
أَلَمْ تَرَ أَنَّ السَّيْفَ يَنْقُصُ قَدْرُهُ  إِذَا قِيْلَ إِنَّ السَّيْفَ أَمْضَى مِنَ الْعَصَا
Tidakkah engkau lihat bahwasanya pedang akan berkurang kemuliaannya jika dikatakan bahwasanya “Pedang lebih tajam dari pada tongkat”
Tentunya merupakan bentuk perendahan kepada Allah jika kita berkata “Allah lebih tinggi derajatnya dari pada hamba-hambaNya” kerena tentunya tidak akan pantas jika kita membandingkan Allah yang maha sempurna dengan makhluk yang maha membutuhkan.
Allah sama sekali tidak pernah memuji dirinya dalam Al-Qur’an atau melalui lisan NabiNya dalah hadits-hadits dengan menyatakan bahwanya Allah lebih mulia dari pada ‘Arsy, atau Allah lebih afdhol dari pada langit, kursyi dan ‘arsy.
Perbandingan seperti ini hanya ada dalam Al-Qur’an tatkala Allah membantah orang-orang yang melakukan kesyirikan, yang menyembah Allah dan juga menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Maka Allahpun menyatakan bahwa Allah lebih baik daripada tuhan-tuhan tersebut. Sebagaimana dalam firmanNya :
آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (٥٩)
“Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?” (QS An-naml : 59)
أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (٣٩)
Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? (QS Yusuf : 39)
–         Perkataan “fulan fauqo fulan” mungkin bisa membawa makna yang antum sebutkan, akan tetapi jika dikatakan “fulan min fauqi fulan” maka tidak bisa dibawakan kecuali kepada makna posisi. Allah berfirman dalam Al-Qur’aan
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ
Mereka -yaitu para malaikat- takut kepada Rob Mereka dari atas mereka”. (QS An-Nahl ayat 50).
Dan dalam bahasa Arab jika dikatakan “min fauqi…” tidak bisa menunjukkan makna kadar akan tetapi maknanya di atas dari segi posisi”.
Dan uslub seperti ini banyak dalam Al-Qur’an, sebagai contoh :
فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ
lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, (QS An-Nahl 26)
يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ
Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka (QS Al-‘Ankabuut : 55)
لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ
Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). (Az-Zumar :16)
–         Jika dalil وهو القاهر فوق عباده tidak menunjukkan ketinggian posisi Dzat Allah, maka masih terlalu banyak dalil-dalil yang lain yang menunjukkan akan ketinggian posisi Allah, sebagaimana berikut ini.
Ketiga: Penjelasan adanya sesuatu yang naik (Malaikat, amal sholih) menuju Allah. Lafadz ‘naik’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan al-Hadits bisa berupa al-‘uruuj atau as-Shu’uud.
Seperti dalam firman Allah:
مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ (3) تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
 “ dari Allah yang memiliki al-Ma’aarij. Malaaikat dan Ar-Ruuh naik menuju Ia “ (Q.S al-Ma’aarij:3-4).
Mujahid (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menafsirkan: (yang dimaksud) dzil Ma’aarij adalah para Malaikat naik menuju Allah (Lihat dalam Shahih al-Bukhari).
Dalam hadits disebutkan:
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاَةِ الْعَصْرِ وَصَلاَةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ – وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِم – فَيَقُولُ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
“ Bergantian menjaga kalian Malaikat malam dan Malaikat siang. Mereka berkumpul pada sholat ‘Ashr dan Sholat fajr. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, sehingga Allah bertanya kepada mereka –dalam keadaan Dia Maha Mengetahui- Allah berfirman: Bagaimana kalian tinggalkan hambaKu? Malaikat tersebut berkata: “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datangi mereka dalam keadaan sholat” (H.R Al-Bukhari dan Muslim).
Ibnu Khuzaimah menyatakan: “ Di dalam khabar (hadits) telah jelas dan shahih bahwasanya Allah ‘Azza Wa Jalla di atas langit dan bahwasanya para Malaikat naik menujuNya dari bumi. Tidak seperti persangkaan orang-orang Jahmiyyah dan Mu’aththilah (penolak Sifat Allah) (Lihat Kitabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 381)
Seperti juga firman Allah:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“ kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal sholih dinaikkannya” (Q.S Fathir:10).
Disebutkan pula dalam hadits:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ، مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: «ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»
Dari Usamah bin Zaid –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihat shaummu di bulan lain sebagaimana engkau shaum pada bulan Sya’ban? Rasul bersabda: Itu adalah bulan yang banyak manusia lalai darinya antara Rajab dengan Ramadlan. Itu adalah bulan terangkatnya amalan-amalan menuju Tuhan semesta alam. Maka aku suka jika amalku terangkat dalam keadaan aku shaum (puasa)(H.R AnNasaa-i dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).
عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: «إِنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ لاَ يَنَامُ، وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْل
Dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah berdiri di hadapan kami dengan menyampaikan 5 kalimat (di antaranya) beliau bersabda: “ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah tidur dan tidak layak bagiNya tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya, terangkat (naik) kepadaNya amalan pada malam hari sebelum amalan siang hari, dan amalan siang hari sebelum amalan malam hari…”(H.R Muslim)
Keempat: Penjelasan tentang diangkatnya sebagian makhluk menuju Allah.
Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:
{بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ} [النساء: 158]
“ Bahkan Allah mengangkatnya kepadaNya” (Q.S AnNisaa’:158).
{إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ} [آل عمران: 55]
“ Sesungguhnya Aku mewafatkanmu dan mengangkatmu kepadaKu” (Q.S Ali Imran:55).
Kelima: Penjelasan tentang ketinggian Allah secara mutlak
Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an, di antaranya:
{وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} [البقرة: 255[
“ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (Q.S al-Baqoroh:255)
{وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ} [سبأ: 23]
” dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S Saba’:28)
Keenam: Penjelasan bahwa Al-Qur’an ‘diturunkan’ dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sehingga Ia menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dariNya. Tidaklah diucapkan kata ‘diturunkan’ kecuali berasal dari yang di atas.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya:
{تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ *} [الزمر: 1]
“Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Az-Zumar:1).
{تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ *} [فصلت: 2]
“ (AlQur’an) diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Q.S Fusshilaat:2)
{تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ} [فصلت: 42]
“ (Al Qur’an) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Q.S Fusshilat:42).
Ketujuh: Penjelasan tentang kekhususan sebagian makhluk di ‘sisi’ Allah (‘indallaah) yang menunjukkan bahwa sebagian lebih dekat dibandingkan yang lain kepada Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an, di antaranya:
{…فَالَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لاَ يَسْأَمُونَ} [فصلت: 38]
“…maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu”(Q.S Fushshilat:38).
{وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ يَسْتَحْسِرُونَ *} [الأنبياء: 19]
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” (Q.S Al-Anbiyaa’:19).
{رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ} [التحريم: 11]
“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di Jannah”(Q.S AtTahriim:11)
Kedelapan: Penjelasan bahwa Allah ada di atas langit
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:
{أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ *أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ *} [الملك: 16 – 17]
“ Apakah kalian merasa aman dari (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Q.S al-Mulk:16-17).
Yang dimaksud dengan ‘Yang berada di atas langit’ sesuai ayat tersebut adalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Karena Allahlah Yang Maha Mampu menjungkir balikkan manusia bersama bumi yang dipijaknya tersebut serta menenggelamkan mereka di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan ayat-ayat yang lain, di antaranya:
{أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا} [الإسراء: 68]
“Maka apakah kamu merasa aman dari Yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil?”(Q.S al-Israa’:68)
أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُونَ
“Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”(Q.S AnNahl:45).
Disebutkan dalam sebuah hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «الْمَيِّتُ تَحْضُرُهُ الْمَلاَئِكَةُ، فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا، قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ. اخْرُجِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَان. فَلاَ يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ، حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَيُفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: فُلاَنٌ. فَيُقَالُ: مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ. ادْخُلِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ. فَلاَ يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللهُ عزَّ وجلَّ
Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang akan meninggal dihadiri oleh para Malaikat. Jika ia adalah seorang yang sholih, maka para Malaikat itu berkata: ‘Keluarlah wahai jiwa yang baik dari tubuh yang baik’. Keluarlah dalam keadaan terpuji dan bergembiralah dengan rauh dan rayhaan dan Tuhan yang tidak murka. Terus menerus dikatakan hal itu sampai keluarlah jiwa (ruh) tersebut. Kemudian diangkat naik ke langit, maka dibukakan untuknya dan ditanya: Siapa ini? Para Malaikat (pembawa) tersebut menyatakan: Fulaan. Maka dikatakan: Selamat datang jiwa yang baik yang dulunya berada di tubuh yang baik. Masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan Rauh dan Rayhaan dan Tuhan yang tidak murka. Terus menerus diucapkan yang demikian sampai berakhir di langit yang di atasnya Allah Azza Wa Jalla” (diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Bushiri menyatakan dalam Zawaaid Ibnu Majah: Sanadnya sahih dan perawi-perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).
Perlu dipahami dalam bahasa Arab bahwa lafadz في  tidak hanya berarti di ‘dalam’, tapi juga bisa bermakna ‘di atas’. Hal ini sebagaimana penggunaan lafadz tersebut dalam ayat:
فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ
“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di atas bumi selama empat bulan…” (Q.S AtTaubah:2).
Dalam ayat itu disebutkan makna في الأرض  sebagai ‘di atas bumi’ bukan ‘di dalam bumi’. Karena itu makna في السماء  artinya adalah ‘di atas langit’ bukan ‘di dalam langit’.
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ! يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً
“ Tidakkah kalian mempercayai aku, padahal aku kepercayaan dari Yang Berada di atas langit (Allah). Datang kepadaku khabar langit pada waktu pagi dan sore” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
Disebutkan pula dalam hadits:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ. ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Dari Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhumaa beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang-orang yang penyayang disayangi oleh Ar-Rahmaan. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kalian Yang ada di atas langit (Allah) (H.R atTirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albaany).
Kesembilan: Persaksian Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman.
Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam:
فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ اللهُ؟»، قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: «مَنْ أَنَا؟»، قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ
“ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Mengenai periwayatan Imam Asy-Syafi’i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny menyatakan di dalam kitabnya ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits:
وإنما احتج الشافعي رحمة الله عليه على المخالفين في قولهم بجواز إعتاق الرقبة الكافرة بهذا الخبر ، لاعتقاده أن الله سبحانه فوق خلقه ، وفوق سبع سماواته على عرشه ، كما معتقد المسلمين من أهل السنة والجماعة ، سلفهم وخلفهم ، إذ كان رحمه الله لا يروي خبرا صحيحا ثم لا يقول به . وقد أخبرنا الحاكم أبو عبد الله رحمه الله قال أنبأنا الإمام أبو الوليد حسان بن محمد الفقيه قال حدثنا إبراهيم بن محمود قال سمعت الربيع بن سليمان يقول سمعت الشافعي رحمه يقول : إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه فاعلموا أن عقلي قد ذهب
Asy-Syafi’i –semoga rahmat Allah atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut. Telah mengkhabarkan kepada kami al-Haakim Abu Abdillah rahimahullah (dia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami Abul Waliid Hasaan bin Muhammad al-Faqiih (dia berkata) telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Mahmud dia berkata aku mendengar ArRabi’ bin Sulaiman berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Jika kalian melihat aku mengucapakan suatu ucapan sedangkan (hadits) yang shahih dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwasanya akalku telah pergi.
Jika ada yang bertanya: Siapa Abu Utsman Ash-Shobuuny sehingga dia bisa tahu maksud ucapan Imam Asy-Syafi’i? Maka kita jawab: Abu Utsman Ash-Shoobuny adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i (sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafidz Adz-Dzahaby dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’). Imam Al-Baihaqy menyatakan tentang Abu Utsman Ash-Shobuuny:
إمام المسلمين حقا، وشيخ الاسلام صدقا
“Imam kaum muslimin yang hak, dan Syaikhul Islam yang sebenarnya”(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 18 halaman 41).
Kesepuluh: Penjelasan bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Lafadz istiwa’ diikuti dengan penghubung على  sehingga bermakna ‘tinggi di atas’ ‘Arsy.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada 8 tempat pada surat: Al-A’raaf:54, Yunus: 3, Yusuf:100, Ar-Ra’d:2, Thaha:5, al-Furqaan:59, As-Sajdah:4, al-Hadid:4. Para Ulama menjelaskan bahwa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang terbesar dan tertinggi.
Kesebelas: Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada’:
وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“(Nabi bersabda) “Dan kalian akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan (amanah), dan menyampaikan nasihat’. Maka Nabi mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetuk-ngetukkannya ke hadapan manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)”(H.R Muslim).
Keduabelas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas
Sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr:
اسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ
“Nabiyullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan berteriak kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di bumi” (H.R Muslim).
عنْ سلمانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إنَّ الله حَيِيٌّ كريمٌ، يَسْتَحْيِي إذا رَفَعَ الرَّجُلُ إليهِ يَدَيْهِ أن يَرُدَّهُما صُفْرًا خَائِبَتَيْنِ
Dari Salman –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulia. Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan nol sia-sia (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany).
Ketigabelas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya
Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah.
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ البجليِّ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ ليلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هذَا لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
Keempatbelas: Penjelasan tentang turunnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ke langit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir.
عن أبي هريرةَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟»
Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuhan kita Tabaaroka Wa Ta’ala turun ke langit dunia tiap malam ketika telah tersisa sepertiga malam, kemudian Dia berkata: Siapakah yang akan berdoa kepadaku, Aku akan kabulkan. Siapa yang meminta kepadaku Aku akan beri, siapa yang memohon ampunan kepadaku, Aku akan ampuni”(H.R al-Bukhari dan Muslim, hadits yang mutawatir).
Kelimabelas: Khabar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pada waktu Isra’ Mi’raj setelah mendapatkan perintah sholat bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «… أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلاَةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلاَةً. قَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ. فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ. قَالَ: فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ: يَا رَبِّ! خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي. فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا. فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. قَالَ: فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عليه السلام حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ. فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاَةً… قَالَ: فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ»
Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta’ala dengan Musa ‘alaihis salaam sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali. Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).
Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:
{رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [النمل: 26]
“Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).
{وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ *} [البروج: 14 – 15]
“ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulia” (Q.S alBuruuj:14-15).
{رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ} [غافر: 15]
“(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).
Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.
عنْ أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فاسْأَلُوهُ الفِرْدَوسَ فإنَّهُ أوسطُ الجنَّةِ، وأعلى الجنَّةِ، وفوقَهُ عرشُ الرَّحْمنِ»
Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).
Ketujuhbelas: Aqidah Nabi-nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas. Hal ini sebagaimana dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun menentangnya. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an:
{وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأَسْبَابَ *} {أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِبًا} [غافر: 36 – 37[
Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,( yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S Ghafir/Mu’min: 36-37).
Ibnu Jarir atThobary menyatakan: maksud ucapan (Fir’aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta, artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang mengaku bahwasanya di atas langit ada Tuhan yang mengutusnya (Lihat tafsir AtThobary (21/387)).
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan:
“Maka Fir’aun mendustakan Musa dalam pengkhabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit… (I’laamul Muwaqqi’in juz 2 halaman 317).
Kedelapanbelas: Penyucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.
Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan:
“Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati bahwa segala sifat rendah adalah tercela. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ
Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” (Q.S Fusshilat:29) (Lihat ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147).
Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ 
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: 18).’Illiyyin adalah langit ke tujuh… Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7) Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).
Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.
Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 23-10-1434 H / 30 Agustus 2013 M

Abu Abdil Muhsin Firanda



Mengungkap Tipu Muslihat 

Abu Salafy CS

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah.
Sungguh merinding tatkala membaca tulisan-tulisan tentang dimana Allah yang ditulis oleh Abu Salafy dan pemilik blog salafytobat. Karena tulisan-tulisan mereka penuh dengan tuduhan-tuduhan serta manipulasi fakta yang ada. Ternyata mulut-mulut mereka sangatlah kotor. Cercaan dan makian memenuhi tulisan-tulisan kedua orang ini yang pada hakekatnya mereka berdua takut menunjukkan hakekat mereka berdua. Begitulah kalau seseorang merasa berdosa dan bersalah takut ketahuan batang hidungnya. Allahul Musta’aan.
Sesungguhnya apa yang mereka berdua perjuangkan hanyalah lagu lama yang telah dilantunkan oleh pendahulu-pendahulu mereka yang bingung sendiri dengan aqidah mereka.
Maka pada kesempatan kali ini penulis mencoba mengungkapkan manipulasi fakta yang telah mereka lakukan dan mengungkap kerancuan cara berpikir kedua orang ini.
Dan tulisan kali ini terkonsentrasikan pada pengakuan Abu Salafi cs bahwasanya aqidah mereka tentang dimana Allah adalah aqidah yang disuarakan oleh sebagian sahabat seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan juga sebagian ulama salaf. Sebagaimana pengakuan mereka ini tercantumkan dalam : http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/ (dalam sebuah artikel yang berjudul : Ternyata Tuhan itu tidak di langit).
Sebelum membantah pengakuan mereka tersebut maka kami akan menjelaskan tentang 3 point yang sangat penting yang merupakan muqoddimah (pengangtar) untuk membuktikan tipu muslihat mereka. Point-point tersebut adalah :
1.     Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
2.     Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
3.     Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.
Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit
Keberadaan Allah di atas langit merupakan konsensus para ulama Islam. Bahkan telah dinukilkan ijmak mereka oleh banyak para ulama Islam. Diantara mereka:

Pertama : Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)

Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu –dan para tabi’in masih banyak-kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsyNya, dan kita beriman dengan sifat-sifatNya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)
Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)
Beliau berkata :
هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
“Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103)
Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H)

Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :
“Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran”  (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)
Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)

Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
“Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid  alaa Bisyr Al-Mariisi Al-‘Aniid Hal 25)
Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)
Beliau berkata :
القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”.
“Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
(Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185)
Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)
Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254
“Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”
Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)
Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :
“باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”
أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه
ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى
“Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”
Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-‘uluw li Adz-Dzahabi 2/1284)
Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)
Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul
” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”
وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.
“Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya
Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-‘Uluw 2/1315)
Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan  para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-‘Uluw 2/1315)
Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)

Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-‘Uluw 2/1317)
Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi  (meninggal pada tahun 444 H)

Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :
Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”
Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-‘Uluw 2/1321
Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)

Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod,
“Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa  Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…
dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-‘Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-‘Uluw 261)
Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-‘Uluw 2/1306)
Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)

Berkata Ibnu Abi Hatim :
“Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:
Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana  Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)
Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
“Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201
Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)

Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),
“Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)
Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

“Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)
Beliau juga berkata :

“Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)
Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf

Perkataan salaf dan para ulama mutaqoddimin yang menunjukan bahwa Allah berada di atas langit
Adapun perkataan para ulama yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit maka sangatlah banyak. Perkataan mereka telah dikumpulkan oleh Al-Imam Al-Muhaddits Ad-Dzahabi As-Syafii dalam kitabnya Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al-‘Adziim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2414 dan http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2413 dua cetakan dengan dua pentahqiq yang berbeda) demikian juga kitab Al-Ijtimaa’ al-Juyuusy Al-islaamiyyah karya Ibnul Qoyyim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2835). Sungguh dua kitab ini telah mengumpulkan banyak sekali perkataan sahabat, para salaf, dan para ulama dari abad yang berbeda-beda dan dari madzhab yang berbeda-beda.
Oleh karenanya tidak ada seorang ulama salafpun –apalagi para sahabat- yang perkataannya menunjukan bahwasanya Allah tidak berada di atas.
Perkataan para ulama Asyaa’iroh yang mengakui Allah di atas langit
Ternyata kita dapati bahwasanya sebagian pembesar madzhab Asyaa’iroh juga mengakui keberadaan Allah di atas langit. Sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asmaa’ wa As-Sifaat (2/308)

Beliau berkata, “Dan atsar dari salaf seperti hal ini (yaitu bahwasanya Allah berisitwa di atas ‘arsy -pent) banyak. Dan madzhab As-Syafii radhiallahu ‘anhu menunjukan di atas jalan ini, dan ini madzhab Ahmad bin Hanbal…Dan Abu Hasan Ali bin Ismaa’iil Al-‘Asy’ari berpendapat bahwasanya Allah melakukan suatu fi’il (perbuatan) di ‘arsy yang Allah namakan istiwaa’… Dan Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi At-Thobari dan juga para ahli nadzor bahwasanya Allah ta’aalaa di langit di atas segala sesuatu, ber-istiwa di atas ‘arsynya, yaitu maknanya Allah di atas ‘arsy. Dan makna istiwaa’ adalah tinggi di atas sebagaimana jika dikatakan “aku beristiwa’ di atas hewan”, “aku beristiwa di atas atap”, maknanya yaitu aku tinggi di atasnya, “Matahari beristiwa di atas kepalaku”
Dari penjelasan Al-Imam Al-Baihaqi di atas nampak ;
–   Banyaknya atsar dari salaf tentang Allah di atas.
–   Ini merupakan madzhab As-Syafi’i dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal
–   Ini merupakan madzhab sebagian pembesar Asyaa’iroh seperti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abul Hasan At-Thobari.



Pertama : Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah
Merupakan perkara yang  mengherankan bahwasanya diantara para ulama yang menyebutkan konsensus salaf tersebut adalah Imam besar kaum Asyaa’iroh yaitu Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari yang hidup di abad ke empat Hijriah. Dialah nenek moyang mereka, guru pertama mereka, sehingga merekapun berintisab (berafiliasi) kepada nama beliau menjadi firqoh Asyaa’iroh.
Berkata Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:

Ijmak kesembilan :
Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ
Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).
Dan Allah berfirman
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).
Dan Allah berfirman
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4)
Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234)

Ini merupakan hikayat kumpulan perkataan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah
….
Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345)

Kedua : Abu Bakr Al-Baaqillaani (wafat 403 H)
Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah
“Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Alla berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman  di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”
Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …
(Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-‘Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-‘Uluw 258))



Ketiga : Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)
Beliau berkata dalam kitabnyaAl-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama  bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)
“Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?”
Oleh karenanya ana meminta Abu Abu Salafy Al-Majhuul dan pemilik bloig salafytobat untuk mendatangkan satu riwayat saja dari para sahabat atau para salaf dengan sanad yang shohih bahwasanya mereka mengingkari Allah berada di atas langit. Kalau mereka berdua tidak mampu mendatangkan satu riwayatpun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka berdua sendiri dan merupakan wahyu dari syaitan.
Tipu muslihat Abu Salafy
Dari sini kita akan membongkar kedustaan Abu salafy yang berusaha menggambarkan kepada masa bahwasanya aqidah batilnya tersebut juga diyakini oleh para sahabat.
Abu Salafi berkata :
(http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/) “
Pegenasan Imam Ali as.
Tidak seorang pun meragukan kedalaman dan kelurusan akidah dan pemahaman Imam Ali ibn Abi Thalib (karramalahu wajhahu/semoga Alllah senantiasa memuliakan wajag beliau), sehingga beliau digelari Nabi sebagai pintu kota ilmu kebanian dan kerasulan, dan kerenanya para sahabat mempercayakannya untuk menjelaskan berbagai masalah rumit tentang akidah ketuhanan. Imam Ali ra. berkata:
كان ولا مكان، وهو الان على كان.



”Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang tetap seperti semula.”
Beliau ra. juga berkata:
إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته.
”Sesungguhnya Allah – Maha Tinggi- menciptakan Arsy untuk emnampakkan kekuasaan-Nya bukan sebagai tempat untuk Dzat-Nya.”[ Al Farqu baina al Firaq:333]
Beliau juga berkata:
من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود.



”Barang siapaa menganggap bahwa Tuhan kita terbatas/mahdûd[2] maka ia telah jahil/tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.”[ Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73, ketika menyebut sejarah Ali ibn Abi Thalib ra.]  )) -demikian perkataan Abu Salafy-.
Ini merupakan kedustaan Abu Salafy terhadap Ali Bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu. Hal ini akan jelas dari beberapa sisi:
Pertama : Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini). Al-Kulaini berkata:
وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ
Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ)
Ternyata memang aqidah orang-orang Asyaa’iroh semisal Abu salafy dan pemilik blog salafytobat cocok dengan aqidah orang-orang Syi’ah Rofidhoh dalam masalah dimana Allah. Karena memang orang-orang Rofidhoh beraqidah mu’tazilah, dan Asya’iroh dalam masalah dimana Allah sepakat dengan Mu’tazilah (padahal Mu’tazilah adalah musuh bebuyutan Asya’iroh, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya).
Atsar ini dibawakan oleh Al-Kulaini dengan tanpa sanad, bahkan dengan sighoh “Diriwayatkan” yang menunjukan lemahnya riwayat ini.
Kedua : Demikian juga yang dinukil oleh Abu Salafy dari kitab Al-Farqu bainal Firoq karya Abdul Qohir Al-Baghdadi adalah riwayat tanpa sanad sama sekali.
Abdul Qohir Al-Baghdadi berkata :
“Mereka telah bersepakat bahwasanya Allah tidak diliputi tempat dan tidak berlaku waktu baginya, berbeda dengan perkataan orang-orang yang menyangka bahwasanya Allah menyetuh ‘Arsy-Nya dari kalangan Hasyimiyyah dan Karroomiyyah. Amiirul Mukminin Ali –radhiollahu ‘anhu- berkata : Sesungguhnya Allah telah menciptakan Al-‘Arsy untuk menunjukan kekuasaanNya dan bukan untuk sebagai tempat yang meliputi dzatNya. Beliau berkata juga : Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat, dan Allah sekarang sebagaimana Dia dulu” (Al-Farqu baynal Firoq hal 33)
Para pembaca yang budiman, ternyata riwayat-riwayat dari Ali bin Abi Tholib yang dibawakan oleh Abdul Qohir Al-baghdadi tanpa ada sanad sama sekali. Dan hal ini tentunya diketahui oleh Abu Salafy cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dan tanpa sanad ini demi untuk mendukung aqidah mereka yang bathil
Ketiga : Selain riwayat-riwayat tersebut tanpa sanad ternyata Abdul Qohir Al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai seorang Muhaddits, namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits
Keempat : Abdul Qohir Al-Baghadadi tentunya lebih rendah kedudukannya daripada kedudukan super gurunya yaitu Abul Hasan Al-‘Asy’ari
Kelima : Kalau seandainya riwayat-riwayat di atas shahih maka tidak menunjukan bahwasanya Ali bin Abi Tholib mengingkari adanya Allah di atas langit. Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat, dan pernyataan tersebut adalah pernyataan yang benar.
Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, yaitu di arah atas.
Jangan disamakan antara tempat dan arah
Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini:
1-    Ketinggian itu ada dua, ada ketinggian relatif dan ada ketinggian mutlaq. Adapun ketinggan relatif maka sebagaimana bila kita katakana bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.
2-    Adapun ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas. Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah poros bumi sebagai titik nol pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (yaitu ke arah langit) maka berarti semakin kearah yang tinggi. Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para fisikawan “Tinggi gunung ini dari permukaan tanah…. atau dari permukaan air laut..”. Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bagian bumi bagian selatan, maka langit pada bagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi barat dan langit pada bagian bumi timur.
3-    Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua, Kholiq (yiatu Allah) dan alam semesta (yaitu seluruh makhluk). Dan bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam. Janganlah di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.
4-    Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf  ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)
5-    Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini.
Beliau berkata
“Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.
Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.
Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.
Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.
Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)
6-    Perkataan Imam Ahmad أَلَيْسَ اللهُ كَانَ وَلاَ شَيْءَ (Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?) sama dengan perkataan كان الله ولا مكان (Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat.) Perkataan Imam Ahmad ini di dukung oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ



“Dahulu Allah (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
Dan kalimat  disini memberikan faedah keumuman, yaitu tidak sesuatupun selain Allah tatkala itu, termasuk alam dan tempat.
Meskipun Imam Ahmad mengatakan demikian akan tetapi beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas. Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk.
Perkataan Imam Ahmad ini mirip dengan perkataan Abdullah bin Sa’iid Al-Qottoon sebagaimana dinukil oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya maqoolaat Al-Islamiyiin 1/351
Abul Hasan Al-Asy’ari berkata, “Dan Abdullah bin Sa’iin menyangka bahwasanya Al-Baari (Allah) di zaman azali tanpa ada tempat dan zaman sebelum penciptaan makhluk, dan Allah senantiasa berada di atas kondisi tersebut, dan bahwasanya Allah beristiwaa’ di atas ‘arsyNya sebagaimana firmanNya, dan bahwasanya Allah berada di atas segala sesuatu”
Perhatikanlah para pembaca yang budiman, Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat.
Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs yang menyangka bahwa kalau kita menafikan tempat dari Allah melazimkan Allah tidak di atas. Atau dengan kata lain Abu Salafy cs menyangka kalau Allah berada di arah atas maka melazimkan Allah diliputi oleh tempat.
Adapun riwayat Abu Nu’aim dalam hilyatul Auliyaa 1/73
Adapun sanad dari riwayat diatas sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/72 adalah sbb:
Ana berharap Abu Salafy cs mendatangkan biografi para perawi di atas dan menghukumi keabsahan sanad di atas !!!
Abu Salafy berkata :
Penegasan Imam Imam Ali ibn Husain –Zainal Abidin- ra.
Ali Zainal Abidin adalah putra Imam Husain –cucu terkasih Rasulullah saw.- tentang ketaqwaan, kedalaman ilmu pengatahuannya tentang Islam, dan kearifan Imam Zainal Abidin tidak seorang pun meragukannya. Beliau adalah tempat berujuk para pembesar tabi’in bahkan sehabat-sabahat Nabi saw.
Telah banyak diriwayatkan untaian kata-kata hikmah tentang ketuhanan dari beliau ra. di antaranya adalah sebagai berikut ini.
أنت الله الذي لا يحويك مكان.
”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dirangkum oleh tempat.”
Dalam hikmah lainnya beliau ra. berkata:
أنت الله الذي لا تحد فتكون محدودا
”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dibatasi sehingga Engkau menjadi terbatas.”[ Ithâf as Sâdah al Muttaqîn, Syarah Ihyâ’  ‘Ulumuddîn,4/380])) -Demikan perkataan Abu Salafi-
Firanda berkata:
Ana katakan kepada Abu Salafy, dari mana riwayat ini? Mana sanadnya?, bagaimana biografi para perawinya? Apakah riwayat ini shahih…??!!
Para pembaca yang budiman, berikut ini kami akan tunjukan sumber pengambilan Abu Salafy yaitu kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 4/380
Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya atsar Zainal Abidin ini bersumber dari As-Shohiifah As-Sajjaadiyah, kemudian sanadnya sangatlah panjang, maka kami meminta Al-Ustadz Abu Salafy al-Majhuul dan teman-temannya untuk mentahqiq keabsahan sanad ini dari sumber-sumber yang terpercaya. Jika tidak maka para perawi atsar ini dihukumi majhuul, sebagaimana diri Abu salafy yang majhuul. Maka jadilah  periwayatan mereka menjadi riwayat yang lemah.
Tahukah Al-Ustadz Abu salafy Al-Majhuul bahwasanya As-Shohiifah As-Sajjadiyah adalah buku pegangan kaum Rofidhoh?, bahkan dinamakan oleh Rofidhoh dengan nama Ukhtul Qur’aan (saudarinya Al-Qur’an) karena menurut keyakinan mereka bahwasanya perkataan para imam mereka seperti perkataan Allah.
Sekali lagi ternyata Abu Salafy cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Syi’ah Rofidhoh, doyan dengan aqidah mereka…???!!!
Ana sarankan ustadz Abu salafy untuk membaca buku yang berjudul Haqiqat As-Shahiifah As-Sajjadiah karya DR Nasir bin Abdillah Al-Qifarii (silahkan didownload di http://www.archive.org/download/hsshss/hss.pdf)
Abu Salafy berkata :
Penegasan Imam Ja’far ash Shadiq ra. (W. 148 H)
Imam Ja’far ash Shadiq adalah putra Imam Muhammad -yang digelaru dengan al Baqir yang artinya si pendekar yang telah membela perut ilmu pengetahuan karena kedalaman dan kejelian analisanya- putra Imam Ali Zainal Abidin. Tentang kedalam ilmu dan kearifan Imam Ja’far ash Shadiq adalah telah menjadi kesepakatan para ulama yang menyebutkan sejarahn hidupnya. Telah banya dikutip dan diriwayatkan darinya berbagai cabang dan disiplin ilmu pengetahuan, khususnya tentang fikih dan akidah.
Di bawah ini kami sebutkan satu di antara pegesan beliau tentang kemaha sucian Allah dari bertempat seperti yang diyakini kaumm Mujassimah Wahhabiyah. Beliau berkata:
من زعم أن الله في شىء، أو من شىء، أو على شىء فقد أشرك. إذ لو كان على شىء لكان محمولا، ولو كان في شىء لكان محصورا، ولو كان من شىء لكان محدثا- أي مخلوقا.
”Barang siapa menganggap bahwa Allah berada dalam/pada sesuatu, atau di attas sesuatu maka dia benar-benar telah menyekutukan Allah. Sebab jika Dia berada di atas sesuatu pastilah Dia itu dipikul. Dan jika Dia berada pada/ di dalam sesuatu pastilah Dia terbatas. Dan jika Dia terbuat dari sesuatu pastilah Dia itu muhdats/tercipta.”[ Risalah al Qusiariyah:6])) –demikian perkataan Abu Salafy-
Firanda berkata :
Demikianlah Abu Salafy Al-Majhuul, tatkala tidak mendapatkan seorang salafpun yang mendukung aqidahnya maka diapun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut lemah, bahkan meskipun tanpa sanad. Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu.
Berikut ini kami nukilkan langsung riwayat tanpa sanad tersebut dari kita Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah
Dan nampaknya Abu Salafy tidak membaca buku ini secara langsung sehingga salah dalam menyebutkan nama buku ini. Abu Salafy berkata ” Risalah al Qusiariyah “
Dan rupanya Abu Salafy sadar bahwasanya tipu muslihatnya ini akan tercium juga –karena kami yakin Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul adalah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, oleh karenanya berani untuk mengkritik As-Syaikh Al-Albani rahimahullah-. Oleh karenanya agar tidak dituduh dengan tuduhan macam-macam, maka Al-Ustadz Al-Majhuul segera membungkusi tipu muslihatnya ini dengan berkata :
Peringatan:
Mungkin kaum Wahhabiyah Mujassimah sangat keberatan dengan penukilan kami dari para tokoh mulia dan agung keluarga Ahlulbait Nabi saw. dan kemudian menuduh kami sebagai Syi’ah! Sebab sementara ini mereka hanya terbiasa menerima informasi agama dari kaum Mujassimah generasi awal seperti ka’ab al Ahbâr, Muqatil dkk.. Jadi wajar saja jika mereka kemudian alergi terhadap mutiara-mutoara hikmah keluarga Nabi saw. karena pikiran mereka telah teracuni oleh virus ganas akidah tajsîm dan tasybîh yang diprogandakan para pendeta Yahudi dan Nasrani yang berpura-pura memeluk Islam!
Dan sikap mereka itu sekaligus bukti keitdak sukaan mereka terhadap keluarga Nabi Muhammad saw. seperti yang dikeluhkan oleh Ibnu Jauzi al Hanbali bahwa kebanyakan kaum Hanâbilah itu menyimpang dari ajaran Imam Ahmad; imam mereka dan terjebak dalam faham tajsîm dan tasybîh sehingga seakan identik antara bermazhab Hanbali dengan berfaham tajsîm, dan di tengah-tengah mereka terdapat jumlah yang tidak sedikit dari kaum nawâshib yang sangat mendengki dan membenci Ahlulbait Nabi saw. dan membela habis-habisan keluarga tekutuk bani Umayyah; Mu’awiyah, Yazid …. .[ Muqaddimah Daf’u Syubah at Tasybîh; Ibnu Jauzi])) –demikianlah perkataan abu
Firanda berkata :
Lihatlah bagaimana buruknya akhlaq Abu Salafy yang hanya bisa menuduh Ahlus Sunnah dengan tuduhan-tuduhan yang kasar namun tanpa bukti. Perkataannya ini mengandung beberapa pengakuannya :
1.     Dia sudah sadar kalau bakalan dituduh mengekor Syia’h namun kenyataannya adalah demikian. Oleh karenanya dengan sangat berani dia mengkutuk Sahabat Mulia Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu. Bukankah ini adalah aqidah Syi’ah Rofidhoh???, bukankah meyakini Allah tidak di atas adalah aqidah Rofidhoh??. Imam Ahlus Sunnah manakah yang mengutuk Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu???!!. Kita Ahlus Sunnah cinta dengan Alu Bait, akan tetapi ternyata semua riwayat Alu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad.
2.     Dia menuduh bahwa Ahlus Sunnah (yang disebut Wahhabiah olehnya) benci terhadap keluarga Nabi…, manakah buktinya ada seorang Wahhabi yang benci terhadap keluarga Nabi??. Bukankah As-Syaikh Muhammad Bin AbdilWahaab guru besarnya para Wahhabiyyah telah menamakan enam anak-anaknya dengan nama-nama Alul bait???
3.     Menuduh Muqotil dkk sebagai mujassimah. Ana ingin tahu apa maksud dia dengan “dkk”??!!
Setelah ketahuan kedoknya dan tipu muslihatnya terhadap para Alul Bait, maka Abu Salafy tidak putus asa, maka ia melancarkan tipu muslihat berikutnya. Yaitu berusaha menukil dari para imam madzhab. Namun seperti biasa, ia hanya mampu mendapatkan riwayat-riwayat tanpa sanad. Sungguh aneh tapi nyata, sang ustadz berani mengkritik syaikh Al-bani namun ternyata ilmu hadits yang dimiliki sang ustadz hanya digunakan untuk mengkritik, dan tatkala berbicara tentang aqidah –yang sangat urgen tentunya- ilmu haditsnya dibuang, dan berpegang pada riwayat-riwayat tanpa sanad. Wallahul Musta’aan.
Abu Salafy berkata :
Penegasan Imam Abu Hanifah ra.
Di antara nama yang sering juga dimanfa’atkan untuk mendukung penyimpangan akidah kaum Mujassimah Wahhabiyah adalah nama Imam Abu Hanifah, karenanya penting juga kita sebutkan nukilan yang nenegaskan akidah lurus Abuhanifah tentang konsep ketuhanan. Di antaranya ia berkata:
ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق
”Perjumpaan dengan Allah bagi penghuni surga tanpa bentuk dan penyerupaan adalah haq.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:138]))- demikian perkatan Abu Salafy
Firanda berkata :
Para pembaca yang budiman marilah kita mengecek kitab-kitab yang merupakan sumber pengambilan riwayat Abu Hanifah yang dilakukan Abu Salafy
Berkata Mulla ‘Ali Al-Qoori dalam syarah Al-Fiqh Al-Akbar hal 246 :
“Dan berkata Al-Imaam Al-A’dzom (maksudnya adalah Abu Hanifah-pent) dalam kitabnya Al-Washiyyah : Dan pertemuan Allah ta’aala dengan penduduk surga tanpa kayf, tanpa tasybiih, dan tanpa jihah merupakan kebenaran”. Selesai” (Minah Ar-Roudh Al-Azhar fi syarh Al-Fiqh Al-Akbar, karya Ali bin Sulthoon Muhammad Al-Qoori, tahqiq Wahbi Sulaimaan Gowjiy hal 246)
Ternyata riwayat Imam Abu Hanifah di atas berasal dari sebuah kitab yang berujudl “Al-Washiyyah” yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah.
Sebelum melanjutkan pembahasan ini, saya ingin meningatkan pembaca tentang sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah.
Riwayat tersebut adalah perkataan beliau rahimahullah :
مَنْ قال لا أعْرِفُ ربِّي في السماء أم في الأرضِ فقد كفر، لأَنَّ اللهَ يقول: {الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏}، و عرشه فوق سبع سماواته.
“Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Sebab Alllah telah berfirman:
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏.
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arsy.” (QS. Thâhâ;5)
dan Arsy-Nya di atas tujuh lapis langit.”
Riwayat Abu Hanifah ini termaktub dalam kitab Al-Fiqhu Al-Akbar, dan buku ini telah dinisbahkan oleh Abu Hanifah. Akan tetapi buku ini diriwayatkan oleh Abu Muthii’ Al-Balkhi.
Al-Ustadz Abu Salafy tidak menerima riwayat ini dengan dalih bahwasanya sanad periwayatan buku Al-Fiqhu Al-Akbar ini tidaklah sah karena diriwayatkan oleh perawi yang tertuduh dusta.
Abu Salafy berkata :
((Pernyataan yang mereka nisbahkan kepada Abu Hanifah di atas adalah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Namun kaum Mujassimah memang gemar memalsu dan junûd, bala tentara mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!
Pernyataan itu benar-benar telah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu adalah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’ al Balkhi.
Adz Dzahabi berkata tentangnya, “ia seorang kadzdzâb (pembohong besar) wadhdhâ’ (pemalsu). Baca Mîzân al I’tidâl,1/574.
Ketika seorang perawi disebut sebagai kadzdzâb atau wadhdhâ’ itu berarti ia berada di atas puncak keburukan kualitas… ia adalah pencacat atas seorang perawi yang paling berat. Demikian diterangkan dalam kajian jarhi wa ta’dîl !
Imam Ahmad berkata tentangnya:
لا ينبغي أن يُروى عنه شيئٌ.
“Tidak sepatutnya diriwayatkan apapun darinya.”
Yahya ibn Ma’in berkata, “Orang itu tidak berharga sedikitpun.”
Ibnu Hajar al Asqallani menghimpun sederetan komentar yang mencacat perawi andalan kaum Mujassimah yang satu ini:
Abu Hatim ar Razi:
كان مُرجِئا كَذَّابا.
“Ia adalah seorang murjiah pembohong, kadzdzâb.”
Adz Dzahabi telah memastikan bahwa ia telah memalsu hadis Nabi, maka untuk itu dapat dilihat pada biografi Utsman ibn Abdullah al-Umawi.” (Lisân al Mîzân,2/335)  ))-demikian perkataan Abu Salafy sebagaiamana bisa dilihat di http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/13/kaum-wahhabiyah-mujassimah-memalsu-atas-nama-salaf-1/)
Demikianlah penjelasan Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul.
Sekarang saya ingin balik bertanya kepada Pak Ustadz, manakah sanad periwayatan kitab Al-Washiyyah karya Abu Hanifah???
Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata meskipun Ustadz Abu Salafy telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, namun… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut.
Abu Salafy berkata :
Dan telah dinukil pula bahwa ia (yaitu abu hanifah) berkata:
قلت: أرأيت لو قيل أين الله تعالى؟ فقال- أي أبو حنيفة-: يقال له كان الله تعالى ولا مكان قبل أن يخلق الخلق، وكان الله تعالى ولم يكن أين ولا خلق ولا شىء، وهو خالق كل شىء.
”Aku (perawi) berkata, ’Bagaimana pendapat Anda jika aku bertanya, ’Di mana Allah?’ Maka Abu Hanifah berkata, ’Dikatakan untuk-Nya Dia telah ada sementara tempat itu belum ada sebelum Dia menciptakan tempat. Dia Allah sudah ada sementara belum ada dimana dan Dia belum meciptakan sesuatu apapun. Dialah Sang Pencipta segala sesuatu.” [ Al Fiqhul Absath (dicetak bersama kumpulan Rasâil Abu Hanifah, dengan tahqiq Syeikh Allamah al Kautsari): 25])) –demikian perkataan Abu Salafy-
Para pembaca sekalian tahukah anda apa itu kitab Al-Fiqhu Al-Absath?, dialah kitab Al-Fiqhu Al-Akbar dengan periwayatan Abul Muthii’ yang dikatakan dusta oleh Abu Salafy sendiri.
Lihatlah perkataan Al-Kautsari :
“Dan telah dicetak di India dan Mesir syarh Al-Fiqh Al-Akbar dengan riwayat Abu Muthii’, dan dialah yang dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakan dengan Al-Fiqh Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammaad bin Abi Haniifah”
Al-Kautsari juga berkata di muqoddimah tatkala mentahqiq Al-Fiqh Al-Absath :
“Dia adalah Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Abu Muthii’, dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakannya dengan Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammad bin Abi Haniifah dari ayahnya. Dan perawi Al-Fiqh Al-Absath yaitu Abu Muthii’ dia adalah Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhi sahabatnya Abu hanifah…”
Sungguh aneh tapi nyata, ternyata Al-Ustadz Abu Salafy yang telah menyatakan kedustaan kitab Al-Fiqhu Al-Absath ternyata juga menjadikan kitab tersebut sebagai dalil untuk mendukung hawa nafsunya. Maka kita katakan kepada Al-Ustadz Abu Salafy–sebagaimana yang ia katakan sendiri- : Anda wahai Abu Salafy.
Yang anehnya dalam buku Al-Fiqhu Al-Absath yang ditahqiq oleh ulamanya Abu Salafy yang bernama Al-Kautsari terdapat nukilan yang “mematahkan punggung” kaum jahmiyyah dan Asyaa’iroh muta’akkhirin, dan neo Asya’iroh seperti Abu Salafy cs. Dalam buku tersebut Abu Haniifah berkata :
Abu Hanifah berkata, “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Demikian juga orang yang mengatakan “Sesunguhnya Allah di atas ‘arsy (tapi) aku tidak tahu apakah ‘arsy itu di langit atau di bumi”
…..
Inilah kitab Al-Fiqh Al-Absath tahqiq Al-Kautsari yang dijadikan pegangan oleh Al-Ustadz Abu Salafy. Ternyata Abu Hanifah mengkafirkan orang yang tidak mengatakan Allah di atas langit dengan berdalil dengan hadits Jaariyah (budak wanita) yang tatkala ditanya oleh Nabi “Dimanakah Allah” maka sanga budak mengisyaratkan tangannya ke langit.
Penjelasan saya ini juga saya anggap cukup untuk menyingkap kesalahan pemilik blog salafytobat (lihat http://salafytobat.wordpress.com/2008/06/16/hujjah-imam-hanafi-kalahkan-aqidah-sesat-salafy-wahaby/)
Abu Salafy berkata ((Dalam kesempatan lain dinukil darinya (yaitu dari Abu Hanifah):
ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا.
”Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya. Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada sedikit pun kebutuhan kepadanya. Jika Dia butuh kepadanya pastilah Dia tidak kuasa mencipta dan mengatur alam semesta, seperti layaknya makhluk ciptaan. Dan jika Dia butuh untuk duduk dan bersemayam, lalu sebelum Dia menciptakan Arsy di mana Dia bertempat. Maha Tinggi Allah dari anggapan itu setinggi-tingginya.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:75]
Pernyataan Abu Hanifah di atas benar-benar mematahkan punggung kaum Mujassimah yang menamakan dirinya sebagai Salafiyah dan enggan disebut Wahhâbiyah yang mengaku-ngaku tanpa malu mengikuti Salaf Shaleh, sementara Abu Hanifah, demikian pula dengan Imam Ja’far, Imam Zainal Abidin adalah pembesar generasi ulama Salaf Shelah mereka abaikan keterangan dan fatwa-fatwa mereka?! Jika mereka itu bukan Salaf Sheleh yang diandalkan kaum Wahhabiyah, lalu siapakah Salaf menurut mereka? Dan siapakah Salaf mereka? Ka’ab al Ahbâr? Muqatil? Atau siapa?))- demikianlah perkataan Abu Salafy-
Firanda berkata :
Kami katakan :
1-    Isi dari nukilan tersebut sama sekali tidak berententangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, karena Ahlus Sunnah (Wahhabiyah/As-Salafiyah) tatkala menyatakan Allah beristiwa di atas ‘arsy tidaklah melazimkan bahwasanya Allah membutuhkan ‘arsy. Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya. Jika kita perhatikan langit dan bumi maka kita akan menyadari akan hal ini. Bukankah langit berada di atas bumi?, bukankah langit lebih luas dari bumi?, bukankah langit tidak butuh kepada bumi? Apakah ada tiang yang di tanam di bumi untuk menopang langit?. Jika langit yang notabene adalah sebuah makhluq namun tidak butuh kepada yang di bawahnya bagaimana lagi dengan Kholiq pencipta ‘arsy.
2-    Nukilan dari Abu Hanifah tersebut sesuai dengan aqidah As-Salafiyyah dan justru bertentangan dengan aqidah Abu Salafy cs. Bukankah dalam nukilan ini Abu Hanifah menetapkan adanya sifat istiwaa? Dan tidak mentakwil sifat istiwaa sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Salafy cs??. Abu Hanifah menjelaskan bahwasanya Allah beristiwaa (berada di atas) ‘arsy akan tetapi tanpa ada kebutuhan sedikitpun terhadap ‘arsy tersebut.
3-    Oleh karenanya kita katakan bahwa justru nukilan ini merupakan boomerang bagi Abu Salafy cs yang selalu mentakwil istiwaa’ dengan makna istaulaa (menguasi) –dan inysaa Allah hal ini akan dibahas pada kesempatan lain. Bahkan dalam halaman yang sama yang tidak dinukil oleh Abu Salafy ternyata Mulla ‘Ali Al-Qoori menyebutkan riwayat dari Abu Hanifah yang membungkam Ustadz Abu Salafy cs. Marilah kita melihat langsung lembaran tersebut yaitu dari buku Syarh Al-Fiqh Al-Akbar karya Mulla ‘Ali Al-Qoori (hal 126)

Dan Abu hanifah rahimahullah ditanya tentang bahwasanya Allah subhaanahu turun dari langit. maka beliau menjawab : Allah turun, tanpa (ditanya) bagaimananya, …
Bukankah dalam nukilan ini ternyata Abu Hanifah menetapkan sifat nuzuulnya Allah ke langit dunia?, Abu Hanifah menetapkan hal itu tanpa takwil dan tanpa bertanya bagaimananya. Karena memang bagaimana cara turunnya Allah tidak ada yang menetahuinya.



Berkata Abu Salafy :
Penegasan Imam Syafi’i (w. 204 H)
Telah dinukil dari Imam Syafi’i bahwa ia berkata:
إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.
”Sesungguhnya Allah –Ta’ala- tel;ah ada sedangkan belum ada temppat. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya sejak azali, seperti sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Dzat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.”[ Ithâf as Sâdah,2/24])) –demikian perkataan Abu Salafy-
Firanda berkata :
Para pembaca yang budiman marilah kita melihat sumber pengambilan Abu Salafy secara langsung dari kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 2/24
Ana katakan bahwasanya –sebagaimana kebiasaan Abu Salafy- maka demikian juga dalam penukilan ini Abu Salafy menukil perkataan Imam As-Syaafi’i tanpa sanad, maka kami berharap pak Ustadz Abu Salafy cs untuk mendatangkan sanad periwayatan dari Imam As-Syafii ini.



Abu Salafy berkata :
Penegasan Imam Ahmad ibn Hanbal (W.241H)
Imam Ahmad juga menegaskan akidah serupa. Ibnu Hajar al Haitsami menegaskan bahwa Imam Ahmad tergolong ulama yang mensucikan Allah dari jismiah dan tempat. Ia berkata:
وما اشتهر بين جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه.
”Adapun apa yang tersebar di kalangan kaum jahil yang menisbatkan dirinya kepada sang imam mulia dan mujtahid bahwa beliau meyakini tempat/arah atau semisalnya adalah kebohongan dan kepalsuan belaka  atas nama beliau.”[ Al Fatâwa al Hadîtsiyah:144.] –demikian perkataan Abu Salafy-
Firanda berkata :
Pada nukilan di atas sangatlah jelas bahwasanya Abu Salafy tidak sedang menukil perkataan Imam Ahmad, akan tetapi sedang menukil perkataan Ibnu Hajar Al-Haitsami tentang Imam Ahmad. Ini merupakan tadliis dan talbiis. Abu Salafy membawakan perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami ini dibawah sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, namun ternyata yang ia bawakan bukanlah perkataan Imam Ahmad apalagi penegasan. Seharusnya sub judulnya : “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”.



Abu Salafy berkata:
Penegasan Imam Ghazzali:
Imam Ghazzali menegaskan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn-nya,4/434:
أن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الاقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل به ولا هو منفصل عنه ، قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته ”
“Sesungguhnya Allah –Ta’ala- Maha suci dari tempat dan suci dari penjuru dan arah. Dia tidak di dalam alam tidak juga di luarnya. Ia tidak bersentuhan dengannya dn tidak juga berpisah darinya. Telah membuat bingun akal-akal kaum-kaum sehingga mereka mengingkari-Nya, karena mereka tidak sanggunp mendengar dan mengertinya.”
Dan banyak keterangan serupa beliau utarakan dalam berbagai karya berharga beliau.
Penegasan Ibnu Jauzi
Ibnu Jauzi juga menegaskan akidah Isla serupa dalam kitab Daf’u Syubahi at Tasybîh, ia berkata:
وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.
“Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk.”[ Daf’u Syubah at Tasybîh (dengan tahqiq Sayyid Hasan ibn Ali as Seqqaf):130])) –demikian perkataan Abu Salafy-
Firanda berkata :
Rupanya tatkala Abu Salafy tidak mampu untuk menemukan satu riwayatpun dari kalangan salaf dengan sanad yang shahih yang mendukung aqidah karangannya maka ia terpaksa mengambil perkataan para ulama mutaakhkhiriin semisal Al-Gozaali yang wafat pada tahun 506 H dan Ibnu Jauzi yang wafat pada tahun 597 H.
Adapun Al-Gozaali maka Abu Salafy menukil perkataannya dari kitab Ihyaa ‘Uluum Ad-Diin. Sesungguhnya para ulama telah mengingatkan akan kerancuan pemikian aqidah Al-Gozaali dalam kitabnya ini. Diantara kerancuan-kerancuan tersebut perkataan Al-Gozaali :

“Dihikayatkan bahwasanya Abu Turoob At-Takhsyabi kagum dengan seorang murid, Abu Turob mendekati murid tersebut dan mengurusi kemaslahatan-kemaslahatan sang murid, sedangkan sang murid sibuk dengan ibadahnya dan wajd-wajdnya. Pada suatu hari Abu Turob berkata kepada sang murid, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, sang murid berkata, “Aku sibuk”. Tatkala Abu Turob terus menerus dan serius mengulang-ngulangi perkataannya, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, akhirnya sang muridpun berkata, “Memangnya apa yang aku lakukan terhadap Abu Yaziid, aku telah melihat Allah yang ini sudah cukup bagiku sehingga aku tidak perlu dengan Abu yaziid”. Abu Turoob berkata, “Maka dirikupun naik pitam dan aku tidak bisa menahan diriku, maka aku berkata kepadanya : “Celaka engkau, janganlah engkau terpedaya dengan Allah Azza wa Jalla, kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid sekali maka lebih bermanfaat bagimu daripada engkau melihat Allah tujuh puluh kali”. Maka sang muridpun tercengang dan mengingkari perkataan Abu Turoob. Iapun berkata, “Bagaimana bisa demikian?”. Abu Turoob berkata, “Celaka engkau, bukankah engkau melihat Allah di sisimu, maka Allahpun nampak untukmu sesuai dengan kadarmu, dan engkau melihat Abu Yaziid di sisi Allah dan Allah telah nampak sesuai dengan kadar abu Yaziid”. Maka sang murid faham dan berkata, “Bawalah aku ke Abu Yaziid”…
Aku berkata kepada sang murid, “Inilah Abu Yaziid, lihatlah dia”, maka sang pemuda (sang murid)pun melihat Abu Yaziid maka diapun pingsan. Kami lalu menggerak-gerakan tubuhnya, ternyata ia telah meninggal dunia. Maka kamipun saling bantu-membantu untuk menguburkannya. Akupun berkata kepada Abu Yaziid, “Penglihatannya kepadamu telah membunuhnya”. Abu Yaziid berkata, “Bukan demikian, akan tetapi sahabat kalian tersebut benar-benar dan telah menetap dalam hatinya rahasia yang tidak terungkap jika dengan pensifatan saja (sekedar cerita saja). Tatkala ia melihatku maka terungkaplah rahasia hatinya, maka ia tidak mampu untuk memikulnya, karena dia masih pada tingkatan orang-orang yang lemah yaitu para murid, maka hal ini membunuhnya”.
Al_Gozzaalii mengomentari kisah ini dengan berkata, “Ini merupakan perkara-perkara yang mungkin terjadi. Barangsiapa yang tidak memperoleh sedikitpun dari perkara-perkara ini maka hendaknya jangan sampai dirinya kosong dari pembenaran dan beriman terhadap mungkinnya terjadi perkara-perkara tersebut….”
Oleh karenanya para ulama memperingatkan akan kerancuan-kerancuan yang terdapat dala kitab Ihyaa’ uluum Ad-Diin.
Yang anehnya… diantara para ulama yang keras dalam memperingatkan kerancuan kitab ini adalah Ibnu Jauzi sendiri.
Ibnul Jauzi berkata (dalm kitabnya Talbiis Ibliis, tahqiq DR Ahmad bin Utsmaan Al-Maziid, Daar Al-Wathn, 3/964-965):
Dan datang Abu haamid Al-Gozzaali lalu iapun menulis kitab “Ihyaa (Uluum Ad-Diin-pent)”… dan dia memenuhi kitab tersebut dengan hadits-hadits yang batil –dan dia tidak mengetahui kebatilan hadits-hadits tersebut-. Dan ia berbicara tentang ilmu Al-Mukaasyafah dan ia keluar dari aturan fiqh. Ia berkata bahwa yang dimaksud dengan bintang-bintang, matahari, dan rembulan yang dilihat oleh Nabi Ibrohim merupkan cahaya-cahaya yang cahaya-cahaya tersebut merupakan hijab-hijabnya Allah. Dan bukanlah maksudnya benda-benda langit yang sudah ma’ruuf.”. Mushonnif (Ibnul Jauzi) berkata, “Perkataan seperti ini sejenis dengan peraktaan firqoh Bathiniyah”. Al-Gozzaali juga berkata di kitabnya “Al-Mufsih bil Ahwaal” : Sesungguhnya orang-orang sufi mereka dalam keadaan terjaga melihat para malaikat, ruh-ruh para nabi, dan mendengar suara-suara dari mereka, dan mengambil faedah-faedah dari mereka. Kemudian kondisi mereka (yaitu orang-orang sufi) pun semakin meningkat dari melihat bentuk menjadi tingkatan derajat-derajat yagn sulit untuk diucapkan”
Dan masih banyak perkataan para ulama yang mengingatkan akan bahayanya kerancuan-kerancuan pemikiran Al-Gozzaali, diantaranya At-Turtusi, Al-Maaziri, dan Al-Qodhi ‘Iyaadh.
Maka saya jadi bertanya tentang kitab Ihyaa Uluum Ad-Diin, apakah kita mengikuti pendapat Ustadz Abu Salafy yang majhuul untuk menjadikan kitab tersebut sebagai sumber aqidah?, ataukah kita mengikuti perkataan Ibnu Jauzi??
Adapun perkataan Ibnul Jauzi maka sesungguhnya Ibnul Jauzi dalam masalah tauhid Al-Asmaa was sifaat mengalami kegoncangan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rojab Al-Hanbali. Beliau berkata :

“Dan diantara sebab kritkan orang-orang terhadap Ibnul Jauzi –yang ini merupakan sebab marahnya sekelompok syaikh-syaikh dari para sahabat kami (yaitu syaikh-syaikh dari madzhab hanbali-pent) dan para imam mereka dari Al-Maqoodisah dan Al-‘Altsiyyiin mereka marah terhadap condongnya Ibnul Jauzi terhadap takwiil pada beberapa perkatan Ibnul Jauzi, dan keras pengingkaran mereka terhadap beliau tentang takwil beliau.
Meskipun Ibnul Jauzi punya wawasan luas tentang hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkaitan dengan pembahasan ini hanya saja beliau tidak mahir dalam menghilangkan dan menjelaskan rusaknya syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh para ahli kalam (filsafat). Beliau mengagungi Abul Wafaa’ Ibnu ‘Aqiil… dan Ibnu ‘Aqiil mahir dalam ilmu kalam akan tetapi tidak memiliki ilmu yang sempurna tentang hadits-hadits dan atsar-atsar. Oleh karenanya perkataan Ibnu ‘Aqiil dalam pembahasan ini mudhthorib (goncang) dan pendapat-pendapatnya beragam (tidak satu pendapat-pent), dan Abul Faroj (ibnul Jauzi) juga mengikuti Ibnu ‘Aqiil dalam keragaman tersebut.”  (Adz-Dzail ‘alaa Tobaqootil Hanaabilah, cetakan Daarul Ma’rifah, hal 3/414 atau cetakan Al-‘Ubaikaan, tahqiq Abdurrahman Al-‘Utsaimiin 2/487)
Para pembaca yang budiman, Ibnu Rojab Al-Hanbali telah menjelaskan bahwasanya aqidah Ibnul Jauzi  dalam masalah tauhid Al-Asmaa’ was Sifaat tidaklah stabil, bahkan bergoncang. Dan Ibnul Jauzi –yang bermadzhab Hanbali- telah diingkari dengan keras oleh para ulama madzhab Hanbali yang lain. Sebab ketidakstabilan tersebut karena Ibnul Jauzi banyak mengikuti pendapat Ibnu ‘Aqiil yang tenggelam dalam ilmu kalam (filsafat).
Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbiis Ibliis mendukung madzhab At-Tafwiidh, sedangkan dalam kitabnya Majaalis Ibni Jauzi fi al-mutasyaabih minal Aayaat Al-Qur’aaniyah menetapkan sifat-sifat khobariyah, dan pada kitabnya Daf’ Syubah At-Tasybiih mendukung madzhab At-Takwiil (lihat penjelasan lebih lebar dalam risalah ‘ilmiyyah (thesis) yang berjudul “Ibnul Jauzi baina At-Takwiil wa At-Tafwiidh” yang ditulis oleh Ahmad ‘Athiyah Az-Zahrooni. Dan bisa didownload di
http://www.4shared.com/file/246344257/16845e7/_____-__.html
Adapun perkataan Ibnu Jauzy rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Abu salafy yaitu :
وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.
“Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk
Maka saya katakan :
Pertama : Abu Salafy kurang tepat tatkala menerjemahkan “Al-Mutahayyizaat” dengan benda berbentuk. Yang lebih tepat adalah jika diterjemahkan dengan “perkara-perkara yang bertempat”
Kedua : Kalau kita benar-benar merenungkan perkataan Ibnul Jauzy ini maka sesungguhnya perkataan ini bertentangan dengan penjelasan Imam Ahmad sebagaimana telah lalu tatkala Imam Ahmad berkata :”Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya. Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.
Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.
Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.
Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar Dzat-Nya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)
Jelas di sini perkataan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa Allah di luar ‘alam, tidak bersatu dengan makhluknya. Hal ini jelas bertentangan dengan peraktaan Ibnu Jauzi yang berafiliasi kepada madzhabnya Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketiga : Peraktaan Ibnul Jauzy –rahimahullah- “bahwasanya Allah tidak di dalam ‘alam semesta dan juga tidak di luar alam” melazimkan bahwasanya Allah tidak ada di dalam kenyataan, akan tetapi Allah hanya berada dalam khayalan. Karena ruang lingkup wujud hanya mencakup dua bentuk wujud, yaitu Allah dan ‘alam semesta, jika Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar ‘alam berarti Allah keluar dari ruang lingkup wujud, maka jadilah Allah itu pada hakekatnya tidak ada.
Kesimpulan :
Demikianlah para pembaca yang budiman penjelasan tentang hakikat dari artikel yang ditulis oleh Abu Salafy.
Kesimpulan yang bisa di ambil tentang abu salafy adalah sebagai berikut :
Pertama : Ana masih bingung apakah Ustadz Abu Salafy adalah seseorang yang berpemahaman Asyaa’iroh murni ataukah lebih parah daripada itu, yaitu ada kemungkinan ia berpemahaman jahmiyah atau mu’tazilah. Karena ketiga firqoh ini sepakat bahwasanya Allah tidak di atas langit.
Kedua : Atau bahkan ada kemungkinan Al-Ustadz berpemahaman Syi’ah Rofidhoh yang juga berpemahaman bahwasanya Allah tidak di atas langit. Semakin memperkuat dugaan ini ternyata Al-Ustadz Abu Salafy banyak menukil dari buku-buku Rafidhoh. Selain itu Al-Ustadz Abu Salafy juga dengan tegas dan jelas mengutuk Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu. Oleh karenanya ana sangat berharap Al-Ustadz Abu Salafy bisa menjelaskan siapa dirinya sehingga tidak lagi majhuul. Dan bahkan ana sangat bisa berharap bisa berdialog secara langsung dengan Al-Ustadz.
Ketiga : Dari penjelasan di atas ternyata Al-Ustadz Abu Salafy nekat mengambil riwayat dari buku yang telah difonis oleh Al-Ustadz sendiri bahwa buku tersebut adalah kedusataan demi untuk mendukung aqidah Abu Salafy. Maksud ana di sini adalah buku Al-Fiqhu Al-Akbar karya Abu Hanifah dari riwayat Abu Muthii’ Al-Balkhi
Keempat : Abu Salafy juga ternyata melakukan tadlis (muslihat) dengan memberi sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, namun yang dinukil oleh Al-Ustadz adalah perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami
Kelima : Aqidah yang dipilih oleh Abu Salafy adalah sebagaimana yang dinukil oleh Abu Salafy dari Ibnul Jauzi
وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه
“Hendaknya dikatakan bahwasanya Allah tidak di dalam alam dan juga tidak diluar alam”
Inilah aqidah yang senantiasa dipropagandakan oleh Asyaa’iroh Mutaakhirin seperti Fakhrurroozi dalam kitabnya Asaas At-Taqdiis.



Dan aqidah seperti ini melazimkan banyak kebatilan, diantaranya :
–  Sesungguhnya sesuatu yang disifati dengan sifat seperti ini (yaitu tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam, dan tidak mungkin diberi isyarat kepadanya) merupakan sesuatu yang mustahil. Dan sesuatu yang mustahil menafikan sifat wujud. Oleh karenanya kelaziman dari aqidah seperti ini adalah Allah itu tidak ada
–  Perkataan mereka “Allah tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam” pada hakekatnya merupakan penggabungan antara naqiidhoin (penggabungan antara dua hal yang saling bertentangan). Hal ini sama saja dengan perkataan “Dia tidak di atas dan juga tidak di bawah” atau “Dia tidak ada dan juga tidak tidak ada”. Dan penggabungan antara dua hal yang saling kontradiksi (bertentangan) sama halnya dengan meniadakan dua hal yang saling bertentangan. Maka perkataan “Allah tidak di alam dan juga tidak diluar alam” sama dengan perkataan “Allah tidak tidak di alam dan juga tidak tidak di luar alam”. Dan telah jelas bahwasanya menggabungkan antara dua hal yang saling bertentangan atau menafikan keduanya merupakan hal yang tidak masuk akal, alias mustahil
–   Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada. Jika perkaranya demikian maka sesungguhnya orang yang beraqidah terhadap Allah seperti ini telah jatuh dalam tasybiih. Yaitu mentasybiih (menyerupakan) Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau mentasybiih Allah dengan sesuatu yang mustahil.
–   Pensifatan Allah dengan sifat-sifat seperti ini masih lebih tidak masuk akal dibandingkan aqidah orang-orang hululiah (seperti Ibnu Arobi yang meyakini bahwa Allah bersatu atau menempati makhluknya). Meskipun aqidah hulul juga tidak masuk akal akan tetapi masih lebih masuk akal (masih lebih bisa direnungkan oleh akal) dibandingkan dengan aqidah Allah tidak di atas dan tidak di bawah, tidak di alam dan juga tidak di luar alam, tidak bersatu dengan alam dan tidak juga terpisah dari alam.
Keenam : Abu Salafy menolak keberadaan Allah di atas karena meyakini hal ini melazimkan Allah akan diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk. Maka kita katakana, aqidahnya ini menunjukan bahwasanya Abu Salafylah yang terjerumus dalam tasybiih, dan dialah yang musyabbih. Kenapa…??. Karena Abu Salafy sebelum menolak sifat Allah di atas langit ia mentasybiih dahulu Allah dengan makhluk. Oleh karenanya kalau makhluk yang berada di atas sesuatu pasti diliputi oleh tempat. Karenanya Abu Salafy mentasybiih dahulu baru kemudian menolak sifat tingginya Allah.
Ternyata hasil aqidah yang diperoleh Abu Salafy juga merupakan bentuk tasybiih. Karena aqidah Abu Salafy bahwasanya Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar alam merupakan bentuk mentasybiih Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau sesuatu yang mustahil (sebagaimana telah dijelaskan dalam point kelima di atas). Jadilah Abu Salafy musyabbih sebelum menolak sifat dan musyabbih juga setelah menolak sifat Allah.
Ketujuh : Abu Salafy tidak menemukan satu perkataan salaf (dari generasi sahabat hingga abad ke tiga) yang mendukung aqidahya, oleh karenanya Abu Salafypun nekat untuk berdusta atau mengambil dari riwayat-riwayat yang tidak jelas dan tanpa sanad, atau dia berusaha mengambil perkataan-perkataan para ulama mutaakhiriin.
Bersambung….
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 23 Dzul Qo’dah 1431 H / 31 Oktober 2010 M
Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja