Thursday, July 16, 2015

Nahjul Balaghah : Khutbah Ali r.a – Khutbah 91

Oleh : Aburedza
Sahabat saya Abu Hassan , seorang Syiah , dalam emailnya terus mengatakan  kekhalifahan selepas Rasullah saw adalah hak Ali as .  Abu Bakar ra, Umar ra dan Usman ra adalah perampas.  Tuduhan itu tidak betul jika di nilai dari kata-kata Imam Ali as sendiri.  Sila rujuk Kitab Nahjul Balaghah , khutbah ke 92 . Kitab Nahjul Balaghah adalah termasuk kitab Syiah yang utama. Saya salin seperti terjemahan Indonesia. Sila baca juga catitan kaki oleh penyusun Sayid Radhi :
KHOTBAH 91
Ketika orang-orang memutuskan untuk membaiat Amirul Mukminin setelah pembunuhan ‘Utsman,[1] ia berkata:
Tinggalkan saya dan carilah orang lain. Kita sedang menghadapi suatu hal yang mempunyai (beberapa) wajah dan warna, yang tak dapat ditahan hati dan tak dapat diterima akal. Awan sedang menggelantung di langit, dan wajah-wajah tak dapat dibedakan. Anda seharusnya tahu bahwa apabila saya menyambut Anda, saya akan memimpin Anda sebagaimana saya ketahui, dan tidak akan memusingkan apa pun yang mungkin dikatakan atau dicercakan orang. Apabila Anda meninggalkan saya maka saya sama dengan Anda. Mungkin saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat ketimbang seorang kepala. •


[1] Setelah pembunuhan ‘Utsman, kursi kekhalifahan tertinggal kosong, dan kaum Muslim mulai melihat kepada Ali a.s. yang berperangai damai, kukuh pada prinsip, dan perilakunya telah banyak mereka saksikan selama masa panjang itu. Akibatnya, mereka berduyun-duyun menyerbunya untuk menyampaikan baiat kepadanya seperti musafir tersesat melihat tujuannya. Mereka menyerbu ke arah-nya, sebagaimana dicatat sejarawan Thabari,
“Orang maju berdesakan-desakan kepada Ali seraya mengatakan, ‘Kami hendak membaiat kepada Anda dan Anda melihat kekacauan apa yang menimpa Islam dan kita sedang dicoba tentang kerabat Nabi.'” (Tārīkh, I, h. 3066, 3067, 3076)
Tetapi Amirul Mukminin menolak permohonan mereka. Karenanya rakyat berteriak-teriak dengan kacau dan berseru dengan nyaring, “Hai Abu Hasan, apakah Anda tidak menyaksikan kehancuran Islam atau melihat datangnya banjir kerusuhan dan bencana? Apakah Anda tidak takut kepada Allah?” Namun demikian Amirul Mukminin tidak menunjukkan kesediaan untuk menyetujuinya, karena ia melihat bahwa eiek dari suasana yang terjadi setelah wafatnya Nabi telah menguasai hati dan pikiran rakyat; keakuan dan hawa nafsu untuk kekuasaan telah berakar di hati mereka, pikiran mereka telah dipengaruhi materialisme, dan mereka telah terbiasa memperlakukan pemerintah sebagai sarana untuk mendapatkan maksud mereka. Sekarang mereka hendak mematerialkan dan mempermainkan kekhalifahan Ilahi pula. Dalam keadaan itu mustahil mengubah mentalitas atau mengalihkan arah temperamen mereka. Selain dari itu, ia pun melihat bahwa rakyat harus mendapatkan waktu lebih panjang untuk berpikir agar kelak mereka tidak mengatakan bahwa baiat mereka telah diberikan di bawah kebutuhan temporer dan pemikiran sewaktu dan tanpa pemikiran matang, tepat sebagaimana gagasan ‘Umar tentang kekhalifahan pertama, yang muncul dalam pernyataannya,
“Kekhalifahan Abu Bakar terjadi tanpa dipikirkan, tetapi Allah menyelamat-kan kita dari bencananya. Apabila seseorang mengulangi hal semacam itu, ia harus dibunuh. (al-Bukhari ash-Shahih, VIII, h. 210-211; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 55; Thabarf, I, h. 1822; Ibn Atsir, II, h. 327; Ibn Hisyam, IV, h. 308-309; Ibn Katsir, V, h. 246)
Singkatnya, ketika desakan mereka meningkat melampaui batas, Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini, di mana ia menjelaskan bahwa “Apabila Anda menghendaki saya demi tujuan-tujuan duniawi Anda, maka saya tidak siap melayani sebagai alat Anda. Tinggalkan saya dan pilihlah seseorang lain yang mungkin memenuhi tujuan Anda. Anda telah melihat kehidupan masa lalu saya bahwa saya tidak bersedia mengikuti apa pun selain Al-Qur’an dan Sunah, dan tidak akan melepaskan prinsip ini untuk mendapatkan kekuasaan. Apabila Anda memilih seseorang lain, saya akan menghormati hukum negara dan konstitusi sebagaimana warga yang suka damai.Tidak pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Malah, justru demi memelihara kebaikan bersama, sampai saat ini saya memberikan nasihat yang benar, saya tak akan enggan untuk berbuat sama seperti itu. Apabila Anda biarkan saya dalam kedudukan yang sama, hal itu adalah lebih baik bagi tujuan duniawi Anda, karena dalam hal itu saya tidak memegang kekuasaan untuk menghalangi urusan duniawi Anda dan menciptakan rintangan terhadap keinginan hati Anda. Tetapi, jika Anda telah bertekad untuk membaiat kepada saya, ingatlah bahwa apabila Anda menger-nyitkan dahi atau berbicara menentang saya maka saya akan memaksa Anda me-langkah pada jalan yang benar, dan dalam hal kebenaran saya tidak akan peduli terhadap siapa pun. Apabila Anda hendak membaiat walaupun dengan ketentuan ini, Anda boleh memuaskan kehendak Anda.”
Kesan yang telah dibentuk oleh Amirul Mukminin tentang orang-orang ini sesuai sepenuhnya dengan kejadian-kejadian di kemudian hari. Ketika orang-orang yang telah membaiat dengan motif-motif duniawi tidak berhasil dalam tujuannya, mereka kemudian membelot dan bangkit melawan pemerintahannya dengan tuduhan-tuduhan palsu. 
Catitan hujung :
Perhatikan kata-kata Imam Ali as : saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat berbanding seorang ketua.
Perhatikan juga ulasan penyusun pada nota kaki :  Tidak pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Jadi bagaimana mungkin di katakan Imam Ali as  membantah kekahalifahan Abu Bakar ra , Umar ra dan Usman ra ?
Jika jawatan khalifah adalah  hak atau arahan Allah , maka Ali as tidak akan menolaknya. Menolaknya adalah derhaka dan berdosa.
Saudara pembaca mengapa Syiah mendustai Imam mereka sendiri ? Saudara boleh membaca tulisan saya sebelum ini dihttps://aburedza.wordpress.com/2009/06/15/surat-khalifah-ali-ra-kepada-muawiiah-bin-abi-sufian-ra/  mengenai   Surat Khalifah Ali ra Kepada Muawiah Bin Abi Sufian ra