Wednesday, September 22, 2021

Salafisme Tidak Menentang Modernisme Yang Sejalan Dengan Syariat

Membantah Turki Al-Hamad, Saudi Liberal Tentang Salafisme Dan Modernisme
 
Turki Al-Hamad, seorang doktor politik lulusan University of Southern California, yang pernah mengajar di Universitas King Su’ud Riyadh, kembali mencuit ide liberalnya.
 
Tokoh liberal Saudi ini pernah terancam dipidanakan karena cuitannya yang menghina Islam. Kali ini twit salah pahamannya terkait definisi “salafisme” dan “modernisme” dibantah lunas.
 
Turki menulis: “Salafisme”, apapun jenisnya, dan “modernisme” adalah dua hal yang tidak akan bertemu atau bercampur, seperti air dan minyak, karena perbedaan rujukan adalah sesuatu yang tidak dapat didamaikan atau dibuat-buat.
 
Salafisme didasarkan pada taqlid dan ittiba’, sedangkan modernime didasarkan pada kreativitas dan kebangkitan. Tidak ada ruang antara ittiba’ dan kreativitas untuk bersepakat.”
 
Tidak lama, cuitannya dibalas oleh Syaikh Hamad Al-Atiq, peneliti paham ekstremis di Arab Saudi, pengasuh web islamancient.com:
 
“Liberalisme”, apapun jenisnya, dan “Islam” adalah dua hal yang tidak akan bertemu, dan tidak dapat dipertemukan atau bercampur, seperti air dan minyak, karena perbedaan referensi adalah sesuatu yang tidak dapat didamaikan atau dibuat-buat!
 
Intinya, liberalisme didasarkan pada kekacauan, sedangkan Islam didasarkan pada ittiba’, dan tidak ada ruang antara kekacauan dan ittiba’ untuk bersepakat.”
 
Lebih lanjut Syaikh Hamad menulis kulwit:
 
Adapun klaim Anda: bahwa “Salafisme”, apapun jenisnya, dan “modernisasi” adalah dua hal yang tidak dapat dipertemukan… dst, merujuk pada cacat pemahaman Anda tentang makna salafisme atau makna modernisasi.
 
Salafisme adalah Islam yang benar dan murni dari bid’ah dengan mengikuti Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaf, yaitu konsensus (ijma‘) para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.
 
Adapun modernisme adalah perkembangan sistem kehidupan duniawi.
Ada sebagian orang yang memahami bahwa salafisme adalah penolakan terhadap setiap hal yang baru dalam sistem kehidupan.
 
Dan memahami modernisme sebagai adopsi setiap perkembangan dan pembaruan sistem kehidupan, bahkan jika Allah melarangnya dalam Kitab dan Nabi melarangnya dalam Sunnah, atau para salaf sepakat untuk melarangnya.
 
Maka, siapa pun yang memahami salafisme dan modernitas dalam pengertian tersebut, tidak diragukan lagi bahwa dia akan melihatnya sebagai pertentangan yang tidak akan bertemu dan bercampur seperti air dan minyak.
 
Salafisme tidak melarang pendidikan, pembangunan, ekonomi, pariwisata, hiburan dan persenjataan dengan spesifikasi tercanggih dan terkini.
 
Sebaliknya, salafisme mendorong dan mendukungnya, seperti yang Alla Ta’ala firmankan: “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah.” (QS. Al-Anfal ayat 60).
 
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembangkan persenjataan dan pertahananannya dengan memasukkan strategi yang “modern” kala itu, yaitu dengan menggali parit untuk mempertahankan Madinah.
 
Tidak ada masalah antara salafisme, yaitu Islam sejati yang murni dari kotoran bid’ah. Tidak ada masalah dengan salafisme dalam pengertian ini dengan modernisasi, yang berarti pembaruan dan pembangunan yang dibolehkan yang datang dari Timur atau Barat!
 
Masalah Salafiyyah dengan “yang diharamkan” saja, apakah itu lama atau baru, dan apakah itu diperkenalkan oleh orang Arab atau diciptakan oleh orang lain.
 
Sebaliknya, prinsip-prinsip salafisme dalam Al-Qur’an dan Sunnah menyerukan pembaruan dan modernisasi, dan untuk memanfaatkan segala sesuatu di bumi dan di langit untuk apa yang baik dan bermanfaat.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Allah telah menundukkan bagimu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi?” (Surah Luqman, ayat 20).
 
Sebagaimana Allah firmankan: “Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Jasiyah, ayat 12).
 
Di antara prinsip-prinsip salafisme adalah bahwa prinsip dasar dalam semua masalah adalah diperbolehkan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah, ayat 29).
 
Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?” (QS. Al-‘Araf, ayat 32).
 
Dan Allah juga berfirman: “Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi.” (QS Al-An’am, ayat 145).
 
Salafisme dengan modernisasi dalam perekonomian, memanfaatkan semua sarana modern dalam perekonomian, seperti kartu ATM dan penggunaan teknologi dan sistem digital.
 
Meskipun modern, tetapi pada saat yang sama menentang riba dan penjualan alkohol, misalnya, yaitu mengambil keuntungan secara ekonomi dari hal seperti ini, meskipun riba dan miras bukan hal yang modern melainkan sudah lama ada.
 
Salafisme tidak menentang modernisasi pariwisata dan hiburan, seperti kota-kota rekreasi, meskipun dengan konsep “modern.” Ini sebagaimana Nabi shawallallahu alaihi wa sallam menawarkan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk menyaksikan orang-orang Etiopia saat mereka sedang bermain.
 
Salafisme tidak bertentangan dengan mode dan pakaian baru, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS Al-An’am, ayat 32).
 
Tapi Salafisme menentang apa yang dilarang, seperti memakai sutra untuk pria dan tabarruj untuk wanita, apakah itu di masa lalu: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS Al-Ahzab, ayat 33). Atau tabarruj dengan cara modern atas nama fashion dan rumah mode.
 
Jika pembaruan menurut Anda adalah:
●Riba dan penjualan alkohol dalam perekonomian;
●Prostitusi dan alkohol untuk pariwisata dan hiburan;
●Daging babi dan minuman keras untuk makanan;
●Laki-laki memakai sutra dan perempuan memakai pakaian;
Jika ini yang anda maksudkan, maka saya bersaksi bahwa Salafisme -yang merupakan Islam sejati- tidak akan dapat menerima “modernisasi” versi Anda ini, melainkan menentangnya sampai Hari Pembalasan.
Sumber: Kulwit Syaikh Hamad al-Atiq

https://saudinesia.com/2021/09/22/membantah-turki-al-hamad-saudi-liberal-tentang-salafisme-dan-modernisme/