Saturday, February 28, 2015

Jangan Mudah Menuduh Orang Sebagai Wahabi

Ketika saya dihubungi agar mengulas tentang satu gerakan yang suka menuduh orang lain Wahabi, pada awalnya saya malas untuk ikut campur. Di saat negara sedang bergelut dengan berbagai krisis, ada juga kelompok yang sibuk menjuluki Wahabi orang lain. Terlebih lagi, saya sudah lama tidak berfikir tentang isu tersebut karena sibuk dengan isu-isu yang lebih bersifat nasional dan dunia.

Sesungguhnya, di negara kita kini (Malaysia,
 red) sedang muncul satu golongan yang menyembunyikan identitasnya. Mereka ini jika di negara Arab disebut sebagai Ahbash.

Kelompok ini berpusat di Lebanon dan mempengaruhi sebagian pelajar kita di sana, juga yang di tempat lain. Istilah
ahbash dinisbatkan kepada pendiri gerakan itu, seseorang keturunan Habasyah (Ethiopia) Afrika. Guru mereka ialah Abdullah Al-Harari. Seorang yang terkenal suka mengafirkan orang lain yang tidak sependapat dengannya. Dia selalu mengklaim bahwa hanya dirinya Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bermazhab Syafi’i. Siapa yang tidak sependapat dengannya itu sesat, atau kafir atau Wahabi. Hasilnya terjadilah pembunuhan dan kerusuhan. Mereka telah mengafirkan ulama-ulama terdahulu seperti Imam Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Qayyim, Imam Adz-Dzahabi, Imam Ibnu Katsir, Muhammad bin Abdul Wahab dan lain-lain.

Ulama kontemporer yang dikafirkan oleh mereka di antaranya adalah Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Said Ramadhan Al-Buthi, Sayyid Sabiq, Sayyid Quthb, Al-Albani, Mufti Lebanon, Hasan Khalid, dan lain-lain.
Di Malaysia, mereka mulai masuk ke dalam organisasi-organisasi agama, begitu juga di negara-negara lain. Mereka membuat program-program atas nama Ahlussunnah wal Jamaah. Intinya, mereka menuduh siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka sebagai Wahabi. Slogan mereka juga sama, siapa yang memberikan pendapat yang tidak sama dengan mereka maka orang itu sesat atau Wahabi. Dahulu pun dalam negara ini ada gerakan kaum muda seperti Za’ba, Sayid Syeikh Al-Hadi, Burhanudin Al-Helmi, Abu Bakar Al-Baqir dan selain mereka yang memang dikenal kontribusi mereka dalam pembaharuan dan kemerdekaan.

Walaupun ada tentangan terhadap kaum muda dari kelompok konservertif tradisionalis Melayu, namun buku-buku sejarah yang jujur terus mengakui sumbangan kaum muda kepada pendidikan, perjuangan hak wanita, kemajuan pemikiran, pembebasan dari kebodohan dan sejenisnya.

Namun hari ini kelompok Ahbash yang muncul dan menyelinap masuk dalam masyarakat kita mencoba untuk mengungkit perbedaan-perbedaan ini sehingga sampai pada level saling mengafirkan. Menurut mereka (Ahbash,
 red) golongan pembaharuan menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Padahal jika mereka jujur, perpecahan yang sesungguhnya (sedang terjadi saat ini) dalam masyarakat Melayu adalah dalam isu-isu politik dan negara, bukan isu doa arwah, tahlilan dan tarekat yang dipertahankan oleh mereka.

Golongan Ahbash ini menyimpan racun mereka dan menunggu hari untuk menyebarkan racun tersebut. Tidak heran jika beberapa pembunuhan di Lebanon dikaitkan dengan mereka dan banyak tokoh yang menganggap mereka mempunyai hubungan dengan CIA. Oleh karena itu kita melihat pendekatan Ahbash ini mirip Amerika. Jika Amerika yang menjadi teroris di negara orang, menuduh orang lain teroris, maka demikian juga kelompok Ahbash ini yang suka mengafirkan orang lain, bahkan juga membunuh orang yang mereka tuduh kafir. Maka tidak heran jika guru Ahbash itu diberi gelar
 Al-Fattan atau penyebar fitnah.

Meski kita juga tidak menafikan, bahwa ada segelintir kelompok yang menyebut diri mereka salafi kadang-kala ada ciri-ciri agak keras dalam berinteraksi dengan amalan tradisi lokal atau menimbulkan beberapa pendapat yang terkadang tidak wajar dan dibesar-besarkan. Saya sendiri kurang setuju dengan sikap-sikap keras dan kaku dalam perkara yang diizinkan syari’at untuk berbeda pendapat.
Namun, kekeliruan mereka itu hanya pada cara melakukan pendekatan dan penyampaian. Tidak sepatutnya mereka (salafi) dihukumi sesat atau dikafirkan oleh kelompok Ahbash.

Ahbash ini agak unik, mereka menuduh siapa saja yang berbeda pendapat dengan pandangan mereka sebagai Wahabi. Padahal, jika kita bertanya kepada mereka, “Apa itu Wahabi?”. Mereka menjawab dengan tidak pasti dan terkesan tidak konsisten dengan jawaban yang diberikan.

Ada yang mengatakan Wahabi adalah siapa saja yang tidak membaca doa qunut subuh. Jika kita beritahu mereka, bahwa mazhab-mazhab yang lain juga tidak qunut subuh. Apakah Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu Hanifah juga Wahabi?

Ada yang mengatakan bahwa Wahabi itu adalah mereka yang melakukan tahlilan. Kita beritahu mereka bahwa tahlil maksudnya
 La ilaha illa Allah, tahmid maksudnya Alhamdulillah, dan tasbih maksudnya Subhanallah. Setahu kita para ulama ini melakukannya. Mana mungkin, jika tidak, mereka kafir. Bahkan imam-imam di Arab Saudi yang dituduh Wahabi itu menghafal Al-Quran dengan begitu hebat dan bacaan-bacaan mereka diperdengarkan di sana sini. Apakah mereka kafir?

Ada yang mengatakan Wahabi adalah mereka yang belajar di Arab Saudi. Banyak yang tidak belajar di Arab Saudi pun ada juga yang menuduh Wahabi. Kemudian, kalau Wahabi itu sesat, apakah sekarang Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sedang didiami dan diimami oleh golongan yang sesat?

Ada yang mengatakan bahwa Wahabi ialah golongan yang tidak bermazhab. Kita beritahu dia bahwa Arab Saudi yang sering mereka tuduh Wahabi itu bermazhab Hanbali.

Mungkin ada juga yang mengatakan bahwa Wahabi adalah pengikut Muhammad bin Abdul Wahab.
Saya sendiri dalam pengalaman yang singkat ini ada yang menyebut saya Wahabi, sekalipun saya tidak begitu banyak membaca buku-buku Muhammad bin Abdul Wahab. Saya hanya menganggapnya sebagai salah seorang tokoh Islam yang berjasa dan mempunyai sumbangsih terhadap Islam. Di saat yang sama tentu ada kekurangan dan kelemahannya. Dia bukan tokoh mazhab fiqih yang ulung. Dia sendiri bermazhab Hanbali. Bukan juga ahli dalam hadis, sehingga Al-Albani pernah mengkritiknya dengan agak tegas. Namun sekali lagi, sebagai tokoh, dia tetap mempunyai jasa yang tidak dapat dilupakan tersendiri. Dari segi ilmiah, secara pribadi saya tidak mendapat terlalu banyak manfaat darinya. Namun, sekali lagi sumbangsihnya tidak bisa dilupakan.

Dr. Yusuf Al Qaradhawi dalam bukunya
 Fiqh Al Aulawiyyat memuji Muhammad bin Abdul Wahab, dengan berkata,“Bagi Imam Muhammad bin Abdul Wahab di Jazirah Arab perkara akidah menjadi keutamaannya untuk memelihara benteng tauhid dari syirik yang telah mencemari pancaran tauhid dan dikotori kesuciannya. Beliau telah menulis buku-buku dan risalah-risalah dalam perkara tersebut. Beliau bangkit menanggung beban secara dakwah dan praktikal dalam memusnahkan gambaran-gambaran syirik.” (hal. 263, cetakan Maktabah Wahbah, Mesir).

Salah seorang tokoh ahli fiqih terkenal, Dr. Wahhab Al Zuhaili juga memujinya dengan mengatakan,
 “Sesuatu yang tidak bisa diragukan, menyadari hakikat yang sesungguhnya, bukan untuk meredhakan siapa, berpegang kepada ayat Al Quran yang agung (maksudnya) “Jangan kamu kurangkan manusia apa yang menjadi hak-haknya (Surah Hud: 85), bahwa suara kebenaran yang paling berani, pendakwah terbesar untuk ishlah (perbaikan), membina umat, jihad dan mengembalikan individu muslim kepada berpegang dengan jalan salaf ash-shalih yang terbesar ialah dakwah Muhammad bin Abdul Wahab pada kurun yang kedua belas Hijrah. Tujuannya untuk memperbarukan kehidupan muslim, setelah secara umum dicemari dengan berbagai khilaf, kekeliruan, bid’ah dan penyelewengan. Maka Muhammad bin Abdul Wahab ialah pemimpin kebangkitan agama dan perbaikan (ishlah) yang dinantikan, yang memperlihatkan timbangan akidah yang bersih.” (Rujukan: Dr Wahbah Al Zuhaili, Risalah Mujaddid Al Din fi Qarn Al Thani ‘Asyar, m.s 57-58).

Bahkan masih banyak puji-pujian untuk beliau dalam risalah tersebut. Banyak lagi tokoh-tokoh lain yang memuji Muhammad bin Abdul Wahab, apakah tokoh-tokoh agama yang begitu banyak itu patut dituduh Wahabi?

Kitab
 Al Fiqh Al Manhaji ‘ala Mazhab Imam As-Syafi’i merupakan karya tokoh-tokoh kontemporer mazhab Imam Syafi’i, yaitu Syeikh Mustafa Khin, Syeikh Mustafa Al Bugha dan ‘Ali Al Syarbaji. Dan dalam kitab itu dikatakan,“Diantara bid’ah yang dibuat oleh keluarga orang yang meninggal dunia ialah dengan mengundang orang banyak untuk acara makan-makan dengan acara yang dinamakan 40 harian dan lainnya. Sekiranya makanan tersebut dibeli dari harta peninggalan orang yang telah meninggal dunia dan di kalangan waris ada yang belum baligh, maka perkara itu lebih haram. Ini karena ia memakan harta benda anak yatim dan melenyapkannya bukan untuk kepentingan anak yatim tersebut. Termasuk di antara yang melakukan perbuatan haram adalah orang-orang yang mengundang dan memakan makanan tersebut.” (1/263, Damaskus, Dar Al-Qalam).

Apakah semua penulis itu Wahabi? Jika kita melihat kitab-kitab Melayu Jawi, kita akan mendapati perkara yang kurang lebih sama. Kata Syeikh Daud Al Fatani (semoga Allah merahmatinya) dalam
 Bughyah Al Talab, Hukumnyamakruh bahkan bid’ah, yakni orang yang ditimpa musibah kematian kemudian memasak makanan dan mengundang orang-orang untuk memakan bersama dia.” (2/34).
Demikian juga pernyataan yang dibuat oleh Syeikh Muhammad Arsyad Banjari dalam
 Sabil Al Muhtadin. Begitu juga Al  Marbawi dalam Bahr Al Mazi menyebutkan, “Itu adalah perbuatan bid’ah yang tidak baik.” (7/130).

Apakah mereka semua juga Wahabi?

Apabila ada yang memberitahu bahwa amalan Nisfu Sya’ban (seperti yang dilakukan oleh masyarakat kita) bukan dari ajaran Nabi. Mereka akan mengatakan, “Dia Wahabi.”

Ini fatwa Dr Yusuf Al Qaradhawi ketika ditanya mengenai nisfu Sya’ban, beliau menjawab,
 “Tidak pernah diriwayatkan dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat bahwa mereka berkumpul di masjid untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban, membaca doa tertentu dan melakukan shalat tertentu seperti yang kita lihat pada sebagian negeri muslim. Bahkan di sebagian negara, setelah shalat maghrib banyak orang yang berkumpul pada malam tersebut di masjid-masjid. Mereka membaca surah Yasin dan shalat dua raka’at agar panjang umur, dua rakaat berikutnya agar tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca doa yang tidak pernah dilakukan oleh golongan salaf (para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in). Doa yang mereka ucapkan sangat panjang dan yang bertentangan dengan dalil (Al-Quran dan Sunnah). Menghidupkan malam nisfu Sya’ban seperti yang kita lihat dan dengar yang terjadi di sebagian negara Islam adalah bid’ah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadah cukup seperti yang diterangkan dalam Quran dan Hadits.“ (Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Fatawa Mu`asirah, 1/382-383, Beirut: Dar Uli Al Nuha).

Apakah Dr Yusuf Al-Qaradhawi juga Wahabi?

Imam An-Nawawi (meninggal 676 H) adalah tokoh agung dalam mazhab Syafi’i. Pada zamannya, beliau membantah untuk mengiringi jenazah sambil membaca Al-Quran dengan mengangkat suara (agak dikeraskan,
 red).

Beliau berkata,
 “Ketahuilah, sesungguhnya yang menjadi amalan salaf ash-shalih radhiyallahu ‘anhum adalah diam ketika mengiringi jenazah. Jangan diangkat suara dengan bacaan ayat, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, yaitu lebih menenangkan hati dan pikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang seharusnya dilakukan dalam keadaan tersebut. Inilah yang cara yang benar. Jangan kamu terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyelisihinya.” (An Nawawi, Al Azkar, halaman. 225-226, Damaskus: Maktabah Al Ghazali).

Saya percaya jika Imam An-Nawawi masih hidup di zaman ini dan membuat pernyataan ini, golongan yang fanatik pada Ahbash akan menuduhnya juga sebagai Wahabi.

Bahkan jika Imam As-Syafi’i masih hidup pun mungkin akan dituduh Wahabi. Dalam kitabnya
 Al Umm disebutkan,“Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir selesai shalat. Hendaklah mereka berzikir dengan sirr (suara perlahan), kecuali jika imam mau mengajari makmum bacaan-bacaan zikir, maka ketika itu tidak apa-apa zikir bersama-sama dengan suara yang keras. Sehingga apabila zikir itu sudah diajarkan pada makmum. Maka setelah itu hendaklah dia membaca dengan sirr.” (Al Syafi’i, Mausu‘at Imam Syafi’i: Al Umm, 1/353 Beirut: Dar Ihya Al-Turats Al ‘Arabi).
Ada yang mengatakan bahwa Wahabi tidak mewajibkan terikat dengan sesuatu mazhab. Saya kata kalau begitu haramkanlah buku Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Dr Wahbah Al-Zuhaili, Dr. Abdul Karim Zaidan dan berbagai tokoh ulama lain yang disebarkan di Malaysia ini. Sebab mereka ini yang tidak mewajibkan terikat dengan mazhab.

Lihat apa kata Dr Yusuf Al Qaradhawi,
 “Perkara yang penting untuk Anda ketahui adalah bahwa orang awam mengikuti salah seorang imam mazhab adalah sebuah keharusan dengan syarat yang telah ditentukan. Hal ini bukan sesuatu yang wajib seperti yang dikatakan oleh beberapa orang. Ini karena tiada kewajiban kecuali apa yang diwajibkan oleh Al-Quran dan Hadits, karena Al-Quran dan Hadits tidak mewajibkan seseorang terikat dengan satu mazhab. Maka tidak menjadi halangan untuk seorang muslim bebas dari ikatan mazhab manapun. Dia boleh bertanya berkaitan urusan agamanya kepada siapa saja di kalangan ulama. Tanpa perlu terikat dengan seorang ulama saja dengan tidak mau bertanya kepada orang lain. Inilah jalan para sahabat dan siapa yang mengikuti mereka dengan cara yang baik pada sebaik-baiknya zaman.” ( Al Qaradhawi: Dr Yusuf, Kaif Nata’amal Ma’ Al Turath, m.s. 83-84, Kairo, Maktab Wahbah)

Banyak lagi contoh-contoh lain jika hendak disebutkan, maka akan terbantahkanlah bahwa tuduhan Wahabi pada para ulama kebanyakan adalah fitnah. Ketika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan dan persoalan yang disampaikan, biasanya mereka akan mengalihkan isu ke arah yang lain. Itu adalah lambang akhlak dan perilaku buruk mereka. Memburukkan orang lain tanpa bukti dan ilmu. Mereka ini akan didakwa di akhirat karena memutar-balikkan fakta tanpa rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah Al Hujurat ayat 11-12:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sangat disayangkan jika medan pembahasan ilmiah dijadikan medan untuk saling memfitnah. Terlebih lagi jika yang dibahas itu adalah tentang agama dan berbagai macam perbedaan yang ada di dalamnya. Kita seharusnya berada dalam batas fakta dan angka saja. Jangan berlebihan sampai menuduh secara tidak berakhlak. Banyak pendakwah yang menjadi mangsa akhlak buruk ini. Sudah sepatutnya kita berduka cita dan bersimpati. Terlebih lagi jika pelaku fitnah ini menyelinap dan menggunakan nama organisasi tertentu untuk melancarkan aksi fitnahnya.

Saya katakan kepada para pendakwah yang difitnah, “Bersabarlah.” Karena sebelum ini para rasul yang mulia juga banyak mendapatkan fitnah. Nabi Muhammad
 Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah dituduh tukang sihir dan orang gila. Imam Syafi’i Rahimahullah pernah dituduh sebagai pendukung Syi’ah di zamannya sehingga dia dihukum. Imam Al-Bukhari Rahimahullah pernah dituduh bersekongkol dengan Mu’tazilah mengenai Al-Quran, sehingga dia terpaksa keluar dari kampung halamannya.

Demikian juga sejarah dan perjalanan para ulama yang tidak pernah sepi dari kejahatan golongan pendengki dan pengkhianat. Demikian tabiat dan sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku pada dakwah ini yang sentiasa menuntut keikhlasan dan pengorbanan bagi pengembannya.

Wahai mereka yang suka menuduh orang lain atas sentimen tanpa bukti. Berhentilah, banyak pekerjaan lain yang patut kita lakukan.
Jangan halangi orang lain untuk mencari ilmu dan berpikir jernih. Tunjukkan citra dan keistimewaan Islam itu dengan membiarkan berbagi pemikiran hidup dalam iklim yang harmoni agar tidak ada penipuan dan pengkhianatan. Dunia akan menjadi damai ketika dihuni oleh manusia yang cinta ilmu. bukan yang suka mengafirkan orang lain tanpa sebab atau menuduh orang Wahabi hanya karena tidak berkenan di hatinya.
Dr. Mohammad Asri Zainul Abidin, Malaysia


Ahlus Sunnah Untuk Keutuhan NKRI

Persatuan kaum Muslimin akan tercapai, jika Ahlus Sunnah wal Jamaah bisa bersatu
Oleh: Wildan Hasan

KEHIDUPAN kaum Muslimin di tanah air saat ini  banyak masalah, beban kehidupan dan tantangan yang harus dihadapi.
Di negeri sendiri, kita menghadapi masalah kemiskinan, kebodohan, liberalisasi ekonomi dan pemikiran, konflik sosial, merebaknya budaya barat, tirani media, tirani minoritas, korupsi birokrasi, eksploitasi kekayaan nasional, berkembangnya aliran-aliran sesat, dekadensi moral, kriminalitas, apatisme publik dan lain-lain.
Masalah-masalah ini saling kait-mengkait, terkoneksi secara komplek satu jalur dengan jalur lainnya.
Dalam kondisi demikian, mestinya kita berfikir arif dan bijak, menghemat energi kehidupan (waktu, tenaga, pemikiran dan harta), memaksimalkan kerja dan peluang, merapatkan barisan, menambal kebocoran, saling menolong mewujudkan kebaikan, saling menjaga, mengasihi, peduli dan setia kawan antara sesama Muslim. Namun kenyataannya, ternyata tidak mudah mewujudkan harapan-harapan itu. Dalam situasi penuh tantangan ini, kita tidak tergerak untuk bersatu, atau mencari jalan mengishlahkan perselisihan; tetapi kita justru banyak terlibat dalam konflik dan perselisihan antar sesama.
Salah satu masalah besar yang dihadapi kaum Muslimin di nusantara yang menghalangi terwujudnya persatuan umat, ialah sulitnya menyatukan barisan Ahlus Sunnah wal Jamaah atau kerap disingkat ASWAJA.
Kita patut bersyukur, bangsa ini didominasi oleh kalangan Ahlus Sunnah. Eksistensi Ahlus Sunnah sendiri tersebar di berbagai organisasi, lembaga, sikap politik, dan bidang aktivitas. Andaikan semua ini dipandang sebagai sebuah keragaman yang saling melengkapi, tentu kita sangat mensyukurinya. Namun dalam kenyataannya, antara sesama Ahlus Sunnah kerap terlibat dalam perselisihan sengit yang akhirnya saling menegasikan.
Ketika Ahlus Sunnah masih terpuruk dalam labirin pertikaian, akibatnya umat Islam di Nusantara terus-menerus didera kelemahan, penderitaan, dan akhirnya berujung pada kelemahan yang berdampak pada kelamnya wajah Indonesia saat ini. Karena kondisi bangsa ini adalah cerminan dari kondisi umat Islam sebagai mayoritas rakyat tanah air. Saat ini kita sangat dituntut untuk mencari jalan  titik temu dan jembatan penghubung yang bisa menyatukan hati-hati sesama Ahlus Sunnah. Kita harus berusaha sekuat tenaga membangun kekuatan umat. Kalau tidak bisa menyatukan pemikiran, setidaknya memiliki komitmen untuk saling menghormati dan mengasihi.
Kalau tidak mampu berkomitmen, berarti kita harus mampu menahan diri dari sikap-sikap yang bisa memperlebar jurang perpecahan. Apalagi musuh-musuh Islam terus berupaya memerangi umat Islam dengan memecah belah dan mengadu domba berbagai kalangan Ahlu Sunnah satu sama lainnya. Sebagai contoh, mereka mengadu domba antara Wahabi dan NU yang keduanya sejatinya berada di rumah besar Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sama dengan meniup-niupkan isu Takfiri dan sebagainya.
Tidak diragukan lagi, bahwa persatuan umat adalah dambaan kita semua. Banyak dalil syariat yang menyerukan umat Islam agar bersatu padu, merapatkan barisan dan saling tolong menolong dalam kewajiban dan takwa. Hingga disebutkan dalam riwayat, “Berjamaah itu adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab.” [HR: Al Qadha’i, dari Nu’man bin Basyir]. Persatuan kaum Muslimin akan tercapai, jika Ahlus Sunnah wal Jamaah bisa bersatu. Karena Ahlus Sunnah merupakan mayoritas dari kalangan umat Islam di seluruh dunia; mereka adalah pengikut salah satu dari imam-imam Ahlus Sunnah, seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Asy Syafi’i dan Imam Hambali. Ahlus Sunnah inilah yang dijanjikan mendapatkan keselamatan dan pertolongan.
Namun dalam praktiknya, tidak mudah menyatukan Ahlu Sunnah, karena disana terdapat perselisihan antara elemen-elemen Ahlus Sunnah sendiri yang tidak jarang dijadikan celah bagi musuh-musuih Islam untuk merusak ukhuwah Islamiyah. Mereka berselisih dalam perkara fiqih, cabang-cabang aqidah, pemikiran, hingga kepentingan politik. Salah satu perselisihan yang menonjol ialah antara paham Asy’ariyah dan Maturidiyah di satu sisi dan Salafiyah di sisi lain. Inilah yang kemudian mengemuka pada beberapa opini di harian Republika belakangan ini. Tulisan KH. Ali Mustofa Ya’qub yang mengangkat tema “Titik Temu Wahabi-NU” dikomentari oleh dua orang cendekiawan; Mohammad Khoiron dan Asyhari Masduki yang juga dari kalangan internal NU.*

Bila diantara Ahlus Sunnah mau saling terbuka dan jujur, akan mudah dihilangkan serta menutup celah para pendengki Ahlus Sunnah memecah barisan Muslimin

TRADISI ilmiah para cerdik cendekia kita dalam berdiskusi tentu saja sangat baik. Namun salah satu yang patut diperhatikan dalam tradisi baik ini adalah komitmen dalam menetapkan prioritas dan tujuan bersama demi kemaslahatan umat secara keseluruhan. Apa yang dikemukakan sebagaian orang bahwa antara NU dan Wahabi tidak mempunyai titik temu sama sekali, sepertinya perlu ditinjau ulang. Karena pernyataan ini berkonsekuensi salah satu di antara NU atau Wahabi di luar Ahlus Sunnah dan ini bisa bermakna bahwa salah satu dari keduanya bukan golongan yang selamat.
Istilah Wahabi sendiri tidak dipakai bahkan tidak disukai oleh para pengikut dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Banyak kalangan kurang cermat dalam membaca pernyataan-pernyataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang bisa jadi telah diselewengkan dan dimaknai lain oleh kalangan yang tidak menyukai dakwahnya.
Tidak cukup ruang di sini untuk meluruskan pandangan-pandangan yang kurang tepat terhadap riwayat hidup Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan sejarah pergerakan dakwahnya.
Namun bila di antara Ahlus Sunnah mau saling terbuka dan jujur berdiskusi maka sekat-sekat ini akan mudah dihilangkan serta menutup celah para pendengki Ahlus Sunnah untuk memecah belah barisan kaum Muslimin.
Meski sebagian kalangan sering  mengungkap perbedaan-perbedaan antara Ibnu Taimiyah dan Hasyim Asy’ari, namun masalah ini mesti didiskusikan lebih lanjut. Karena bisa jadi hal itu adalah syubhat yang dihembus-hembuskan oleh para pembenci dakwah Islam.
Seperti contoh terkait paham Mujassimah (Meyakini bahwa Allah memiliki jasad seperti makhluk-Nya). Ibnu Taimiyah bahkan sampai dikafirkan oleh kalangan yang tidak menyukai dakwah beliau karena beliau dianggap melegalkan kidah Mujassimah ini. (Lihat Cobaan Para Ulama, Syeikh Syarif Abdul Aziz: 2012). Padahal dalam kitabnya, Al Aqidah Al Wasitiyah, pada pasal Al-Iman bima Washafallahu bihi Nafsahu fi Kitabihi, hlm 8, beliau sama sekali tidak berpaham Mujassimah dan menolak paham tersebut. Terkait penjelasan atas isu penghancuran situs-situs sejarah di Saudi Arabia yang dituduhkan kepada Wahabi serta lain sebagainya, memerlukan silaturahmi dan diskusi yang terbuka serta penuh persaudaraan untuk menjelaskannya secara lebih luas dan mendalam.
Setiap kelompok kaum Muslimin yang meyakini kemurnian dan kebenaran paham Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam proses pengajaran dan pergerakan dakwahnya. Ada banyak sekali kebaikan ormas-ormas Islam Indonesia yang masih keluarga Ahlus Sunnah, termasuk Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) bagi umat dan bangsa.
Peran warga Nahdliyyin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia amatlah besar. Di sisi lain ada banyak pula kebaikan pada gerakan dakwah Salafiyah terutama dalam dakwah pemurnian kidah Islam, di samping kekurangan yang ada pada gerakan ini;  (maaf) kurang santun dalam berdakwah yang tentu saja masih bisa dan harus diperbaiki.
Akhirnya, berkaca kepada sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Umat Islam adalah elemen paling penting dan paling berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan umat Islam di tanah air ini adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Oleh karena itu sangat penting untuk mengupayakan persatuan dengan saling menghormati dan memahami di antara kelompok-kelompok Ahlus Sunnah di nusantara. Sebab, bila Ahlus Sunnah di nusantara ini tidak bersatu maka akan membahayakan keutuhan NKRI. NKRI dibangun, dipelihara dan dijaga oleh umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, karena Indonesia ada dengan adanya umat Islam.
Maju dan mundurnya bangsa ini sangat bergantung kepada maju mundurnya kaum Muslimin di tanah air. Marilah kita jaga NKRI ini dengan menjaga persatuan di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bersama-sama menyelesaikan masalah-masalah internal maupun eksternal umat demi terwujudnya Indonesia yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.*

Penulis Ketua MIUMI Kota Bekasi dan Bidang Penelitian dan Pengkajian MUI

Dr. Mohammad Baharun: Ahlus Sunnah Tak Bersatu, NKRI Akan Terpecah Belah
Selasa, 28 Oktober 2014 - 07:48 WIB
Jika umat Islam baik dari ormas manapun dan partai apapun mau serta mampu bersatu padu maka bisa jadi tidak akan muncul aliran-aliran sesat di Indonesia seperti Syi’ah Rafidhoh, Ahmadiyah, ujar Baharun

Kalau umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang ada di Indonesia tidak bersatu, pasti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan terpecah belah. Sebab potensi bangsa ini adalah umat Islam Aswaja serta bagi negarawan-negarawan Muslim NKRI merupakan sesuatu yang final.
Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indoensia (MUI) Pusat, Prof. DR. Mohammad Baharun dalam orasinya pada Deklarasi Nasional Gabungan Masyarakat Penyelamat NKRI dari Konspirasi Aliran-Aliran Sesat: Syi’ah, Zionis dan Komunis Gaya Baru (KGB) di Ma’had Tahfidzul Qur’an Al Firqoh An Najiyah, Utara PUSDIK ARHANUD Desa Donowarih, Kecamatan Karang Ploso, Kabupaten Malang, Ahad (26/10/2014).
“Jika umat Islam terpecah belah, maka perpecahan NKRI tinggal menuggu di depan mata. Dan naudzubillah, jika NKRI terpecah belah lebih kejam dari perpecahan Uni Soviet yang hancur berkeping-keping menjadi Negara-negara kecil yang lemah,” tegas Baharun.
Menurut Baharun umat Islam harus menyusun strategi diantaranya ialah dengan cara bersatu padu. Sebab aliran-aliran sesat sedang menari-nari di atas perpecahan umat Islam saat ini.
“Umat Islam sendiri yang bertanggung jawab untuk menjaga kerukunan internal Aswaja yang merupakan mayoritas tunggal di Indonesia,” tegas Baharun.
Menurut Baharun, jika umat Islam baik dari ormas manapun dan partai apapun mau serta mampu bersatu padu maka bisa jadi tidak akan muncul aliran-aliran sesat di Indonesia seperti Syi’ah Rafidhoh, Ahmadiyah, Liberal, Komunisme, Zionisme dll.*




Friday, February 27, 2015

Kejayaan Iran Adalah Di Saat Ahlus Sunnah Berkuasa !


Iran Dari Masa Kemasa Dalam Peradaban Syiah.

Imperium Persia Raya begitulah Iran versi lama dikenal, setelah Suku Arya berpindah dari tempat asli mereka ke dataran tinggi dekat Laut Kaspia, tempat baru mereka kemudian disebut Iran, artinya tempat tinggal suku Arya. Peradaban Persia termasuk peradaban dunia tertua, yang sudah terbentuk mulai dari zaman batu. Kami akan sebutkan perjalanan pemerintahan di Iran mulai dari tahun 224 M.

Islamisasi Nusantara : Syiah Tidak Berperan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj03MCB6kcNymyMOPltDGyIaCUTATaSPnO_-bl4IE6FiMVS3-yJK5N_18pxoZA3JFewWlFrekSP2Q_uDOaFzVRFjOKJbcCCqRfABFTD1zzJil00fA8z6HMy5Y3NDhZ9FcWv5sK5G9xvjGQ/s1600/islamisasi+nusantara_2.jpgSejarah merupakan salah satu disiplin ilmu yang unik lagi menarik untuk terus digali, dipahami, dan disiarkan pada khalayak ramai. Tak terkecuali sejarah masuknya Islam di kepulauan Nusantara yang di dalamnya termasuk negara Indonesia. Oleh karena itulah para peneliti seakan berkompetisi untuk mengkaji sejarah islamisasi Nusantara dari masa ke masa yang tak jarang melahirkan polemik yang tidak berkesudahan disebabkan perbedaan pendapat mengenai siapa, kapan, bagaimana, serta apa saja faktor-faktor pendoronga terjadinya islamisasi secara massal. Dari perbedaan pendapat itulah melahirkan –dalam istilah Azyumardi Azra—sebagai ‘teori’.

Sejarah sebagai catatan, laporan, prasasti, berita,khabar atau hadits adalah medan tempur kepentingan-kepentingan, ideologi-ideologi, worldview-worldview, dan misi para penulisnya. Dan pastinya, tidak semua penulis sejarah itu jujur dan teguh berpegang pada kebenaran. Sebagian mungkin tidak mengerti atau tidak mau tahu dan sengaja mengabaikannya, sebagian lainnya bahkan ‘menggunting’ kebenaran tersebut dan menyulamnya dengan kebatilan sehingga kaburlah pandangan orang dan rancu serta kelirulah antara fakta dan fiksi, antara hakikat dan khayalan, antara sejarah dan mitos antara kenyataan dan ‘isapan jempol’ belaka. (Dr. Syamsuddin Arif, Jurnal Islamia, Volume. VII. No. 2, 2012). Yang jelas, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Hidup memang bergerak ke depan namun hanya bisa dipahami jika kita menoleh ke belakang.

Jalaluddin Rakhmat, intelektual Syiah Indonesia, penebar kesesatan dan penabur caci dan makian terhadap sahabat Nabi, dalam salah satu wawancara yang dilangsir oleh media online www.viva.co.id (02/09/2012), ia menuturkan dengan yakinnya bahwa sebenarnya Syiah telah masuk ke Indonesia sejak awal kedatangan Islam. Pendiri Ijabi yang mengaku-ngaku telah menyelesaikan program doktoralnya di Australian National University, Australia dan telah dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Padjadjaran, Bandung ini, (Rosyidi, Dakwah Sufistik Kang Jalal, 2004),memperkuat argumennya dengan menyebut salah satu contoh ritual tahunan Syiah, seperti ‘tabuk’ yang rutin dilakukan oleh masyarakat Sumatra. Tabuk adalah sejenis peti yang dibuat dari anyaman bambu atau burung-burungan burak yang terbuat dari kayu lalu dibawa berarak pada peringatan terbunuhnya Hasan-Husein setiap tanggal 10 Muharam, (Kamus Besar Basaha Indonesia, 2001). Perayaan tahunan ‘tabuk’ atau ‘tabuik’ mirip dengan ‘ta’ziyeh’ di Iran. Selain itu, Kang Jalal, sapaan akrabnya, secara jujur mengatakan bahwa para penganut Syiah yang telah lebih dulu masuk ke Indonesia ber-taqiyah, sehingga mereka tidak menampakkan ke-Syiah-annya. Secara sederhanataqiyah adalah kondisi luar yang berbeda dengan yang ada dalam hati atau yang sebenarnya alias mengatakan perkataan bukan sesungguhnya (idza hadatsa kazdaba).

Pendapat Jalaluddin Rakhmat di atas harus disanggah dengan hujah yang ilmiah, karena akan membawa dampak psikologis bagi penganut Ahlussunnah secara umum, dan pergolakan Sunni-Syiah secara khusus di Indonesia. Percaya apa yang diucapkan oleh Mahasiswa program doktoral by research UIN Alauddin itu, konsekwensinya, Ahlussunnah di Indonesia harus menerima keberadaan aliran dan ajaran sesat dan menyimpang (heretical and heterodox) Syiah denganlegowo. Alasannya sederhana saja, Syiah sudah lama bertapak di Indonesia.

Pengalaman pribadi penulis turut menjadi pendorong untuk melahirkan artikel ini. Beberapa waktu lalu, salah seorang rekan mengirim pesan singkat (SMS) yang isinya menekankan bahwa pada dasarnya Islam yang pertama kali ke Indonesia adalah Islam-Syiah minus imamah. Benarkah demikian? 

Bagaimana islamisasi bermula?

Adalah Christiaan Snouck Hurgronje (w.1936), orientalis kesohor sekaligus penasehat kolonial Belanda berpendapat bahwa Islam tiba di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, yakni setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serbuan tentara Mongol secara sporadis dan biadab pada tahun 1258 M. Pendapat klasik dan jamak diamini oleh bangsa Indonesia ini didasarkan pada catatan yang terdapat pada batu nisan kubur Sultan Malik As-Shalih bertahun 696 H atau 1297 M, dalilnya ditambah dengan warta perjalanan Marco Polo yang sempat singgah di Sumatra pada  tahun 1292 M dan mencatat ramainya rakyat kerajaan Perlak telah memeluk Islam, (Marco Polo, Chathay and the Way Thither, 1866). Logika yang dibangun Hurgronje sederhana saja: kalau Islam memang sudah bertapak sebelum abad ke-13 Masehi, kenapa tidak ada bukti tertulis kongkrit atau empiris? Ketiadaan bukti adalah bukti ketiadaan, menurut orientalis yang pernah nyantri di Masjidil-Haram Mekkah ini.

Namun tesis Hurgronje di atas telah terpatahakan karena belakangan dijumpai di daerah  Leran, Gresik Jawa Timur sebuah batu nisan seorang yang bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatillah dengan tulisan Kufi bertahun 495 H/1102 M, bacaan lain menyatakan 475 H/1082 M. Dengan sendirinya pendapat Hurgronje gugur, dan dapat dipastikan jika Islam masuk Indonesia sebelum tahun 1082 M.  (S.M. Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011).

Pendapat yang kini disepakati secara umum oleh para sejarawan mutakhir, yang dalam istilah Syamsuddin Arif sebagai “revisionis”, manyatakan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Nusantara sejak awal abad ke-7 Masehi, tepatnya sejak zaman Khulafa ar-Rasyidin kurun pertama Hijriah. Pendapat yang kini diyakini mayoritas sarjana muslim ini didukung oleh data-data sejarah yang banyak, di antaranya, warta dari Cina zaman Dinasti T’ang (618-907 M) yang menyebut orang-orang Ta-Shih (Arab) mengurungkan niat mereka menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah Ratu Sima (674 M), maka beberapa ahli menyimpulkan bahwa orang-orang Islam dari tanah Arab sudah berada di Nusantara –diperkirakan Sumatra- pada abad ke-7 Masehi, (Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi, 2000).

Bukti lain juga diungkapkan oleh Ibrahim Bushori, merujuk angka tahun yang terdapat pada batu nisan seorang ulama bernama Syaikh Rukhnuddin di Baros, Tapanuli, Sumatra Utara, dimana tertulis tahun 48 H/670 M. Ada kemungkinan bahwa “kapur Barus” telah dikenal dan diekspor sampai ke Mesir untuk menghilangkan bau busuk mayat. Beberapa sejarawan seperti Hamka dan Al-Attas percaya bahwa lafaz “kaafuur” yang disebut Alquran (86:5) adalah kapur dari Baros. Maka tak salah jika disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara sejak abad pertama Hijriah, atau abad kedatangannya di jazirah Arabia. Dan bukan mustahil pula jika Rasulullah SAW sebagai manusia bertindak sesuai anjuran wahyu telah mengutus para sahabatnya untuk berangkat berdakwah ke Nusantara, (Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011).

Bahkan dikemudian hari, telah dijumpai bukti-bukti historis hubungan diplomatik internasional kerajaan Sriwijaya dengan penguasa di era Bani Umayyah, antara lain adalah dua pucuk surat. Surat pertama, sebagaimana ditulis oleh seorang ilmuan Arab bernama Al-Jahiz (163-255 H/783-869 M) yang di antara karyanya adalah Kitab Al-Hayawan, bahwa sepucuk surat ditujukan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan (41 H/661 M). “Dari Raja Al-Hind [Kepulauan India] yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, dan istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan memiliki dua sungai besar [Musi dan Batanghari] yang mengairi pohon gaharu, kepada Mu’awiyah...” Surat kedua jauh lebih jelas, dialamatkan kepada Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-20 M), surat menunjukkan betapa hebatnya Maharaja Sriwijaya dan kerajaannya, “Dari Raja di Raja [Malik Al-Amlak=Maharaja]; yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala, dan kapur barus, yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab [Umar bin Abdul Aziz], yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan tentang hukum-hukumnya”. (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, 1994). 

Pendapat revisionis ini juga didukung oleh Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad ibn Talib Ad-Diamsyqi (w.1327 M) alias Syaikh Ar-Rabwah dalam kitabnya, Nukhbat ad-Dahr fi ‘Aja’ib al-Barr wal-Bahr, yang menulis bahwa Islam telah masuk ke Nusantara melalui Champa (Kamboja dan Vietnam) sejak zaman Khalifah Usmn bin Affan, atau sekitar tahun 30 H/651 M alias abad ke-7 Masehi. 

Teori islamisasi

Selain tahun, jalur atau rute islamisasi Nusantara juga menjadi bagian penelitian yang melahirkan perdebatan, penulis mencoba memaparkan teori islamisasi yang dimunculkan oleh para peneliti. Teori Gujarat: Islam dibawa masuk ke Nusantara oleh saudagar-saudagar dari Gujarat, India. Jadi orang-orang Islam yang menyebarkan agamanya di Indonesia tidak langsung datang dari negeri Arab, sebab unsur-unsur keislaman di Indonesia yang mirip dengan India, seperti cerita-cerita rakyat dalam bahasa-bahasa yang ada di Nusantara tidak ada di Arab namun berasal dari India. Dikatakan pula bahwa kebiasaan muslim di Indonesia menunjukkan beberapa kesamaan dengan kebiasan penganut Syiah di Pantai Malabar dan Karomandel. Selain itu, berdasarkan kisah perjalanan seorang pelaut bernama Sulayman tahun 851 M serta catatan Marco Polo dan Ibnu Batutah yang transit di Sumatra pada abad ke-14 Masehi. Maka disimpulkanlah jika kedatangan Islam pasti melalui jalur perdagangan dari Teluk Persia ke Pantai Barat India, lalu dari Gujarat dan Malabar masuk ke Nusantara. Pendapat ini dipegang oleh Hurgronje, dan diterima luas oleh sejarawan seperti R.A. Kern, Stapel, H.J.Van den Bergh, H. Kroeskamp, hingga Rosihan Anwar, (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil ‘petite histoire’ Indonesia, 2009). Pendapat di atas seakan telah menjadi kesepakatan umum hingga akhirnya seorang orientalis bernama G.E. Morrison menunjukkan kekeliruan dan beberapa kejanggalan faktual. Menurut Morrison, tidak mungkin Islam di Nusantara berasal dari propinsi Gujarat, sebab Marco Polo menceritakan Cambay pada tahun 1293 sebagai kota Hindu, sementara Gujarat baru jatuh ke tangan Islam pada tahun 1297 M. Selain itu di Gujarat mazhab syafi’i tidak dominan dan cerita-cerita rakyat Aceh lebih diwarnai rasa Tamil daripada Hindi, (Armando Cortesao [Ed.], The Suma Oriental of Tome Pires, 1990).

Teori Persia. Bahwa Islam di Nusantara dibawa masuk oleh para pendatang dari Persia dengan dalih dan dalil banyaknya data-data sejarah yang kuat mengenai pelayaran orang-orang Persia ke India via Nusantara ke Cina bahkan sejak zaman pra-Islam, (Hadi Hasan, A History of Persian Navigation, 1928). Pemberita Cina, Yuan-Tchao, dalam Tcheng-yuan-sin-ting-che-kiao-mou-lou yang ditulisnya pada awal bada ke-9 mencatat bahwa pada tahun 99 H/717 M ada sekitar 35 kapal dari Persia tiba di Palembang. Selain itu, data linguistik juga menguatkan dugaan bahwa penyebaran Islam datang dari rute Persia, tidak sedikit kata dalam bahasa Melayu-Indonesia yang berasal dari bahasa Persia, seperti, ‘bandar’, ‘syah’, ‘pasar’, ‘penjara’, ‘gandum’, dst., (Ahmad Kazem Mossavi, Kehadiran Tasawuf-Persia dalam Literatur Nusantara [Malaysia-Indonesia], Jurnal Islamia, Vol. II. No. 3/Desember 2005). Bahkan istilah “Zibrad” dalam bahasa Persia bermakna “Negeri di Bawah Angin” alias “Toddang Anging” dalam bahasa Bugis, merupakan frasa navigasi yang dipakai pelaut dari teluk Persia menuju Benggala, dan kepulauan Nusantara.  Hasil penelitian ini di kemukakan oleh G.E. Morrison. Namun masih kabur, apakah Islam yang datang ke Nusantara melalui Persia itu versi Syiah atau Sunni. Dijawab oleh Al-Attas bahwa ajaran Syiah di Persia baru mulai berkembang  abad ke-17 M ketika Syah Ismail Safawi memerintah Iran  bukan sebelumnya, ( Wan Daud, Budaya Ilmu, Satu Penjelasan, 2007). Tegasnya: jika memang Islam melewati rute Persia, maka dipastikan kalau penganut Ahlussunnah yang menjadi penyebarnya, bukan Syiah. Tesis Al-attas sekaligus membuyarkan dugaan spekulatif Jalaluddin Rakhmat bahwa Syiah sedari awal telah berada di Nusantara, dan mereduksi dongeng orang awam bahwa Islam Indonesia pada awalnya adalah Syiah minus imamah.  

Teori Benggala. Islam masuk ke Nusantara melalui rute Benggala, pendapat ini dimunculkan oleh S. Qadarullah Fatimi yang berdasar pada laporan Tome Pires (1512-1515), berita-berita Cina, serta unsur tasawuf yang terdapat di Indonesia dan Malaysia. Menurut Fatimi, pendiri kerajaan Islam pertama di Aceh adalah Merah Silau yang berasal dari Benggala. Kesimpulan ini diambilnya dari catatan perjalanan Tome Pires yang mengabarkan bahwa raja-raja di Sumatra pada waktu itu telah beragama Islam. Petunjuk lainnya adalah, kebiasaan orang Nusantara memakai kain “sarung” yang dikatakan sama dengan kebiasaan orang Benggala. (S.Qadarullah Fatimi, Islam Comes to Malaysia, 1963). 

Teori Mesir. Karena Islam yang diamalkan di Nusantara bercorak Sunni-Syafi’i, maka ada kemungkinan asalnya dari negeri Mesir, karena negeri inilah yang terbanyak pengikut Syafi’i-nya, dan di sana pula Imam Syafi’i (w.204 H) tutup usia. Pendapat ini dilontarkan oleh S. Keyzer, profesor hukum ketimuran dari Belanda. Tapi Keyser langsung dibantah oleh G.W.J Drewes yang menuding bahwa Keyser tidak tahu jika orang Arab yang datang ke Nusantara mayoritas dari Hadramaut, Yamman, dimana mazhab mereka adalah Syafi’i, andai dia tahu, niscaya akan berpendapat bahwa Islam datang ke Nusantara via Yamman, (G.W.J Drewes, New Light on the Coming of Islam to Indonesia, 1985).     

Teori Cina. Islam datang ke Nusantara melalui muslim dari Cina. Sesuai dengan penuturan I-Tsing, seorang agamawan dan pengembara terkenal Cina yang pada tahun 51 H/671 M, dengan menumpang sebuah kapal milik orang Islam dari Kanton, singgah di pelabuhan muara sungai Bhoga atau Sriboga alias Sribuza, nama lain dari sungai Musi di Palembang yang menjadi pusat kerajaan Sriwijaya ketika itu. Pendapat ini dilontarkan oleh Slamet Muljana seorang pakar sejarah dan ahli filologi dari Universitas Indonesia, menurutnya Islam di Nusantara datang, bukan hanya menopoli dari wliayah India dan Timur Tengah tapi juga dari negeri Cina, tepatnya propinsi Yunan. Kedatangan Cheng Ho alias Zheng He alias H. Mahmud Syamsuddin (w.1433) dari Dinasti Ming dengan maksud mengamankan jalur lalu lintas laut dari Cina ke India, Arabia dan Afrika di samping mengadakan hubungan diplomatik pada kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai bukti yang absah, (Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, 2005). Tapi pendapat Muljana di atas dipertanyakan oleh Syamsuddin Arif karena sumber pendapatnya diambil dari  buku sejarah yang tidak resmi seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Kenda yang ditulis pada zaman kerajaan Mataram abad ke-17 yang perlu dipertanyakan keotentikannya karena kitab tersebut bercampur baur antara fiksi dan fakta serta tidak ditopang dengan bukti-bukti keras semacan prasasti. Hal ini juga dibantah oleh Ahmad Mansur Suryanegara, ahli sejarah dari Universitas Padjadjaran Bandung, menurutnya, kesimpulan Muljana sukar diterima, (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, 2009).

Teori Arabia. Diyakini bahwa tersebarnya agama Islam di Nusantara berkat usaha para mubalig dari jazirah Arabia secara sistematis dan kontinuitas. Meski tidak dapat dipastikan waktunya, kapan pertama kali mereka datang berdakwah. Namun banyaknya informasi tentang hubungan sudah berjalin selama berabad-abad antara jazirah Arabia dan Nusantara semenjak pra-Islam menjadikan pendapat ini lebih valid. Dokumen-dokumen kerajaan Cina Dinasti T’ang (618-907)  menyebut tentang kunjungan orang Arab pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Dan tak kala muncul kerajaan Sriwijaya di Sumatra, perairan Nusantara semakin kerap dilalui oleh kapal-kapal dagang dari Arabia dan Persia dalam pelayarannya via India ke Cina. Teori ini diamini oleh Sir John Crawfurd, Thomas Arnold, dan Al-Attas. Alasannya, karena orang Arab yang pertama kali mengajarkan Islam ke Nusantara pastilah bermaszhab Syafi’i yang berada pada kawasan pesisir Arabia tempat mereka mengangkat sauh. Dan memang iya, buktinya penganut Islam yang ada di Nusantara adalah umumnya bermazhab Syafi’i. Teori Arabia ini mengantarkan kita pada kesimpulan di bawah.

Kesimpulan

Seminar Historiografi Islam Indonesia yang diselenggarakan oleh Puslitbang Kementrian Agama RI pada 10-12 Desember 2007 di Cisarua Bogor dan dihadiri oleh para ahli disiplin ilmu terkait, termasuk Azyumardi Azra, Badri Yatim, Maidir Harun, Ahmad Mansur Suryanegara, dan para wakil dari sejumlah perguruan tinggi dan ormas Islam, serta para peneliti. Ditegaskan bahwa agama Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi atau pertama Hijriah, langsung dibawa oleh para ahli agama dari Arabia (Yaman) yang datang ke gugusan pulau-pulau di semenanjung Melayu, seperti Sumatra. Agama Islam sendiri secara resmi masuk ke Yaman melalui seorang sahabat yang diutus langsung oleh Nabi, Mu’az bin Jabal yang sekaligus menjadi gubenur di sana pada tahun 630 M. Bersama para saudagar dari sana pula ulama muablig itu berlayar ke Cina menelusuri kawasan Asia Selatan (India, Benggala) sampai ke Sumatra. Pelayaran mereka sangat bergantung pada angin Barat Laut yang bertiup pada bulan September dan akhir Desember, sehingga mereka harus menunggu dan singgah terlebih dahulu di kawasan Sumatra dan Malaya selama beberapa bulan, sebelum meneruskan pelayaran ke tempat tujuan. Sebagian mereka sengaja datang dan menetap hanya untuk berdakwah. Inilah fakta islamisasi Nusantara sesungguhnya yang ingin dikaburkan oleh para orientalis dan penganut ajaran sesat Syiah. Wallahu A’lam


Demi Allah, Jika Abu Bakar Tidak Jadi Khalifah, Allah Tidak Akan Disembah Lagi !

Mungkin ungkapan di atas terlalu berlebihan jika anda baca. Namun jika anda mencoba untuk memahami kisah dan ulasan di bawah ini mudah-mudahan anda bisa berpandangan sama dengan yang tokoh yang mengucapkan perkataan ini. Mari bersama simak ulasan dan kisah di bawah ini,
Di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, kejiwaan para sahabat menjadi goncang. Keadaan berubah menjadi genting, orang munafik di Madinah semakin menjadi-jadi, yahudi dan nasrani riang gembira dan murtadlah gelombang manusia di jazirah arab, baik daerah badui pegunungan maupun perkotaan. Yang lain tidak lagi membayar zakat yang dulu pernah mereka tunaikan kepada pegawa-pegawai sang Nabi tercinta, shalat jum’at tidak lagi didirikan selain di Makkah dan Madinah.
Kondisi ini membuat kaum Muslimin (para sahabat) bagaikan domba yang kehujanan di malam yang gelap gulita. Karena kehilangan Nabi mereka –shallallahu ‘alaihi wasallam-, kondisi ini diperparah karena sedikitnya mereka (hanya di Madinah, Makkah dan Thaif yang hanya ribuan, selain itu jutaan orang di seluruh Jazirah Arab yang baru masuk Islam murtad semua sepeninggal Nabi) yang bisa jadi jutaan orang itu berbalik menyerang secara serentak menyerbu Madinah dan membunuh semua pendudukanya dan habislah riwayat Islam di Bumi ini.
Aisyah radhiyallahu anha menggambarkan kondisi ini dengan mengatakan, “Demi Allah, jika masalah ini berada di pundak saya, niscaya masalah ini jika menimpa gunung yang besar pasti akan menghancurkannya.”
Di tengah kondisi yang sangat dan super genting tersebut, Abu Bakar yang ditunjuk menjadi khalifah kaum Muslimin justru mengambil kebijakan yang ‘memperparah’ kondisi. Pasukan Usamah yang belum berangkat ke Syam menyerang Romawi karena peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan segera diberangkatkan oleh Abu Bakar. Padahal Madinah lebih butuh tentara-tentara tersebut untuk pertahanan. Kondisi di Madinah dan juga di dunia Arab secara umum lebih parah dari sekedar memberangkatkan pasukan besar yang akan ekspansi menyerang daerah di luar Arab.
Bukankah menyerang musuh Islam pada saat kondisi aman itu lebih baik dan lebih strategis?, begitu pandangan para sahabat, terutama Umar bin Khathab yang menolak dengan keras rencana Abu Bakar ini. Sebagian yang lain mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas kaum Muslimin dan bangsa arab memandang secara tidak bagus apa yang engkau pandang, oleh karena itu tidak pantas anda memecah jamaah kaum Muslimin!”
Namun dengan tegas Abu Bakar menolak mentah-mentah semua pandangan sahabat tersebut. Ia mengatakan, “Demi Allah, saya tidak akan melepas ikatan yang telah disimpulkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun burung-burung itu menghujani kita, binatang buas sudah siap memangsa kita di sekeliling Madinah, dan anjing-anjing itu berjalan di kaki-kaki ummahatul mukminin, saya tetap dan pasti akan memberangkatkan pasukan Usamah!”
Setelah itu Allah melapangkan dada para sahabat menerima putusan Abu Bakar tersebut dan pasukan Usamah berangkat.
Apa yang terjadi setelah itu?
Ibnu Katsir menuturkan, “Keluarnya pasukan Usamah pada waktu itu adalah maslahat terbesar pada kondisi yang sangat genting seperti itu, mereka berangkat dan tidak satupun daerah di kawasan Arab yang mereka lalui melainkan dibuat takut dengan pasukan besar yang lewat di hadapan mereka. Mereka pun berkomentar, ‘Tidaklah mereka (pasukan Usamah) keluar dari sebuah kaum melainkan mereka memiliki pasukan besar yang tidak terkalahkan’. Pasukan pun terus melanjutkan ekspedisi ini dan menghabiskan waktu 40 hari, atau ada yang berkata 70 hari, kemudian mereka kembali dengan selamat dan menang mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) yang sangat banyak. Setelah itu Abu Bakar menyiapkan kaum Muslimin yang lain bersama pasukan yang baru kembali tersebut untuk memerangi kaum Murtad dan yang menolak membayar zakat”
Karena itu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Baihaqi, Abu Hurairah memuji Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan mengatakan, “Demi Allah, Dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, jika seandainya Abu Bakar tidak dijadikan Khalifah, niscaya Allah tidak lagi disembah” beliau mengulanginya untuk yang kedua dan mengulanginya lagi untuk yang ketiga.
Kemudian ada yang menyangkalnya, “Kenapa anda bilang begitu wahai Abu Hurairah?”,
Pertanyaan di atas langsung dijawab oleh beliau, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerahkan 700 pasukan Usamah bin Zaid ke Syam, namun ketika pasukan itu tiba di Dzu Khasyab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, kaum Arab disekitar Madinah murtad, maka berkumpullah para sahabat di hadapan Abu Bakar, mereka mengatakan, ‘Wahai Abu Bakar, kembalikan mereka itu, anda akan memberangkatkan mereka ke Romawi sedangkan bangsa Arab di sekitar Madinah murtad?’
Abu Bakar menjawab, ‘Demi Dzat yang tidak ada tuhan selain-Nya, meskipun anjing-anjing itu berjalan di kaki istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya tidak akan pulangkan pasukan yang telah Rasulullah arahkan untuk ekspedisi penyerangan, dan saya tidak akan turunkan bendera yang telah ditancapkan oleh Rasulullah’.
Dengan keputusan seperti itu, Abu Bakar memberangkatkan pasukan Usamah. Maka tidak ada satupun Kabilah yang ingin murtad melainkan setelah melihat pasukan ini mereka berkata, ‘Jikalau mereka tidak memiliki kekuatan, niscaya mereka tidak akan mengeluarkan pasukan sebesar ini dari Madinah, akan tetapi kita biarkan mereka sampai mereka berhadapan dengan Romawi’. Akhirnya pasukan itu berhadapan dengan Romawi, memerangi dan mengalahkan mereka, dan pulang dengan selamat. Dan kaum Arab yang melihat kepulangan mereka ini akhirnya teguh di atas Islam.”

Bahan Bacaan: Al-Bidayah wa Al-Nihayah, Ibnu Katsir, Darul Fikr, 1407 H, Jilid ke V, hal 304-305.

Madzhab Syiah Merupakan Pintu Gerbang Penghancuran Agama Islam

Dialog No. 71
Syekh Prof. Dr. Ahmad Al-Ghamidi mengatakan,
Anda menurunkan riwayat al-Khathib al-Baghdadi dari Abu Zur’ah, dia berkata, “Jika kamu melihat seorang laki-laki melecehkan seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia orang Zindiq. Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar dan al-Qur’an adalah benar, sementara yang menyampaikan al-Qur’an dan Sunnah adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka hanya ingin menjarh (mencela/ menilai buruk) saksi-saksi kami untuk membatalkan al-Kitab dan sunnah, mereka lebih berhak dijarh dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah, 67)
Jawabannya dari beberapa aspek:
Pertama, kenapa kaum Syiah menjarh (mencela) para sahabat dan menolak ke’adalahan mereka? Apa tujuan di balik itu? bukankah tujuannya hanyalah untuk menghilangkan kepercayaan terhadap riwayat-riwayat mereka dan menimbulkan keraguan terhadap keimanan dan keihklasan mereka? Kami hanya memahami tujuan-tujuan ini dari sikap Syiah itu.
Kedua, apa implikasi menuduh sahabat dan meragukan ke’adalahan mereka?
Implikasinya adalah sebagai berikut:
1.  Bahwa para sahabat tidak amanah terhadap syariat, sebab mereka adalah para pembunuh, peminum khamr, pezina, pencuri dan pengkhianat terhaadap agama mereka –sebagaimana yang anda klaim dan orang yang anda riwayatkan perkataannya-.
Ini berakibat kepada pembatalan syariat. Andaikata para musuh syariat ingin membatalkan agama ini, pastilah mereka tidak menemukan cara yang lebih mulus selain cara Syiah ini!
2. Agama ini tidak benar, sebab Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak mampu mendidik genersai pertama dengan pendidikan keimanan yang lurus, di mana begitu Rasulullha wafat, maka mereka pun langsung menyerang agama mereka sendiri dan melakukan setiap tindakan yang diharamkan.
3. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendidik generasi penjahat selama hampir 23 tahun di mana beliau tidak mengetahui bahwa mereka adalah para penjahat dan penipu. Mereka bersama beliau dalam keadaaan munafik dan menipu. Lantas tatkala beliau wafat, terbukalah niat-niat mereka dan terbongkarlah rahasia yang tertutup.
4. Bahwa Allah mengetahui hakikat generasi ini, mereka adalah generasi jahat namun tidak memberitahukan kepada RasulNya agar Dia dapat menggatikannya dengan umat lain. Ini adalah pengakuan terhadap kebatilan dan penipuan terhadap manusia, sebab orang-orang melihat mereka selalu mendampingi Rasulullah dan mengelilinginya. Sementara Rasulullah pun bergaul dengan mereka, meminta pendapat mereka, mengawinkan mereka dengan putri-putrinya dan menikahi putri-putri mereka, memuji mereka dan menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka. Ini adalah tuduhan terhadap Allah. Pertama, Allah tidak menyingkap hal itu kepada NabiNya, dan kedua, Allah tidak menyingkap hal itu kepada umat agar mereka tertipu dengan mereka.
5. Dalam dakwaan-dakwan yang dilontarkan Syi’ah Imamiyah mengandung petunjuk bahwa Allah tidak menjelaskan dengan penjelasan memadai untuk mengetahui mana orang-orang yang baik dan mana orang-orang jahat. Hal ini dapat menjadikan permasalahaan berbeda-beda. Bisa jadi, orang-orang jahat dijadikan bersih (suci) dan bisa jadi orang-orang baik dijadikan tertuduh, karena tidak ada kejelasan dan penjelasan.
Implikasi dari hal itu pula adalah hilangnya kepercayaan terhadap riwayat-riwayat mereka (para Shahabat) karena kita meragukan mereka dan kita khawatir mereka berdusta kepada kita.
Atau kita tidak mengetahui siapa mukmin sehingga riwayat-riwayatnya diterima dan siapa munafik sehingga riwayat-riwayatnya ditolak sebab masalahnya bercampur baur sedangkan al-Qur’an tidak menentukan dan as-Sunnah diriwayatkan oleh mereka.
Dengan demikian, kita akan kehilangan kepercayaan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah karena para perawinya diragukan.
Ketiga, andaikata kita ingin menetapkan keimanan para Shahabat menurut versi Syiah, pasti kita tidak akan mampu. Mana bukti keimanan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para Shahabat lainnya?
Adapun al-Qur’an: maka sesungguhnya ia memuat banyak sekali ayat-ayat yang bersifat umum dan bersifat umum dan Khusus, tetapi semua Dalalah ‘Ainiyah (petunjuk yang bersifat perorangan)nya telah dibatalkan Syiah kecuali apa yang apa yang mereka tafsirkan terhadap (Dalalah. penj) ‘Ali. Yakni mereka membatalkan bahwa ia menunjukkan si fulan dan si fulan. Mereka mengatakan, itu bersifat umum, tidak mungkin menafsirkannya pada individu-individu tertentu dari para Shahabat, sebab itu bisa bersifat umum dan bisa pula bersifat muqayyad (terikat). Kami tidak tahu, siapa kiranya yang dapat memenuhi criteria yang disyaratkan Syiah!!
Andaikata seseorang berkata, “Aku ragu terhadap keimanan keempat al-Khulafa’ ar-Rasyidun sebab ayat-ayat tentang kemunafikan berbicara tentang mereka, bukti atas hal itu, bahwa kaum Syiah sering mengatakan. Abu Bakar, Umar,dan Utsman telah merampas kekhalifahan sebab yang ditunjuk hanyalah Ali bin Abi Thalib. Ia ditunjuk secara langsung oleh Allah dan RasulNya. Mereka telah mengkhianati wasiat dan menolak untuk melaksanakannya. Dan Ali menyia-nyiakan wasiat demi untuk menjaga nyawanya, dan inilah bukti kemunafiakn mereka. oleh karena itu, aku meragukan keimanan mereka. Artinya, selama bersama Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam mereka telah menyembunyikan kemunafikan mereka dan sekarang barulah tampak kemunafikan itu. Bagaimana kamu menanggapinya?”
Kemudian ia melanjutkan, “Al-Qur’an menyebut orang yang bersamaa Nabi sebagai orang beriman dan dalam waktu yang sama menyebut mereka sebagai orang munafik, namun tidak memberitahukan kepada kita, siapa mukmin dan siapa munafik. Dan perbuatan-perbuatan ini menunjukkan kemunafikan!!”
a. Bila anda mengatakan kepada mereka, “Kami mengajakmu berhukum kepada As- Sunnah ”.
Maka ia akan mengatakan,”As-Sunnah itu diriwayatkan oleh orang-orang yang kami ragukan keimanan mereka. oleh karena itu, kami tidak akan menerimanya, sebab mereka beraksi untuk sebagian mereka. ini adalah persaksian yang tertolak.”
b. Kemudian ia mengatakan, “Berdasarkan hal ini maka kami tidak dapat mempercayai al-Qur’an ataupun as- Sunnah. Agama ini Batil.”
c. Saya katakan, semoga Allah merahmati Abu Zur’ah saat berkata, “Sesungguhnya mereka ingin menuduh para saksi kita untuk membatalkan Kitabullah dan As-Sunnah. Justru, menuduh merekalah (Syiah) yang lebih utama. Merka itu kaum Zindiq.”
Inilah sebab yang menegaskan kepada para ulama, bahwa Madzhab Syiah adalah pintu gerbang penghancurkan agama. Dan setiap orang yang ingin menghancurkan ini tinggalk merangkaikan diri dengan gerbong mereka.

Keempat, buku-buku versi Syiah. Hampir setiap buku-buku Atsar yang diriwayatkan berkenaan dengan akidah, tafsir atau para tokoh tidak luput dari penyesatan atau pengkafiran terhadap para Shahabat kecuali terhadap empat orang saja dari mereka.


Dikutip dari buku “Siapa Bilang Sunni-Syiah Tidak Bisa Bersatu; Dialog Nyata” Karya Prof. Dr. Ahmad Al-Ghamidi, terbitan Darul Haq, cet 1, 2009. hal 175-179