Wednesday, March 4, 2015

Benarkah Imam Bukhari Mengambil Riwayat Dari Kaum Syiah?

Pertanyaan:

“Assalamualaikum ustadz,ana mau nanya,syubhat mereka yang dilontarkan adalah mengapa imam bukhari meriwayatkan hadist dari ulama syiah,padahal syiah menurut imam bukhari kafir. Mohon jawaban dan nasihatnya ustad”.

Jawaban:

Perlu diketahui bahwasanya syiah banyak tingkatannya. Ada diantara mereka yang hanya mendahulukan Ali bin Abi Thalib dari pada Utsman radhiyallahu anhuma tanpa mencela Abu Bakr dan Umar. Dan diantara
mereka ada yang mendahulukan Ali bin Abi Thalib dari pada Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhum. Bahkan diantara mereka ada yang mencela para sahabat radiyallahu anhum dan mengkafirkan mereka. 

Maka perlu diketahui,Imam Bukhari mustahil untuk mengambil riwayat orang-orang syiah rafidhah yang mengkafirkan Abu Bakr dan Umar dan para sahabat lainnya. Karena Imam Bukharipun mengkafirkan mereka. Beliau berkata:

مَا أُبَالِي صَلَّيْتُ خَلْفَ الْجَهْمِيِّ والرَّافِضِيِّ أَمْ صَلَّيْتُ خَلْفَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، وَلَا يُسَلَّمُ عَلَيْهِمْ، وَلَا يُعَادُونَ، وَلَا يُنَاكَحُونَ، وَلَا يَشْهَدُونَ، وَلَا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ

Aku tidak berpikir akan shalat dibelakang seorang jahmiyyah dan syiah rafidhah, atau aku shalat dibelakang yahudi dan nashrani. Sesungguhnya mereka tidak ucapkan salam kepadanya, tidak dijenguk ketika sakit, dan mereka tidak dinikahi dengan kaum muslimin, dan mereka tidak boleh memberi kesaksian, dan sesembelihan mereka tidak dimakan”. (Kholqu Af’al Al Ibad hal.33)

Akan tetapi perlu diketahui juga, bahwasanya Imam Bukhari memang benar mengambil riwayat dari syiah. Namun syiah yang hanya mendahulukan Ali bin Abi Thalib dari pada Utsman bin Affan tanpa mencela atau mengkafirkan Abu Bakr dan Umar dan mereka tidak berlepas diri dari keduanya, mereka menghormati Abu Bakr dan Umar serta para sahabat lainnya.

Sehingga tasyayyu’ (syiah) yang dikenal pada zaman para ulama mutaqaddimin dan diambil riwayatnya adalah bukan macam syiah yang seperti ini, tidak sampai mengkafirkan Abu Bakr dan Umar bahkan mereka menghormati keduanya dan para sahabat lainnya.

Imam Ibnu Hajr Al Asqalani rahimahullah berkata menjawab permasalahan ini:

فالتشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان, وأن عليا كان مصيبا في حروبه وأن مخالفه مخطئ مع تقديم الشيخين وتفضيلهما, وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله -صلى الله عليهآله وسلم-, وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا, لا سيما إن كان غير داعية, وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة

“Maka tasyayyu’ (syiah) yang dikenal di kalangan para ulama mutaqaddimin adalah keyakinan untuk mendahulukan Ali dari pada Utsman. Dan bahwasanya Ali lah yang benar dalam peperangan dan orang yang menyelisihi Ali adalah orang yang salah akan tetapi mereka tetap mendahulukan Abu Bakr dan Umar dan tetap memuliakan keduanya. Dan bisa jadi sebagian mereka berkeyakinan bahwasanya Ali adalah makhluk yang paling mulia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan jika keyakinan ini ada pada dirinya dengan menjaga sikap wara’ dan agamanya dan dia melakukannya karena kejujuran dan berijtihad maka riwayatnya tidaklah tertolak karena hal tersebut, terlebih rawi tersebut bukanlah orang yang selalu menyeru kepada keyakinannya. Dan adapun syiah yang dikenal pada zaman ulama muta’akhhirin maka dia adalah rafidhah murni maka tidak diterima riwayat seorang syiah rafidhah yang over dan tidak ada kemuliaan untuk mereka” (Tahdziib At Tahdziib 1/94)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah juga berkata:

البدعة على ضربين: فبدعة صغرى كغلو التشيع، أو كالتشيع بلا غلو ولا تحرف، فهذا كثير في التابعين وتابعيهم مع الدين والورع والصدق فلو رد حديث هؤلاء لذهب جملة من الآثار النبوية، وهذه مفسدة بينة ثم بدعة كبرى، كالرفض الكامل والغلو فيه، والحط على أبي بكر وعمر رضي الله عنهما، والدعاء إلى ذلك، فهذا النوع لا يحتج بهم ولا كرامة. وأيضاً فما أستحضر الآن في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مأمونا، بل الكذب شعارهم، والتقية والنفاق دثارهم، فكيف يقبل نقل من هذا حاله! حاشا وكلا. فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا رضي الله عنه، وتعرض لسبهم. والغالي في زماننا وعرفنا هو الذي يكفر هؤلاء السادة، ويتبرأ من الشيخين أيضاً، فهذا ضال معثر
                                                                                  
“Bid’ah ada 2 macam: Ada bid’ah kecil seperti bid’ahnya  sikap berlebihannya  syiah atau seperti syiah yang tidak berlebihan dan tidak merubah-rubah syariat. Maka ini banyak terjadi dari kalangan tabiin maupun tabiut tabi’in akan tetapi mereka tetap menjaga agama mereka dan kewara’an dan keikhlasan (kejujuran) mereka, seandainya hadits mereka ditolak maka beberapa jumlah atsar (hadits) nabi akan hilang. Dan ini adalah mafsadah yang jelas. Kemudian ada bid’ah yang besar, seperti rafidhah yang sempurna dan over didalamnya. Dan merendahkan Abu Bakr dan Umar radiyallahu anhuma dan menyeru kepada hal tersebut. Maka macam bid’ah seperti ini tidak perlu dijadikan hujjah dan tidak ada kemuliaan untuknya. Dan aku juga tidak bisa menghadirkan contoh seseorang yang jujur dan amanah dalam permasalahan ini, karena dusta ada lah syi’ar mereka, dan taqiyyah dan kemunafikan adalah baju khas mereka, maka bagaimana akan diterima penukilah dari orang yang seperti ini keadaannya! Sekali-kali tidak. Maka syiah yang over di zaman orang-orang terdahulu adalah orang yang membicarakan Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah, dan sebuah kelompok yang memerangi Ali rahiyallahu anhu, dan bisa jadi mereka juga mencela. Adapun syiah yang over di zaman kita dan apa yang kita kenal dia adalah yang mencela mereka selaku para pemimpin (Abu Bakr dkk) dan berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar, maka ini adalah kesesatan yang sangat buruk”. (Mizan Al I’tidal hal. 5-6)

Sehingga perlu diketahui, kesyiahan orang yang membuat syubhat sangat berbeda dengan kesyiahan para perawi di zaman para salaf yang diterima riwayatnya. Sehingga batillah syubhat mereka dan sudah terbantahkan. Jadi, syiah bukanlah satu tingkatan dan syiah yang diterima riwayatnya adalah syiah yang hanya mendahulukan Ali dari pada Utsman namun mereka tetap menghormati Abu Bakr dan Umar dan para sahabat lainnya bahkan mereka tetap menghormati mereka.


untuk pemahaman lebih jelas dan lengkap, silahkan klik artikel dibawah ini [ tanggapan terhadap tuduhan adanya perawi syi'ah dalam hadits Bukhari, dan comments2nya yang bermanfaat serta ilmiyyah ] :
http://basweidan.com/riwayat-syiah-dlm-shahihain/
[Riwayat Syi’ah dlm Shahihain 4 (updated !!)]

Bantahan ( 1 ) Untuk Habib Rizieq "Benarkah Ibnu Taimiyyah Mencela Fatimah Dan Ahlul Bait?"

http://www.alamiry.net/2015/03/bantahan-untuk-habib-rizieq-benarkah-ibnu-taimiyyah-mencela-fatimah-dan-ahlul-bait.html?m=1
Fitnahan terus berlanjut dan berlanjut untuk syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Begitulah musuh dakwah sunnah dan tauhid selalu mencela, hal tersebut terjadi karena kejahilan mereka atau karena mereka adalah pengikut hawa nafsu. Salah satu contohnya mereka menyebarkan fitnahan yang keji kepada syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. 

Salah satu tulisan yang sedikit menggelitik adalah tulisan Habib Rizieq yang memfitnah Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Dalam situs pribadinya, Habib Rizieq memfitnah Ibnu Taimiyyah tanpa burhan dan bukti. Dalam artikel barunya, dia menulis panjang lebar mengenai syi’ah dan wahhabi. Saya tidak tertarik membahas syi’ah dalam artikel yang ditulisnya, akan tetapi saya jauh lebih tertarik untuk membahas fitnahan yang dia tuduhkan kepada syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Habib Rizieq berkata:

Fanatisme Awam Wahabi tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Wahabi dan berbagai pernyataan Ulama panutan mereka sendiri yang menghina Ahli Bait Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Ali RA dan isterinya Sayyidah Fathimah RA serta kedua putranya Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA.

Salah satunya, lihat saja kitab "Minhaajus Sunnah" karya Syeikh Ibnu Taimiyyah sang panutan dan rujukan kalangan Wahabi, yang isinya dipenuhi dengan penghinaan terhadap Ahli Bait Nabi SAW.

Dalam kitab tersebut, Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa imannya Sayyidah Khadijah RA tidak manfaat buat umat Islam. Dan bahwa Sayyidah Fathimah RA tercela seperti orang munafiq. Serta Sayyidina Ali RA seorang yang sial dan selalu gagal, serta berperang hanya untuk dunia dan jabatan bukan untuk agama, dan juga perannya untuk Islam tidak seberapa”.

Jawab:

1- Ibnu Taimiyyah mencela Fathimah dan ahlul bait radhiyallahu anhum?? Sangat disayangkan dan beribu amat disayangkan, Habib Rizieq hanya memfitnah dan memfitnah tanpa menulis teks asli atau sumber dan refrensi yang pasti. Maka saya minta teks lafadz Ibnu Taimiyyah atau sumber yang pasti dalam kitab Minhaj As-Sunnah bahwa Ibnu Taimiyyah menghina Fathimah. Justru Ibnu Taimiyyah menghormati ahlul bait dan memerintahkan kaum muslimin untuk menghormati ahlul bait. Maka dari itu, sangat menggelitikkan perkataan Habib Rizieq ini. Tanpa bukti dan tanpa hujjah sang habib sangat mudah untuk memfitnah orang. Pada halaman berapa Ibnu Taimiyyah mencela Fathimah dalam kitabnya Minhaj As-Sunnah??

2- Sepertinya fitnahan Habib Rizieq hanya keluar dari gagal paham semata mengenai perkataan Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “Minhaj As-Sunnah”, dahulu ulama besar syi'ah "Kamal Haidari" juga pernah gagal paham dalam memahami perkataan Ibnu Taimiyyah. Kamal Haidari memfitnah Ibnu Taimiyyah bahwa beliau menghina Fathimah dan ahlul bait.

Ketika Kamal Haidari salah fatal memahami perkataan Ibnu Taimiyyah lantas dia dicibir dan dikomentari oleh banyak orang, bahkan orang-orang syi’ah pun menyalahkan ulamanya sendiri “Kamal Haidari” karena telah gagal paham.

Kamal haidari memotong perkataan ibnu Taimiyyah dan menafsirkannya sendiri dengan pemahaman yang sangat fatal. Kamal haidari menukil perkataan Ibnu Taimiyyah:

وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مَا يُحْكَى عَنْ فَاطِمَةَ وَغَيْرِهَا مِنَ الصَّحَابَةِ مِنَ الْقَوَادِحِ كَثِيرٌ مِنْهَا كَذِبٌ وَبَعْضُهَا كَانُوا فِيهِ مُتَأَوِّلِينَ

Dan kami mengetahui bahwasanya apa yang diriwayatkan mengenai fathimah dan selainnya dari para sahabat mengenai keburukan-keburukan, banyak diantaranya adalah riwayat dusta dan sebagian mereka menta’wil” (Minhaj As-Sunnah 2/244)

Kamal Haidari memahami perkataan Ibnu Taimiyyah diatas sangat fatal. Kamal Haidari mewaqafkan bacaan sampai “katsiir” kemudian distop, dan dilanjutkan “minha kadzibun”. Sehingga menimbulkan pemahaman yang sangat fatal. Seharusnya Kamal Haidari mewafqafkan bacaan sampai “Al Qawadih” kemudian distop dan melanjutkan kembali “katsiirun minhaa kadzibun”.

Kalau perkataan Ibnu Taimiyyah diterjemahkan menurut pemahaman Kamal Haidari jadinya akan seperti ini:

Dan kami mengetahui apa yang diriwayatkan mengenai fathimah dan selainnya dari para sahabat, banyak keburukan-keburukan pada diri mereka. Diantaranya adalah mereka berdusta dan sebagian mereka menta’wil” .

Padahal makna yang benar adalah:

Dan kami mengetahui bahwasanya apa yang diriwayatkan mengenai fathimah dan selainnya dari para sahabat mengenai keburukan-keburukan, banyak diantaranya adalah riwayat dusta dan sebagian mereka menta’wil

Seandainya Kamal Haidari ingin melanjutkan perkataan Ibnu Taimiyyah sedikit saja, maka permalasahannya akan selesai. Justru setelahnya, Ibnu taimiyyah memuji Fathimah dan Ahlul Bait. Beliau berkata:

وَإِذَا كَانَ بَعْضُهَا ذَنْبًا فَلَيْسَ الْقَوْمُ مَعْصُومِينَ بَلْ هُمْ مَعَ كَوْنِهِمْ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ وَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَهُمْ ذُنُوبٌ يَغْفِرُهَا اللَّهُ لَهُمْ.

Dan jika sebagian riwayat tersebut tentang dosa kesalahan mereka maka ketahuilah bahwasanya mereka memang tidak ma’shum. Ketika mereka adalah wali-wali Allah dan mereka adalah penduduk surga walaupun mereka memiliki kesalahan maka Allah mengampuninya untuk mereka” (Minhaj As-Sunnah 2/244)

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa: Ibnu Taimiyyah sama sekali tidak mencela Fathimah dan sahabat lainnya, dan bahkan Ibnu Taimiyyah mengatakan riwayat-riwayat tersebut adalah dusta atau ta’wilan saja. Dan bahkan Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa mereka adalah wali Allah dan penduduk surga.

Jadi, dimana Ibnu Taimiyyah menghina Fathimah dan Ahlul bait?? Dan bahkan dalam kitab ini Ibnu Taimiyyah membela para sahabat.

Dan dalam sebuah video sudah ada yang mendokumentasikan kegagal pahaman Kamal Haidari dalam memahami perkataan Ibnu Taimiyyah dan bisa lihat disini.

             
                                                                      https://www.youtube.com/watch?v=mtwy7_i1wTU

Sehingga, hanya ada tuntutan mengenai Ibnu Taimiyyah mencela Fathimah dan para sahabat “Silahkan sebutkan teks asli Ibnu Taimiyyah dan sumbernya yang pasti dalam kitab Minhaj As-Sunnah bahwa beliau mencela fathimah, jangan hanya pintar memfitnah saja. Sangat disayangkan jika tuduhan dan fitnahan keluar dari lisan seorang habib besar.”
Sayyid Kamal Haidari seorang ulama syi'ah menuduh ibnu Taimiyah rahimahullah telah mengatakan Fatimah radhiallaahu anha seorang pendusta. Dengan ta'wil/penafsiran batilnya terhadap perkataan ibnu Taimiyah akhirnya Kamal Haidari harus menuai banyak pertanyaan dari pemirsa syi'ah sendiri, karena setelah di-cek dan diartikan secara lengkap mudah dimengerti bahwa perkataan ibnu Taimiyah rahimahullah tersebut justru berbicara sebaliknya yakni pembelaannya kepada Fatimah radhiallaahu anha. Sungguh aneh cara berpikir mereka, sesuatu yang baik justru dipahami lain sampai-sampai perkataan yang baik berubah menjadi perkataan yang buruk, Na'udzubillaahi min dzalik... Siapa Ayatullah Sayyid Kamal Haidari? berikut biografinya supaya kita paham bagaimana kedudukannya di mata pengikut syi'ah hari ini: http://shiatranslation.org/index.php?option=com_content&view=article&id=22%3Abrief-biography-ayatollah&catid=19%3Abiography&Itemid=21&lang=en

Habib Rizieq juga berkata:

“Namun, akhirnya Syeikh Ibnu Taimiyyah rhm bertaubat di akhir umurnya dari sikap berlebihan, khususnya sikap "Takfiir", sebagaimana diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi rhm dalam kitab "Siyar A'laamin Nubalaa" juz 11 Nomor 2.898 pada pembahasan tentang Imam Abul Hasan Al-Asy'ari rhm”.

Jawab:

Syaikhul islam bertaubat dalam permasalahan takfir hanyalah keluar dari kantong habib Rizieq saja. Ibnu Taimiyyah tidak pernah ruju’ dari perkataannya dalam masalah takfir. Adapun yang diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi, maka imam Adz-Dzahabi tidak pernah mengatakan Ibnu taimiyyah ruju’, itu hanya gagal paham dari habib Rizieq saja. Disebutkan dalam Siyar A’lam Nubala:

وكذا كان شيخنا ابن تيمية في أواخر أيامه يقول: أنا لا أكفر أحدا من الأمة، ويقول: قال النبي -صلى الله عليه وسلم: "لا يحافظ عى الوضوء إلا مؤمن" 1 فمن لازم الصلوات بوضوء فهو مسلم.

Dan begitulah syaikh kami Ibnu Taimiyyah di akhir hayatnya, dia berkata: “Saya tidak mengkafirkan seseorang dari ummat ini. Dan Ibnu Taimiyyah berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seseorang yang menjaga wudhunya kecuali dia adalah seorang mu’min. Maka barangsiapa yang konsisten shalat dengan wudhu maka dia adalah muslim” (Siyar A’lam Nubala 11/393)

Dimana pernyataan ruju’ Ibnu Taimiyyah yang diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi? Sama sekali tidak ada. Coba para pembaca teliti kembali: Imam Adz-Dzahabi tidak pernah bercerita“Namun, akhirnya Syeikh Ibnu Taimiyyah rhm bertaubat di akhir umurnya dari sikap berlebihan, khususnya sikap "Takfiir",”. Ibnu Taimiyyah tidak pernah berketa seperti itu, pekataan itu hanya keluar dari kantong Habib Rizieq saja.

Dalam masalah takfir, Ibnu Taimiyyah sangatlah berhati-hati dan tidak mudah mengkafirkan individu seseorang tanpa hujjah dari dulu hingga wafatnya. Dan bahwasanya malasah takfir mu’ayyan (secara individu) sangatlah berat bagi Ibnu Taimiyyah. Dan bukan sebagaimana yang dipahami oleh Habib Rizieq bahwa Ibnu Taimiyyah dulunya mudah mengkafirkan orang lain secara ta’yiin. Jadi maklum saja Ibnu Taimiyyah tidak mengkafirkan seseorang dari ummat islam, bukan berarti ini adalah ruju’. Tapi karena memang itu adalah madzhab beliau dalam masalah takfir dari dulu hingga wafatnya.

Saya ambil contoh mudah:

“Nabi di akhir hayatnya tidak lupa dengan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan untuk beliau”.

Apakah mungkin seseorang akan mengambil kesimpulan dari perkataan diatas: Nabi sudah bertaubat dan dahulu nabi adalah orang lalai dari kewajiban-kewajiban karena nabi di akhir hayatnya tidak pernah lupa dengan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan. Maka hanya orang jahil yang mengambil kesimpulan seperti itu, seperti habib Rizieq yang mengambi kesmipulan secara serampangan.

Jadi maksud cerita Imam Adz-Dzahabi, bahwa Ibnu Taimiyyah dari dulu hingga akhir hayatnya adalah orang yang tidak mudah mengkafirkan individu seorang muslim secara ta’yiin. Hal tersebut dapat kita lihat dalam tulisan-tulisan beliau bahwa madzhab Ibnu Taimiyyah di akhir hayatnya sama dengan madzhabnya yang lalu dan tidaklah berubah, bahwasanya Ibnu Taimiyyah memang dari dulu tidak mudah mengkafirkan seseorang secara individu. Ibnu Taimiyyah berkata yang satu makna dengan cerita Adz-Dzahabi (tidak mudah untuk mengkafirkan secara ta’yiin), dan beliau berkata jauh-jauh hari dari sebelum beliau meninggal:

مَنْ دَاوَمَ عَلَى الصَّلَوَاتِ فَإِنَّهُ لَا يُصَلِّي إلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِخِلَافِ مَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا فَإِنَّمَا يُصَلِّي حَيَاءً أَوْ رِيَاءً أَوْ لِعِلَّةِ دُنْيَوِيَّةٍ؛ وَلِهَذَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ: {إذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {إنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إلَّا اللَّهَ} الْآيَةَ} . وَمَنْ لَمْ يُصَلِّ إلَّا بِوُضُوءِ وَاغْتِسَالٍ فَإِنَّهُ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ إلَّا لِلَّهِ وَلِهَذَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ أَحْمَد. وَابْنُ مَاجَه مِنْ حَدِيثِ ثوبان عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: {اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تَحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إلَّا مُؤْمِنٌ فَإِنَّ الْوُضُوءَ
سِرٌّ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ} وَقَدْ يَنْتَقِضُ وُضُوءُهُ وَلَا يَدْرِي بِهِ أَحَدٌ فَإِذَا حَافَظَ عَلَيْهِ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِ إلَّا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ لَا يَكُونُ إلَّا مُؤْمِنًا

Barang siapa yang selalu konsisten untuk shalat, maka tidaklah dia shalat kecuali untuk Allah. Berbeda dengan yang tidak menjaga shalatnya, sesungguhnya dia shalat karena rasa malu, atau riya’ atau tujuan duniawi saja. Maka dari itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (Jika kamu melihat seseorang yang membiasakan untuk ke masjid maka saksikanlah keimanan untuk dirinya. Sesungguhnya Allah berfirman: (Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan orang yang menegakkan shalat dan orang yang menunaikan zakat dan dia tidak takut kecuali kepada Allah) [QS. At-Taubah:18] Dan barang siapa yang tidak shalat kecuali dengan wudhu dan mandi maka sesungguhnya dia tidak melakukannya kecuali karena Allah maka dari itu Nabi bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Tsauban bahwasanya Nabi bersabda: (Istiqamahlah dan kalian tidak akan bisa menghitungnya. Dan ketahuilah bahwasanya sebaik-baik amalan kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang menjaga wudhunya kecuali orang mu’min. Sesungguhnya wudhu adalah rahasia antara hamba dan Rabbnya. Terkadang wudhu seseorang bisa batal, maka jika dia selalu menjaga wudhunya maka tidaklah dia berwudhu kecuali karena Allah. Maka barang siapa yang keadaannya seperti itu maka dia adalah seorang mu’min” (Majmu’ fatawa 18/261)

Cobalah lihat teks yang kami tebalkan dengan warna merah, sangat jelas bahwasanya dari dulu Ibnu Taimiyyah menyatakan orang yang menjaga shalatnya dan wudhunya adalah seorang mukmin, sehingga tidak mudah untuk mengkafirkan. Perkataan ini sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Adz-Dzahabi diatas (baca kembali cerita Adz-Dzhabi diatas yang telah kami nukil).

Dalam perkataan beliau lain, beliau tidaklah mudah untuk mengkafirkan orang sembarangan. Beliau berkata:

أَنِّي مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ نَهْيًا عَنْ أَنْ يُنْسَبَ مُعَيَّنٌ إلَى تَكْفِيرٍ وَتَفْسِيقٍ وَمَعْصِيَةٍ، إلَّا إذَا عُلِمَ أَنَّهُ قَدْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ الرسالية الَّتِي مَنْ خَالَفَهَا كَانَ كَافِرًا تَارَةً وَفَاسِقًا أُخْرَى وَعَاصِيًا أُخْرَى وَإِنِّي أُقَرِّرُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ خَطَأَهَا: وَذَلِكَ يَعُمُّ الْخَطَأَ فِي الْمَسَائِلِ الْخَبَرِيَّةِ الْقَوْلِيَّةِ وَالْمَسَائِلِ الْعَمَلِيَّةِ

Sesungguhnya aku adalah orang yang paling melarang jika seseorang secara individu dinisbatkan kepada kekufuran dan kefasikan dan kemaksiatan, kecuali jika telah diketahui bahwasanya hujjah telah tegak yang mana siapa saja orang yang menyilisihinya maka dia kafir atau fasiq atau pemaksiat. Dan aku menetapkan bahwasanya Allah telah mengampuni kesalahan ummat ini. Dan itu mencakup kesalahan yang berkaiatan dengan masail khobariyyah qouliyyah dan masail amalaiyyah” (Majmu’ fatawa 3/229)

Perkataan beliau satu makna dengan cerita Adz-Dzahabi, bahwasanya Ibnu Taimiyyah tidak mudah mengkafirkan seseorang secara ta’yiin.

Maka ini adalah hadiah untuk para pemfitnah tanpa hujjah dan burhan. Semoga Allah mengampuni kesalahan habib Rizieq dan menerima taubatnya.

Semoga bermanfaat wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry
Diposkan oleh Muhammad Abdurrahman Al Amiry di 3/05/2015 01:15:00 AM



Monday, March 2, 2015

Zakir Naik : Syiah Kelompok Pendusta! Laknatlah Aku, Jangan Abu Bakar Dan Umar

Dalam sebuah video yang diunggah di Youtube ini, terdengar secara jelas, ilmuan bertaraf internasional yang sangat terkenal hafal isi kitab suci agama Kristen, Hindu, Budha dan tentunya Al-Qur’an, mengecam perbuatan orang-orang syiah. Berikut ini pernyataan beliau tentang kelompok pendusta ini :
(videonya terpotong, sepertinya ada seseorang yang bertanya tentang Syiah, atau bahkan orang syiah yang membela diri namun dengan kata-kata kasar).
Jika kalian salah melaknat orang, seperti saudara tadi yang berbicara dengan nada keras, di hari pembalasan nanti Allah akan tanya kalian : “Apa buktimu kamu mengatakan demikian?”
Saya telah menulis pertanyaan kepada semua lembaga Islam di India hingga Pakistan, “Apakah dalam hal ini saya salah mendoakan mereka ( sahabat Yazid, dll) dengan radhiallahu ‘anhu?”
Padahal kata radhiallahu ‘anhu (semoga Allah meridhoinya) adalah hal yang biasa diucapkan setelah menyebut nama sahabat. Tentang Yazid terdapat perbedaan pendapat dalam menyikapinya.
Imam Ghazali berkata : “Mendoakan dengan radhiallahu ‘anhu adalah lebih baik”.
Jika kita teliti riwayat tentang Karbala, masyarakat kuffahlah yang memanggil Husein radhiallahu anhu, dan mereka pulalah yang menyusun rencana (hingga terbunuh beliau). Jika kalian membaca hadist shohih, yang menjadi opsi Hussein radhiallahu anhu untuk menghindari pertumpahan darah ada 3 pilihan :
Saya akan membai’at Yazid.
Biarkan saya pulang ke Makkah.
Kirimkan saya ke medan Jihad.
Beliau ada keinginan menerima Yazid. Namun, masyarakat Kuffah paham kalau makar mereka ketahuan, mereka bisa celaka. Akhirnya mereka berencana untuk memperdaya Husein, dan saya katakan dalam catatan resmi saya :
“Saya mengutuk, siapapun pembunuh Husein radhiallahu anhu yang sebenarnya”.
Husein radhiallahu anhu adalah cucu Rasulullah Saw, kita
menghormati beliau dan beliau juga salah satu seorang sahabat Nabi.
Berdasarkan dari riwayat yang shohih, kita bisa dapatkan ketika Yazid mendengar Husein terbunuh, beliaupun menangis. Tapi mereka (orang syiah) tidak menerima riwayat ini.
Itu karena Syiah mempunyai kitab hadist sendiri, mereka tidak percaya pada Imam Bukhori! Jadi apakah kalian akan mengikuti mereka? (tanya beliau kepada orang-orang yang sepertinya sudah terkena virus syiah).
Mana yang lebih meragukan? Beberapa orang terburu-buru menyimpulkan bahwa Yazid lah yang telah membunuh Husein, padahal bukan beliau pembunuhnya. Yazid adalah Khalifah ketika itu. Akan tetapi, dia tidak pernah perintahkan untuk membunuh Hussein.
Jika kalian membaca riwayat yang shohih, maka kalian akan mengerti, tapi kalau kalian membaca riwayat yang dusta (yang dibuat orang-orang syiah), maka kesimpulannya akan berbeda.
Jika kalian yakin dengan bukunya Salman Rusdi (tokoh penghina Islam), maka kalian akan bingung apakah Nabi Muhammad benar atau salah. (seperti itulah jika kalian percayai riwayat syiah).
Jika kalian membenarkan orang-orang menyimpang yang menolak Shohih Bukhori, kira-kira apa yang terjadi pada umat ini?
Allah berfirman : “Dan Allah bersama orang-orang yang sabar”.
Jika kita mengekspos mereka di Peace TV, pasti mereka akan mendapat banyak masalah. Tapi kami tidak mau seperti itu, mereka orang-orang syiah hanya sekelompok manusia saja. Prioritas Peace Tv adalah lebih besar dari itu, seluruh umat manusia, terutama non-muslim.
Jika kalian bertanya kepada kami, maka kami akan berusaha menjawab sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Saya berlepas diri dari siapapun yang telah membunuh Husain Radhiaallahu anhu dan mengutuknya.
Seperti halnya, orang-orang bilang bahwa tragedi 911 (ambruknya WTC) adalah Usamah bin Ladin, kenapa saya harus ikut-ikutan mengutuknya? Saya tidak tahu siapa pelaku sebenarnya. Usamah bin ladin kah? Atau Justru George Bush? George Bush mengatakan bahwa Bin Ladin adalah penjahat.
kenapa harus mengutuk Usamah ? saya bukan kawan atau musuhnya. Atas dasar apa saya menyalahkan Usamah? Mereka mem-blow up Usamah di BBC dan CNN, apakah kalian pengikut BBC dan CNN? Ini sangat memalukan. Kenapa kita langsung menuduh Usamah bin Ladin? Apakah pernah kita mewawancarainya?
Ada satu hal yang baik alhamdulillah, pertama kalinya di Mumbai dalam bulan Muharram tidak lagi ditemukan ada yang melaknat Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu anhum.
Orang-orang Syiah ini, memiliki akidah (keyakinan) yang mengharuskan kita melaknat para sahabat radhiallahu anhum. Mereka paling membenci Umar, dan setiap bulan Muharram, mereka punya kebiasaan melaknat tiga sahabat yang utama. Ini pertama kalinya di Mumbai. Bagaimana bisa mereka melaknat para sahabat sementara kita diam saja?
Saya katakan : “Silahkan kalian melaknat saya 1000 kali saya tidak permasalahkan, tapi hentikan laknat kalian terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Jangan sampai kita terjebak dengan perangkap media. Peace TV memiliki 70 juta pemirsa di seluruh dunia, dan kami menahan diri untuk mengangkat isu ini. Mereka tidak bisa terima dengan banyaknya orang-orang yang menuju kepada kebenaran.
Orang-orang ini berusaha mencari-cari kesalahan saya dari berbagai celah. Allah berfirman :
“Mereka membuat tipu daya, dan Allah membals tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Qs. Ali-Imran : 54). (Alkuin/Baitul-Maqdis.com)

Penjelasan Lengkap Riwayat Tragedi Karbala yang benar Klik di sini : Tragedi Asy-Syura dan Kalbala Menurut Cerita Yang Benar


                             


Zakir Naik Raih Penghargaan King Faishal International Award

                                         And the winner is... Saudi King Salman bin Abdul Aziz presents Zakir Naik, president of the Islamic Research Foundation in India, with the 2015 King Faisal International Prize for Service to Islam
Maret 05 2015 22:24
RIYADH (gemaislam) – Da’i internasional DR. Zakir Abdul Karim Naik atau biasa disebut dengan Zakir Naik meraih penghargaan King Faishal International Award pada Ahad (1/3/2015) di Riyadh Arab Saudi.
Penghargaan langsung diberikan oleh raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud. Penghargaan tersebut diberikan atas usaha Zakir Naik yang begitu gigih dalam mendakwahkan Islam baik dalam bentuk seminar, pidato dan diskusi dan pengembangan lembaga pendidikan Islam di seluruh dunia.
Laman arriyadh melaporkan, King Faishal International Award adalah penghargaan tertinggi yang diberikan Yayasan King Faisal kepada siapa saja yang telah berdedikasi dan memberi kontribusi dibidang Pelayanan Islam, Studi Islam, Bahasa dan Sastra Arab, Kedokteran serta Sains.
Hadiah yang diterima oleh Kristolog ini berupa sertifikat, medali emas 24 karat seberat 200 gram dan uang tunai senilai 750 ribu riyal atau setara dengan Rp. 2,2 Miliar.
Penyerahan hadiah disaksikan oleh putra mahkota Pangeran Bandar bin Salman bin Abdulaziz dan Pangeran Faisal bin Ahmad bin Salman bin Abdul Aziz serta gubernur Riyadh Abdul Rahman Al-Abdullah Al-Faisal.

Sekretaris jendral Penghargaan Internasional Raja Faisal mengumumkan para pemenang nobel internasional tahun 2015 pada sidangnya yang ke 36. Acara tersebut di hadiri oleh Pangeran Khalid Al-Faishal bin Abdul Aziz Alu Saud, Ketua Umum Yayasan Raja Faisal yang juga merupakan gubernur Makkah Al-Mukarramah.
Dalam kesempatan ini, diumumkan pemenang dalam bidang pelayanan Islam, yaitu DR. Zakir Abdul karim Naik da’I asal india. Beliau merupakan ketua yayasan penelitian islam di India.
DR Zakir Naik merupakan seorang dai yang sering menyampaikan seminar atau ceramah tentang ajaran Islam dan membela prinsip prinsipnya berdasarkan Alqu’an dan sunnah. Beliau juga merupakan pakar dalam bidang perbandingan agama.
Pengetahuan DR Zakir Naik tidak hanya terbatas pada satu agama tetapi berbagai macam agama diantaranya : Kristen, budha, hindu, yahudi dan Sikhisme. Beliau  juga sering mengadakan pelatihan tingkat internasional dalam masalah perbandingan agama tersebut, dan beliau mendirikan stasiun TV berbahasa inggris (As-Salam chanel) yang merupakan satu satunya stasiun TV dalam masalah perbandingan agama.
Komite seleksi Penghargaan Internasional Raja Faisal menyelenggarakan acara pengumuman dan penganugerahan nobel tersebut di Riyadh, acara tersebut di hadiri oleh pangeran Khalid Al Faishal.
Penghargaan Internasional Raja Faisal (Ja’izah Malik Faishal Al-‘Alamiyah) adalah sebuah penghargaan yang dianugrahkan oleh Yayasan Raja Faisal untuk orang-orang yang berdedikasi memberikan kontribusi perubahan positif. Adapun penghargaan ini terbagi menjadi 5 cabang: Pelayanan Islam, Studi Islam, Bahasa dan Sastra Arab, Sains, dan Kedokteran.
Pada tahun 1977, Pangeran Khalid Al-Faishal bin Abdul Aziz Alu Saud, Ketua Umum Yayasan Raja Faisal mengumumkan bahwa Majelis Pengawas Yayasan Raja Faisal akan memberikan Penghargaan Internasional dengan nama Raja Faisal, yang akan diberikan pada 3 cabang yaitu Pelayanan Islam,Studi Islam, Sastra dan Studi Bahasa. Penghargaan pertama kali diberikan pada tahun 1979, Dan ditambahkan dua cabang lainnya, yaitu cabang kedokteran pada tahun 1981 yang dianugerahi tahun berikutnya dan cabang sains pada tahun 1982 yang dianugerahi pada tahun 1984.
Penghargaan yang sama juga pernah diraih oleh tokoh dari Indonesia yaitu Mohammad Natsir yang juga merupakan Perdana Menteri Indonesia ke-5. Penghargaan ini beliau raih pada tahun 1980.
http://manhajuna.com/mabruuk-dr-zakir-naik-raih-king-faishal-award/

ZAKIR NAIK : "SAYA PENGIKUT SEJATI IMAM SYAFI'I" >> WAHABI??
Dalam sebuah persentasinya, Dr.Zakir Naik sedang menjelaskan Hubungan As-sunnah dan Al-Quran, dalam salah satu contoh yang disampaikannya adalah soal Seputar Gerakan Shalat
Zakir Naik mencontohkan dalam setiap gerakan shalat (Dari Takbir hingga Salam) haruslah diperkuat/disandarkan dengan Hadist yang Shahih walaupun bertentangan dengan pendapat suatu Imam Mazhab yang kita ikuti atau ternyata lebih sesuai dengan pendapat Imam Mazhab yang lain
Begitu pula dengan perkara-perkara yang lain, pendapat Imam Mazhab yang 4 harus dikembalikan ke Hadist yang Shahih dan tidak boleh Fatanik Buta terhadapnya
Dr. Zakir Naik menegaskan kita boleh mengikuti imam mazhab yang mana saja, namun ikutilah keseluruhan termasuk seruan para Imam Mazhab yang 4 untuk kembali kepada Hadist Shahih
Lalu Beliau mengatakan "Saya adalah pengikut sejati Imam Syafi'i" karena jika ada perkataan Imam Syafi'i yang tidak sesuai dengan Hadist Shahih maka saya akan buang pendapat Imam Syafi'i ke tembok, kenapa bisa begitu? karena Imam Syafi'i sendiri yang menyuruh begitu, oleh karena saya pengikutnya maka saya turuti
Zakir Naik melanjutkan, saya juga pengikut sejati Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal karena mereka semua mengatakan untuk kembali ke Hadist yang Shahih.
Catatan Admin :
Imam Asy Syafi’i berkata, “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku”
Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i berkata, “Jika hadits itu shahih, itulah pendapatku”
Imam Ahmad berkata, “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berada dalam jurang kebinasaan”
Imam Abu Hanifah dan muridnya Abu Yusuf berkata, “Tidak boleh bagi seorang pun mengambil perkataan kami sampai ia mengetahui dari mana kami mengambil perkataan tersebut (artinya sampai diketahui dalil yang jelas dari Al Quran dan Hadits) ”
Imam Malik berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah
Siapa yang tak kenal Dr.Zakir Naik yang telah membuat para pendeta dan aktifis gereja pusing 7 keliling dengan hujjah-hujjah nya? Sampai sekarang belum ada berita apakah ada Pendeta yang berani berhadapan langsung dengan beliau...
Dan sekarang mulai terlihat orang-orang yang pengecut dan tidak bertanggungjawab mulai menebar fitnah, Setelah Orang-Orang Syiah, sekarang giliran Kristen yang menghembus isu WAHABI kepada Dr.Zakir Naik
Dan apakah kita juga akan ikut-ikutan menjadi seorang WahabiPhobia? Takut tanpa sebab? memakan fitnah mentah-mentah? dan bahkan ikut-ikutan mem-fitnah?
Apakah karena sebab perkataan seseorang "Kembalilah kepada Hadist Shahih" maka kita akan cetetuk "DASAR WAHABI!" kepdanya?
Kalo begitu jangan tuduh Admin Wahabi, tuduh saja Zakir Naik karena beliau yang berkata sedangkan Admin hanya mengutip, dan pula Zakir Naik juga hanya mengutip perkataan para Imam Mazhab, jadi tuduh saja Imam Mazhab sebagai Wahabi
Akan tetapi ingat, seseorang tidak menanggung beban dosa yang dilakukan oleh orang lain dan Admin berlepas diri dari segala urusan Fitnah-Memfitnah.
Semoga menjadi Hikmah - wallahu a’lam
https://www.facebook.com/FileIslam/posts/192011200942337





Out Of Topics : skala perdagangan narkoba , posisi indonesia no.3 didunia setelah Kolombia dan Meksiko, dengan 5 juta pengguna !!

Terkuak, Perdagangan Narkoba Diduga Sengaja Untuk Merusak Generasi Bangsa, Bukan Untuk Bisnis

Peredaran narkotika di Indonesia kian menggeliat. Pakar Hukum Pidana, Eva Achjani Zulfa, menyebut motivasi peredaran narkotika bukan sekadar mengincar keuntungan bisnis.
"Kekhawatiran kita yaitu adalah kejahatan untuk merusak dan mematikan anak bangsa ke depan," ujar Eva, dalam Bincang Pagi Metro Tv, Kamis (5/3/2015).

Sambung dia, bila dibandingkan dengan beragam upaya kejahatan lain seperti perdagangan manusia, jelas menunjukan perdagangan manusia lebih menguntungkan dengan risiko yang lebih sedikit.

"Kalau mau diperbandingkan dengan trafficking, lebih menguntungkan trafficking dan risikonya juga jauh lebih kecil dari pada narkoba," bebernya.

Dia menegaskan bahwa kejahatan narkoba adalah jenis kejahatan massal yang terorganisir secara luar biasa.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Kombes Slamet Pribadi, menuturkan, bahwa peredaran narkotika ke Indonesia dimaksudkan untuk mengubah prilaku anak bangsa ke hal negatif.
"Dari empat juta jiwa pemakai narkotika, itu rata-rata pemakainya berumur 10 sampai 49 tahun. Ini artinya, orang yang berumur 10 sampai 59 tahun akan diubah prilakunya," ungkapnya.

Sambung dia, para produsen narkotika ingin mengubah prilaku sosial di Indonesia bukan sekadar keuntungan bisnis.

"Yang tadinya usia 10 tahun akan jadi usia produktif nantinya, apa jadinya saat masa produktif nanti hancur karena narkoba," ungkapnya.

Sekjen Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat), Ashar Suryobroto, menambahkan, dibutuhkan komitmen seluruh petugas aparat penegak hukum, serta lingkungan sekitar untuk bisa menyelamatkan bangsa Indonesia dari bahaya narkotika.

"Ini pembusukan bangsa. Kalau kita diamkan, ini jadi pembusukan bangsa. Ini (usia produktif) adalah kelompok usia produktif yang kelak menjadi pemimpin. Memang mau punya pemimpin yang nyabu dulu sebelum rapat," tegasnya.

Oleh karena itu, pelaksanaan eksekusi mati terpidana narkoba mestinya segera dilakukan agar tidak menjadi bencana narkotika. Tapi hukuman mati bukan satu-satunya alat, yang paling penting adalah pencegahan dari rumah dan lingkungan lebih dulu, guna menjadi pagar untuk generasi bangsa ke depan. "Selamatkan, start from home," pungkasnya.

Selasa, 20 Januari 2015 | 16:26      
Sehari, Lima Ton Narkoba Dikonsumsi di Indonesia

Dua narapidana (napi) yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, dan seorang napi LP Nusa Kambangan, diketahui menjadi pengendali penyelundupan dan peredaran gelap narkotika jenis sabu dari India (sumber: Suara Pembaruan)
Jakarta - Indonesia menghadapi kondisi darurat narkoba. Diperkirakan, jumlah pengguna narkoba di Tanah Air telah menembus 5 juta orang. Jika diasumsikan seorang pecandu mengonsumsi 1 gram narkoba per hari, maka ada sedikitnya 5 ton narkoba yang diperdagangkan di Indonesia setiap harinya.
Oleh karena itu, pemerintah tidak akan mundur dalam perang terhadap narkoba, termasuk mengeksekusi mati siapa pun, baik warga negara Indonesia maupun warga asing, yang terbukti mengedarkan narkoba. Seiring dengan langkah penegakan hukum itu, pemerintah juga fokus pada upaya rehabilitasi para pecandu, dengan menyiapkan anggaran Rp 1 triliun.
Demikian pemaparan Menteri Luar (Menlu) Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly, dan Jaksa Agung HM Prasetyo, saat pertemuan dengan pimpinan media massa, di Kantor Kementerian Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Selasa (20/1).
Menlu menegaskan ancaman serius narkoba di Indonesia. Secara geografis, posisi Indonesia sangat strategis dalam mata rantai perdagangan narkoba di dunia.
“Kalau dulu Indonesia menjadi tempat transit narkoba, kini sudah menjadi destinasi utama. Bahkan dilihat dari skala perdagangannya, posisi Indonesia mungkin nomor tiga di bawah Kolombia dan Meksiko. Ini mengerikan,” tandasnya.
Dia memaparkan sejumlah data, di antaranya jumlah pengguna yang diperkirakan mencapai 5 juta orang. “Jumlah ini setara jumlah penduduk Selandia Baru,” ungkapnya.
Dari jumlah itu, sekitar 1,2 juta pengguna sudah sangat akut, sehingga tidak memungkinkan untuk direhabilitasi. Dampak dari konsumsi narkoba, sekitar 40-50 warga Indonesia meninggal setiap hari. “Artinya 1.200-1.500 orang meninggal setiap bulan, atau sekitar 14.000 pengguna narkoba di Indonesia meninggal setiap tahun. Ironisnya, 10% kasus kematian narkoba di dunia ada di Indonesia,” tuturnya.
Jika diasumsikan 5 juta pecandu mengonsumsi 1 gram narkoba per hari, maka sedikitnya ada 5 ton narkoba yang diperdagangkan setiap hari.
“Di ASEAN nilai transaksi narkoba mencapai Rp 110 triliun per tahun. Dari jumlah itu, 43% ada di Indonesia. Ini menjelaskan mengapa Indoensia kini pasar yang sangat potensial bagi perdagangan narkoba di dunia,” tandasnya.

Kalau motivasinya ekonomi, “kelompok mana” yang paling memungkinkan menjadi dalangnya, paling diuntungkan  dan “berambisi menguasai “ Geo Politik dan Geo Demografi muslim Indonesia ? barang bukti hasil tangkapan dari bandar narkob  sangat-sangat  kecil sekali, sisanya siapa yang supply dan "pergerakan tidak terungkap"? di kolombia dan meksiko perang terhadap "mafia Narkotika" sangat prontal/besar2n serta melibatkan militer. Tokoh2 Muslim, Para Ulama, Intelekual Muslim yang masih punya Nurani , apa yang harus anda lakukan dan apa yang anda ributkan/gaduhkan  selama ini ? kehancuran umat Islam Indonesia pasti berimplikasi kepada keluarga kita. Wallahu A'lam Bishawab



Mengenal Ahlus Sunnah,Imam Ja'far Ash-Shadiq Rahimahullah


                                          
Tokoh yang masih keturunan Ahli Bait ini, termasuk yang dicatut oleh ahli bid'ah (baca: Syi'ah) sebagai tokohnya. Padahal jauh panggang dari api. Aqidahnya sangat berbeda jauh dengan aqidah yang selama ini diyakini orang-orang Syi'ah.

NASAB DAN KEPRIBADIANNYA
Ia adalah Ja'far bin Muhammad bin 'Ali Zainal 'Abidin bin al Husain bin 'Ali bin Abi Thalib, keponakan Rasulullah dan istri putri beliau Fathimah Radhiyallahu 'anha. Terlahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H dalam usia 68 tahun.

Ash Shadiq merupakan gelar yang selalu menetap tersemat padanya. Kata ash Shadiq itu, tidaklah disebutkan, kecuali mengarah kepadanya. Karena ia terkenal dengan kejujuran dalam hadits, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakannya. Kedustaan tidak dikenal padanya. Gelar ini pun masyhur di kalangan kaum Muslimin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah acapkali menyematkan gelar ini padanya.

Laqab lainnya, ia mendapat gelar al Imam dan al Faqih. Gelar ini pun pantas ia sandang. Meski demikian, ia bukan manusia yang ma'shum seperti yang diyakini sebagian ahli bid'ah. Ini dibuktikan, ia sendiri telah menepisnya, bahwa al 'Ishmah (ma'shum) hanyalah milik Nabi.

Imam Ja'far ash Shadiq dikarunia beberapa anak. Mereka adalah: Isma'il (putra tertua, meninggal pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup), 'Abdullah (dengan namanya, kun-yah ayahnya dikenal), Musa yang bergelar al Kazhim [1], Ishaq, Muhammad, 'Ali dan Fathimah.

Dia dikenal memiliki sifat kedermawanan dan kemurahan hatinya yang begitu besar. Seakan merupakan cerminan dari tradisi keluarganya, sebagai kebiasaan yang berasal dari keturunan orang-orang dermawan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling murah hati.

Dalam hal kedermawanan ini, ia seakan meneruskan kebiasaan kakeknya, Zainal 'Abidin, yaitu bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging dan membawa uang dirham di atas pundaknya, dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya dari kalangan orang-orang fakir di Madinah, tanpa diketahui jati dirinya. Ketika beliau telah wafat, mereka merasa kehilangan orang yang selama ini telah memberikan kepada mereka bantuan.

Dengan sifat kedermawanannya pula, ia melarang terjadinya permusuhan. Dia rela menanggung kerugian yang harus dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, untuk mewujudkan perdamaian antara kaum Muslimin.

PERJALANAN KEILMUANNYA
Imam Ja'far ash Shadiq, menempuh perjalanan ilmiyahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, misalnya Sahl bin Sa'id as Sa'idi dan Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhum. Dia juga berguru kepada Sayyidu Tabi'in 'Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az Zuhri, 'Urwah bin az Zubair, Muhammad bin al Munkadir dan 'Abdullah bin Abi Rafi' serta 'Ikrimah maula Ibnu 'Abbas. Dia pun meriwayatkan dari kakeknya, al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.

Mayoritas ulama yang ia ambil ilmunya berasal dari Madinah. Mereka  adalah ulama-ulama kesohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.

Sedangkan murid-muridnya yang paling terkenal, yaitu Yahya bin Sa'id al Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as Sakhtayani, Ibnu Juraij dan Abu 'Amr bin al 'Ala`. Juga Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas al Ashbahi, Sufyan ats Tsauri, Syu'bah bin al Hajjaj, Sufyan bin 'Uyainah, Muhammad bin Tsabit al Bunani, Abu Hanifah dan masih banyak lagi.

Para imam hadits -kecuali al Bukhari- meriwayatkan hadits-haditsnya pada kitab-kitab mereka. Sementara Imam al Bukhari meriwayatkan haditsnya di kitab lainnya, bukan di ash Shahih.

Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepada Imam Ja'far ash Shadiq.

Abu Hanifah berkata,"Tidak ada orang yang lebih faqih dari Ja'far bin Muhammad."

Abu Hatim ar Razi di dalam al Jarh wa at Ta'dil (2/487) berkata,"(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan orang sekaliber dia."

Ibnu Hibban berkomentar: "Dia termasuk tokoh dari kalangan Ahli Bait, ahli ibadah dari kalangan atba' Tabi'in dan ulama Madinah".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan : "Sesungguhnya Ja'far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahli Sunnah". (Lihat Minhaju as Sunnah, 2/245).

Demikian sebagian kutipan pujian dari para ulama kepada Imam Ja'far ash Shadiq.

JA'FAR ASH SHADIQ TIDAK MUNGKIN MENCELA ABU BAKAR DAN 'UMAR
Adapun Syi'ah, berbuat secara berlebihan kepada Imam Ja'far ash Shadiq. Golongan Syi'ah ini mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka, sebenarnya hanya kamuflase. Pernyataan-pernyataan dan aqidah beliau berbeda 180 derajat dengan apa yang diyakini oleh kaum Syi'ah.

Sebut saja, sikap Imam Ja'far ash Shadiq terhadap Abu Bakr dan 'Umar bin al Kaththab. Kecintaannya terhadap mereka berdua tidak perlu dipertanyakan. Bagaimana tidak, mereka berdua adalah teman dekat kakek (yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), dan sebagai penggantinya.

'Abdul Jabbar bin al 'Abbas al Hamdani berkata,"Sesungguhnya Ja'far bin Muhammad menghampiri saat mereka akan meninggalkan Madinah. Ia berkata,'Sesungguhnya kalian, Insya Allah termasuk orang-orang shalih dari Madinah. Maka, tolong sampaikan (kepada orang-orang) dariku, barangsiapa yang menganggap diriku imam ma'shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa menduga aku berlepas diri dari Abu Bakr dan 'Umar, maka aku pun berlepas diri darinya'."

Ad Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata: "Aku mendengar Ja'far bin Muhammad, saat ditanya tentang Abu Bakr dan 'Umar, ia berkata,'Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah dari surga'."

Pernyataan beliau ini jelas sangat bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syi'ah yang menjadikan celaan dan makian kepada Abu Bakr, 'Umar, dan para sahabat pada umumnya sebagai sarana untuk mendapatkan pahala dari Allah.

Imam Ja'far ash Shadiq, sangat tidak mungkin mencela mereka berdua. Pasalnya, ibunya, Ummu Farwa adalah putri al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr ash Shiddiq. Sementara neneknya dari arah ibunya adalah, Asma` bintu Abdir Rahman bin Abi Bakr. Apabila mereka adalah paman-pamannya, dan Abu Bakr termasuk kakeknya dari dua sisi, maka sulit digambarkan, jika Ja'far bin Muhammad -yang jelas berilmu, berpegah teguh dengan agamanya, dan ketinggian martabatnya, serta memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi- melontarkan cacian dan celaan terhadap kakeknya, Abu Bakr ash Shiddiq. Ja'far sendiri berkata : "Abu Bakar melahirkan diriku dua kali".

Apalagi, bila menengok kapasitas keilmuan dan keteguhan agama dan ketinggian martabatnya, sudah tentu akan menghalanginya untuk mencaci-maki orang yang tidak pantas menerimanya.

KLAIM BOHONG SYIAH ATAS JA'FAR ASH SHADIQ

Pada masanya, bid'ah al Ja'd bin Dirham dan pengaruh al Jahm bin Shafwan telah menyebar. Sebagian kaum Muslimin sudah terpengaruh dengan aqidah al Qur`an sebagai makhluk. Akan tetapi, Ja'far bin Muhammad menyatakan: "Bukan Khaliq (Pencipta), juga bukan makhluk, tetapi Kalamullah"[2]. Aqidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syi'ah yang mengamini Mu'tazilah, dengan pemahaman aqidahnya, al Qur`an adalah makhluk.

Artinya, prinsip aqidah yang dipegangi oleh Imam Ja'far ash Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahli Sunnah wal Jama'ah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan RasulNya.

Ibnu Taimiyyah berkata,"Syi'ah Imamiyah, mereka berselisih dengan Ahli Bait dalam kebanyakan pemahaman aqidah mereka. Dari kalangan imam Ahli Bait, seperti 'Ali bin al Husain Zainal 'Abidin, Abu Ja'far al Baqir, dan putranya, Ja'far bin Muhammad ash Shadiq, tidak ada yang mengingkari ru`yah (melihat Allah di akhirat), dan tidak ada yang mengatakan al Qur`an adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan 'Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi n), tidak ada yang mengakui para imam dua belas ma'shum, atau mencela Abu Bakr dan 'Umar."

Tokoh-tokoh Syi'ah tempo dulu mengakui, bahwa aqidah tauhid dan takdir (yang mereka yakini) tidak mereka dapatkan, baik melalui Kitabullah, Sunnah atau para imam Ahli Bait. Sebenarnya, mereka mendapatkannya dari Mu'tazilah. Mereka (kaum Mu'tazilah) itulah guru-guru mereka dalam tauhid dan al 'adl".

Klaim kaum Syi'ah yang menyatakan pemahaman aqidah mereka berasal dari Ja'far ash Shadiq atau imam Ahli Bait lainnya, hanyalah merupakan kedustaan, dan mengada-ada belaka. Sehingga tidak salah jika dianggapnya sebagai dongeng-dongeng fiktif, dan bualan kosong yang mereka nisbatkan kepada orang-orang yang mulia itu.

Contoh kedustaan yang dilekatkan kepada beliau, yaitu ucapan "taqiyah adalah agamaku dan agama nenek-moyangku". Orang Syiah menjadikannya sebagai prinsip aqidah mereka.

Kedustaan lainnya, keyakinan mereka bahwa Ja'far ash Shadiq akan kekal abadi, dan tidak meninggal. Ini juga merupakan kesalahan yang parah. Kematian adalah milik setiap orang, dan pasti terjadi. Tidak ada orang, baik dari kalangan Ahli Bait atau lainnya yang mendapatkan hak istimewa hidup abadi di dunia ini.

Bentuk kedustaan mereka merambah buku dan tulisan-tulisan yang diklaim telah ditulis oleh Ja'far ash Shadiq. Para ulama telah menetapkan kedustaan itu. Ditambah lagi, eranya (80-148 H) termasuk masa yang kering dengan karya tulis. Yang ada, perkataan-perkataan yang diriwayatkan dari mereka saja, tidak sampai dibukukan.

Kaidah yang mesti kita pegangi dalam masalah ini, tidak menerima satu perkataan pun dari ash Shadiq dan imam-imam lain, juga dari orang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, berisikan orang-orang yang tsiqah dan dikenal dari kalangan para perawi, atau bersesuaian dengan al Haq dan didukung oleh dalil, maka baru bisa diterima. Selain dari yang itu, tidak perlu dilihat.

Di antara kitab yang dinisbatkan kepadanya dengan kedustaan, yaitu kitab Rasailu Ikhawni ash Shafa, al Jafr (kitab yang memberitakan berbagai peristiwa yang akan terjadi), 'Ilmu al Bithaqah, Ikhtilaju al A'dha` (menjelaskan pergerakan-pergerakan yang ada di bawah tanah), Qira`atu al Qur`an Fi al Manam, dan sebagainya.

Golongan Syi'ah memperkuat kedustaan mereka tentang keotentikan kitab-kitab tersebut, dengan mengambil keterangan dari Abu Musa Jabir bin Hayyan ash Shufi ath Tharthusi. Dia ini adalah pakar kimia yang terkenal, meninggal tahun 200 H. Mereka berdalih, bahwa Abu Musa Jabir bin Hayyan telah menyertai Ja'far ash Shadiq dan menulis berbagai risalah yang berjumlah 500 buah dalam seribu lembar kertas. Namun, pernyataan ini masih sangat diragukan. Sebab, Jabir ini termasuk muttaham (tertuduh, dipertanyakan) dalam agama dan amanahnya, dan juga kesertaannya bersama Ja'far ash Shadiq yang meninggal tahun 148 H. Menurut keterangan yang masyhur, Jabir bukan menyertai Ja'far ash Shadiq, tetapi ia menyertai Ja'far bin Yahya al Barmaki. Dan lagi yang pantas untuk meragukan pernyataan tersebut, karena Imam Ja'far ash Shadiq berada di Madinah, sementara itu Jabir bermukim di Baghdad. Kedustaan tersebut semakin jelas jika melihat kesibukan Jabir dengan ilmu-ilmu alamnya, yang tentu sangat berbeda dengan yang ditekuni Imam Ja'far ash Shadiq.

Oleh karena itu, tulisan-tulisan di atas, tidak bisa dibenarkan penisbatannya kepada Ja'far ash Shadiq. Ringkasnya, Syi'ah berdiri di atas kedustaan dan kebohongan. Andaikan benar miliknya, sudah tentu akan diketahui anak-anaknya dan para muridnya, dan kemudian akan menyebar ke berbagai pelosok dunia. Wallahul Musta'an.

Fakta ini semakin membuktikan bahwa Syiah berdiri di atas gulungan kedustaan dan kebohongan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyimpulkan:

"Adapun syariat mereka, tumpuannya berasal dari riwayat dari sebagian Ahli Bait seperti Abu Ja'far al Baqir, Ja'far bin Muhammad ash Shadiq dan lainnya".

Tidak diragukan lagi, bahwa mereka adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam mereka. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan orang-orang semacam mereka. Tetapi, banyak nukilan dusta ditempelkan pada mereka. Kaum Syiah tidak memiliki kemampuan penguasaan dalam aspek isnad dan penyeleksian antara perawi yang tsiqah dan yang tidak. Dalam masalah ini, mereka laksana Ahli Kitab. Semua yang mereka jumpai dalam kitab-kitab, berupa riwayat dari pendahu-pendahulu mereka, langsung diterima. Berbeda dengan Ahli Sunnah, mereka mempunyai kemampuan penguasaan isnad, sebagai piranti untuk membedakan antara kejujuran dengan kedustaan. (Minhaju as Sunnah, 5/162).

(Diadaptasi dari muqaddimah tahqiq Kitab al Munazharah (Munazharah Ja'far bin Muhammad ash Shadiq Ma'a ar Rafidhi fi at Tafdhili Baina Abi Bakr wa 'Ali), karya Imam al Hujjah Ja'far bin Muhammad ash Shadiq, tahqiq 'Ali bin 'Abdul 'Aziz al 'Ali Alu Syibl, Dar al Wathan Riyadh, Cet. I, Th. 1417 H).
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M]
_______

Footnote
[1]. Oleh Syi'ah Imamiyah, ia diangkat sebagai imam berikutnya. Dalam masalah ini, Syi'ah Imamiyah berseteru pendapat dengan Isma'iliyah tentang imam setelah Ja'far ash Shadiq, antara Musa yang bergelar al Kazhim dengan Isma'il yang sudah meninggal terlebih dahulu. Perbedaan memang menjadi ciri khas ahli bid'ah, bahkan pada masalah yang prinsip menurut mereka.
[2]. Ibnu Taimiyyah mengungkapkan, bahwa pernyataan itu termasuk sering diriwayatkan dari Ja'far ash Shadiq. (al Minhaj, 2/245).



Habib Ahmad Zein Al Kaff : Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda, kita hanya berbeda dalam masalah furu’iyah (cabang) dengan Wahabi/salafi

Habib ahmad zen: 
wahabi masih saudara,, syiah bukan!
4 March 2015   
JAKARTA- Kaum Muslimin yang mengkritik ajaran syiah kerapkali difitnah dengan sebutan-sebutan yang buruk, diantaranya pemecah belah umat, agen Zionis, dan yang lebih sering dengan tudingan sebagai Wahabi [ Salafi, red]
Namun, hal itu dibantah oleh Pimpinan Yayasan Al Bayyinat Jawa Timur, Habib Ahmad Zein Al Kaff yang bukan dari kalangan Wahabi saat menjawab pertanyaan soal kenapa setiap ada upaya membongkar kesesatan Syiah, kalangan Syiah sering menyerang balik dengan menyatakan bahwa Wahabi dibelakang aksi yang menuduh Syiah sesat .
Wahabi sama-sama Ahlussunnah, kalau mereka (Syiah) bukan. Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda, kita hanya berbeda dalam masalah furu’iyah (cabang) dengan Wahabi” tegas Habib Zein dalam konferensi pers setelah acara tabligh akbar bertajuk “Mengokohkan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia”, yang digelar Ahad kemarin (16/9) di masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Jakarta.
Anggota dewan Syuriah PWNU Jawa Timur ini, menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu terkejut mendengar tuduhan seperti itu, sebab hal tersebut juga yang menimpa dirinya yang jelas-jelas warga Nahdliyin.
“Tidak usah heran, saya aja yang sudah jelas-jelas bukan Wahabi, dituduh Wahabi juga sama mereka (Syiah)” tutupnya. (bilal/arrahmah.com) Selasa, 18 September 2012 12:27:09