Tuesday, April 28, 2015

Sunni Iran Bisa Repotkan Syiah dan Kurangi Pengaruhnya di Timur Tengah

Jika Didukung, Sunni Iran Bisa Repotkan Syiah dan Kurangi Pengaruhnya di Timur Tengah.
Saat ini terdapat gerakan di negara-negara Arab, terutama di Teluk, yang mengajak untuk membantu perjuangan Sunni Iran (Ahwazi). Hal itu karena jika didukung, kelompok minoritas ini akan cukup merepotkan pemerintah Iran (Syiah) dan bisa mengurangi pengaruhnya di berbagai negara Arab.
Ajakan itu banyak terdapat di situs jejaring sosial, twitter. Bahkan saat ini sudah terdapat hashtag #Ahwasi_melawan. Misalnya netizen asal Teluk, Abdullah bin Muhammad, mengatakan, “Iran baru akan berhenti mengintervensi urusan dalam negeri kita, dan berhenti mendukung milisi bersenjata jahat di Suriah dan Yaman, jika disibukkan dengan urusan dalam negeri sendiri. Maka mari mendukung Ahwazi.”
Falih As-Shili mengatakan, “Mulainya demonstrasi dilakukan Ahwazi melawan pemerintah Majusi di Teheran menandakan dimulainya perpecahan negara Majusi.”
Sementara itu Mehna Al-Mehna mengirimkan pesan kepada orang-orang Ahwazi, “Kepada saudara-saudaraku di wilayah Arab Ahwaz, lanjutkan perjuangan kalian. Jiwa raga kami bersamamu. Kami berdoa agar menolong dan membebaskan kalian dari para penjajah Persia.”
Dr. Rahaf Al-Harbi mengatakan, “Orang-orang Ahwazi membutuhkan dukungan persaudaraan dan media. Suara mereka harus sampai ke para pengambil keputusan. Sampai kapan kita membiarkan saudara-saudara kita di Ahwaz dizhalimi?”
Ribuan orang dari kalangan Sunni melakukan demonstrasi besar-besar di Ahwazi. Mereka memprotes politik pemerintah Iran yang mendiskriminasi Sunni di Ahwazi.
Sejak jatuh ke tangan Syiah Iran tahun 1925, kelompok Arab yang mayoritas adalah Sunni selalu mengalami intimidasi dari pemerintah. Dulu, imperium Persia memang bermimpi menguasai wilayah ini. Saat ini penduduk dilarang bercakap dengan bahasa Arab, membawa surat berbahasa Arab, atau membawa mushaf Al-Quran yang tidak bertarjamah bahasa Persia.

Sunni Iran Mulai Bangkit Melawan Pemerintah

Ribuan orang dari kalangan Sunni melakukan demonstrasi besar-besar di Ahwazi. Mereka memprotes politik pemerintah Iran yang mendiskriminasi Sunni di Ahwazi. Seperti diberitakan Islammemo, Ahad (15/2/2015) hari ini.
Salah seorang demonstran, Muhammed Majid Al-Ahwazi, mengatakan bahwa pasukan dari kepolisian menutup semua akes ke tempat dilakukannya demonstrasi. Hal itu untuk mencegah semakin besarnya gelombang protes di Ahwazi.
Sejak jatuh ke tangan Syiah Iran tahun 1925, kelompok Arab yang mayoritas adalah Sunni selalu mengalami intimidasi dari pemerintah. Dulu, imperium Persia memang bermimpi menguasai wilayah ini. Saat ini penduduk dilarang bercakap dengan bahasa Arab, membawa surat berbahasa Arab, atau membawa mushaf Al-Quran yang tidak bertarjamah bahasa Persia. 



Jenderal ( أحمق و مجنون ) Iran “Serang” Arab Saudi. Tipikal Rafidhi, Gemar Mengancam dan Menghujat !

Jenderal Garda Revolusi Iran, Muhammad Ali Jakfari, untuk pertama kalinya menyerang Arab Saudi secara tegas di hadapan publik. Ia sesumbar, rezim Saudi akan runtuh dalam waktu dekat.
Serangan keras itu dikeluarkan dalam pidato di festival ilmiah di Universitas Baqiyatullah di Teheran pada Senin (27/04). Acara itu juga dihadiri para pejabat dan komandan militer Iran.
“Pemerintah Iran jangan berkompromi lagi dengan rezim Saudi, karena dalam waktu dekat rezim Ali Suud akan lengser,” sesumbar Jakfari di hadapan para pejabat Iran.
Ia menyeru para pejabat meninggalkan pernyataan-pernyataan yang mengkritik rezim Saudi. Hal itu sudah tidak berguna, oleh karenanya saat ini kita harus tegas bersikap kepada mereka.
Ditambahkannya, para pejabat juga harus meninggalkan upaya-upaya diplomatik  terhadap rezim Saudi. Operasi yang digulirkannya di Yaman sangat tegas menunjukkan jati diri mereka.
Seperti diketahui, Iran menentang keras operasi Teluk untuk menggempur Syiah Hautsi di Yaman. Hubungannya dengan saudi pun menegang seiring operasi itu.
Sementara Saudi menyikapi berbagai kritikan tajam Iran dengan santai. Saudi mengatakan, Yaman bukanlah bagian dari Iran, kenapa harus marah. Di sisi lain, yang ditargetkan adalah pemberontak yang membuat kekacauan.

Garda Revolusi: Kami Akan Perangi Negara Arab yang Musuhi Revolusi Khomeini

Pasukan Garda Revolusi Iran, menyatakan negaranya akan menggulirkan pertempuran habis-habisan melawan negara-negara Arab yang memusuhi revolusi Khomeini. Hal itu disampaikan komandan Garda Revolusi, Mayor Jenderal Muhammad Ali Jafari, di depan anak buahnya komandan baris pertama di markas Quds.
“Perang ini akan bergulir di Timur Tengah. Kita harus menghadapinya dengan gagah berani, sebagaimana kita juga ikut dalam pertempuran suci di Irak,” kata Ali Jafari seperti dinukil dari situs online yang berafiliasi pada Garda Revolusi, Umriyun.
Jafari menekankan bahwa prestasi paling penting yang harus diraih dari Revolusi Iran adalah mengekspornya ke negara-negara Arab. Ia menunjukkan, hal itu telah dicoba dan berhasil di negara-negara Arab sekutu Iran, Suriah dan Irak.
Ia juga mengatakan dalam pembicaraannya tersebut, brigade Asyura dan brigade Imam Ali (satuan khusus di Garda Revolusi) hari ini tengah menjalani tingkat tertinggi pelatihan militer untuk siap menggulirkan pertempuran regional. Mereka disiapkan jika Iran benar-benar bertempur dengan negara-negara Arab.
Dalam berita lain, Humas pasukan Garda Revolusi Iran melaporkan sekelompok orang yang diungkapkan sebagai “penjahat dan teroris” Selasa pagi menyerang pos perbatasan di daerah Sarwan. Para gerilyawan tidak dikenal itu berusaha merebut dan menduduki pos tersebut.
Garda Revolusi mengaku, pasukannya berhasil menggagalkan serang tersebut dan memukul telak para penyerang. Militer Iran tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang serangan terbaru itu.

Terkuak Boroknya :

Jenderal Iran Sebut Kudeta Yaman Bagian dari Revolusi Iran
Jenderal Garda Revolusi Iran, Muhammad Ali Jakfari, Senin (27/04), menyebut kudeta pemberontak Syiah Hautsi di Yaman merupakan bagian dari revolusi Iran. Operasi Teluk yang dipimpin Saudi di negara itu sama saja memerangi revolusi Iran.
“Rezim Saudi hari ini mencengkeram untuk memerangi revolusi Iran dan membiarkan Israel, melalui agresinya menargetkan Yaman dan rakyatnya yang memerangi kezaliman,” demikian ungkap Jakfari dalam pidato di festival ilmiah di Universitas Baqiyatullah di Teheran.
Ia menjelaskan bahwa revolusi Iran tidak sebatas hanya di dalam negeri, akan tetapi melebar ke negara-negara Timur Tengah dan Barat. Revolusi itu diklaim untuk menghapus rezim-rezim tirani menurut pandangan Iran.
Dalam kesempatan itu, Jakfari juga “menyerang” rezim Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa melengserkan rezim Saudi adalah target kedua revolusi Iran.
“Target pertama revolusi Iran meruntuhkan Uni Soviet. Target kedua akan menghancurkan rezim Ali Suud di Timur Tengah,” kata Jakfari.
Jakfari mendesak para pejabat Iran tidak lagi hanya mengkritik Saudi dalam berbagai pernyataan. Namun, tegasnya, saat ini kalian harus bersikap tegas terhadap negara tersebut.

Jenderal Iran: Ekspor Revolusi Syiah Iran Masuki Babak Baru [ Indonesia Perlu Waspada ]

Seorang jenderal Iran menyatakan bahwa ekspor revolusi Syiah Iran telah memasuki babak baru. Dia menyebutkan sejumlah wilayah yang telah menjadi sasaran penyebaran paham politik Syiah yang ujungnya merebut kekuasaan seperti di Bahrain, Yaman dan Afrika Utara.
“Revolusi ‘Islam’ melaju dengan kecepatan yang baik, ini menjadi contoh ekspor revolusi yang terus meningkat,” Komandan Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari, Rabu (11/03).
Pernyataan jenderal itu disampaikannya di hadapan Dewan Ulama Syiah Iran, di tengah sorotan berbagai pihak terkait keterlibatan Iran dalam mendukung rezim Syiah Suriah pimpinan Bashar Assad, yang telah membantai ratusan ribu rakyatnya. Jafari juga menyatakan bahwa pasukan Garda Revolusi Iran telah dikerahkan untuk mendukung Baghdad dan Damaskus.
“Tahap ekspor revolusi telah memasuki babak baru,” imbuh Jafari.
Pernyataan Jafari ini kembali mempertegas pernyataan seorang Jenderal Iran yang lain yaitu, Qassem Suleimani. Suleimani yang merupakan pemimpin Pasukan Al-Quds, sayap militer Garda Revolusi Iran, yang telah ditempatkan di Irak untuk membantu memerangi pejuang ISIS.
“Hari ini kita melihat tanda-tanda revolusi ‘Islam’ yang diekspor di seluruh wilayah, dari Bahrain sampai Irak dan dari Suriah hingga Yaman dan Afrika Utara,” imbuhnya.
Revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini terjadi pada tahun 1979. Dengan mengatasnamakan ‘revolusi Islam’, revolusi yang pada hakikatnya revolusi Syiah Imamiyah itu telah mengecoh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Revolusi yang bermuara pada upaya merebut kekuasaan tersebut terus dikampanyekan oleh Iran ke berbagai wilayah, salah satu yang telah terbukti adalah kudeta pemberontak Syiah Hautsi di Yaman.

كُنْتُ عندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعندَه عليٌّ فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يا عليُّ سيكونُ في أمَّتي قومٌ ينتَحِلونَ حبَّ أهلِ البيتِ لهم نَبْزٌ يُسمَّونَ الرَّافضةَ قاتِلُوهم فإنَّهم مشرِكونَ

.
Aku (Abdullah bin Abbas) dulu di sisi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dan di sisinya ada Ali, maka beliau berkata: “Wahai Ali akan ada dalam umatku kaum yang madzhabnya adalah “cinta ahlul bait” mereka memiliki tanda (gelar) mereka disebut Rafidhah, perangilah mereka karena mereka musyrik.” (HR. At Tabrani).

Dari Ibnu Abbas ujarnya, saya pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersamaan dengan Ali. Saat itu Nabi bersabda kepada Ali:
Wahai Ali, nanti akan muncul di tengah umatku suatu kaum yang berlebihan dalam mencintai kita ahlul bait, mereka dikenal dengan nama Rafidhoh. Karena itu bunuhlah mereka sebab mereka adalah kaum musyrikin.
Selain dari nubuwat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, khalifah Ali bin Abi Thalib sendiri berkata: di belakang kami kelak akan muncul suatu kaum yang mengaku cinta kepada kamu. Mereka suka berdusta dengan nama kamu, mereka sebenanya keluar dari Islam. Ciri mereka yaitu gemar memaki Abu Bakar dan Umar.
Ammar bin Yasir berkata kepada seorang laki-laki yang mencerca Aisyah ketika berada di sisi Ammar bin Yasir: “Pergilah kamu wahai orang yang celaka, apakah engkau senang menyakiti kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR At-Tirmidzi, hadits hasan]
Golongan Syi’ah senang sekali mencera ummul Mukminin Sayyidatuna Aisyah radhiyallahu ‘anha…
Dikutip sebagian dari :
http://www.nugarislurus.com/2015/04/rosulullah-memerintahkan-memerangi-syiah-rofidhoh.html#axzz3WyLHjZOX

Kenapa Jendral Iran Jadi Bengis , baca dibawah ini :

Pemimpin Iran Akui Syiah Senang dengan Terbunuhnya Umar bin Khattab, dan Memperingatinya Adalah Ibadah


Mantan presiden Iran, Hashemi Rafsanjani, mengakui bahwa orang Syiah biasa mencela para sahabat Nabi. Hal itulah yang akhirnya menimbulkan permusuhan antara Syiah dan Sunni, hingga akhirnya lahirlah kelompok-kelompok seperti ISIS.
Lebih lanjut, Rafsanjani, mengatakan, “Al-Quran telah memperingatkan kita agar tidak berselisih dan terpecah-belah. Tapi kita sama sekali tidak memperhatikannya. Perselisihan Syiah-Sunni tetap saja terjadi dengan mencela sahabat, memperingati peristiwa terbunuhnya Umar bin Khattab, dan sebagainya,” seperti dilansir Memo Islam, Kamis (14/11/2014) kemarin.
Aktivitas-aktivitas itu, Rafsanjani menerangkan, sudah menjadi hal biasa bagi banyak orang, bahkan menganggapnya sebagai sebuah ibadah. Karena itulah, terjadi perpecahan antara Sunni dan Syiah, hingga akhirnya muncul kelompok-kelompok seperti Al-Qaidah, ISIS, Taliban, dan lainnya.
Dr. Muhammad As-Saidi, guru besar Ushul Fiqh Universitas Ummul Qura, berkomentar tentang pengakuan mantan presiden yang masih sangat berpengaruh dalam politik Iran itu. Menurut As-Saidi, pengakuan itu tidak berarti membersihkan reputasi Rafsanjani, melainkan hanya membuka kedok kebusukan Syiah.
Hal itu karena Rafsanjani mengeluarkan pernyataan itu bukan sebagai sebuah penyesalan taubat, melainkan hanya merupakan hasil pertimbangan politik. Pernyataan ini seharusnya menjadi pegangan umat Islam yang selalu dituduh sebagai biang keladi muncul terorisme. Ternyata biang keladinya adalah Syiah.



Kejadian-Kejadian Penting yang Diberitahukan Sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bag. 3)

Oleh: Anshari Umar Sitanggal / Publikasi: Sabtu, 28 Maret 2015 10:51
 11. Kaum muslimin akan berperang melawan Turki
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu sabda dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kiamat takkan terjadi sebelum kamu sekalian memerangi suatu bangsa, yang sandal mereka (terbuat dari) rambut, dan sebelum kamu memerangi bangsa Turki, yang bermata kecil, bermuka merah, berhidung pesek, wajah mereka bagaikan perisai yang ditempa. Dan kamu dapati sebaik-baik manusia ialah orang yang (asalnya) paling membenci perkara (agama) ini, namun akhirnya dia memasukinya. Dan manusia itu serupa barang tambang. Orang yang terbaik di masa Jahiliyyah adalah yang terbaik di masa Islam. Dan pasti datang kepada seorang dari kamu sekalian suatu zaman, di mana andaikan dia bisa melihat aku, tentu itu lebih dia sukai daripada memiliki (keluarga dan harta) seperti keluarga dan harta yang telah dimilikinya.” (Riwayat al-Bukhari, 56, Kitabul-Jihad, 95, Bab Qitaal At-Turk. Hadits no. 2927-2928).
Kemudian diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kiamat takkan terjadi sebelum kamu sekalian memerangi kaum Hur dan Karman dari bangsa Ajam, yang bermuka merah dan berhidung pesek. Wajah mereka bagaikan perisai yang ditempa, sanda mereka (terbuat dari) rambut.”
Maksudnya, bangsa Turki itu akan diperangi para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kalah dan tertangkap, sedang istri-istri dan anak-anak mereka menjadi tawanan.
Zhahir hadits ini menunjukkan, bahwa serangan terhadap bangsa Turki ini termasuk tanda-tanda Kiamat. Jika dikatakan bahwa tanda-tanda itu terjadi tidak lama menjelang Kiamat, maka boleh jadi peperangan besar akan terjadi sekali lagi antara kaum Muslimin dan bangsa Turki, sehingga berakhir dengan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.
Tapi jika yang dimaksud bahwa tanda-tanda tersebut lebih luas lagi pengertiannya, dalam arti tidak harus dekat sekali dengan Hari Kiamat, maka serangan terhadap bangsa Turki itu termasuk tanda-tanda keseluruhan yang kapan saja bisa terjadi, meskipun jaraknya masih lama dari Kiamat, hanya saja tentu harus yang terjadi setelah masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan agaknya pengertian yang kedua inilah yang tampak lebih jelas, setelah memperhatikan berbagai hadits tentang bab ini.
12. Akan ada beberapa bocah yang memerintah kaum muslimin, dimana terjadi kerusakan dan perusakan
Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kehancuran umatku terletak di tangan anak-anak kecil.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Bukhari, 92. Kitab al-Fitan, 3 – Bab Qaulun-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Halaku Ummati ‘Ala Yadai Ughailamah, hadits no. 7058).
Mendengar sabda Nabi seperti itu, Marwan berkata, “Laknat Allah atas mereka, anak-anak kecil itu!” Di waktu itu dia sama sekali belum berkuasa, sehingga tidak ada seorang pun yang menyertai kami dalam majlis.
Lanjut Abu Hurairah, “Demi Allah, andaikan aku mau menceritakan Bani Fulan, dan Bani Fulan, tentu aku lakukan.”
Kata perawi hadits ini (Amrn bin Yahya bin Sa’id), “Pernah saya keluar bersama ayahku, pergi menemui Bani Marwan setelah mereka berkuasa. Ternyata merekalah yang membai’at anak-anak kecil mereka. di antara anak-anak yang dibai’at itu, ada yang masih dalam gendongan. Maka aku berkata, ‘Boleh jadi orang-orang kalian inilah yang pernah saya dengar dari Abu Hurairah menceritakannya kepada kami, bahwa raja-raja itu yang satu mirip dengan yang lain?’”
Hadits-hadits mengenai ini banyak sekali jumlahnya, dan semuanya sudah kami tulis dalam Kitab Dalaail an-Nubuwwah. Dan hadits ini pun ada dalam cerita tentang si pendusta dan si perusak (Al-Kadzdzab wa al Al-Mubiir) dari Tsaqif. Si pendusta yang dimaksud ialah al-Mukhtar bin Abi Ubaid, yang muncul di Kufah pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair. Sedangkan si perusak ialah al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, pembunuh Abdullah bin Zubair, seperti yang pernah diceritakan dalam kitab terdahulu.
Selain itu, sudah diuraikan pula hadits tentang bendera-bendera hitam yang dibawa oleh Bani Abbas saat mengambil alih kekuasaan dari tangan Bani Umayyah pada tahun 302 H, tepatnya ketika kekuasaan beralih dari Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam bin Abil Ash, yang dikenal dengan Marwan al-Himar atau Marwan al-Ja’di, karena berguru kepada al-Ja’di bin Dirham al-Mu’tazili. Dialah khalifah terakhir Bani Umayyah. Kemudian beralihkah kekuasaan kepada as-Saffah, yang ceritanya dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya. Dialah Abul Abbas Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas bin Abdul Muthallib, khalifah pertama bani Abbas, sebagaimana diterangkan dalam kitab terdahulu.
Dalam kitab Shahih al-Bukhari, Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Bani Israil dulu selalu dipimpin oleh para Nabi. Setiap kali wafat seorang nabi, maka diganti oleh nabi berikutnya. Dan sesungguhnya sepeninggalku takkan ada nabi lagi. Yang ada hanyalah khalifah-khalifah yang banyak.” Para shahabat bertanya, “Kalau begitu, apa yang engkau perintahkan kepada kamu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Berbai’atlah kepada khalifah yang pertama, lalu kepada yang pertama berikutnya. Berikan mereka haknya. Karena sesunggunya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka tentang apa yang mereka pimpin.” (Hadits Syu’bah dari Furat al-Qazaz, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu).
Dalam Shahih Muslim, Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tidak seorang nabi pun kecuali mempunyai hawari (para pembela). Mereka memberi petunjuk (kepada manusia) sesuai petunjuk nabinya dan melakukan tradisi-tradisi sesuai sunnahnya. Kemudian datanglah sepeninggal mereka para pengganti yang mengucapkan kata-kata yang tidak mereka lakukan. Dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diperintahkan.” (Riwayat Abi Rafi’ dari Abdullah bin Mas’ud).
13. Ada 12 khalifah dari Quraisy yang akan memerintah kaum muslimin
Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Jabir bin Samurah, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Akan ada dua belas khalifah, semuanya dari Quraisy.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, 93, Kitab al-Ahkam, hadits no. 7222-7223, dan oleh Muslim dalam Shahihnya, 23, Kitab al-Imarah, 1 – Bab an-Naas Tabii’un Quraisy wa al-Khilafah fi Quraisy, hadits no. 1821).
Para khilafah yang diberitakan dalam kedua hadits di atas, bukanlah 12 khalifah yang diklaim sedemikian gigihnya oleh kaum Syiah Imamiah secara dusta dan mengada-ada, sebagai manusia-manusia yang makshum(terpelihara dari dosa). Karena kebanyakan mereka ternyata tidak ada yang pernah memerintah umat ini sama sekali, baik sebagai khalifah, atau bahkan menjadi penguasa di suatu Negara atau suatu wilayah sekalipun. Di antara mereka hanya Ali radliyallahu ‘anhu dan anaknya, Hasan bin Ali saja yang menjadi khalifah. Semoga Allah senantiasa meridhai keduanya.
14. Yang dimaksud 12 khalifah Quraisy bukanlah khalifah-khalifah yang berturut-turut memerintah langsung sepeninggal Rasulullah
Dan yang dimaksud 12 khalifah Quraisy, bukanlah pula para khalifah yang memerintah secara berturut-turut sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai pertengahan Daulah Bani Umayyah. Karena hadits riwayat Safinah berbunyi, “Khilafah sepeninggalku adalah selama tiga puluh tahun.” Tidak sesuai dengan panjangnya masa kekuasaan mereka, meskipun al-Baihaqi memilih tafsiran seperti itu.
Masalah ini terdapat dalam kitab Dalaail an-Nubuwwah. Namun demikian di antara para pemimpin yang 12 orang itu, kita dapatkan Abu Bakar, kemudian Umar, Utsman, Ali serta puteranya, Hasan bin Ali, termasuk juga Umar bin Abdul Aziz, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian besar ulama terkemuka dan kebanyakan umat ini, Alhamdulillah. Dan ada pula di antaranya dari kalangan Bani Abbas. Sedang sisanya akan bermunculan di masa mendatang, sampai munculnya seoarng di antara mereka yang dikenal sebagai al-Mahdi, yaitu tokoh yang diberitakan dalam berbagai hadits. Dan kepada Allah kita senantiasa memohon pertolongan-Nya, dan kepada-Nya pula kita berserah diri.
Adapun penjelasan di atas, memang sudah sering dinyatakan bukan hanya dari seorang saja, sebagaiman telah kami katakana tadi.
15. Benarkah berita yang menyatakan bahwa tanda-tanda Kiamat mulai muncul pada tahun 200 H, dan sebaik-baik orang Islam sesudah tahun itu adalah yang tidak berkeluarga ataupun punya anak?
Ternyata berita seperti itu tidak benar, meskipun Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Abu Qatadah, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tanda-tanda (Kiamat) adalah setelah tahun dua ratus.” (Ibnu Majah dalamSunannya, 2 – 1348, hadits no. 4057).
Bahkan kemudian Ibnu Majah meriwayatkan pula hadits yang serupa dari dua jalur lainnya dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi semua itu tidak ada yang shahih. Dan kalaupun shahih, maka yang dimaksud tentu adalah fitnah yang terjadi gara-gara munculnya pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk, yakni fitnah yang mengakibatkan bencana yang menimpa Imam Ahmad bin Hanbal dan teman-teman beliau dari para ulama ahli hadits terkemuka.
Sumber: Ibnu Katsir, an-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zaman atau Huru-Hara Hari Kiamat, (Pent. Anshori Umar Sitanggal, Imran Hasan, S.Ag), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Kedua, Desember, 2002, hlm. 12-18.


Kejadian-Kejadian Penting yang Diberitahukan Sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bag. 2)

Oleh: Anshori Umar Sitanggal / Publikasi: Jum'at, 6 Maret 2015 16:06
6. Ammar bin Yasir akan Terbunuh
Begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang bakal terbunuhnya Ammar bin Yasir.
Adapun mengenai kaum Khawarij yang diperangi oleh Ali bin Abi Thalibradliyallahu ‘anhu, dan bahwa mereka merupakan kelompok terkutuk, serta tentang bakal munculnya seseorang bernama Dzur-Rummah dari kalangan mereka, maka hadits-hadits yang diriwayatkan orang mengenai itu banyak sekali, yang semua itu telah tercatat dalam kitab Walillah al-Hamdu wa al-Minnah. Dan khusus mengenai terbununya Ali, juga telah kami sebutkan haditsnya, lengkap dengan sanad-sanad dan lafafh-lafazhnya.
7. Batas kekhalifahan sepeninggal Rasulullah hanya sampai 30 tahun, sesudah itu berubah menjadi sistem kerajaan absolut.
Dalam kitab al-Bidayah telah disebutkan sebuah hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’I, dan at-Tirmidzi, yang menurut beliau hadits ini adalah hadits hasan, dari Safinah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Kekhalifahan sepeninggalku hanya sampai 30 tahun, sesudah itu berubah menjadi kerajaan.” (Riwayat Ahmad dalam musnadnya (5/220-221),  Abu Dawud (4646-4647)).
Masa tiga puluh tahun ini mencakup masa khilafah Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar al-Faruq, Utsman asy-Syahid, dan Ali yang juga meninggal secara syahid. Setelah meninggalnya Ali, masih ada sisa waktu enam bulan untuk genapnya sampai tiga puluh tahun, dimana khilafah dipegang oleh Hasan bin Ali sepeninggal ayahnya. Dan setelah henap tiga puluh tahun umur khilafah, maka Hasan pun menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyyah bin Abi Sufyan pada tahun 40 H, dimana kemudian umat sepakat sepenuhnya berbai’at kepada Muawiyyah bin Abi Sufyan. Dan disebutlah tahun ini sebagai‘Amul-Jama’ah (tahun persatuan).
8. Allah subhanahu wa ta’alaa akan mendamaikan antara dua kelompok besar kaum muslimin yang bertikai, lewat al-Hasan.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakrah radliyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, waktu itu Hasan bin Ali ada di sebelah beliau di atas mimbar,
“Cucuku ini adalah pemimpin. Dengan Perantaraan dia, Allah akan mendamaikan antara dua kelompok besar kaum muslimin.”
Dan ternyata sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pun benar-benar terjadi.
9. Ummu Haram binti Malhan akan gugur dalam suatu pertempuran
Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ummu Haram binti Malhan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan, bahwa peperangan yang akan dilakukan oleh kaum muslimin di laut, di antaranya akan terjadi dua kali, dan Ummu Haram akan ikut bersama rombongan yang pertama. Dan ternyata itu benar-benar terjadi pada tahun 27 H, di bawah pimpinan Muawiyyah.
Waktu itu Muawiyyah meminta izin kepada Utsman radliyallahu ‘anhu untuk menyerbu Cyprus. Utsman mengizinkan. Maka berangkatlah Muawiyyah membawa balatentara kaum muslimin dalam suatu armada sehingga berhasil memasuki pulau itu dan menaklukkannya secara paksa. Ummu Haram gugur dalam pertempuran ini di laut. Waktu itu dia ada bersama istri Muawiyyah, Fakhitah binti Qarzhah.
Adapun peperangan yang kedua terjadi pada tahun 52 H. Pada masa pemerintahan Muawiyyah. Waktu itu dia menyuruh anaknya, Yazid untuk memimpin angkatan perang kaum muslimin menyerbu Konstantinopel. Turut dalam angkatan perang itu beberapa pembesar shahabat Nabi, seperti Abu Ayyub al-Anshari, dan Khalid bin Yazid radliyallahu ‘anhumaa. Dalam pertempuran ini Abu Ayyub gugur, dan sempat berwasiat kepada Yazid bin Muawiyyah agar jasadnya dikubur di bawah telapak-telapak kaki pasukan berkuda, dan dibenamkan sedalam mungkin ke arah sungai yang mengalir ke pihak musuh. Dan wasiat ini dilaksanakan oleh Yazid.
Sementara itu ada pula riwayat yang hanya disampaikan oleh al-Bukhari dari Ummu Haram, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Balatentara dari umatku yang pertama-tama menyerbu ke laut pasti (masuk surga).”
Ummu Haram bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk di antara mereka?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya kamu akan ada di antara mereka.”
Ummu Haram berkata kepada Nabi, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, “Balatentara dari umatku yang pertama-tama menyerbu kota Kaisar, diampuni dosanya.”
Ummu Haram bertanya, “Apakah aku ada di antara mereka, ya Rasulullah?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak.” (Riwayat al-Bukhari dalam kitab al-Jihad was-Sair 4/42, Bab Ma Qila fi Qitaalir-Ruum).
10. Balatentara kaum muslimin akan sampai ke India dan Sungai Sindus
Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, dan kekasihku yang benar perkataannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah bercerita kepadaku seraya bersabda, “Akan ada dari umatku ini suatu pasukan yang sampai ke sungai Sindus dan Negeri India. Andaikan aku mengalami peristiwa itu dan mati syahid, itulah (yang aku harapkan). Dan kalau aku –lalu dia menyebutkan kata-kata- pulang, maka akulah Abu Hurairah, orang yang dibebaskan itu. Semoga Allah benar-benar membebaskan aku dari neraka.”
Masih riwayat Imam Ahmad, Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjanjikan kepada kami untuk menyerbu India. Maka kalau aku mati syahid, maka aku termasuk para syuhada yang terbaik. Dan kalau aku pulang, maka akulah Abu Hurairah, orang yang dibebaskan itu.”
Sumber: Ibnu Katsir, an-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zaman atau Huru-Hara Hari Kiamat, (Pent. Anshori Umar Sitanggal, Imran Hasan, S.Ag), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Kedua, Desember, 2002, hlm. 8-11.


Kejadian-Kejadian Penting yang Diberitahukan Sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bag. 1)

Oleh: Anshori Umar Sitanggal / Publikasi: Sabtu, 28 Februari 2015 14:08
1. Abu Bakar ash-Shiddiq radliyallahu ‘anhu akan memerintah kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Antara lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada seorang perempuan, “Pulanglah kamu!”
Perempuan itu berkata, “Katakanlah, bagaimana kalau tuan tidak aku temukan lagi?”
Seolah-olah ia dapat merasakan bahwa ajal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir dekat. “Kalau kamu tidak menemui aku lagi, maka datanglah kepada Abu Bakar.” (Riwayat al-Bukhari dalam shahihnya, hlm 93, kitab al-Ahkam 51, bab al-Istikhlaf, no. 7220).
Dan ternyata bernar, bahwa yang memerintah kaum muslimin sepeninggal beliau adalah Abu Bakar.
Begitu pula, sabda beliau ketika hendak menulis surat wasiat bahwa Abu Bakar yang akan menggantikan kedudukan beliau sebagai Khalifah, tetapi tidak jadi, karena beliau tahu para shahabatnya takkan berpaling dari Abu Bakar. Dan hal itu karena mereka mengakui keunggulan dan keutamaan Abu Bakar sebagai orang yang pertama-tama masuk Islam.
Sabda beliau, “Allah dan orang-orang mukmin menolak selain Abu Bakar.” (Riwayat Muslim dalam Shahihnya, hadits no. 2387, 44, Kitab Fadhaailus-Shahabah, 1, Bab Min Fadhaail Abi Bakar ash-Shiddiq).
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…(Patuhlah kamu sekalian) kepada dua orang sepeninggalku, Abu Bakar dan Umar.”
Hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi, yang menurutnya hadits ini hasan. Sedangkan menurut Ibnul-Yaman, hadits ini shahih. Dan hadits ini telah diriwayatkan pula dari sanad Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Abu Darda’.
Masalah ini telah kami bicarakan panjang-lebar dalam Kitab Fadhaailus-Shahihain, yang intinya, bahwa apa yang diisyaratkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian disusul Umar, persis seperti yang diberitahukan sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Riwayat at-Tirmdizi dalam Sunannya 2/290 dari Hudzaifah bin Yaman. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, 1/27).
2. Kaum muslimin akan menaklukkan Mesir
Mesir ditaklukkan pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anhu oleh Amr bin Ash pada tahun 20 H.
Dalam kitab Shahih Muslim riwayat Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya kamu akan menaklukkan suatu negeri yang ada disebutkan di sana istilah Qirath (satuan berat emas di Mesir. 1 Qirath = 4/6 dinar). Maka perlakukanlah penduduknya dengan baik. Karena mereka berhak mendapat perlindungan dan ada hubungan kekeluargaan dengan kita.” (Riwayat Muslim dalam Shahihnya 44, Kitab Fadhaailus-Shahabah 56, BabWashiyyatun-Nabi bi Ahli Mishr, hadits no. 2543).
3. Persia dan Romawi akan musah dan takkan muncul kembali
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan secara otentik dari beliau dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim,
“Apabila Kaisar ini telah mati, maka takkan ada kaisar lagi sesudahnya. Dan apabila Kisra ini telah mati, juga takkan ada kisra lagi sesudahnya. Demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan membelanjakan gudang-gudang kekayaan mereka berdua di jalan Allah.” (Riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, 83, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, 3, Bab Kaifa Kanat-Yaminun-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, no. hadits 6229).
Apa yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi, persis seperti yang beliau kabarkan. Pada masa Abu Bakar, Umar, Utsman radliyallahu ‘anhum kekuasaan Kaisar Hiraklius tersingkir dari Syam dan seluruh jazirah. Kekuasannya kemudian terbatas di Romawi saja. Orang Arab memang biasa menyebut kaisar kepada siapa saja yang menjadi penguasa Romawi berikut Syam dan Jazirah.
Hadits ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi penduduk Syam, bahwa kekuasaan Romawi tidak akan kembali ke negeri itu buat selama-lamanya sampai Hari Kiamat.
Dan hadits ini sebentar lagi akan kami sebutkan lagi, In Syaa Allah, dengan sanad dan matan selengkapnya.
Adapun Kisra, sebagian besar kekuasaannya lepas pada masa Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anhu, dan habis sama sekali pada masa Ustmanradliyallahu ‘anhu. Ada pula pendapat yang mengatakan pada tahun 32 H. Segala puji dan karunia Allah jua kiranya.
Hal ini telah dibahas secara rinci dalam Kitab al-Bidayah, termasuk kisah kutukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Kisra ketika mendengar bahwa raja itu merobek-robek surat yang beliau kirim kepadanya. Waktu itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa agar kerajaanya terobek-robek dan hancur lebur. Ternyata doa beliau menjadi kenyataan.
4. Umar bin Khatthab akan terbunuh
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Hudzaifah mengisahkan, “Kami sedang duduk di dekat Umar radliyallahu ‘anhu, tiba-tiba dia berkata, ‘Siapakah di antara kamu sekalian yang hafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fitnah?’
Saya jawab, ‘Aku.’
Umar bekata, ‘Ucapkan, sungguh, berani juga kamu ini.’
Maka saya katakana, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut fitnah yang dialami seorang lelaki dalam keluarganya, hartanya, dirinya, anaknya, dan tetangganya, itu semua bisa terhapus dengan shalat, sedekah, amar makruf dan nahi munkar.’
Umar berkata, ‘Bukan ini yang aku maksudkan, tetapi yang aku maksud fitnah yang bergejolak laksana gelombang laut.’
Maka saya berkata, ‘Yaa Amirul Mukminin, sesungguhnya antara anda dan fitnah itu ada pintu tertutup.’
Umar berkata, ‘Celaka, pintu itu akan dibuka dan didobrak?”
‘Bahkan Didobrak.’ Jawabku. Maka umar pun berkata, ‘Kalau begitu, pintu itu takkan bisa ditutup lagi buat selama-lamanya?’
‘Benar.’ Kataku.
(Mendengar periwayatan Hudzaifah itu), maka kami bertanya kepadanya, ‘Sepertinya Umar tahu siapa yang dimaksud pintu itu?’
‘Ya.’ Jawab Hudzaifah, ‘Sesungguhnya aku telah menceritakan kepadanya bukan hadits yang keliru.’”
Perawi hadits ini (Syaqiq) berkata, “Namun kami takut menanyakan kepada Hudzaifah siapa yang dimaksud pintu itu. Oleh karena itu, kami ketakan hal itu kepada Masruq, supaya dia menanyakannya kepada Hudzaifah, dan ternyata jawabnya, ‘(Pintu itu adalah) Umar.’”
Demikianlah, ternyata apa yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar-benar terjadi. Persis setelah terbunuhnya Umar pada tahun 23 H, terjadilah berbagai macam fitnah di tengah masyarakat, dimana penyebab tersebarnya fitnah-fitnah itu adalah terbunuhnya Umar. (Riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, 92, Kitabul-Fitan, 17, Bab al-Fitnatil-lati Tamuju Kamaujul-Bahr, hadits no. 7096).
5. Ustman bin Affan akan mengalami cobaan berat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan bahwa Utsman bin Affan shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk penghuni surga, dikarenakan bencana yang menimpanya. Ternyata berita tersebut benar-benar terjadi. Utsman dikepung di rumahnya lalu dibunuh sebagai syahid yang sabar dan ikhlas. Semoga Allah subhanahu wa ta’alaa senantiasa meridhainya.
Berkenaan dengan kisah pembunuhan Utsman ini, kami telah menyebutkan hadits-hadits yang berisi peringatan dan pemberitahuan sebelumnya tentang bakal terjadinya peristiwa ini. Dan semuanya ternyata benar-benar terjadi persis seperti yang diisyaratkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Begitu pula telah kami sebutkan hadits-hadits tentang akan terjadinya Perang Jamal dan Shiffin. Baik yang berkenaan dengan jalannya kedua insiden tersebut maupun huru-hara dan berbagai macam peristiwa yang terjadi waktu itu. Dan kepada Allah kita memohon segala pertolongan-Nya.
Sumber: Ibnu Katsir, an-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zaman atauHuru-Hara Hari Kiamat, (Pent. Anshori Umar Sitanggal, Imran Hasan, S.Ag), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Kedua, Desember, 2002, hlm. 3-8.