Tuesday, April 28, 2015

Penjelasan Hadits Al Kisa’, Bantahan Ayat Tathir Syiah (Bag. 2)

                             
                                                                                                                    
                                       
2.      Hadits Al Kisa’

Diriwayatkan dari Muslim dalam shahihnya, dari Aisyah –radhiallahu ‘anha- ia berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ فَأَدْخَلَهُ مَعَهُ ثُمَّ جَاءَ حُسَيْنٌ فَأَدْخَلَهُ مَعَهُ ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ "إنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمَ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا"

"Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari rumahnya dengan membawa kain bulu hitam yang berhias. Tak lama datanglah Hasan bin Ali, lalu beliau menyuruhnya masuk ke dalam. Kemudian datanglah Husain dan beliau pun masuk bersamanya ke dalam. Setelah itu datanglah Fatimah dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam. Terakhir datanglah Ali dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam. Kemudian beliau membaca ayat: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya."[1] (Al Ah zaab: 33).

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam isterinya Ummu Salamah bersama mereka, bahkan beliau bersabda kepadanya; “Kamu termasuk Ahlulbaitku, kamu berada diatas kebaikan.”

Akan tetapi Rasulullah mengatakan: kamu bagian dari Ahlu Baitku dan kamu terus berada dalam kebaikan.

Apa Kaitannya?

Kita tidak tahu apa kaitannya hadits ini dengan mengeluarkan ummahatul mukminin dari ketentuan hadits diatas?

Tujuan hadits ini adalah memasukkan kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak tinggal bersama beliau dalam ketentuan ayat diatas, dan bukanlah tujuan hadits ini membatasi hanya untuk mereka atau mengeluarkan selain dari mereka. Jadi bukan berarti dengan masuknya mereka. mengeluarkan yang lain. Rahmat Allah sangat luas bagi siapa saja, tidak sempit untuk seseorang dikarenakan orang lain.

Seperti orang yang menunjuk empat temannya; “Mereka adalah teman-temanku” bukan berarti sebatas mereka saja yang menjadi temannya. Sekiranya seseorang memiliki sepuluh saudara, kemudian ia menunjuk tiga orang yang sedang bersamanya; “Mereka bertiga adalah saudaraku.” Tidak disebutkan saudaranya yang lain bukan berarti menunjukkan ia tidak memiliki saudara yang lain, kecuali kalau memang dia benar-benar tidak memiliki saudara selain mereka. Qarinah (hubungan) yang membatasi makna lafazh secara luas maupun sempit merupakan hakekat suatu perkara, adapun lafazh secara bahasa tidak dapat menafikan atau menetapkan sesuatu, sementara Ahlulbait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hakekatnya adalah banyak, lalu atas dasar apa dengan lafazh tersebut kita membatasi sebagian tanpa sebagian yang lain?

Masalah ini banyak berulang dalam Al Qur’an, diantaranya;

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus…”[2] artinya (ketetapan) agama yang lurus bukan sebatas bilangan bulan yang diantaranya empat bulan yang haram saja.

Begitu halnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Mereka adalah Ahlulbaitku” maksudnya dari keluagaku.

Jika lafadz ini mencegah seseorang menjadi Ahlulbait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama dengan keempat orang tadi, bagaimana mungkin mereka (Syiah) memasukkan sembilan orang lainnya[3] bersama mereka, sementara kesembilan orang tersebut sama sekali belum ada ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan berdoa dengan do’a tersebut.

Jika mereka (Syiah) menjawab; Karena adanya dalil mengenai hal itu. Kami katakan: “Semua dalil diatas menunjukkan bahwa semua isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ahlulbait beliau, sementara dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh Syiah untuk memasukkan kesembilan (imam), tidak ada dalil satu pun dari ayat Al Qur’an, dan itu tidak lain hanya riwayat-riwayat yang mereka palsukan.

Justru hujjah itu untuk kami bukan membantah kami

Saya menambahkan: jika kita perhatikan sedikit saja, niscaya kita akan menemukan bahwa hadits tersebut merupakan hujjah bagi kita bukan untuk membantah kita, sebab terdapat qarinah (hubungan) yang sangat jelas, bahwa yang dimaksud dalam ayat diatas adalah para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sekiranya ayat diatas turun khusus untuk Ashabulkisa’, maka do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mereka tidak ada artinya. Apa faidahnya seseorang berdoa untuk sesuatu yang sudah (ma’shum) sejak awal? Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a, memohon kepada Allah agar dengan kemurahannya memasukkan orang-orang yang dido’akan (Ashabulkisa’), sebagai wujud kasihsayang beliau, supaya mereka juga masuk dalam kategori Ahlulbait, karena memang ayat diatas sejak awal berbicara tentang isteri-isteri Nabi. Sekiranya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memastikan bahwa Ashabulkisa’ masuk dalam maksud ayat, atau beliau sudah nyaman dengan hal itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak perlu berdoa untuk mereka.

 Lafadz Dengan Bentuk Umum, Namun Maksudnya Khusus:

Adanya lafadz dengan bentuk umum, namun makna yang dimaksud adalah khusus cukup dikenal dalam tatanan bahasa Arab. Jika terdapat qarinah (hubungan) dalam satu kalimat, maka harus mengembalikan kepada makna yang dimaksud, baik qarinah (hubungan) tersebut bersifat haliyah maupun lafzhiyah, adapaun yang bersifat haliyah seperti firman Allah;

“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah…”[4]

Lafazh “Ardhu” dan “Ahluha” sifatnya masih umum, sedangkan maksudnya adalah Mesir dan penduduknya, ini adalah makna khusus. Qarinah (hubungan ayat) tidak menetapkan dalam sejarah, bahwa Fir’aun sama sekali tidak pernah menjadi penguasa di seluruh dunia.

Allah berfirman sehubungan dengan angin yang dikirim kepada kaum Add;

“Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya…”[5]

Lafazh “Kulla syai’in” (segala sesuatu) adalah umum, akan tetapi qarinah lafzhiyah yang terletak setelahnya menyebutkan;

“Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.”[6] Maka maknanya menjadi khusus, tidak tempat tinggal secara umum.

Begitu halnya dengan lafadz “Ahlubait” dalam ayat diatas, meskipun bentuknya umum, akan tetapi karena adanya qarinah (hubungan), maka maksud sebenarnya “Ahlubait” adalah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan bentuk dan sebab turunnya ayat diatas. Saya pastikan kepada para pembaca, bahwa ayat tersebut khusus kepada isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sama sekali qarinah diatas tidak menyebutkan bahwa beliau menetapkan maksud ayat diatas secara umum, karena itulah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a kepada para ashhabul kisa’. Demikian do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut merupakan penjelasan bagi kita dengan dua perkara:

Pertama, para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang pertama di maksud dalam ayat tersebut.

Kedua, cakupan lafadznya untuk Ahlulbait beliau yang lain, sekiranya bukan karena do’a Nabi sh’allallahu ‘alaihi wasallam, maka kita tidak akan menentukan perkara yang kedua, karena itu perhatikanlah.

Adapun membatasi makna ayat hanya untuk Ahlikisa’ tanpa menyertakan isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah batil, karena beberapa hal;

1.      Secara bahasa, Ahlulbait seorang laki-laki adalah isterinya dan yang tinggal serumah dengannya, ketika ayat diatas turun, tidak ada yang berada di rumah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam selain isteri-isteri beliau


2.      Makna yang benar untuk kata “Al Ahlu” adalah isteri, adapun penyandaran kepada kerabat itu hanya sebagai gaya bahasa saja. Sebelumnya sudah dijelaskan berkenaan dengan perkataan Al Ashfahani; “Pada dasarnya “Ahlur Rajuli” (keluarga seseorang) berarti orang yang berkumpul bersama dalam satu tempat tinggal, dikatakan; Ahlulbait seseorang adalah yang berkumpul bersamanya dari garis keturunan.” Membawa lafazh kepada makna majazi (kiasan) tanpa makna hakiki (sebenarnya) tidak dapat diterima kecuali terkumpul dua hal, yaitu:

1)      Adanya Maani’ (penghalang)

2)      Adanya Qarinah (kata yang menyertainya)

“Maani’” (penghalang) dapat mencegah lafazh dimaknai dengan makna sebenarnya, sedangkan Qarinah dapat menyebabkan lafazh dimaknai dengan makna majaz (kiasan), namun (pada ayat diatas) tidak ada halangan memaknai ayat tersebut dengan makna sebenarnya yaitu “Zaujah” (isteri), bahkan tidak ada qarinah pada saat turunnya ayat, yang menjadikan maknanya cenderung dimaknai dengan makna umum, lebih-lebih membatasinya dengan dalih majaz (kiasan).

3.      Sebab turunnya ayat

Bahwa isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi sebab turunnya ayat ini, dan menjadi sebab utama masuknya mereka ke dalam ketentuan ayat diatas, yaitu ketika Ummu Salamah –sebagaimana dinyatakan di sebagian riwayat- hendak masuk bersama dengan Ahlikisa’, dia berkata; “Bukankah aku termasuk dari keluargamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab: “Engkau termasuk Ahlulbaitku.” Dan sabda beliau: “Engkau berada diatas kebaikan.” Artinya bahwa engkau telah diliputi kebaikan, maka engkau tidak perlu masuk bersama mereka, karena engkau menjadi sebab turunnya ayat, ini seperti makna dalam riwayat yang lain; “Engkau berada diatas kebaikan, karena engkau termasuk dari isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ini berarti, sekiranya Ashabulkisa’ telah tercakup dalam ketentuan ayat diatas, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mendo’akan mereka.

4.      Siyaqul Ayat (konteks ayat),

 Dari siyaqul ayat (konteks ayat) menolak untuk memasukkan kata-kata asing diantara dua perkataan untuk satu tujuan berdasarkan perkataan orang-orang bijak, jika tidak maka maknanya akan sangat rendah dan hina yang hal itu harus dijauhkan dari kalamullah. Lantas, apa kaitannya antara ishmahnya beberapa orang tertentu berdasarkan suatu perkataan untuk memasukkan yang lainnya ke dalam bagiannya?

5.      Rumah Nabi adalah yang dimaksud dalam ayat tersebut, bukan rumah orang lain.

 Sebab yang menempati Rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat turunnya ayat adalah isteri-isteri beliau, disamping itu terdapat rumah Ali radhiallahu ‘anhu yang berdiri sendiri. Sangat tidak mungkin terpikir dibenak Nabi atau yang lainnya bahwa yang dimaksud “Ahlulbait” dalam ayat diatas adalah rumah Ali radhiallahu ‘anhu, namun yang benar adalah rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa mengatakan bahwa makna “Ahlulbait” khusus untuk Ashabulkisa’, maka yang demikian mengharuskan ayat diatas turun khusus untuk Ahlulbait Ali, bukan Ahlulbait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seolah-olah dalam ayat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ali tanpa ada perbedaan, sekiranya kita mengangkat Nabi dan meletakkan pada posisi Ali, maknanya pun tidak berubah, begitu juga sekiranya kita mempersepsikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki rumah pribadi, mungkinkah ada tempat untuk turunnya rahmat dan keberkahan? Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim dan orang yang memiliki akal. 

Berdasarkan permasalahan-permasalahan diatas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kurang tenang karena ayat tersebut maknanya umum, yang mencakup semuanya, sehingga beliau berdo’a dengan do’a yang cukup dikenal untuk Ashahbulkisa’, karena itu kita menetapkan makna umum bagi ayat diatas, sebab kalau bukan adanya hadits kisa’, kita tidak dapat menetapkan hal itu.

Kesimpulan: Demikianlah, sanad lughawi yang digunakan untuk menafsirkan ayat diatas dengan “ishmah” menjadi gugur, lebih-lebih kema’shuman orang-orang yang mereka tentukan, jadi hujjah mereka dengan ayat diatas untuk hal itu telah gugur. (Team Syiahindonesia.com)

[1] QS Al Ahzab; 33

[2] QS At Taubah; 36

[3] Maksudnya Sembilan imam Syiah selain Ali, Hasan dan Husain -penj

[4] QS Al Qashash; 4

[5] QS Al Ahqaf; 25

[6] QS Al Ahqaf; 25

Sumber:  Ayatu at-tathir wa ‘alaqotuha bi ‘ishmatil aimmah karya Dr. ‘Abdul Hadi al-Husaini 




Bantahan Ayat Tathir Syiah (Bag. 1)

                                                                                                                           
                                              
Keluarga Nabi dan Rumahtangga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah berfirman;

“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang…”[1] Siapakah yang dimaksud dengan “Ahli” yang dari (rumah) mereka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat berperang pada pagi hari? Bukankah mereka adalah orang-orang yang tinggal bersama beliau dalam satu rumah? Tidak lain mereka adalah para istri beliau yang merupakan Ahlulbaitnya, sebagaimana difirmankan Allah;

“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.”[2]

 Rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada sendiri, disitu tempat beliau bernaung, tidur begitu juga makan dan minum serta beraktifitas seperti seorang laki-laki beraktifitas di dalam rumahnya. Dalam rumah tersebut terdapat para istri beliau, dan tidak lain mereka merupakan Ahlubaitnya, anak laki-laki beliau semuanya telah meninggal, sedangkan anak-anak perempuan beliau sebagian meninggal dan sebagian lainnya menikah kemudian keluar dari rumah beliau.

Rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak jumlah istri beliau, setiap istri memilki satu rumah, sebagaiana dinyatakan Allah dengan bentuk jamak (Buyuut jamak Bait). Kata buyut (rumah) yang berjumlah sebanyak jumlah istri beliau, terkadang disandarkan kepada beliau dan terkadang disandarkan kepada istri-istri beliau yang maknanya sama. Bagaimana mungkin seseorang memiliki rumah, tetapi disisi lain ia tidak termasuk Ahlulbait (keluarga) dari rumah tersebut? Rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam penghuninya adalah istri-istri beliau, secara otomatis mereka adalah keluarga beliau, sehingga jelas bahwa mereka adalah Ahlulbait beliau, sebagaimana firman Allah;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya)…”[3]

 Kemudian Allah menyebutkan dalam ayat yang sama, adab yang wajib atas orang-orang mukmin ketika bermuamalah dengan Ahlulbait (para istri beliau);

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir…”[4]

Allah juga berfirman yang khithabnya ditujukan kepada para isteri beliau menggunakan kata buyut yang disandarkan kepada mereka;

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui.”[5]

Perhatikanlah, bagaimana Allah menyebutkan; (Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu), kemudian mengatakan; “Ahlulbait” setelah itu mengatakan; “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu”, ini menunjukkan bahwa “Ahlulbait” yang disebutkan dalam ayat diatas, khithabnya sama dengan yang setelahnya di ayat yang sama, bahwa rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rumah isterinya juga, karena jumlah rumahnya tidak hanya satu, maka penyebutannya disandarkan kepada beliau dengan bentuk jamak, sehingga dikatakan; “buyuutun nabi (rumah-rumah nabi)” sama halnya dengan rumah isterinya, tanpa ada perbedaan.

Ahlulbait disini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para isteri beliau, maka dengan alasan apakah kita mengeluarkan para isteri beliau yang suci, sebagai ummahatul mukminin dari Ahlulbait (keluarga) beliau shallallahu ‘alaihi wasallam?...

Syubhat-syubhat Sehubungan Dengan Ayat Tathir

1.      Khithabnya menggunakan dhamir mudzakar[6]

Mereka (Syiah) mengatakan: Sekiranya yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah para isteri beliau, niscaya Allah akan mengatakan “ankunna” dan “wayuthahhirukunna” dengan bentuk mu’annats[7] bukan dengan kata “ankum” dengan bentuk mudzakkar.

Saya jawab: Subhanallah! Orang awam saja tahu dengan fitrah mereka, bahwa khithab dalam bahasa mereka jika disebutkan dengan bentuk mudzakar, maka mencakup laki-laki dan perempuan, namun jika khitabnya dengan bentuk mu’anats maka yang dimaksud adalah untuk perempuan saja. Karena itu, seseorang akan mengatakan kepada anak-akanya: “kuluu (makanlah kalian) atau iqra’uu (bacalah oleh kalian)” jika mereka laki-laki dan perempuan, tidak mengatakan; “Iqra’na (bacalah oleh kalian)” kecuali jika mereka semua perempuan. Bahkan terkadang disebutkan dengan bentuk mudzakar meskipun khithabnya untuk perempuan semua, tanpa ada seorang laki-laki pun, misalnya; “Iqra’uu (bacalah oleh kalian), quumuu (berdirilah kalian) dan ukhrujuu (keluarlah kalian).”

 Dengan dasar inilah Al Qur’an diturunkan, seperti firman Allah;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya…”[8] khithabnya ditujukan untuk semua orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Ini sebagaimana firman Allah;

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh…”[9]

Berdasarkan ini pula, Allah berfirman;

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah…”[10]

 Penyebutan khithab dengan mudzakar ini berlanjut hingga firmanNya;

“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu…”[11] Khithab dalam ayat ini selalu disebutkan dengan bentuk mudzakar, kemudian Allah menjelaskan maksudnya setelah kata minkum (diantara kalian);

“Baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain…”[12] jadi, maksudnya adalah laki-laki dan perempuan, kemudian khithabnya kembali disebutkan dengan bentuk mudzakar;

“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku…”[13]

 Dan selagi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat beliau dan isteri-isteri beliau, maka lafazhnya menggunakan bentuk mudzakar untuk menyebut semuanya, tidak mungkin menggunakan bentuk mu’annats, sebab jika menggunakan bentuk muannats, maka akan mengeluarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari ketentuan ayat diatas.

 Yang lebih mengherankan, mereka (Syiah) mengeluarkan para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari ketentuan ayat diatas, dengan dalih karena status mereka perempuan, diwaktu yang bersamaan mereka memasukkan Fathimah –radhiallahu ‘anha- dalam ketentuan ayat diatas meskipun ia seorang perempuan.

[1] QS Ali Imran; 121

[2] QS Al Anfal; 5

[3] QS Al Ahzab; 53

[4] QS Al Ahzab; 53

[5] QS Al Ahzab; 33-34

[6] Yaitu dhamir (kata ganti) yang diperuntukkan untuk laki-laki –penj.

[7] Dhamir (kata ganti) yang diperuntukkan untuk perempuan

[8] QS Ali Imran; 102

[9] QS Al Baqarah; 277

[10] QS Ali Imran; 190-191

[11] QS Ali Imran; 195

[12] QS Ali Imran; 195

[13] QS Ali Imran; 195

Sumber:  Ayatu at-tathir wa ‘alaqotuha bi ‘ishmatil aimmah karya Dr. ‘Abdul Hadi al-Husaini  



Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? [Dalil-dalil & Alasan Pembagian Tauhid, Asal-Usul Pembagian Tauhid, Akibat Tidak Mau Membagi Tauhid Menjadi 3]

aboeaswad.wordpress.com

Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? (1) [Dalil-dalil & Alasan Pembagian Tauhid]
Sebagian Saudara kita sangat fobi dengan pembagian tauhid menjadi tiga, (1) Tauhid Ar-Rububiyah, (2) Tauhid Al-‘Uluhiyah/al-‘Ubudiyah, dan (3) Tauhid al-Asmaa’ wa as-Sifaat. Bahkan barang kali ada yang menyamakan pembagian ini dengan aqidah TRINITAS kaum Nasrani yang meyakini Allah terdiri dari 3 oknum (http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas). wal iyaadzu billah. Ada juga yang mengatakan bahwa pembagian tersebut hanya akal-akalan dan bualan kaum salafi dan baru pertama kali dicetuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh. Ada juga yang dianggap ulama, mengatakan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga menyelisihi akidah kaum muslimin!?  Benarkah hal tersebut?
Sebagai seorang muslim yang selalu mengedepankan ilmu atas perkataan, selayaknya kita menelaah akan hal yang sangat penting ini, agar aqidah kita selamat dari syirik dan penyakit hati lainnya.

Bagaimana Menghadapi Tumor Ganas Syiah? Syiah dan Yahudi, Bersama Menaklukkan Dunia Islam

Algier. Seorang jurnalis dan aktivis HAM asal Aljazair, Anouar Abdel Malek, menekankan bahwa bahaya Syiah Iran di kawasan Timur Tengah, terutama negara-negara Teluk, semakin nyata seperti tumor ganas. Untuk menghadapi hal ini, negara-negara Timur Tengah harus mengambil tindakan yang tepat sebelum Syiah benar-benar berkuasa di Timur Tengah.
Seperti dilansir Memo Islam, Rabu (3/11/2014) hari ini, Malek mengatakan, “Setiap kali Iran dibiarkan oleh musuh-musuhnya, maka mereka akan semakin memunculkan konflik-konflik dalam negeri. Konflik-konflik itu sangat mungkin akan berkembang menjadi perang kotor yang akan menghancurkan kawasan Timur Tengah.”
Malek melanjutkan, “Saat ini negara-negara Arab bersikap hanya membela diri. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membeli loyalitas musuh dan meredamnya sementara waktu. Seharusnya mereka memanfaatkan titik-titik lemah Iran.”
Menurut Malek, saat ini orang-orang Arab merasakan bahaya Iran yang menghantui mereka. Kenapa kondisinya tidak dibalik; orang-orang Iran juga merasakan adanya bahaya Arab yang menghantui mereka? Tanpa bisa membalik keadaan atau menyamai seperti itu, Iran akan terus membahayakan. Agenda mereka selalu sejalan dengan kepentingan Israel.
Di antara titik lemah dalam negeri Iran adalah adanya wilayah-wilayah yang merasa terjajah oleh Iran. Negara-negara Arab hendaknya memberikan sokongan kepada mereka sehingga akan terjadi revolusi dalam negeri Iran sendiri. Kemudian “berhala” juga harus dihilangkan sepenuhnya di hati para penganut Syiah di berbagai negara Arab



Syiah dan Yahudi, Bersama Menaklukkan Dunia Islam
                                                 
                                             Peta Timur Tengah (inet)
Setelah kekuatan Ikhwanul Muslimin dilumpuhkan, baik di Mesir, Tunisia, Jordania, Aljazair, Saudi Arabia, hingga Yaman. Maka praktis negara-negara berpenduduk mayoritas Sunni, tunduk pada dua kekuatan adidaya di Timur Tengah, Israel dan Iran.
Ada beberapa hal menarik. Pertama: Iran sukses membentuk sel-sel bersenjata di negeri-negeri Sunni. Di antaranya:
    1.Milisi Syiah di Irak, dengan kekuatan senjata tak terbatas dan  
      berpusat di ibu kota Baghdad.
2.Rezim Assad di Syiria yang hampir 4 tahun perang     
   berkecamuk, tidak berhasil dilengserkan.
    3.Hizbulloh, yang semakin kuat di Libanon.
4.Syi ’ah Hautsi, yang bulan September 2014 sukses menguasai ibu ota Yaman. Lalu kemudian 18 Januari 2015, sukses menguasai kompleks istana kepresidenan di Yaman.
Kedua: Israel (Yahudi) dengan kekuatan superpower AS, Inggris, Perancis, sukses mengelabui negara-negara Arab. Seluruh rezim Arab ketakutan jika kekuasaannya berakhir. Maka semua benar-benar mengabdikan diri kepada kepentingan Zionis-Salibis. Rezim-rezim Arab sibuk memerangi ISIS (kita tahu ISIS siapa?) lalu membiarkan Syiah merajalela di wilayah Teluk.
Di titik ini, rezim-rezim Arab berada pada kekalutan luar biasa. Salah menentukan musuh. Membantu pembantaian Ikhwan, lalu berkawan dengan Israel dan rezim-rezim budak Israel. Lalu mengapa semua terjadi? Jelas seterang purnama. Semua peristiwa menggiring pada tema besar: Nubuwwah Rasulullah tentang akhir zaman benar-benar terbukti. Maka wajar bila sosok Rasulullah menjadi sentral dari pelecehan yang dilakukan semua musuh Islam. Mereka membenci Muhammad, karena membenci Risalahnya yang rahmatan Lil-‘Alamin.
Jadi sahabat, mari kuatkan keimanan di tengah hiruk pikuk fitnah yang merajalela saat ini. Semoga kita tidak salah jalan!

Yahudi Tunjukkan Kekuatan Syi’ah di Dunia

Beberapa hari terakhir, nasional mengalami pergolakan yang luar biasa karena isu BBM yang akan naik. Kenaikan BBM ditengarai oleh hal yang paling mendasar, menurut pemerintah kemampuan APBN yang tidak mencukupi untuk melakukan subsidi di saat harga minyak dunia naik. Beberapa hari terakhir harga minyak dunia salah satu harga minyak dunia naik dikarenakan isu timur tengah antara Amerika dan Iran memanas. Amerika melakukan serangan politik dan ekonomi terhadap Iran dengan alasan Iran melakukan pengayaan uranium untuk pembuatan senjata nuklir. Amerika dibantu oleh zion Israel melobi negara-negara dunia untuk memboikot Iran terutama memutus kerja sama impor minyak dari Iran. Di sinilah dalam hitung-hitungan ekonomi membuat harga minyak dunia yang juga membuat dampak hingga Indonesia.
Ada yang harus diperhatikan, khususnya Amerika, Iran, dan Israel. Latar belakang pemerintahan mereka adalah Yahudi dan Syi’ah. Dari banyak penemuan informasi, Iran dengan basis Syi’ah adalah saudara akrab Yahudi, bahkan beberapa riwayat menjelaskan bagaimana Syi’ah itu ada dan bertahan sampai saat ini dilatarbelakangi oleh orang-orang Yahudi.
Amerika telah memposisikan Iran sebagai musuh dengan basis ideologi Islamnya, negara Islam yang harus dikhawatirkan. Iran tampil dengan pidato-pidatonya sebagai republik Islam yang tidak takut kepada Amerika. Menunjukkan kepada dunia, Iran adalah sebagai negara yang memperjuangkan Islam. Secara langsung maupun tidak, masyarakat dunia melihat Iran sebagai negara Islam sehingga akan banyak yang berkiblat untuk melihat Islam itu seperti apa kepada Syi’ah Iran. Di Indonesia saja sudah banyak artikel-artikel memuji Iran sebagai negara yang berani kepada Amerika, lalu sosok seperti Ahmadinejad adalah sosok pemimpin ideal seharusnya.
Salah satu kepentingan yang dilakukan Amerika dan Israel ialah menunjukkan kekuatan Iran ke pada dunia, bisa dianalisis isu-isu yang dikeluarkan Amerika adalah kekuatan-kekuatan yang dimiliki Iran. Ada apa dengan isu Iran memiliki nuklir? Negara yang memiliki nuklir adalah negara yang kuat dalam militer. Negara yang mampu mengaya uranium adalah negara yang maju dalam hal keilmuan, politik maupun ekonomi. Lalu kenapa minyak? Hampir di seluruh negara yang maju saat ini, berasal dari dua komoditas yang dimiliki yakni minyak atau nuklir. Lihatlah bagaimana Amerika melakukan sanksi politik maupun ekonomi kepada Iran, sebagian besar negara di dunia mengalami dampak krisis minyak, ekonomi maupun politiknya. Dibuktikan ketika kemarin Amerika baru bicara tentang pemboikotan minyak Iran, dunia sudah mengalami krisis tak hanya dalam negeri bahkan antar negara saling berselisih. Dilanjutkan dengan isu Israel akan menyerang Iran dan Amerika akan melakukan sanksi kepada Iran, seluruh dunia menanggapi dengan berbeda satu sama lain. Hingga isu-isu saat ini berkutat kepada Amerika, Israel, dan Iran.
Inilah strategi mereka, Amerika ingin menunjukkan bahwa seluruh dunia membutuhkan Iran, ingin menunjukkan eksistensi Iran pada dunia. Jika Iran diserang, jika Iran menghentikan impor minyak, jika macam-macam dengan Iran, seluruh dunia akan mengalami krisis global. Inilah yang diinginkan mereka, mereka menginginkan Iran diterima di dunia sehingga ketika ada rasa kebutuhan atau ketergantungan pada Iran, Amerika, Israel, dan negara-negara yang ada hubungan dengan Yahudi dan Syi’ah, mereka mudah memasukkan kepentingan mereka ke dalam negara-negara dunia, khususnya misi-misi agama mereka, yahudisasi dan penyebaran Syi’ah. Juga bisa ditengok bagaimana kepentingan-kepentinngan mereka begitu mudahnya masuk ke dalam negeri ini, Indonesia. Bahkan negeri ini bagai boneka yang telah berjalan di rute perjalanan, pembekalan, dan garis finish yang telah ditentukan mereka musuh-musuh Islam.
Kehati-hatian pada diri kita sebagai umat muslim, seumum apapun masalah ekonomi, politik, maupun bidang yang lainnya yang dilakukan Amerika, Iran, Israel, jika iya dikatakan itu hanya masalah hubungan kenegaraan inilah yang harus diwaspadai. Bahwa ada hubungan agama dalam kasus ini, terutama sasarannya adalah umat muslim. Tidak bisa dilepaskan kaitan operasi Yahudi dan Syi’ah pada urusan yang dilakukan oleh Amerika, Israel dan Iran.

Iran Pecah Belah Dunia Arab Untuk Kepentingan Israel

Pengawas HAM Arab di Suriah, Anwar Malek, menuduh Iran sebagai negara yang berkonspirasi dengan Barat memecah belah dunia Arab untuk kepentingan Israel. Iranlah yang bertanggung jawab atas kondisi politik dan kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di dunia Arab saat ini.
Menurutnya, seperti dilansir Memo Islam, Rabu (29/10/2014) kemarin, “Suriah memasuki kondisi yang tidak menentu. Sebabnya adalah Basyar Asad yang menggunakan kekuatannya secara berlebihan dalam menghadapi demonstrasi damai menuntut reformasi. Tidak ada kekuatan yang mengawasi dan menghentikannya.”
Malik menambahkan, “Jika masih ada negara di kawasan Timur Tengah atau dunia yang tidak ingin bangsa Arab menikmati Musim Seminya, maka negara-negara yang telah berhasil menjatuhkan para diktatornya tetap akan mengalami ketidakpastian. Mungkin yang bisa dikecualikan adalah Tunisia. Itu karena Tunisia adalah negara kecil, berbeda dengan Yaman, Libya, Mesir, atau Suriah. Walaupun tidak tertutup kemungkinan akan menguatnya gelombang anti-revolusi di sana di kemudian hari, jika para penguasanya tidak bertindak dengan penuh kebijaksanaan.”
Saat ini, menurutnya, Irak adalah negara jajahan Iran. Hal itu karena pemerintahnya loyal dan tunduk kepada Iran secara politik dan agama. Karena itulah Irak mempraktekkan aksi pembersihan etnis terhadap elemen bangsa yang sebenarnya sangat besar, yaitu Sunni..


Pengamat: Arab Wajib Segera Bentuk Koalisi Sunni Hadapi Syiah Iran

Pengamat terkenal Arab asal Suriah, Faishal Qasim, mendorong negara-negara Islam agar segera membentuk Koalisi Sunni untuk menghalangi Iran memanfaatkan Syiah dalam menghadapi negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Dalam artikelnya yang dimuat majalah Al-Quds Al-Araby sebagaimana dikutip Islam Memo (5/4/2015), Qasim menyalahkan sejumlah negara Arab yang memerangi kelompok-kelompok Islam Sunni yang dituduh teroris, sementara sebaliknya Iran menggunakan seluruh yang berafiliasi kepadanya di negara Arab sebagai perpanjangan tangan kekuatannya di kawasan itu.
Qasim mempertanyakan, bukankah memerangi kelompok-kelompok Sunni yang telah mengakar dan memasukkannya dalam list teroris (tanpa menyebutkan namanya) sebagai sebuah kesalahan, padahal ia berpotensi sebagai mitra dalam memangkas cengkeraman Iran?
Qasim menegaskan bahwa Iran berhasil menciptakan kekuatan minoritas Syiah di suatu negara sebagai kelompok yang kuat dan berpengaruh, sementara rezim negara-negara Arab  justru memukul mundur kelompok-kelompok Islam di negaranya masing-masing.
Lebih jauh, Qasim menyatakan bahwa sudah tiba saatnya untuk memperbaiki kesalahan, terutama setelah AS mencabut embargonya terhadap Iran.
Sejauh apapun militannya kelompok Islam Sunni, baik partai politik atau gerakan dan jemaah keagamaan, tidak akan jauh lebih membahayakan dari proyek Syiah Iran yang memusuhi negara-negara Arab di kawasan, tegasnya.

Syaikh/Ustadz, Apa Yang Bisa Dilakukan ?! Saudi dan Turki Diminta Selamatkan Sunni Mosul dari Pembantaian Syiah !

Riyadh. Jurnalis senioar Arab Saudi, Jamal Khashoggi, mengatakan bahwa Arab Saudi dan Turki harus berperan dalam melindungi para penduduk kota Mosul. Seperti dilansir Memo Islam, Rabu (11/3/2015) hari ini.
Penduduk Sunni di Mosul tidak boleh dibiarkan hanya ditangani oleh pemerintah di saat Iran benar-benar melakukan intervensi. Keberadaan militer Syiah Iran sangat memungkinkan terjadinya pembantaian terhadap penduduk Sunni sebagai aksi balas dendam.
Menurut Khashoggi, memasrahkan penduduk Sunni kepada pemerintah Irak sama saja membiarkan terjadinya pembantaian etnis. Karena pemerintah Irak saat ini diintervensi Iran dan Amerika. Harus ada peran Arab Saudi dan Turki menyelamatkan mereka.
Khashoggi mendasarkan kekhawatirannya itu pada aksi pembantaian yang dilakukan milisi-milisi Syiah Iran dalam pertempuran di Hawija, Tikrit, Baiji dan lainnya. Iran memang mengerahkan pasukan besar-besaran ke Irak, terutama wilayah-wilayah Sunni. Mereka melakukan pembantaian  dan pengusiran terhadap penduduk Sunni

Syiah Manfaatkan Perang Melawan ISIS Untuk Ubah Demografi Irak



Milisi-milisi bersenjata Syiah semakin luas menguasai wilayah-wilayah di Irak. Mereka benar-benar ingin mengubah struktur dan distribusi penduduk Irak, terutama dalam hal formasi Sunni-Syiah.
Seperti diberitakan Memo Islam, Jumat (2/1/2015) hari ini, milisi-milisi Syiah tidak membedakan antara warga sipil dan pasukan ISIS (organisasi Negara Islam di Irak dan Syam) saat melakukan penyerangan di wilayah bagian tengah Irak.
Strategi ini dinilai banyak kalangan dilakukan dengan tujuan mengubah demografi dan formasi etnis di wilayah tersebut. Apalagi saat ini, milisi-milisi Syiah yang bertempur di pihak militer pemerintah itu, semakin luas menguasai beberapa wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan ISIS.
Oleh karena itu, akan terjadi perubahan formasi Sunni-Syiah secara besar-besaran di wilayah tengah, terutama di Diyala, Saladin, Babil, dan sebagainya. Karena ketika melakukan penyerangan, mereka tidak membedakan antara pasukan ISIS dan warga sipil.
Banyak warga sipil yang ditangkapi, lalu dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, sebelum akhirnya dikirimkan ke wilayah dikuasai oleh militer pemerintah. Setelah dikosongkan rumah-rumah yang berada di wilayah itu dibakari. Bahkan beberapa sumber informasi mengatakan bahwa rumah-rumah yang tidak dibakar ditempati oleh keluarga-keluarga Syiah yang didatangkan dari wilayah lain


Perang Melawan ISIS Digunakan Milisi Syiah Untuk Bantai Warga Sunni


Organisasi Amnesty Internasional, Selasa (14/10/2014) hari ini, menuduh milisi-milisi Syiah melakukan pelanggaran HAM terhadap warga sipil Sunni. Milisi-milisi tersebut membantu militer Irak memerangi organisasi Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS). Mereka melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap warga Sunni.
Selain itu, Amnesty juga menuduh militer Irak dan ISIS melakukan hal yang sama, pelanggaran HAM. Militer Iraklah yang telah mempersenjatai milisi-milisi Syiah tersebut. “Kami memiliki bukti, milisi-milisi Syiah melakukan puluhan kali pembantaian terhadap warga sipil Sunni. Mereka melakukan aksi hukuman mati yang asal-asalan,” demikian disebutkan dalam keterangan Amnesty.
Menurut Amnesty, milisi Syiah juga melakukan aksi penculikan warga Sunni. Aksi itu dilakukan untuk mendapatkan uang tebusan dari keluarga korban penculikan. Uang tebusan itu bisa mencapai puluhan ribu Dolar. Hingga saat masih ada korban penculikan yang berada di tangan milisi. Beberapa di antara mereka bahkan dibunuh karena tidak ditebus.
Amnesty meminta pemerintah Irak yang baru dibentuk bisa menertibkan dan menundukkan milisi-milisi bersenjata yang sangat berbahaya dan mengancam stabilitas keamanan Irak ini. “Kalau diam saja, maka pemerintah Irak bisa dikatakan telah merestui aksi-aksi pelanggaran HAM dan turut dalam membuat lingkaran setan perang antar kelompok.”
Kelompok Syiah Irak, menurut Amnesty, menggunakan isu perang melawan ISIS, untuk melakukan aksi balas dendam dan membantai warga Sunni. Sedangkan pemerintah terkesan memperkuat dan memperbesar pengaruh milisi-milisi Syiah. Tindakan pemerintah ini sama saja menambah parah kondisi kacau di Irak


Ulama Tertinggi Syiah Inginkan Perang Sunni-Syiah di Seluruh Arab


Wakil presiden Irak, Thariq Al-Hasyimi, Senin (16/6/2014) kemarin, memperingatkan terjadinya perang antar kelompok yang menyeluruh di Irak dan dunia Arab. Hal itu karena pada Jumat lalu ulama tertinggi Syiah, Ayatullah Ali As-Sistani, mengajak seluruh penganut Syiah untuk mengangkat senjata.
Seperti dilansir Al-Quds Al-Arabi, Al-Hasyimi yang saat ini selalu berada di Turki atau Qatar, mengatakan, “Jika dibiarkan, kondisi akan bertambah buruk. Akan terjadi perang antar kelompok secara menyeluruh di seluruh Irak dan luar Irak. Fatwa Ayatullah Ali As-Sistani bagaikan menyiram minyak ke dalam api. Muslim Sunni di seluruh Arab akan melakukan reaksi. Kalau demikian, benar-benar akan terjadi perang Sunni-Syiah di seluruh Arab.”
Al-Hasyimi, yang dijatuhi hukuman mati pada tahun 2012 lalu itu, menambahkan, “Kita harus mencegah hal itu. Kita harus berusaha sekuat tenaga mencegah pertumpahan darah. Ini tanggung jawab seluruh pihak, terutama PBB. Nuri Al-Maliki harus turun dari jabatannya, dan masyarakat dunia harus melakukan intervensi.”
Menurutnya, banyak pihak mengkritik Nuri Al-Maliki terlalu menguasai militer dan polisi. Al-Maliki menggunakannya untuk memerangi Sunni dan oposisi lainnya. Dengan mudah oposisi ditangkap dan dimasukkan ke penjara.
“Jika Al-Maliki tidak turun, dan masyarakat dunia tetap diam, hal itu akan semakin menumbuhkan kelompok-kelompok garis keras. Bukan kami yang menciptakan Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS) ataupun Al-Qaidah. Tapi mereka yang membiarkannya lahir, dan kezhaliman menumbuhkannya semakin cepat.”


Foto-foto Khomeini Menyebar di Wilayah-wilayah Sunni

                                                                                                Foto para pemimpin Syiah. (Al-Muslim)
Foto pemimpin tertinggi Iran (Ayatolah Ali Khamenei) dan pemimpin revolusi Iran (Ayatolah Khomeini), menyebar di wilayah-wilayah Sunni yang berhasil diduduki milisi-milisi Syiah. Seperti diberitakan Al-Muslim, Kamis (19/3/2015) kemarin.
Milisi-milisi Syiah melakukan serangan besar-besaran di Tikrit dengan alasan memerangi ISIS. Setelah berkuasa, mereka juga menuliskan “Labbaika Ya Mahdi” (Selamat Datang Imam Mahdi).
Semua tulisan yang menandakan ISIS, seperti bendera hitam bertuliskan “La Ilaha Illa Allah” juga ditimpa dengan cat berwarna bendera Irak.
Milisi-milisi Syiah memang menyertai militer pemerintah Irak melakukan serangan ke wilayah-wilayah Sunni. Dalam dalih memerangi ISIS, mereka banyak melakukan pembantaian dan kejahatan di pusat-pusat Sunni