Tuesday, January 6, 2015

Siapa Bilang Sunni Syi'ah Tidak Bisa Bersatu


Sebagaimana dikatakan oleh penulis, bahwa shahihnya manhaj adalah syarat muthlaq untuk mengetahui hakikat Islam yang benar, dan sebaliknya rusaknya manhaj adalah sebab utama kabur dan gelapnya hakikat. Dan keshahihan manhaj yang dianut oleh dua pihak yang berseberangan, tidak akan dapat disingkap kecuali melalui dialog dan diskusi.
Sungguh menyakitkan bagi umat ini, yang selama sekian abad telah disibukkan oleh perseteruan yang getir dengan golongan sempalan Syi'ah. Pertentangan apa yang sebenarnya terjadi antara Ahlus Sunnah dengan Syi'ah? Apakah perselisihan yang terjadi di antara keduanya hanya masalah kecil atau substansial? Hanya masalah furu' atau dalam masalah ushul (akidah)? Hanya karena faktor-faktor politik atau pokok-pokok Agama? Sebegitu jauhkan pertentangan di antara keduanya hingga harus ada usaha untuk mempertemukannya?

Buku ini adalah di antara jawabannya. Buku ini merupakan dialog antara seorang doktor dan guru besar Ahlus Sunnah dengan seorang doktor dan guru besar Syi'ah, yang isinya patut dicermati oleh setiap kaum Muslimin; para ustadz, pemikir, penulis, pemerhati sosial, mahasiswa, dan terutama bagi mereka yang selama ini menyerukan pluralisme; agar kita semua memiliki bashirah dalam beragama.
Dialog ini benar-benar terjadi, bukan fiktif, sehingga hasil kesimpulan dari dialog ini juga benar-benar sebuah kesimpulan ilmiah yang bisa diper-tanggungjawabkan.

AWAL MULA KISAH DIALOG 

Dalam buku ini Syaikh Dr. Sa'ad Hamdan, penulis buku ini, menuturkan di awal buku ini, yang secara ringkas sebagai berikut: Pada Bulan Ramadhan 1423 H, saya dikunjungi oleh Dr. Abu Mahdi Muhammad al-Husaini al-Qazwini, di kediaman saya. Dia adalah seorang dosen di salah satu universitas di Iran, bahkan dia juga memberikan mata kuliah di delapan universitas di sana, sebagaimana yang dia beritahukan kepada saya setelah itu.Tujuannya hanya ingin melakukan dialog dengan saya mengenai berbagai masalah yang diperselisihkan antara Ahlus Sunnah dengan Syi'ah. Dan saya pun langsung menyanggupinya.

Berlangsunglah dialog tersebut dalam sejumlah masalah, dan di antara keyakinan Ahlus Sunnah yang saya tegaskan ketika itu adalah bahwa Allah Ta'ala telah mengutus para rasul untuk menegakkan hujjah atas seluruh makhluk, sebagaimana Firman Allah Ta'ala,
رُسُلًا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا.
(Mereka Kami utus) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana. (An-Nisa`: 165).

Kemudian Allah menutup para rasul tersebut dengan Nabi kita, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Dan karena beliau adalah pembawa risalah terakhir kepada umat manusia, maka pastilah Allah telah menyiapkan bagi beliau faktor-faktor kesuksesan dalam menegakkan hujjah yang dimaksud, yang dengan itu Allah mematahkan alasan-alasan manusia yang tidak taat hingga Hari Kiamat tiba. Dan faktor-faktor kesuksesan tersebut tidak dapat terealisasi kecuali dengan tegaknya beberapa hal pokok, yang di antaranya adalah:

1. Hendaknya kitab suci yang diturunkan Allah kepada beliau mencakup semua kebutuhan manusia dalam beragama.
2. Hendaknya Allah menjaga kitab suci tersebut dari kekurangan atau penambahan, sehingga hujjah benar-benar tegak dengannya untuk selamanya.

3. Hendaknya Allah menyiapkan orang-orang yang menjaga Agama ini dan menyampaikannya kepada manusia. Menurut Ahlus Sunnah, semua ini telah teresalisasi, sedangkan menurut Syi'ah tidak terealisasi.

Menurut Ahlus Sunnah, Allah telah menurunkan sebuah kitab suci yang sempurna sebagai pedoman beragama bagi umat ini dan Allah telah berjanji untuk memeliharanya, sehingga tidak akan mungkin bisa ditambahi dan tidak pula dikurangi. Dan bersama itu Allah juga telah menyiapkan orang-orang pilihan lagi mulia untuk melanjutkan penegakan hujjah dan dakwah sepeninggal NabiNya yang agung, yakni para sahabat, yang dengan dakwah dan jihad merekalah Agama ini tersebar ke berbagai pelosok bumi ini.
Tetapi menurut Syi'ah, al-Qur`an tidak cukup, dan harus ada imam yang menjelaskan kepada manusia. Yang aneh, imam yang mereka klaim tersebut tidak memiliki kuasa di muka bumi, dalam arti tidak memiliki legalitas untuk melaksanakan tugas tersebut.
Syi'ah juga mengklaim bahwa al-Qur`an yang sampai kepada kita sekarang adalah kurang. 
Penganut Syi'ah juga berkeyakinan bahwa para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, -yang berdasarkan catatan sejumlah kitab rujukan diperkirakan berjumlah sepuluh ribu orang-, semuanya telah murtad dan mengkhianati Nabi Shallallahu alaihi wasallam, kecuali empat orang saja.
Dengan demikian, Syi'ah telah memvonis Agama Islam ini telah gagal ditegakkan sejak pertama kali, dan itu artinya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam juga telah gagal dalam mendidik para sahabat beliau. Ini juga berarti bahwa Agama ini tidak bisa menjadi hujjah yang tegak kepada manusia dan kemanusiaan.
Pembicaraan lain yang mengemuka saat itu adalah tentang standar dan rumusan prinsip yang menjadi pegangan dalam menshahihkan dan mendhaifkan hadits. Dan masalah ini sangat penting dan mendasar untuk diketahui oleh para pemerhati, karena ketika Ahlus Sunnah berdalil dengan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam Ahli Hadits Ahlus Sunnah semacam al-Bukhari dan Muslim, Syi'ah menolaknya, dan tentu mereka memiliki alasan dan argumen. Bagaimana Argumentasi mereka dan apa jawaban Ahlus Sunnah? Ini semua adalah poin-poin yang sangat penting untuk ditelaah oleh seorang Ahlus Sunnah wal Jama'ah sejati, agar menjadi seorang Muslim yang tangguh dalam membela Agamanya.
Dan begitulah dialog tersebut berkembang ke berbagai masalah prinsip lain yang tertuang secara apik dalam buku kita ini. 
Pertemuan tersebut kemudian berakhir, dan Dr. Abu Mahdi al-Qazwini kemudian meninggalkan Makkah. 
Lebih kurang satu tahun tiga bulan setelah itu, saya menerima faksimili dari Dr. al-Qazwini yang dilampirkan dengan sebuah risalah hasil penelitian-nya setebal 52 halaman. Dia mengatakan bahwa dia telah menghabiskan 500 jam untuk meneliti kitab-kitab Syi'ah dan kitab-kitab Ahlus Sunnah untuk mempelajari jawaban-jawaban saya. Dan dari sana kemudia dialog berlanjut dengan berbagai cara; surat menyurat, faksimili dan lainnya. Demikianlah Syaikh Dr. Sa'ad al-Ghamidi menuturkan secara ringkas.
Semua itu adalah bahan dari buku ini, yang berhasil disusun oleh Syaikh Dr. Sa'ad Hamdan dengan bagus dan enak dibaca, penuh argumen dan juga sopan santun dalam dialog yang tinggi dan patut dihargai.
Kesan terakhir dari Syaikh Dr. Sa'ad al-Ghamidi beliau tuangkan dengan mengatakan, Ini saya lakukan dengan harapan dapat menyadarkan dia dan setiap penganut Syi'ah, dan sebagai peringatan terhadap bahaya dan keropos-nya akidah mereka, agar mereka menolong diri mereka sendiri sebelum mereka meninggalkan dunia ini (untuk mempertanggungjawabkan semua apa yang mereka yakini di hadapan Allah azza wajalla).

ISI BUKU SECARA UMUM

Di antara yang menarik dalam dialog ini adalah tudingan Dr. al-Qazwini bahwa buku Lillah Tsumma li at-Tarikh (yang kami kira sudah ada edisi terjemahannya) yang merupakan pengakuan seorang mantan ulama Syi'ah yang kemudian bertaubat kepada Islam, bahwa itu adalah pengakuan bohong alias fiktif. Dan Syaikh Dr. Sa'ad al-Ghamidi berhasil membuktikan bahwa itu tidak fiktif dan pengakuan tersebut bukanlah suatu kebohongan terhadap Syi'ah. 

Masalah lain yang juga dibela mati-matian oleh Dr. al-Qazwini adalah kaidah dan prinsip dalam menshahihkan dan mendhaifkan hadits-hadits. Dan diskusi dalam tema ini sangat penting untuk dicermati oleh kaum Muslimin, terutama para ustadz dan tokoh, karena ternyata Syi'ah memilik standar dan kaidah tersendiri, bahkan memiliki kitab-kitab rujukan biografi para perawi hadits sendiri yang berbeda dengan apa yang dipegang oleh Ahlus Sunnah. Masalah lain yang juga disinggung adalah penafsiran berbagai ayat al-Qur`an, yang acap kali terjadi perselisihan yang tajam antara Ahlus Sunnah dengan Syi'ah.
Dan masalah yang paling sengit yang diperdebatkan dalam buku ini adalah mengenai khilafah; benarkah Nabi Shallallahu alaihi wasallam pernah mewasiatkan agar diganti oleh Ali bin Thalib sebagai khalifah setelah beliau wafat? Apa jawaban Ahlus Sunnah? Temukan jawabannya dalam buku kita ini.

TENTANG JUDUL BUKU
Barangkali judul ini mengganggu sebagian kaum Muslimin yang seakan-akan bertabrakan dengan isi buku. Untuk itu kami sampaikan, bahwa judul ini diputuskan berdasarkan keputusan tim di pustaka DARUL HAQ. Dan kami tidak bermaksud melakukan pengelabuan kalimat. Tujuan dasar kami dengan judul ini Siapa bilang Sunni Syi'ah tidak Bisa bersatu adalah agar kalangan yang selama ini menyerukan dialog dan menghentikan perseteruan dengan Syi'ah juga membacanya dan menjadi jelas bahwa seruan mereka itu adalah suatu usaha yang sia-sia; karena Islam dan Syi'ah sama sekali tidak akan pernah bisa bersatu. Jadi Siapa Bilang Sunni Syi'ah Tidak Bisa Bersatu? Yang bilang adalah buku ini, tetapi Anda harus membacanya terlebih dahulu, terutama bagi mereka yang selama ini menggembar- gemborkan bahwa perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan Syi'ah hanya faktor-faktor politik, atau masalah-masalah kecil yang tidak prinsipil, dan untuk mereka inilah judul ini kami alamatkan. Coba Anda cermati!! Dua orang profesor doktor dari kedua belah pihak berdiskusi secara panjang lebar, tapi toh hasilnya: Tidak mungkin dipertemukan. Kenapa?

• Ahlus Sunnah sepakat bahwa Abu Bakar dan Umar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan ini didukung oleh berbagai dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah yang bahkan mencapai derajat mutawatir. Tetapi Syi'ah justru memasukkan mereka berdua di antara mereka yang murtad sepeninggal Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

• Ahlus Sunnah sepakat bahwa al-Qur`an telah sempurna dan terjaga dari pengurangan dan penambahan, bahkan tak satu pun dari golongan yang menyempal dari Ahlus Sunnah yang menyelisihi kesepakatan ini selain Syi'ah yang berani mengatakan bahwa al-Qur`an ini kurang.
• Ahlus Sunnah sepakat bahwa para istri Nabi Shallallahu alaihi wasallam termasuk dalam Ahlul Bait yang dimuliakan Allah, tetapi sebaliknya Syi'ah mencaci maki mereka sebagai orang-orang yang munafik dan murtad sepeninggal Nabi Shallallahu alaihi wasallam.
• Ahlus Sunnah sepakat bahwa para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang wafat dalam keislaman, mereka semua adalah orang-orang yang tsiqah (kredibel dan terpercaya), tetapi Syi'ah mengatakan bahwa semua sahabat telah murtad kecuali beberapa orang saja yang bisa dihitung dengan jari tangan kanan saja.
• Dan masih banyak masalah lain yang diperdebatkan oleh kedua belah pihak, yang kesimpulannya: Tidak ada jalan untuk mempertemukan antara Agama Islam dengan agama Syi'ah. Pendengar Radio Raja` yang dirahmati Allah…….

Di penghujung resensi ini, kami, tim Pustaka DARUL HAQ, berdoa kepada Allah agar berkenan mencatat amal kecil ini sebagai amal shalih bagi semua pihak yang telah ikut andil dalam penerbitannya. Buku ini adalah jawaban bagi kesimpangsiuran yang selama ini menyeruak di tengah kaum Muslimin mengenai hakikat ajaran Syi'ah, agar kaum Muslimin tidak tertipu dengan penampilan anti barat dan sorban rapi yang selama ini ditampakkan oleh tokoh-tokoh Syi'ah. Kita harus senantiasa ingat bahwa 72 golongan sempalan umat ini berada di neraka dan hanya golongan yang tegak mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan al-Jama'ah yang akan selamat hingga surga. Semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah. Amin….

                                                         
                                             

                                           

Kebohongan Terbesar Dalam Sejarah Islam

Di antara kebohongan terbesar dalam sejarah Islam adalah tudingan bahwa para Sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyembunyikan permusuhan di antara mereka! Sungguh, tudingan ini sangat bathil dan jauh dari apa yang difirmankan Allah سبحانه و تعالى:‎ 
كُنتُمْ خَيْرَأُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِوَتُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ ۗ
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Qs. Ali-Imran:110)

Demikian juga, tidak sesuai dengan sabda Rasulullah سبحانه و تعالى :
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku.” (HR. Al-Bukhari)
Di antara tanda keterasingan Islam setelah berlalunya perieode tiga generasi yang utama adalah munnculnya penulis-penulis yang mendistorsi dan menyelewengkan fakta sejarah. Mereka menyelisihi dan menentang kebenaran. Mereka menyangka bahwasannya tidak ada rasa persaudaraan di antara para Sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم . mereka juga menyangka bahwa para Sahabat tidak saling mengasihi, tetapi saling bermusuuhan, saling mengutuk, saling menipu, bersifat hipokrit, dan melakukan konspirasi satu sama lain. Semua keburukan ini, menurut para penulis itu, semata-mata diperbuat Sahabat-Sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم karena penentangangan, permusuhan, kecenderungan mengikuti hawa nafsu, dan egoisme untuk menggapai dunia.
Demi Allah, mereka berbohong! Sungguh, mereka telah melemparkan kedustaan yang besar dan nyata. Sebab justru sebaliknya, yang benar adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Abu Ubaidah, Aisyah, Fathimah, dan Sahabat-Sahabat yang lain begitu mulia dan suci, sehingga tidak mungkin mereka terjatuh dalam hal-hal hina tersebut.
Terlebih lagi, Bani Hasyim dan Bani Umayah mengingat keislaman, kasih sayang, dan kekerabatan mereka di samping hubungan keduanya yang erat, mereka lebih bersemangat dalam berbuat kebaikan (daripada berselisih paham). Melalui kepemimpinan merekalah negeri-negeri di luar Jazirah Arab ditaklukan, hingga orang berbondong-bondong memeluk agama Allah سبحانه و تعالى berkat upaya tersebut. Perlu diketahui pula bahwa nama-nama yang disebutkan itu nasabnya bertemu pada Bani Hasyim, baik dari jalur hubungan paman, kekerabatan, ataupun pernikahan.
Anda harus yakin bahwa berita-berita yang benar, yaitu yang dinukilkan orang Mukmin yang jujur dan shalih, menetapkan bahwa semua Sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah orang-orang terbaik sepanjang sejarah manusia setelah para Nabi dan Rasul صلى الله عليه وسلم. Adapun berita-berita miring tentang para Sahabat yang isinya menuduh mereka sebagai orang-orang yang berjiwa sempit, itu hanyalah bualan yang disebarkan para pendusta dan pemalsu hadits.
Bagaimana Kita Membaca Sejarah?
Kita harus membaca sejarah seperti halnya membaca hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Tatkala hendak membaca hadits-hadits beliau, tentu saja kita mengklarifikasi riwayatnya terlebih dahulu, apakah sanadnya shahih, ataukah tidak? Tidak mungkin riwayat dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم diketahui benar atau tidaknya tanpa melalui penelitian sanad dan matan. Karenanya, para ulama memperhatikan hadits dan perawinya. Mereka mengumpulkan setiap redaksi hadits yang diriwayatkan perawi, memilah-milahnya, menilainya, dan memisahkan yang shahih dari yang dha’if. Dengan metode ini, hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bisa dibersihkan dari cela, kebohongan, dan hal buruk semisal yang disiapkan padanya.
Akan tetapi, riwayat-riwayat terkait sejarah amat berbeda. Terkadang, kita menemukan riwayat-riwayat yang tidak bersanad. Terkadang pula, kita menemukan sanadnya tetapi biografi para perawi riwayat itu tidak ditemukan. Sering juga kita tidak menemukan jarh (kritik) ataupun ta’dil (sanjungan) ulama terhadap perawinya terkait kredibilitas periwayanya. Alhasil, kita kesulitan untuk menghukumi riwayat tentang sejarah tersebut dikarenakan tidak mengetahui keadaan sebagian perawinya. Dengan kata lain, meneliti keontetikan sejarah lebih sulit daripada keotentikan hadits. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyepelekannya. Justru, kita harus mengklarifikasi dan mengetahui cara pengambilan riwayat sejarah yang shahih.
Berikut beberapa kitab sejarah yang harus diwaspadai.
1.Al- Aghaani karya Abul Faraj al-Ashbahani. Kitab ini berisi obrolan, syair, dan nyanyian yang dicampuri berita-berita yang tidak benar.
2.Al-Iqdul Farid karya Ibnu Abdi Rabbih. Kitab sastra ini banyak memuat nukilan-nukilan palsu.
3.Al-Imaamah was Siyaasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah rahimahullah, tetapi penisbatan ini adalah dusta belaka.
4.Murujudz Dzahab atau Taatikh al-Mas’udi karya al-Mas’udi. Kisah-kisah yang dituturkan di dalam kitab ini tidak bersanad. Ibnu Taimiyah    رحمه الله bahkan mengomentarinya:”Dalam Taarikh al-Mas’udi terdapat banyak kebohongan, saking banyaknya, sampai-sampai tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah سبحانه و تعال 
5.Syarh Nahjil Balaaghah karya ‘Abdul Hamid bin Abul Hadid, seorang Mu’tazilah  yang dinilai dha’if oleh para ulama al-Jarh wat Ta’dil. Orang yang mengetahui alas an penyusunan kitab ini pasti akan meragukan diri dan karya penulisnya. Kitab ini disusun demi al-Wazir bin al-Alqami, seseorang yang menjadi penyebab utama terbunuhnya jutaan Muslim Baghdad di tangan bangsa Tartar.
6.Tarikh al-Ya’qubi. Kitab ini dipenuhi riwayat-riwayatmursal, tidak ada sanadnya yang bersambung secara utuh. Penulisnya sendiri adalah seorang yang tertuduh sebagai pembohong.(ZE)
Dikutip dari Buku: Inilah Faktanya (Dr. 'Utsman bin Muhammad al-Khamis)


                                         




Wasiat Ali Menjelang Wafat

Menjelang wafat, hanya hal-hal penting yang diingat. Mari kita simak bersama wasiat Ali bin Abi Thalib menjelang wafat
Wasiat dari Ali pastilah penting. Apalagi bagi teman-teman syi'ah, yang meyakini Ali sebagai imam ma’shum yang wajib diikuti. Dari Abu Ali Al Asy’ari, dari Muhammad bin Abdul Jabbar, dan Muhammad bin Ismail, dari Fadhl bin Syadzan, dari Shafwan bin Yahya, dari Abdurrahman bin Hajjaj berkata : Abul Hasan Musa ‘Alaihis salam mengirimkan padaku wasiat Amirul Mukminin ‘Alaihis salam, isinya : Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah wasiat dari pembagian harta dari hamba Allah Ali, demi mencari ridha Allah, kiranya agar sudi memasukkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka karena wasiat ini, pada hari di mana ada wajah yang putih dan ada juga wajah yang menghitam,  seluruh harta milikku yang ada di Yanbu’ dan sekitarnya adalah sedekah, dan seluruh budaknya selain Rabah, Abu Naizar dan Jubair adalah merdeka, tidak ada yang boleh menghalangi mereka, mereka adalah budak, mengelola harta selama lima tahun, mereka boleh mengambil bagian harta untuk nafkah pribadi mereka dan keluarganya, sedangkan harta milik saya yang ada di Wadil Qura, dari harta milik anak keturunan Fatimah berikut budaknya adalah sedekah, dan yang ada di Dimah beserta penduduknya adalah sedekah, kecuali Zuraiq, berlaku baginya seperti yang aku lakukan pada teman-temannya, sedangkan hartaku yang ada di Adzinah berikut penduduknya adalah sedekah, dan Faqirain seperti yang kalian ketahui adalah sedekah di jalan Allah, dan yang telah kutentukan dari hartaku ini adalah sedekah yang wajib kutunaikan baik saat aku hidup maupun sudah mati, seluruhnya diinfakkan demi mencari keridhoan Allah, di jalan Allah, demi meraih keridhoan-Nya, dan untuk kerabatku dari golongan Bani Hasyim serta Bani Muthalib, yang dekat maupun yang jauh, semuanya dikelola oleh Hasan bin Ali, dia boleh memakan harta itu dengan baik-baik, dan menginfakkan di jalan yang diajarkan Allah, maka itu halal dilakukannya, tidak ada masalah, jika dia ingin maka boleh dijadikan miliknya, sesungguhnya anak-anak Ali, budak dan hartanya adalah dikelola oleh Hasan bin Ali.  Jika rumah yang menjadi miliknya bukan termasuk rumah sedekah, dan dia ingin menjualnya maka dia boleh menjualnya. jika dia menjualnya, maka hasil penjualannya dibagi menjadi tiga, sepertiga disedekahkan di jalan Allah, dan dua pertiga untuk Bani Hasyim dan Bani Muthalib, sepertiganya untuk keluarga Abu Thalib, dibagikan pada mereka sesuai petunjuk Allah, jika terjadi sesuatu pada Hasan sedangkan Husein masih hidup, maka dikelola oleh Husein bin Ali, dan Husein harus mengelola sesuai dengan petunjukku pada Hasan, dia wajib melakukan apa yang dilakukan oleh Hasan, bagian sedekah untuk anak-anak fatimah adalah sama seperti anak-anak Ali, saya menggariskan ketentuan untuk anak keturunan Fatimah adalah untuk mencari keridhoan Allah dan menghormati Rasulullah, mengagungkan dan memuliakan Rasulullah dan Fatimah, jika terjadi sesuatu pada Hasan dan Husein, maka yang masih hidup di antara mereka berdua melihat anak cucu Ali , jika ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan padanya jika dia mau, jika tidak ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan pada salah satu dari anak cucu Abu Thalib yang  dilihatnya baik, jika di antara anak cucu Abu Thalib sudah tidak ada lagi yang dituakan dan bijaksana, maka diserahkan pada salah satu dari Bani Hasyim, dengan syarat agar harta itu tetap dan tidak dijual, dan menginfakkan hasilnya seperti yang telah kutentukan, yaitu fi sabilillah, dan harta yang ada pada keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwariskan, dan harta Muhammad bin Ali yang menjadi miliknya, maka dia digabungkan dengan bagian anak cucu Fatimah, dan budak-budak yang namanya ada dalam daftar kecil, mereka seluruhnya merdeka. Inilah ketentuan yang dituliskan oleh Ali bin Abi Thalib dalam pengelolaan hartanya pada pagi ini, sehari setelah aku sampai di Muskin (nama tempat di dekat Kufah), demi mencari keridhoan Allah dan negeri akherat, hanya Allah lah tempat kita semua meminta tolong dalam segala kondisi, tidak halal bagi seorang muslim yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk merubah dan melanggar ketentuan ini, baik orang dekat maupun orang jauh. Dan budakku yang kugauli, jumlahnya 17, ada dari mereka yang memiliki anak, ada yang hamil, ada lagi yang tidak memiliki anak, siapa yang memiliki anak atau sedang hamil, maka tidak dimerdekakan, dan menjadi bagian anaknya, jika anaknya mati sedang dia masih hidup, maka dia merdeka tidak boleh ada yang menggugat, ini adalah pembagian yang ditentukan oleh Ali bagi hartanya, sehari setelah sampai di Muskin, disaksikan oleh Abu Samr bin Burhah, Sha’sha’ah bin Shuhan, Yazid bin Qais, Hiyaj bin Abi Hiyaj. Ali menulis wasiat ini dengan tangannya sendiri pada 10 Jumadil Ula tahun 37 H. Selain berwasiat mengenai pengelolaan hartanya, Ali juga berwasiat: “Bismillahirrahmanirrahim, inilah wasiat dari Ali bin Abi Thalib, mewasiatkan bahwa dirinya bersyahadat tiada tuhan selain Allah, hanya Dia sendiri tidak ada sekutu baginya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, diutus dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas seluruh agama, walaupun orang musyrik benci, Shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi, lalu sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbul Alamin, tidak ada sekutu baginya dan itulah yang diperintahkan padaku, dan aku termasuk golongan muslimin.  Lalu aku mewasiatkan padamu wahai Hasan, dan seluruh Ahlul Baitku, dan anakku, juga seluruh mereka yang membaca tulisanku ini, agar bertaqwa pada Allah Rabb kalian, jangan sampai kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Berpeganglah pada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kalian berpecah belah, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: Hubungan baik di antara kaum muslimin lebih baik dari pada shalat dan puasa secara umum, dan hal yang merontokkan agama serta yang menghabiskan agama adalah rusaknya hubungan baik di antara kaum muslimin, tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah semata, yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Perhatikanlah kerabat dekat kalian, sambunglah silaturahmi, agar Allah memudahkan hisab amalan kalian. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang anak yatim, teruslah memberi makanan mereka, jangan sampai terputus, jangan sampai mereka tidak terurus di depan kalian, aku telah mendengar rasulullah bersabda: Siapa yang menanggung hidup anak yatim sampai bisa bekerja dan mencukupi hidupnya, Allah mewajibkan baginya surga, sebagaimana mewajibkan neraka bagi orang yang memakan anak yatim. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang Al-Qur’an, jangan sampai kalian ketinggalan dalam mengamalkanya dari orang lain, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang tetangga kalian, karena Rasulullah telah berwasiat tentang mereka, dan selalu mewasiatkan sampai kami mengira bahwa tetangga akan mewarisi harta tetangganya. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang rumah-rumah Allah (masjid) jangan sampai kosong dari kehadiaran kalian selama kalian masih hidup, jika kalian meninggalkan rumah-rumah Allah, kalian tidak diberi tenggang lagi dari azab, dan hal yang  didapat dari orang yang pergi ke masjid adalah diampuni dosanya yang telah lalu, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang shalat, karena shalat adalah sebaik-baik amalan, shalat adalah tiang agama. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang zakat, sungguh zakat memadamkan kemarahan Rabb kalian, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang puasa Ramadhan, karena berpuasa pada bulan itu adalah perisai dari api neraka, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang kaum fakir dan miskin, ikutkan mereka dalam kehidupan kalian, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang jihad dengan harta, jiwa dan lisan kalian, karena hanya ada dua macam orang yang berjihad, yaitu imam yang membawa petunjuk, dan orang taat yang mengikuti petunjuk imam, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang keturunan Nabi kalian, jangan sampai mereka dizhalimi di depan mata kalian, sedangkan kalian mampu membela mereka. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang sahabat Nabi kalian, yang tidak berbuat dosa dan tidak melindungi pendosa, karena Rasulullah mewasiatkan mereka, dan melaknat orang yang berbuat jahat di antara mereka, atau melindungi penjahat, juga dari selain mereka. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang wanita dan budak, karena kata-kata akhir Nabi kalian adalah: Aku wasiatkan pada kalian dua golongan lemah, yaitu wanita dan budak. Shalat, shalat, shalat, dan janganlah kalian takut melakukan perintah Allah karena celaan orang, Allah akan membela kalian dari orang yang mengganggu dan menganiaya kalian, ucapkan perkataan yang baik pada manusia, seperti telah diperintahkan oleh Allah. janganlah kalian meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, jika kalian tinggalkan, Allah akan menjadikan bagi kalian pemimpin dari golongan terjelek dari kalian, lalu kalian berdo’a dan tidak dikabulkan. Wahai anakku, hendaknya engkau menyambung hubungan, memberi orang lain dan berbuat baik, hindarilah memutus hubungan, saling membelakangi dan berpecah belah, hendaknya kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan, bertakwalah pada Allah, sesungguhnya hukuman Allah adalah keras, semoga Allah menjaga kalian, seperti menjaga keluarga Nabi dan Nabi-Nya di antara kalian, kutitipkan kalian pada Allah, dan aku membaca Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Lalu Ali terus mengucapkan: Laa Ilaaha Illallah, hingga akhirnya wafat pada malam tanggal 23 Ramadhan, bertepatan malam jumat, tahun 40 H. Wasiat di atas tercantum dalam literatur syiah : Al-Kafi, Man La Yahdhuruhul Faqih, Tuhaful Uqul, Tahdzibul Ahkam, Nahjus Sa’adah, Biharul Anwar, Mustadrak Safinatil Bihar. Wasiat ini tidak ditujukan pada anak-anak Ali saja, tapi pada siapa saja yang membaca surat wasiatnya. Yang perlu kita cermati di sini, Ali berwasiat tentang banyak hal. Ali mengawali wasiatnya dengan wasiat tentang persatuan umat. Lalu dengan Al-Qur’an, shalat, zakat, puasa Ramadhan dan ibadah haji.  tidak ketinggalan Ali berwasiat agar bersikap baik terhadap para sahabat Nabi, berlaku baik pada wanita dan budak, tentang anak yatim, dan amar makruf nahi munkar. Semua poin dalam wasiat ini adalah hal-hal yang sangat penting. Namun Ali tidak menyinggung satu hal yang dianggap penting oleh syi’ah hari ini. Ternyata Ali sama sekali tidak menyinggung masalah imamah. Tidak menyinggung 12 imam, kewajiban mengikuti imam, tidak mewasiatkan pada anak cucunya berikut umat Islam untuk mengikuti 12 imam. Ini satu pertanda bahwa Ali tidak mengenal keyakinan imamah seperti yang dikenal oleh syi’ah hari ini. Ali malah berwasiat untuk bersikap baik kepada para sahabat Nabi, mereka yang dianggap pengkhianat oleh syi’ah. Berwasiat tentang persatuan umat, melarang untuk bermusuhan sesama muslim. Sementara syi’ah menganggap kaum muslim yang tidak meyakini imamah adalah sesat. Ali tidak meyakini imamah sebagaimana diyakini syi’ah hari ini, dan tidak pernah tahu tentang kewajiban beriman pada 12 imam. Kata Ali bin Abi Thalib: “Jika terjadi sesuatu pada Hasan dan Husein, maka yang masih hidup di antara mereka berdua melihat anak cucu Ali , jika ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan padanya jika dia mau.” Jika Ali mengimani adanya 12 imam, sebagaimana syi’ah hari ini, mestinya diserahkan pada Ali bin Husein, bukan salah satu dari anak cucu Ali. Bukankah 12 imam sudah ditunjuk oleh Nabi? Atau Ali, sang pintu ilmu nan ma’shum, kali ini tidak tahu? Memang Ali tidak mengenal ajaran imamah. 
[hakekat/syiahindonesia.com].

Monday, January 5, 2015

Fakta Percakapan ini Termasuk yang Membuat Syi’ah Bungkam

KAMIS, 18 SHAFAR 1436H / DECEMBER 11, 2014
(Panjimas.com) – Suatu hari terjadi dialog antara seorang da’i Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan seorang tokoh kelompok sesat Syi’ah atau Syi’i. Dalam dialog ini, tokoh Syi’ah tersebut mati kutu dan bungkam seribu bahasa dikarenakan kalah argumentasi.
(Sunni) : Apakah menurutmu Abu Bakar itu najis dan khobits (menjijikkan)?
(Syi’i) : iya, tentu!
(Sunni) : Apakah berarti istri Abu Bakar juga khobits? Karena dalam Al-Qur’an disebutkan lelaki khobits untuk wanita (khobits –red) dan begitu pula sebaliknya.
(Syi’i) : Tentu! istri dia juga khobits.
(Sunni) : Tapi ternyata salah satu mantan istri Abu Bakar, dinikahi oleh Ali bin Abi Tholib! Yaitu Asma’ binti ‘Umais, apakah Ali juga khobits?
(Syi’i) : [Agak bingung], Oo.. tidak! jelas tidak! Asma’ dulunya khobits, kemudian dia bertaubat lalu menjadi suci dan dinikahi oleh Ali.
(Sunni) : Berarti sebelum dinikahi oleh Ali, Asma’ seorang wanita yang khobits?
(Syi’i) : Tepat!
(Sunni) : Tapi sebelum dinikahi oleh Abu Bakar, Asma’ ini adalah istrinya Ja’far bin Abi Tholib, saudara kandung Ali! Apakah Ja’far seorang yang khobits?
(Syi’i) : Hah? tentu tidak!
(Sunni) : Kata Anda sebelum dinikahi Ali, Asma’ adalah wanita yang khobits bukan? Jika demikian suami dia juga khobits, yaitu Ja’far! Atau sebenarnya Asma’ ini wanita yang baik, dan suami dia juga baik, yaitu Abu Bakar! Bukan demikian logika yang Anda terapkan? Apa Anda akan mengatakan, “Asma adalah wanita yang baik ketika dinikahi oleh Ja’far, dan menjadi khobits ketika dinikahi oleh Abu Bakar, dan menjadi baik lagi ketika dinikahi oleh Ali? Jadi standar kalian dalam menerapkan kaidah ini bagaimana?
(Syi’i) : [diam tak bersuara].
Dikisahkan oleh Syekh Badar Muhammad Baqir (mantan tokoh Syi’ah yang kini menjadi pakar anti Syi’ah di Kuwait), saat acara Dauroh anti Syi’ah di Ma’had bin Baz Daerah Istimewa Yogkarta (DIY/Jogja), pada tahun 2011. [GA/Faedah dari Ustadz Yasin Aminullah]

Buka juga [ pertanyaan kritis seperti diatas yang membuat syi’ah bungkam ]


                                    


Akidah Syiah Imamiyah : Tanya Jawab Mengenai Rusak dan Bahaya Akidah Syi’ah
Ditulis oleh  Syaikh Abdurrahman bin Sa’d bin Ali Asy Syatsri
                                 NSR akidah syiah S

Sesungguhnya kaum muslimin dahulu berada di atas ajaran Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - yang disampaikan oleh Rasul-Nya berupa petunjuk dan agama yang benar, yang sesuai dengan riwayat yang shahih dan akal sehat. Ketika Amirul Mukminin Khalifah Ar-Rasyid Utsman bin Affan - Rodliallahu Anhu - terbunuh dan terjadi fitnah, maka kaum muslimin saling berperang di Shiffin sehingga terbentuk Al-Mariqah (Al-Mariqah (kelompok yang menyempal) adalah salah satu julukan kelompok Khawarij ) seperti yang telah disabdakan oleh Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - 
“Akan menyempal satu kelompok ketika terjadi perpecahan dari kaum muslimin, akan diperangi oleh salah satu kelompok yang paling dekat kepada kebenaran.” [ HR Muslim no. 2458]
Mereka menyempal pada dua hakim yang mengambil keputusan. Manusia pun berpencar tanpa ada kesepakatan.
Kemudian setelah bidah Khawarij muncullah bidah faham Syiah. Diikuti kemudian bermunculan berbagai kelompok sebagaimana diberita-oleh Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - dalam sejumlah hadits, di antaranya hadits yang diwayatkan oleh Abu Hurairah, dia berkata: "Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda: ” Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu kelompok. Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. [diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad nya no. 5910]

Aliran faham SyiahRafidhah muncul dari daerah Kufah. 0leh karena itu, disebut-dalam sejarah Syiah bahwa tidak ada yang menerima dakwah Syiah diseluruh negeri kaum muslimin, kecuali Kufah.Kemudian setelah itu menyebar ke selain daerah Kufah. Selain itu muncul pula dari Kufah Murjiah, Qadariah, dan Mutazilah. Dari Bashrah muncul metode dalam ibadah dan dari ujung Khurasan muncul faham Jahmiah.
kemunculan bidah-bi'dah ini disebabkan jauhnya wilayah tersebut dari Nabi karena bidah-bidah tidaklah tumbuh berkembang, melainkan di bawah atap kejahilan dan tidak adanya para ulama.
Oleh karena itu Imam Ayyub As-Sakhtiyani - rahimahullah- (w. 131 H) berkata: "Di antara kebahagiaan orang yang baru mengenal Islam dan orang non-Arab adalah ketika Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - memberikannya taufik untuk bertemu dengan alim dari kalangan Ahlus Sunnah." [ lihat: Syarh ushul itiqod ahlussunah 1/60]]
Hal tersebut disebabkan oleh cepatnya mereka terpengaruh oleh hembusan fitnah dan bidah karena lemahnya kemampuan mereka untuk mengenali kesesatan dan menyingkap cacatnya. Sesungguhnya metode terbaik untuk menghadapi bidah dan melawan perpecahan adalah menebarkan sunnah di tengah manusia dan di tengah orang-orang tersesat yang menyimpang darinya. Karena itulah para imam sunnah bangkit untuk perkara ini. Mereka terangkan keadaan kondisi sebenarnya dari para ahli bidah dan mereka bantah syubhat-syubhat mereka. Hal tersebut sebagaimana dilakukan oleh Imam Ahmad dalam membantah orang-orang Zindiq dan Jahmiah. Demikian pula Imam Al-Bukhari dalam membantah Jahmiah, Ibnu Qutaibah (w. 276 H) dalam membantah Jahmiah, Musyabbihah dan Ad-Darimi (w. 280 H) dalam membantah Bisyr Al-Mirrisi dan lain-lainnya.
Kita hidup di zaman di mana negara-negara dunia terbuka satu sama lain, hingga banyak terjadi pencampuran, jumlah kelompok-kelompok sempalan menjamur di tengah kerumunan umat-umat yang mengerumuni kita. Hal tersebut sebagaimana dalam hadits Tsauban maula Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - dia berkata: "Rasulullah bersabda: Hampir kalian akan dikerumuni oleh umat-umat dan segala penjuru sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampan makanan nya. Dia berkata: "Kami berkata: "Wahai Rasulullah, apakah karena hari itu jumlah kami sedikit?" Beliau bersabda: "justru Kalian hari itu banyak. Namun kalian menjadi buih seperti buih banjir. Rasa takut tercabut dari hati musuh-musuh kalian dan di dalam hati kalian terdapat wahan" Dia berkata: "Kami berkata: "Apa itu wahan wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "cinta kehidupan dunia dan benci kematian"
Inilah buku yang berupaya membongkar hakekat kelompok-kelompok sempalan, terutama Syiah Rafidhah Itsna Asyariyyah.
Mungkin ada yang mengatakan, apakah faedah dari menerbitkan buku seperti ini yang mengungkap tentang hakikat ajaran Syiah Itsna Asyariyah, bukankah hal tersebut tidak akan mengubah banyak hal dalam perkara yang telah mengglobal, kecuali atas kehendak Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - ?

Jawabannya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya telah menunjukkan bahwasanya akan senantiasa ada di tengah umat ini satu kelompok yang berpegang kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - dari sisi Allah - Azza Wa Jalla- hingga hari kiamat.
Hal tersebut seperti sabda beliau:
“Akan scnantiasa ada dari umatku satu umat yang tegak dengan perintah Allah tidaklah memudaratkan bagi mereka orang yang menghinakan mereka dan menyelisihi mereka hingga dating perintah Allah, sedang mereka tetap dalam keadaan mereka.” [diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits 3641 (Bab Su'al At-Musyrikin an Yuriyahumun Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Ayahh fa Arahum Insyiqaq Al-Qamar).


Dan umat beliau tidak akan pernah bersatu di atas kesesatan, hal ini Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar bin Khaththab - Rodliallahu Anhu - bahwa Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – bersabda,
“ Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku -atau beliau bersabda- Umat Muhammad di atas kesesatan. Tangan Allah berada di atas Jamaah” [ diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (w. 279 H) hadits 2167 (Bab Ma Ja'a fi Luzum Al-Jama'ah) dan dinyatakan shahih oleh Al Allamah Al-Albani dalam tahqiq beliau atas Misykah Al-Mashabih: 1/ 61 hadits 173]

Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
“Setiap nabi yang diutus oleh Allah pada satu umat sebelumku memiliki para pembela dan shahabat dari kalangan umatnya yang berpegang dengan sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian muncul generasi setelah mereka yang mengucapkan apa yang tidak mereka (pendahulunya) perbuat, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia adalah seorang yang beriman. Barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya maka dia adalah seorangyang beriman. Barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dia adalah seorang yang beriman. Dan kurang dari itu tidak ada keimanan seberat biji sawi pun.”
[Diriwayatkan oleh Muslim hadits 50 (Bab Bayan Kaun An-Nahyi an Al-Munkar min Al-lman wa anna Al-lman Yazid wa Yanqush wa anna Al-Amra bi Al-Ma'ruf wa An-Nahya an Al-Munkar Wajiban]
Mengingkari dengan hati adalah mengimani bahwa hal tersebut adalah munkar dan membencinya. Jika hal ini ada berarti dalam hati terdapat iman. Begitupun sebaliknya, jika dalam hati tidak ada rasa suka kepada kebaikan dan pengingkaran terhadap kemungkaran maka iman tercabut dari hati.
Tidak diragukan lagi jika menjelaskan keadaan kelompok-kelompok yang keluar dari Al-Jamaah dan menyelisihi As-Sunnah merupakan perkara yang bersifat darurat untuk menghilangkan kerancuan antara kebenaran dan kebatilan, menjelaskan kebenaran kepada manusia, menebarkan agama Allah dan menegakkan hujjah atas kelompok yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah. Hal tersebut dimaksudkan agar binasa orang yang binasa dengan kejelasan dan hidup orang yang hidup dengan kejelasan pula. Sesungguhnya kebenaran itu tidak samar bagi seorangpun, namun mereka tersesat karena mengekor hawa nafsu dan pendapat-pendapat yang salah.
Oleh karena itu, sesungguhnya para pengikut kelompok yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah, keadaan mereka antara seorang zindiq atau seorang yang bodoh. Maka sudah menjadi kewajiban untuk mengajari orang yang bodoh dan membongkar kedok seorang zindiq agar dia dikenal dan diwaspadai oleh setiap muslimin.

Menjelaskan tentang keadaan para pemuka bid’ah yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah adalah wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Hingga perrnah ada yang dikatakan kepada imam Ahmad bin Hanbal - rahimahullah- : "Seseorang puasa, shalat dan iktikaf, Apakah itu lebih engkau sukai ataukah dia membicarakan ahli bidah?"
Imam Ahmad menjawab: "Jika dia shalat dan iktikaf, sesungguhnya (manfaatnya) itu untuk dirinya sendiri. Namun, jika dia membicarakan, memperingatkan ahli bidah sesungguhnya manfaatnya untuk kaum muslimin. Ini lebih afdhal.”

Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan ( Anggota Ha’iah Kibar Ulama KSA, Ketua Mahkamah Agung KSA) , berkata :
” Saya nasihatkan kepada setiap orang yang mendapatkan buku ini agar membacanya dengan cermat. Dalam buku ini mereka akan mendapati hal-hal mencengangkan sekaligus "menggelikan" yang akan membuat heran orang-orang yang berakal. Jika mereka membicarakan imam mereka, mereka jadikan imam mereka melampaui para nabi, rasul, dan malaikat, bahkan mereka berbicara tentang malaikat dengan hal-hal yang tidak masuk akal.
Pembaca akan mendapati berbagai hal yang mencengangkan tersebut dalam buku ini, dan bagi orang yang berakal akan berkata: "Apakah kalangan Syiah ini memiliki akal pikiran?"

Adapun mengenai kewalian, mereka berkata:
"Sesungguhnya kewalian itu lebih utama dari shalat, zakat, haji dan puasa."
Ini tercantum dalam salah satu sumber pokok ajaran mereka yakni kitab Al-Kafi. Mereka juga mengatakan tentang hari raya Al-Ghadir:
"Barangsiapa yang mengingkari hari Al Ghadir maka ia telah mengingkari Islam."
Mereka mengklaim bahwa para imam mereka memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang dekat (dengan Allah ) dan tidak pula seorang nabi yang diutus. Mereka menganggap bahwa hal tersebut termasuk perkara yang bersifat pasti dalam ajaran mereka.
Mereka mengklaim bahwa keimaman memiliki kedudukan yang mulia, derajat tinggi dan kekuasaan atas semesta, seluruh alam tunduk kepada kekuasaannya. Lantas manakah kekuasaan dan kedudukan mulia ini untuk menghindarkan mereka dari apa yang telah menimpa mereka dalam berbagai peperangan? Di antara ucapan mereka: "Sesungguhnya seorang alim dari kalangan Syi ah sama seperti Musa dan Harun Bisa jadi diambilnya persamaan dengan Musa dan Harun dikarenakan adanya hubungan lama antara mereka dengan Ibnu Saba Al-Yahudi, wallahu alam.
Sungguh, saya tidak mau mengisyaratkan apa yang dinukil dalam buku ini berupa kesesatan dan musibah. Namun, saya lebih senang jika al tersebut dibaca oleh seorang sunni maupun syiah. Karena tujuan nya adalah agar kebenaran dan tanda-tandanya bisa dikenali, termasuk untuk mengungkap kebatilan dengan segala kesesatan dan kehinaannya. Sesungguhnya penulis merasa senang jika seseorang yang menginginkan kebenaran dari kalangan Syiah mendapatkan hidayah melalui penjelasan kebenaaran, dan agar orang-orang yang berada di atas ajaran yang lurus tidak tergelincir ke dalam pemahaman Syiah.

oIeh karena itu, saya menekankan kepada para penuntut ilmu dan siapapun yang mencintai kemuliaan Islam agar membaca buku ini untuk mengenali jauhnya perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan kaum Syiah Rafidhah.
Sesungguhnya di sini kamiberupaya untuk menerangkan kebenaran agar para penuntut ilmu tersebut menerangkan jalan yang membawa kepadanya. Di samping itu, agar para pengikut sunnah dapat melihat apa yang dikatakan oleh para ulama Syiah tentang Al-Quran, para shahabat, Malaikat, dan wahyu yang menurut mereka belum terputus.
Scsungguhnya satu perkara yang tidak diragukan lagi jika umat Islam -membutuhkan persatuan di atas manhaj yang jelas, kembali kepada Al Quran dan As-Sunnah serta menjadikan orang-orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik yang dapat menjadi teladan.
Risalah ini -meskipun berbentuk tanya jawab- namun para penuntut ilmu membutuhkannya. Hal itu karena buku ini berisi ringkasan yang mengumpulkan dan mengikat akidah kaum tersebut.
Kedua, keistimewaan risalah ini adalah keautentikannya. Setiap riwayat, ucapan, dan nukilan dicatat dari sumber aslinya dalam kitab-kitab kalangan Syiah serta referensi-referensi yang diakui di kalangan mereka.
Ketiga, karena ajaran dan akidah mereka batil dan rusak, dan banyak mengandung kontradiksi. Buku ini dalam beberapa kesempatan berusaha mengisyaratkan hal tersebut dari kitab-kitab mereka sendiri. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk usaha untuk menampakkan kontradiksi yang buruk dalam ajaran mereka, agar dapat menjadi pelajaran orang-orang yang tertipu oleh mereka. Selain itu, sebagai dakwah orang yang menginginkan kebenaran dari kalangan mereka




mengapa basyar asad belum terguling?

January 3, 2015 
Diterbitkan: Senin, 29 Desember 2014
Gensyiah: Faishal Qasim seorang penulis Suriah menuduh bahwa Negara-negara Arab mendukung rezim Bashar al-Assad secara sembunyi-sembunyi untuk menghabisi pejuang Islam (Islamiyyiin).

Faishal Qasim melalui situs jejaring sosialnya, Twitter-nya mengatakan:

الدول العربية التي تدعم بشار من تحت الطاولة تقول له: لا بأس أن تقتل الشعب السوري، وتهجره، وتدمر سوريا طالما أنك تحارب الإرهاب الإسلامي: نحن معك”.
“Negara-negara Arab mendukung Bashar dari bawah meja, mereka mengatakan kepada Bashar: Tidak apa-apa Anda membunuh rakyat Suriah, dan mengusirnya, serta menghancurkan Suriah selama Anda memerangi terorisme Islam maka Kami bersama Anda”
Di sisi lain, Qasim mengatakan bahwa Bashar al-Assad mendapat dukungan dan sokongan dari beberapa pihak untuk memastikan keselamatannya.

Jurnalis Suriah itu mengatakan sinis: “Sebagian besar rezim Arab memiliki satu polisi asuransi Amerika, sedangkan Bashar al-Assad ia memiliki empat polisi asuransi: “Amerika, Rusia, Iran dan Israel”

Jika ditambahkan dengan yang atas tadi maka menjadi lima polisi asuransi.
Namun sunnatullah pasti berjalan, tidak ada yang bisa menghalangi sedikitpun meskipun seluruh jin dan manusia melindungi Bashar asad, orang zhalim pasti akan runtuh, pemimpin kejam pasti akan jatuh. Hanya menunggu ajal.

Benang Kusut Konflik Suriah

Keterlibatan banyak pihak dalam perang sipil di Suriah semakin memperuncing permasalahan. Pihak-pihak yang bertikai hanya mengutamakan kepentingan mereka masing-masing, akibatnya solusi damai pun sulit tercapai.
Konflik Suriah bagaikan benang kusut yang sulit diurai. Menginjak awal 2015, genap empat tahun lamanya konflik yang berubah menjadi perang sipil itu. Akibat perang itu, Suriah tidak lagi tampak sebagai sebuah negara, melainkan seperti sebuah medan pertempuran dengan hujan bom hampir setiap hari. Sesungguhnya, dunia tidak tinggal diam atas kemelut yang dihadapi Suriah. Pada 2014, misalnya, Amerika Serikat (AS) berhasil memasuki Suriah setelah tiga tahun negeri itu kacau karena konflik tak berkesudahan. Sayangnya, kehadiran AS nyaris tak berarti apa-apa. Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang didesak mengundurkan diri oleh Presiden AS, Barack Obama, sesuai tuntutan oposisi Suriah, memilih tak bergeming. Orang nomor satu di Suriah itu tidak mau melepaskan jabatannya.
Akibat perang sipil tersebut, tercatat lebih dari 200 ribu orang meninggal dunia dan jutaan orang mengungsi. Perang sipil juga berimbas pada anjloknya harga minyak mentah. Situasi ekonomi yang pelik itu membuat fraksi-fraksi di tubuh Pemerintah Suriah semakin sulit mengambil keputusan yang bisa menguntungkan pihak-pihak berkepentingan. Upaya untuk menemukan sebuah solusi politik yang ditekankan oleh dunia internasional pun belum membuahkan hasil. Langkah-langkah penyelesaian konflik antara Bashar al-Assad dengan lawan-lawan politiknya tak pernah menemukan titik temu. Perang sipil Suriah semakin runyam saat kelompok anti-Assad terbesar di sana, yang umumnya pemberontak garis keras seperti Islamic State (ISIS), Nusra Front, dan sekutu-sekutu al-Qaeda melakukan pemberontakan habis-habisan.
Mereka bahkan disebut-sebut mendapat dukungan dari Barat, sedangkan Presiden Assad didukung oleh Rusia dan Iran. Para analis politik mengatakan negara-negara Barat, bahkan musuh-musuh Presiden Assad dari negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, melihat perang sipil di Suriah sulit dicari jalan keluarnya. Perang tersebut, seperti tanpa pilihan. “Arab Saudi sudah tidak lagi memberikan dukungan kepada oposisi. Mereka tahu, memberikan dukungan sama saja dengan memberi angin pada ISIS, Nusra, dan antek-anteknya. Mereka tidak punya pilihan ketiga sehingga dukungan pun menguap,” kata Nasser Qandil, editor surat kabar di Libanon pada al-Jazeera pekan lalu.
Saat ini, kata Qandil, banyak “pemain” regional dan mungkin negara- negara Barat memilih posisi mundur. Mereka meninggalkan para pemberontak Suriah untuk melakukan perlawanan sendiri. Perubahan sikap pun diperlihatkan oleh Washington yang mendadak mendukung Presiden Assad secara “moderat” dan menjadikannya bagian dari strategi. Sebagai bentuk nyata pilihannya tersebut, AS membantu Angkatan Udara Suriah dengan menjatuhkan bom hampir setiap hari di kantung-kantung pertahanan ISIS. Mereka juga menyerang kelompok Nusra Front. Kepentingan Masing-masing Para pemberontak Suriah yang dulu mati-matian dibela negara-negara Barat untuk menjatuhkan Presiden Assad, kini terbelah-belah hingga ratusan kelompok. Mereka saling bersaing, memperjuangkan kepentingan masing-masing.
Selain AS, militan Kurdi di wilayah timur laut juga ikut memerangi ISIS. Mereka bahkan berkoalisi dengan militer AS. Hanya, upaya mereka belum membuahkan hasil. Pihak ISIS masih bercokol kuat di Suriah, bahkan Irak. Militer Suriah sejak awal meletupnya konflik sebenarnya sudah habis-habisan memerangi mereka. “Semakin banyak kelompok-kelompok yang berperang, maka ketegangan semakin meningkat di Suriah. Situasi ini tentu kian sulit dikendalikan oleh Pemerintah Suriah sekaligus menambah tekanan terhadap rezim. Pada 2015, saya memproyeksikan akan terjadi kekacauan total di Suriah,” ujar Lina Khatib, Direktur Carnegie Middle East Center di Beirut, Libanon.
Terkait situasi di Suriah, tidak sedikit pula analis politik yang mengatakan serangan udara yang dilakukan AS terhadap ISIS bukan hanya mengincar kelompok itu, tetapi untuk mengambil alih Suriah secara perlahan. Sejumlah pemberontak “moderat” atau non-jihadis bahkan berharap tindakan militer AS tersebut bisa berubah jadi menyerang Presiden Assad. Runyamnya perang sipil di Suriah terlihat pula dari dua utusan perdamaian PBB yang memilih mengundurkan diri. Utusan perdamaian PBB untuk Suriah yang baru, Staffan de Mistura, terang-terangan mengakui sulit menemukan solusi dari konflik Suriah sekarang ini.
Pasalnya, selama ini bukan kesepakatan yang dicapai, melainkan kebekuan. Upaya genjatan senjata sama sekali tidak berjalan. Rencana yang dibuat dimentahkan oleh realitas Suriah terbelah dalam ratusan fraksi-fraksi daerah. Kondisi tersebut tentunya semakin membuat solusi damai bagi Suriah jauh panggang dari api. Jika hal itu terus berlangsung, entah akan seperti apa masa depan Suriah.
suci sekarwati




Sunday, January 4, 2015

Tujuh Kebohongan dalam Iklan Syi’ah di Republika

oleh: Fahmi Salim, MA
Ilustrasi assunnahfm
·        Ahlusunnah sudah punya pengalaman pahit dan berulang-ulang dengan gaya distorsi Syiah semacam ini. Jauh sebelumnya, syiah telah memalsukan kitab Al-Imamah wa Al-Siyasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaybah (tokoh Ahlusunnah) padahal itu sebuah dusta. Sebab yang menulisnya adalah ulama Syiah yang namanya mirip Ibnu Qutaybah. Skandal ini sudah lama diungkap oleh para pakar sejarah.
·         Demikian pula kitab Al-Muraja’at  (di Indonesia dg judul Dialog sunni –syiah, red NM) yang isinya surat menyurat palsu yang dikarang oleh Abdul Husen Syarafudin Musawi yang kemudian dinisbatkan kepada Syeikh Al-Azhar, Salim al-Bisyri. Skandal ini juga sudah diungkap oleh para ulama al-Azhar dan para pembantu terdekat Syeikh Sali
·         Pihak Syiah juga selalu menggiring opini bahwa politik adu domba antara Sunni-Syiah adalah selalu Wahabi di belakangnya. Opini seperti itu terlalu kerdil dan terlampau menyederhankan persoalan. Sebab penentang Syiah bukanlah cuma Wahabi, tapi seluruh ulama 4 mazhab…
·        … bahkan juga dari pemuka Habaib Ahlul Bait di Indonesia seperti Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (1906-1969, lahir di Surabaya dan dimakamkan di Komplek Al-Hawi Jakarta) menulis kitab “Ar-Ra’at Al-Ghamidhoh fi Naqdh Kalam Ar-Rofidhoh”. Habib Salim bahkan mengkafirkan Syiah Rofidhoh karena telah dianggap mencaci para khulafa’ rasyidin di dalam kitab tersebut (h.7-8 dan 11), padahal jelas Habib Salim bukan pengikut Wahabi tapi Sunni-Syafi’i seperti layaknya ulama-ulama Hadramaut.
***
HARI Kamis (09/02/2012), harian Republika, memuat iklan “terselubung” dari Yayasan Muslim Indonesia Bersatu (YMIB)  berjudul ”MELAWAN POLITIK ADU DOMBA DENGAN PERSATUAN UMAT”. (Artikel ini juga dikutip situs Syiah, IRIB). Tulisan setengah halaman ini berisi ajakan taqrib (pendekatan) Sunni-Syiah.  Iklan  berisi ajakan membangun persatuan ummat, khususnya antara Muslim Ahlu Sunnah wal-Jamaah dengan pengikut Syiah ini juga mengutip pernyataan berbagai ulama Sunni, seolah-olah nampak indah. Agar tak berpotensi menjadi distorsi, berikut kami tulis tujuh catatan penting.
Pertama. Menyatakan Sunnah Syiah adalah dua mazhab besar dalam Islam adalah kebohongan publik, sebab faktanya Syiah bukan mazhab seperti yang dikenal dalam Islam, tapi  firqoh/sekte yang suka menyamar dengan istilah mazhab Ahlul Bait atau mazhab Jakfari, jumlah mereka pun tak bisa dikatakan besar sebab Cuma 10% dari total 1,6 miliar Muslim dunia.
Kedua. Syiah Imamiyah 12 suka mengklaim dan menyamar dengan sebutan mazhab Jakfari, ini juga kebohongan public. Sebab faktanya, Imam Jakfar as-shodiq tak pernah mendirikan mazhab fiqih sebagaimana lazimnya sebab beliau tidak meninggalkan karya tulis fiqih/ushulfiqh/musnad hadits seperti halnya para imam mazhab arba’ah (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad). Istilah mazhab Jakfari lebih tepat disebut mitos. Lagipula perbedaan Sunni Syiah lebih besar bukan pada perbedaan/ikhtilaf fiqih/furu’iyah, tapi lebih besar pada perbedaan ushul/pokok seperi akidah imamah, tahrif al-Quran, pengkafiran para sahabat dan ummahat mukminin dll.
Ketiga. Penilaian sesat tidaknya suatu aliran/sekte itu jelas patokannya harus ditimbang dengan dalil-dalil al-Quran dan Sunnah Nabi, jika sesuai berarti benar, dan jika bertentangan berarti salah (sesat). Penilaian itu bukan hak orang perorang, tapi sudah jelas kriteria dan mekanismenya.
Keempat. Sebelum ada gerakan taqrib antar mazhab, seluruh ulama sepakat menyatakan bahwa semua sekte Syiah, termasuk Zaidiyah (yang moderat sekalipun), dinilai sesat, apalagi Imamiyah 12 sejak era tabi’in sudah dibilang sesat sampai sekarang. Di era modern, ulama Sunni yang awalnya mendukung upaya taqrib seperti Hasan Albanna, dan Syeih Al Azhar Mahmud Syaltut itu berangkat dari husnuzhon dan terprovokasi oleh isu persatuan Islam melawan musuh bersama, apalagi ulama Mesir tidak bersinggungan langsung dengan komunitas Syiah, karena memang sudah lama punah sejak masa Shalahudin al Ayyubi berkuasa dan merubah orientasi Al Azhar yang tadinya pusat penyebaran Syiah Ismailiyah Rofidhoh menjadi Sunni 100%.
Namun berbeda dengan ulama-ulama dan tokoh Al Ikhwan al Muslimun yang tinggal di Suriah dan Libanon seperti Musthofa As-Siba’i, Said Hawa dll yang mengetahui persis sepak terjang kesesatan Syiah Imamiyah sama seperti yang tertera dalam kitab-kitab Milal Wa Nihal, contoh Musthofa Siba’i kecewa dan marah besar dengan Syarafudin Abdul Husen Musawi yang mengajak ukhuwah dan persatuan Sunni-Syiah ternyata setelah itu, dia (Syarafudin, red NM) menulis buku yang menghantam dan mencaci maki Abu Hurairoh RA sebagai perawi hadist terbanyak. Akhirnya beliau (As-Siba’i, red NM) menolak seruan taqrib karena ibarat orang mengajak salaman berbaikan, tapi kakinya malah menendang dan mulutnya meludahi kita (Sunni) dengan menebar kebencian kepada para sahabat Nabi. (Pengalaman beliau ini ditulis dalam kitab Assunnah Wa Makanatuha Fi Tasyri’ Islami)
Kelima. Terkait fatwa Syeikh Mahmud Syaltut, ini juga distorsi Syiah. Sebagai fatwa, hal itu tidak pernah dimuat secara resmi dalam kitab-kitab fatwa Mahmud Syaltut yang dihimpun oleh Syeih Qaradhawi atas perintah dan supervisi Syeikh Syaltut, tapi sebatas pernyataan saat diwawancarai soal mazhab Jakfari, di mana beliau nyatakan boleh beribadah dengan mazhab fiqih Jakfari –bukan akidah imamiyahnya— yang kemudian ditranskip dan diedarkan luas oleh majalah Risalah Islam yang menjadi corong organisasi taqrib yang awalnya berbasis di Kairo.
Ahlusunnah sudah punya pengalaman pahit dan berulang-ulang dengan gaya distorsi Syiah semacam ini. Jauh sebelumnya, mereka telah memalsukan kitab Al-Imamah wa Al-Siyasah yang dinisbatkan kepada Ibnu Qutaybah (tokoh Ahlusunnah) padahal itu sebuah dusta. Sebab yang menulisnya adalah ulama Syiah yang namanya mirip Ibnu Qutaybah. Skandal ini sudah lama diungkap oleh para pakar sejarah.
Demikian pula kitab Al-Muraja’at  (di Indonesia dg judul Dialog sunni –syiah, red NM) yang isinya surat menyurat palsu yang dikarang oleh Abdul Husen Syarafudin Musawi yang kemudian dinisbatkan kepada Syeikh Al-Azhar, Salim al-Bisyri. Skandal ini juga sudah diungkap oleh para ulama al-Azhar dan para pembantu terdekat Syeikh Salim. Apalagi hanya sekedar hasil wawancara yang diasosiasikan sebagai fatwa, ini tentu jadi pertanyaan besar, sebab dalam  fatwa Syaltut yang resmi tentang nikah mut’ah, beliau tegas mengharamkan seperti dalil-dalil Ahlusunnah dan menegaskan bahwa jika ada agama yang menghalalkan nikah semacam itu maka mustahil itu bersumber dari Allah Tuhan semesta alam.
Jadi sungguh tidak logis dan mustahil beliau berfatwa membolehkan mengambil mazhab Jakfari-Syiah Imamiyah yang artinya sama saja menghalalkan kawin mut’ah yang beliau haramkan.
Keenam. Isu persatuan umat yang diopinikan Syiah amat lucu dan aneh. Bagaimana Sunni bisa menerima ajakan persatuan itu sementara fakta buku-buku Syiah yang beredar bicara lain, banyak berisi hujatan dan fitnah kepada para sahabat dan istri-istri Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Sebut saja buku “Dialog Sunnah-Syiah”, “40 Masalah Syiah”, “Saqifah dan Kecuali Ali”.
Syiah sering pula mengopinikan adu-domba yang didalangi Zionis dan Amerika. Perlu dicatat, bahwa penilaian terhadap kesesatan Syiah dengan segala sektenya, telah ada jauh lebih dulu sebelum lahirnya Zionisme dan negara Amerika. Jadi, umat tidak bisa ditipu dengan jargon-jargon semacam itu.
Kejadian di Sampang adalah bukti otentik bahwa hal itu murni karena profokasi da’i-da’i  Syiah yang menuduh al-Qur’an palsu dan mencaci maki sahabat dan istri Nabi, sehingga menimbulkan kemarahan warga Sampang yang dikenal taat beragama dan penganut Sunni-NU.
Ketujuh. Di sisi lain, pihak Syiah juga selalu menggiring opini bahwa politik adu domba antara Sunni-Syiah adalah selalu Wahabi di belakangnya. Opini seperti itu terlalu kerdil dan terlampau menyederhankan persoalan. Sebab penentang Syiah bukanlah cuma Wahabi, tapi seluruh ulama 4 mazhab, ulama Asy’ariyah dalam teologi, ulama Sufiyah seperti; Abdul Qadir Al-Jailani menulis kitab “Al-Ghunyah” yang mengkritik habis sekte Syiah, mulai dari ujung Barat seperti Ibnu Hazm (Andalusi) sampai paling Timur, Abulhasan Annadawi (India). Juga telah mengkritik Syiah tak kalah kerasnya di  Indonesia dan yang paling keras menyesatkan Syiah adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dalam berbagai kitab yang beliau tulis (Muqaddimah Qanun Asasi, Risalah Ahlisunnah wal Jamaah, Risalah fi Ta’akkud al-Akhdz bil Mazahib al-Arba’ah dll) bahkan juga dari pemuka Habaib Ahlul Bait di Indonesia seperti Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (1906-1969, lahir di Surabaya dan dimakamkan di Komplek Al-Hawi Jakarta) menulis kitab “Ar-Ra’at Al-Ghamidhoh fi Naqdh Kalam Ar-Rofidhoh”. Habib Salim bahkan mengkafirkan Syiah Rofidhoh karena telah dianggap mencaci para khulafa’ rasyidin di dalam kitab tsb (h.7-8 dan 11), padahal jelas Habib Salim bukan pengikut Wahabi tapi Sunni-Syafi’i seperti layaknya ulama-ulama Hadramaut.
Meski kita Ahlussunah berbeda dengan Syiah dalam banyak hal, tapi bisa bekerjasama dalam hal-hal keduniaan, dengan catatan tidak memanfaatkan kerjasama dan hubungan itu dengan upaya tasyi’(melakukan Syiahisasi) terhadap penganut Sunni di Indonesia. Yang juga lebih penting, sudah tak ada lagi buku-buku bernuansa caci-maki dan fitnah terhadap sahabat dan Ahlul Bayt (istri Nabi). Jika hal ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin, di lapangan akan melahirkan resistensi mayoritas Sunni di kemudian hari.  Semoga Allah menunjuki kita ke jalan yang lurus dan benar, amiin.*
Penulis adalah Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)
Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar
Diambil dari hidayatullah.com, Jum’at, 10 Februari 2012, dalam judul  Distorsi Syiah Dibalik Ajakan “Persatuan” Umat
By nahimunkar.com on 11 February 2012