Monday, April 20, 2015

KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’ [2]

                                                                              
                                                  KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’ [2]
Selasa, 21 April 2015 - 09:26 WIB
Seorang Muslim, jika hatinya ke Makkah maka akalnya ke Madinah, bukan ke Amerika, demikian Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, mengistilahkan
Sambungan dari artikel PERTAMA
Oleh: Muhammad Saad
Kedua, karena misi para liberalis dan Syiah terancam, mereka rupanya tidak segan-segan melakukan berbagai macam fitnah terhadap pejuang ‘NU Garis Lurus’ ini guna menjagal aktivitas dakwahnya.
Dari tuduhan bahwa ‘NU Garis Lurus’ kemasukan kelompok Salafy, sebagaimana fitnahan dalam tulisan M. Alim yang dimuat dalam situs resmi NU www.nu.or.id  berjudul “Meluruskan “NU Garis Lurus”.
Dalam artikel yang ditulis dengan emosional dan tanpa referensi ini, penulis mengatakan dua hal;
Pertama, ‘NU Garis Lurus’ adalah mengesankan bahwa NU struktural adalah NU yang tidak lurus. Kedua, ‘NU Garis Lurus’ merupakan bentukan untuk menandingi aliran-aliran yang dianggap sesat semisal liberalisme dan Syiah yang ada di dalam tubuh NU struktural.
Sangatlah tidak benar keberadaan ‘NU Garis Lurus’ menganggap NU struktural tidak lurus. Jika yang dimaksud adalah NU yang dicita-citakan oleh KH Hasyim Asy’ari, yaitu NU yang tegas kepada aliran-aliran  sesat, sebagaimana hal itu tertorehkan ketegasan beliau dalam kitabRisalah Ahlusunnah wal-Jamaah, dimana di dalam kitab tersebut beliau mengkritik kelompok yang suka mengkafirkan, penganut Syiah imamiyah, penganut aliran kebatinan dan pengikut aliran tasawwuf menyimpang dengan konsep manunggaling kawulo gusti [Hasyim Asya’ri, “Risalah ahlusunnah wal Jamaah”, baca Maktabah al-Turats al-Islamy hal. 09), maka ‘NU Garis Lurus’ tidak akan ada keberadaanya.
Kenyataanya, tubuh NU saat ini mulai sakit terserang faham-faham menyesatkan yaitu liberalisme [baca: “As’ad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi”, http://www.nu.or.id/).
Bahkan kepemimpinan NU saat ini dipegang oleh oknum yang ternjangkit virus paham Syiah sekaligus liberal.
Hal inilah yang kemudian membangkitakan ulama-ulama NU yang masih murni akidahnya termasuk KH Lutfi Bashori agar bisa ‘mengobati’ NU dan memberasihkan dari faham-faham merusak Aswaja.
Istilah ‘NU Garis Lurus’ sendiri menurut Kiai Lutfi Bashori adalah untuk membedakan dengan NU yang terkena faham muhaddamah [rusak) dan yang masih murni.
Pengasuh Ribath al-Murtadha ini pernah menyatakan, “Sedangkan kata Garis Lurus adalah untuk membedakan dari warga NU –bahkan sebagian tokoh NU– yang sudah keluar dari ajaran akidah KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU.” [Lutfi Bashori Alwi, “Panduan Aswaja Garis Lurus”, hal. 1-3).
Padahal KH. Hasyim Asy’ari menegaskan NU adalah organisasi yang berhalauan akidah Aswaja, dan menjadikan salah satu madzhab empat yang ada di aswaja [Madzhab Syafii) sebagai madzhabnya [Hasyim Asy’ari, Ziyadah ta’liqat, hal. 24). Sedangkan Aswaja menurut Syeikh Hasyim dengan mengutip pendapat Syeikh Syihab al-Khafaji adalah firqatu al-Najiyyahyang disebutkan dalam hadits. [ Dalam Risalah Ahlusuunnah wal-jamaah, hal. 23)
Keberadaan “NU Garis Lurus” bukanlah untuk menandingi faham-faham yang dianggap sesat yang menjadi benalu di tubuh NU. Justru keberadaan “NU Garis Lurus” sebagaimana penulis sebutkan tadi, ialah, untuk meneruskan misi KH Hasyim Asy’ari membersihakan faham-faham yang diyakini kesesatan-nya.
Faham-faham semisal SePILIS dan Syiah, dalam pandangan Islam bukan faham yang diduga kesesatannya sebagaimana yang ditulis oleh M. Alim.
Eksistensi Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme (SePILIS) benar-benar telah mendekonstruksi akidah dan syariah Islam serta mendegradasi akhlak kaum Muslimin.
Jika sekulerisme bertujuan menghilangkan peran agama dalam kehidupan masyarakat, pluralisme ingin menyamakan semua agama memiliki kebenaran, maka liberalisme adalah memayungi kedua paham tersebut.
Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, peneliti INSISTS menyebut 5 tanda orang/golongan berpaham liberal;
“Mengatakan bahwa liberalisasi dalam dunia Islam ditandai dengan, pertama, gugatan terhadap Al-Qur’an. Kedua, pembelaan aliran sesat ketiga, mendahulukan akal manusia daripada Tuhan. Keempat, mendukung relativisme yang berujung pada pluralisme agama. Kelima, mempromosikan skeptisisme.” [Hamid Fahmi Zarkasy dalam Misykat, [sub judul “Evil of Liberalisme”, hal. 152).
Belum lagi Syiah dengan konsep imamahnya telah melahirkan konsep takfir kepada para sahabat mulya Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wassallam.
Konsep imamah yang berujung pada takfir sahabat, berlanjut kepada pengkafiran kepada Aswaja atas pembelaannya kepada para Sahabat. Hal ini yang kemudian menimbulkan chaos antar kelompok di level bawah, bahkan sampai pembantaian.
Meminjam istilah  KH Lutfi Bashori Alwi, bahwa okmum NU yang geram dengan keberadaan “NU Garis Lurus”,   adalah  warga nahdhiyin yang terindikasi penyakit liberal tanpa sadar, karena fanatik buta.
Menurut murid dari Prof. Dr Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki ini, mereka sebenarnya secara amaliah dalam beriabadah adalah sama dengan nahdhiyin lainnya. Namun mereka liberal dalam berwacana. Hal ini yang bermasalah.  Di mana akal dan hatinya berbeda dalam beraktifitas. Doktrin demikian lahir dari aliran filsafat dualisme. Orang yang demikian adalah orang yang liberal tanpa sadar.
Istilah Dr Adian Husaini, mereka adalah Golongan Bingung [Golbing) [Dr Adian Husaini, “Islam Ragu-ragu” versi Rektor UIN Yogya – Hidayatullah.com).
Padahal Islam adalah agama tauhid. Islam bukan saja doktrin, tapi Islam adalah worldview. Karena Islam ajaran tauhid, maka cara pandang [worldview) seorang Muslim adalah tauhidi. Hati, alam pikiran dan amaliyah seorang Muslim selalu integral.
Seorang Muslim, jika hatinya ke Makkah maka akalnya ke Madinah, bukan ke Amerika, demikian Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, mengistilahkan. [Orasi  Ilmiah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, “Sinergi Membangun Peradaban Islam” di http://kholilihasib.com). Wallahu a’alam Bishawwab.*
Penulis adalah warna NU, alumni PP Aqdaamul Ulama’ Pandaan-Pasuruan, Anggota Pejuang Aswaja Garis Lurus

ASWAJA Garis Lurus: Pemerintah Bisa Larang Aktivitas Syiah
Ahad, 15 Februari 2015 - 13:27 WIB
Pemerintah bisa melarang berkembangnya Syiah serta segera menutup segala aktifitas yang berafiliasi kepada ajaran Syiah
Pejuang Ahlus Sunnah (ASWAJA) Garis Lurus, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari Malang, KH. Luthfi Bashori Alwi mengatakan peristiwa penyerangan gerombolan pembela Syiah terhadap jama’ah majelis Az-Zikra adalah bukti Syiah merupakan berbeda dengan Ahlus Sunnah.
“Islam Indonesia adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sesuai peninggalan Wali Songo,” kata KH Luthfi kepada hidayatullah.com, Sabtu (14/02/2015).
Karena itu, menurutnya, karena Indonesia adalah Negara Ahlu Sunnah, lebih baik penganut Syiah bisa bergabung dengan Negara Syiah, di Iran.
“Di sanalah Syiah menjadi agama resmi bagi negara Iran,” tegas KH Luthfi yang juga Ketua Komisi Hukum dan Fatwa MUI Malang.
Demi keutuhan NKRI sebagai Bumi Ahlus Sunnah wal Jamaah yang berdaulat, maka kata KH Luthfi sudah seharusnya pemerintah baik pusat maupun provinsi lebih mendahulukan kepentingan ketentraman umat Islam mainstream.
“Langkah yang bisa dilakukan pemerintah antara lain dengan cara melarang berkembangnya Syiah di Indonesia serta segera menutup segala aktifitas yang berafiliasi kepada ajaran Syiah,” tutup murid Syeikh Muhammad Alawi al-Maliki, Makkah al-Mukarrama ini.*
Perbedaan Sunni – Syiah Cukup Banyak, Sampai Tataran Konsep Syariah
“Media-media mainstream tidak banyak yang mengerti Syiah. Kita baca jika ada berita konflik Sunni-Syiah, media mainstream tidak mencari sebab, tapi mereka manampilkan akibanya saja.”
Orang Sunni yang mengatakan Ahlus Sunnah sama dengan Syiah seharusnya melihat bagaimana Syiah itu menilai tentang Ahlus Sunnah. Kenyataannya, mereka membenci Ahlus Sunnah.
Demikian salah satu pernyataan  KH. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi pada acara bedah buku “Teologi dan Ajaran Syiah Menurut Referensi Induknya”, Jum’at kemarin (30/01/2015) di Hotel Elmi Surabaya.
“Dalam buku ini kita beberkan Syiah secara ilmiah apa adanya dari syari’ah sampai akidah,” tegas putra pendiri Pesantren Gontor tersebut.
Hamid menilai perbedaan Ahlus Sunnah dengan Syiah cukup banyak. Tidak hanya akidah yang telah jelas itu, tetapi sampai pada tataran konsep-konsep syariahnya berbeda.
“Syiah itu berbeda  dari beberapa sisi. Seperti tentang isu tahrif al-Qur’an, Sahabat Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wassalam dan syariat. Mereka misalnya, mengkafirkan semua Sahabat kecuali tiga”, tambahnya.
Dalam keterangannya, Hamid mempertanyakan kampanye Syiah yang mengajak bersatu dengan Ahlus Sunnah.
“Kenapa Syiah sekarang mau menyama-nyamakan dengan Ahlus Sunnah. Sementara di sana (Iran – pen)  mereka justru membeda-bedakan. Jumlah Sinagog Yahudi lebih banyak dengan jumlah masjid Sunni,” kata direktur INSISTS itu.
Bagi Hamid, buku-buku induk Syiah perlu diungkap.
Katanya, semakin banyak ajaran Syiah yang diungkap, masyarakat mulai memahami bahwa teologi Syiah menyimpan kebencian terhadap pengikut Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wassalam, yaitu Ahlus Sunnah.
Pernyataan Hamid itu ditegaskan oleh Idrus Ramli dari Aswaja Center PWNU Jawa Timur itu.
“Kita menyampaikan apa adanya tentang Syiah. Bahwa Syiah mengandung bid’ah. Dalam bid’ah Syiah itu ada yang dhalal (sesat) dan ada yang sampai pada kekufuran,” ujar pakarnya.
“Jika kita baca kitab-kitab Syiah, akan ditemukan mengaku sendiri bahwa Tuhan Syiah tidak sama dengan Tuhan yang disembah orang Sunni. Itu seperti dikatakan sendiri oleh Ni’matullah al-Jazairi,” ujar kiai alumni pesantren Sidogiri Pasuruan ini.
Idrus Ramli dalam kesempatan ini banyak menerangkan tentang Ahlul Bait yang sering dijadikan Syiah sarana kampanye.
“Yang membela dan mencintai Ahlul Bait adalah Ahlus Sunnah bukan Syiah. Ahlus Sunnah memasukkan istri nabi sebagai Ahlul Bait, sedangkan Syiah meyakini istri nabi bukan Ahlul Bait. Syiah ini merusak Ahlul Bait,” tambahnya.
Idrus menilai Syiah tidak layak mengaku pengikut Ahlul Bait apalagi pecintanya. Sebab, Syiah sebenarnya tidak punya sanad ke Ahlul Bait.
“Justru sebaliknya, semua imam madzhab dalam Ahlus Sunnah pernah berguru kepada Ahlul Bait. Seperti imam Hanafi, Maliki, Syafi’i belajar ke ulama dari Ahlul Bait Sunni” tegas kiai asal Jember.
Sementara pemateri ketiga disampaikan oleh Henri Shalahuddin, MA. Henri yang juga editor bukut tersebut berpendapat bahwa ajaran Syiah itu banyak yang aneh-aneh dan tidak rasional.
“Memang, kalau baca fatwa-fatwa dan kitab mereka, banyak sekali yang aneh”, ujarnya.
Dalam keterangannya ia menampilkan gambar-gambar dan scan kitab dalam slide yang atraktif.
Dalam bedah buku ini juga dihadiri oleh Dr. Adian Husaini dan Herry Mohammad, redaktur senior Majalah Gatra.
Menanggapi keterangan Henry, menurut Adian, meski banyak ajaran yang aneh tapi yang lebih aneh di Indonesia banyak yang suka keanehan.
Logika mereka juga terlalu rendah untuk didebat.
“Jangan terlalu melayani mereka. Kita perlu bentengi Sunni”, tegas Adian
Karena itu saran Adian, kita tidak hanya sampai membeberkan keanehan-keanehan itu saja namun sudah saatnya harus menyadarkan Syiah.
“Sekarang kita perlu bentuk dai-dai muda yang bisa menyadarkan Syiah. Kita ajari mahasiswa misalnya untuk bisa mensunnikan kembali Syiah,” ujarnya.
Herry Mohammad dalam kesempatan ini mengapresiasi buku yang diterbitkan (Institute for Study of Islamic Thought and Civilization) INSISTS itu.
“Ini satu-satunya buku di Indonesia tentang Syiah yang disajikan secara ensiklopedis dengan bahasa ilmiah,” kata wartawan senior ini.
Kata dia, kita mencari tema-tema pokok Syiah apa saja bisa didapatkan di buku ini.
Secara khusus, buku ini kata Herry diharapkan bisa menjadi rujukan utama memahami Syiah. Terutama untuk para insan media.
“Media-media mainstream tidak banyak yang mengerti Syiah. Kita baca jika ada berita konflik Sunni-Syiah, media mainstream tidak mencari sebab, tapi mereka manampilkan akibanya saja.”
Padahal, baginya, media harus tahu penyebab utama terjadinya gesekan Syiah tersebut.
Bedah buku ini diselenggarakan oleh Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya bekerja sama dengan INSISTS dan MIUMI Jawa Timur.
Buku Teologi dan Ajaran Syiah Menurut Referensi Induknya merupakan kumpulan artikel ilmiah yang ditulis oleh delapan belas penulis. Mengupas seluk-beluk ajaran Syiah dengan merujuk kepada referensi induk mereka.*
baca juga :




KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’ [1]

                                                                                          
                                  KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’ [1]
Selasa, 21 April 2015 - 08:58 WIB
Kaum SePILIS dan Syiah meradang, sebab kesesatan dua faham yang menjadi benalu di tubuh NU ini dibongkar oleh NU Garis Lurus
Oleh: Muhammad Saad
BARU-BARU ini kelompok aktivis muda Nahdhatul Ulama (NU) mengaku resah atas fenomena lahirnya “NU Garis Lurus”. Kelompok yang semula hanya muncul di akun Facebook dantwitter ini tiba-tiba pamornya naik.
Alih-alih dinilai banyak meresahkan para aktivis NU muda, kegeraman terhadap “NU Garis Lurus” yang dipromosikan di jejaring social membuat namanya kita melejit. Belakangan, kelompok ini juga melahirkan laman internet dengan alamat;www.nugarislurus.com.
Sebelum ini, fenoma “NU Garis Lurus” telah membuat banyak kalangan seolah kebakaran jenggot.
Sebut saja misalnya aktivis liberal yang juga aktiv di PDI-P, Zuhairi Misrawi dalam kicauannya di twitter tanggal 04 April 2015  mengatakan, dirinya baru membolikir NU Garis Lurus yang dituduhnya sebagai Wahabi dan PKS, “Baru memblokir akun NU Garis Lurus yang mengaku NU, tapi kicauannya mirip Wahabi dan PKS.”
Mungkin karena geram, dua hari setelah itu, 6 April 2015 ia mengaku telah memblokir akun NU Garis Lurus dan twitternya. “Setelah ada akun dan web NU Garis Lurus yang ingin wahabisasi NU,kini muncul antitesanya @NUgarislucu :),” ujarnya.
Fenomena NU Garis Lurus tak hanya meresahkan Zuhairi. KH Misbahul Munir (LDNU) berkomentar, “Hari hari ini mulai ada NU Garis Lurus, heran juga. Masuk NU harusnya niat memperbaiki diri bukan  memperbaiki NU.”
Bahkan Nur Khalik Ridwan, menulis artikel di laman www.gusdurian.net yang menyebut NU Garis Lurus amat membahayakan apa yang telah diperjuangan Gus Dur dan Gus Mus.
“NU Garis Lurus yang tidak mencantumkan siapa sebenarnya pengelola dan komunitas mana yang mengembangkan ini, justru memperkuat dugaan demikian. Web ini berusaha memicu pergolakan internal NU dan dimanfaatkan oleh orang tertentu, agar lapisan terdidik NU terus menerus mengurusi soal laten percekcokan sektarian. Yang bisa dimanfaatkan untuk itu adalah figur-figur seperti Ust. Idrus Ramli, Gus Najih, Gus Luthfi, dan lain-lain-lain. Dari jantungnya sendiri, mereka menghantam orang-orang yang telah bertahun-tahun berjuang untuk NU dan menegakkan muruah NU di jagad Indonesia dan dunia, sepertu Gus Dur dan Gus Mus.” [Nur Khalik Ridwan, “Masalah Pemurniah ASWAJA NU Garis Lurus ” , Kamis, 02 April 2015, www.gusdurian.net].
Tak terkecuali tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdala ikut pula gerah .
“Akhir-akhir ini ada gerakan yg menamakan dirinya “NU Garis Lurus”. Namanya sendiri sudah menunjukkan bahwa yg membuat gerakan ini tak mengerti kultur NU,” ujar Ulil melalui akun twitter @Ulil.
“Kalau NU diluruskan garisnya, maka ya jadi Wahabi. Garis NU itu lentur;  filosofinya seperti tali jagad di logo NU itu. Talinya lentur dan longgar, tidak ketat,” ujar Ulil Abshar Abdala dalan akun twitter @Ulil, 7 April 2015.
Mengapa banyak pihak seolah merasa tersengat?
Sebagaimana tagline kelompok ini yang tertera di laman www.nugarislurus.com, jika kehadirannya mengembalikan ajaran NU yang dibawa KH Hasyim Asy’ari yang Sunni, tidak Sekularis, pluralis dan liberalis (SePILIS).
“NU GARIS LURUS adalah merupakan upaya pengembalian pemahaman warga NU kepada ajaran KH. Hasyim Asy`ari yang murni Sunni Syafi`i Non SePILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme).”[www.nugarislurus.com]
Sebagaimana diketahui, kelompok-kelompok berpaham liberal dan Syiah dinilai telah banyak menyusup dalam tubuh NU benar-benar merasa terusik ketika gerakan ini muncul dengan nama “NU Garis Lurus”, seolah ingin meluruskan pemikiran NU yang sudah tidak murni lagi.
Adalah KH Lutfi Bashori putra KH. Bashori Alwi sesepuh NU Jawa Timur yang dikenal berdakwah dan fokus pada pembersihan virus-virus akidah semisal sekularisme, pluralisme dan liberalisme [SePILIS) dan Syiah dalam tubuh ormas Islam di Indonesia ini.
Pada bulan Februari 2015, ia membidani lahirnya  ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) GARIS LURUS. [Baca: ASWAJA Garis Lurus: Pemerintah Bisa Larang Aktivitas Syiah]
Semula, kelompok ini hanya kumpulan beberapa aktifis Aswaja yang tergabung dalam Grup Pejuang ASWAJA, lantas dalam penjabarannya mendapat tambahan GARIS LURUS dan menjadi Pejuang ASWAJA Garis Lurus.
Dalam keterangannya di laman www.pejuangislam.com, tambahan Garis Lurus untuk membedakan dari warga NU (bahkan sebagian tokoh NU), yang sudah keluar dari ajaran akidah KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU. [Baca: GROUP PEJUANG ASWAJA GARIS LURUS di http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=913]
Namun belakangan, atas gagasan KH Luthfi Bashori ini muncul pihak-pihak tertentu dengan membuat Fanspage Facebook dengan nama yang sama. Tepatnya pada 27 Oktober 2014, Fanspage yang berjudul “NU Garis Lurus” dibuat.
Namun KH Luthfi Bashori sendiri dalam keterangan resmi di situs pribadinya, telah menjelaskan akun Facebook NU Garis Lurus tidak memiliki kaitan dengan Grup ASWAJA Garis Lurus.
Meski tidak ada kaitan antara keduanya, tetap saja keberadaan Grup ASWAJA Garis Lurus dan akun Facebook NU Garis Lurus mencemaskan kelompok penganut paham liberal dan pendukung Syiah.
Pertama, kaum SePILIS dan Syiah meradang, sebab kesesatan dua faham yang menjadi benalu di tubuh NU ini dibongkar oleh NU Garis Lurus.
Bukti kemarahan salah satu dari mereka yang berfaham liberal adalah sebuah tulisan di web resmi www.nu.or.id dengan judul “Meluruskan “NU GarisLurus”. Dalam tulisan itu, M. Alim Khoiri menulis: “‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU GarisLurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatas namakan “NU Garis Lurus” ini tak segan – segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said, artikel ini tak lepas dari serangan mereka. (M. Alim Khoiri , “Meluruskan “NU GarisLurus” – NU Onlinewww.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail.)
Penulis artikel ini juga mengatakan bahwa NU Garis Lurus adalah kelompok yang mengatas namakan NU untuk menandingi keberadaan faham – faham yang dianggap sesat.
M Alim menulis “Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham – faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalism atau faham “Syi’ahisme”.
Menurut mereka, faham – faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip – prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU”.
Dari dua pernayataan di atas, M. Alim seorang Nahdhiyin yang tampak berpemikiran liberal, sangat kelihatan emosional dan tidak ilmiah dalam merespon NU Garis Lurus.* (bersambung)…yang geram kehadiran NU Garis Lurus…
Penulis adalah warna NU, alumni PP Aqdaamul Ulama’ Pandaan-Pasuruan, Anggota Pejuang Aswaja Garis Lurus


Sunday, April 19, 2015

NU - Syi'ah

Kiyai Mustafa Ya`kub: Tentang Syiah, Said Aqil dan PBNU Menentang AD/ART NU
14 Maret 2015

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 bakal digelar pada 1 hingga 5 Agustus 2015 di Jombang. Uniknya, kini para kiai justeru dilanda kegelisahan teologis karena jam’iyah NU ditengarai diserang paham luar. Ada tiga paham yang ditengarai gencar menyerbu warga NU dewasa ini. Yaitu Syiah, Wahabi dan Islam Liberal (Islib). Para kiai NU pun resah. Karena pondasi NU: aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang merupakan warisan hakiki pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, terancam pudar. Apalagi, menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr. Mustofa Ali Ya’qub, Syiah ternyata jauh lebih bahaya daripada komunisme. Benarkah? Apa buktinya? Berbeda dengan Muktamar–muktamar Nahdlatul Ulama (NU) sebelumnya yang fokus kepada isu nasional, keagamaan, program strategis dan pengembangan jamiyah serta sumber daya manusia (SDM), kali ini perhelatan akbar kaum pesantren ini justeru disibukkan dengan prolem aqidah. Banyak sekali penetrasi paham luar menyerbu jamiyah NU yang pengikutnya diperkirakan mencapai 135 juta lebih ini.Karena itu wajar jika perjalanan NU selama empat tahun ini terkesan tertatih-tatih. Padahal, jika tak ada perubahan, enam bulan lagi warga NU bakal punya gawe besar yaitu Muktamar NU ke-33. Rencananya, Muktamar kali ini digelar awal Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur. Sayangnya, dibalik gegap gempita menyambut Muktamar 5 tahunan itu ternyata kini muncul kegelisahan teologis yang luar biasa di kalangan kiai. Kegelisahan para kiai itu dipicu oleh penetrasi paham keagamaan diluar Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) ke dalam NU. Yang paling dahsyat adalah serbuan Syiah, Wahabi Salafi dan Islam Liberal (Islib). Hampir semua Rais Syuriah, Ketua Tanfidziah PCNU dan PWNU – baik di Jawa maupun di luar Jawa – kini ramai menggunjing serbuan Syiah, Wahabi Salafi dan Islib itu ke dalam organisasi beraqidah Aswaja yang bertahun-tahun jadi benteng Negara Indonesia ini. “Kita sudah kecolongan,” kata Habib Yassir, Rais Syuriah PCNU Manado Sulawesi Utara kepada bangsaonline tentang penetrasi Syiah ke dalam NU.Tapi saat itu kegelisahan dan penentangan terhadap tiga paham itu hanya terbatas kepada beberapa kiai dan PCNU. Kini kegelisahan teologis dan penentangan itu sangat masif terutama setelah pemutaran video pidato Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqiel Siraj dalam seminar internasional bertema Aswaja di Asrama Haji Sukolilo Surabaya (23-26/12/2014). Seminar itu digelar Aswaja Center pimpinan KH Abdurrahman Navis, LC MHi (Wakil Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur) dan dikuti para ketua PWNU se-Indonesia.
Pemutaran video itu sebenarnya diluar dugaan dan kesengajaan. Saat itu tiba-tiba ada peserta tanya soal isu penetrasi Syiah yang disebut-sebut masuk ke dalam jami’iyah NU. Nah, ketika Ustadz Idrus Romli presentasi materi Aswaja itu lalu memutar video yang berisi pidato Kang Said – panggilan Kiai Said Aqiel Siraj – yang menyampaikan orasi di depan para penganut Syiah. Di depan jamaah Syiah itu Kang Said mendoakan agar warga NU diberi hidayah sehingga mau menerima ajaran Syiah. Kang Said minta warga Syiah memaklumi kalau kini warga NU menolak Syiah. Sebab, kata Kang Said, warga NU masih bodoh. Karena itu Kang Said minta penganut Syiah sabar menghadapi sikap penolakan warga NU. Kang Said juga minta agar ritual-ritual Syiah terus digalakkan bahkan dikembangkan lebih besar dan masif.
Nah, sikap Kang Said yang menganggap warga NU bodoh karena tak mau menerima Syiah inilah yang memicu gejolak di NU. Para kiai menganggap Kang Said bukan sekedar mengimplementasikan sikap tatsamuh dan moderasi yang merupakan watak asli NU tapi seolah bertindak sebagai penganut Syiah dan pemimpin Syiah yang membodohkan kiai-kiai NU.
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr Ali Musthafa Ya’qub tak habis pikir terhadap pidato Kang Said. . ”Pernyataan Kiai Said sungguh tidak pantas dilakukan sebagai pemimpin NU.Pernyataan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan pemikiran Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari dan juga bertentangan dengan AD/ART NU itu sendiri,” kata Kiai Ali Musthafa Ya’qub dalam diskusi terbatas yang digelar PCNU Jember .
Menurut Kiai Ali Musthafa Ya’qub, Syiah adalah paham yang sangat berbahaya terhadap Aswaja. ”Syi’ah memiliki paham bahwa membunuh orang selain Syi’ah itu ibadah. Ini sangat berbahaya sekali kalau disebarkan di Indonesia yang mayoritas umat Islam-nya berpaham ahlussunna waljama’ah yang bersebarangan dengan paham syi’ah. Akan banyak friksi-friksi dan konflik yang berkecamuk di tengah masyarakat. Bahkan ini akan mengancam NKRI karena menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa,” papar tokoh NU ini. ”Bagi saya paham syi’ah itu lebih berbahaya dari pada paham komunis, ini kalau dilihat dari perspektif ajaran dan dampak yang ditimbulkan di tengah masyarakat,” ujar ulama jebolan King Saud University Saudi Arabia yang dikenal sebagai ahli hadits ini.
Ia lantas menunjukkan sejumlah fakta tentang bahaya Syiah di beberapa negara di banding komunis, terutama di Iran dan Rusia (dulu Uni soviet). ”Di Iran, masjid–masjid kaum Ahlussunnah wal Jama’ah sudah dimusnahkan semua,dan bahkan imam-imam dan tokoh-tokoh sunni sudah dibantai semua. Bandingkan dengan Rusia, masjid-masjid Sunni dan imam-imam serta tokoh-tokoh sunni alhamdulillah masih dilindungi oleh negara Rusia,” paparnya.
Berdasarkan fakta itulah, maka Kiai Musthofa Ya’qub memohon kepada jajaran NU agar menyelamatkan NU dan warganya dari masuknya ajaran Syi’ah dan Islam liberal ke dalam tubuh NU. Ia mendesak jajaran NU agar jangan menjadikan orang-orang Syi’ah dan Islam liberal sebagai pengurus NU.
Indikasi bahwa Syi’ah sudah mulai menyusup di tubuh NU, menurut dia, adalah kasus pidato Kang Said yang hadir pada acara kaum Syi’ah. Dalam acara yang diadakan kelompok Syi’ah itu, menurut dia, Kang Said telah membodoh-bodohkan orang NU.
Karena itu ia berharap dalam Muktamar NU yang akan dilangsungkan di Jombang Jawa Timur pada tanggal 1 hingga 5 Agustus tahun 2015, ada perubahan yang lebih baik di tubuh NU yang dalam lima tahun terakhir ini berjalan stagnan. Pihaknya juga menghimbau, agar pengurus NU dari berbagai tingkatan dapat memilih pemimpin NU yang mempunyai komitmen tinggi untuk memperjuangkan misi Hadaratussyaikh Hasyim Asy’ari.

Said Agil Sebut ISIS Kelompok Radikal Islam Paling Kejam, Gus Ahyat Ahmad: Milisi Syiah Juga Kejam

Ketua Umun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Agil menganggap bahwa kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sangat kejam.
“Mereka lebih kejam daripada kelompok radikal manapun,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj seusai menghadiri Launching Sukses Muktamar ke-33 NU di halaman kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Sabtu (14/3/2015).
Menurut Said, jika sekitar 514 warga Indonesia yang diduga bergabung dengan ISIS kembali ke Indonesia, mereka akan lebih sadis jika dibandingkan dengan teroris Bom Bali. “Itu akan menjadi ‘penyakit’ yang sangat berbahaya jika pulang ke Jawa Timur atau ke daerah lainnya,” ujar Said.
NU, kata Said, sangat menentang radikalisme maupun terorisme. Oleh karena itu, NU akan selalu mengajak masyarakat Indonesia yang beragama Islam untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang ramah dan antikekerasan. Selain itu, Said mengimbau kepada semua pihak menjadikan aksi terorisme sebagai musuh bersama yang harus dihalangkan.
Menanggapi pernyataan Said Agil, Ustadz Achyat Ahmad dari pesantren Sidogiri menyatakan bahwa milisi Syiah juga kejam.
Melalui akun twitternya @AchyatAhmad, Penulis Buku aktif yang banyak mengupas Syiah dan Liberalisasi mendukung pernyataan dari seorang Jenderal AS yang menyatakan bahwa “Milisi syiah Irak sama barbarnya dengan IS dan orang Islam Irak Terjepit diantara 2 kelompok barbar.

Muktamar NU ke-33 akan digelar di Jombang pada 1 hingga 5 Agustus 2015 mendatang. Panitia Muktamar NU mulai menggelar beberapa acara sebagai kegiatan pra Muktamar, diantaranya diskusi. Kemarin (Selasa (7/4), Komisi Bahtsul Masail Qonuniyah yang bertugas membahas perundang-undangan, mengadakan Focus Group Discussion (FGD). Antara lain menyangkut masalah RUU Perlindungan Umat Beragama, perkawinan dan haji. Hadir sebagai narasumber Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Masykuri Abdillah dan Dirjen Bimas, Islam Machasin.
Tema mengenai perlindungan umat beragama termasuk masalah yang mengundang pro kontra. Prof Masykuri menjelaskan, masalah yang banyak diperdebatkan adalah mengenai menodaan agama dan penafsiran diluar mainstream aliran utama. Dari sinilah akhirnya mengemuka persoalan yang menyangkut aliran Syiah, Ahmadiyah, sekolah non Muslim yang tidak mengajarkan agama Islam bagi siswa muslim, dan lainnya. Persoalan perkawinan yang dibahas mencakup kawin siri dan isbath nikah.
Yang menarik, ketika membahas masalah Syiah. Seperti dilaporkan NU Online, para peserta dan narasumber umumnya berpendapat, banyak persamaan antara sunni dan syiah. Di Arab Saudi pun juga terdapat pengikut Syiah. Yang menjadi persoalan adalah ketika pengikut syiah mencela para sahabat nabi yang sangat dihormati oleh kelompok sunni. Maka jika hal ini terjadi, bisa masuk ranah penistaan terhadap agama.
Sikap ini tentu berbeda dengan PWNU dan PCNU yang umumnya menganggap Syiah mengancam paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Sebelumnya diberitakan, Rais Syuriah PCNU Nganjuk KH Ahmad Baghowi mengaku bingung karena sikap PBNU yang cenderung pro Syiah.
“Sepengetahuan saya MUI memutuskan bahwa Syiah adalah ajaran terlarang. Tapi saya lihat di tayangan TV PBNU menyatakan bahwa Syiah adalah saudara ktia dan tak ada perbedaan dengan kita. Dan itu atas nama PBNU. Saya kan bingung,” katanya.
Rais Syuriah PCNU Jember KH Muhyidin Abdusshomad mengatakan kini banyak sekali agen-agen Syiah yang bergerak di kantong-kantong NU. Kiai Muhyiddin mencontohkan kasus Syiah di Sampang. “Di Sampang itu hanya dalam waktu singkat, Syiah sudah hampir menguasai separuh Sampang,” kata Kiai Muhyiddin yang banyak menulis buku tentang Aswaja.
Menurut dia, ketika Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mendirikan NU pada tahun 1926, itu adalah antisipasi dan menjaga serangan paham luar terhadap paham Aswaja. Padahal, waktu itu, Syiah masih berada dalam lingkup Persia. Begitu juga Wahabi saat itu masih ada di Saudi Arabia.
“Sekarang Syiah dan Wahabi sudah berada di sekeliling kita,” kata Kiai Muhyiddin mengingatkan tentang ekspansi dua paham tersebut ke Indonesia terutama kedalam NU. Karena itu ia mempertanyakan rasa kepedulian para kiai terhadap paham Aswaja jika kini tak tergugah semangatnya untuk bangkit melawan gerakan Syiah dan Wahabi yang kini gencar masuk ke NU.
Mengenai pendirian rumah ibadah, Masykuri menjelaskan sebenarnya, Indonesia paling mudah pendirian rumah ibadah dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Mengutip data BPS tahun 2010 ia mengungkapkan bahwa kelompok minoritas di Indonesia berjumlah 12.69 persen, tetapi persentase rumah ibadahnya mencapai 23.5 persen.
Jumlah gereja Kristen dan Katolik di Indonesia mencapai 61.756, terbesar ketiga setelah AS dan Brasil. Sementara rasio jumlah gereja dengan pemeluk Kristen di Indonesia tertinggi di dunia, yakni 1:327 dibandingkan dengan AS (sekitar 1:745), Inggris (sekitar 1:850) dan Italia (sekitar 1:2047).
Masykuri yang menjadi sekretaris Wantimpres era SBY ini menjelaskan, ia seringkali menerima perwakilan gereja dari Barat yang mengeluhkan pendirian rumah ibadah di Indonesia, tetapi setelah ia menyampaikan data-data tersebut diatas, banyak diantara mereka yang terkejut, ternyata informasi yang mereka terima selama ini hanya satu pihak.
Masykuri yang lulusan doktor dari Jeman ini menjelaskan, negara-negara Eropa yang selama ini dipersepsikan sangat bebas, ternyata memiliki regulasi yang ketat dalam pengaturan kehidupan beragama termasuk pendirian rumah ibadah.
Ia menunjukkan data, di Italia, dengan jumlah muslim 1.583.000 sampai saat ini hanya diizinkan berdiri 3 masjid (1:527.666), Inggris, dengan jumlah Muslim sekitar 2.869.000 jumlah masjid sekitar 1400 (1:2.049), Jerman dengan jumlah Muslim 4.119. 000 jumlah masjid sekitar 2.500 (1:1.647) , sedangkan di Amerika Serikat, dengan jumlah Muslim 2.350.000 jumlah masjid sekitar 2.100 (1:119). Bahkan di Slovakia dan Slovania sampai sekarang umat Islam belum diizinkan mendirikan masjid.
Diskusi yang berkembang adalah, NU selama ini telah berjuang membantu minoritas, tetapi disisi lain, perlindungan terhadap dirinya sendiri kurang. Salah satu contohnya adalah sulitnya siswa Muslim yang belajar di sekolah non Muslim untuk mendapatkan pendidikan agama Islam, padahal amanah UU Pendidikan menetapkan bahwa peserta didik harus mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan keyakinannya.
Prof Machasin menambahkan soal nikah siri yang sekarang ini masih banyak yang terjadi. Terdapat dua motif, pertama adalah karena tradisi. Pernikahan dirayakan tetapi tidak dicatatkan di KUA sementara motif kedua karena sengaja ingin menyembunyikan pernikahannya. Mereka yang menikah siri karena tradisi dicarikan solusi melalui isbath nikah.
Kasus yang diungkapkan diantaranya mengenai banyaknya TKW di luar negari yang meminta isbath nikah dengan pasangan baru mereka di luar negari karena dianggapnya suami yang masih tinggal di Indonesia sudah tidak menunaikan tanggung jawabnya selama lebih dari tiga bulan karena mereka telah meninggalkan Indonesia antara satu sampai dua tahun sebelum mengajukan pernikahan dengan pasangan baru.
Menurutnya, hal ini barangkat dari penggunaan tafsir fikih klasik yang menyatakan, seorang istri yang ditinggalkan suaminya lebih dari tiga bulan dengan tidak diberi nafkah lahir dan batin sudah dianggap cerai. Dalam konteks kekinian, baik menikah atau cerai, harus disertai dengan akta cerai sebagai bukti berakhirnya hubungan pernikahan. Ia menyampaikan perlunya negara turun tangan untuk kemaslahatan umat. (tim/bangsaonline)

Tokoh NU Bogor : Seperti Ahmadiyah, Syiah Juga Menodai Agama

Dewan penasehat Nahdatul Ulama (NU) Kota Bogor, KH Dudi Zuhdi Mas’ud berpendapat bahwa kasus penyerangan kelompok Syiah ke pemukiman Az Zikra beberapa waktu lalu ada hikmahnya.

“Kasus Az Zikra hikmahnya membuat melek para ulama, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI),” ujar Kyai Zuhdi kepada Suara Islam Online, Ahad (15/3/2015).
Menurut penasehat MUI Kota Bogor ini, soal Sunni Syiah adalah masalah klasik yang sudah lama, “Namun akhir-akhir ini Indonesia sebagai negeri muslim terbesar yang mayoritas Ahlusunnah wal Jamaah bermazhab Imam Syafi’i dianggap potensial sebagai sasaran oleh Syiah,” ungkapnya. Karenanya, ia berharap pemerintah bisa segera mengeluarkan aturan yang tegas terhadap kelompok Syiah ini. “Pemerintah jangan tinggal diam, jangan menunggu korban lebih banyak lagi. Sesegera mungkin mengambil keputusan agar Syiah itu dianggap melakukan penodaan agama seperti Ahmadiyah sehingga bisa lebih mudah dihapus dan diajak bertobat kembali ke Ahlusunnah,” jelas Kyai Zuhdi.
Dijelaskannya, Ahlussunnah bukan hanya Syafi’i saja tetapi Hanafi, Maliki, Hambali, itu juga Ahlusunnah. “Kita jangan terlena dengan perbedaan pendapat diantara Ahlusunnah, sedangkan dihadapan kita ada Syiah yang sangat berbahaya,” katanya.
“Ahlusunnah harus bersatu, jangan suka memblowup masalah yang kecil ( furu’ ),” tambahnya.
Selain itu, ia menyatakan setuju jika muncul adanya fatwa sesat dari MUI terhadap Syiah, “mudah-mudahan dalam waktu dekat,” harapnya.

SEJAK TAHUN 2005, KIRA -KIRA Sudah BERAPA Santri NU Yang DI “SYIAH” KAN ??!
95 % pemeluk Syi’ah, sebelumnya adalah warga nahdhliyin (NU), dan  itu semua hanya karena fulus (duit) belaka berdasarkan data yang dimiliki oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH.Habib Ahmad bin Zain Al Kaff dan  para santrinya.
Berkedok pemberian beasiswa untuk S2, proses syiah-isasi Santri, Sarjana dan kaum pelajar NU sebenarnya sudah berlangsung lama, setidaknya dari tahun 2005.  Dan kini, program beasiswa itu masih berjalan. Menurut Anda, kira-kira, berapa yang sudah disyiahkan Said Aqil Siradj?
Jakarta, NU Online – Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah yang dipimpin oleh KH Said Aqil Siradj kali menerima pendaftaran beasiswa program S2 di Iran yang akan diambil sebanyak 5 orang.
“Surat harus sudah sampai di PBNU maksimal tanggal 24 April dan kemudian akan dilakukan test secepatnya karena pada bulan Juli sudah kuliah di Iran,” tandas Dawam Sukardi yang mengurusi masalah pengiriman beasiswa ini.
Jurusan yang dapat diambil adalah filsafat dan agama. Dalam hal ini penjurusan ditentukan oleh nilai test yang diperoleh. Test akan dilakukan sendiri oleh atase kebudayaan Iran yang ada di Indonesia.
Jika group pertama ini berhasil dan sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan maka pada tahun depan pihak Iran berjanji untuk menambah peserta menjadi 15 orang mahasiswa. Terdapat beberapa universitas seperti Universitas Qum dan model pendidikan Islam model pesantren yang bahkan lebih bagus kualitasnya.
Peluang beasiswa ini terbuka bagi laki-laki dan perempuan. Namun demikian, Dawam mengungkapkan bahwa karena Iran merupakan Negara Syiah, maka sebaiknya Laki-laki saja yang pergi ke sana.
Tentang kekhawatiran para kader NU tersebut menjadi Syiah Dawam mengakuinya “Ada kekhawatiran dari beberapa kyai yang memberitahukan lewat SMS tentang hal tersebut, tetapi PBNU setelah melalui pertimbangan yang mendalam memiliki keyakinan hal tersebut tak akan terjadi.”
Dalam hal ini, mereka akan memberikan beasiswa penuh, yaitu mulai biaya kuliah termasuk living cost, tetapi nampaknya karena jumlah yang diberikan terbatas, mungkin untuk kebutuhan tertentu mungkin mahasiswa yang bersangkutan harus menyediakan sendiri.
Persyaratan yang dibutuhkan adalah foto coyp ijazah, akte kelahiran, transkrip nilai SKKB, Curriculum Vitae, rekomendasi dari PCNU dan foto warna 4 X 6 sebanyak 5 lembar.
Permohonan beasiswa dapat dikirimkan ke Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah Gedung PBNU Lt IV Jln. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat 10430 (mkf)

NU Garis Lurus, Katakan Benar Walaupun Pahit


Kami NU Garis Lurus Mencintai Ulama yang mempunyai ghirah terhadap kejayaan islam. Bukan ulama yang justru menyesatkan dengan kata-kata manis.
1. Ustad Idrus Ramli Aktivis Aswaja PWNU Jatim mengatakan Pemikiran Gusdur Sesat Menyesatkan Sehingga Membuat Gusdurian Geram Karena Perkataan Ustad Idrus Ramli.
2. KH. Muhammad Najih (Santri Abuya Sayyid Muhammad Alawi Almaliki Mekkah) Dengan Terbitan Buku “MEMBONGKAR KEDOK LIBERAL DALAM TUBUH NU” Mengatakan Said Aqil & Gusmus Cenderung Membela Syiah dan Liberal. Bahkan Beliau Siap Mempertanggung Jawabkan Tulisan Dalam Buku Tersebut Terhadap Siapa Saja Baik Said Aqil atau Gusmus.
3. KH. Luthfi Bashori (Malang) Sangat Aktif Dalam Memerangi Pemikiran Liberal Sampai Membuat Gerah Beberapa Tokoh NU.
4. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Mengatakan Bahwa Orang Yang Ceramah Di Gereja Otaknya Tidak Waras. Seperti Yang Dilakukan Nuril Arifin. Bahkan Habib Menganalogikan Jika Nanti Apakah Kalian Terima Jika Pendeta dan Pastur Memberi Ceramah Diatas Mimbar Masjid!!! Otak Yang Cermah Digereja Sudah Dicampur Uget-Uget.
5. KH. Ahmad Nawawi Abdul Djalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Menanggapi Beasiswa Yang Ditenggarai Oleh Pengurus NU Untuk Memberikan Beasiswa Gratis Ke Iran Dengan Menjajakan Paham Syiah
“JANGAN KAMI DISURUH BELAJAR SYIAH KE IRAN, TAPI KALIAN YANG HARUS BELAJAR AHLUS SUNNAH. SILAHKAN PERGI KE SIDOGIRI, KAMI AKAN AJARI KALIAN SUNNI SYAFI’I.
6. Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaff Sangat Keras Terhadap Syiah. Membuat Beberapa Pengurus NU Geram Karena Proyek Penyesatan Umat Terhalangi Oleh Dakwahnya.
7. Gus Sholah Yang Menangis Sedih Jika Sampai Terjadi Suap Pada Muktamar NU Ke 33 Di Jawa Timur.
8. KH. Muhammad Kamal Yusuf Rois Syuriah Pengurus Wilayah NU Jakarta Yang Tegas Menolak Pemimpin NON Muslim di DKI Jakarta.
9. Ustadz Achyat Ahmad (PP. Sidogiri & Penulis Buku Membungkam Kicauan Liberal) Menanggapi Pemikiran Gusmus Tentang MUI Bahwa Tentang Gusmus Hasil pemikiran kumpulan beberapa ulama tentu lebih baik tenimbang pemikiran seorang ‘ulama’ saja.Beliau juga membayangkan bagaimana kian sedihnya Gus Najih (KH. Muhammad Najih Maimun red) mengetahui tentang berita ini.
10. Dan Ulama Lainnya Yang Tetap Istiqomah Terhadap AhlulSunnah Wal Jamaah.

KATAKAN KEBENARAN WALAU TERASA PAHIT
ﻗﻠﺖ : ﺯﺩﻧﻲ . ﻗﺎﻝ : ” ﻗﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺮﺍ
Abudzar berkata : “Tambahkanlah wasiyatnya wahai rasululloh ” Rasululloh bersabda : ” katakanlah yang benar walaupun kebenaran itu pahit “. (HR. Ahmad, At T abrani, Ibnu Hibban dan Al Hakim ),Al

Hakim berkata : “Sanadnya Shohih”
( ﻗﻠﺖ : ﺯﺩﻧﻲ ﻗﺎﻝ : ﻗﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ) ﺃﻱ : ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﻮﻝ
ﺍﻟﺤﻖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﺃﻭ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺎﻃﻞ ﺍﻟﻤﺘﻠﻬﻴﻦ ﺑﺎﻟﺤﻠﻮﻳﺎﺕ
ﺍﻟﻨﻔﺴﺎﻧﻴﺔ ( ﻣﺮﺍ ) ﺃﻱ : ﺻﻌﺐ ﺍﻟﻤﺬﺍﻕ ﻭﺷﺪﻳﺪ ﺍﻟﻤﺸﺎﻕ ﻭﺃﻧﺸﺪ :

ﻟﻦ ﺗﺒﻠﻎ ﺍﻟﻤﺠﺪ ﺣﺘﻰ ﺗﻠﻌﻖ ﺍﻟﺼﺒﺮﺍ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ﺷﺒﻪ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻓﻲ ﻣﻦ
ﻳﺄﺑﺎﻫﻤﺎ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻣﺮ ﺍﻟﻤﺬﺍﻕ ﻟﻜﻦ ﻋﺎﻗﺒﺘﻪ ﻣﺤﻤﻮﺩﺓ .
Maksudnya: “katakanlah yang benar walaupun perkataan yang benar itu sulit dan sangat berat bagi diri sendiri atau bagi orang orang yang ahli kebatilan yang bersenang-senang dengan manisnya nafsu.
Sebagaimana syair :
” Engkau tidak akan mencapai kemuliaan hingga engkau merasakan kesabaran ”
At-thiby berkata : Serupa dengan amar ma’ruf nahyi mungkar dengan kesabaran, kepada orang yang tidak menyukai keduanya , Karena sesungguhnya itu pahit rasanya tetapi akibatnya terpuji.


NU Garis Lurus Meluruskan
Oleh Muhammad Saad
Kehadiran NU Garis Lurus yang dipunggawai oleh Ustadz Luthfi Bashori Alwi, putra dari Ulama sepuh NU JawaTimur KH. Bashori Alwi menjadi trending topic di Sosial Media. Hal ini terjadi karena keberadaan NU Garis Lurus telah menjadi kerikil tajam bagi oknum-oknum NU yang terserang virus SEPILIS (Sekulerisme – Pluralisme dan Liberalisme) dan Faham Syiah. Mereka (Kaum Sepilis dan Syiah) meradang, sebab kesesatan dua faham yang menjadi benalu di tubuh NU ini dibongkar oleh NU Garis Lurus.
Bukti kemarahan salah satu dari mereka yang berfaham liberal adalah sebuah tulisan di web resmi www.nu.or.id dengan judul “Meluruskan “NU GarisLurus”. Dalam tulisan itu, M. Alim Khoiri menulis: “‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU GarisLurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatas namakan “NU Garis Lurus” ini tak segan – segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said, artikel ini tak lepas dari serangan mereka. (M. Alim Khoiri , “Meluruskan “NU GarisLurus” – NU Onlinewww.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail.)
Penulis artikel ini juga mengatakan bahwa NU Garis Lurus adalah kelompok yang mengatas namakan NU untuk menandingi keberadaan faham – faham yang dianggap sesat. M Alim menulis “Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham – faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalism atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham – faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip – prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU”.
Dari dua pernayataan di atas, M. Alim seorang Nahdhiyin yang tampak berpemikiran liberal, sangat kelihatan emosional dan tidak ilmiah dalam merespon NU Garis Lurus. Pertama, keberadaan NU Garis Lurus mengandaikan NU struktural tidak lurus. Kedua, NU Garis Lurus adalah tandingan bagi faham – faham yang dianggap sesat yang berada di dalam tubuh NU.
Point pertama, Benarkah keberadaan NU Garis Lurus menganggap NU tidak lurus. Jika yang dimaksud adalah NU yang dicita-citakan oleh KH. Hasyim Asyari, yaitu NU yang tegas kepada aliran – aliran sesat, sebagaimana hal itu tertorehkan ketegasan beliau dalam kitab Risalah Ahlusunnah wal – Jamaah. Dimana di dalam kitab tersebut beliau mengkritik kelompok yang suka mengkafirkan, penganut Syiah Imamiyah, penganut aliran kebatinan dan pengikut aliran tasawwuf menyimpang dengan konsep manunggaling kawulo gusti (KH. Hasyim Asya’ri,”Risalah ahlusunnah wal Jamaah”, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamy), hal. 09). Maka NU garis lurus tidak akan ada keberadaanya.
Namun pada kenyataanya, tubuh NU mulai sakit, penyakit dari oknum – oknumnya mulai menggerogoti (“As`ad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi”, http://www.nu.or.id/). Bahkan kepemimpinan NU dipegang oleh oknum yang ternjangkit virus paham Syiah sekaligus Liberal. Hal inilah yang kemudian membangkitakan ulama – ulama NU yang masih murni aqidahnya termasuk Ustadz Luthfi Bashori mengobati NU dan membersihkan dari faham – faham yang merusak.
NU Garis Lurus sendiri menurut Ustadz Luthfi Bashori adalah untuk membedakan dengan NU yang terjangkit faham muhaddamah. Ustadz Luthfi menyatakan “Sedangkan kata GARIS LURUS adalah untuk membedakan dari warga NU (bahkan sebagian tokoh NU), yang sudah keluar dari ajaran aqidah KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU (Luthfi Bashori Alwi, “Panduan Aswaja Garis Lurus”, hal. 1-3).
Poin kedua, keberadaan NU Garis Lurus bukan untuk menandingi faham – faham yang dianggap sesat yang menjadi benalu di tubuh NU. Justru keberadaan NU Garis Lurus sebagaimana penulis sebutkan tadi, ialah, untuk meneruskan misi KH. Hasyim Asy’ari membersihkan faham – faham yang diyakini kesesatannya.
Faham – faham semisal SEPILIS dan Syiah, dalam pandangan Islam bukan faham yang diduga kesesatannya sebagaimana yang ditulis oleh M. Ali “Eksistensi Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme benar-benar telah mendekonstruksi Aqidah dan Syariah Islam serta mendegradasi akhlaq kaum muslimin. Jika sekulerisme bertujuan menghilangkan peran agama dalam kehidupan masyarakat, pluralisme ingin menyamakan semua agama memiliki kebenaran, maka liberalisme adalah memayungi kedua paham tersebut.
Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi Peneliti INSISTS mengatakan: “bahwa liberalisasi dalam dunia Islam ditandai dengan, pertama, gugatan terhadap Al-Qur’an. Kedua, pembelaan aliran sesat. Ketiga, mendahulukan akal manusia daripada Tuhan. Keempat, mendukung relativisme yang berujung pada pluralisme agama. Kelima, mempromosikan skeptisisme.” (Hamid Fahmi Zarkasyi dalam buku Misykat, (sub judul “Evil of Liberalisme”, hal. 152).
Belum lagi Syiah dengan konsep Imamahnya telah melahirkan konsep takfir kepada para Shahabat mulia Rasulullah Saw. Konsep Imamah yang berujung pada takfir Shahabat ini, berlanjut kepada pengkafiran kepada Aswaja. Sebab pembelaan Aswaja kepada keadilan para Shahabat. Hal ini yang kemudian menimbulkan chaos antar kelompok di level bawah, bahkan sampai pembantaian.
Jika hal demikian ini oleh M. Ali hanya dianggap sebuah dugaan bahwa aliran – aliran SEPILIS dan Syiah adalah sesat, maka alangkah naifnya (untuk tidak mengatakan bodoh). Ini membuktikan bahwa M. Ali menulis tanpa menggunakan referensi, bahkan cenderung menulis dengan emosional semata.
Ketika Ustadz Luthfi dikonfirmasi tentang oknum NU yang geram dengan keberadaan NU Garis Lurus, beliau menanggapi dengan santai. Murid dari Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki ini mengatakan bahwa beliau sudah terbiasa dengan hal tersebut semenjak beliau berdakwah membeberkan kesesatan aqidah non Aswaja, terlebih dalam tubuh NU yang telah terkontaminasi paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme).
Mereka sebenarnya secara amaliah dalam beribadah adalah sama dengan Nahdhiyin lainnya. Namun mereka SEPILIS dalam berwacana dan berpikir. Hal ini yang bermasalah.
Sebab pemikiran demikian adalah dekotomis, dimana akal dan hatinya berbeda dalam beraktifitas. Doktrin demikian lahir dari aliran filsafat dualisme. Orang yang demikian adalah orang yang liberal tanpa sadar, menurut Dr. Adian Husaini, mereka adalah golongan bingung. (Golbing) (Adian Husaini, “Islam Ragu-ragu” versi Rektor UIN Yogya – Hidayatullah.com).
Islam adalah agama tauhid. Islam bukan saja doktrin, tapi Islam adalah world view. Karena Islam ajaran tauhid, maka cara pandang (worldview) seorang muslim adalah tauhid. Hati, alam pikiran dan amaliyah seorang muslim selalu integral. Meminjam istilah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, “Seorang muslim, jika hatinya ke Makkah, maka akalnya ke Madinah, bukan ke Amerika” (Orasi Ilmiah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Sinergi Membangun Peradaban Islam. http://kholilihasib.com). Wallahua’alam Bishawwab.
Penulisa adalah Alumni PP. Aqdaamul Ulama, Pandaan – Pasuruan dan Anggota Pejuang Aswaja Garis Lurus.