Monday, April 27, 2015

Update Perang Yaman, Membendung Hegemoni Syiah Iran di Timteng

Oleh Abdullah Haidir
Riyadh, Saudi

1. Saya coba meneropong lagi peristiwa2 yang terjadi di timteng beberapa hari belakangan ini...

2. Dalam perang Yaman, pasukan koalisi masih terus serang basis2 militer pemberontak houthi dan pasukan loyalis Ali Abdullah Saleh (mantan presiden Yaman sebelum Arab Spring)...

3. Sementara di sisi lain, di darat, pasukan rakyat Yaman semakin terus merangsek dan berhasil merebut beberpa pos2 militer pemberontak houtsi

4. Meskipun belum dpt dikatakan bhw houthi berhasil dilumpuhkan, namun hingga kini tidak ada berita perlawanan berarti yg mrk lakukan...

5. Justeru yg banyak mrk lakukan adalah taktik2 jahat, spt menculik tokoh2 politik dn masyarakat, arahkan senjata ke perkampungan sipil, dll

6. Untuk hindari serangan udara thd simpanan persenjataan, pemberontak houtsi simpan senjata2 mereka di lapangan2 olahraga dan sekolah2...

7. Kalaupun diserang juga, tentu mrk akan buat opini serangan koalisi yang menyasar bangunan2 sipil. Ada juga cara busuk lain yg mereka lakukan

8. Yaitu memutus suplay air dan listrik utk rakyat di daerah2 yang mereka kuasai. Sebagai bentuk hukuman terhadap rakyat yg melawan mereka.

9. Di sisi lain, pemberontak houthi ingin memindahkan medan pertempuran ke perbatasan Yaman Saudi.. tentu bertujuan ganggu stabilitas Saudi...

10. Beberap hari lalu diberitakan 3 perwira Saudi gugur dan puluhan luka2 u/ hadang pasukan houthi yg coba terobos perbatasan..

11. Hal ini bangkitkan kesadaran ribuan warga saudi utk ikut2an menjaga perbatasan. pemandangan cukup menarik... http://sabq.org/6L3gde

12. Entah ada kaitannya atau tidak, mufti Saudi, Syekh Alu Syaikh, dlm khutbah jumatnya usulkan adanya wajib militer kpd para pemuda Saudi..

13. Beliau katakan, tujuan dari usulnya ini adalah agar para pemuda terdidik dlm amal soleh dan siap berjihad bela agama dan Tanah air..

14. Namun harus diakui, pasukan houthi ini memang cukup kuat. Diperkirakan, persenjataan mereka lebih lengkap dari militer Yaman sendiri...

15. Saat mereka berhasil kuasai Negara, memang getol jarah senjata dari gudang2 senjata milik pemerintah, belum yg disuplay dari luar...

16. Seblumnya ramai diberitakan, berhasilnya pasukan rakyat menawan dua orang pasukan garda revolusi Iran yg ikut berperang bersama houthi..

17. Jadi memang houthi ini benar2 sudah dipersiapkan utk menjadi satelit Iran utk ekspansi Negara tsb di dunia Arab...

18. Tentu semua masih ingat, ketika houthi berhasil rebut ibukota Shana'a, Iran menyambut hangat hal itu, kaum syiah bergembira ria....

19. Bahkan saaat itu, mereka katakan Shana'a kini menjadi ibukota keempat Iran setelah Beirut (Lebanon), Baghdad (Irak) dan Damaskus (Suriah)..

20. Maka wajar, Negara yg paling menentang keras atas penyerangan thd houthi ini adalah Iran dan 'anak buahnya' khususnya Hizbullah Lebanon..

21. Dari mulai pemimpin spiritualnya, Khamenei, hingga presidennya Ruhani, keluarkan statement keras agar Saudi hentikan serang thd houthi..

22. Tak sampai di situ, mereka pun sudah mulai menggerakkan armada mliter lautnya ke perairan internasional mendekat perairan Yaman...

23. Namun Saudi dengan tegas nyatakan menolak ajakan Iran tersebut. Hingga kini memang belum tampak adanya arah ke meja perundingan...

24. Maklum saja, saat houthi menguasai Shana'a, berkali2 mereka diajak berunding dg semua elemen yaman, mereka menolak.... jumawa betul

25. Jadi, melihat kasus Yaman, jangan hanya dilihat sekarang ini saja, lihat pula kejadian2 kebelakang, betapa houthi ini sangat melampaui batas

26. Kemana mereka yg kini 'menangisi' houthi karena diserang koalisi, saat houthi menyerang dan menduduki kota2 di Yaman satu persatu...

27. Di kota Dammaj, saking bencinya syiah Houthi dg apa yg mereka sebut 'Wahabi' setelah di perangi, penduduknya diharuskan migrasi ke kota lain...

28. Puncaknya adalah ketika mereka menduduki Shana'a dan mengkudeta pemerintah sah Abdul hadi manshur.  Semua ini harus dilihat juga...

29. Tapi memang, media syiah sangat kuat, berbagai opini mereka munculkan seakan mereka terzalimi. Padahal merekalah sumber kezaliman itu..

30. Bayangkan saja, Bashar Asad jatuhkan ratusan bom gentong di atas pnduduk sipil Suriah, luput dr perhatian, lalu mrk kecam serangn thd houthi

31. Perhatikan, dlm 12 hari terakhir ini, rezim Bashar yg kalap telah bunuh 1500 rakyat Suriah dg pesawat2 tempurnya http://t.co/e7uepxjguq

32. Atas nama membela hak2 rakyat Yaman, kaum Syiah tuntut hentikan serangan thd houthi. kemana mereka saat houthi buat kerusakan thd Yaman?

33. Lagipula rakyat Yaman mana yg mrk maksud? sebagian besar rakyat Yaman  justeru bangkit dn bentuk pasukan perlawann thd mrk...

34. Sekali lagi, kemampuan media syiah menggiring opini memang hebat. Isu Israel ikut pasukan koalisi pun mereka goreng.... dan banyk yg percaya

35. Memang banyak yg perkirakan, Iran sangat terkejut dan panik dengan serangan koalisi ini. Tidak mereka perkirakan sebelumnya...

36. Rencana mereka untuk menancapkan kukunya di gerbang jazirah Arab bisa gagal jika operasi militer koalisi ini berhasil.

37. Yg lebih menakutkan mereka lagi tentu saja jika perlawanan thd upaya hegemoni Iran ini berlanjut di Suriah dan Irak...

38. Bahkan di dalam negeri Iran sendiri, sebenarnya bukan tanpa masalah. secara politik mrk terpolarisasi antara kubu konservatif dan reformis..

39. Sementara itu, beberapa wilayah bagian di Iran seperti di Ahwaz dan Blusistan sudah sejak lama terjadi perlawanan rakyat thd rezim Iran..

40. Ahwaz adalah wilayah yg dihuni etnis Arab suni dan kaya minyak. Ratusan aktifis yg telah digantung rezim Iran dg tuduhan lawan penguasa.

41. Hingga kini daerah ini terus bergolak. Rezim Iran pun semakin represif. Ironis kalau berikutnya mereka pura2 menangisi rakyat Yaman...

42. Tentu tak banyak terekspos media, apalagi di Tanah air ttg perlakuan rezim Iran thd rakyatnya yg suni khususnya di Ahwaz sana....

43. Perang Yaman ini awalnya memng masalah politik, tapi muatan idiologisnya sangat kuat. Ada yg pura2 tdk tahu soal fakta idiologis ini.

44. Implikasinya pun diperkirakan dpt merubah konstelasi politik regional bahkan internasional, khususnya terkait dg terbangunnya poros baru...

*dari twit @abdullahhaidir1 (13/4/2015)


Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Oleh: Kholili Hasib
POLEMIK Ahlus Sunnah-Syiah tentang kesesatan Syiah di harian Republika tahun lalu ternyata membuat kelompok Syiah meradang. Kemarahan dan kegalauan Syiah ditumpahkan dalam buku berjudul “Kesesatan Sunni-Syiah, Respon atas Polemik di harian Republika” ditulis oleh Babul Ulum (BU), mahasiswa s-3 UIN Jakarta dan alumni pesantren Gontor.
Diterbitkan oleh Aksara Pustaka Depok pada Januari 2013. Bahasa yang ditulis dalam buku tersebut cenderung tidak memakai etika serta adab terhadap tokoh dan institusi terhormat.
Dalam pengantarnya, BU menuduh MUI memprofokasi umat Islam Sampang untuk berbuat anarkis, “Para pelaku kriminal tersebut berbuat anarkis karena merasa telah memperoleh lampu hijau dari para provokator yang bergabung dalam MUI Sampang dan Jatim”.
Dalam pengantarnya tersebut BU juga melemparkan tuduhan bahwa MUI Jawa Timur dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menebar virus kebencian antarsesama umat Islam.
Tentu saja, bagi yang sudah menelaah fatwa MUI Jawa Timur yang diterbitkan pada 21 Januari 2012 akan mudah menyimpulkan bahwa si penulis dan mungkin saja tokoh-tokoh Syiah lainnya sedang ‘terbakar emosinya’, sehingga tidak utuh membaca butir-butir fatwa MUI Jatim.
Sebab, tidak ada sama sekali himbauan, surat resmi apalagi fatwa untuk menyerang pemeluk Syiah di Sampang Madura. Fatwa itu diterbitkan juga bukan untuk memancing amarah Syiah, tapi justru untuk mengamankan antara Sunnah dan Syiah. Syiah pasti keberatan dengan fatwa tersebut, karena kedok-kedok kesesatannya terbuka.
Mari kita telaah fatwa itu secara utuh. Dalam rekomendasinya MUI Jatim menulis tujuh butir.
Pada butir (b) tertulis: “Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam”.
Pada butir (e) rekomendasi fatwa itu tertulis, “Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus ada penanganan secara komprehensif”.
Latar belakang diterbitkannya fatwa sesat tersebut justru karena dipicu ajaran Tajul Muluk yang menghina sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Tajul dihukum dua tahun penjara.
Jadi, siapakah yang provokator di Sampang? Akal sehat pasti akan menyimpulkan bahwa pelaknatan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam oleh Tajul-lah yang memicu Sampang membara. Sebelum ada ajaran pelaknatan, umat Sampang aman, dan damai. Jika BU dan kelompok Syiah Indonesia membela Tajul, berarti sama saja menyokong tumbuhnya benih-benih permusuhan terhadap umat.
Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, Syiah selalu menghindar untuk berdalil menggunakan kitab-kitab standar mereka. Mereka mencari-cari dalil di kitab Ahlus Sunnah dengan cara memutilasi penafsiran dan kalimat. Strategi ini untuk mengelabuhi umat Ahlus Sunnah bahwa basis ideologi Syiah juga ditemukan di referensi Ahlus Sunnah. Inilah bentuk taqiyah akademik Syiah.
Di antaranya menyodorkan riwayat Ibnu Asakir yang terdapat dalam Tarikh Dimasyqa yang berbunyi:
لكل نبي وصي ووارث وإن عليا وصيي ووارثي
“Setiap Nabi mempunyai seorang washi dan pewaris. Sesungguhnya Ali adalah wahiku dan pewarisku”.
Padahal riwayat ini menurut Imam al-Suyuthi palsu (lihat Lu’lu’ al-Mashnu’ah fi Ahadits al-Maudhu’ah jilid I hal. 368). Begitupula imam al-Zarqani, menurutnya hadits ini tertolak, sanadnya tidak jelas.
Hadits berikutnya berbunyi:
أنت مني بمنزلة هارون من موسى
“Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa.” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini menjadi andalan Syiah untuk melakukan tipuan terhadap jamaah Ahlus Sunnah. Bahwa akidah Syiah telah dilegitimasi oleh hadits Sunni.
Syeikh Ali Ahmad as-Salus dalam Ma’a al-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah fi al-Ushul wa al-Furu’ (mausu’ah syamilah) Dirasa Muqaranah fi al-‘Aqoid wal Tafsir yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia “Ensiklopedi Sunnah-Syiah”, menjelaskan secara utuh asabab al-wurud hadits tersebut.
Ketika perang Tabuk, Ali dipercaya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk menggantikan tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di Madinah. Ali bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mempercayaiku sebagai pengganti tugasmu bagi kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau tidak mau untuk aku jadikan seperti kedudukan Harun dari Musa, akan tetapi ketahuilah bahwa tidak ada Nabi sesudahku”.
Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali sebagai orang kepercayaan Rasulullah saat Rasulullah berangkat perang di Tabuk. Hadits ini tidak menunjukkan pengangkatan Ali sebagai Khalifah.

Tidak ada term yang jelas dan lugas dalam hadits itu. Penunujukan Rasulullah itu ternyata sudah biasa beliau lakukan kepada sahabat-sahabat yang lain, selain Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah mengangkat Ibn Abi Maktum untuk mengganti tugas Rasul sebagai kepala pemerintahan di Madinah saat Rasul perang dengan Bani Nadhir dan Khandaq.
Begitupula pernah menunjuk Ustman bin Affan ketika beliau keluar dalam perang Dzaturriqa’ dan menunjuk Abdul Mundzir ketika Nabi berangkat perang Badar.
Jika penunjukkan Ali pada perang Tabuk itu oleh BU dianggap sinyal bahwa Ali menjadi Khalifah Rasul atau Imam, tentu konsekuensinya Ibnu Abi Maktum, Ustman, dan Abdul Mundzir juga harusnya menjadi Khalifah Rasul dan imam bagi kaum Syiah. Tapi kenyataannya justru kaum Syiah melempar sahabat Ustman dari barisan murid Rasul yang adil. Bahkan dicela dan dimaki.
Lagi-lagi, Syiah melakukan manipulasi penafsiran. Sejatinya ini bukan perbedaan penafsiran hadits, tapi penyelewengan atau penyesatan hadits Rasul. Tentu saja berbeda antara penafsiran dan penyesatan. BU membela diri bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah itu pada perbedaan interpretasi. Ia menulis, “Jadi masalahnya di sini pada perbedaan interpretasi. Dalam masalah ini semestinya tidak boleh ada klaim kebenaran dan saling menyesatkan. Masing-masing pihak memiliki kaca mata kebenaran yang berbeda” (hal. 22).
Pembelaan diri Syiah biasanya dengan mengangkat logika relativisme dan menutupi dalil dalam referensi standar Syiah. Relativisme adalah ajaran bahwa tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai agama. Satu keyakinan tidak boleh mengklaim memiliki kebenaran absolut yang paling benar. Ajaran ini merupakan inti paham liberalisme. Jika telah terpojok Syiah biasanya memakai pisau ini untuk membela diri.
Klaim syiah bahwa Ali sebagai Imam itu bagian dari akidah Syiah. Bahkan dari akidah ini syiah memperlihatkan sebagai sekte Takfiri. Al-Kulaini, penyusun kitab al-Kafi, mengatakan bahwa orang yang tidak mengakui Ali sebagai imamah adalah musyrik (Muhammad bin Ya’qub al-Kulayni, al-Kafi juz I hal. 427). Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya ungkapan lafadz Syirik dan kufur itu ditujukan untuk orang yang tidak beriman terhadap keimamahan amirul mu’minin (Ali)” (al-Majlisi, Bihar al-Anwar juz 23 hal. 390).
Dua hadits di atas dalam pandangan Syiah, merupakan hadits-hadits dalam kategori akidah. Sehingga penyelewangan Syiah terhadap makna hadits sangat terlampau jauh. Oleh sebab itulah, maka ini bukan sekedar beda tafsir. Yang tepat ini penyesatan makna hadits. Perbedaan penafsiran itu memang ada di kalangan ulama’. Tapi perbedaan penafsiran pendapat itu biasanya terjadi dalam ranah ijtihadiyah dalam teks-teks yang bersifat dzaniyyat. Perbedaan ini dapat pula disebut tanawwu’ (variatif) (Ibn Taimiyah, Iqtida’ Shirat al-Mustaqim,124).
Kontradiksi cukup kelihatan ketika BU menyodorkan hadits riwayat Bukhari, bahwa terdapat satu riwayat tentang murtadnya sebagaian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diakui shahih oleh Ahlus Sunnah. Hadits tersebut berbunyi:
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, ‘Pada hari kiamat segolongan dari sahabatku (ashabiy) akan menghampiriku. Tiba-tiba mereka dijauhkan dari telaga. Maka aku berkata, ‘Tuhan! Mereka para sahabatku’. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah murtad dari apa yang telah diperintahkan.” (HR. Bukhari).(hal. 34).
BU mengomentari hadits tersebut, “ … tidak berlebihan sekiranya kita simpulkan bahwa hadits murtadnya sahabat adalah mutawatir”. Menurut BU, MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin menuduh Syiah memurtadkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah keliru. Sebab, katanya, justru Syiah mengetahui kemurtadan sahabat dari riwayat Ahlus Sunnah (baca hal. 35).
Logika BU tampak makin terlihat kebingungan. Pada halaman-halaman sebelumnya ia menolak Syiah dikatakan memurtadkan sahabat, dan membela Tajul Muluk. Namun, di halaman 34-35 ia menyodorkan hadits Bukhari bahwa Syiah mengetahui kemurtadan shabat dari hadits Bukhari tersebut. Artinya, BU sesungguhnya mengakui ada sahabat yang murtad, meski itu diakui ‘nyontek’ dari hadits Bukhari.
Lantas bagaiman hadits riwayat Bukhari di atas? Dalam kitab Fath al-Bari 13 hal.197, al-Khattabiy menjelaskan hadits ini:
قال الخطابى: لم يرتد من الصحابة أحد وانما ارتد قوم من حفاة الاعراب ممن لا نصرة له فى الدين وذلك لا يوجب قد حا فى الصحابة المشهرين
Al-Khathaby berkata: “Tidak seorangpun dari sahabat-sahabat Nabi telah murtad, tiada lain sesungguhnya yang murtad adalah kelompok dari pembelot-pembelot di kalangan bangsa Arab pedesaan, itu kelompok yang tidak pernah menolong kepentingan Islam.”
Pada kitab dan halaman yang sama Imam ‘Iyadl dan al-Baji mengatakan bahwa yang tidak bisa minum air di al-Haudl adalah orang-orang yang murtad di masa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Mereka adalah orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar. Pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, terdapat orang-orang yang baru masuk Islam murtad dari Islam. Namun yang murtad tidak ada dari para pembesar-pembesar sahabat. Orang yang murtad ini bukan lagi al-shahabat, sebab definisi sahabat adalah orang yang beriman yang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan meninggal dalam keadaan beriman.

BU menyontek matan hadits tersebut namun mengkreasi sendiri makna yang jauh dari yang sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam kitab Fath al-Bari syarah kitab al-Bukhari. Inilah yang disebut Kalimatun haq urida biha Bathil (kalimat benar digunakan untuk kepentingan kebatilan).
Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan penistaan apalagi pemurtadan sahabat. Di kalangan Syiah, ajaran cacian sahabat itu sudah tidak bisa ditutup-tutupi. Dari dulu hingga kini doktrin cacian itu terpelihara dan diamalkan oleh Syiah. Kelompok Syiah tentu saja membela diri bahwa Syiah sekarang tidak mengamalkan ajaran itu. BU menulis, “Ayatullah Ali Khamanei dan Ayatullah Ali Sistani mengharamkan penistaan terhadap simbol-simbol yang dimuliakan Ahlus Sunnah” (hal. 32).
Tapi, ternyata tokoh panutan Syiah kontemporer, Khumaini, secara keci mencaci sahabat. Dalam buku Kitab al-Thaharah jilid III halaman 457 karya Khumaini mengatakan bahwa Aisyah, Talhah, Zubair dan Mu’awiyah dan orang-orang sejenisnya secara lahir tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikkan dari anjing dan babi (Kanu akhbas min al-kilab wa al-khanazir).
Harusnya, BU dalam bukunya serta kaum Syiah, jika memang benar tidak mecaci sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyelesaikan keanehan-keanehan pendapat para tokoh-tokoh mereka sendiri, seperti Khumaini. Kenyataannya, tidak ada koreksi, justru tokoh-tokoh baik klasik maupun kontemporer jadi panutan Syiah dalam mengamalkan ajarannya. Tidak perlu BU mencari-cari dalil dalam kitab Ahlus Sunnah. Apalagi merendakan secara tidak etis tokoh Ahlus Sunnah Indonesia dan para penulis majalah Gontor yang ia sebut ‘tidak berkelas’. Syiah secara keji menghina para sahabat dan Aisyah, tapi mereka keberatan disesatkan dan dicaci ajarannya. Salah satu ciri aliran sesat memang loginya cenderung kontradiksi.*
Penulis adalah Alumni Pascasarjana ISID Gontor-Peneliti InPAS Surabaya



Syiah Musuh Yahudi? Jawab 10 Pertanyaan Ini Dulu, Bro!

Sebuah tantangan kembali populer di media sosial menyusul pemberontakan Syiah Hautsi di Ibukota Yaman, San’a pekan ini. Tantangan ini berupa sepuluh pertanyaan dari ahli sunah kepada Syiah Hautsi untuk menjawabnya. Bila terjawab, siapa saja yang ikut serta dalam tantangan itu berjanji akan masuk ke aliran Hautsi.
Sejatinya, tantangan yang bertujuan membongkar kedok Syiah Hautsi tersebut telah diumumkan sejak September 2012 lalu, namun tidak ada jawaban dari mereka untuk menampik kenyataan. Isi pernyataan tantangan tersebut adalah:
“Saya umumkan kepada semua orang dan dunia menjadi saksi, bila Syiah Hautsi bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, saya akan bergabung dengan Hautsi dan tidak akan menarik keputusan saya meski dibayar dengan harga berapa pun. Saksikanlah wahai manusia! Saya menyampaikan pernyataan ini di depan kalian semua.
Dapatkah orang-orang Hautsi atau pendukung Syiah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut? Aku menantang mereka! Sampai saat ini belum ada satu pun orang Hautsi yang sanggup menjawabnya. Mereka bungkam!
1.    Pertempuran apakah yang pernah diperjuangkan oleh orang-orang Hautsi untuk melawan Amerika dan Israel? Apakah pertempuran Damaj, Al-Jauf, atau Hujjah Kasyr Hajur?
2.    Mengapa Amerika dan Israel tidak memasukkan kelompok Hautsi dalam daftar kelompok teroris? Padahal slogan ancaman selalu mereka ulangi lebih daripada bacaan surat Al-Fatihah dalam shalat?
3.    Mengapa pesawat Amerika tidak menargetkan penduduk Hautsi, baik pemimpin, individu maupun perkumpulan mereka, seperti Amerika menargetkan “teroris” dari organisasi Al-Qaidah di setiap tempat?
4.    Mengapa para pemimpin Hautsi yang hidup di antara orang Yahudi tidak ditangkapi? Padahal secara lisan, mereka melaknat Yahudi. Contohnya Yahya Al-Hautsi yang mencela Yahudi dan meneriakkan slogan-slogan perlawanan secara aman dan tenang di tengah-tengah orang Yahudi. Mengapa ia menikmati semua hak dan perlindungan penuh, dari orang-orang Yahudi?
5.    Mengapa perdana menteri Israel mengatakan bahwa jatuhnya Bashar Assad tidak berpengaruh bagi kepentingan Israel? Beri tahu kami, wahai Abdul Malik Al-Hautsi (pendiri Hizbul Ummah) dan Hassan Nasallah (maaf; Hassan Khanallah) tentang rahasia penting yang berlangsung sejak lama ini. Kalian mengatakan Suriah adalah negara yang melindungi kaum muslimin, tetapi mengapa hari ini tampak melindungi Israel? Cerita apa yang begini, wahai Abdul Malik?
6.    Mengapa Bashar Assad membunuh hampir 150.000 rakyat Suriah dan kebanyakan orang yang menuntut perubahan? Mengapa kita tidak mendengar sekali pun Bashar membunuh satu saja orang Yahudi?
7.    Apa yang kalian persembahkan kepada rakyat Yaman selain sakit kepala dan fitnah di setiap tempat yang kalian kunjungi? Di Saada, Hajjah, Taiz, Al-Jauf dan di mana saja?
8.    Bagaimana cerita pertemuan-pertemuan rahasia para pemimpin kalian di Hizbul Ummah dengan para penanggung jawab di Kedutaan Besar Amerika? Di manakah ancaman kematian untuk Amerika dan Israel, kutukan untuk Yahudi, sementara kalian juga mengutuk Inisiatif negara-negara Teluk serta mengancam rakyat Yaman bila mereka tidak mengikuti nafsu kalian? Nasihatilah Kami bila kalian berkenan!
9.    Mengapa kita tidak pernah mendengar para pemimpin Hautsi satu kali pun mengecam rezim Bashar Assad atau simpati kepada rakyat Suriah yang sedang menghadapi pembantaian brutal?
10.Bagaimana cerita tentang pernyataan Duta Besar Amerika, saat mengatakan di depan dunia bahwa ia selalu bertemu dengan orang-orang yang mewakili Hauthi?

Hasan Nasrullah petinggi Hizbullah Lebanon (kiri) dan Abdul Malik Al-Hautsi pendiri Hizbul Ummah Yaman (kanan). [foto: google Image]
Hasan Nasrullah petinggi Hizbullah Lebanon (kiri) dan Abdul Malik Al-Hautsi pendiri Hizbul Ummah Yaman (kanan). [foto: google Image]
Selain sepuluh tantangan tersebut, orang-orang yang bergabung menambahinya dengan enam pertanyaan lain:
Merdekakanlah otakmu dari tipuan!
1) Mengapa tidak ada Syiah dipenjara di Guantanamo?
2) Mengapa Barat tidak menambahkan kelompok-kelompok Syiah ke dalam daftar teroris?
3) Apa peran nyata Hizbullah di Lebanon Selatan?
4) Mengapa drone Amerika membombardir Ansar Syariah (Al-Qaidah) dan tidak membom Hauthi, padahal kedua kelompok ini sama-sama di Yaman?
5) Mengapa Prancis bersikeras mencegah upaya untuk memasukkan Hizbullah ke dalam daftar terorisme?
6) Mengapa Barat tidak membolehkan kekuasaan Islam Sunni untuk membentuk negara, baik di Afghanistan, Somalia, Mali, Yaman dan lainnya? Di sisi lain, mengapa Barat membolehkan untuk Syiah Iran untuk menjadi negara adidaya di Teluk?
7) Mengapa Syiah dibolehkan berkembang di Afrika, sedangkan yayasan-yayasan sosial Sunni dilarang?
Berhenti dan renungkanlah!!                                                                   
Sebuah pemandangan yang menunjukkan kesiapan Hautsi untuk melakukan perlawanan bersenjata pada Agustus 2014 lalu di Yaman [foto: yemen-press.com]

Sebuah foto yang menggambarkan kesiapan Hautsi untuk melakukan perlawanan bersenjata pada Agustus 2014 lalu di Yaman [foto: yemen-press.com]
Perlu disebutkan bahwa Syiah memakai cara-cara kekerasan untuk mendapatkan kekuasaan. Sebelum dunia hari ini menyaksikan pemberontakan Syiah Hautsi di Yaman, sejarah telah mencatat ulah mereka yang selalu menikam dari belakang. Dr. Majdi Ar-Rab’i, seorang spesialis dalam bidang sejarah mengatakan:
Saya telah menghabiskan sepuluh tahun hidup saya di lingkungan Syiah. Saya mempelajari sejarah, menggali jejak dan leluhur, serta konflik mereka dengan ahli sunah wal jamaah.
Hal itu saya lakukan selama menempuh perjalanan ilmiah untuk jenjang master dan doktoral dalam sejarah Syiah di Irak, khususnya, dan Iran.
Saya mengamati dengan seksama Syiah Bathiniyah yang menghalalkan darah kaum muslimin. Syiah disebarkan dengan besi dan api (kekerasan), sampai berhasil memaksa rakyat Iran untuk menerima Syiah. Mereka memaksa jutaan Sunni untuk masuk ke sekte Syiah hingga para sejarawan menghitung jumlah ahli sunnah yang dibunuh oleh negara Safawi mencapai jutaan jiwa. Mereka disembelih dengan pedang di tangan para Syiah Rafidhah. Iran telah berubah dari Iran Sunni menjadi Iran Majusi Rafidhah.
Bahkan Syiah telah melalui masa sejarah yang paling menjijikkan ketika mereka masuk ke dalam aliansi dengan orang-orang Yahudi dan Kristen melawan ahli sunah wal jamaah.
Syiah menjadi sebab terhentinya penaklukan-penaklukan di Eropa pada masa Utsmani setelah menaklukkan Eropa Timur. Padahal kaum muslimin sudah masuk ke jantung Eropa dan mampu memblokade Wina. Tetapi, serangan Syiah Safawi dari belakang memaksa kekuatan Utsmani melepaskan pengepungan Wina dan kembali lagi ke negara timur. Mimpi penaklukan Eropa dan masuknya orang-orang mereka ke dalam Islam lenyaplah sudah.
Hal tersebut mendorong seorang sejarawan senior Barat, untuk mengatakan, “Kalau bukan karena pengkhianatan Syiah Safawi terhadap kekhalifahan Utsmani, dan serangan mereka dari belakang, kekuatan Utsmani pasti sudah bisa merebut seluruh Eropa, dan Eropa berubah menjadi benua Islam.
Peristiwa-peristiwa yang saya dalami dalam jangka waktu lama dan saya hampir tidak percaya adalah bagaimana seseorang tega melakukannya padahal ia mengaku sebagai muslim.
Yaitu yang dilakukan oleh Syiah Qaramithah (salah satu sekte bathiniyah syiah) di Baitullah pada tahun 317 Hijriah. Tepatnya pada hari Tarwih, mereka menyerang para jamaah haji dan membunuh lebih daripada 30 ribu jiwa. Mereka menghancurkan kubah Zamzam, mencopot pintu Ka’bah, dan membongkar kiswahnya. Mereka menyembelih jamaah haji meskipun berlindung di balik tirai Ka’bah. Mereka mengubur para korban di sumur Zamzam. Kemudian mereka mengambil Hajar Aswad dari tempatnya dan membawanya pulang.
Ketika itulah saya percaya hakikat pernyataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah tentang Syiah Bathiniyah, bahwa mereka lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani. Bahwa memerangi mereka lebih wajib daripada memerangi orang kafir karena mereka masuk dalam hukum orang-orang murtad.
Hari ini, kita menyaksikan budak-budak Assad di Suriah membunuh dan menyembelihi ahli Sunah dalam serangkaian pembantaian keji yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Tatar. Mereka menghancurkan masjid-masjid dan menodainya. Setelah melihat fakta ini, saya yakin bahwa Bashar Assad dan kelompoknya Syiah Nushairiyah (Al-Alawiyah) adalah keturunan dari sekte Bathiniyah dan Qaramithah itu. Mahabenar firman Rabbku, ‘Sebagian mereka bagi sebagian yang lain adalah satu keturunan.’ Sejarah seperti terulang kembali!” ungkap Dr Majdi Al-Rab’i mengakhiri tulisannya. (Agus Abdullah)

Tokoh Syiah dan Sikapnya Pada Ulama Sunni

Imam Al Ghazali, bahkan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dikenal tegas sikapnya terhadap Syiah, apakah layak disebut badut dan orang yang kuper?
Oleh: Kholili Hasib
SEJAK dikeluarkan buku panduan berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” yang diterbitkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, kelompok Syiah sudah nampak kepanikannya. Setidaknya ini terlihat dengan berbagai usaha dan aksi-aksi menangkal sikap MUI.
Namun begitu berganti pemerintahan baru, komunitas Syiah Indonesia makin menunjukkan ‘kenekatannya’. Terkadang, muncul pernyataan-pernyataan yang tidak rasional dan emosional.
Seperti pada Kamis lalu (27/11/2014), Muhsin Labib, tokoh Syiah menyebut para ulama Sunni sebagai ‘badut’. “Ada sekelompok badut-badut yang ingin membubarkan. Mereka kuper dan tidak gaul,”ujar Muhsin dalam sebuah acara yang diadakan ABI (Ahlul Bait Indonesia) di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. [Baca:Muhsin Labib Sebut Ulama Yang Menyesatkan Syiah Adalah Badut]
Pada kesempatan itu, tokoh Syiah alumni Qum Iran ini secara terang-terangan menyebut ulama yang menyesatkan Syiah sebagai ulama yang berpikiran sempit dan pemikirannya terbatas.
Siapa yang disebut Muhsin badut? Tidak lain para ulama yang telah memfatwakan sesat ajaran Syiah. Pernyataan dosen UIN Jakarta sungguh tidak patut. Kita semua tahu, mayoritas ulama telah menyatakan Syiah sebagai ajaran sesat. Dengan logika itu, berarti dari ulama madzhab empat, pendiri NU (Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari), MUI sampai ulama Madura semuanya (dalam logika Muhsin),  semuanya adalah badut.
Sejak dahulu kehadiran Syiah selalu ditolak para ulama. Pada perang Salib mereka menjadi duri kaum Muslimin. Prof. Ali Muhammad al-Shalabi menceritakan peran Imam al-Ghazali dalam menghalau Syiah.
Beliau mengatakan: “Imam al-Ghazali dengan pemikirannya yang mendalam, serta pengharuhnya yang luas, telah mampu memberikan peranan kuat dalam melawan gerakan Syiah Batiniyah dan mendolong madzhab Ahlus Sunnah. Imam al-Ghazali telah mampu meletakkan ilmu-ilmu syariat dan ilmu logika yang dimilikinya sesuai porsinya; sehingga hal itu merupakan metode yang kuat untuk mencabut dan meruntuhkan Syiah Batiniyah sampai ke akar-akarnya” (Ali Muhammad al-Shalabi,Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis, hal. 219).
Dilaporkan dalam buku itu, betapa imam al-Ghazali yang ahli tasawuf menunjukkan keberanian yang tinggi dalam menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan Syiah pada masa itu. Imam al-Ghazali membuka kedok Syiah dengan menunjukkan kotradiksi dan pemikiran Syiah. Dan membukan tabir kejahatan perilaku pengikutnya yang merugikan umat Islam pada saat Perang Salib I. Syaikh Yusuf Nabhani dalam kitab Syawahidul Haq membeber sejumlah ulama yang memfatwakan Syiah sesat.
Kurang lebih 50 ulama Madura yang tergabung dalam organisasi BASSRA (Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura) pada tahun 2012 mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syi’ah yang dibawa Tajul Muluk. Mereka adalah ulama-ulama terhormat yang memiliki pesantren. Ulama yang tergabung dalam organisasi ini bukan orang bodoh, bukan pula ulama yang gila jabatan. Lihatlah, mereka memperjuangkan Ahlus Sunnah sampai ke pemerintah pusat, PBNU dan MUI.
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, figure sentral dalam jama’iyyah NU, tidak kalah tegas menyesatkan Syiah. Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syiah Imamiyyah dan Syiah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, halaman 9).
Dalam kitab tersebut, beliau mengecam golongan Syiah yang mencaci bahkan mengkafirkan Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Mengutip hadis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa’iq al-Muhriqah, Syeikh Hasyim Asy’ari menghimbau agar para ulama’ yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi Saw itu.
Hadis Nabi Saw yang dikuti itu adalah: “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap Sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci Sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”.
Warga Nahdliyyin terutama Madura jelas tersinggung oleh Muhsin Labib. Menyebut ulama sebagai badut adalah pelecehan. Ia harusnya meminta maaf terhadap ulama NU dan Madura. Bagaimana bisa seorang doktor bidang filsafat mengeluarkan statemen kasar dan emosional. Semestinya seorang doktor filsafat berbicara dengan landasan-landasan berpikir mantiqi(rasional), terstruktur dan tidak emosional.
Jika tidak terima dengan fatwa ulama yang menyesatkan Syiah, tunjukkan argument-argumen dan buat proposisi-proposisi yang menunjukkan kesalahan fatwa ulama tersebut. Dari sisi mana kelirunya? Dalil, istinbath hukum nya, ataukah dari data-data yang dimiliknya? Semua perangkat dasar ini tidak ditunjukkannya. Artinya keseluruhan argumennya tidak dapat diterima. Jika tanpa perangkat dasar berargumen ini tidak diajukan, maka soerang siswa SMA pun tidak diragukan mampu melakukan seperti statemen Muhsin Labib.
Karena dia seorang doktor bidang filsafat, maka emosional dan tidak rasional semestinya ia hindari. Akan tetapi, ternampak akhir-akhir ini panik, meski mendapatkan ‘kran’ untuk melebarkan sayapnya.
Namun, memang paradigma berpikir Syiah berasas dari pelecehan dan kebencian. Dalam kitab “al-Syiah Hum Ahlus Sunnah” dikatakan bahwa empat imam madzhab fikih Ahlus Sunnah menurut Syiah adalah kafir (Muhammad al-Tijani, al-Syiah Hum Ahlus Sunnah). Aliran ini dibangun atas dasar kebencian politis terhadap Sahabat Abu Bakar dan Umar. Sehingga kebencian terhadap mereka menjadi pandangan hidupnya. Hari ini, klaim-klaim kaum Syiah bahwa mereka tidak lagi melecehkan Sahabat Nabi Saw terbukti tidak benar. Tradisi melecehkan ini susah ditinggalkan meski dibungkus dengan rapi dan halus namun pasti akan ternampak dalam hati mereka kebencian.*
Penulis adalah Anggota MIUMI Jawa Timur