Sesungguhnya mazhab Syi’ah adalah Islam yg benar dan
hakiki, karena secara totalitas mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw dan
Ahlulbaitnya yg disucikan dlm QS Al Ahzab 33 dan Sunnah dlm hadits Al-Kisa.
Adapun orang yg mengingkari ketetapan Allah dan Rasul-Nya tsb, sangat jelas
patut dipertanyakan lagi Islam dan Iman mereka.
Friday, June 5, 2015
Pertanyaan/Sanggahan Pengikut Syiah ( Malaysia ) ( I )
Siapakah Penghulu
Pemuda Syurga, Yazid, Muawiyah atau Syaidina Husein as?
Resensi Buku Terbaru Prof.DR.Ali Mustafa Ya’qub اتفاق في الأصول الوهابية ونهضة العلماء
Wahhabiyah dan Nahdlatul Ulama’
Titik Temu Nu dan Wahhabiyah
Titik Temu Nu dan Wahhabiyah
Buku bersampul warna hijau segar dengan logo Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ serta lambang Negara Saudi Arabiah bertuliskan lafadz “La Ilaaha Illallah” dengan gambar pedang di bawahnya ini beliau dedikasikan untuk Negara Indonesia tercinta, Negara serta pemerintahan Jazirah Arabiyah di mana sang penulis Prof.DR.Ali Mustafa Ya’qub menimba ilmu di sana begitu juga ribuan dari generasi Nahdlatul Ulama’ telah banyak menuntut ilmu di sana. Baik di Universitas Malik Saud di Riyadh, Universitas Islam Madinah, Universitas Ummul Quro Makkah, Universitas Al Malik Abdul Aziz di Jeddah, dan Universitas Islam Al Imam Muhammad Ibn Saud di Riyadh tempat sang penulis memperoleh gelar Licence jurusan Syariah tahun 1980 M/1400 H. Dan memperoleh syahadah Magister bidang Tafsir Hadist di Universitas Al Malik Saud tahun 1985 M/ 1405 H.
Siapa Pembunuh Saidina Hussain r.a ( Malaysia ) ( 2 )
Siapa Pembunuh Saidina Hussain
r.a
Saudara
pembaca budiman semuga rahmat Allah dilimpahi keatas kita semua.
Seorang
pembaca blog saya menulis:
Artikal Syiah –
Adakah semua
artikel ini milik asal sdara ? apa pendapat saudara ttng Faisal Tharani…..yg
dalam artikel nya mengataka yg membunuh Hussain ialah anak saad abi waqash.
Ana dr terengganu.Boleh ke
ana dapatkan no tel Sdara Abu Redza…….
Respon balas saya :
Pembunuh Sayyidina Husain? ( Malaysia ) ( I )
Pembunuh
Sayyidina Husain? (1)
BUKTI-BUKTI
SOKONGAN Walaubagaimanapun kita akan mengemukakan lagi beberapa bukti
sokongan supaya lebih menyakinkan kita tentang golongan Syiah itulah sebenarnya pembunuh Sayyidina
Husain. Di antaranya ialah :
1. Tidak sukar untuk kita terima mereka sebagai
pembunuh Sayyidina Husain apabila kita melihat kepada sikap mereka yang biadap
terhadap Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan sebelum itu. Begitu juga sikap
mereka yang biadap terhadap orang – orang yang dianggap oleh mereka sebagai
Imam selepas Sayyidina Husain. Bahkan terdapat banyak pula bukti yang
menunjukkan merekalah yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan beberapa orang
Imam walaupun mereka menuduh orang lain sebagai pembunuh Imam- imam itu dengan
menyebar luaskan propaganda- propaganda mereka terhadap tertuduh itu .
Thursday, June 4, 2015
Kerjasama Iran dan Indonesia Adalah Celah Kudeta Syiah di Indonesia
Pakar
aliran sesat, Ustadz Farid Ahmad Okbah menyampaikan pandangannya mengenai kerja
sama Iran dan Indonesia. Menurutnya ini adalah celah dimana mereka bisa terus
mengekspor faham dan wacana untuk mengudeta Indonesia. Namun pemerintah
tidak menyadari hal ini. Di sisi lain, beliau bersyukur atas banyaknya gerakan
menolak ajaran sesat ini.
“Alhamdulillah di Indonesia banyak gerakan
menolak Syiah, harusnya ini di sambut oleh pemerintah Indonesia untuk
kemudian membatasi hubungannya dengan Iran karena memang Iran ini negara yang
penuh dengan makar,” jelasnya kepada gemaislam di Hotel Grand Alia Cikini,
Jakarta Pusat pada Selasa (2/6/2015).
Beliau melanjutkan “Awalnya secara
politik dan ekonomi tapi ujung ujungnya adalah untuk ekspor revolusi
Iran,”
Menurutnya salah satu misi yang harus
diemban para aktivis dan pejuang islam saat ini adalah memberikan kesadaran
kepada umat dan pemerintahan akan bahaya syiah. Umat Islam di Indonesia
sebenarnya sudah dapat merasakan bahaya syiah secara agama dan politik. Hal ini
bisa dilihat dari konflik antara sunni dan syiah yang terjadi di berbagai
tempat di Indonesia sebanyak 20 kali.
Secara gamblang beliau menjelaskan.
Andaikan ini terus dibiarkan, maka konflik seperti yang terjadi di Timur
Tengah akan terjadi di Indonesia. Bagi syiah revolusi adalah keniscayaan yang
harus dilakukan.
“Di luar pun sudah terbukti sudah ada empat
negara sunni yang kemudian jatuh ke tangan Syiah. Apakah itu Irak, Suria,
Libanon maupun Yaman. Kalau kemudian pemerintah tidak menyadari
keadaan yang seperti ini maka itu bisa terjadi peristiwa yang
sama di Indonesia. Mangkanya kita segera mengingatkan kepada negara
Indonesia,” Ustadz Farid mengharapkan.
KH. Athian Ali Nilai
Penyerangan Az Zikro & Daarut Tauhid adalah Warning Bagi Umat Islam dari
Syiah
Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) KH. Athian Ali M. Dai,
MA mengatakan bahwa peristiwa penyerangan kompleks Az Zikro pimpinan Ustadz
Arifin Ilham dan “insiden” pembakaran lantai dasar Masjid Daarut Tauhid
merupakan satu warning bagi umat Islam.
“Ini satu bentuk warning bagi umat Islam yang selama ini mereka
mengira bahwa apa yang kita sampaikan tentang ancaman syiah terhadap umat
Islam ini, yang selama ini mereka mengira itu (ancaman –red) tidak mungkin,
banyak yang mulai menyadari,” katanya kepada voa-islam.com yang
menemui dikediamannya, di Bandung, pada Rabu (27/05).
KH. Atian Ali kemudian menyampaikan bahwa ajaran Syiah ini lahir
karena dibidani oleh politik sehingga mereka ada karena memperjuangkan
kepentingan politik.
“Jadi tidak ada istilah dari mereka kecuali berjuang untuk itu
(kepentingan politik),” ujarnya memaparkan awal mula lahirnya paham Syiah.
...salah satu rukun Islam mereka adalah wilayah, karena mereka
tidak mengenal batas teritorial sehingga semua syiah yang ada di negara mana
pun harus tunduk pada Imam yang sekarang ini adalah Khoemaini
Oleh karena itu, menurut KH. Athian Ali kita bisa lihat syiah di mana-mana
itu akan berjuang untuk memenangkan kekuasaan untuk berkuasa.
“Karena rukun iman mereka (syiah) adalah imamah, bahkan rukun iman
mereka satu-satunya adalah imamah ini,” tutur KH. Athian Ali yang sudah
mengamati aliran sesat ini selama lebih dari 28 tahun.
Setelah itu, kata KH. Athian Ali salah satu rukun Islam mereka
adalah wilayah, karena mereka tidak mengenal batas teritorial sehingga semua
syiah yang ada di negara mana pun harus tunduk pada Imam yang sekarang ini
adalah Khoemaini.
“Maka adalah menjadi kewajiban bagi mereka untuk berjuang untuk
bisa di daerah masing-masing untuk bisa menguasai negara-negara yang (di situ
ada syiah), karena itu kita lihat kapan saja merasa kuat sedikit sudah akan
revolusi,” pungkasnya.
Hindari Revolusi Syiah dan Komunis, Kerja Sama Indonesia dengan
China dan Iran Harus Dibendung
Ustadz
Farid Ahmad Okbah menyampaikan pandangannya mengenai kerja sama Iran dan
Indonesia. Menurutnya ini adalah celah dimana mereka bisa terus mengekspor
faham dan wacana untuk mengudeta Indonesia. Namun pemerintah tidak
menyadari hal ini.
Selain itu Pakar aliran sesat ini menghimbau
agar pemerintah berhati hati atas tawaran kerja sama dari Iran dan China.
Pasalnya selain misi diplomasi mereka pun memiliki misi penyebaran faham dan
wacana revolusi. Hal ini dikarenakan kedua negara ini memiliki maksud dan pola
politik yang sama.
“Pola syiah dan PKI -kalau di Indonesia itu
PKI- itu sama, ketika sedikit mereka berbaik-baik, ketika banyak
mereka mengeksekusi. Itu Karena polanya sama,”
Beliau juga menyebutkan bahwa China dan Iran
sekarang sedang dekat dan kompak. Hal ini bisa dilihat dari peran negara
komunis terhadap revolusi yang dilaksanakan Iran. Ketika Iran berniat
merevolusi maka disana ada china sebagai negara komunis yang mendukungnya.
“Mangkanya kerja sama iran dengan china Nampak sekali di suria , keduanya
bekerja sama untuk mem-back_upbashar ashad,”
jelasnya.
Beliau menutup dengan sebuah gambaran. Ketika
Indonesia tidak membatasi hubungannya dengan china maka PKI gaya baru akan
menyebar. ketika tidak membatasi hubungan dengan Iran maka Syiah akan menyebar.
Karenanya, keduanya harus dibendung. Merupakan upaya kita secara bersama
untuk menyadarkan pemerintah agar membendung kedua saluran ini.
Artikel terkait yang perlu diketahui
Waspadalah,… Misi
Rahasia Orang-orang syiah…
Jelang Akhir Rezim Assad?
“Arab Saudi Tak Lagi
Peduli Siapa Di Antara Kami Yang Menang, Selama Bukan Isis.”
Setahun
lalu, Presiden Suriah Bashar al-Assad dan para sekutunya memproklamasikan
kemenangan mereka atas musuh-musuhnya. Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah,
salah satu sekutu utama Assad, mengatakan bahaya bagi rezim Assad sudah lewat.
Suriah, menurut Nasrallah, juga sudah lepas dari kemungkinan terbelah konflik
sektarian. “Musuh-musuh Assad tak bisa menjatuhkannya, tapi mereka bisa saja
terus merongrong,” kata Nasrallah kala itu. Sejumlah kemenangan kecil Negara
Islam alias ISIS di Provinsi Latakia, di mata pemimpin milisi Syiah dari
Libanon itu, tak banyak artinya. “Itu hanya operasi terbatas... tapi media
kelewat membesar-besarkannya.” Siapa pun yang hendak bicara soal perdamaian di
Suriah, menurut Nasrallah, dia harus datang kepada Assad. “Apa pun solusi
politik untuk Suriah, harus dimulai dan diakhiri dengan Assad,” kata Nasrallah.
Pernyataan Nasrallah terang ditujukan kepada semua pihak yang menghendaki Assad
menyingkir dari Damaskus. Satu tuntutan yang tak akan dipenuhi oleh Assad dan
sekutu-sekutunya. “Tak akan ada negosiasi yang berujung pada turunnya Assad.” Assad
punya utang besar kepada Nasrallah dalam meraih “kemenangan” itu.
Bersama
sponsor utama mereka, Iran, pasukan Assad dan prajurit Hizbullah bahu-membahu
melawan ISIS, Front al-Nusra, Tentara Pembebasan Suriah, dan kelompok-kelompok
anti-Assad lain. Sejak Nasrallah menyampaikan perintah kepada pengikutnya untuk
membantu Assad lebih dari dua tahun lalu, ribuan prajurit Hizbullah
mencemplungkan diri di medan perang Suriah. Bagi Nasrallah dan pengikutnya,
mengangkat senjata untuk Assad bukan cuma menolong sesama muslim Syiah—Assad
berasal dari keluarga Syiah Alawiyyah—tapi juga membayar utang budi. “Mereka
para tentara bayaran dari Chechnya, Yaman, dan Libya hendak menjatuhkan
Assad.... Dia telah banyak membantu kami dalam perang melawan Israel pada 2006.
Sudah jadi tugas kami untuk menolongnya,” kata Mahmud, veteran perang 2006.
Kehilangan suaminya dalam perang Suriah tak menghalangi Fatimah untuk mengirim
dua anaknya kembali ke medan tempur di negara tetangga. Anak sulungnya, Wissam,
25 tahun, sudah pulang dari Suriah. Giliran Khodr, anak keduanya, berangkat
berperang. “Aku sudah mengirim Khodr untuk mengikuti latihan selama satu bulan.
Dia harus belajar menggunakan senapan supaya bisa menjadi pejuang seperti
ayahnya,” kata Fatimah beberapa waktu lalu. Mereka, kata Wissam, tak akan
membiarkan Assad jatuh dan ISIS berkuasa di Suriah. “Apakah kami harus
membiarkan mereka datang dan menyembelih kami bak kambing seperti yang mereka
lakukan terhadap umat Syiah di Irak dan Suriah? Tidak, kami akan mengalahkan mereka
seperti kami mengalahkan Israel,” kata Wissam, penuh keyakinan. “Kami harus
patuh kepada Syekh Hassan Nasrallah saat dia meminta kami berperang. Ayahku
mati sebagai martir, dan kami siap mengikuti jalannya.”
●●●
Tak sarinya
Presiden Suriah Bashar al-Assad muncul di layar televisi. Sejak kekuasaannya
terus digoyang, Assad memang jarang tampil di televisi. Tapi, beberapa pekan
lalu, tiba-tiba Assad berpidato di stasiun televisi milik pemerintah. “Hari ini
kita sedang menghadapi perang, bukan sekadar pertempuran.... Perang bukanlah
satu pertempuran, melainkan banyak sekali pertempuran,” kata Assad. “Kita tak
sedang bicara soal puluhan atau ratusan pertempuran, melainkan ribuan
pertempuran.... Dan hal yang biasa dalam pertempuran bila kita maju atau mundur,
menang atau kalah.” Assad tak nongol di layar televisi tanpa alasan. Dia mesti
meyakinkan para pendukungnya bahwa posisinya masih kokoh, tak tergoyahkan,
meski sejak beberapa bulan lalu berita-berita soal kekalahan bertubi-tubi
pasukan loyalis Assad dari milisi Front al-Nusra, ISIS, Ahrar ashSham, dan
milisi-milisi anti-Assad lainnya terus bermunculan.
Dua video
yang beredar di Internet beberapa waktu lalu mengabarkan bagaimana perubahan
peta kekuatan di medan perang Suriah. Satu video menampilkan sekitar 1.700
prajurit milisi anti-Assad, Jaysh al-Islam, berparade di luar Kota Damaskus
lengkap dengan sejumlah tank T-72 yang mereka rebut dari pasukan loyalis Assad.
Satu video lagi merekam percakapan Kolonel Suhail Hassan, komandan kesatuan
elite Brigade Harimau, dengan Menteri Pertahanan Suriah Fahad Jassim al-Freij,
beberapa hari setelah Kota Jisr al-Shughour jatuh ke tangan gabungan milisi
Jaish al-Fattah akhir April lalu. “Mereka butuh amunisi. Mereka tak punya lagi
amunisi,” kata Kolonel Suhail lewat telepon. Setelah beberapa pekan menyerbu
Kota Jisr al-Shughour dan Idlib di Provinsi Idlib, operasi besar-besaran milisi
Ahrar ash-Sham, Front alNusra, Legiun Sham, dan Jaysh al-Sunna, yang tergabung
dalam Tentara Penakluk alias Jaish al-Fattah, berhasil mengusir tentara loyalis
Assad dari kota itu. Disokong oleh Hizbullah, Kolonel Suhail mencoba merebut
kembali sejumlah desa di sekitar Kota Jisr al-Shughour, tapi mendapat
perlawanan sengit dari milisi Jaish al-Fattah. “Seluruh Jisr alShughour sudah
dibebaskan, tak ada lagi pasukan rezim di sini,” kata Ahmad, juru bicara Ahrar
ash-Sham. Menurut dia, posisi Kota Jisr sangat strategis, karena bisa menjadi
batu loncatan mereka untuk menyerang basis-basis utama kekuatan loyalis Assad
di wilayah pesisir Suriah. “Bahkan Kota Jisr ini lebih penting ketimbang
Idlib.... Sekarang wilayah pesisir ada dalam jangkauan tembakan kami.” Dua
pekan lalu, giliran Mastouma, basis militer loyalis Assad terbesar di Idlib,
dikuasai gabungan milisi yang dipimpin Front al-Nusra. “Seluruh tentara Assad
sudah ditarik mundur dari Mastouma,” Al-Nusra menulis di Twitter.
Hanya
berselang beberapa hari, giliran Kota Palmyra yang jatuh ke tangan milisi ISIS.
Kemenangan gabungan milisi Jaysh al-Fattah menjadi kabar buruk bagi Assad.
Milisi-milisi anti-Assad yang biasanya saling bertikai kini bisa bersatu
melawan musuh bersama mereka, Bashar al-Assad. Negara-negara sponsor
mereka—Turki, Qatar, dan Arab Saudi—punya andil besar mendamaikan milisi-milisi
itu.
“Semuanya
telah berubah. Mereka telah menyingkirkan semua perbedaan.... Arab Saudi tak
lagi peduli siapa di antara kami yang menang, selama bukan ISIS. Saudi
meyakinkan semua pihak bahwa musuh nyata kami adalah Iran,” ujar seorang
pemimpin kelompok antiAssad. Ditekan ISIS dan milisi gabungan Jaysh al-Fattah
dari pelbagai arah, Assad tak punya pilihan selain berpaling pada Iran dan
Hizbullah. Dua pekan lalu, penguasa di Teheran sudah setuju memberikan utang
kepada Assad senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13 triliun untuk membiayai
perang di Suriah. Hassan Nasrallah juga siap mengirimkan tambahan ribuan
prajuritnya untuk membantu tentara loyalis Assad. “Kami akan ada di manamana di
Suriah,” kata Nasrallah. Menurut Nasrallah, mereka akan terus menggenjot
operasi militer di daerah Qalamoun, sepanjang perbatasan Suriah dan Libanon.
“Kami tak bisa menerima kelompok teroris dan takfiri di Bekaa dan Arsal.”
Assad
mungkin semakin terpojok, tapi tak berarti minggu depan, bulan depan, atau
setahun lagi bakal jatuh. Saat musuh-musuhnya terus merekrut prajurit, sejumlah
milisi Syiah yang disponsori Iran, seperti Kataib Sayyid alSyuhada dan Liwa
al-Imam al-Hussein, juga terus merekrut prajurit untuk “menolong” Assad.
Menurut sumber di Libanon, Nasrallah sadar Assad tak mungkin mempertahankan
setiap jengkal tanah di Suriah, atau merebut semua wilayah yang telah diduduki
Al-Nusra atau ISIS. “Prioritas bagi Assad adalah mempertahankan Damaskus dan
wilayah sekitar Damaskus, baru kemudian Aleppo dan sekitarnya,” kata Salem
Zahran, wartawan Libanon yang dekat dengan Hizbullah. ■ SAPTO PRADITYO | GUARDIAN | REUTERS |
CNN | NYTIMES | DAILY STAR |
AL-JAZEERA
Iran Kirim 15.000 Milisi
Syi'ah Bayaran Asal Iran, Irak dan Afghanistan ke Suriah
Iran telah mengirimkan 15.000 petempur Syi'ah bayaran ke Suriah
untuk membalikkan kekalahan pasukan pemerintah Suriah di medan perang baru-baru
ini dan "bermimpi" untuk mencapai hasil tersebut pada akhir bulan
ini, seorang sumber politik Libanon mengatakan kepada The Daily Star.
Pasukan milisi itu, terdiri dari warga Syi'ah Iran, Syi'ah Irak dan Syi'ah Afghanistan, yang dibayar minimal 3000 USD untuk terjun ke pertempurna, telah tiba di wilayah Damaskus dan di provinsi pesisir Latakia yang merupakan kampung halaman Assad, kata sumber tersebut.
Pasukan milisi itu, terdiri dari warga Syi'ah Iran, Syi'ah Irak dan Syi'ah Afghanistan, yang dibayar minimal 3000 USD untuk terjun ke pertempurna, telah tiba di wilayah Damaskus dan di provinsi pesisir Latakia yang merupakan kampung halaman Assad, kata sumber tersebut.
Sumber itu mengatakan para petempur itu diharapkan menjadi ujung
tombak upaya untuk merebut daerah-daerah di provinsi Idlib, di mana rezim telah
mengalami serangkaian kekalahan di tangan koalisi Jaisyul Fath.
Jenderal Qasem Soleimani, komandan elit pasukan Quds Iran, berada di Latakia
pekan ini untuk menopang persiapan kampanye tersebut, kata sumber itu.
Soleimani menjanjikan "kejutan" dari Teheran dan Damaskus.
"Dunia akan terkejut dengan apa yang kita dan kepemimpinan militer Suriah
sedang persiapkan untuk beberapa hari mendatang," kata kantor berita resmi
negara Iran IRNA mengutip perkataan jenderal tersebut hari Selasa (2/6/20150.
Rezim Presiden Suriah Bashar Assad setuju dengan berat hari terhadap rencana
tersebut, yang diharapkan untuk mencapai dua tujuan, menurut sumber itu.
Salah satunya adalah untuk membalikkan moral pendukung rezim yang jatuh
menyusul berbagai kekalahan di medan perang dan banyaknya jumlah korban tewas
dari pihak mereka, sedangkan yang kedua adalah untuk mencapai keberhasilan
tersebut pada akhir bulan ini, yang bertepatan dengan batas waktu bagi Iran dan
kekuatan dunia untuk menyelesaikan kesepakatan interim tentang program nuklir
Teheran.
Sebuah pembalikan nasib Damaskus, yang sangat tergantung pada bantuan dari
Syi'ah Iran, akan meningkatkan pengaruh Teheran karena berhubungan dengan fase
negosiasi penyelesaian pasca-Juni di beberapa bidang daerah bergolak, termasuk
Suriah, kata sumber itu.
Pasukan rezim Bashar Al-Assad telah berada di bawah tekanan yang meningkat
dalam beberapa bulan terakhir - di Idlib mereka dikalahkan di beberapa lokasi
oleh koalisi tujuh anggota pejuang oposisi yang termasuk milisi kuat Ahrar
Al-Sham dan Jabhat Al-Nusrah, afiliasi Al-Qaidah di Suriah.
Pasukan rezim juga kalah di kota pusat Palmyra bulan lalu setelah kampanye
singkat oleh Daulah Islam (IS). (st/tds)
Foto: 4 Milisi Syi'ah bayaran asal dari Afghanistan ditangkap
mujahidin Suriah di Idlib.
Kitab-Kitab Sirah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
Oleh : Dr. Mustafa as-Syibaie
( Di petik
dari bukunya SIRAH NABI MUHAMMAD S.A.W. PENGAJARAN & PEDOMAN – http://www.mykonsis.org )
Pada mulanya kisah dalam Sirah Nabi s.a.w. hanya merupakan hadis-hadis yang
diriwayatkan oleh para sahabat r.a. kepada generasi selepas mereka. Sesetengah
sahabat memberikan perhatian khusus terhadap setiap peristiwa yang berlaku
dalam sirah Nabi s.a.w. dan pendetailannya. Kemudian, para tabien menukilkan
riwayat-riwayat ini dan mencatatnya dalam lembaran simpanan mereka. Sesetengah
mereka memberi perhatian khusus terhadap usaha ini, contohnya: Aban bin ‘Othman
bin ‘Affan r.a (32-105H) dan ‘Urwah bin az-Zubair bin al-‘Awwam (23-93H).
Contoh di kalangan tabien kecil pula iulah, Abdullah bin Abu Bakar al-Ansori
(meninggal dunia pada 135H), Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri (50-124H)
yang mengumpulkan sunnah pada zaman ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz hasil perintahnya,
juga ‘Asim bin ‘Umar bin Qatadah al-Ansori (meninggal dunia 129H).
Kemudian keprihatinan terhadap Sirah telah berpindah kopada generasi selepas
mereka, sehingga generasi ini menulis sirah dalam penulisan yang khusus
(diasingkan daripada bidang yang lain).
Di antara pengarang awal Sirah yang
paling terkenal ialah Muhammad bin Ishaq bin Yasar (Ibnu Ishaq) (meninggal
dunia 152H). Jumhur ‘ulama dan para ahli hadis bersepakat mengatakan beliau
thiqah, kecuali Malik dan Hisyam bin ‘ Urwah bin az-Zubair.
Diriwayatkan
bahawa Malik dan Hisyam mempertikaikan beliau. Namun, kebanyakan ‘ulama
muhaqqiqin menafsirkan tindakan kedua-dua orang ‘alim besar ini mempertikaikan
kethiqahan Ibnu Ishaq adalah disebabkan persengketaan peribadi yang berlaku di
antara mereka.
Ibnu Ishaq pula telah menulis kitab al-Maghazi. Kitab ini mengandungi
hadis-hadis dan riwayat-riwayat, yang (didengarnya sendiri di Madinah dan
Mesir. Dukacitanya, kitab ini tidak sampai kepada kita. la telah hilang bersama
kitab-kitab lain yang hilang daripada warisan ilmu kita yang kaya. Akan tetapi,
kandungan kitab itu masih kekal terpelihara. Kerana Ibnu Hisyam telah
meriwayatkannya dalam kitab sirah beliau daripada jalan riwayat gurunya,
al-Bakka-ie, salah seorang murid Ibnu Ishaq yang terkenal.
Sirah Ibnu Hisyam
Beliau ialah Abu Muhammad Abdul Malik bin Ayyub al-Himyari (dikenali dengan
Ibnu Hisyam). Membesar di Basrah dan meninggal dunia pada tahun 213 atau 218H
mengikut perbezaan riwayat. Ibnu Hisyam telah menulis kitab as-Sirah
an-Nabawiyah. Kitab ini mengandungi peristiwa sirah yang diriwayatkan oleh
gurunya, al-Bakka-ie daripada Ibnu Ishaq, di samping peristiwa sirah yang
beliau riwayatkan sendiri daripada guru-gurunya. Iaitu riwayat yang tidak
disebut oleh Ibnu Ishaq dalam kitab sirahnya. Beliau telah menyebut riwayat
Ibnu Ishaq yang tidak menepati citarasa ilmunya dan yang dikritiknya. Kitab ini
muncul sebagai sumber Sirah Nabi s.a.w. yang paling amanah, paling sahih. dan
paling teliti. Ia diterima oleh orang ramai menyebabkan mereka terus menamakan
kitab itu dengan nama beliau; Sirah Ibnu Hisyam. Kitabnya ini telah disyarahkan
oleh dua orang ‘alim diri Andalus: as-Suhaili (508-581H) dan al-Khusyani
(535-604H)
Tobaqot Ibnu Saad
Beliau ialah Muhammad bin Saad bin Mani’ az-Zuhri (dikenali dengan Ibnu Saad).
Lahir di Basrah pada 168H dan meninggal dunia di Baghdad pada 230H. Beliau
adalah seorang penulis kepada Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi (130-207HJ, ahli
sejarah yang terkenal dalam bidang kisah-kisah peperangan dan sirah. Ibnu Saad
menyusun tulisannya dalam kitabnya, at-Tobaqot (selepas menulis tentang Sirah
Rasul a.s. dengan menyebut nama-nama sahabat dan tabien mengikut lapisan
generasi (tobaqot), kabilah dan kawasan mereka. Kitab beliau, at-Tobaqot
dianggap antara sumber awal sirah yang paling dipercayai dan faktanya paling
terpelihara dengan dinyatakan latar belakang sahabat dan tabien.
Tarikh at-Tobari
Abu Jaafar Muhammad bin Jarir at-Tobari (224-310H). Seorang imam, faqih, ahli
hadis dan pengasas mazhab fiqh yang kurang tersebar. Penulisan beliau di bidang
sejarah, tidak terbatas kepada Sirah Rasul a.s., bahkan sejarah umat-umat
sebelumnya. Beliau menyediakan bahagian yang khusus untuk Sirah Baginda a.s.,
seterusnya menyambung perbicaraan tentang sejarah negara-negara Islam sehingga
beliau hampir meninggal dunia. Apa yang diriwayatkan oleh at-Tobari boleh
dijadikan hujah dan dipercayai.
Walau
bagaimanapun, banyak riwayat dhaif atau batil yang beliau sebut, beliau berpada
dengan menyandarkan riwayat tersebut kepada perawinya. Ini kerana pada zaman
beliau, orang ramai mengenali perawi tersebut. Contohnya, apa yang diriwayatkan
daripada Abu Mikhnaf. Abu Mikhnaf adalah seorang pengikut Syiah yang taksub.
Namun begitu at-Tobari banyak memasukkan riwayat beliau ke dalam tulisannya
dengan cara menyandarkan riwayat tersebut kepada Abu Mikhnaf. At-Tobari
seolah-olah melepaskan tanggungjawab riwayat tersebut dan meletakkannya ke bahu
Abu Mikhnaf.
Perkembangan penulisan Sirah
Kemudian, penulisan Sirah terus berkembang. Sesetengah aspek telah ditulis
secara khusus dan berasingan seperti, Dala-il an-Nubuwwah (Tanda-tanda
Kenabian) oleh al- Asbahani, Syama-il al-Muhammadiyyah (Perwatakan Muhammad)
oleh at-Tirmizi, Zadul Ma’ad (Bekalan ke Tempat Kembali) oleh Ibnu Qayyim
al-Jauziyyah, as-Syifa’ (Kesembuhan) oleh Qadhi ‘Iyadh dan al-Mawahib
al-Ladunniyah (Bakat-bakat Kurniaan Tuhan) oleh al-Qastoluni. Ia disyarah dalam
lapan jilid oleh az-Zarqani yang meninggal pada tahun 1122H.
Demikianlah, ‘ulama masih terus menulis
berkenaan Sirah ar-Rasul a.s. dengan cara moden yang diterima oleh citarasa
anak-anak masa kini. Di antara kitab paling terkenal pada zaman moden kita
ialah kitab Nur al-Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin oleh Syeikh Muhammad
al-Khudhori rahimahullah. Kitabnya telah mendapat sambutan yang baik dan
diputuskan untuk dipelajari di sekolah-sekolah agama di kebanyakan ceruk rantau
Alam Islami.
Tobaqat adalah bermaksud
lapisan generasi . Petikan berikut mungkin dapat membantu memahaminya :http://thifalblog.wordpress.com/2011/02/16/thobaqot-para-rowi-hadits/
Bahwa antara (zaman) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para penulis kitab-kitab sunan kira-kira berjarak antara 200-250 tahun,
jarak waktu ini antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
penulis kitab-kitab tersebut, kira-kira terbagi menjadi 12 thobaqot :
1. Thobaqot yang pertama : para shahabat (الصحابة).
2. Thobaqot yang kedua : thobaqot Kibar Tabi’in (كبار التابعين),
seperti Sa’id bin al-Musayyib, dan begitu pula para Mukhodhrom.
Mukhodhrom (المخضرم) : orang yang hidup pada zaman jahiliyyah
dan Islam, akan tetapi ia tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dalam keadaan beriman. Misalnya : seseorang masuk Islam pada zaman
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia tidak pernah bertemu
Rasulullah karena jauhnya jarak atau udzur yang lain. Atau seseorang yang hidup
sezaman dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia belum
masuk Islam melainkan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
3. Thobaqot ketiga : thobaqot pertengahan dari tabi’in (الطبقة
الوسطى من التابعين), seperti al-Hasan (al-Bashri, pent) dan Ibnu Sirin, dan
mereka adalah (berada pada) thobaqot yang meriwayatkan dari sejumlah Shahabat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
4. Thobaqot keempat : Tabi’in Kecil (صغار التابعين), mereka
merupakan thobaqot yang sesudah thobaqot yang sebelumnya (thobaqot ke-3, pent).
Kebanyakan riwayat mereka adalah dari kibar tabi’in (thobaqot ke-1, pent). Rowi
yang dalam thobaqot ini contohnya adalah az-Zuhri dan Qotadah.
5. Thobaqot kelima : Thobaqot yang paling kecil dari tabi’in
(الطبقة الصغرى من التابعين), mereka adalah yang lebih kecil dari yang
thobaqot-thobaqot tabi’in yang sebelumnya. Dan mereka adalah termasuk tabi’in,
mereka melihat seorang atau beberapa orang Shahabat. Contoh thobaqot ini adalah
Musa bin ‘Uqbah dan al-A’masy.
6. Thobaqot keenam : thobaqot yang sezaman dengan thobaqot ke-5
(عاصروا الخامسة), akan tetapi tidak tetap khobar bahwa mereka pernah bertemu
seorang Shahabat seperti Ibnu Juraij.
7. Thobaqot ketujuh : thobaqot Kibar Tabi’ut Tabi’in (كبار أتباع
التابعين), seperti Malik dan ats-Tsauri.
8. Thobaqot kedelapan : thobaqot Tabi’u Tabi’in Pertengahan
(الوسطى من أتباع التابعين), seperti Ibnu ‘Uyainah dan Ibnu ‘Ulaiyyah.
9. Thobaqot kesembilan : thobaqot yang paling kecil dari Tabi’ut
Tabi’in (الصغرى من أتباع التابعين), seperti Yazid bin Harun, asy-Syafi’i, Abu
Dawud ath-Thoyalisi, dan Abdurrozzaq.
10. Thobaqot kesepuluh : thobaqot tertinggi yang mengambil
hadits dari Tabi’ut Taabi’in (كبار الاخذين عن تبع الاتباع) yang mereka tidak
bertemu dengan tabi’in, seperti Ahmad bin Hanbal.
11. Thobaqot kesebelas : thobaqot pertengahan dari rowi yang
mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (الوسطى من الاخذين عن تبع الاتباع),
seperti adz-Dzuhli dan al-Bukhori.
12. Thobaqot keduabelas : thobaqot yang rendah dari rowi yang
mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (صغار الاخذين عن تبع الاتباع), seperti
at-Tirmidzi dan para imam yang enam lainnya yang tertinggal sedikit dari
wafatnya para tabi’ut tabi’in, seperti sebagian para syaikh-nya an-Nasa’i.
[diterjemahkan dari kitab “Syarh ‘Ilalil Hadits ma’a As-ilah wa
Ajwibah fi Mushtholahil Hadits” hal. 74-75, karya asy-Syaikh Mushthofa
al-‘Adawi]
Sepintas Lalu Tentang Ibnu Ishak
Namanya Muhamad bin Ishaq . Hidup sezaman dengan Imam Malik dan pernah
berjumpa dengan Anas bin Malik dan Said ibnu Musayyab.
Beliau tidak rasminya diangkat sebagai ‘bapa sirah’ dan cerita-cerita
sirah yang bersumber dari beliau banyak bertebaran dalam kitab-kitab sirah
kemudiannya . Malah dalam sukatan pelajaran Universiti Al-Azhar terdapat
cerita-cerita yang bersumber dari beliau.
Salah seorang anak muridnya Ibnu Hisham telah mengutip
secara bebas ( ataupun dengan tapisan yang ringan) cerita-cerita dari Ibnu
Ishaq dan memuatkannya di dalam kitabnya yang termasyhur Sirah Ibnu Hisham,
sebuah kitab rujukan sirah yang utama masakini.
Ibnu Ishaq ialah seorang penganut Syiah . Anutannya telah mempengaruhi
cara beliau berfikir dan telah banyak diabadikan di dalam kitab-kitab yang
beliau nukilkan atau dalam siri pengajiannya.
Banyak cerita-cerita ganjil berkenaan kehidupan dan suasana awal Islam
yang bersumber hanya dari beliau seorang. Cerita-cerita ini banyak untuk
menyokong fahaman syiahnya iaitu samada mengangkat Saidina Ali ra atau
keluarganya, mengurangkan sumbangan atau memburuk-burukkan sahabat yang lain
terutama Saidina Muawiyah serta sahabat-sahabat utama seperti Abu Bakar , Umar
ra
Di antara cerita yang diriwayatkan oleh beliau yang dipertikaikan oleh
Ulamak ialah:
a) Kisah Hindun ra , ibu kepada saidina Muawiyah, yang dikatakan memakan
jantung Saidinia Hamzah. Cerita ini tidak pernah diceritakn oleh orang lain
malah dalam Shahih Bukari , Wahsyi ra yang membunuh Saidina Hamzah tidak pernah
menyebut tentang kisah ini. Motif utama ialah mencacatkan Hindun, ibu kepada
Muawiyah , musuh utama golongan Syiah.
b) Kekarutan dalam cerita-cerita tentang Muawiyah ra dengan menggambarkan
beliau sebagai seorang pemutar belit dan suka mengambil kesempatan. Motifnya
ialah untuk mencederakan peribadi sahabat besar ini kerana dengan tercederanya
beliau bermakna Quran yang ada hari ini berkemungkinan tercedera juga, kerana beliau
adalah salah seorang jurutulis wahyu nabi.
c) Cerita hijrah nabi saw dari rumah beliau saw pada waktu malam dengan
Saidina Ali menggantikan tempat tidur baginda saw. Pada mata kasarnya ianya
menunjukkan keberanian, kepatuhan dan pengorbanan Saidina Ali. Tetapi dalam
kitab hadis paling sahih, Sahih Bukhari , mengatakan nabi saw berhijrah dari
rumah Saidina Abu Bakar di waktu siang hari .
Dalam Sahih Bukhari dinyatakan dengan jelas peranan
keluarga Abu Bakar seperti Abd Rahman, Asma’ dan lain-dain dalam peristiwa
hijrah ini. Tidak lain cerita yang dibawa oleh Ibnu Ishak ialah untuk menutup
sumbangan dan pengorbanan besar Abu Bakar ra sekeluarga sesuai dengan akidah
Syiah yang mengkafirkan sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Usman,
Aisyah dan seterusnya.
d) Kisah Isra’ nabi dari rumah Ummu hani’ . Ummu Hani ialah kakak kepada
Saidina Ali dan masa ini masih lagi belum Islam . Secara sepintas lalu dapat
diperhatikan Ibnu Ishak cuba mengaitkan setiap peristiwa besar dengan Saidina
Ali sekeluarga. Tetapi dalam kes ini beliau sebenarnya cuba mencederakan maruah
Rasullullah saw sendiri . Kalau cerita ini benar, kita akan mengatakan bahawa
nabi saw bersunyi-sunyi ( atau tidur) di rumah isteri orang tanpa kehadiran
suaminya. Alangkah dahsyatnya fitnah yang ingin dilemparkan oleh Ibnu Ishaq
terhadap nabi saw.
e) Kisah mempersaudarakan Ali ra dengan nabi saw. Suatu kisah yang tidak
masuk akal bila dipandang dari tujuan ‘mempersaudarakan’ itu sendiri, kerana
sememangnya Ali adalah saudara kepada nabi saw dan beliau ra adalah sama-sama
dari Mekah. Tidak lain ini adalah untuk menaikkan martabat Ali ra dari yang
sepatutnya untuk merasionalkan hujjah bahawa beliaulah yang sepatutnya dilantik
menjadi khalifah selepas wafatnya nabi saw.
Banyak lagi kisah aneh yang dikeluarkan oleh beliau seorang. Maka tidak
menghairankan bila ulamak besar mengatakan :
”…..salah seorang dajjal ” , ” Kami telah menghalau Ibnu Ishaq keluar
dari Madinah” – Imam Malik
“Dia meriwayatkan hadith-hadith karut dari orang-orang majhul ( orang
yang tidak diketahui latarbelakangnya) ” – Ali Ibnu Al-Madini
” Muhammad bin Ishaq adalah di antara perawi-perawi yang tidak menepati
syarat-syarat hadith sahih” – Imam Nawawi
“Aku bersaksi bahawa Muhammad bin Ishaq adalah pendusta besar ” – Yahya
bin Said al-Qatthan
Mereka yang men’ta’dil’ kannya bersikap demikian kerana tidak mengetahui
dengan jelas kedudukan sebenar beliau samada kerana tidak hidup sezaman
dengannya atau tidak dapat mengesan sifat sebenar disebabkan oleh sikap
“Taqiyah” yang diamalkan sesuai dengan kehendak ajaran Syiah yang dianutinya.
Catatan sejarah perlu diperbetulkan kerana ini akan menjaga keutuhan
agama Islam ini sendiri. Kita tidak akan berpuashati menganut agama Islam
sekiranya nabinya besekedudukan dengan isteri orang, sahabat-sahabat utama yang
meneruskan syiar ini berperangai tidak senonoh malah menjadi kafir selepas
peninggalan nabi saw, jurutulis wahyu di mana Quran yang kita pegang hari ini
merupakan orang yang tidak boleh dipercayai dan sentiasa mencari peluang untuk
habuan dunia malah beliau datang dari keluarga yang tidak bertamaddun.
Sikap yang perlu diambil ialah kita wajib menolak seorang yang bernama
Muhammad bin Ishaq secara total untuk menyelamatkan Islam yang kita cintai ini
secara total. Wallahua’lam
Pendustaan Syiah di Dalam Sejarah Islam
Oleh
: Dr. Muhammad Amahzun
PENGENALAN
Ulamak ilmu jarh wa ta’dil (penilaian
keadilan perawi hadith) telah bersetuju secara keseluruhannya bahawa fenomena
pembohongan di kalangan syiah adalah lebih menonjol dan ketara berbanding
dengan kelompok-kelompok yang lain. Kitab-kitab ilmu jarh wa ta’dil yang
masyhur seperti kitab-kitab Imam Bukhari, Ibnu ‘Adi, Ibnu Mu’ien, Ad-Daruquthni
dan lain-lain penulisan mereka yang berikhtisaskan hal ehwal sanad periwayatan,
secara nyata membuat kesimpulan bahawa, pembohongan oleh syiah adalah yang
paling banyak di kalangan ahli qiblat. Bahkan muncul pepatah yang berbunyi
‘lebih pembohong dari rafidhi (syiah)’ sebagai mengisyaratkan kepada betapa
seseorang itu sangat kuat berdusta.
Sebagai contoh, Abu Muawiyah Ad-Dharir
Al-Kufi berkata, aku telah mendengar Al-A’masy menyebut, “…aku telah menemui
orang ramai dan tidaklah mereka menamakan syiah itu melainkan sebagai para
pendusta.” (lihat : Minhaj As-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah juzuk 1 ms. 16).
Al-Khatib Al-Baghdadi juga pernah meriwayatkan dengan sanad kepada Ibnu Al-Mubarak,
beliau berkata, “Abu ‘Ismah telah bertanya kepada Abu Hanifah : daripada
siapakah kamu memerintahkan aku supaya mendengar (untuk mengambil dan
meriwayatkan hadith)?” Abu Hanifah menjawab, “Daripada setiap mereka yang adil
pada hawa nafsunya melainkan syiah, kerana sesungguhnya usul aqidah mereka
adalah menghukum sesat para sahabat Muhammad SAW”. (lihat : Al-Kifayah fi ‘Ilmi
Ar-Riwayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi ms. 203).
Bahkan Hamad bin Salamah telah berkata,
“telah berkata syeikh mereka (syiah) bahawa: Sesungguhnya jika kami berkumpul,
kami akan memperelokkan satu-satu riwayat dan kemudian kami jadikan ia sebagai
hadith!” (lihat: Minhaj As-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah juzuk 1 ms. 16). Selain
itu, Yunus bin Abdul A’la telah berkata, “Asyhab telah berkata: Imam Malik
telah ditanya pendapatnya mengenai syiah rafidhah”. Imam Malik menjawab,
“janganlah kamu bercakap dengan mereka dan jangan meriwayatkan apa-apa dari
mereka. Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.” (lihat: Al-Muntaqa oleh
Adz-Dzahabi, ms. 21). Harmalah juga pernah bekata, “aku mendengar Imam
Asy-Syafie berkata: aku tidak pernah melihat seseorang membuat kesaksian palsu
selain daripada syiah ar-rafidhah”. (lihat : Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah
oleh Al-Khatib Al-Baghdadi ms. 202).
Lebih jauh daripada itu, syiah telah
menjadikan pendustaan sebagai syiar mereka lalu diimejkan jenayah itu dengan
imej keagamaan dengan menamakannya sebagai ‘Taqiyyah’. Misalnya mereka berkata,
“Tiada iman bagi sesiapa yang tidak bertaqiyyah” Kalam ini mereka nisbahkan
kepada Muhammad Al-Baqir sebagai pengkhianatan dan pencelaan ke atas Al-Baqir.
(lihat: Al-Kafi fil Usul oleh Al-Kulaini, bab At-Taqiyyah juzuk 2 ms. 19).
AHLUL BAYT DAN PEMBOHONGAN SYIAH
Pembohongan
syiah bukan sahaja mendapat komentar oleh para ulamak hadith dan lain-lainnya,
bahkan turut diulas oleh Saidina Ali RA dan para Alul Bayt sendiri. Misalnya,
Abu Amr Al-Kasyi menyebut di dalam kitab Ar-Rijal, “Abu
Abdillah (iaitu Jaafar As-Sadiq) telah berkata: sesungguhnya kami Alul Bayt
adalah orang-orang yang benar, tetapi kami tidak bebas dari terkena pendustaan
ke atas kami. Lantas kebenaran kami telah gugur disebabkan oleh pendustaan
mereka ke atas kami di kalangan manusia. Rasulullah SAW adalah sebenar-benar
insan tetapi Musailamah telah mendustainya, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib
adalah orang benar selepas Rasulullah SAW dengan kesaksian daripada Allah
tetapi dia telah didustakan oleh Abdullah bin Saba’ -Laknatullah ‘Alaih-.
Manakala Abu Abdillah Al-Husein bin Ali pula telah ditimpa bencana Al-Mukhtar
(Ats-Tsaqafi). ..Manakala Ali bin Al-Husein pula telah didustakan oleh Abdullah
bin Al-Harith Asy-Syami dan Bannan… begitu juga dengan Al-Mughirah bin Said
serta As-Sirriey dan Abu Al-Khattab…” Lantas beliau menyambung, “… laknat Allah
ke atas mereka semua, dan kami juga tidak terlepas dari didustakan oleh
pendusta. Cukuplah Allah (sebagai pelindung kami) dari bencana sekalian
pendusta, semoga Allah merasakan ke atas mereka kepanasan besi yang terbakar”. (lihat:
Ar-Rijal oleh Al-Kasyi ms. 257).
Sesungguhnya
golongan syiah telah mencipta banyak hadith dan riwayat palsu yang bertepatan
dengan kehendak hawa nafsu mereka sebagaimana mereka mencipta hadith palsu di
dalam bab kelebihan Ali dan Alul Bayt. Mereka juga mencipta banyak nas palsu
untuk mencela pada sahabat RA khususnya Abu Bakar RA dan Umar Al-Khattab RA.
(lihat contohnya di dalam Syarh Nahjil Balaghah oleh Ibnu Abi Al-Haddad, juzuk
2 ms.135). Syiah juga mencipta hadith palsu untuk menghina Muawiyah RA.
Satu contoh mudah adalah hadith yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW kononnya
Baginda berkata, “jika kamu melihat Muawiyah di atas mimbarku, maka bunuhlah
dia” (lihat: Al-Alie’ Al-Masnu’ah fi Al-Ahadith Al-Maudhu’ah oleh As-Sayuti,
juzuk 1 ms. 323) Bukan sahaja di dalam membahaskan tentang Ali RA dan Muawiyah
RA, bahkan syiah juga mencipta banyak pembohongan terhadap para sahabat RA yang
lain. Jika mereka berani untuk mendustakan Nabi SAW maka seudah tentulah
pembohongan ke atas selain Baginda itu jauh lebih mudah bagi mereka.
IBNU
TAIMIYAH DAN SYIAH
Penulisan
Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya Minhaj As-Sunnah adalah di antara penulisan
yang paling baik di dalam proses mendedah dan menyingkap perancangan dan taktik
syiah merosakkan kesucian Islam di dalam masalah aqidah, hadith, fiqh dan
sejarah. Katanya, “… sesungguhnya ahli ilmu telah
bersepakat dengan naqal,, riwayat dan isnad bahawa syiah itu adalah
sedusta-dusta kaum, pembohongan di kalangan mereka telah begitu lama, dan sebab
itulah para imam dan ulamak Islam mengenali mereka sebagai kelompok yang
beridentitikan ‘kaki dusta’” (lihat: Minhaj As-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah juzuk 1 ms. 16).
Jika dibuat penelitian terhadap
riwayat-riwayat yang dipelopori oleh syiah, kita akan menemui kesimpulan bahawa
golongan ini tidak pernah memperincikan hadith- hadith mereka kepada soal
amanah, ‘adalah (keadilan perawi) dan penjagaan serta hafalan. Kitab-kitab
muktabar mereka seperti Al-Kafi dan sebagainya, penuh dengan riwayat-riwayat
yang disanadkan kepada sedusta-dusta perawi. Ini adalah kerana, pertimbangan
kesahihan riwayat mereka hanyalah berpaksikan kepada sikap taasub, hawa nafsu
dan kebencian mereka terhadap kepimpinan dan ulamak Islam. Jelas sekali mereka
tidak menerima riwayat melainkan ia dibawa oleh perawi yang semazhab dengan
mereka, iaitu cukup dengan kedudukan perawi itu seorang syi’e imami. Tidak
menjadi soal sama ada perawi itu seorang yang teliti atau lalai, benar atau
pembohong, mereka tidak menilai riwayat-riwayat dengan satu kaedah ilmiah
sebagaimana yang kita lihat di kalangan ulamak Ahli Sunnah Wal Jamaah. Kaedah
ini adalah intisari terpeliharanya ajaran Islam bahkan dikagumi oleh pengkaji-
pengkaji barat seperti Margolioth dan lain-lain. Seringkali apabila ditanya
siapakah perawi hadith ini, syiah akan menjawab, ia diriwayatkan oleh
Al-Husein, Al-Baqir atau Musa Al-Kadzim… maka muktamadlah ia. (lihat: Asy-Syiah
fi ‘Aqa’idihim wa Ahkamihim oleh Amir Muhammad Al-Kadzimi Al-Qazwini ms. 6,
dinaqalkan dari Wa Jaa’a Daurul Majus oleh Dr. Abdullah Al-Gharib ms. 121)
Ibnu Taimiyah ketika membantah dakwaan
Ibnu al-Muthahhar Al-Hulliy Ar-Rafidhi yang mendakwa di dalam kitabnya Minhaj
Al-Karamah bahawa perawi-perawi syiah adalah tsiqah, beliau berkata,
“..
Kami (ahli sunnah dan hadith) mengkritik perawi-perawi kami dari kalangan ahli
sunnah tanpa membuat sebarang penambahan. Kami mempunyai tulisan yang banyak
sekali untuk menilai sama ada mereka adil atau dhaif, benar atau lalai, dusta
atau keliru. Kami tidak menyokong mereka secara batil sebagai usul walaupun
dengan kesalehan dan keelokan ibadat mereka. Bahkan kami menggugurkan
periwayatan mereka sebagai hujah sekiranya mereka banyak melakukan kesilapan di
dalam meriwayatkan hadith dan lemah ingatan walaupun mereka itu terdiri
daripada wali-wali Allah. Sedangkan kalian (syiah) menetapkan seorang perawi
itu sebagai tsiqah (berkepercayaan) hanya kerana dia seorang syiah imami, tanpa
mengira dia itu seorang yang pelupa atau kuat ingatan, berdusta atau bercakap
benar. Dengan itu penuhlah di tangan kalian berita dan khabar lisan kalian yang
berdusta atau tidak diketahui kesahihannya. Sama perihalnya dengan Ahli Kitab
Yahudi dan Kristian dengan pendustaan syiah Ar-Rafidhah sebagai perbandingan…”
“…
Kami mengetahui bahawa Khawarij itu lebih jahat daripada kalian, tetapi
walaupun begitu kami tidak menuduh mereka sebagai pendusta. Ini adalah kerana
kami telah pun menguji mereka dan jelasnya mereka itu bercakap benar.
Maka bagi mereka itu apa yang benar dan ke atas merekalah kesalahan-kesalahan
yang dilakukan.Sedangkan di sisi kalian, yang benar itu dianggap seperti titik
hitam yang keji…! Sedangkan Ahli Sunnah dan Hadith tidak merestui pembohongan
walaupun ia boleh memberikan keuntungan pada hawa nafsu. Lihat sahaja berapa
banyak riwayat mengenai kelebihan Abu Bakar, Umar, Uthman bahkan Muawiyah serta
yang lain-lainnya di dalam hadith-hadith yang sanadnya diriwayatkan olehÂ
An-Naqqasy, Al-Qathi’ie, Ats-Tsa’labi, Al-Ahwazi, Abi Naiem, Al-Khatib, Ibnu
Asakir dan lain-lainnya. Akan tetapi ulamak hadith tidak menerima sekiranya ada
keterangan tentang berlakunya pendustaan di dalamnya bahkan jika pada isnad
hadith itu ada sahaja seorang perawi majhul yang tidak diketahui perihalnya,
maka hadith itu ditangguhkan penerimaannya. Sedangkan kalian (syiah) hanya
mensyaratkan hadith di sisi kalian bahawa ia bertepatan dengan hawa nafsu
biarpun ia umpama daging yang busuk mahupun lemak!” (lihat Al-Muntaqa oleh Adz-Dzahabi ms. 480)
IBNU
QAYYIM AL-JAUZIYAH DAN SYIAH
Ketika
mengulas tentang syiah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyatakan, “Manakala
Ali bin Abi Thalib, hukum hakam dan fatwanya begitu tersebar sekali. Akan
tetapi, semoga Allah membinasakan syiah, mereka telah merosakkan banyak
daripada ilmunya (Ali bin Abi Thalib) dengan melakukan pendustaan ke atas
beliau. Oleh yang demikianlah, anda dapati kebanyakan ashabul hadith dan ahlus
sahih tidak berpegang kepada hadith dan fatwa Ali bin Abi Thalib melainkan jika
ia datang melalui periwayatan Ahli Baytnya dan pengikut Abdullah bin Mas’ud.” (lihat : ‘A’lam Al-Muwaqqi’ien oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,
juzuk 1 ms. 21)
Jelaslah kelihatan di dalam pengamatan
kita, bahawa kebanyakan riwayat yang wujud mencela khilafah Amirul Mu’minin
Uthman bin Affan RA. adalah daripada golongan syiah. Mereka tidak meriwayatkan
berita-berita tentang peristiwa berkenaan daripada perawi yang menyaksikan
kejadiannya, bahkan hanya mendengar daripada yang mendengar, berdusta dari yang
berdusta. Dalam banyak keadaan juga, seorang perawi banyak meriwayatkan
kejadian yang berlaku berpuluh tahun sebelum itu.
Berikut adalah pendapat para ulamak
jarh wa ta’dil berhubung dengan beberapa orang perawi syiah terkemuka. Mereka
adalah di antara pemilik riwayat-riwayat yang terdapat di dalam kitab sejarah
yang utama seperi kitab Tarikh Ar-Rusul wal Muluk oleh Imam At-Thabari. Merekalah
juga tokoh ahli akhbar (akhbariyyin) yang paling banyak menyumbang riwayat
berhubung dengan fitnah yang berlaku di zaman Saidina Uthman dan Ali RA.
Riwayat-riwayat berkenaan memperlihatkan pengolahan kisah dengan gambaran
khusus untuk mereka menyebarkan propaganda syiah di awal-awal terasasnya
sejarah Islam, selepas mereka menipu ramai manusia atas nama agama dan
kecintaan kepada Alul Bayt!
Kita kemukakan tiga contoh perawi syiah
yang merupakan antara perawi yang wujud di dalam periwayatan Tarikh At-Thabari.
Penjelasan ini bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana mudarat yang
telah syiah lakukan terhadap sejarah Islam. Mereka yang mahu melanjutkan
pengetahun berhubung dengan perawi-perawi syiah, kitab-kitab ilmu jarh
wa-ta’dil mempunyai banyak catatan berhubung dengan mereka. Bahkan terdapat
juga buku yang mengumpulkan maklumat berhubung dengan perawi syiah secara
khusus. Misalnya kitab Rijal Asy-Syiah fil Mizan oleh Abdul Rahman Abdullah
Az-Zar’ie, cetakan Darul Arqam, Kuwait.
Abu Mikhnaf Lut bin Yahya
Abu Hatim
berkata mengenainya : matruk (ditinggalkan -yakni tidak diambil
periwayatannya). Ad-Darulquthni pula mengatakan bahawa beliau dhaif (lemah).
Ibnu Mu’ien berkata: dia itu tidak dipercayai dan tidak mempunyai sebarang
nilai.. Ibnu ‘Adie mengatakan bahawa beliau ini syiah pekat yang menjadi tuan
punya kisah-kisah (akhbar) kaum itu. Adz-Dzahabi mengatakan bahawa beliau
seorang ikhbari (ahli akhbar) yang cuai dengan periwayatannya serta tidak
dipercayai.
Hisham
bin Muhammad bin As-Saib Al-Kalbi
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
Sesungguhnya beliau adalah pemilik hikayat-hikayat malam (samar) dan perihal
nasab. Padaku tidaklah ada seorang pun yang mengambil hadith daripadanya.
Ad-Darulquthni pula memberi komentar bahawa Al-Kalbi ini matruk. Ibnu Asakir
mengatakan bahawa beliau ini syiah rafidhie yang tidak boleh dipercayai.
Al-’Uqaili mengatakan bahawa padanya ada kelemahan (dari segi jarh wa ta’dil).
Ibnu Al-Jarud dan Ibnu As-Sakan menyenaraikan Al-Kalbi di dalam kitab
Ad-Dhu’afa (perawi-perawi yang dhaif) mereka. Al-Kalbi juga dicela oleh
Al-Asma’ani. Ibnu Hibban juga mengatakan bahawa beliau meriwayatkan
daripada bapanya yang mana mereka berdua terkenal dengan kisah-kisah karut dan
akhbar yang tidak diketahui asal-usulnya. Juga sangat melampau di dalam
berpegang dengan mazhab syiahnya.. Ibnu Mu’ien berkata: beliau itu seorang yang
tidak dipercayai, pendusta dan sering tercicir di dalam periwayatannya. Ibnu
‘Adie berkata: Hisham Al-Kalbi itu lebih terkenal dengan hikayat-hikayat malam
(samar) dan setahu aku tidaklah ia mempunyai sebarang musnad bahkanÂ
bapanya juga adalah al-kazzab (sangat pendusta). Adz-Dzahabi pula memberi
komen: Hisham itu tidak boleh dipercayai.
Jabir bin Yazid Al-Ju’fie
Ibnu
Mu’ien berkata : Jabir itu seorang yang sangat pendusta, hadithnya tidak
ditulis dan tiada kemuliaan baginya. Zaidah bin Qudamah Ats-Tsaqafi Al-Kufi
berkata : sesungguhnya Al-Ju’fie itu demi Allah seorang seorang yang sangat
pendusta dan beriman dengan akidah Ar-Raj’ah. Abu Hanifah pula menyebut : Di
kalangan orang yang pernah aku temui, tiadalah yang lebih pendusta dari Jabir
Al-Ju’fie. Tidaklah aku berikan dia satu-satu pendapatku melainkan ia akan
mendatangiku dengan sesuatu yang telah ia lakukan kepada pendapatku. An-Nasa’ie
berkata : matruk. Abu Daud pula berkata : Tiadalah sebarang kekuatan pada
hadithnya (Al-Ju’fie) di sisiku. Asy-Syafie berkata :Â Aku mendengar
Sufian bin Uyainah berkata: Aku mendengar kalam Jabir Al-Ju’fie lantas aku
segera menyembunyikan diri kerana bimbang kami akan ditimpa oleh bumbung! Yahya
bin Ya’la pula menyebut : Aku mendengar Zaidah Ats-Tsaqafi Al-Kufi berkata :
Jabir A-Ju’fie itu seorang syiah Ar-Rafidhie yang mencaci sahabat-sahabat Nabi
SAW. Ibnu Hibban pula memberikan komentarnya : Beliau (Al-Ju’fie) itu adalah
saba’ie pengikut Abdullah bin Saba’. Beliau mempercayai bahawa Ali itu akan
kembali ke dunia. Al-Jourjanie berkata : Beliau itu sangat pendusta.
Kesimpulan
Ketiga-tiga perawi tadi adalah pemegang
kepada riwayat-riwayat utama berhubung dengan peristiwa fitnah di zaman Saidina
Uthman RA yang terdapat di dalam kitab Tarikh Al-Umam War-Rusul oleh Imam
At-Thabari. Merekalah yang bertanggungjawab terhadap riwayat-riwayat dusta yang
memburuk-burukkan para sahabat Rasulullah SAW seperti Uthman bin Affan RA.,
Aishah RA. dan Muawiyah bin Abi Sufian RA. Kefahaman umat Islam terhadap
beberapa peristiwa getir di zaman itu seperti Perang Jamal dan Siffin, Majlis
Tahkim, pembunuhan Husein RA dan sebagainya, juga dicemari dengan
riwayat-riwayat para pembohong seperti perawi yang telah kita sebutkan di
atas.  Oleh yang demikian, amat penting bagi kita untuk membuat
penilaian semula terhadap Sejarah Islam yang kita fahami selama ini. Mana-mana
riwayat yang didapati bercanggah dengan kedudukan para Sahabat RA dan Baginda SAW
sendiri, hendaklah dikaji semula dan dinilai berdasarkan kedudukan perawi yang
meriwayatkannya.
Ini adalah anjuran Imam At-Thabari
sendiri sebagaimana yang beliau nyatakan di dalam muqaddimah kitabnya Tarikh
Al-Umam wal Muluk (Tarikh At-Thabari) yang masyhur itu; bahawa kesahihan
riwayat-riwayat yang dikemukakannya hendaklah ditentukan dengan menilai sanad
yang beliau sertakan pada hampir setiap riwayat. Janganlah nanti kerana
menganggap kitab Tarikh At-Thabari itu muktabar, maka kita mengabaikan kaedah
yang disyaratkan kepada mereka yang ingin mengambil manfaat daripada
penulisannya itu. Sesungguhnya semua ini berhajatkan kepada disiplin
ilmu yang tinggi, maka janganlah nanti ada pula yang mencabuli kebenaran yang
menjadi hak Allah tanpa ilmu pengetahuan yang nyata. Allah SWT berfirman:
“Dan ada di antara manusia yang
membantah perkara-perkara yang berhubung dengan Allah SWT, tidak berdasarkan
sebarang pengetahuan, dan ia menurut tiap-tiap syaitan yang telah sebati dengan
kejahatan.” (Al-Hajj 22 : 3)
FirmanNya lagi:
“Dan ada di antara manusia yang
membantah perkara-perkara yang berhubung dengan Allah SWT dengan tidak
berdasarkan sebarang pengetahuan, dan tidak berdasarkan sebarang keterangan
atau Kitab ALlah yang menerangi kebenaran. Ia membantah sambil memalingkan
sebelah badannya dengan sombong angkuh sehingga menghalang dirinya dan orang
lain dari jalan agama Allah; ia akan beroleh kehinaan di dunia dan Kami akan
merasakannya azab membakar pada hari kiamat kelak” (Al-Hajj 22 : 8-9)
Artikel ini diterjemah dan disunting
berdasarkan tesis PhD Dr. Muhammad Amahzun bertajuk “Tahqiq Mawaqif As-Sahabah fil
Fitnah min Riwayat Al-Imam At-Thabari wal Muhaddithin” yang diterbitkan dalam bentuk buku oleh Dar At-Thayyibah lin
Nasyr wat Tauzi’, Riyadh.
Sumber : http://saifulislam.com/?p=225