Sunday, August 24, 2014

Menjawab Tuduhan Dusta yang Mengatakan Bahwa Ahlussunnah Membunuh Al-Imam Husain

Menjawab Tuduhan Dusta yang Mengatakan Bahwa Ahlussunnah Membunuh Al-Imam Husain
Posted on 25 Desember 2010 by abunamirahasna 
http://abunamira.wordpress.com/2010/12/25/menjawab-tuduhan-dusta-yang-mengatakan-bahwa-ahlussunnah-membunuh-al-imam-husain/

 

Lagi-lagi sebuah tuduhan palsu kembali dilontarkan kepada saudara kita orang syi’ah Malaysia ini http://profiles.friendster.com/47504334old page menurut apa yang dituliskan di bulletinnya itu bahwa Yazid bin Muawiyah adalah seorang Ahlussunnah yang membunuh Imam Husain. Atas dasar ini kemudian dia menyimpulkan sekaligus memfitnah bahwa golongan Ahlussunnah wal jama’ah (ASWJ) lah yang membunuh Imam Al Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Bagaimana ini bisa terjadi padahal kami sangat mencintai Ahlul Bait.
Masya Allah betapa jahat dan bencinya orang syi’ah ini kepada golongan Ahlussunnah. Saya ingatkan kembali kepada Syi’ah janganlah kalian menuduh sesama muslim dengan tuduhan tanpa bukti, dan jika tuduhan itu salah (orang yang dituduh tidak pernah melakukannya) maka tuduhan itu akan kembali kepada orang yang menuduh.
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhuma., ia mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. bersabda: “Seorang laki-laki yang menuduh laki-laki lain itu jahat atau menuduhnya kafir, maka tuduhannya itu berbalik kepada dirinya, seandainya orang yang dituduhnya itu tidak seperti itu.” (HR Muslim I – 33, 49)
Ikhwafiddin Rahimakumullah, saya menghimbau bagi yang telah membaca tulisan-tulisannya di bulletin ini hendaknya jangan mempercayainya sedikitpun walau dia membawakan artikel tauhid sekalipun, ketahuilah orang ini batil manhajnya jangan diambil ilmu darinya.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh as-Salafus shalih Al-Imam Ibnu Sirin Rahimahullah, beliau mengatakan:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahiih Muslim)
Beliau juga mengatakan: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) pada awalnya tidaklah menanyakan tentang sanad hadits. Maka ketika terjadi fitnah (munculnya berbagai firqah sesat seperti Khawarij, Syi’ah-Rafidhah dan lainnya), mereka berkata: “Sebutkan kepada kami sanad kalian. Maka dilihat apabila datang dari ahlus sunnah maka diterima haditsnya dan apabila datang dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya.” (Ibid.)
Berikut lengkap bulletinnya:
=====================
Subject:
Yazid bin Muawiyah yang membunuh al-Hussain putra Rasulullah adalah dari golongan ASWJ? huh!
Message:
Apabila penduduk Kufah meminta beliau ke sana untuk memimpin mereka, jemputan itu diketahui Yazid yang kemudian menghantar pasukan tenteranya bagi menghalang Saidina Hussein sehingga berlakunya pertempuran meragut nyawa putera Saidina Ali bin Abi Talib dan Fatimah binti Rasulullah.
Kegembiraan Yazid atas kematian Saidina Hussein menunjukkan cita bencana dalam dirinya apabila beliau meletakkan kepala Saidina Hussein yang dipenggal di atas tombak serta diarak keliling kota Baghdad. – Ketua Jabatan Pengajian Melayu Universiti Singapura, Prof Madya Dr Syed Farid Alatas
=====================
Berikut bantahan saya atas syubhat dari tulisannya tersebut:
Imam Husain ada di hati kami
Diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah adalah mencintai Ahlul Bait. Kami mencintai Ahlul bait Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan mereka wali dan selalu menjaga hak-hak mereka yang pernah diwasiatkan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalla: “Sesungguhnya aku mengingatkan kalian kepada Allah atas ahli Bait-ku (keluargaku), sesungguhnya aku mengingatkan kepada Allah atas ahli Bait-ku (keluargaku).” (HR. Muslim) (HR. Muslim no.2408 (36)
Maka Ahlussunnah sangat mencintai dan memuliakan mereka, karena hal itu adalah bagian dari kecintaan dan pemuliaan kepada nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dengan syarat: mereka (Ahlul bait) harus berpegang teguh dengan sunnah (bimbingan nabi) dan berada diatas jalan yang lurus. Sebagaimana pendahulu mereka, seperti: Abbas dan anaknya, Ali dan anaknya. Adapun orang-orang yang menyelisihi bimbingan nabi dan tidak berada di jalan yang lurus maka kami tidak menjadikan mereka wali walaupun dari kalangan Ahlul bait.
Sebagaimana yang diceritakan dalam Al Qur’an:
“Cekalalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (QS. Al-Lahab: 1)”
Maka sikap Ahlussunnah terhadap Ahlul bait adalah sikap yang adil dan inshaf: Ahlussunnah menjadikan wali setiap Ahlul bait yang istiqamah diatas jalan yang lurus dan berlepas diri dari setiap Ahlul bait yang menyimpang.
Demikian pula (Ahlussunnah) berlepas diri dari Ahlul bid’ah dan Khurafiyyin, yaitu orang-orang yang bertawasul dengan Ahlul bait (yakni tawasul yang tidak benar) dan menjadikan mereka Tuhan selain Allah.
Ahlul bait berlepas diri dari Syi’ah
Maka manhaj Ahlussunnah dalam perkara ini dan selainnya adalah tengah-tengah tidak berlebihan dan tidak pula bermudah-mudahan.
Ahlul bait yang berjalan diatas agama yang lurus juga mengingkari sikap berlebihan terhadap mereka serta belepas diri dari mereka. (sebagai contoh) Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah membakar orang-orang yang berlebihan terhadap dirinya dengan api. Ibnu Abbas juga sepakat membunuh mereka akan tetapi dengan cara di penggal bukan dibakar.
Dan Ali bin Abi Thalib pun ketika itu ingin membunuh Abdullah bin Saba’, gembong ghulah (pendiri syi’ah rafidhah) akan tetapi ia lari dan bersembunyi…….
(diterjemahkan dari kitabut tauhid, karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan. Hal.71-73 cetakan I Maktabah Ibnu ‘Abbas)
Syi’ah bukanlah ahlul bait dan ahlul bait berlepas diri dari syi’ah keduanya terdapat perbedaan yang jauh bagaikan timur dan barat bahkan lebih jauh lagi
Barangsiapa yang mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul Bait namun ternyata mereka berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul Bait, maka yang ada hanya kedustaan belaka. Lalu Ahlul Bait mana yang mereka ikuti?
Sangat tepatlah ucapan seorang penyair:
كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً بِلَيْلَى
وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَبِذَاكَ
Setiap lelaki mengaku kekasih Laila
Namun Laila tidak pernah mengakuinya
Yang Ahlussunnah ketahui tentang Imam Husain, bahwa beliau adalah cucu Nabi dan belahan jiwanya, juga yang paling mirip wajahnya dengan Nabi. Beliau sering mencium cucunya yang satu ini. Imam Husain dan saudaranya Imam Hasan, adalah penghulu pemuda penghuni syurga. Mereka berdua adalah anak dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, orang yang mencintai dan dicintai Allah dan RasulNya. Ali adalah seorang yang harus dicintai oleh setiap mereka yang mengaku beriman.
Ahlussunnah menganggap bahwa mencintai Ali adalah bagian dari iman, dan sebaliknya, membenci dan memusuhi Ali adalah bagian dari kemunafikan, salah satu sifat tercela yang harus dijauhi. Imam Husain adalah anak dari penghulu wanita penghuni syurga, belahan hati Rasulullah, Fatimah Azzahra, juga termasuk Ahlul Bait yang dibersihkan oleh Allah sebersih-bersihnya. Nabi berwasiat pada kita supaya menjaga Ahlul Bait ketika berkhotbah siang hari di tengah terik matahari Ghadir Khum : “Aku ingatkan kalian atas Ahlul Baitku”.
Imam Husain adalah penghulu Ahlussunnah, dan cucu Nabi kami, Ahlussunnah mencintai Imam Husain dan yakin bahwa cinta padanya adalah ikatan tali iman. Mencintai Imam Husain termasuk amal terbaik yang dapat dipersembahkan oleh orang beriman pada Allah, dalam rangka melaksanakan sabda Nabi : “seseorang akan bersama dengan yang dicintainya”. Barang siapa mencintai Imam Husain berarti dia telah mencintai Nabi dan sebaliknya, yang membenci Imam Husain berarti telah membenci Nabi.
Kami Ahlussunnah beranggapan mengenai Imam Husain sama seperti anggapan Umar bin Khottob tentang beliau : “siapa yang menumbuhkan rambut di kepala kami kalau bukan Allah lalu kalian wahai Ahlul Bait?”
Kami Ahlussunnah meyakini bahwa Imam Husain telah mati dibunuh musuh-musuh yang menzaliminya, kami berlepas diri dari seluruh orang celaka yang telah membunuhnya atau bantu-membantu dalam membunuh Imam Husain, atau mereka yang ridho atas kezaliman yang menimpanya. Kami meyakini bahwa kezaliman yang menimpa Imam Husain adalah curahan karunia dari Allah pada beliau, untuk meninggikan derajatnya, memuliakan pangkatnya, seperti sabda kakeknya : “para Nabi adalah orang yang paling berat ujiannya, lalu orang yang terbaik di setelah mereka dan seterusnya”. Dengan perantaraan ujian yang berat ini Allah mengaruniakan padanya pangkat mulia sebagai seorang syahid. Dengan ujian ini Allah mengangkatnya ke derajat para pendahulu ahlul bait yang sabar ditimpa cobaan di masa awal Islam, begitulah, Imam Husain juga bersabar dalam menghadapi ujian berat yang menimpa dirinya, sehingga Allah menyempurnakan nikmatnya dengan karunia syahadah. Perlu diketahui, bahwa karunia sebagai syahid tidak pernah diberikan kecuali pada orang yang sabar dalam menghadapi cobaan, ternyata Imam Husain termasuk mereka yang layak mendapatkannya. Kami yakin, sejak itu, kaum muslimin tidak pernah ditimpa musibah lebih besar dari syahidnya Imam Husain.
Setiap kami mengingat musibah itu, kami selalu mengucapkan perkataan yang diajarkan oleh Fatimah binti Husain, yang ikut hadir saat ayahnya syahid, dari ayahnya dari kakeknya yaitu Rasulullah, bahwa beliau bersabda : “barang siapa ditimpa musibah dan ingat akan musibah itu, lalu ber istirja’ (mengucapkan Inna lillahi…dst) maka Allah akan memberinya pahala sama seperti pahala musibah itu ketika menimpanya walaupun musibah itu sudah lama terjadi.” Maka kami mengucapkan  “Inna lillahi wa inna ilaihi Roji’un”, karena kami ingin mendapat berita gembira dari Allah : “berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar, yaitu mereka yang mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika ditimpa musibah. Mereka akan mendapat pujian dan rahmat dari Allah, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”
Walaupun kami mencintai Imam Husain, tapi kami tidak akan melanggar batas yang telah ditetapkan oleh kakeknya, Rasulullah, yang telah bersabda : “ janganlah kalian berlebihan dalam memujiku seperti kaum nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam, tapi cukup katakanlah : Muhammad adalah Hamba Allah dan RasulNya”
Ahlussunnah tidak berdoa dan meminta pertolongan pada Imam Husain dengan alasan menghormatinya [Ahlussunnah tidak mengatakan: Ya Husain… adrikni, atau Ya Sohibazzaman… Adrikni] , karena Allah melarang kami berbuat demikian.
Ahlussunnah tidak memperlakukan Nabi dan Ahlulbaitnya seperti memperlakukan Allah, sebagaimana kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan Isa dan Maryam yang akhirnya menjadikan mereka berdua sebagai tuhan selain Allah.
Ahlussunnah beranggapan bahwa Ahlul Bait tidak memiliki posisi dan kewenangan yang hanya dimiliki para Nabi, seperti kemaksuman dan kewenangan membuat syari’at baru, yang hanya dimiliki oleh para Nabi sebagai penyampai Risalah Allah. Ahlussunnah meyakini bahwa Ahlul Bait adalah pengikut Nabi yang terbaik dan penyampai dakwah Nabi Muhammad, kita semua mengetahui bahwa Ahlul Bait adalah manusia biasa, tapi mereka adalah manusia-manusia terbaik. Namun ahlul bait tidak pernah merasa bahwa menjadi kerabat Nabi adalah jaminan keselamatan di akherat, seperti anggapan sebagian orang yang mengaku keturunan Nabi saat ini.
Ahlul Bait adalah mereka yang paling keras membela Islam dan paling depan dalam melaksanakan ajaran Islam, seperti dijelaskan Imam Ali Zainal Abidin : Aku berharap Allah akan memberi pahala dua kali lipat bagi ahlul bait yang berbuat baik, namun takut Allah akan memberi dosa dua kali lipat bagi ahlul bait yang berbuat dosa.
Ahlussunnah tidak melanggar perintah kakek Imam Husain, Rasulullah, yang melarang ummatnya meratap, memukul badan dan menobek pakaian ketika ditimpa musibah. Rasulullah menerangkan bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan jahiliyah. Bahkan Hamzah, paman Nabi, telah dibunuh dan dirusak mayatnya, Nabi pun bersedih, beliau tidak pernah ditimpa musibah seberat ketika pamannya dibunuh dan dirusak mayatnya di perang uhud. Namun tidak pernah menjadikan hari terbunuhnya Hamzah sebagai hari duka cita yang penuh dengan tangis ratapan. Begitu juga Ali, tidak pernah berbuat demikian saat memperingati wafatnya Nabi, juga Imam Hasan dan Imam Husain tidak pernah mengadakan acara duka cita dan ratapan pada hari peringatan wafatnya Ali. Maka Ahlussunnah tidak menjadikan hari peringatan wafatnya Imam Husain sebagai hari duka cita, kami meniru hal itu dari petunjuk Nabi yang diikuti oleh Ali dan kedua puteranya, Hasan dan Husain.
Hari Asyura adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dari ancaman dan kejaran Fir’aun, Rasulullah berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur pada Allah, Ahlussunnah berpuasa pada hari itu mencontoh Nabi yang telah berpuasa pada hari itu. Pada hari itu cucu Rasulullah jatuh syahid menemui Allah, menyusul kakek, ayah, ibu dan kakaknya. Kami bersabar dan mengharap pahala Allah atas kesedihan kami terhadap musibah itu. Pada hari itu Ahlussunnah melaksanakan dua amalan besar, yaitu bersyukur atas selamatnya Nabi Musa dan bersabar atas musibah yang menimpa, yaitu syahidnya Imam Husain. Sama dengan tanggal 17 Ramadhan, Ahlussunnah bersyukur memperingati kemenangan Nabi dan para sahabatnya di perang Badar, sekaligus bersedih memperingati syahidnya Ali bin Abi Thalib. Juga hari Senin, dimana pada hari itu Nabi Muhammad lahir dan wafat. Kami berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa, kami juga bersedih dan bersabar, serta tak lupa mengucapkan istirja’ Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun atas musibah syahidnya cucu baginda Nabi, Imam Husain, dengan hati yang penuh pengharapan, kiranya dapat masuk ke golongan mereka yang diberi kabar gembira.
(Dr. Abdul Wahhab Al Turairi )
Siapa yang membunuh Al Husain Radhiyallahu ‘anhuma ?
Jika pada hari Asyura (10 Muharram), Kami Ahlussunnah wal jama’ah berpuasa atas perintah dari Rasulullah Shalallahu ‘layhi wasallam, ketika beliau Shalallahu ‘layhi wasallam bersabda, artinya, “Ia (puasa) ‘Asyura, menghapus dosa tahun lalu.” (HR. Muslim). Maka orang-orang Syi’ah menjadikan 10 Muharram untuk memperingati hari Karbala, yaitu hari terbunuhnya Al Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma.
Mereka memperingatinya dengan meratap, melukai kepala dan badan mereka dengan senjata tajam. Bahkan balita yang masih dalam gendongan ibunya sekalipun, harus meneteskan darah demi “menyemarakkan” hari Karbala. Seperti itulah orang-orang Syi’ah mengekspresikan kecintaan mereka kepada Al Husain , salah seorang Ahlu Bait Rasulullah .
Tapi, jika saja mereka mau menapaktilasi sejarah, maka tentu mereka akan sadar bahwa sebenarnya, secara tidak langsung orang-orang Syi’ah juga terlibat dalam peristiwa pembunuhan Al Husain .
Orang-orang Syi’ah di Kufah Iraq yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah rutin mengirim surat kepada Al Husain . Mereka mengajaknya untuk menentang Yazid. Mereka mengirim utusan demi utusan yang membawa ratusan surat dari orang-orang yang mengaku sebagai pendukung dan pembela Ahlul Bait.
Isi surat mereka hampir sama, yaitu menyampaikan bahwa mereka tidak bergabung bersama pimpinan mereka, Nu’man bin Basyir. Mereka juga tidak mau shalat Jumat bersamanya. Dan meminta Al Husain untuk datang kepada mereka, kemudian mengusir gubernur mereka, lalu berangkat bersama-sama menuju negeri Syam menemui Yazid.
Namun, ketika Al Husain datang memenuhi panggilan mereka, dan ketika pasukan ‘Ubaidillah bin Ziyad membantai Al Husain dan 17 orang Ahlul Bait di suatu daerah yang disebut Karbala, tak seorang pun dari orang-orang Syi’ah itu yang membela beliau.
Kemana perginya para pengirim ratusan surat itu? Mana 12.000 orang yang katanya akan berbaiat rela mati bersama Al Husain ?
Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin Uqail, utusan Al Husain yang beliau utus dari Makkah ke Kufah. Tidak pula berperang membantu Al Husain melawan pasukan Ibnu Ziyad. Maka tak heran jika sekarang orang-orang Syi’ah meratap dan menyiksa diri mereka setiap 10 Muharram, sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun atas dosa-dosa para pendahulu mereka terhadap Al Husain .
Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait yang gugur bersama Al Husain adalah putera Ali bin Abi Thalib lainnya; Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali.
Demikian pula putera Al Hasan, Abu Bakar bin Al Hasan. Namun anehnya, ketika Anda mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syi’ah yang menceritakan kisah pembunuhan Al Husain , nama keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Tentu saja, agar orang tidak berkata bahwa Ali memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama sahabat Rasulullah ; Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman. Tiga nama yang paling dibenci orang-orang Syi’ah.
Ternyata Syi’ah sendirilah yang membunuh Al Husain Radhiyallahu ‘anhuma di Karbala.
Dengan adanya bukti-bukti utama ini, tidak ada satu penelitianpun yang dibangun untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan yang memutuskan bahwaYazid bin Muawiyah sebagai terdakwa yang dituduh bertanggungjawab di dalam rencana jahat pembunuhan Sayyidina Husain. Bahkan Yazid bin Muawiyah akan dibebaskan dengan penuh penghormatan dan terbongkarlah rahsia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya di Karbala.
Bukti pertamanya adalah pengakuan Syi’ah Kufah sendiri bahawa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syi’ah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan “At Tawwaabun” yang konon menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang – orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah karena kesalahan mereka menyembah anak sapi sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina .
Air mata darah yang dicurahkan oleh golongan “At Tawaabun” itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun coba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu cara .
Pengakuan Syi’ah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama – ulama Syi’ah yang merupakan tonggak dalam agama mereka seperti Baaqir Majlisi, Nurullah Syustri dan lain – lain di dalam buku mereka masing – masing.  Baaqir Majlisi menulis :
“Sekumpulan orang – orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, ” Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain . Kita telah membunuh “Ketua Pemuda Ahli Syurga” karena Ibn Ziad anak haram itu . Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibn Ziad tetapi tidak berguna apa – apa”. ( Jilaau Al’Uyun , m.s. 430 )
Qadhi Nurullah Syustri juga menulis di dalam bukunya Majalisu Al’Mu’minin bahawa setelah sekian lama ( kurang lebih 4 atau 5 tahun ) Sayyidina Husain terbunuh, pemimpin orang – orang Syi’ah mengumpulkan orang – orang Syi’ah dan berkata , ” Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya , kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampuni kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita “. Dengan itu berkumpulah sekian banyak orang – orang Syi’ah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang artinya, ” Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu “. ( Al Baqarah :54 ). Kemudian mereka saling membunuh sesama diri mereka sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelaran “At Tawaabun”.
Sejarah tidak tidak akan melupakan peranan Syits bin Rab’ie di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala . Tahukah anda siapa itu Syits bin Rab’ie? Dia adalah seorang Syi’ah tulen, pernah menjadi duta kepada Sayyidina Ali di dalam peperangan Siffin, sentiasa bersama Sayyidina Husain . Dia juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?
Sejarah memaparkan bahawa dialah yang mengepalai 4.000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang pertama-tama turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. ( Al’Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, hal. 37 )
Adakah masih ada orang yang ragu-ragu tentang Syi’ahnya Syits bin Rab’ie dan tidakkah orang yang menceritakan kejadian ini adalah Mulla Baaqir Majlisi , seorang tokoh Syi’ah terkenal ? Secara tidak langsung dia mengakui dari pihak Syi’ah sendiri tentang pembunuhan itu .
Lihatlah pula kepada Qais bin Asy’ats ipar Sayyidina Husain yang tidak diragui tentang Syi’ahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah menunjukkan kepada kita bahawa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya seelah selesai pertempuran ? (Khulashatu Al Mashaaib ,hal. 192 )
Selain pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain, ternyata saksi – saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala yang terus hidup setelah peristiwa ini juga membenarkan dakwaan ini termasuk kenyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat direkam oleh sejarah sebelum beliau terbunuh .
Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang-orang Syi’ah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau :
” Wahai orang – orang Kufah ! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang – orang yang curang, dzalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu sempit tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-mush di dalam menentang kami “. ( Jilaau Al’ Uyun, hal. 391 ).
Beliau juga berkata kepada Syi’ah :” Binasalah kamu ! Bagaimana bisa kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami ? Mengapa kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sebab? ” ( Ibid ).
Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syi’ah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau :
” Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan selerakkanlah mereka . Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka karena mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami “. ( Ibid )
Beliau juga diketahui telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya: “Binasalah kamu ! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darahmu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya”. ( Mulla Baqir Majlisi – Jilaau Al’Uyun, hal. 409 ).
Dari kata – kata Sayyidina Husain yang telah dipaparkan oleh sejarawan Syi’ah sendiri, Mulla Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahawa :
(i) Dendam yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam menelusuri penulisan sejarah bahawa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan perbuatan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar , Uhud, Siffin dan lain – lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata karena pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syi’ah Kufah .
(ii) Keadaan Syi’ah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan dikabulkannya doa Sayyidina Husaindi medan Karbala akan adzab Syi’ah
(iii) Upacara menyiksa badan dengan cara memukul-mukul tubuhnya dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syi’ah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syi’ah . Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah ada upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahawa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.
(iv) Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian banyak sanak keluarganya walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipanatkan oleh beliau. Itulah mereka golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya karena setelah mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Zuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah mereka upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara perkabungan ini setiap kali tiba tanggal 10 Muharram ?
Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup setelah berlalunya peristiwa itu juga berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang meratap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, ” Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka ?” ( At Thabarsi – Al Ihtijaj, hal. 156 ).
Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Beliau berkata:
” Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kepada kamu , ceritakanlah! Tidakkah kamu sadar bahawasa kamu mengutuskan surat kepada ayahku (untuk menjemputnya), kemudian kamu menipunya?
Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu karena amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu”.
Sayyidatina Zainab , saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup setelah peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syi’ah Kufah. Beliau berkata:
” Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Mengapa kalian menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering karena kedzalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kalian tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kalian juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran…Adakah kalian meratapi kami padahal kalian sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kalian pula menangisi kami. Demi Allah ! Kalian akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kalian telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tumpukkan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun”.(Jilaau Al ‘ Uyun, hal. 424 ).
Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syi’ah hingga ke hari ini .
Ummu Kulthum anak Sayyidatina Fatimah pula berkata sambil menangis di atas segedupnya:
” Wahai orang-oang Kufah! Semoga buruk keadaanmu. Semoga buruk rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari rumahnya . Semoga Allah melaknat kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu”.
Beliau juga berkata: ” Wahai orang-orang Kufah ! Orang-orang laki-laki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti”. ( Ibid , hal. 426 – 428 )
Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain berkata:
” Kalian telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh kakekku Ali ( Sayyidina Ali ). Senantiasa darah-darah kami menitis dari ujung-ujung pedangmu……Tidak lama lagi kalian akan menerima balasannya. Binasalah kalian! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan berterusan menghujani kalian. Siksaan dari langit akan pemusnahan kalian akibat perbuatan terkutukmu. Kalian akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih “.
Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah bt. Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri di mana-mana Syi’ah berada .
Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Dari keterangan dalam kedua-dua bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :
1.      1. Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syi’ah.
2.      2. Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syi’ah.
3.   3. Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri dari saudara-saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syi’ahlah yang telah membunuh mereka .
4.      4. Golongan Syi’ah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung karena kematian orang-orang yang dibunuh oleh mereka .
Kaum muslimin di dunia ini menerima keempat-empat perkara yang tersebut tadi sebagai bukti yang kokoh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenar di dalam sesuatu peristiwa pembunuhan, yaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan terakhir adalah pengakuan pembunuh itu sendiri.
Jika keempat-empat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh seluruh kaum muslimin sebagai peristiwa pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragui lagi tentang pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain itu ?

SIKAP YAZID TERHADAP TERBUNUHNYA AL HUSAIN
Berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan menjadi penguasa negeri Iraq.”
Ketika kabar tentang terbunuhnya Al Husain sampai kepada Yazid, maka nampak terlihat kesedihan di wajahnya dan suara tangisan pun memenuhi rumahnya.
Kaum wanita rombongan Al Husain yang ditawan oleh pasukan Ibnu Ziyad pun diperlakukan secara hormat oleh Yazid hingga mereka dipulangkan ke negeri asal mereka.
Dalam buku-buku Syiah, mereka mengangkat riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Ahlul Bait yang tertawan diperlakukan secara tidak terhormat. Mereka dibuang ke negeri Syam dan dihinakan di sana sebagai bentuk celaan kepada mereka. Semua ini adalah riwayat yang batil dan dusta. Justru sebaliknya, Bani Umayyah memuliakan Bani Hasyim.
Disebutkan pula bahwa kepala Al Husain dihadapkan kepada Yazid. Tapi riwayat ini pun tidak benar, karena kepala Al Husain masih berada di sisi Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.

SIKAP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH TERHADAP YAZID BIN MU’AWIYAH
Sebagian membolehkan melaknat Yazid bin Mu’awiyah, namun adapula yang melarangnya. Bagi yang membolehkan melaknatnya, perlu untuk memerhatikan tiga hal berikut:
-Mengetahui dengan jelas bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang fasiq.
-Yakin bahwa Yazid tidak pernah bertaubat dari dosa-dosanya tersebut. Jika orang kafir yang bertaubat kepada Allah diampuni, maka bagaimana lagi dengan orang fasiq?
-Tahu dengan pasti hukum melaknat pribadi tertentu, bahwa itu dibolehkan.
Tapi yang benar justru sebaliknya, melaknat sosok pribadi tertentu yang Allah dan Rasul-Nya tidak melaknatnya dilarang. Beliau bersabda ketika orang-orang melaknat Abu Jahl,
لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا
“Janganlah kalian mencela orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah menyerahkan apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari).
Agama Islam tidak dibangun di atas celaan sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syiah. Tapi dibangun di atas akhlak mulia. Maka celaan dan para pencela, tidak memiliki tempat sedikitpun dalam agama Islam. Rasulullah bersabda,
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang Muslim adalah kefasiqan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak seorang pun yang mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah kafir. Tapi, kebanyakan orang mengatakan bahwa ia fasiq. Dan Allahlah yang Mahamengetahui.
Rasulullah pernah bersabda,
أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ
“Pasukan yang paling pertama menyerang Romawi diampuni.” (HR. Bukhari).
Dan ternyata, pasukan ini dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah. Ikut dalam pasukan itu beberapa sahabat yang mulia; Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, dan Abu Ayyub. Penyerangan ini terjadi pada tahun 49 H.
Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari.
Demikian pula terbunuhnya sejumlah sahabat dan anak-anak mereka dalam peristiwa tersebut. Maka dalam menyikapi Yazid bin Muawiyah, kita serahkan urusannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi, “Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya.”
Wallahu A’laa wa A’lam



Bagaimana Jika ada kelompok yang menuduh aisyah berzina,Aisyah istri rasulullah adalah pelacur….

Bagaimana Jika ada kelompok yang menuduh aisyah berzina,Aisyah istri rasulullah adalah pelacur….
http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/08/18/bagaimana-jika-ada-kelompok-yang-menuduh-aisyah-berzinaaisyah-istri-rasulullah-adalah-pelacur/
 

Di antara bentuk kesesatan Syi’ah Rofidhoh adalah perbuatannya yang mencela bahkan menghina ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan perkataan atau perbuatan yang sangat keji dan munkar. Padahal ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan istri yang paling dicintainya.Lantas, apa saja kemuliaan yang dimiliki ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sehingga orang lain tidak berhak untuk mencela atau menghinanya? Mari kita simak pembahasan berikut:
Nama dan keturunan
Nama beliau adalah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah. (1 mukhtashor al kabir fi sirah rasul, maktabah syamilah)
Ayahnya adalah Abu Bakar Ash Shidiq, Amirul Mukminin yang mempunyai kemuliaan yang agung dalam islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia setelah rasulullah adalah Abu Bakar”. (HR Ibnu Majah, dishohihkan Albani dalam Shohih Ibnu Majah)
Dan ibunya adalah salah satu seorang pemuka shahabiyah yaitu Ummu Ruman binti ‘Amir. Seorang Shahabiyah yang mempersembahkan pengorbanan yang amat banyak bagi kemashalahatan agama islam. (Sirah Shahabiyah Hal 131, Pustaka As-Sunnah)
Beliau lahir dalam masa islam dan dilahirkan oleh orang tua yang mulia dan beriman kepada Allah. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Ketika aku mulai bisa mengenal orang tuaku kudapati mereka telah memeluk islam. (Siyar A’lamin Nubala 2/139, Sirah Shahabiyah Pustaka As-Sunnah)
Celaan Syi’ah kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
Di antara bentuk makar Syi’ah untuk menjatuhkan islam adalah dengan mencela dan menghina Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Karena dengan mencelanya, hilanglah seperempat syariat islam yang dibawanya, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah berkata, “Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha seperempat syariat”.
Hal inilah yang coba diupayakan oleh Syi’ah untuk menghancurkan islam, ketika seorang muslim tidak memuliakan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, maka semua hadits yang diriwayatkannya akan tertolak dan tidak akan dijadikan pedoman dalam syariat islam.
Di antara bentuk celaan syiah kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
1. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mempunyai akhlak dan perangai yang buruk
Hal ini tertulis di bukunya Ali bin Ibrahim Al Qummi di dalam tafsirnya 2/192. Dalam buku itu disebutkan bahwa perangai istri nabi sangatlah buruk dan tidak berakhlak.
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia karena diracuni oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Di dalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy disebutkan bahwa yang menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
3. Istri-istri nabi adalah para pelacur
Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”
4. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah ibu dari syaithan
Dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161, bahwa Aisyah digelari Ummu Asy-Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummu Asy-Syaithan (ibunya syaithan). (Dikutip dari Bulletin Islam Al Ilmu Edisi 30/I/II/1425)
Lihatlah kedustaan kaum Syi’ah, bagaimana keji dan kejamnya Syi’ah dalam mencela ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang merupakan Ummul Mukminin, yang bahkan namanya disucikan oleh Allah dan diabadikan dalam Al Qur’an.
Untuk membantah tuduhan-tuduhan tersebut, lihatlah bagaimana keutamaan-keutamaan dan kemuliaan ‘Aisyah di hadapan Allah dan Rasul-Nya.
Kedudukan ‘Aisyah di hati Rasulullah
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Aku berkata:
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling engkau cintai?”
Beliau balik bertanya:
“Kenapa engkau tanyakan itu?”
Jawabku:
“Agar aku mencintai orang yang engkau cintai”.
Rasulullah berkata:
“’Aisyah”.
(lihat kitab Al Majma’ (15309), Sirah Shahabiyah, Pustaka assunnah)
Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah, Rasulullah berkata:
“Apakah engkau bersedia untuk menjadi istriku di dunia dan akhirat?”
Jawabku: “Tentu bersedia”. Demi Allah.
Maka beliau bersabda:
“Engkau adalah istriku di dunia dan di akhirat”.
(HR Al-hakim 4/10, sirah shahabiyah pustaka assunnah)
Dalam hadits yang lain, Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “’Aisyah” (HR Bukhori no 3462 dan HR Muslim no 6328, maktabah syamilah)
Lihatlah bagaimana kedudukan dan keutamaan ‘Aisyah di hati Rasulullah, beliau adalah istri Rasulullah di dunia dan di akhirat dan wanita yang sangat dicintainya.
Bukankah bentuk ketaatan dan kecintaan kepada rasul adalah dengan mencintai apa yang Rasul cinta dan membenci apa yang Rasul benci? Ketika Rasulullah sangat mencintai ‘Aisyah, maka pantaskah kita membenci dan mencelanya?
Keutamaan dan Kemuliaan ‘Aisyah
Banyak sekali keutamaan yang dimiliki ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahkan Rasulullah menggambarkan keutamaannya layaknya tsarid (bubur daging dan roti) yang merupakan makanan paling utama dan kebanggaan bangsa arab.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan ‘Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))
Di antara keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha lainnya:
1. ‘Aisyah adalah wanita satu-satunya yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis.

Aisyah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilhairkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengna ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))
2. Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah berdasarkan wahyu Allah
“Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam; seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’, maka aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau, lalu kukatakan, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjalankannya’.” (HR Bukhari no 3682 dan Muslim no 6436, Maktabah Syamilah)
3. Malaikat Jibril menyampaikan salam untuk ‘Aisyah
Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, Abu Salamah berkata: “Sesungguhnya malaikat Jibril mengucapkam salam kepadamu”. Aisyah berkata: Lalu aku menjawab: “wa’alaihissalam wa rahmatullah”. (HR Bukhori 3045, HR Muslim 6454, maktabah syamilah)
4. Keberkahan umat islam dengan sebab ‘Aisyah
Bahwasanya ‘Aisyah pernah meminjam dari Asma’ sebuah kalung yang kemudian kalung tersebut hilang di dalam perjalanan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mencarinya sampai akhirnya masuk waktu sholat sementara mereka tidak ada air. Lalu merekapun sholat, kemudian mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah pun menurunkan ayat tentang tayammum, maka Usaid bin Hudhair berkata kepada ‘Aisyah, “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan, demi Allah tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan bagi kaum muslimin.” (HR Bukhori no. 329, Maktabah Syamilah)
5. Wahyu turun ketika Rasulullah bersama ‘Aisyah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku sedang berada di selimut salah seorang di antara kalian selain ‘Aisyah. (HR Bukhori 3564, maktabah syamilah)
6. ‘Aisyah adalah wanita yang disucikan namanya dari langit ketujuh dan diabadikan dalam Al-Qur’an
Inilah keutamaan terbesar yang diberikan Allah untuk ‘Aisyah. Surat An-Nur ayat 11-26 merupakan ayat yang turun berkenaan dengan berita dusta terhadapnya. Dengan turunnya ayat ini, maka terbantahlah tuduhan-tuduhan keji dan dusta tersebut.
Allah telah mengisyaratkan bahwa ‘Aisyah adalah wanita yang baik, wanita yang menjaga kesuciaannya dan bagi pendusta adalah adzab yang pedih di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak men
getahui”. (QS. An Nur: 19)
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat
zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”. (QS. An Nur: 23)
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik ada
lah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS. An Nur: 26)
Kesaksian para sahabat akan keutamaan dan keilmuan‘Aisyah
Az-Zuhri berkata, “Kalau ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh perempuan, pasti ilmu ‘Aisyah lebih banyak”.
Urwah bin Zubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang lebih mengerti tentang fikih, dunia pengobatan dan tentang syair daripada ‘Aisyah”. (Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/39-56, Sirah Shahabiyah Pustaka As-Sunnah)
Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Setiap kali kami para sahabat Rasulullah mendapat kesulitan tentang suatu hadits, kami selalu bertanya kepada ‘Aisyah, maka kami akan mendapatkan pengetahuan darinya”. (HR Tirmidzi 3883, Dia berkata: “Hadits hasan shahih gharib”)
Masruq pernah ditanya, “Apakah ‘Aisyah pandai dalam ilmu waris? Dia menjawab: “Demi Allah, Aku melihat para pemuka Sahabat Rasulullah bertanya kepada ‘Aisyah tentang ilmu waris”. (Min Akhlaqil ‘Ulama, hal 61)
Penutup
Hal di atas adalah segelintir dari keutamaan yang dimiliki oleh ‘Aisyah untuk membantah Syi’ah. Masih banyak hal yang perlu kita ketahui dari pribadi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, baik dalam segi akhlak, kezuhudan, kecerdasan, amal ibadah dan yang lainnya. Sehingga semakin sempitlah celah-celah untuk kedustaan padanya dan semakin besarlah kecintaan kita kepadanya.
Semoga dengan tulisan ini, dapat memberi gambaran bagi kita akan kedudukan ‘Aisyah dalam islam, bagaimana kemuliaannya, bagaimana keutamaannya dan memberi bantahan terhadap tuduhan-tuduhan yang diberikan Syi’ah atasnya.
Penulis: Rian Permana
Artikel 
Muslim.Or.Id
Lihat videonya :
Video syiah yang lainnya :
Share this:
Terkait
prabu gandha
September 12, 2013 pukul 7:53 pm
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…
beginikah tata cara sholat ajaran mazhab syiah??
dalam sholat dan doa mereka melaknat isteri dan sahabat Nabi
apakah nabi mengajarkan tata cara dan bacaan sholat yg seperti itu selama Nabi Muhammad saw masih hidup..??
apakah ini termasuk bid’ah atau mengada2kan sesuatu yang tidak Nabi SAW ajarkan??
Masya Allah saya turut prihatin dengan mazhab syiah ini..
Seakan hidupnya penuh dengan melaknat sahabat dan isteri2 Rosulullah SAW
bahaya ya juga jika benar seperti ini,,
astagfirullahal ‘adzim.. semoga Allah melindungi hamba dan keturunan hamba dari mazhab syiah… amiiinn
Allahumma sholli ‘alla Muhammad wa ‘ala aliy Muhammad..
Ainul Hayat
Juni 6, 2012 pukul 4:24 pm
heeee penghasut atas dalil apa km menuduh syiah dgn fitnahanmu itu..ahlul bayt tdk prnh mengatakan aisyah itu ibu setan atau juga istri nabi itu pelacur….dasar tukang fitnah!
Sudah baca atau belum, sebaiknya saya cantumkan lagi disni, pendapat dari buku2 ulama syiah tentang aisyah, silahkan buka buku tersebut,
1. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mempunyai akhlak dan perangai yang buruk
Hal ini tertulis di bukunya Ali bin Ibrahim Al Qummi di dalam tafsirnya 2/192. Dalam buku itu disebutkan bahwa perangai istri nabi sangatlah buruk dan tidak berakhlak.
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia karena diracuni oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Di dalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy disebutkan bahwa yang menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
3. Istri-istri nabi adalah para pelacur
Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”
4. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah ibu dari syaithan
Dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161, bahwa Aisyah digelari Ummu Asy-Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummu Asy-Syaithan (ibunya syaithan). (Dikutip dari Bulletin Islam Al Ilmu Edisi 30/I/II/1425)
Lihatlah kedustaan kaum Syi’ah, bagaimana keji dan kejamnya Syi’ah dalam mencela ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang merupakan Ummul Mukminin, yang bahkan namanya disucikan oleh Allah dan diabadikan dalam Al Qur’an.
Apakah mata anda buta? semua tuduhan diatas ada dalam kitab2 ulama syiah, atau anda mau mendengar ucapa ulama syiah mencela aisyah? silahkan tonton nih videonya, ketika shalat mereka mengutuk abu bakar,umar, dan aisyah, apalagi dalam ceramah2 mereka,.
Imam syiah mengutuk abu bakar,umar,dan aisyah, simak di menit 2:45
cara shalat yang aneh dari orang2 syiah,
Bagi yang belum mengetahui tatacara shalat orang syiah, lihatlah cara shalat mereka,
Mereka shalat bukan dengan tatacara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah,
Orang syiah tidak bersedekap ketika shalat
Orang syiah tidak mengucapkan Amiin, setelah akhir surat alfatihah
Shalat orang syiah ada pemandunya yang ngga ikut shalat,
Dan mereka mengutuk Abu bakar,Umar, dan aisyah ketika shalat, silahkan lihat dan dengarkan sendiri di menit ke 2:45


Studi Kritis Atas Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” [ 2 ]

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi
Telah sampai kepada kami beberapa usulan pembaca agar kami mengkritik sebuah buku yang beredar akhir-akhir ini yang dipublikasikan secara gencar dan mendapatkan sanjungan serta kata pengantar dari para tokoh. Oleh karenanya, untuk menunaikan kewajiban kami dalam menasihati umat, kami ingin memberikan studi kritis terhadap buku ini, sekalipun secara global saja sebab tidak mungkin kita mengomentari seluruh isi buku rang penuh dengan syubhat tersebut dalam tulisan kita yang terbatas ini. Semoga Alloh menampakkan kebenaran bagi kita dan melapangkan hati kita untuk menerimanya.

Membongkar Kebohongan & Penyesatan Buku ”Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”

Hasil gambar untuk kata kata salafi

Waspadai buku “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI:

Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku yang diberi Kata Pengantar oleh Ketua PBNU, Prof KH Said Agil Siraj ini penuh dengan kesesatan, antara lain: menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim, mengajarkan rasisme, penuh kecurangan dan kebohongan, mempromosikan ajaran Syi’ah, memicu pertikaian besar sesama kaum Muslimin, terang-terangan mengajarkan prinsip-prinsip kesesatan, mengajarkan sikap kurang ajar kepada para Ulama, memakai metode intelijen untuk mengadu-domba umat Islam, dan mendukung serangan kaum Islamophobia terhadap dakwah.

Sejarah Berdarah Sekte Syiah,.. Buku yang perlu anda baca, agar tidak terjerumus kedalamnya..

Sejarah Berdarah Sekte Syiah,.. Buku yang perlu anda baca, agar tidak terjerumus kedalamnya..
Agustus 19, 2012

Download Audio: Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah – Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram (Ustadz Firanda Andirja, M.A.) [Jakarta, 15 Juli 2012



Alhamdulillah, silakan download rekaman MP3 bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah – Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram bersama Ustadz Firanda Andirja, MA. Acara ini yang diselenggarakan diMasjid ASTRA, Sunter, Jakarta Utara pada Ahad, 15 Juli 2012.
Idahram adalah sosok misterius yang tidak berani menampakkan batang hidungnya. Kemungkinan hal ini dikarenakan ketakutannya jika ketahuan dustanya yang sungguh sangat memalukan. Apakah ia adalah Abu Salafy yang telah saya bantah dalam buku saya ” Ketinggian Allah diatas MakhlukNya “. Ataukah ia adalah seseorang yang bernama Marhadi yang jelas siapapun dia, sosok Idahram adalah seorang pendongeng dan penipu ulung yang telah berdusta dengan memalsukan buku-buku ulama dan berdusta atas nama mereka.
Dalam penamaannya saja ia telah melakukan tipu muslihat dengan menyandangkan kata “Syaikh” pada namanya, yang mengesankan ia adalah seorang berilmu atau seorang yang berasal dari luar negeri, mengingat istilah syaikh biasanya ditempelkan kepada seorang dari negeri Arab yang memiliki ilmu, namun kenyataannya Idahram hanyalah seorang pendongeng.
Akhirnya, saya hanya bisa mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uuun… Sungguh musibah yang menimpa umat Islam Indonesia dengan hadirnya buku“Sejarah Berdarah Sekte Wahhabi” karya Idahram, yang ternyata adalah seorang“Syaikh Pendongeng”. (Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah hal.337 – via moslemsunnah)
Silakan download mp3 ceramahnya pada link berikut ini. Sumber MP3: Radio Rodja
*KUALITAS MP3 BAGUS*


MANUSKRIP PERDEBATAN IMAM JA’FAR ASH SHADIQ DENGAN ORANG SYIAH

MANUSKRIP PERDEBATAN IMAM JA’FAR ASH SHADIQ DENGAN ORANG SYIAH

Maret 31, 2012
JA`FAR ASH-SHADIQ
Dia adalah Imam Ja`far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bib Abu Thalib. Perhatikan silsilah keluarganya. Jika anda mengidolakan Ali dan ahlul baitnya maka cintailah keturunannya ini, karena kami pun insya Allah mencintai beliau.
Ja`far Ash-Shadiq adalah Imam ke-6 yang diklaim Syiah (Rafidhah) sebagai salah satu Imam 12 mereka yang ma`shum. Semenjak dahulu Syiah mengklaim bahwa mereka mengikuti manhaj dan langkah Ja`far Ash-Shadiq. Madzhab mereka dalam bidang fikih adalah ucapan-ucapan dan pendapatnya
Ada seorang syi`ah yang mengklaim keutamaan Ali di atas Abu Bakar Ash-Shiddiq di hadapan Ja`far Ash-Shadiq. Setelah orang syi`ah ini mendengarkan argumentasi Ja`far dia menyatakan taubat dari kesalahannya yang telah mengedepankan seseorang atas Abu Bakar.
Teks perdebatan ini diabadikan dalam dua manuskrip yang sangat langka dan berharga. Satu manuskrip ada dalam Perpustakaan Syahid `Ali Basha di Istanbul, yang bernomor 2764. Fakta sejarah ini dituangkan dalam sepuluh halaman.
Manuskrip kedua ada dalam Perpustakaan Zhahiriyah, Damaskus dalam kumpulan bernomor 111, sebanyak sembilan lembar.
Kedua manuskrip tersebut berstatus standar, handal dan dikuatkan dengan sanad-sanad (siklsilah yang meriwayatkan) dan banyaknya sama`at (riwayat yang dalam bentuk pendengaran) Teks perdebatan ini belum pernah dicetak sebelumnya, hingga Syaikh Ali Abdul Aziz Ali Syibl mengeditnya berdasarkan dua manuskrip tadi  dengan meneliti masalah-masalah yang menjadi bahan perdebatan. Cetakan pertama keluar pada tahun 1417 H dengan judul “Perdebatan Ja`far Ash-Shadiq dengan Seorang Rafidhi tentang Pengutamaan antara Abu Bakar denganAli Radhiallahu `anhuma”.
TEKS PERDEBATAN
Seorang Rawi (Narator) menuturkan bahwa ada seorang Syiah (Rafidhi) mendatangi  Ja`far Ash-Shadiq. Ia segera berucap salam,”Assalamu `alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.” Ja`far langsung menjawab salam.
1. Orang tadi bertanya,
”Wahai putra Rasulullah, siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam?
Ja`far Ash-Shadiq menjawab:
”Abu Bakar.”
2. Ia bertanya,
”Mana hujjah (dalil) dalam hal itu?”
Dia menjawab,
” Firman Allah ta`ala: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya dari (Makkah)  sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata,”Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad), dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.”(Surat At-Taubah:40).
Coba pikirkan apa ada orang yang lebih baik dari dua orang sedang yang ketiganya adalah Allah??
Tidak ada seorangpun yang lebih afdhal dari Abu Bakar selain Nabi Shalallahu `alaihi wasallam.
3. Maka Rafidhi (Syi`ah) berkata:
”Sesungguhnya Ali bin Abu Thalib telah tidur di tikar Rasulullah (demi menggantikannya) tanpa mengeluh (jaza`,artinya tabah) dan tidak takut (faza`,artinya tegar).”
Maka Ja`far Ash-Shadiq berkata,
”Dan begitu pula Abu Bakar, dia bersama Rasulullah ,tanpa jaza` dan faza`.
4. Orang tadi menyanggah,
”Sesungguhnya Allah ta`ala telah menyatakan berbeda dengan apa yang anda katakan!”
Ja`far Ash-Shadiq bertanya kepadanya,”Apa yang di firmankan Allah?”
Dia menjawab,
”Ketika dia berkata kepada temannya,”Janganlah kamu berduka cita (huzn). Sesungguhnya Allah bersama kita, “Bukankah ketakutan tadi adalah jaza`?”
Ja`far Ash-Shadiq menjelaskan,
”Tidak! Karena huzn (sedih) itu bukan jaza` dan faza`. Sedihnya Abu Bakar adalah khawatir jika Rasulullah dibunuh dan agama Allah tidak lagi ditaati. Jadi kesedihannya terhadap agama Allah dan terhadap Rasul Allah bukan sedih terhadap dirinya. Bagaimana (ia sedih), dia telah disengat (hewan berbisa) lebih dari seratus sengatan dan tidak pernah mengatakan “His” juga (tidak pernah) mengatakan “UH”!
5. Orang Syi`ah berkata:
Sesungguhnya Allah Ta`ala berfrman, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)” (Surat Al-Maidah:55).
Ayat ini turun tentang perihal Ali bin Abu Thalib ketika  menshadaqohkan cincinnya ketika dia ruku`, maka Rasulullah bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya (ayat) di dalam diriku dan ahlul baitku.”
Ja`far Ash-Shadiq menjelaskan,
”Ayat yang sebelumnya lebih agung daripadanya. Allah berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum (bisa kelompok atau orang) yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya”(Surat Al-Maidah 54, ayat sebelumnya). Ternyata perbuatan riddah (murtad, keluar dari islam) terjadi besar-besaran sepeninggal Rasulullah shalallahu `alaih wasallam.
Orang-orang kafir itu berkonsentrasi di Nawahand, mereka berkata,”Orang yang selama ini mereka bela—maksudnya Nabi—-kini telah mati.” Hingga Umar Radhiallahu `anhu berkata (kepada Abu Bakar yang bertekad memerangi  mereka),”Terimalah salat dari mereka dan dan biarkan (tinggalkan, maafkan) zakat bagi mereka, maka Abu Bakar berkata ,”Demi Allah  seandainya mereka menghalangiku (tidak mau menyerahkan) zakat yang dulu mereka membayarkannya kepada Rasulullah, pasti aku memerangi  mereka seorang diri.” Maka ayat ini lebih utama untuk Abu Bakar  Radhiallahu `anhu.
6. Rafidhi tersebut melanjutkan argumennya,
“Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman:”Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan siang hari secara sembunyi dan terang-terangan” (Al-Baqoroh:274).
Ayat ini turun tentang perihal Ali alaihi salam. Dia memiliki empat dinar. Satu dinar dia nafkahkan di malam hari, satu dinar dia nafkahkan di siang hari, satu dinar secara sembunyi-sembunyi dan satu dinar dengan terang-terangan. Maka turunlah ayat ini.”
Ja`far Ash-Shadiq menjelaskan,
”Abu Bakar memiliki yang lebih utama lagi di dalam Al-Qur`an. Allah berfirman (dalam surat Al-Lail): “Demi malam apabila menutupi -ini adalah sumpah Allah— Dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). —Ia adalah Abu Bakar— Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah —Ia adalah Abu Bakar— Yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkannya —Ia adalah Abu Bakar— Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya—ia adalah Abu Bakar.
Dia telah menafkahkan untuk (dakwah Rasulullah) sebanyak 40 ribu, sehingga beliau bersuka cita. Kemudian turunlah  Jibril alaihi salam memberi kabar bahwa”Allah yang Maha Tinggi dan Luhur memberi salam untukmu dan Dia berkata bacakan juga kepada Abu Bakar salam dariku, dan katakan kepadanya: Apakah engkau rela kepada Allah dalam kefakiranmu ini ataukah tidak suka.
Abu Bakar menjawab, “Apa mungkin aku marah (tidak suka) kepada Rabb-ku ? Aku ridha kepada Rabbku , Aku ridha kepada Rabbku, dan berjanji untuk membuatnya ridha (senang dan puas).”
7. Rafidhi itu berkata,
”Sesungguhnya Allah berfirman,”Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan  dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah.” (At-Taubah: 19) Ayat ini turun tentang perihal Ali.
Maka Ja`far Ash-Shadiq mengatakan,
”Abu Bakar memiliki yang lebih afdhal di dalam Al-Qur`an. Dia berfirman,”Tidak sama diantara kamu orang yang  menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah), mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik” (Al-Hadid:10).
Adalah Abu Bakar orang yang pertama kali menafkahkan hartanya hartanya untuk Rasulullah, orang yang pertama kali berperang dan yang pertama berjihad.
Orang-orang Musyrik berdatangan memukuli Nabi shalallahu `alaihi wasallam sampai berdarah. Begitu Abu Bakar mendengar berita itu dia langsung berlari mendatangi, lalu dia berkata,”Celaka kalian. Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan Rabb-ku adalah Allah, padahal dia telah membawa bukti-bukti yang jelas dari Tuhan kalian?!” Maka mereka meninggalkan Nabi dan berbalik memukuli  Abu Bakar hingga tidak jelas antara hidung dan wajahnya. Dia adalah orang yang pertama berjihad di jalan Allah dan orang yang pertama yang berperang bersama Rasulullah, serta orang yang menafkahkan hartanya. Rasulullah telah bersabda,”Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku seperti manfaatnya harta Abu Bakar.”
8. Rafidhi terus berkata:
“Sesungguhnya Ali tidak pernah menyekutukan Allah walau sekejap mata”
Maka Ja`far Ash-Shadiq menjawab,
”Sesungguhnya Allah telah memuji Abu Bakar dengan pujian yang telah mencukupi dari segala-galanya. Allah berfirman:”Dan orang yang membawa kebenaran —ia adalah Muhammad— Dan yang membenarkannya —Ia adalah Abu Bakar.— Mereka itulah orang-orang yang bertakwa (Az-Zumar :33).
Semua orang berkata kepada Nabi, “Engkau adalah dusta”, sedangkan Abu Bakar, hanya dia yang berkata , “Engkau benar.” Maka turunlah ayat ini berkenaan dengannya, ayat tashdiq (pembenaran) secara khusus, maka Abu Bakar adalah orang yang takwa (taqiy), bersih (naqiy), yang diridhoi(mardhi), yang ridha(radhiy), yang adil (`adl), penegak keadilan (mu`addil) dan yang menepati janji(wafiy).
9. Rafidhi itu kemudian berkata,
”Sesungguhnya mencintai Ali adalah fardhu (kewajiban) menurut ketetapan Allah :”Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan” (Asy-Syura:23).
Ja`far Ash-Shadiq mengatakan bahwa Abu Bakar pun memiliki seperti itu, Allah berfirman,” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo`a,`Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang`(Surat Al-Hasyr:10).
Abu Bakar adalah orang yang lebih dulu membawa iman, maka istighfar untuknya adalah wajib dan mencintainya adalah fardhu serta membencinya adalah kufur.
10. Rafidhi berkata:
”Sesungguhnya Nabi bersabda “Hasan dan Husain keduanya adalah sayyid (pemuka) pemuda Ahli surga dan bapak mereka berdua lebih baik dari keduanya.
Ja`far Ash-Shadiq berkata kepadanya,
”Bagi Abu Bakar disisi Allah ada keutamaan yang melebihi itu, aku diberitahu oleh bapakku, dari kakekku, dari Ali bin Abu
Thalib, dia berkata: “Saya ada disamping rasulullah, tidak ada orang lain selain aku. Tiba-tiba muncullah Abu Bakar dan Umar, maka
Nabi bersabda,
“Hai Ali! kedua orang ini sayyid (pemuka) penduduk ahli surga, yang tua maupun yang muda, yang telah lewat dan yang terdahulu dari generasi awal maupun yang tersisa dan yang tinggal dari generasi belakangan, kecuali para Nabi. Jangan engkau beritahukan kepada keduanya Ali”
Maka aku tidak memberitahukannya kepada siapapun hingga keduanya tiada (Hadist riwayat Abdullah bin Ahmad dalam al-Musnad; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq jilid IX hal 307;At-Tirmidzi jilid IV hal310; Ibnu Majah no94. Diriwayatkan oleh banyak sahabat seperti Ali, Anas,Abu Juhaifah,Jabir dan Abu Said)
11. Rafidhi berkata,
”Manakah yang lebih utama Fathimah putri Rasulullah ataukah Aisyah binti Abu Bakar?”
Ja`far Ash-Shadiq menjawab ,
” Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yaa siin, Demi Al-Qur`an yang penuh hikmah, Haa miim, Demi Al-Kitab yang memberi penjelasan(nyata)”
Kemudian dia berkata,”Aku bertanya kepadamu, manakah yang lebih baik, Fathimah putri Rasulullah ataukah Aisyah binti Abu Bakar, apakah kamu membaca Al-Qur`an?”
Kemudian Ja`far melanjutkan,
“Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Rasulullah, ia akan bersamanya di surga, Sedangkan Fathimah putri Rasulullah adalah sayyidah (pemuka) wanita ahli surga. Yang mencela istri Rasulullah, mudah-mudahan dilaknat Allah dan yang membenci putri Rasulullah, mudah-mudahan dihinakan oleh Allah.
12. Maka Rafidhi menjawab,
“Aisyah telah memerangi Ali, dan ia adalah istri Rasulullah”
Ja`far Ash-Shadiq menjelaskan,
“Benar, celaka kamu! Allah ta`ala berfirman, “Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah” (Surat Al-Ahzab:53).
13. Kemudian Rafidhi berkata,
” Apakah khilafah Abu Bakar, Umar dan Ustman ada dalam Al-Qur`an?”
Ja`far Ash-Shadiq menjawab,
“Ada, bahkan di dalam taurat dan Injil. Allah berfirman,”Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat (Al-An-`am:165).
Allah pun berfirman,
”Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo`a kepada Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. (An Naml:62)
Allah berfirman, “Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka”(An-Nur:55)
14. Rafidhi meminta kejelasan,
”Wahai putra Rasulullah, lalu manakah khalifah mereka di dalam Taurat dan Injil?”
Ja`far Ash-Shadiq menjawab,
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya—dia adalah Abu Bakar—,”Keras terhadap orang-orang kafir—Dia adalah umar,””Berkasih sayang sesama mereka— Ia adalah Ustman,” Kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoanNya—ia adalah Ali— “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”—ini adalah para sahabat Rasulullah—” Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil”(Lihat surat Al-Fath:29)
Rafidhi bertanya,
”Apa yang dimaksud dalam Taurat dan Injil?”
Ja`far Ash-Shadiq menjawab,
“Muhammad Rasulullah dan para khulafa sesudahnya Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Kemudian Ja`far Ash-Shadiq memukul dada Rafidhi! Dia berkata,”Allah Ta`ala berfirman,”Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat—Abu Bakar—” Lalu menjadi besarlah ia—Umar—-”Dan tegak lurus di atas pokoknya—Ustman—” tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin” —Ali bin Abu Thalib—,”Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih diantara mereka ampunan dan pahala yang besar—inilah para sahabat secara keseluruhan.
Semoga Allah meridhoi mereka, sungguh celaka kamu! Aku diberitahu bapakku dari kakekku dari Ali bin abu Thalib, Rasulullah bersabda,”Aku adalah orang yang pertama bangkit dari bumi, dan tidak ada kesombongan. Allah memberi kemudahan kepadaku dari hal-hal yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Kemudian Dia memanggil, “Dekatkan para khulafa
sesudahmu”
Maka aku berkata,”Ya Rabb! Siapakah khulafa itu?”
Maka Dia berkata,”Abdullah bin Ustman Abu Bakar Ash Shiddiq” Maka orang yang pertama keluar dari tanah setelahku adalah Abu Bakar. Dia kemudian didirikan di hadapan Allah Ta`ala untuk dihisab dengan hisab yang ringan sekali (hisaban yasiiro), kemudian  dia diberi pakaian stelan berwarna hijau, kemudian didirikan didepan Arsy. Kemudian ada panggilan,”Man Umar bin Al-Khathtab?” Datanglah Umar dengan urat–urat leher masih mengalirkan darah.
Dia bertanya, “Siapa yang telah berbuat seperti ini kepadamu?” Umar menjawab,”Budak Mughirah bin Syu`bah.” Dia lalu didirikan di hadapan Allah lalu dihisab dengan hisab sangat ringan dan diberi pakaian stelan warna hijau lalu didirikan dedepan Arsy. Kemudian didatangkan Ustman bin `Affan dengan urat-urat leher yang mengucurkan darah.
Dia ditanya, “Siapa yang telah berbuat seperti ini kepadamu?” Maka dia menjawab,”Fulan bin fulan”  Dia lalu didirikan di hadapan Allah lalu dihisab dengan hisab sangat ringan dan diberi pakaian stelan warna hijau lalu didirikan di depan Arsy. Kemudian didatangkan Ali bin Abu Thalib dengan urat-urat leher yang mengucurkan darah. Dia ditanya, “Siapa yang telah berbuat seperti ini kepadamu?” Maka dia menjawab Abdurrahman bin Muljam” Dia lalu didirikan di hadapan Allah lalu dihisab dengan hisab sangat ringan dan diberi pakaian stelan warna hijau lalu didirikan dedepan Arsy.”
15. Rafidhi tadi sekali lagi bertanya,
”Apakah ini semua ada didalam Al-Qur`an, wahai putra Rasulullah?”
Ja`far Ash-Shadiq menegaskan,
“Ya, Allah berfirman,” Dan didatangkan para Nabi dan syahid-syahid”—Abu bakar,Umar,Ustman,dan Ali—- “Dan diberi keputusan diantara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan (Surat Az-Zumar:69).
16. Akhirnya Rafidhi tadi bertanya,
”Wahai putera Rasulullah, apakah Allah masih mau menerima taubat saya dari dosa-dosa saya yang telah memisahkan antara Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali?”
Ja`far Ash-Shadiq menjawab,
” Tentu, pintu taubat selalu terbuka, maka perbanyaklah ishtigfar untuk mereka. Adapun jika sekiranya kamu mati dalam keadaan menyalahi mereka, maka kamu pasti mati diatas dasar selain fitrah Islam, dan amal-amalan orang kafir akan sirna tak tersisa.
Akhirnya orang tadi bertaubat, meninggalkan ucapan buruknya dengan taubat nashuha.
Sumber:Gen Syiah.