Sunday, May 31, 2015

Tolonglah Saudaramu, Jangan biarkan Ia Terzolimi !

Khutbah Jum'at Masjid Nabawi 26/7/1436 H
Oleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh 
Khutbah Pertama :
Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.

Amma ba'du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman :
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi". Maka ada seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?". Nabi berkata, "Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya" (HR Al-Bukhari)

Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur" (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan", lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)
Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
"Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat' (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehingga
تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
"Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian" (Qs Al-Anfaal : 60)

Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.”

Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.
Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)

          Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)"
Nabi juga berkata :
لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه
"Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya"
Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.
Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ
"Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong"
Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?
Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.
Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.
Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)
Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.

          Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.
Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu 'anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ
"Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga"
Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.
Dan istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Khodijah radhiallahu 'anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.
Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :
وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)
Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar'i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.

          Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid'ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.

          Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.
Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya'ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu 'anhaa berkata : "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu 'anhu :
إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
"Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya"
Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An'aam : 55)
Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.
Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: "Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)." Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12)

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur'an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang.
Khutbah Kedua :
          Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.
Amma ba'du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)
          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ
"Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit"
Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.
بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى
Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)
Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; "Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia". Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.
Allah berfirman :
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40)
Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com


Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany dan 9 Tuduhan Dusta Yang Dialamatkan Padanya (Bag. III)

Berikut adalah lanjutan dari dua tulisan sebelumnya :
Tulisan ini diterjemahkan secara ringkas dan bebas, serta diambil dari artikel yang dituliskan oleh Syaikh  Muhammad Umar Bazmul (untuk yang mengerti bahasa arab, silahkan baca artikel lengkapnya disini)
6. Bermadzhab Dzohiri
Tuduhan ini juga perlu bukti. Adapun sifat yang disandarkan kepada ahli hadits bahwa mereka termasuk ahli dzahir, ini merupakan kata-kata yang terdengar setiap masa. Oleh karena itu disandarkannya sifat tersebut kepada Syaikh Al-Albany bukanlah suatu yang aneh, sebab beliau termasuk ahli hadits.
Untuk menghilangkan kesamaran yang telah merasuki otak sebagian orang, perlu dipaparkan beberapa pertanyaan berikut.
Apakah Syaikh Al-Albany pernah berkata terus terang di kitab-kitabnya bahwa ia bermadzhab dzahiri?
Apakah Syaikh Al-Albany yang hanya sekedar menukil perkataan dari kitab Ibnu Hazm bisa dikatakan bermadzhab dzahiri?
Perlu diketahui bahwa Syaikh Al-Albani di beberapa tempat dari kitabnya menyampaikan kritik keras terhadap Ibnu Hazm Adz-Dzahiri. Di kitab Tamamul Minnah, halaman 160 beliau berkomentar : “Untuk menyelisihi pendapat yang dipegang oleh Ibnu Hazm”.
Pada kitab yang sama, halaman 162 beliau berkata : “Saya merasa heran dengan Ibnu Hazm seperti kebiasaannya berpegang teguh dengan madzhab Dzahiri”.
Diantara karangan Syaikh, ada sebuah kitab yang membantah Ibnu Hazm dalam masalah alat musik. Oleh karenanya, maka ahli hadits –termasuk Al-Albani- termasuk orang yang paling jauh dari kesalahan-kesalahan yang ulama catat dari madzhab Dzahiriyah.
Bahkan Syaikh Al-Albany berbicara dengan terus-terang tidak hanya pada satu tempat, dan yang paling popular adalah di muqaddimah kitab Sifat Shalat Nabi bahwasanya dalam manhajnya, beliau bersandar kepada hadits-hadits dan atsar, tidak keluar dari keduanya, menghargai para imam dan mengambil manfaat dari fikih mereka.
7. Mutasahil (Terlalu Mudah) Menshahihkan Hadits
Hal ini bersifat relatif, berbeda sesuai dengan masing-masing orang. Ulama yang mutasyaddid (terlalu keras/mempersulit, maka) ia melihat orang lain sebagai mutasahil. Begitu juga dengan ulama yang mutasahil, maka ia melihat orang lain sebagai mutasyaddid. Dan yang menjadi pegangan dalam mengetahui yang benar dalam masalah ini adalah dengan banyak membaca, berusaha mengetahui keadaan, dan saling membandingkan satu sama lain.
Sejumlah permasalahan yang disandarkan kepada Syaikh Al-Albany bahwa ia terlalu mudah menshahihkan hadits diantaranya.
a). Menghasankan hadits dha’if dengan banyaknya jalan.
b). Menerima hadits seorang perawi yang tidak diketahui keadaannya, dan bersandar pada tautsiq Ibnu Hibban (rekomendasi beliau untuk perawi hadits)
c). Beliau menerima dan memberikan rekomendasi kepada beberapa perawi yang lemah.
Semua jenis hadits lemah dapat menerima penguat dan pendukung, hadits tersebut akan naik derajatnya dengan banyaknya jalan, kecuali hadits yang pada sanadnya terdapat perawi yang pendusta dan pemalsu hadits, perawi hadits yang tertuduh berdusta, dan perawi hadits yang berada pada derajat ditinggalkan (seperti perawi yang sangat buruk hafalannya), hadits syadz (ganjil, menyelisihi hadit lainnya), dan hadits munkar.
Adapun menerima hadits dari seorang perawi yang tidak diketahui keadaannya dan bersandar kepada tautsiq Ibnu Hibban, ini merupakan permasalahan yang disandarkan kepada Syaikh Al-Albani tanpa dalil shahih yang mendukungnya. Dan yang benar, bahwa tidak hanya pada satu tempat Syaikh Al-Albany membantah orang yang bersandar kepada tautsiq Ibnu Hibban dan beliau mensifatinya dengan kata-kata mutasahil
Beliau juga telah menulis pada muqaddimah kitab Tamamul Minnah, halaman 20-26, kaedah yang kelima dengan judul “Tidak dibolehkannya bersandar dengan Tautsiq Ibnu Hibban”.
Permasalahan rekomendasi beliau kepada beberapa perawi yang lemah merupakan tuduhan semata, dimana mereka (yang melontarkan tuduhan tersebut) tidak mampu mendatangkan seorang perawi yang disepakati bersama kelemahannya, lalu datanglah Syaikh Al-Albany yang kemudian  memberikan rekomendasi terhadap perawi tersebut.
Oleh : Aziz Rachman


Saturday, May 30, 2015

Menhan Sentil Iran yang Suka Berperang dan Urusi Agama Lain ( Ini Baru Menteri )

Negara Iran yang dominan masyarakatnya menganut ajaran Syiah ( bukan Islam ) dikritik oleh Menhan RI Ryamizard Ryacudu. Menhan mengkritisi pada saat melakukan pertemuan bilateral dengan Negara tersebut, yang mengingatkan untuk persoalan agama lebih baik diurus masing-masing [ jangan urusin Agama  Islam ].
Ia menyebut bahwa untuk masalah dan menentukan agama, Iran tidak perlu untuk mencampurinya. Sehingga di kawasan Arab di kemudian hari menurutnya dapat bersatu sebagaimana mestinya [ biar  Arab dengan Islamnya, Iran dengan  Syiahnya ].
Masalah agama biarkan saja, bukan kamu yang menentukan. Kamu tetap bersahabat saja. Kalau itu dilakukan, Arab bisa bersatu," kata Ryamizard berpesan kepada Brigjen Hossein Dehghan Menhan Iran seperti yang dikutip dari Republika beberapa waktu lalu (26/05/2015).
Menurut Ryamizard, antarnegara tetangga itu harusnya saling menjalin hubungan baik. Kalau berperang itu namanya memutus silaturahim.  Akibatnya, gara-gara masalah sentimen agama (digrecokin syiah), negara di Jazirah Arab harus saling berperang satu sama lain.
Ia mengungkapkan hal demikian pada saat melakukan pertemuan di Moskow, Rusia belum lama ini. Dengan menceramahi panglima atau Menhan Negara Iran, mantan Kasad ini berharap negeri Arab kembali tenang. Tidak berperang kembali.
"Saya melakukan pertemuan bilateral dengan Menhan Iran, satu setengah jam. Saya sampaikan, mengapa perang mulu di Arab? Itu memutus silaturahim,” sampainya.
Entah terkesan dengan pertemuannya itu, mantan kepala staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut mengaku, akhirnya diminta secara khusus untuk berkunjung ke Iran. "Akhirnya saya diundang. Memutus silaturahim hanya mengundang malapetaka dari Allah," kata Ryamizard.
Dia pun sempat berkelakar, ingin datang ke Iran, akan tetapi dengan tujuan meningkatkan kerjasama militer, bukan mengisi tausiah agama. ( mudah-mudahan bisa disadarkan )
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2015/05/30/37276/menhan-sentil-iran-yang-suka-berperang-dan-urusi-agama-lain/?

Menlu Arab Saudi: Iran Sponsori Aksi Terorisme

Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi, Adel al Jubeir, menyatakan bahwa negara Iran mensponsori terorisme. Ia juga menyebutkan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara yang selalu mencampuri urusan dalam negeri negera-negara Timur Tengah.
Pernyataan Menlu Jubeir tersebut muncul setelah pertemuannya dengan Menlu Mesir, Sameh Shukri, di Kairo, Mesir. Dalam pertemuan itu, Menlu Shukri mengatakan bahwa Pemerintah Mesir memiliki visi yang sama dengan Arab Saudi.
“Saya pikir Iran termasuk negara yang mensponsori aksi terorisme. Iran juga selalu mencampuri urusan dalam negeri negara-negara di kawasan Timur Tengah. Contoh yang terkini adalah di Yaman,” ujar Menlu Jubeir, seperti dikutip Al Arabiya, Senin (1/6/2015).
“Pemerintah Arab Saudi tidak akan berpangku tangan dalam menghadapi ulah Iran yang selalu mencampuri urusan dalam negeri negara lain,” sambungnya.
Arab Saudi diketahui memang selalu berselisih dengan Iran. Puncaknya terjadi saat Arab Saudi dan koalisinya turut terlibat dalam konflik di Yaman. Pemerintah Arab Saudi ingin mengembalikan kekuasaan Yaman sepenuhnya kepada Presiden Mansour Hadi.
Arab Saudi juga menuding Iran selalu mendukung kelompok Houthi yang telah menggulingkan pemerintahan Presiden Mansour Hadi di Yaman. (Okezone)


Jawaban terhadap Kedustaan Muchtar Luthfi’ ( Syiaher )

Tulisan yang dibawakan oleh Muchtar Luthfi ini hanyalah merupakan daur ulang ucapanahlul-bida’ (kemasannya pun masih kemasan lama) yang sangat memusuhi dakwah salaf, dakwah Ahlus-Sunnah (walau penulis juga ngaku-ngaku membawa pemahaman Ahlus-Sunnah – memang mudah bagi setiap pengaku). Dilihat dari siapa yang dia nukil dan siapa yang dia bela, kok nampaknya kita tahu siapa dalang dibalik pemikiran Muchtar Luthfi. Lebih jelas lagi setelah di bagian akhir tulisan, Muchtar Luthfi mengaku sebagai mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomaini Qom, Republik Islam Iran. Malang nian….. Menuntut ilmu di sarang perusak agama (Syi’ah). Universitas naas : Universitas Imam Khomaini Qum, Iran.
Tidak banyak yang akan ana komentari (hitung-hitung hemat energi). Secara global saja, diantaranya :
1. Apa yang ditulis oleh Muchtar Luthfi tidaklah ilmiah menurut ana, walau ia lengkapi dengan berderet catatan kaki. Karena pada hakikatnya, apa yang ia bela adalah pemahaman bid’ah, sedangkan yang ia serang adalah pemahaman sunnah.
2. Muchtar Luthfi berceloteh bahwa istilah Wahabi ini seakan-akan diciptakan oleh keluarga Su’ud dan Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab rahimahumallah. Celotehan ini adalah celotehan yang sama sekali tidak berdasar. Istilah “Wahabi” ini sebenarnya sebutan yang diberikan oleh musuh-musuh dakwah Tauhid kepada Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab beserta orang-orang yang sepaham dengan beliau. Pada banyak kesempatan, beliau (Ibnu Abdil-Wahhab) sering menyebutkan tentang dakwah Ahlus-Sunnah. Beliau berkata :
“Alhamdulillah, saya bukanlah orang yang mengajak manusia kepada madzhab seorang shufi, faqih, mutakallim (ahli kalam), atau imam dari para imam yang saya hormati seperti Ibnul-Qayyim, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, dan selainnya. Akan tetapi, saya hanya mengajak kepada Allah saja tiada sekutu bagi-Nya dan saya menyeru kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang belau wasiatkan kepada umatnya mulai awal hingga akhir. Saya berharap agar saya tidak menolak kebenaran apabila datang kepada saya. Bahkan saya bersaksi kepada Allah, malaikat-Nya, dan seluruh makhluk-Nya; apabila datang suatu kalimat kebenaran kepada kami dari kalian, maka saya akan menerimanya secara bulat dan saya akan mmebuang ke tembok setiap ucapan yang menyelisihinya dari para imamku, selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam karena beliau tidak mungkin mengatakan kecuali kebenaran” [Da’awi Al-Munawi’in 5/252 oleh Abdul-‘Aziz bin Muhammad Alu Abdul-Lathif, Darul-Wathan, Riyadl, KSA, Cet. I, 1412 H].
Beliau juga berkata dalam suratnya kepada Abdurrahman bin ‘Abdillah As-Suwaidi, salah seorang ulama ‘Iraq :
“Saya khabarkan kepadamu bahwa saya – alhamdulillah – seorang muttabi’ (mengikuti sunnah), bukan mubtadi’ (mengikuti bid’ah). Aqidah dan agamaku adalah madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, sebagaimana jejak para imam kaum muslimin seperti imam empat dan orang-orang yang mengiktui mereka hingga hari kiamat”[Ibid, 5/36].
Dan yang lebih jelas lagi adalah Raja ‘Abdul-‘Aziz dalam khutbahnya di Makkah pada bulan Dzulhijjah 1347 H mengatakan :
“Mereka menjuluki kami “Wahabiyyun” dan madzhab kami adalah “Wahabi” sebagai madzhab tertentu, maka ini kesalahan fatal akibat kabar bohong yang didesuskan oleh sebagian kalangan yang memiliki niat jahat. Kami bukanlah pemeluk madzhab baru atau aqidah baru. Muhammad bin ‘Abdil-Wahab rahimahullah tidaklah membawa ajaran baru. Aqidah kami adalah aqidah salaf shalih yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana pemahaman salaf shalih. Kami menghormati para imam empat, tidak ada bedanya bagi kami antara Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah. Semuanya terhormat dalam pandangan kami.
Inilah aqidah yang diemban oleh Syaikhul-Islam Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab rahimahullah. Inilah aqidah kami, sebuah aqidah yang dibangun di atas tauhid yang murni dari segala noda-noda bid’ah. Aqidah tauhid inilah yang kami dakwahkan dan dapat menyelamatkan kita dari semua petaka” [Koran Ummul-Qurra’ edisi Dzulhijjah 1347 H, Mei 1929 M. Islamiyyah Laa Wahabiyyah halaman 396 oleh Dr. Nashir ‘Abdil Karim Al-‘Aql, Kunuz Isybiliyyah, Cet. II, 1425].
Nah, kalau perkaranya telah jelas; adalah hal yang aneh apabila Muchtar Luthfi beranggapan bahwa karena istilah “Wahabi” di luar Saudi tidak populer dan cenderung negatif, maka berganti bajulah dengan istilah Salafy. Ini menunjukkan ketololannya yang amat sangat. Apalagi tuduhan murahannya dimana keluarga Su’ud ini bertalian erat dengan Yahudi Arab. Adapun di awal berdirinya Saudi banyak terjadi pertumpahan darah (?), maka pernyataan ini bisa dibenarkan bisa juga didustakan sekaligus. Dibenarkan, bahwa memang pada awal berdirinya Saudi terjadi beberapa peperangan, sebagaimana lazimnya terjadi peperangan waktu itu. Itu terjadi karena adanya penentangan terhadap dakwah Tauhid serta hasutan yang dihembuskan ahlul-bida’ sehingga Daulah Utsmaniyyah menyerang keluarga Su’ud. Hal itu ditambah pula dengan provokasi yang dilakukan Inggris. Telah terjadi peperangan beberapa kali antara pasukan Ibnu Sa’ud dengan pasukan Inggris. Ini sekaligus membuktikan kedustaan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab dan keluarga Sa’ud didukung oleh pemerintah kolonial Inggris. Bagi ana, tuduhan murahan seperti ini telah sering terdengar dan terbaca….. jadi nggak heran bin aneh lagi.
3. Setelah berkomentar sana-sini tentang aqidah – yang katanya bahwa yang diomongkaan dan dibelanya itu adalah aqidah ahlus-sunnah – , Muchtar Luthfi dengan tidak malu mencela aqidah Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus-Sunnah. Jika saja lisannya telah berani mencela Imam Ahmad dengan ucapan : “terjerumus ke dalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama. Salah satu dampak konkrit dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan” ; janganlah heran bila ia dengan entengnya mencela para ulama yang lain. Termasuk di sini Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab. Tidak usah didetailkan jawabannya, ana kira ikhwah semua telah tahu : Siapa yang benar dalam permasalahan ini. Imam Ahmad bin Hanbal atau Muchtar Luthfi ?
Muchtar Luthfi mungkin tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa apa yang diyakini oleh Imam Ahmad bin Hanbal merupakan keyakinan para Imam Ahlus-Sunnah yang sesuai dengan keyakinan atau aqidah para shahabat radliyallaahu ‘anhum. Aqidah Ahlus-Sunnah mengatakan tentang perihal asma’ wa shifat : Menerima dengan maknanya sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah tanpa adanya tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil/tasybih. Di sinilah aqidah Imam Ahmad berdiri; aqidah Ahlus-Sunnah. Kemudian, mari kita dengar apa perkataan para imam yang lain mengenai hal ini :
Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’d, dan Sufyan Ats-Tsauri rahimahumullah tentang berita yang datang mengenai sifat-sifat Allah, mereka semua menjawab :
أَمِرُّوا هَا كَمَا جَاءَ بِلا كَيْفَ
“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat Allah) sebagaimana datangnya dan janganlah kamu persoalkan (yaitu : jangan kamu Tanya tentangbagaimana sifat itu)”[Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar Al-Khallal dalam Kitabus-Sunnah, Al-Laalikai no. 930, dan yang lainnya dengan sanad shahih].
Imam Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan prinsip-prinsip aqidah :
الإيمان بما جاء عن الله تعالى في كتابه المبين على ما أراده الله من غير زيادة، ولا نقص، ولا تحريف. الإيمان بما جاء عن رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، في سنة رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، على ما أراده رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، من غير زيادة ولا نقص ولا تحريف.
“Beriman kepada Allah ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagaimana yang dikehendaki-Nya tanpa adanya penambahan, pengurangan, dan tahrif (= ta’wil; yaitu mengubah lafadh nama dan sifat Allah atau mengubah maknanya atau menyelewengkan dari makna sebenarnya). Beriman kepada apa-apa yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sunnahnya sebagaimana yang dikehendaki oleh beliau tanpa adanya penambahan, pengurangan, dan tahrif [LihatLum’atul-I’tiqad oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi; syarah oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin halaman 14; download dari www.almeskhat.net/books].
Bukankah Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Al-Auza’i, Imam Al-Laits, dan yang semisal dengan mereka adalah para Imam Ahlus-Sunnah ? Nah,…. jikalau demikian adanya, apa yang dibenci dan dimusuhi mahasiswa gaya ini sebenarnya aqidah Ahlus-Sunnah yang diyakini oleh para imam. Lantas dimana engkau berdiri wahai Muchtar ? Yang engkau bela pada hakikatnya merupakan aqidah Asy’ariyyah Maturidiyyah dan aqidah Syi’ah ! Bukan Ahlus-Sunnah !! Dan bila dicermati, metode berpikir Muchtar Luthfi adalah metode yang dianut oleh Ahlul-Kalam. Maka simaklah apa yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah : “Hukum untuk ahli kalam menurutku adalah mereka harus dicambuk dengan pelepah kurma dan sanda atau sepatu dan dinaikkan ke unta, lalu diiring keliling kampung. Dan dikatakan : ‘Inilah balasan orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan mengambil ilmu kalam” [Lihat Ahaadits fii Dzammil Kalaam wa Ahlihi hal. 99 karya Imam Abul-Fadhl Al-Maqri’ – wafat tahun 454 H; Jami’ul-Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi karya Ibnu ‘Abdil-Barr 2/941].
Jadi ingat sya’ir tentang Laila :
أَيُّهَا اْلمُدَّعِي وَصْلًا بِلَيْلَى
لَسْتَ مِنْهَا وَلا قُلامَةَ ظِفْرٍ
إِنَّمَا أَنْتَ مِنْ لَيْلَى كََوَاوٍ
أُلْحِقَتْ فِي اْلهِجَاءِ ظُلْمًا لِعَمْرٍ
“Wahai orang yang mengaku cinta kepada Laila
Kau bukanlah kekasihnya walau hanya sepotong kukupun
Hubunganmu dengan Laila hanyalah seperti huruf wawu
Yang tersisipkan (pada ‘Umar) untuk mendhalimi ‘Amr”
Begitulah keadaan yang tergambar pada Muchtar Luthfi….. Ngaku-ngaku Ahlus-Sunnah dan gemar mencatut nama Ahlus-Sunnah; justru bertujuan mendhalimi Ahlus-Sunnah. Pada hakikatnya engkau bukanlah Ahlus-Sunnah walau sepotong kuku pun……. Syair tersebut cocok sekali untukmu……
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad bin Abdil-Wahhab lah yang dijadikan objek celaan Muchtar Luthfi, justru berada di atas aqidah dan manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.
4. O iya,….. Muchtar Luthfi dalam uraian picisannya menukil perkataan Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf; yang ia juluki secara berlebihan sebagai seorang “ulama Ahlu-Sunnah” yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim. Pengakuan dan julukan ulama Ahlus-Sunnah yang disematkan kepada As-Saqqaf ini pun disesuaikan dengan selera Muchtar Luthfi yang otomatis berkesesuaian paham dengannya. Kalau seperti ini, idem pula dengan apa yang telah ana tuliskan di atas. As-Saqqaf (juga Muchtar Luthfi) bukanlah seorang Ahlus-Sunnah ditinjau dari aqidah dan manhajnya. Ia adalah seorang beraqidah Jahmiyyah tulen dengan ta’wil dan ta’thil terhadap sifat-sifat Allah. Ia berkata dalam kitabnya At-Tandiid liman ‘Adadat-Tauhid halaman 50: “Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah menegaskan bahwa Allah ta’ala tidak boleh disifati kalau Dia berada di luar alam maupun di dalam alam”. Ahlus-Sunnah menurut selera As-Saqqaf. Persis dengan apa yang dipahami oleh Muchtar Luthfi. Jadi,…. syair tentang Laila di atas cocok pula diucapkan pada As-Saqqaf. Mulutnya yang kotor dengan seringnya melontarkan penghinaan dan kata-kata keji terhadap Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, Muhammad bin Abdil-Wahhab, Al-Albani, dan yang lainnya. Sebagaimana pepatah Arab : Kambing tetaplah kambing walaupun ia bisa terbang. As-Saqqaf bukanlah apa-apa dibandingkan dengan para ulama yang ia cela.
5. Muchtar Luthfi telah membeo Hasan As-Saqqaf dengan mengatakan bahwa Salafy adalah Nashiby (Pembenci Ahlul-Bait). Ana terus terang nggak tahu, apakah perkataan ini dilandasi dengan ilmu atau dengan kebodohan. Standar apa yang dipakai. Bila yang dimaksud bahwa Salafy sangat menentang tindakan berlebih-lebihan terhadap Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti halnya kaum Syi’ah dan Shufi, justru pemahaman Muchtar Luthfi lah yang harus diformat ulang. Tentu, jika ia kembali menegaskan bahwa dirinya berada di aqidah Ahlus-Sunnah. Lain halnya jika ia mengaku seorang Syi’i atau Shufi, duduk perkaranya jelas.
Imam Abul-Qasim Al-Asbahani dalam Al-Hujjah fii Bayanil-Mahajjah 2/489-490 berkata : “Dan termasuk sunnah Rasul adalah cinta terhadap Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya :
قُل لاّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاّ الْمَوَدّةَ فِي الْقُرْبَىَ
“Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." (QS. Asy-Syuuraa : 23) [selesai].
Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “…..kita diperintahkan untuk mencintai mereka (Ahlul-Bait), menghormati dan memuliakan mereka selama mereka berittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang shahihah dan istiqamah di dalam memegang dan menjalani syari’at agama. Adapun kalau mereka menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak istiqamah di dalam memegang dan menjalani syari’at agama, maka kita tidak diperbolehkan mencintai mereka sekalipun mereka Ahlul-bait Rasulullah…..” (lihat Syarah ‘Aqidah Wasithiyyaholeh Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 148).
Dan di sini khusus akan ana bawakan matan asli dari kitab ‘Aqidah Wasithiyyah karya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah – dimana Muchtar Luthfi ini menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai seorang Nashiby. Berikut perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala “
ويحبون أهل بيت رسول الله ويتولونهم ويحفظون فيهم وصية رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال يوم غدير خم : (أذكركم الله في أهل بيتي) ، وقال أيضاً للعباس عمه وقد إليه اشتكى أن بعض قريش يجفو بني هاشم فقال : (والذي نفسي بيده لا يؤمنون يحبوكم حتى لله ولقرابتي) وقال : (إن الله اصطفى بني إسماعيل واصطفى من بني إسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشاً واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم). ويتولون أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم أمهات المؤمنين ويؤمنون بأنهن أزواجه في الآخرة خصوصاً خديجة رضي الله عنها أم أكثر أولاده أول من آمن به وعاضده على أمره وكان لها منه المنزلة العالية والصِّدّيقة بنت الصّدّيق رضي الله عنها التي قال النبي صلى الله عليه وسلم : (فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام). 
“Mereka (Ahlus-Sunnah), mencintai Ahlul-Bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, setia kepada mereka serta menjaga wasiat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang mereka, dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir-Khum (ketika pulang dari haji wada’), beliau bersabda : “Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku” (HR. Muslim 4/1873 dari Zaid bin Arqam), dan beliau berkata kepada ‘Abbas, dimana ‘Abbas mengadu (mengeluh) kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa sebagian dari orang Quraisy membenci Bani Hasyim, maka beliau bersabda : “Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya. Mereka tidaklah beriman sehingga mereka mencintai kalian karena Allah dan karena mereka itu sanak kerabatku”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam pun bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memilih Bani Isma’il. Dan Dia telah memilih Kinanah dari Bani Isma’il. Dan Dia telah memilih Quraisy dari Kinanah. Dan Dia telah memilih Bani Hasyim dari Quraisy. Dan Dia telah memilhku dari Bani Hasyim”. Dan Ahlus-Sunnah senantiasa setia dan cinta kepada istri-istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena mereka adalah Ummahatul-Mukminin. Juga dikarenakan mereka adalah istri beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam di akhirat kelak; khususnya Khadijah radliyallahu ‘anha, ibu dari sebagian besar anak-anak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Khadijah adalah orang yang pertama beriman kepada beliau dan mendukung beliau, serta mempunyai kedudukan tinggi. Dan Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (yaitu ‘Aisyah) radliyallaahu ‘anhaa dimana beliau berkata tentangnya : “Keutamaan ‘Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua jenis makanan” [selesai].
Perhatikan aqidah Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah tentang Ahlul-Bait Nabi di atas. Tuduhan Nashiby yang ditujukan kepada Syaikhul-Islam oleh orang-orang semacam Muchtar Luthfi ini adalah tuduhan usang untuk menjauhkan umat dari ulamanya. Kita tahu bahwa Syaikhul-Islam mempunyai perkataan-perkataan yang keras dan tegas dalam membantah kaum Syi’ah dan Ahlul-Bida’. Oleh karena itu, mereka merasa sewot sehingga tidak segan berdusta atas nama Syaikhul-Islam demi mempopulerkan aqidah mereka yang sesat. Adapun beberapa nukilan mereka dari kitab Minhajus-Sunnah, maka itu hanyalah manipulasi yang sangat biasa mereka lakukan dengan mengambil beberapa potong kalimat Ibnu Taimiyyah yang sesuai dengan hawa nafsu mereka dan membuang sebagian yang lain yang merugikan mereka.
Orang macam Muchtar Luthfi ini menginginkan kita untuk bersikap ghulluw terhadap Ahlul-Bait dengan menempatkan mereka pada posisi yang tidak semestinya. Puncak keinginannya – mungkin – adalah meyakini apa yang telah diyakini Syi’ah Rafidlah terhadap para imam mereka yang dua belas itu. Selain itu, orang semacam Muchtar Luthfi ini pula hendak mempopulerkan orang-orang sesat yang sering ngaku Ahlul-Bait Nabi (baca : Ahlul-Bait palsu) menjadi seorang tokoh “panutan” sebagaimana sering kita lihat di masyarakat kita. Ahlul-Bait palsu yang sering merangkap profesi menjadi kaahin dan ‘arraf (alias dukun/paranormal). Dan kalaupun benar diantara mereka adalah Ahlul-Bait, maka – sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan – ke-walaa’-an (loyalitas) kita kepada mereka pun harus diukur sejauh mana mereka beriltizam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kemuliaan nasab hanya bermanfaat jika diiringi kemuliaan aqidah, manhaj, dan amal. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :
ومن بطأ به عمله لم يسرع به نسبه
“Barangsiapa yang lambat amalnya, maka kemuliaan nasabnya tidak bisa mempercepatnya” [HR. Muslim – Al-Arba’un-Nawawiyyah hadits ke-36].
6. Dalam ocehannya itu, Muchtar Luthfi merasa perlu membuat kedustaan baru karena merasa gerah atas penjelasan para ulama Ahlus-Sunnah (yang sering ia namakan : Ulama Wahabi/Salafy) atas kesesatan Syi’ah, aliran tumbuh subur di negeri yang ia minum susunya (baca : racunnya). Ia sangat ingin agar Syi’ah diterima sebagai salah satu madzhab Islam, sebagaimana madzhab-madzhab lain yang diakui. Ya,…. karena telah mendapat recehan beasiswa, ia gadaikan aqidah yang shahih untuk kemudian dicampur dengan aqidah hitam milik Syi’ah. Tidakkah engkau tahu wahai Muchtar, kalau yang namanya Syi’ah itu mencela dan mengkafirkan para shahabat ? Akibat lemahnya aqidah al-wala’ wal bara’-mu, engkau merasa harus lebih marah dan tersinggung ketika para ulama Ahlus-Sunnah membeberkan keborokan Syi’ah daripada kemarahanmu pada orang Syi’ah mencaci-maki para shahabat Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam. Padahal, para shahabat adalah satu-satunya generasi dari kalangan umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah diridlai Allah. Al-Qur’an menjadi saksi :
وَالسّابِقُونَ الأوّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالّذِينَ اتّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدّ لَهُمْ جَنّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah : 100].
Adalah hal yang sangat-sangat aneh jikalau ada orang yang justru membela seorang pendusta macam Khomeini, padahal mulutnya yang tidak lebih mulia dari mulut burung bulbul telah mengatakan tentang dua shahabat yang mulia (Abu Bakar dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma) : “Kami tidak ada urusannya dengan dua tokoh itu dalam mengacak-acak Al-Qur’an, mempermainkan hukum Tuhan; dalam apa yang mereka halalkan dan haramnkan serta perbuatan kejam dan keji mereka…..dst.”[lihat Kasyful-Asrar hal. 126-127]. Perkataannya yang lain : “Perkataan ‘Umar bin Khaththab saat itu hanyalah kebohongan yang terlontar dari seorang kafir dan zindiq, dimana bertolak belakang dengan ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an”[ibid, hal. 176].
Dalam kitab Raudlatul-Kaafi halaman 205, orang yang punya nama Al-Kulaini (ulama haditsnya kaum Syi’ah) telah menuliskan sebuah riwayat (baca : dusta) : “Abu Ja’far menyatakan bahwa semua orang menjadi murtad setelah Nabi Muhamamdshallallaahu ‘alaihi wasallam kecuali tiga orang”. Dikatakan : “Siapa tiga orang itu?”. Ia menjawab : “Ar-Riqaad, Abu Dzar, dan Salman”.
Banyak riwayat senada yang punya inti cerita demikian (kafirnya mayoritas shahabat). Tahukah kita apa konsekuansi dari anggapan kafirnya para shahabat Nabi ? Betul, mereka hendak membatalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab dua sumber itu sampai kepada kita melalui para shahabat. Untuk Al-Qur’an, mereka agak takut-takut untuk berkata secara “gentle”. Sebab, jika mereka mencela Al-Qur’an, semua orang otomatis menolak agama dan keyakinan yang mereka jajakan. Makanya, mereka membuat penakwilan-penakwilan ganjil untuk menyerang aqidah Ahlus-Sunnah. Saat ini, dengan metode muka dua mereka (taqiyyah), mereka hendak menyembunyikan aqidah agama Syi’ah yang memuat adanya tahrif (perubahan) Al-Qur’an. Al-Kulaini meriwayatkan (secara dusta) dari Ja’far bin Muhamad yang berkata : “Yang ada pada kami adalah mushhaf Fathimah (as). Mereka tidak tahu apa sebenarnya Mushhaf Fathimah itu. Mushhaf Fathimah adalah tiga kali lebih besar dari Al-Qur’an kalian. Demi Allah,… tidak ada sehuruf pun Al-Qur’an kalian ini terdapat di dalamnya” [Al-Ushul minal-Kaafi 1/238]. Telah berlalu perkataan Khomeini yang mengatakan bahwa Al-Qur’an telah diacak-acak oleh Abu Bakar dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma. Sebagai tambahan, simaklah perkataan Al-Mufid dalam kitabnya Al-Maqaalaat : “Golongan Imamiyyah (Syi’ah) berkeyakinan bahwa Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab merupakan tokoh yang sesat. Keduanya mengacak-acak Al-Qur’an saat menyusunnya dan tidak jujur dalam menetapi ketentuan Nuzul-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Dinukil dari Fashlul-Khithaabkarya Ath-Thabrusi hal. 27). Kalau di bidang hadits,………. maka orang Syi’ah ini dikenal jago dalam menghina Shahihain (karena mereka memang tidak mempercayai kitab-kitab hadits Ahlus-Sunnah). Mem-plintir-plintir hadits, dan lain sebagainya…..
Masih terlalu banyak untuk disebutkan kesesatan Syi’ah, seperti : rajaa’, kema’shuman imam, nikah mut’ah, dan yang lainnya.
Nah……dengan melihat kenyataan ini, sungguh kebangetan (bodohnya) kalau ada orang yang masih mengangap bahwa Syi’ah itu tidak sesat. Dan satu diantara banyak orang yang kebangetan itu adalah Muchtar Luthfi. Mungkin perkataan Imam Malik ini cukup mewakili apa yang hendak ana katakan : “Karena mereka membenci para shahabat, dan barangsiapa membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini (yaitu QS. Al-Fath : 29)” [lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Fath : 29). Selain Imam Malik, berderet Imam-Imam Ahlus-Sunnah yang menganggap Syi’ah itu sebagai satu aliran yang sangat-sangat sesat…………. (ex : Al-Qadli ‘Iyadl, Ahmad bin Hanbal, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Ma’in, dan lain-lain).
Kemudian yang lainnya, yaitu tentang sesatnya Shufiyyun dan para Khurafiyyun, maka telah jelas (kecuali bagi Muchtar Luthfi mungkin). Bagaimana tidak sesat jika ada seseorang yang berkeyakinan orang yang mati dapat menolong sehingga dipropagandakan bagi orang yang hidup untuk “minta” sesuatu padanya ? Bagaimana tidak sesat jikalau ada orang yang memproklamirkan diri bahwa dirinya telah mencapai tingkatan ma’rifat sehingga ia terbebas dari taklif (beban syari’at) ? Bagaimana tidak sesat jikalau ada orang yang ngaku wali namun kerjaannya hanyalah ngurusin jimat, kesaktian, dan yang semisal yang tak ubahnya sepertimbah dukun (cuman bedanya, dukun yang satu ini berkopiah atau bersorban) ? Kalau itu semua tidak dikatakan sesat, ya…. mendingan bicara saja sama ayam. Itu lebih selamat daripada menyebarkan syubhat di telinga kaum muslimin. Tapi ingat, ulama Ahlus-Sunnah (Salafy/Wahabi sebagaimana dimaksud Muchtar Luthfi) tidak sembrono dalam menjustifikasi sesuatu. Bila mereka mengatakan sesuatu itu tidak benar, maka akan dijelaskan dalilnya. Mereka selalu merujuk pada penjelasan ulama salaf mengenai hal ini. Dan perlu diketahui pula bahwa ketika menyebut suatu perbuatan itu sebagai perbuatan syirik, tidak serta-merta pelakunya secara individu disebut musyrik.
7. Katanya pula, Wahabi/Salafy hobi memalsu dan mengotak-atik kitab. Para ulama Salafy/Wahabi tidak punya kegemaran seperti itu pak ! Ana kadang merasa lucu; di awal, Muchtar Luthfi mengkritik Wahabi dan orang-orang yang bersamanya di hari ini. Kemudian, ia nabrak-nabrak nama Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyyah dimana seakan-akan ia sebut ulama Wahabi. Tahu nggak lucunya ikhwah ? Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab itu lahir tahun 1115 H/1703 M. Apa hubungannya dengan Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyyah ? Apa mereka itu Wahabi ? Kemudian, ia nyinggung-nyinggung tentang Imam Al-Alusi dengan Ruhul-Ma’ani-nya. Terus terang ana belum pernah dengar dongeng yang diceritakan oleh Muchtar ini (tentang perubahan yang dilakukan oleh anaknya yang bernama : Nukman al-Alusi). Terlepas benar atau salahnya cerita ini, apa hubungannya dengan Wahabi dan Salafy ? Tuduhan Muchtar Luthfi sudah demikian membabi-butanya. Orang yang tidak sepaham dengannya ia sebut dengan Wahabi/Salafi. Jadi, standar seorang Wahabi/Salafi adalah ketidaksesuaian dengan Muchtar Luthfi. Aneh !!
Orang seperti Muchtar Luthfi ini hanyalah mengikuti suara yang berhembus di telinganya saja. Berhubung ia sekolah di Iran, maka suara yang berngiang adalah suara celaan terhadap Ahlus-Sunnah. Perlu diketahui bersama bahwasannya banyak ulama yang mentahqiq ataupun mentakhrij suatu kitab. Contoh : Tafsir Ibnu Katsir. Banyak ulama yang mentahqiq atau meringkas kitab tafsir ini dengan membuang beberapa riwayat israiliyyat dan dla’if dan menambahkan sedikit catatan kaki untuk menambah faidah. Ini tidak bisa disebut main curang, karena kitab tersebut selalu diberikan keterangan hasil tahqiq-an oleh pentahqiq. Selain itu, kitab yang asli pun masih tercetak. Tidak ada yang disembunyikan. Ini adalah hal yang sangat biasa dilakukan di kalangan ulama. Misalnya juga : kitab Shahih Muslim. Dalam rangka memudahkan para pembaca untuk menghafal dan mempelajarinya, maka Imam Al-Mundziri meringkasnya dalam bentuk Mukhtashar Shahih Muslim. Shahih Bukhari juga…. (seperti ringkasannya Imam Az-Zabidi). Mengenai kitab manhaj/aqidah, taruhlah kita ambil contoh kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syathibi. Banyak ulama yang telah mentahqiqnya seperti Syaikh Muhammad Rasyid Ridla, Syaikh Salim, bin ‘Ied Al-Hilaly, Syaikh Abdurrazzaq Al-Mahdi, dan yang lainnya. Sifat peringkasan ini adalah diperbolehkan dengan tanpa merubah tujuan penulisan kitab. Hal ini telah ditegaskan oleh Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah-nya :
أن يكون الشيء من التواليف التي هي أمهات للفنون مطولا مسهباً ، فيقصد بالتأليف تلخيص ذلك بالاختصار والايجاز وحذف المتكرر إن وقع مع الحذر من حذف الضروري لئلا يخل بمقصد المؤلف الاول .. "
“Sebuah karya tulis yang panjang dan lebar dimana merupakan induk ilmu pengetahuan, maka tujuan dari penulisan adalah meringkas dengan cara menghilangkan pengulangan kalau memang ada, disertai keberhati-hatian agar jangan sampai merusak maksud dan tujuan si Penulis kitab”. [selesai]
Dari situ kita tahu bahwa peringkasan kitab dengan menghapus apa-apa yang tidak diperlukan (baik berupa pengulangan atau penghilangan kalmat-kalimat yang kurang bermanfaat – seperti riwayat-riwayat dla’if atau yang semisal) adalah diperbolehkan. Dan hal itu – sekali lagi – biasa dilakukan oleh para ulama dahulu, apalagi sekarang. Selain peringkasan, para ulama juga terbiasa memberikan ta’liq/hasyiyah(komentar/catatan kaki/catatan pinggir) atau syarah pada sebuah kitab, baik berisi penjelasan atau bahkan kritikan. Dalam bidang hadits kita mengenal Hasyiyah As-Sindi ‘alaa Sunan Nasa’i karya Nuruddin bin ‘Abdil-Hadi As-Sindi, Al-Muntaqaa Syarh Al-Muwaththa’ karya Imam Al-Baji, dan lain-lain. Di bidang fiqh kita mengenal :Hasyiyah Ibni ‘Abidin. Dan lain-lain banyak. Mungkin Muchtar Luthfi ini merasa kurang sreg jika beberapa hadits dla’if dan maudlu yang merupakan makanan favorit kaum Syi’ah dan Shufi dihilangkan dalam kitab atau diberi beberapa catatan/peringatan. Hal inilah yang terjadi di Kitab Fathul-Bari atau Syarah Shahih Muslim dimana para ulama memberikan beberapa catatan berharga atas dua kitab tersebut. Apakah ini yang namanya khianat dan curang ? Mungkin hanya Muchtar Luthfi dan orang-orang yang seide dengannya saja yang berkepentingan untuk mengatakannya………….
Dusta yang dibawa Muchtar Luthfi ini memang keterlaluan. Katanya, Salafy/Wahaby telah menghapus riwayat : “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya” dalamJaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar. Satu kitab ana ambil : Tarikh Khulafaa’-nya As-Suyuthi. Matan yang ana miliki masih mencantumkan hadits tersebut. Tepatnya begini (ana ambil satu paragraf) :
واخرج الترمذي عن أبي سعيد الخدري قال كنا نعرف المنافقين ببغضهم عليا وأخرج البزار والطبراني في الأوسط عن جابر بن عبد الله وأخرج الترمذي والحاكم عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أنا مدينة العلم وعلى بابها هذا حديث حسن علي الصواب لا صحيح كما قال الحاكم ولا موضوع كما قاله جماعة منهم ابن الجوزي والنووي وقد بينت حاله في التعقبات على الموضوعات 
Mungkin saja,…. sebagaimana telah ana tuliskan, bahwa kitab yang dibaca oleh Muchtar Luthfi itu berupa ringkasan atau hasil tahqiq. Namun hal itu bukan berarti menghilangkan riwayat itu sama sekali dalam kitab aslinya. Karena ternyata, hadits tersebut memang tidak shahih !! Muchtar Luthfi mengatakan bahwa hadits tersebut terdapat dalam “Shahih At-Tirmidzi”.
Sekarang mari kita lihat lafadh hadits yang terdapat dalam Sunan Tirmidzi :
حدثنا إسماعيل بن موسى حدثنا محمد بن عمر بن الرومي حدثنا شريك عن سلمة بن كهيل عن سويد بن غفلة عن الصنابحي عن علي رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا دار الحكمة وعلي بابها قال هذا حديث غريب منكر
……..(sanad diringkas)….Dari Ash-Shanabahii, dari ‘Ali, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku adalah kota ilmu sedangkan ‘Ali adalah pintunya”. Berkata At-Tirmidzi : “Hadits Gharib Munkar !!” (HR. Tirmidzi nomor 3723).
Status hadits tadi adalah seperti yang dikatakan Imam At-Tirmidzi, baik dengan lafadh tersebut atau lafadh sebagaimana tersebut dalam Tarikh Al-Khulafaa’.
Semua lafadh yang semakna dengan hadits di atas adalah tidak shahih. Ibnul-Jauzi menyebutkannya dalam kumpulan hadits maudlu : Al-Mu’dlu’aat 3/349-355. Syaikh Al-Albani juga menyebutkannya dalam Silsilah Adl-Dla’iifah no. 2955. Kemarahan Muchtar Luthfi tersebut patut kita “pahami” karena sepertinya ia pengagum berat Khomeini dan Syi’ah dengan bungkus : Cinta Ahlul-Bait – (dikiranya Ahlus-Sunnah tidak cinta pada Ahlul-Bait kali…..). Jadi jangan heran kalau ada hadits, walaupunmaudlu’, yang terpaksa dihilangkan oleh para ulama, membuat dirinya sangat gusar.
Kalau tadi dia nuduh, dan telah kita buktikan bahwa tuduhannya adalah dusta; sekarang mari kita gantian lihat metode tipu-menipu penukilan hadits dari golongan Syi’ah. Ana contohkan : Seorang ulama Syi’ah kontemporer : Ja’far Subhani; yang dalam banyak tulisannya sering bergaya layaknya Ahlul-Hadits (yang banyak menipu orang awam). Dalam bukunya Al-Wahabiyyah fil-Mizan, yang diterjemahkan Pustaka Hidayah : Kritik Atas Paham Wahabi halaman 27 ketika mengkritik hadits Jabir :
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا حفص بن غياث عن بن جريج عن أبي الزبير عن جابر قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر ،وأن يقعد عليه،وأن يبى عليه
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang melabur kuburan, duduk di atasnya, dan mendirikan bangunan di atasnya” (HR. Muslim no. 970).
Ia (Ja’far Subhani) menuliskan beberapa komentar ulama Jarh wa Ta’dil akan ke-mudallis-an Ibnu Juraij (yang menyebabkan kelemahan). Kita tahu, bahwasannya seorang perawi mudallis, riwayatnya diterima apabila ia menegaskan penyimakannya terhadap kabar yang diterima. Dan sungguh aneh, Ja’far Subhani sengaja menyembunyikannya ! Padahal, penegasan penyimakan Ibnu Juraij itu ada pada riwayat yang lain, yaitu persis hadits di bawah hadits di atas. Imam Muslim menyebutkan :
وحدثني هارون بن عبد الله حدثنا حجاج بن محمد ح وحدثني محمد بن رافع حدثنا عبد لرزاق جميعا عن بن جريج قال أخبرني أبو الزبير أنه سمع جابر بن عبد الله يقول سمعت النبي صلى الله عليه وسلم بمثله
Memang, Ja’far Subhani dalam buku tersebut tidak hanya mengkritik Ibnu Juraij (ia juga mengkritik Abu Zubair). Tapi kritikannya jauh sekali dari standar kata ilmiah.
Contoh lain adalah sebagaimana uraian Syaikh Al-Albani ketika menjelaskan kedustaan dan ketidakamanahan As-Sayyid Abdur-Ridla Al-Mar’isyi Asy-Syi’iy dalam bukunya : As-Sujuud ’alaat-Turbah Al-Husainiyyah. Ia pernah berkata saat ingin memberikan dasar justifikasi shahihnya amalan orang Syi’ah yang sujud di atas lempengan tanah Karbala dengan mencomot dari sumber Ahlus-Sunnah :
و منهم الفقيه الكبير المتفق عليه مسروق بن الأجدع المتوفى سنة ( 62) تابعي عظيم من رجال الصحاح الست كان يأخذ في أسفاره لبنة من تربة المدينة المنورة يسجد عليها ( ! ) كما أخرجه شيخ المشايخ الحافظ إمام السنة أبو بكر ابن أبي شيبة في كتابه " المصنف " في المجلد الثاني في " باب من كان يحمل في السفينة شيئا يسجد عليه ، فأخرجه بإسنادين أن مسروقا كان إذا سافر حمل معه في السفينة لبنة من تربة المدينة المنورة يسجد عليها "
“Dan diantara mereka adalah Al-Faqih Al-Kabir Masruq bin Ajda’ yang meninggal tahun 62 Hijriah, seorang tabi’in besar yang tergolong rijal shihah yang enam. Dia (Masruq) mengambil batu lempengan dari tanah Madinah Munawwarah dalam safar-safarnya untuk sujud di atasnya sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikhul-Masyaayikh Al-Haafidh Imamus-Sunnah Abu bakar Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnyaAl-Mushannaf jilid 2 bab Man Kaana Yahmilu fis-Safiinah Syaian Yasjudu ’Alaih. Dia meriwayatkannya dengan dua sanad, bahwasannya Masruq apabila safar dalam perahu ia membawa batu lempengan dari Madinah Munawwarah untuk sujud di atasnya”.
Kedustaannya adalah : Pertama; atsar ini dalam Al-Mushannaf tidak diriwayatkan dengan dua sanad, namun hanya satu sanad yang bersumber dari Muhammad bin Sirin. Kedua, perkataannya : ‘batu lempengan dari Madinah Munawwarah’ itu tidak ada sama sekali di tempat yang ia tunjukkan dalam Al-Mushannaf. Entah dari mana orang Syi’ah ini bisa mengambil kalimat tersebut. Selain itu, atsar ini juga lemah.
Ini adalah contoh ringan saja. Yang lain ? Banyak…. Dan memang, orang Syi’ah itu telah biasa dan membiasakan diri untuk berdusta. Maka tidak berlebihan perkataan para imam jarh wa ta’dil bahwa orang Syi’ah adalah orang yang paling dusta dalam periwayatan.
Muchtar Luthfi mengisyaratkan bahwa orang-orang yang ia sebut sebagai Salafy/Wahabi itu tidak berani bersaing dengan kelompok Syiah dari sisi keilmiahan. Atas dasar apa ia mengatakan itu ? Apa karena orang-orang Salafy/Wahabi memborong dan membakar kitab-kitab Syi’ah yang menebar syubhat kepada umat itu ? Tindakan ini sungguh tepat demi menyelamatkan aqidah umat Islam dari tipu daya Syi’ah. Kita tidak ingin umat membenci shahabat Nabi karena “tergigit” dan tertular virus rabies Syi’ah dari buku yang dibaca. Kita tidak ingin umat melakukan prostitusi massal dengan kedok nikah mut’ah ala Syi’ah. Dan kita pun tidak ingin umat berkubang kesyirikan degan menuhankan para imam Syi’ah. Banyak ketidakinginan syar’i kita.
Hal ini sama sekali tidak berkorelasi dengan akurasi bantahan ilmiah dari ulama. Betapa banyak bantahan yang telah dihasilkan dari produk-produk tipu daya Syi’ah. Kenyataan yang ada di lapangan, justru merekalah yang “main kayu”. Korban-korban ulama Ahlus-Sunnah atas kedhaliman ahlul-bida’ telah banyak. Salah satu contohnya adalah Dr. Ihsan Ilahi Dhahir rahimahullah. Ia adalah murid Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Ia sangat produktif menulis kitab kesesatan Syi’ah, Shufiyyah, dan Ahmadiyyah dengan bahan dan rujukan dari kitab-kitab mereka sendiri. Karena gerah dan eksistensinya mulai terancam atas tulisan-tulisan Dr. Ihsan, maka ahlul-bida’ membunuhnya secara curang. Semoga Allah melimpahkannya pahala kesyahidan. Dr. Ali Muzhafaryan pun mengalami nasib serupa. Dan masih banyak yang lain lagi.
8. Akhir ulasan Muchtar Luthfi membahas tentang sisi kesamaan Salafy/Wahabi dengan Khawarij. Ia menuduh Syikah Muhammad bin Abdil-Wahhab adalah gembong takfir yang tidak segan-segan mengecap kafir pada orang-orang yang tidak sehalauan dengannya. Cukuplah ana nukilkan perkataan Syaikh Ibnu ‘Abdil-Wahhab tentang ini; beliau berkata dalam risalahnya kepada penduduk Qasim sekaligus menepis tuduhan serupa yang dilntarkan oleh Ibnu Suhaim :
“Allah mengetahui bahwa orang tersebut telah menuduhku yang bukan-bukan, bahkan tidak pernah terbetik dalam benakku. Diantaranya dia berujar bahwa aku mengatakan : ‘Manusia sejak 600 tahun silam tidak dalam keislaman, aku mengkafirkan orang yang bertawassul kepada orng-orang shalih, aku mengkafirkan Al-Bushiri, aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah’. Jawabanku terhadap tuduhan ini : ‘Maha Suci Engkau ya Rabb kami, sesungguhnya ini kedustaan yang amat besar” [Majmu’ah Muallafat Syaikh 5/11,12].
Perkataan Syaikh Ibnu Abdil-Wahhab ini sekaligus membantah tuduhan Muchtar Luthfi si pembeo ahlul-bida’. Dan inilah yang diyakini oleh Salafy saat ini, bahwa mereka tidak enteng saja mengatakan Fulan Kafir tanpa adanya hujjah yang nyata. Dan mungkin pula, ini disebabkan oleh kebodohan Muchtar Luthfi – sebagaimana bisa terlihat – akibat tidak bisa membedakan perkataan mujmal dan mu’ayyan. Maksudnya begini……. Jikalau kita melihat orang yang meminta-minta keselamatan kepada orang mati di kubur, maka kita boleh mengatakan : “Wahai Fulan, engkau telah berbuat syirik”. Atau mengatakan lebih umum lagi : “Barangsiapa yang meminta-minta sesuatu kepada penghuni kubur, maka ia telah berbuat kufur akbar”. Allah ta’ala berfirman :
قُلِ ادْعُواْ الّذِينَ زَعَمْتُم مّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضّرّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً * أُولَـَئِكَ الّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىَ رَبّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنّ عَذَابَ رَبّكَ كَانَ مَحْذُوراً
“Katakanlah,’Panggilah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharap rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al-Israa’ : 56-57).
Perkataan di atas tentu berbeda dengan : “Fulan telah kafir”. Harap diperhatikan !!
Orang semacam Muchtar Luthfi ini tentu kebakaran kumis melihat dakwah Tauhid yang ingin mengajak manusia untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’aladan menjauhi segala kesyirikan.
Pelengkap bumbu dusta, Muchtar pun membeo pendahulunya dari kalangan ahlul-bida’ yang mengatakan bahwa daerah Nejd di Saudi, tempat Syikah Muhammad bin Abdil-Wahhab berdakwah, sebagai tempat kemunculan fitnah dan tanduk syaithan. Ia mencocok-cocokkan hadits sesuai dengan hawa nafsunya – sebagaimana biasa. Ana jawab secara ringkas. Hadits tersebut terdapat dalam beberapa lafadh dan jalur sehingga saling menafsirkan. Dalam lafadh yang dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabrani dalam Mu’jamul-Kabir no. 13241 dari jalur Isma’il bin Mas’ud : Telah menceriytakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun, dari ayahnya, dari Nafi, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا , اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي يَمَنِنَا, فَقَالَهَا مِرَارًا , فَلَمَّا كَانَ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ , قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي عِرَاقِنَا , قَالَ:إِنَّ بِهَا الزَّلازِلَ , وَالْفِتَنَ , وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ.
“Ya Allah, berkahilah kami dalam Syam kami, ya Allah berkahilah kami dalam Yaman kami”. Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para shahabat nerkata : “Wahai Rasulullah, dalam ‘Iraq kami ?”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula terdapat tanduk syaithan”.
Imam Muslim dalam Shahihnya nomor 2905 meriwayatkan dari Ibnu Fudlail, dari ayahnya, dia berkata : Aku mendengar ayahku, Salim bin Abdillah bin ‘Umar berkata
يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن الفتنة تجىء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرنا الشيطان
“Wahai penduduk Iraq, alangkah seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele dan alangkah beraninya kalian menerjang dosa besar. Aku mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah datangnya dari arah sini’. Beliau menunjukkan dengan tangannya kea rah timur. Dari situlah munculnya dua tanduk syaithan”.
Jadi yang dimaksud Nejd dalam hadits tersebut adalah ‘Iraq. Nejd dalam bahasa Arab berarti : arah timur. Bagi penduduk kota Madinah, nejed-nya adalah Iraq (Iraq terletak di sebelah timur Madinah).
Sebenarnya Muchtar Luthfi telah menuliskan bahwa yang dimaksud dengan kata “Najd” adalah timur. Namun ia manipulasi sesuai dengan hawa nafsunya denganmbawa-mbawa nukilan Al-Qisthalani.
Mengenai urusan gundul-menggundul rambut kepala, maka ini tuduhan yang lebih ngawur lagi. Ana juga heran sama Muchtar Luthfi dan orang yang ia taqlidi; bagaimana bisa ia hubungkan gundul-menggundul dengan Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab dan Wahabi/Salafy-nya ? Ngawur ya ngawur, tapi kok kebangetan…..Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab pernah membantah fitnah ini dengan berkata :
“Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan kebohongan kepada kami. Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak mungkin melakukan hal ini, sebab kekufuran dan kemurtadan tidaklah terealisasi kecuali dengan mengingkari perkara-perkara agama yang ma’lum bi dlarurah (diketahui oleh semua). Jenis-jenis kekufuran baik berupa ucapan maupun perbuatan adalah perkara yang maklum bagi para ahli ilmu. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk diantaranya (kekufuran atau kemurtadan). Bahkan kami tidak berpendapat bahwa mencukur rambut adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari Islam bila ditinggalkan” [Ad-Durarus-Saniyyah 10/275-276, cet. 5].
Kesimpulan : Apa yang telah dicelotehkan oleh Muchtar Luthfi ini hanyalah lagu usang yang mencela dakwah Tauhid dan usaha-usaha untuk kembali kepada pemahaman as-salafush-shalih. Latar belakang tulisannya hanyalah murni sentimen kelompok karena pembelaan terhadap kaum shufi dan Syi’ah, walau sesekali ia mengatasnamakan Ahlus-Sunnah (?). Ia cela Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah, dan – tidak lupa – Muhammad bin Abdil-Wahhab. Ia sepertinya gak berani nyebut-nyebut Imam Syafi’i. Soalnya kalau ia berbuat seperti itu, bisa gak laku dagangan basi dia buat orang Indonesia yang kebanyakan ngaku syafi’iyyah. Dan telah disebutkan, Imam Syafi’i (dan juga para imam yang lain) berlepas diri dari aqidah yang dianut oleh Muchtar Luthfi dan orang-orang yang setipe dengannya. Wallaahu a’lam.