Tuesday, January 27, 2015

Raja Salman, Peta Baru Pergolakan Negara Teluk, Dan Faktor Erdogan

Oleh Hasmi Bakhtiar
Pasca Arab Spring di beberapa negara di Timur Tengah yang kini arahnya semakin tidak jelas, ditambah tragedi kudeta militer di Mesir 30 Juni 2013 silam, negara-negara Timur Tengah dilanda krisis percaya diri. Satu-satunya yang terus bergerak maju, terlepas dari kontroversi dunia internasional terhadapnya, hanyalah Iran.
Khusus untuk kawasan teluk, kumpulan negara kaya minyak tersebut pasca Arab Spring berada dalam kondisi tertekan dan minim kekuatan menghadapi super power Iran di kawasan. Walaupun Saudi Arabia memiliki hubungan baik dan merupakan sekutu terdekat Amerika Serikat di kawasan, namun dibawah kepemimpinan raja Abdullah negara kaya tersebut tidak bisa berbuat banyak, padahal sebagai pemimpin negara teluk dan kiblat umat Islam dunia, Saudi Arabia diharapkan memainkan peran lebih dalam menangkal pengaruh Iran yang semakin luas di Timur Tengah.
Kudeta di Yaman yang baru-baru ini terjadi menjadi bukti bagaimana kekuatan Iran untuk mengusai kawasan dari segala sisi terutama militer dan ekonomi bukan omong kosong. Lewat milisi syiah Hauthi Iran berhasil menguasai Yaman. Sebelumnya Iran sudah menancapkan kuku di Suriah, Libanon dan ada kemungkinan Kuwait segera menyusul. Satu persatu negara arab jatuh kedalam ‘saku’ Iran.
Pada awalnya, bagi-bagi kekuasaan antar negara kuat di Timur Tengah diprediksi banyak kalangan menjadi solusi ketegangan, dalam hal ini Saudi Arabia dan Iran, tentu dengan dukungan Amerika Serikat dan Eropa. Namun peta politik di kawasan sepertinya berubah dan menjadi sedikit lebih rumit ketika raja Abdullah wafat. Tampuk kekuasaan yang sekarang dipegang Raja Salman dinilai akan membawa perubahan signifikan di kawasan.
Walaupun ketika Arab Spring meletus, Saudi Arabia dibawah komando raja Abdullah memilih mendukung rezim lama, seperti di Mesir misalnya. Tetapi sudah menjadi rahasia umum, Iran adalah ancaman lama bagi Saudi Arabia. Gesekan dua negara minyak tersebut bukan hanya memperebutkan ‘kue’ negara di kawasan, lebih dari itu, ketidak harmonisan dua negara tersebut juga dipicu gengsi dua peradaban, Persia dan Arab.
Bagaimanapun, Saudi Arabia adalah kiblat umat Islam di dunia. Tentu semacam kewajiban bagi Saudi Arabia untuk mempertahankan posisi terhormat tersebut. Iran, walaupun memakai nama Islam dalam negaranya, yaitu Republik Islam Iran, tetapi posisi dua negara tersebut sangat berbeda di hati umat Islam, belum lagi issue Sunni-Syiah yang membuat cita rasa keduanya sangat berbeda.
Misi Iran menguasai kawasan tentu berdampak terhadap negara teluk yang dipimpin Saudi Arabia, baik secara politik maupun ekonomi. Ketika milisi syiah Hauthi berhasil menduduki Yaman beberapa waktu lalu, negara teluk langsung menggelar pertemuan di Abu Dhabi, guna membahas langkah yang akan ditempuh untuk menghadang lajunya pengaruh Iran.
Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar dan Oman yang tergabung dalam kerja sama negara teluk (GCC) tentu tidak ingin kekuasaan mereka terancam dengan semakin menguatnya pengaruh Iran, karena itu mereka bersatu untuk menghadang, dibawah komando Saudi Arabia, yang sekarang komando itu ada di pundak raja Salman. 
Raja Salman menjadi harapan para pemimpin negara teluk untuk lebih berani keras terhadap Iran. Dengan bantuan Amerika Serikat, negara teluk berharap Saudi Arabia bisa menekan Iran dan melindungi kekuasaan mereka dari hal serupa yang terjadi di Yaman.
Saya pribadi termasuk orang yang percaya bahwa raja Salman akan menempatkan Iran sebagai musuh utama dibandingkan musuh Saudi Arabia lainnya, yaitu Ikhwanul Muslimin di Mesir. Namun dalam waktu bersamaan raja Salman juga akan tetap menjaga Saudi Arabia dari pengaruh gerakan Ikhwanul Muslimin.
Disinilah titik perbedaan politik mendiang raja Abdullah dengan raja Salman, pada penempatan siapa yang akan dihabisi terlebih dahulu. Mendiang raja Abdullah menghabisi Ikhwanul Muslimin dengan mendanai kudeta di Mesir, dan sedikit berdamai dengan Iran untuk sementara waktu. Berbeda dengan raja Salman, walaupun saya tidak terlalu yakin raja Salman berani melakukan konfrontasi ‘jantan’ melawan Iran, tetapi setidaknya dia akan lebih keras dibanding pendahulunya, raja Abdullah, dan akan sedikit berkompromi dengan Ikhwanul Muslimin, dengan syarat tidak saling mengganggu.
Dalam agenda raja Salman kedepan melawan Iran, tentu Saudi Arabia tidak bisa melakukannya sendiri, mengharapkan bantuan negara teluk lainnya agak mustahil, karena sifat pemimpin negara teluk cenderung lebih memilih cari aman. Mempertaruhkan kekuasaan untuk melawan Iran sangat berisiko, jadi posisi negara teluk lebih menunggu langkah berani Saudi Arabia, sedangkan mereka membantu dari jauh. Solusinya raja Salman mau tidak mau harus mencari sekutu lain yang kekuatan militer dan ekonominya memadai.
Erdogan
Kehadiran Erdogan dalam pemakaman raja Abdullah beberapa waktu lalu cukup menarik. Jadwal Erdogan yang seharusnya berkunjung ke Somalia ditunda demi menghadiri prosesi pemakaman raja Abdullah, padahal selama ini Turki dikenal sering berseberangan sikap dengan Saudi Arabia.
Ada yang mengatakan Erdogan adalah sekutu yang dilirik raja Salman untuk menghadapi Iran. Dengan kekuatan ekonomi dan militer yang dimiliki Turki, koalisi dua negara tersebut cukup menjanjikan, ditambah kesiapan Qatar untuk bergabung. Turki pada dasarnya memiliki kepentingan untuk menekan Iran, terutama dalam kasus Suriah dan perbatasan. 
Jika poros Riyadh-Ankara-Doha ini benar-benar terbentuk, tentu memiliki konsekuensi. Saudi Arabia diperkirakan akan mengganti haluan politiknya terhadap Ikhwanul muslimin di Mesir, sebagai imbalan untuk sekutu barunya Turki.
Erdogan dikenal sebagai anak ideologis Ikhwanul Muslimin, penentang kudeta nomor wahid di Mesir. Ini tentu ancaman bagi negara teluk lainnya terutama Uni Emirat Arab, dan kemungkinan pecah kongsi dalam tubuh GCC akan sangat terbuka. Uni Emirat Arab akan meninggalkan Saudi Arabia kemudian membangun poros Dubai-Al-Manamah-Cairo.
Uni Emirat Arab tidak akan membiarkan Saudi Arabia dan Turki melemahkan pemerintahan As-Sisi di Mesir dengan membantu perjuangan Ikhwanul Muslimin. Kekacauan di Mesir merupakan ‘nafas’ bagi Uni Emirat Arab. Selama ini Uni Emirat Arab selalu ketakutan jika kondisi Mesir kondusif, karena akan berdampak terhadap ekonomi negara tersebut terutama sektor pariwisata.
Namun kedua poros ini umurnya sangat dinamis, sekuat apa perlawanan penentang kudeta di Mesir. Ketika pemerintah kudeta di Mesir tumbang, kemungkinan akan ada peta baru diluar dua poros tersebut.
*Hasmi Bachtiar, Alumni Al-Azhar Mesir, Saat ini menempuh S2 di Lille Perancis Jurusan Hubungan Internasional. 
http://www.gensyiah.com/raja-salman-peta-baru-pergolakan-negara-teluk-dan-faktor-erdogan.html

Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin Akan Rujuk Tahun Ini?

Riyadh. Sebuah riset di lembaga Stratfor di Amerika memperkirakan akan terjadinya rujuk antara kerajaan Arab Saudi dan berbagai gerakan Islam terutama Ikhwanul Muslimin. Seperti dilansir Rassd, Sabtu (24/1/2015) kemarin.
Lebih lanjut dikatakan bahwa kekuatan Sunni yang direpresentasikan oleh Saudi akan mengeluarkan kebijakan baru yang lebih membuka diri untuk gerakan-gerakan politik Islam yang moderat. Hal itu menurutnya adalah untuk membendung pengaruh kuat Iran di Timur Tengah dan semakin kuatnya kelompok-kelompok Islam jihad.
Selain itu, pembaharuan sikap politik ini bertujuan untuk menemukan solusi bagi krisis yang terus melanda Suriah, Irak, Libya, dan Mesir. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan rujuk kepada Ikhwanul Muslimin, dan kembali berdiplomasi dengan Qatar dan Turki.
Pada tahun 2015 ini, menurut Stratfor, kawasan Timur Tengah masih akan terus dilanda krisis. Masalah di Libya masih akan menjadi ancaman bagi ketidakstabilan di Afrika bagian utara. Sementara itu, kabut tebal masih menyelimuti kondisi politik di dunia Arab bagian timur dan negara-negara Teluk. Hal itu disebabkan masih terus berjalannya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah perang Sunni-Syiah di Suriah dan Irak.
Turki yang seharusnya banyak berperan kini disibukkan dengan permasalahan dalam negeri, sehingga mengurangi perannya di Timur Tengah. Negara-negara Teluk juga semakin direpotkan dengan jatuhnya harga minyak dunia yang semakin terjun bebas. 

TANTANGAN RAJA SAUDI

Syaikh Dr. Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr AL-MUQRI` AL-SALAFI, menulis pada hari Senin tanggal 6 R. Tsani 1436 H (26 Januari 2015) di group WA al-Dakwah Fi Indonesia sebagai berikut:

التحديات التي تواجه خادم الحرمين الشريفين سلمان بن عبد العزيز وفقه الله كثيرة داخلية وخارجية ومنها المضي في تطبيق الشريعة اﻻسلامية السلفية واقامة الحدود دون التهاون في شيء منها تقليم انياب ومخالب العلمانيين واللبراليين والمنافقين واقصائهم عن دفة التوجيه وتقوية هيئة اﻻمر بالمعروف والنهي عن المنكر واعادة اﻻعتبار لها وتقوية دو ر العلماء الربانيين وتمكينهم من منابر اﻻصلاح والتوجيه العمل على تقوية الجيش العربي السعودي وتاهيله ليكون هو اﻻقوى في الخليج والمنطقة ليكون قادرا على حماية ارض الحرمين من كل تهديد خارجي بعد ان اشتد التهديد المجوسي الصفوي خصوصا على حدود المملكة مع اليمن الذي استولى عليه اذناب ايران الحوثيون وحماية الحدود مع العراق الشيعية اﻻيرانية والعمل على تقوية الدول السنية كاﻻردن والسودان ومصر والمغرب ودول الخليج ومكافحة الفكر التكفيري عسكريا وعلميا
واخيرا العمل على الوحدة الشاملة لﻻمة اﻻسﻻمية ونصرة قضاياها والحد من الهيمنة الغربية وتدخﻻتها في قضايا اﻻمة المصيرية وعلى راسها قضية المسجد اﻻقصى وفلسطين وفق الله خادم الحرمين الشريفين سلمان بن عبد العزيز لما يحب ويرضى ونصر به دينه واعلى به كلمته وجعله على سنن الملوك الصالحين من السلف الصالحين من الصحابة والتابعين
/وكتبه ابو انس محمد بن موسى ال نصر نصيحةلله ولرسوله وﻻئمة المسلمين وعامتهم 6 ربيع الثاني 1436هجرية
Tantangan-tantangan yang dihadapi khadimul haramain al-syarifain Salman bin Abdul Aziz –semoga Allah memberinya taufiq- adalah sangat banyak baik internal maupun eksternal. Diantaranya adalah: melanjutkan penerapan syariat Islam salafiyyah dan penegakan hudud tanpa teledor. Diantaranya adalah memotong taring-taring dan kuku-kuku kaum skularis, liberalis dan kaum munafiq, serta menjauhkan mereka dari mengarahkan kebijakan kerajaan, menguatkan haiatul amr bilmakruf wa annahyi anil munkar, mengembalikan kedudukanya, menguatkan peran ulama rabbaniyyin, dan memantapkan posisi mereka dalam mimbar-mimbar reformasi dan bimbingan, memperkuat pasukan Saudi dan melatihnya agar menjadi pasukan terkuat di teluk dan kawasan timur tengah, agar mampu melindungi dua tanah suci dari setiap ancaman eksternal setelah menguatnya ancaman majusi shafawi, terutama di perbatasan KSA dengan Yaman yang telah dikuasai oleh milisi al-Houtsi antek antek Iran , dan menjaga perbatasan dengan Irak yang syiah iraniyyah, bekerja untuk menguatkan Negara-negara sunni seperti Yordan, Sudan, Mesir, Maghrib dan Negara-negara teluk, serta menanggulangi pemikiran takfiri baik secara militer maupun keilmuan.
Terakhir, bekerja menyatukan umat Islam dan menolong kasus-kasus umat Islam dan membatasi hegemoni Barat dan intervensi mereka dalam kasus-kasus yang menentukan nasib umat islam khususnya kasus masjidil Aqsha dan Palestina.
Semoga Allah memberi taufiq kepada Khadimul Haramain al-Syarifain, Salman bin Abdul aziz, kepada apa yang Allah cintai dan ridhai. Semoga Allah memenangkan agama-Nya sebab beliau, , dan meninggikan kalimat-Nya sebab beliau. Semoga Allah menjadikan beliau meniti jalan para raja yang shalih dari kalangan Salaf shalih, para sahabat dan tabi’in.
Ditulis oleh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr sebagai nasehat (sikap tulus) kepada Allah, Rasul-nya dan kepada semua pemimpin umat islam dan rakyat mereka.
6 Rabiul Awal 1436 H.
http://www.gensyiah.com/tantangan-raja-saudi.html


Adzan Ditengah Penyambutan Obama, Raja Saudi Salman Hentikan Protokelar dan Pamit Sholat

Presiden AS Barack Obama memimpin sebuah delegasi legislator, pejabat senior dan dua mantan menteri luar negeri AS ke Arab Saudi, hari Selasa (27/1), untuk menyampaikan penghormatan dan belasungkawa kepada keluarga kerajaan, menyusul wafatnya Raja Abdullah.
Kedatangan Presiden America Barack Obama dan ibu negara Michelle Obama serta rombongan disambut raja baru Saudi,Salman bin Abdul-Aziz Al Saud setibanya di bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.
Ditengah seremonial penyambutan kenegaraan ini, ada kejadian yang sangat menarik. Ketika Adzan Ashar berkumandang Raja menghentikan protokoler penyambutan dan meminta izin pada tamu (Obama) untuk menunaikan shalat terlebih dahulu. Kejadian tersebut disaksikan jutaan rakyat melalui siaran televisi secara langsung. Obama sempet bengong ditinggal tuan rumah.
Peristiwa tersebut memunculkan komentar positif dengan perasaan bangga dan hormat karena menempatkan shalat dalam prioritasnya.
Anggota dewan fatwa provinsi Qashim Dr Kholid al-Mushlih mengatakan : “Bahwa apa yang dilakukan oleh pelayan dua tanah suci Raja Salman bin Abdulaziz hari ini dengan mengutamakan shalat dan melaksanakannya di tengah-tengah kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama merupakan bukti rasa hormat terhadap hukum Islam dalam segala situasi”.
Beliau juga menjelaskan bahwa sikap Raja Salman memberikan pesan kepada semua, bahwa hak Allah berada diatas hak apapun dan siapapun, dan sikap ini memberikan jaminan dan ketenangan bahwa pemimpin kami sangat perhatian terhadap syariat islam walaupun dalam kondisi dan keadaan apapun. (sabq.org/almowaten.net/manhajuna.com)
Semoga Allah memberikan taufiq kepada raja Salman bin Abdil Aziz hafidzohullah, seorang raja yang sudah hafal Al-Qur’an sejak usia 10 tahun dan menghafal kitabut tauhid karya syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab serta mutun ilmiyah lainnya, aamiin..(red lamurkha)
link video peristiwa ini:
sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=700615040057612&set=a.106565622795893.6682.100003273669168&type=1

Raja Salman: Presiden Mursi Harus Diberi Kesempatan Selesaikan Masa Jabatannya
09 Rabbi al-Thanni 1436 H

Kairo. Banyak pengamat bertanya-tanya tentang arah kebijakan raja baru Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz. Terutama terkait dengan sikapnya terhadap negara-negara Musim Semi Arab.
Saat terjadi gonjang-ganjing rencana penggulingan Presiden Mursi di Mesir, Raja Salman yang saat ini masih menjadi menteri pertahanan, pernah mengeluarkan pernyataan mendukung Presiden Mursi.
Seperti diberitakan surat kabar Mesir, Al-Ahram edisi bulan April 2013, Raja Salman menyatakan, “Saudi tetap mendukung presiden Mesir yang sah, apa pun kondisinya.”
Pernyataan Raja Salman itu menunjukkan sikapnya bahwa Presiden Mursi harus diberi kesempatan menyelesaikan masa jabatannya. Tidak dibenarkan dilakukannya kudeta militer seperti yang dilakukan As-Sisi beberapa saat kemudian, tepatnya 3 Juli 2013.
Salman bin Abdulaziz resmi menjadi pemimpin kerajaan Arab Saudi menggantikan Raja Abdullah yang meninggal hari Jumat, pekan lalu. 


Seperti Dilakukan Raja Salman, Presiden Mursi Juga Pernah Abaikan Telepon Obama Karena Hendak Shalat
30/01/15 | 16:26 | 09 Rabbi al-Thanni 1436 H

Riyadh. Publik sempat dikagetkan dengan peristiwa Raja Salman bin Abdulaziz meninggalkan Presiden Barack Obama saat upacara penyambutan kenegaraan, pada Selasa (27/1/2015) yang lalu. Ternyata bukan kali ini saja terjadi pada Obama. Sebelumnya, Presiden Mursi pernah beberapa mengabaikan sambungan telepon Obama dengan alasan mau shalat Jumat.

Putri Presiden Mursi, Syaima’ Mursi, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 Juni 2013, lima hari sebelum terjadinya kudeta militer atas Presiden Mursi yang dipimpin oleh As-Sisi.
Dalam akun facebooknya, Syaima’ menyebutkan, “Presiden Mursi menolak Obama yang meminta berbincang lewat telepon. Beliau meminta sekretaris untuk menjawab bahwa agendanya sedang penuh. Beliau menyatakan siap menerima hubungan telepon di waktu yang lain, setelah ada kesempatan.”
Syaima’ melanjutkan, “Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 Juni, di awal terjadinya demonstrasi pendukung pemerintah sah yang menduduki Bundaran Rabi’ah Adawiyah. Tepatnya 30 menit sebelum waktu Zhuhur. Saat itu, istri dan putrinya bersama beliau di markas Paspamres, di ruang presiden. Aku duduk bersama ayah dan ibuku. Pada saat itu, sekretaris presiden datang memberitahu bahwa Barack Obama ingin berbicara lewat telepon selama 10 menit saja. Ayah menjawab sebagai seorang pemimpin muslim, “Katakan kepadanya bahwa aku sedang sibuk. Aku sedang siap-siap untuk shalat Jumat. Setelah itu aku ada pertemuan penting.”
Syaima’ mengaku heran dengan jawaban ayahnya tersebut. Tapi ayahnya kemudian berkata kepadanya dengan penuh keyakinan, “Aku presiden Republik Mesir, negara Muslim terbesar di dunia Arab. Tidak mungkin aku menurut saja dengan jadwalnya. Aku yang menentukan kapan aku bisa menerima telepon.”
Syaima’ pun bangga dengan sikap ayahnya ini. Dia teringat dengan lembaran sejarah Islam masa lalu. Apalagi setelah melihat ayahnya tersenyum lebar saat pergi ke masjid untuk shalat Jumat. (msa/dakwatuna).
Sumber: 

SELASA, JANUARI 06, 2015
Dewan Ulama Senior Saudi: As-Sisi Murtad Total

Portal al-gornal (28/12/2014) mempublikasikan sebuah dokumen sangat penting yang dibocorkan dari Kantor Pusat Dewan Fatwa Saudi Arabia nomor 251450 yang menfatwakan bahwa As-Sisi sudah keluar dari Islam alias murtad total “murtad kubro”. Dokumen tersebut tertanggal 20 Ramadhan 1435 H, tepat saat zionis Israel menyerang Gaza dan blokade total yang dilakukan As-Sisi terhadap kaum muslimin Gaza pada saat penyerangan itu dalam rangka membantu Israel.
Dokumen menyebutkan:
“Merujuk fatwa syaikh Bin Baz rahimahullah (1/274) yang menyatakan bahwa orang yang membantu kaum kafir untuk menyerang kaum muslimin adalah murtad dari agamanya, dan sudah melakukan tindakan terlarang dan sebuah kemungkaran.

Syaikh Bin Baz mengatakan: ‘Semua ulama Islam sepakat bahwa siapa saja yang membantu orang-orang kafir untuk -menyerang- kaum muslimin maka orang tersebut menjadi bagian dari orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya (orang kepercayaan, orang yang diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan) bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. (QS. Al Maidah: 51).’
Setelah merujuk fatwa dan pendapat para ulama-ulama terdahulu dan modern, dan setelah membicarakan lebih lanjut dan meneliti tindakan dan sikap Abdul Fattah Said Husein Khalil As-Sisi kelahiran 19 November 1954 yang sudah melakukan blokade terhadap dua juta penduduk Gaza dalam rangka membantu Yahudi dengan cara menahan makanan dan obat-obatan untuk masuk Gaza dan juga menghalangi para orang-otang tua, wanita dan anak-anak keluar Gaza, dan kami sudah mendapatkan bukti-bukti yang tidak diragukan lagi bahwa Abdul Fattah Said Husein Khalil As-Sisi telah murtad dari Islam dengan level ‘Murtad Kubro’ yang membuatnya sudah keluar dari Islam secara totalitas sehingga semua hukum terkait orang yang murtad dapat diterapkan kepadanya.”(FIMADANI)
http://muslimina.blogspot.com/2015/01/dewan-ulama-senior-saudi-as-sisi-murtad.html

Raja Salman Pun Diperkirakan Copot Dubes Saudi di Kairo
01/02/15 | 17:41 | 10 Rabbi al-Thanni 1436 H
dakwatuna.com – Kairo. Seorang jurnalis Mesir, Amr Abdel Hadi, menyambut positif reformasi yang dilakukan Raja Salman di Arab Saudi saat ini. Apalagi saat ini sedang santer tersebar kabar tentang akan digantinya duta besar di Kairo, Ahmad bin Abdulaziz Al-Qattan, yang menurutnya sangat mendukung kudeta militer di Mesir.
Seperti ditulis dalam akun twitternya, Abdel Hadi mengatakan, “Aku pernah menemui Al-Qattan, dubes Saudi di Mesir, setelah revolusi. Dia benar-benar pendukung Husni Mubarak, bahkan lebih ekstrem daripada anggota partainya sekalipun. Terima kasih kepada Raja Salman yang telah menariknya dan akan menggantinya.”
Saat ini sedang santer berita dipanggilnya dubes Saudi di Kairo ke Riyadh. Hal itu diyakini sebagai pendahuluan sebelum benar-benar diganti. Kerajaan Saudi akan melakukan reformasi besar-besaran seiring dengan reformasi birokrasi yang saat ini dilakukan di dalam negeri. (msa/dakwatuna)
Gebrakan: Raja Salman bersihkan kerajaan, dekati IM

Semoga angin baru kebangkitan Islam terjadi melalui gebrakan Raja Salman yang melakukan pembersihan loyalis Raja Abdullah. Kini ia dikabarkan mendekati Ikhwanul Muslimin (IM), sebagaimana analisis Hashmi Bachtiar, alumni Universitas Al-Azhar dan mahasiswa postgraduate Hubungan Internasional di Lille-Perancis yang diterima redaksi Arrahmah.com, Ahad (1/2/2015).
Raja Salman bin Abdul Aziz sebagai nakhoda baru kerajaan Saudi Arabia terus melanjutkan ‘kudeta’ di tubuh kerajaan lumbung minyak tersebut. Sebelumnya, pasca dibai’at menjadi raja menggantikan saudara tirinya Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Salman langsung bergerak cepat dengan memilih Muhammad bin Nayef sebagai wakil putra mahkota dan memecat Khalid Al-Tuwaijri yang menjabat kepala dewan kerajaan.
Baru-baru ini Raja Salman kembali mengambil kebijakan yang membuat dirinya semakin menjadi sorotan. Raja Salman mengganti Gubernur Makkah dan melakukan perombakan besar-besaran dalam kaninet kerajaan, mungkin ini perombakan terbesar yang pernah terjadi di kerajaan Saudi Arabia. Setidaknya Raja Salman mengeluarkan 34 keputusan raja yang salah satunya pergantian kabinet.
Perombakan kabinet tersebut sangat jelas tujuannya yaitu membersihkan loyalis Raja Abdullah dan menggantinya dengan sosok yang dipercaya oleh Raja Salman. Sebut saja menteri pertahanan yang baru, sekarang dijabat oleh Muhammad bin Salman yang merupakan anaknya sendiri. Kemudian menteri dalam negeri, dijabat oleh Muhammad bin Nayef bin Abdul Aziz, yang sebelumnya dipilih menjadi wakil putra mahkota.
Keputusan lainnya adalah memberi ampunan kepada tahanan politik, yang merupakan pantangan dalam kerajaan. Selama ini Saudi Arabia selalu menempatkan oposisi kerajaan sebagai musuh berbahaya, tetapi Raja Salman malah memberi ampunan, semakin membuat penasaran kemana arah politik raja baru tersebut.
Sebenarnya membaca arah politik Raja Salman tidaklah terlalu sulit. Dengan kebijakannya akhir-akhir ini sudah terlihat, baik itu arah politik dalam negeri maupun kawasan dan internasional. Dari komposisi kabinet yang baru dipilih dan orang-orang terdekat raja Salman juga bisa dikuak, kemana kapal kerajaan tersebut akan berlayar.
Di dalam kerajaan, Raja Salman dibantu oleh dua orang terdekatnya dalam melakukan operasi pembersihan loyalis Abdullah. Pertama adalah Muhammad bin Nayef yang dipilih sebagai wakil putra mahkota.
Muhammad bin Nayef selama ini dikenal dekat dengan petinggi Turki dan mempunyai sejarah buruk dengan Khalifa bin Zayed presiden Uni Emirat Arab. Mungkin inilah alasan mengapa Erdogan menunda lawatannya ke Somalia dan memilih terbang ke Riyadh ikut prosesi pemakaman Abdullah. Sedangkan Bin Zayed presiden Uni Emirat Arab memilih tidak hadir dengan alasan tidak jelas.
Sosok kedua adalah Muhammad bin Salman. Tidak tanggung-tanggung, Muhammad bin Salman diberi tiga jabatan penting sekaligus, yaitu sebagai menteri pertahanan, kepala dewan kerajaan dan kepala urusan ekonomi dan pembangunan. Dua sosok inilah yang membantu pembersihan loyalis Abdullah ditubuh kerajaan.
Untuk Raja Salman sendiri, dirinya dikenal dekat dengan Tamim bin Hamed, amir kerajaan Qatar. Raja Salman dikenal sudah lama memiliki hubungan baik dengan kerajaan Qatar. Terlihat ketika kudeta di Mesir terhadap Muhammad Mursi, Raja Salman bersama Qatar menentang aksi kudeta tersebut, namun Raja Salman tidak bisa berbuat banyak terbentur oleh Raja Abdullah yang waktu itu salah seorang pendukung kudeta. Sosok Raja Salman sangat dibenci Uni Emirat Arab, konon issue kesehatan Raja Salman bermasalah bermula dari negara tersebut.
Raja Salman sangat paham posisinya saat ini, kemungkinan buruk bisa saja terjadi terhadap pemerintahannya. Bagi loyalis Abdullah di istana, yang dilakukan Raja Salman bukanlah reformasi, tetapi kudeta yang tentu menimbulkan badai di internal kerajaan. Apalagi mengingat yang memusuhinya bukan saja dari internal kerajaan, tetapi juga dari kawasan dan internasional.
Setidaknya saat ini Raja Salman memiliki tiga musuh berbahaya. Yang pertama adalah Khalid Tawajiri, mantan kepala dewan kerajaan. Kedua Bendar bin Sulthan, mantan kepala kemanan nasional dan ketiga Khalifah bin Zayed presiden Uni Emirat Arab.
Tiga nama tersebut jauh sebelum Abdullah wafat sudah menyusun strategi agar Raja Salman tidak naik tahta, namun sayang sebelum misi selesai, Abdullah wafat. Rencana tinggal rencana Raja Salman tetap naik tahta.
Maka wajar Raja Salman bergerak cepat membersihkan istana sebelum melakukan manuver politik lebih jauh. Contoh sikap Saudi Arabia terjadap kasus kudeta di Mesir dan kasus Palestina. Belum lagi konspirasi Barat yang harus dihadapi Raja Salman, jika dirinya melakukan langkah politik yang membahayakan Barat yang sejak lama menjadi ‘tamu istimewa’ di Saudi Arabia.
Mendekat IM
Kedekatan Raja Salman dengan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) juga menjadi catatan penting dalam membaca arah politik Raja Salman. Rasyid Al-Ghanusy adalah tokoh Ikhwanul Muslimin yang turut hadir dalam prosesi pemakaman Abdullah bersama Erdogan. Ini tentu tanda bahwa Raja Salman membuka pintu pembicaraan dengan kelompok tersebut, namun banyak kalangan memperkirakan sebenarnya mereka sudah memiliki hubungan dekat.
Beberapa media menurunkan berita bahwa Saudi Arabia waktu pemerintahan Abdullah meminta PM Inggris David Cameron melakukan penyelidikan terhadap pemimpin Ikhwanul Muslimin yang bermukim di sana dengan tuduhan teroris. David Cameron menyanggupi permintaan Abdullah sebagai sahabat. Namun setelah penyelidikan dilakukan, Inggris tidak menemukan tudahan tersebut, tetapi Inggris belum melaporkan hasil penyelidikan tersebut takut Abdullah kecewa. Mungkin saat ini waktu yang tepat bagi Inggris untuk melaporkan hasil penyelidikan tersebut kepada pemerintah Saudi Arabia, lapor pejabat tinggi kementrian luar negeri Inggris.
Politik Mesir
Kurang lengkap berbicara timur tengah tanpa membahas Mesir. Berita teranyar Raja Salman telah memecat Dubes Saudi Arabia untuk Mesir, Ahmad bin Abdul Aziz Qattan. Dubes Qattan dikenal sebagai kurir kerajaan Saudi Arabia untuk pemerintah kudeta Abdel Fattah As-sisi.
Pemecatan tersebut signal dari Raja Salman bahwa politik Saudi Arabia akan berubah terhadap Mesir. Bisa jadi Raja Salman menghentikan bantuan untuk Mesir, atau masih memberikan bantuan tapi dengan syarat yang harus dipenuhi Mesir. Syaratnya apa? Mungkin kesepakatan poros baru nanti Ankara-Riyadh-Doha yang bisa menjawab.
Sepak terjang Raja Salman ini tentu mendapat dukungan kuat dari rakyat Saudi Arabia, bahkan muslim internasional yang melihat selama ini Saudi Arabia seperti raksasa ompong, makanpun harus disuapkan bubur oleh Amerika. Raja Salman diharapkan menjadi penerus raja Fahd yang mementingkan negaranya dan umat muslim dari pada Barat.
Mungkin benar yang dilakukan Salman adalah kudeta, kudeta terhadap kepentingan Barat, kudeta yang didukung Rakyat Saudi Arabia.

Menanti Koalisi Raja Salman Saudi Dan Turki Bebaskan Mesir, Palestina Dan Dunia Islam
By boemiislam on February 1, 2015@boemiislam

DR. Mahmud Al Khafaji menegaskan, “Kalian akan segera menyaksikan tebaran kebaikan dari Ikhwanul Muslimin. Hanya perlu sabar sedikit saja!”
Ya. Seminggu setelah meninggalnya Raja Abdullah, harapan kembali membahana di seantero Timur Tengah. Peran Raja Abdullah dalam kudeta di Mesir yang menyebabkan 10.000 orang lebih wafat, 100.000 orang terusir dari Mesir, 20.000 orang terluka, 45.000 orang dipenjara, merupakan dosa teramat berat yang dipikul Raja Abdullah.
Kini di era Raja Salman bin Abdul Aziz, babak baru Saudi Arabia dimulai. Empat hari setelah resmi berkuasa, Raja Salman Saudi langsung meratifikasi pernjanjian industri alutsista dengan Turki yang dibekukan sejak kudeta di Mesir. Bahkan Raja Salman melakukan gunting pita, atas kedatangan kapal tempur baru yang diproduksi Turki. Maka poros Saudi-Turki kembali berkibar.
Hal yang sama dilakukan Kuwait. Dubes Kuwait di Kairo menegaskan, Kuwait tidak akan lagi memberi tambahan bantuan untuk pemerintahan As-Sisi. Perlu diketahui, bantuan Kuwait untuk kudeta di Mesir berada di urutan ketiga setelah Saudi Arabia, UAE.
Publik Mesir kini berharap-harap cemas. Kendali kekuasaan di Mesir sebenarnya berada di tangan Panglima AB dan Menhan, Jenderal Shidqi Shubhi.

Maka seorang Ahmad Mansour, wartawan senior Almujtama’ berharap, Shidqi Shubhi terketuk hati untuk menebus segala dosa dan kesalahan di masa lalu dengan melakukan kudeta senyap terhadap As-Sisi. Lalu dilakukan rekonsiliasi, pembebasan tahanan politik, pengembalian hak-hak WN Mesir yang dirampas, dan tidak membiarkan Mesir seprti Syiria atau Irak.
Sikap negara-negara Teluk pendukung kudeta, tidak terlepas dari merosotnya harga minyak dunia. Dimana Dewan Kerjasama Teluk mengalami kerugian hampir 215 Milyar Dollar dalam enam bulan terakhir. Selain sikap rakyat di negara-negara Teluk yang “jengah” atas raja-raja dan emir-emir mereka yang lebih memperhatikan Mesir dengan kudetanya, daripada mensejahterakan rakyatnya. Hal ini pula yang mendorong Raja Salman, menggelontorkan bonus 2 bulan gaji dengan total 30 Milyar Riyal untuk rakyat Saudi Arabia.
Jadi, kunci berakhir tidaknya kudeta di Mesir tergantung daya tekan Saudi Arabia terhadap AS. Tekanan akan semakin kuat saat Turki dan Qatar ikut menekan AS. Tentunya dengan tawar menawar, salah satunya Turki mengendurkan dukungan kepada Ikhwanul Muslimin. Mari terus kita cermati!
Oleh : Nandang Burhanuddin, Lc. MA.


Kenapa Syiah Hutsi Tidak Dikategorikan Teroris?

San’a. Tokoh pemikiran dan pengamat politik dari Kuwait, Abdullah Al-Nefisi, mempertanyakan sikap masyarakat dunia terhadap milisi Syiah Hutsi di Yaman.
Dalam akun twitternya, @DrAlnefisi, Jumat (19/9/2014) kemarin, beliau menulis, “Kenapa departemen luar negeri Amerika Serikat tidak memasukkan Syiah Hutsi dalam daftar organisasi teroris?”
Menurutnya, sikap Amerika itu masuk dalam kesepakatan saling mendukung antara Amerika dan Iran. Karena ada kesepakatan tersebut, Amerika harus mendukung keberadaan Syiah Hutsi.
Al-Nefisi juga memperingatkan negara-negara Teluk akan ancaman berdirinya negara Iran di Yaman bagian utara. “Jika negara-negara Teluk tidak aktif bergerak mendukung pemerintah Yaman dalam melawan Syiah Hutsi, maka sebentar lagi Yaman akan menjadi pendukung Iran yang sangat membahayakan wilayah Teluk.”
Amerika tidak memerangi Syiah Hutsi, padahal kelompok bersenjata ini mengangkat slogan “Matilah Amerika, Matilah Israel, Terlaknatlah Yahudi” sejak awal didirikan oleh Husain Badrudin Al-Hutsi.
Tentang slogan ini, banyak kalangan menilainya hanya merupakan kedok untuk menarik dukungan rakyat. Yang diinginkan Syiah Hutsi hanyalah mengubah Yaman menjadi negeri Syiah. Bahkan mereka sendiri banyak melakukan tindakan yang bertentangan dengan slogan tersebut.
http://www.dakwatuna.com/2014/09/20/57149/kenapa-syiah-hutsi-tidak-dikategorikan-teroris/#ixzz3QYP2HdIH 

Syiah Houtsi di Yaman Tuntut Penghapusan Surat An-Nuur dalam Al-Qur’an
Posted by: Sohibul Qur'an Posted date: 12/30/2014 / 
SANAA (SALAM-ONLINE): Syiah Houtsi di Yaman baru-baru ini kembali menuntut suratAn-Nuur, salah satu nama surat dalam Al-Qur’an, agar dihapus dari kurikulum sekolah karena dianggap menimbulkan fitnah.

Sebagaimana diketahui, Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskan istri Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha dari fitnah keji dalam surat ke-24 dari Al-Qur’an itu.

“Syiah Houtsi kembali menuntut penghapusan surat An-Nuur yang membebaskan Ummul Mukminin Aisyah dari tuduhan keji dari kurikulum sekolah di Yaman,” lansir portal berita Yaman, yemen-press.com, Senin (29/12/2014), sebagaimana dikutip Kiblat.net, Selasa (30/12).Kelompok Syiah itu beralasan bahwa surat tersebut hanya akan meningkatkan perselisihan sektarian.Tuntutan ini,tambah Yemen-Press, sebelumnya telah disuarakan Syiah Houtsi pada 2012 lalu. Mereka menuntut pembelajaran surat An-Nuur di sekolah dihapus setelah seorang guru Muslim memberikan soal kepada muridnya tentang Haditsul Ifki. Dalam soal itu, guru tersebut meminta murid memberikan dalil dari Al-Qur’an bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaisi wa sallam, Aisyah, dibebaskan dari tuduhan perzinahan.

Pada waktu itu, Syiah Houtsi menuntut pemerintah supaya menghapus pembelajaran surat An-Nuur di sekolah karena dapat menimbulkan perselisihan antara Sunni dan Syiah. Tuntutan ini mencuat setelah Syiah Houtsi merasa kuat dan orang-orang mereka duduk di pemerintahan. Sebagaimana diketahui, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskan Aisyah radhiyallahu ‘anhadari tuduhan perzinahan yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Fitnah itu sempat membuat Rasulullah terguncang dan menjauhi Aisyah selama beberapa hari.

Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat 11 dari surat An-Nuur yang menegaskan bahwa seluruh tuduhan itu adalah dusta dan dihembuskan oleh orang-orang munafik. Peristiwa itu dikenal dengan Haditsul Ifki.
Sumber: Kiblat.net/yemen-press.com




Saturday, January 24, 2015

Tiga Muslim Mengguncang Pusat-Pusat Kekuasaan Dunia

Cherif Kouachi, Said Kouachi, dan Amedy Coulibaly dengan ruh Islam, ketiganya mampu mengguncang pusat-pusat kekuasaan dunia. Paris, Washington, dan  London. Tiga Muslim yang menyerang simbol ideologi kebebasan, yaitu Charlie Hebdo, benar-benar menghunjam ideologi Barat.
Cherif Kouachi, Said  Kouchi, dan  Amedy Coulibaly menjadi pahlawan bagi Muslim di seluruh dunia. Dengan ruh Islam yang tertanam di dada mereka, berani melakukan tindakan yang dikutuk oleh masyarakat Barat, membunuh para penista Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam.
Di dalam Islam tidak ada hukuman terhadap  penista Nabi Shallahu alaihi wassalam, kecuali dibunuh.
Cherif Kouachi, Said Kouchi, dan  Amedy Coulibaly, berhasil mengubah sejarah kehidupan umat manusia. Ketiganya berhasil menggugah kesadaran secara kolektif seluruh umat manusia, terutama Muslim, bagaimana mengamalkan Islam dalam realitas kehidupan. Islam sebagai doktrin dan keyakinan, bukan  hanya bagi ‘kenikmatan’ akal semata.
Cherif Kouachi, Said Kouachi dan  Amedy Coulibaly telah menunjukkan kepada seluruh umat manusia, dan kepada Muslim tentang bagaimana Muslim dalam mencintai Allah, Rasul dan orang-orang Mukmin, serta mensikapi terhadap orang-orang yang kafir musyrik, dzalim, dan fasik.
Bagaimana mensikapi terhadap mereka yang sudah sangat berlebihan yaitu menghina dan menistakan Nabi Shallahu alaihi wassalam.
Cherif Kouachi, Said Kouachi, dan Amedy Coulibaly, ketiganya menghentakan kesadaran Muslim, dan di tengah terlelapnya mereka yang sudah jatuh kepada materialisme Barat.
Materialisme Barat yang bersumber dari paganisme, yaitu Yahudi dan Nasrani, menyebabkan Muslim kehilangan ‘izzah’ (kemuliaan), dan menjadi lemah dan hina. Muslim di seluruh dunia, sudah kehilangan ruh Islam, dan tersungkur di telapak kaki perabadan materialisme. Materialisme telah meracuni seluruh rongga kehidupan Muslim di seluruh dunia.
Cherif Kouachi, Said Kouachi, dan Amedy Coulibaly, seperti ‘ledakan’ meteor yang sangat dahsyat, dan membuat semua peradaban Barat yang sudah mapan porak-poranda.
Ketiganya dengan keyakinan Islamnya berbuat yang sangat dramatik, sbagai bentuk ‘jual-beli’ antara diri mereka dengan Rabb mereka. Cherif Kouachi, Said Kouachi, dan Amedy Coulibaly telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Dzat yang sangat mereka cintai dan rindukan yaitu Allah Rabbul Alamin dan rasul-Nya.
Cherif Kouachi, Said Kouachi, dan Amedy Coulibaly, selalu merindukan keagungan wajah Rabbnya. Rabbul Alamin menjadi tujuan hidupnya, dan mati syahid menjadi cita-cita tertinggi mereka.
Karena itu, kematian membela Allah, Rasul, dan oranng-orang Mukmin, sebagai cita-cita tertinggi mereka. Karena itu, mereka tidak pernah memikirkan resiko yang akan dihadapinya. Hanya satu tujuan mereka, bagaimana bisa bertemu dengan Rabb mereka dengan bahagia.
Cherif Kouachi, Said Kouachi dan Amedy Coulibaly, bukan hanya membuat pusat-pusat kekuasaan dunia, Washington,  Paris, dan London menjadi terhenyak, dan sekarang negara Uni Eropa dan Amerika, termasuk negara-negara Arab, sibuk melakukan  kerjasama dan koalisi menghadapi terorisme.
Cherif Kouachi, Said Kouachi dan Amedy Coulibaly, membangkitkan ruh dan dhamir Muslim di seluruh dunia. Ruh  dan dhamir Muslim di seluruh dunia hidup dan bangkit.
Sesudah terjadinya serangan terhadap media Charlie Hebdo di Paris. Muslim  di seluruh dunia bangkit kembali, dan meninggalkan mimpi-mimpi mereka. Menghadapi realitas kehidupan yang sangat absurd di tengah kehidupan mereka, yaitu budaya materialisme.
Di Turki, puluhan ribu Muslim mulai dari ibukota Turki Ankara, Istambul, sampai kota-kota privinsi di Turki, semua melakukan aksi mengutuk Charlie Hebdo.
Di Pakistan ribuan Muslim di Karachi dan Islamabad mereka melaksanakan aksi menentang penghinaan terhadap Nabi oleh Charlie Hebdo.
Di Yordania, Gaza, Tepi Barat, Aljazair, Maroko, bahkan di Niger, gereja-gereja di bakar, pasca serangan terhadap Charlie Hebdo.
Tentu, yang paling menarik, di ibukota Chechnya, Grozni, berlangsung aksi menentang kartun Nabi Shallahu alaihi wassalam oleh ribuan Muslim Chechnya. Aksi demo menentang  Charlie Hebdo itu, berlangsung di depan Masjid Agung Grozni. Hadir Presiden Chechnya Kadyrov.
Ribuan orang yang berkumpul itu, meneriakan takbir ‘Allahu Akbar’, berulangkali, sambil mengucapkan kalimah thayyibah ‘la ilaha ilLah’. Sangat luar biasa. Padahal, Grozni belum lama pernah diratakan dengan tanah oleh rezim Moskow. Tapi, Islam terus bangkit, dan tetap  hidup di Chechnya.
Barangkali hanya di Jakarta yang sepi. Tak  ada suara apapun. Padahal  indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia. Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia. Sebanyak 250 juta penduduk Indonesia, sebagian besar Muslim, tapi semuanya terlelap. Mereka sudah kehilangan ruh Islamnya. Tak lagi merasakan denyut kehidupan saudaranya di luar negaranya. Muslim di Indonesia sudah sangat  terlelap, akibat ikut meneriakan ‘salam dua jari’, dan sekarang mereka menikmati, yaitu kesengsaraan dan kehinaan. Tanpa kemuliaan dan izzah Islam.
Setiap tahun Muslim di Indonesia memperingati Maulid Nabi Shallahu’ alaihi wassalam. Selalu mereka melakukannya, dan itu sebagai bentuk cinta mereka kepada Nabi Shallahu alaihi wasssalam. Muslim Indonesia tak pernah terbetik di dalam hati mereka kemarahan, ketika Nabi dihina dan dinistakan oleh orang-orang kafir musyrik. Ruh Islam mereka sudah hilang dari dhamir mereka. Tak ada ghirah kecemburuan terhadap agamanya (Islam).
Peringatan Maulid Nabi, tak dapat membangkitkan ruh Islam, dan ghirah mereka. Umumnya, peringatan atau perayaan Maulid Nabi di Indonesia, hanya diisi ceramah, dan isinya penuh dengan lawakan, dan terkadang ada ungkapan yang ‘jorok’.
Selesai perayaan berlangsung makan nasi kebuli, dan penceramahnya sambil merokok, kemudian pulang mendapatkan ‘amplop’ jutaan rupiah. Begitulah Muslim Indonesia. Maka menjadi hina dina, tanpa kemuliaan, dan hidup dibawah telapak kaki kafir musyrik, serta tidak ada kemarahan, bahkan menerima dengan ridha. Wallahu’alam.

KH Ali Mustafa Yaqub: Jangan Cuma Gembar-gembor Cinta Nabi, Tapi Malah Lecehkan Nabi

KIBLAT.NET, Jakarta – Imam Besar Masjid Istiqlal KH Ali Mutafa Ya’qub mengatakan bahwa penghinaan terhadap Nabi terjadi karena umat Islam mencintai Nabi hanya sebatas slogan. Menurutnya wujud kecintaan kepada Nabi adalah dengan mengamalkan ajaran Nabi.
“Ini harus diambil hikmahnya. Mungkin kita hanya slogan-slogan saja cinta kepada Nabi, tapi tidak mengikuti petunjuk Nabi,” kata KH Ali Mustafa Ya’qub kepada Kiblat.net, Sabtu (24/01).
“Jangan-jangan kita cuma gembar-gembor cinta Nabi, tapi kita sendiri justru melecehkan Nabi,” imbuhnya.
Ulama mantan santri Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang ini kemudian menyoroti fenomena perayaan Maulid Nabi Muhammad yang dibarengi dengan musik. Padahal hal itu justru merupakan bentuk pelecehan terhadap Nabi, sebagaimana ditulis dalam kitab pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari. “KH Hasyim Asy’ari punya kitab At Tanbihat Al Wajibat. Disitu dikatakan oleh beliau bahwa menyelenggarakan Maulid Nabi dibarengi dengan kemungkaran, dibarengi dengan malahi, musik dan sebagainya, itu sudah pelecehan kepada nabi sendiri,” terangnya.
“Dan orang NU sendiri tidak pernah baca buku seperti itu. Coba tanya orang NU, yang baca kitab itu hampir tidak ada,” kata jebolan Fakultas Syariah Unversitas Hasyim Asy’ari itu.
Imam Besar Masjid Istiqlal ini juga menghimbau umat Islam untuk melakukan introspeksi. Dia juga mengajak agar mencintai Nabi tak hanya sebatas pembicaraan. “Kalau mencintai Nabi ya kita mengikuti Nabi. Perilaku kita mengikuti Nabi, bukan perilaku setan,” tegasnya.

Ayo Bermaulid 'Ala Nabi ...!

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ قَالَ: «ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau menjawab : "Itu adalag hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai nabi, dan hari diturunkan wahyu kepadaku" (HR Muslim no 1162)

Cara maulid Nabi yaitu :

1) dengan berpuasa sebagai bentuk bersyukur kpd Allah.
2) dilakukan setiap pekan bukan tiap tahun
3) gemar membaca Sirah Nabawiyah dari sumber/ periwayatan yang shahih (QS. al-Ahzab :21, Yusuf : 111, Ali Imran : 31, red lamurkha)
4) gemar menghafal dan mentadaburkan Al-Qur’an ( red lamurkha)
Namun cara maulid ala Nabi diganti dgn cara model sekarang ;
1)dengan bersenang-senang dengan menyediakan banyak makanan, bahkan ada yg mengadakan pawai dengan membuat patung-patungan hewan makhluk bernyawa. Sehingga banyak mubadzir
2) dilakukan setiap tahun
3)terkadang dibarengi dengan kemungkaran-kemungkaran seperti:
- musik-musikan/membakar petasan
- ikhtilat (bercampurnya) lelaki dan wanita, dll 
Apakah kita ingin mengganti cara maulid nabi dengan cara yang buruk?
أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ
"Maukah kalian mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?"


Buat Apa Maulid, Kalau Kecintaan pada Rasul Tidak Tumbuh?

KIBLAT.NET, Jakarta – Minimnya reaksi umat Islam Indonesia terhadap penistaan Nabi Muhammad SAW oleh Majalah Charlie Hebdo, dinilai Sekjen MIUMI sebagai tanda bahaya.
Menurutnya, bukti cinta kepada Rasulullah adalah dengan pembelaan terhadap syiar-syiar kesucian Nabi SAW. “Indonesia ini kan mayoritas ya. Mayoritas ini kadang merasa dirinya sudah berislam, padahal dirinya sendiri sedang terkungkung,” kata Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir kepada Kiblat.net, beberapa waktu lalu.
“Bahaya ketika orang Islam tidak peduli tentang penistaan kepada Nabinya SAW. Orang-orang Indonesia yang tidak peduli pada urusan ini, kemungkinan bukan orang Islam. Hanya simpatisan orang Islam yang sholat,” ungkap dai muda yang akrab disapa UBN ini.
Menurut Ustadz Bachtiar Nasir, bukti cinta kepada Rasulullah adalah dengan pembelaan terhadap syiar-syiar kesucian Nabi SAW. Jika kesucian Nabi dihinakan, umat Islam harus membelanya. Dia kemudian menyebutkan sejumlah penghinaan terhadap simbol-simbol syiar nabi. Mulai dari bendera hitam yang dinistakan, stempel Nabi Muhammad SAW yang diidentikkan dengan teroris, sampai kepada sosok nabinya sendiri yang dinistakan.
“Buat apa kita bermaulid kalau pada akhirnya ghirah kecintaan kepada Rasul itu tidak tumbuh,” tegasnya.


SIYASAH
Charlie Hebdo; 
Al-Qaidah yang Tuntas dan Iran yang Omdo

KIBLAT.NET — Kebengalan Charlie Hebdo memang membuat amarah umat Islam memuncak. Tak jera diganjar serangan yang menewaskan Pimred beserta 11 orang lainnya, majalah itu kembali memuat kartun yang menyindir junjungan umat, Nabi Muhammad SAW.
Akibatnya, jutaan umat Islam tumpah ke jalan-jalan di berbagai negara meluapkan amarahnya. Demonstrasi mengecam kebengalan Charlie Hebdo ibarat gelinding bola salju. Makin lama makin besar. Puncaknya di Chechnya, ketika ratusan ribu umat Islam tumpah di jalan-jalan utama ibukota Grozny.

                                                                   
                             

Di sisi lain, fenomena kemarahan umat Islam ini menarik untuk dicermati. Terjadi secara serempak dan kolosal, menembus sekat-sekat negara dan bangsa. Bahkan gelombang kemarahan ini membungkam suara-suara miring sebagian tokoh umat Islam sendiri yang sebelumnya memandang negatif aksi Kouachi bersaudara tersebut.

Tanpa menafikan realitas Islamopobhia yang meningkat di Eropa, gerakan massal umat Islam di seluruh dunia—sekali lagi—menarik dicermati. Jarang sekali umat Islam bisa melakukan respon serempak menanggapi satu isu. Tragedi Suriah yang menguras darah, harta dan segalanya dari umat Islam saja tidak segegap gempita kasus Charlie Hebdo ini. Lalu, siapa aktor cerdik yang bermain di sini?
                                 
                                          Juru bicara AQAP, Syaikh Nashir bin Ali Al-Ansi.
                        Juru bicara AQAP, Syaikh Nashir bin Ali Al-Ansi
Secara resmi, belum ada pihak yang mengaku terlibat selain Al-Qaidah. Juru bicara Al-Qaidah cabang Jazirah Arab (AQAP), Nashir bin Al-Ansi  menjelaskan bahwa operasi itu diarahkan dan didanai langsung oleh komando Al-Qaidah. Itu semua demi memenuhi perintah Allah dan menolong Rasulullah. Hal itu juga telah diperintahkan langsung oleh orang nomor satu Al-Qaidah, Syaikh Aiman Az-Zawahiri.

Klaim ini memang masuk akal. Maret 2013, Majalah Inspire milik AQAP memajang foto Stephane Charbonnier, Pimred Charlie Hebdo sebagai daftar pencarian orang; hidup atau mati! Tak sampai dua tahun kemudian, tunai sudah janji AQAP. Ketuntasan janji tersebut ditambah timing dan sasaran yang tepat membuat Al-Qaidah layak diacungi jempol.

Tepat dan Terukur
Pemilihan Charlie Hebdo sebagai target serangan adalah sebuah keputusan brilian. Secara legal hukum Islam, dosa-dosa Charlie Hebdo tidak dapat diampuni. Hukuman bagi penghina Nabi adalah eksekusi mati, tanpa istitabah (diminta bertobat terlebih dahulu).
Sementara dari sisi lokasi, keberadaan Charlie Hebdo di Prancis (Eropa)—salah satu aliansi vital Amerika dalam perang melawan Islam, sangat strategis. Serangan itu memang menewaskan “hanya” dua belas orang. Tetapi telah menciptakan efek ketakutan luar biasa bagi seluruh penduduk Barat.
Efek tersebut timbul karena karakteristik Barat yang lebih memilih perang “hemat” nyawa ketimbang “boros” nyawa yang banyak dipraktikkan negara-negara Timur seperti Iran dan Rusia. Abdullah bin Muhammad, dalam Strategi Dua Lengan (Jazera, 2013) halaman 205 memberikan ilustrasi menarik.
                                 
                                   strategi 2 lengan

“Di negara-negara Barat, teror yang terjadi di wilayah dalam negeri mereka akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi, keamanan, politik dan seluruh sektor lainnya. Peristiwa percobaan peledakan pesawat terbang di Detroit, Amerika adalah bukti nyata. Meskipun peledakan tersebut gagal, namun telah memaksa Barat merogoh 40 milyar USD untuk memperkuat sistem keamanan transportasi udara.”
Serangan tersebut juga disebut terukur, karena hanya menjatuhkan “korban seperlunya.” Sebagaimana diketahui, jatuhnya korban yang tidak perlu menjadi celah pengkritik untuk mendeligitimasi sebuah amaliyat jihad. Adapun korban Muslim bernama Ahmad Merabet (42) memang sulit dihindari. Sebab, sebagai seorang polisi, Merabet memang bertugas mencegah serangan tersebut.
Adegan “memukau” juga diperankan dengan baik oleh Kouachi bersaudara ketika berhadapan dengan kaum Hawa, Sigolene Vinson. Saat wanita penulis itu pasrah di bawah todongan moncong senjata, sang penodong malah menegaskan, “Saya tak akan membunuhmu karena kamu seorang perempuan dan kami tidak membunuh perempuan.”

Miftah Shira’
Ketepatan dalam memilih target sampai kematangan perencanaan membuahkan aksi yang tuntas. Ketuntasan itu tidak hanya berhenti pada tewasnya otak pelecehan kepada Nabi SAW di majalah Charlie Hebdo, tetapi berlanjut kepada efek lanjutan pasca serangan.
Selain menanamkan ketakutan kepada siapapun yang mencoba mengikuti jejak Charlie Hebdo dalam mempermainkan Nabi Muhammad SAW, aksi tersebut memancing majalah satire itu untuk mengulangi kebodohannya, dengan kembali mencetak karikatur serupa. Akibatnya, jutaan umat Islam bereaksi lebih besar daripada aksi pertama yang bersimpati kepada Kouachi bersaudara.
Di sini, Al-Qaidah berhasil menempukan miftah shira’ (key point, pemantik konflik) yang sangat efektif, karena mampu menggerakkan jutaan umat Islam sedunia untuk turut berpartisipasi. Sebagai catatan, aksi jutaan umat sebagaimana disebut di atas baru sebatas aksi demonstrasi di jalanan. Jumlahnya akan semakin meledak bila aksi-aksi di dunia maya juga dimasukkan dalam statistik.
                                        visipol

 Abu Mush’ab As-Suri dalam Visi Politik Gerakan Jihad (Jazera, 2010) menekankan miftah shira’ sebagai elemen penting dalamDakwah Muqawamah Islamiyah ‘Alamiyah. Ia menyebutnya sebagai salah satu unsur pembentuk “Mobilisasi, Pemantik Konflik dan Iklim Jihad” (hal 60). Dilihat dari perspektif proyek Dakwah Muqawamah yang digagas oleh Abu Mush’ab As-Suri, serangan terhadap Charlie Hebdo ini telah berhasil membuahkanMuqawamah Sya’biyah, salah satu bentuk dari sekian macamMuqawamah.

Panggung Opini Dunia
Namun, keberhasilan Al-Qaidah dalam aksi tersebut tidak terhenti pada Muqawamah Sya’biyah semata. Dengan Charlie Hebdo, panggung opini dunia memberikan ruang seluas-luasnya bagi organisasi yang dipimpin oleh Syaikh Aiman Al-Dzawahiri itu untuk menjelaskan logika aksi-aksinya.
Panggung pun semakin semarak, ketika “musuh” pun turut mengapresiasi. Presiden Liga Katolik Amerika, Bill Donohue dalam sebuah artikel yang berjudul “Muslim Berhak untuk Marah”, mengecam “intoleransi” yang diusung oleh Charlie Hebdo. Apalagi setelah berulang kali menggambarkan secara buruk sosok yang sangat dimuliakan umat Islam itu. Tak hanya itu. Paus Fransiskus pun turut memaklumi aksi menuntut balas tersebut. “Itu normal. Anda tidak boleh memprovokasi. Anda tidak boleh memperolok keyakinan orang lain,” katanya.

Tuntas vs Omdo
Penghinaan terhadap simbol-simbol Islam dan bagaimana kerasnya umat Islam bereaksi ini, mengingatkan kita kepada kejadian-kejadian sebelumnya. Salah satu yang cukup fenomenal adalah buku The Satanic Verses, karya Salman Rushdie pada tahun 1989. Atas kebejatannya itu, pemimpin Syiah sekaligus Presiden Iran saat itu, Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdie.
26 tahun berlalu, namun Salman Rushdie tetap hidup dengan aman. Tak ada langkah kongkit Teheran untuk menuntaskan sesumbarnya itu. Paling banter, Khordad Foundation, sebuah yayasan keagamaan di Iran menaikkan harga kepala Salman dari 500 USD menjadi 3,3 juta USD, atau setara Rp. 31 miliar.
                                 iranvsaqap
Padahal, sebagai salah satu pilar kekuatan dunia, prestasi Iran sudah terbukti menyangga Presiden Suriah Bashar Ashad dari dahsyatnya serangan oposisi. Pada saat bersamaan, dengan dukungan Iran, hari ini kelompok Houtsi berhasil melakukan kudeta militer di Yaman.
Di balik kekuatan besar yang belum sanggup menuntaskan janjinya, publik pun bisa menilai: mana yang sungguh-sungguh tuntas membela kehormatan Islam, dan mana yang cuma pencitraan dan omong besar tapi kosong (omdo).
Tak salah bila kemudian congkaknya Salman Rushdie menanggapi ancaman mati tersebut sebagai sekadar retorika belaka, bukan aksi nyata.
Penulis: Hamdan
Orang beriman share informasi yang benar

Syarif Baraja: 
Menghina Nabi Tidak Ada Hukumannya? Enak Aja!

KIBLAT.NET, Jakarta — Asap pasca serangan kantor majalah Charlie Hebdo mengepul ke mana-mana. Tak terkecuali di dunia maya. Selain kecaman dan hujatan, tidak sedikit pula yang memuji aksi yang diduga kuat hukuman atas penghinaan Charlie Hebdo kepada Nabi Muhammad SAW melalui karikaturnya. Pro-kontra itu sendiri bahkan terjadi sesama akun tokoh dan pendakwah Islam.
Sebut saja misalnya akun @ShamsiAli2. Pria kelahiran Sulawesi yang kini tersohor sebagai dai di Amerika, terlibat adu argument dengan @syarifbaraja, mubaligh muda dengan lebih dari 30 ribu follower. @ShamsiAli2 mengecam aksi yang menewaskan 12 orang, termasuk penanggungjawab karikatur penghina Nabi SAW. Namun, @syarifbaraja mengingatkan, “Mencela Nabi SAW tidak ada hukumannya? Enak aja.”
      syarifenak
Menanggapi hal tersebut, @ShamsiAli2 mengatakan, “Cinta Nabi tdk dgn membunuh. Cinta nabi dg dakwah, bkn benci.” Tak hanya itu, dai yang pernah jalan bareng George W. Bush dalam safari doa di bekas reruntuhan gedung WTC itu menantang @syarifbaraja: “  Tunjukkan kapan nabi membunuh yg menghinanya?”
Syarif pun menjawab dengan memberikan contoh pada kasus pembunuhan Ka’ab bin Asyraf, laki-laki yang pernah menghina dan menyakiti Nabi SAW. “Nabi SAW menyuruh sahabat membunuh Ka’ab bin Asyraf. Nabi SAW yang mengucapkan itu, menyuruh membunuh Ka’ab bin Asyraf.”  Syarif menambahkan, “Nabi SAW tidak mengiqishash pembunuh budak yang memaki Nabi SAW.”
                         cuplikan twitwar

Namun, tetap saja @ShamsiAli2 berkilah “Yg pasti pembunuhan krn alasan seperti ini condemned…” Diskusi yang sebenarnya cukup menarik ini pun harus berakhir karena Shami mem-block akun @syarifbaraja. “Yah baru diskusi begini aja sudah diblock. :D Katanya toleransi dan bisa lapang dada dalam bertukar pikiran,” kicau Syarif. “Sama umat lain bisa toleransi dan senyum, sama sesama muslim malah alergi diskusi. Payah,” tambahnya.
Para netizen yang menyimak pun memberikan komentar beragam.  Misalnya @yefz_solihin yang berkata, “Diskusi selesai krn ketika ditunjukan dalil lalu ngeyel kemana mana.” @PejuangFaqir juga nimbrung, “Getol merayakan maulid, tapi diam ketika nabi dihina?” Di timeline selanjutnya, @syarifbaraja menjelaskan sikap Nabi SAW terhadap penghinaan. Bisa disimak di http://chirpstory.com/li/36781.

Penulis: Hamdan


Assalamu’alaikum...
Hanya ingin sekedar menuangkan ide yang ada di pikiran, hehe. Selamat menyimak ^^
Jika kita sering memperhatikan berbagai peristiwa aktual yang terjadi di sekitar kita, mungkin kita akan tahu bahwa akhir – akhir ini dunia sedang digemparkan oleh peristiwa Charlie Hebdo. Charlie Hebdo adalah sebuah kantor redaksi majalah yang berpusat di Perancis. Nah, yang membuat Charlie Hebdo itu terkenal di seluruh dunia karena redaksi majalah tersebut biasa menghasilkan karya yang aneh -_- yang berbeda dari karya – karya sewajarnya, dan karya – karya mereka seringkali mengundang kemarahan umat Islam di dunia. Mereka biasa menghasilkan karya karikatur Nabi Muhammad dengan memvisualisasikan Nabi Muhammad sebagai tokoh kartun komik, dsb. Astaghfirullahaladzim. Saya sendiri sebagai seorang Muslim juga tentu tidak terima atas perlakuan Charlie Hebdo kepada Nabi Muhammad SAW. Begitu juga dengan semua umat Islam yang masih waras, tentu akan marah jika mengetahui bahwa Nabi atau Junjungan kita, Rasulullah SAW dihina sedemikian rupa.

Sebenarnya saya sendiri tidak mempunyai andil yang besar dalam peristiwa tersebut. Saya hanyalah seorang pengamat, yang hanya sedikit mengambil peran sebagai seorang pemerhati masalah – masalah seperti itu. Menyikapi dan memberi solusi tentunya lebih baik daripada hanya duduk dan diam bukan? Saya berusaha untuk tidak menjadikan diri ini sebagai orang yang apatis, sehingga lama kelamaan hati akan menjadi keras karena kurangnya kesadaran akan masalah yang sedang terjadi. Naudzubillaah, jangan sampai ya ^^ hehe. Oke baiklah, kembali ke topik. Charlie Hebdo baru saja mengalami aksi teror yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku diri mereka sebagai orang Islam. Aksi teror tersebut tidak tangggung – tanggung, sampai mengakibatkan 12 orang karyawan kantor majalah tersebut tewas.

Tentu saja dunia langsung mengecam peristiwa yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam tersebut. Berbagai aksi kecaman datang dari seluruh penjuru dunia, sehingga mengakibatkan banyak media langsung memberitakan peristiwa itu dengan versi bahasa mereka. Sebagian besar masyarakat dunia langsung mengutuk tindakan penyerangan tersebut. Termasuk juga di Indonesia. Tidak sedikit orang yang langsung mengutuk tanpa melewati proses “wait and see” terlebih dahulu.

Jujur, saya memposisikan diri saya sebagai orang yang mendukung aksi penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo itu. Saya juga tidak habis pikir kenapa banyak umat Muslim di Indonesia (di mana mayoritas nya adalah Muslim) senang memvonis dan senang menghakimi suatu hal yang secara logika, peristiwa tersebut “benar” untuk dilakukan.  Haloo, apa yang salah dengan aksi penyerangan itu? Kenapa harus dikutuk secara berlebihan? Bukannya menjadi kewajiban setiap Muslim untuk selalu membela Nabi Muhammad ketika Beliau dihina? Lantas apa yang salah dengan peristiwa penyerangan itu?

Jika dibilang peristiwa penyerangan tsb sebagai aksi yang keji, di mana letak kekejiannya? Aksi penyerangan itu belum sepadan dengan hinaan Charlie Hebdo yang secara terang – terangan jelas menghina seorang Nabi Muhammad SAW. Penghinaan tersebut sangat melukai perasaan mayoritas Muslim di dunia. Dan memang bahwa membunuh orang yang menghina Nabi itu jelas hukumnya dan sudah tertuang dalam hadits Nabi. Seperti yang saya kutip dari media Islampos tentang hukum membunuh penghina Nabi seperti berikut ini.

Ka’ab bin Al-Asyraf menghina Nabi Muhammad SAW, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang mau membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf? Sesungguhnya dia telah menyakiti Allah dan RasulNya.” Muhammad bin Maslamah berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya?” Nabi SAW menjawab: “Ya.” Singkat cerita, Ka’ab bin Al-Asyraf pun dibunuh oleh Muhammad bin Maslamah. (Muttafaq ‘Alaih dari Jabir).

Bahwa memang jelas hukumnya membunuh orang yang berani menghina Nabi SAW, bahkan Nabi pun tanpa pikir panjang langsung menyetujui permintaan Muhammad bin Maslamah untuk membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf karena telah menyakiti Allah dan RasulNya.

Kalau dibilang aksi penyerangan itu sebagai sikap fanatisme yang berlebihan, ya memang saya setuju dengan pendapat itu. Bukannya sudah menjadi suatu kewajiban  kita untuk selalu fanatik kepada Rasulullah sebagai salah satu wujud cinta kita kepadanya? Aksi penyerangan tersebut juga tidak akan terjadi,jika penghinaan kepada Nabi oleh Charlie Hebdo tidak dilakukan. Seharusnya pemerintah Perancis juga harus adil dalam hal ini. Jika Charlie Hebdo berdalih bahwa setiap orang bebas mengeluarkan pendapat dan berekspresi, tidak sewajarnya mengeluarkan pendapat dengan cara menghina Nabi Muhammad, karena sangat menciderai perasaan umat Muslim. Kalau ada aksi, tentu ada reaksi. Dan memang Pemerintah Perancis bisa dikatakan kurang peduli dalam menyikapi masalah tersebut. Seharusnya Pemerintah Perancis memikirkan dampak yang akan terjadi jika kantor redaksi Charlie Hebdo tetap beroperasi. Jika penghinaan kepada Nabi dilakukan hanya sekali, atau dua kali saya pikir masih bisa ditoleransi. Namun, Charlie Hebdo telah melakukannya dari dahulu hingga sekarang, sampai karya mereka pun tersebar di seluruh dunia. Saya masih ingat, berita Charlie Hebdo ini sudah muncul dari dulu, sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga saat ini. Saya juga berpikir bahwa aksi penyerangan tersebut merupakan wujud ketegasan sekelompok umat Muslim dalam membela Nabi SAW. Dan kita sebagai umat Muslim, yang tinggal di negara yang juga masyoritas Muslim, juga harus berpikir secara logis dan jernih, bahwa ketegasan dalam membela Agama Allah itu wajib hukumnya. 

Jika kita memang cinta kepada Allah dan RasulNya, lantas hal apa yang bisa kita lakukan di saat ada orang lain yang menghina Allah dan Rasulullah? Apakah hanya dengan duduk dan diam? Tentu saja tidak. Kita harus tegas menyatakan sikap, bahwa menghina Allah dan Rasulullah itu suatu perbuatan yang buruk. Lalu jika ditanya, Rasulullah saja ketika dihina beliau membalasnya dengan kebaikan, lalu kenapa Charlie Hebdo sampai diserang sedemikian brutalnya? Oke, memang perlu kita ketahui bahwa Rasulullah SAW merupakan manusia yang sangat mulia, Beliau membalas kejahatan yang dilakukan oleh orang kafir dengan kebaikan. Iya. Beliau adalah seorang Nabi, yang dianugerahi oleh Allah kesabaran yang luar biasa. Sedangkan kita, hanya manusia biasa bung! Malaikat Jibrilpun, ketika melihat Rasulullah didzalimi oleh kaum kafir, malaikat Jibril ingin melempar mereka (orang kafir) dengan sebuah gunung. Namun karena Nabi adalah manusia yang paling luar biasa kesabarannya, Beliau melarang Jibril untuk melakukan hal tersebut. Tidak sepantasnya kita yang hanya manusia biasa, disamakan kadar kesabarannya dengan kesabaran seorang Nabi. Ingat. Charlie Hebdo bukan hanya sekali, dua kali, atau tiga kali, menghina Rasulullah SAW, namun berkali – kali. Dengan adanya penyerangan tersebut, juga menyadarkan dunia, bahwa Islam adalah agama yang tegas muaranya jika ada suatu hal keburukan yang menimpa terhadap diri Rasulullah. Sadarlah wahai kaum Muslim semua!
                                   
                                  
Lantas bagaimana dengan Islamophobia yang muncul pasca Peristiwa Charlie Hebdo?

Tidak bisa dipungkiri memang, dampak yang ditimbulkan setelah peristiwa Charlie Hebdo ini. Sikap Islamophobia perlahan mulai muncul pada sebagian masyarakat Eropa, bahkan masyarakat dunia. Lantas bagaimana sikap yang benar untuk menangkal Islamophobia yang perlahan mulai muncul?

Sikap yang bisa kita lakukan, jelas, menyuarakan bahwa Islam adalah agama yang sangat indah jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Islam sangat banyak memiliki sisi positif. Saat ini memang banyak  orang yang belum mengerti yang memandang Islam kebanyakan dari sisi negatifnya. Kita bisa menjelaskan berbagai keindahan yang ditawarkan oleh Islam. Bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai toleransi, sangat mengatur keberlangsungan hidup para umatnya supaya tetap dalam jalan yang benar, Islam sangat jelas mengatur hak dan kewajiban umatnya, dari hal kecil (misal menjaga kebersihan) hingga hal yang besar sampai urusan politik dan tata negara pun jelas diatur oleh Islam dalam ayat Al Quran. Islam juga telah banyak melahirkan ilmuwan – ilmuwan yang menjadi cikal bakal ilmuwan Eropa saat ini. Bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia ini, tidak terlepas dari peran umat Islam. Ada Ibnu Sina, Muhammad Al Khawarizmi, Ibnu Nafis, Al Biruni, serta tokoh – tokoh Islam lain yang menjadi kunci peradaban dunia. Ingat Muhammad Al Fatih? Beliau adalah seorang pemimpin yang berhasil mengalahkan Bangsa Romawi yang pada masa itu, adalah bangsa yang sangat kuat dan sulit terkalahkan. Namun Muhammad Al Fatih mampu menunjukkan kejayaan Islam dan menjadikan Islam unggul dalam segala bidang kehidupan. 

Nah, sekarang pertanyaannya, akankah masa – masa kejayaan Islam tersebut bisa terulang kembali? Saya yakin tentu sangat bisa. Dan hal tersebut kuncinya ada pada diri umat Islam sendiri. Kita harus tegas membedakan mana hal yang benar, mana yang salah. Saya yakin, jika memang umat Islam ingin berusaha menjadikan dirinya sebagai umat Islam yang kaffah (menyeluruh), niscaya Islam akan kembali menorehkan kejayaannya di dunia ini. Dimulai dari diri saya tentunya, dan diri kita semua. Jika kita memang belum bisa memberikan kontribusi yang besar bagi peradaban Islam saat ini, bisa dimulai dengan melakukan hal – hal kecil yang mengandung maslahat bagi banyak orang. Belajar ilmu agama dengan benar serta mengamalkannya, dan tidak lupa untuk mendakwahkannya kepada orang lain, menjadi suatu hal kecil yang suatu saat akan berdampak besar bagi kemajuan Islam. Biidznillah, cahaya Islam lama kelamaan akan muncul kembali, untuk menerangi cahaya dunia yang saat ini mulai meredup oleh kebaikan ^^
Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga kita semua dalam jalan istiqomah. Aamiin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb........

Aneh, Saat Rasulullah Dihina Diam Saja Giliran Si Penghina Diserang Pemerintah Ikut Mengutuk

Jakarta (SI Online) – Aneh tapi nyata, itulah pemerintah Indonesia. Saat Nabi Muhammad Saw, yang merupakan Nabi dan panutan mayoritas masyarakat Indonesia dihinakan oleh majalah satir asal Perancis, Chalie Hebdo, pemerintah diam saja, tak bereaksi. Tapi kini giliran kantor majalah tersebut diserang oleh orang tak dikenal, yang menewaskan pemrednya, pemerintah ikut-ikutan mengeluarkan kutukan.
“Pemerintah Indonesia mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada pemerintah dan rakyat Perancis, khususnya terhadap keluarga para korban,” tulis Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan pers yang dikutip Tribunnews.com, Rabu (07/01 malam.
Dalam keterangan sama, Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa tindak kekerasan apapun tidak dapat dibenarkan. Karena itu, Indonesia mendukung upaya Pemerintah Perancis menangkap dan mengadili para pelaku.
Sementara itu, dari hasil koordinasi dengan KBRI Paris, dijelaskan tidak ada korban warga negara Indonesia dalam tragedi tersebut. Meski demikian, Pemerintah Indonesia mengimbau kepada segenap WNI yang berada di Perancis untuk dapat menghindari tempat-tempat keramaian, dan menghubungi perwakilan Indonesia (KBRI Paris dan KJRI Marseille) yang berada di wilayah masing-masing sekiranya membutuhkan bantuan.
Sebelumnya, kantor majalah satir Prancis, Charlie Hebdo diserang orang tidak dikenal dan dikabarkan telah menewaskan 12 orang. Menurut saksi mata para pelaku yang menggunakan sebo alias penutup wajah juga menggunakan senapan AK47, ada juga laporan mereka menggunakan granat roket yang digunakan dalam serangan itu.
“Ada tembakan keras dan setidaknya satu ledakan,” kata seorang saksi mata. Ketika polisi tiba ada tembak-menembak massa. Orang-orang berhasil melarikan diri dengan mobil, mencuri mobil,” ujarnya seperti dikutip Daily Mail, Rabu(07/01).
Majalah mingguan satir tersebut sebelumnya menimbulkan kontroversi karena antara lain menerbitkan karikatur menghina Nabi Muhammad dan menjadikan nabi sebagai “pemimpin redaksi” pada November 2011. Sehari sesudahnya, kantor majalah diserang dengan bom molotov.
Dalam tweet terbaru Charlie Hebdo mengeluarkan kartun Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin Islamic State.
red: shodiq ramadhan, Kamis, 08/01/2015 06:25:30 | Dibaca : 2912
***   
{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ } [التوبة: 73]
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. [QS. At-Taubah: 73]
{بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا} [النساء: 138، 139]
Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih
(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah [QS. An-Nisaa’: 138-139]
Baca juga :

Mengkritisi Fatwa Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan terkait Penghinaan kepada Nabi (?)