Dalam permasalahan fiqh mereka tidak berlandaskan
kepada hadits-hadits yang shohih dari nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam,akan
tetapi mereka berdasarkan pada perkataan-perkataan dusta yang dibuat-buat oleh
ulama mereka sendiri,oleh karenanya fiqh mereka bathil,penuh penyimpangan dan
tidak boleh dianggap,tetapi kesalahan fatal mereka dalam fiqh tidak sebanding
dengan kesalahan dan kesesatan mereka dalam masalah aqidah,oleh karenanya
mereka membolehkan menikahi sembilan wanita,mereka berdalil dengan firman Alloh
Ta’ala
{ مثنى وثلاث ورباع} ( النساء 3 )
Yang mana mereka artikan kata wawu
didalam ayat tadi dengan menggabungkan / menambahkan, yang akhirnya menjadi
(2+3+4=9), padahal hal ini menyalahi kaidah bahasa arab,sementara nabi
memerintahkan para sahabat yang memiliki istri lebih dari empat,untuk menceraikan
istri-istri mereka sampai hanya tersisa empat saja.
Kemudian mereka juga menghalakan nikah
mut’ah,sebagaimana hal ini terjadi di Iran, Lebanon, dan Iraq, yang mana si
laki-laki menzinahi wanita yang dipilihnya dan memberikan beberapa lembar uang,dan
bahkan mereka membuka tempat-tempat nikah mut’ah sedari pagi buta dengan
anggapan agar diberkahi transaksi mereka ini,inilah sebagian aqidah
mereka,sedangkan Alloh dan rasul-Nya telah mengharamkan nikah mut’ah ini pada
hari Khoibar selama-lamanya.
Dan diantara sempalan kelompok Syi’ah
yang bernama Al Isma’iliyah (termasuk dari salah satu Syi’ah Al
Imamiyah),lantas apa yang mereka katakan? Sebagian mereka -yang ada di Yaman-
mengatakan : sholat itu dalam sehari semalam ada 50 kali,karena itulah yang Alloh
wajibkan,misalkan kita sholat dzuhur sekali mereka sholat 10 kali,dan bahkan
mereka menganggap kalau kita belum selesai sholat mereka sudah sholat 10 kali.
Dan kelompok lainnya mengatakan :
tidak,sholat bukan lima kali atau lima puluh kali,melainkan sembilan belas kali
dalam sehari semalam,namun apa yang mereka semua katakan ini adalah kedustaan
dan kebathilan.
Mereka juga dalam masalah sholat
berpendapat orang yang mengucapkan aamiin batal sholatnya,karena ucapan aamiin
menurut mereka termasuk dari berbicara,dan berbicara ketika sholat termasuk
dalam hal yang membatalkan sholat.Sebagian mereka juga berpendapat kalau
bersedekap itu membatalkan sholat,akan tetapi ini semua tidak ada apa-apanya
bila dibandingkan dengan penyimpangan-penyimpangan dan kesesatan mereka dalam
hal aqidah.
“Saya mengikuti madzhab fiqih imam
Ja’far Asshodiq”, begitulah jawaban seorang laki-laki separuh baya kepadaku,
setelah kutanya mengapa sholat dzuhur kok membaca qunut di roka’at terakhir?.
Kejadian tersebut di tanah kelahiranku tercinta ( Cirebon ) sekitar tahun 2007,
saat itu ada acara diskusi antara Prof. Dr. Jalaludin Rahmat ( Gembong Syi’ah
Indonesia ) dengan Prof. Dr. Salim Bajri, kulihat saat itu “pengikut madzhab
Imam Ja’far Asshodiq” berjumlah ratusan.
Diantara bentuk kekeliruan fatal yang
menyebar luas di kalangan kaum Muslimin memberikan julukan Ja’fariyah kepada
Syi’ah Imamiyah berdasarkan klaim mereka mengikuti pemahaman fiqih madzhab imam
Ja’far Asshodiq – Rohimahulloh-.
Para pembaca yang semoga di muliakan
Allah Ta’ala, jika kita teliti dengan cermat, tidak ada satu karya pun dalam
bidang fiqih dan hadits yang di tulis oleh Ja’far Asshodiq – Rohimahulloh-, hal
tersebut tidak seperti imam madzhab yang empat atau yang lainnya, mereka
meninggalkan karya ilmiyah dalam bidang fiqih dan hadits. Imam Abu Hanifah
-Rohimahulloh- meninggalkan kitab Al Fiqh Al Akbar , Imam Malik menulis
Almuwatho’, Imam Syafi’iy menulis kitab Arrisalah, Al Umm, Imam Ahmad menulis
Musnad.
Adapun riwayat yang disandarkan kepada Ja’far
Asshodiq -Rohimahulloh- adalah muncul beratus-ratus tahun setelah beliau
meninggal dunia. Kitab "Furu’ Al Kafi" karya Al Kulaini adalah kitab
fiqih Syi’ah Imamiyah yang di sandarkan kepada Ja’far Asshodiq. Al Kulaini
meninggal dunia pada tahun 329 H yaitu setelah 180 tahun meninggalnya Ja’far
Asshodiq,kitab fiqih Man Laa Yahdhuruhu Al Faqiih yang di tulis oleh Muhammad
bin Ali bin Babawaih Al Qummi yang meninggal tahun 381 H, yaitu setelah 230
tahun wafatnya Ja’far Asshodiq.
Jadi Fiqih Ja’far Asshodiq manakah yang
di ikuti oleh Syi’ah??
Selama ini orang-orang Syi’ah mengklaim
mereka bermadzhab fiqh Ja’fari, dan madzhab Ja’fari tak ubahnya seperti madzhab
imam-imam lainnya yaitu Abu Hanifah, Malik, As Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal
seperti yang mereka dakwakan.
Namun ironisnya, orang-orang Syi’ah
tidak memiliki kitab yang ditulis langsung oleh Imam Ja’far As Shadiq, begitu
juga tidak akan kita dapati murid-murid Imam Ja’far yang mengumpulkan dan
menuliskan madzhab Imam Ja’far dalam masalah fiqh, jikapun ada pasti kitab
tersebut akan bergulir dari generasi ke generasi, sebagaimana kitab-kitab para
Imam 4 Madzhab. Adapun kitab yang mereka nisbatkan kepada Imam Ja’far dalam
permasalahan fiqh adalah kitab yang baru muncul setelah sekian ratus tahun dari
wafatnya Imam Ja’far dan tidak memiliki sanad yang shahih dan terpercaya.
Diantara hakekat yang tersembunyi dari
kalangan awam Syi’ah adalah Ja’far As Shadiq dan Imam-Imam Syi’ah lainnya yang
berjumlah dua belas tidak pernah mengarang kitab baik dalam hal fiqh ataupun
hadits.
Padahal empat Imam milik Ahlus Sunnah
semuanya memiliki karya tulis dalam disiplin ilmu fiqh dan hadits,berikut ini
rinciannya:
-Imam Abu Hanifah mewariskan hadits
dalam “Musnad” beliau, adapun fiqh beliau, maka murid-murid senior beliaulah
yang menyusunkannya seperti Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan As Syaibani.
-Imam Malik menuliskan hadits dan
permasalahan fiqh dalam kitab beliau “Al Muwattho”.
-Imam Syafi’i mewariskan dan menulis
hadits dalam “Musnad” beliau, dan fiqh dalam kitabnya “Al Umm”.
-Dan Imam Ahmad bin Hanbal maka kitab
“Musnad” beliau sudah sangat masyhur, adapun fiqh beliau telah disusun dan
dikarang oleh murid-murid beliau diantarannya Imam Al Khallal.
Alangkah kasihannya orang-orang Syi’ah,
Imam mereka Ja’far As Shadiq tidak memiliki karya tulis dalam hadits ataupun
fiqh, begitu juga tidak ada yang menyusunnya dari murid-murid beliau.
Adapun riwayat yang dinisbatkan
kepadanya yang muncul pertama kali yaitu kitab Furu’ Al Kafiy milik Al Kulaini
yang wafat pada tahun 329 H. Dengan kata lain setelah wafatnya Imam Ja’far As
Shadiq dengan jarak 180 tahun!
Keanehan fiqh Ja’fari ini mengingatkan
kita dengan kepalsuan Injil milik umat Nashrani, karena Injil baru ditulis
kurang lebih 175 tahun setelah wafatnya Isa.
(Usthurah Al-Madzhab Al-Ja’fari: Dr.
Thaha Hamid Ad Dulaimi)
Abu Azizah Abdul Fattah
menuturkan di laman facebooknya, Rabu (6/5/2015). Beliau menceritakan hasil
Dialog di Mekkah dengan Syeikh Dr. Abu Zaid Al-Makky, dosen Universitas Ummul
Quro Mekkah.
Syeikh
Dr. Abu Zaid Al-Makky adalah salah seorang ulama yang sangat memahami kesesatan
Syiah Rafidhoh, beliau juga ternyata sangat memahami pergerakan Syiah di
Indonesia.
Beliau
menyampaikan banyak tentang bahaya ajaran dan pergerakan Syiah. Kebanyakan kaum
muslimin baru memahamai bahaya ajarannya akan tetapi sangat sedikit yang
memahami bahaya pergerakan Syiah.
"Ingat
saudaraku, target dari pergerakan mereka adalah kudeta pemerintah dan membunuh
orang orang Sunni, karena itulah doktrin aqidah mereka yang sesat dan
menyesatkan," tutur Syeikh Abu Zaid Al-Makky.
"Cukuplah
apa yang terjadi dengan saudara kita di Iraq, Suriah, Yaman dll menjadi
pelajaran untuk kita. Mereka tidak harus menunggu menjadi mayoritas untuk
melakukan revolusinya dan mengkudeta pemerintah," lanjutnya.
Syeikh
Dr. Abu Zaid Al-Makky berpesan:
Mari
bersama kita jaga diri kita, keluarga, saudara, sahabat, daerah kita dan NKRI
dari ancaman Syiah Rofidhoh...
Bersatulah
saudaraku sesama Ahlus Sunnah, jangan mau dipecah oleh makar-makar mereka
dengan isu isu murahan yang berkutat seputar khilafiyah atau perbedaan dalam
masalah furu'. Mereka berani dan kuat karena Ahlus Sunnah nya lemah dan
berpecah belah. Lihatlah sikap tetangga kita, Malaysia yang sangat tegas di
dalam mengantisipasi bahaya pergerakan syiah dengan mengeluatkan pernyataan
resmi bahwa ajaran Syiah itu sesat dan menyesatkan, berbahaya dan bisa
mengancam bahkan para ulama di Malaysia kompak menyatakan bahwa Syiah itu bukan
Islam. (pkspiyungan.com/syiahindonesia.com)
Syiah dikenal dengan
kebencian dan laknat mereka terhadap para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, khususnya Khalifah Abu Bakar, Umar Ibnu Khattab, dan Utsman
radhiyallahu ‘anhum
Kalangan Ahlus Sunnah
berdakwah melalui poster guna memberikan kesadaran kaum Muslim Mesir atas sikap
sebagaian kelompok Syiah yang membenci Sahabat Nabi. "Abu Bakar dan Umar
adalah pemimpin kami, Aisyah ra adalah ibu kami dan musuh-musuh mereka adalah
musuh-musuh kami.”
Oleh:Syahrul
Qur’ani
HARI-HARIini banyak orang
membicarakan Syiah. Sementara itu, sosialisasi yang gencar dan dengan dukungan
dana yang kuat dari pemerintah Iran membuat jumlah pengikut Syiah bertambah dan
mulau unjuk gigi.
Meski diakui pula, gerakan dakwah dan upaya
membentengi umat Islam Indonesia yang mayoritas Ahlus Sunnah (Sunni) dari
pengaruh Syiah gencar diadakan oleh para aktivis Islam, namun hal itu tak
membuat kaum Syiah sepenuhnya diam. Mereka bahkan terus masif melakukan aksi,
termasuk aksi politik.
Secara pribadi –bahkan jika boleh jujur–
saya tak tertarik untuk masuk Syiah. Hanya saja, meski dibungkus dengan halus,
ajaran ‘menyimpang’ sering membuat banyak kaum Muslimin tertipu.
Ada banyak alasan mengapa saya tidak begitu
tertari dengan Syiah. Di antara alasan-alasan adalah sebagai berikut;
Pertama,hanya orang-orang kafir
yang membenci sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Syiah dikenal dengan kebencian dan laknat
mereka terhadap para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, khususnya
Khalifah Abu Bakar, Umar Ibnu Khattab, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Ketiga
khalifah yang mulia ini dianggap Syiah telah merebut hak khilafah dari tangan
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Maka siapa saja dari kalangan sahabat
yang mengakui kekhilafahan mereka bertiga maka dianggap telah kafir oleh Syiah.
Kebencian dan laknat itu sudah menjadi akidah mereka.
Syiah tak akan tegak tanpa kebencian dan
dendam kesumat mereka terhadap para sahabat, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah
berfirman (artinya);
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang
yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi
berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka
tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus
di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29).
Allah menggambarkan kehidupan Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya, saling berkasih sayang
sesama mereka. Lalu Allah memisalkan para sahabat Nabi seperti tunas-tunas yang
tumbuh kokoh yang menyenangkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebaliknya, keadaan para sahabat yang demikian indah digambarkan oleh Allah
justru membuat hati orang-orang kafir jengkel terhadap mereka.
Lalu bagaimana dengan Syiah? Kejengkelan
dan kebencian mereka terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
sudah cukup untuk menjawab siapa sebenarnya mereka.
Kedua,Seperti inilah Allah
mengelompokkan kaum muslimin
Kelompok I: Muhajirin
Golongan al-Muhajirin disebutkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Hasyr: 8, Allah berfirman (artinya), “(Juga)
bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta
benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka
menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Kelompok II: Anshar
Disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam ayat selanjutnya (artinya), ”Dan orang-orang yang telah menempati Kota
Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),
mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka
(orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri
mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung.”
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka
(Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah
Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman;
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS:
Al-Hasyr: 10).
Pembaca yang budiman, di kelompok manakah Anda berada? Menjadi golongan
Muhajirin dan Anshar tentu saja tak mungkin, sebab mereka adalah para sahabat
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah wafat.
Menjadi kelompok III? Sangat memungkinkan,
dan semoga kita termasuk dalam kelompok ini. Caranya dengan mendoakan para
sahabat Muhajirin maupun Anshar dan menghilangkan kedengkian terhadap mereka.
Lalu di kelompok manakah Syiah?
Muhajirin? Anshar? Atau yang
mendoakan para sahabat?
Alih-alih mendoakan, hati mereka justru
dipenuhi dendam kesumat terhadap para sahabat.
Celakanya, Allah Azza wa Jalla hanya
mengelompokkan kaum Muslimin ke dalam tiga golongan di atas. Tak ada golongan
ke empat yang dapat menampung Syiah.
Ketiga,Sikap keras dan permusuhan
Syiah terhadap para sahabat ternyata berbeda dengan sikap Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad)
berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya engkau bersikap keras dan
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…” (QS. Ali Imran:
159).
Jika Rasulullah shallallahu alaih wasallam
seorang nabi yang mulia Allah perintahkan untuk bersikap lemah lembut terhadap
para sahabatnya, maka sepantasnyalah umatnya bersikap lebih santun lagi
terhadap mereka radhiyallahu ‘anhum.
ketujuh ayat di atas—dan masih banyak ayat
lainnya—yang menyebabkan saya hingga saat ini tidak kepincut oleh ajaran Syiah
Keempat,Allah Ta’ala mengampuni
dan menyayangi para sahabat, sebaliknya Syiah mengafirkan dan melaknat mereka
(artinya), “Sesungguhnya Allah telah
menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang
mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir
berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka (sahabat).” (QS. at-Tawbah: 117).
Ayat di atas turun berkaitan dengan Perang
Tabuk. Para sahabat yang turut serta dalam Perang Tabuk disebut Jaisyul ‘Usrah,
karena sulitnya kondisi kaum muslimin saat itu. Wajar jika akhirnya ada di
antara mereka yang merasa berat dan hampir saja berpaling dari perintah Allah.
Utsman bin Affan menginfakkan 950 unta dan 50 ekor kuda lengkap dengan
muatannya untuk biaya perang. Umar bin Khatthab menginfakkan setengah hartanya
yang tak sedikit, sementara Abu Bakar ash-Shiddiq menginfakkan seluruh
hartanya. Sayangnya, justru ketiga sahabat mulia inilah yang paling dikafirkan
oleh Syiah. Aneh, mereka mengaku muslim tapi akidah mereka menyelisihi
firman-firman Allah.
Kelima,Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam memaafkan kesalahan para sahabatnya bahkan memohonkan ampun
bagi mereka
Allah berfirman (artinya), “Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah
ampunan untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS.
Ali Imran: 159).
Sejarah membuktikan bahwa para sahabat
radhiyallahu anhum yang telah mendampingi perjuangan Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam terkadang jatuh dalam kesalahan. Apakah Allah melaknat mereka
atau memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencela dan
menuduh para sahabatnya kafir?
Ternyata Allah ‘Azza wa Jalla justru
memerintahkan Rasul-Nya untuk memaafkan dan memintakan ampunan bagi para
shahabatnya. Bahkan lebih dari itu, beliau pun senantiasa mengajak para
sahabatnya untuk bermusyawarah tentang urusan-urusan perang, politik, ekonomi,
kemasyarakatan, dan lain-lain.
Sekali lagi, bandingkan dengan Syiah.
Mereka sangat berat menerima kesalahan para sahabat. Apakah mereka merasa lebih
mulia dari Allah dan Rasul-Nya? Hanya Allah yang tahu kemudian orang-orang Syiah
itu.
Keenam,Para sahabat adalah
penolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu,
maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang
memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (QS. al-Anfal:
62).
Para mukmin, siapakah mereka? Tentu saja
mereka adalah para sahabat yang telah mempersembahkan harta, jiwa dan raga
mereka untuk membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Subhanallah!
Para sahabat adalah manusia-manusia pilihan
yang dipilih Allah untuk mendampingi perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Jika hari ini, kehormatan para sahabat terus direndahkan oleh
orang-orang Syiah, maka itu tak ada artinya jika dibandingkan dengan sederet
pembelaan Allah Azza wa Jalla terhadap mereka.
Ketujuh, Istri-istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ibunda kaum muslimin
(artinya), “Nabi itu lebih utama bagi
orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah
ibu-ibu mereka…” (QS. al-Ahzab: 6).
Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah ibunda kita kaum muslimin. Sementara Syiah melecehkan, menuduh
berzina, bahkan mengafirkan Ibunda kaum Mukminin Aisyah binti Abi Bakar dan
Hafshah binti Umar radhiyallahum.
Apakah Syiah tidak menganggap bahwa Aisyah
dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma itu sebagai ibunda mereka—dengan konsekuensi
ingkar terhadap firman Allah di atas? Ataukah mereka adalah anak-anak durhaka
terhadap ibundanya? Atau itukah pengakuan bahwa mereka memang bukan bagian dari
kaum muslimin?Wallahu
A’lam.
Setidaknya, ketujuh ayat di atas—dan masih
banyak ayat lainnya—yang menyebabkan saya hingga saat ini tidak kepincut oleh
ajaran Syiah, seindah apapun ia dikemas oleh para pengikutnya. Semoga Saudaraku
Pembaca yang mulia pun demikian. Wallahu al-Hadi ilaa aqwam ath-thariq.*
Jika pun deklarasi
tersebut mengesahkan aliran Syiah, maka keputusan tersebut tidak dapat
membatalkan fatwa-fatwa para ulama generasi terdahulu dari kalangan salafuna
shalih yang sudah ijmak bahwa aliran Syiah itu sesat-menyesatkan.
Oleh: Kholili
Hasib
DALAM teks Risalam
Amman ada larangan takfir (mengkafirkan)
pada tiga kelompok kaum Muslimin, mereka itu; Asy’ariyyah, Sufi dan Salafi.
Tidak disebutkan “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah”.
Isi poin pertama di atas sebetulnya ada
kelanjutannya yang berisi tentang isu akidah, yang biasanya tidak diungkap oleh
Syiah. Kalimat tersebut berbunyi:
“Lebih lanjut,
tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah
Asy’ariatau
siapa saja yang mengamalkan tasawuf. Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan
siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati.Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan
mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan
mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (shallallahu ‘alaihi Wassallam ) dan rukun-rukun
iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang
sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.”
Poin ini bertujuan selain menyatukan Ahlus
Sunnah wal Jama’ah juga bermakna siapa-siapa yang mengakui rukun Islam, rukun
iman, mensucikan Allah dan Rasul-Nya dari sifat-sifat yang tidak pantas masuk
golongan Muslim, haram dikafirkan.
Kita ketahui, terdapat kelompok-kelompok yang
menyesatkan pengikut madzhab Asy’ariyah dan pengamal ilmu tasawuf. Madzhab
Asy’ari telah dianut oleh kaum Muslimin dan ulama-ulama besarnya selama
berabad-abad. Imam-imam besar ilmu hadis menganut madzhab Asy’ariyah.
Menurut deklarasi itu, kita harus paham, bahwa
madzhab akidah Asy’ari dan ulama-ulama sufi itu bagian dari Ahlus Sunnah wal
Jama’ah. Bahkan pelopor bendera Ahlus Sunnah adalah madzhab Asy’ariyah ini.
Karena itu tidak boleh disesatkan apalagi dikafirkan.
Dalam teks kalimat di atas, tidak ditemukan
akidah Syiah Imamiyah. Tidak ada sama sekali tidak kalimat “Tidak diperbolehkan
mengkafirkan siapa saja yang menganut akidah Syiah Imamiyah”.
Syiah Imamiyah tidak dimasukkan ke dalam nota
kesepahaman di atas karena memang Syiah memiliki rukun iman yang berbeda dengan
kaum Muslimin Ahlus Sunnah.
Seperti diketahui, sikap dan pandangan
Syiah “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah” di luar kelompoknya dan
seluruh kaum Muslimin yang tidak mengenal atau mengikuti imam zamannya (yang
dimaksud adalah 12 imam Syiah) maka matinya dalam keadaan jahiliyah atau mati
di luar Islam. (baca: “40 Masalah Syiah, Buku Pedoman Dakwah
IJABI” karya Emilia Renita Az, hal 98)
Rukun Iman versi Syiah adalah : al-Tauhid,
al-‘Adl (percaya pada keadilan ilahi), Nubuwwah,
Imamah, Al-Ma’ad (percaya pada hari akhir). Padahal, dalam
deklarasi tersebut, yang dilarang untuk dikafirkan adalah siapa saja yang
meyakini rukun iman dan Islam. Bagaimana dengan Syiah yang berbeda rukun
imannya?
Karena itu, beberapa ulama yang menandatangani
deklarasi tersebut tetap bersifat tegas terhadap Syiah. Seperti Syeikh
al-Qardhawi, dan Syeikh Ahmad Thayyib.
Lihatlah fatwa Syeikh Yusuf al-Qardhawi. Beliau
mengatakan, “Sesungguhnya perbedaan yang mendasar di antara kedua madzab ini
(Sunni dan Syiah) adalah perbedaan di dalam masalahushuluddin (pokok-pokok
agama) dan bukan di dalam masalah furu’. Oleh karena itu, sebutan untuk
perbedaan ini adalah perbedaan di antara dua golongan, yaitu Ahlus Sunnah di
satu sisi dan Syiah di sisi yang lainnya. Perbedaan ini bukan di antara dua
madzab fikih.”(Fatawa Mu’ashirah jilid IV).
Dalam fatwanya tersebut Syeikh al-Qardhawi menerangkan
kesesatan-kesesatan Syiah. Beliau menjelaskan, memang benar, tidak mungkin kita
akan bersatu. Ketika saya mengatakan, ”Abu Bakar semoga Allah Swt meridhainya.
Umar semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhainya.”
Sedangkan engkau (Syiah) berkata, ”Abu Bakar semoga Allah Swt melaknatnya. Umar
semoga Allah Subhanahu Wata’ala melaknatnya.” Ingat,
alangkah besarnya jurang perbedaan antara kalimat ‘semoga Allah Swt
meridhainya’ dengan kalimat ‘semoga Allah Subhanahu Wata’alamelaknatnya’.
Tentang gerakan kaum Syiah yang sering
mengelabuhi kaum Muslimin beliau berkata: “Kami melihat mereka (Syiah) bersikap
masa bodoh. Mereka menerobos masuk ke masyarakat Sunni dengan memanfaatkan
kekaguman Ahlu Sunnah atas sikap Syi’ah di bidang politik dan militer. Mereka
menjadikan hal tersebut sebagai alat propaganda”.
Syeikh Ahmad Thayyib, Mufti al-Azhar,
mengatakan, “Meski para ulama besar Al-Azhar terdahulu pernah terlibat di dalam
berbagai konferensi persatuan Islam antara Sunni dan Syiah guna melenyapkan
fitnah yang memecah belah umat Islam, penting saya garis bawahi bahwa seluruh
konferensi itu nyatanya hanya ingin memenangkan kepentingan kalangan Syiah
(Imamiyah) dan mengorbankan kepentingan, akidah dan simbol-simbol Ahlus Sunnah,
sehingga upaya taqrib itu kehilangan kepercayaan dan kredibilitasnya seperti
yang kami harapkan. Kami juga sangat menyesalkan celaan dan pelecehan terhadap
para sahabat dan istri Nabi SAW yang terus menerus kami dengar dari kalangan
Syiah, yang tentu saja hal itu sangat kami tolak. Perkara serius lainnya yang
kami tolak adalah upaya penyusupan penyebaran Syiah di tengah masyarakat Muslim
di Negara-negara Sunni.”(lihat tulisan Fahmi Salim, Sikap Al-Azhar Mesir
tentang ‘Taqrib’ Sunni-Syiah di hidayatullah.com).
Terlepas dari itu, jika pun deklarasi tersebut
mengesahkan aliran Syiah, maka keputusan tersebut tidak dapat membatalkan
fatwa-fatwa para ulama generasi terdahulu dari kalangansalafuna shalih yang
sudah ijmak bahwa aliran Syiah itu sesat-menyesatkan. Mereka lah generasi yang
mendapat garansi.
Ajakan taqrib (pendekatan)
Syiah ternyata hanya strategi Syiah untuk mensyiahkan kaum Ahlus Sunnah. Syeikh
Mustafa al-Siba’i pernah dikhianati oleh orang-orang Syiah ketika beliau
bersepakat untuk mengadakan taqrib. Namun ajakan
itu dikhianati dengan kelakuan Syiah yang mencaci para Sahabat Nabi dan
melakukan Syiahisasi. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa ajakan Syiah
sebetulnya bukan ber-ukhwah dengan Ahlus Sunnah, namun sejatinya mengajak Sunni
untuk menjadi Syiah.*
Penulis adalah
Peneliti InPAS, Anggota MIUMI Jawa Timur
Muhammad Hassan al-Akhtari Pendeta Syiah
Rafidhah Duta Besar Iran (Penjaga Kota Dajjal, yakni Khurasan, Isfahan dan
Khuza serta Karman)
Menit 00:50
Arab Saudi (Pelayan 2 Kota Suci Mekkah
& Madinah) bukanlah Daulah Islamiyyah, bahwasanya Arab Saudi (Pelayan 2
Kota Suci Mekkah & Madinah) berhukum dengan Wahabiyyah, Arab Saudi (Pelayan
2 Kota Suci Mekkah & Madinah) tidak berhukum dengan al-Qur’an dan agama
(Islam).
[https://www.youtube.com/watch?v=PA23xqQ0Qk4]
إن أهل مكة ليكفرون بالله جهرة وإن أهل
المدينة أخبث من أهل مكة، أخبث منهم سبعين ضعفا
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٢ - الصفحة
٤١٠
Sesungguhnya penduduk Mekkah telah kafir
kepada Allah secara terang-terangan. Dan sesungguhnya penduduk Madinah lebih
buruk daripada penduduk Mekkah, yakni 70 kali lebih buruk daripada mereka
(penduduk Makkah).
أهل الشام شر أم [أهل] الروم فقال: إن
الروم كفروا ولم يعادونا وإن أهل الشام كفروا وعادونا
الكافي - الشيخ الكليني - ج ٢ - الصفحة
٤١٠
Apakah penduduk Syam termasuk (penduduk)
yang buruk ataukah (penduduk) Romawi (yang buruk)?
Sesungguhnya (penduduk) Romawi, mereka
adalah orang-orang yang kafir namun tidak memusuhi kami. Sedangkan penduduk
Syam, mereka telah kafir dan memusuhi kami.
Syiah Rafidhah merupakan sebuah agama yang telah terbiasa menjalin kerjasama dengan kaum kafirin dalam membantai kaum Muslimin. Sehingga menjadikan Syiah Rafidhah sebagai golongan mereka, yaitu hizbul kuffar, yang senantiasa akan memberikan pertolongan dan bantuan kepada musuh-musuh Islam. Seperti kerjasama yang dijalin oleh Syiah Rafidhah Iran dengan Amerika dalam membantai kaum Muslimin di Afghanistan dan Irak. Pengkhianatan Syiah Rafidhah tersebut sebelumnya telah
Wakil Presiden Bidang Hukum dan Parlemen Iran Mohammad Ali Abtahi
Menit 00:40
Ini adalah bantuan utama Iran yang pertama membantu Amerika menjatuhkan Taliban dan al-Qaeda (di Afghanistan). Ia adalah mustahil tanpa bantuan Iran.
Presiden Iran Mohammad Khatami
Menit 01:02
Taliban merupakan musuh kami, Amerika menyatakan bahwa Taliban juga merupakan musuh mereka. Jika mereka menjatuhkan Taliban, ia akan memenuhi kehendak Iran.
Menit 02:45
Saya memberitahunya, mari kita mengulangi pengalaman Afghanistan di Irak.
Pengkhianatan tersebut sebelumnya pernah diperingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, tatkala Tatar yang kafir datang menyerang Khurasan (Afghanistan dan sekitarnya) serta Irak.
Mereka (Syiah Rafidhah) (telah terbiasa) meminta pertolongan kepada orang-orang kafir dalam (menghadapi) kaum Muslimin. Sungguh kita dan kaum Muslimin telah melihat bahwasanya tatkala kaum Muslimin diserang oleh musuh dari kalangan kaum kafirin, maka mereka (Syiah Rafidhah) akan bersamanya (kaum kafirin) dalam (menghadapi) kaum Muslimin. Sebagaimana yang telah terjadi pada Jenghis Khan yang merupakan raja Tatar yang kafir, dan sesungguhnya Rafidhah (Syiah)-lah yang menolongnya dalam (menghadapi) kaum Muslimin.
Dan juga mereka (Syiah Rafidhah) telah membantu Hulaku Khan yang merupakan anaknya (Jenghis Khan), tatkala datang (menyerang) Khurasan dan Irak serta Syam, (bantuan) tersebut telah masyhur dan tidak tersembunyi atas seorang pun. Mereka (Syiah Rafidhah) yang berada di Irak dan Khurasan adalah termasuk penolong terbesarnya secara dzahir dan bathin. Sedangkan Wazir (Menteri) sang Khalifah yang berada di Baghdad yang bernama Ibnul ‘Alqamiy adalah berasal dari kalangan mereka (Syiah Rafidhah). Ia (Ibnul ‘Alqamiy) senantiasa melakukan makar terhadap Khalifah dan kaum Muslimin.
[Majmu’ Fatawa 5/155, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]
Karena mereka (Syiah Rafidhah) mengharapkan kemuliaan dari kaum kafirin, sehingga kecintaan-lah yang akan timbul di dalam hati para penganut agama Syiah Rafidhah tersebut terhadap daulah kuffar, dengan menaruh kedengkian terhadap negeri-negeri Islam.
George W. Bush 00:52 Aku (Bush) meyakinkan ia (Abdul Aziz al-Hakim Syiah), bahwa Amerika mendukung kinerjanya dan kinerja Perdana Mentri untuk menyatukan negara. 02:03 Aku (Bush) berkata kepadanya (Abdul Aziz al-Hakim Syiah), bahwa kami (Bush) tidak puas degan laju kemajuan di Irak. 02:10 Oleh karena itu, kami (Bush & Amerika) menginginkan untuk melanjutkan kerjasama dengan pemerintah berdaulat Irak dalam rangka menyelesaikan tujuan bersama kami (Bush Amerika & Abdul Aziz al-Hakim Syiah). Abdul Aziz al-Hakim Syiah 03:11 Pertemuanku (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) dengan presiden Bush hari ini adalah untuk menampilkan komitmen bersama untuk melanjutkan dialog dan perundingan di antara kami (Bush Amerika & Abdul Aziz al-Hakim Syiah). 03:28 Dan juga atas dasar keyakinan kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) bahwa permasalahan Irak adalah kepentingan bersama. 06:16 Kepentingan Amerika, kepentingan Irak, kepentingan regional, mereka semua saling berhubungan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) ketika berhadapan dengan permasalahan ini, kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) melihat (dalam kacamata) kepentingan rakyat Irak. Jika kami tidak melakukannya, maka seluruh permasalahan ini dapat menjadi bumerang dan bisa merugikan kepentingan regional, Amerika Serikat dan juga Irak. 08:15 Kami (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) menghargai seluruh pengorbanan yang telah dilakukan dalam rangka pembebasan dan kebebasan Irak. Pengorbanan yang telah dilakukan oleh rakyat Irak serta juga negara-negara sahabat, dan (negara) yang berada di list teratas (dalam pengorbanan) adalah pengorbanan Amerika Serikat. 09:59 Terima kasih banyak tuan Presiden (Bush) untuk mengizinkan saya (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) (dengan memberikan) kesempatan bertemu dengan anda (Bush). Saya (Abdul Aziz al-Hakim Syiah) akan mengambil kesempatan ini juga untuk berterima kasih kepada rakyat Amerika dan simpati mereka terhadap Irak yang telah menolong Irak dengan menyingkirkan kediktatoran yang brutal dan untuk menikmati kebebasan dan hak asasi (manusia). [http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=EFyXjmriabQ]
Lagi-lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah telah memperingatkan kaum Muslimin akan buruknya sifat Syiah Rafidhah tersebut dalam mencintai kaum kafirin, demi meraih kemuliaan dengan membantu mereka (kaum kafirin) dalam membantai kaum Muslimin di Irak.
Rafidhah (Syiah) sangat mencintai bangsa Tatar beserta daulah mereka (Tatar), dikarenakan mereka (Syiah Rafidhah) mendapatkan kemuliaan yang tidak didapatkan dari daulah kaum Muslimin. Rafidhah (Syiah) adalah penolong bagi kaum Musyrikin, Yahudi dan Nashrani dalam membantai kaum Muslimin. Dan mereka-lah (Syiah Rafidhah) yang menjadi penyebab terbesar masuknya bangsa Tatar, yakni sebelum ke-Islaman mereka (Tatar), ke wilayah Timur, yaitu Khurasan dan Irak serta Syam. Dan (juga) mereka (Syiah Rafidhah) termasuk gerombolan penolong terbesar bagi mereka (Tatar) dalam merampas negeri-negeri Islam dan membantai kaum Muslimin serta menawan para wanita (Muslimah) mereka, (seperti) kasus Ibnul ‘Alqamiy.
[Majmu’ Fatawa 28/527-528, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]
الْوَزِيرُ ابْنُ الْعَلْقَمِيِّ الرَّافِضِيُّ قَبَّحَهُ اللَّهُ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، الْوَزِيرُ مؤيد الدين أبو طالب بن العلقمي، وزير المستعصم البغدادي، وخدمة في زمان الْمُسْتَنْصِرِ أُسْتَاذَ دَارِ الْخِلَافَةِ مُدَّةً طَوِيلَةً، ثُمَّ صار وزير المستعصم وزير سوء على نفسه وعلى الخليفة وعلى المسلمين،
وكان رافضيا خبيثا ردئ الطَّوِيَّةِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ،
ثُمَّ مَالَأَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ الكفار هولاكو خان، حتى فعل ما فعل بالإسلام وأهله مما تقدم ذكره، ثم حصل له بعد ذلك من الإهانة والذل على أيدي التتار
Wazir Ibnul ‘Alqamiy ar-Rafidhiy –semoga Allah memburukkannya-, yakni (namanya) adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thalib. (gelarnya) adalah Wazir Mu-ayyiduddin Abu Thalib Ibnul ‘Alqamiy, yaitu seorang Wazirnya al-Musta’shim al-Baghdadiy. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) mengabdi pada masa (pemerintahan) al-Mustanshir sebagai kepala istana Khilafah dalam kurun waktu yang lama. Kemudian menjadi Wazirnya al-Musta’shim yang merupakan Wazir yang buruk terhadap dirinya sendiri, Khalifah dan kaum Muslimin.
Ia (Ibnul ‘Alqamiy) adalah seorang Rafidhiy (Syiah) yang sangat licik dan keji terhadap Islam dan pemeluknya.
Kemudian menolong Hulaku Khan dalam (menghadapi) Islam dan pemeluknya, hingga melakukan dengan perlakuan terhadap Islam dan pemeluknya sebagaimana (yang akan dikisahkan nantinya). Kemudian selanjutnya, ia (Ibnul ‘Alqamiy) mendapatkan penghinaan dan penindasan selama Tatar berkuasa.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/246, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Ibnul ‘Alqamiy dalam pengkhinatannya tersebut tidaklah dilakukan secara sendirian, namun ia (Ibnul ‘Alqamiy) ditemani oleh seorang pengkhianat lainnya yang bernama Nashiruddin ath-Thusiy.
النصير الطوسي محمد بن عَبْدِ اللَّهِ الطُّوسِيُّ، كَانَ يُقَالُ لَهُ الْمَوْلَى نَصِيرُ الدِّينِ، وَيُقَالُ الْخَوَاجَا نَصِيرُ الدِّينِ
An-Nashir ath-Thusiy Muhammad bin ‘Abdillah ath-Thusiy, ia dikenal dengan nama al-Maula Nashiruddin atau juga dengan nama al-Khawaja Nashiruddin.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/313, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Bahkan ia (Nashiruddin ath-Thusiy) merupakan seorang Syiah yang diidolakan dan dikagumi oleh Khomeini sang Pendeta Syiah Rafidhah.
ويشعر الناس بالخسارة أيضًا بفقدان الخواجة نصير الدين الطوسي وأمثاله ممن قدموا خدمات جليلة للإسلام
الخميني - الحكومة الإسلامية - 128
Dan manusia juga merasakan kerugian dengan kehilangan al-Khawajah Nashiruddin ath-Thusiy dan semisalnya yang telah memberikan khidmat (pengabdian) yang besar terhadap Islam (Syiah Rafidhah).
Pengabdian ath-Thusiy tersebut terhadap agama Syiah Rafidhah telah diabadikan oleh seorang Pendeta Syiah Rafidhah dalam membantai Khalifah :
نصير الدين الطوسي
استيزاره للسلطان المحتشم هولاكو خان ، ومجيئه في موكب السلطان المؤيد مع كمال الاستعداد إلى دار السلام بغداد لإرشاد العباد وإصلاح البلاد ، بإبادة ملك بني العباس ،
الخوانساري - روضات الجنات - ج 6 ص 279
Nashiruddin ath-Thusiy
Ia (Nashiruddin ath-Thusiy) membawa keluar Sulthan al-Muhtasyim Hulaku Khan, dan kedatangannya (Nashiruddin ath-Thusiy) bersama pasukan Sulthan (Hulaku Khan) yang dikuatkan dengan kekuatan penuh menuju Darus Salam Baghdad untuk memberi petunjuk kepada para hamba dan memperbaiki negeri-negeri dengan membantai Raja Bani al-‘Abbas.
Nashiruddin ath-Thusiy merupakan orang yang memprovokasi Hulaku Khan agar menyerang Baghdad dan membantai sang Khalifah, sebagaimana yang telah diakui oleh sebuah media propaganda Syiah Rafidhah.
Khajah Nashiruddin Tusi
Ia adalah Muhammad putra Muhammad putra Hasan Tusi. Ia juga disebut dengan Abu Ja’far, juga Nashiruddin. Lahir di dunia pada hari sabtu 11 Jumadil Awal 597 H. yang bertepatan pada 18 Februari 1201. Beliau lahir di Tus. Keluarganya, sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan, berasal dari Johrud.
Ayah beliau adalah Muhammad bin Hasan, seorang alim, faqih dan ahli hadis yang terkenal di Tus. Karena beliau bermazhab Syiah, Khajah Nashiruddin Tusi juga bermazhab Syiah. Ia sejak kecil berguru pada ustad-ustad dan ulama Syiah. [Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, halaman 15]
Satu perkara yang sangat sensitif dalam kehidupan Khajah di waktu itu adalah peranannya dalam menjatuhkan kekhilafahan Al Mu’tashim Billah, khalifah terakhir dinasti Abbasiyah. Mengenai masalah ini disebutkan dalam beberapa kitab sejarah bahwa setelah Hulaku Khan menguasai benteng-benteng dan istana-istana Ismailiyun di Qazvin, ia pergi ke Hamadan. Ia ragu-ragu untuk mengirim pasukan dalam rangka menyerang Baghdad; oleh karena itu ia mulai meminta pertimbangan dan musyawarah. Hisamuddin Munajim (salah satu ahli nujumnya) berkata kepada Hulaku Khan bahwa tidak baik untuk menyerang istana Baghdad; karena setiap raja yang berniat menyerang dinasti Abbasiyah pasti tidak mendapatkan apa-apa.[Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, halaman 36]
Akan tetapi Khajah berkata kepadanya bahwa tidak akan terjadi apa-apa selain tergulingkannya khalifah dan digantikan dengan Hulaku Khan. Lalu ia menjelaskan bahwa banyak tokoh besar Islam yang telah syahid dan tidak timbul keburukan apa-apa. [Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, halaman 36]
Ketika Hulaku Khan membabi buta dan benar-benar mendesak untuk membunuh khalifah, banyak yang mencegahnya dan berkata bahwa mengotori pedang dengan darah khalifah akan menimbulkan gejolak dan kebangkitan umum. [Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, halaman 24]
Hisamuddin Munajim berkata, “Jika khalifah terbunuh, alam semesta akan menjadi gelap dan akan terlihat pertanda-pertanda kiamat.” [Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, halaman 38]
Hulaku Khan mulai gugup mendengar perkataannya lalu bermusyawarah dengan Khajah Nashiruddin. Khajah berkata, “Peredaran alam semesta bertumpu pada tabiatnya. Banyak orang-orang yang lebih mulia dari Khalifah Bani Abbas yang terbunuh tapi alam semesta tetap terjaga…” [Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, halaman 24]
Hulaku Khan menyukai pendapatnya dan akhirnya khalifah terbunuh. Setelah itu Khajah diperintahkan Hulaku Khan untuk mendeklarasikan kemenangannya. [Hauzah Maya Media Propaganda Syiah Rafidhah]
Pengkhianatan yang dilakukan oleh Syiah Rafidhah akan terus berlanjut hingga seluruh kaum Muslimin yang mencintai para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam binasa di seluruh dunia. Sehingga mereka (Syiah Rafidhah) akan menimpakan berbagai fitnah kepada kaum Muslimin dengan menumpahkan darah dan merampas harta orang-orang Islam.
خَمْسِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ
Tahun 450 Hijriyyah
فيها كنت فتنة الخبيث البساسيري، وهو أرسلان التركي
Pada tahun ini terjadi fitnah buruk al-Basasiriy, yang (bernama) Arsalan at-Turkiy.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/95, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Arsalan Abu al-Haris al-Basasiriy at-Turkiy, ia merupakan budaknya Baha-uddaulah. Awalnya ia merupakan budaknya seorang lelaki dari penduduk kota Basa, lalu dinisbatkan kepadanya sehingga ia disebut Basasiriy dan bergelar Malik al-Mudzhaffar. Kemudian ia menjadi pemuka besar di sisi Khalifah al-Qaim Biamrillah, yang di mana (Khalifah) tidak memutuskan suatu perkara tanpa dirinya (al-Basasiriy), dan (disampaikanlah) khutbah atas (namanya) di atas mimbar-mimbar seluruh wilayah Irak. Lantas ia menjadi lalim, menindas, membangkang dan tiran serta memberontak kepada Khalifah dan kaum Muslimin dengan menyeru kepada Khilafah al-Fathimiyyin (Syiah).
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/103, al-Hafizh Ibnu Katsir]
فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْأَحَدِ الثَّامِنِ مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ جاء الْبَسَاسِيرِيُّ إِلَى بَغْدَادَ وَمَعَهُ الرَّايَاتُ الْبِيضُ الْمِصْرِيَّةُ، وعلى رأسه أعلام مكتوب عليها اسم الْمُسْتَنْصِرُ بِاللَّهِ أَبُو تَمِيمٍ مَعَدٌّ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ،
Pada hari Ahad tanggal 8 Dzulqa’dah di tahun ini (450 H), al-Basasiriy datang ke Baghdad dengan membawa bendera-bendera putih Mesir. Di atas bendera-bendera tersebut tertuliskan nama al-Mustanshir Billah Abu Tamim Ma’ad Amirul Mukminin (Syiah al-Fathimiyyah).
فتلقاه أهل الكرخ الرافضة وسألوه أن يجتاز من عندهم، فدخل الكرخ وخرج إلى مشرعة الزاويا، فخيم بها والناس إذ ذاك في مجاعة وضر شديد، وَنَزَلَ قُرَيْشُ بْنُ بَدْرَانَ فِي نَحْوٍ مِنْ مِائَتَيْ فَارِسٍ عَلَى مَشْرَعَةِ بَابِ الْبَصْرَةِ، وَكَانَ الْبَسَاسِيرِيُّ، قَدْ جَمَعَ الْعَيَّارِينَ وَأَطْمَعَهُمْ فِي نَهْبِ دَارِ الْخِلَافَةِ، وَنَهَبَ أَهْلُ الْكَرْخِ دُورَ أَهْلِ السُّنَّةِ بِبَابِ الْبَصْرَةِ، وَنُهِبَتْ دَارُ قَاضِي الْقُضَاةِ الدامغاني،
Lalu penduduk al-Karkh Rafidhah (Syiah) menyambutnya (al-Basasiriy) dan memintanya untuk mampir ke tempat mereka. Lantas ia (al-Basasiriy) memasuki al-Karkh dan keluar menuju Masyra’ah az-Zawiya serta mendirikan perkemahan di sana, dan pada saat itu manusia sedang mengalami paceklik dan kesulitan yang amat sangat. Sedangkan Quraisy bin Badran singgah bersama sekitar 200 pasukan berkuda di Masyra’ah Bab al-Bashrah. Al-Basasiriy pun juga mengumpulkan orang-orang yang sedang kesulitan dan memberi mereka makan untuk (membantu) dalam merampas kediaman Khalifah. Sementara penduduk al-Karkh merampas rumah-rumah Ahlus Sunnah di Bab al-Bashrah, termasuk yang dirampas adalah rumahnya Qadhi al-Qudhah ad-Damaghaniy.
وتملك أكثر السجلات والكتب الحكمية، وبيعت للعطارين، ونهبت دور المتعلقين بخدمة الخليفة، وَأَعَادَتِ الرَّوَافِضُ الْأَذَانَ بِحَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ، وأذن به في سائر نواحي بغداد في الجمعات والجماعات وخطب ببغداد للخليفة المستنصر العبيدي، على منابرها وغيرها، وَضُرِبَتْ لَهُ السِّكَّةُ عَلَى الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ،
Serta menyita banyak catatan dan kitab-kitab pemerintahan dengan menjualnya kepada para pedagang minyak wangi. Dan dirampas juga rumah-rumah orang yang terkait dalam melayani Khalifah, lalu Rawafidh (Syiah Rafidhah) mengembalikan adzan dengan “Hayya ‘ala khairil ‘amal.” Adzannya tersebut dikumandangkan di seluruh (Masjid) wilayah Baghdad pada saat (shalat) Jum’at dan (shalat) jama’ah serta (disampaikan) khutbah atas (nama) Khalifah al-Mustanshir al-‘Ubaidiy (Syiah al-Fathimiyyah) di atas mimbar-mimbarnya (Baghdad) dan selainnya. Lalu dicetaklah koin (uang) dengan atas (namanya) pada (koin) emas dan perak.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/96, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Adapun al-Basasiriy dan perilakunya di Baghdad, ia berkendara pada hari ‘Idul ‘Adha dan (memerintahkan) para khatib dan muadzin mengenakan (pakaian) putih, dan begitu juga dengan sahabat-sahabatnya, serta di atas kepalanya (terikat) bendera Mesir (Syiah al-Fathimiyyah). Tatkala khutbah (disampaikan) dengan atas (nama) Khalifah Mesir (Syiah al-Fathimiyyah), maka Rawafidh (Syiah Rafidhah) merasa sangat gembira, sehingga adzan di seluruh Irak (dikumandangkan) dengan “Hayya ‘ala khairil ‘amal.” Al-Basasiriy pun membalas dendam kepada para pembesar penduduk Baghdad dengan pembalasan yang sangat dahsyat.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/97, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Kemudian al-Basasiriy berhasil dibunuh setahun kemudian.
ثمان وخمسين وأربعمائة
Tahun 458 Hijriyyah
فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَغْلَقَ أَهْلُ الْكَرْخِ دَكَاكِينَهُمْ وأحضروا نساء ينحن على الحسين، كما جرت به عادتهم السالفة في بدعتهم المتقدمة المخالفة، فَحِينَ وَقَعَ ذَلِكَ أَنْكَرَتْهُ الْعَامَّةُ، وَطَلَبَ الْخَلِيفَةُ أبا الغنائم وأنكر عليه ذلك.
Pada hari ‘Asyura, penduduk al-Karkh menutup toko-toko mereka dan menghadirkan para wanita untuk meratapi al-Husain sebagaimana yang menjadi kebiasaan para pendahulu mereka dalam bid’ah yang menyelisihi (sunnah). Tatkala (bid’ah) ini terjadi maka masyarakat umum mengingkarinya dan Khalifah memanggil Abu al-Ghunaim seraya mengingkarinya (bid’ah ratapan).
فاعتذر إليه بأنه لم يعلم به، وأنه حين علم أَزَالَهُ، وَتَرَدَّدَ أَهْلُ الْكَرْخِ إِلَى الدِّيوَانِ يَعْتَذِرُونَ من ذلك، وخرج التوقيع بكفر من سب الصحابة وأظهر الْبِدَعَ.
Lalu ia (Abu al-Ghunaim) meminta maaf kepadanya (Khalifah) bahwasanya ia tidak mengetahuinya dan jika ia mengetahuinya maka ia akan menghentikannya. Lantas penduduk al-Karkh pun berdatangan ke kantor (pemerintahan) dan meminta maaf atas perbuatan tersebut. Lalu dikeluarkanlah keputusan kafir bagi yang mencaci Shahabat dan menampakkan kebid’ahan.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/114, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Pada tahun ini terjadi fitnah yang besar antara Rawafidh (Syiah Rafidhah) dengan Sunnah di Baghdad.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/165, al-Hafizh Ibnu Katsir]
ثنتين وثمانين وأربعمائة
Tahun 482 Hijriyyah
وَفِيهَا كَانَتْ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ بَيْنَ الرَّوَافِضِ وَالسُّنَّةِ، وَرَفَعُوا الْمَصَاحِفَ، وَجَرَتْ حروب طويلة، وقتل فيها خَلْقٌ كَثِيرٌ، نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي الْمُنْتَظَمِ مِنْ خَطِّ ابْنِ عَقِيلٍ: أنَّه قُتِلَ فِي هَذِهِ السَّنَةِ قَرِيبٌ مِنْ مِائَتَيْ رَجُلٍ، قَالَ. وَسَبَّ أَهْلُ الْكَرْخِ الصَّحَابَةَ وَأَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم، فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى من فعل ذلك من أهل الكرخ، وإنما حكيت هذا ليعلم مَا فِي طَوَايَا الرَّوَافِضِ مِنَ الْخُبْثِ وَالْبُغْضِ لدين الإسلام وأهله، ومن العداوة الْبَاطِنَةِ الْكَامِنَةِ فِي قُلُوبِهِمْ، لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَشَرِيعَتِهِ.
Pada tahun ini terjadi fitnah besar antara Rawafidh (Syiah Rafidhah) dengan Sunnah, mereka mengangkat mushaf dan terjadi pertempuran yang berkelanjutan dengan menewaskan banyak orang. Ibnul Jauziy menukilkan di dalam (kitab) al-Muntadzham dari redaksi Ibnu ‘Aqil bahwasanya yang terbunuh pada tahun ini berjumlah sekitar 200 orang, ia berkata, “Penduduk al-Karkh mencaci para Shahabat dan isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam." –semoga laknat Allah menimpa penduduk al-Karkh yang telah melakukan perbuatan tersebut.- Aku mengisahkan peristiwa ini agar dapat mengetahui hakikat Rawafidh (Syiah Rafidhah) yang berupa kebusukan dan kebencian kepada Islam dan pemeluknya, serta permusuhan yang tersembunyi di dalam hati-hati mereka (Syiah Rafidhah) terhadap Allah dan Rasul-Nya beserta syari’at-Nya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 12/166, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Ibnu al-Atsir menyampaikan penjelasan yang panjang mengenai keluarnya sekelompok Tatar sekali lagi yang berasal dari negeri yang berada di balik sungai. Penyebab kedatangan mereka pada tahun ini adalah bahwasanya al-Isma’iliyyah (Syiah) mengirimkan surat kepada mereka (Tatar) dengan mengabarkan tentang melemahnya amir Jalaluddin bin Khuwarizmi Syah, dan bahwasanya ia (Jalaluddin bin Khuwarizmi Syah) memusuhi raja-raja yang berada di sekitarnya, termasuk Khalifah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/150, al-Hafizh Ibnu Katsir]
أثنين وأربعين وستمائة
Tahun 642 Hijriyyah
فِيهَا اسْتَوْزَرَ الْخَلِيفَةُ الْمُسْتَعْصِمُ بِاللَّهِ مُؤَيِّدَ الدِّينِ أَبَا طَالِبٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيِّ بن محمد العلقمي المشؤم على نفسه، وعلى أهل بغداد، الذي لَمْ يَعْصِمِ الْمُسْتَعْصِمَ فِي وِزَارَتِهِ، فإنَّه لَمْ يَكُنْ وَزِيرَ صِدْقٍ وَلَا مَرْضِيَّ الطَّرِيقَةِ، فَإِنَّهُ هُوَ الَّذِي أَعَانَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي قَضِيَّةِ هولاكو وَجُنُودِهِ قَبَّحَهُ اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ،
Pada tahun ini Khalifah al-Musta’shim Billah mengangkat Mu-ayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad bin ‘Aliy bin Muhammad al-‘Alqamiy sebagai Wazir (Menteri), yang menjadi petaka bagi dirinya sendiri dan penduduk Baghdad. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) tidak melindungi al-Musta’shim sebagai Wazirnya, namun sesungguhnya ia (Ibnul ‘Alqamiy) bukanlah Wazir yang jujur dengan perilakunya yang buruk. Sesungguhnya ia (Ibnul ‘Alqamiy) telah menolong Hulaku Khan dan pasukannya dalam menghadapi kaum Muslimin. –Semoga Allah memburukkannya (Ibnul ‘Alqamiy) dan juga kepada mereka (Tatar)-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/192, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Hulaku Khan beserta seluruh pasukannya, yang berjumlah sekitar 200.000 pasukan, tiba di Baghdad pada tanggal 12 bulan Muharram tahun ini. Ia sangat marah kepada Khalifah dengan sebab peristiwa di masa lalu yang sesuai dengan ketetapan dan takdir Allah. Hulaku Khan pertama kali muncul dari Hamadan menuju Irak, Wazir Mu-ayyiduddin Muhammad bin al-‘Alqamiy menyarankan Khalifah untuk mengirimkan kepadanya (Hulaku Khan) berbagai hadiah yang mewah untuk membujuknya agar mengurungkan niatnya yang memiliki tujuan dari negeri mereka (menuju Irak). Duwaidarah ash-Shaghir Aybak dan lainnya melarang Khalifah berlaku demikian (mengirimkan hadiah mewah) seraya berkata, “Sesungguhnya Wazir (Ibnul ‘Alqamiy) hendak mendapatkan (hati) raja Tatar dengan mengirimkan harta kepadanya (Hulaku Khan). Lalu (Khalifah) menerima saran mereka (Duwaidarah ash-Shaghir Aybak dan lainnya) dengan mengirimkan (hadiah) yang kurang bernilai.
فأرسل شيئاً من الهدايا فاحتقرها هلاكو خان، وَأَرْسَلَ إِلَى الْخَلِيفَةِ يَطْلُبُ مِنْهُ دُوَيْدَارَهُ الْمَذْكُورَ، وسليمان شاه، فلم يبعثهما إليه ولا بالا بِهِ حَتَّى أَزِفَ قُدُومُهُ، وَوَصَلَ بَغْدَادَ بِجُنُودِهِ الْكَثِيرَةِ الْكَافِرَةِ الْفَاجِرَةِ الظَّالِمَةِ الْغَاشِمَةِ، مِمَّنْ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَأَحَاطُوا بِبَغْدَادَ من ناحيتها الغربية والشرقية، وجيوش بَغْدَادَ فِي غَايَةِ الْقِلَّةِ وَنِهَايَةِ الذِّلَّةِ، لَا يبلغون عشرة آلاف فارس، وهم وَبَقِيَّةُ الْجَيْشِ، كُلُّهُمْ قَدْ صُرِفُوا عَنْ إِقْطَاعَاتِهِمْ حَتَّى اسْتَعْطَى كَثِيرٌ مِنْهُمْ فِي الْأَسْوَاقِ وَأَبْوَابِ المساجد، وأنشد فيهم الشعراء قصائد يرثون لهم وَيَحْزَنُونَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ،
Maka dikirimlah hadiah tersebut, lantas Hulakhu Khan pun memandang hina. Lalu ia (Hulaku Khan) mengirim utusan kepada Khalifah agar menyerahkan Duwaidarah dan Sulayman Syah. Namun (Khalifah) tidak menyerahkan keduanya kepadanya (Hulaku Khan), hingga (Tatar) datang menyerbu. Lalu tibalah pasukannya (Hulaku Khan) yang besar, kafir, fajir, dzhalim, kejam dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, di Baghdad. Mereka (Tatar) mengepung Baghdad dari arah barat dan timur, sedangkan pasukan Baghdad jumlahnya sangat sedikit dan melemah, yakni tidak sampai 10.000 pasukan berkuda. Sementara pasukan yang tersisa, seluruhnya telah dipecat sebagai (pasukan) hingga mengemis, yang di mana kebanyakannya mereka (mengemis) di pasar-pasar dan pintu-pintu Masjid. Lalu disenandungkanlah untuk mereka berbagai syair yang bertujuan untuk memberikan simpati dan duka cita atas Islam dan pemeluknya.
Semua (kebijakan) itu adalah berasal dari pendapatnya Wazir Ibnul ‘Alqamiy ar-Rafidhiy (Syiah). (Kebijakan) tersebut (diterapkan) pada tahun lalu tatkala terjadi pertempuran yang besar antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah (Syiah) dengan dijarahnya al-Karkh yang merupakan wilayahnya Rafidhah (Syiah), bahkan dijarah (juga) rumah-rumah kerabat Wazir (Ibnul ‘Alqamiy), sehingga ia (Ibnul ‘Alqamiy) sangat mendendam. (Tragedi) inilah yang menyebabkan (Ibnul ‘Alqamiy) merencanakan (kebijakan) tersebut terhadap Islam dan pemeluknya, sehingga terjadilah berbagai kekejaman yang belum pernah tercatat (dalam sejarah) mengenai kejadian buruk tersebut sejak dibangunnya Baghdad hingga saat ini.
وَلِهَذَا كَانَ أَوَّلُ مَنْ بَرَزَ إِلَى التتار هو، فخرج بأهله وأصحابه وخدمه وحشمه، فاجتمع بالسلطان هلاكو خان لعنه الله،
Oleh karena itu, orang yang pertama kali yang menemui Tatar adalah ia (Ibnul ‘Alqamiy), lantas ia (Ibnul ‘Alqamiy) keluar bersama keluarganya, para sahabatnya, pelayannya dan rombongannya, lalu mereka bergabung dengan Sulthan Hulaku Khan. –Semoga Allah melaknatnya-
Kemudian ia (Ibnul ‘Alqamiy) kembali seraya menyarankan Khalifah untuk keluar menemuinya (Hulaku Khan) agar terjadi perjanjian damai dengan (syarat) setengah penghasilan Irak diserahkan kepada mereka (Tatar) dan setengahnya lagi untuk Khalifah. Lalu keluarlah Khalifah beserta 700 orang berkendara yang terdiri dari Qadhi, Fuqaha, kaum Shufi, dan kepala pasukan beserta pejabat pemerintahan. Tatkala mereka mendekati tempat singgah Sulthan Hulaku Khan, mereka (rombongan) dihalangi dari Khalifah kecuali 17 orang saja. Lantas Khalifah bersama (17 orang) tersebut (menemui Hulaku Khan), lalu diturunkanlah (rombongan) sisanya dari kendaraan yang kemudian (kendaraannya) dirampas dan mereka dibantai seluruhnya.
Tatkala Khalifah dihadapkan kepada Hulaku Khan, maka ia (Hulaku Khan) bertanya kepadanya (Khalifah) mengenai banyak hal, bahkan dikatakan bahwasanya suara Khalifah bergemetar ketika melihat penghinaan dan kebengisan (Hulaku Khan). Kemudian (Khalifah) kembali ke Baghdad yang ditemani oleh Khawajah Nashiruddin ath-Thusiy dan Wazir Ibul ‘Alqamiy beserta selainnya, yang di mana saat itu Khalifah berada dalam pengawalan (pasukan Tatar). Lantas diambillah banyak sekali dari kediaman Khilafah berupa emas, perhiasan, perabotan, mutiara dan barang-barang berharga lainnya. Segerombolan Rafidhah (Syiah) dan selainnya dari kalangan munafik menyarankan Hulaku Khan untuk tidak mengambil perjanjian damai dengan Khalifah. Wazir (Ibnul ‘Alqamiy) berkata, “Jika terjadi perdamaian dengan (pembagian hasil Irak) yang sama (50:50) janganlah dilanjutkan melainkan hanya setahun atau dua tahun saja, kemudian perkaranya kembali seperti sebelumnya (menguasai Irak seluruhnya)”. Lantas mereka menghasutnya (Hulaku Khan) untuk membunuh Khalifah.
Ketika Khalifah kembali menuju Sulthan Hulaku Khan, maka ia (Hulaku Khan) memerintahkan untuk membunuhnya (Khalifah). Dikatakan bahwasanya orang yang menyarankan membunuhnya (Khalifah) adalah Wazir Ibnul ‘Alqamiy dan Maula Nashiruddin ath-Thusiy. An-Nashir berada di sisi Hulaku dengan menemaninya dalam rangka mengabdi kepadanya tatkala (Hulaku Khan) menaklukkan benteng-benteng al-Alamut dan merebutnya dari tangan Ismailiyyah.
وَكَانَ النَّصِيرُ وَزِيرًا لِشَمْسِ الشُّمُوسِ وَلِأَبِيهِ مِنْ قَبْلِهِ عَلَاءِ الدِّينِ بْنِ جلال الدين، وكانوا ينسبون إلى نزار بن المستنصر العبيدي، وانتخب هولاكو النَّصِيرَ لِيَكُونَ فِي خِدْمَتِهِ كَالْوَزِيرِ الْمُشِيرِ، فَلَمَّا قدم هولاكو وتهيب من قتل الخليفة هون عليه الوزير ذَلِكَ فَقَتَلُوهُ رَفْسًا، وَهُوَ فِي جُوَالِقَ لِئَلَّا يقع على الارض شئ مِنْ دَمِهِ، خَافُوا أَنْ يُؤْخَذَ بِثَأْرِهِ فِيمَا قيل لهم، وقيل بل خنق، ويقال بل أغرق فالله أعلم،
An-Nashir adalah Wazirnya Syams asy-Syumus dan sebelumnya merupakan (Wazir) ayahnya, yakni ‘Ala-uddin bin Jalaluddin, mereka menisbatkan (diri) kepada Nazar bin al-Mustanshir al-‘Ubaidiy. Hulaku memilih an-Nashir agar menjadi pelayannya seperti layaknya seorang Wazir penasihat. Tatkala Hulaku datang, ia (Hulaku Khan) khawatir untuk membunuh Khalifah. Lantas Wazir (Nashiruddin ath-Thusiy) pun menguatkan (hatinya) untuk membunuhnya segera, pada saat itu (Khalifah) sedang berada di atas pelananya, (pembunuhannya) agar jangan sampai darahnya jatuh ke atas tanah, mereka takut akan terjadi balas dendam menurut keyakinan mereka. Ada yang mengatakan (Khalifah mati) dicekik, dan ada pula yang mengatakan (Khalifah mati) ditenggelamkan. –Wallahu a’lam-
Sehingga mereka (Ibnul ‘Alqamiy dan ath-Thusiy Syiah Rafidhah) menanggung dosanya (Hulaku Khan) dan dosa mereka (dalam membunuh) orang-orang yang mulia yang berasal dari kalangan Ulama, Qadhi, tokoh, ketua dan para panglima serta orang-orang penting yang merupakan (Ahlul) Halli wal ‘Aqdi di negerinya (Baghdad).
Setelah itu mereka menyerang negeri (Baghdad) dengan membantai seluruhnya baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan orang tua serta paruh baya ataupun remaja. Manusia banyak yang masuk ke dalam sumur-sumur dan tempat pembuangan kotoran (spiteng) sehingga mendapatkan kotoran, mereka bersembunyi selama beberapa hari tanpa menampakkan (diri). Terdapat sejumlah manusia berkumpul di sebuah rumah penginapan dan menutup pintunya, namun Tatar membukanya baik dengan mendobraknya ataupun membakarnya. Lantas mereka (Tatar) masuk menyerang mereka hingga mereka (melarikan diri) ke tempat-tempat yang tinggi. Akhirnya mereka (Tatar) membantainya di atas atap hingga talang (rumahnya) mengalirkan darah ke gang-gang jalan. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
Dan begitu juga di Masjid-Masjid Jami’ dan pondok, tidak ada yang dapat melarikan diri seorang pun, namun (yang selamat) adalah orang-orang (kafir) dzimmi dari kalangan Yahudi dan Nashrani, sedangkan orang-orang yang dapat melarikan diri pergi menuju ke rumah Wazir Ibnul ‘Alqamiy ar-Rafidhiy (Syiah), dan (juga terdapat) sekelompok pedagang yang telah mendapatkan dari mereka (Tatar) sebuah jaminan keamanan, mereka (para pedagang) telah menyerahkan harta yang berjumlah besar, sehingga mereka selamat dan begitu pula dengan hartanya. Sebelumnya Baghdad merupakan kota yang paling aman, namun sekarang telah hancur yang di dalamnya hanya terdapat sedikit manusia. Mereka dalam keadaan ketakutan, kelaparan, terhina, dan lemah.
وَكَانَ الْوَزِيرُ ابْنُ الْعَلْقَمِيِّ قَبْلَ هَذِهِ الْحَادِثَةِ يَجْتَهِدُ فِي صَرْفِ الْجُيُوشِ وإسقاط اسمهم مِنَ الدِّيوَانِ، فَكَانَتِ الْعَسَاكِرُ فِي آخِرِ أَيَّامِ الْمُسْتَنْصِرِ قَرِيبًا مِنْ مِائَةِ أَلْفِ مُقَاتِلٍ، مِنْهُمْ من الأمراء من هو كالملوك الأكابر الأكاسر، فَلَمْ يَزَلْ يَجْتَهِدُ فِي تَقْلِيلِهِمْ إِلَى أَنْ لم يبق سوى عَشَرَةُ آلَافٍ، ثُمَّ كَاتَبَ التَّتَارَ وَأَطْمَعَهُمْ فِي أخذ البلاد، وسهل عليهم ذلك، وحكى لَهُمْ حَقِيقَةَ الْحَالِ، وَكَشَفَ لَهُمْ ضَعْفَ الرِّجَالِ، وَذَلِكَ كُلُّهُ طَمَعًا مِنْهُ أَنْ يُزِيلَ السُّنَّةَ بالكلية، وأن يظهر البدعة الرافضة وَأَنْ يُقِيمَ خَلِيفَةً مَنَ الْفَاطِمِيِّينَ، وَأَنْ يُبِيدَ العلماء والمفتيين، وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ، وَقَدْ رَدَّ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَأَذَلَّهُ بَعْدَ الْعِزَّةِ الْقَعْسَاءِ، وَجَعَلَهُ حوشكاشا للتتار بعد ما كَانَ وَزِيرًا لِلْخُلَفَاءِ، وَاكْتَسَبَ إِثْمَ مَنْ قُتِلَ ببغداد مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْأَطْفَالِ،
Sebelum peristiwa ini, Wazir Ibnul ‘Alqamiy berusaha untuk memecat pasukan dan mengurangi jumlah mereka dari kantor (pemerintahan). (Jumlah) pasukan di akhir masa pemerintahan al-Mustanshir adalah mendekati 100.000 pasukan, yang terdiri dari para panglima yang setara dengan raja-raja besar. (Ibnul ‘Alqamiy) terus berusaha untuk mengurangi (jumlah) mereka hingga tidak tersisa kecuali hanya 10.000 pasukan saja. Kemudian mengirimkan surat kepada Tatar dan membujuknya untuk merampas negeri (Baghdad), dan ia (Ibnul ‘Alqamiy) juga memudahkan (jalan) bagi mereka (Tatar) serta menceritakan segala rahasia dengan membeberkan kepada mereka (Tatar) mengenai kelemahan pasukan. Semua itu dilakukan atas dasar ambisinya (Ibnul ‘Alqamiy) dalam menghilangkan Sunnah secara keseluruhan, menyebarkan bid’ah Rafidhah (Syiah) dan hendak mendirikan kekhalifahan yang berasal dari al-Fathimiyyin (Syiah), serta melenyapkan para Ulama dan Mufti. Akan tetapi, Allah Mahakuasa untuk menjalankan urusan-Nya. Maka berbaliklah menjadi bumerang (baginya), dan terhina setelah berjaya. (Allah) menjadikannya (Ibnul ‘Alqamiy) sebagai antek Tatar yang sebelumnya menjadi Wazirnya Khalifah. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) telah mendapatkan dosa atas pembantaian di Baghdad dari kalangan laki-laki dan wanita serta anak-anak.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/233-235, al-Hafizh Ibnu Katsir]
وَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاس فِي كَمِّيَّةِ مَنْ قُتِلَ بِبَغْدَادَ مِنَ المسلمين في هذه الوقعة.
Manusia berselisih mengenai jumlah orang yang terbunuh di Baghdad yang berasal dari kalangan kaum Muslimin di peristiwa ini.
Ada yang mengatakan 800.000 jiwa, ada pula yang mengatakan 1.800.000 jiwa, serta ada juga yang mengatakan mencapai 2.000.000 jiwa. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzhim-
(Tatar) memasuki Baghdad pada akhir bulan Muharram, sementara pedang-pedang terus membantai penduduknya selama 40 hari. Khalifah al-Musta’shim Billah Amirul Mukminin terbunuh pada hari Rabu tanggal 14 Shafar dan makamnya tidak berbekas. Ia berusia 46 tahun 4 bulan, dan ia menjadi Khalifah selama 15 tahun 8 bulan. Dan yang ikut terbunuh bersamanya adalah anaknya yang terbesar, yakni Abu al-‘Abbas Ahmad yang berusia 25 tahun. Kemudian ikut terbunuh juga anaknya yang tengah, yakni Abu al-Fadhl ‘Abdurrahman yang berusia 23 tahun. Sedangkan anaknya yang paling kecil, yakni Mubarak, telah tertawan. Ketiga saudarinya, yakni Fathimah dan Khadijah serta Maryam ikut tertawan juga. Dan juga yang tertawan di kediaman Khalifah yang berasal dari kalangan gadis sekitar 1.000 gadis. –Wallahu a’lam fainna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
وَقُتِلَ أُسْتَاذُ دَارِ الْخِلَافَةِ الشَّيْخِ مُحْيِي الدِّين يُوسُفَ بْنِ الشَّيْخِ أَبِي الْفَرَجِ بْنِ الْجَوْزِيِّ، وَكَانَ عدو الوزير، وقتل أولاده الثلاثة: عبد الله، وعبد الرحمن، وعبد الكريم، وأكابر الدولة واحداً بعد واحده، منهم الديودار الصَّغِيرُ مُجَاهِدُ الدِّينِ أَيْبَكُ، وَشِهَابُ الدِّينِ سُلَيْمَانُ شَاهْ، وَجَمَاعَةٌ مِنْ أُمَرَاءِ السُّنَّةِ وَأَكَابِرِ الْبَلَدِ.
Terbunuh juga kepala istana Khalifah, yakni Syaikh Muhyiddin Yusuf bin Syaikh Abu al-Faraj bin al-Jauziy, ia adalah musuhnya Wazir (Ibnul ‘Alqamiy). Serta ikut terbunuh juga ketiga anaknya, yakni ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman serta ‘Abdulkarim. Para pejabat pemerintahan (ikut terbunuh juga) satu persatu, mereka adalah Duwaidar ash-Shaghir Mujahiduddin Aybak dan Syihabuddin Sulayman Syah serta sejumlah Umara Sunnah dan tokoh negeri (Baghdad).
Terdapat seorang laki-laki yang dipanggil dari kediaman Khalifah yang berasal dari Bani al-‘Abbas, lantas ia keluar bersama anak-anak dan isteri-isterinya, lalu dibawa ke pemakaman al-Khallal berhadapan dengan balkon (istana) dan disembelih seperti menyembelih domba. Kemudian dipilihlah (oleh Tatar) para puterinya dan pelayan wanitanya.
Dan dibunuh juga Syaikh asy-Syuyukh, seorang pendidik Khalifah yakni Shadruddin ‘Aliy bin Nayyar. Dibantai juga para Khatib, Imam, penghafal al-Qur’an. Sehingga Masjid-Masjid tidak dapat menyelenggarakan (shalat) Jama’ah dan (shalat) Jum’at selama beberapa bulan di Baghdad.
Wazir Ibnul ‘Alqamiy –semoga Allah memburukkannya dan melaknatnya- hendak mengosongkan Masjid-Masjid dan madrasah serta pondok di Baghdad, kemudian terus berlanjut dengan (menghancurkan) tempat-tempat monumen. Selanjutnya ia (Ibnul ‘Alqamiy) hendak mendirikan bagi Rafidhah (Syiah) sebuah madrasah yang sangat besar untuk menyebarkan ilmu (keyakinan) mereka (Syiah Rafidhah). Namun Allah Ta’ala tidak menakdirkan ambisinya tersebut. Bahkan (Allah) menghilangkan kenikmatan darinya dan memendekkan umurnya setelahnya (hanya) beberapa bulan dengan segera dari peristiwa ini. Kemudian ia (Ibnul ‘Alqamiy) diikuti oleh anaknya (dalam kematian), sehingga keduanya dikumpulkan di lapisan terbawah dari Neraka. –Wallahu a’lam-
Ketika perkara yang telah ditakdirkan tersebut telah berakhir (setelah berlalu) selama 40 hari, sehingga yang tersisa dari Baghdad hanyalah kekosongan penghuninya dari seorang pun melainkan hanya beberapa saja. (Mayat-mayat) yang dibantai tergeletak di jalan-jalan laksana bukit (yang menumpuk). Kemudian turunlah hujan kepada mereka (mayat), sehingga jasad mereka berubah dan (mengeluarkan) bau busuk di kota. Udara pun juga berubah, sehingga terjadi wabah yang sangat dahsyat, hingga mengganggu dan mencemarkan udara di negeri Syam. Banyak manusia yang meninggal akibat perubahan udara dan angin yang tercemar. Dengan demikian, terkumpullah (masalah) bagi manusia, yaitu lonjakan harga, wabah, fitnah dan penyakit. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
ولما نودي ببغداد بالأمان خرج من تحت الأرض من كان بالمطامير والقنى والمقابر كَأَنَّهُمُ الْمَوْتَى إِذَا نُبِشُوا مِنْ قُبُورِهِمْ، وَقَدْ أَنْكَرَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَا يَعْرِفُ الْوَالِدُ وَلَدَهُ وَلَا الْأَخُ أَخَاهُ، وَأَخَذَهُمُ الْوَبَاءُ الشَّدِيدُ فَتَفَانَوْا وتلاحقوا بمن سبقهم من القتلى، واجتمعوا تَحْتَ الثَّرَى بِأَمْرِ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى، اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الحسنى.
Tatkala diumumkan bahwasanya Baghdad telah aman, maka keluarlah dari bawah tanah pemakaman dan kanal serta pekuburan, mereka seperti orang mati yang bangkit dari kuburnya. Sebagian mereka mengingkari sebagian lainnya, orang tua tidak mengenali anaknya, sesama saudara (juga tidak saling mengenali). Wabah yang sangat ganas menyerang mereka, sehingga mereka tidak dapat (hidup) lebih lama dengan menyusul orang-orang yang sebelumnya, yakni tewas. Mereka berkumpul di tempat peristirahatan dengan perintah Yang Maha Mengetahui segala rahasia. –Allahu laa ilaha illa huwa lahul asma-ul husna-
وكان رحيل السلطان المسلط هولاكو خان عَنْ بَغْدَادَ فِي جُمَادَى الْأُولَى مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ إِلَى مَقَرِّ مُلْكِهِ، وَفَوَّضَ أَمْرَ بَغْدَادَ إلى الأمير علي بهادر، فوض إليه الشحنكية بها وإلى الوزير ابن العلقمي فلم يمهله الله ولا أهمله، بَلْ أَخَذَهُ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ، فِي مُسْتَهَلِّ جُمَادَى الْآخِرَةِ عَنْ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ سَنَةً، وَكَانَ عِنْدَهُ فَضِيلَةٌ فِي الْإِنْشَاءِ وَلَدَيْهِ فَضِيلَةٌ فِي الأدب، ولكنه كان شيعياً جلداً رافضياً خبيثاً، فمات جهداً وَغَمًّا وَحُزْنًا وَنَدَمًا،
Sulthan Hulaku Khan pergi meninggalkan Baghdad pada bulan Jumadil Ula di tahun ini ke pusat kerajaannya. Ia (Hulaku Khan) menyerahkan kepemimpinan Baghdad kepada Amir ‘Aliy Bahadur, dan menyerahkan kepada anteknya yakni Wazir Ibnul ‘Alqamiy, namun Allah menelantarkannya, bahkan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa langsung memberinya (balasan) pada awal bulan Jumadil Akhir di usianya ke 63 tahun (yaitu kebinasaan). Ia (Ibnul ‘Alqamiy) memiliki keunggulan dalam tulisan dan juga memiliki keunggulan dalam sastra. Namun ia (Ibnul ‘Alqamiy) adalah seorang Syiah yang keras, Rafidhah Khabits. Ia (Ibnul ‘Alqamiy) mati dalam keadaan stress dan menyesal serta merasa bersalah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/235-237, al-Hafizh Ibnu Katsir]
ثمان وخمسين وستمائة
Tahun 658 Hijriyyah
اسْتَهَلَّتْ هَذِهِ السَّنَةُ بِيَوْمِ الْخَمِيسِ وَلَيْسَ لِلنَّاسِ خليفة، وملك العراقين وخراسان وغيرها من بلاد المشرق للسلطان هولاكو خان ملك التتار،
Pada awal tahun ini, yakni pada hari Kamis, manusia tidak memiliki seorang Khalifah. Sedangkan yang berkuasa di 2 (kota) Irak dan Khurasan serta lainnya adalah yang berasal dari timur, yaitu Sultan Hulaku Khan raja Tatar.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/253, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Tatkala manusia dalam kondisi seperti ini (ketiadaan Khalifah), terdapat khabar bahwasanya Tatar bergerak menuju Syam. Datanglah pasukan Mongol yang dipimpin oleh rajanya, yakni Hulaku Khan yang menyeberangi sungai Eufrat dengan jembatan buatannya. Mereka (Tatar) tiba di Halab pada tanggal 2 di bulan Shafar tahun ini, mereka (Tatar) mengepungnya (Halab) selama 7 hari, kemudian menaklukkannya dengan perjanjian damai. Lalu mereka (Tatar) mengkhianati penduduknya (Halab) dan membantai mereka dengan sangat banyak yang tidak ada yang mengetahui (jumlah)-nya melainkan hanya Allah ‘Azza wa Jal. Mereka (Tatar) merampas harta, menawan para wanita dan anak-anak. Kejadian yang dialami mereka (penduduk Halab) (tidak beda jauh) dengan apa yang dialami oleh penduduk Baghdad. Mereka (Tatar) berkeliaran di negeri-negeri dengan menghinakan orang-orang yang memiliki kehormatan. –Inna lillahi wa inna liahi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/253, al-Hafizh Ibnu Katsir]
أَرْسَلَ هُولَاكُو وَهُوَ نَازِلٌ عَلَى حَلَبَ جَيْشًا مَعَ أَمِيرٍ مِنْ كبار دولته يقال له كتبغانوين، فوردوا دِمَشْقَ فِي آخِرِ صَفَرٍ فَأَخَذُوهَا سَرِيعًا مِنْ غير ممانعة ولا مدافع
Pada saat (Hulaku Khan) sedang bermarkas di Halab, Hulaku Khan mengirimkan sebuah pasukan yang dipimpin oleh (panglima) besar negerinya yang bernama Kitbugha Nuyin. Mereka tiba di Damaskus pada akhir bulan Shafar, kemudian mereka menaklukkan (Damaskus) dengan cepat tanpa keberatan dan tanpa perlawanan.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/253-254, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Pada 10 (hari) terakhir di bulan Ramadhan tahun ini (658 H), yakni tiga hari kemudian (dalam 10 hari terakhir tersebut), datanglah sebuah berita mengenai kemenangan kaum Muslimin atas Tatar di ‘Ain Jalut.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/255, al-Hafizh Ibnu Katsir]
عَيْنِ جَالُوتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الْخَامِسَ والعشرين من رمضان، فاقتتلوا قتالاً عظيماً، فَكَانَتِ النُّصْرَةُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ لِلْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ، فَهَزَمَهُمُ المسلمون هزيمة هائلة وقتل أمير المغول كتبغانوين وجماعة من بيته، وقد قيل إن الذي قتل كتبغانوين الْأَمِيرُ جَمَالُ الدِّينِ آقُوشُ الشَّمْسِيُّ، وَاتَّبَعَهُمُ الْجَيْشُ الإسلامي يقتلونهم في كل موضع
(Pertempuran) ‘Ain Jalut terjadi pada hari Jum’at tanggal 25 bulan Ramadhan, maka terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Lantas (pertempuran) tersebut dimenangi oleh Islam dan pemeluknya –Alhamdulillah-. Kaum Muslimin berhasil mengalahkan mereka (Tatar) dengan kekalahan yang sangat besar, dan berhasil membunuh panglima Mongol, yakni Kitbugha Nuyin bersama keluarganya. Dikatakan orang yang berhasil membunuh Kitbugha Nuyin adalah Amir Jamaluddin Aqusy asy-Syamsiy. Kemudian pasukan Islam mengejar mereka seraya membantai mereka (Tatar) di setiap tempat.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/256, al-Hafizh Ibnu Katsir]
وقتلت العامة وَسَطِ الْجَامِعِ شَيْخًا رَافِضِيًّا كَانَ مُصَانِعًا لِلتَّتَارِ عَلَى أَمْوَالِ النَّاسِ يُقَالُ لَهُ الْفَخْرُ مُحَمَّدُ بن يوسف بن محمد الْكَنْجِيُّ، كَانَ خَبِيثَ الطَّوِيَّةِ مَشْرِقِيًّا مُمَالِئًا لَهُمْ على أموال المسلمين قبحه الله،
Kemudian masyarakat umum membunuh seorang Syaikh sebuah Masjid (penganut) Rafidhah (Syiah) dikarenakan telah membantu Tatar dalam (merampas) harta-harta manusia, ia bernama al-Fakhr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad al-Kanjiy. Ia adalah seorang yang keji dan licik dengan membantu mereka (Tatar) dalam (merampas) harta-harta kaum Muslimin. –semoga Allah memburukkannya-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/256, al-Hafizh Ibnu Katsir]
ثْنَتَيْنِ وَسِتِّينَ وستمائة
Tahun 662 Hijriyyah
وَفِيهَا قَدِمَ نَصِيرُ الدِّينِ الطُّوسِيُّ إِلَى بَغْدَادَ من جهة هولاكو، فَنَظَرَ فِي الْأَوْقَافِ وَأَحْوَالِ الْبَلَدِ،
Pada tahun ini Nashiruddin ath-Thusiy mendatangi Baghdad dari pihak Hulaku (Khan Tatar), untuk meninjau wakaf dan kondisi negeri.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/281, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Pada tahun ini tibalah sebuah khabar bahwasanya Sulthan Tatar, yakni Hulaku telah binasa menuju laknat dan murka Allah pada tanggal 7 bulan Rabi’ul Akhir, dengan terkena penyakit epilepsi di kota Maraghah. Ia dikuburkan di kastil Tala dan dibangunkan atasnya sebuah kubah, lalu Tatar bersepakat (mengangkat) anaknya, yakni Abgha.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/284-285, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Tatkala pemerintahan Abgha atas Tatar telah stabil, maka ia memerintahkan untuk menetapkan (tidak dilengserkan) Wazirnya, yakni Nashiruddin ath-Thusiy.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 13/293, al-Hafizh Ibnu Katsir]
Khomeini Idolakan ath Thusi Syiah Tatar Bantai Khalifah
ويشعر الناس بالخسارة أيضًا بفقدان الخواجة نصير الدين الطوسي وأمثاله ممن قدموا خدمات جليلة للإسلام
الخميني - الحكومة الإسلامية - 128
Dan manusia juga merasakan kerugian dengan kehilangan al-Khawajah Nashiruddin ath-Thusiy dan semisalnya yang telah memberikan khidmat (pengabdian) yang besar terhadap Islam (Syiah Rafidhah).
استيزاره للسلطان المحتشم هولاكو خان ، ومجيئه في موكب السلطان المؤيد مع كمال الاستعداد إلى دار السلام بغداد لإرشاد العباد وإصلاح البلاد ، بإبادة ملك بني العباس ،
الخوانساري - روضات الجنات - ج 6 ص 279
Nashiruddin ath-Thusiy
Ia (Nashiruddin ath-Thusiy) membawa keluar Sulthan al-Muhtasyim Hulaku Khan, dan kedatangannya (Nashiruddin ath-Thusiy) bersama pasukan Sulthan (Hulaku Khan) yang dikuatkan dengan kekuatan penuh menuju Darus Salam Baghdad untuk memberi petunjuk kepada para hamba dan memperbaiki negeri-negeri dengan membantai Raja Bani al-‘Abbas.