Friday, May 29, 2015

Begini Cara Inggris Memecah Dunia Arab

Begini Cara Inggris Memecah Dunia Arab [1]
Tahun 1915-1916, dua orang diplomat, Sir Mark Sykes dari Inggris dan Francois Georges-Picot dari Prancis bertemu secara rahasia memutuskan nasib dunia Arab setelah Dinasti Usmaniyah runtuh
Meskipun nama Ottoman (Utsmaniyyah) masih ada hingga 1922 (dan khalifah masih ada sampai 1924), semua bekas daerah kekuasaan Utsmaniyyah kini dipegang Eropa
PERKEMBANGAN negara-negara modern di Semenanjung Arab adalah sebuah proses yang menakjubkan sekaligus mengenaskan. Seratus tahun yang lalu, sebagian besar wilayah Arab ada di bawah kendali Kekaisaran Ottoman, sebuah pemerintahan multi-etnis berbasis di Istanbul. Kini, sebuah peta politik dunia Arab tampak seperti sebuah puzzle yang rumit.
Serangkaian kejadian yang kompleks dan ruwet pada tahun 1910-an mengakhiri kekuasaan Ottoman (Ustmaniyyah) dan bangkitnya negara-negara baru dengan perbatasan tegas di seluruh Timur Tengah, membatasi antar umat Muslim.
Meski ada banyak faktor lainnya yang menyebabkan hal ini, peran Inggris adalah yang dominan dibanding lainnya. Tiga perjanjian dibuat dengan hasil yang membingungkan dan menyebabkan Inggris tetap berada di posisinya. Hasilnya adalah konflik politik yang membagi sebagian besar wilayah Muslim tersebut.
Pecahnya Perang Dunia I
Pada musim panas 1914, sebuah perang pecah di Eropa. Sebuah sistem aliansi yang rumit, sebuah perlombaan senjata militer, ambisi-ambisi kolonial, dan salah penanganan secara luas pada level pemerintahan tertinggi menyebabkan perang yang merusak ini, yang menelan korban 12 juta orang dari 1914 hingga 1918. Pada sisi “Sekutu” tergabung kerajaan-kerajaan Inggris, Prancis, dan Rusia. Sementara kekuatan “Sentral” terdiri atas Jerman dan Austria-Hungaria.
Pada awalnya, Kekaisaran Ottoman (Kekhilafahan Ustmaniyyah) memilih untuk tetap netral. Mereka tidak sekuat negara-negara lainnya yang terlibat perang, dan pada akhirnya babak belur terkena tekanan secara internal dan eksternal. Sultan Ottoman pada titik ini hanya menjadi semacam simbol, dengan Sultan yang benar-benar berkuasa terakhir, Abdulhamid II, dilengserkan pada 1908 dan digantikan oleh pemerintahan militer dipimpin oleh “Tiga Pasha”.
Mereka berasal dari kelompok sekuler yang terpengaruh Barat, para Young Turks (Pemuda Turki). Secara finansial, Ottoman sebenarnya sedang terjepit, memiliki hutang besar terhadap poros-poros Eropa yang tidak dapat mereka bayar. Setelah mencoba bergabung dengan Sekutu dan ditolak, Ottoman akhirnya memihak Kekuatan Sentral pada bulan Oktober 1914.
Kerajaan Inggris langsung bergerak untuk menyusun rencana membubarkan Kekaisaran Ottoman dan mengembangkan kerajaan Timur Tengah mereka. Mereka telah memiliki kontrol atas Mesir sejak 1888 dan India sejak 1857. Kekaisaran Ottoman di Timur Tengah terletak tepat ditengah-tengah kedua koloni penting ini, dan Inggris bertekad untuk mengambil-alihnya sebagai bagian dari perang dunia.
Revolusi Arab
Salah satu strategi Inggris adalah untuk menimbulkan pemberontakan dari subyek-subyek Arab milik Kekaisaran Ottoman. Mereka menemukan seseorang yang bersedia dan siap membantu di Hejaz, di wilayah Barat Semenanjung Arab. Sharif Hussein bin Ali, amir (setingkat gubernur) Mekah bersedia membuat perjanjian dengan pemerintahan Inggris untuk memberontak atas Ottoman. Alasannya untuk memihak Inggris melawan Muslim lainnya tidak diketahui. Alasan-alasan yang mungkin adalah: penolakan terhadap penunjukan Tiga Pasha oleh nasionalis Turki, konflik personal dengan pemerintahan Ottoman, atau hanya ambisi pribadinya belaka.
Apapun alasannya, Sharif Hussein memutuskan untuk membelot atas pemerintahan Ottoman dan beraliansi dengan Inggris. Sebagai balasannya, Inggris menjajinkan untuk menyediakan dana dan senjata kepada para pemberontak untuk membantu mereka bertempur melawan tentara Ottoman yang lebih teroganisir. Inggris juga menjanjikan bahwa setelah perang, dia akan mendapatkan kerajaan Arabnya sendiri yang akan terdiri atas seluruh Semenanjung Arab, termasuk Suriah dan Iraq.
Surat-surat yang menunjukkan negosiasi ini disebut Korespondensi McMahon-Hussein, karena Sharif Hussein berbalas pesan dengan Komisaris Tinggi Inggris di Mesir, Sir Henry McMahon.
Pada Juni 1916, Sharif Hussein memimpin kelompok bersenjata Bedouin dari Hejaz dalam sebuah kampanye bersenjata melawan Ottoman. Dalam beberapa bulan, gerakan ini berhasil mencaplok beberapa kota di Hijaz, termasuk Jeddah dan Mekah dengan bantuan angkatan darat dan laut Inggris. Mereka memberikan bantuan dalam bentuk prajurit, senjata, uang, penasehat (termasuk Lawrence of Arabia yang legendaris), dan sebuah bendera.
Orang Inggris di Mesir menggambar sebuah bendera untuk digunakan dalam pertempuran, yang nantinya akan disebut sebagai “Bendera Revolusi Arab”. Bendera ini akan menjadi model untuk bendera-bendera di negara Arab seperti Yordania, Palestina, Sudan, Suriah, dan Kuwait.
Sementara Perang Dunia I terus berlangsung dari 1917 dan 1918, para pembelot Arab ini berhasil mengambil alih beberapa kota besar dari Ottoman. Sementara Inggris bergerak menuju Palestina dan Iraq, mengambil alih kota-kota seperti Yerusalem dan Baghdad, tentara Arab membantu mereka dengan mencaplok Amman dan Aqaba.
Perlu dicatat bahwa tentara Arab ini tidak memiliki dukungan dari sebagian besar populasi Arab. Tentara tersebut hanya sebuah gerakan minoritas yang terdiri atas beberapa ribu orang yang dipimpin oleh beberapa ketua yang mencoba untuk menaikkan kekuatan mereka sendiri. Sebagian besar orang Arab memilih untuk tidak terlibat konflik dan tidak mendukung gerakan melawan pemerintahan Ottoman.
Rencana Sharif Hussein untuk menciptakan kerajaan Arabnya sendiri mungkin akan sukses jika saja Inggris tidak membuat rencana lainnya.
Perjanjian Sykes-Picot
Sebelum Gerakan Arab bermula dan sebelum Sharif Hussein dapat menciptakan kerajaan Arabnya sendiri, Inggris dan Prancis memiliki rencana sendiri. Pada musim dingin 1915-1916, dua orang diplomat, Sir Mark Sykes dari Inggris dan Francois Georges-Picot dari Prancis bertemu secara rahasia untuk memutuskan nasib dunia Arab setelah Dinasti Usmaniyah runtuh.
Menurut apa yang kelak akan disebut Perjanjian Sykes-Picot, Inggris dan Prancis setuju untuk membagi dunia Arab untuk mereka sendiri. Inggris akan menguasai apa yang sekarang menjadi Iraq, Kuwait, dan Yordania.*/Tika Af’ida, sumber ostislamichistory.com
SEMENTARA Prancis mendapatkan wilayah Suriah, Libanon, dan selatan Turki modern. Status Palestina diputuskan nanti, dengan ambisi kelompok Zionis untuk mengambil-alih daerah tersebut. Daerah-daerah tersebut memberikan ruang bagi beberapa area untuk dikontrol sendiri oleh bangsa Arab, meski ada control dari Eropa atas kerajaan Arab. Di daerah lainnya, Inggris dan Prancis menjanjikan control total.
Meskipun awalnya perjanjian tersebut dirahasiakan, namun pada akhirnya perjanjian itu diketahui oleh banyak orang pada 1917 saat pemerintahan Bolshevik di Rusia mengungkapkannya. Perjanjian Sykes-Picot bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan Inggris kepada Sherif Hussein dan menyebabkan ketegangan antara Inggris dan Arab. Tetapi ini bukan perjanjian bermasalah terakhir yang dibuat Inggris.
 Perjanjian Balfour
Deklarasi Balfour
Kelompok lainnya yang ingin berada dalam peta politik daerah Timur Tengah adalah Zionis. Zionisme merupakan sebuah gerakan politik yang menginginkan berdirinya sebuah negara Yahudi di Tanah Suci Palestina. Dimulai pada 1800-an sebagai gerakan untuk mencari rumah jauh dari Eropa bagi para penganut Yahudi (yang sebagian besar tinggal di Jerman, Polandia, dan Rusia).
Pada akhirnya Zionis memutuskan untuk menekan pemerintahan Inggris selama Perang Dunia II, menyebabkan mereka dapat tinggal di Palestina setelah perang usai. Di dalam pemerintahan Inggris sendiri, banyak yang merasa simpatik kepada gerakan ini. Salah satunya adalah Arthur Balfour, Sekretaris Luar Negeri untuk Inggris. Pada 2 November 1917, dia mengirim surat kepada Baron Rothschild, pemimpin komunitas Zionis. Surat tersebut mendeklarasikan dukungan resmi Pemerintahan Inggris terhadap tujuan gerakan Zionis untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina:
“Pemerintahan Yang Mulia Raja mendukung berdirinya sebuah rumah nasional bagi kaum Yahudi di Palestina, dan akan mengerahkan usaha terbaiknya untuk memfasilitasi pencapaian tersebut, dan dengan jelas mengerti bahwa tidak ada yang akan dilakukan untuk mendiskriminasi hak-hak asasi dan beragama komunitas non-Yahudi yang telah ada di Palestina, atau hak-hak dan status politik yang disandang oleh para Yahudi di negara manapun.”
Tiga Perjanjian Bertolak Belakang
Pada 1917, Inggris telah membuat tiga perjanjian berbeda dengan tiga kelompok yang berbeda pula, serta menjanjikan tiga sckenario politik masa depan yang berbeda atas Dunia Arab. Gerakan Arab bersikeras untuk mendapatkan Kerajaan Arab yang dijanjikan lewat Sharif Hussein. Prancis (dan Inggris sendiri) mengharapkan untuk dapat membagi tanah tersebut untuk mereka sendiri. Dan Zionis berharap mendapatkan Palestina seperti yang dijanjikan oleh Balfour.
Perang berakhir pada 1918 dengan kemenangan untuk Sekutu dan luluh lantaknya Kekaisaran Ottoman. Meskipun nama Ottoman masih ada hingga 1922 (dan khalifah masih ada sampai 1924), semua bekas daerah kekuasaan Ottoman kini dipegang Eropa. Perang telah usai, namun masa depan Timur Tengah masih diperebutkan oleh tiga pihak yang berbeda.
 Ottoman_Empire_1914-1
Kekaisaran Utsmaniyyah

Pihak manakah yang menang? Tidak ada yang mendapatkan apa yang benar-benar mereka inginkan. Pasca Perang Dunia I, Liga Bangsa-Bangsa (pendahulu PBB) didirikan. Salah satu tugasnya adalah membagi daerah bekas pendudukan Ottoman. Mereka membuat mandat untuk dunia Arab. Masing-masing mandat harusnya dijalankan oleh Inggris atau Prancis “sampai mereka bisa mandiri.” Liga tersebut-lah yang menggambar perbatasan-perbatasan yang kini kita lihat di peta Modern Timur Tengah. Perbatasan tersebut ditarik tanpa mempertimbangkan keinginan orang-orang yang tinggal di sana, ataupun pertimbangan etnis, geografis, atau perbedaan agama. Perbatasan tersebut benar-benar sewenang-wenang. Perlu diperhatikan bahwa bahkan hari ini, perbatasan politik di Timur Tengah tidak mengindikasikan perbedaan kelompok. Perbedaan antara orang Iraq, Suriah, Yordania, dsb. Sepenuhnya diciptakan oleh penjajah Eropa sebagai usaha untuk membagi Arab antara satu dan yang lainnya.
Melalui sistem mandat tersebut, Inggris dan Prancis dapat mengontrol apa yang mereka mau di Timur Tengah. Untuk Sharif Hussein, anak-anaknya diperbolehkan untuk memerintah daerah-daerah tersebut di bawah “perlindungan” Inggris. Pangeran Faisal menjadi Raja Iraq dan Suriah dan Pangeran Abdullah daingkat sebagai Raja Yordania. Tetapi secara prakteknya, Inggris dan Prancis memiliki otoritas di daerah-daerah tersebut.
Sementara itu, para Zionis diperbolehkan oleh pemerintah Inggris untuk mendiami Palestina, dengan sejumlah batas-batas. Inggris tidak ingin membuat marah orang-orang Arab yang telah tinggal di Palestina, jadi mereka mencoba untuk membatasi jumlah Yahudi yang pindah ke Palestina. Namun tindakan Inggris tersebut justru membuat marah para Ziois, yang mencoba menempuh cara ilegal untuk berimigrasi sepanjang 1920-an hingga 1940-an. Orang Arab-pun marah karena memandang imigrasi tersebut sebagai pelecehan terhadap tanah yang telah mereka miliki sejak diberikan oleh Salah al-Din pada 1187.
Akibat dari kekacauan politik yang diciptakan oleh Inggris setelah Perang Dunia I masih ada sampai sekarang. Perjanjian yang saling bertolak belakang dan negara-negara yang terbentuk untuk memecah-belah antar sesama Muslim mengiring kepada ketimpangan politik di Timur Tengah.
Bangkitnya Zionis diiringi dengan terbaginya Muslim di wilayah tersebut berakibat pada pemerintahan yang korup serta penurunan ekonomi di Timur Tengah secara keseluruhan. Batas-batas yang diciptakan oleh Inggris masih ada sampai sekarang, meski terjadinya telah 100 tahun yang lalu.*/Tika Af’ida, sumber ostislamichistory.com


Hubungan Arab-Iran Bukan Sekedar Isu Nuklir

Hubungan Arab-Iran Bukan Sekedar Isu Nuklir [1]
Isu nuklir Iran menjadi isu terhangat di Timur Tengah hingga berbagai gejolak di sejumlah negeri Arab terabaikan. Sejarah telah membuktikan bahwa ketika AS dan Iran bersekutu, Arab selalu menjadi korban apalagi negeri Mullah itu dengan cerdiknya dapat bermain di tengah hiruk pikuk Arab Spring

Oleh: Musthafa Luthfi

SELAIN perang multi nasional pimpinan AS melawan milisi Negara Islam (IS) di Iraq dan Suriah, isu nuklir Iran masih menjadi isu terhangat di kawasan Timur Tengah sehingga berbagai gejolak di sejumlah negeri Arab seakan terabaikan mulai dari Libya di ujung barat hingga Yaman di ujung timur dunia Arab. Dunia saat ini sedang menunggu kesepakatan yang akan dicapai oleh enam negara besar (lima negara anggota tetap DK PBB yakni AS, China, Inggris, Prancis dan Rusia plus Jerman) dan Iran.
Pada 2 Maret 2015 lalu, PM ‘israel’, Benjamin Netanyahu kembali memperihatkan posisi menentang kebijakan Presiden AS, Barack Obama terkait kebijakan negeri Paman Sam itu untuk terus mengupayakan solusi damai bagi penyelesaian isu nuklir Iran. Di hadapan anggota Kongres AS Netanyahu menyampaikan pidato “berapi-api“ terkait isu nuklir tersebut dan mendapat sambutan tepuk tangan meriah yang belum pernah didapatkannya di hadapan Kneset (parlemen) ‘israel’.
Netanyahu mengeritik pedas kebijakan Obama yang dalam waktu dekat diprediksi akan berhasil mencapai kata sepakat dengan Iran terkait program nuklir negeri Mullah itu. Para petinggi Iran dan sejumlah pejabat dari enam negara besar termasuk Menlu AS, John Kerry telah menyampaikan isyarat makin dekatnya kesepakatan antara kedua belah pihak.
Adapun beberapa hal yang masih mengganjal disebutkan hanya terkait pelaksanaan kesepakatan secara teknis dan mendetail seperti  pencabutan sanki atas negeri Persia itu. Para pemimpin zionis nampaknya tidak senang dengan kesepakatan damai dimaksud sehingga terus berupaya mempengaruhi enam negara besar itu khususnya AS agar mengambil langkah tegas secara militer guna menghentikan ambisi nuklir Iran.
Pidato PM Netanyahu di Kongres awal Maret lalu itu oleh sejumlah pengamat dinilai sebagai upaya terakhir negeri Yahudi itu untuk menggagalkan kesepakatan enam negara besar dengan Iran dengan cara meyakinkan para anggota Kongres agar melakukan tindakan cepat guna menggagalkan kesepatan itu. ‘israel’ khawatir bahwa kesepakatan tersebut justeru akan mempersingkat waktu bagi Teheran untuk mewujudkan ambisi memiliki bom nuklir.
Adapun dalih lainnya adalah nuklir Iran menjadi “ancam serius“ eksistensi ‘israel’ tak lebih hanya bualan belaka yang sering menjadi bahan ledekan, karena masyarakat dunia sudah berkomitmen bahwa setiap negara pemilik senjata nuklir tidak mungkin menggunakannya untuk menghancurkan negara lain. Penggunaan senjata nuklir untuk menyerang negara lain adalah garis merah internasional sehingga hampir mustahil Iran akan menggunakannya untuk menyerang ‘israel’ karena akan berakibat kehancuran negara Persia itu sendiri.
Adapun dalih Netanyahu bahwa kesepakatan itu tidak akan menjadi kendala bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir atau bahkan mempercepatnya untuk memiliki senjata pemusnah massal itu bisa jadi banyak benarnya. Karenanya upaya terakhir yang dilakukannya adalah melobi Kongres agar menghentikan kesepakatan dimaksud meskipun peluang ke arah itu oleh banyak pengamat dinilai sangat kecil.
Pidato berdurasi sekitar 40 menit itu sempat dijeda dengan sekitar 43 kali tepuk tangan meriah anggota Kongres yang meneriakkan dukungan terhadap posisi ‘israel’ yang menentang rencana kesepakatan enam negara Besar dengan Iran. Secara kebetulan pidato itu bertepatan pula dengan pembicaraan antara Menlu AS, John Kerry dengan mitranya Menlu Iran, Mohammed Javad Zarif di Wina guna membahas sejumlah masalah pending sebelum batas waktu kesepakatan berakhir pada 31 Maret 2015.
Netanyahu juga mengingatkan bahwa bila kesepakatan tersebut tercapai maka akan menimbulkan lomba senjata baru di kawasan Timur Tengah. “Kami telah mengingatkan sejak setahun yang lalu bahwa lebih baik tidak tercapai kesepakatan bila kesepakatan tersebut buruk dan lebih baik bagi dunia bila kesepakatan ini tidak ada,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui pada 17 Maret mendatang, ‘israel’ akan melangsungkan pemilihan umum legislatif yang akan menentukan apakah Netanyahu masih akan dipercaya sebagai orang nomor satu negeri Yahudi itu. Ada dugaan bahwa upaya mengganjal rencana kesepakatan nuklir negeri Mullah itu adalah salah satu bagian dari kampanye untuk mendapatkan simpati para pemilih ‘israel’.*
Dua pesan
BAGI Presiden Obama sendiri dia melihat bahwa tidak ada yang baru dari orasi Netanyahu di hadapan Kongres, dan PM ‘israel’ itu juga tidak memberikan opsi yang dapat dipertimbangan negeri adikuasa itu. Sedangkan Iran menilainya sebagai pernyataan yang telah sering diulang-ulang dan membosankan sehingga tidak terlalu ditanggapi secara serius.
Boleh dikatakan bahwa “duel“ antara Netanyahu dan Obama kali ini sebagai tanda pembatas terakhir yang dapat dilampui ‘israel’ sebelum memastikan bahwa kepentingannya tidak akan mungkin mengungguli kepentingan tertinggi negeri Paman Sam yang selama ini selalu melindunginya. Boleh saja Netanyahu kembali ke ‘israel’ dengan membawa dukungan Kongres dan sambutan yel-yel dukungan dari sebagian rakyat ‘israel’ yang simpati.
Namun kali ini, Tel Aviv nampaknya tidak akan mampu menghalangi kesepakatan AS dan lima negara besar lainnya yang berkepentingan agar masalah nuklir Iran tersebut dapat segera diatasi sebab berlarut-larutnya isu ini tidak akan serta merta mendorong Barat melakukan aksi militer karena Barat sedang “kepayahan“ berperang. ‘israel’ sendiri sulit melakukan aksi sepihak tanpa dukungan Barat.
Bahkan sejumlah sumber terpercaya menegaskan bahwa AS mengancam menjatuhkan pesawat tempur ‘israel’ saat negeri itu memutuskan akan melakukan serangan sepihak ke target instalasi nuklir Iran pada 2014. Meskipun Washington membantah laporan tersebut, namun mantan Kastaf Angkatan Bersenjata ‘israel’ kepada TV setempat menegaskan bahwa pihaknya melarang Netanyahu melakukan serangan sepihak pada 2014.
Karenanya dalih apapun yang dimunculkan ‘israel’ untuk menghalangi kesepakatan mendatang, nampaknya tidak akan digubris Barat selama Iran mengakomodir persyaratan Barat. Teheran sendiri dalam beberapa kesempatan menandaskan tentang semakin dekatnya kesepakatan dengan Barat dengan tetap mengingatkan bahwa program nuklirnya tidak akan terhenti.
Bagi ‘israel’ sendiri, kunjungan Netanyahu terakhir ke negeri Adidaya itu sebelum pemilu legislatif telah meninggalkan setidaknya dua pesan berbeda. Pesan pertama ditujukan kepada Barat khususnya dan masyarakat internasional umumnya, sedangkan pesan kedua lebih ditujukan kepada dunia Arab yang dalam kaitannya dengan program nuklir Iran tidak diberikan peran.
Pesan pertama merupakan penegasan terhadap posisi ‘israel’ yang selalu bersebrangan dengan masyarakat internasional bahkan dengan AS selaku negara pelindungnya. Isu Palestina yang berlarut-larut sebagai salah satu bukti nyata bahwa sikap negeri zionis itu lebih sering bersebrangan dengan dunia termasuk sekutu-sekutunya di dunia Barat.
Menyangkut pesan kedua, ‘israel’ seolah-olah membuktikan bahwa dunia Arab yang masih didera oleh konflik yang belum usai, untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir dikesampingkan dari isu penting di kawasan. Bila tidak memulihkan solidaritasnya, akan menjadi “bulan-bulanan“ kepentingan dua kekuatan regional yakni Iran dan ‘israel’.
Apabila kesepakatan nuklir tersebut benar-benar tercapai yang dapat diartikan sebagai normalisasi hubungan Teheran-Washington yang sempat terputus sejak revolusi Iran 1979, maka Iran akan semakin leluasa memperkuat pengaruhnya di kawasan tanpa perlu khawatir akan dihalangi oleh AS. Sejarah telah membuktikan bahwa ketika AS dan Iran bersekutu, Arab selalu menjadi korban apalagi negeri Mullah itu dengan cerdiknya dapat bermain di tengah hiruk pikuk Arab Spring untuk memperkuat pengaruhnya di sejumlah negara Arab.
Bagi dunia Arab sendiri yang masih terpecah belah, kesepakatan itu tidak begitu penting karena yang terpenting adalah penyelesaian menyeluruh permasalah kawasan. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda kesepakatan tersebut akan mengarah kepada penyelesaian masalah dimaksud atau paling tidak penyelesaian ketegangan antara Iran dan dunia Arab.
Bukan sekedar nuklir
Dengan kata lain, isu nuklir Iran terkait dengan permasalahan kawasan tidak lebih sebagai isu sekunder sebab isu utama yang seharusnya lebih diprioritaskan adalah rekonsiliasi menyeluruh Iran-Arab untuk memperkokoh kedaulatan bersama. Pasalnya derita yang masih dialami rakyat kawasan itu termasuk rakyat Iran sendiri adalah lebih disebabkan ambisi hegemoni Iran dan penyebaran permusuhan.
Adapun isu nuklir hanyalah masalah utama ‘israel’ yang tidak ingin tersaingi dan masalah dunia Barat yang tidak ingin melihat munculnya lomba senjata pemusnah massal di kawasan. AS dan Barat mafhum bahwa keberhasilan Iran memiliki senjata nuklir akan mendorong setidaknya tiga negara besar lainnya di kawasan yakni Arab Saudi, Mesir dan Turki akan melakukan langkah serupa.
“Intinya, isu nuklir Iran hanyalah isu kedua di kawasan dibandingkan dengan masalah yang ditimbulkan atas aksi yang dilakukannya di Iraq, Suriah, Libanon, Bahrain dan Yaman. Ini sekedar contoh dari upaya Teheran melakukan hegemoni dan penyebaran permusuhan ketimbang kerjasama saling menguntungkan di kalangan bangsa-bangsa kawasan,“ papar sejumlah pengamat Arab.
Kenyataan di lapangan memang dapat disaksikan bahwa apa yang dilakukan Iran di Iraq dan Suriah menyuburkan  gerakan-gerakan konflik. Yaman yang sedianya sudah berada di jalur penyelesaian politis, kembali ke titik awal lingkaran kekacauan dengan aksi kudeta gerakan pemberontak Syiah Hautsi (Syiah Al-Houthi) yang mendapat dukungan rezim Iran.
Bagi rakyat Libanon, misalnya, tidak ada masalah dengan kesepakatan nuklir Iran dengan Barat, karena masalah mereka dengan negeri Persia itu adalah senjata sekutunya (Syiah Hizbullah) yang melarang parlemen memilih Presiden baru. Begitu pula dengan rakyat Yaman tidak ada masalah dengan kesepakatan nuklir tersebut, sebab masalah utama adalah intervensi Iran lewat kelompok pemberontah Syiah Hautsi (Syiah Al-Houthi) yang menyebabkan negara tersebut semakin kacau.
Singkatnya, kesepakatan nuklir yang dinanti-nantikan masyarakat internasional tersebut bisa berpengaruh positif atau berdampak negatif bagi bangsa-bangsa kawasan. Dapat berpengaruh positif bila Negara Mullah tersebut kembali menormalisasikan hubungannya dengan dunia Arab bukan sebagai negara “penjajah” di Iraq, Suriah, Libanon dan sebagian wilayah Yaman.
Sebaliknya kesepakatan tersebut dapat berdampak negatif bila Iran memanfaatkannya untuk memperluas hegemoninya di kawasan tanpa perlu khawatir akan ancaman AS dan Israel. “Dengan demikian Iran melihat kesepakatan itu sebagai pengakuan dunia sebagai negara penentu di kawasan yang dapat dengan bebas memperluas pengaruhnya ke mana saja yang dikehendakinya,” papar Kheirullah Kheirullah, analis Arab asal Libanon.
Memang yang dinantikan bangsa-bangsa kawasan saat ini adalah apakah kesepakatan nuklir mendatang akan mengubah sikap Iran ke arah yang lebih baik atau lebih buruk bagi kepentingan solidaritas dan pembangunan di kawasan vital tersebut atau tidak akan mengubah sesuatu apapun. Perubahan sikap negeri Mullah itu benar-benar ditunggu negara-negara tetangganya.*/ Lombok Tengah 17-5-1436 H
Penulis adalah pemerhati masalah Timur Tengah

Arab Berupaya Akhiri “Petualangan” Iran di Yaman

Sejumlah analis Arab menilai bahwa serangan atas basis-basis Al Hautsi dan militer Saleh bukan sekedar menyelamatkan pemerintahan sah akan tetapi untuk menyelamatkan Arab seluruhnya. Yang dibutuhkan dunia Arab saat ini adalah duduk bersama untuk meletakkan secara bersama-sama garis kebijakan jangka panjang dan tidak cukup hanya melalui KTT Liga Arab

Oleh: Musthafa Luthfi
SECARA mengejutkan Arab Saudi memimpin sekutu dari negara-negara Arab dalam sebuah operasi “Aashifatul Hazm” (Badai Penghancur) untuk menyerang Yaman dengan menargetkan basis-basis milisi pemberontak Syiah Al Hautsi (Syiah Al Houthi) yang didukung Iran setelah melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah di negeri ujung tenggara Jazirah Arab itu.
Serangan udara yang dimulai sejak Kamis (26/3/2015) itu bertujuan untuk mengakhiri kudeta kelompok Syiah Al Hautsiyang dilakukan pada akhir tahun 2014.
Sejak kudeta atas pemerintahan transisi di Yaman pimpinan Presiden Abdurabbuh Mansyur Hadi yang dilakukan oleh kelompok Syiah pro Iran dengan dukungan militer pro mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, Yaman menjadi fokus perhatian dunia Arab. Berbagai upaya solusi politis ditawarkan Arab untuk mengakhiri kudeta dan mengembalikan pemerintahan sah sebagai syarat untuk kembalinya faksi-faksi yang bertikai ke meja perundingan.
Namun respon Al Hautsi dan mantan Presiden Saleh adalah semakin memperluas pendudukannya ke berbagai daerah dengan kekuatan senjata mengingat sekitar 70 % senjata Yaman dikuasainya dua kubu yang sebelumnya pernah sebagai musuh bebuyutan tersebut. Al Hautsi dan Saleh ingin mengubah situasi di Yaman sesuai kepentingan mereka dan membuang kesepakatan yang telah dicapai berdasarkan Inisiatif Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang mendapat legitimasi PBB.
Puncak dari upaya kedua kubu untuk menguasai Yaman adalah keputusan untuk menyerang kota Aden di wilayah selatan sebagai pusat pemerintahan sementara setelah ibu kota Sana`a dikuasai Al Hautsi, guna menangkap Presiden Hadi sekaligus mengakhiri pemerintahan transisi. Mereka yakin termasuk sponsornya (Iran) bahwa dunia Arab tidak akan mampu berbuat sesuatu guna menyelamatkan pemerintahan Hadi.
Namun kali ini perkiraan mereka dan Iran meleset sebab Arab Saudi dan negara-negara Teluk dengan dukungan sejumlah negara Arab lainnya tidak akan membiarkan Yaman jatuh ke milisi pro Iran setelah melihat malapetaka yang terjadi sebelumnya di Libanon, Irak dan Suriah. Bahkan Sudan yang selama ini ditengarai dekat dengan rezim Teheran juga ikut ambil bagian dalam serangan ke Yaman dengan tiga pesawat tempur.
Selain negara-negara GCC,  dilaporkan Maroko, Mesir, Sudan dan Yordania ikut serta dalam serangan udara tersebut bahkan Mesir, Pakistan, Sudan dan Yordania menyatakan kesediaan mereka untuk mengirim pasukan darat bila dibutuhkan disamping dukungan Turki yang menolak pengaruh Iran di Yaman. Hingga hari Ahad (29/3/2015) dilaporkan, operasi militerAashifatul Hazm  atau Badai Penentuan berhasil melumpuhkan sebagian besar pertahanan udara Al Hautsi dan militer pro mantan Presiden Saleh.
Selama ini memang banyak pihak termasuk Iran menilai Arab selalu ragu-ragu mengambil keputusan menentukan terutama yang berkaitan dengan operasi militer untuk melindungi kepentingan mereka dan lebih banyak bergantung kepada negara besar terutama AS. Namun kali ini Arab dibawah komando Saudi mengejutkan semua pihak dengan keputusan tegas melakukan operasi militer guna menghentikan kudeta Syiah Al Hautsi yang pro Iran.
Sikap tegas Saudi dibawah pimpinan baru Raja Salman Bin Abdul Aziz mengingatkan kembali ke masa Raja Faisal Bin Abdul Aziz pada era tahun 70-an abad lalu yang dikenal tegas dan berani saat terjadi perang Arab-Israel. Operasi badai penentuan ini paling tidak telah membuktikan bahwa meskipun kondisi dunia Arab yang masih lemah akibat masih berlangsungnya pergolakan di sejumlah negara Arab, namun pusat penentuan keputusan masih eksis bila bahaya esksistensi Arab terancam.
Bagi dunia Arab letak geografis Yaman yang sangat strategis di pintu masuk salah satu jalur teramai pelayaran internasional di Laut Merah akan berdampak langsung ke seluruh Arab bila negeri Sheba itu jatuh ke genggaman Iran. Karena itu sejumlah analis Arab menilai bahwa serangan atas basis-basis Al Hautsi dan militer Saleh bukan sekedar menyelamatkan pemerintahan sah akan tetapi untuk menyelamatkan Arab seluruhnya.
“Bila operasi ashifatul hazm ini sukses menyelamatkan Sana`a dan Aden (dari kekuasaan Al Hautsi) maka berarti sukses pula menyelamatkan dunia Arab, “tandas sejumlah analis dan pakar Arab. Bahkan sebagian penulis Arab mengobarkan semangat kepada pasukan sekutu Arab dengan penggalan syair “laa budda min shana`a wa in thaala al-safar” (harus bertolak dari kota Sana`a meskipun jalan menujunya panjang), sebagai gambaran nilai strategis Yaman sebagai titik tolak untuk mempertahankan eksistensi Arab.
Target utama
Dengan demikian dapat dibaca bahwa operasi  “badai penentuan”  pimpinan Arab Saudi itu setidaknya bertujuan untuk mencapai dua target utama yakni pertama menyelamatkan pemerintahan sah sekaligus menghindari Yaman dari perang sektarian.
Sedangkan target kedua adalah untuk memulihkan kembali kepercayaan diri dunia Arab tentang kemampuan strategis yang dimilikinya tanpa harus menunggu bantuan atau lampu hijau dari Barat terutama AS.
Terkait target pertama, dunia Arab terutama GCC yang aktif membantu pemulihan situasi di Yaman, memang berkepentingan dengan terciptanya situasi kondusif di negeri Sheba itu dengan mempertahankan pemerintahan sah sebagai pengelola negara yang masih carut marut akibat belum terlaksananya hasil dialog nasional pasca lengsernya Ali Abdullah Saleh dari kursi kekuasaan yang dinikmatinya selama lebih dari tiga dekade.
Setidaknya keberadaan pemerintahan transisi pimpinan Presiden Mansyur Hadi yang mendapat dukungan lebih dari 90 % rakyat lewat referendum pada Februari 2012 dapat sebagai fasilitator kelanjutan dialog faksi-faksi yang bertikai di Yaman. Pemerintahan ini juga telah mendapat legitimasi PBB dan masih diakui sebagai pemerintahan sah satu-satunya oleh masyarakat internasional.
Arab dibawah komando Saudi mengejutkan semua pihak dengan keputusan tegas melakukan operasi militer guna menghentikan kudeta Syiah Al Hautsi yang pro Iran.*
SIKAP tegas Saudi dibawah pimpinan baru Raja Salman Bin Abdul Aziz mengingatkan kembali ke masa Raja Faisal Bin Abdul Aziz pada era tahun 70-an abad lalu yang dikenal tegas dan berani saat terjadi perang Arab-Israel. Operasi ‘Badai Penghancur’ ini paling tidak telah membuktikan bahwa meskipun kondisi dunia Arab yang masih lemah akibat masih berlangsungnya pergolakan di sejumlah negara Arab, namun pusat penentuan keputusan masih eksis bila bahaya esksistensi Arab terancam.
Bagi dunia Arab letak geografis Yaman yang sangat strategis di pintu masuk salah satu jalur teramai pelayaran internasional di Laut Merah akan berdampak langsung ke seluruh Arab bila negeri Sheba itu jatuh ke genggaman Iran. Karena itu sejumlah analis Arab menilai bahwa serangan atas basis-basis al-Houthi dan militer Saleh bukan sekedar menyelamatkan pemerintahan sah akan tetapi untuk menyelamatkan Arab seluruhnya.
“Bila operasi ashifatul hazm ini sukses menyelamatkan Sana`a dan Aden (dari kekuasaan Al-Houthi) maka berarti sukses pula menyelamatkan dunia Arab,” tandas sejumlah analis dan pakar Arab. Bahkan sebagian penulis Arab mengobarkan semangat kepada pasukan sekutu Arab dengan penggalan syair “laa budda min shana`a wa in thaala al-safar“ (harus bertolak dari kota Sana`a meskipun jalan menujunya panjang), sebagai gambaran nilai strategis Yaman sebagai titik tolak untuk mempertahankan eksistensi Arab.
Target utama
Dengan demikian dapat dibaca bahwa operasi ‘Badai Penghancur’ pimpinan Arab Saudi itu setidaknya bertujuan untuk mencapai dua target utama yakni pertama menyelamatkan pemerintahan sah sekaligus menghindari Yaman dari perang sektarian. Sedangkan target kedua adalah untuk memulihkan kembali kepercayaan diri dunia Arab tentang kemampuan strategis yang dimilikinya tanpa harus menunggu bantuan atau lampu hijau dari Barat terutama AS.
Terkait target pertama, dunia Arab terutama GCC yang aktif membantu pemulihan situasi di Yaman, memang berkepentingan dengan terciptanya situasi kondusif di negeri Sheba itu dengan mempertahankan pemerintahan sah sebagai pengelola negara yang masih carut marut akibat belum terlaksananya hasil dialog nasional pasca lengsernya Ali Abdullah Saleh dari kursi kekuasaan yang dinikmatinya selama lebih dari tiga dekade.
Setidaknya keberadaan pemerintahan transisi pimpinan Presiden Mansour Hadi yang mendapat dukungan lebih dari 90 % rakyuat lewat referendum pada Februari 2012 dapat sebagai fasilitator kelanjutan dialog faksi-faksi yang bertikai di Yaman.
Pemerintahan ini juga telah mendapat legitimasi PBB dan masih diakui sebagai pemerintahan sah satu-satunya oleh masyarakat internasional.
Membiarkan tindakan semena-mena kelompok Syiah Al-Hautsi yang mendapat dukungan militer pro mantan Presiden Saleh untuk memaksanakan kehendak politiknya dengan dukungan kuat dari Iran selain akan menyebabkan perang saudara sektarian, juga dapat dikatakan sebagai tamparan ke muka Arab. Pasalnya kerusuhan yang hampir mengarah ke perang saudara akibat tuntutan mundur terhadap rezim Saleh dapat diatasi lewat solusi damai melalui Inisiatif Arab Teluk.
Apabila Arab hanya berdiam diri melihat Al-Hautsi dan Saleh menguasai Yaman maka sama saja membiarkan negara itu menuju situasi di Iraq sehingga akan menjadi basis baru bagi Iran untuk melebarkan sayap hegemoni di kawasan. Pasca kudeta Al-Hautsi yang ditentang oleh sebagian besar rakyat Yaman, negeri itu berada dalam bahaya disintegritas tanpa ibu kota dan pemerintahan yang menyatu.
Bila operasi tersebut berhasil paling tidak akan membersitkan kembali harapan rakyat Yaman bahwa faksi-faksi yang bertikai termasuk al-Houthi dan kelompok mantan Presiden Saleh akhirnya akan menerima solusi damai sejalan dengan kesepakatan sebelumnya yang diprakarsai oleh Teluk dan PBB. Setidaknya harapan itu mulai kelihatannya, hingga operasi hari keempat pada Ahad dimana dilaporkan bahwa Saleh menyerukan penghentian serangan dan bersedia berunding dengan semua faksi Yaman untuk mencapai solusi damai.
Sedangkan yang terkait dengan target kedua yakni memulihkan kembali kepercayaan diri dunia Arab dengan melakukan solusi sendiri saat merasa eksistensinya terancam tanpa menunggu bantuan atau lampu hijau Barat, merupakan kejutan yang tak terduga sebelumnya. Lewat operasi ‘Badai Penghancur’ ini, Arab sudah membuktikan bahwa era sebatas kutukan tanpa aksi nyata telah berakhir, dan inilah saatnya untuk melakukan tindakan nyata guna melindungi diri dari ancaman luar.
Selama ini terkesan dunia Arab yang sejatinya memiliki potensi besar baik secara ekonomi maupun militer ibarat macan kertas yang tidak bisa berbuat apa-apa meskipun api telah melalap sebagian dari tubuh Arab. Koalisi Arab yang melibatkan sekitar 10 negara itu telah berusaha mengubur kesan tersebut lewat operasi “Badai Penghancur” dan dapat sebagai awal mengembirakan bagi bangsa Arab bahwa potensi besar yang dimilikinya sebenarnya mampu mengatasi masalah Arab tanpa menunggu intervensi pihak luar.
AS sendiri yang sedang dalam tahap merampungkan persetujuan isu nuklir dengan Iran yang akan membuka peluang normalisasi hubungan kedua negara tidak bisa menolak keputusan Arab tersebut. Diperkirakan dunia Arab tidak akan lagi mengedepankan posisi menunggu keputusan AS untuk melakukan aksi agar tidak terulang lagi malapetaka seperti di Suriah.
Sebagaimana diketahui, upaya Al-Hautsi dan Saleh untuk melebarkan pendudukannya di Yaman hingga pantai selatan di pintu masuk Bab El-Mandab yang sangat strategis sama dengan menghalangi Saudi dan negara-negara Teluk lainnya untuk mengekspor minyaknya lewat jalur pelayaran strategis di Laut Merah. Membiarkan Yaman dibawah kontrol Al-Hautsi sama saja dengan membiarkan munculnya Libanon baru di Jazirah Arab yang dapat dimanfaatkan Iran untuk mengembangkan sayap hegemoninya.
Lampu merah
Sejumlah analis Arab juga melihat bahwa operasi kaolisi Arab tersebut sebagai respon tegas dunia Arab terhadap upaya Iran melebarkan pengaruhnya yang tidak dapat ditolerir lagi lebih-lebih menjelang tercapainya persetujuan nuklir dengan Barat. Negeri Persia itu terkesan akan memanfaatkan persetujuan nuklirnya dengan Barat untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan tanpa perlu khawatir akan mendapat ganjalan dari negara-negara besar.
Hampir dapat dipastikan bahwa operasi militer Arab tersebut bukan hanya sebatas merespon ancaman yang akan datang dari Yaman  dengan berkuasanya kelompok pro Iran, akan tetapi sebagai benih baru perubahan strategi Arab untuk mewujudkan perimbangan regional.
“Operasi militer ini bukan sebatas respon sesaat namun akan menjadi benih bagi upaya Arab mewujudkan perimbangan di kawasan khususnya menjelang kesepakatan nuklir Iran dengan Barat,” papar sejumlah pengamat Arab.
Sebagian analis melihatnya sebagai pesan kepada AS dan Iran bahwa dunia Arab benar-benar sadar dan serius untuk meninjau kembali perlunya perimbangan regional agar tidak menjadi ‘bulan-bulanan’ kekuatan regional lainnya (Israel dan Iran). Atau dapat juga dikatakan sebagai lampu merah bagi Iran bahwa Arab tidak bisa lagi membiarkan negeri Syiah itu dengan bebas melebarkan sayap hegemoni yang dapat mengancam eksistensi Arab.
Yang dibutuhkan dunia Arab saat ini adalah duduk bersama untuk meletakkan secara bersama-sama garis kebijakan jangka panjang dan tidak cukup hanya melalui KTT Liga Arab dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan akhir yang sering tidak ditindaklanjuti. Hal ini perlu diupayakan agar operasi “Badai Penghancur“ tersebut bukan sekedar respon reaktif semata namun sebagai benih baru bagi strategi Arab jangka panjang.
Arab juga perlu terus mengedepankan dimensi politis dalam meletakkan strategi baru regional bukan sebatas strategi militer dalam menghadapi upaya Iran melebarkan pengaruhnya sebab konfrontasi militer dengan Iran kemungkinannya jauh.  Paling tidak dimensi politis ini dapat menelorkan kesepahaman baru Arab-Iran tentang perlunya menghentikan proxy war (perang lewat pihak ketiga) seperti kejadian Libanon, Iraq, Suriah dan Yaman.
Memang yang dinantikan bangsa-bangsa kawasan saat ini adalah kesepahaman tersebut terutama setelah tercapainya persetujuan nuklir mendatang antara Iran dan Barat yang diharapkan akan mengubah sikap Iran ke arah yang lebih positif bagi kepentingan solidaritas dan pembangunan di kawasan. Operasi militer ke Yaman diharapkan dapat mendorong negeri Mullah itu untuk menerima uluran tangan Arab untuk sama-sama menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan.*/Lombok, 8 J. Akhir 1436 H
Penulis adalah pemerhati dunia Islam



Thursday, May 28, 2015

[ Sanggahan Ahmaq Syiah ] Mushaf Fatimah, Quran Syiah..??

Mushaf Fatimah
  
Sesungguhnya banyak orang yang tidak benar benar mengenal Syiah kecuali mereka hanya membebek ulama mereka..

Sementara banyak juga yang sangat bangga dengan doktrin Mushaf Fatimah adalah Quran orang Syiah.

Satu satunya sebab mengapa mereka akhirnya terjerumus lebih dalam kepelosok kebodohan adalah karena mereka dengan berani mengikuti ulama ulama puritan yang 'sangat berani' mengubah ubah Hadith Hadith Rasulullah Saww.

Sehingga besar kemungkinan mereka bukanlah pemerhati atau pun mewakili Kaum Syiah kecuali hanya menjadi perpanjangan tangan kaum takhfiri saja.

Inilah Hadith yang menjadi 'alat' kaum takhfiri dalam memfitnah Syiah, dengan memotong di kalimat belakang (un bold)

Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.

Mushaf Fatimah di susun oleh Imam Ali As disaat beliau dalam kesendirian pasca Kebanyakan penduduk madinah meninggalkan beliau.

Sebagian muslimin menuduh bahwa Mushaf Fathimah Az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di tangan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian memberatkan wujudnya Mushaf itu.

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Jawabannya adalah:

  1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah.
  2. Mereka tidak mau menerima bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah Mushaf.
  3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti apalagi dirinya.
  4. Mereka berpikir bahwa Mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa Mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu Mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi Mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu Mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang isinya adalah pembicaraan malaikat Jibril kepada Sayyidah Fathimah sepeninggal Ayahnya saw. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif”.

Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.

Hadis ini menjelaskan bahwa Mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran dan tidak satu kata pun, namun dari sisi kandungan dan topik, kendati satu kata pun dari dhahirnya al-Quran tidak tampak di sana.

Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang “al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang”, lalu apa Mushaf Fathimah itu dan bagaimana memahami hadis berikut ini?:

Allamah Majlisi menjelaskan: “Iya memang al-Quran demikian, tetapi Mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang anda maksud adalah lafadh dhahrinya al-Quran, dan itu tidak ada dalam Mushaf Fathimah.

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya Mushaf Fathimah? Sejak kapan ia ada? Ia mencakup pembahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjelasan berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Sayyidah Fathimah As bergelar Al Muhaddatsah.

Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah Az-Zahra As dengan nama Muhaddatsah berkata:

“Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya Sayyidah Fathimah, maka Jibril berkata demikian: "Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”.

Suatu malam, Sayyidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata:

“Bukankah Maryam (juga bergelar Sayyidatunissa lil alamin - dizamannya); putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?

Para malaikat menjawab: "Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir"

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan mereka. Antara lain:

1. Maryam; ibu Nabi Isa as.

2. Istri Imran; ibu Nabi Musa

3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as.

4. Sayyidah Fathimah as.

Ketika Rasulullah Saww sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayyidah Fathimah as bertanya: “Siapa?”. Ia menjawab: “Aku orang asing, punya pertanyaan kepada Rasulullah, anda mengizinkan saya untuk masuk?”.

Sayyidah Fathimah As menjawab: “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan”. Ia pergi kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu dan berkata: “Ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?”. Pada saat itu Rasulullah Saww bangun dan berkata kepada putrinya: “Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”. Tidak ya Rasulullah!. Beliau bersabda: “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan, menghapus kelezatan duniawi, ia adalah malaikat maut! Demi Allah sebelum aku ia tidak pernah meminta izin dari seorang pun dan sepeninggalku ia tidak akan meminta izin dari seorang pun, karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Sayyidah Fathimah berkata: “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!”. Masuklah malaikat maut bagaikan angin semilir seraya berkata: “Assalamu ala Ahli Baiti Rasulillah!”.

Munculnya Mushaf Fathimah

Imam Shadiq as bersabda: “Sepeninggal Rasulullah saw Sayyidah Fathimah hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah Mushaf sehingga disebut sebagai Mushaf Fathimah”.
Poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah as

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah.

Imam menjelaskan kandungannya:

  1. Tentang kabar-kabar sekarang dan kabar yang akan datang sampai hari kiamat.
  2. Tentang kabar langit dan nama-nama malaikat langit.
  3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah swt.
  4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.
  5. Nama-nama seluruh orang mukmin dan orang kafir dari awal sampai akhir penciptaan.
  6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.
  7. Jumlah orang-orang mukmin dan kafir setiap kota.
  8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.
  9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.
  10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.
  11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.
  12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.
  13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.
  14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.

Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayyidah Fathimah. Imam Baqir menjawab: “Sayyidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.

[ Disadur dari Judul Asli Mengenal Mushaf Sayyidah Fathimah Az-Zahra as ] 

[ Emi Nur Hayati Ma’sum Said - Al Shia ]

Maraji :
* Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Muhammad Hasan Amani.
  • Lisan Arab, jilid 10 kata Shahafa. Mufradat Raghib.
  • Ringkasan hadis, Usul Kafi, jilid 1, hal 239. Bashair ad-Darajat, hal 151. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28.
  • Bihar Al-Anwar, jilid 26, hal 40.
  • Awalim Al-ulum wa al-Ma’arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36
  • Ibid.
  • Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336. penerbit Intisyarat Allamah.
  • Lihat: Usul Kafi, jilid 1, hal 240. Bashair ad-Darajat, hal 157. Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282. Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80. jilid 26, hal 44-46 dan 48. jilid 47, hal 271.
  • Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291.
  • Ibid, hal 292.

  

  Inilah Sebab Sayyidah Fatimah Zahro AS            

  bergelar al-Muhadatsah

oleh : Ja'far Subhani
Bagaimana penjelasan ihwal Sayyidah Fathimah as, putri Nabi saw, berbicara dengan malaikat?


Tidak bisa diragukan bahwa malaikat pembawa wahyu Ilahi dan malaikat-malaikat lain berbicara dan berdialog dengan para nabi dan wali-wali Allah swt untuk menyampaikan wahyu kepada mereka, namun dialog seperti ini tidak hanya terjadi pada diri para nabi , melainkan juga terjadi pada para manusia-manusia langitan (selain nabi). Ada sekelompok orang, yang mana para malaikat menampakkan diri dengan menyerupai seorang manusia ketika berhadapan dan berdialog dengan orang-orang itu, yang dijuluki sebagai muhaddats (orang yang ditemani bicara).

Di beberapa hadits fariqain (Syi’ah dan Ahlusunnah) terdapat kelompok yang dikenal sebagai muhaddats dan mereka itu adalah orang-orang yang pernah berdialog dan berbincang-bincang dengan malaikat. Seseorang yang disebut muhaddats tentunya, dari segi kesempurnaan, telah mencapai tingkat dimana dia dengan telinga biasa ini bisa mendengar suara-suara barzakhi (gaib). Alam ini, penuh dengan suara-suara dan bentuk-bentuk barzakhi , dimana mayoritas manusia tidak bisa mendengar dan menyaksikannya dikarnakan tidak punya kemampuan. Akan tetapi, ada sekelompok manusia, yang mana telah melewati tingkatan-tingkatan kesempurnaan dan keutamaan, mampu dan bisa menangkap, mendengar dan menyaksikan bentuk-bentuk serta suara-suara barzakhi tersebut, seperti Malaikat Jibril, sang ruhul qudus, berdialog dengan mereka dan mereka mendengar suara sang Malaikat mulia ini.

Dari sini, ada banyak riwayat yang memperkenalkan dan menyebut putri Rasulullah saw, Sayyidah Fathimah as, sebagai muhaddatsah [1], dimana hal ini menghikayatkan akan kemuliaan dan kesempurnaan dirinya.

Orang-orang yang berpandangan picik dan sempit menganggap bahwa perbincangan malaikat yang terjadi pada selain para nabi adalah sesuatu yang tidak benar dan bahkan jauh dari kebenaran, padahal Alquran dengan sendirinya menjelaskan bagaimana dialog malaikat dengan ibu Nabi Isa as, Maryam.

Qs. Ali 'Imran ayat 42:

"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika malaikat berkata: "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, dan mensucikanmu, dan telah memilihmu (beroleh kemuliaan) melebihi perempuan-perempuan seluruh alam (yang sezaman denganmu)".

Malaikat berbicara dengan seseorang bukanlah alamat dan tanda bahwa orang tersebut adalah nabi, akan tetapi merupakan alamat dan ciri akan terangkatnya maqam sang mukhaathab (audiens) ke puncak kesempurnaan, yang mana puncak kesempurnaan itulah yang menganugerahinya kemampuan untuk mendengar pembicaraan para malaikat. Selain ini, Alquran juga menyebutkan ihwal pembicaraan antara para malaikat dengan istri Nabi Ibrahim as.

Qs. Huud ayat 73:

"Malaikat-malaikat itu berkata: "Patutkah Engkau merasa heran tentang perkara Yang telah ditetapkan oleh Allah? memanglah rahmat Allah dan berkatnya melimpah-limpah kepada kamu, Wahai ahli Rumah ini. Sesungguhnya Allah Maha terpuji, lagi Maha melimpah kebaikan dan kemurahanNya".

Persoalan ilham dan pintu-pintu kegaiban yang terjadi pada diri para wali Allah swt merupakan suatu permasalahan yang masyhur dalam teologi dan filsafat, dimana kita tidak ada ruang untuk menjelaskannya di dalam tulisan singkat ini, namun secara singkat dapat dikatakan bahwa periode kenabian, dalam artian kepemimpinan umat manusia dengan jalan wahyu tasyri' i, telah berlalu dan setelah Rasulullah saw, tidak akan ada lagi nabi dan rasul. Akan tetapi, pintu-pintu kegaiban dan makrifat manusia tidak akan pernah tertutup. Betapa banyak manusia yang mendengar dan melihat sesuatu, yang mana manusia lain tidak bisa mendengar dan melihatnya, dengan mata barzakhinya.

Qs. Al Anfaal ayat 29:

Hai orang-orang yang beriman, kalau engkau bertaqwa (menjauhi perbuatan dosa) kepada Allah swt, maka Allah swt akan menganugerahi kekuatan cahaya, yang mana dengannya engkau akan mampu memisahkan dari dalam antara hak dan batil.

Imam Ali as, ihwal manusia-manusia langit, yang mana senantiasa mencari kesempurnaan dengan jalan taqwa, berkata:

Dia telah menghidupkan akalnya dan membunuh syahwatnya sehingga badannya pun menjadi kurus. Badannya yang bagus itu berubah menjadi lembut. Kilatan penuh cahaya memancar dari dirinya sehingga jalan hidayah menjadi terang baginya dan membimbingnya menapaki jalan menuju Tuhan, meneruskan langkah dari satu pintu ke pintu berikutnya untuk mencapai kesempurnaan dan dia mencapai serta menempati maqam yang sangat menyenangkan lagi aman" [2]

[1] Bihaarul Anwar 43/79 hadis 66 dan 67.
[2] Nahjul Balaghah / Khutbah ke 22.
Disadur dari Judul Asli "Ihwal Dialog Fathimah as dengan Malaikat"