Friday, December 25, 2015

Ikhlas Dalam Beribadah Dan Tinggalkan Syubhat ( IT )

Ikhlas dalam Beribadah (1)

Ikhlas dalam Beribadah

( IT : Interlude of Topics )
Senin, 21 Desember 2015 - 12:54 WIB
Jika seseorang ingin kondisinya diketahui orang lain, berarti ia telah tertipu.
Jauhilah perasaan bangga dan ingin dilihat orang. Sebab, nafsu sangat senang bila amal disebut-sebut dan dipuji
SIAPA menghendaki akhir yang baik, ia perlu menyiapkan awal yang baik. Siapa menghendaki surga, ia pun harus ikhlas dalam beramal. Siapa yang bersungguh-sungguh menuju AllahSubhanahu wa Ta’ala, pasti Allah menjauhkannya dari gangguan para musuh, melindunginya dari kejahatan, membantu kehidupannya, menunjukinya pada amal yang baik dan benar.
Allah berfirman, “Orang-orang yang mengikuti petunjuk pasti diberi Allah tambahan petunjuk dan diberi sifat takwa.” (Muhammad: 17).
Jadi janganlah sekali-kali iri hati, kecuali pada seorang hamba yang telah diberi pakaian takwa dan telah mencicipi lezatnya ikhlas.
Betapa indahnya bila seseorang tinggal bersama kekasihnya tanpa ada yang mendampingi. Jika kemudian ia ingin diketahui dan disaksikan orang, berarti cintanya tidak tulus.
Jika seseorang ingin kondisinya diketahui orang lain, berarti ia telah tertipu. Syaddad ibn Aws mendengar Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Siapa berpuasa karena riya berarti telah berbuat syirik. Siapa melaksanakan shalat karena riya berarti telah berbuat syirik. Dan siapa bersedekah karena riya berarti telah berbuat syirik.” (HR al-Bayhaqi).
Namun, ibadah yang disertai hawa nafsu memang akan menjadi ringan dilakukan, sementara ibadah yang tidak disertai hawa nafsu menjadi sangat berat. BETAPA BERAT IBADAH YANG DIKERJAKAN TANPA DILIHAT ORANG. SEBALIKNYA, BETAPA RINGANNYA IBADAH DILAKUKAN BILA DILIHAT, DIPUJI, DAN DISANJUNG OLEH ORANG.
Contoh yang paling jelas adalah ketika kita melakukan haji sunah –sesudah yang wajib–sekian puluh kali, itu takkan memberatkan kita. Tetapi, kalau ada yang menganjurkan kita untuk bersedekah sebanyak ongkos haji tersebut kepada para fakir miskin atau untuk pembangunan masjid, kita akan menjadi bakhil dan merasa berat. Sebab, berhaji bisa disaksikan dan diketahui banyak orang.
Di sinilah hawa nafsu bermain. Lantaran sering berhaji, kita bisa menjadi orang terkenal. Sementara bersedekah adalah perbuatan rahasia dan tak diketahui banyak orang sehingga tiada yang bisa dibanggakan.
Demikian pula ketika kita menuntut ilmu tidak karena Allah, dalam kondisi tersebut kita mampu belajar semalam suntuk. Nafsu dan hasrat menjadi terpuaskan. Tapi, kalau kita disuruh untuk shalat malam dua rakaat, itu akan terasa berat sebab dalam dua rakaat yang kita lakukan itu nafsu tidak mendapat tempat. Sementara dengan membaca dan belajar, nafsu mendapat tempat karena bisa membanggakan ilmu yang kita miliki di hadapan orang. Oleh karena itu, aktivitas membaca dan belajar itu pun menjadi ringan. Hal-hal seperti itu tentu saja adalah kerugian yang nyata.
Dari Mahmud ibn Labid diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik yang paling kecil.” Para sahabat pun bertanya, “Apa syirik terkecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.”
Ketika membalas semua amal perbuatan manusia, Allah berkata, “Pergilah ke orang-orang yang kalian ingin agar amal kalian dilihat mereka di dunia. Apakah mereka mampu memberikan balasan?” (HR Ahmad)
WAHAI saudaraku, lakukanlah amal-amal saleh secara rahasia, sehingga hanya kita dan Allah yang mengetahuinya. Upayakan agar jangan ada yang melihatnya. Jadikan amal tersebut sebagai amal yang tulus hanya untuk Allah, sehingga kita bisa mendapatkan dalam timbangan amal kebaikan di hari kiamat kelak.
Allah berfirman, “Pada hari ketika tiap-tiap jiwa mendapati hasil segala perbuatan baiknya berada di hadapannya.” (Al `Imran: 30).
Jauhilah perasaan bangga dan ingin dilihat orang. Sebab, nafsu sangat senang bila amal disebut-sebut dan dipuji. Jangan sampai menghapus pahala amal yang dengan susah payah dilakukan. Juga, jangan pergunakan diri kita pada suatu maksiat.
Rasulullah bersabda, “Siapa memakai pakaian ketenaran, Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah).
Abaikanlah nafsu rendahan dan hasrat yang rapuh. Sebaliknya, perhatikanlah kadar, pahala, dan imbalan yang Allah berikan atas suatu perbuatan. Jiwa merupakan permata berharga yang harus kita pergunakan untuk melakukan amal yang terbaik. Mungkinkah orang melemparkan permata berharga ke tempat sampah? Mengapa kita berjuang memperbaiki aspek lahiriah dengan mengabaikan rusaknya batin? Kita persis seperti orang berpenyakit kusta. Ia memakai baju baru dari sutera, tetapi dari dalam tetap tercium bau busuk yang tidak enak. Apabila melihat penampilan lahiriahnya kita akan terpesona. Namun, apabila menyingkap apa yang ada di baliknya, pasti kita merasa jijik.
Kita hanya sibuk membenahi apa yang terlihat oleh orang, tidak membenahi kalbu yang menjadi milik Tuhan. Allah berfirman, Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, lakukanlah amal saleh dan jangan menyekutukan Tuhan dengan siapa pun. (al-Kahfi: 110).
Wahai manusia yang hanya mau memakan nasi dari beras yang sudah disaring bersih, saringlah amalmu dari segala jenis ria, dan bersihkan dari perasaan ingin dikenal orang. Dengan demikian, yang tersisa dari amalmu adalah yang betul-betul ikhlas. Sedangkan lainnya mesti dibuang.
Saudaraku, kita harus memperbagus amal, bukan memperbanyaknya. Sebab, AMAL YANG BANYAK TANPA DIBARENGI KUALITAS DAN KEIKHLASAN SEPERTI BAJU YANG BANYAK TAPI MURAH HARGANYA. SEMENTARA AMAL YANG SEDIKIT JIKA BERKUALITAS DAN SEMPURNA SEPERTI SEDIKIT BAJU YANG MAHAL HARGANYA.
Amal yang ikhlas laksana mutiara. Bentuknya kecil, tetapi mahal nilainya. Orang yang kalbunya sibuk bersama Allah lalu ia bisa mengalahkan hawa nafsu dan ujian yang muncul secara tepat, maka orang tersebut lebih baik daripada mereka yang banyak melakukan shalat dan puasa sementara kalbunya sakit, terisi oleh keinginan untuk dikenal dan keinginan mendapat kesenangan.
Ada yang berpendapat bahwa yang menjadi perhatian orang zuhud adalah bagaimana memperbanyak amal, sedangkan perhatian orang arif (yang mengenal Allah) adalah bagaimana memperbaiki keadaan jiwa dan mengarahkan kalbu hanya kepada Allah semata.*/Syekh Ibn ‘Atha’illah (Izza Rohman Nahrowi, Ed.), dari buku Ikhlas Tanpa Batas.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
Pelengkap :
(Buletin Dakwah Islam, No. 2, 2 Rabiul Akhir 1436/23 Januari 2015)
Keikhlasan adalah hal yang paling pokok dalam amal ibadah kita. Bahkan, ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amalan di sisi Allah ta’ala. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah dengan mengikhlaskan agama untukNya.”(QS. Al Bayyinah: 5)

Tidaklah satu amalan kecuali diiringi dengan keinginan dan niat yang niat ini wajib kita murnikan untuk Allah ta’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap – tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan.”  (HR. Bukhori nomor 1, Muslim nomor 155 & 1907)

Niat adalah perkara yang dapat membedakan antara amalan ibadah dengan kebiasaan. Contoh, seseorang mandi dengan niatan hanya untuk membuat tubuhnya segar, maka ini dianggap sebagai amalan kebiasaan. Berbeda halnya dengan orang yang mandi wajib dengan niatan ibadah dikarenakan dia junub, maka ini termasuk amalan ibadah. Oleh karena itu, seandainya seseorang mandi karenajunub, kemudian dia mandi hanya dengan niatan menyegarkan tubuhnya maka mandi wajibnya tidak sah dan dia harus mengulangi mandinya dengan niatan ibadah untuk mengangkat hadats.

Dengan niat pula dapat dibedakan ibadah satu dengan ibadah yang lainnya. Sebagai contoh, ada dua orang yang sedang melaksanakan shalat dua rakaat. Keduanya berbeda. Yang satu melaksanakan shalat sunnah dan lainnya shalat wajib, maka dengan niatlah dibedakan dua amalan ibadah mereka, walaupun tata caranya sama.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim hendaklah kita senantiasa berusaha untuk mengikhlaskan segala amalan ibadah karena Allah ta’ala, mengharapkan ridhoNya, dan kehidupan akhirat, sehingga apa-apa yang kita lakukan dari amalan ibadah tersebut diterima oleh Allah ta’ala yang akan memberatkan timbangan amalan dan pahala di sisiNya.

Keikhlasan menjadi ukuran (barometer) akan nilai besar kecilnya amalan yang kita lakukan. Seseorang yang shalat dengan penuh kekhusyukan, memerhatikan kesempurnaan shalat dari hal-hal yang wajib atau sunnah-nya, takut dengan azab Allah ta’ala, dan mengharapkan rahmatNya. Tentunya, ibadah ini akan bernilai sangat besar di sisi Allah ta’ala. Berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat yang meski dilaksanakan dengan penuh kehusyukan, memerhatikan kesempurnaan shalat, tetapi ia melakukannya agar dilihat orang lain atau menginginkan sanjungan orang lain atau takut pada seseorang, sehingga amalan seperti ini akan sia-sia dan tidak bernilai disisi Allah ta’ala sedikit pun. Bahkan amalan ini akan mendatangkan azab bagi pelakunya, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya. manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan, sehingga ia mengetahuinya dengan jelas. Lantas Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hambaKu?’. Ia menjawab, ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau, ya Allah, sehingga saya mati syahid.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu! Sebenarnya kamu berperang bukan karenaKu, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam Neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya. Lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan, sehingga ia mengetahuinya dengan jelas. Allah ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah kamu perbuat?’. Ia menjawab, ‘Saya telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah ta’alaberkata, ‘Kamu dusta! Akan tetapi, kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam Neraka. Dan didatangkan pula seorang laki-laki yang diberi keluasan rejeki oleh Allah. Lalu, ia menginfakkan hartanya semua. Setelah itu, diperlihatkan kepadanya kenikmatan, sehingga ia mengetahuinya dengan jelas. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya?’. Ia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut dijalan yang Engkau ridhoi.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu! Akan tetapi, kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Wahai kaum muslimin jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang yang Allah ta’ala gambarkan dalam Al Quran Al Karim,

O تَصْلَى نَاراً حَامِيَةً O عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ O وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ   Oهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةO

“Sudah datangkah kepadamu (berita) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al Ghasyiyah: 1 – 4)

Dalam ayat yang lain,
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاًO 
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً  
“Katakanlah, apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi 103-104)

Semoga Allah ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk terus berada di atas keikhlasan dalam seluruh amalan ibadah dan istiqomah di atasnya. Serta kita memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan kepada Allah ta’ala seperti riya’ (ingin dilihat orang lain) dansum’ah (ingin di dengar orang lain).

Dialah Allah yang maha pemberi taufik dan maha berkuasa atas segala sesuatu.
Wallahu a’lam bish shawab

Tinggalkan Syubhat & Yang Haram Karena Allah, Niscahya Gantinya Jauh Lebih Indah

23 Desember 2015
Seorang salafusholih yang bergelar Al-Miski karena tubuhnya yang wangi, Abu Bakar Al-Miski pernah ditanya, "Kami selalu mencium aroma wangi ketika bertemu dengan anda, apa rahasianya?"



Al-Miski menjawab, "Demi Allah, aku tidak pernah memakai wewangian seumur hidupku. Adapun sebab tubuhku selalu wangi adalah; dulu ada seorang wanita yang menggodaku, hingga ia mampu mengajakku ke dalam rumahnya lalu mengunci pintunya, kemudian ia memaksaku agar aku mau melayani nafsunya, sehingga aku rasakan dunia terasa begitu sempit saat itu."



Maka aku berkata kepadanya; "aku ingin membersihkan diriku dulu, lalu ia menyuruh pembantunya mengantarkanku ke kamar kecil. Ketika aku berada di sana, akupun langsung mengambil kotoran yang berada di dalam kamar kecil itu dan melumurkannya ke seluruh tubuhku, kemudian aku kembali menemui wanita tersebut dengan tubuh yang berlumuran kotoran dan sangat bau."


Ketika ia melihatku, iapun terkejut dan menyuruh pembantunya untuk mengusirku dari rumahnya.
Aku segera pulang, kemudian mandi dan membersihkan diriku. Ketika aku tidur di malam harinya, aku bermimpi ada seseorang yang berkata kepadaku; Engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapapun, sungguh kami akan mengharumkan tubuhmu di dunia dan di akhirat. Ketika aku bangun maka aroma wangi menyelimuti diriku dan hal itu berlangsung sampai saat ini.? (Kitab Al-Jaza' min Jinsil 'Amal, Al-?Affani.

Fatamorgana yang Haram dan Syubhat

Dalam menghambakan diri kepada Rab,terkadang jalan yang dilalui oleh seorang hamba penuh dengan berbagai macam perkara syubhat,haram yang menguji kualitas ibadahnya kepada Alloh Menjadi lebih berat,ketika nafsu juga mensuplai tubuh untuk berhasrat memenuhi keinginan-keinginan haram dan syubhat,karena fatamorgana kenikmatan yang ditawarkan

Dan sang iblis-pun tidak pernah mengenal lelah untuk senantiasa menarik setiap bani adam tenggelam dengan perkara haram dan syubhat tersebut,dan membuat pelakunya senantiasa merasa berat untuk meninggalkan karena janji-janji kosong sang iblis,padahal muara dari yang haram serta syubhat hanyalah kegetiran hidup



Tinggalkan Yang Haram dan Syubhat, Pasti Indah Gantinya dari Alloh



Sebagaimana Yusuf `alaihis salam yang meninggalkan isteri raja karena Allah dan lebih memilih penjara daripada berbuat keji, maka Allah menggantinya dengan kekuasaan di muka bumi, di mana saja ia kehendaki. Lalu, datanglah kepadanya wanita (yang dulu menggodanya) dengan segala kerelaan dan memelas, memintanya dengan penuh cinta untuk membina hubungan yang halal, lalu ia pun menikahinya.


Ketika malam pertama, Yusuf berkata kepadanya, "Ini lebih baik daripada apa yang dulu kamu kehendaki."
Dan pula ketika orang-orang Muhajirin meninggalkan kampung halaman dan tanah air yang paling mereka cintai karena Allah maka Allah memberikan ganti untuk mereka berupa penaklukan dunia dan Allah menjadikan mereka berkuasa di Timur dan Barat.

Dan ini adalah sunnatullah untuk segenap hamba-Nya pada zaman dahulu dan sekarang bahkan hingga datang hari Pembalasan.

Ubay bin Ka'ab radhiallahu `anhu berkata, "Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah kecuali Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan tidaklah seorang hamba menganggap remeh hal yang diharamkan, sehingga ia mengambil yang tidak baik kecuali Allah memberinya sesuatu yang lebih berat daripadanya."

 (Diriwayatkan oleh Waki' dalam Az-Zuhd, 2/635; Hanad, no.851; Atsar ini juga dikuatkan oleh hadits Az-Zuhri dari Salim dari ayahnya secara marfu: "Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah, tidak ia tinggalkan kecuali karenaNya, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih baik daripada-Nya dalam hal agama maupun dunianya." (Dikeluarkan oleh Abu Nu?aim dalam Al-Hilyah, 2/196).

Tidaklah Allah mengharamkan sesuatu kepada hamba-hambaNya melainkan Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.

Sebagaimana Allah mengharamkan riba atas mereka dan Allah menggantikannya dengan perdagangan yang menguntungkan,  Allah mengharamkan sutera (untuk laki-laki) dan menggantinya dengan berbagai macam pakaian.  Allah mengharamkan zina dan homoseksual lalu menggantinya dengan pernikahan.

Allah mengharamkan minuman keras dan menggantinya dengan minuman-minuman lezat. Allah mengharamkan mendengarkan alat-alat musik dan menggantinya dengan mendengarkan Al-Qur?anul Karim. Dan Allah mengharamkan berbagai makanan yang buruk lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang baik.

Karena sungguh Alloh adalah sebaik-baik dzat yang memelihara kehidupan bagi hamba-Nya yang taat. (nisyi/jurnalmuslim.com)

Ditulis ulang dari Telegram Channel @OeMita_Syameela