Tuesday, April 14, 2015

Inilah Kondisi Kaum Sunni di Iran

Buka juga ( menyeramkan ) :
Derita Muslim Ahwaz dari penjajahan Syi'ah Iran [ Ya Allah Ya Rabb, Binasakanlah Syiah Majusi (Iran) Laknatullah Seperti “Kaum-kaum Terdahulu” Yang Telah Engkau Binasakan ]

SUDAH sejak lama Kaum Syiah begitu memusuhi kaum Sunni. Dan pastinya, di negara ‘kiblat’ Syi’ah sendiri yakni Iran, kaum Sunni benar-benar mengalami diskriminasi yang amat berat. Beberapa kondisi yang dialami kaum Sunni dewasa ini di Iran dapat dituturkan sebagai berikut:
1. Kaum Sunni dilarang membangun masjid di kota-kota besar, sekalipun di wilayah yang mayoritas Sunni. Untuk membangun masjid, kaum Sunni begitu dipersulit sedemikian rupa, bahkan untuk mendapat izin pembangunan.
2. Setelah revolusi Iran, Khomeini yang merupakan pemimpin spiritual Iran mengizinkan kaum Sunni membangun sebuah masjid di Teheran yang dipersiapkan dananya dan tanahnya. Namun, rezim Syiah Iran ternyata mengulur-ulur waktu hingga akhirnya Syiah melarang berdirinya masjid Sunni di Teheran.
3. UUD Iran menerapkan adanya kewajiban memelajari ajaran Sunni bagi anak-anak Sunni yang tinggal di provinsi-provinsi dengan mayoritas Sunni. Sayangnya, hal ini hanya tertulis di atas kertas. Karena pada kenyataannya, guru-guru agama semuanya dari Syi’ah dan melarang tenaga pengajar dari golongan  Sunni.
4. UUD Iran juga menetapkan bahwa di provinsi-provinsi dengan mayoritas Sunnidilaksanakan pendidikan menurut mazhab Sunni. Ternyata semua ini bohong. Dan ketika perwakilan kaum Sunni mendatangi Pengadilan Tinggi Iran (Musawy Ardebily) untuk menanyakan masalah tersebut, pengadilan menjawab dengan enteng “Kami golongan Syi’ah dahulu masih lemah sehingga kami menggunakan siasat taqiyyah.”
5. Golongan Sunni dilarang menjadi pegawai pemerintah, sekalipun telah meraih gelar doktor. Sebelum revolusi memang masih sedikit tersisa kaum Sunni yang mengemban tugas penting. Dan pasca revolusi, terjadilah pembersihan luas terhadap pegawai Sunni.

6. Melarang penerbitan buku-buku Ahlu-Sunnah dalam bahasa persia, terutama yang berkaitan dengan akidah.
7. Sekolah-sekolah agama Sunni yang telah berdiri sejak sebelum masa revolusi begitu banyak. Namun, pemerintah Syiah samasekali tidak mau mengakuinya. Anak-anak yang tengah dalam masa studinya dipaksa ikut wajib militer, padahal anak-anak di sekolah Syiah tidak wajib ikut wajib militer.
8. Ulama-ulama Sunni yang berani menjelaskan kemurnian akidah Islam dan penyimpangan akidah Syiah diperketat ancamannya, diperberat hukumannya bahkan diusir.
9. Para pelajar dari kalangan Sunni amat dipersulit untuk memasuki universitas-universitas yang ada di Iran. Sedikit sekali mereka yang bisa masuk dengan berbagai hambatan dan kesulitan begitu besar, padahal jumlah kaum pelajar di Sunni di Iran berjumlah 10 persen dari seluruh penduduk Iran.
10. Di bidang ekonomi dan pembangunan terjadi diskriminasi yang mencolok di wilayah-wilayah yang berpenduduk Sunni dan Syiah. Dana pembangunan dilimpahkan secara tak terbatas ke wilayah-wilayah Syiah. Sebaliknya, wilayah-wilayah Sunni justru dihancurkan, warga negaranya banyak yang dibunuh dan dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang keji.
Selain itu, dalam urusan politik dan diplomatik Iran dengan negara-negara Islam lainnya yang cenderung ‘pilih-pilih.’ Jika negara-negara tersebut dekat hubungannya dengan kaum Sunni, Iran segera menjauhkan diri. Bukti kuatnya adalah hubungan Iran dan Arab Saudi, Pakistan dan beberapa negara teluk lainnya. Hubungan tingkat diplomatik Iran dan Saudi sebatas pada taraf kuasa usaha (konsul), sehingga kedua negara tersebut tidak ada duta besar masing-masing negara.
Demikian pula dengan Pakistan, Iran memiliki hubungan yang tidak baik dengan negara ini. Iran menyebut Pakistan adalah pengikut AS. Karena dianggap dekat dengan AS itulah Iran menjauhkan diri dari Pakistan maupun negara teluk lainnya.
Selesai
[sumber: Syiah,menguak tabir kesesatan dan penghinaannya terhadap Islam/karya Drs. Muhammad Thalib/penerbit: el-qassam]
https://www.islampos.com/inilah-kondisi-kaum-sunni-di-iran-1-174975/
https://www.islampos.com/inilah-kondisi-kaum-sunni-di-iran-2-176834/
Artikel terkait :
http://www.gensyiah.com/bukti-ke-9-iran-melarang-pendirian-masjid-sunni-di-teheran.html

Iran adalah Mayoritas Syiah, Bagaimanakah Islam Sunni di Iran?

Penduduk Iran terdiri dari banyak etnis dan golongan mulai dari Kristen, Yahudi, Zoroastrian, Baha’is, Sunni, dan Syiah sebagai golongan penguasa. Namun, di antara golongan-golongan tersebut, kaum Sunni lah yang paling banyak ditindas oleh pemerintah Iran, dikarenakan perbedaan masalah aqidah antara Syiah dan Sunni.
Penghinaan Iran Terhadap Kaum Sunni
Dalam kekuasaan Iran, tak pernah ada ceritanya, orang Sunni duduk dalam kursi pemerintahan. Baik itu untuk menterinya ataupun sekadar calon presiden belaka. Ini terjadi sejak Revolusi Iran yang mengintegrasikan golongan Sunni ke dalam kaum minoritas. Dalam konstitusi Iran, sudah disepakai, presiden Iran haruslah seorang penganut Syiah. Syiah, tak pelak, telah membuat kaum Sunni menjadi sangat inferior.
Penghinaan kaum Syiah terhadap jamaah Sunni bisa dilihat jelas pada ritual Syiah setiap pekannya, misalnya saja dalam acara doa bersama yang memang kerap dilaksanakan berbarengan. Di Iran, kaum Sunni mencapai 20% dari populasi penduduk Iran yang berjumlah 70 juta orang.
Sunni Iran mengalami penekanan yang sistematik selama bertahun-tahun. Pemimpin mereka, seperti Ahmed Mufti Zadeh dan Syeikh Ali Dahwary, dipenjarakan kemudian dibunuh. Pemerintah Iran juga menghancurkan masjid-masjid kaum Sunni, dan melarang adanya pendirian masjid Sunni lainnya sekarang ini. Bandingkan dengan Sinagog Yahudi yang banyak bertebaran di seantero Iran. Bahkan, azdan oleh kaum Sunni pun dilarang oleh pemerintah Iran.
Pengaruh Kaum Sunni Dalam Pemilu
Ada dua faktor yang mendasari analisis terhadap kaum Sunni Iran dalam pemilu. Pertama, kesatuan para pemilih Sunni dibawah pemimpin dan ulama Sunni. Kedua, tekanan internasional yang terus dialamatkan kepada Iran.
Sudah diketahui secara umum, jika bertahun-tahun sudah, kaum Sunni di Iran memilih menjadi golongan putih alias abstain setiap kali pemilu Iran dilaksanakan. Namun tahun 1997, para pemilih Sunni tiba-tiba saja muncul ke permukaan mendukung Khatami, dan menjadi fenomena tersendiri ketika itu.
Di zaman Khatami, yang beraliran liberal cukup dominan, kaum Sunni mulai dapat bersikap lega. Mereka membentuk kekuatan sendiri, dan baru zaman Khatami ini mereka mempunyai radio dan surat kabar sendiri. Kaum Sunni juga mulai bisa menyekolahkan anak-anaknya di universitas-universitas Iran.
Namun, seperti yang sudah terjadi, siapapun presidennya , yang ditampilkan  seorang presiden Syiah yang digambarkan sangat sederhana, namun ternyata sangat menekan kaum Sunni. Dan siapapun pemimpin Iran, selalu  sering kali mendapat sambutan luar biasa dari dunia internasional karena keberaniannya dalam menentang AS dan Israel, namun anehnya, sampai saat ini, Iran-yang tak lebih besar daripada Iraq yang sudah digempur habis-habisan oleh AS dan sekutu, masih baik-baik saja. Dalam artian, AS tidak pernah melakukan suatu tindakan yang nyata terhadap Iran.
Perkembangan Kaum Sunni
Kaum Sunni Iran hidup di pinggiran dan perbatasan. Sementara kaum Syiah, Kristen dan Yahudi menghuni kawasan kota-kota besar di Iran. Karroubi-sebelum pemilu-berjanji akan merevisi semua konstitusi Iran yang telah bertahun-tahun dilaksanakan, di antaranya adalah dengan melindungi kaum Sunni. Menurut Karoubi, kaum Sunni di Iran tak lebih berharga daripada orang asing di negara itu sendiri. Mousavi-jika terpilih-akan kembali membangun masjid pertama untuk kaum Sunni. Asal tahu saja, kaum Sunni Iran sekarang ini, jika melakukan shalat Jumat, harus di kedutaan besar asing!
Kemarahan kaum Sunni Iran terhadap pemerintahnya tak lepas dari kebijakan Iran sendiri selama ini. Selain itu juga karena perbedaan aqidah yang sangat besar, yaitu kaum Syiah tak mengakui keberadaan sahabat Rasul (kecuali Ali). Kaum Syiah menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama daripada seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Sesuatu yang oleh Ali bin Abu Thalib sendiri pernah disanggahnya semasa beliau hidup.
Pencetus pertama paham Syi’ah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa,).” (Majmu’ Fatawa, 4/435).
Tak pelak, ajaran Syiah sudah dianggap sebagai ajaran sesat dalam Islam dan ulama-ulama besar internasional pun sudah mengharamkannya. Dan hingga dibawah kekuasaahingga sekarang ini, tampaknya nasib kaum Sunni di Iran akan tetap terus tertindas dan tertekan.


Testimoni Imam Masjid Istiqlal tentang Syiah dan Iran

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Ali Mustofa Yaqub menulis testimoni kepada saya:
Pada bulan Agustus 2005, kami berada di Iran. Selama satu pekan di sana, kami mengunjungi Kota Teheran dan Kota Qum. Suatu malam, ketika kami diundang untuk makan malam oleh Duta Besar Republik Indonesia di Teheran, kami berbincang-bincang dengan beliau tentang Iran. Kami katakan kepada beliau bahwa warga Iran pada masa dahulu adalah penganut Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bermazhab Syafi’i.
Kitab-kitab karya para ulama Iran bahkan sampai sekarang masih menjadi rujukan utama para ulama di Indonesia. Sebut saja misalnya, Kitab al-Muhadzdzab tentang Fikih Syafi’i karya Imam al-Syirazi (w 476 H) dari Syiraz, Iran, yang disyarahi (diperluas) oleh Imam al-Nawawi (w 676 H) dalam Kitab al-Majmu’, kitab Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ , sebuah kitab Hadis karya Imam Abu Nu’aim al-Ishfahani (w 430 H) seorang ulama dari Ishfahan, dan juga Kitab Ihya’Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali yang lahir di Kota Thus pada tahun 450 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 505 H. Kota Thus berada di kawasan Khurasan, wilayah timur laut Iran, yang sekarang disebut Masyhad.
Ketika dinasti Shafawiyah, nisbah kepada pendirinya, Ismail al-Shafawi (1587-1629 M), yang berhaluan Syi’ah meraih kekuasaan politik di Iran, eksistensi Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran redup. Dan setelah revolusi Syi’ah di Iran pada tahun 1979 M, eksistensi Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran padam.
Kepada Duta Besar Republik Indonesia di Teheran waktu itu, kami mengatakan bahwa apa yang terjadi di Iran dapat pula terjadi di Indonesia. Ketika itu, pada tahun 2005, jumlah mahasiswa Indonesia di Iran ada 150 orang. Mereka belajar Syiah di Kota Teheran dan Kota Qum. Sementara saat ini, konon mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran sebanyak 7000 orang. Seorang Diplomat Irak pernah mengatakan kepada kami bahwa persentase muslim Sunni di Iran mencapai 35 %. Namun, mereka sudah kehilangan hak politiknya, tidak ada satu pun muslim Sunni yang menjadi anggota parlemen. Di Iran juga tidak ada satu pun masjid milik kaum Sunni. Sementara di negeri Komunis seperti Rusia terdapat ratusan masjid milik muslim Sunni.
Awal Desember 2013 M, ketika diadakan Konferensi Imam Masjid se-dunia di Pekanbaru, Riau, kami bertemu dengan delegasi dari Irak. Ia seorang imam dan anggota Majelis Ulama Irak. Beliau mengatakan kepada kami bahwa ketika Dinasti Shafawiyah meraih kekuasaan politik di Iran, mereka mengatakan, “Hari ini di Iran, besok di Irak, lusa di Suriah, esoknya lagi di Bahrain dan seterusnya di negara-negara muslim yang lain.” Beliau juga mengatakan bahwa saat ini aset-aset wakaf milik Ahlus Sunnah wal Jamaah di Irak telah dirampas oleh Syi’ah.
Apa yang dikatakan oleh orang-orang dari Dinasti Shafawiyah di Iran saat itu, mungkin merupakan sebuah obsesi, bahkan mungkin disebut isapan jempol. Namun kenyataan membuktikan bahwa Irak telah dikuasai oleh Syi’ah, sementara Suriah sedang dalam pergulatan dan perang saudara.
Ketika Irak masih dikuasai oleh rezim partai sosialis Arab, Ba’ats, yang berhaluan komunis dan dikomandoi oleh Presiden Saddam Husein, warga Ahlus Sunnah wal Jamaah dapat hidup berdampingan dengan kelompok lain secara damai dan tenteram. Namun setelah rezim Partai Ba’ats yang komunis itu ditumbangkan, konflik berdarah antar kelompok selalu terjadi di Irak.
Ada orang berkata bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Syi’ah adalah perbedaan dalam penafsiran saja. Menurutnya, perbedaan penafsiran seperti itu juga terdapat di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah sendiri. Pendapat ini tampaknya ingin memberikan lampu hijau dan legalitas kepada Syi’ah. Masalahnya apakah semua penafsiran itu dibenarkan menurut ajaran Islam? Apabila hal itu dibenarkan, maka tidak ada satu pun pendapat di dunia yang salah menurut ajaran Islam. Seperti kita ketahui, kelompok Ahmadiyah (Qadianiyah) menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata Khatam an-Nabiyyin dalam Surat Al-Ahzab ayat 40 adalah nabi yang terbaik. Penafsiran Ahmadiyah ini untuk menjustifikasi bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi, padahal Hadis-hadis sahih menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi pamungkas dan tidak ada nabi setelah beliau. Konsensus (ijma’) ulama juga menetapkan demikian.
Ustadz Fahmi Salim, Lc. MA.

Iran.. Ulama Sunni Tuntut Penghentian Diskriminasi Sektarian

Para Ulama Sunni di Iran menuntut pemerintahan Presiden Hassan Rouhani untuk mengakhiri "diskriminasi dan perlakuan tidak adil" dengan isu-isu etnis minoritas dan agama minoritas seperti dilansir Alarabiya, hari Selasa 02/09/14 . 
Mereka juga mengkritik, dalam laporan terpisah, pihak berwenang yang berurusan dengan siswa sekolah agama Islam Sunni, di provinsi Balochistan, Iran timur. 
Menurut situs, "Sunni online", yang mengekspos berita-berita mengenai Sunni di Iran, Syaikh Abdul Hamid Ismail Zahi, Imam Sunni di kota Zahedan, ibukota provinsi Balochistan, menuntut pemerintah untuk "mengakhiri diskriminasi dan untuk memenuhi janji-janjinya terhadap hak-hak kelompok minoritas." 
Kata Syaikh Abdul Hamid, ketika khotbah Jumat kemarin, mengatakan bahwa "keterlibatan kelompok minoritas dari etnis dan agama di dalam mengelola negara akan meningkatkan persatuan nasional, keamanan dan stabilitas di negara itu," seperti dikutip situs Sunni Online. 
Dalam konteks yang sama, Syaikh Mohammad Hussein Gargij, Imam Sunni di kota Azad Shahr menuntut pemerintah Iran  dengan mengatakan bahwa "orang-orang bodoh yang berlaku diskriminatif terhadap isu-isu minoritas agama harus dihukum." Dia menyebutkan bahwa kampanye penangkapan massal, yang dilakukan oleh pemerintah Iran, terhadap siswa dari pusat-pusat keagamaan Sunni, khususnya di provinsi Balochistan, yang mayoritas penduduknya Sunni. 
Penangkapan ditargetkan kepada seluruh siswa berpakaian seragam sekolah Sunni di perbatasan provinsi dan pos pemeriksaan di pintu masuk ke kota Zahedan. 
Tuntunan ini adalah yang kesekian kalinya terhadap perlakuan diskriminatif pemerintah Persia Iran terhadap Sunni yang mayoritasnya beretnis Arab.




Mau Tahu Hubungan Hizbut Tahrir Dengan Syiah?

Sepenggal Kisah Hizbut Tahrir Dan Hubungan Gelap Mereka Dengan Agama Syi’ah
Pendiri Hizbut Tahrir adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim an-Nabhaani. Lahir di desa Ijzam sebelah selatan kota Heefa pada tahun 1909 M. Ia sangat terpengaruh dengan kakeknya dari pihak ibu bernama Syaikh Yusuf Ismail an-Nabhaani yang terkenal dengan kesufiannya serta kebenciannya terhadap Salafush Shalih. Sebagai buktinya adalah beberapa karya yang ditinggalkannya, seperti buku “Syawaahidul Haq fil Istighaatsah bi Sayyidil Khalq.” Ia sangat terpengaruh dengan keyakinan-keyakinan sufi yang dipelopori oleh Kesultanan Utsmaniyah. Syaikh Mahmud Syukri al-Aluusi telah membantahnya dalam beberapa buku, di antaranya “Ghaayatul Amaani fir Radd ‘ala an-Nabhaani.”
Kemudian Taqiyuddin masuk Universitas al-Azhar. Lalu bekerja di Peradilan Agama dan pada tahun 1950 M ia diangkat menjadi anggota Mahkamah Banding Syariat kemudian ia mengundurkan diri. Ia mencalonkan diri menjadi anggota Parlemen Yordania sebagai calon dari daerah al-Quds, akan tetapi ia tidak terpilih. Kemudian ia bekerja sebagai tenaga pengajar di Kuliyah Ilmiah Islamiyah. Dan pada tahun 1952 M ia mengajukan permohonan resmi ke Departemen Dalam Negeri Yordania agar memberi izin resmi bagi partainya yang bernama Hizbut Tahrir Islami, akan tetapi permohonannya itu ditolak. Setelah itu partai ini melakukan kegiatan partai secara diam-diam.
Syaikh Taqiyudin an-Nabhaani meninggal dunia pada tahun 1977 M di Libanon. Kemudian kepemimpinan partai ini dilanjutkan oleh Abdul Qadim Zalum.1
Pendapat Hizbut Tahrir Tentang Nikah Mut’ah
Mereka berpendapat bahwa nikah mut’ah tidak haram, seperti yang disebutkan dalam selebaran tanya jawab no. 26 bulan Jumadil Awal 1390 H bertepatan dengan bulan Agustus tahun 1970: “Mut’ah menurut madzhab Ja’fari termasuk nikah. Madzhab Ja’far dalam pandangan Hizbut Tahrir seperti madzhab Abu Hanifah. Pengadopsian madzhab ini dapat menyeret kepada kontroversi. Dan Hizb memilih untuk tidak mengadopsinya, akan tetapi Hizb mengeluarkan jawaban atas pertanyaan. Syabab Hizbut Tahrir tidak menyelisihi pendapat yang dikeluarkan meski tidak diadopsi.”2
Hizbut Tahrir dan Revolusi Syi’ah Yang Kelam
Hizbut Tahrir bertepuk tangan menyambut kemenangan Revolusi Syi’ah yang kelam. Mereka berangkat ke Teheran, memberikan dukungan bagi Khomeini untuk mengangkat dirinya sebagai imam kaum muslimin dan pemimpin negara orang-orang yang tertindas. Akan tetapi Khomeini tidak mengacuhkan mereka dan tidak memperhatikan mereka.
Dalam pernyataan Hizbut Tahrir, mereka menyebut Khomeini dengan sebutan “Samaahatul Imam Ayatullah Khomeini al-Muhtaram.”
Mereka memanggil Khomeini dengan sebutan imam dan menunggu seberkas kebaikan darinya dan dari pengikutnya. Mereka menginginkan Khomeini menjadi imam bagi mereka. Akan tetapi Khomeini bersikeras menyatakan keyakinan (Syi’ah) Rafidhahnya dan tetap mempertahankan aqidah syi’ahnya serta mengumumkannya terang-terangan dalam undang-undang.
Dengan terang-terangan Khomeini mengatakan kepada orang-orang yang tertipu itu, “Sesungguhnya Iran adalah negara syi’ah dan tidak akan berubah menjadi bentuk negara lainnya.”3
Selesai ditulis tanggal 16 Jumadal Akhir 1436 H / 6 April 2015.
Abu Aslam Benny Mahaputra A
Rujukan:
  1. Buku “Jama’ah-Jama’ah Islam (2) Ditimbang Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah” karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Pustaka Imam Bukhari.
  2. Buku “Mulia Dengan Manhaj Salaf” karya al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa.
Footnote:
  1. Lihat buku Jama’ah-Jama’ah Islam (2) halaman 162. Lihat juga buku Mulia Dengan Manhaj Salaf halaman 545.
  2. Lihat buku Jama’ah-Jama’ah Islam (2) halaman 167.
  3. Lihat buku Jama’ah-Jama’ah Islam (2) halaman 271-272.

Monday, April 13, 2015

Berguru kepada Abdullah Bin Saba ( Perusak/ Pengkloning Agama ),Syiah Sababiyah Saat ini Juga Mengkloning Situs-Situs Ahlussunnah !

Waspada, aliran sesat syiah membuat situs tandingan (kloning) dengan alamat yang menyerupai situs penegak amar ma'ruf ( Ahlussunnah ) yang bertujuan untuk mengelabui dan menyesatkan umat Islam. Situs tersebut (palsu) berisi aliran sesat syiah dan dusta-dusta khas syiah. Anda harus bisa membedakannya. 
Dibawah ini kami tampilkan beberapa situs palsu dan berbahaya, hasil kloning keturunan Majusi Syiah Abdullah Bin Saba :
Aslinya/Ahlussunnah : www.nahimunkar.com 
Kloning majusi rafidhah/Syiah : www.nahimunkar.net 
Aslinya/Ahlussunnah : www.lppimakassar.com  
Kloning majusi rafidhah/Syiah : www.Ippimakassar.net
Aslinya/Ahlussunnah : www.arrahmah.com 
Kloning majusi rafidhah/Syiah : http://arrahmahnews.com 
Aslinya/Ahlussunnah :  http://gensyiah.com  
Kloning majusi rafidhah/Syiah :  http://gensyiah.blogspot.com
Aslinya/Ahlussunnah : http;//salafy.or.id 
Kloning majusi rafidhah/Syiah : http://salafynews.com 
Aslinya/Ahlussunnah : www.sunnahcare.com
Kloning majusi rafidhah/Syiah : www.sunnahcare.blogspot.com 
Aslinya/Ahlussunnah : http://infosyiah.com
Kloning majusi rafidhah/Syiah : http://infosyiah.wordpress.com 
Aslinya/Ahlussunnah ; Syiahindonesia.com 
Kloning majusi rafidhah/Syiah : Syiahindonesia.net 
Aslinya/Ahlussunnah :  www.indonesia-menolak-syiah  
Kloning majusi rafidhah/Syiah : www.indonesia-tolak-takfiri.blogspot.com 
Aslinya/Ahlussunnah : http://alislamu.com 
Kloning majusi rafidhah/Syiah : www.al-islam.org 
Aslinya/Ahlussunnah : www.syiahindonesia.com 
Kloning majusi rafidhah/Syiah :  http://syiahali.worspress 
Situs Kloningan Majusi Syiah lain sedang diteliti dan akan dipublikasikan segera mungkin untuk mencegah meluasnya pengelabuan !
artikel terkait :

Apakah Iran anak buah Yahudi ? Dimanakah letak Khurasan?

Saya melihat bahwa negara iran seolah-olah menjadi pembela islam, tetapi banyak umat islam yang di bunuh oleh kaum syiah, padahal syiah merupakan buah pemikiran seorang yahudi, bahkan di negara iran terdapat ka’bah versi mereka, begitu pula dengan qunut ala syiah yang mengejek dan melaknat para sahabat, lalu apakah khurasan yang dimaksud dalam hadits bahwa dajjal akan muncul dari negeri khurasan? apakah negeri khurasan yang dimaksud itu adalah salah satu provinsi di iran, dan apakah imam mahdi orang syiah itu adalah dajjal, seberapa dekatkah zionis yahudi dan iran?, mohon diungkap. Wassalam
Abu Hasan
Jawaban
Wa’alaykumsalam, wr.wb saudaraku Abu Hasan. Jazakallah atas pertanyaannya, semoga kita selalu diberi keberkahan oleh Allah di fase-fase akhir zaman seperti sekarang ini.
Saya melihat ada dua ciri karakteristik kelompok/orang yang masuk ke lingkaran Syiah. Pertama mereka yang sebenarnya masih awam tentang Syiah. Golongan ini pada dasarnya tidak begitu mengenali bagaimana seluk beluk Syiah selama ini. Dari mulai pelecehan Syiah terhadap para sahabat, kecuali Ali. Sikap Syiah terhadap Ahlus Sunnah. Doktrin Imamah Syiah (yang berimplikasi pada Ushul Fiqh), sampai praktek taqiyah milik Syiah untuk menutupi ajaran mereka selama ini.
Kedua. Pengikut Syiah yang benar-benar ideologis. Mereka mengikuti hakikat ajaran Syiah sepenuhnya. Seperti konsep Imamah, Taqiyah, Roj’ah, bad’a, dan lain sebagainya. KH. Nabhan Husein, dalam presentasinya di Mesjid Istiqlal tahun 1997, lewat artikel berjudul “Tinjauan Ahlus sunnah Terhadap Faham Syiah Tentang Al Qur’an dan Hadits” pun merinci setidaknya ada 219 ayat yang di Al Qur’an yang tidak diakui kelompok Syiah.
Pada kasus pertama biasanya mereka yang masuk ke komunitas Syiah salah satunya oleh kekaguman kepada sosok Ahmadinejad. Mereka juga tidak bisa membedakan kasus Revolusi Iran dengan faham aqidah Syiah. Lalu bukan tidak mungkin mereka termakan oleh praktik taqiyah Syiah yang sengaja dimainkan untuk menutup-nutupi hakikat sesungguhnya.
KH Dawam Anwar, dalam presentasinya “Inilah Haqiqat Syiah” saat Seminar Nasional tentang Syiah tahun 1997 di Mesjid Istiqlal, menjelaskan bahwa salah satu sulitnya ajaran Syiah terendus masyarakat awam dikarenakan kitab-kitab yang memuat hakikat Syiah dan Syariat Syiah langka sekali, bahkan bisa dibilang tidak ada.
Kitab-kitab semacam Al Kaafi, Tahdzibuk Ahkam, Al Istibshar, Bihar Al Anwar, Al Waafi dan lain-lain tidak ditemui toko-toko buku pada umumnya. Karena sejak dahulu ulama-ulama Syiah sengaja merahasiakan kitab-kitab semacam itu agar jangan sampai jatuh ke tangan Ahlus Sunah karena akan menjadi senjata makan tuan. Walau pada akhirnya, atas izin Allah, kitab-kitab itupun sampai juga ke tangan ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah.
Hemat saya, elemen pertama inilah yang bisa menjadi lahan dakwah bagi kita untuk mengingatkan kepada mereka tentang kekeliruan faham Syiah. Kita bisa sama-sama menyadarkan untuk tidak terpukau semata-mata karena faktor Ahmadinejad gencar melakukan kritik terhadap Amerika. Karena, hal itu pun juga masih bisa diperdebatkan.
Kalaulah memang Ahmadinejad serius melawan Amerika, sekiranya ia bisa berbuat lebih riil dalam melaksanakannya. Tidak jauh dari Iran, berbatasan langsung dengan teritori Ahmadinejad, yakni Afghanistan dimana puluhan ribu mujahidin bahu membahu mengusir Amerika dan cengkaman Zionis. Namun sampai saat ini belum ada tindakan konkret dari Ahmadinejad untuk membantu Afghan mengusir Amerika.
Yang terjadi justru sebaliknya. Satu contoh saja, kita ketahui bersama hubungan Ahmadinejad dengan Nouri Al Maliki dekat sekali. Padahal Nouri adalah kaki tangan Amerika dan Israel di Irak. Jadi amat wajar jika spekulasi kemudian berkembang: apakah karena Nouri Al Maliki juga oang Syiah?
Bahkan 18 april lalu, lima belas orang tewas di Ahwaz, Iran oleh pasukan keamanan Iran didukung oleh milisi pakaian sipil. Mereka melakukan serangan terhadap aksi demonstrasi dengan kekerasan yang menuntut hak bagi mayoritas etnis Arab di provinsi Khuzestan Iran yang berpenduduk mayoritas Sunni.
Kalaulah Iran masih menganggap Sunni adalah saudaranya kenapa harus dengan membunuh, bukankah lebih baik senjata itu diarahkan kepada musuh sebenarnya yakni Gedung Putih yang kini bercokol di Irak, Afghan, dan Palestina?
Dan ini semakin menimbulkan kecurigaan kenapa Iran -yang tak lebih besar dari pada Iraq yang sudah digempur habis-habisan oleh AS dan sekutu- masih baik-baik saja. Dalam artian, AS tidak pernah melakukan suatu tindakan yang nyata terhadap Iran.
Khurasan dan Iran
Lalu pertanyaan saudara selanjutnya, apakah yang dimaksud Khurasan disini adalah salah satu provinsi di Iran? Betul memang ada hadis yang mengatakan demikian. Namun kita ketahui bersama bahwa nama Khurasan minimal berada pada dua negara; pertama di Iran itu sendiri, kedua terletak pada salah satu sudut daerah di India Selatan, tepatnya masuk teritorial Desa Babua. Dari sinilah beberapa kalangan sempat menilai bahwa Sai Baba itu adalah Dajjal karena berasal dari Desa Khurasan, India Selatan.
Dalam melihat Khurasan, DR Uman Sulaiman al Asyqar dalam kitabnya al Yaum al Akhir: al Qiyamah ash Shughra wa’ Alamat al Qiyamah al kubra, mengacu pada hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari An Nuwwas Ibn Sa’man, yang berbunyi “Sesungguhnya ia (Dajjal) muncul di suatu daerah antara Syam dan Iraq. Ia merusak ke kanan dan ke kiri. Hai Para Hamba Allah bersiteguhlah.”
Dalam konteks hadis ini, Syaikh Al Bani berkata bahwa menurut Hakim sanad hadis ini shahih, dan disetujui oleh Adz Zahabi. Oleh karena itu DR Umar Sulaiman menilai bahwa Khruasan yang dimaksud adalah Persia. Yang berarti masuk teritori Iran modern.
Hal ini bisa diperkuat dari hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya yang berbunyi. “Pengkuti Dajjal dari Yahudi Isfahan ada tujuh puluh ribu orang. Mereka memakai pakaian gamis” (Musnad Ahmad IV h. 216-217).
Isfahan (Esfahan) sendiri adalah sebuah kota bersejarah di Iran dan terbesar ketiga di Iran. Secara geografis kota ini terletak pada 32°38′ LU 51°29′ BT, di dataran Zayandeh-Rud yang subur, di kaki pegunungan Zagros.
Pada masa lampau Isfahan juga ditulis sebagai Ispahan. Atau dalam bahasa Persia Kuno disebut Aspadana. Dan dalam dialek bahasa Persia Pertengahan disebut Spahān,
Abu Naim dalam kitabnya Lawami’ al Anwar Bahiyyah, seperti dikutip DR. Sulaiman menuturkan bahwa salah satu desa yang masuk dalam daerah Isfahan ada yang bernama al Yahuddiyah karena penduduknya khusus Yahudi sampai zaman Ayyub Ibnu Ziyad penguasa Mesir pada zaman Khalifah al Mahdi ibn al Manshur al Abbasi. Pada zaman ini kaum muslim mulai masuk ke desa itu sehingga orang-orang Yahudi terdesak. Wallahu’alam.
Source : syiahindonesia.com



[ Sekali lagi ] Apakah Golongan Syi'ah Lebih Berbahaya Dari Yahudi?

Rabu, 24 Jumadil Akhir 1436 H / 25 Februari 2015 08:39 wib
Bismillahirrahmanirrahim ..
“Apakah mereka (Syi’ah) lebih berbahaya dari Yahudi?”…….
Sebab hakikat dari pertanyaan ini adalah untuk membungkam lisan mereka yang sadar akan penderitaan umat, sekaligus membikin kikuk mereka yang berusaha menjaga dan melindungi kaum muslimin.
Saya akan menyanggah mereka dan mengatakan kepada mereka:
“Memang apa salahnya kalau umat Islam menghadapi dua bahaya yang mengintai secara bersamaan? Apakah muslimin Ahlussunnah yang mencari-cari alasan untuk menyerang Syi’ah, ataukah realita di lapangan membuktikan berulang kali bahwa merekalah yang memulai serangan?”
Kita menyaksikan gencarnya serangan Syi’ah terhadap umat Islam, dan saya rasa realita kita saat ini tak jauh berbeda dengan masa lampau. Bahkan saya bersaksi bahwa sejarah akan mengulangi dirinya, dan generasi muda akan mewarisi dendam kesumat nenek moyang mereka.
Tak ada kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari kelompok yang menganggap bahwa 99% sahabat Nabi adalah bejat, mengingat hal itu merupakan pengingkaran yang nyata akan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku.” (HR. Bukhari no 3451 dan Muslim no 2533)
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya.
Realita Syi’ah –dari dulu sampai sekarang- adalah amat sangat menyakitkan…( + an RRZ: menikam dalam selimut )
Mari kita tengok kembali beberapa masalah yang akan menjadikan visi kita lebih jelas, sehingga dapat membantu kita untuk menentukan sikap paling tepat yang mesti kita ambil terhadap Syi’ah; lalu kita tahu: lebih baik bicara ataukah diam saja!
PERTAMA: 
Semua orang tahu bahwa sikap Syi’ah terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzin Nuurain, lalu isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama Aisyah radhiallahu ‘anha hingga para sahabat secara umum.

Sebagaimana yang dinyatakan terang-terangan oleh referensi dan nara sumber mereka yang telah mereka yakini; adalah bahwa para sahabat tadi adalah orang-orang fasik dan murtad. Mayoritas mereka telah sesat dan berusaha menyembunyikan serta menyelewengkan ajaran Islam.
Dari sini apakah kita harus mengawasi dan diam saja ‘demi menghindari fitnah’?
Fitnah apakah yang lebih besar dari pada menuduh generasi teladan sebagai masyarakat ‘bejat dan pendusta’?!?
Marilah kita merenungi sama-sama perkataan bijak salah seorang sahabat yang bernama Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu:
إذا لَعَنَ آخرُ هذه الأمَّة أوَّلها، فَمَنْ كان عنده علمٌ فليظْهره، فإنَّ كاتم ذلك ككاتم ما أُنزل على محمدٍ صلى الله عليه وسلم”.
“Bila umat Islam di akhir zaman mulai melaknat pendahulunya, maka siapa saja yang berilmu hendaklah menunjukkan ilmunya. Bila ia menyembunyikan, maka ia seperti yang menyembunyikan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Nisbat riwayat ini kepada Nabi sanadnya dha’if, namun riwayat ini adalah dari perkataan Jabir bin Abdillah)
Bisakah Anda menangkap kedalaman makna ucapan ini?
Hujatan terhadap generasi sahabat bukan sekedar hujatan terhadap mereka yang telah tiada… tidak juga seperti ucapan sebagian orang bahwa: “Hujatan tersebut tidak berbahaya bagi para sahabat, karena mereka telah masuk Surga meski Syi’ah tidak suka.” Akan tetapi bahaya besar di balik ucapan ini ialah karena hujatan terhadap para sahabat pada hakikatnya adalah hujatan terhadap Islam secara langsung. Sebab kita tidak mendapatkan ajaran Islam kecuali melalui para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Kalau berbagai hujatan yang menimbulkan keraguan akan akhlak, niat, dan perbuatan para sahabat dibiarkan; lantas agama model apa yang akan kita anut?
Hilanglah agama kita kalau kita terima semua itu… hilanglah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran beliau.
Justeru kita bertanya kepada Syi’ah: “Al Qur’an apa yang kalian baca sekarang? Bukankah yang menyampaikannya adalah mayoritas sahabat yang kalian hujat? Bukankah yang berjasa mengumpulkannya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, yang kalian anggap berbuat licik untuk menjadi khalifah? Lantas mengapa ia tidak merubah-rubah Al Qur’an sebagaimana merubah-rubah Sunnah menurut tuduhan kalian?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المهديين مِنْ بَعْدِي”.
“Kalian wajib berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat hidayah sepeninggalku.” (HR. Tirmidzi no 2676, Ibnu Majah no 42 dan Ahmad no 17184)
Jadi, Sunnah Khulafa’ur Rasyidien adalah bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Hukum dan sikap yang diputuskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah hujjah (dalil) bagi setiap muslim, kapan, di mana pun, dan sampai hari kiamat… lantas bagaimana mungkin hujatan terhadap mereka kita biarkan?!

Sebab itulah, ulama-ulama kita yang mulia demikian berang bila mendengar ada orang yang berani menghujat sahabat. Imam Ahmad bin Hambal misalnya, beliau pernah mengatakan:

إذا رأيت أحدًا يذكر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بسوءٍ، فاتهمه على الإسلام
“Kalau engkau mendapati seseorang berani menyebut para sahabat dengan tidak baik, maka tuduhlah dia sebagai musuh Islam.”(Ash Sharimul Maslul ‘ala Syaatimir Rasul 3/1058 oleh Ibnu Taimiyyah)
Al Qadhi Abu Ya’la (salah seorang fuqaha mazhab Hambali) mengatakan: 
“Para fuqaha sepakat bahwa orang yang mencaci-maki para sahabat tak lepas dari dua kondisi: kalau dia menghalalkan hal tersebut maka dianggap kafir, namun jika tidak menghalalkannya maka dianggap fasik (bejat)” (Ibid, 3/1061)
Abu Zur’ah Ar Razi (salah seorang pakar hadits yang wafat th 264 H) mengatakan:
إذا رأيتَ الرجلَ ينتقص من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فاعلم أنّه زنديق
“Kalau engkau mendapati seseorang mengkritik sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu Zindiq (munafik).” (Al Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah hal 49 oleh Al Khatib Al Baghdadi)
Sedangkan Ibnu Taimiyyah berkata:
“Barang siapa menganggap bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali segelintir orang yang jumlahnya tak sampai belasan orang, atau menganggap fasik (bejat) mayoritas sahabat; maka orang ini kekafirannya tidak diragukan lagi.” (Ash Sharimul Maslul 3/1110 oleh Ibnu Taimiyyah)
Sikap yang keras terhadap para penghujat sahabat ini, tak lain adalah karena para sahabatlah yang menyampaikan agama ini kepada kita. Kalau salah seorang dari sahabat dihujat, berarti Islam jadi meragukan. Mengingat banyaknya pujian yang Allah berikan kepada mereka dalam Al Qur’an, maupun dalam Sunnah Nabi-Nya, jelaslah bahwa orang yang menghujat para sahabat berarti mendustakan ayat-ayat dan hadits yang cukup banyak tadi.
Mungkin ada yang berkata: 
“Lho, kami tidak pernah mendengar si Fulan dan si Fulan yang Syi’ah itu menghujat para sahabat?”
Kepada mereka, kami ingin agar memperhatikan poin-poin berikut:
Pertama: Kaum Syi’ah Itsna Asyariyah pada dasarnya meyakini bahwa para sahabat telah bersekongkol melawan Ali bin Abi Thalib, Ahlul Bait, dan Imam-imam yang diyakini oleh mereka. Intinya, tidak ada seorang Syi’i pun (baik di Iran, Irak, maupun Lebanon) melainkan ia meyakini kefasikan para sahabat. 
Sebab jika mereka menganggap para sahabat adalah orang shalih, hancurlah rukun iman mereka sebagai Syi’ah.
Jadi, telah menjadi suatu keniscayaan pabila setiap orang Syi’ah baik pejabat, ulama, maupun rakyat jelata untuk bersikap tidak hormat kepada para sahabat, dan tidak menerima agama yang mereka bawa dalam bentuk apa pun.
Kedua: Tokoh-tokoh Syi’ah senantiasa mengelak untuk menampakkan kebencian mereka kepada para sahabat, meski terkadang nampak juga dalam sebagian statemen atau perilaku mereka, sebagaimana firman Allah:
لَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ
“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (Qs Muhammad: 30)
Banyak di antara kita yang menyaksikan debat antara DR. Yusuf Al Qardhawi dengan Rafsanjani (mantan presiden Iran) di TV Al Jazeera. Kita sama-sama menyaksikan bagaiman Rafsanjani selalu mengelak dari setiap usaha DR. Qardhawi agar ia menyebut sahabat dan ummahatul mukminin (isteri-isteri Nabi) dengan baik.
Dan ketika Khamenei (pemimpin Revolusi Iran sekarang) ditanya tentang hukum mencaci-maki para sahabat, dia tidak mengatakan bahwa hal itu keliru atau haram. Namun ia menjawab secara dusta dengan berkata: “Semua perkataan yang mengakibatkan perpecahan di antara kaum muslimin pasti diharamkan dalam syari’at.” Intinya, haramnya mencaci-maki sahabat menurutnya ialah karena hal itu menimbulkan perselisihan di antara kaum muslimin, bukan karena haram menurut syari’at, sebagaimana yang dilansir oleh koran Al Ahraam Mesir tanggal 23 November 2006.
KetigaKita harus waspasa terhadap akidah ‘taqiyyah’ (bermuka dua) yang menurut syi’ah adalah sembilan persepuluh dari agama mereka. Artinya, mereka biasa mengatakan perkataan yang bertentangan dengan keyakinan mereka selama mereka belum berkuasa. Namun setelah berkuasa mereka akan menampakkan jati dirinya terang-terangan.
Dalam sejarah Syi’ah, kita menyaksikan bahwa tatkala mereka menguasai beberapa wilayah Daulah Abbasiyah yang Sunni di Irak, Mesir, Afrika Utara (Maghrib) dan semisalnya; mereka langsung terang-terangan menghujat para sahabat, dan menjadikan hal itu sebagai pokok agama mereka.
Jadi, jelaslah bagi kita dari sini akan pentingnya menjelaskan hakikat Syi’ah terhadap para sahabat yang mulia. Kalau tidak, maka orang yang menyembunyikan kebenaran ini ibarat Syaithan yang bisu, dan sikap ini akan mengakibatkan kehancuran Islam…
KEDUA: Bahaya Doktrinasi Syi’ah di Dunia Islam…. tidak diragukan lagi bahwa doktrinasi Syi’ah (tasyayyu’) demikian gencar dilakukan di berbagai negara Islam. Ia tidak hanya marak di tempat asalnya seperti Iran, Irak dan Lebanon, namun kini berlangsung sangat kuat di Bahrain, Emirat Arab, Suriah, Yordania, Saudi Arabia, Mesir, Afghanistan, Pakistan dan negara-negara muslim lainnya…
(Termasuk Indonesia yang dalam lima tahun terakhir meningkat secara drastis, lewat tokoh-tokoh mereka macam Jalaluddin RakhmatQuraish Shihab dan sebagainya.
Bahkan menurut pengamatan sebagian pihak, jumlah murid Kang Jalal mencapai lebih dari 10 juta! –pent). +an dari RRZ: Belum lagi nanti para pelajar Indonesia yg telah lulus dari universitas2 Qoom/Iran, negeri Syiah, diperkirakan 10 ribu lebih. Maka semangkin berkobarlah Syiah di Republik tercinta Indonbesia ini. Dan hal tsb harus diantisipasi sejak dini oleh seluruh Komponent ummat Islam, khususnya Pemerintah Republik Indonesia dan MUI/para Ulama dan seluruh Ormas Islam.
Parahnya lagi, banyak orang yang menganut pemikiran-pemikiran Syi’ah tanpa mengira bahwa mereka adalah Syi’ah. Bahkan setelah menulis beberapa artikel ini, kami –yaitu Dr. Raghib Sirjani- mendapat banyak e-mail yang penulisnya mengaku Sunni, namun isinya penuh dengan pemikiran dan gaya Syi’ah.
Kita juga tidak menutup mata akan perang global yang ditujukan kepada para sahabat lewat media massa (Yakni media massa di Mesir tempat penulis tinggal -pent) dan saluran-saluran televisi di negeri-negeri Sunni. Yang paling masyhur ialah hujatan salah satu koran Mesir terhadap Siti Aisyah radhiallahu ‘anha beberapa hari terakhir. Demikian pula perang yang dilancarkan terhadap Shahih Bukhari, termasuk acara televisi yang dibawakan oleh wartawan terkenal dan selalu mengkritik para sahabat dalam setiap episode.
Masalah semakin rumit dan tidak bisa didiamkan, mengingat adanya perkawinan silang antara manhaj (metode) Syi’ah dengan Tasawuf, dengan klaim bahwa keduanya mencintai Ahlul bait.
Dan kita semua tahu bahwa faham tasawuf demikian merebak di banyak negara di dunia. Dan faham ini telah terjangkiti virus bid’ah, khurafat dan kemunkaran yang demikian banyak, dan bertemu dengan Syi’ah dalam hal mengultuskan Ahlul bait. Dari sini, penyebaran Syi’ah sangat mudah ditebak seiring dengan menyebarnya tarekat-tarekat Sufi.
KETIGA: Kondisi di Irak demikian mencekam. Pembunuhan muslimin Ahlussunnah tersebab identitas mereka adalah fenomena biasa yang sering terjadi. Sekjen ulama Ahlussunnah di Irak yang bernama Harits Adh Dhaary menyebutkan bahwa ada lebih dari 100 ribu muslim Sunni yang tewas di tangan Syi’ah sejak th 2003 hingga 2006.
Ditambah proses deportasi yang terus menerus di beberapa lokasi demi mempermudah kekuasaan Syi’ah di sana. Dan mayoritas mereka yang dideportasi (diusir) keluar dari Irak adalah Ahlussunnah; dan ini menyebabkan perubahan susunan masyarakat yang sangat berbahaya akibatnya nanti.
Pertanyaannya sekarang: “Apakah fitnah yang timbul ketika membahas masalah Syi’ah lebih berbahaya dari fitnah terbunuhnya sekian banyak warga Ahlussunnah tadi? Lantas sampai kapan masalah ini harus didiamkan? Padahal semua orang tahu betapa solidnya dukungan Iran dalam pembersihan mereka yang beridentitas Sunni?”
KEEMPAT: Ambisi Iran terhadap Irak demikian besar, bahkan hal nampak nyata. Mengingat kedua negara sebelumnya pernah terlibat perang sengit selama 8 tahun penuh, dan sekarang jalannya terbuka lebar bagi Iran. Apalagi Irak memiliki nilai religius penting bagi kaum Syi’ah, mengingat adanya wilayah-wilayah suci di sana, termasuk enam makam Imam Syi’ah.
Di Najaf terdapat makam Ali bin Abi Thalib, lalu di Karbala’ terdapat kuburan Husein, dan di Baghdad terdapat makam Musa Al Kadhim dan Muhammad Al Jawwad, tepatnya di wilayah Al Kadhimiyyah. Sedangkan di Samarra terdapat makam Muhammad Al Hadi dan Hasan Al ‘Askari; dan masih banyak kuburan-kuburan palsu lain yang diklaim sebagai kuburan para Nabi seperti Adam, Nuh, Hud dan Shalih di Najaf; namun semuanya palsu.
Selain Ambisi Iran terhadap Irak yang sangat berbahaya, Amerika juga mendukung terwujudnya ambisi tersebut. Kita semua menyaksikan bagaimana pemerintahan Syi’ah bentukan Amerika di Irak. 
Sandiwara saling tuduh antara Amerika dan Iran sudah tidak mempan lagi sekarang, sebab tidak pernah terlintas dalam benak Amerika untuk menyerang Iran sama sekali, akan tetapi yang sangat mencemaskan bukanlah ambisi untuk menguasai minyak atau kekayaan Irak saja, bukan pula sekedar memperluas kekuasaan Syi’ah;
Namun parahnya mereka menjadikan kebrutalan dan sadisme tersebut sebagai bagian dari agama mereka.
Sebab Syi’ah menuduh para sahabat dan pengikut mereka dari kalangan Ahlussunnah sebagai musuh-musuh Ahlulbait dan menjulukinya dengan naashibah atau nawaashib. Padahal kita lebih menghargai Ahlulbait daripada mereka.
Mereka lalu mengeluarkan vonis-vonis mengerikan atas tuduhan tersebut. Misalnya Khumaini yang mengatakan:
“Pendapat yang lebih kuat ialah memasukkan nawashib sebagai ahlul harbi (lawan perang), yang hartanya halal di mana pun didapati, dan dengan cara apa pun.” (Tahrirul Wasilah 1/352 oleh Al Khumaini)
Lalu tatkala imam mereka yang bernama Muhammad Shadiq Ar Ruhani ditanya tentang hukum orang yang mengingkari keimaman dua belas imam, dia mengatakan sesuatu yang sangat aneh:
“Sesungguhnya imamah (jabatan imam) lebih tinggi dari nubuwah (kenabian) dan kesempurnaan agama ini ialah dengan menjadikan Amirul mukminin alaihissalam sebagai imam;
Allah ta’ala berfirman: alyauma akmaltu lakum dienakum (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu). Maka siapa yang tidak mempercayai keimaman dua belas imam niscaya ia akan mati dalam kekafiran” (Lihat fatwa ini dalam link berikut: www.imamrohani.com/fatwa-ar/viewtopic.php)
Khumaini dalam bukunya Al Hukumatul Islamiyyah mengatakan bahwa para imam akan mencapai kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh malaikat terdekat maupun rasul sekalipun.( sebenarnya ada lanjutannya yi, bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sekalipun. Dengan kata lain merendahkan kedudukan Rasul.  )
 Karenanya, tidak mengakui keimaman menurut mereka lebih berat dari pada tidak mengakui kenabian, dan inilah tafsiran atas pengkafiran Syi’ah atas Ahlussunnah, yang diikuti dengan penghalalan darah mereka di Irak dan negeri-negeri lainnya. Oleh karena itu, Irak harus dimasukkan dalam kekuasaan mereka karena banyaknya tempat-tempat ‘suci’ mereka yang masih dikuasai oleh orang-orang yang mereka anggap kafir.
KELIMA: Ancaman langsung tak berhenti di Irak saja, namun ambisi mereka terus meningkat untuk menguasai daerah sekitarnya. Mereka menganggap Bahrain sebagai bagian dari Iran, sebagaimana pernyataan kepala pemeriksa umum Ali Akbar Nathiq Nuri di kantor pemimpin revolusi saat peringatan 30 tahun revolusi Iran. Ia mengatakan:
“Bahrain pada dasarnya adalah propinsi Iran yang keempat belas, yang diwakili oleh seorang legislatif di majelis permusyawaratan Iran.” (Lihat situs al jazirah berikut: www.aljazeera.net/NR/exeres/684338CB-837A-4879-8C7A-1A1B995DD286.htm)
Kita juga tahu bahwa Iran menduduki tiga pulau milik Emirat Arab di teluk Arab, dan jumlah mereka makin bertambah di Emirat hingga nisbahnya mencapai 15% dari total jumlah penduduk, dan menguasai pusat-pusat perdagangan terutama di Dubai.
Demikian pula kondisinya di Arab Saudi yang tidak statis; sebab sejak revolusi Iran tahun 1979, berbagai gangguan stabilitas terjadi berulang kali di Arab Saudi. Bahkan itu terjadi langsung setelah revolusi Iran, dengan munculnya demonstrasi Syi’ah di Qathif dan Saihat (dua wilayah Saudi), yang paling gencar di antaranya adalah tanggal 19 November 1979.
Masalah pun kadang semakin parah hingga berubah menjadi tindak anarkhis dan kejahatan di Baitullah Makkah. Sebagaimana yang terjadi pada musim haji tahun 1987 dan 1989. Bahkan pasca jatuhnya pemerintahan Saddam Husein, sekitar 450 tokoh Syi’ah di Saudi mengajukan proposal kepada putera mahkota ketika itu, yaitu Pangeran Abdullah dan meminta agar diberi jabatan-jabatan tinggi di dewan parlemen, jalur diplomasi, badan militer dan keamanan, serta menambah jumlah mereka di majelis syuro.
Bahkan Ali Syamkhani, yang merupakan penasehat tertinggi masalah militer bagi pimpinan umum revolusi Iran mengatakan, bahwa bila Amerika menyerang proyek nuklir Iran.
Iran tidak sekedar membalas dengan menyerang fasilitas milik Amerika di teluk, namun akan menggunakan rudal-rudal balistiknya untuk menyerang target-target strategisnya di teluk Arab. Pernyataan ini dilansir oleh majalah Times Inggris pada hari Ahad 10 November 2007. (oleh fizaro)


Wajib Selektif Menerima Berita [ Discard Forefer Situs/Media Syiah dan Sepilis ]

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Suatu kabar berita mengandung dua kemungkinan, benar atau dusta. Benar jika dipaparkan sesuai fakta yang sebenarnya. Dan dusta jika tidak didasarkan pada fakta yang terjadi, baik adanya penambahan ataupun pengurangan. Apalagi kalau berita itu disampaikan oleh orang yang tidak memiliki pondasi iman yang mapan, tak dikenal akan keshalihan dan ketakwaannya. Sehingga ia tak takut akan hari akhirat, di mana dibuka semua yang disembunyikan dan ditampakkan semua yang ditutup-tutupi, dan setiap orang akan mempertanggungjawabkannya. Maka melakukan seleksi, ferivikasi, cek dan ricek menjadi sangat penting. Apalagi kalau berita yang ditayangkan secara masal untuk membentuk satu opini atau menggiring isu yang diinginkan, jauh lebih kita berhati-hati meyakini kebenarannya.
Allah Ta'ala memberikan tuntunan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak lantas percaya pada suatu berita,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan." (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Karena benar dan tidaknya informasi akan menentukan penilaiannya kepada sesuatu dan cara menyikapinya. Jika informasi akurat sehingga membuahkan pengatahuan yang memadahi, maka akan memunculkan penalian yang benar dan sikap yang tepat. Sebaliknya, jika informasi itu tidak akurat akan mengakibatkan munculnya penilaian dan keputusan yang salah. Dan giliran selanjutnya, muncul kezaliman di tengah masyarakat.
Perintah memeriksa suatu berita diungkapkan dengan kalimat ( فَتَبَيَّنُوا ) yang berasal dari kata al-tabayyun. Sementara Hamzah dan al-Kisa’i membacanya dengan ( فَتَثَبَّتُوْا ) yang berasal dari kata al-tatsabbut. Keduanya memiliki makna yang mirip.
Asy-Syaukani di dalam Fath al-Qadir menjelaskan, tabayyun maknanya adalah memahami dan memeriksa dengan teliti. Sedangkan tatsabbut artinya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan seraya melihat berita dan realitas yang ada sehingga jelas apa yang sesungguhnya terjadi. Atau dalam bahasa lain, berita itu harus dikonfirmasi, sehingga merasa yakin akan kebenaran informasi tersebut untuk dijadikan sebuah fakta.
. . . benar dan tidaknya informasi akan menentukan penilaiannya kepada sesuatu dan cara menyikapinya . . .
Realitas Tabayyun di Tengah-tengah Umat
Tetapi sayang, tradisi ini kurang diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini. Pada umumnya orang begitu mudah percaya kepada berita di televisi, koran, majalah, internet, atau media massa lainnya. Padahal media-media tersebut tidak memperhatikan persoalan iman dan takwa. Bahkan seringnya ikut menyebarkan kemaksiatan dan pemikiran yang jauh dari nialai islam. Lebih para lagi, ada sebagian kaum muslimin yang apriori terhadap pemberitaan yang dimunculkan oleh sesamea muslim yang komitmen terhadap dakwah dan perjuangan Islam, namun mudah percaya kepada berita yang bersumber dari orang kafir, padahal kekufuran itu adalah puncak kefasikan. Sehingga dalam pandangan ahlul hadits, orang kafir sama sekali tidak bisa dipercaya periwayatannya.
Sebagai misal, ketika mereka menuduh seseorang atau kelompok sebagai teroris, maka serta merta semua orang seperti koor mengikuti berita itu secara taken of granted. Akibat dari informasi tersebut, sebagian umat Islam menjadi terpojok dan terkucil, dan bisa jadi terzalimi. Sementara orang-orang kafir mendapatkan dukungan sehingga berada di atas angin. Dalam persoalan seperti ini seharusnya orang Islam berhati-hati, jika tidak mengetahui informasi secara persis maka harus bersikap tawaqquf (diam) Jangan mudah memberikan respon, pendapat, analisa atau sikap terhadap orang lain jika informasi yang diperolehnya belum valid. Sebab jika tidak, ia akan terjerumus pada sikap mengikuti isu, dan akhirnya menetapkan sebuah keputusan tanpa fakta. Padahal Allah telah berfirman;
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra’: 36)
Maka kami berpesan kepada umat Islam agar selektif dan hati-hati dalam menerima berita. Karena berita diolah oleh manusia, sedangkan manusia tempatnya salah dan khilaf, maka kemungkinan salah masih ada. Apalagi mereka juga punya nafsu dan kepentingan, bisa saja berita diangkat untuk menggiring opini masyarakat guna kepentingan tertentu. Dan pastinya manusia akan bekerja sesuai pemikiran dan ideologinya begitu juga para pewarta. Atau bisa juga berita dibuat karena adanya pesanan atau desakan. Sedangkan kita yang mencerna suatu berita dan menyimpulkannya, lalu diikuti dengan penilaian dan sikap akan tetap diminta pertangungjawabannya di hadapan Allah Ta'ala. Jangan sampai kesimpulan kita malah ikut arus orang-orang kafir dan munafik untuk memadamkan cahaya Islam, dan mendukung mereka yang terus bekerja untuk menyudutkan dan memerangi dakwah Islam dan perjuangan menegakkan syariatnya.
Ya Allah tolonglah Islam dan kaum muslimin, hancurkan musuh-musuh-Mu dan musuh dien ini. Ya Allah jauhkan kami dari bala' dan fitnah. Tunjukkan yang benar adalah benar sehingga kami bisa mengikutinya. Dan tunjukkan yang salah itu adalah salah sehingga kami bisa menjauhinya. Amiin