Sunday, August 17, 2014

Abdullah bin Saba’ – Tokoh Nyata yang Difiktifkan

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/abdullah-bin-saba-tokoh-nyata-yang.html
Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa' : di 09.20 
Label: Syi'ah
4 artikel :
------------------------------------------------------------------------------------

Banyak sudah ulama dan referensi Ahlus-Sunnah yang menyebutkan sosok ‘Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh Yahudi pembuat agama Syi’ah. Namun bagi orang Syi’ah sendiri – terutama golongan kontemporer – saling berlomba untuk memberikan bantahan tentang hal itu. Mereka mengklaim Ahlus-Sunnah telah mereka-reka tokoh ini karena permusuhan mereka terhadap Syi’ah. Banyak sudah tulisan mereka sebar, dan tidak sedikit kaum muslimin yang bodoh tertipu dengan segala bualan mereka. Mereka (kaum muslimin yang bodoh dan tertipu) itu tidak tahu bahwa sebenarnya tokoh ‘Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh fiktif, bukan pula hasil rekayasa Ahlus-Sunnah.
Oleh karena itu, di sini sedikit akan saya tulis beberapa keterangan mengenai ‘Abdullah bin Saba’ dari buku-buku induk referensi Syi’ah. Biar tidak terlalu berbusa-busa dalam bermuqaddimah, langsung saja saya tuliskan :

1.      Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam, ia berkata :
إن عبد الله بن سبأ كان يدعي النبوة، ويزعم أن أمير المؤمنين هو الله - تعالى عن ذلك - فبلغ ذلك أمير المؤمنين عليه السلام فدعاه وسأله فأقر بذلك وقال : نعم أنت هو، وقد كان قد ألقي في ورعي أنك أنت الله وأني نبي، فقال أمير المؤمنين عليه السلام : ويلك قد سخر منك الشيطان، فارجع عن هذا ثكلتك أمك وتب، فأبى، فحبسه، واستتابه ثلاثة أيام، فلم يتب، فأحرقه بالنار، وقال : أن الشيطان استهواه، فكان يأتيه ويلقي في روعه ذلك.
“Sesungguhnya ‘Abdullah bin Saba’ mendakwakan nubuwwah dan mengatakan Amiirul-Mukminiin (‘Aliy bin Abi Thaalib) adalah Allah – Maha Tinggi Allah atas tuduhan itu - . Khabar itu pun sampai kepada Amiirul-Mukminiin. Beliau memanggilnya dan mengkonfirmasikannya. Ia (‘Abdulah bin Saba’) berkata : ‘Benar, engkau adalah Allah. Telah dibisikkan ke dalam hatiku bahwa engkau adalah Allah dan aku adalah nabi’. Amiirul-Mukminiin ‘alaihis-salaam berkata : ‘Celaka kamu, syaithan telah menundukkanmu’. Rujuklah dari perkataanmu, ibumu pasti binasa, dan bertaubatlah !’. Ia menolak (untuk bertaubat), lalu ia dipenjara dan diminta untuk bertaubat dalam waktu tiga hari. Namun ia tidak mau bertaubat juga, sehingga (dijatuhi hukuman) dibakar dengan api. Amiirul-Mukminiin berkata : ‘Syaithan telah menguasai dirinya. Ia datang kepadanya (Ibnu Saba’) dan membisikkan ke dalam hatinya hal tersebut”.
Dari Abu ‘Abdillah, bahwasannya ia berkata :
لعن الله عبد الله بن سبأ، إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين عليه السلام، وكان والله أمير المؤمنين عليه السلام عبدًا لله طائعًا، الويل لمن كذب علينا، وإن قومًا يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا نبرأ إلى الله منهم، نبرأ إلى الله منهم.
“Allah melaknat ‘Abdullah bin Saba’. Sesungguhnya ia mendakwakan Rububiyyahkepada Amiirul-Mukminiin ‘alaihis-salaam, sedangkan Amiirul-Mukminiin – demi Allah – hanyalah seorang hamba yang mentaati Allah. Neraka Wail adalah balasan bagi siapa saja yang berdusta atas nama kami. Sesungguhnya telah ada satu kaum berkata-kata tentang kami sesuatu yang kami tidak mengatakannya. Kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu, kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu”.
[Ma’rifatu Akhbaarir-Rijaal oleh Al-Kasysyiy, hal. 70-71].
Kitab Rijaalul-Kasysyiy ini termasuk kitab Syi’ah yang pertama dan diakui dalam ilmu rijaal.
2.      Al-Maamiqaaniy berkata :
عبد الله بن سبأ الذي رجع إلى الكفر وأظهر الغلو.
Abdullah bin Saba’ yang dikembalikan kepadanya kekufuran dan sikap berlebih-lebihan yang sangat terang”.
Lalu ia berkata :
غالٍ ملعون، حرقه أمير المؤمنين عليه السلام بالنار، وكان يزعم أن علياً إله، وأنه نبي.
“Orang yang berlebih-lebihan lagi terlaknat. Amiirul-Mukminiin telah membakarnya dengan api. Ia mengatakan bahwa ‘Aliy adalah Tuhan, dan ia adalah nabi”.
[Tanqiihul-Maqaal fii ‘Ilmir-Rijaal, 2/183-184].
Al-Maamiqaaniy merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah dalam ilmu rijaal.
3.      An-Naubakhtiy berkata :
السبئية قالوا بإمامة علي، وأنها فرض من الله عز وجل وهم أصحاب عبد الله بن سبأ، وكان ممن أظهر الطعن على أبي بكر، وعمر، وعثمان، والصحابة، وقال : (إن عليا عليه السلام أمره بذلك) فأخذه علي فسأله عن قوله هذا، فأقر به، فأمر بقتله، فصاح الناس إليه : يا أمير المؤمنين ! أتقتل رجلاً يدعوا إلى حبكم أهل البيت، وإلى ولايتك والبراءة من أعدائك ؟ فصيره إلى المدائن.
وحكى جماعة من أهل العلم أن
 عبد الله بن سبأ كان يهوديًا فأسلم ووالى عليًا وكان يقول وهو على يهوديته في يوشع بن نون بعد موسى عليه السلام بهذه المقالة، فقال في إسلامه في علي بن أبي طالب بمثل ذلك، وهو أول من شهر القول بفرض إمامة علي عليه السلام وأظهر البراءة من أعدائه....فمن هڽا قال من خالف الشيعة : إن أصل الرفض مأخوذ من اليهودية.
“Kelompok Saba’iyyah mengatakan keimamahan ‘Aliy dan hal itu merupakan satu kewajiban dari Allah ‘azza wa jalla. Mereka adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’.Mereka adalah orang-orang yang menampakkan pencelaan terhadap Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan para shahabat. Ia (Ibnu Saba’) berkata : ‘Sesungguhnya ‘Aliy memerintahkannya’. Maka ‘Aliy menangkapnya dan mengkonfirmasi atas perkataannya tersebut, dan ia pun mengakuinya. Lalu ‘Aliy memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak : ‘Wahai Amiirul-Mukminiin, apakah engkau akan membunuh orang yang menyerukan mencintai Ahlul-Bait, kepemimpinanmu, dan berlepas diri dari musuh-musuhmu ?’. Maka ‘Aliy mengasingkannya ke daerah Madaain.
Diriwayatkan oleh sekelompok ahli ilmu (ulama) bahwasannya ‘Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang masuk Islam, lalu memberikan loyalitas kepada ‘Aliy. Saat masih dalam agama Yahudi, ia pernah berkata tentang Yusya’ bin Nuun sepeninggal Musa ‘alaihis-salaam perkataan seperti ini. Lantas setelah masuk Islam, ia berkata tentang ‘Aliy seperti apa yang dikatakannya kepada Yusya’ bin Nuun. Ia adalah orang yang pertama kali mengumumkan pendapat wajibnya keimamahan ‘Aliy ‘alaihis-salaam dan menampakkan berlepas diri terhadap musuh-musuhnya…. Dari sinilah asal perkataan orang-orang yang menyelisihi Syi’ah (baca : Ahlus-Sunnah) : ‘Sesungguhnya dasar Rafidlah diambil dari paham Yahudi”.
[Firaqusy-Syii’ah, hal. 32-44].
An-Naubakhtiy ini menurut penilaian orang Syi’ah adalah seorang yang tsiqah lagi diakui [lihat Jaami’ur-Ruwaat oleh Al-Ardabiiliy 1/228 dan Al-Kunaa wal-Alqaab oleh ‘Abbaas Al-Qummiy 1/148].
4.      Sa’d bin ‘Abdillah Al-Asy’ariy Al-Qummiy berkata saat memaparkan kelompok Saba’iyyah :
السبئية أصحاب عبد الله بن سبأ، وهو عبد الله بن وهب الراسبي الهمداني، وساعده على ذلك عبد الله بن خرسي، وابن أسود، وهما من أجل أصحابه، وكان أول من أظهر الطعن على أبي بكر، وعمر، وعثمان، والصحابة وتبرأ منهم.
“Kelompok Saba’iyyah adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’. Ia adalah ‘Abdullah bin Wahb Ar-Raasibiy Al-Hamdaaniy. Para pembantunya adalah ‘Abdullah bin Khurasiy dan Ibnu Aswad. Mereka berdua termasuk orang terkemuka dari kalangan pengikutnya. Ibnu Saba’ adalah orang yang pertama kali menampakkan celaan terhadap Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan para shahabat, serta berlepas diri dari mereka semuanya”.
[Al-Maqaalaatu wal-Firaq, hal. 20].
Al-Qummiy ini menurut penilaian orang Syi’ah termasuk orang yang tsiqah yang luas pengetahuannya tentang khabar/riwayat [lihat Jaami’ur-Ruwaat, 1/352].
5.      Ibnu Abil-Hadiid menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Saba’ pernah berdiri ketika ‘Aliy bin Abi Thaalib sedang berkhutbah. Lalu ia (Ibnu Saba’) berkata :
أنت أنت، وجعل يكررها، فقال له - علي - : ويلك من أنا، فقال : أنت الله، فأمر بأخذه وأخذ قوم كانوا معه على رأيه.
“Engkau, engkau’. Ia (Ibnu Saba’) mengulang-ulang perkataan itu. Maka ‘Aliy berkata kepadanya : “Celaka kamu, siapakah diriku ?”. Ibnu Saba’ menjawab : “Engkau adalah Allah”. ‘Aliy pun memerintahkan untuk menangkapnya dan orang-orang yang sependapat dengannya”.
[Syarh Nahjil-Balaaghah, 5/5].
Kitab Syarh Nahjil-Balaghah karya Ibnu ‘Abdil-Hadiid salah satu kitab besar dan paling utama dalam syarah terhadap Nahjul-Balaaghah yang sering dijadikan rujukan kaum Syi’ah. Namun seringkali didapati saat Ahlus-Sunnah mengutip sebagian isi dari kitab ini yang ‘merugikan’ mereka, orang-orang Syi’ah membantah bahwa Ibnu ‘Abdil-Hadiid adalah orang Sunniy (berpaham Mu’tazillah), bukanSyii’iy. Tentu saja dalih mereka sangat lemah, karena beberapa kitab biografi Syi’ah sendiri menyebutkan bahwa Ibnu ‘Abdil-Hadiid adalah termasukorang yang ber-tasyayyu’ kepada ‘Aliy/Ahlul-Bait.
6.      As-Sayyid Ni’matullah Al-Jazaairiy berkata :
قال عبد الله بن سبأ لعلي عليه السلام : أنت الإله حقًَا، فنفاه علي عليه السلام إلى المدائن، وقيل : إنه كان يهوديًا فأسلم، وكان في اليهودية يقول في يوشع بن نون وفي موسى مثل ما قال في علي.
’Abdullah bin Saba’ berkata kepada ‘Aliy ‘alaihis-salaam : ‘Engkau adalah tuhan yang sebenar-benarnya’. Maka ‘Aliy mengasingkannya ke daerah Madaain. Dan dikatakan : ‘Sesungguhnya ia dulu seorang Yahudi lalu masuk islam. Saat masih beragama Yahudi ia pernah berkata terhadap Yusyaa’ bin Nuun dan Muusaa semisal apa yang dikatakannya kepada ‘Aliy”.
[Anwaarun-Nu’maaniyyah, 2/234].
Ni’matullah Al-Jazaairiy dikenal sebagai seorang muhaddits dan ulama besar yang diakui keilmuannya oleh kalangan Syi’ah [lihat Al-Kunaa wal-Alqaab, 3/298 danSafiinatul-Bihaar 2/601].
Keberadaan sosok ‘Abdullah bin Saba’ adalah sesuatu yang telah disepakati oleh Ahlus-Sunnah dan Syi’ah (mutaqaddimiin). Dan inilah pernyataan tokoh Syi’ah kontemporer yang bernama Muhammad Husain Az-Zain :
وعلى كل حال فإن الرجل - أي: ابن سبأ - كان في عالم الوجود، وأظهر الغلو، وإن شك بعضهم في وجوده وجعله شخصاً خيالياً.. أما نحن - بحسب الاستقراء الأخير - فلا نشك بوجوده وغلوه
“Maka, sesungguhnya sosok laki-laki ini – yaitu Ibnu Saba’ – diketahui benar adanya dan menampakkan sikap berlebih-lebihan (ghulluw). Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka (orang-orang Syi’ah) ragu-ragu akan keberadaannya sehingga menjadikannya sebagai sosok khayalan…..Adapun kami, sesuai penelitian termuktakhir, tidak ragu akan keberadaannya dan sikap berlebih-lebihannya” [Asy-Syii’ah wat-Taariikh, hal. 213].
Dari sini kita dapatkan beberapa point sebagai berikut :
1.      ‘Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh/sosok khayalan sebagaimana klaim orang-orang Syi’ah belakangan yang mulai resah tentang agamanya.
2.      ‘Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang kemudian (berpura-pura) masuk Islam untuk merusaknya.
3.      Paham keimamahan ‘Aliy, pencelaan terhadap Al-Khulafaaur-Raasyidin (kecuali ‘Aliy) dan para shahabat berasal darinya.
4.      ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu berlepas diri dari paham Saba’iyyah yang dicetuskan oleh ‘Abdullah bin Saba’.
Masih tidak yakinkah kita bahwa ajaran Syi’ah yang ada sekarang ini merupakan buah ajaran firqah Saba’iyyah ?
Semoga ada manfaatnya…….
[abul-jauzaa’ – http://abul-jauzaa.blogspot.com]. 
COMMENTS
Anonim mengatakan...
"Masih tidak yakinkah kita bahwa ajaran Syi’ah yang ada sekarang ini merupakan buah ajaran firqah Saba’iyyah ?"

Tentu saja masih ada yg tidak yakin ya akhi. Kebanyakan mereka yg telah termakan taqiyyahnya syi'ah.

Saya dan keluarga, alhamdulillah, yakin bahwa syi'ah itu sempalan yg disusupkan oleh Ibnu Saba.
Anonim mengatakan...
OOT, pak abu al jauzaa juga "fiktif" bukan ?...ga tau nama asli, atau facebooknya..:D

kl abu salma ada nama aslinya di :

http://abusalma.wordpress.com/2008/04/07/proyek-penerbitan-buku-gratis-update/


facebooknya :

http://www.facebook.com/abusalma81
Abu Ukassya mengatakan...
Assalamu`alaikum
Ustadz usul bagaimana kalo ada yang mengumpulkan kedustaan para rafidhi dari ulama mereka yang dahulu sampai sekarang termasuk yang kroco-kroco: Kang Jalal, O Hashem, Secondprince, Ressay si anak UNS yang selalu nebeng pakai bendera HMI dll biar umat semakin yakin bahwa firqah yang paling kadzdzab(dusta) adalah rafidhah dari zaman ke zaman
Wassalam
1syahadat mengatakan...
Ya Ustadz,
Dari tokoh-tokoh syiah yg Anda sampaikan, saya menangkap bahwa mereka sungguh memahami kekeliruan Abdullah bin Saba. Saya jadi bingung kenapa syiah malah jadi mengikuti pemahamannya Abdullah bin Saba itu ya?
Anonim mengatakan...
ust. klo menurut Ulama Ahlu Sunnah ttg Ibnu Saba'ini gimana ??
seorang teman mnyatakan klo Ibnu Saba' ini fiktif ,,ini katanya ,,

Seorang ulama syi’ah, yaitu Ayatullah Murtadla ‘Askari mencoba untuk meneliti tentang keberadaan Abdullah bin Saba’.

Dan hasilnya, beliau menyatakan bahwa berdasarkan penelitian sejarah dan periwayatan hadits, maka sebenarnya Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif. Dan hasil penelusuran dan penelitian tersebut beliau tuangkan dalam buku beliau yang berjudul :

1. Abdullah bin Saba’ wa Asatir Ukhra.
2. Khomsun wa Mi’atun Shahabi Mukhtalaq.

Cerita tentang riwayat-riwayat oleh Abdullah bin Saba’ hanya bersumber dari satu orang (sumber tunggal), yaitu Saif bin Umar At-Tamimi. Mengenai sosok Saif bin Umar At-Tamimi, para ulama ahli jarh wa ta’dil telah memberikan nilai merah/buruk kepadanya.
Nih buktinya komentar ulama2 sunni tentang Saif At-Tamimi tersebut :

1. Yahya bin Mun’im, mengatakan : “Riwayat-riwayatnya lemah dan tidak berguna”.

2. An-Nasa’i dalam Sunan-nya, mengatakan : “Riwayat-riwayatnya lemah dan harus diabaikan, karena ia adalah orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut dipercaya”.

3. Abu Dawud, mengatakan : “Tidak ada harganya, ia seorang pembohong”.

4. Ibn Abi Hatim, mengatakan : “Mereka telah meninggalkan riwayat-riwayatnya”.

5. Ibn Al-Sakan, mengatakan : “Riwayatnya lemah (dlo’if)”.

6. Ibn ‘Adi mengatakan : “Riwayatnya lemah, sebagian dari riwayatnya terkenal namun bagian terbesar dari riwayat-riwayatnya adalah mungkar dan tidak diikuti”.

7. Al-Hakim, mengatakan : “Riwayat-riwayatnya telah ditinggalkan, ia dituduh zindiq”.

8. Ibn Hibban, mengatakan : “Ia terdakwa sebagai zindiq dan memalsukan riwayat-riwayat”.

Dan para ulama ahlusunnah lainnya yang tidak mempercayainya, seperti Khatib Al-Baghdady, Ibn Abdil Barr, Ibnu Hajar, dll.

Sehingga jelas sekali bahwa keberadaan Abdullah bin Saba’ ini adalah fiktif, dikarenakan hanya bersumber dari satu orang yaitu Saif At-Tamimi, yang dinilai cacat, mungkar, pemalsu, zindiq, dll.

Oleh karena itu, tertolaknya riwayat tentang Abdullah bin Saba’ bukan hanya karena dalam jalur periwayatannya terdapat Saif At-Tamimi, seperti hadits yang dikutip oleh Thabari; melainkan juga bahwa Saif At-Tamimi merupakan sumber tunggal dari cerita keberadaan Abdullah bin Saba’, seperti riwayat-riwayat yang tercantum dalam buku karangan Saif At-Tamimi yang berjudul “Al-Futuh” dan “Al-Jamal”.

Dengan predikat semacam itu, maka sudah semestinya setiap kisah yang diriwayatkan secara tunggal dari Saif At-Tamimi TIDAK BISA dipercaya, baik dalam wacana syari’at maupun tarikh, dan lain-lain.

Ibnu Hajar dalam bukunya yang berjudul “Lisanul Mizan”, mengatakan :

“Berita-berita tentang Abdullah bin Saba’ dalam sejarah memang terkenal, tetapi tidak satupun bernilai riwayat“.

Ibnu Hajar juga mengatakan :

“Ibnu Asakir kemudian meriwayatkan sebuah cerita panjang dari Saif bin Umar At-Tamimi dalam kitab Al-Futuh yang tidak shohih sanad-sanadnya“

Ref. rujukan sy d kitab sunnah :
Ibnu Hajar Al-Asqolani, dalam “Lisanul Mizan”, jilid 3, hal. 289.
(Lihat d Catatan Kaki no. 5)

Kesimpulan yg didapatkan adalah :
Semua jalur riwayat yang ada tentang Abdullah bin Saba’, sekali lagi, hanya bersumber dari cerita Saif At-Tamimi tersebut.
Jadi jelas sekali bahwa riwayat-riwayat tersebut tertolak berdasarkan predikat buruk yang disandang oleh Saif At-Tami
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Kalau menurut ulama Ahlus-Sunnah, keberadaan Ibnu Saba' ini nyata. Adapun penelitian yang dilakukan ulama Syi'ah itu tidak valid, karena riwayat Ibnu Saba' ini tidak hanya dibawakan oleh Saif bin 'Umar saja.

Misalnya :

حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أنا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ، يَعْنِي: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ.

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata : Telah berkata ‘Aliy (bin Abi Thaalib) : “Apa urusanku dengan orang hitam jelek ini – yaitu ‘Abdullah bin Saba’ - . Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah no. 4358; shahih].

Silakan baca juga :
 http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/10/sekilas-tentang-rafidlah-dan-pendirinya.html.
Anonim mengatakan...
lebih mudah untuk mempercayai riwayat dari ahlusssunnah..
katakanlah, abdullah bin saba' adalah fiktip, maka siapa saja sekarang yang dia menghina, mengkafirkan abu bakr, umar, usman bin affan, maka yang seperti ini adalah keyakinan sesat,,baik dia ini pengaku pengikut saba' maupun yang mengatakan saba adlh fiktif

cilacap_jateng

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/07/aliy-bin-abi-thaalib-dan-abdullah-bin.html
Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa' : di 18.57 
Label: HaditsSyi'ah

Ibnu Abi Khaitsamah rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أنا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ، يَعْنِي: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ.
Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata : Telah berkata ‘Aliy (bin Abi Thaalib) : “Apa urusanku dengan orang hitam jelek ini – yaitu ‘Abdullah bin Saba’ - . Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar” [At-Taariikh no. 4358].
Sanad riwayat ini shahih.

Berikut keterangan para perawinya :
a.     ’Amru bin Marzuuq Al-Baahiliy, Abu ’Utsmaan Al-Bashriy; seorang yang tsiqah,faadlil, namun mempunyai beberapa keraguan. Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya. Wafat tahun 244 H [At-Taqriib, hal. 745 no. 5145].
b.     Syu’bah bin Al-Hajjaaj bin Al-Ward Al-’Atakiy; seorang tsiqahhaafidh, lagi mutqin. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Wafat tahun 160 H [idem, hal. 436 no. 2805].
c.      Salamah bin Kuhail bin Hushain Al-Hadlramiy, Abu Yahyaa Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 402 no. 2521].
d.     Zaid bin Wahb Al-Juhaniy, Abu Sulaimaan Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi jaliil. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Wafat setelah tahun 80 H, dikatakan juga tahun 96 H [idem, hal. 356 no. 2172].
Ada riwayat lain yang semisal :
أخبرنا أبو القاسم يحي بن بطريق بن بشرى وأبو محمد عبد الكريم ابن حمزة قالا : أنا أبو الحسين بن مكي ، أنا أبو القاسم المؤمل بن أحمد بن محمد الشيباني ، نا يحيى بن محمد بن صاعد، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة ، عن سلمة ، عن زيد بن وهب عن علي قال : مالي وما لهذا الحميت الأسود ؟ قال: ونا يحي بن محمد ، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة عن سلمة قال: سمعت أبا الزعراء يحدث عن علي عليه السلام قال: مالي وما لهذا الحميت الأسود
Telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim Yahya bin Bitriiq bim Bisyraa dan Abu Muhammad Abdul Kariim bin Hamzah keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain bin Makkiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Qaasim Mu’ammal bin Ahmad bin Muhammad Asy Syaibaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah dari Zaid bin Wahb dari Aliy yang berkata “apa urusanku dengan orang jelek hitam ini?”. [Mu’ammal] berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah yang berkata aku mendengar Abu Az Za’raa menceritakan hadis dari Ali [‘alaihis salaam] yang berkata “apa urusanku dengan orang jelek yang hitam ini?” [Tarikh Ibnu Asakir 29/7].
Riwayat ini juga shahih.
Ada yang mengatakan bahwa penyebutan lafadh ‘Abdullah bin Saba’ itu ma’lul, karena :
Ghundaar perawi yang lebih tsabit darinya tidak menyebutkan lafaz ini. ‘Amru bin Marzuuq adalah perawi yang shaduq tetapi bukanlah hujjah jika ia tafarrud sebagaimana telah ternukil jarh terhadapnya dan lafaz “yakni ‘Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar” adalah tambahan lafaz dari ‘Amru bin Marzuuq.
Kita katakan :
Ghundar memang dikatakan beberapa ulama sebagai hujjah dalam hadits Syu’bah. Al-‘Ijliy berkata bahwa ia orang yang paling tsabt dalam hadits Syu’bah [Ma’rifatuts-Tsiqaat, 2/234]. Ibnul-Mubaarak mengatakan jika orang-orang berselisih dalam hadits Syu’bah, maka kitab Ghundar menjadi pemutus di antara mereka [Al-Jarh wat-Ta’diil, 1/271]. Hal yang sama dikatakan oleh Al-Fallaas [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 2/274]. Dan yang lainnya dari pujian ulama yang disematkan pada Ghundar dalam periwayatannya dari Syu’bah.
Namun,... itu bukan berarti ziyaadah keterangan dari ‘Amru bin Marzuuq adalah syaadzatau ma’luul. Mengapa ? karena tambahan lafadh yang dibawakan oleh ‘Amru bin Marzuuq tidak menafikkan atau bertentangan dengan ashl riwayat – sebagaimana ini disebutkan oleh para ulama dalam penerimaan ziyaadah seorang perawi.[1] Bersamaan sedikit jarh beberapa ulama terhadapnya, ‘Amru bin Marzuuq sendiri termasuk perawitsiqah dalam periwayatan hadits Syu’bah. Abu Haatim berkata : “Tsiqah, termasuk ahli ibadah. Dan kami tidak pernah bertemu dengan ashhaab Syu’bah yang kami tulis riwayat darinya, yang lebih baik haditsnya dari ‘Amru” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 6/263]. Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah, mempunyai banyak hadits dari Syu’bah” [Ath-Thabaqaat, 7/305]. Al-Azdiy berkata : “Penyimakan riwayat Abu Daawud Ath-Thayaalisiy[2] dan ‘Amru bin Marzuuq dari Syu’bah adalah selevel”  [Al-Mu’alamu bi-Syuyuukh Al-Bukhaariy wa Muslim, hal. 436]. Ia termasuk di antara ashhaab Syu’bah yang diunggulkan, meskipun thabaqah-nya di bawah Ghundar.
Jadi,... asal riwayat ‘Amru bin Marzuuq dari Syu’bah adalah shahih. Atau dikatakan : Iatsiqah dalam periwayatan dari Syu’bah. Oleh karena itu, ini termasuk bagianziyaadatuts-tsiqah yang merupakan tabyiin (penjelas) identitas orang yang dicela oleh ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu dan sekaligus sebab pencelaan tersebut.[3]
Walhasil, riwayat pencelaan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tersebut adalah shahih.
Ada riwayat lain :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ، نا سُفْيَانُ، قَالَ: نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ عَبَّاسٍ الْهَمْدَانِيُّ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ حُجَيَّةَ الْكِنْدِيِّ، رَأَيْتُ عَلِيًّا عَلَى الْمِنْبَرِ، وَهُوَ يَقُولُ: مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ هَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ الَّذِي يَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ، يَعْنِي: ابْنَ السَّوْدَاءِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad Al-Makkiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Jabbaar bin ‘Abbaas Al-Hamdaaniy, dari Salamah, dari Hujayyah Al-Kindiy : Aku pernah melihat ‘Aliy ada di atas mimbar dan berkata : “Siapakah yang mau membelaku dari orang hitam jelek ini yang telah berdusta kepada Allah, yaitu : Ibnus-Saudaa’” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam At-Taariikh no. 4359].
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عباد، قَالَ: نا سُفْيَانُ، عَنْ عمار الدهني، قَالَ: سمعت أبا الطفيل، يقول: رأيت المسيب بْن نجية أتى بِهِ ملببه، يَعْنِي: ابْن السوداء، وعلي عَلَى المنبر، فَقَالَ عَليّ: ما شأنه؟ فَقَالَ: يكذب عَلَى اللَّه، وعلى رسوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Ammaar Ad-Duhniy, ia berkata Aku mendengar Abuth-Thufail berkata : Aku pernah melihat Al-Musayyib bin Najayyah membawa Ibnus-Saudaa’ dengan menyeretnya, yang waktu itu ‘Aliy berada di atas mimbar. ‘Aliy berkata : “Ada apa dengan dia ?”. Ia (Al-Musayyib) berkata : “Berdusta atas nama Allah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam At-Taariikh no. 4360].
Kedua riwayat ini hasan, saling menguatkan.
Poros sanad riwayat ini ada pada Muhammad bin ‘Abbaad bin Az-Zibriqaan, Abu ‘Abdillah Al-Makkiy; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar : “shaduuq yahimu (sering ragu)”. Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 234 H di Baghdaad. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 858 no. 6031].
Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Ibnu ‘Adiy berkata : “Haditsnya termasuk hadits orang yang yang jujur, dan aku berharap tidak mengapa dengannya”. Shaalih bin Muhammad berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Ibnu Qaani’ berkata : “Tsiqah”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Namun ia telah keliru dalam beberapa hadits yang ia bawakan, sebagaimana dibawakan contohnya dalamTahdziibul-Kamaal. Selama tidak terdapat bukti ia melakukan kekeliruan atau penyelisihan, maka haditsnya hasan (karena ia seorang yang shaduuq).
Tiga riwayat di atas saling menjelaskan, bahwa orang hitam jelek itu yang dicela ‘Aliy tersebut adalah Ibnu-Saudaa’ atau ‘Abdullah bin Saba’. Kedua nama ini satu orang. Ia dicela karena berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, yang di antaranya karena mencela Abu Bakr dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.
‘Aliy dan ahlul-baitnya[4] berlepas diri dari para pencela Abu Bakr dan ‘Umarradliyallaahu ‘anhum. Artinya, mereka berlepas diri dari kelakukan jahat orang-orang Syi’ah yang mengikuti sosok orang yang berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya : ‘Abdullah bin Saba’. Ternyata kita lebih Syi’ah daripada Syi’ah Raafidlah dalam membela madzhab ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.
Wallaahul-musta’aan.
[abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yogyakarta, 23072012].



[1]      Silakan baca beberapa kitab yang membahas ziyaadatuts-tsiqaat, antara lain : Al-Aqwaalur-Raajihaat fiil-Hadiits Asy-Syaadz wa Ziyaadatits-Tsiqaat oleh Abu Hurairah Asy-Syaamiy,Ziyaadatuts-Tsiqaat wa Mauqiful-Muhadditsiin wal-Fuqahaa’ minhaa oleh Nuurullah Syaukat Biik (desertasi S3, Univ. Ummul-Quraa’), dan yang lainnya.
[2]      Padahal, Abu Daawud Ath-Thayaalisiy termasuk di antara terdepan dalam jajaran ashhaabSyu’bah, sebagaimana ma’ruf. Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Abu Daawud Ath-Thayaalisiy dan Muhammad bin Ja’far (Ghundar) termasuk orang yang paling tsabt di kalangan ashhaab Syu’bah” [Fathul-Baariy, 2/227].
[3]      Yang seperti ini banyak terdapat dalam kutub hadits. Satu contohnya yang sering dibawakan ulama (misal : Ibnu Shalaah) dalam pencontohan diterimanya ziyaadatuts-tsiqaat:
حَدَّثَنَا إِسْحَاق بْنُ مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنَا مَعْنٌ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ ".قَالَ أَبُو عِيسَى: حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .وَرَوَى مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ حَدِيثِ أَيُّوبَ، وَزَادَ فِيهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَرَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ نَافِعٍ، وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Muusaa Al-Anshaariy : Telah menceritakan Ma’n : Telah menceritakan kepada kami Maalik, dari Naafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibakan zakat fithr di bulan Ramadlaan, satu shaa’ tamr, atau satu shaa’ gandum sya’iir pada setiap orang yang merdeka, budak, laki-laki, atau perempuan dari kaum muslimin.
Abu ‘Iisaa (At-Tirmidziy) berkata : “Hadits Ibnu ‘Umar adalah hadits hasan shahih. Dan riwayatkan oleh Maalik, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Naabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamsemisal hadits Ayyuub, dan ia menambahkan lafadh padanya : ‘minal-muslimiin (dari kaum muslimin)’. Dan telah diriwayatkan lebih dari satu orang dari Naafi’ tanpa penyebutan lafadh‘minal-muslimiin’ [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 676].
At-Tirmidziy menshahihkan tambahan lafadh ‘minal-muslimiin’ dari Maalik yang tidak diriwayatkan oleh jama’ah perawi tsiqaat dari Naafi, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa. Muslim menerima ziyaadah Maalik ini dalam kitab Shahiih-nya.
COMMENTS
Anonim mengatakan...
maju terus ust, bongkar fallacy nya si SP
Boy mengatakan...
Ust. AJ

mohon kiranya jika memungkin kan dibuat artikel spesial Ramadhan tentang "Sejarah Cinta Lebay" nya Syi'ah pada 'Aliy, Husein dst.

Kenapa harus 'Aliy yang diunggulkan, kenapa Husein dll

Jazakallah
Abu Yahyaa mengatakan...
Ana ada pertanyaan, akhiy.
1. Hadits Ma`luul itu sama dengan hadits Syadz, ya?

2. Kriteria Syadz dan Ziyadatuts-tsiqoh yang pernah ana pelajari:
a. Syadz, tambahan dari perowi tsiqoh yang tambahannya
 bertentangan dengan riwayat dari jama`ah perowi lain.
b.Ziyadatuts-tsiqoh, tambahan dari perowi tsiqoh yang
 tidak bertentangan dengan riwayat dari jama`ah perowi yang lain.
Apa benar begitu?

Jazakallaahu khoir.
Anonim mengatakan...
Disanggah balik ustadz, ana copaskan disini ya....

---wah maaf ya pembelaannya ma’lul, nama ‘Abdullah bin Sabaa’ hanya muncul dalam periwayatan ‘Amru bin Marzuuq dari Syu’bah dan ia telah diperbincangkan. kalau ada yang mau berhujjah dengan

pernyataan Abu Hatim bahwa “Tsiqah, termasuk ahli ibadah. Dan kami tidak pernah bertemu dengan ashhaab Syu’bah yang kami tulis riwayat darinya, yang lebih baik haditsnya dari ‘Amru” maka kami katakan Abu Hatim menyendiri dengan pernyataan ini dan ini keliru

Para ulama lain telah menyatakan bahwa ada ashhaan Syu’bah yang lebih baik hadisnya seperti Ibnu Mahdiy dan Ghundaar

Ternukil cukup banyak jarh terhadap ‘Amru bin Marzuuq seperti yang telah kami tuliskan Ali bin Madini meninggalkan hadisnya. Abu Walid membicarakannya. Yahya bin Sa’id tidak meridhai ‘Amru bin Marzuuq. Ibnu ‘Ammar Al Maushulliy berkata “tidak ada apa-apanya”. Al Ijliy berkata “Amru bin Marzuuq dhaif, meriwayatkan hadis dari Syu’bah yang tidak ada apa-apanya”. Daruquthni berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan”. Al Hakim berkata “buruk hafalannya”. Ibnu Hibban berkata “melakukan kesalahan. Jarh ini cukup untuk menyatakan tafarrud ‘Amru bin Marzuuq tidak bisa dijadikan hujjah.

Hujjahnya dengan Al Azdiy “penyimakan riwayat Ath Thayalisi dan ‘Amru bin Marzuuq dari Syu’bah adalah selevel” tidak bernilai karena Al Azdiy sendiri seorang yang dikenal dhaif sehingga tidak bisa dijadikan pegangan perkataannya

Perlu diingatkan yang tkami dhaifkan bukan keseluruhan riwayat ‘Amru bin Marzuuq tetapi tambahan lafaz yang memuat nama Abdullah bin Sabaa’ karena dalam riwayat Ghundaar yang lebih tsabit darinya lafaz ini tidak ada. Maka cukup beralasan untuk dikatakan bahwa tambahan itu berasal dari ‘Amru bin Marzuuq bukan bagian dari perkataan Imam Ali.

Kalau ada yang mengatakan Abdullah bin Sabaa’ adalah Ibnu Saudaa’ maka seperti yang kami katakan ia harus membawakan riwayat shahih bukan sekedar berandai-andai. Riwayat ‘Amru bin Marzuuq yang memuat lafaz ‘Abdullah bin Sabaa’ mensifatkan dirinya bahwa ia mencela Abu Bakar dan Umar sedangkan dalam riwayat yang menyebut Ibnu Saudaa’ ia disifatkan dengan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Hal ini justru menguatkan kekeliruan lafaz ‘Amru bin Marzuuq

Dan maaf saudara Abul pembelaan itu bahkan tidak bernilai karena sekiranya ia bisa membuktikan keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ maka mana buktinya bahwa ia adalah pendiri Syiah. Bisa saja tuh dikatakan Abdullah bin Sabaa’ yang dimaksud adalah Abdullah bin Wahb Ar Raasibiy seorang gembong khawarij. Dan khawarij termasuk yang mecela sahabat bahkan mengkafirkannya.---

--Tommi--
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
@Abu Yahyaa,....

1. Tidak. Syaadz itu sebagai bagian dari ma'lul. Namun ma'lul itu tidak mesti harus syaadz.

2. Ringkasnya seperti itu.

--------

@Tommie,...

Pernyataan bahwa ta'dil Abu Haatim terhadap 'Amru bin Marzuuq bahwa ia orang yang yang paling baik haditsnya di kalangan ashhaab Syu'bah, kalau dianggap 'menyendiri', ya memang dhahirnya seperti itu. Namun itu bukan berarti harus dipertentangkan dengan perkataan Ibnul-Mubaarak dan yang lainnya terhadap Ghundar, sehingga riwayat ‘Amru bin Marzuuq dari Syu’bah tidak shahih atau lemah. Oleh karena itu, perkataan Abu Haatim tersebut merupakan qarinah bahwa riwayat 'Amru bin Marzuuq dari Syu'bah itu shahih. Ibnu Sa’d pun berkata : “Ia seorang yang tsiqah, banyak haditsnya dari Syu’bah (kaana tsiqah katsiirul-hadiits ‘ann Syu’bah)”. Perkataan Ibnu Sa’d ini tentu beda makna dan konsekuensinya jika ia hanya mengatakan
 tsiqah, katsiirul-hadiits”, sebagaimana banyak ia katakan dalam kitab Ath-Thabaqah. Perkataan Ibnu Sa’d terhadap ‘Amru bin Marzuuq itu menandakan bahwa ketsiqahannya itu terkait dengan banyaknya periwayatan dari Syu’bah. Atau dengan kata lain, ia tsiqah dalam hadits Syu’bah, yang salah satu sebabnya karena menguasai hadits Syu’bah dengan banyaknya periwayatan darinya. Kedudukan orang yang banyak periwayatan dengan yang sedikit periwayatan adalah beda, sebagaimana dikenal dalam ilmu hadits. Penyendirian (tafarrud) orang yang sedikit periwayatannya (apalagi jika ia meriwayatkan daris eorang syaikh yang dikenal punya banyak murid dan riwayat) lebih mudah dihukumi ghariib dan syaadz dibandingkan orang yang banyak riwayatnya. 

Dan ingat,... para ulama sendiri berbeda-beda tentang siapakah orang yang tsabt periwayatannya dari Syu'bah. Saya contohkan : Ahmad bin Hanbal berkata tentang ‘Affaan : “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih baik haditsnya dalam periwayatan dari Syu’bah, dibandingkan ‘Affaan (bin Muslim)” [Al-‘Ilal, 2/362].
Ya, Ahmad – kalau menurut terminologi orang Syi’ah itu – menyendiri dalam pengunggulan ini. Ulama lain menyebutkan urutan di antara ashhaab Syu’bah. Ibnu ‘Adiy mengurutkan : Mu’aadz bin Mu’aadz, Khaalid bin Al-Haarits, Yahyaa Al-Qaththaan, Ghundar, dan yang kelima Abu Daawud Ath-Thayaalisiy” [Al-Kaamil, 3/1129]. Ad-Daaruquthniy berkata : “Yahyaa Al-Qaththaan, ‘Abdurrahmaan, Mu’aadz bin Mu’aadz, Khaalid bin Al-Haarits, dan Ghundar” [Suaalaat Ibni Bukair, hal. 43-44].

Intinya, ashhaab Syu’bah yang shahih periwayatan darinya itu bukan hanya satu orang, tapi banyak. Dan ‘Amru bin Marzuuq salah seorang di antaranya.
 

Benar beberapa ulama mengkritik ‘Amru bin Marzuuq, tidak ada yang mengingkari karena memang tercantum dalam kitab Al-Jarh wat-Ta’diil. Ibnul-Madiiniy berkata : “Tinggalkan hadits dua orang yang bernama Fahd dan ‘Amru, yaitu : Fahd bin ‘Auf, Fahd bin Hayyaan, ‘Amru bin Marzuuq, dan ‘Amru bin Hakkaam” [Tahdziibul-Kamaal, 22/228-229]. Maka ini adalah jenis jarh mubham, karena ia tidak menjelaskan sebab mengapa ia mesti ditinggalkan.
Begitu pula dengan perkataan Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan dan Abul-Waliid. Begitu juga yang lain sebagaimana tertulis di atas. 

Akan tetapi kita juga harus melihat perkataan ulama lain tentangnya. Ahmad bin Hanbal berkata : “Tsiqah lagi ma’muun”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah lagi ma’muun”. Sulaimaan bin Harb mengatakan bahwa jarh yang dialamatkan kepada ‘Amru dikarenakan hasad. ‘Affaan bin Muslim meridlai haditsnya. Abu Daawud mengunggulkan ‘Amru bin Marzuuq dibandingkan ‘Aliy bin Al-Ja’d. Padahal, status ‘Aliy bin Al-Ja’d adalah tsiqah lagi tsabat, dan sebagian ulama ada yang mengunggulkannya dalam periwayatan dari Syu’bah. Ibnu Ma’iin berkata : “’Aliy bin Ja’d adalah orang yang paling tsabt dari kalangan penduduk Baghdad dalam priwayatan dari Syu’bah”.
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Dan yang lainnya dari perkataan ulama yang menta’dil atau mentsiqahkannya. Oleh karena itu, Ibnu Hibbaan berkata : Kadang keliru, namun kekeliruannya tersebut tidak banyak hingga menyimpang dari keadilan. Akan tetapi kemudian terdapat padanya beberapa kekeliruan yang tidak bisa dihindari oleh manusia”. Basyar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth mengomentari perkataan Ibnu Hibbaan ini sebagai perkataan yang ‘adil/pertengahan dalam menyikapi jarh dan ta’dil para imam [Tahriirut-Taqriib, 3/107]. Ibnu Hajar sendiri juga mengatakan : “Tsiqah faadlil, lahu auhaam”. Artinya, ia seorang yang tsiqah, namun memiliki beberapa kekeliruan dalam hadits yang ia riwayatnya. Inilah hukum umum yang diberikan Ibnu Hajar.

Maka di sini sudah dapat diketahui bahwa ‘Amru bin Marzuuq dari Syu’bah tsiqah secara mutlak dalam periwayatan dari Syu’bah, dan haditsnya shahih.
 

Sebagai informasi saja.... banyak perawi yang mempunyai kelemahan dalam haditsnya secara umum, namun ia shahih pada orang tertentu.
Begitu juga sebaliknya, ada orang yang tsiqah secara umum, namun ia lemah pada orang tertentu. Misalnya adalah ‘Abdul-Wahhaab bin ‘Athaa’ Al-Khaffaaf. Beberapa mengkritiknya, disamping yang memujinya tentu saja. Oleh karena itu, Ibnu Hajar hanya menghukuminya pada level pertengahan : “seorang yang shaduuq, namun kadang keliru” [At-Taqriib, hal. 633 no. 4290]. Namun khusus periwayatannya dari Ibnu Abi ‘Aruubah, maka shahih. Hal itu dikarenakan ia adalah orang yang paling tahu tentang hadits Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, sebagaimana dikatakan Ahmad bin Hanbal. Contoh lain : Hisyaam bin Sa’d Al-Madaniy. Jumhur ulama melemahkannya. Akan tetapi khusus dalam periwayatannya dari Zaid bin Aslam, maka shahih. Abu Daawud berkata : “Hisyaam bin Sa’d orang yang paling tsabt dalam hadits Zaid bin Aslam”. Adapun contoh perawi tsiqah yang periwayatannya lemah dari orang-orang tertentu, misalnya : Ma’mar bin Raasyid, ia lemah dalam periwayatan dari Tsaabit Al-Bunaniy. Abu Ahmad Az-Zubairiy, ia lemah dalam hadits Ats-Tsauriy.

Nah,... saya ulangi dalam kasus ‘Amru bin Marzuuq, ia shahih dalam periwayatan dari Syu’bah.

Kemudian bandingkan dengan metode ambigu orang Syi’ah itu dalam kasus lain, yaitu hadits yang menyatakan Mu’aawiyyah minum khamr.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب حدثني حسين ثنا عبد الله بن بريدة قال دخلت أنا وأبي على معاوية فأجلسنا على الفرش ثم أتينا بالطعام فأكلنا ثم أتينا بالشراب فشرب معاوية ثم ناول أبي ثم قال ما شربته منذ حرمه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال معاوية كنت أجمل شباب قريش وأجوده ثغرا وما شيء كنت أجد له لذة كما كنت أجده وأنا شاب غير اللبن أو إنسان حسن الحديث يحدثني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami
 Zaid bin Hubab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Ayahku berkata “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku” [Diriwayatkan oleh Ahmad].

Abu Zur’ah dalam Taariikh-nya (2/677), dan dari jalannya Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (27/126-127) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syabbuuyah : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Husain, dari ayahnya : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Buraidah, ia berkata :

دخلت مع أبي على معاوية

“Aku bersama ayahku masuk menemui Mu’aawiyyah” [selesai].
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Hadits ini dan hadits sebelumnya berporos pada Al-Husain bin Waaqid. Hanya saja, dalam riwayat Ahmad di atas, Zaid bin Hubbaab menambahkan lafadh - yang menurut orang Syi’ah itu – Mu’aawiyyah menawarkan khamr kepada Buraidah. Tsiqahkah Zaid bin Hubbaab ?. Ia hanya berderajat shaduuq saja. Jadi ini adalah tambahan lafadh yang diberikan oleh Zaid bin Hubbaab. Kemudian ada riwayat lain :

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan hadits tersebut dengan lafadh sebagai berikut :

حدثنا زيد بن الحباب عن حسين بن واقد قال حدثنا عبد الله بن بريدة قال : قال : دخلت أنا وأبي على معاوية، فأجْلَسَ أبي على السَّرير، وأَتَى بالطعام فأطْعَمنا، وأتَى بشرابٍ فشَرِبَ، فقال معاوية:"ما شيءٌ كنتُ أستَلِذَّهُ وأنا شابٌّ فآخُذُهُ اليومَ إلا اللَّبَنَ؛ فإني آخُذُه كما كنتُ آخُذُه قَبْلَ اليَومِ، والحديثَ الحَسَنَ .

Telah menceritakan kepada kami
 Zaid bin Al-Hubaab, dari Husain bin Waaqid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Buraidah, ia berkata : Aku dan ayahku masuk/mendatangi Mu’aawiyyah. Maka ia (Mu’aawiyyah) mempersilakan duduk ayahku di atas sofa. Lalu didatangkanlah makanan, dan kami pun memakannya. Setelah itu didatangkan minuman, lalu ia meminumnya. Mu’aawiyyah berkata : “Tidak ada sesuatu yang aku pernah merasakan kenikmatannya semenjak aku masih muda,yang kemudian aku ambil pada hari ini kecuali susu. Maka aku mengambilnya sebagaimana dulu aku pernah mengambilnya sebelum hari ini, dan juga perkataan yang baik” [Al-Mushannaf, 6/188].

Susunan perawi yang dibawakan oleh Ibnu Abi Syaibah ini sama dengan yang dibawakan Ahmad. Hanya saja, riwayat Ibnu Abi Syaibah ini tidak terdapat lafadh menawarkan minum khamr. Yang ada, Mu’aawiyyah malah menyatakan bahwa minumannya adalah susu.
 

Jelas dan kentara sekali bahwa ziyaadah Zaid bin Hubbaab itu bermasalah, karena lafadh antara Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad berlainan bahkan kontradiktif. Nah,... orang Raafidlah ini mati-matian membela ziyaadah bermasalah ini. Kenapa ?. Karena isinya Mu’aawiyyah menawarkan minum khamr. Pas sekali dengan tabiat orang Raafidlah ini yang memang gemar mencela Mu’aawiyyah.

Bandingkan dengan riwayat ‘Amru bin Marzuuq. Ia hanya menambahkan lafadh ‘Abdullah bin Saba’ yang tidak dibawakan oleh Ghundar. Padahal, ulama telah mengatakan bahwa riwayat ‘Amru bin Marzuuq dari Syu’bah adalah shahih.
Anonim mengatakan...
Jazakallahu khoiron ustadz, sudah berbagi ilmu..

Sebagaimana diklaim oleh shiah yang durhaka terhadap buyutnya, masalah eksistensi buyut shiah gimana ustadz ? apa orang item bin saba' ini memang buyut mereka ?
Anonim mengatakan...
ust, bgm dg tanggapan balik komentar si rafidi thd bantahan antm diatas?
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Ndak ada tambahan dari saya, karena yang bersangkutan memang mengkondisikan tambahan keterangan 'Abdullah bin Saba' itu mesti lemah, sehingga alasan yang dibuatnya cenderung mengada-ada. Dia juga tidak berusaha memahami perkataan jarh dan ta'dil para ulama 'Amru bin Marzuuq secara 'adil, karena jika ia lakukan, tentu saja akan menggagalkan usaha yang dirintisnya dari awal. Dalam kitab Ma'rifatu Ashhaabi Syu'bah pun disebutkan bahwa ia seorang yang tsiqah periwayatannya dari Syu'bah.
K A B mengatakan...
mantap ustadz, hajar terus. Lemahkan terus argumen muter2 dan mulut berbusa-busanya serta mengada-ada.
Anonim mengatakan...
Ini bukti kalo dia hanya mau menerima perkataan ulama yg menjarh 'Amr bin Marzuq :

"Jika ia (maksudnya Abul Jauzaa') berkeras dengan apa yang dikatakan Abu Hatim maka apa salahnya juga kalau kami mau berkeras dengan apa yang dikatakan Al Ijliy “dhaif meriwayatkan hadis dari Syu’bah tidak ada apa-apanya”. "

Sudah mafhum kalo org rafidhi itu spt itu, ia hanya mau menerima riwayat/perkataan yg menguntungkan golongannya oleh krn itu ia hanya mau mendengarkan perkataan ulama yg menjarh 'Amr bin Marzuq (dan jarh-nya jg jarh mubham) pdhl ga sedikit para ulama yg jg menta'dil beliau. Tambahan lg, Abdullah bin Saba' memang telah dikenal di dunia islam sebagai kakek moyang syi'ah, so, apalagi yg musti dibantah?

--Tom's--
Anonim mengatakan...
bgmn ust. ttg pernyataan Ibnu Hajar bahwa kisah ttg Ibnu dalam sejarah sangat terkenal, tetapi tdak ada yg bernilai riwayat . Lisanul Mizan Jilid 3 hal 289-290 .

klo bgt riwayat diatas masuk dalam kategori pernyataan Ibnu Hajar.
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Bisa disebutkan teks asli perkataan Ibnu Hajar ?. Saya sudah membuka Lisaanul-Miizaan, terbitan Maktabah Al-Mathbuu'aat Al-Islaamiyyah (tahqiq : 'Abdul-Fattah Abu Ghuddah), dan terbitan Muassasah Al-A'lamiy Beirut pada juz dan halaman yang antum sebut tidak menemukannya.

Namun apapun itu, seandainya benar Ibnu Hajar mengatakannya, tetap itu harus diteliti ulang satu persatu riwayatnya. Di atas, telah shahih penyebutan 'Abdullah bin Saba' dari riwayat 'Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu 'anhu.
orang awam mengatakan...
Assalamu'alaikum,

memang luar biasa semangat dan usaha SP di dalam mentahqiq hadits-hadits ahlu sunnah, benar-benar takjub melihatnya.

takjub karena dia meneliti riwayat sunni memakai kaidah ilmu hadits milik ahlu sunnah, menggunakan metode jarh wa ta'dl milik ahlu sunnah, tetapi dia sendiri lupa akan kondisi riwayat Syiah yang ada di dalam kitab-kitab induk mereka. ..hehe

seperti pendeta nashara yang mempelajari al-Qur'an dan sejarahnya, tetapi dengan tujuan mencari distorsi/penyimpangan dan kemungkinan tahrif yang ada di dalam Kitabullah.

Wallohul Musta'an
Anonim mengatakan...
klo memang spt itu yg Ust. katakan maka org Rafidhah itu telah berdusta , mereka berhujjah dg perkataan Ibnu Hajar (Lisanul Mizan Jilid 3 289-290 ) untuk menolak keberadaan Ibnu Saba' , sy yg tdk punya kitab2 para Ulama bingung untuk mengecek kebenarannya , mk sy disini tuk menanyakannya, alhamdulilah klo memang tdk ada perkataan Ibnu Hajar yg spt itu .
Anonim mengatakan...
Hafiz Firdaus Abdullah menjawab tentang isu Ibnu Hajar

Saya petik dari web beliau
“Malah mereka juga mendakwa bahawa kononnya al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852H) menolak riwayat-riwayat berkenaan Ibn Saba’ sebagai “tidak bernilai.”
 

M. Hashem di dalam bukunya ‘Abd Allah bin Saba’ Dalam Polemik (Penerbitan YAPI, Jakarta 1989), ms. 24 telah menukil kata-kata Ibn Hajar yang beliau terjemahkan sebagai:

Berita-berita tentang ‘Abdullah bin Saba’ dalam sejarah sangat terkenal tetapi tidak (satupun) bernilai riwayat. Dan segala puji bagi Allah…

Akan tetapi apabila dirujuk di dalam kitab Ibn Hajar - Lisan al-Mizan, jld. 4, ms. 24, biografi no: 4618 (‘Abd Allah bin Saba’),
 

Ibn Hajar berkata:

وأخبار عبد الله بن سبأ شهيرة في التواريخ, وليست له رواية ولله الحمد
...
Kata-kata Ibn Hajar yang ringkas ini sebenarnya memiliki 2 pecahan:

1.
وأخبار عبد الله بن سبأ شهيرة في التواريخ bermaksud: 

“Khabar-khabar ‘Abd Allah bin Saba’ masyhur di dalam kitab-kitab sejarah.”
 

Ini bererti Ibn Hajar mengiktiraf dan membenarkan kewujudan dan peranan Ibn Saba’ sebagaimana yang tercatit di dalam kitab-kitab sejarah.

2.
وليست له رواية ولله الحمد 

bererti: “Namun bagi dia tidak satu pun riwayat, dan bagi Allah segala puji-pujian.”
 

Maksud Ibn Hajar, Ibn Saba’ tidak meriwayatkan apa-apa hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sama ada dengan sanad yang sahih atau dha‘if atau maudhu’.
 

Ringkasnya Ibn Saba’ bukan seorang perawi hadis. Ibn Hajar mengakhiri dengan memuji Allah sebagai tanda kesyukuran.
 

Ini kerana jika Ibn Saba’ seorang perawi hadis, pasti akan wujud banyak hadis lemah dan palsu yang diriwayatkan olehnya sehingga mencemari ketulenan sumber al-Sunnah bagi umat Islam.

Kata-kata Ibn Hajar ini tidak sedikitpun bererti: “…tetapi tidak (satupun) bernilai riwayat…” sebagaimana yang diterjemahkan oleh M. Hashem.
 

Inilah yang penulis maksudkan sebagai pendustaan dan penyelewengan ilmiah.

http://www.hafizfirdaus.com/ebook/buku_syiah/Siri1/syiah-rafidhah.htm#_ftn5



http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/10/sekali-lagi-tentang-abdullah-bin-saba.html
Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa' : di 20.24 
Label: Syi'ah

Tiga artikel di blog ini telah mendahului dalam pembahasan tentang ‘Abdullah bin Saba’[1], founding father agama Syi’ah Raafidlah. Kali ini saya akan coba bawakan keterangan tambahan perkataan para ulama terdahulu yang secara langsung maupun tidak langsung menunjukkan eksistensi ‘Abdullah bin Saba’ dalam referensi Ahlus-Sunnah, sekaligus bantahan bagi orang-orang yang memfiktifkan tokoh riil ini.
‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu berkata :
مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ، يَعْنِي: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ.
“Apa urusanku dengan orang hitam jelek ini – yaitu ‘Abdullah bin Saba’ - . Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam At-Taariikh no. 4358; sanadnya shahih].

Hujayyah Al-Kindiy rahimahullah berkata :
رَأَيْتُ عَلِيًّا عَلَى الْمِنْبَرِ، وَهُوَ يَقُولُ: مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ هَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ الَّذِي يَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ، يَعْنِي: ابْنَ السَّوْدَاءِ
“Aku pernah melihat ‘Aliy (bin Abi Thaalib) ada di atas mimbar dan berkata : ‘Siapakah yang mau membelaku dari orang hitam jelek ini yang telah berdusta kepada Allah, yaitu : Ibnus-Saudaa’ (yaitu : ‘Abdullah bin Saba’)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam At-Taariikh no. 4359; sanadnya hasan].
‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’uud Al-Hudzaliy rahimahullah (w. 73 H/74 H) berkata :
إِنِّي لَسْتُ بِسَبَائِيٍّ وَلَا حَرُورِيٍّ
“Sesungguhnya aku bukan seorang Saba’iy (pengikut ‘Abdullah bin Saba’) dan bukan pula Haruuriy (Khawaarij)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 11/299-300 (16/272-273) no. 31886; sanadnya shahih].
Riwayat ini menunjukkan bahwa di era ‘’Abdullah bin ‘Utbah – dan ia seorang kibaarut-taabi’iin – telah eksis golongan Saba’iyyah yang pengikutnya disebutkan Saba’iy.
Asy-Sya’biy rahimahullah (w. 106 H/107 H/110 H) berkata :
فلم أر قوما أحمق من هذه السبئية.
“Aku tidak pernah melihat satu kaum yang lebih tolol daripada kelompok Saba’iyyah ini” [Diriwayatkan oleh Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ Al-Kabiir, 7/275; sanadnya shahih].
Asy-Sya’biy rahimahullah hidup di jaman ‘Aliy, Al-Hasan, dan Al-Husain radliyallaahu ‘anhum – jaman ‘Abdullah bin Saba’ dan para pengikutnya eksis.
Az-Zuhriy rahimahullah (w. 125 H) berkata :
كَانَ الْحَسَن أوثقهما في أنفسنا، وكَانَ عَبْد اللَّه يتبع السبائية
“Al-Hasan paling tsiqah di antara keduanya bagi diri kami, sedangkan ‘Abdullah mengikuti (pemikiran) kelompok As-Sabaa’iyyah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 7/187 no. 582, Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 32/271, dan dibawakan oleh Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar 4/129; sanadnya shahih].
Dalam lafadh lain, Az-Zuhriy berkata :
حَدَّثَنَا حسن، وعبد اللَّه، ابنا محمد بن علي، وكان حسن أرضى من عبد الله، وكان عبد الله يجمع أحاديث السبائية
“Telah menceritakan kepada kami Hasan dan ‘Abdullah yang merupakan anak dari Muhammad bin ‘Aliy. Hasan lebih aku ridlai daripada ‘Abdullah, sedangkan ‘Abdullah menghimpun hadits-hadits kelompok As-Sabaa’iyyah” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 32/273, dan dibawakan oleh Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar 4/129; sanadnya shahih].
Ma’mar bin Raasyid Al-Azdiy rahimahullah (w. 154 H) berkata :
وَكَانَ قَتَادَةُ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ: فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ، قَالَ: إِنْ لَمْ يَكُونُوا الْحَرُورِيَّةَ وَالسَّبَائِيَّةَ فَلا أَدْرِي مَنْ هُمْ؟
“Dulu Qataadah apabila membaca ayat ini : ‘Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan’ (QS. Aali ‘Imraan : 7), ia berkata : Apabila mereka bukan kelompok Haruuriyyah (Khawaarij) dan Sabaa’iyyah (pengikut ‘Abdullah bin Saba’), aku tidak tahu siapakah mereka itu” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Jaami’ul-Bayaan, 6/187 no. 6603 dan ‘Abdurrazzaaq dalam Tafsiir-nya no. 375; sanadnya shahih hingga Ma’mar].
Hammaam bin Yahyaa Al-‘Audziy rahimahullah (w. 164 H/165 H) berkata :
سمعت الكلبي، يقول: أنا سبئي
“Aku mendengar Al-Kalbiy[2] berkata : ‘Aku seorang Saba’iy (pengikut ‘Abdullah bin Saba’)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 2/253; sanadnya shahih].
Diriwayatkan juga oleh Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ hal. 1237. Ia (Al-‘Uqailiy) berkomentar tentang kelompok Saba’iyyah ini :
هم صنف من الرافضة أصحاب عبد الله بن سبأ.
“Mereka adalah salah satu golongan dari firqah Raafidlah, pengikut ‘Abdullah bin Saba’” [Adl-Dlu’afaa’ Al-Kabiir hal. 1237 no. 1637].
Yaziid bin Zurai’ rahimahullah (w. 182 H) berkata :
ثنا الكلبي، وكان سبئيا.
“Telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin As-Saaib) Al-Kalbiy, dan ia seorangSaba’iy (pengikut ‘Abdullah bin Saba’)” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’, 7/275; sanadnya shahih].
Yahyaa bin Ma’iin rahimahullah (w. 233 H) berkata :
أبو سلمان صاحب الأعمش، اسمه يزيد، وهو سبائي
“Abu Salmaan, shahabat Al-A’masy, namanya Yaziid. Ia seorang Saba’iy (pengikut kelompok Sabaa’iyyah)” [At-Taariikh li-Ad-Duuriy, 2/10 no. 2870].
Ibraahiim bin Ya’quub Al-Jauzajaaniy rahimahullah (w. 259 H) berkata :
ثم السبئية غلت في الكفر فزعمت أن علياً إلهاً حتى حرقهم بالنار إنكاراً عليهم ......
“Kemudian kelompok As-Saba’iyyah yang berbuat ekstrim dalam kekufuran dimana mereka menyangka ‘Aliy adalah tuhan, hingga kemudian ia (‘Aliy) membakar mereka dengan api sebagai bentuk pengingkaran terhadap mereka[3]…” [Ahwaalur-Rijaal, hal. 37].
Dan yang lainnya.
Itulah perkataan para ulama dari masa ke masa. Tidak mungkin ada penamaan/sebutanSabaa’iyyah atau Saba’iy jika tidak ada sesuatu di awal yang mempunyai nama tersebut. Dan semua ulama hadits dan sejarah sepakat bahwa Sabaa’iyyah ini adalah kelompok yang yang dinisbatkan pada tokohnya yang bernama ‘Abdullah bin Saba’.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 20121434/24102013 – 20:30].


[1]      Silakan baca :
[2]      Muhammad bin As-Saaib bin Bisyr bin ‘Amru bin Al-Haarits Al-Kalbiy, Abun-Nadlr Al-Kuufiy; seorang yang tertuduh berdusta, rafidliy. Termasuk thabaqah ke-6, dan wafat tahun 146 H. Dipakai oleh At-Tirmidziy dan Ibnu Maajah dalam At-Tafsiir [Taqriibut-Tahdziib, hal. 847 no. 5938].
COMMENTS
Abu Yahyaa mengatakan...
Akh, sekedar saran saja. Antum sebaiknya perbaiki local hyperlink ke footnote-nya. Selain untuk mempermudah navigasi ke footnote, juga untuk keamanan. Yang sekarang, keliatan banget antum ngetik pake MS Word sampe keliatan juga path dari drive sampe folder-foldernya:
"file:///F:/Islam/Artikel/Sekali lagi tentang ‘Abdullah bin Saba‘.docx#_ftn1"
Cara memperbaikinya:
1. Pada bagian footnote (misal: [1]), tambahkan tag anchor dengan id yang unik, contoh: < a id="ftn1" >[1]< /a > (hilangkan spasi).
2. Pada isi artikel yang ingin nge-link ke footnote yang bersangkutan, tinggal di-anchor-kan ke id yang unik tersebut (dengan menambahkan karakter #), contoh: < a href="#ftn1" >[1]< /a > (hilangkan spasi).
Anyway, jazakallaahu khoir atas artikelnya.
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Terima kasih atas masukannya. Perlu saya pelajari saran antum tersebut. Jazaakallaahu khairan.

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/10/sekilas-tentang-rafidlah-dan-pendirinya.html
Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa' : di 08.11 
Label: Syi'ah

Oleh : Abu Bakr ‘Abdurrazzaq bin Shalih bin ‘Ali An-Nahmiy
Orang pertama yang mencetuskan paham Rafidlah adalah ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahud dari kalangan Yahudi Yaman. Dia menampakkan keislaman, kemudian datang ke Madinah pada masa khalifah yang lurus, ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu.
Mereka dinamakan dengan Rafidlah (kaum yang meninggalkan) karena mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali, ketika mereka meminta beliau untuk menyatakan putus hubungan dengan Abu Bakar dan ‘Umar, tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Maka mereka mengatakan,”Jika demikian, kami akan meninggalkanmu”. Maka beliau (Zaid bin ‘Ali) berkata,”Pergilah ! Sesungguhnya kalian adalah Rafidlah (orang-orang yang meninggalkan)”.
Adz-Dzahabi berkata dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’ (5/390) bahwa ‘Isa bin Yunus berkata,”Orang-orang Rafidlah datang menemui Zaid, lantas mereka berkata : ‘Buatlah pernyataan putus hubungan dengan Abu Bakar dan ‘Umar sehingga kami membantumu’. Maka beliau menanggapi : ‘Bahkan aku loyal kepada mereka berdua’. Mereka pun berkata : ‘Jika demikian, maka kami meninggalkanmu’. Dari situlah mereka dikatakan Rafidlah”.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fataawaa (4/435) : “Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad : ‘Siapa itu Rafidlah ?’. Beliau menjawab : ‘Orang yang mencela Abu Bakar dan ‘Umar’. Karena alasan inilah mereka dinamakan Rafidlah. Sebab, mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali ketika beliau loyal kepada kedua khalifah tersebut sedangkan mereka benci kepada keduanya. Sehingga orang yang membenci mereka berdua dinamakan Rafidlah”.
Ada yang berkata bahwa mereka dinamakan Rafidlah sebab mereka meninggalkan Abu Bakar dan ‘Umar.
Ibnu Taimiyyah juga berkata pada sumber yang lalu,”Asal-usul Rafidlah dari kalangan munafiq dan zindiq. Rafidlah itu dibuat oleh Ibnu Saba’ yang zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrim mendukung ’Ali dengan propaganda bahwa ’Ali lebih berhak untuk kepemimpinan dan ada wasiat bagi ’Ali”.
Beliau juga berkata pada (28/483),”Para ulama menyebutkan bahwa permulaan paham Rafidlah adalah dari seorang zindiq bernama ’Abdullah bin Saba’. Dia menampakkan keislaman dan menyembunyikan agama Yahudinya. Dia ingin merusak Islam sebagaimana yang dilakukan Paulus An-Nashraniy yang dahulunya Yahudi ketika merusak agama Nashrani”.
Ibnu Abil-’Izz Al-Hanafiy berkata dalam Syarh Ath-Thahawiyyah hal. 490 dengan tahqiqAl-Albani,”Asal mula paham Rafidlah dimunculkan oleh seorang munafiq lagi zindiq yang bermaksud meruntuhkan agama Islam dan mencela Rasul shallallaahu ’alaihi wasallamsebagaimana disebutkan para ulama. Karena ’Abdullah bin Saba’ si Yahudi ketika menampakkan Islam, dia hanya ingin merusak Islam dengan tipu daya dan keburukannya, sebagaimana dilakukan Paulus terhadap agama Nashrani. Dia berpenampilan orang yang rajin beribadah, kemudian dia perlihatkan amar ma’ruf nahi munkart sampai akhirnya dia berupaya memfitnah ’Utsman dan membunuhnya. Kemudian ketika datang ke Kuffah, dia menampakkan sikap ekstrim terhadap ’Ali dan pembelaan kepadanya agar dengan itu ia mampu untuk mencapai tujuan-tujuannya. Berita itu akhirnya sampai kepada ’Ali, maka ’Ali bermaksud membunuhnya sehingga dia melarikan diri darinya menuju Qarqis. Dan berita tentangnya sudah sangat dikenal dalam sejarah. Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ dulunya seorang Yahudi kemudian dia tampakkan keislamannya padahal dia seorang munafiq zindiq”.
Ath-Thabari telah menyebutkannya dalam At-Taarikh (4/430) bahwa Ibnu Saba’ dahulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan’a.
Ibnul-Atsir berkata dalam Al-Kamiil (3/77) : ”Abdullah bin Saba’ si Yahudi dulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan’a dan ibunya adalah Sauda’ ”.
Ath-Thabariy menyebutkan dalam sejarah kejadian-kejadian di tahun 30 H bahwa Ibnu Saba’ mendatangi Abu Darda’. Maka Abu Darda’ berkata kepadanya,”Siapa kamu ini ? Aku mengira kamu ini – demi Allah – seorang Yahudi !”.
Aku (yaitu Penulis – Abu Bakr ’Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmiy) berkata,”Sehingga ’Abdullah bin Saba’ itu hanyalah seorang Yahudi yang berkedok Islam. Asy-Syahrastani berkata dalam Al-Milal wan-Nihal (1/204) cet. Daarul-Ma’rifah : ’Saba’iyyah adalah para pengikut ’Abdullah bin Saba’ yang berkata kepada ’Ali : ’Kamulah, kamulah !’.Maksudnya,’Kamu adalah Tuhan’. Maka ’Ali kemudian mengusirnya ke Al-Madain”.
Orang-orang menyangka bahwa dia dulunya seorang Yahudi lantas masuk Islam. Ketika beragama Yahudi dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun berwasiat kepada Musa ’alaihis-salaam seperti yang dikatakannya tentang ’Ali, dialah orang pertama yang memunculkan pernyataan adanya wasiat tentang kepemimpinan ’Ali radliyallaahu ’anhu dan dari situlah bercabang berbagai sikap berlebihan (ghulluw). Dia meyakni bahwa ’Ali terus hidup dan tidak akan mati, padanya terdapat sifat ketuhanan, dan beliau tidak boleh menjadi bawahan. Beliaulah yang datang dari awan, halilintar adalah suaranya, kilatan petir adalah senyumannya. Beliau nanti akan turun ke bumi lantas memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kedhaliman. Ibnu Saba’ menampakkan ucapan ini setelah wafatnya ’Ali radliyallaahu ’anhu dan adanya sejumlah orang yang berhimpun mendukungnya. Merekalah kelompok pertama yang menyatakantawaqquf, ghaib, dan akan kembalinya ’Ali. Mereka juga menyatakan menjelmanya sebagian sifat ketuhanan pada para imam setelah ’Ali radliyallaahu ’anhu.
Dia (’Abdullah bin Saba’) berkata,”Makna seperti ini sebenarnya juga diketahui oleh para shahabat, sekalipun mereka berseberangan dengan keinginannya (’Ali). Ini ’Umar bin Khaththab, ketika ’Ali mencungkil mata seseorang dengan benda tajam di tanah suci, dilaporkan kepadanya (’Umar) dan ia berkomentar,’Apa yang sanggup aku katakan terhadap tangan Allah yang telah mencungkil mata di tanah suci milik Allah ?’. Jadi ’Umar memberikan baginya sebutan ketuhanan karena memang ’Umar mengetahui sifat itu pada diri ’Ali”.
Berikut ini adalah biografi ’Abdullah bin Saba’ si Yahudi dalam kitab Mizaanul-I’tidaalkarya Adz-Dzahabi dan Lisaanul-Miizaan karya Ibnu Hajar.
Al-Hafidh Adz-Dzahabi berkata,”Abdullah bin Saba’ termasuk orang-orang zindiq yang paling ekstrim, sesat, dan menyesatkan. Aku mengira ’Ali yang membakarnya dengan api. Al-Jauzajani berkata : ’Dia meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya satu bagian dari sembilan bagian yang ilmunya ada pada ’Ali. ’Ali mengusirnya setelah bertekad melakukannya”.
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Lisaanul-Miizaan (29/30) :
”Ibnu ’Asakir berkata dalam Tarikh-nya : ’Asalnya dari Yaman, dulunya dia seorang Yahudi kemudian dia menampakkan kesialaman. Kemudian dia berkeliling ke negeri-negeri muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada penguasa dan menyusupkan keburukan di tengah-tengah mereka. Dia memasuki kota Damaskus untuk tujuan tadi pada masa ’Utsman’.
Kemudian dia (Ibnu ’Asakir) meriwayatkan dari jalan Saif bin ’Umar At-Tamimi dalamAl-Futuh dengan kisah yang panjang, tetapi sanadnya tidak benar. Juga dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ’Abbad, ia berkata : Telah menceritakan hadits kepada kami Sufyan, dari ’Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan : Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata :
رأيت المسيب بن نجبة أتى به دخل على المنبر فقال ما شأنه فقال يكذب على الله وعلى رسوله
Aku melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya (yaitu Ibnu Saba’), sementara ’Ali sedang berada di atas mimbar. Lantas beliau (’Ali) berkata,”Ada apa dengannya ?”. Al-Musayyib berkata,”Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya”. [1]
Beliau (Ibnu ’Asakir) juga berkata : Telah menceritakan kepada kami ’Umar bin Marzuq, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, dia berkata : ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ta’ala ’anhu berkata,
ما لي ولهذا الخبيث الأسود يعني عبد الله بن سبأ كان يقع في أبي بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما
”Apa urusanku dengan al-hamil [2] yang hitam ini – yaitu ’Abdullah bin Saba’ - ?. Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar radliyalaahu ta’ala ’anhuma”. [3]
Dari jalan Muhammad bin ’Utsman bin Abi Syaibah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-’Alla’ dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyas, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dia berkata : ”Orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ’Abdullah bin Saba’”. Abu Ya’la Al-Mushili berkata dalamMusnad-nya : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadi, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Harun bin Shaalih, dari Al-Haarits bin ’Abdirrahman, dari Abul-Jalas, ia berkata : Aku mendengar ’Ali berkata kepada ’Abdullah bin Saba’ :
والله ما أفضى إلي بشيء كتمه أحدا من الناس ولقد سمعت يقول إن بين يدي الساعة ثلاثين كذابا وإنك لأحدهم
”Demi Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku mendengar beliau bersabda,’Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta’; dan engkau adalah salah satu dari mereka”.[4]
Abu Ishaq Al-Fazari berkata : Dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya Suwaid bin Ghafalah masuk menemui ’Aliradliyallaahu ’anhu di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata,”Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan ’Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali berkata,”Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua (Abu Bakar dan ’Umar), dan akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta”.[5]
Berita tentang ’Abdullah bin Saba’ ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun, walhamdulillah. Dia mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba’iyyah yang meyakini sifat ketuhanan ’Ali bin Abi Thalib dan ’Ali telah membakarnya dengan api pada masa kekhalifahannya” [selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Lisaanul-Miizaan].
Amirul-Mukminin ’Ali bin Abi Thalib telah membakar pengikut si Yahudi ’Abdullah bin Saba’ setelah beliau menasihati agar mereka kembali dan bertaubat kepada Allah dari kesesatan dan penyelewengan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan (12/335) dalamFathul-Baari no. 6922, beliau berkata : Telah memberikan hadits kepada Abu An-Nu’mar Muhammad bin Al-Fadhl ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari ’Ikrimah  bahwasannya ia berkata :
أتى علي رضى الله تعالى عنه بزنادقة فأحرقهم فبلغ ذلك بن عباس فقال لو كنت أنا لم أحرقهم لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تعذبوا بعذاب الله ولقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقتلوه
”Didatangkan kepada ’Ali radliyallaahu ’anhu sekelompok orang zindiq, lantas beliau membakarnya. Kemudian berita itu sampai kepada Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma, maka beliau berkata : ”Seandainya aku yang menghukumnya, maka aku tidak akan membakarnya, sebab ada larangan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :’Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu api), akan tetapi aku akan membunuhnya karena sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ’Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia”.
Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini berkata :
”Abul-Mudhaffar Al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh ’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri ’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah bin Syuraik Al-’Amiriy, dari ayahnya ia berkata : Dikatakan kepada ’Ali : ’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka : ’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab : ’Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. ’Ali berkata : ’Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.
Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata,’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu’.’Ali pun berkata,’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata,’Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali berkata,’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata,’Galilah dan dalamkanlah galiannya’.
Kemudian beliau memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Beliaupun berkata,’Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka ’Ali melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, beliau pun berkata :
اني إذا رأيت أمرا منكرا - أوقدت ناري ودعوت قنبرا
Ketika aku melihat perkara yang munkar
Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar
Ini adalah sanad yang hasan.
[selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Fathul-Baari].
Adapun ’Abdullah bin Saba’, maka ’Ali mengusirnya ke Al-Madaain. Ketika ’Ali meninggal dan berita kematian ’Ali sampai kepada ’Abdullah bin Saba’, dia berkata kepada orang yang membawa berita,”Seandainya pun engkau membawa berita kepada kami membawa otaknya dimasukkan ke dalam tujuhpuluh kantong dan engkau berdirikan tujuhpuluh orang saksi yang adil, maka tentu kami masih bisa memastikan bahwa dia belum terbunuh dan tidak akan mati sampai menguasai bumi”.[6]
Ibnu Saba’Al-Yahudi memanfaatkan kematian Amirul-Mukminin ’Ali bin Abi Thalib, dia susupkan keyakinan-keyakinan rusaknya dan diterima oleh para pengikutnya dari orang-orang Rafidlah. Mereka pun kemudian menyebarkannya dan menyeru kepadanya. Di sini, kami akan menyebutkan sebagian yang diperbuat oleh orang Yahudi ni dan keyakinan-keyakinan rusaknya yang dia masukkan (ke dalam tubuh kaum muslimin) :
1.    Mencetuskan kelompok yang menyimpang ini, yaitu Rafidlah.
2.    Upayanya untuk membunuh khalifah yang lurus Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya : dua anak perempuan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam), yaitu ’Utsman bin ’Affanradliyallaahu ’anhu.
3.    Mencela shahabat dan mengkafirkannya, terutama Abu Bakar, ’Umar, dan ’Utsmanradliyallaahu ’anhum.
4.    Keyakinan adanya wasiat tertulis bagi ’Ali.
5.    Sikap ekstrim terhadap ’Ali dan ahli bait.
6.    ’Aqidah bada’ (menjadi nampak).[7]
7.    Pengkultusan ’Ali radliyallaahu ’anhu.
8.    Keyakinan tentang tidak meninggalnya ’Ali radliyallaahu ’anhu.
Orang-orang Rafidlah mengambil ’aqidah yang jelek yang disusupkan oleh orang Yahudi ini[8] dan mereka sampai sekarang masih meyakini ’aqidah-’aqidah ini dan membelanya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’iy[9] dalam kitabnya Al-Ilhadul-Khumaini fil-Ardlil-Haramain hal. 110, Cet. Daarul-Hadits :
”Mudah-mudahan kaum muslimin mengambil pelajaran dari kisah ’Abdullah bin Saba’ sehingga mereka waspada dari tipu daya dan keburukan orang-orang Rafidlah, sebab seruan mereka terbangun di atas kedustaan dan sungguh betapa miripnya malam ini dengan malam sebelumnya. Orang-orang Rafidlah sekarang menganut keyakinan ’Abdullah bin Saba’”.
Ketika ’aqidah orang-orang Rafidlah diambil dari orang Yahudi ini, maka kamu dapati keserupaan mereka dengan Yahudi dalam banyak perkara.  Penulis[10] telah meletakkan sebuah pasal dalam risalah ini seputar masalah tersebut. Rafidlah memiliki beberapa nama. Mereka disebut Al-Itsna ’Asyariyah nisbat kepada keyakinan mereka tentang 12 imam. Mereka dinamakan Ja’fariyyah, nisbat kepada Ja’far Ash-Shaadiq. Mereka dinamakan Imamiyyah karena berpandangan kepemimpinan itu hanya untuk ’Ali dan anak keturunannya, dan mereka menunggu seorang imam yang akan muncul di akhir jaman. Mereka juga dinamakan Rafidlah karena sikap mereka yang meninggalkan Zaid bin ’Ali sebagaimana pembahasan lalu.[11]
Demikianlah, dan hendaknya diketahui oleh setiap muslim bahwa orang-orang Rafidlah pada hakekatnya adalah para musuh Islam. Hanyalah mereka berkedok Islam untuk menghantam Islam. Mereka bahu-membahu dengan semua musuh Islam untuk menghadapi Islam serta bekerjasama dengan semua orang jahat untuk melawan islam.Laa haula walaa quwwata illaa billaah.


[1]      HR. Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (29/7) dan sanadnya hasan.
[2]      Al-Hamil adalah sebutan untuk segala sesuatu yang busuk, dan dia berarti orang yang botak dan tidak mempunyai rambut. (Al-Qaamus).
[3]      HR. Ibnu ‘Asakir dalam Taarikh Ad-Dimasyqi (29/7) dengan sanad shahih.
[4]      Atsar ini tsabit (kokoh), diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 1325, Abu Ya’la dalam Musnad-nya (449), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (982). Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid (7/333) : “Para perawinya tsiqah (terpercaya)”.
[5]      Atsar ini tsabit.
[6]      Firaq Asy-Syi’ah karya An-Naubakhti, hal. 21, Cet. Karbalaa.
[7]      Yaitu orang-orang Rafidlah meyakini bahwasannya akan menjadi terang sesuatu bagi Allah setelah sebelumnya tersembunyi. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar. Silakan lihat kitab Buthlaanu ’Aqaaid Asy-Syi’ah karya Al-’Allamah Muhammad ’Abdus-Sattar At-Turisi, hal. 23 dan Mas-alatut-Taqrib baina Ahlis-Sunnah wasy-Syi’ah (1/344).
[8]      Tidak ada celah untuk mengingkari eksistensi ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahudiy, sebagaimana disangka oleh sebagian orang bahwa dia hanyalah cerita dongeng belaka. Buku-buku sejarah telah menetapkan hakekat perbuatannya bahkan menetapkan hakekat dirinya, sampai-sampai ditulis oleh orang-orang Syi’ah sendiri.
Tentang hakekat ’Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi ini telah dijelaskan oleh saudaraku yang mulia ’Ali Ar-Razihi dalam kitabnya ­Taudlihun-Nabaa’ ’an Mua’assis Asy-Syi’ah ’Abdullah bin Saba’ baina Aqlami Ahlis-Sunnah wasy-Syi’ah wa Ghairihim. Silakan merujuknya.
[9] Yaoitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah – Abul-Jauzaa’.
[10]     Yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Abu Bakar ‘Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmi adalah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab At-Tamimi rahimahullah. Sebagai catatan, tulisan ini merupakan bagian dari muqaddimah Asy-Syaikh An-Nahmi ketika beliau memberikanta’liq terhadap kitab Risalah fir-Radd ’alar-Rafidlah  karya Asy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab rahimahullah ­– Abul-Jauzaa’.
[11]     Dan silakan lihat kitab Asy-Syi’ah wat-Tasyayyu’ karya Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Dhahirrahimahullah hal. 296.
COMMENTS
Anonim mengatakan...
Para Orientalist (pakar1 Islam yang bukan beragama Islam), terutama Para Orientalist dari kelompok Yahudi melakukan penyelidikan tentang Abdullah ibn Saba, kemudian mereka menyimpulkan dan mengatakan bahwa Abdullah ibn Saba adalah TOKOH FIKTIF