Friday, April 10, 2015

Pengaruh Yahudi, Kristen dan Majusi Dalam Agama Syiah

Date: 
Sebuah Resume Dari Bedah Buku Oleh Ust. Anwar IslamBuku ini ditulis oleh Sayyid Ali Murtadho dari Kuffah, Irak. Beliau merupakan keturunan Nabi Muhammad dari Hasan bin Ali.
Sejarah Syiah dimulai sejak peristiwa pengangkatan Abdurahman bin Abu Bakar sebagai Gubernur Mesir oleh Khalifah Utsman bin Affan. Dalam perjalanan menuju Mesir Abdurahman disusul oleh seseorang yang mengaku sebagai utusan dan membawa pesan dari khalifah. Utusan ini kemudian diketahui membawa surat perintah untuk membunuh Abdurahman bin Abu Bakar. Surat perintah tersebut berstempel negara Madinah dan ditandatangani oleh Khalifah.
Mendapati kenyataan tersebut Abdurahman membatalkan rencana ke Mesir dan memilih kembali ke Madinah menemui Khalifah. Sesampainya di Madinah, Abdurahman bertanya kepada Khalifah, “Wahai Amirul Mukminin, engkau mengangkatku sebagai Gubernur Mesir, lalu mengapa engkau mengutus orang untuk membunuhku?” Tanya Abdurahman sambil menyerahkan surat perintah pembunuhan atas dirinya.
Mendapat pertanyaan tersebut Khalifah bingung karena tidak merasa menandatangani surat tersebut. Khalifah kemudian memanggil para pembantunya termasuk Ali bin Abi Thalib dan Marwan bin Hakam dua orang yang selama ini menjadi asistennya.
Para sahabat kemudian memberi kesaksian bahwa itu merupakan tulisan tangan Marwan bin Hakam. Marwan ini merupakan kerabat Khalifah. Maka Abdurahman dan orang-orang Mesir yang menyertainya menuntut Khalifah untuk menyerahkan Marwan untuk dibunuh, tetapi Utsman menolak dan justru melindungi Marwan di rumahnya.
Inilah yang kemudian menjadi sebab dikepungnya rumah Utsman oleh orang-orang Mesir hingga 40 hari. Ali dan para sahabat yang lain menyarankan agar Utsman memerintahkan tentaranya untuk mengusir para pengepungnya. Permintaan ini ditolak dengan alasan Utsman tidak mau menumpahkan darah kaum muslimin. Selain itu Utsman juga ingin membuktikan kebenaran nubuwat Rasulullah tentang kematiannya.
Maka disuatu hari, saat Utsman sedang membaca Al Quran para pengepung berhasil masuk ke rumah Utsman. Abdurahman dengan kasar memegang kepala Utsman dan menarik jenggotnya, maka Utsman berkata, “Seandainya ayahmu menyaksikan perbuatanmu niscaya dia akan malu.”

Seketika itu lemaslah Abdurahman, tetapi baru saja dilepasnya kepala Utsman sebilah pedang yang yang ditebaskan seorang Mesir yang selama ini ikut dalam pengepungan berhasil membunuh Utsman.

Pasca terbunuhnya Utsman, Ali dipilih oleh para sahabat sebagai Khalifah. Awalnya Ali menolak namun semua sahabat yang lain juga menolak dan menganggap Ali paling layak. Dukungan paling besar atas Ali diberikan oleh orang-orang Mesir yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. Mereka inilah yang kemudian menamakan dirinya sebagai Syiah—pembela—Ali.
Setelah Ali menjadi khalifah, para sahabat dan penduduk Madinah meminta Ali untuk segera melakukan qishash bagi pembunuh Utsman, namun permintaan ini ditolak Ali. Pertimbangan Ali saat itu dukungan untuk dirinya masih kecil sebab masih ada beberapa sahabat yang menolak/menunda baiat yaitu Muawiyah (Gubernur Syam) dan Amr bin Ash (Gubernur Mesir). Kedua sahabat ini menuntut Ali melakukan qishash terlebih dahulu. Ali ingin kondisi politik stabil dulu baru qishash dilakukan. Muawiyah kemudian memproklamirkan diri sebagai khalifah.
Maka terjadilah peristiwa tahkim (arbitrase). Pihak Ali diwakili Abu Musa al Ansyari sedangkan pihak Muawiyah menunjuk Amr bin Ash. Dalam arbitrase ini berkat kecerdikan Amr bin Ash, pihak Muawiyah keluar sebagai pemenang.

Pasca tahkim Syiah Ali pecah menjadi 2 kelompok yaitu Khawarij yang bermarkas di Makkah dan Syiah yang berpusat di Kufah, Irak. Kedua kelompok ini bersikap serba berlebihan terhadap Ali. Khawarij menganggap Ali telah murtad karena berhukum kepada selain Al Quran (tahkim), sementara Syiah menganggap Ali sebagai seorang yang maksum tanpa dosa. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Syiah dimasa-masa awal.

Saking berlebihannya Khawarij, mereka sampai menghalalkan darah Ali dan kaum muslimin yang dianggap telah kafir. Dalam sebuah musyawarah mereka sepakat untuk membunuh 3 orang yang dianggap sebagai tokoh golongan murtadin yaitu Ali (Kufah), Muawiyah (Syam) dan Amr bin Ash (Mesir). Orang yang mendapat tugas membunuh Ali adalah Abdullah bin Muljam.
Maka berangkatlah Ibnu Muljam ke Kufah. Setibanya di sana ia menyembunyikan identitas, hingga terhadap teman-temannya dari kalangan Khawarij yang dahulu bersamanya. Ketika ia sedang duduk-duduk bersama beberapa orang dari Bani Taim ar-Ribab, mereka mengenang teman-teman mereka yang terbunuh pada peperangan Nahrawan.
Tiba-tiba datanglah seorang wanita bernama Qatham binti Asy-Syijnah, ayah dan abangnya dibunuh oleh Ali pada peperangan Nahrawan. Ia adalah wanita yang sangat cantik dan populer. Dan ia telah mengkhususkan diri beribadah dalam masjid jami’. Demi melihatnya Ibnu Muljam mabuk kepayang. Ia lupa tujuannya datang ke Kufah. Ia meminang wanita itu.
Qatham mensyaratkan mahar tiga ribu dirham, seorang khadim, budak wanita dan membunuh Ali bin Abi Thalib untuk dirinya. Ibnu Muljam berkata, “Engkau pasti mendapatkannya, demi Allah tidaklah aku datang ke kota ini melainkan untuk membunuh Ali.”
Lalu Ibnu Muljam menikahinya dan berkumpul dengannya. Kemudian Qathami mulai mendorongnya untuk melaksanakan tugasnya itu. Ia mengutus seorang lelaki dari kaumnya bernama Wardan, dari Taim Ar-Ribab, untuk menyertainya dan melindunginya. Lalu Ibnu Muljam juga menggaet seorang lelaki lain bernama Syabib bin Bajrah al-Asyja’i al-Haruri. Ibnu Muljam berkata kepadanya, “Maukah kamu memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat?”
“Apa itu?” Tanyanya.
“Membunuh Ali!” Jawab Ibnu Muljam.
Ia berkata, “Celaka engkau, engkau telah mengatakan perkara yang sangat besar! Bagaimana mungkin engkau mampu membunuhnya?”
Ibnu Muljam berkata, “Aku mengintainya di masjid, apabila ia keluar untuk mengerjakan shalat subuh, kita mengepungnya dan kita membunuhnya. Apabila berhasil maka kita merasa puas dan kita telah membalas dendam. Dan bila kita terbunuh maka apa yang tersedia di sisi Allah lebih baik dari-pada dunia.”
Ia berkata, “Celaka engkau, kalaulah orang itu bukan Ali tentu aku tidak keberatan melakukannya, engkau tentu tahu senioritas beliau dalam Islam dan kekerabatan beliau dengan Rasulullah. Hatiku tidak terbuka untuk membunuhnya.”

Ibnu Muljam berkata, “Bukankah ia telah membunuh teman-teman kita di Nahrawan?”
“Benar!” jawabnya.

“Marilah kita bunuh ia sebagai balasan bagi teman-teman kita yang telah dibunuhnya” kata Ibnu Muljam.

Beberapa saat kemudian Syabib menyambutnya.

Masuklah bulan Ramadhan. Ibnu Muljam membuat kesepakatan dengan teman-temannya pada malam Jum’at 17 Ramadhan. Ibnu Muljam berkata, “Malam itulah aku membuat kesepakatan dengan teman-temanku untuk membunuh target masing-masing. Lalu mulailah ketiga orang ini bergerak, yakni Ibnu Muljam, Wardan dan Syabib, dengan menghunus pedang masing-masing. Mereka duduk di hadapan pintu yang mana Ali biasa keluar dari-nya.
Ketika Ali keluar, beliau membangunkan orang-orang untuk shalat sembari berkata, “Shalat… shalat!” Dengan cepat Syabib menyerang dengan pedang-nya dan memukulnya tepat mengenai leher beliau. Kemudian Ibnu Muljam menebaskan pedangnya ke atas kepala beliau. Darah beliau mengalir membasahi jenggot beliau. Ibnu Muljam menebas leher Ali sambil berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ia membaca firman Allah:
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah: 207).
Ali berteriak, “Tangkap mereka!”
Adapun Wardan melarikan diri namun berhasil dikejar oleh seorang lelaki dari Hadhramaut lalu membunuhnya. Adapun Syabib, berhasil menyelamatkan diri dan selamat dari kejaran manusia. Sementara Ibnu Muljam berhasil ditangkap.
Ali menyuruh Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahab untuk mengimami Shalat Fajar. Ali pun dibopong ke rumahnya. Lalu digiring pula Ibnu Muljam kepada beliau dan dibawa kehadapan beliau dalam keadaan dibelenggu tangannya ke belakang pundak, semoga Allah memburukkan rupanya.
Ali berkata kepadanya,” Apa yang mendorongmu melakukan ini?” Ibnu Muljam berkata, “Aku telah mengasah pedang ini selama empat puluh hari. Aku memohon kepada Allah agar aku dapat membunuh dengan pedang ini makhlukNya yang paling buruk!”
Ali berkata kepadanya, “Menurutku engkau harus terbunuh dengan pedang itu. Dan menurutku engkau adalah orang yang paling buruk.”
Kemudian beliau berkata, “Jika aku mati maka bunuhlah orang ini, dan jika aku selamat maka aku lebih tahu bagaimana aku harus memperlakukan orang ini!”
Tidak lama setelah itu Ali wafat. Ibnu Muljam diqishash. Perkataan Ibnu Muljam saat menebas leher Ali menjadi slogan kaum khawarij hingga hari ini : ‘La hukmu illa lillah…’
Pasca terbunuhnya Ali, kaum Syiah Ali membaiat Husein sebagai khalifah. Mereka mengagungkannya secara berlebihan, memuja Husein sebagaimana mereka memuja Ali. Husein sendiri dipilih—bukan Hasan—karena Husein menikah dengan anak perempuan Kisra sehingga mereka menganggap Husein adalah penyatuan dua kemuliaan : Ali dan Kisra. Sejatinya, Ibnu Muljam adalah juga Syiah yang kemudian bergabung dg Khawarij dan kelak orang Syiah pula yang membunuh Husein.
Pada dasarnya Syiah setelah wafatnya Ali memang lebih kental dipengaruhi Persia. Mereka—penduduk—Kufah masih menyimpan dendam atas pembunuhan Kisra dan ditaklukkannya Persia oleh tentara Umar bin Khattab.
Penulis: *Mas Azzam



Oposisi Suriah: Hizbullah Datang untuk Membunuh, Pulang Masuk Peti Mati!

Hizbullah Lebanon adalah salah satu pemasok milisi Syiah yang bertempur di barisan rezim Suriah. Organisasi Syiah di Lebanon Selatan ini mulai memublikasikan kehadiran mereka di Suriah pada April 2013 di Qushair. Keinginan Syiah untuk merebut Qushair membuat keberadaan milisi Syiah di Suriah lebih terbuka, tanpa ditutup-tutupi lagi dari publik. Hal ini sekaligus memperlihatkan ada banyak kekuatan politik dan militer Syiah bertempur membela rezim Suriah.
Hizbullah memasok tenaga militer terbesar ke Suriah dibandingkan dengan jumlah keseluruhan kehadiran milisi Syiah dari negara lain. Hal ini dapat dilihat dengan besarnya jumlah besar korban yang dipublikasikan setiap pemakamannya di Lebanon Selatan, sebagai basis milisi tersebut.
Meskipun pejabat Hizbullah baru mengumumkan partisipasinya di  pertempuran Qushair pada bulan April 2013, menurut sumber HAM Suriah (SNHR), dukungan militer dan logistik kepada rezim sejatinya sudah dilakukan sebelum itu selama konflik Suriah.
Setelah pertempuran Qushair, milisi Hizbullah mengambil bagian dalam pertempuran di pedesaan Damaskus, mendukung pasukan rezim Suriah dan milisi Syiah Irak. Keterlibatan Hizbullah mencapai klimaksnya ketika mengumumkan kampanye militer besar-besaran untuk menyerang Qalamun dan Yabrud pada Februari 2014.
Selain Qushair, pertempuran Yabrud pada bulan Februari dan Maret 2014 adalah titik penting dalam keterlibatan Hizbullah di Suriah. Mereka mengambil kontrol dan manajemen pertempuran. Rezim Suriah hanya berpartisipasi melalui artileri dan dukungan udara karena semua pasukan infanteri berasal dari kombatan non-Suriah. Sebagian besar dari Lebanon, di samping Irak dan milisi Syiah Afghan. Mereka berada di garis pertahanan pertama dalam sebagian besar pertempuran yang dianggap sebagai “darah murah”.
Hizbullah di Suriah kehilangan tidak kurang dari 300 korban, sesuai dengan estimasi dari oposisi Suriah. Jumlah milisinya di Suriah diperkirakan sekitar 7-10 ribu kombatan. Akhir-akhir ini, kekuatan Hizbullah tergantung pada perekrutan relawan muda untuk menutupi kerugian. Pemimpin dan para ahli mereka hadir di sebagian besar medan untuk mengelola pertempuran atau menerapkan perencanaan dan disiplin yang tinggi.
Keretakan Hubungan dengan Teheran
Sebagai respon atas kerugian tersebut, awal tahun ini, petinggi Hizbullah Hassan Nasrallah mengirim pesan kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, meminta dia untuk penambahan bantuan militer dan keuangan, seperti dilansir Radio Suara Beirut International, melalui komunikasi dengan pemimpin senior di Hizbullah.
Permintaan tersebut disampaikan terutama setelah peristiwa baru-baru ini yang diderita oleh Hizbullah. Organisasi militan Syiah di Lebanon ini sedang mengalami krisis akibat tewasnya para pemimpin dan peningkatan kematian anggotanya di Suriah di tangan kelompok-kelompok Islam.
Nasrallah mengatakan Khamenei tidak ada kemauan untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak menguntungkan Hizbullah. Terutama dalam rangka menjaga dukungan masyarakat serta tekanan keamanan dan politik. Atas semua alasan ini, Nasallah mengancam akan mengundurkan diri dari kepemimpinan Hizbullah, bila kepemimpinan Iran tidak menanggapi tuntutannya. (baca juga: Nasrallah Ancam Iran).
Banyaknya korban itu telah menyebabkan kekacauan internal dan protes dari kalangan keluarga anggota. Mereka menuduh Hizbullah telah membunuh anak-anak mereka. Partai telah menjadi rumah sakit yang penuh dengan mayat anak-anak mereka yang tewas dan terluka, setelah mereka mengambil bagian dalam pertempuran pasca seruan umum Hizbullah untuk bertempur di Suriah sejak beberapa tahun lalu.
Kekacauan internal dan protes dari kalangan keluarga anggota itu sejatinya telah berlangsung sejak lama. Kebijakan Hasan Nasrullah, untuk mengirim para pemuda Lebanon ke Suriah dikritik oleh komunitas mereka sendiri. Pada Musim Panas 2013 lalu, sebuah video yang diunggah di media Online memperlihatkan sejumlah wanita yang sedang memprotes Hasan Nasrullah dan menuntut agar para pemuda dikembalikan ke Lebanon.
Seorang wanita Syiah yang mewakili rekan-rekannya mempertanyakan mengapa Hasan Nasrullah mengirimkan para pemuda Lebanon ke Suriah. Menurutnya, Hasan telah melakukan kesalahan dan tidak lagi menjadi penolong Allah (dalam pandangan mereka; red). “Kini engkau (Hasan Nasrullah; red) tidak lagi menjadi penolong Allah, tetapi menjadi penolong Basyar,” ungkapnya. (baca juga: Hasan Nasrallah dihujat)
Fulus Iran Terkuras
November 2014, Iran telah memutuskan untuk mengurangi gelontoran bantuan untuk Hizbullah hingga 25%. Ini adalah salah satu faktor yang memaksa organisasi teroris Syiah ini untuk menarik pasukannya dari beberapa daerah pertempuran. Hal itu dilakukan hanya karena satu alasan, yaitu kurangnya pendanaan. Baca juga: Hubungan Hizbullah dan Asad).
Dalam konteks yang sama, akhir Februari lalu, anggota Dewan Kebijaksanaan Pemerintah, Ali Akbar Nateq Nouri, dan juga pemimpin tinggi Iran, Ali Khamenei, mengatakan bahwa kas negara kosong, sementara anggaran sedang menghadapi krisis besar karena penurunan harga minyak dan akibat kebijakan pemerintah sebelumnya.
Iran telah mengalokasikan sejumlah besar uang untuk kegiatan politiknya untuk organisasi-organisasi pendukung di Lebanon, Irak dan Yaman, serta memberikan bantuan kepada rezim Suriah Presiden Basyar Asad.[1]
Data Korban Hizbullah di Suriah
Masalah ini masih menjadi bahan perdebatan sejak awal intervensi Hizbullah di Suriah di sisi rezim Suriah. Hizbullah sendiri enggan mengeluarkan informasi lengkap mengenai hal ini. Satu-satunya pernyataan resmi dari Hizbullah datang pada awal Desember 2013, ketika Hassan Nasrallah, mengungkapkan bahwa milisinya yang tewas di Suriah kurang dari 250 orang. Sekitar waktu yang sama, oposisi Suriah dan kelompok anti Hizbullah Lebanon menyatakan bahwa jumlah korban tewas lebih tinggi dari 500, dan bahkan melebihi 1000 orang.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menyebutkan kisaran yang hampir sama dengan pernyataan Hizbullah, yakni 232 korban tewas pada tanggal 1 Desember 2013. Data SOHR terbaru pada 13 Maret 2014 adalah sejumlah 332 orang.
                                            Pemakaman 15 milisi Hizbullah yang tewas dalam pertempuran di Qalamun Agustus 2014.
                                            Oposisi Suriah: Hizbullah Datang untuk Membunuh, Pulang Masuk Peti Mati!
Pemakaman 15 milisi Hizbullah yang tewas dalam pertempuran di Qalamun Agustus 2014.
                                                                                          
Hisyam Asykar, mahasiswa doktoral di HafenCity University – Hamburg, membuat penelitian tentang rincian kematian milisi Syiah Hizbullah di Suriah melalui upacara pemakaman yang bersumber dari kantor berita resmi di situs Hizbullah, termasuk website pro-Hizbullah, dan referensi lainnya. Upacara pemakaman biasanya dipublikasikan, sehingga menjadi konfirmasi kehadiran Hizbullah di sisi Basyar Asad.
Biasanya pemakaman berlangsung di hari-hari berikutnya setelah kematian. Tapi pada beberapa kesempatan, mereka ditahan sebulan kemudian menunggu evakuasi jenazah. Sebagian besar milisi dikuburkan di tempat asal atau residensi mereka. Namun, beberapa pejuang yang dimakamkan di pemakaman komunal Hizbullah di Ghobeiry, sementara yang lain dikuburkan, sesuai dengan kehendak mereka, di wilayah Sayidah Zainab.
                                             Infografis menunjukkan pemakaman 313 milisi Hizbullah dilaporkan tewas dalam pertempuran di Suriah. (Gambar: Hisyam Asykar)
Infografis menunjukkan pemakaman 313 milisi Hizbullah dilaporkan tewas dalam pertempuran di Suriah. (Gambar: Hisyam Asykar)
Meskipun bukan daftar lengkap, angka sebenarnya menurut Hisyam Asykar bisa lebih tinggi. Jumlah korban itu tidak termasuk korban terluka. Yang terakhir ini biasanya jauh lebih tinggi, tergantung pada berbagai faktor. Rasio bisa sangat tinggi. Dengan asumsi rendah 3: 1, berarti 1000 milisi Hizbullah terluka. Ratusan anggota mereka tentunya dinonaktifkan dan dihapus dari jajaran militer yang aktif.[2]
Kemajuan Oposisi Terbaru di Aleppo
Aleppo, dalam pekan-pekan terakhir ini telah menjadi medan tempur hebat. Pesawat terus berkeliaran di langit di atas kota dan pedesaan yang meskipun kondisi cuaca yang keras dan bersalju. Bentrokan terus berlangsung. Rezim dan sekutunya telah mengalami kerugian besar dalam serangan terhadap kubu oposisi terbesar di pedesaan utara Aleppo.
Pasukan rezim, dengan dukungan Hizbullah dan Iran, ingin menyelesaikan pertempuran di Aleppo, terutama di pedesaan utara itu, yang merupakan kubu oposisi terbesar. Meskipun kemajuan telah dibuat oleh pasukan rezim di awal serangan, mereka telah gagal untuk mencapai tujuan politik dan militer rezim. Rezim dan sekutunya telah mengalami kerugian besar dalam serangan.
                                               Pejuang oposisi berkumpul di dekat garis depan di desa Ratyan, sebelah utara Aleppo, 17 Februari 2015 (foto: Reuters)
Pejuang oposisi berkumpul di dekat garis depan di desa Ratyan, sebelah utara Aleppo, 17 Februari 2015 (foto: Reuters)
Peristiwa dimulai pada 17 Februari 2015, saat pagi-pagi pasukan rezim melakukan serangan mendadak terhadap kekuatan oposisi. Saluran berita Hizbullah Al-Manar, menyebutkan bahwa peran Hizbullah sangat signifikan dalam pertempuran ini. Serangan itu dilakukan dari beberapa posisi sekaligus, dengan tujuan membingungkan pasukan oposisi dan mengalihkan perhatian mereka dari tujuan utama serangan itu. Pasukan rezim dan Hizbullah dikabarkan berhasil menembus dan menyusup ke dalam pertahanan lawan dan menguasai beberapa wilayah.
Namun, para pejuang oposisi yang ditempatkan di Aleppo mengatakan kepada Al-Monitor bahwa serangan Hizbullah gagal total dan lebih mirip usaha bunuh diri. Selama serangan, lebih dari 75 anggota pasukan rezim tewas, termasuk Iran dan Lebanon, menurut Komisi Forensik Medis Aleppo, yang mengevakuasi korban.[3]
                                                   Kotak
Penutup
Banyaknya korban di kubu Hizbullah. Namun tidak pernah dirilis secara detil dari Organisasi, seperti dilakukan oleh oposisi.  Data dan nama yang hanya diketahui melalui upacara pemakaman besar-besaran. Inilah barang kali yang mengundang Jaringan Revolusi Suriah mengeluarkan kicauan di aman resminya, “Hezbollah sectarian terrorist gangs. They come to Syria to kill; they leave in boxes!
“Hizbullah geng teroris sektarian. Mereka datang ke Syria untuk membunuh, pulang masuk kotak mati!” [Agus Abdullah]
———————–
[1] http://www.almokhtsar.com/node/431697
[3] http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2015/02/aleppo-syria-decisive-battle-regime-hezbollah-rebels.html


Begini Jawaban ( Jahil wa Asmaq ) Jubir HTI terkait Syiah dan Kontroversi Buletin Al-Islam

KIBLAT.NET – Di tengah santernya pemberitaan kampanye militer Koalisi Teluk terhadap kelompok Syiah Hautsi di Yaman, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menerbitkan buletin yang dinilai kontroversial.
Buletin Al-Islam edisi ke-750 yang diterbitkan pada tanggal 3 Maret 2015 memuat tulisan berjudul “Akhirnya, Pesawat-Pesawat Para Penguasa Agen Bergerak. Namun, Kemana? Mereka Bergerak Untuk Membunuh Kaum Muslimin Bukan untuk Memerangi Musuh!”.
Tak ayal, buletin mingguan tersebut menuai pro-kontra hingga muncullah kecaman-kecaman terhadap HTI, baik di media-media social maupun di forum-forum diskusi.
Buletin Al-Islam milik HTI.
Buletin Al-Islam milik HTI.

Menanggapi fenomena tersebut, Kiblat.net berusaha mencari klarifikasi hingga pada akhirnya berhasil melakukan wawancara kepada Juru Bicara HTI Ismail Yusanto di sela-sela kegiatan Halaqoh Islam dan Peradaban yang digelar di Gedung Asrama haji Yogyakarta pada Sabtu, (11/4/2015).
Berikut hasil wawancara kiblat.net dalam kesempatan tersebut:
Kiblat.net: Ustadz, sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini HTI menerbitkan buletin yang memuat opini tentang konflik di Yaman dimana hal itu menuai kontroversi baik di media sosial maupun di forum-forum diskusi. Bisakah Ustadz memberikan klarifikasi atas masalah tersebut?
Jubir HTI: Pertama, saya kira kita harus menegaskan pendirian kita bahwa musuh kita itu adalah orang-orang kafir yang memerangi umat Islam, yang menghalangi tegaknya syari’ah, khilafah, yang dia menimbulkan dharar (bahaya), kezaliman kepada umat Islam yang merebut wilayah umat Islam, yang menjajah, yang kemudian menimbulkan kesengsaraan berkepanjangan terhadap umat Islam.
Nah apa wujudnya? Kalau kita lihat di timur tengah maka jelas sekali, di sana ada Israel, Bashar Assad (rezim Suriah), lebih luas lagi ada Amerika, Rusia. Dan berulang kali umat Islam di sana (kaum muslimin di Gaza, Suriah) berteriak minta tolong kepada penguasa-penguasa negeri umat Islam untuk mengambil tindakan dan itu tidak pernah dilakukan. Nah sekarang begitu terjadi pergolakan politik di Yaman, baru mereka turun. Itulah yang sebenarnya kita persoalkan. Kenapa bukan kepada Amerika, Israel, Rusia, Bashar Ashad?
Kiblat.net: Kalau mengenai Syiah bagaimana Ustad?
Jubir HTI: Syiah itu, kita musti melihat aqidahnya mereka itu secara rinci. Bashar Assad itu kan sering orang bilang syiah alawiyah. Isu tadi dengan tegas mengatakan bahwa Bashar Assad itu kafir. Bahkan di mesjid-mesjid itu ditulis la ilaha illa Bashar. Yang menganggap Ali adalah tuhan, (maka ia) kafir. Yang menganggap Al Quran itu belum genap turun itu (maka ia) kafir. Jadi jelas sekali.
Sementara Syiah yang aqidahnya ini sama dengan kita, bahkan diakui di Al-Ahzar Mesir sebagai madzhab yang ke lima, maka kita harus proporsional. Karena itulah yang diingatkan oleh Hizbut Tahrir bahwa kita itu jangan sampai mengikuti gendang musuh-musuh Islam mempertentangkan Sunni dan Syiah sementara melupakan musuh yang sebenarnya. Bahwa Syiah itu sekarang menjadi ancaman memang Iya, khususnya Syiah Rafidhah, Syiah ghulat itu jelas sekali.
Kiblat.net: Kalau tadi Ustad bilang Syiah ini ada yang kafir dan ada yang masih muslim, bagaimana dengan Syiah Hautsi Ustad?
Jubir HTI: Itu (Syiah) Zaidiyah mereka. Sama seperti Presiden Ali juga Zaidiyah dia.
Kiblat.net: Kalau yang di Iran?
Jubir HTI: Di Iran macam-macam dia, ada yang Itsna Asariyah (Imam Duabelas), Ja’fariyah, Zaidiyah.
Kiblat.net: Akan tetapi, kalau di Yaman ini persoalannya kelompok Syiah sudah melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah, bagaimana Ustadz?
Jubir HTI: Itu sama seperti halnya mereka menguasai pemerintahan di Iraq, di Suriah, di Lebanon.
Kiblat.net: Ada juga di sebuah website HTI itu ada artikel berjudul “Sunni dan Syi’ah Bersatu dalam Naungan Khilafah” itu bagaimana Ustadz?
Jubir HTI : Khilafah itu jangankan Syiah ya, bahkan orang-orang nasrani zahudi pun bisa hidup dalam sistem khilafah. Itulah sebenarnya kerahmatan Islam yang dimaksud. Terlepas dari kesesatan masing-masing, mereka tunduk dalam naungan khilafah.
Kiblat.net: Banyak pihak yang menyebutkan bahwa Syiah Hautsi ini ada dukungan dari Iran bagaimana Ustadz?
Jubir HTI : Pasti, sama halnya dengan Bashar Assad, Nuri Al-Maliki, Lebanon, dapat dukungan dari Iran. Iran itu mendukung semua rezim Syiah.
Kiblat.net: Menurut Ustad itu ancaman atau bukan?
Jubir HTI : Jelas ancaman, siapa bilang bukan ancaman. Itu sama aja dengan rezim yang mempertahankan despotisme yang tak acuh terhadap musuh sesungguhnya. Itu ancaman.
Kiblat.net: Berarti menurut HTI, Syiah Hautsi ini ancaman, akan tetapi langkah HTI lebih kepada mengutamakan prioritas yang lain. Apakah seperti itu Ustadz?
Jubir HTI : Persis. Nah inilah yang disalahpahami seolah Hizbut Tahrir tidak mengerti duduk permasalahanya di Yaman. Anggota Hisbut Tahrir juga ada yang ditangkap sama Hautsi. Apalagi langsung dituduh bahwa Hizbut Tahrir (itu) Syiah. Hizbut Tahrir itu Sunni. Hizbut Tahrir juga telah memberikan kritik yang tajam kepada syiah, anda bisa baca di kitab Sakhsiyah Jilid 2 itu.
Hadist Ghadir Khum itu nggak ada urusannya dengan khilafah. Penunjukan Ali dalam hadist itu maknanya sebagai pemimpin keluarga, karena Ali termasuk ahlul bait. Salah betul kalau HTI itu dikatakan Syiah, diintervensi syiah, kesusupan Syiah.
Kiblat.net: Terakhir mungkin ustadz ingin menyampaikan statmen.
Jubir HTI : Jadi mustilah hati-hati kita ini menyikapi keadaan, termasuk menyikapi sesama muslim. Persoalan umat ini sudah demikian banyak, demikian besar, jadi kita harus fokus terhadap penegakan syariah dan khilafah, karena itu merupakan pangkal dari segala persoalan ini muncul.

Mengapa Serang Yaman, bukan Israel ? ! Untuk Orang Dungu ( Ahmaq ) dan Bodoh ( Jaahil ) Baca Artikel Ini !

Jika ada yang bertanya:

"Kenapa Raja Salman Saudi beserta koalisinya justru menyerang Yaman dan tidak mengarahkan pesawat-pesawatnya untuk membebaskan Palestina?"


Maka jawabannya adalah KISAH SHALAHUDDIN AL-AYYUBI berikut ini:

Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memutuskan untuk menghancurkan kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-'Ubaidiyyah di Mesir, ada bertanya:
"Mengapa Anda memerangi kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-'Ubaidiyyah di Mesir, tapi membiarkan kaum Romawi Salibis (Kristen) menguasai Baitul Maqdis dan wilayah Palestina?"

Shalahuddin al-Ayyubi menjawab: "Aku tidak akan memerangi kaum Salibis lalu membiarkan 'punggung'ku tersingkap di hadapan kaum Syiah!"

Maka beliau pun membasmi Daulah Syiah al-'Ubaidiyah di Mesir, Maghrib dan Syam. Setelah itu, beliau pun memimpin penaklukan kembali Baitul Maqdis, membersihkan Masjid al-Aqsha dari kenistaan kaum Salibis dan mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Islam.
(Lihat: Kitab Sejarah al-Bidayah wa al-Nihayah oleh Imam Ibnu Katsir)
*berdasarkan status fb Syekh Abdullah al-Ramadhany
http://www.pkspiyungan.org/2015/03/kenapa-raja-salman-tidak-serang-israel.html

Artikel terkait :
Sikap Panglima Shalāhuddin Al-Ayyubi Terhadap Syiah
http://lamurkha.blogspot.com/2015/03/ikap-panglima-shalahuddin-al-ayyubi.html

Dr Solah al-Khalidi: 'Mengapa Majusi Iran Lebih Berbahaya Dibanding Yahudi?'
                                     
Dr Solah Abdul Fattah al-Khalidi (الدكتور صلاح عبدالفتاح الخالدي) , seorang ulama Tafsir pergerakan dari Palestina, dalam pernyataan yang disampaikan di laman facebooknya, Ahad (29/3/2015), menyatakan bahwa majusi Iran lebih berbahaya daripada zionis Israel.
لماذا المجوس أخطر من
اليهود؟؟
(Mengapa Majusi lebih berbahaya dibandingkan Yahudi?). Dr Solah Abdul Fattah al-Khalidi menyatakan:

1. Wilayah kita yang sedang terjajah berada diantara dua musuh: pertama Yahudi di barat, dan yang kedua Majusi Persia (Iran) di timur.
2. Dua musuh tersebut sama-sama keji dan berbahaya, namun musuh kita di timur (Majusi) lebih berbahaya dibanding musuh kita di barat (Yahudi).
3. Mungkin sebagian orang agak aneh kemudian bertanya, mengapa Majusi lebih berbahaya dibanding Yahudi?
4. Jawabannya sangat sederhana: keberadaan Yahudi di tanah Palestina sangat jelas ketidak absahannya, tidak ada satupun alasan yang membenarkannya, umur Yahudi di tanah Palestina tinggal menunggu waktu, dan juga sangat mudah untuk mengusir mereka dari tanah Palestina. Penjajahan Yahudi ini akan berakhir sebantar lagi dengan izin Allah, karena tidak ada alasan logis apapun bagi Yahudi untuk terus bertahan di tanah Palestina.
5. Adapun Majusi merupakan bahaya besar, itu sudah berakar lama baik ditinjau dari sejarah, agama dan sentimen negatif mereka terhadap Islam.
6. Majusi ingin kembali mengulang masa keemasan Persia masa lalu, sekaligus ingin melenyapkan Islam yang dulu sudah menghancurkan imperium Persia.
7. Dan mereka juga ingin mewujudkan mimpi-mimpi kelompok Syiah dari zaman dulu, yang ingin membangun imperium Syiah sebagai awal berdirinya Daulah Al-mahdi.
8. Dan juga Majusi ingin melenyapkan muslim Sunni yang saat ini memimpin kawasan (timteng).
9. Karena alasan tersebut musuh Majusi lebih berbahaya dibanding Yahudi, mereka memiliki alasan lebih kuat untuk menghancurkan umat Islam dibanding dengan alasan yang dimiliki Yahudi.
Demikian 9 poin yang disampaikan Dr Solah al-Khalidi.
Olehkarenanya, hancurnya semua basis majusi syiah di semua negara Arab; Iraq, Suria, Yaman, dan Lebanon, akan membuka jalan luas untuk mengeyahkan majusi Iran dari muka bumi.
Karena itu, inilah pekerjaan rumah yang besar yang harus diselesaikan oleh umat Islam lebih dahulu sebelum membebaskan Palestina dan mengakhiri hegomoni Amerika di Timur Tengah.
Untuk mengetahui Profil Dr Solah Abdul Fattah al-Khalidi silahkan buka sumber dibawah ini :

Keheranan HTI Terhadap Saudi, Kenapa Bukan Israel Yang Diserang? Ini Jawabannya..
Mengapa Saudi tidak Menyerang Israel?

                                                      ngawurnya HTI 
Tanya: HTI juga mempertanyakan kenapa arab saudi tidak membantu palestina pada saat dibombardir israel. Nah mereka menganggap ada udang dibalik batu ketika arab saudi tiba-tiba menggempur houti di yaman
Jawab: Dalam berperang, harus memperhatikan tingkat kekuatan dan kemaslahatan. Serampangan, hanya merugikan banyak orang.
Dua alasan kuat Saudi menyerang Houthi:
1. Mendapat mandat dari presiden Yaman,sehingga legal secara hukum
2. Memungkinkan untuk meringkus habis Syiah Houthi, dengan meminimalkan korban dari kaum muslimin.
Artinya, secara perhitungan pasti menang.
Allah perintahkan kita untuk memperhitungkan kekuatan kaum muslimin dan musuh, ketika berperang.
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
Persiapkanlah kekuatan untuk menghadapi mereka.Allah juga berfirman,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!”
Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya
Karena itu, kaum muslimin ketika lemah, mereka dilarang berjihad. Ini bunuh diri, bukan jihad.
Beda Houthi, beda Israel.. Israel itu kepentingan negara barat. Dia tidak sendirian. Benar, rakyat palestina telah meminta bantuan agar masalah mereka diselesaikan.
Apakah menurut anda negara teluk tinggal diam?Jika ini yg ada di benak anda, berarti anda suudzan dengan mereka. Menganggap mereka tidak memiliki kepedulian.
Barangkali anda perlu ingat, perang Nakbah 1948. Ketika Saudi, Mesir, Yordan, Iraq, Suriah, dan Lebanon, semua bersatu utk mengusir Israel dari Palestina.
Anda tahu berapa korbannya? – Orang palestinasekitar 15 ribu – Tentara arab sekitar 7 ribu – Tentara Israel hanya 6.300an Wilayah Israel yang sebelumnya hanya 8,8%.
                                                                                                       
                                sebelum perangPasca perang nakbah, wilayah mereka meluas menjadi 78%.
                                            setelah perang
Perang, bagi Israel adalah kesempatan meluaskan wilayah mereka.
Apa yang bisa anda bayangkan, ketika Saudi secara tiba-tiba menyerang Israel?
Mungkin semua negara barat akan turut membantu Israel. Karena Saudi dianggap menyalahi piagam PBB, sehingga mereka punya alasan untuk menyerang kaum muslimin.
Kaum muslimin sudah siap? atau justru bunuh diri?Bisa jadi mereka akan mengebom Mekah dan Madinah.
Tinggal hitung berapa korbannya?
sumber : https://www.facebook.com/moslem.channel/posts/10153236029665680
Berpikirlah wahai HIZBUT TAHRIR INDONESIA,.. jangan sembarangan menuduh saudi,.. Apa kiprah anda terhadap PALESTINA, sebagai negeri yang dekat dengan tempat lahirnya gerakan HIZBUT TAHRIR ini??
Apa kiprah HTI di indonesia? Anda hanya bisa koar-koar berteriak tentang KHILAFAH, tapi saat bersamaan kalian MENGINJAK-INJAK SYARIAH yanga mulia.
Demontsrasi HARAM dalam islam, Musik HARAM hukumnya dalam islam,. Tapi dalam acara-acara tablig akbar kalian, sering kali nangkring alat band,.alat musik, persis seperti alat musik yang ada dikebaktian gereja,… KHILAFAH model apa yang akan kalian usung???

Kurang Puas ??? Anda Baca Artikel dibawah ini sambil Qahwa 



Raja Salman: Selesai Yaman, Palestina dan Suriah Selanjutnya
MONDAY, MARCH 30, 2015
Raja Salman: Urusan Palestina tetap menjadi hal terpenting bagi kami, sebagaimana sikap Saudi untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina serta menjadikan kota Al-Quds yang mulia
Kondisi Terbaru Yamam-Agresi Koalisi Arab Saudi: Pelayan Dua Tanah Suci Raja Salman bin Abdul Aziz menegaskan bahwa operasi militer gabungan Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk (GCC) bertajuk “Aashifatul Hazm” (Badai Penghancur) menumpas pemberontak Syiah Al Hautsi (Syiah Al Houthi) di Yaman akan terus berlanjut sampai mengembalikan pemerintahn Yaman dalam keadaan aman dan pemerintahannya sesuai syar’i.
Hal tersebut disampaikan Raja Salman dalam sambutannya pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-26 di kota Syarm el-Syeikh, Mesir, Sabtu (28/03/2015) kemarin.
 “Kami tegaskan bahwa operasi militer “Badai Penghancur” akan terus berlanjut sampai mencapai targetnya, yaitu memberikan rasa aman kepada Yaman, dengan izin Allah Ta’ala,” ujar Raja Salman seperti dikutip alriyadh.com.
Raja Salman menjelaskan idiologi dan latar belakang diberlakukannya operasi militer terhadap Pemberontak Syiah Al Hautsi di Yaman.
Usai membahas masalah terorisme pemberontak Syiah Al Hautsi di Yaman, Raja Salman juga menyegarkan ingatan umat Islam agar tidak lupa masalah umat Islam di tanah Syam, khususnya Palestina dan Suriah.
 “Sesungguhnya urusan Palestina tetap menjadi hal terpenting bagi kami, sebagaimana sikap Arab Saudi terhadap masalah ini dari dahulu untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina dan berdirinya negara Palestina yang berdaulat serta menjadikan kota Al-Quds yang mulia sebagai ibu kotanya. Hal ini sejalan dengan keputusan Resolusi Legitimasi Internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002, keputusan ini disambut hangat oleh Dunia Internasional tetapi Israel merasa tidak mengetahuinya,” tegas Raja Salman dalam sambutannya.
“Arab Saudi melihat bahwa telah tiba saatnya untuk menyadarkan kembali dunia internasional tentang kewajiban mereka untuk menjalankan keputusan Dewan Keamanan Inisiatif Perdamaian Arab,” lanjutnya.
Krisis Suriah tidak terlupakan dan menjadi perhatian penting Raja Salman dalam KTT Liga Arab. Dalam sambutannya, Raja Salman menyampaikan keprihatinan dan kesedihan mendalam terhadap kedzaliman yang terjadi di Suriah.
 “Krisis Suriah masih berputar pada tempatnya, penderitaan dan rasa sakit masih dirasakan rakyat Suriah akibat ulah sistem pemerintahan yang membombardir desa-desa dan kota-kota dari  udara dengan gas beracun dan bom peledak, sistem yang masih menolak semua upaya regional dan internasional untuk solusi damai,” kata Raja Salman.
 “Setiap upaya untuk mengakhiri tragedi Suriah harus berpegang pada keputusan pertama Konferensi Jenewa, kita tidak bisa membayangkan partisipasi dari tangan-tangan mereka yang diwarnai darah rakyat Suriah untuk menentukan masa depan Suriah,” kata Raja Salman memberi isyarat bahwa Suriah hanya mengharapkan partisipasi dari saudaranya seiman untuk bangkit kembali.
Di samping membahas politik dan keamanan kekinian di atas, Pelayan Dua Tanah Suci juga membahas masalah ekonomi, senjata nuklir dan senjata pemusnah massal.
Raja Salman juga mengatakan, alasan serangan militer ke Yaman adalah permintaan Presiden Yaman Abdrabuh Mansur Hadi yang meminta bantuan Negara-negara Arab pasca ‘kudeta’ dan tekanan kelompok pemberontak Al-Hautsi.
Sumber : 
http://www.hidayatullah.com/berita/internasional/read/2015/03/29/67471/raja-salman-operasi-militer-ke-yaman-berlanjut-palestina-dan-suriah-babak-selanjutnya.html#.VSjUVfmUcXc


Related Articles

Syiah Houthi, Yaman dan Uppercut Lengan Kanan
Syiah Houthi, Yaman dan Uppercut Lengan Kanan (Bagian Kedua)
Iran Dan Politik Standar Ganda Di Yaman
Mengapa Syiah Houtsi di Yaman Diperangi? Ini Alasannya
MUI, Ormas Islam, Imam Masjid Istiqlal Ali Musthafa Ya'qub Dukung Serangan Arab Saudi ke Yaman ( Insya Allah )
Hanya Kurang Dari 20% Wilayah Yaman Yang Masih Dikuasai Syi’ah Houthi ( 8 Bulan Lalu 80 %, Keberhasilan Luar Biasa ). Persengkokolan Iran Dan Syiah Houthi Di Yaman Pasti Akan Berakhir. Raja Salman : Palestina Dan Suriah Babak Selanjutnya
Alhamdullilah, Subhanallah...Serangan Saudi di Yaman ( hancurkan kafir Syi'ah ) Atas Perintah Raja Salman ( semoga Allah memuliakannya )
Yaman, Arab Saudi dan Ambisi Hutsiyin Kuasai Mekkah-Madinah
Kenapa Hautsi Bisa Kuasai Yaman?
Shan’a, Benteng Terakhir Pemberontak Khoutsi Yaman Telah Terkoyak ( Segera Jatuh, Insya Allah )
Standar Ganda Iran: Antara Yaman dan Suriah [ Kedustaan Rafidhah dan Dendam Majusi ]
Penyerangan Saudi Demi Membela Kebenaran, Bukan Ambisi Dunia,.. Tapi Demi Menyelamatkan Yaman Dari Syiah Laknatullah
Mengenal Kejahatan Syiah Hutsi di Yaman
Keutamaan Yaman (Dari Manakah Fitnah itu Datang?)
Belajar Dari Tragedi Yaman
Khotbah Imam Masjidil Haram Sudais Ini Membuat Syi'ah dan Barat Gentar
Ancaman Keji Syiah ( Yaman/Iran ) Serang Mekkah di Abad 20 !!!
Arab Berupaya Akhiri “Petualangan” Iran di Yaman
Pemberontak Hutsy di Yaman Hanyalah Kuda Tunggangan Iran!!
Karena Yaman Tak Seperti Lebanon
Siapa Pemberontak Syiah Hautsi Yang Diperangi Koalisi Negara Arab?
Dari Suriah Untuk Yaman: Syiah Tidak Akan Mengalahkan Umat Islam
Kebohongan ( taqiyah ) Syi’ah Rafidhi dari Ayatullah Al-'Udhma, Menteri Luar Negeri, Presiden hingga Jendral-jendral di Garda revulusi “Tidak Terlibat Pembrontakan di Yaman” ternyata Terkuak ! Inilah Tipikal Syiah, Lebih Keji dari Yahudi !
Update Perang Yaman, Membendung Hegemoni Syiah Iran di Timteng
Demi Ambisi Mempersaudarakan Syiah Kepada Ahlussunnah Indonesia, Sang Mufti Tidak Menjelaskan Fakta Kongkalikong Pemberontak Syiah Yaman-Ali Abdullah Saleh Dengan Jaringan Teroris Al Qaeda (Mempertanyakan Kejujuran Mufti Al Azhar & Mufti Syiah Lebanon)
Renungan untuk Ahlu Sunnah, menyikapi Tragedi yaman..
Dubes Saudi : Syiah Houthi Lebih Kejam dari ISIS dan Al-Qaeda, Lebih Banyak Membunuh
Alwi Shihab ar Rafidhi : Iran dan Indonesia Siapkan “Islam yang Benar dan Moderat ” ? !
Alasan Saudi Berantas Syi'ah Yaman ? Rencana Busuk Iran Mengganggu Negeri Ahlus sunnah.
PERINGATAN KERAS MUFTI SAUDI ARABIA KEPADA PENDUDUK YAMAN
Mengapa Sang Mufti Tidak Jujur? ( Propaganda Mufti Al-Azhar*Mufti Syiah Lebanon & Rahasia Besar Akar Peta Konflik Yaman Yang Tak Diungkapnya)