Saturday, May 23, 2015

Fakta Yang Membuat Takut Ulama Syiah

Oleh: Muhammad Gharib asy-Syuwai’ir

Apa yang saya sampaikan berikut ini adalah sebagian pertanyaan dan fakta sejarah yang membuat risau para ulama Syiah dan membuat mereka bungkam karena tidak bisa membantahnya. Oleh karena itu jangan biarkan hanya para pengikut mereka saja yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Saya menggali informasi dari sumber-sumber dan kitab-kitab mereka sendiri.

Salah satunya saya berhasil mewawancarai salah seorang Pemuka Agama Syiah yang merasakan keresahan dalam hatinya.
Berikut tanya jawab yang berlangsung di antara kami:

Abu Gharib (AG): Imam, saya berharap Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan terbuka dan terus terang.
(Maksud saya menyebutnya Imam seperti yang terdapat dalam surah al-Qaṣaṣ ayat: 41 yang berbunyi: dan Kami jadikan mereka para imam yang mengajak masuk neraka)

Tokoh Syiah (TS): Silahkan.

AG : Benarkah Rasulullah ingin mengusir orang-orang Syiah dari Madinah?
TS : Itu tidak benar, tidak masuk akal, meskipun al-Kulaini meriwayatkannya dalam al-Kāfi.
AG : Bagaimana Anda yakin itu tidak benar sama sekali?
TS : Karena Syiah belum muncul pada masa Beliau.

AG : Kalau begitu kapankah munculnya Syiah?
TS : (Tersenyum getir, kemudian dia mendekat kepada saya) Saya akan sampaikan fakta-fakta yang tidak akan Anda dengar dari orang lain jika Anda berjanji tidak akan menceritakannya kepada siapa pun.

AG : Saya berjanji tidak akan menyembunyikan kebenaran.
TS : Setelah kaum muslim mengalahkan tentara kekaisaran Persia yang beragama Majusi, dan menghancurkan kekuatan mereka sebagai negara adidaya kala itu sementara orang-orang Arab bagi mereka tidak ada apa-apanya, mereka berusaha untuk melakukan pembalasan dan mengembalikan kejayaan mereka. Siasat menjadisyiah dipandang sebagai pintu masuk yang paling tepat untuk menghancurkan Islam ketika memenangkan perang terbuka dengan kaum muslim diyakini sebagai sesuatu yang mustahil.

AG : Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa Syiah adalah gerakan politik berkedok agama?
TS : Betul, dan ini dilaksanakan oleh tangan-tangan Yahudi yang lihai. Mereka memulainya dengan menyingkirkan orang yang telah meruntuhkan singgasana kekaisaran mereka.
AG : Apa maksud Anda bahwa peristiwa pembunuhan Umar merupakan tindakan balas dendam terhadap beliau karena telah menghancurkan kerajaan Kisra?
TS : Bukankah yang membunuh Umar adalah Abu Lu`lu`ah Fairuz, orang Persia yang menganut Majusi? Oleh karena itu orang-orang Syiah membuat tempat bersejarah yang di sana terdapat kuburan yang diklaim sebagai kuburan Abu Lu`lu`ah di kota Kāsyān, Iran. Mereka menamakannya Tempat Tetirah Baba Syujā` ad-Dīn (Bapak Pemberani Agama). Situs ini dikunjungi dan disumbang sejumlah harta dan benda berharga sebagai penghargaan atas apa yang telah dia persembahkan untuk mereka. Karena perayaan Neroz berhubungan dengan tahun baru Persia Khomeini menyunahkan untuk berpuasa sunnah pada hari itu.

AG : Apa urusan orang Yahudi dengan kejadian tersebut?
TS : Tokoh Yahudi Abdullah bin Saudā` yang menampakkan diri sebagai seorang muslim mengambil kesempatan ini untuk menohok kehormatan para sahabat Nabi dengan provokasi bahwa Ahlulbaitlah yang berhak atas kekhalifahan sepeninggal Rasulullah, bahwa Nabi ‘alaihissalam telah mewasiatkan kekhalifahan kepada Ali dalam peristiwa Ghadīr Khum. Terakhir Bin Saudā` ini mengatakan bahwa Ali adalah tuhan. Oleh karena itu Alipun mengusirnya.

AG : Mengapa rekayasa ini bisa bertahan lama padahal hubungan Ali dengan khalifah-khalifah Rasyidin lainnya sangat baik dan sangat kuat? Juga beliau ikut membaiat ketiga khalifah tersebut, memberikan bantuan yang sangat besar kepada mereka dalam menjalankan roda pemerintahan? Padahal beliau juga menikahkan putrinya Ummu Kulṡum dengan Umar? Padahal beliau juga memberi nama anak-anak mereka dengan Abu Bakar, Umar, dan Usman.
TS : Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan para Imam Syiah, karena mereka tidak menemukan jawaban yang meyakinkan dan dapat diterima. Mereka mengatakan bahwa Ali tidak menuntut jabatan khalifah demi menjaga persatuan umat; Pernikahan Umar dengan putri beliau dikatakan terjadi secara paksa; dan baiat yang diberikannya kepada ketiga khalifah tersebut disebut-sebut sebagai taqiyah (melakukan sesuatu tidak sesuai dengan keyakinan hati demi menjaga keamanan dan kemaslahatan).
TS : Tetapi itu tentu bertentangan dengan keberadaan Ali sebagai sosok pemberani, serta keteguhan beliau menegakkan yang hak. Di lain sisi, jika hal itu semua benar adanya tentu para sahabat yang lain tidak akan mendiamkan kezaliman yang terjadi sedangkan Alqur`ān dan Sunnah Nabi masih sangat segar dalam kepala dan hati mereka.
TS : Oleh karena itu orang-orang harus dijauhkan dari kedua sumber tersebut. Maka dimunculkanlah pendapat bahwa Alqur`ān telah diubah-ubah, dan bahwa para sahabat murtad begitu Nabi wafat kecuali segelintir kecil saja untuk menghempang kaum muslim dari fakta dan kebenaran. Oleh karena itu sahabat-sahabat yang paling dekat dengan Nabi dan yang terbanyak meriwayatkan hadits-hadits beliau paling dibenci dan paling dimusuhi oleh Imam-Imam Syiah.

AG : Pola pikir orang-orang Syiah sungguh aneh, Anda semua mengatakan bahwa Khomeini berhasil melakukan revolusi dengan bantuan para pendukung dan orang-orang dekatnya, mereka semua teguh dalam perjuangan, penuh loyalitas dan ikhlas, tetapi Anda semua menuduh bahwa sahabat-sahabat Nabi Muhammad murtad dan mengobrak-abrik Alqur`ān sepeninggal beliau. Apakah Khomeini lebih baik daripada Nabi Muhammad ? Lebih mampu mendidik dan memberi pengaruh positif kepada pengikutnya? Lebih kuat hujah dan penjelasannya?
TS : (Menganguk-angguk canggung)

AG : Kalau para sahabat tidak diakui oleh orang-orang Syiah, dari mana Anda semua menerima ajaran-ajaran agama?
TS : Dari dua belas Imam yang periodenya saling bersambung. Mereka diyakini maksum sehingga orang-orang pun sudi menerima segala sesuatu yang dikatakan bersumber dari mereka, tanpa ragu-ragu, tanpa bertanya tentang kesahihannya.

AG : Mengapa dua belas Imam?
TS : Sesuai dengan jumlah nenek moyang Bani Israel. Oleh karena itu al-Kulaini mengatakan bahwa imam yang terakhir ialah al-Mahdi, semoga Allah menyegerakan kemunculannya, dia akan menerapkan hukum Daud dan hukum Sulaiman, berdoa dengan bahasa Ibrani. Ide imamah yang turun temurun juga bersumber dari hukum Persia yang diberlakukan oleh Dinasti Ghasasinah.

AG : Tetapi bukankah kenyatakan bertolak belakang dengan keyakinan maksumnya para Imam tersebut? Misalnya perdamaian yang dilakukan oleh Hasan dengan Mu’awiyah raḍiallāhu ‘anhumā yang bertolak belakang dengan sikap Husain yang tidak mau berdamai dengan Yazid bin Mu’awiyah. Apakah sikap mengalah yang dilakukan oleh Hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa (Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin, semoga Allah mendamaikan dua kelompok kaum muslim melalui dirinya) adalah sikap yang benar, meskipun dia memiliki kekuasaan, kekuatan dan kemampuan untuk berperang?
Ataukah perlawanan Husain meskipun beliau tidak memiliki kekuatan yang cukup? Mengapa terdapat kontradiksi di antara sikap beliau berdua padahal, sebagaimana yang diyakini Syiah, keduanya adalah sosok-sosok yang maksum?
TS : Ini termasuk perkara yang membuat gamang para imam, oleh karena itu mereka melarang menyampaikan pertanyaan ini dan mengharamkannya.

AG : Mengapa Anda semua hanya mengikuti sikap Husain dan mengabaikan sikap Hasan raḍiallāhu ‘anhumā?
TS : Karena Husain menikah dengan Syahbanu putri Kaisar Persia Yazdajrid, dia menjadi titik temu silsilah keluarga Sasaniah yang mulia dengan keluarga Hasyimiyah. Melalui anak keturunan mereka kekuasaan yang terampas akan kembali. Inilah sebabnya mengapa mulai dari imam ke-4, imam-imam Syiah semuanya berasal dari keturunan Husain.

AG : Tetapi Imam Mahdi kelak berasal dari keturunan Hasan!
TS : Tetapi kami berpendapat dia berasal dari keturunan Husain. Hanya saja sesuatu di luar skenario terjadi, Imam kesebebelas, Hasan al-‘Askari, tidak memiliki anak padahal Abu Abdillah telah berkata, “Jika bumi tidak lagi memiliki Imam pastilah dia tenggelam!” Ini kemudian memunculkan ide tentang Imam yang bersembunyi –semoga Allah menyegerakan kemunculannya –sampai-sampai diyakini hidup lebih dari seribu tahun. Pemikiran ini terus membelenggu orang-orang Syiah; hingga sekarang mereka tetap menunggu-nunggu kedatangannya meski pun jika dihitung semenjak kelahirannya hingga sekarang sudah berlalu lebih dari seribu tahun.

AG : Bagaimana Anda semua menyikapi kontradiksi dan perbedaan sikap yang nyata dari para Imam-Imam, sementara Anda semua meyakini bahwa mereka adalah sosok-sosok yang maksum.
TS : Ajaran taqiyah –yang persentasenya 90% dari ajaran agama ini –merupakan solusi cerdas sebagai jalan keluar dari masalah ini. Ajaran ini meniru Yahudi yang membolehkan berbohong kepada non Yahudi. Abu Abdullah berkata, “Taqiyah bagian dari agamaku dan agama para pendahuluku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiah. Ayatullah Khomeini memberikan pengertian taqiyah yaitu menjaga Islam dan mazhab Syiah, dan bahwa jika Syiah tidak memakai prinsip ini tentu pemikiran Syiah telah punah. Oleh karena itu jika terdapat pertentangan antara dua sikap atau pernyataan para Imam, mereka mengatakan salah satu adalah taqiyah.

AG : Bagaimana Anda semua dapat membedakan antara yang benar dengan yang hanya taqiyah jika terjadi hal seperti itu?
TS : Jika terdapat beberapa pendapat di kalangan para Imam dan saling bertentangan, maka yang dipegang oleh Syiah ialah pendapat yang berbeda dengan pendapat Ahlussunnah, sebagaimana yang telah dikatakan oleh para Imam. Diriwayatkan dari Aṣ-Ṣadūq, dari Ali bin Asbāṭ, dia berkata, “Saya berkata kepada ar-Riḍa ‘alaihis salām, ‘Terjadi sesuatu yang tidak saya ketahui hukumnya, tidak pula terdapat di negeri saya orang yang dapat saya mintai fatwanya dari kalangan pendukung Anda, apa yang harus saya lakukan?’ Dia berkata, ‘Datangkanlah Ahli Fiqh di negeri itu (dari kalangan Ahlussunnah) dan minta fatwalah kepadanya tentang masalah Anda.Jika memberikan fatwa maka lakukanlah yang berbeda dengan yang difatwakannya.Karena itulah yang benar.

AG : Mengapa tidak merujuk kepada Alqur`ān?
TS : Alqur`ān yang ada sekarang, sebagaimana yang pernah saya sampaikan kepada Anda, diyakini Syiah telah mengalami perubahan. Mereka membacanya karena terpaksa saja. Dari Abi Abdillah ‘alaihis salā, dia berkata, “Sesungguhnya kita memiliki mushaf Fatimah ‘alaihā as-salām. Tahukah Anda mushaf Fatimah itu? Di dalamnya terdapat ayat-ayat tiga kali lebih banyak daripada Alqur`ān Anda. Demi Allah tidak satu hurufpun yang sama dengan Alqur`ān kalian.

AG : Jadi mushaf Fatimah berbahasa Persia?
TS : Anda tentu hanya menduga-duga, tetapi saya rasa itu mungkin saja. Jika Anda tahu betapa bencinya orang-orang Persia kepada orang-orang Arab sekalipun yang telah menganut Syiah, Anda tidak akan merasa heran jika memang begitu adanya.

AG : Menurut Anda, kapan perseteruan antara Syiah dan Ahlussunnah ini berakhir?
TS : Tidak akan berakhir sampai agama kalian punah dan mereka memerangi kalian, sebagaimana yang dikatakan oleh Khomeini kepada salah seorang Imam ketika memasuki Taheran dari pengasingannya, “Telah datang masanya kita melaksanakan wasiat para Imam ṣalawātullāhi ‘alaihim, kita akan menumpahkan darah orang-orang Nawāṣib (Ahlussunnah), kita akan membunuhi anak-anak mereka dan membiarkan hidup para wanita mereka. Kita tidak akan membiarkan seorang pun lolos dari hukuman. Harta mereka akan menjadi milik pendukung Ahlulbait. Kita akan memusnahkan Mekah dan Medinah dari muka bumi karena kedua kota ini telah menjadi sarang orang-orang Wahabi. Karbala harus menjadi tanah suci yang penuh berkah, menjadi kiblat umat manusia dalam shalat. Kita akan mewujudkan impian para Imam ‘alaihimus salām sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Majlisi dari al-Muntaẓar bahwa dia berkata, “Tidak ada yang tersisa antara kita dengan bangsa Arab selain pembantaian!” Inilah alasan mengapa Khomeini mendo’akan rahmat bagi Naṣīruddin aṭ-Ṭūsi dan Ibnu al-‘Alqami yang telah bersekongkol dengan Holago Kan membantai kaum muslim ketika mereka merebut kota Baghdad.

AG : Ketika Anda berbicara tentang Imam Mahdi yang melaksanakan hukum keluarga Daud, memerangi bangsa Arab, mendirikan Negara Yahudi di Persia, dan menghancurkan Mekah dan Medinah, saya jadi teringat dengan sosok Dajjal; ciri-ciri yang Anda sebutkan sangat cocok dengan Dajjal.
TS : Saya ucapkan selamat kepada Anda wahai Ahlussunnah, karena memiliki rujukan Alqur`ān dan Sunnah. Anda tidak mengalami kesulitan seperti yang kami hadapi, karena tidak seorang pun di antara kami yang dapat mempertanyakan seorang pun ulama kami, kami tidak diizinkan untuk menanyakan dalil. Seluruh dalil-dalil dan riwayat yang kami terima hanya berupa dari Abu Abdillah, berkata Abu Abdillah. Orang-orang Syiah sangat gelisah dengan banyak perpecahan dan pertentangan-pertentangan yang berlawanan dengan dasar-dasar keyakinan mereka. Mereka dalam masalah dasar-dasar keyakinan terpecah hingga 300 kelompok, sedangkan kalian tetap berada dalam satu dasar keyakinan, perbedaan-perbedaan yang terjadi hanya perbedaan yang biasa, tidak keluar dari masalah-masalah furu’.

AG : Apa pendapat Anda ketika masyarakat mengatakan Rafiḍah adalah Yahudinya umat ini?
TS : Demi Allah mereka benar, mereka membenci Islam sebagaimana orang-orang Yahudi membenci agama Nasrani. Ali telah membakar dan mengusir mereka. Demikian juga yang terjadi dengan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa kekuasaan tidak boleh lepas dari tangan keturunan Daud, dan orang-orang Syiah mengatakan tidak boleh lepas dari keturunan Ali bin Abi Ṭālib. Orang-orang Yahudi mengatakan tidak ada jihad sampai kemunculan al-Masih, dan Syiah mengatakan bahwa tidak ada jihad sampai munculnya Imam Mahdi. Orang-orang Yahudi menghalalkan darah setiap muslim, demikian juga dengan Syiah. Orang-orang Yahudi melakukan perubahan terhadap Taurat, dan Syiah pun mencobanya, ketika mereka tidak berhasil melakukannya mereka menyelewengkan tafsirannya dan mengatakannya makna batin. Syiah mengatakan neraka haram menyentuh para penganut Syiah kecuali sedikit saja, sementara orang-orang Yahudi mengatakan, “Kami tidak akan masuk neraka kecuali hanya beberapa hari saja.”

AG : Selagi Anda semua, sebagian besar Ulama Syiah, mengetahui kebenaran dan bahwa Syiah muncul semata-mata untuk menghancurkan agama Muhammad, mengapa Anda semua tidak kembali kepada Islam?
TS : (Mengangkat kepala dan memandang dengan kedua matanya yang bersimbah air mata) Ada dua hal, jika satu saja diberikan kepada seseorang dia akan menyembunyikan kebenaran dan mengatakan yang sebaliknya, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah, bagaimana halnya jika kedua-duanya diberikan sekaligus?

AG : Apakah itu?
TS : Al-Khumus dan Mut’ah, harta dan wanita merupakan fitnah terberat bagi manusia. Adapun tentang harta, maka ulama-ulama kami menjadi lapisan terkaya karena kepada mereka diberikan secara berlimpah.Sedang tentang nikah mut’ah maka siapa yang mengagumi seorang gadis atau wanita dia bisa nikah mut’ah dengannya.

Orang Syiah tidak lepas dari tiga karakter berikut:
1. Orang yang mengetahui kebenaran, tetapi dia dikuasai atau memperturutkan syahwatnya, ambisinya terhadap harta dan wanita tidak terbendung; atau
2. Orang yang mengetahui kebenaran tetapi dia mencemaskan keselamatan diri dan keluarganya sehingga dia menampilkan sesuatu yang berbeda dengan keyakinannya. Betapa banyak orang-orang yang seperti ini. Atau;
3. Orang bodoh yang membenarkan segala sesuatu yang didengarnya.

AG : Bagaimana dengan Anda sendiri?
TS : Saya yakin bahwa paham Syiah disusupkan ke tengah umat Islam. Ahlussunnah lebih dekat dengan kebenaran.

AG : Jika demikian, ulurkanlah tangan Anda terimalah selamat dari saya, bertawakkallah kepada Allah, naikilah bahtera kesalamatan bahtera Muhammad dan para sahabatnya raḍiallāhu ‘anhum.
TS : Insya Allah saya akan mengumumkannya dalam waktu dekat ini, saya akan memilih waktu yang tepat.



SYIAH jauh Lebih Berbahaya Dari ISIS [ Untuk Pendusta Yang Kebiasaan bersumpah " Demi Allah " ]

 Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina”. (QS. Al-Qalam : 10)

Waspadalah Syiah Jauh Lebih Berbahaya Dari ISIS Serta Keberhasilan Syiah Memecah Belah Islam dan Menfitnah Wahabi
Ustadz Firanda:ISIS Memang Berbahaya, Tapi Syiah Jauh Lebih Berbahaya
Pembakaran Pilot Belum Seberapa Kekejian Milisi Syiah Membakar Ahli Sunnah

Ini Buktinya SYIAH Lebih Berbahaya Daripada ISIS

               


Silahkan buka :

Ini Buktinya Syiah Lebih Berbahaya Daripada Isis Videos


Mengapa Syiah Jauh Lebih Berbahaya bagi NKRI Dibandingkan ISIS? Ini Jawaban Ustadz Abu Rusydan

Ulama Jihadist dan Pemerhati Jihad Ustadz Abu Rusydan menyatakan bahwa perkembangan Syiah di Nusantara ini jauh lebih membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibandingkan dengan gerak langkah (Islamic State Iraq and Syam (ISIS) yang selama ini digembar-gemborkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Dalam acara Kajian Ilmiah “Membongkar Rencana Besar Bangkitnya Negara Syiah” Ahad, (22/03/2015) di Masjid Al Furqon Kudus, hal itu beliau sampaikan selaku pembicara kedua setelah sebelumnya Ustadz Fahrurozi mengawali di session pertama.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abu Rusydan sengaja membawakan dua buku yang sedang hangat dibahas di Indonesia dari ratusan buku tentang Syiah, baik yang bersumber dari Syiah maupun ahlus sunah. Buku yang pertama berjudul Syahwat Politik Kaum Syiahtulisan DR Rogib As Sirjani.
Kemudian yang kedua, ini tulisan DR H Abdul Khor Ramadhan,SH,MH,MM, Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan Majelis Ulama Islam Pusat. Judulnya Syiah menurut Sumber Syiah; Ancaman Nyata Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, denga Kata Pengantar ditulis oleh Prof. Dr. Baharun, SH., MA., Ketua Komisi Hukum dan Perundang Undangan Majelis Ulama Indonesia Pusat.
“Kita akan bahas bagaimana Syiah jauh lebih berbahaya bagi kehidupan bangsa Indonesia dan Negara Indonesia kita, dibanding ISIS. ISIS itu sepuluh ribu mil jaraknya dari sini orang sibuk (ngurusi) ISIS, (padahal) ISIS itu sepuluh ribu mil jaraknya dari Indonesia. Sementara Syiah ini berada di jantung kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka ada di DPR, orang-orang yang 'dimuliakan', itu mereka paling tidak ada hubungan dengan Syiah” ungkap Ustadz Abu Rusydan.
Bukan hanya itu saja, Ustadz Abu Rusydan lebih menegaskan lagi akan bahayanya Syiah di bandingkan dengan ancaman ISIS. Beliau katakan dengan tegas.
“ISIS itu sepuluh ribu mil dan itu jauh sekali. ISIS tidak datang ke sini (Indonesia) malah orang sini datang kesana (ke Syams), iya to? Syiah ini orang Iran datang ke sini ya ikwah. Datang ke Indonesia baik sebagai anggota Dewan Kedutaan Iran di Jakarta atau sebagai orang-orang perahu. Orang-orang perahu bukan orang yang tersesatkan di jalan, mereka ada yang mengkoordinir di kampung-kampung mereka, itu bagian dari upaya memenuhi upaya syahwat politik kaum Syiah” jelas beliau.
Maka betapa aneh bila hari ini pemerintah Indonesia lebih mentoleransi Syiah dibandingkan isu ISIS yang terus dimunculkan. Apakah sekarang ini Syiah telah benar-benar telah memegang kekuasaan? Atau mereka telah ditutup dengan milyaran dolar? Ada apa dengan Pemerintah kita?


Syiah Jauh Lebih Berbahaya Ketimbang ISIS


“Kami Front Anti Aliran Sesat (FAAS) siap menghancurkan Syiah di Indonesia tanpa bantuan ISIS. Sebab Syiah lebih bahaya dari ISIS,” ujar Habib Achmad bin Zein Al-Kaff, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Selasa (5/8/2014) malam  kepada Kiblat.net
Pernyataan yang semestinya tidak akan pernah keluar serampangan dari seorang habib dan sekaligus Rais Syuriyah PWNU terkait betapa berbahayanya ajaran Syiah ketimbang geliat dari ISIS di semenanjung arab. ISIS yang tengah naik daun karena pemberitaan dari sekian banyak media, baik dari media sekular, anti islam dan media online dari beberapa tandzim dan manhaj Islam.
ISIS yang diekspos sedemikian rupa menyebabkan kemilau yang menyilaukan mata dan bisa mengakibatan kebutaan sejenak atau bahkan buta selamanya. Buta yang dimaksud adalah kita menafikan dan mengabaikan bahaya yang seburuk-buruknya bahaya.
Pembantaian dan penghancuran beberapa situs bersejarah oleh ISIS (dan ini pun bisa diperdebatkan argumentasinya) mengakibatkan kita melupakan betapa jahat dan buruknya perangai kaum sempalan yang mengkafirkan shahabat dan bahkan isteri Rasulullah sendiri. Kaum yang gemar berbohong dan memuja–muja shahabat Ali bak malaikat ini secara fakta telah membunuhi ribuan muslim dibanyak tempat. Dalih Bashar Ashad berperang atas nama negara adalah kebohongan konyol jika yang kemudian berperang adalah pasukan Garda Republik dari Iran dan Hizbollah dari Libanon.
Melihat momentum terkait geliat ISIS terlihat yang paling menikmati adalah Syiah. Jajaludin Rakhmat bahkan sampai mengumpat yang menjadikan Indonesia dipenuhi konflik karena anti syiah. Cara berpendapat yang konyol dan jauh dari akal sehat karena jika tidak ingin konflik maka jangan sebarkan ajaran yang mengajarkan pengikutnya untuk mengumpati shahabat, menuduh isteri nabi berzina dan menyatakan semua nawasib (sunni) adalah ahlu naar dan layak dienyahkan.
Perangai khas kelompok ini identik dengan api, jika kecil menghangatkan badan akan tetapi jika besar bakalan membakar rumah.
Jika Habib Zein telah mengumandangkan komando untuk menyatakan kesiapannya menghambat dan menyumbat kanal-kanal kemungkinan berkembang biaknya kaum sempalan ini tanpa campur tangan ISIS sebenarnya adalah pengakuan bahwa ummat muslim di Indonesia belum tercekoki oleh geliat pesona ISIS yang mungkin saja dibentuk oleh kontra intelijen atau kontra sel kaum-kaum kafir harbi untuk mende-islamisasi tataran global.
“Aliran-aliran sesat tumbuh subur di Indonesia karena pemerintah tidak tegas, tapi ISIS lebih mudah di deteksi karena gerakannya jelas, berbeda denganaliran sesat yang bersifat menyusup memiliki misi dan kekuatan finansial yang cukup besar,” tambah Habib Zein.
Terima kasih ya Bib, berlomba-lomba dalam kebajikan untuk mencegah kemungkaran adalah sebaik-baiknya perkara.
Salam Anti Syiah Eksis Di Indonesia!

Dunia Terkecoh: Milis Syiah Lebih Berbahaya Daripada ISIS

Perang di Irak tampak belum akan berakhir. Pemerintah Irak yang dibantu oleh negara-negara yang tergabung dalam koalisi Internasional untuk menumpas ISIS atau ISIL plus dengan milisi Syiah yang disokong oleh Iran. Sangat berbeda sekali dengan Saddan Husein yang secara terang-terangan sangat anti dengan Syiah.
Karena memang, Syiah kini sudah mulai menampakkan niatan mereka untuk menguasai daerah Arab, dimana baru-baru ini, pemerintah Sah Yaman dikudeta oleh milisi Syiah Houti. Kondisi Yaman kini sedang memanas, dimana milisi Syiah menguasi ibu kota negara, sementara presiden Sah Yaman mengungsi ke Selatan.
Ketengan antara Sunni dan Syiah semakin diperparah dengan adanya milisi Syiah di Irak, pasalnya mereka terus melakukan pembantaian terhadap orang-orang islam yang ada di Irak. Baca Kekejaman Syiah di Irak dan Suriah Semakin Menjadi-Jadi.
Kepala Dinas Intelijen di Kurdistan Irak, Masrour Barzani, telah menyatakan keprihatinan tentang peran milisi Syiah yang didukung Republik Syiah Iran, dalam Iran bermain di laga bersama dengan tentara Irak untuk merebut kembali kota Tikrit dari Daulah al-Bagdadi (IS), Rabu (18/03).
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Barzani mengatakan bahwa penggunaan milisi Syiah oleh pemerintah Irak, dapat meningkatkan ketegangan antara Sunni dan Syiah.
Barzani juga mengkritik keras pemerintah Baghdad yang menggunakan milisi syiah untuk mengambil kota Salahuddin.
“Penggunaan milisi syiah yang dilakukan pemerintah akan menghasilkan masalah yang lebih besar dari IS. Karena penggunaan itu akan menghasilkan peperangan antara sekte Sunni dan Syiah,” kata Barzani.
“Mestinya pemerintah berjuang sendiri untuk memerangi IS, tanpa melibatkan milisi syiah yang didukung Iran,” ujarnya. (Jadikan.com/Bumisyam).