Thursday, December 18, 2014

Syiah Bantai Husain Asyura Karbala Irak [Goresan Pena Tanya Syiah Part 17]




Karbala adalah sebuah tempat di mana Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu tewas terbunuh, yang merupakan cucu kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia telah menjadi korban pengkhianatan dan pembunuhan oleh Syiah yang berasal dari Irak.

أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ عَنْ دَمِ الْبَعُوضِ يُصِيبُ الثَّوْبَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ انْظُرُوا إِلَى هَذَا يَسْأَلُ عَنْ دَمِ الْبَعُوضِ وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنْ الدُّنْيَا
Bahwasanya terdapat seorang laki-laki yang berasal dari penduduk Irak bertanya kepada Ibnu ‘Umar mengenai darah nyamuk yang menodai pakaian. Lantas Ibnu ‘Umar berkata, “Lihatlah (laki-laki) ini yang bertanya mengenai darah nyamuk, padahal mereka (penduduk Irak) telah membunuh anak (cucu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sedangkan aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya al-Hasan dan al-Husain, keduanya adalah tumbuh-tumbuhan yang harum di dunia.’”
[Tirmidzi no.3703, Shahih : Shahih Tirmidzi no.3770, Syaikh al-Albani]

Akhirnya Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu pun Syahid terbunuh di tangan Syiah Irak, sehingga ia menjadi seorang Syuhada yang mulia di sisi Rabb-nya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Al-Hasan dan al-Husain merupakan Sayyid pemuda Ahlul Jannah.”
[Tirmidzi no.3701, Shahih : Shahih Tirmidzi no.3768, Syaikh al-Albani]

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat mencintainya dengan sepenuh hati.

فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُشْتَمِلٌ عَلَى شَيْءٍ لَا أَدْرِي مَا هُوَ فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْ حَاجَتِي قُلْتُ مَا هَذَا الَّذِي أَنْتَ مُشْتَمِلٌ عَلَيْهِ قَالَ فَكَشَفَهُ فَإِذَا حَسَنٌ وَحُسَيْنٌ عَلَى وَرِكَيْهِ فَقَالَ هَذَانِ ابْنَايَ وَابْنَا ابْنَتِيَ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُمَا
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar dengan menyelimuti sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Tatkala selesainya keperluanku, aku bertanya, “Apa yang engkau selimuti tersebut?” Kemudian beliau menyingkapnya, ternyata terdapat Hasan dan Husain di atas pinggul beliau seraya bersabda, ‘Keduanya adalah anakku (cucu) dan anak puteriku. Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah mereka berdua dan cintailah orang yang mencintai keduanya.’”
[Tirmidzi no.3702, Hasan : Shahih Tirmidzi no.3769, Syaikh al-Albani]

Namun Syiah Rafidhah selama ini telah membuat sebuah tipu daya dengan menutup-nutupi kebenaran akan tragedi Karbala dengan melimpahkan seluruh kesalahan kepada kaum Muslimin. Padahal merekalah (Syiah) yang melakukan pengkhianatan dan pembantaian terhadap Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu beserta Ahlul Bait. Dan Karbala pun menjadi saksi atas kekejaman mereka (Syiah).

Sebelum terjadinya tragedi di Karbala Irak, para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam banyak yang berusaha melarang Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu untuk pergi ke Kufah Irak, di antaranya adalah :

[-] Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau memberikan nasihat kepada Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu dengan berkata,

لَوْلَا أَنْ يُزْرَى بي وبك الناس لشبثت يدي في رأسك فلم أتركك تذهب
“Seandainya orang-orang tidak menghinaku dan menghinamu, niscaya aku akan pegang kepalamu dengan tidak melepaskanmu untuk pergi.”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 8/172, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma pun juga berkata kepada Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu,

فقال: أين تريد؟ قال: الْعِرَاقَ, وَإِذَا مَعَهُ طَوَامِيرُ وَكُتُبٌ، فَقَالَ: هَذِهِ كُتُبُهُمْ وَبَيْعَتُهُمْ، فَقَالَ: لَا تَأْتِهِمْ، فَأَبَى.
فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا، إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبيّ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَيَّرَهُ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَاخْتَارَ الْآخِرَةَ وَلَمْ يُرِدِ الدُّنْيَا، وَإِنَّكَ بَضْعَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والله ما يَلِيهَا أَحَدٌ مِنْكُمْ أَبَدًا، وَمَا صَرَفَهَا اللَّهُ عَنْكُمْ إِلَّا لِلَّذِي هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ، فَأَبَى أَنْ يَرْجِعَ.
قَالَ فَاعْتَنَقَهُ ابْنُ عُمَرَ وَبَكَى وَقَالَ: أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ مِنْ قَتِيلٍ.
Ia (Ibnu ‘Umar) bertanya, “Kemana engkau akan pergi?”
(Al-Husain) menjawab, “ke Irak.” Sedangkan ia memiliki kertas-kertas surat seraya berkata, “Ini adalah surat-surat dan bai’at mereka.”
(Ibnu ‘Umar) berkata, “Janganlah engkau mendatangi mereka.” Namun ia (al-Husain) enggan (kembali).
Lalu (Ibnu ‘Umar) berkata, “Aku ingin memberitahukanmu sebuah hadits, yakni suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan memberinya sebuah pilihan antara dunia dan akhirat, lantas (Nabi) pun memilih akhirat dan tidak menghendaki dunia. Sesungguhnya engkau adalah bagian dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demi Allah, janganlah seorang pun dari kalian selamanya memegang (kepemimpinan), tidaklah Allah memalingkannya dari kalian kecuali Dia memilihkan yang terbaik untuk kalian.” Namun ia (al-Husain) enggan untuk kembali. Ibnu ‘Umar pun memeluknya sembari menangis dan berkata, “Aku memasrahkan dirimu kepada Allah dari pembunuhan.”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 8/173, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Begitu pula dengan Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu,

أَيْنَ تَذْهَبُ؟ إِلَى قَوْمٍ قَتَلُوا أَبَاكَ وَطَعَنُوا أَخَاكَ؟
“Kemana engkau akan pergi? (Apakah) menuju ke kaum yang telah membunuh ayahmu dan yang telah menusuk saudaramu?”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 8/174, al-Hafizh Ibnu Katsir]

[-] Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu pun tidak mau ketinggalan jua dalam memberikan nasihat kepada Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu,

يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ! إِنِّي لَكُمْ نَاصِحٌ، وَإِنِّي عَلَيْكُمْ مشفق، وقد بلغني أنَّه قد كَاتَبَكَ قَوْمٌ مِنْ شِيعَتِكُمْ بِالْكُوفَةِ يَدْعُونَكَ إِلَى الخروج إليهم، فلا تخرج إليهم، فَإِنِّي سَمِعْتُ أَبَاكَ يَقُولُ بِالْكُوفَةِ: وَاللَّهِ لَقَدْ مللتهم وأبغضتهم، وملوني وأبغضوني، وما يكون منهم وفاء قط، وَمَنْ فَازَ بِهِمْ فَازَ بِالسَّهْمِ الْأَخْيَبِ، وَاللَّهِ ما لهم نيات وَلَا عَزْمٌ عَلَى أَمْرٍ، وَلَا صَبْرٌ عَلَى السيف.
“Wahai Abu ‘Abdillah! Aku ingin menasihatimu, sesungguhnya aku sangat menyayangi kalian. Dan telah sampai kabar kepadaku bahwasanya kaum dari Syiah-mu di Kufah telah menulis surat kepadamu dan mengajakmu untuk keluar menuju mereka. Janganlah engkau keluar menuju mereka, sesungguhnya aku telah mendengar ayahmu berkata di Kufah, ‘Demi Allah, sungguh aku telah bosan dan marah terhadap mereka. Begitu pula mereka juga telah bosan dan marah terhadapku, serta mereka tidak dapat dipercaya. Barangsiapa yang mendapatkan dukungan dari mereka, maka ia mendapatkan sebuah anak panah yang tumpul. Demi Allah, mereka tidak memiliki niat dan tekad dalam suatu urusan, dan bersabar dalam pertempuran.’”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 8/174, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Akhirnya Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu pun ditipu oleh Syiah Kufah Irak dengan berpura-pura mendukung dan membelanya, namun di kemudian hari mereka (Syiah Kufah Irak) mengkhianatinya dan menyembelihnya serta membantai Ahlul Bait, sebagaimana yang telah diakui oleh para Pendeta Syiah Rafidhah.



Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 00:45 – 00:50
Sehingga kita (Syiah Rafidhah) menjadi seperti orang-orang Kufah (Syiah) yang mengundang Imam (al-Hussain), dan kemudian meninggalkannya.

Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 00:51 – 01:00
Kejahatan pertama adalah mereka (Syiah) mengajaknya (al-Hussain) untuk menjadi pemimpin mereka dan penyelamat mereka. Kemudian mereka (Syiah) menyerangnya dan membunuhnya.

Menit 01:30 – 01:45
Al-Hussain tidak dilempar ke dalam sumur (seperti kisah Nabi Yusuf atas pengkhianatan saudaranya), namun ia dibunuh.
Mereka (Syiah) berkata kepadanya untuk datang, kami tidak memiliki pemimpin, buah-buahan telah matang. Bersegeralah datang, karena sesungguhnya engkau akan mendapatkan pasukan yang besar.

Pendeta Syiah Rafidhah
Menit 01:51 – 01:50
Sesungguhnya orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam pembunuhan al-Hussain, yakni sekitar 90%-80% adalah pernah shalat di belakang Amirul Mukminin (‘Aliy).
Syimr dikenal sebagai Syiah Amirul Mukminin (‘Aliy).
Syimr yang telah membunuh al-Hussain. Ia pernah shalat di belakang Amirul Mukminin (‘Aliy).

[https://www.youtube.com/watch?v=h8u9vGHw0eU&feature=youtu.be]

إن الكوفة كانت مهداً للشيعة
حياة الامام الحسين - باقر شريف القرشي - ج3 ص 12
“Sesungguhnya Kufah adalah tempat lahirnya Syiah.”
[Hayat al-Imam al-Husain 3/12, Baqir Pendeta Syiah Rafidhah]

وَلَا رَيْبَ فِي أَنَّ الْكُوفَةَ كَانُوا مِنْ شِيْعَةِ عَلِيٍّ وَأنَّ الَّذِينَ قَتَلُوا الْإِمَامَ الْحُسَيْنَ هُمْ شِيْعَتُهُ
الْملحمة الْحُسَيْنية - مُرْتَضى الْمُطَهِّري - ج1 ص 129
“Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Kufah adalah Syiah ‘Aliy, dan bahwasanya yang membunuh Imam al-Husain adalah Syiah-nya.”
[Al-Malhamah al-Husainiyyah 1/129, Murtadha al-Muthahariy Pendeta Syiah Rafidhah]

بِأَنَّ مَقْتَلَ الْحُسَيْنِ عَلَى يَدِ الْمُسْلِمِينَ بَلْ علي يَدِ الشِّيعَةِ
الْملحمة الْحُسَيْنية - مُرْتَضى الْمُطَهِّري -  ج3 ص 94
“Bahwa sesungguhnya pembunuhan al-Husain adalah berada di tangan kaum Muslimin, bahkan di tangan Syiah.”
[Al-Malhamah al-Husainiyyah 3/94, Murtadha al-Muthahariy Pendeta Syiah Rafidhah]

Tragedi Karbala berdarah tersebut bermula dari surat menyurat antara Syiah Kufah Irak dengan Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu dengan menipunya untuk datang ke Kufah Irak.

بسم الله الرحمن الرحيم إلى الحسين بن علي من شيعته من المؤمنين والمسلمين أما بعد فحي هلا فان الناس ينتظرونك لا رأي لهم غيرك, فالعجل العجل, ثم العجل العجل, والسلام 
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٣٣٤
بسم الله الرحمن الرحيم
Kepada al-Husain bin ‘Aliy dari Syiah-nya yang berasal dari kaum Mukminin dan Muslimin.
Amma ba’du,
Segera bergegaslah, sesungguhnya manusia telah menanti-nantikan engkau yang di mana mereka  tidak memiliki pilihan selain dirimu. Cepatlah dan cepatlah, kemudian segera bergegaslah.
والسلام
[Bihar al-Anwar 44/334, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_0?pageno=334#top]

أما بعد فقد اخضر الجنات, وأينعت الثمار, وأعشبت الأرض, وأورقت الأشجار, فإذا شئت فأقبل على جند لك مجندة, والسلام عليك ورحمة الله وبركاته وعلى أبيك من قبلك
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٣٣٤
Amma ba’du,
Taman-taman telah menghijau, buah-buahan telah matang, bumi telah (ditumbuhi) rerumputannya, serta pepohonan telah bersemi.
Jika engkau menghendaki, maka datanglah ke sini (dalam menyambut) pasukanmu yang besar.
والسلام عليك ورحمة الله وبركاته وعلى أبيك من قبلك
[Bihar al-Anwar 44/334, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_0?pageno=334#top]

Kemudian al-Husain Radhiyallahu ‘anhu pun membalas surat Syiah Kufah Irak.

بسم الله الرحمن الرحيم من الحسين بن علي إلى الملأ من المؤمنين والمسلمين أما بعد فان هانئا وسعيدا قدما علي بكتبكم, وكانا آخر من قدم علي من رسلكم, وقد فهمت كل الذي اقتصصتم وذكرتم, ومقالة جلكم أنه ليس علينا إمام, فأقبل لعل الله أن يجمعنا بك على الحق والهدى, وأنا باعث إليكم أخي وابن عمي وثقتي من أهل بيتي مسلم بن عقيل, فان كتب إلي بأنه قد اجتمع رأي ملئكم, وذوي الحجى والفضل منكم, على مثل ما قدمت به رسلكم وقرأت في كتبكم, فاني أقدم إليكم وشيكا إنشاء الله فلعمري ما الامام إلا الحاكم بالكتاب القائم بالقسط, الدائن بدين الحق, الحابس نفسه على ذلك لله, والسلام 
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٣٣٤
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٣٣٥
بسم الله الرحمن الرحيم
Dari al-Husain bin ‘Aliy kepada seluruh kaum Mukminin dan Muslimin.
Amma ba’du,
Sesungguhnya Hani’ dan Sa’id telah menemuiku dengan membawa surat-surat kalian, dan mereka berdua adalah utusan terakhir kalian yang menemuiku. Sungguh aku telah memahami seluruh apa yang kalian ceritakan dan sebutkan mengenai (keinginan) kebanyakan kalian yakni, “Kami tidak memiliki pemimpin, maka datanglah, semoga Allah menyatukan kami di bawah (kepemimpinan)-mu di atas kebenaran dan petunjuk.”
Oleh karena itu aku mengutus kepada kalian saudaraku, anak pamanku dan orang kepercayaanku dari Ahlul Baitku, yaitu Muslim bin ‘Aqil. Jika ia mengirimkan surat bahwa sesungguhnya telah bersatunya pendapat para pemuka kalian yang menguasai keperluan dan yang paling utama di antara kalian atas apa yang disampaikan oleh utusan kalian dan apa yang aku baca dalam surat kalian, maka aku akan menemui kalian dalam waktu dekat ini, Insya Allah.
Sesungguhnya seorang pemimpin adalah memimpin dengan hukum al-Kitab (al-Qur’an) dan menegakkan keadilan, beragama dengan agama yang haq, menahan dirinya (konsisten) hanya karena Allah.
والسلام
[Bihar al-Anwar 44/334-335, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_0?pageno=334#top]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_337#top]

Akhirnya, Muslim bin ‘Aqil pergi ke Kufah untuk memeriksa kebenaran baiat dari penduduk Kufah, hingga terkumpullah Syiah dengan jumlah yang banyak.

فخرج مسلم من مكة للنصف من شعبان ووصل الكوفة,
وأقبلت الشيعة يبايعونه حتى بلغوا ثمانية عشر ألفاً وفي حديث الشعبي بلغ من بايعه أربعين ألفاً
الشيعة وعاشوراء - رضا حسين صبح الحسني - ص167
Muslim pun pergi keluar dari Makkah pada pertengahan bulan Sya’ban dan tiba di Kufah.
Maka berdatanganlah Syiah untuk berbaiat kepadanya hingga mencapai 18.000 (delapan belas ribu). Sedangkan dalam hadits as-Sya’bi jumlah yang berbaiat mencapai 40.000 (empat puluh ribu).
[Asy-Syiah wa ‘Asyura’ 167, Ridha Husain Shabah al-Husni Pendeta Syiah Rafidhah]

Kemudian penduduk Kufah menulis surat kepada Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Syiah-nya telah berkumpul sebanyak 100.000 orang.

وكتب إليه أهل الكوفة أن لك ههنا مائة ألف سيف ولا تتأخر
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٣٧٠
Dan penduduk Kufah menulis surat kepadanya (al-Husain), bahwasanya engkau di sini memiliki 100.000 (seratus ribu) pasukan, maka janganlah terlambat.
[Bihar al-Anwar 44/370, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_372]

Lantas Imam al-Husain membalas surat mereka (Syiah Kufah Irak) dengan berjanji untuk datang kepada mereka (Syiah Kufah Irak) dengan segera.

بسم الله الرحمن الرحيم من الحسين بن علي إلى إخوانه المؤمنين والمسلمين سلام عليكم فاني أحمد إليكم الله الذي لا إله إلا هو أما بعد فان كتاب مسلم بن عقيل جاءني يخبرني فيه بحسن رأيكم, واجتماع ملئكم على نصرنا والطلب بحقنا, فسألت الله أن يحسن لنا الصنيع, وأن يثيبكم على ذلك أعظم الأجر, وقد شخصت إليكم من مكة يوم الثلاثاء, لثمان مضين من ذي الحجة يوم التروية, فإذا قدم عليكم رسولي فانكمشوا في أمركم وجدوا فاني قادم عليكم في أيامي هذه والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٣٧٠
بسم الله الرحمن الرحيم
Dari al-Husain bin ‘Aliy kepada saudaranya kaum Mukminin dan Muslimin.
سلام عليكم فاني أحمد إليكم الله الذي لا إله إلا هو
Amma ba’du,
Sesungguhnya surat Muslim bin ‘Aqil telah sampai kepadaku yang mengabarkan di dalamnya dengan baiknya pendapat kalian, dan bersatunya para pemuka kalian untuk membela dan menuntut hak kami. Aku memohon kepada Allah untuk memperbaiki urusan kita, dan melimpahkan kepada kalian pahala yang besar.
Aku berangkat menuju kalian dari Makkah pada hari Selasa, yakni tanggal 8 di bulan Dzulhijah pada hari Tarwiyah. Apabila utusanku telah tiba di tempat kalian, maka hendaknya kalian menahan diri dalam urusan ini serta menggalang kekuatan.
Sesungguhnya aku akan tiba kepada kalian dalam hitungan hari.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
[Bihar al-Anwar 44/370, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_372#top]

Sebelum keberangkatan Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu ke Kufah Irak, saudaranya yakni Muhammad bin ‘Aliy bin Abu Thalib yang dikenal dengan nama Ibnul Hanafiyyah, menasihati beliau (al-Husain).

يا أخي إن أهل الكوفة من قد عرفت غدرهم بأبيك وأخيك
اللهوف في قتلى الطفوف - السيد ابن طاووس - الصفحة ٣٩
“Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau telah mengetahui akan pengkhianatan penduduk Kufah terhadap ayah dan saudaramu.”
[Al-Lahuuf 39, Ibnu Thawus Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3705_اللهوف-في-قتلى-الطفوف-السيد-ابن-طاووس/الصفحة_0?pageno=39#top]

Maka berangkatlah Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu ke Irak, namun di tengah perjalanan terdengarlah sebuah kabar bahwa Muslim bin ‘Aqil telah terbunuh dan Syiah-nya telah berkhianat. lalu Imam al-Husain segera mengabarkan beritanya kepada rombongan yang ikut bersamanya.

بسم الله الرحمن الرحيم أما بعد: فإنه قد أتانا خبر فظيع قتل مسلم بن عقيل, وهانئ بن عروة, و عبد الله بن يقطر, وقد خذلنا شيعتنا,
الإرشاد - الشيخ المفيد - ج ٢ - الصفحة ٧٥
بسم الله الرحمن الرحيم
Amma ba’du,
Sesungguhnya telah sampai kabar buruk kepada kita mengenai terbunuhnya Muslim bin ‘Aqil, Hani’ bin ‘Urwah serta ‘Abdullah bin Yaqthur dan Syiah kita telah mengkhianati kita.
[Al-Irsyad 2/75, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1295_الإرشاد-الشيخ-المفيد-ج-٢/الصفحة_75]

Padahal Syiah Kufah Irak sebelumnya telah membai’at Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu.

ثم بايع الحسين عليه السلام من أهل العراق عشرون ألفا ثم غدروا به, وخرجوا عليه, وبيعته في أعناقهم فقتلوه
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٦٨
Kemudian pembaiatan al-Husain ‘alaihi Salam oleh penduduk Irak yang berjumlah 20.000 (dua puluh ribu) orang, lalu mereka (Syiah Irak) mengkhianatinya dan memeranginya. Padahal bai’atnya masih berada di leher mereka, (Hingga akhirnya) mereka membantainya.
[Bihar al-Anwar 44/68, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_70]

Ketika Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu tiba di Karbala, maka situasi pun semakin genting. Sehingga Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu memberikan 3 opsi kepada pimpinan pasukan Ubaidillah bin Ziyad, yakni Umar bin Sa’ad, yang dengan segera mengirimkan khabar tersebut kepada Ubaidillah bin Ziyad dengan menuliskan surat yang berisi sebagai berikut :

هذا حسين قد أعطاني ان يرجع إلى المكان الذي منه اتى أو ان نسيره إلى اي ثغر من ثغور المسلمين شئنا فيكون رجلا من المسلمين له ما لهم وعليه ما عليهم أو ان يأتي يزيد أمير المؤمنين فيضع يده في يده فيرى فيما بينه وبينه رأيه
معالم المدرستين - السيد مرتضى العسكري - ج ٣ - الصفحة ٨٥
معالم المدرستين - السيد مرتضى العسكري - ج ٣ - الصفحة ٨٦
Husain ini telah memberikanku (pilihan) :
[-] Ia (al-Husain) kembali ke tempat yang semula di mana ia berangkat.
[-] Kita memindahkannya (al-Husain) ke perbatasan, yakni perbatasan kaum Muslimin, sehingga menjadi penduduk setempat dari kalangan kaum Muslimin yang mendapatkan perlakuan yang sama dengan mereka (penduduk setempat).
[-] Ia (al-Husain) mendatangi Yazid Amirul Mukminin, hingga meletakkan tangannya (al-Husain) di tanggannya (Yazid) (baiat) serta saling bertatapan mata (bertemu).
[Ma’alim al-Madrasatain 3/85-86, Murtadha al-Askariy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1665_معالم-المدرستين-السيد-مرتضى-العسكري-ج-٣/الصفحة_82#top]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1665_معالم-المدرستين-السيد-مرتضى-العسكري-ج-٣/الصفحة_83#top]

Namun Ubaidillah bin Ziyad mengirim pasukan yang berasal dari penduduk Kufah untuk memerangi Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu.

إن الجيش الذي خرج لحرب الإمام الحسين عليه السلام ثلاثمائة ألف, كلهم من أهل الكوفة, ليس فيهم شامي ولا حجازي ولا هندي ولا باكستاني ولا سوداني ولا مصري ولا أفريقي بل كلهم من أهل الكوفة, قد تجمعوا من قبائل شتى
عاشوراء - كاظم الإحسائي النجفي - ص 89
Sesungguhnya pasukan yang keluar untuk memerangi Imam al-Husain ‘alaihi Salam sebesar 300.000 (tiga ratus ribu) orang, mereka semuanya adalah penduduk Kufah. Tidaklah ada di antara mereka yang berasal dari Syam, Hijaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, dan Afrika. Bahkan mereka semua adalah penduduk Kufah yang berkumpul dari berbagai kabilah.
[‘Asyura’ 89, Kadzhim al-Ihsa-i an-Najafiy Pendeta Syiah Rafidhah]

Dalam pertempuran memerangi Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu, pasukan Syiah Kufah Irak menempati beberapa posisi, di antaranya adalah :

جعل عمر بن سعد على ميمنة جيشه عمرو بن الحجاج الزبيدي, وسلم قيادة الميسرة لشمر بن ذي الجوشن العامري, وعلى الخيل عزرة بن قيس الأحمسي, وعلى الرجالة شبث بن ربعي
كربلاء ، الثورة والمأساة - أحمد حسين يعقوب - الصفحة ٣٠١
‘Umar bin Sa’ad memposisikan di sebelah kanan pasukannya (dipimpin) oleh ‘Amr bin Hajaj az-Zubaidiy, dan pengamanan yang berada di sebelah kiri dipimpin oleh Syimr bin Dzu al-Jausyan al-‘Amiry, serta yang memimpin pasukan berkuda adalah ‘Azrah bin Qays al-Hamasiy, dan terakhir yang memimpin pasukan darat adalah Syibts bin Rabi’iy.
[Karbala’ 301, Ahmad Husain Ya’qub Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3847_كربلاء-الثورة-والمأساة-أحمد-حسين-يعقوب/الصفحة_288]

Padahal Syiah Kufah Irak-lah yang mengundang Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu dengan mengirimkan surat untuk datang ke Kufah Irak, namun mereka jua-lah yang mengkhianati dan memeranginya, seperti Syibts bin Rabi’iy dan ‘Amr bin Hajaj az-Zaidiy.

ثم كتب شبث بن ربعي وحجار بن أبجر, ويزيد بن الحارث بن رويم, وعروة ابن قيس, وعمر بن حجاج الزبيدي ومحمد بن عمرو التيمي: أما بعد فقد اخضر الجنات, وأينعت الثمار, وأعشبت الأرض, وأورقت الأشجار, فإذا شئت فأقبل على جند لك مجندة, والسلام عليك ورحمة الله وبركاته وعلى أبيك من قبلك
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٤ - الصفحة ٣٣٤
Kemudian Syibts bin Rabi’iy, Hajar bin Abjar, Yazid bin al-Harits bin Ruwaym, ‘Urwah bin Qays, ‘Amr bin Hajaj az-Zaidiy, Muhammad bin ‘Amr at-Taymiy menulis surat yang berisi sebagai berikut :
Amma ba’du,
Taman-taman telah menghijau, buah-buahan telah matang, bumi telah (ditumbuhi) rerumputannya, serta pepohonan telah bersemi.
Jika engkau menghendaki, maka datanglah ke sini (dalam menyambut) pasukanmu yang besar.
والسلام عليك ورحمة الله وبركاته وعلى أبيك من قبلك
[Bihar al-Anwar 44/334, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1475_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٤/الصفحة_336]

Lalu Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu mengingatkan mereka (Syiah Kufah Irak) mengenai surat yang mereka (Syiah Kufah Irak) kirimkan.

يا شبث بن ربعي يا حجار بن أبجر يا قيس بن الأشعث يا يزيد بن الحارث ألم تكتبوا إلي أن قد أينعت الثمار, واخضر الجناب, وإنما تقدم على جند لك مجند؟
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٥ - الصفحة ٧
“Wahai Syibts bin Rabi’iy, wahai Hajar bin Abjar, wahai Qays bin al-Asy’ats, wahai Yazid bin al-Harits. Bukankah kalian yang mengirimkan surat yang berisi, ‘buah-buahan telah matang dan telah menghijau sisinya. Sesungguhnya engkau akan mendapatkan pasukan yang besar?’”
[Bihar al-Anwar 45/7, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1476_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٥/الصفحة_9]

Sedangkan Syibts bin Rabi’iy dan Syimr bin Dzu al-Jausyan merupakan Syiah ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu.

وزحر هذا شهد مع علي ع الجمل وصفين كما شهد صفين معه شبث بن ربعي وشمر بن ذي الجوشن الضبابي ثم حاربوا الحسين ع يوم كربلاء
أعيان الشيعة - السيد محسن الأمين - ج ١ - الصفحة ٣٢٦
Zahar ini telah menyaksikan bersama ‘Aliy pada saat perang Jamal dan Shiffin sebagaimana yang telah menyaksikan perang Shiffin bersamanya, yakni Syibts bin Rabi’iy dan Syimr bin Dzu al-Jausyan al-Dhababiy. Kemudian mereka memerangi al-Husain pada hari Karbala’.
[A’yan asy-Syiah 1/326, Muhsin al-Amin Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3636_أعيان-الشيعة-السيد-محسن-الأمين-ج-١/الصفحة_321]

شمر بن ذي الجوشن عليه آلاف ألوف لعنة, تولد من الزنا, وكان يوم صفين في جيش أمير المؤمنين (عليه السلام)
 مستدرك سفينة البحار - الشيخ علي النمازي الشاهرودي - ج ٦ - الصفحة ٤٣
Beribu-ribu laknat atas Syimr bin Dzu al-Jausyan, anak zina, ia pada waktu perang Shiffin berperan sebagai pasukan Amirul Mukminin (‘alaihi Salam).
[Mustadrak Safinat al-Bihar, ‘Aliy an-Namaziy asy-Syahrudiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1620_مستدرك-سفينة-البحار-الشيخ-علي-النمازي-الشاهرودي-ج-٦/الصفحة_43]

يأتي عبد الله بن حوزة التميمي يقف أمام الإمام الحسين عليه السلام ويصيح: أفيكم حسين؟ وهذا من أهل الكوفة, وكان بالأمس من شيعة علي عليه السلام,
ثم يقول: يا حسين أبشر بالنار
رحاب كربلاء - حسين كوراني - ص 61
‘Abdullah bin Hauzah at-Tamimiy berdiri di hadapan Imam al-Husain ‘alaihi Salam seraya berteriak, “Adakah di antara kalian (yang bernama) Husain?” Padahal orang ini adalah penduduk Kufah, yang di mana hari kemarin ia adalah termasuk Syiah ‘Aliy ‘alaihi Salam.
Kemudian ia berkata, “Wahai Husain, bergembiralah dengan neraka.”
[Rihab Karbala 61, Husain Kurani Pendeta Syiah Rafidhah]

Kemudian Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka (Syiah Kufah Irak) dalam meluapkan kekecewaannya.

تبا لكم أيتها الجماعة وترحا وبؤسا لكم! حين استصرختمونا ولهين, فأصرخناكم موجفين, فشحذتم علينا سيفا
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٤
Celaka kalian semua, serta kesedihan dan kesengsaraan bagi kalian! Ketika kalian memohon dengan sedih kepada kami, maka kami segera bergegas menuju kalian. Kemudian kalian menghunuskan pedang kepada kami.
[Al-Ihtijaj 2/24, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_0?pageno=24#top]

Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu pun melanjutkan perkataannya.

ولكنكم أسرعتم إلى بيعتنا كطيرة الدبا, وتهافتم إليها كتهافت الفراش, ثم نقضتموها سفها وضلة, 
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٤
Akan tetapi kalian tergesa-gesa dalam membai’at kami seperti serangga yang terbang, kalian berkumpul berjatuhan seperti kupu-kupu. Kemudian kalian mencabutnya (ba’iat) dengan kebodohan dan kesesatan.
[Al-Ihtijaj 2/24, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_0?pageno=24#top]

Kemudian sahabatnya Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu, yakni al-Hurr bin Yazid, berkata kepada Syiah Kufah Irak.

أدعوتم هذا العبد الصالح حتى إذا أتاكم أسلمتموه, وزعمتم أنكم قاتلوا أنفسكم دونه ثم عدوتم عليه لتقتلوه
الإرشاد - الشيخ المفيد - ج ٢ - الصفحة ١٠٠
Kalian mengundang hamba yang shalih ini hingga telah tiba di tempat kalian kemudian kalian mengkhianatinya. Kalian berpura-pura bahwasanya kalian membunuh diri kalian sendiri bukan dirinya, kemudian kalian memusuhinya dengan membantainya.
[Al-Irsyad 2/100, al-Mufid Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1295_الإرشاد-الشيخ-المفيد-ج-٢/الصفحة_100]

Lalu Imam al-Husain pun berdoa kepada Allah Ta’ala agar mencerai beraikan Syiah Kufah Irak.

اللهم إن متعتهم إلى حين ففرقهم فرقا, واجعلهم طرائق قددا, ولا ترض الولاة عنهم أبدا, فإنهم دعونا لينصرونا ثم عدوا علينا فقتلونا
إعلام الورى بأعلام الهدى - الشيخ الطبرسي - ج ١ - الصفحة ٤٦٨
“Ya Allah, jika Engkau memberikan nikmat kepada mereka hingga suatu waktu, maka cerai beraikanlah mereka menjadi kelompok-kelompok. Jadikanlah mereka terpecah belah ke dalam banyak jalan. Dan janganlah Engkau jadikan para penguasa meridhai mereka selamanya. Sesungguhnya mereka mengundang kami untuk membela kami, kemudian mereka memusuhi kami dengan membantai kami.”
[I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda 1/468, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3695_إعلام-الورى-بأعلام-الهدى-الشيخ-الطبرسي-ج-١/الصفحة_459]

Maka gugurlah dengan berjatuhan Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu dan Ahlul Baytnya beserta para sahabatnya di Karbala Irak.

حينما استشهد الحسين, ومعه الكوكبة الطاهرة من شهداء أهل البيت: العباس, وجعفر, وعثمان, ومحمد, وأبو بكر أولاد علي بن أبي طالب, وعلي, وعبد الله ولدا الحسين, وأبو بكر, وعبد الله, والقاسم أولاد الحسن
مستدركات أعيان الشيعة - حسن الأمين - ج ٢ - الصفحة ٢٤٨
Ketika Syahidnya al-Husain, yang bersamanya dari rasi bintang (keluarga) suci yang termasuk para Syuhada’ dari kalangan Ahlul Bait adalah al-‘Abbas, Ja’far, ‘Utsman, Muhammad dan Abu Bakar yang merupakan anak-anaknya ‘Aliy bin Abi Thalib. Kemudian ‘Aliy dan ‘Abdullah yang merupakan anak-anaknya al-Husain. Setelah itu Abu Bakar, Abdullah dan al-Qasim yang merupakan anak-anaknya al-Hasan.
[Mustadrakat A’iyan asy-Syi’ah 248, Hasan al-Amin Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3635_مستدركات-أعيان-الشيعة-حسن-الأمين-ج-٢/الصفحة_0?pageno=248#top]

من أنصار الحسين ع الذين قتلوا معه من بني هاشم أولاد أمير المؤمنين
1 أبو بكر بن علي
2 عمر بن علي
10 عثمان بن علي
12 أبو بكر بن الحسن
أعيان الشيعة - السيد محسن الأمين - ج ١ - الصفحة ٦١٠
Pendukung al-Husain yang ikut terbunuh bersamanya dari bani Hasyim yang merupakan anak-anaknya Amirul Mukminin :
1. Abu Bakar bin ‘Aliy
2. ‘Umar bin ‘Aliy
10. ‘Utsman bin ‘Aliy
12. Abu Bakar bin al-Hasan
[A’yan asy-Syi’ah 1/610, Muhsin al-Amin Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3636_أعيان-الشيعة-السيد-محسن-الأمين-ج-١/الصفحة_0?pageno=610#top]

Teman-teman dapat melihat banyaknya riwayat Syiah Rafidhah di materi berikut [www.tanyasyiah.com/2014/06/abu-bakar-umar-utsman-nama-ahlul-bait.html]. Bahwasanya Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman adalah keturunan Ahlul Bayt, bahkan ‘Aisyah pun juga termasuk keturunan Ahlul Bayt menurut versi Syiah Rafidhah.

Tatkala rombongan Imam al-Husain Radhiyallahu ‘anhu yang masih hidup digiring memasuki kota Kufah, maka Syiah Kufah Irak pun menangisi tragedi Karbala Irak yang menimpa Ahlul Bayt. Sehingga Imam Zainal ‘Abidin (‘Aliy bin al-Husain) Ahlul Bayt pun berkata kepada mereka.

فجعل أهل الكوفة ينوحون ويبكون. فقال علي بن الحسين عليه السلام: تنوحون وتبكون من أجلنا فمن ذا الذي قتلنا
اللهوف في قتلى الطفوف - السيد ابن طاووس - الصفحة ٨٦
Penduduk Kufah pun meratap dan menangis, maka ‘Aliy bin al-Husain ‘alaihi Salam berkata, “Mereka meratap dan menangis karena kami, lantas siapakah yang membantai kami.”
[Al-Lahuuf 86, Ibnu Thawus Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/3705_اللهوف-في-قتلى-الطفوف-السيد-ابن-طاووس/الصفحة_86]

إن هؤلاء يبكون علينا فمن قتلنا غيرهم
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٩
“Sesungguhnya mereka itu sedang menangisi kami, lantas siapakah yang membantai kami kalau bukan mereka.”
[Al-Ihtijaj 2/29, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_29#top]

Ummu Kultsum pun marah dan menyuruh Syiah Kufah Irak untuk diam.

صه يا أهل الكوفة تقتلنا رجالكم, وتبكينا نساؤكم؟
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٥ - الصفحة ١١٥
“Diamlah wahai penduduk Kufah, laki-laki kalian yang membantai kami, dan wanita-wanita kalian yang menangisi kami?”
[Bihar al-Anwar 45/115, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1476_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٥/الصفحة_117]

Ummu Kultsum melanjutkan kemarahannya kepada Syiah Kufah Irak.

يا أهل الكوفة سوأة لكم, مالكم خذلتم حسينا وقتلتموه وانتهبتم أمواله وورثتموه, وسبيتم نساءه ونكبتموه
بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٥ - الصفحة ١١٢
Wahai penduduk Kufah, sungguh jelek kalian. Kalian mengkhianati Husain dan membantainya, kalian rampas harta-hartanya dan mewarisinya, kalian tawan wanita-wanitanya dan menyusahkannya.
[Bihar al-Anwar 45/112, al-Majlisi Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1476_بحار-الأنوار-العلامة-المجلسي-ج-٤٥/الصفحة_114]

Lalu Zainab binti ‘Aliy Ahlul Bayt pun menimpali seraya berkata.

يا أهل الكوفة يا أهل الختل والغدر, والخذل!!
هل فيكم إلا الصلف والعجب, والشنف والكذب,
أتبكون أخي؟! أجل والله فابكوا فإنكم أحرى بالبكاء فابكوا كثيرا, واضحكوا قليلا, فقد أبليتم بعارها ومنيتم بشنارها ولن ترحضوا أبدا وأنى ترحضون قتل سليل خاتم النبوة
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٩
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٣٠
Wahai Penduduk Kufah, wahai penipu dan pengkhianat. Pengkhianat!!
Tidaklah di dalam diri kalian melainkan arogansi, ‘ujub dan kebencian serta kedustaan.
Apakah kalian menangisi saudaraku? Demi Allah, menangislah kalian dan teruslah menangis, dan tertawalah sedikit. Karena sungguh kalian telah mendapatkan kehinaan dan penderitaan, dan kalian tidak akan pernah bisa mensucikan selamanya. Lalu bagaimana bisa kalian mensucikan pembantaian keturunan penutup Nubuwah.
[Al-Ihtijaj 2/29-30, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_29#top]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_30#top]

Zainal ‘Abidin Ahlul Bayt pun berkata kembali.

هل تعلمون أنكم كتبتم إلى أبي وخدعتموه, وأعطيتموه من أنفسكم العهد والميثاق والبيعة؟ قاتلتموه وخذلتموه فتبا لكم ما قدمتم لأنفسكم وسوء لرأيكم, بأية عين تنظرون إلى رسول الله صلى الله عليه وآله, يقول لكم: قتلتم عترتي, وانتهكتم حرمتي, فلستم من أمتي
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٣٢
Apakah kalian mengetahui bahwasanya kalian telah menulis surat kepada ayahku, lalu kalian menipunya. Dan kalian memberikannya dari diri kalian sebuah perjanjian dan janji bai’at? Kemudian kalian membantainya dan menipunya. Kecelakaanlah bagi kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap diri kalian, dan jeleknya pikiran kalian. Dengan mata yang mana kalian melihat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa aalihi, ketika beliau bersabda kepada kalian, “Kalian telah membantai keturunanku dan menodai kehormatanku, maka kalian bukanlah termasuk umatku.”
[Al-Ihtijaj 2/32, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_32#top]

Kemudian beliau (Zainal ‘Abidin Ahlul Bayt) melanjutkan perkataannya.

هيهات هيهات!! أيها الغدرة المكرة, حيل بينكم وبين شهوات أنفسكم,  أتريدون أن تأتوا إلي كما أتيتم إلى آبائي من قبل
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٣٢
“Jauh sekali, sungguh jauh sekali. Wahai pengkhianat dan tukang makar, kalian menipu urusan kita hanya untuk (memuaskan) syahwat diri kalian. Apakah kalian mendatangiku dengan memiliki keinginan sebagaimana kalian mendatangi ayahku sebelumnya.”
[Al-Ihtijaj 2/32, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_32#top]

Fathimah ash-Sughra Ahlul Bayt pun berkata juga kepada Syiah Kufah Irak.

يا أهل الكوفة! يا أهل المكر والغدر والخيلاء, أنا أهل بيت ابتلانا الله بكم, وابتلاكم بنا, فجعل بلائنا حسنا,
فكذبتمونا, وكفرتمونا, ورأيتم قتالنا حلالا, وأموالنا نهبا,
ألا لعنة الله على الظالمين
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٧
الاحتجاج - الشيخ الطبرسي - ج ٢ - الصفحة ٢٨
Wahai penduduk Kufah, wahai tukang makar, pengkhianat dan sombong. Sesungguhnya kami Ahlul Bayt, Allah menguji kami dengan kalian dan Dia jadikan ujian ini sebagai kebaikan.
Kalian mendustai kami, mengkafirkan kami dan menurut pandangan kalian bahwa membantai kami adalah halal serta harta kami sebagai rampasan perang.
Laknat Allah atas orang-orang dzalim.
[Al-Ihtijaj 2/27-28, ath-Thabrasiy Pendeta Syiah Rafidhah]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_27#top]
[shiaonlinelibrary.com/الكتب/1338_الاحتجاج-الشيخ-الطبرسي-ج-٢/الصفحة_28#top]

- See more at: http://www.tanyasyiah.com/2014/10/syiah-bantai-husain-asyura-karbala-irak.html#sthash.zSpnwSSm.dpuf

Wednesday, December 17, 2014

Membongkar hubungan Quraish Shihab dengan Syi'ah dan Penyimpangannya mengenai tafsir Jilbab.

Membongkar hubungan Quraish Shihab dengan Syi'ah dan Penyimpangannya mengenai tafsir Jilbab.
Apakah Hukum Usaha Mendekatkan Antara Ahli Sunnah Yang Bertauhid Dengan Rafidhah Yang Musyrik?
Saudaraku pembaca yang budiman, saya cukupkan saja dalam masalah ini, dengan mencantumkan tulisan dari tulisan-tulisan DR. Nashir Al Qafari di dalam kitabnya : “Masalah At Taqriib”, yaitu tulisan yang ke tujuh, dimana beliau berkata -semoga Allah menjaganya :

 “Bagaimana mungkin mendekatkan antara orang yang mencaci kitab Allah dan menafsirkannya tidak sesuai dengan tafsirannya, dan mendakwakan turunnya kitab-kitab ilahi (wahyu) kepada imam-imamnya setelah Al Quranul Karim?, dan ia memandang keimaman itu adalah kenabian, para imam baginya seperti para nabi dan bahkan lebih mulia, dan ia menafsirkan mengibadati Allah semata yang mana itu adalah inti dari misi (ajaran) para rasul seluruhnya tidak sesuai dengan maknanya yang hakiki, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya ibadah itu adalah ta’at kepada para imam. dan sesungguhnya syirik kepada Allah adalah mentaati selain mereka (para imam) bersama mereka, ia mengkafirkan orang-orang yang terbaik dari para sahabat rasulullah, dan mengkliem seluruh para sahabat dengan murtad, kecuali tiga atau empat atau tujuh sesaui dengan perbedaan riwayat mereka. Dan orang ini (orang Syiah) tampil berbeda dengan keganjilan dari jamaah kaum muslimin dengan masalah-masalah akidah dan keyakinan di dalam keimaman, kemaksuman (terjaga dari dosa), taqiyah (kemunafikan), dan mengatakan raj’ah (imam kembali ke dunia), Al qhaibah (menghilangnya As Kaari) dan Al Bada’”. [“Masalah At Taqriib” DR. Nashir Al-Qafari 2/302]

Salah satu mata acara saat Sahur, di Metro TV, Jakarta, disajikan tanya jawab keagamaan (Islam) antara sejumlah audiens dengan narasumber kesohor yaitu Quraish Shihab. Dia ini pria kelahiran Rappang (Sulawesi Selatan) pada 16 Februari 1944, pernah menjabat sebagai rector IAIN Jakarta, kemudian menjadi Menteri Agama RI selama 70 hari di akhir masa pemerintahan Soeharto yang lengser Mei 1998.

Di acara Metro TV, salah seorang peserta ketika mengajukan pertanyaan berkenaan dengan latar belakang adanya kebiasaan memperingati atau merayakan hari anak yatim (10 Muharram), Quraish Shihab menjawabnya dengan memasukan doktrin Syi’ah tentang perang Karbala yang menewaskan cucu Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam yakni Husein radhiyallahu ‘anhu. (Metro TV edisi Selasa 02 Ramadhan 1429 H bertepatan dengan 02 September 2008)

Menurut Quraish Shihab, perayaan anak yatim yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram itu adalah untuk mengenang kematian Husein radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya yang tewas pada perang Karbala. Dari peperangan itu menghasilkan banyak anak yatim. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husein radhiyallahu ‘anhu terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah.

Jawaban khas Syi’ah ala Quraish Shihab itu, menunjukkan bahwa ia memang penganjur Syi’ah yang konsisten dan gigih. Di berbagai kesempatan, bila ada peluang memasukkan doktrin dan ajaran Syi’ah, langsung dimanfaatkannya, apalagi di hadapan audiens yang awam (tidak mengerti apa itu Syi’ah, dan bagaimana ajarannya yang sesat dan menyesatkan).

Pada dasarnya, Islam sangat memuliakan anak yatim. Semasa Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup, anjuran untuk menyantuni anak yatim sudah disosia-lisasikan bahkan dipraktekkan sendiri. Artinya, anjuran dan praktek itu sudah ada jauh sebelum Husein radhiyallahu ‘anhu wafat. Sehingga pernyataan Quraish Shihab tersebut terkesan ahistoris, bila menyantuni anak yatim dikaitkan dengan kematian Husein radhiyallahu ‘anhu di Karbala.

Dalam salah satu hadits riwayat An-Nasa’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
9150 - عن أبي شريح الخزاعي قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :{اللَّهُمَّ إنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ : حَقَّ الْيَتِيمِ وَ حَقَّ الْمَرْأَةِ}(سنن النسائي الكبرى - (ج 5 / ص 363)
Ya Allah sungguh saya mengharamkan (penyia-nyiaan) hak dua macam manusia yang lemah yaitu: hak anak yatim dan hak wanita. (HR An-Nasaai nomor 9150).

Namun demikian, dalam ajaran Islam tidak ada waktu-waktu khusus yang ditetapkan untuk memperingati atau merayakan anak yatim. Tanggal 10 Muharram yang oleh sebagian kalangan dijadikan momentum merayakan atau memperingati atau menyantuni anak yatim –sebagaimana dilakukan oleh sejumlah masjid yang secara madzhab dan kultural dekat dengan NU– pada dasarnya tidak ada contohnya. Pada tangal 9 dan 10 Muharram ummat Islam disunahkan berpuasa.

Dalam Hadits Shahih Riwayat Muslim,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ .( رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari ‘Asyura’, maka beliau menjawab, “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin.” (HR Muslim).
___________________________________________________

Benarkah Quraish Shihab penganut paham Syi’ah?

LPPI pernah mendapatkan surat pernyataan dari Osman Ali Babseil (PO Box 3458 Jedah, Saudi Arabia, dengan nomor telepon 00966-2-651 7456). Usianya kini sekitar 74 tahun, lulusan Cairo University ...tahun 1963.

Dengan sungguh-sungguh seraya berlepas diri dari segala dendam, iri hati, ia menyatakan:

1. Sebagai teman dekat sewaktu mahasiswa di Mesir pada tahun 1958-1963, saya mengenal benar siapa saudara Dr. Quraish Shihab itu dan bagaimana perilakunya dalam membela aqidah Syi’ah.
2. Dalam beberapa kali dialog dengan jelas dia menunjukkan sikap dan ucapan yang sangat membela Syi’ah dan merupakan prinsip baginya.
3. Dilihat dari dimensi waktu memang sudah cukup lama, namun prinsip aqidah terutama bagi seorang intelektual, tidak akan mudah hilang/dihilangkan atau berubah, terutama karena keyakinannya diperoleh berdasarkan ilmu dan pengetahuan, bukan ikut-ikutan.
4. Saya bersedia mengangkat sumpah dalam kaitan ini dan pernyataan ini saya buat secara sadar bebas dari tekanan oleh siapapun.

Pernyataan itu dibuat Osman Ali Babseil sepuluh tahun lalu (Maret 1998), namun hingga kini masih relevan, karena Quraish Shihab pun hingga kini terbukti masih menyebarluaskan doktrin Syi’ah.

Ke-Syi’ah-an Quraish Shihab juga terlihat ketika ia meluncurkan Ensiklopedi Al-Qur’an: Kajian Kosa Kata dan Tafsirnya, yang diterbitkan oleh Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal bekerjasama dengan Yayasan Bimantara (2007). Salah satu indikasinya, dalam Ensiklopedi itu terlalu gandrung menggunakan tafsir Syi’ah Al Mizan karangan Tabataba’i sebagai referensi dalam penulisan entri. Bahkan dapat dikatakan, rujukan utama Ensiklopedi ini adalah tafsir Syi’ah yang memberikan penafsiran terhadap Al-Qur’an sesuai dengan pemahaman aliran Syi’ah yang memusuhi sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Contoh lain ketika ia menerbitkan buku berjudul Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Pada buku itu antara lain dikatakan, bahwa di antara Sunnah-Syi’ah terdapat kesamaan dalam prinsip-prinsip ajaran, sedang dalam rinciannya terdapat perbedaan. Namun persamaannya jauh lebih banyak. Ini bisa dilihat dari masalah keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari kemudian, ketaatan kepada Rasul dan mengikuti apa yang dinilai sah bersumber dari beliau, serta melaksanakan Rukun Islam yang lima.

Benarkah demikian?

Dalam buku Syi’ah sendiri dinyatakan: Abi Abdullah berpesan; sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan Imam, diberikannya kepada yang dikehendakinya dan ditolaknya bagi yang tak diingininya. Ini kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada Imam. Sebagaimana ditulis oleh Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitab Ushul Kafi, khususnya pada bab yang berjudul Bumi Seluruhnya Adalah Milik Imam.

Salah satu ulama Syi’ah lainnya, Jakfar as-Shadiq diklaim mengatakan:
“Yang punya bumi adalah Imam, maka apabila Imam keluar kepadamu cukuplah akan menjadi cahaya (nur). Manusia tidak akan memerlukan matahari dan bulan.” (lihat Tarjumah Maqbul Ahmad, hal. 339). Tarjumah Maqbul Ahmad. (bahasa Urdu) hal. 339. Diterjemahkan secara harfiyah.

Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan dalam Al-Qur’an, surat al-Araf:
إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (QS Al-A’raf: 128)

Menurut Quraish pula, secara bahasa Suni atau Sunah berarti perilaku atau tindakan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Syi’ah berarti mengikuti, maksudnya adalah menjadi pengikut Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, semua Sunah adalah Syi’ah, dan semua Syi’ah adalah Sunah. Karena mereka yang mengikuti perilaku Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam adalah pengikutnya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam dan begitu juga sebaliknya.

Padahal, makna Syi’ah adalah pengikut (‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu). Quraish jelas telah memanipulasi makna Syi’ah. Kalau Sunnah dan Syi’ah tidak ada perbedaan, tentu tak perlu repot-repot mengidentifikasikan dirinya dengan nama yang berbeda. (lihat tulisan berjudul Ahmadiyah, Syi’ah dan Liberal, April 7, 2008 2:30 am).

Penyimpangannya dalam Masalah Jilbab

Selain berpaham Syi’ah militan, Quraish Shihab juga berbanjar bersama-sama dengan sejumlah orang yang menempatkan berjilbab (menutup aurat) pada posisi khilafiah, sebagaimana ditulisnya dalam sebuah buku berjudul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer di tahun 2006.

Menurut Quraish, ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Selain itu, ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy yakni dugaan semata. Quraish juga bersikap, bahwa adanya perbedaan pendapat para pakar hukum tentang batasan aurat adalah perbedaan antara pendapat-pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam konteks situasi zaman serta kondisi masa dan masyarakat mereka, serta pertim-bangan-pertimbangan nalar mereka, dan bukannya hukum Allah yang jelas, pasti dan tegas.


Sikap seperti itu jelas menepis Al-Qur’an. Sebab, Allah sudah secara tegas berfirman melalui surat Al-Ahzaab ayat 59:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(59)
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS Al-Ahzab/ 33: 59).

Sedangkan berkenaan dengan batasan aurat, sudah secara tegas difirmankan melalui surat QS An Nuur ayat 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(31)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur/ 24: 31).

Sebab turunnya ayat ini, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Asma’ binti Murtsid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya, demikian juga dada dan sanggul-sanggul mereka. Berkatalah Asma’: langkah buruknya (pemandangan) ini. Turunlah ayat ini (S.24:31) sampai عَوْرَاتِ النِّسَاءِ auratinnisa (aurat wanita) berkenaan dengan peristiwa tersebut yang memerintahkan kepada Kaum Mu’minat untuk menutup aurat mereka. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin Abdillah.)

Sebab turunnya ayat (penggalan selanjutnya QS 24: 31) ini, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang wanita membuat dua kantong perak yang diisi untaian batu-batu mutu manikam sebagai perhiasan kakinya. Apabila ia lewat di hadapan sekelompok orang-orang, ia memukul-mukulkan kakinya ke tanah sehingga dua gelang kakinya bersuara beradu

. Maka turunlah kelanjutan ayat ini ( S. 24 : 31, dari وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ “wala yadlribna bi arjulihinna” sampai akhir ayat) yang melarang wanita menggerak-gerakan anggota tubuhnya untuk mendapatkan perhatian laki-laki. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Hadhrami). (KHQ Shaleh dkk, Asbabun Nuzul, CV Diponegoro, Bandung, cetakan 7, tt, hlm 356).
_________________________________________________
Fatwa-fatwa tentang jilbab.
Mari kita bandingkan pendapat Quraish Shihab tersebut di atas dengan fatwa-fatwa berikut ini.

1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh berfatwa :
Bahwa wanita itu adalah aurat, diperintahkan untuk berhijab dan menutup. Dan dilarang tabarruj (membuka aurat yang diperintahkan untuk ditutupi, atau berhias dan bertingkah laku untuk dilihat lelaki) dan dilarang memperlihatkan perhiasannya, kecantikannya, dan bagian-bagian tubuh yang menimbulkan fitnah. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59, QS An-Nur: 31, dan QS Al-Ahzab: 33.
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS Al-Ahzab/ 33: 33). (Fatawa dan surat-surat Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh juz 2/ halaman 124).

2. Fatwa dari Qitho’il Ifta’ di Kuwait:
Wajib atas perempuan muslimah sejak umur baligh untuk menutup seluruh badannya selain wajah dan dua tapak tangannya. Hal itu apabila ia keluar dari rumahnya atau adanya laki-laki bukan mahramnya, maka tidak boleh bagi perempuan muslimah menampakkan kepada lelaki ajnabi (bukan mahramnya) sebagian tubuhnya seperti: rambutnya, atau lehernya, atau hastanya (lengan/ dzira’) atau betisnya yang oleh sebagian wanita muslimah biasa terbuka pada masa kini menirukan orang bukan Islam. Apabila wanita muslimah menampakkan sebagian dari tubuhnya itu maka sungguh dia telah berbuat haram yang telah pasti haramnya.

Dalil atas wajibnya wanita menutup seluruh badannya selain wajah dan dua tapak tangan adalah nash-nash yang banyak dari Al-Qur’anul karim dan sunnah Nabi yang shahih. Di antaranya firman Allah Ta’ala dalam QS An-Nur: 31.

Maksud dari firman-Nya
إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

 (kecuali yang (biasa) nampak daripadanya) adalah wajah dan dua tapak tangan. Sebagaimana hal itu telah ditunjukkan oleh As-Sunnah dan atsar dari sahabat.

Maksud dari firman-Nya
{وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ}

 (Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya), adalah hendaknya wanita melabuhkan kerudung yakni tutup kepalanya dimana agar menutup jaibuts tsaub yaitu bukaan leher.

Oleh karena itu Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(59)

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS Al-Ahzab/ 33: 59).

Dan dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لا يَصْلُحُ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى كَفِّهِ وَوَجْهِهِ (أخرجه أبو داود (4/62 ، رقم 4104) ، والبيهقى فى السنن الكبرى (7/86 ، رقم 13274) . وأخرجه أيضًا : فى شعب الإيمان (6/165 ، رقم 7796) ). - ( ضعيف ) وصححه الشيخ الألباني في صحيح سنن أبي داود وقال في الترغيب والترهيب : ( حسن لغيره برقم 2045)

Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita apabila telah sampai haidh maka tidak pantas untuk dilihat daripadanya kecuali ini dan ini, dan beliau menunjuk ke telapak tangan beliau dan wajah beliau. (HR Abu Dawud, dan Al-Baihaqi, dhaif, tetapi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, dan dihasankan lighoirihi dalam At-Targhib wat Tarhib).

Atas dasar yang demikian itulah maka telah terjadi ijma’ ulama ummat sejak zaman Nabi, maka siapa yang menganggap bolehnya wanita muslimah di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) membuka rambutnya atau lehernya atau semacamnya dari apa-apa yang diperintahkan untuk ditutupnya, maka sungguh telah menyelisihi Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’, dan telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fatawa Qitha’il Ifta’ bil-Kuwait juz 6 halaman 223-224).

Kembali ke sikap dan pemahaman yang dihembuskan Quraish Shihab :

Anak perempuan Quraish Shihab, Najwa Syihab (penyiar televisi swasta?), dalam salah satu edisi majalah buatan kelompok yang dekat dengan liberal, menjadi gambar sampul, dengan tulisan mencolok, terhormat tanpa memakai jilbab. Dia menganggap, jilbab tidak wajib, dan dia mengaku bahwa itu mengikuti fatwa bapaknya.

Begitulah watak Quraish Shihab, terhadap urusan yang sudah jelas landasannya saja ia masih berani membantah Kebenaran. (haji/tede).
الفتاوى:

1- أَن المرأَة عورة، ومأْمورة بالاحتجاب والستر. ومنهية عن التبرج وإِظهار زينتها ومحاسنها ومفاتنها، قال الله تعالى: (*) الآية(1). وقال تعالى: (*)(2). وقال تعالى: (*)(3).

(1) سورة الأحزاب آية 59 .

(2) سورة النور آية 31 .

(3) سورة الأحزاب آية 33 .

)فتاوى ورسائل محمد بن إبراهيم آل الشيخ - (ج 2 / ص 124)(

2- يجب على المرأة المسلمة منذ سنّ البلوغ أن تستر جميع بدنها ما عدا الوجه والكفين ، وذلك إذا خرجت من بيتها أو كانت بمحضر رجال من غير محارمها ، فلا يجوز لها أن يظهر منها للرجال الأجانب عنها شئ من شعرها أو رقبتها أو ذراعيها أو ساقيها ممّا اعتادت بعض النساء المسلمات كشفه في هذا العصر تقليداً لغير المسلمات ، فإن ظهرت المرأة المسلمة شيئاً من ذلك فقد فعلت محرما مقطوعاً بتحريمه.

والدليل على وجود ستر المرأة جميع بدنها ما عدا الوجه والكفين نصوص كثيرة من القرآن الكريم ، والسنة النبوية الصحيحة منها قول الله تعالى :{وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلاّ ما …ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن ولا يبدين زينتهن إلاّ لبعولتهن أو آبائهن أو آباء بعولتهن أو أبنائهن أو أبناء بعولتهن أو إخوانهن أو بني إخوانهن …أو نسائهن أو ما ملكت أيمانهن أو التابعين غير أولى الإربة من الرجال أو الطفل الذين لم يظهروا على عورات النساء ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون}(سورة النور الآية رقم 31)، والمراد بقوله تعالى في هذه الآية{إلاّ ما ظهر منها}هو الوجه والكفان. كما دلتّ على ذلك السنة والآثار عن الصحابة والمراد بقوله تعالى:{ولْيضربْن بخُمُرهن على جيوبهن}أن تلوي المرأة الخمار وهو (غطاء الرأس ) بحيث يستر جيب الثوب وهو ( فتحة العنق ) ومن ذلك قول الله تعالى{يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن …يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفوراً رحيماً}(سورة الأحزاب الآية رقم59 ) ومن السنة النبوية قول الرسول صلى الله عليه وسلم ( يا أسماء إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يُرى منها إلا هذا وهذا ، وأشار إلى الوجه والكفين ) رواه أبو داود عن عائشة رضى الله عنها.

Perkataan Para Imam Terdahulu tentang Rafidhah (Syi'ah)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata : “Dan sungguh telah sepakat ahli ilmu dalam bidang naqal, riwayat dan sanad, bahwasanya Rafidhah adalah yang paling pendusta dari kalangan kelompok-kelompok (yang sesat), berbohong terdapat dalam diri mereka sudah sejak lama, oleh karena inilah para imam-imam Islam metitelkan keistimewaan mereka dengan sering (banyak) berdusta.

Asyhab bin Abdul Aziz telah berkata : Imam Malik telah ditanya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab : Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah mengambil riwayat dari mereka, sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (pembohong).

Dan berkata Imam Malik : orang yang mecaci maki para sahabat Rasulullah, maka ia tidak berhak mendapatkan nama, atau tempat di dalam Islam.

Berkata Ibnu Katsir di dalam firman Allah (yang artinya) :

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku'dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min)”. [Al Fath : 29].

“Dari ayat ini, maka Imam Malik menyimpulkan di dalam satu riwayat darinya, dengan mengkafirkan orang-orang rafidhah dimana mereka membenci para sahabat, beliau berkata : “Karena para sahabat menjengkelkan hati mereka (orang-orang rafidhah), barangsiapa yang dijengkeli oleh para sahabat maka ia adalah kafir oleh ayat ini”.

Al Qarthubi telah berkata : “Sungguh Imam Malik telah berbuat baik dalam ucapannya dan ia telah benar dalam menafsirkannya, maka barangsiapa mencela seorang saja dari mereka atau mencela riwayatnya maka ia sungguh telah membantah Allah Rabb semesta alam, dan telah menggugurkan syari’at-syari’at kaum muslimin.” [Ushul Madzhab As Syi’ah Al Imamiyah Al Itsna Asyara, oleh Dr. Nashir AL Qafaari, 3/1250]

Abu Hatim telah berkata : “ Telah menceritakan kepada kami Harmalah, ia berkata : Saya telah mendengar Imam Syafi’i berkata : “Saya belum pernah melihat seseorang yang lebih mudah bersaksi dengan kepalsuan daripada Rafidhah”.

Muammil bin Ahab telah berkata : “Saya telah mendengar Yazid bin Harun berkata : “Ditulis (riwayat hadits) dari setiap pelaku bid’ah bila tidak mengajak ke bid’ahnya, kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka itu pendusta.”

Dan Muhammad bin Sa’ad Al Ashbahaani telah berkata : “Saya telah mendengar syeikh Syuraik berkata : “Ambillah ilmu itu dari setiap orang yang kamu jumpai kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka membuat-buat (memalsukan) hadits, dan mereka menjadikan hal itu sebagai agama”. Syuraik ini adalah Syuraik bin Abdullah Qodhi (hakim) kota Kufah.

Mu’awiyah telah berkata : “Saya telah mendengan Al ‘Amasy berkata : Saya menjumpai sekelompok manusia, dan mereka tidaklah menyebutkan tentang mereka (rafidhah) kecuali (digolongkan kepada) orang-orang sangat pembohong”, maksudnya (mereka pembohong itu) adalah pengikut Al Mughirah bin Sa’id yang bermadzhab rafidhah lagi pendusta, seperti yang disifati oleh imam Adz Dzahabi. [Minhaajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Timiyah, 1/59-60]

Syeikhul Islam telah berkata dalam mengomentari apa yang dikatakan oleh para imam salaf : “Dan adapun Rafidhah asal usul bid’ah mereka diambil dari Zindiq dan kufur serta unsur kesengajaan, kebohongan banyak sekali di tengah-tengah mereka, dan mereka mengakui hal itu, dengan mengatakan : Agama kita adalah Taqiyah, yaitu salah seorang dari mereka mengucapkan dengan lidahnya berbeda dengan apa yang ada di hatinya. Dan inilah hakikat kebohongan dan kemunafikan, maka mereka dalam hal itu sebagaimana pepadah : “Ia telah melemparku dengan penyakitnya lalu ia lari”. [Minhaajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Timiyah, 1/68]

Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal : Saya telah bertanya kepada bapakku tentang Rafidhah, maka ia mengatakan : “Yaitu orang-orang yang mencaci maki atau mencela Abu Bakr dan Umar”. Dan Imam Ahmad ditanya tentang Abu Bakr dan Umar, maka ia menjawab : Doa’kanlah mereka berdua agar diberi rahmat, dan berlepas dirilah dari orang yang membenci mereka berdua”. [Al Masail dan Al Rasail Al Mawiyah ‘An Imam Ahmad bin Hambal, oleh Abdul Ilah bin Sulaiman Al Ahmadi, 2/357]

Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, ia berkata : Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr dan Umar serta ‘Aisyah, maka ia berkata : “Saya tidak memandangnya di dalam Islam (artinya orang yang mencaci itu telah keluar dari Islam -pent.). [As Sunnah oleh Khalal 3/493. Ini merupakan pernyataan yang jelas dari imam Ahmad dalam menghukum kafir orang Rafidhah]

Al Khallal meriwayatkan, ia berkata : Saya telah diberi tahu oleh Harb bin Ismail Al Karmaani, ia berkata : Telah bercerita kapada kami Musa bin Harun bin Ziad, ia berkata : saya telah mendengar Al Firyaabi sedangkan seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr, ia berkata : Kafir. Lalu ia berkata lagi, apakah disolatkan? Ia berkata: Tidak.

Ibnu Hazam telah berkata : tentang Rafidhah tatkala ia berdebat dengan orang Kristen, dan orang-orang memberikan kepadanya kitab-kitab Rafidhah untuk bantahan terhadapnya (Ibnu Hazam dan berkata) : sesungguhnya Rafidhah bukanlah kaum muslimin, dan perkataan mereka bukanlah argumen terhadap agama, akan tetapi Rafidhah itu hanyalah suatu golongan, mula terjadinya kira-kira duapuluh lima tahun setelah Nabi Wafat, dan permulaannya adalah merespon pangilan orang yang hampir masuk islam dari orang-orang yang dihina Allah. Rafidhah itu adalah kelompok yang berjalan atas jalan ajaran Yahudi dan Nasrani dalam kebohongan dan kekufuran.” [Al Fashlu Fi Al Milal wa An Nihal, oleh Ibnu Hazam 2/78]

Abu Zur’ah Ar Raazi berkata : “Bila kamu melihat seseorang yang mencaci salah seorang dari para sahabat Rasulullah, maka ketahuilah sesungguhnya dia itu Zindiq.”

Lajnah Daimah Lil Ifta (Lembaga Tetap untuk Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya dengan satu pertanyaan, dalam pertanyaan itu penanya mengatakan bahwa ia dan sekelompok teman bersamanya berada di perbatasan utara berdekatan dengan cek point negara Iraq. Di sana ada sekelompok penduduk yang bermadzhab Al Ja’fariyah, dan diantara mereka (kelompok penanya) ada orang yang enggan untuk memakan sembelihan penduduk itu, dan diantara mereka ada yang makan, maka kami bertanya : Apakah halal bagi kami untuk memakan sembelihan mereka, ketahuilah sesungguhnya mereka berdoa minta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta seluruh pemimpin-pemimpin mereka di dalam keadaan sulit dan keadaan lapang ? Lalu Lajnah (lembaga) yang diketuai oleh Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz dan anggota-anggotanya: Syeikh Abdul Razaq ‘Afifi, Syeikh Abdullah bin Ghudayan, dan Syeikh Abdullah bin Qu’uud, semoga Allah memberi pahala kepada mereka semua.

Jawabannya :

Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga dianugerahkan kepada rasul-Nya dan keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya, dan adapun selanjutnya :

Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh penanya, bahwa sesungguhnya jamaah (kelompok) yang memiliki ajaran Ja’fariyah, mereka berdo’a dan meminta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta pemimpin-pemimpin mereka, maka mereka itu adalah orang-orang musyrik murtad, kelaur dari agama Islam, semoga Allah melindungi kita dari itu, tidaklah halal memakan sembelihan mereka, karena sembelihan itu adalah bangkai, walaupun mereka menyebut nama Allah saat menyembelihnya.” [Fatwa Lajnah Daimah Lil Ifta, 2/264]

Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin ditanya, soal itu berbunyi : wahai syeikh yang mulia, di negeri kami terdapat seorang rafidhah (bermadzhab syi’ah rafidhah) bekerja sebagai tukang sembelih, maka ahlusunnah datang kepadanya untuk menyembelih sembelihan mereka, dan begitu juga sebagian rumah makan, bekerja sama dengan orang rafidhah ini, dan dengan rafidhah lainnya yang berprofesi sama, apakah hukumnya bertransaksi atau berkoneksi dengan orang rafidhah ini dan semisalnya? Apakah hukum sembelihannya, apakah sembelihannya halal atau haram, berikanlah kepada kami fatwa, semoga syeikh diberi pahala oleh Allah.

Jawabannya :

Tidaklah halal sembelihan orang rafidhah, dan juga memakan sembelihannya, sesungguhnya orang rafidhah pada umumnya adalah orang-orang musyrik, dimana mereka selalu menyeru Ali bin Abi Thalib di waktu sempit dan lapang, sampai di Arafah dan saat tawaf dan sa’i, mereka juga menyeru anak-anak beliau dan imam-imam mereka seperti yang sering kita dengar dari mereka, perbuatan ini adalah syirik akbar dan keluar dari agama Islam yang berhak dihukum mati atasnya.

Sebagaimana mereka sangat berlebih-lebihan dalam menyifati Ali, mereka menyifati beliau dengan sifat-sifat yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah, sebagaimana kita mendengarnya dari mereka di Arafah, dan mereka disebabkan perbuatan itu telah murtad, yang mana mereka telah menjadikannya sebagai Rabb, Sang Pencipta, dan Yang mengatur Alam, Yang mengetahui ghaib, yang menguasai kemudaratan dan manfaat, dan semisal itu.

Dan sebagaimana mereka mencela Al Quran, mereka mendakwakan bawah para sahabat telah merubah, menghilangkan dari Al Quran ayat-ayat yang banyak berhubungan dengan Ahlu Bait dan musuh-musuh mereka, lalu mereka tidak berpedoman kepada Al Quran dan mereka tidak memandangnnya sebagai dalil dan argumen.

Sebagaimana mereka mencela pemuka-pemuka sahabat, seperti tiga orang khalifah rasyidin, dan selain mereka dari orang yang diberi kabar gembira jaminan masuk surga, para umul mukminin (istri-istri rasulullah), para sahabat yang terkenal, seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan semisalnya, maka mereka tidak menerima hadits-hadits para sahabat tersebut, karena mereka itu orang kafir menurut dakwaan mereka, mereka tidak mengamalkan hadits-hadits di Bukhari Muslim kecuali yang berasal dari Ahlu Bait. Mereka bergantung dengan hadits-hadits palsu atau hadits-hadits yang di dalamnya tidak ada bukti atas apa yang mereka katakan. Akan tetapi walaupun demikian, mereka itu adalah bersikap munafik, maka mereka mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada pada hati mereka (yang tidak mereka yakini), mereka menyembunyikan di diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan kepadamu, mereka berkata : barangsiapa tidak bersikap taqiyah (nifaq) maka tidak ada agama baginya. Maka dakwaan mereka itu tidak bisa diterima dalam ukhwah persaudaraan, dan dakwaan mereka akan cinta syari’at… dan seterusnya. Sikap nifaq adalah merupakan akidah bagi mereka. Semoga Allah menjaga (kita) dari kejelekan mereka, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam keada Muhammad, dan keluarga beliau serta para sahabatnya.

Fatwa ini keluar dari syeikh setelah dilontarkan kepada beliau suatu soal yang berhubungan dengan sikap bergaul sama orang rafidhah pada tahun 1414 H, dan penyusun ingin menerangkan sekitar apa yang terdengar bahwa syeikh Abdullah Al-Jibrin –semoga Allah melindunginya- beliau seorang yang mengkafirkan orang-orang Rafidhah, yang benarnya adalah bahwa para imam dari terdahulu sampai belakangan ini mengkafirkan kelompok ini, hal itu disebabkan karena hujjah telah ditegakkan kepada mereka, dan hilangnya uzur kebodohan dari mereka.


__________________________________________________

 “Mengkritik Quraish Shihab secara Ilmiah (Bukti bahwa Quraish adalah seorang syiah)"

Oleh: Adian Husaini

Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang:

“Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)” Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.

Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya.

Cetakan pertamanya keluar pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007. Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk para penulis dari Pesantren tersebut.

Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda.

“Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).

Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan:

“Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”

Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab (selanjutnya Quraish Shihab disingkat “QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat “PPS”). Kutipan dan pendapat QS dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.

1. Tentang Abdullah bin Saba‘.

QS: “Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).

PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah.

Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali radhiyallahu 'anhu setelah wafatnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa alaihisallam Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).

2. Tentang hadits Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan Abu Hurairah :

QS: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menyangkut Nabi shalalahu 'alaihi wasallam berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah radhiyallahu 'anha” (hal. 160).

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).

PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah.

Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ?Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”

Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan, “Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).

Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan :

“Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu seperti ditulis Dr. Quraish Shihab:

“Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).

“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah).

Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ?ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).

Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja.

“Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).

Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh QS:



“Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).

PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafii dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).

3. Tentang pengkafiran Ahlusunnah  :

QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).

PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah.

Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka. Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah…

“Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya :

“Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?”

Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).

Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersama Ahlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).

Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana “Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.

Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ?ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hokum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).

Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260 tahun. Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.

Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.

PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: “Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlusunnah dari serbuan berbagai aliran sesat. Di website www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik “Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme, sekularisme, dekonstruksi syariah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri.”

Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu juga dari berbagai pesantren lainnya. [Depok, 13 Rabiulawwal 1429 H/21 Maret] (aktivis muslim).



Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Tidak Mewariskan Tanah Fadak kepada Faathimah

Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa' : di 08.40 
Label: Syi'ah
Salah satu isu andalan kaum Syi’ah Raafidlah dalam mencerca Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu adalah isu tanah Fadak. Mereka mengklaim Abu Bakrradliyallaahu ‘anhu telah berlaku dhaalim dalam menahan tanah Fadak yang dianggap sebagai warisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Sayyidah Faathimah radliyallaahu ‘anhaa. Jika mereka (Syi’ah) mencukupkan diri pada ‘aqidah mereka dengan mengambil ulama-ulama mereka sebagai hujjah, niscaya kita tidak terlalu ambil pusing – karena kita tidak pernah menjadikan perkataan ulama mereka sebagai ushul hujjah dalam agama. Namun ketika mereka mencoba mengkais hadits-hadits dalam referensi Ahlus-Sunnah, maka kita perlu mencermati keakuratannya.