Friday, February 27, 2015

Islamisasi Nusantara : Syiah Tidak Berperan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj03MCB6kcNymyMOPltDGyIaCUTATaSPnO_-bl4IE6FiMVS3-yJK5N_18pxoZA3JFewWlFrekSP2Q_uDOaFzVRFjOKJbcCCqRfABFTD1zzJil00fA8z6HMy5Y3NDhZ9FcWv5sK5G9xvjGQ/s1600/islamisasi+nusantara_2.jpgSejarah merupakan salah satu disiplin ilmu yang unik lagi menarik untuk terus digali, dipahami, dan disiarkan pada khalayak ramai. Tak terkecuali sejarah masuknya Islam di kepulauan Nusantara yang di dalamnya termasuk negara Indonesia. Oleh karena itulah para peneliti seakan berkompetisi untuk mengkaji sejarah islamisasi Nusantara dari masa ke masa yang tak jarang melahirkan polemik yang tidak berkesudahan disebabkan perbedaan pendapat mengenai siapa, kapan, bagaimana, serta apa saja faktor-faktor pendoronga terjadinya islamisasi secara massal. Dari perbedaan pendapat itulah melahirkan –dalam istilah Azyumardi Azra—sebagai ‘teori’.

Sejarah sebagai catatan, laporan, prasasti, berita,khabar atau hadits adalah medan tempur kepentingan-kepentingan, ideologi-ideologi, worldview-worldview, dan misi para penulisnya. Dan pastinya, tidak semua penulis sejarah itu jujur dan teguh berpegang pada kebenaran. Sebagian mungkin tidak mengerti atau tidak mau tahu dan sengaja mengabaikannya, sebagian lainnya bahkan ‘menggunting’ kebenaran tersebut dan menyulamnya dengan kebatilan sehingga kaburlah pandangan orang dan rancu serta kelirulah antara fakta dan fiksi, antara hakikat dan khayalan, antara sejarah dan mitos antara kenyataan dan ‘isapan jempol’ belaka. (Dr. Syamsuddin Arif, Jurnal Islamia, Volume. VII. No. 2, 2012). Yang jelas, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Hidup memang bergerak ke depan namun hanya bisa dipahami jika kita menoleh ke belakang.

Jalaluddin Rakhmat, intelektual Syiah Indonesia, penebar kesesatan dan penabur caci dan makian terhadap sahabat Nabi, dalam salah satu wawancara yang dilangsir oleh media online www.viva.co.id (02/09/2012), ia menuturkan dengan yakinnya bahwa sebenarnya Syiah telah masuk ke Indonesia sejak awal kedatangan Islam. Pendiri Ijabi yang mengaku-ngaku telah menyelesaikan program doktoralnya di Australian National University, Australia dan telah dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Padjadjaran, Bandung ini, (Rosyidi, Dakwah Sufistik Kang Jalal, 2004),memperkuat argumennya dengan menyebut salah satu contoh ritual tahunan Syiah, seperti ‘tabuk’ yang rutin dilakukan oleh masyarakat Sumatra. Tabuk adalah sejenis peti yang dibuat dari anyaman bambu atau burung-burungan burak yang terbuat dari kayu lalu dibawa berarak pada peringatan terbunuhnya Hasan-Husein setiap tanggal 10 Muharam, (Kamus Besar Basaha Indonesia, 2001). Perayaan tahunan ‘tabuk’ atau ‘tabuik’ mirip dengan ‘ta’ziyeh’ di Iran. Selain itu, Kang Jalal, sapaan akrabnya, secara jujur mengatakan bahwa para penganut Syiah yang telah lebih dulu masuk ke Indonesia ber-taqiyah, sehingga mereka tidak menampakkan ke-Syiah-annya. Secara sederhanataqiyah adalah kondisi luar yang berbeda dengan yang ada dalam hati atau yang sebenarnya alias mengatakan perkataan bukan sesungguhnya (idza hadatsa kazdaba).

Pendapat Jalaluddin Rakhmat di atas harus disanggah dengan hujah yang ilmiah, karena akan membawa dampak psikologis bagi penganut Ahlussunnah secara umum, dan pergolakan Sunni-Syiah secara khusus di Indonesia. Percaya apa yang diucapkan oleh Mahasiswa program doktoral by research UIN Alauddin itu, konsekwensinya, Ahlussunnah di Indonesia harus menerima keberadaan aliran dan ajaran sesat dan menyimpang (heretical and heterodox) Syiah denganlegowo. Alasannya sederhana saja, Syiah sudah lama bertapak di Indonesia.

Pengalaman pribadi penulis turut menjadi pendorong untuk melahirkan artikel ini. Beberapa waktu lalu, salah seorang rekan mengirim pesan singkat (SMS) yang isinya menekankan bahwa pada dasarnya Islam yang pertama kali ke Indonesia adalah Islam-Syiah minus imamah. Benarkah demikian? 

Bagaimana islamisasi bermula?

Adalah Christiaan Snouck Hurgronje (w.1936), orientalis kesohor sekaligus penasehat kolonial Belanda berpendapat bahwa Islam tiba di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, yakni setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serbuan tentara Mongol secara sporadis dan biadab pada tahun 1258 M. Pendapat klasik dan jamak diamini oleh bangsa Indonesia ini didasarkan pada catatan yang terdapat pada batu nisan kubur Sultan Malik As-Shalih bertahun 696 H atau 1297 M, dalilnya ditambah dengan warta perjalanan Marco Polo yang sempat singgah di Sumatra pada  tahun 1292 M dan mencatat ramainya rakyat kerajaan Perlak telah memeluk Islam, (Marco Polo, Chathay and the Way Thither, 1866). Logika yang dibangun Hurgronje sederhana saja: kalau Islam memang sudah bertapak sebelum abad ke-13 Masehi, kenapa tidak ada bukti tertulis kongkrit atau empiris? Ketiadaan bukti adalah bukti ketiadaan, menurut orientalis yang pernah nyantri di Masjidil-Haram Mekkah ini.

Namun tesis Hurgronje di atas telah terpatahakan karena belakangan dijumpai di daerah  Leran, Gresik Jawa Timur sebuah batu nisan seorang yang bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatillah dengan tulisan Kufi bertahun 495 H/1102 M, bacaan lain menyatakan 475 H/1082 M. Dengan sendirinya pendapat Hurgronje gugur, dan dapat dipastikan jika Islam masuk Indonesia sebelum tahun 1082 M.  (S.M. Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011).

Pendapat yang kini disepakati secara umum oleh para sejarawan mutakhir, yang dalam istilah Syamsuddin Arif sebagai “revisionis”, manyatakan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Nusantara sejak awal abad ke-7 Masehi, tepatnya sejak zaman Khulafa ar-Rasyidin kurun pertama Hijriah. Pendapat yang kini diyakini mayoritas sarjana muslim ini didukung oleh data-data sejarah yang banyak, di antaranya, warta dari Cina zaman Dinasti T’ang (618-907 M) yang menyebut orang-orang Ta-Shih (Arab) mengurungkan niat mereka menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah Ratu Sima (674 M), maka beberapa ahli menyimpulkan bahwa orang-orang Islam dari tanah Arab sudah berada di Nusantara –diperkirakan Sumatra- pada abad ke-7 Masehi, (Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi, 2000).

Bukti lain juga diungkapkan oleh Ibrahim Bushori, merujuk angka tahun yang terdapat pada batu nisan seorang ulama bernama Syaikh Rukhnuddin di Baros, Tapanuli, Sumatra Utara, dimana tertulis tahun 48 H/670 M. Ada kemungkinan bahwa “kapur Barus” telah dikenal dan diekspor sampai ke Mesir untuk menghilangkan bau busuk mayat. Beberapa sejarawan seperti Hamka dan Al-Attas percaya bahwa lafaz “kaafuur” yang disebut Alquran (86:5) adalah kapur dari Baros. Maka tak salah jika disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara sejak abad pertama Hijriah, atau abad kedatangannya di jazirah Arabia. Dan bukan mustahil pula jika Rasulullah SAW sebagai manusia bertindak sesuai anjuran wahyu telah mengutus para sahabatnya untuk berangkat berdakwah ke Nusantara, (Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011).

Bahkan dikemudian hari, telah dijumpai bukti-bukti historis hubungan diplomatik internasional kerajaan Sriwijaya dengan penguasa di era Bani Umayyah, antara lain adalah dua pucuk surat. Surat pertama, sebagaimana ditulis oleh seorang ilmuan Arab bernama Al-Jahiz (163-255 H/783-869 M) yang di antara karyanya adalah Kitab Al-Hayawan, bahwa sepucuk surat ditujukan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan (41 H/661 M). “Dari Raja Al-Hind [Kepulauan India] yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, dan istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan memiliki dua sungai besar [Musi dan Batanghari] yang mengairi pohon gaharu, kepada Mu’awiyah...” Surat kedua jauh lebih jelas, dialamatkan kepada Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-20 M), surat menunjukkan betapa hebatnya Maharaja Sriwijaya dan kerajaannya, “Dari Raja di Raja [Malik Al-Amlak=Maharaja]; yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala, dan kapur barus, yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab [Umar bin Abdul Aziz], yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan tentang hukum-hukumnya”. (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, 1994). 

Pendapat revisionis ini juga didukung oleh Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad ibn Talib Ad-Diamsyqi (w.1327 M) alias Syaikh Ar-Rabwah dalam kitabnya, Nukhbat ad-Dahr fi ‘Aja’ib al-Barr wal-Bahr, yang menulis bahwa Islam telah masuk ke Nusantara melalui Champa (Kamboja dan Vietnam) sejak zaman Khalifah Usmn bin Affan, atau sekitar tahun 30 H/651 M alias abad ke-7 Masehi. 

Teori islamisasi

Selain tahun, jalur atau rute islamisasi Nusantara juga menjadi bagian penelitian yang melahirkan perdebatan, penulis mencoba memaparkan teori islamisasi yang dimunculkan oleh para peneliti. Teori Gujarat: Islam dibawa masuk ke Nusantara oleh saudagar-saudagar dari Gujarat, India. Jadi orang-orang Islam yang menyebarkan agamanya di Indonesia tidak langsung datang dari negeri Arab, sebab unsur-unsur keislaman di Indonesia yang mirip dengan India, seperti cerita-cerita rakyat dalam bahasa-bahasa yang ada di Nusantara tidak ada di Arab namun berasal dari India. Dikatakan pula bahwa kebiasaan muslim di Indonesia menunjukkan beberapa kesamaan dengan kebiasan penganut Syiah di Pantai Malabar dan Karomandel. Selain itu, berdasarkan kisah perjalanan seorang pelaut bernama Sulayman tahun 851 M serta catatan Marco Polo dan Ibnu Batutah yang transit di Sumatra pada abad ke-14 Masehi. Maka disimpulkanlah jika kedatangan Islam pasti melalui jalur perdagangan dari Teluk Persia ke Pantai Barat India, lalu dari Gujarat dan Malabar masuk ke Nusantara. Pendapat ini dipegang oleh Hurgronje, dan diterima luas oleh sejarawan seperti R.A. Kern, Stapel, H.J.Van den Bergh, H. Kroeskamp, hingga Rosihan Anwar, (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil ‘petite histoire’ Indonesia, 2009). Pendapat di atas seakan telah menjadi kesepakatan umum hingga akhirnya seorang orientalis bernama G.E. Morrison menunjukkan kekeliruan dan beberapa kejanggalan faktual. Menurut Morrison, tidak mungkin Islam di Nusantara berasal dari propinsi Gujarat, sebab Marco Polo menceritakan Cambay pada tahun 1293 sebagai kota Hindu, sementara Gujarat baru jatuh ke tangan Islam pada tahun 1297 M. Selain itu di Gujarat mazhab syafi’i tidak dominan dan cerita-cerita rakyat Aceh lebih diwarnai rasa Tamil daripada Hindi, (Armando Cortesao [Ed.], The Suma Oriental of Tome Pires, 1990).

Teori Persia. Bahwa Islam di Nusantara dibawa masuk oleh para pendatang dari Persia dengan dalih dan dalil banyaknya data-data sejarah yang kuat mengenai pelayaran orang-orang Persia ke India via Nusantara ke Cina bahkan sejak zaman pra-Islam, (Hadi Hasan, A History of Persian Navigation, 1928). Pemberita Cina, Yuan-Tchao, dalam Tcheng-yuan-sin-ting-che-kiao-mou-lou yang ditulisnya pada awal bada ke-9 mencatat bahwa pada tahun 99 H/717 M ada sekitar 35 kapal dari Persia tiba di Palembang. Selain itu, data linguistik juga menguatkan dugaan bahwa penyebaran Islam datang dari rute Persia, tidak sedikit kata dalam bahasa Melayu-Indonesia yang berasal dari bahasa Persia, seperti, ‘bandar’, ‘syah’, ‘pasar’, ‘penjara’, ‘gandum’, dst., (Ahmad Kazem Mossavi, Kehadiran Tasawuf-Persia dalam Literatur Nusantara [Malaysia-Indonesia], Jurnal Islamia, Vol. II. No. 3/Desember 2005). Bahkan istilah “Zibrad” dalam bahasa Persia bermakna “Negeri di Bawah Angin” alias “Toddang Anging” dalam bahasa Bugis, merupakan frasa navigasi yang dipakai pelaut dari teluk Persia menuju Benggala, dan kepulauan Nusantara.  Hasil penelitian ini di kemukakan oleh G.E. Morrison. Namun masih kabur, apakah Islam yang datang ke Nusantara melalui Persia itu versi Syiah atau Sunni. Dijawab oleh Al-Attas bahwa ajaran Syiah di Persia baru mulai berkembang  abad ke-17 M ketika Syah Ismail Safawi memerintah Iran  bukan sebelumnya, ( Wan Daud, Budaya Ilmu, Satu Penjelasan, 2007). Tegasnya: jika memang Islam melewati rute Persia, maka dipastikan kalau penganut Ahlussunnah yang menjadi penyebarnya, bukan Syiah. Tesis Al-attas sekaligus membuyarkan dugaan spekulatif Jalaluddin Rakhmat bahwa Syiah sedari awal telah berada di Nusantara, dan mereduksi dongeng orang awam bahwa Islam Indonesia pada awalnya adalah Syiah minus imamah.  

Teori Benggala. Islam masuk ke Nusantara melalui rute Benggala, pendapat ini dimunculkan oleh S. Qadarullah Fatimi yang berdasar pada laporan Tome Pires (1512-1515), berita-berita Cina, serta unsur tasawuf yang terdapat di Indonesia dan Malaysia. Menurut Fatimi, pendiri kerajaan Islam pertama di Aceh adalah Merah Silau yang berasal dari Benggala. Kesimpulan ini diambilnya dari catatan perjalanan Tome Pires yang mengabarkan bahwa raja-raja di Sumatra pada waktu itu telah beragama Islam. Petunjuk lainnya adalah, kebiasaan orang Nusantara memakai kain “sarung” yang dikatakan sama dengan kebiasaan orang Benggala. (S.Qadarullah Fatimi, Islam Comes to Malaysia, 1963). 

Teori Mesir. Karena Islam yang diamalkan di Nusantara bercorak Sunni-Syafi’i, maka ada kemungkinan asalnya dari negeri Mesir, karena negeri inilah yang terbanyak pengikut Syafi’i-nya, dan di sana pula Imam Syafi’i (w.204 H) tutup usia. Pendapat ini dilontarkan oleh S. Keyzer, profesor hukum ketimuran dari Belanda. Tapi Keyser langsung dibantah oleh G.W.J Drewes yang menuding bahwa Keyser tidak tahu jika orang Arab yang datang ke Nusantara mayoritas dari Hadramaut, Yamman, dimana mazhab mereka adalah Syafi’i, andai dia tahu, niscaya akan berpendapat bahwa Islam datang ke Nusantara via Yamman, (G.W.J Drewes, New Light on the Coming of Islam to Indonesia, 1985).     

Teori Cina. Islam datang ke Nusantara melalui muslim dari Cina. Sesuai dengan penuturan I-Tsing, seorang agamawan dan pengembara terkenal Cina yang pada tahun 51 H/671 M, dengan menumpang sebuah kapal milik orang Islam dari Kanton, singgah di pelabuhan muara sungai Bhoga atau Sriboga alias Sribuza, nama lain dari sungai Musi di Palembang yang menjadi pusat kerajaan Sriwijaya ketika itu. Pendapat ini dilontarkan oleh Slamet Muljana seorang pakar sejarah dan ahli filologi dari Universitas Indonesia, menurutnya Islam di Nusantara datang, bukan hanya menopoli dari wliayah India dan Timur Tengah tapi juga dari negeri Cina, tepatnya propinsi Yunan. Kedatangan Cheng Ho alias Zheng He alias H. Mahmud Syamsuddin (w.1433) dari Dinasti Ming dengan maksud mengamankan jalur lalu lintas laut dari Cina ke India, Arabia dan Afrika di samping mengadakan hubungan diplomatik pada kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai bukti yang absah, (Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, 2005). Tapi pendapat Muljana di atas dipertanyakan oleh Syamsuddin Arif karena sumber pendapatnya diambil dari  buku sejarah yang tidak resmi seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Kenda yang ditulis pada zaman kerajaan Mataram abad ke-17 yang perlu dipertanyakan keotentikannya karena kitab tersebut bercampur baur antara fiksi dan fakta serta tidak ditopang dengan bukti-bukti keras semacan prasasti. Hal ini juga dibantah oleh Ahmad Mansur Suryanegara, ahli sejarah dari Universitas Padjadjaran Bandung, menurutnya, kesimpulan Muljana sukar diterima, (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, 2009).

Teori Arabia. Diyakini bahwa tersebarnya agama Islam di Nusantara berkat usaha para mubalig dari jazirah Arabia secara sistematis dan kontinuitas. Meski tidak dapat dipastikan waktunya, kapan pertama kali mereka datang berdakwah. Namun banyaknya informasi tentang hubungan sudah berjalin selama berabad-abad antara jazirah Arabia dan Nusantara semenjak pra-Islam menjadikan pendapat ini lebih valid. Dokumen-dokumen kerajaan Cina Dinasti T’ang (618-907)  menyebut tentang kunjungan orang Arab pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Dan tak kala muncul kerajaan Sriwijaya di Sumatra, perairan Nusantara semakin kerap dilalui oleh kapal-kapal dagang dari Arabia dan Persia dalam pelayarannya via India ke Cina. Teori ini diamini oleh Sir John Crawfurd, Thomas Arnold, dan Al-Attas. Alasannya, karena orang Arab yang pertama kali mengajarkan Islam ke Nusantara pastilah bermaszhab Syafi’i yang berada pada kawasan pesisir Arabia tempat mereka mengangkat sauh. Dan memang iya, buktinya penganut Islam yang ada di Nusantara adalah umumnya bermazhab Syafi’i. Teori Arabia ini mengantarkan kita pada kesimpulan di bawah.

Kesimpulan

Seminar Historiografi Islam Indonesia yang diselenggarakan oleh Puslitbang Kementrian Agama RI pada 10-12 Desember 2007 di Cisarua Bogor dan dihadiri oleh para ahli disiplin ilmu terkait, termasuk Azyumardi Azra, Badri Yatim, Maidir Harun, Ahmad Mansur Suryanegara, dan para wakil dari sejumlah perguruan tinggi dan ormas Islam, serta para peneliti. Ditegaskan bahwa agama Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi atau pertama Hijriah, langsung dibawa oleh para ahli agama dari Arabia (Yaman) yang datang ke gugusan pulau-pulau di semenanjung Melayu, seperti Sumatra. Agama Islam sendiri secara resmi masuk ke Yaman melalui seorang sahabat yang diutus langsung oleh Nabi, Mu’az bin Jabal yang sekaligus menjadi gubenur di sana pada tahun 630 M. Bersama para saudagar dari sana pula ulama muablig itu berlayar ke Cina menelusuri kawasan Asia Selatan (India, Benggala) sampai ke Sumatra. Pelayaran mereka sangat bergantung pada angin Barat Laut yang bertiup pada bulan September dan akhir Desember, sehingga mereka harus menunggu dan singgah terlebih dahulu di kawasan Sumatra dan Malaya selama beberapa bulan, sebelum meneruskan pelayaran ke tempat tujuan. Sebagian mereka sengaja datang dan menetap hanya untuk berdakwah. Inilah fakta islamisasi Nusantara sesungguhnya yang ingin dikaburkan oleh para orientalis dan penganut ajaran sesat Syiah. Wallahu A’lam! 


Demi Allah, Jika Abu Bakar Tidak Jadi Khalifah, Allah Tidak Akan Disembah Lagi !

Mungkin ungkapan di atas terlalu berlebihan jika anda baca. Namun jika anda mencoba untuk memahami kisah dan ulasan di bawah ini mudah-mudahan anda bisa berpandangan sama dengan yang tokoh yang mengucapkan perkataan ini. Mari bersama simak ulasan dan kisah di bawah ini,
Di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, kejiwaan para sahabat menjadi goncang. Keadaan berubah menjadi genting, orang munafik di Madinah semakin menjadi-jadi, yahudi dan nasrani riang gembira dan murtadlah gelombang manusia di jazirah arab, baik daerah badui pegunungan maupun perkotaan. Yang lain tidak lagi membayar zakat yang dulu pernah mereka tunaikan kepada pegawa-pegawai sang Nabi tercinta, shalat jum’at tidak lagi didirikan selain di Makkah dan Madinah.
Kondisi ini membuat kaum Muslimin (para sahabat) bagaikan domba yang kehujanan di malam yang gelap gulita. Karena kehilangan Nabi mereka –shallallahu ‘alaihi wasallam-, kondisi ini diperparah karena sedikitnya mereka (hanya di Madinah, Makkah dan Thaif yang hanya ribuan, selain itu jutaan orang di seluruh Jazirah Arab yang baru masuk Islam murtad semua sepeninggal Nabi) yang bisa jadi jutaan orang itu berbalik menyerang secara serentak menyerbu Madinah dan membunuh semua pendudukanya dan habislah riwayat Islam di Bumi ini.
Aisyah radhiyallahu anha menggambarkan kondisi ini dengan mengatakan, “Demi Allah, jika masalah ini berada di pundak saya, niscaya masalah ini jika menimpa gunung yang besar pasti akan menghancurkannya.”
Di tengah kondisi yang sangat dan super genting tersebut, Abu Bakar yang ditunjuk menjadi khalifah kaum Muslimin justru mengambil kebijakan yang ‘memperparah’ kondisi. Pasukan Usamah yang belum berangkat ke Syam menyerang Romawi karena peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan segera diberangkatkan oleh Abu Bakar. Padahal Madinah lebih butuh tentara-tentara tersebut untuk pertahanan. Kondisi di Madinah dan juga di dunia Arab secara umum lebih parah dari sekedar memberangkatkan pasukan besar yang akan ekspansi menyerang daerah di luar Arab.
Bukankah menyerang musuh Islam pada saat kondisi aman itu lebih baik dan lebih strategis?, begitu pandangan para sahabat, terutama Umar bin Khathab yang menolak dengan keras rencana Abu Bakar ini. Sebagian yang lain mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas kaum Muslimin dan bangsa arab memandang secara tidak bagus apa yang engkau pandang, oleh karena itu tidak pantas anda memecah jamaah kaum Muslimin!”
Namun dengan tegas Abu Bakar menolak mentah-mentah semua pandangan sahabat tersebut. Ia mengatakan, “Demi Allah, saya tidak akan melepas ikatan yang telah disimpulkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun burung-burung itu menghujani kita, binatang buas sudah siap memangsa kita di sekeliling Madinah, dan anjing-anjing itu berjalan di kaki-kaki ummahatul mukminin, saya tetap dan pasti akan memberangkatkan pasukan Usamah!”
Setelah itu Allah melapangkan dada para sahabat menerima putusan Abu Bakar tersebut dan pasukan Usamah berangkat.
Apa yang terjadi setelah itu?
Ibnu Katsir menuturkan, “Keluarnya pasukan Usamah pada waktu itu adalah maslahat terbesar pada kondisi yang sangat genting seperti itu, mereka berangkat dan tidak satupun daerah di kawasan Arab yang mereka lalui melainkan dibuat takut dengan pasukan besar yang lewat di hadapan mereka. Mereka pun berkomentar, ‘Tidaklah mereka (pasukan Usamah) keluar dari sebuah kaum melainkan mereka memiliki pasukan besar yang tidak terkalahkan’. Pasukan pun terus melanjutkan ekspedisi ini dan menghabiskan waktu 40 hari, atau ada yang berkata 70 hari, kemudian mereka kembali dengan selamat dan menang mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) yang sangat banyak. Setelah itu Abu Bakar menyiapkan kaum Muslimin yang lain bersama pasukan yang baru kembali tersebut untuk memerangi kaum Murtad dan yang menolak membayar zakat”
Karena itu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Baihaqi, Abu Hurairah memuji Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan mengatakan, “Demi Allah, Dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, jika seandainya Abu Bakar tidak dijadikan Khalifah, niscaya Allah tidak lagi disembah” beliau mengulanginya untuk yang kedua dan mengulanginya lagi untuk yang ketiga.
Kemudian ada yang menyangkalnya, “Kenapa anda bilang begitu wahai Abu Hurairah?”,
Pertanyaan di atas langsung dijawab oleh beliau, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerahkan 700 pasukan Usamah bin Zaid ke Syam, namun ketika pasukan itu tiba di Dzu Khasyab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, kaum Arab disekitar Madinah murtad, maka berkumpullah para sahabat di hadapan Abu Bakar, mereka mengatakan, ‘Wahai Abu Bakar, kembalikan mereka itu, anda akan memberangkatkan mereka ke Romawi sedangkan bangsa Arab di sekitar Madinah murtad?’
Abu Bakar menjawab, ‘Demi Dzat yang tidak ada tuhan selain-Nya, meskipun anjing-anjing itu berjalan di kaki istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya tidak akan pulangkan pasukan yang telah Rasulullah arahkan untuk ekspedisi penyerangan, dan saya tidak akan turunkan bendera yang telah ditancapkan oleh Rasulullah’.
Dengan keputusan seperti itu, Abu Bakar memberangkatkan pasukan Usamah. Maka tidak ada satupun Kabilah yang ingin murtad melainkan setelah melihat pasukan ini mereka berkata, ‘Jikalau mereka tidak memiliki kekuatan, niscaya mereka tidak akan mengeluarkan pasukan sebesar ini dari Madinah, akan tetapi kita biarkan mereka sampai mereka berhadapan dengan Romawi’. Akhirnya pasukan itu berhadapan dengan Romawi, memerangi dan mengalahkan mereka, dan pulang dengan selamat. Dan kaum Arab yang melihat kepulangan mereka ini akhirnya teguh di atas Islam.”

Bahan Bacaan: Al-Bidayah wa Al-Nihayah, Ibnu Katsir, Darul Fikr, 1407 H, Jilid ke V, hal 304-305.

Madzhab Syiah Merupakan Pintu Gerbang Penghancuran Agama Islam

Dialog No. 71
Syekh Prof. Dr. Ahmad Al-Ghamidi mengatakan,
Anda menurunkan riwayat al-Khathib al-Baghdadi dari Abu Zur’ah, dia berkata, “Jika kamu melihat seorang laki-laki melecehkan seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia orang Zindiq. Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar dan al-Qur’an adalah benar, sementara yang menyampaikan al-Qur’an dan Sunnah adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka hanya ingin menjarh (mencela/ menilai buruk) saksi-saksi kami untuk membatalkan al-Kitab dan sunnah, mereka lebih berhak dijarh dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah, 67)
Jawabannya dari beberapa aspek:
Pertama, kenapa kaum Syiah menjarh (mencela) para sahabat dan menolak ke’adalahan mereka? Apa tujuan di balik itu? bukankah tujuannya hanyalah untuk menghilangkan kepercayaan terhadap riwayat-riwayat mereka dan menimbulkan keraguan terhadap keimanan dan keihklasan mereka? Kami hanya memahami tujuan-tujuan ini dari sikap Syiah itu.
Kedua, apa implikasi menuduh sahabat dan meragukan ke’adalahan mereka?
Implikasinya adalah sebagai berikut:
1.  Bahwa para sahabat tidak amanah terhadap syariat, sebab mereka adalah para pembunuh, peminum khamr, pezina, pencuri dan pengkhianat terhaadap agama mereka –sebagaimana yang anda klaim dan orang yang anda riwayatkan perkataannya-.
Ini berakibat kepada pembatalan syariat. Andaikata para musuh syariat ingin membatalkan agama ini, pastilah mereka tidak menemukan cara yang lebih mulus selain cara Syiah ini!
2. Agama ini tidak benar, sebab Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak mampu mendidik genersai pertama dengan pendidikan keimanan yang lurus, di mana begitu Rasulullha wafat, maka mereka pun langsung menyerang agama mereka sendiri dan melakukan setiap tindakan yang diharamkan.
3. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendidik generasi penjahat selama hampir 23 tahun di mana beliau tidak mengetahui bahwa mereka adalah para penjahat dan penipu. Mereka bersama beliau dalam keadaaan munafik dan menipu. Lantas tatkala beliau wafat, terbukalah niat-niat mereka dan terbongkarlah rahasia yang tertutup.
4. Bahwa Allah mengetahui hakikat generasi ini, mereka adalah generasi jahat namun tidak memberitahukan kepada RasulNya agar Dia dapat menggatikannya dengan umat lain. Ini adalah pengakuan terhadap kebatilan dan penipuan terhadap manusia, sebab orang-orang melihat mereka selalu mendampingi Rasulullah dan mengelilinginya. Sementara Rasulullah pun bergaul dengan mereka, meminta pendapat mereka, mengawinkan mereka dengan putri-putrinya dan menikahi putri-putri mereka, memuji mereka dan menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka. Ini adalah tuduhan terhadap Allah. Pertama, Allah tidak menyingkap hal itu kepada NabiNya, dan kedua, Allah tidak menyingkap hal itu kepada umat agar mereka tertipu dengan mereka.
5. Dalam dakwaan-dakwan yang dilontarkan Syi’ah Imamiyah mengandung petunjuk bahwa Allah tidak menjelaskan dengan penjelasan memadai untuk mengetahui mana orang-orang yang baik dan mana orang-orang jahat. Hal ini dapat menjadikan permasalahaan berbeda-beda. Bisa jadi, orang-orang jahat dijadikan bersih (suci) dan bisa jadi orang-orang baik dijadikan tertuduh, karena tidak ada kejelasan dan penjelasan.
Implikasi dari hal itu pula adalah hilangnya kepercayaan terhadap riwayat-riwayat mereka (para Shahabat) karena kita meragukan mereka dan kita khawatir mereka berdusta kepada kita.
Atau kita tidak mengetahui siapa mukmin sehingga riwayat-riwayatnya diterima dan siapa munafik sehingga riwayat-riwayatnya ditolak sebab masalahnya bercampur baur sedangkan al-Qur’an tidak menentukan dan as-Sunnah diriwayatkan oleh mereka.
Dengan demikian, kita akan kehilangan kepercayaan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah karena para perawinya diragukan.
Ketiga, andaikata kita ingin menetapkan keimanan para Shahabat menurut versi Syiah, pasti kita tidak akan mampu. Mana bukti keimanan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para Shahabat lainnya?
Adapun al-Qur’an: maka sesungguhnya ia memuat banyak sekali ayat-ayat yang bersifat umum dan bersifat umum dan Khusus, tetapi semua Dalalah ‘Ainiyah (petunjuk yang bersifat perorangan)nya telah dibatalkan Syiah kecuali apa yang apa yang mereka tafsirkan terhadap (Dalalah. penj) ‘Ali. Yakni mereka membatalkan bahwa ia menunjukkan si fulan dan si fulan. Mereka mengatakan, itu bersifat umum, tidak mungkin menafsirkannya pada individu-individu tertentu dari para Shahabat, sebab itu bisa bersifat umum dan bisa pula bersifat muqayyad (terikat). Kami tidak tahu, siapa kiranya yang dapat memenuhi criteria yang disyaratkan Syiah!!
Andaikata seseorang berkata, “Aku ragu terhadap keimanan keempat al-Khulafa’ ar-Rasyidun sebab ayat-ayat tentang kemunafikan berbicara tentang mereka, bukti atas hal itu, bahwa kaum Syiah sering mengatakan. Abu Bakar, Umar,dan Utsman telah merampas kekhalifahan sebab yang ditunjuk hanyalah Ali bin Abi Thalib. Ia ditunjuk secara langsung oleh Allah dan RasulNya. Mereka telah mengkhianati wasiat dan menolak untuk melaksanakannya. Dan Ali menyia-nyiakan wasiat demi untuk menjaga nyawanya, dan inilah bukti kemunafiakn mereka. oleh karena itu, aku meragukan keimanan mereka. Artinya, selama bersama Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam mereka telah menyembunyikan kemunafikan mereka dan sekarang barulah tampak kemunafikan itu. Bagaimana kamu menanggapinya?”
Kemudian ia melanjutkan, “Al-Qur’an menyebut orang yang bersamaa Nabi sebagai orang beriman dan dalam waktu yang sama menyebut mereka sebagai orang munafik, namun tidak memberitahukan kepada kita, siapa mukmin dan siapa munafik. Dan perbuatan-perbuatan ini menunjukkan kemunafikan!!”
a. Bila anda mengatakan kepada mereka, “Kami mengajakmu berhukum kepada As- Sunnah ”.
Maka ia akan mengatakan,”As-Sunnah itu diriwayatkan oleh orang-orang yang kami ragukan keimanan mereka. oleh karena itu, kami tidak akan menerimanya, sebab mereka beraksi untuk sebagian mereka. ini adalah persaksian yang tertolak.”
b. Kemudian ia mengatakan, “Berdasarkan hal ini maka kami tidak dapat mempercayai al-Qur’an ataupun as- Sunnah. Agama ini Batil.”
c. Saya katakan, semoga Allah merahmati Abu Zur’ah saat berkata, “Sesungguhnya mereka ingin menuduh para saksi kita untuk membatalkan Kitabullah dan As-Sunnah. Justru, menuduh merekalah (Syiah) yang lebih utama. Merka itu kaum Zindiq.”
Inilah sebab yang menegaskan kepada para ulama, bahwa Madzhab Syiah adalah pintu gerbang penghancurkan agama. Dan setiap orang yang ingin menghancurkan ini tinggalk merangkaikan diri dengan gerbong mereka.

Keempat, buku-buku versi Syiah. Hampir setiap buku-buku Atsar yang diriwayatkan berkenaan dengan akidah, tafsir atau para tokoh tidak luput dari penyesatan atau pengkafiran terhadap para Shahabat kecuali terhadap empat orang saja dari mereka.


Dikutip dari buku “Siapa Bilang Sunni-Syiah Tidak Bisa Bersatu; Dialog Nyata” Karya Prof. Dr. Ahmad Al-Ghamidi, terbitan Darul Haq, cet 1, 2009. hal 175-179

Thursday, February 26, 2015

Syiah dan Nahdlatul Ulama (NU)



Banyak kalangan yang mengatakan bahwa Syiah itu sejalan dengan NU, di antara mereka ada yang beralasan bahwa beberapa amalan dalam NU mirip dengan Syiah seperti Tahlilan, dll. Karena Syiah ingin diakui, mereka memanfaatkan keadaan ini untuk mendekati NU, bahkan pembesar-pembesar NU saat ini merasa tidak ada masalah dengan Syiah, seperti Gus Dur dan Said Aqil Siradj, betulkah demikan?, Yang jelas tokoh NU saat ini tidak mewakili semangat NU, pendiri NU-lah yang mestinya dijadikan pedoman dalam mengetahui tubuh NU itu sendiri, mari kita simak bagaimana sikap NU yang sejati terhadap Syiah, berikut pandangan pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama...


Slide oleh: KH. Muh. Idrus Ramli, Tim Internalisasi Ahlus Sunnah Wal Jammah NU Jember, Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Fakta Nyata yang Paling Dibenci Syi’ah

                                                          

Dalam tatanan sosial masyarakat, ada dua hal penting yang bernilai sangat sakral, dan merupakan makna cinta super tinggi. Kedua hal yang kami maksud adalah perbesanan dan penamaan.

Seorang muslim, akan sangat berhati-hati dalam memilih calon istri, calon menantu, dan calon besannya. Sebelum keputusan diambil, berbagai kriteria dijadikan pertimbangan penting. Setelah akad pernikahan terealisasi, mulailah benih-benih cinta tumbuh dan berkembang.

Kemudian, saat Allah mengkaruniai buah hati kepada dua pihak yang saling mencintai, mereka kemudian akan sama-sama mencari nama terindah, dan paling disukai, biasanya mereka akan melihat figur utama penyandang nama tersebut, juga melihat sisi keindahan arti sebuah nama.

Dua hal ini benar-benar difahami oleh SAHABAT dan AHLU BAIT Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dengan nyata kita saksikan aplikasi cinta antara kedua pihak ini di semua generasi.



PERBESANAN ANTARA AHLUL BAIT DAN SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9fP5IgDxy1uJqOTDkexnKxgmpIrMC6l7cGOXKQ4UA7NqzxWwZV78kHBoQh1WjzXgjl2Wjpu3jDM4OPPqHDz1G2pog2Srx6CtfR4nse4sapjrY_TXOpRGeT_Su9kRoK2mBJa5ON_y5sIw/s1600/file1.gif
[1]. RASULULLAH Shallallahu 'Alaihi Wasallam: 

Di antara Isteri-Isteri Beliau :
  • Aisyah Binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma.
  • Hafshah Binti Umar Ibn Khattab Radhiyallahu anhuma. 
  • Ramlah Binti Abu Sufyan Radhiyallahu anhuma.
Di antara menantu-menantu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam :
  • Ali Ibn Abi Thalib, suami dari Fathimah Radhiyallahu anhuma.
  • Ustman Ibn Affan, suami dari dua putri Rasulullah : Ruqayyah dan Ummu Kultsum Radhiyallahu anhum.
  • Abu Al-Ash Ibn Al-Rabi', suami dari Zainab Radhiyallahu anha.
[2]. ALI IBN ABI THALIB Radhiyallahu anhu.

Di antara Isteri beliau setelah wafatnya Fathimah Radhiyallahu anha:
  • Asma' Binti Umais, janda Abu Bakar Shiddiq.
  • Umamah Binti Abi Al-Ash, puteri Zainab Binti Rasulullah.
Di Antara menantu-menantu beliau :
  • Umar Ibn Al-Khattab, suami dari Ummu Kultsum Binti Ali Radhiyallahu anhum.
  • AbdurRahman Ibn Amir al-Umawy, suami dari Khadijah Binti Ali.
  • Mu'awiyah Ibn Marwan Ibn Al-Hakam, suami dari Ramlah Binti Ali.
  • Mundzir Ibn Ubaidah Ibn Zubair Ibn Al-Awwam, suami dari Fathimah Binti Ali.
Di antara anak-anak beliau : Abu Bakar, Umar, Utsman.

[3]. HASAN ibn Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu anhuma.

Di antara isteri-isteri beliau :
  • Ummu Ishaq Binti Thalhah Ibn Ubaidillah Al-Tamimi.
  • Hafshah Binti AbdurRahman Ibn Abi Bakar Al-Shiddiq.
Di antara menantu-menantu beliau :
  • Abdullah Ibn Zubair Ibn Al-Awwam, suami dari Ummu Hasan Binti Hasan Ibn Ali.
  • Amar Ibn Zubair Ibn Al-Awwam, suami dari Ruqayyah Binti Hasan.
  • Ja'far Ibn Mush'ab Ibn Zubair, suami dari Mulaikah Binti Hasan.
Di antara anak-anak beliau : Abu Bakar, Umar, Thalhah.

[4]. HUSEIN Ibn Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu anhuma.

Di antara Isteri-isteri beliau :
  • Laila Binti Abu Murrah, puteri dari Maimunah Binti Abu Sufyan.
  • Ummu Ishaq Binti Thalhah Binti Ubaidillah, Hasan Ibn Ali mewasiatkan agar adiknya Husein menikahi Ummu Ishaq, setelah wafatnya.
Di antara menantu-menantu beliau :
  • Abdullah Ibn Amar Ibn Utsman Ibn Affan, suami dari Fathimah Binti Husein.
  • Mush'ab Ibn Zubair Ibn Al-Awwam, suami dari Sukainah Binti Husein.
Di antara anak-anak beliau: Abu Bakar, Umar.

[5]. ISHAQ Ibn Ja'far Ibn Abi Thalib :
Di antara isteri beliau adalaha : Ummu Hakim Binti Qasim Ibn Muhammad Ibn Abu Bakar Al-Shiddiq.

[6]. ABDULLAH Ibn Ja'far Ibn Abi Thalib :
Di antara menantu beliau Abdul Malik Ibn Marwan, suami dari Ummu Abiha.

[7]. ALI ibn Husein Ibn Ali Ibn Abi Thalib.
Di antara isterinya : Ummu Farwah Binti Qasim Ibn Muhammad Ibn Abu Bakr Al-Shiddiq.

[8]. ZAID ibn HASAN Ibn Abi Thalib :
Di antara menantu beliau : Walid Ibn Abdul Malik Ibn Marwan, suami dari Nafisah Binti Zaid.

[9]. HUSEIN ibn HASAN Ibn Abi Thalib :
Di Antara Isteri beliau : Aminah Binti Hamzah Ibn Mundzir Ibn Zubair Ibn Al-Awwam.

[10]. HASAN AL-MUTSANNA Ibn HASAN Ibn Ali Ibn Abi Thalib:
Di antara Isteri beliau : Ramlah Binti Sa'id Ibn Zaid Ibn Amar Ibn Nufail Al-Adwi.
Di antara menantu beliau : Walid Ibn Abdul Malik Ibn Marwan, suami dari Zainab Binti Hasan.

[11]. MUHAMMAD ibn UMAR ibn ALI ibn Abi Thalib:
Di antara anak beliau : Umar.

[12]. MUHAMMAD AL-BAQIR Ibn Ali Ibn Husein Ibn Ali Ib Abi Thalib:
Di antara isteri beliau : Ummu Farwah Binti Qasim Ibn Muhammad Ibn Abu Bakar Ash-Shiddiq.

[13]. MUSA AL-JAUN Ibn Abdullah Ibn Mahdh Ibn Hasan Ibn Ali Ibn Abi Thalib :
Di antara menantu beliau : Anak Saudara Al-Manshur Al-Abbasi, suami dari Ummu Kultsum.

[14]. HUSEIN AL-ASGHAR Ibn Ali Zaina AL-Abidin Ibn Husein Ibn Ali Ibn Abi Thalib:
Di antara isterinya : Khalidah Binti Hamzah Ibn Mush'ab Ibn Zubair Ibn Al-Awwam.

[15]. UBAIDULLAH Ibn Muhammad Ibn UMAR Al-Athraf Ibn Ali Ibn Abi Thalib :
Di antara Isteri beliau : Bibi dari Abu Ja'far Al-Manshur.

[16]. JA'FAR Ibn Muhammad Ibn UMAR ibn Abi Thalib :
Di antara anak beliau : Umar.

[17]. HASAN Ibn Ali Ibn Hasan Ibn Ali Ibn Abi Thalib :
Di antara anak beliau : Umar.

[18]. JA'FAR AL-SHADIQ Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Husein Ibn Ali Ibn Abi Thalib :
Nasab beliau termasuk NASAB EMAS MULIA. Beliau sendiri pernah berkata : Aku dilahirkan Abu Bakar Al-Shiddiq dua kali. Karena Ibunya adalah Ummu Farwah Ibn Qaasim Ibn Muhammad Ibn ABU BAKAR AL-SHIDDIQ. Dan neneknya (Ibu dari Ibunya) adalah Asma' Binti AbdurRahman Ibn ABU BAKAR AL-SHIDDIQ.

[19]. HASAN AL-AFTHAS Ibn Ali Ibn Ali Zain Al-Abidin ibn Husein :
Di antara isteri beliau : Puteri Khalid Ibn Abu Bakar Ibn Abdullah Ibn UMAR ibn Khattab.

[20]. Muhammad Ibn UMAR ibn Ali Ibn Husein Ibn Ali Ibn Abi Thalib:
Di antara anak beliau : Umar.

[21]. MUSA ibn UMAR Ibn Ali Ibn Husein Ibn Abi Thalib:
Di antara isteri beliau : Ubaidah Binti Zubair Ibn Hisyam Ibn Urwah Ibn Zubair Ibn Al-Awwam.

[22]. JA'FAR AL-AKBAR Ibn UMAR ibn Ali Ibn Husein Ibn Ali Ibn Abi Thalib :
Di antara isteri beliau : Fathimah Binti Urwah Ibn Zubair Ibn Al-Awwam.

[23]. ABDULLAH Ibn Husein Ibn Ali ibn Husein Ibn Abi Thalib :
Di antara ISteri beliau: Ummu Amar Binti Amar Ibn Zubair Ibn Urwah Ibn Zubair Ibn Al-Awwam.

[24]. MUSA AL-KAZHIM Ibn Ja'far Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Husein Ibn Ali Ibn Abi Thalib:
Di antara anak beliau : UMAR dan AISYAH.

[25]. ALI AL-RIDHA Ibn Musa Ibn JA'FAR Al-Shadiq, kunyahnya adalah Abu Bakar.
Di antara isteri beliau : Ummu Habib Binti Ma'mun Al-Abbasi.

[26]. MUHAMMAD AL-JAWAD Ibn Ali Ibn Musa Ibn Ja'far :
Di antara Isteri beliau : Ummu AL-Fadhl Binti Ma'mun Al-Abbasi.

[27]. ALI AL-HADI Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Musa :
Di antara puteri beliau : AISYAH.

SAUDARAKU, Lihatlah betapa erat hubungan antara Ahlu Bait dengan Sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan begitu pula pada generasi-generasi sebelumnya.
Mengapa para Ayatullat Syi'ah berusaha mati-matian menutupi FAKTA ini ?
Mengapa begitu banyak orang bisa tertipu dengan dusta para Ayatullah dan ulama Syi'ah??
Semoga kita menyadari hakikat mereka.
Saudaraku, SEBARKANLAH Fakta berharga ini, semoga kita termasuk orang-orang yang menyebarkan kebenaran, sebagai bukti cinta kita kepada Ahlul Bait dan Sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

REFERENSI :
1. Al-Nasab wa al-Mushaaharah Baina Ahli al-Bait wa Al-Shahaabah, karya Ala'uddin al-Mudarris.
2. Fadhaa'il al-Shahaabah wa Alaaqatuhum Bi al-Nabi wa Aal Baitihi al-Athhaar, karya Al-Haiti.
3. Al-Irsyad, Karya Al-Mufid.
4. Al-Tanbih wa Ali-Irsyad, karya Al-Mas'udi.
5. Mu'jam Rijal al-Hadits, karya Al-Khau'i.
6. Al-Kafi, karya Al-Kulaini.
7. Nasab Quraisy. Karya Al-Zubaidi.
8. Muntaha Al-Aamal, karya Al-Qummi.
9. Jala' al 'Uyuun, karya Al-Majlisi.
10. Jamharat Ansaab Al-Arab, karya Ibn Hazm.
11. Dll.
Sumber: 




Bagi anda yang ingin melihat gambar ini secara sempurna, silakan klik kanan pada gambar untuk menampilkannya pada tab yang baru, insya Allah gambarnya akan lebih besar dan jelas, dan lebih baik jika anda mau menyimpan dan menyebarkannya, syukran....(LPPI mks)

Ahlul Bait sungguh mulia… dengan nasab yang mulia dan Allah SWT memuliakannya dengan akhlak yang indah. Fakta yang sangatlah jelas dari Keluarga Ahlul Bait Nabi SAW.
Para ahlul bait Nabi mempunyai nasab yang mulia dan juga akhlak mulia. Wajib mencintai mereka.
“Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Hasan dan Husain, sambil berkata, ‘Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua orang ini dan ayah dari keduanya, maka ia akan bersamaku di dalam kedudukanku (surga) pada hari kiamat.’ “
 Sesungguhnya Abu bakar ra berkata, “Sungguh kerabat-kerabat Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri”.
Fakta pergaulan para ahlul bait Nabi SAW dan dengan para sahabat dan umat islam lainnya,
Dari Aisyah ra, “Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan Rasulullah SAW.
Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata :”Selamat datang, puteriku.” Kemudian beliau mendudukkannya di sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya.  Maka Fatimah menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum.
Setelah itu aku berkata kepada Fatimah : Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!”.
Ketika Nabi SAW pergi, aku bertanya kepadanya :”Apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu ?” Fatimah menjawab :”Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasulullah SAW.”
Aisyah berkata :”Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata kepadanya :”Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa  yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?”
Fatimah pun menjawab :”Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur’an sekali dalam setahun, dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu.”
Fatimah berkata :”Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan berkata :”Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita kaum Mukminin ?” Fatimah berkata :”Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.”(Imam Muslim)
Dari Aisyah ra, dia berkata, “Isteri-isteri Nabi SAW pernah mengutus Fatimah ra kepada Rasulullah SAW. Dia meminta izin kepada beliau yang ketika itu tengah berbaring bersamaku di atas kainku. Lalu beliau memberikan izin kepadanya. Maka Fathimah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri-isterimu telah mengutusku kepadamu untuk meminta keadilan mengenai puteri Abu Quhafah (Aisyah)’, Dan aku pun diam. Lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Wahai puteriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?’. Fatimah pun menjawab, ‘Ya’. Kalau begitu, maka cintailah wanita ini (Aisyah ra)’, jawab Nabi SAW” (Imam Muslim)
“Suatu ketika Abu Bakar melaksanakan shalat Ashar. Setelah itu berjalan pulang dan melihat Hasan bin Ali sedang bermain dengan anak-anak sebaya. Abu Bakar kemudian menggendongnya seraya berkata, “Sungguh, anak ini sangat mirip dengan Nabi, tidak mirip Ali”. Mendengar pernyataan ini, Ali tertawa (Imam Bukhari)
Umar ra pernah berkhutbah kepada kami di atas mimbar Rasulullah SAW, Ia berkata, “Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling ahli di bidang hukum, dan Ubay bin Ka’ab adalah orang yang paling fasih bacaannya”(Imam Bukhari)
Datang seorang lelaki kepada Umar bin Khattab untuk mengadukan Ali bin Abi Thalib. Umar berkata kepada Ali, “Berdirilah wahai Abu Al-Hasan dan duduklah di samping orang yang bersengketa denganmu.” Maka berdirilah Ali dengan wajah masam kemudian duduk di sebelah lelaki tersebut. Setelah mengemukakan masalah, Umar kemudian memutuskan perkara di antara mereka berdua.
Kemudian setelah masalah selesai dan lelaki tersebut pergi, Umar berkata kepada Ali, “Ada apa sebenarnya engkau ini, mengapa wajahmu berubah ketika aku menyuruhmu duduk di sebelah lelaki tadi? Apa ada hal yang tidak engkau sukai?” Ali kemudian menjawab, “Benar, memang aku tidak suka. Mengapa engkau memanggilku dengan nama kunyah di depan lelaki tadi. Pemanggilan dengan nama kunyah termasuk bentuk pemuliaan terhadap orang yang dipanggil. Mengapa engkau tidak mengatakan saja “Berdirilah wahai Ali dan duduklah di samping lelaki ini” ?
Kemudian Umar pun mencium kening Ali bin Abi Thalib karena kagum akan sikapnya.
Umar bin Khattab meskipun dia orang yang tegas dan tidak mau membeda-bedakan rakyatnya.. tapi beliau paham akan kedudukan Ali bin Abi Thalib.. sehingga beliau memanggil dengan penghormatan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib.. dihadapan lelaki yang bersengketa dengan Ali ra.. tapi Ali pun mempunyai akhlak yang mulia.. beliau tdk mau dibeda2kan dalam masalah hukum.
Ketika jenazah Umar diletakkan di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW, Ali r.a. datang dan berdiri di depan barisan, seraya mengatakan, “Inilah orangnya (tiga kali). Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepadamu. Tidak seorang pun hamba Allah SWT yang paling aku cintai untuk bertemu Allah SWT (dengan membawa buku catatan yang baik), setelah buku catatan Nabi SAW, selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Umar ra).” (Imam Ahmad)
PARA AHLUL BAIT MEMULAI DAN MENCONTOHKAN MEMBERI NAMA ANAK-ANAKNYA DENGAN NAMA ABU BAKAR, UMAR DAN AISYAH..
Imam Ali ra memberi salah satu nama anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar
Imam Hasan ra memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar
Imam Husein ra memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar
Imam Ali Zainal Abidin memberi salah satu nama anaknya dengan nama Umar dan Imam Musa al-Kadzim memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar (Kasyful Ghummah, Juz 2, Hal. 217)
Imam Ali al-Ridla  dan Imam Ali al-Hadi juga memberi nama salah seorang putrinya dengan nama Aisyah (Kasyful Ghummah, Juz 2, Hal. 237)
Zaid bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Sukainah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Muhammad bin Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Fathimah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. (Nasabu Quraisy li al-Zubairi, Juz IV, Hal. 114 dan 120)
Imam Muhammad al-Baqir menikah dengan Ummu Farwah binti Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, dan ibu dari Ummu Farwah adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar. Ummu Farwah adalah ibu dari Imam Jakfar Ash Shaddiq. (Al-Kafi, Juz I, Hal. 472)
Imam Ja’far al-Shadiq, “Abu Bakar telah melahirkan aku dua kali”

Oleh: Awi Sirep di wajahsyiah.wordpress.com

“NU dan Wahabi“ Bersatu Jaga Persatuan Ahlus Sunnah

Rabu, 25 Februari 2015 - 23:00 WIB
Arifin Ilham juga menjelaskan perlunya menggalang kekuatan umat Islam, khususnya sesama Ahlus Sunnah
Hidayatullah.com–Peristiwa penyerangan jamaah Majelis Az-Zikra dinimai banyak menuai hikmah. Diantaranya adalah bersatunya ormas Islam dan kekuatan Muslim Ahlus Sunnah Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan oleh Habib Achmad Zein Alkaf dari di Yayasan Albayyinat Indonesia saat membuka pengantar kunjunganya memimpin rombongan ‘Delegasi Ulama Nusantara’ mengunjungi kediaman Pimpinan Majelis Az-Zikra, Ustad Arifin Ilham  Sentul Bogor, Jawa Barat, Rabu (25/02/2015) pagi. [Baca: Delegasi Ulama Nusantara Kunjungi Arifin Ilham Dukung Upaya Hadapi Syiah]
Di antaranya ulama yang hadir seperti Ustad Muhammad Said Abdussomad (Makasar), KH Ahmad Tijani (Madura), Habib Ahmad Bin Zein Al Kaff (Jawa Timur),  Farid Ahmad Okbah (Direktur Islamic Center Al-Islam) dan masih banyak perwakilan ormas lain.
Mengawali pembicaraan, Habib Achmad Zein Alkaf yang juga anggota A’wan Syuriah PWNU Jawa Timur ini  mewakili para ulama menyampaikan dukungan atas segala upaya dakwah yang telah dilakukan Pimpinan Majelis Az-Zikra Ustad Arifin Ilham.
Menurutnya, peristiwa penyerangan pendukung Syiah di Az-Zikra memiliki hikmah, diantaranya bersatunya sesama Ahlus Sunnah.
“Para ulama yang dulu awalnya pasif sekarang mulai sadar dan makin tahu apa itu bahaya Syiah,” ujarnya mengawali pembicaraan.
Sebelum ini, Selasa malam dalam sebuah pertemuan tertutup dengan tokoh-tokoh umat seluruh Indonesia, ia telah menjelaskan perlunya menjaga ukhuwah di kalangan Ahlus Sunnah.
Sementara itu, usai mendengar pengantar Habib Achmad Zein, Arifin Ilham juga menjelaskan perlunya menggalang kekuatan umat Islam, khususnya sesama Ahlus Sunnah.
“Peristiwa ini membuat kami semua menjadi bersama. Kami semakin siap untuk menggalang kekuatan umat menghadapi segala persoalan yang akan terjadi kemudian,” ujar Arifin Ilham.
Sementara itu,  Farid Ahmad Okbah juga ikut menyampaikan pernyataan sama.
“Acara ini sekaligus sebagai ekspresi kebersamaan untuk persatuan Ahlus Sunnah di Indonesia dalam rangka menghadang kekuatan batil yang telah nampak di depan mata kita.”
“Sekaligus menghimbau kepada aparat agar menjaga ketenangan umat Islam Ahlus Sunnah di Indonesia ini agar tidak menjadi korban Syiah sebagaimana di negara-negara lain. Dan kita tidak berharap itu terjadi di Indonesia,” tambah Farid lagi.
Menurut Farid,  persatuan umat Islam Ahlus Sunnah adalah suatu keharusan. Karena sesungguhnya iman itu melahirkan ukhuwah.
“Apalabila ukhuwah  tidak dibangun di atas keimanan maka terjadi kerapuhan, dan keimanan yang tak melahirkan ukhuwah adalah sebuah kelemahan karena antara keimanan dan ukhuwah itu satu bagian. Inammal Mukminuna Ikhwah fa aslihu baina akhwaikum(Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah orang-orang yang berselisih diantaramu), “ ujar Farid mengutip Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 10.
Menanggapi komentar pertemuan ini, beberapa wartawan di belakang ikut berbisik.
“Alhamdulillah, akhirnya NU dan Wahabi bersatu, “ ujar seorang wartawan media online.*