Monday, March 23, 2015

Kritik Tajam al-‘Allamah Shalih bin Muhammad al-Luhaidan hafizhahullah terhadap Watsiqah Kufur yang ditandatangani oleh Muhammad al-Imam al-‘Allamah al-Luhaidan telah berfatwa untuk BERJIHAD MELAWAN RAFIDHAH bersama Pemerintah

Asy-Syaikh al-Luhaidan : Itu BUKAN Watsiqah, Tapi PENGARAHAN-PENGARAHAN dari SYAITHAN!!

Penanya : Wahai Syaikh kami, bisakah kami mengajukan pertanyaan. Kami datang kepada Anda dari Madinah, kami mahasiswa al-Jami’ah al-Islamiyyah (Universitas Islam).

Asy-Syaikh al-Luhaidan : Silakan bertanya
Penanya : Karena kami khawatir jika mengganggu Anda. Di negeri kami di Yaman, terjadi fitnah Hutsiyyin. Yakni salah seorang komandan militer di sana mengumumkan perang dan Jihad melawan mereka di wilayah selatan, sekarang. Apa kewajiban kami para penuntut ilmu?
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Tidak diragukan, kewajiban kalian bahwa kalian belajar. KALIAN BISA UNTUK MEMBELA PARA AHLUL HAQ terhadap ahlul batil.
Penanya : Akan tetapi, ada salah seorang di antara masyaikh yang menyatakan bersama Hutsiyyin, bahwa mereka itu adalah saudara-saudara kita, yaitu membuat “Watsiqah” (Perjanjian Damai) (dengan pihak Hutsiyyin), sedang sebagian pihak menentang (hal tersebut).
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Penandatangan (terhadap Watsiqah) tersebut FASID (bathil).
Yakni orang yang mendustakan al-Qur`an (yaitu Rafidhah/Hutsi) TIDAK SAMA dengan orang yang beriman kepada al-Qur’an.
Orang yang mengkafirkan shahabat, tidak menyisakan dari mereka kecuali ‘Ali, dua putranya, dan Salman, sementara para shahabat lainnya Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan seluruh shahabat semuanya kafir, apakah orang seperti ini mukmin?! APAKAH ORANG INI SAUDARA KITA??!
Orang yang mengatakan, “Ya..Husain…Ya Husain” bukankah ini SYIRIK AKBAR?! Apakah dia saudara sesama mukmin??! Tidak mungkin!! Syaikh (yang berfatwa seperti) ini, DIA INI ORANG AWAM
Penanya : Mereka menyatakan, bahwa perjanjian (Watsiqah) tersebut telah disetujui oleh ‘ulama. Sekarang mereka berdusta, bahwa perjanjian tersebut disetujui oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, begitu…mereka menyebarkan berita ini.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : MEREKA BENAR-BENAT TELAH BERDUSTA. TIDAK MUNGKIN seorang yang berilmu dan beriman AKAN MENYETUJUI perjanjian tersebut.
Penanya : Wahai syaikh, bisakah kami bacakan kepada Anda teks Watsiqah tersebut, agar Anda mendengarnya?
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Bukan, bukan …ini bukan Watsiqah
Penanya : Klausul-klausul (poin-poin) perjanjian yang ditulis bersama mereka (Hutsiyyun), tertulis pada Watsiqah tersebut : bahwa mereka (Hutsiyyun/Rafidhah) adalah saudara-saudara kita, bahwa agama kita satu, dan menghentikan tindakan saling menghujat.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : asy-Syaikh asy-Syinqithi ketika datang kepada beliau seorang Rafidhi seperti mereka, …(suara tidak jelas) beliau berkata, “Jadi kami punya agama, kalian juga punya agama sendiri.” Kalian tahu siapa asy-Syinqithi?
Penanya : Iya wahai syaikh kami, beliau (asy-Syinqithi) sang imam.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Datang seorang Rafidhah dari Libanon, dia mengatakan, “Mari kita berdebat!” Beliau menjawab, “Kami tidak akan mau berdebat (denganmu). Sebab, apa yang menjadi rujukan? Mau merujuk kepada al-Qur`an, sementara kalian mendustakan al-Qur`an. Orang ini miskin, syaikh Qabilah…mungkin dia bangkrut.
Penanya : Dia bukan syaikh Qabilah….yakni dia menyatakan diri berilmu dan berbicara …
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Tidak. Tidak setiap yang menyatakan diri berilmu kemudian dikatakan dia berilmu. Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasul-Nya, dan perkataan para shahabat.
Penanya : Jazakumullah Khairan. Bisa kami bacakan kepada Anda sebagian klausulnya, ada tiga klausul.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Thayyib…silakan baca
Penanya : Klausul (poin) pertama. Muqaddimah : “Watsiqah Hidup Damai dan Persaudaraan” Alhamdulillah…
Asy-Syaikh al-Luhaidan : TIDAK. Siapa yang bilang bahwa orang kafir itu saudara bagi seorang mukmin?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya), “Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.”
Siapa yang mengatakan itu??
Lanjutkan ….
Penanya :
Bismillahirrahmanirrahim. Firman Allah (artinya) : “Berpegangteguhlah kalian dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah.”
Asy-Syaikh al-Luhaidan :
Ini benar. Tapi, siapakah yang berpegang teguh dengan tali (agama) Allah? Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mentaati Allah dan Rasul-Nya, mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, yang Nabi bersabda tentang mereka, “Barangsiapa berada di atas seperti apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.”
Silakan dilanjutkan…
Penanya :
Ini adalah Watsiqah (Dokumen Perjanjian) Hidup Damai dan Persaudaraan. Segala puji bagi Allah yang berfirman, “Hanyalah kaum mukminin itu saling bersaudara.”
Asy-Syaikh al-Luhaidan :
Tidak diragukan.
Apakah mereka itu mukminin??!
Apakah orang beriman terhadap apa yang Allah katakan “Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan” (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu dinyatakan suci/bersih oleh Allah dari tuduhan keji kaum munafiqin), sama dengan orang yang menyatakan bahwa itu (berita dari Allah tersebut) tidak benar??!
Penanya :
“Shadaqallahul ‘Azhim. Shalawat dan Salam kepada Sayyidina Muhammad dan kepada keluarganya yang suci, semoga Allah meridhai para shahabatnya yang baik dari kalangan para muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”
Asy-Syaikh al-Luhaidan :
Perhatikan. “dari kalangan Muhajirin dan Anshar” bukan yang dimaksud adalah semua Muhajirin dan Anshar, tapi yang dimaksud adalah “Ali dan keturunannya”, “Salman al-Farisi” dan satu lagi. Sementara para shahabat lainnya kafir sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Penanya :
“Kami adalah muslimin semuanya. Rabb kami satu, Nabi kami satu, musuh kami satu, meskipun kami berselisih dalam detail-detail permasalahan yang bersifat cabang. Islam mengharamkan darah-darah, kehormatan, dan harta-harta kami semuanya atas sebagian lainnya.”
Asy-Syaikh al-Luhaidan :
Ini adalah KEBOHONGAN-KEBOHONGAN.
Pernyataan ini benar, tapi itu berlaku terhadap sesama kaum beriman.
Mereka (Rafidhah Hutsi) memberontak, mereka itu tidak dikenal sebelumnya di Yaman, mereka itu tidak diketahui keberadaannya, tidak pernah disebut, tidak ditakuti, tidak ada apa-apanya.
Namun ketika kaum muslimin lemah, menyepelekan banyak perkara agama mereka (maka musuh (Rafidhah) menjadi kuat, pen)
Dulunya, ketika pecah Revolusi Iran, kemudian mengembangkannya kepada mereka dengan harta, mereka berhasil menarik banyak orang … (suara tidak jelas) …
Penanya :
Pada bagian paling akhir, tertulis padanya :
Ditandatangani oleh : as-Sayyid ‘Abdul Malik al-Hutsi, dan asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah al-Imam.
Asy-Syaikh al-Luhaidan :
Masya Allah…masya Allah….(yakni beliau terheran-heran, seraya mengingkari, pen)
Penanya : Tanda tangan, dan bahwa dia sebagai Pimpinan Ahlus Sunnah.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Siapa pimpinan itu?
Penanya : Muhammad al-Imam
Asy-Syaikh al-Luhaidan : DUSTA. Dia bukan pimpinan!
Penanya : Muhammad al-Imam mewakili Ahlus Sunnah, dan dia (Abdul Malik al-Hutsi, pen) mewakili pihak Hutsiyyin.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Jadi mereka sepakat. Mereka ahlus Sunnah, dan mereka bukan ahlu Hutsiyyin. Ini sebenarnya merupakan pengakuan dari mereka, bahwa mereka di atas kebatilan.
Penanya : Jazakumullah Khairan. Berikutnya klausul perjanjian. Ada tiga, singkat saja.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Thayyib, segera Ya akhi.
Penanya :
Bertolak dari ini, telah terjadi kesepakatan antara Ansharullah, yang diwakili oleh as-Sayyid ‘Abdul Malik al-Hutsi.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Siapa yang mengatakan bahwa mereka adalah Ansharullah?
Penanya : Ini adalah gelar, mereka menggelari diri mereka.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Mereka itu seperti “Hizbullah” di Libanon …. (suara tidak jelas)
Penanya :
… yang diwakili oleh as-Sayyid ‘Abdul Malik al-Hutsi. Sedangkan Salafiyyin di Markiz “an-Nur” Ma’bar , dan markiz-markiz lain yang menginduk padanya, diwakili oleh asy-Syaikh Muhammad al-Imam, sepakat atas poin-poin berikut :
  1. Hidup damai antara kedua belah pihak. Tidak ada saling bergesekan dan berbenturan.
Asy-Syaikh al-Luhaidan :
Perhatikan sebentar, ini adalah pengakuan, bahwa mereka ada dua pihak., bukan satu pihak. Sementara Allah berfirman, “Hanyalah kaum mukminin itu bersaudara” (yakni satu pihak, pen)
Namun ini pengakuan dari mereka, yaitu yang menandatanganinya, bahwa mereka adalah dua pihak, bukan satu pihak.
Penanya : “…. Tidak ada saling bergesekan, berbenturan, dan memerangi, atau fitnah, walau bagaimana pun kondisinya dan faktor pendorongnya. Kebebasan berpikir dan berwawasan terjamin untuk semua.”
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Perhatikan sebentar! Kebebasan berpikir. Mereka mengatakan, “Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”, ini kebebasan berpikir.
Penanya :
  1. Menghentikan pembicaraan-pembicaraan yang provokatif dan permusuhan dari kedua belah pihak terhadap satu sama lain.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Pertama kali, Rafidhah itu tidak bisa dipercaya sama sekali, mereka itu pengkhianat. Bagaimanapun juga, mereka itu berkhianat. (Apabila) melakukan perjanjian, maka mereka memandang boleh bagi mereka untuk melakukan apa yang mencelakakan Ahlus Sunnah.
Penanya :
  1. Menghentikan pembicaraan-pembicaraan yang provokatif dan permusuhan dari kedua belah pihak terhadap satu sama lain.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Ini mengulan-ulang pengakuan mereka, bahwa mereka itu ada dua pihak, bukan orang beriman yang bersatu.
Penanya : dalam semua kesempatan dan aktifitas di atas ruh persaudaraan dan kerja sama antara mereka.
3. Terus dilakukan upaya hubungan langsung antara kedua belah pihak untuk menghadapi setiap sesuatu yang datang, peristiwa, problem, tindakan pribadi, atau upaya dari pihak ketiga yang menyusup, untuk menghancurkan kesepakatan antara kedua belah pihak.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Siapa yang telah menjajah sekian banyak desa dan kota??!
Penanya : mereka orang-orang hutsi
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Apakah ini sesuai dengan Watsiqah tersebut?
Penanya : mereka benar-benar telah membatalkan perjanjian tersebut.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Jadi, tidak perlu.
Penanya : Namun, mereka mengatakan bahwa kami terpaksa, begini, dan begitu.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Siapakah yang membangkitkan mereka. merupakan sifat mereka, bahwa mereka sejak dulu sudah puas di bawah Zaidiyyah. Namun ketika bangkit Revolusi Iran …. (suara tidak jelas) …. Datang Khomeini Si Pengecut dan serban-serban bejat ini, mereka pun bangkit menyatakan ini semua. Tapi, apapun yang terjadi, mintalah pertolongan kepada Allah.
Penanya : Jazakallahu Khairan wahai Syaikh kami. Kalau begitu, apa sikap kami terhadapnya?
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Tidak, seperti kamu ini masih bertanya “apa yang Anda katakan, apakah kami membela mereka atau mereka?!” Apakah kamu mau membela pengusung kebatilan terhadap ahlul haq??!
Penanya : Tidak, tapi terkait dengan jihad sekarang. Salah seorang pimpinan/komandan besar, yang disebut-sebut sebagai tokoh militer, telah tampil menegakkan (jihad).
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Tidak ada keraguan…apakah yang dia nyatakan…menyatakan BERJIHADLAH
Penanya : Sekarang di wilayah selatan, Komandan Kekuatan (Militer).
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Orang ini mendapatkan taufiq.
Penanya : Dia mengatakan, aku sekarang di garda terdepan.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Aku katakan, orang ini mendapatkan taufiq. Kalau bukan karena penduduk wilayah selatan bertahan, mereka akan menguasai ini semua. Mereka akan menduduki ‘Aden, Mukalla, dan kota-kota lainnya di wilayah selatan.
Penanya : Wahai syaikh kami, sekarang para penuntut ilmu di sana terpecah dengan sebab orang ini syaikh yang telah menandatangani Watsiqah (perjanjian) tersebut.
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Ya akhi, apakah dia orang pertama yang sesat? Allah berfirman (artinya) : “Tidaklah kebanyakan manusia, walaupun kamu berupaya keras, mau beriman.”
Jangan kalian mencacinya, katakanlah mungkin dia berijtihad dan salah. NAMUN DIA BUKAN ULAMA.
Penanya : ada sebagian ‘ulama yang membantahnya, kami menyebarkan penjelasan para ‘ulama tersebut, seperti asy-Syaikh Rabi’ dan selain beliau asy-Syaikh ‘Ubaid.’
Asy-Syaikh al-Luhaidan : SEBARKANLAH PENJELASAN MEREKA.
Perbuatan orang yang membela mereka kaum Rafidhah itu, tidak diragukan merupakan KESESATAN. Allah berfirman (artinya) “Engkau tidak akan mendapati orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”
Allah berfirman tentang Ummul Mukminin ‘Aisyah (artinya) : “Mereka itu orang yang bersih dari apa yang mereka tuduhkan.”
Sementara mereka (Rafidhah) mengatakan, bahwa apabila dibangkitkan Khomaini diwahyukan kepadanya untuk merajam ‘Aisyah. Dan diwahyukan kepadanya untuk menyalib Abu Bakr dan ‘Umar.
Penanya : Yang juga diucapkan oleh Syaikh tersebut adalah, “Kami tidak akan memerangi seorang pun dari kaum muslimin hingga diutus seorang nabi. Kalau diutus kepada kami seorang nabi, dan mengatakan kepada kami perangilah kaum muslimin tersebut (maka kami akan berperang, pen).”
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Ini adalah madzhab Rafidhah. Mereka dulu awal mengatakan, bahwa mereka tidak akan berperang sampai keluarnya sang imam.
Penanya : Allahul Mustaan
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Mereka membuat-buat cerita “Wilayatul Fiqh” sehingga bisa diserahkan (hukum) dari sang imam yang masih bersembunyi di Sirdab di utara Iraq (kepada Khomaini)
Penanya : Bolehkah penjelasan Anda ini kami sebarkan kepada para penuntut ilmu?
Asy-Syaikh al-Luhaidan : Silakan kalian sebarkan. Watsiqah ini BUKANLAH WATSIQAH, namun itu adalah IMLA’AAT SYAITHANIYYAH(PENDEKTEAN/PENGARAHAN-PENGARAHAN DARI SYAITHAN)!!
Penanya : Jazakumullah khairan wahai syaikh kami. Barakallah fikum wahai syaikh kami. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda.
Audio unduh di sini http://bit.ly/1xYRxMj
http://www.manhajul-anbiya.net/asy-syaikh-al-luhaidan-itu-bukan-watsiqah-tapi-pengarahan-pengarahan-dari-syaithan/

Senin, 23 Maret 2015

PERJANJIAN KUFUR AL-WATSIQOH DAN PRAKTEK PENERAPANNYA

"PERJANJIAN KUFUR AL-WATSIQOH DAN PRAKTEK PENERAPANNYA"

(Versi Arabic)

Ditulis oleh: 
Abu Khalid as-salafiy -hafidzohullahu ta'alaa-

__________________
الوثيقة الكفرية وتطبيقاتها العملية
الحمد لله وأشهد الا إله إلا الله وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم
أما بعد
يوم أن خرجت الوثيقة الكفرية استنكرها أهل السنة قاطبة حتى إن الكثير كذبوا نسبتها إلى الموقِّع عليها محمد الإمام.
☀ ثم تبين للناس أنها صحيحة النسبة إلى محمد الإمام بإقراره واعترافه.
فأنكر عليه العلماء الربانيون كعبيد الجابري وربيع المدخلي وهكذا كبار طلاب العلم في اليمن وغيرها.
فقال الموافقون  لمحمد الإمام إنما هي حبر في ورق ليس عليها عمل فلا داعي لهذا التحذير.
فلم يبالوا بنصح الناصحين ولا بتحذير المحذرين.
ومضت الليالي والأيام فحصل ما خافه العلماء الكبار فها نحن نجد تطبيقها عملياً شعروا أو لم يشعروا قصدو أو لم يقصدوا فإليك عشرة دلائل تبين لك ما ظننته بعيداً مستحيلا
1⃣ انتشار معتقد فاسد في أوساط السلفيين الا وهو ليس في الوثيقة كفر.
2⃣ اعتقاد بعض السلفيين أن الحوثة الكفرة مسلمون ونشره في أوساط عامة الناس.
3⃣ اعتقاد بعض السلفيين أن تكفير الحوثة مسألة اجتهادية
ونقلهم عن الوادعي القول بأنهم مسلمون.
4⃣ التحذير من هاني بن بريك بحجة أنه داعية فتنة حين أن حرض على الجهاد في سبيل الله.
ولهذا لم يقبل جرحهم شيخا الجرح والتعديل ربيع المدخلي وعبيد الجابري.
5⃣ التحذير من جهاد الدفع لأنه قتال فتنة بين المسلمين بل في حصار ولي الأمر ومن معه من المجاهدين للسقاف المتمرد يحذر العدني من القتال ويزعم أنه قتال على الكراسي تطبيقاً لبنودها.
6⃣ طرد أصحاب وصية رسول الله طلاب العلم الغرباء من دار الحديث بالفيوش بسبب انتسابهم لمن يدعوا إلى الجهاد كما نطقه بفيه العدني ثم زعم أنه قرار رئاسي لا دخل لنا فيه
❗والحق في ذلك أنه تطبيق لبنود الوثيقة الكفرية غفلة من العدني وتآمراً من السقاف المتمرد  والمجيدي الخائن كما ستبدي لك الأيام
7⃣ تهديد العدني بالطرد لمن ذهب للجهاد في سبيل الله مع ولي أمر اليمنيين هادي
8⃣ اتهام الشيخ الوصابي كبار علماء  الدعوة السلفية ممن حرض اليمنيين على التصدي للتمدد الحوثي بالعمالة ولم ينكر ذلك أحد من علماء اليمن.
❌ وهذا مع بعض ما سبق وبعض ما سيأتي يعتبر تطبيقاً للبند الأخير من الوثيقة الا وهو( تحديد الموقف ممن أراد تفجير الوضع )
9⃣ ارسال محمد الإمام إلى أئمَّة المساجد بعتق وغيرها الوثيقة تلزمكم.
إذا مر السلفيون بنقطة من نقاط الحوثة الكفرة قالوا بيننا وبينكم وثيقة ولربما يحمل بعضهم صورة الوثيقة حتى يريها الحوثة إذا أوقفوهم وهذا اظهار للكفر بغير إكراه.
فهذه عشر دلالات واقعية عملية في تطبيق الوثيقة الكفرية فهل ياترى ينكرها عاقل.
☑نصيحة أخيرة
يا أيها السلفي استفق من غفلتك فإن الذل والمهانة لاحقة من سار في ركاب أهل الوثيقة
وسيسقط كل من دافع عنها أو عن موقعها كبر أو صغر وهكذا كل من قلد وتعصب لمؤيدها عاجلاً غير آجل لأنها حرب على اليمنيين وغيرهم في دينهم ودنياهم.
والحمد لله رب العالمين
✏ كتبه/ أبوخالد السلفي
Dikutip dari :
Majmu'ah Manhajul Anbiya | Al Ustadz Abdul Hakam Abu 'Ali At-Tamimi حفظه الله (Aden - Yaman)
                                   ✲✹✲
__________________
مجموعــــــة توزيع الفــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF] | www.alfawaaid.net
REVISI :
------------
✨"PERJANJIAN KUFUR AL-WATSIQOH DAN PRAKTEK PENERAPANNYA"
                        
Ditulis oleh:
Abu Khalid As-Salafiy -hafidzohullahu ta'alaa-
                                   ✹✹✹
الحمد لله وأشهد الا إله إلا الله وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم
Amma ba'du,
Di hari keluarnya perjanjian kufur alwatsiqoh, segenap ahlussunnah MENGINGKARINYA sampai mayoritasnya mendustakan penisbahannya kepada penandatangan perjanjian, Muhammad al Imam.
▪Kemudian jelas bagi orang-orang keabsahan penisbahannya kepada Muhammad al imam berdasarkan penetapan dan pengakuannya SENDIRI.
▪Lalu telah mengingkarinya para ULAMA Rabbani semisal (Syaikh) Ubaid al-Jabiry dan (Syaikh) Robi' al-Madkholi demikian pula  penuntut ilmu senior di Yaman dan selainnya.
▪Kemudian orang-orang yang sepakat dengan Muhammad al imam berkata:
إنما هي حبر في ورق ليس عليها عمل فلا داعي لهذا التحذير.
"Itu hanyalah tinta di KERTAS yang tidak ada prakteknya maka hal ini TIDAK PERLU TAHDZIR."
Mereka tidak menghiraukan nasehat para penasehat dan peringatan dari para pemberi peringatan. Berlalu malam dan siang MAKA terjadilah apa yang dikhawatirkan para ULAMA KIBAR!!!
Inilah kita temukan penerapan praktek perjanjian itu - mereka sadari atau tidak, bermaksud atau tidak. Kepadamu kami sampaikan sepuluh(10) bukti yang menerangkan kepadamu sesuatu yang kamu duga sebagai hal yang jauh dan MUSTAHIL untuk terjadi:
1- Tersebar keyakinan rusak di tengah salafiyyin, ketahuilah bahwasanya,
ليس في الوثيقة كفر.
❗"Tidak ada kekufuran dalam isi alwatsiqoh."
2- Keyakinan sebagian salafiyun bahwa si kelompok kafir hutsi adalah MUSLIMIN. Dan keyakinan ini disebar di tengah manusia.
3- Keyakinan sebagian salafiyyin bahwa pengkafiran alhutsi (rofidhoh) adalah permasalahan IJTIHAD(yang boleh ada khilaf di dalamnya) dan mereka menukil dari Syaikh Muqbil alwadi'iy bahwa mereka adalah MUSLIMIN.
4- Tahdzir terhadap Hani bin Buraik dengan alasan beliau adalah PENYERU fitnah ketika beliau menghasung untuk jihad fi sabilillah (Melawan hutsi rofidhoh).
Oleh karenanya dua Syaikh dalam Al-jarh wat ta'dil, (Syaikh) Robi' Al-Madkholi dan (Syaikh) Ubaid Al-Jabiry TIDAK MENERIMA jarh(tahdzir) mereka (para masyaikh Yaman terhadap Syaikh Hani')
5- Mereka mentahdzir dari Jihad Daf'i(membela diri) karena itu adalah perang penyebab fitnah antara kaum MUSLIMIN.
❗BAHKAN dalam pengepungan terhadap pemerintah(Presiden Yaman, Hadi)  beserta orang yang bersamanya dari mujahidin kelompok as-saqof si durhaka, Abdurrahman Al-'adeny  mentahdzir dari peperangan (melawan musuh pemerintah itu) dan menganggap bahwa itu adalah PERANG MEMPEREBUTKAN KURSI sebagai penerapan poin kesepakatannya.
6- Pengusiran dari Daarul Hadits di fiyus terhadap para pemilik wasiat(pewaris) Rasulullah yaitu para PENUNTUT ILMU yang berasal dari negara asing dikarenakan hubungan mereka dengan orang-orang yang menyeru jihad sebagaimana  abdurrahman al-'adeny mengucapkan dengan bibirnya lalu ia mempersangkakan bahwa (pengusiran) itu adalah ketetapan pemerintah yang tidak ada campur tangan kami(abdurrahman) di dalamnya."
Dan yang sebenarnya hal itu adalah penerapan kesepakatan perjanjian kufur alwatsiqoh, kebodohan al-'adeny.. dan mufakat rencana jahat dari as-SAQOF si durhaka serta ALMAJIDY si pengkhianat sebagaimana akan tampak dalam waktu dekat.
7- Gertakan abdurrahman al-'adeny untuk MENGUSIR siapa yang berangkat jihad fi sabilillah bersama pemerintah yaman, Presiden Hadi.
8- Tuduhan Syaikh alwushoby terhadap ULAMA KIBAR penyebar dakwah Salafiyah yang mendorong penduduk Yaman untuk melawan pergerakan alhutsi(rofidhoh) dengan tudingan "orang suruhan". Dan tidak ada satu pun dari Ulama Yaman yang mengingkari tuduhan itu.
❌Poin ini dengan apa yang telah dahulu dan yang akan disebut terhitung sebagai PENERAPAN poin kesepakatan terakhir di dalam alwatsiqoh, ketahuilah yaitu:
( تحديد الموقف ممن أراد تفجير الوضع )
"penentuan sikap(merespon) terhadap orang yang ingin merusak isi perjanjian".
9- Muhammad al imam mengirim pernyataan alwatsiqoh kepada imam-imam masjid di daerah  'itq dan yang lainnya, (yaitu) itu harus untuk kalian (menerapkan isi alwatsiqoh).
10- Apabila salafiyyin melewati pos-pos penjagaan dari hutsi, mereka (salafiyyin pengikut al-imam) katakan "Antara kami dan kalian adalah kesepakatan alwatsiqoh".
Sampai ia memperlihatkan lembaran alwatsiqoh kepada hutsi apabila mereka diberhentikan (di pos). Dan ini menampakkan kekufuran tanpa unsur paksaan.
INILAH SEPULUH BUKTI PRAKTEK NYATA DALAM PENERAPAN ISI PERJANJIAN KUFUR ALWATSIQOH, MAKA APAKAH ENGKAU MELIHAT AKAN ADA YANG MENGINGKARINYA , WAHAI ORANG YANG BERAKAL!
_______________
Nasehat terakhir:
يا أيها السلفي استفق من غفلتك فإن الذل والمهانة لاحقة من سار في ركاب أهل الوثيقة
▫"Wahai salafi, BANGUNLAH dari kelalaianmu!!!
Sungguh kerendahan dan kehinaan mengiringi orang-orang yang berjalan di kendaraan orang yang sepakat dengan alwatsiqoh.
وسيسقط كل من دافع عنها أو عن موقعها كبر أو صغر وهكذا كل من قلد وتعصب لمؤيدها
Dan akan jatuh setiap orang yang membelanya atau menandatanganinya, yang besar atau yang kecil. Demikian juga setiap orang yang taqlid dan ta'ashshub menyokongnya.
عاجلاً غير آجل لأنها حرب على اليمنيين وغيرهم في دينهم ودنياهم.
(MEREKA AKAN JATUH) SEGERA TANPA MENGUNDUR WAKTU!
SEBAB (perbuatan mereka) itu adalah peperangan terhadap penduduk Yaman dan selain mereka dalam urusan DIEN dan dunia mereka"..
Dan segala pujian yang sempurna bagi Allah, Rabb alam semesta.
Dikutip dari :
Majmu'ah Manhajul Anbiya | Al Ustadz Abdul Hakam Abu 'Ali At-Tamimi حفظه الله (Aden - Yaman)
▪Alih Bahasa:
Al Ustadz Abu Yahya (Solo) Al Maidaniy حفظه الله - [FBF-5]

Ali bin Abi Thalib pernah membakar sebagian dari orang syiah dan sebagian lagi melarikan diri dari pedang beliau


PELECEHAN SYI’AH TERHADAP PARA SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Syi’ah, merupakan salah satu sekte dalam Islam. Sekte yang memiliki banyak hal-hal aneh, sehingga sebagian ulama menghukumi mereka ini telah keluar dari Islam.
Di antara aqidah Syi’ah yang sangat penting dan menjadi kaidah tertinggi mereka ialah pengkafiran kepada seluruh Sahabat kecuali beberapa orang, seperti ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan beberapa sahabat lainnya. Dan yang sedikit ini pun, mereka tikam dengan kebohongan-kebohongan besar yang sukar dicari tandingannya. Yang pada hakikatnya, mereka pun telah mengkafirkan Ali Radhiyallahu ‘anhu dan ahli bait Radhiyallahu ‘anhum dengan cara yang berbeda ketika mereka mengkafirkan seluruh Sahabat. Siapakah yang lebih mereka kafirkan, Sahabatkah yang mereka tuduh telah menzhalimi ahlul bait, ataukah ‘Ali yang menurut mereka telah mengatakan bahwa dirinyalah yang telah menghidupkan dan mematikan?
Inilah kaidah orang-orang Zindiq, yaitu: “Merendahkan sebagian, kemudian meninggikan sebagian yang lain dalam waktu yang bersamaan”. Mereka telah merendahkan para sahabat dengan caci-maki dan laknat. Mereka melawan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang banyak memuja para sahabat, di antaranya keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka “Radhiallahu ‘anhum”. Kemudian dalam waktu yang bersamaan, mereka kafirkan juga ‘Ali dan ahlulbait dengan cara meninggikan mereka sampai kepada derajat ketuhanan!
Itulah cara-cara kaum zindiq!
Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Syaikhul-Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullah, bahwa Syi’ah itu buatan kaum zindiq munafik, yang pada masa ‘Ali hidup, beliau telah membakar sebagian dari mereka dan sebagian lagi melarikan diri dari pedang beliau.[Minhâjus Sunnah 1/11].
Di bawah ini, sedikit saya terangkan perkataan mereka terhadap para sahabat, yang dinukilkan dari kitab-kitab mereka sendiri.
1. Mereka mengatakan, bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali tiga orang, yaitu: Miqdâd bin Aswad, Abu Dzar, dan Salmân al-Fârisi. [Raudhatun Minal Kâfi 8/245-246 oleh ulama mereka yang bernama Al Kulini].
2. Mereka mengatakan, bahwa para sahabat adalah orang-orang kuffar, sesat, dan terlaknat karena memerangi ‘Ali dan mereka kekal di neraka. [Awâ-ilul Maqâlât hal. 45 oleh Mufîd].
3. Ni’matullah al-Jazâ-iri al-Mâjûsi mengatakan dalam kitabnya, al-Anwâru Nu’mâniyyah (2/244), “Imamiyyah mengatakan dengan nash yang terang atas imamahnya ‘Ali dan mereka telah mengkafirkan para sahabat.”
4. Muhammad Bâqir al Majlîsi mengatakan: “Aqidah kita tentang berlepas diri (al-barâ`) ialah: bahwa sesungguhnya kita berlepas diri dari empat orang berhala, yaitu: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmân, dan Mu’âwiyah. Dan dari empat orang perempuan, yaitu: ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul-Hakam. Dan dari semua pendukung dan pengikut-pengikut mereka. Sesungguhnya mereka adalah sejelek-jelek makhluk Allah di permukaan bumi; dan sesungguhnya tidak sempurna iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan (iman) kepada para imam, kecuali sesudah berlepas diri dari musuh-musuh mereka”. [Haqqul-Yakîin, hal. 519 dalam bahasa Parsi].
5. Mereka mengatakan, bahwa Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmân diadzab di neraka dengan sekeras-keras
azab.
6. Mereka mengatakan, bahwa Abu Bakr dan ‘Umar adalah orang pertama yang masuk neraka bersama Iblis.
7. Bahkan mereka mengatakan, bahwa ‘Umar diadzab di neraka lebih keras dari iblis. [Al-Anwârun- Nu’mâniyyah, 1/81-82].
8. Penyusun kitab al-Anwârun-Nu’mâniyyah (1/81-82) berkata : “Telah datang riwayat-riwayat yang khusus-yakni dari Syi’ah karena ahlus Sunnah menurut mereka adalah orang-orang awam-, “Sesungguhnya setan dirantai dengan tujuh puluh rantai dari besi Jahannam, dan ia dibawa ke mahsyar (tempat berkumpul). Maka, setan melihat ada seorang laki-laki di depannya yang dibawa oleh Malaikat Adzab, dalam keadaan di lehernya ada seratus dua puluh rantai dari rantairantai Jahannam. Lalu, setan mendekat kepadanya dan ia bertanya (kepada orang itu): ‘Apakah gerangan yang telah diperbuat oleh orang celaka ini sehingga dia diadzab lebih dariku, padahal akulah yang menyesatkan makhluk dan membawa mereka kepada kebinasaan?’ Maka, ‘Umar menjawab pertanyaan setan itu: “Tidak ada sesuatu pun yang aku kerjakan selain sesungguhnya aku telah merampas khilâfah ‘Ali bin Abi Thâlib’.”
Kemudian si Majusi yang bernama Ni’matullah al-Jazâ-iri ini memberi komentar: “Zhahirnya bahwa dia -yakni Umar- manganggap kecil apa yang menyebabkan dirinya menjadi celaka dan bertambah adzabnya, padahal dia tidak tahu, bahwa setiap yang terjadi di dunia ini sampai hari Kiamat berupa kekufuran dan kemunafikan dan berkuasanya orang-orang yang durhaka dan zhalim, tidak lain melainkan disebabkan oleh perbuatannya ini.” (Saya nukil dari kitab Mas-alatut Taqrîb [1/366) oleh Syaikh Nâshir al-Qifâri].
Lihatlah apa yang telah dikatakan si Majusi ini terhadap khalifah yang mulia ‘Umar bin Khaththâb Radhiallahu ‘anhu. Yang menurut keyakinan Syi’ah, bahwa ‘Umar diazab lebih pedih dan lebih besar dari Iblis!? Demikian juga bahwa perbuatan ‘Umar lebih menyesatkan daripada perbuatan Iblis!?
9. Telah berkata seorang Majusi lainnya, asy-Syirâzi, yang mereka namakan tanpa haq dengan “Ayatollah”(!?): “Biarkanlah mereka (yakni Syi’ah) menjelaskan dengan setiap ketegasan, sesungguhnya Abu Bakr dan ‘Umar, keduanya tidak pernah beriman kepada Allah meskipun sekejap mata saja. Biarkanlah mereka (yakni Syi’ah) menjelaskan dengan setiap ketegasan, sesungguhnya ‘Aisyah seorang Khawârij, sedangkan Khawârij adalah kafir. Biarkanlah mereka (yakni Syi’ah) menjelaskan dengan setiap ketegasan, sesungguhnya ‘Utsman laknatullah dari Bani Umayyah, dan mereka adalah pohon yang terlaknat di dalam Al-Qur’ân.”
Si Majusi ini sampai hari ini masih hidup sebagai salah seorang ulama mereka (baca: Syi’ah Râfidhah).
(Saya nukil dengan ringkas dari kitab Zhâhiratut-Takfîr fi Madzhab Syi’ah (hal. 9) oleh Syaikh ‘Abdurrahmân Muhammad Sa’îd ad-Dimasyqiyyah).
10.Al Kulini di kitabnya, al-Kâfi, di bagian kitab “Raudhah” mengatakan: “Bahwa dua orang Syaikh (yang dimaksud oleh mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar) telah terpisah dari dunia ini (yakni mati) (dalam keadaan) tidak bertaubat dan tidak mengingat apa yang keduanya telah perbuat terhadap Amirul-Mukminin (yakni ‘Ali bin Abi Thâlib), maka atas keduanya laknat Allah dan malaikat dan manusia semuanya.” [Saya nukil dari kitab Mas-alatut-Taqrîb Baina Ahlis-Sunnah wasy-Syî’ah (1/366) oleh Syaikh Nâshir al-Qifâri].
11.Kemudian si Majusi yang bernama Ni’matullah al-Jazâ-iri di kitab al-Anwârun Nu’mâniyyah (2/111) mengatakan: “Telah dinukil di dalam riwayat-riwayat pertama –yakni riwayat Syi’ah- bahwa khalifah yang pertama –yakni Abu Bakr- bersama dengan Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan berhala yang biasa dia sembah pada zaman Jahiliyyah tergantung di lehernya tertutup oleh bajunya. Dan dia pun sujud –yakni di dalam shalat- sedangkan yang dia maksudkan adalah sujud kepada berhalanya itu sampai Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam mati, maka barulah mereka (yakni para sahabat di bawah pimpinan Abu Bakr) menyatakan (secara terang-terangan) apa yang ada di dalam hati-hati mereka.”
Demikianlah, beberapa tuduhan keji sekte aneh ini terhadap para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mendapatkan sanjungan dari Allah Azza wa Jalla. Semoga kian menyadarkan kaum muslimin akan tipu-daya dan kebusukan mereka. Wallahul-Hâdi
Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]

Sunday, March 22, 2015

Dajjal Muncul di Iran ??

Benarkah dajjal muncul di Iran ?? Aq pernah denger omongan org seperti itu. Tapi kan gak jelas, jadi butuh bukti. Trim’s

Jawab :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berbicara masalah aqidah, masalah keyakinan, berita ghaib, dst, prinsip yang perlu kita kedapankan adalah mendengar dan pasrah. Selama informasi yang menjadi sumber berita itu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Karena konsekuensi iman kita terhadap al-Quran dan hadis adalah meyakini setiap berita yang disebutkan dalam al-Quran dan hadis shahih itu.

Karena itulah, dalam masalah aqidah, ulama menyebutnya sebagai masalah sam’iyat. Masalah yang hanya bisa didengar, dan tidak ada ruang bagi akal untuk ikut terlibat, sekalipun menurut sebagian orang tidak masuk akal.

Seluruh informasi tentang Dajjal, termasuk masalah aqidah dan keyakinan. Karena munculnya Dajjal, bagian dari tanda akhir zaman, yang itu tidak mungkin bisa kita ketahui kecuali berdasarkan informasi dari wahyu. Dengan demikian, peristiwa munculnya Dajjal hanya bisa dekati dengan prinsip mendengar dan pasrah.

Dajjal Muncul di Iran ??

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan hal itu. Diantaranya,

Hadis dari Fatimah binti Qais bahwa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal. Salah satu diantara yang beliau sampaikan,

أَلاَ إِنَّهُ فِى بَحْرِ الشَّامِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لاَ بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ ما هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ». وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ
“Tidaklah dia (Dajjal) di laut syam, atau laut Yaman, tidak. Tetapi dari arah Timur. Dia dari arah Timur, dia dari arah Timur..” dan beliau berisyarat dengan tangannya ke arah Timur. (HR. Muslim 2942, dan Abu Daud 4326).

Apa Maksud Arah Timur ??

Arah mata angin dalam bahasa syariat, hanya ada 4: utara, selatan, timur, dan barat. Tidak dikenal arah tenggara, timur laut, barat daya, atau barat laut. Karena itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan arah kiblat penduduk kota Madinah, beliau bersabda,

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Daerah antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Nasai 2243, Turmudzi 342, Ibnu Majah 1011 dan dishahihkan al-Albani).

Kota Madinah, berada di utara Mekah. Selama penduduk Madinah menghadap ke arah selatan (antara timur dan barat) maka dia dianggap telah menghadap kiblat.

Kita kembali pada hadis keluarnya Dajjal di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan, Dajjal muncul dari arah timur. Timur yang mana? Dalam hadis itu tidak ditegaskan. Dan jika kita pahami berdasarkan bahasa syariat, semua daerah yang berada di antara utara dan selatan dari kota Madinah,masuk dalam cakupan hadis itu. Sekalipun dia agak serong ke utara. Sehingga mencakup daerah Saudi timur, Irak, Iran, dan negara-negara asia timur.

Hadis ini Menegaskan Dajjal Keluar di Iran

Kemudian, terdapat hadis shahih lainnya yang menegaskan kota tempat keluarnya Dajjal.

Dari Abu Bakr ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالمَشْرِقِ يُقَالُ لَهَا: خُرَاسَانُ
“Dajjal keluar dari daerah di sebelah Timur, namanya Khurasan.” (HR. Ahmad 33, Tumudzi 2237, Ibnu Majah 4072, dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Arah timur yang menjadi tanda tanya, telah ditegaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Daerah timur yang beliau maksud adalah daerah Khurasan.

Keterangan di atas, diperkuat oleh riwayat lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ، وَمَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْيَهُودِ

“Dajjal akan keluar dari daerah Yahudiyah Asbahan. Dia bersama 70 ribu orang Yahudi.” (HR. Ahmad 13344, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3639, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).


Apa itu Khurasan dan Asbahan ??

Khurasan : Satu wilayah yang luas di sebelah Timur Jazirah Arab. Saat ini, yang termasuk wilayah Khurasan: Nishapur (Iran), Herat (Afganistan), Merv (Turkmenistan), dan berbagai negeri di Selatan sungai Jihun (sungai Amu Darya) (Mu’jam al-Buldan, 2:350).

Asbahan : Sering juga disebut Asfahan. Termasuk wilayah Iran. 340 km di Selatan Teheran. Ketika Bukhtanshar menyerang Baitul Maqdis dan menjadikan penduduknya sebagai tawanan, bersama orang Yahudi. Kemudian mereka ditempatkan di Asfahan. Akhirnya wilayah tersebut dinamakan kampung Yahudiyah. Ibu kota Asfahan saat ini adalah Yahudiyah (Mu’jam al-Buldan, 1:208).

Hadisnya Bertentangan ??

Dua hadis yang menyebutkan kota tempat keluarnya Dajjal di atas, nampaknya tidak sepakat. Yang satu mengatakan, di Khurasan dan satunya mengatakan Asbahan. Mana yang benar, Asfahan ataukah Khurasan ??

Jika Anda perhatikan peta negara Iran, Khurasan dan Asfahan berimpit di bagian Timur Laut wilayah Iran. Kita tidak tahu pasti awal kali Dajjal muncul di titik yang mana. Yang jelas, di dua daerah, pertama kali Dajjal muncul dan mendapatkan banyak pengikut.

Dan benarlah apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Catatan dari Frances Harrison dari BBC News, yang dilansir pada September 2006, bahwa di Teheran ada sekitar 25 ribu Yahudi di negeri Iran. Meskipun lagaknya melawan zionis, tapi Iran menjadi tempat yang aman bagi Yahudi. Pemimpin komunitas Yahudi Iran, Mr. Hammami mengaku bahwa Khomaini membedakan antara Yahudi dan Zionis. Dan dia mendukung kami. Dari sinilah Anda bisa mendapatkan jawaban, mengapa Dajjal muncul di Iran.

Dajjal Mulai Terkenal

Hanya saja, fenomena kehadiran Dajjal mulai semarak dan dikenal di kalangan umat manusia, setelah dia berada di daerah antara Irak dan Syam (kawasan 4 negara: Suriah, Palestina, Libanon, dan Yordania).

Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنه خارج خلة بين الشأم والعراق، فعاث يمينا وعاث شمالا، يا عباد الله فاثبتوا

“Dajjal keluar di daerah antara Syam dan Iraq. Kemudian dia membuat kerusakan di sebelah kanan dan kirinya. Wahai hamba Allah! Kuatkan iman kalian!” (HR. Muslim 2937 dan Ibn Majah 4075).

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,

فيكون بدء ظهوره من أصبهان من حارة منها يقال لها اليهودية وينصره من أهلها سبعون ألف يهودي
“Pertama mulai munculnya Dajjal di Asbahan, tepatnya di dataran bebatuan, yang dinamakan kampung Yahudiyah. Dajjal dibela oleh 70 ribu orang yahudi dari penduduk Ahbahan.” (An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, Hal. 59).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Yang Harus Anda Tahu Tentang Syi’ah Zaidiyah

Bismillah wash shalaatu wassalaamu ‘ala Rasuulillaah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’iin.

Ketika mendengar istilah Zaidiyah, maka yang terpikir oleh kebanyakan kaum muslimin adalah salah satu sekte Syi’ah yang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, yang moderat (tidak ghuluw/ tidak berlebih-lebihan terhadap imam ‘Ali) dan yang jauh dari sikap fanatik dan ekstrim, atau ada yang menyebutnya dengan Syi’ah Mu’tadilah. Anggapan-anggapan seperti itu terkadang dijadikan senjata ampuh oleh kalangan Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah untuk semakin meyakinkan (baca: membodohi) kaum muslimin bahwa tidak semua Syi’ah itu sesat, bahkan kafir. Dan (menurut mereka), bahwa penganut sekte Syi’ah yang satu ini banyak berdiam di negeri ini.

Bagi kalangan awwam yang tidak paham terhadap aqidah Syi’ah, dan dirinya sedang menimba ilmu dari orang yang beraqidah Syi’ah atau yang pro dengan Syi’ah, akan mudah dibodohi dengan pernyataan-pernyataan mereka seperti ini. Sehingga, kita sering mendengar dari orang-orang awwam itu berceloteh, “Jangan menuduh kepada setiap penganut Syi’ah di negeri ini dengan sesat, bahkan kafir. Karena selama ini, kami tidak pernah mendapati ajaran dari si fulan yang menyimpang dari al-Qur’an dan hadits. Kami tidak pernah diajari untuk mencela shahabat dan lain-lain.” Dan kata-kata yang semisalnya.

Benarkah anggapan mereka bahwa Zaidiyah dekat dengan Ahlus Sunnah, bersikap moderat dan tidak ekstrim hingga detik ini? Benarkah penganut Syi’ah di negeri ini sebagiannya bermadzhab Zaidiyah (yang kata mereka) tidak sesat? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Sekilas Tentang Syi’ah Zaidiyah

Zaidiyah adalah salah satu sekte dari sekian banyak sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husen bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma (80 – 122 H). Beliau pernah memimpin satu revolusi Syi’ah di Irak melawan orang-orang Umawi pada masa Hisyam bin ‘Abdul Malik. Penduduk Kuffah mendorongnya untuk memimpin revolusi tersebut. Tak lama kemudian, setelah ia maju memimpin pemberontakan, ia ditinggalkan dan dihinakan oleh penduduk Syi’ah di Kuffah karena diketahui ternyata beliau menghormati dan meridhai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma serta tidak mengutuk keduanya, maka beliau terpaksa berhadapan dengan tentera Umayyah padahal pasukannya hanya sekitar 500 orang terdiri dari pasukan berkuda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, beliau terkena anak panah di pelipisnya yang menyebabkan kematiannya.

Dalam Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengemukakan bahwa sejak Zaid tampil ke gelanggang politik, Syi’ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua shahabat itu dan beliau mendo’akan keduanya. Sekelompok dari pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Kemudia Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuunii?” (Apakah kalian menyempal dariku?) Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi’ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya: yang memihak kepada Zaid.[1]

Adapun Ibnu Katsir rahimahullaah menceritakan, pada suatu saat kaum Syi’ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid, “Apa maksud perkataan anda, Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan ‘Umar?” Zaid menjawab, “Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan ‘Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang baik-baik. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas kebid’ahan. Jika kalian bersedia mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Akan tetapi apabila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian.”

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi’ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai’at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyah. Penduduk Kuffah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua shahabat tadi. Padahal Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan ’Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Bahkan, mungkin tidak lebih utama daripada ’Utsman, menurut paham Ahlus Sunnah yang shahih.[2]

Syi’ah Zaidiyah Hari Ini

Setelah kita mengetahui tentang Syi’ah Zaidiyah secara sekilas, maka kita mengetahui bahwa pendiri sekte ini (Imam Zaid), sangat menghormati dan meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar, berbeda halnya dengan sikap Rafidhah yang tidak mengakui kepemimpinan keduanya, bahkan mencela dan mengkafirkan keduanya serta para shahabat yang lainnya. Maka salah satu alasan inilah, kemudian Zaidiyah dikatakan memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah.

Namun, yang harus menjadi catatan bagi kita semua, bahwa ternyata Zaidiyah hari ini berbeda dengan Zaidiyah pada kurun pertama. Sehingga, anggapan kaum muslimin yang mengatakan bahwa Zaidiyah hari ini tetap memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah tidak bisa dibenarkan. Karena kita ketahui, bahwa sejak awal kemunculan aliran Syi’ah, maka sejak saat itu pula aliran ini terus berpecah belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan (ada yang mengatakan) sampai beratus-ratus gara-gara perbedaan pemikiran,[3] dan kemungkinan termasuk Zaidiyah ini juga berpecah belah menjadi beberapa kelompok.[4] Apalagi saat ini Zaidiyah sudah terkena pengaruh Rafidhah.

Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad Abu Zahroh untuk mengatakan, “Madzhab Zaidiyah sudah melemah. Madzhab-madzhab Syi’ah yang lain berusaha untuk mengalahkannya, melibasnya dan menyuntiknya dengan ajaran-ajarannya, karena itulah orang-orang yang membawa nama madzhab (Zaidiyah) ini sesudah itu, tidak memperbolehkan kepemimpinan orang yang mafdhul. Mereka telah dianggap sebagai bagian dari Syi’ah dan mereka juga menolak kepemimpinan asy-syaikhain, Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Dengan begitu telah hilanglah keistimewaan yang paling menonjol dari Zaidiyah fase pertama.”[5]

Dari aqidah Zaidiyah yang sudah terpengaruh dengan Rafidhah, ternyata berdampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah. Dalam buku Khiyanaatusy Syi’ah wa ‘Atsaruhaa fii Hazaaimil Ummah al Islamiyyah (Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam), DR. Imad ‘Ali Abdus Sami’ menyebutkan bahwa pada masa Turki ‘Utsmani, mereka menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Yaman. Sehingga ketika orang-orang Turki meninggalkan Yaman pada tahun 1337 H, orang-orang Ahlus Sunnah khawatir terhadap Zaidiyah yang berkeinginan untuk menguasai negara mereka.

Kekhawatiran itu ternyata menjadi sebuah kenyataan. Kalangan Zaidiyah berusaha melakukan penyerangan terhadap kalangan Ahlus Sunnah, sehingga sebagian orang-orang Ahlus Sunnah pun berusaha memberikan perlawanan, akan tetapi mereka tidak dapat bersatu. Pemimpin Zaidiyah di Yaman ketika itu menyerang mereka bersama dengan pasukan dari kabilah-kabilah Zaidiyah dan terjadilah pertempuran hebat selama 6 bulan. Orang-orang Ahlus Sunnah pun mengalami kekalahan dan mereka diharuskan tunduk kepada hukum imam dan kekuasaan Zaidiyah.

Berapa banyak, mereka menyiksa, menyakiti dan membunuh kalangan Ahlus Sunnah di Yaman. Bahkan ulama’ Ahlus Sunnah pun tak luput dari serangan mereka, seperti yang mereka lakukan terhadap syaikh Muhammad Shaleh al-Akhram, dimana mereka memenjarakannya sementara dirinya sudah tua renta. Mereka juga menculik syaikh Muqbil bin ‘Abdullah dan membunuh al-‘Allaamah Muhammad bin ‘Ali al-‘Imrani ash-Shan’ani, salah seorang murid Imam Syaukani yang terkenal.

Semoga kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak tertipu sehingga mengatakan bahwa Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, (karena sikap moderat dan jauh dari sikap fanatik dan ekstrim) setelah kita mengetahui kejahatan mereka terhadap Ahlus Sunnah di atas.[6]

Syi’ah Zaidiyah di Indonesia ???

Setelah kita memahami, bahwa ternyata keberadaan Syi’ah Zaidiyah saat ini ternyata tidak lebih baik daripada Syi’ah Rafidhah, baik dalam pemikirannya ataupun sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah, maka muncul pernyataan yang menggelikan, bahwa di negeri ini banyak yang menganut Syi’ah yang tidak ekstrim.

Sungguh, itu hanyalah pernyataan orang-orang jahil (baca: awwam/goblok) dan orang-orang yang berusaha menyesatkan kaum muslimin lewat opini mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan diatas, adakah salah satu sekte Syi’ah yang lain yang tidak ektrim yang dekat dengan Ahlus Sunnah ??

Saya yakin, jawaban mereka sebenarnya hanyalah tertuju pada Zaidiyah. Tidak ada kelompok Syi’ah yang lain yang mereka anggap lebih moderat dari Zaidiyah. Seandainya saja Zaidiyah memang memiliki kedekatan dengan Ahlus Sunnah, maka muncul pertanyaan lagi, apakah Zaidiyah ini ada di Indonesia ??

Orang-orang jahil dan para penyesat umat ini akan memaksakan diri dengan mengatakan bahwa penganut Syi’ah tersebut ada di negeri ini juga.

Maka, saya katakan kepada juhala’ (kumpulan orang-orang bodoh/dungu) dan ahlu dhalal (kumpulan orang-orang sesat), “Ketahuilah, bahwa keberadaan penganut Syi’ah Zaidiyah hari ini ada di Yaman, itupun tidak banyak. Dan sebagian kecil lagi tersebar ke wilayah timur di negara-negara Hazr ( wilayah Afghanistan ), Dailam, Thobristan dan Jailan, sedangkan ke wilayah barat tersebar sampai negara-negara Hijaz dan Mesir. Adapun penganut Syi’ah di negeri ini adalah bermadzhab Syi’ah Imamiyyah Itsna ’Asyariyah Ja’fariyah Khumainiyah, atau lebih dikenal dengan Rafidhah yang berpusat di Iran. Namun, untuk mengelabuhi kaum muslimin, saat ini mereka menggunakan nama ”Madzhab Ahlul Bait”. Saya perjelas lagi, TIDAK ADA SYI’AH DI NEGERI INI KECUALI RAFIDHAH IRAN.”[7]

Allaahummaa arinal haqqa haqqa war zuqnattibaa’ah wa arinal baathila baathila warzaqnajtinaabah. Aamiin yaa Rabbal ’aalamiin.
Wallaahu ta’ala a’lam bish shawwab.
[1] Minhaj as-Sunnah an Nabawiyah, Ibnu Taimiyyah, juz I, hal.8.
[2] Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, juz 9, hal. 230 dan 329.
[3] Baca: Menyingkap Hakekat Aqidah Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad.
[4] Sekte pecahan Zaidiyah diantaranya: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Sholihiyah, Batriah.
[5] Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, 1/51.
[6] Pengkhianatan-pengkhianatan Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, 181-182.
[7] Silakan baca: Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran(Mausuah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Muashirah.
[
Mujiburrahman Abu Sumayyah]



Pujian Ulama Dunia terhadap Syaikh Al-Albaniy

Pengakuan para Ulama terhadap Syaikh Al-albani ,yang sebagian di antara Ulama itu adalah para Muhaddist ,bahkan yang berseberangan faham dengan beliau, tapi semuanya mengakui bahwa beliau seorang Muhaddist besar :


1) Doktor Yusuf Al-Qordhowi seorang Tokoh besar Jama’ah Ikhwanul Muslimin Berkata:Syaikh Albaniy adalah seorang Muhaddits (Ahli hadits) dari negeri Syam.