Sunday, April 19, 2015

Cuplikan Aqidah Busuk Syiah : Pantas Syiah Menghina Para Sahabat, Allah Saja Dihina

Menurut ustadz Abu Usamah, syiah adalah aliran yang sesat dan berbahaya. Selain karena aqidahnya yang busuk dan banyak menyimpang, syi’ah pun berani menghina Allah ta’ala.
“Sangat busuk sekali Aqidah Syi’ah itu. Mereka meyakini bahwa Allah memiliki Aqidah bada’ yang berarti dan megimani bahwa Allah tidak mengetahui sedikitpun tentang sesuatu yang akan terjadi kecuali bila sudah terjadi” tegas Qari’ bersuara merdu itu.
Sedangkan Aqidah Ahlussunnah sangat bertentangan dengan Aqidah sesat itu. Ahlussunnah sangatlah yakin bahwa Allah memiliki ilmu tentang sesuatu yang belum terjadi dan apa ayng akan terjadi selanjutnya.
Aqidah Ahlussunnah sangat mengagungkan Allah, sedang syi’ah sangat keji. Pantas saja mereka tidak menghargai para sahabat bahkan melaknat orang yang menemai perjuangan Rasulullah semasa hidupnya. Allah saja tidak dihormati apalagi para sahabat!”. Tuturnya.
Beliau mengisahkan tentang seorang tentara yang melihat langsung kekacauan syariat yang dibawa oleh syiah. “ saya pernah didatangi oleh seorang tentara yang pernah ditugaskan menjadi pasukan perdamaian di Libanon. Beliau mengisahkan bahwa mereka baru tahu kesesatan syiah dan melihat sendiri kesesatannya. Beliau menuturkan bahwa dia melihat orang syiah yang sholat berjamaah. Suatu ketika datanglah pedagang yang menjajakan dagangannya, seketika jamaah yang belum selesai sholatnya menuju pedagang dan kembali ke jamaahnya setelah berbelanja.” Tuturnya kembali.
Ustadz Abu Usamah juga menjelaskan bahwa target syiah selanjutnya adalah mensyiahkan negara Indonesia. Dalam sela sela kajiannya ustadz Abu Usamah menantang dedengkot Syiah dalam hafalan Quran .
“Gak ada dedengkot Syiah yang hafal Al-Quran. Saya tantang, apakah mereka ada yang hafal AlQuran? Saya yakin bocah-bocah Ahlussunnah lebih banyak yang hafal Quran dibanding mereka” tutupnya.

Membantah Syi’ah: Masalah Pengingkaran terhadap Qadar
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ
Di antaranya ucapan mereka,
“Sesungguhnya Allah tidak mentakdirkan apapun juga di masa azali dan bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan menginginkan kejelekan.”[176]
Padahal, Imam Muslim meriwayatkan bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”(Qomar: 49) turun ketika orang-orang musyrik mendebat dalam masalah itu.[177]
Sebagian tokoh ulama mengatakan bahwa telah diriwayatkan banyak hadits yang diriwayatkan melalui lebih dari seratus orang sahabat dalam masalah penetapan takdir dan yang berkaitan dengannya.[178]  Telah datang pula dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Setiap umat mempunyai golongan majusi, dan majusinya umat ini adalah orang-orang yang mengatakan bahwa tidak ada takdir.”[179]
Jika kamu telah mengetahui hal tersebut, maka ketahuilah bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu sebelum keberadaannya baik secara global maupun terperinci, menyeluruh maupun parsial. Dia mengetahui segala yang terkait dengannya, menetapkan takdir bagi segala sesuatu di zaman azali, sehingga semuanya tidak akan bertambah maupun berkurang, tidak pula maju ataupun mundur dan bahwasanya tidak akan didapati sesuatu melainkan dengan kehendak dan keinginan Allah. Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. Apa yang Allah takdirkan maka akan ada, apa yang dikehendaki maka akan terjadi dan apa yang maka tidak dikehendaki tidak akan terjadi. Hal seperti itu tetap dengan sepintas pikiran maupun dalil yang mutawatir dan diketahui secara yakin, sehingga siapa saja yang mengingkari sesuatu yang langsung ditunjukkan oleh akal dan mengingkari nash yang mutawatir ini, jika ia tidak menjadi kafir maka tidak kurang untuk menjadi orang yang fasik.
________________________________
176 Al-Kafi (1/155-160) (1/209) cet. Darul Adhwa’.
177 HR. Muslim no. 2656 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Datang kaum musyrikin Quraisy mendebat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam tentang takdir, maka turunlah ayat,“(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka), ‘Rasakanlah sentuhan api neraka’ Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran’(Al-Qomar: 48-49)
178 Guru kami, Muqbil rahimahullah, mempunyai kitab yang sangat berharga, yaitu Al-Jami’ Ash-Shahih fil Qodar di mana padanya beliau membantah orang-orang Rafidhah dan selainnya dari kalangan ahli bid’ah dan hawa nafsu yang mengingkari takdir.
179 HR. Abu Dawud no. 4692 dari Hudzaifah, Ahmad no. 5584 dari Ibnu Umar, dan Al-Baihaqi jilid 1 hal. 203 dari Hudzaifah. Tetapi, dalam sanadnya terdapat Umar bin Abdillah maula Gufrah dan diadhaif sebagaimana dalam At-Taqrib. Di dalamnya juga terdapat rawi yang tidak dikenal, dan hadits tersebut disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Ilal Al-Mutanahiyah no. 227 dan beliau mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.
Juga datang dalam riwayat Abu Dawud no. 4691, Al-Hakim no. 286, dan Al-Baihaqi (10/203) dari jalan Abu Hazim dari Ibnu Umar dengan lafazh: Orang-orang Qodariyyah adalah majusi umat ini. Tetapi, sanadnya terputus, di mana Abu Hazim Salamah bin Dinar tidak mendengar dari Ibnu Umar sebagaimana dalam Tuhfatul Asyrafhadits no. 7088 pada biografi rawi ini dan sebagaimana dalamTahdzibut Tahdzib.
[Dari: Risalatun fir Raddi ‘alal Rafidhah; Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab; Ta’liq & Tahqiq: Abu Bakr Abdur Razzaq bin Shalih bin Ali An-Nahmi; Judul Indonesia: Bantahan & Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya; Penerbit: Penerbit Al-Ilmu]

MENIMBANG SYI’AH (Bagian ke-11)
BY SIGABAH BENCANA AQIDAH · 20 APRIL 2015
Syiah dan Rukun Iman: Qadha’ dan Qadar
Keyakinan Syiah tentang 5 rukun iman telah selesai dibahas pada beberapa dua edisi sebelumnya. Pada edisi ini hendak ditampilkan keyakinan Syiah tentang rukun iman terakhir (Qadha’ dan Qadar). Tentang Qadha’ dan Qadar, Syiah—seperti pada rukun Iman yang lain—juga punya pandangan yang jauh berbeda dengan umat Islam.
Jika kita kembali menelaah literatur-literatur salaf yang mengupas tentang aliran-aliran teologi dalam Islam berikut pemikirannya, maka akan kita dapatkan bahwa jajaran ulama Syiah periode awal sepakat menetapkan eksistensi Qadar. Pendapat bahwa perbuatan makhluk tidak terkait dengan takdir Allah SWT. Muncul pada saat pemikiran teologis Syiah mulai bergesekan dengan pemikiran Mu’tazilah, tepatnya pada abad keempat hijriah.
Agaknya, periode itulah yang dijadikan patokan oleh para ahli untuk menentukan awal pengingkaran Syiah terhadap Qadar.[1]  Buku-buku teologi Islam mencatat, bahwa maraknya pengingkaran QadarAllah SWT. Di kalangan Syiah ini diperkirakan terjadi sejak munculnya Muhammad bin an-Nu’man al-Mufid bersama para pengikutnya.
Pandangan Syiah terhadap Qadha’ dan Qadar ini antara lain diuraikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Dalam Maqalat al-Islamiyin,[2] beliau menegaskan bahwa dalam menyikapi Af’al al-Ibad (pekerjaan-pekerjaan hamba), pandangan Syiah Rafidhahterbagi menjadi tiga kategori:
Meyakini bahwa semua perbuatan makhluk diciptakan oleh Allah SWT.
Tidak mempercayai bahwa perbuatan makhluk adalah ciptaan Allah SWT.
Bersikap netral. Kelompok ini mengatakan tidak ada pemaksaan pada setiap perbuatan makhluk—pendapat ini sama dengan pendapat sekte Jahmiyah. Namun seorang hamba juga tidak boleh menyerah pada nasib—yang ini lebih dekat pada pendapat sekte Mu’tazilah (Qadariyah).
Tentu saja klasifikasi terhadap kerangka pemikiran Syiah yang dibuat oleh al-Asy’ari ini berlandasan pada data-data otentik dari Syi’ah, berikut data empiris berdasarkan penelitian dan pengalaman beliau. Hal itu terbukti, bahwa ketika menjelaskan akidahnya mengenai qadar, Ibnu Babawaih al-Qummi agaknya menunjuk pada salah satu klasifikasi yang dibuat al-Asy’ari tadi. Dengan tanpa ketegasan teoritis, Ibnu Babawaih dalam Aqaid ash-Shaduqmenyatakan sebagai berikut:
إِعْتِقَادُنَا فِي أَفْعَالِ العِبَادِ أَنَّهَا مَخْلُوْقَةٌ خَلْقَ تَقْدِيْرٍ لَا خَلْقَ تَكْوِيْنٍ, وَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَمْ يَزَلِ اللهُ عَالِماً بِمَقَادِرِهَا.
“Keyakinan kami mengenai perbuatan makhluk ialah: bahwa perbuatan itu diciptakan dengan penciptaan takdir, bukan penciptaan pembentukan. Artinya adalah bahwa Allah SWT. Senantiasa mengetahui takdirnya makhluq.”[3]
Namun, ketidak-lugasan penyampaian Ibnu Babawaih tersebut memberikan indikasi bahwa Allah SWT. hanya mengetahui segala perbuatan makhluk saja, tidak memberi arti Allah SWT. bisa berkehendak apa saja pada setiap makhluknya, sesuai dengan artiqadar yang sesungguhnya.
Kemudian, ulama Syiah yang lain memberikan penjelasan akan keyakinan Syiah Itsna Asyariyah yang sesungguhnya terhadapqadar Allah SWT., seperti yang dikemukakan al-Mufid dalam penegasannya berikut:
الصَحِيْحُ عَنْ آلِ مُحَمَّدٍ صلّى الله عليه و سلّم أَنَّ أَفْعَالَ العِبَادِ غَيْرُ مَخْلُوْقَةٍ لله,َ وَ الَّذِيْ ذَكَرَهُ أَبُوْ جَعْفَرٍ قَدْ جَاءَ بِهِ حَدِيْثٌ غَيْرُ مَعْمُوْلٍ بِهِ, وَ لَا مَرْضِيِّ الْإِسْنَادِ, وَ الأَخْبَارُ الصَّحِيْحَةُ بِخِلَافِهِ.
“Yang benar dari keluarga Muhammad SAW. Ialah: bahwa sesungguhnya perbuatan makhluk itu tidak diciptakan oleh Allah SWT. Sementara apa yang disampaikan Abu Ja’far adalah hadits-hadits yang tidak bisa dipakai. Selain sanadnya tidak baik, hadits-hadits yangshahih juga bertentangan dengannya.”[4]
Senada dengan penegasan diatas, adalah jawaban dari pertanyaan yang pernah diajukan kepada Abu al-Hasan ar-Ridha AS (diklaim pihak Syiah sebagai Imam ke-8). bahwa ketika beliau ditanyakan oleh seseorang mengenai keyakinannya tentang qadar Allah SWT; apakah qadar itu diciptakan Allah SWT. Atau tidak? Lalu beliau menjawab:
لَوْ كَانَ خَالِقًا لَهَا لَمَا تَبَرَّأَ مِنْهَا وَ قَدْ قَالَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى أَنَّ اللهَ بَرِيْءٌ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَ رَسُوْلُهُ, وَ لَمْ يُرِدْ البَرَاءَةَ مِنْ خَلْقِ ذَوَاتِهِمْ وَ إِنَّمَا تَبَرَّأَ مِنْ شِرْكِهِمْ وَ قَبَائِحِهِمْ.
“Andaikan Allah SWT. Yang menciptakan perbuatan makhluk, tentu Dia tidak akan melepaskan diri darinya, sementara Dia telah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya terbebas diri dari orang-orang musyrik.” Allah SWT. Tidak bermaksud melepaskan diri dari menciptakan mereka, namun melepaskan diri dari kesyirikan dan kejelekan mereka.”[5]
Lebih tegas lagi, al-Hurr al-Amili (w. 1104 H), salah seorang ulama Syiah terkemuka, mengupas kajian seputar qadar dalam bab spesifik dengan judul “Sesungguhnya Allah SWT. menciptakan segala sesuatu selain perbuatan makhluk.” Dalam kitabnya al-Fushul al-Muhimmah fi Ushul al-Aimmah, dia mengatakan bahwa Syiah Imamiyah dan Mu’tazilah meyakini bahwa semua perbuatan makhluk timbul dari dirinya sendiri, merekalah yang menciptakan perbuatan-perbuatan itu.[6]
Ulama Syiah yang lain, Muhammad Shadiq ath-Thabathaba’I, juga memberikan ketegasan yang sama: “Syiah Imamiyah dan Mu’tazilah berkeyakinan bahwa semua perbuatan dan gerak-gerik makhluk itu terjadi dengan kekuatan dan keinginan mereka sendiri. Merekalah yang menjadikan pekerjaan-pekerjaan itu. Sedangkan ayat-ayat yang menerangkan bahwa Allah SWT. yang menciptakan segala sesuatu, itu adakalanya sudah di takhsis (dikhususkan maksud dan tujuannya) dengan selain perbuatan makhluk, atau ditakwil bahwa Allah SWT. Yang menciptakan segala sesuatu dengan tanpa perantara, atau dengan perantara makhluk-Nya.”[7]
Dari beberapa penegasan ulama-ulama Syiah ini, jelaslah kiranya, bagaimana sebenarnya kepercayaan mereka berkenaan denganqadar Allah SWT. bahwa akidah mereka dalam hal ini sebetulnya tidak ada bedanya dengan sekte Mu’tazilah – yang menyimpang.
Namun, sebagaimana disinggung di atas, tampaknya keyakinanqadar ala Mu’tazilah ini dianut oleh orang-orang Syiah pasca abad ketiga hijriah, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Taimiyah. Sedangkan Syiah yang hidup pada abad-abad sebelumnya malah memiliki keyakinan yang berseberangan. Hal ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang disampaikan langsung oleh A’immah Ahlul Bait, al-Kulaini antara lain meriwayatkan hadits sebagai berikut:
قَالَ أَبُو جَعْفَر وَأَبُو عَبْدِ اللهِ: إِنَّ اللهَ أَرَحْمُ بِخَلْقِهِ مِنْ أَنْ يُجْبِرَ خَلْقَهُ عَلَى الذُّنُوبِ ثُمَّ يُعَذِّبَهُمْ عَلَيْهَا وَاللهُ أَعزُّ مِنْ أَنْ يُرِيْدَ أَمْرًا فَلَا يَكُوْنُ، قَالَ: فَسُئِلَا عَلَيْهِمَا السَّلَامُ هَلْ بَيْنَ الْجَبْرِ وَالْقَدَرِ مَنْزِلَةٌ ثَالِثَةٌ؟ قَالَا: نَعَمْ أَوْسَعُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْاَرْضِ.
Abu Ja’far dan Abu Abdillah berkata: “sesungguhnya Allah SWT. Tidak akan memaksa hamba-Nya untuk mengerjakan perbuatan dosa lalu menghukumnya, sebab betapa besar kasih sayang-Nya. Dan Allah SWT. Tidak mungkin menginginkan sesuatu lalu tidak terjadi, karena Dia sangat berkuasa. Rawi berkata: Lalu keduanya ditanyakan: “apakah antara pemaksaan dan takdir ada tempat ketiga? Beliau menjawab: “Ya, (tempat itu) lebih luas dari ruangan yang ada di antara langit dan bumi.[8]
Kedua Imam ini menegaskan bahwa pendapat mereka tentangqadar adalah tidak membenarkan al-Jabr dan at-Tafwidh (fatalisme). Mereka memegang maqam ketiga yang lebih netral, tidak mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lebih tegas lagi, Abu Abdillah AS (Diklaim Syiah sebagai Imam ke-6). Mengatakan: “Kamu bertanya tentang perkataan orang-orang Qadariyah (kelompok yang meniadakanqadar pada Allah SWT.), (apa yang mereka katakan) bukanlah agamaku dan bukan pula agama leluhurku, tak kutemukan seorang pun dari keluargaku berpendapat seperti itu.”[9] Abu Abdillah AS. Melanjutkan: “Celakalah Qadariyah (free will), apakah mereka tidak membaca firman Allah ‘Kecuali istri Luth, kami tetapkan dia temasuk orang-orang yang dihukum.’ Celaka mereka, kalau bukan Allah yang menaqdirkannya, lalu siapa?”
Al-Qummi meriwayatkan dalam kitab tafsirnya: “. . .Orang-orang Qadariyah yang menafikan takdir, yang mengira bahwa mereka bisa berbuat baik atau sebaliknya, kapan pun mereka mau, adalah orang-orang Majusi dari umat Muhammad SAW. Padahal musuh-musuh Allah SWT. Itu mengingkari Masyi’ah dan Takdir.”[10]
Yang perlu menjadi catatan disini adalah, kendati Syiah generasi awal menetapkan eksistensi takdir Allah SWT., akan tetapi pendapat yang umum dipegang oleh mayoritas umat Syiah masa kini adalah pendapat generasi kemudian yang menafikan takdir, yang diadopsi dari teologi Mu’tazilah. Sementara status dari teologi Mu’tazilah (Syiah) yang menafikan takdir sama halnya dengan teologi Jabariyah yang hanya menetapkan takdir. Kedua teologi ini hanya menggunakan sebagian dalil dan meninggalkan dalil yang lain. Sementara yang mengambil jalan tengah adalah teologi yang menggunakan nash-nash dan argumentasi secara sempurna, yang sesuai dengan Kitabullah. Ayat-ayat al-Qur’an telah menegaskan bahwa makhluk memiliki kemauan, kemampuan dan perbuatan, namun semuanya bergantung pada kehendak Allah SWT.[11] Inilah akidah yang dipedomani oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Allah SWT. Berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan [76]: 30).
Paparan data dan fakta tentang keyakinan Syiah terhadap 6 rukun iman—yang telah disampaikan pada beberapa edisi yang lalu dan sekarang—menunjukkan betapa Syiah telah menyimpang dari ajaran Islam, sehingga tidak mudah untuk dikatakan bahwa penganut Syiah sebagai orang Islam.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)
[1]Ibn Taimiyah, Minhaj as-Sunnah, juz 2 hlm. 29.
[2]Al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, juz 1 hlm. 114-115.
[3]Ibnu Babawaih al-Qummi, Aqaid ash-Shaduq, hlm. 78.
[4]Al-Mufid, Syarh Aqa’id ash-Shaduq, hlm. 12.
[5]Ibid, hlm. 13.
[6]Al-Hurr al-Amili, al-Fushul al-Muhimmah fi Ushul al-Aimmah, hlm. 80-81.
[7]Muhammad Shadiq ath-Thabathaba’I, Majalis al-Muwahhidin fi Bayani Ushul ad-Din, hlm. 21 dan al-Qazwini, Qala’id al-Kharaid, hlm. 60.
[8]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 159.
[9]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 5 hlm. 56.
[10]Al-Qummi, Tafsir Al-Qummi, juz 1 hlm. 226-227 dan al-Majlisi,Bihar al-Anwar, juz 5 hlm. 9.
[11]Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 774-785.




Meneliti 5 Riwayat Hadits Yang Menghujat Sahabat Mu'awiyah

                                                    
عن إسحاق بن إبراهيم الحنظلي يقول : لا يصح عن النبيفي فضل معاوية بن أبى سفيان شئ.
Ishaq bin Ibrahim Al-Handzali berkata: Tidak ada satupun hadits shahih dari Nabi tentang keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Takhrij Atsar[1]

Atsar Ishaq bin Ibrahim Al-Handzali rahimahullah diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimas (59/106), diriwayatkan pula Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at (2/24) melalui jalan Zahir bin Thahir  dari Ahmad bin Al-Hasan Al-Baihaqi dari Abu Abdillah Al-Hakim dari Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf  Al-‘Ashom dari bapaknya dari Ishaq bin Ibrahim Al-Handzali yang lebih terkenal dengan Ishaq bin Rohuyah rahimahullah.

Atsar ini dha’if  (lemah) baik dari tinjauan sanad maupun matannya. Dalam sanad, ada rawi bernama Zahir bin Thahir Abul Qasim Asy-Syahhaami.Tentang ia Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Sama’ (pengambilan riwayatnya) shahih, namun ia menyia-nyiakan shalatnya sehingga banyak huffadz (ahlu hadits) meninggalkan riwayat darinya.” [Mizanul I’tidal, 3/95]

Adapun matannya, sangat tampak keganjilan. Bagaimana tidak, Atsar Ishaq menyelisihi sekian banyak hadits marfu’ dari Rasulullah dan bertentangan dengan atsar-atsar shahih tentang keutamaan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan  radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Asakir mengisyaratkan penyelisihan tersebut. Beliau berkata setelah meriwayatkan atsar Ishaq: “Riwayat paling shahih tentang keutamaan Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu adalah Hadits Abu Hamzah dari Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘anhu bahwa Mu’awiyah adalah sekretaris Nabi , diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya. Kemudian hadits Irbadh (bin Sariyah   radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah mendoakan Mu’awiyah):

اللهم علّمه الكتاب

“Ya Allah ajarkanlah Mu’awiyah Al-Kitab.”,

Juga hadits Ibnu Abi ‘Ami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah mendoakan Mu’awiyah):

اللهم اجعله هاديا مهديّا

Ya Allah jadikanlah Muawiyah seo radhiyallahu ‘anhung yang mendapat hidayah dan terbimbing.” [Tarikh Dimasyq, 59/106]

Sebagian riwayat shahih tersebut cukup sebagai bantahan bagi mereka yang menyatakan tidak ada sama sekali riwayat mengenai keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan   radhiyallahu ‘anhu [2] 

Mempermainkan Hadits-Hadits Nabi adalah Jalan Ahli Bid’ah.

Hadits dan atsar Maudhu’ (palsu) atau Dha’if (lemah), oleh pa radhiyallahu ‘anhu pengekor hawa nafsu seringkali dijadikan alat meme radhiyallahu ‘anhungi islam, bahkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits shahih tidak ketinggalan dipelintir makna dan pemahamannya kepada makna batil, menurut hawa nafsu mereka.

Atsar Ishaq bin Rahuyah radhiyallahu ‘anhu dapat kita jadikan sebagai sebuah contoh. Kandungan riwayat Ishaq adalah vonis bahwa tidak ada satu pun hadits shahih menetapkan keutamaan Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu. Jadilah atsar ini dalih untuk mendhaifkan semua riwayat tentang keutamaan beliau  radhiyallahu ‘anhu.

Syubhat ini sudah barang tentu memberikan pengaruh buruk terutama bagi mereka yang tidak mengetahui hadits-hadits nabawi, terlebih ucapan ini dinisbatkan kepada seorang pemuka ahli hadits, Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad Al-Handzali Abu Muhammad bin Rahuyah Al-Marwazi (238 H), sahabat karib Imam Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani (241 H).

Akan tetapi Alhamdulillah, syubhat ini terbantah dengan terbuktinya kelemahan riwayat baik dari sisi matan demikian pula sanadnya.
Bahkan seandainya pun atsar ini shahih, bisa ditakwilkan kepada makna bahwa Ishak mungkin saja mengucapkannya ketika belum mengetahui riwayat-riwayat shahih tentang keutamaan Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu. Takwil ini kita tetapkan karena telah terbukti banyak riwayat shahih tentang keutamaan Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu, demikian pula ahlul hadits bersepakat akan kemuliaan beliau sebagai salah seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Pembaca rahimakumullah, untuk lebih melihat sepak terjang musuh-musuh Allah –seperti Syiah Rafidhah- dalam mempermainkan riwayat, kita akan telaah bersama beberapa hadits lemah yang mereka jadikan sandaran untuk mencela Muawiyah demikian pula hadits  atau atsar shahih yang mereka selewengkan maknanya demi menjatuhkan kehormatan Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu.

Sebagian riwayat tersebut sengaja ditampilkan sebagai peringatan bagi seluruh kaum muslimin dari pemikiran pengikut hawa nafsu dan semoga menjadi bekal untuk kita tidak mempedulikan lagi bualan orang-orang yang berpenyakit karena di balik kefasihan yang mereka miliki ada racun yang demikian berbahaya bagi hati seorang mukmin. Wallahul Musta’an.

Diantara Hadits-hadits lemah berisi celaan kepada Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu.

Hadits Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan shahabat membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan  radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah bersabda:

إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه

“Apabila kalian melihat Mu’awiyah di atas mimbarku, bunuhlah ia.”

Syiah Rafidhah dan musuh-musuh Allah yang bersama mereka menampakkan hadits ini untuk memuaskan kedengkian mereka kepada Mu’awiyah bin abi Sufyan  radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dijadikan salah satu dalil untuk mengkafirkan Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu.

Sebagai jawaban kita katakan:  “Wahai rafidhah, kalian adalah kaum yang telah tersesat dari jalan kebenaran, buku-buku kalian dipenuhi dengan celaan kepada islam, shahabat, bahkan istri-istri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlul bait, sehingga kami tidak percaya dengan ucapan yang muncul dari mulut-mulut kotor kalian. Termasuk hadits yang kalian bawakan ini.

Wahai Rafidhah, bagaimana mungkin kita menerima celaan kalian atas Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu sementara salaful ummah, para ulama Ahlul hadits dan kaum muslimin telah bersepakat akan keutamaan Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu. bahkan tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah mencela beliau apalagi berkeyakinan halalnya pembunuhan atas beliau?

Terkait dengan hadits yang kalian bawakan, ketahuilah bahwa hadits ini Maudhu’ (palsu), seluruh jalan-jalan periwayatannya batil.
As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyebutkan jalan-jalan hadits ini dalam Silsilah Adh-Dha’ifah dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri, Abdullah bin Mas’ud, Sahl bin Hanif dan Al-Hasan Al-Bashri secara mursal.[3]

Seluruh ulama hadits mendustakannya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sikhtiyani sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil Fi Dhu’afa` Ar-Rijal (5/101), Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-‘Ilal hal. 138, Abu Zur’ah Ar-Razi  sebagaimana dinukil dalam Adh-Dhu’afa`2/427), Al-Bukhari dalam Tarikh Al-Ausath (1/256), Ibnu Hibban Al-Busty dalam Al-Majruhin(1/157, 250) dan (2/172), Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil (2/146, 209, 5/101, 200, 314 dan 7/83), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyk (59/155-158), Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at (2/24) demikian pula Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan dan Ibnu Katsir rahimahumullah.

Al-Bukhari berkata setelah menyebutkan illat (cacat) hadits ini dari jalan yang paling masyhurnya:

«.. ليس لها أصول، ولا يثبت عن النبي خبرٌ على هذا النحو في أحدٍ من أصحاب النبي r، إنما يقولُه أهلُ الضَّعف».

“Hadits ini tidak ada asalnya, dan tidak ada satu kabarpun yang semisal ini (berisi perintah membunuh atau celaan) dari Nabi kepada seorang sahabatpun, hanyalah orang-orang lemah yang berbicara seperti itu.” (Tarikh Al-Ausath (1/256)

Berkata Al-Jauzaqani: “Hadits ini maudhu’ (palsu), Bathil, tidak ada asalnya dalam hadits-hadits (Rasulullah), dan tidak lain hadits ini hasil perbuatan ahli bid’ah para pemalsu hadits, semoga Allah hinakan mereka di dunia dan akhirat, dan barangsiapa meyakini (kandungan) hadits palsu ini dan yang semisalnya atau terbetik dalam hatinya bahwa hadits-hadits ini keluar dari lisan Rasulullah sungguh ia adalah seorang zindiq…” [Al-Abathil Wal Manakir, 1/200]

Tindak-tanduk pengikut hawa nafsu memang sangat membingungkan, menunjukkan kerusakan akal dan hatinya. Mereka berhujjah dengan hadits maudhu’ (palsu) di atas, sementara itu mereka menutup mata akan hadits-hadits shahih tentang keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan  radhiyallahu ‘anhu.

Pujian dan doa Rasulullah untuk shahabat Mu’awiyah disembunyikan, kedudukan Mu’awiyah sebagai saudara ipar Rasulullah juga mereka lupakan, seolah-olah tidak ada berita itu, justru berita-berita palsu ditampakkan dan disebarkan. Inikah sikap keadilan? 

Hadits palsu ini, kalau dicermati lebih dalam, justru mengandung celaan kepada seluruh sahabat bahkan ahlul bait semisal Al-Hasan bin ‘Ali  radhiyallahu ‘anhu. Sebuah kejadian tarikh yang masyhur dilalaikan para pencela Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu, yaitu ‘Amul Jama’ah (Tahun Persatuan) ketika Al-Hasan bin Ali  radhiyallahu ‘anhu menyerahkan kekhilafahan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan  radhiyallahu ‘anhu dan berbaiat kepada beliau  tahun 41 H, dalam keadaan Al-Hasan memiliki pasukan besar dan mampu mengobarkan pertempuran hebat.

Wahai Rafidhah, mengapa Al-Hasan bin Ali  radhiyallahu ‘anhu tidak membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan  radhiyallahu ‘anhu melaksanakan perintah dan wasiat kakeknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – kalau hadits ini memang benar-?.[4]

Terakhir, wahai rafidhah, ketahuilah hadits maudhu’ ini diriwayatkan pula dengan lafadz:

إذا رأيتم معاوية على منبري فاقبلوه

Jika kalian melihat Mu’awiyah di atas mimbarku, terimalah ia.
Kenapa kalian tidak mengambil riwayat yang kedua ini, sebagaimana kalian memakai riwayat pertama yang juga berita dusta? As-Suyuthy berkata dalam Al-Laali` Al-Mashnuu’ah (1/389): “Sesungguhnya riwayat kedua ini lebih masuk akal daripada riwayat pertama.”

Hadits Kedua: Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu. difitnah sebagai ahli maksiat, memakai baju sutera dan menghamparkan kulit harimau sebagai tempat duduk.

Tuduhan keji ini dilandasi sebuah riwayat panjang, dikeluarkan Al-Imam Abu Dawud dalam As-Sunan Bab Julud An-Numur wa As-Siba’ (Kulit-kulit harimau dan hewan buas) (11/176) no. 3602). Dalam hadits itu dikatakan:

…. قَالَ يَا مُعَاوِيَةُ إِنَّ أَنَا صَدَقْتُ فَصَدِّقْنِي وَإِنْ أَنَا كَذَبْتُ فَكَذِّبْنِي قَالَ أَفْعَلُ قَالَ فَأَنْشُدُكَ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُبْسِ الذَّهَبِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَنْشُدُكَ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَنْشُدُكَ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُبْسِ جُلُودِ السِّبَاعِ وَالرُّكُوبِ عَلَيْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَوَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ هَذَا كُلَّهُ فِي بَيْتِكَ يَا مُعَاوِيَةُ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ قَدْ عَلِمْتُ أَنِّي لَنْ أَنْجُوَ مِنْكَ يَا مِقْدَامُ

“…. Berkata Miqdad  radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Mu’awiyah, jika aku benar katakan benar, namun jika aku salah katakanlah salah.” Kata Mu’awiyah: “Baiklah.”  Kata Miqdad: “Dengan nama Allah, tahukah engkau bahwa Rasulullah telah melarang untuk memakai emas (yakni bagi kaum lelaki-pen)? Mu’awiyah berkata: Benar. Kata Miqdad: “Dengan nama Allah, tahukah engkau bahwa Rasulullah telah melarang untuk memakai sutera? Mu’awiyah berkata: Benar. Kata Miqdad: “Dengan nama Allah, tahukah engkau bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang memakai kulit hewan buas dan mendudukinya? Mu’awiyah berkata: Benar. Lalu berkata Miqdad: “Demi Allah sungguh aku menyaksikan semua itu ada di rumahmu Wahai Mu’awiyah.” Maka berkatalah Mu’awiyah: “Sungguh aku tahu, aku tidak akan selamat darimu wahai Miqdam.!”

Kisah ini dha’if (lemah), dalam sandanya ada Baqiyyah bin Al-Walid dia seorang mudallis, dan dia melakukan Tadlis Taswiyah[5] sementara ia meriwayatkan hadits dengan ‘An’anah dari gurunya.[6]

Seandainya pun hadits ini shahih, wajib bagi kita berhusnudzon kepada seluruh shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena mereka kaum yang telah diridhoi Allah ta’ala. Demikianlah adab yang dicontohkan salaf. Tidak ada seorang ulama ahlus sunnah memahami hadits Abu Dawud di atas untuk mencela Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu.

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah ketita mensyarah perkataan Al-Miqdad bin Al-Aswad:

فَوَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ هَذَا كُلَّهُ فِي بَيْتِكَ يَا مُعَاوِيَةُ

“Demi Allah sungguh aku menyaksikan semua itu ada di rumahmu Wahai Mu’awiyah.”

Maksud Miqdam  radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat kemungkaran pada sebagian saudara atau keluarga Mu’awiyah. Dan perkara yang diketahui bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan  radhiyallahu ‘anhu tidak setuju hal itu, tidak pula meridhoinya. (Adapun masih adanya kemungkaran pada sebagian keluarga beliau) mungkin saja beliau tidak mengetahui kemungkaran tersebut atau beliau mengetahuinya dan telah melarangnya. Dalam memahami berita seperti ini tentang shahabat, wajib kita bawa kepada makna yang baik sebagai bentuk husnudzon kepada mereka. (Syarah Sunan Abu Dawud Syaikh Abdul Muhsin)

Diantara Hadits dan Atsar Shahih Yang Diselewengkan Maknanya.

Hadits Ketiga: Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu. dituduh Mencela Ali bin Abi Thalib  radhiyallahu ‘anhu dan memerintahkan rakyatnya mencela Ali  radhiyallahu ‘anhu.

Tuduhan keji terhadap Mu’awiyah ini mereka dasari dengan sebuah riwayat shahih yang mereka pelintir maknanya kepada hawa nafsu mereka.

عن عامر بن سعد بن أبي وقاص قال أمر معاوية سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا تراب قال أما ما ذكرت ثلاثا قالهن رسول الله ( فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم سمعت رسول الله ( يقول له وقد وخلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله تخلفني مع النساء والصبيان فقال له رسول الله ( أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هرون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي وسمعته يقول في يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله».

Dari ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash berkata: Mu’awiyah memanggil Sa’d lalu bertanya: “Apa yang menghalangimu mencela Abu Turob ?[7] Sa’d menjawab: Adapun jawaban pertanyaanmu, Ada tiga perkara yang semuanya diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga aku tidak mencelanya (yakni Ali Ra) … Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada Ali –ketika beliau tugaskan Ali tinggal di madinah pada sebagian peperangan, dan saat itu Ali berkata: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apakah engkau tinggalkan aku beserta kaum wanita dan anak-anak kecil (dan aku tidak bisa ikut berperang)? Lalu Beliau bersabda: “Tidakkah engkau ridha wahai Ali, kedudukanmu disisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa? hanya saja (engkau bukan nabi) tidak ada kenabian sesudahku. Dan aku mendengar Beliau bersabda saat perang Khaibar: “Sungguh esok aku akan berikan panji peperangan kepada seorang yang mencintai Allah dan rasulnya dan ia dicintai Allah dan Rasulnya.

Hadits ini tidak diragukan keshahihannya, dikeluarkan Imam Muslim dalam As-Shahih no. 2404. Musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya melihat ada celah dalam hadits ini untuk dibawa kepada makna batil. Sisi tersebut adalah pertanyaan Mu’awiyah kepada Sa’d bin Abi Waqqash:

ما منعك أن تسب أبا تراب

“(Wahai Sa’d) Apa yang menghalangimu mencela Abu Turob (julukan Ali bin Abi Thalib)?

Segera Syiah Rafidhah mengambil kesimpulan keji dari pertanyaan itu bahwa Mu’awiyah membenci Ali bin Abi Thalib dan mengajak manusia membenci dan mencela Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tidak ada seorang ulama ahlus sunnah pun memahami riwayat ini sebagai celaan atas Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu Coba kalian sebut wahai rafidhy, siapakah ulama yang memaknai hadits ini dengan celaan kepada Mu’awiyah!

Bahkan sebaliknya, riwayat ini justru sanjungan atas Mu’awiyah dan juga Daulah Umawiyah, karena ada tuduhan dari kalangan Rafidhah bahwasannya bani Umayyah telah berbuat makar yaitu: menyembunyikan dan melarang disampaikannya hadits-hadits nabi tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Hadits Muslim di atas justru sebaliknya, dalam kisah di atas tampak bagaimana Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhumenetapkan keutamaan Ali bin Abi Thalib yang disampaikan Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu Dan hadits ini sampai kepada kita setelah melalui zaman yang cukup panjang termasuk zaman bani Umayyah.

Akan tetapi rafidhah dan pengikut mereka sebagaimana biasanya menyimpang dari jalan salaf (Shahabat, tabi’in dan atbaut tabiin) dan memilih jalan kesesatan. Mereka memalingkan maknanya kepada pemahaman yang sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak ulama salaf.

Pembaca, mari kita simak keterangan salah seorang ulama Syafi’iyyah, Imam An-Nawawi rahimahullah. Beliau berkata: “Tidak ada (dalam perkataan Mu’awiyah) perintah kepada Sa’d untuk mencela Ali, tetapi yang ada hanyalah pertanyaan kepada Sa’d tentang sebab yang menghalanginya dari mencela Ali. (Makna pertanyaan Mu’awiyah): “Wahai Sa’d, Engkau menjauhkan diri dari mencela Ali apakah (kau tinggalkan itu) karena wara’ (yakni karena Allah) atau karena takut (manusia)? Jika Engkau meninggalkannya karena wara’ maka engkau benar dan telah berbuat baik, namun jika engkau meninggalkan karena takut (manusia) maka masalahnya lain.”

Sepertinya Mu’awiyah mengungkapkan pertanyan ini karena Sa’d (di zaman itu) berada di tengah-tengah kaum yang mencela Ali bin Abi Thalib (khawarij) namun tidak mengikuti mereka … maka Mu’awiyah mengajukan pertanyaan ini. (Syarh Shahih Muslim 15/175-176 atau 184-185)

Hadits Keempat: Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu dituduh Memerintahkan pengikutnya memakan harta dengan cara yang batil dan memerintahkan mereka untuk bunuh diri.

Sekali lagi, ini diantara fitnah keji ditujukan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu Penulis wahyu Allah, kepercayaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam upaya menegakkan syubhat ini mereka ketengahkan sebuar atsar shahih, seorang berkata kepada Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash:

إن ابن عمك معاوية يأمرنا أن نأكل أموالنا بيننا بالباطل ونقتل أنفسنا فسكت عبد الله بن عمرو ساعة ثم قال: أطِعه في طاعة الله واعصه في معصية الله

Sesungguhnya anak pamanmu, Mu’awiyah, menyuruh kami untuk memakan (merampas) harta-harta sebagian kita dengan batil, dan memerintahkan kita untuk membunuh diri-diri kita. Abdullah bin ‘Amr terdiam sejenak (atas pertanyaan itu) lalu beliau  berkata: Taatilah Mu’awiyah dalam ketaatan kepada Allah dan ingkarilah dalam kemaksiatan kepada Allah.”

Atsar ini shahih, Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya kitab Imarah bab (وجوب الوفاء ببيعة الخليفة الأول فالأول )  no. 1844.

Sebagai jawaban atas syubhat ini, kita cukupkan keterangan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (12/476) berkata:

“Sang penanya, ketika mendengar Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhumenyebutkan hadits tentang haramnya memberontak khalifah pertama, adapun yang kedua dibunuh (karena menentang penguasa pertama), muncul dalam benak penanya bahwa sifat ini ada pada Mu’awiyah karena Ali telah dibaiat sebagai khalifah. Maka sang penanya menyangka bahwa nafkah yang dikeluarkan Mu’awiyah untuk para prajuritnya dan pengikutnya dalam peperangan berhadapan dengan Ali radhiyallahu ‘anhu(dahulu dalam perang Shiffin-pen) termasuk memakan harta dengan batil dan termasuk bunuh diri karena peperangan itu (shiffin) adalah perang yang tidak haq…”

Telah lalu dalam pembahasan perang Shiffin, bahwa perang tersebut adalah perang fitnah. Terjadi karena perbedaan ijtihad dua shahabat mulia dalam masalah penegakan qishahsh atas para pembunuh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu Mereka berdua berhak mendapatkan pahala mujtahid, bukan celaan sebagaimana dilontarkan kaum Rafidhah yang telah buta mata hati mereka. Wal ‘iyadhu billah.

Hadits Kelima: Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu didoakan kejelekan Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ أَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَوَارَيْتُ خَلْفَ بَابٍ قَالَ فَجَاءَ فَحَطَأَنِي حَطْأَةً وَقَالَ اذْهَبْ وَادْعُ لِي مُعَاوِيَةَ قَالَ فَجِئْتُ فَقُلْتُ هُوَ يَأْكُلُ قَالَ ثُمَّ قَالَ لِيَ اذْهَبْ فَادْعُ لِي مُعَاوِيَةَ قَالَ فَجِئْتُ فَقُلْتُ هُوَ يَأْكُلُ فَقَالَ (( لَا أَشْبَعَ اللَّهُ بَطْنَهُ )) قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى قُلْتُ لِأُمَيَّةَ مَا حَطَأَنِي قَالَ قَفَدَنِي قَفْدَةً

Dari Ibnu Abbas  berkata: Saat aku bermain bersama anak-anak kecil, datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku pun bersembunyi di balik pintu, maka beliau pegang aku seraya berkata: “Pergilah kau panggil Muawiyah kepadaku.” (Aku pergi) lalu aku datang dan kukatakan: Ia sedang makan. Rasulpun bersabda: “Allah tidak akan mengenyangkan perutnya.”

 لَا أَشْبَعَ اللَّهُ بَطْنَهُ

Hadits ini shahih, diriwayatkan Muslim no. 4713. Imam Muslim memahami sebagaimana difahami ulama salaf, ahlul hadits, bahwa Mu’awiyah bukan orang yang pantas mendapatkan doa kejelekan –terlebih telah kita dengar hadits-hadits berisi pujian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’awiyah- sehingga Imam Muslim memasukkan hadits ini termasuk dari keutamaan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu

Sepintas hadits ini memang doa kejelekan untuk Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu Namun sebaliknya salafus shaleh justru memahaminya sebagai keutamaan sahabat yang mulia ini.

Oleh karenanya Muslim mengeluarkan hadits ini untuk menetapkan keutamaan shahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu Beliau sebutkan hadits ini dalam bab: “Orang yang dilaknat atau dicerca atau didoakan kejelekan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia bukan orang yang pantas mendapatkannya maka doa itu menjadi kesucian, pahala dan rahmah Allah.”

Hal ini berdasarkan sabda beliau dalam Shahih Muslim:

إنما أنا بشرٌ أرضى كما يرضى البشر؛ وأغضبُ كما يغضب البشر، فأيما أحد دعوتُ عليه من أمتي بدعوة ليس لها بأهلٍ أن تجعلَها له طهورا وزكاة وقُربة تُقربه بها منه يوم القيامة”.

“Sungguh aku hanya seorang manusia, ridho sebagaimana manusia juga ridho, dan aku marah sebagaimana manusia juga marah. Maka siapa pun dari umatku yang aku doakan kejelekan, dengan doa yang ia tidak pantas mendapatkannya jadikanlah doaku itu kebersihan, kesucian dan kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah  di Hari Kiamat.”

An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarah hadits ini:[8] Apa yang terucap dari Ar-Rasul berupa celaan atau doa semisal ini tidak beliau maksudkan, akan tetapi hal tersebut perkara yang biasa terucap dalam adat orang arab berupa ucapan tanpa niat., seperti ucapan: (تَرِبَت يمينُك) “Celaka tangan mu.”… dan hadits Mu’awiyah (لا أشبع الله بطنه) “Allah tidak akan kenyangkan perutnya.” dan semisalnya. 

Mereka orang Arab tidak memaksudkan sedikitpun hakekat (makna yang terkandung) dari kalimat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (sebagai manusia biasa) pun khawatir seandainya (muncul dari beliau ucapan yang tidak beliau niatkan)  kemudian doa tersebut dikabulkan, maka beliau meminta Rabbnya dan mengharap kepada-Nya agar ucapan tersebut dijadikan sebagai rahmat, kafarah, kebaikan, kesucian dan pahala (bagi orang yang mendapatkan perkataan tanpa maksud tersebut). Ucapan seperti itu hanya terjadi sesekali dan sangat jarang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bukan seorang yang kasar, perkataannya kotor, suka melaknat atau membalas dendam untuk membela diri beliau.”[9]

Ibnu Katsir berkata: “Sungguh Mu’awiyah sangat mengambil manfaat dari doa ini di dunia dan juga di akhirat. Adapun di dunia, semenjak beliau menjadi gubernur di Syam beliau makan sehari tujuh kali, dihidangkan dihadapan beliau qash’ah (nampan besar) berisi daging yang banyak dan bawang beliau makan dari nampan tersebut, dalam sehari beliau makan tujuh kali dengan daging demikian pula kue-kue dan buah-buahan yang banyak (dan beliau tidak kekenyangan) bahkan beliau berkata: “Demi Allah aku tidak kenyang, namun aku berhenti karena letih.” Dan ini hakekatnya adalah nikmat yang didambakan banyak para raja. (Al-Bidayah wan Nihayah)

Adapun kebaikan di akherat tampak dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

فأيما أحد دعوتُ عليه من أمتي بدعوة ليس لها بأهلٍ أن تجعلَها له طهورا وزكاة وقُربة تُقربه بها منه يوم القيامة

Maka siapa pun dari umatku yang aku doakan kejelekan, dengan doa yang ia tidak pantas mendapatkannya jadikanlah doaku itu kebersihan dan kesucian dan kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah di Hari Kiamat.”

Penutup

Diantara kaum yang paling getol melakukan berbagai macam kebusukan adalah syiah rafidhah bersama dengan barisan musuh-musuh islam. Tarikh membuktikan andil mereka yang sangat besar dalam membuat kerusakan di muka bumi dan bagaimana mereka terus berupaya mengusik kemurnian islam dengan kesyirikan dan kebid’ahan.

Fakta ini tidak bisa ditutupi atau dipungkiri, lisan-lisan mereka mengucapkan, buku dan tulisan menjadi saksi kedengkian mereka kepada sahabat, istri-istri  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Permusuhan mereka dengan Islam secara umum sangat tampak terlebih khusus permusuhan dengan ahlus sunnah. Hadits-hadits palsu dan lemah, demikian pula tafsiran-tafsiran ngawur terhadap hadits-hadits shahih yang telah bersama kita kaji adalah diantara hadits yang dipakai kaum rafidhah untuk mencela sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu

Permusuhan rafidhah terus berlangsung sejak agama rafidhah dibangun Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi hingga saat ini hingga masa yang Allah kehendaki. Kalau bukan ruang yang membatasi, ingin sesungguhnya kita nukilkan ucapan-ucapan kotor salah seorang pembesar Rafidhah yaitu Komaeni, mulutnya banyak dipenuhi caci maki celaan dan cercaan kepada shahabat, istri-istri Rasul bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ucapan-ucapan kufurnya tertulis dalam buku-buku syi’ah yang tidak mungkin mereka pungkiri.

Semoga Allah selamatkan hati-hati kita dari kedengkian kepada islam dan kaum muslimin, terkhusus generasi terbaik, shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga Allah selamatkan kita dari fitnah-fitnah yang datang seperti potongan malam yang gelap gulita. Amin.


sumber: http://salafartikel.wordpress.com/2012/01/20/benarkah-hadits-menghujat-muawiyah/


[1] Atsar adalah ucapan yang disandarkan kepada shahabat Nabi atau generasi setelahnya. Adapun hadits adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir (persetujuan) atau sifat.
[2] Beberapa riwayat Marfu’ dan Atsar tentang keutamaan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhubisa dilihat kembali pada kajian utama Edisi ini berjudul “Keutamaan Mu’awiyah kesepakatan Ahlus sunnah sepanjang Zaman.”
[3] Lihat Juz 10/605-611 hadits no.4930
[4] Berhujjah dengan hadits “Bunuhlah Mu’awiyah.” artinya mencela semua shahabat Nabi yang melihat Mu’awiyah, termasuk yang dicela adalah ahlul bait masuk di antaranya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhudan Al-Hasan bin Ali, karena tidak ada satupun dari mereka melaksanakan perintah Rasulullahmembunuh Mu’awiyah, bahkan sebaliknya mereka berbaiat dan mengiringi Mu’awiyah berjihad dalam futuhat (pembukaan wilayah baru islam).
[5] Tadlis Taswiyah adalah jenis tadlis yang paling berat. Karena orang yang melakukan Tadlis Taswiyah menggugurkan rawi dha’if di antara dua orang Tsiqah yang salah seorang diantara keduanya mendengar dari yang lain.
[6] Hadits ini dikeluarkan pula Imam Ahmad dalam Al-Musnad (4/132). dalam riwayat Ahmad, Baqiyyah terang-terangan mendengar hadits dari gurunya Bahir bin Sa’d, namun tidak cukup untuk menguatkan bagian yang terkait dengan kisah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu
[7] Abu Turob adalah julukan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
[8] Lihat juga Al-Bidayah Wan-Nihayah Ibnu Katsir (11/402) dan Adz-Dzahabi dalam As-Siyar (3/124) dan ( 14/130)
[9]Makna yang benar tentang hadits disebutkan pula Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1/164-167) hadits no 82, 83 dan 84.


Jelas Sudah, Ini Sikap Resmi Muhammadiyah Tentang Syiah, Bagaimana Dengan NU ?

MAKLUMAT MUHAMMADIYAH


Sikap Resmi Muhammadiyah Terhadap Aliran Syiah

Beberapa bulan ini Syi’ah Indonesia senantiasa menjadi pemberitaan di media, baik cetak, elektronik, hingga daring. Pemberitaan mengenai pertikaan Syi’ah dan Sunni di sejumlah daerah membuat sebagian kuli tinta mencari informasi mengenai Syi’ah pada beberapa tokoh Islam tanah air dari berbagai organisasi masyarakat.

Sebagian menyatakan bahwa Syi’ah bukanlah Islam, sebagian menyatakan bahwa Syi’ah merupakan aliran sesat, sebagian lagi menganggap bahwa Syi’ah merupakan salah satu mazhab Islam sebagaimana 4 mazhab Sunni yang lain.

Para tokoh yang dimintai pendapatnya seringkali berbicara atas nama pribadi, bukan atas nama organisasi masa yang menaunginya, namun media mengabarkan bahwa pernyataan oknum tokoh tersebut sebagai pernyataan resmi organisasi, padahal sebenarnya tidak demikian. Salah satu organisasi massa yang berbeda pendapat dengan oknum-oknum tokohnya mengenai status Syi’ah adalah Muhammadiyah.

Dikutip dari Majalah Tabligh, yang merupakan terbitan Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, edisi No. 7/IX/Jumadal Awal-Jumadil Akhir 1433 H, hal 5, disebutkan bahwa akhir-akhir ini Syi’ah kembali mendapat sorotan, terlebih setelah muncul kasus di Sampang Madura dan yang terakhir di Suriah, dan lain sebagainya. Bahkan di forum-forum pengajian pun persoalan Syiah ini selalu diangkat menjadi tema pengajian.

Hal tersebut juga mendapat perhatian dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sehingga dalam sidang plenonya telah mengeluarkan sikap yang berhubungan dengan kelompok Syi’ah tersebut. Di antaranya adalah sebagaimana disampaikan Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Tarjih dan Tajdid, Prod. Dr. KH. Yunahar Ilyas, MA yang beliau Ketua MUI/Majelis Ulama Indonesia, bahwa:

BismillahiRRahmaaniRRahiim
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu, ashadu’allah illah ha illallah, wa ashhadu’anna muhammaddan ‘abduhu wa rasulluh,,,,,Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin. Yaa ‘ayyuhhannasu attaqu rabbakumulladzi,,,khalaqakumminnaffsin wa hidah, wa khalaqa minha zau zaha wa bassa min humari jala katsira wa ni sha’a, wattaqullahalladzi ta staa’aluna bihi wal arham, innallaha kaana ‘alaikum raqiiba,…

Yaa ayyuhalldzi na’amanuttaqullah,..wa kullu kaulan tsadida,…yuslih lakum ‘a’malakum wa ya’firlakum dzunubakum wa man yudiillaha warasullahu, faqadfadza faudjan ‘adzima,..amma ba’du,..
Fainna khairral hadist kitabbulloh, wa khairralhuda, huda Muhammad Rasullulloh Shallallohu ‘alaihi wassallam, washarrall ‘umuri muhdatsatuha, wa kulla muhdatsati Bid’ah, wa kulla Bid’ahti dholalah, wa kulla dhollallati finnar…….

Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh,
Segala puji Syukur bagi Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha mengetahui seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Alloh Subhanahu Wa Ta’ala semata. Saya bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad Rasullullah Sholallohu ‘Alaihi Wassallam adalah hamba dan utusan-Nya, penutup para Nabi yang tidak ada nabi setelahnya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan beserta keluarganya, serta para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti petunjuknya.
Kepada seluruh Warga Kehormatan Muhammadiyah dimanapun berada, dan Para simpatisan Muhammadiyah, Dengan ini Muhammadiyah ingin memurnikan Ajaran Agama Islam dan Membersihkan dari Paham Ajaran Sesat & Menyesatkan dari SYIAH RAFIDHOH. Dengan ini Menyatakan =

PERTAMA : Muhammadiyah meyakini bahwa Hanya Nabi Muhammad Rasullullah Shallallohu ‘allaihi was sallam yang Ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah Menolak konsep kesucian Imam-imam 12 (ma’shumnya imam-imam) dalam ajaran Syi’ah.

KEDUA : Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad Rasullulloh shallallohu ‘allaihi wa sallam tidak menunjuk siapa pun pengganti beliau sebagai Khalifah. Kekhalifahan setelah beliau diserahkan kepada musyawarah umat, jadi kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum (Khulafa’arrRasyidin) adalah SAH. Oleh sebab itu, Muhammadiyah MENOLAK Konsep khilafah Rafidhahnya Syi’ah.

KETIGA : Muhammadiyah menghormati Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhialloh ‘anhu sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak Meng-Kultus-kan individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya dan menolak Konsep Ahlul Bait versi Syiah.

KEEMPAT : Syi’ah hanya menerima hadis dari jalur Ahlul Bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun diriwayatkan Bukhari Muslim- ditolak oleh Syi’ah. Dengan demikian, banyak sekali perbedaan antara Syi’ah dan Ahlussunnah baik masalah Aqidah, Ibadah, Munakahat, dan lain-lainnya.
Sikap tersebut hendaknya menjadi pedoman bagi Warga Muhammadiyah membersihkan dari dalam dari ajaran dan pengaruh Syiah khususnya dan umat Islam pada umumnya, sehingga dengan demikian kita bersikap waspada terhadap ajaran dan doktrin Syi’ah yang memang sangat berbeda dengan faham Ahlussunnah/Sunni yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia. Di samping itu, realitas, fakta dan kenyataan menunjukkan pada kita bahwa di manapun suatu negara di belahan ada Syi’ah hampir dapat dipastikan terjadi konflik horizontal, kerusuhan, anarkis, dan memberontak kepada pemerintahan yang Sah (Kudeta). Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian kita semua jika ingin negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap utuh dan ukhuwah Islamiyah tetap terjaga. Jangan Sampai terjadi REVOLUSI SYIAH INDONESIA, Seperti yang terjadi di Negara iran dengan Revolusi Syiah Iran.

Demikian sikap resmi Muhammadiyah setelah melalui sidang pleno Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sehingga pendapat pribadi oknum tokoh Muhammadiyah tidak dapat dijadikan pegangan dan sandaran sikap kaum Muslimin pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya.

Dengan demikian, Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kehidupan yang baik di dunia serta memberikan balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah diperbuat di akhirat kelak sebagaimana yang telah Alloh Subhanahu wa Ta’ala janjikan. Aamiin.