Thursday, August 28, 2014

Apakah Liputan Islam ( media syi'ah ) Mau Bilang Ulama Sunni Hoax & Takfiri?

Sabtu, 28 Jumadil Awwal 1435 H / 29 Maret 2014 09:10 wib
Apakah Liputan Islam Mau Bilang Ulama Sunni Hoax & Takfiri?
بسم الله الرحمن الرحيم
 Oleh Thalibul Ilm al-Akh Abu Asybal usamah
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alama. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan mulia baginda Rasulullah Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Sungguh, media memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan opini umat. Dan Liputan Islam mengambil bagian dalam propaganda membela Iran, Syiah Imamiyyah dan Rezim Mujrim Suriah serta milisi-milisi loyalis mereka.
Liputan Islam juga mengikuti Uslub (metode) kaum syiah yang mengklaim persatuan dengan mencoba menggandeng orang-orang yang mereka anggap rujukan Ahlussunnah untuk membela syiah dan kroni-kroni. Tak lupa dengan mengklaim penebar rahmat, ia secara offensif mengatakan orang yang tak sejalan dengan mereka sebagai penebar kebencian, takfiri dan agen zionis dan lain sebagainya.
Namun, ada ulama-ulama shadiqin dari kalangan Sunni yang senantiasa membongkar hakekat mereka dan mengecam mereka serta memperingatkan umat dari mereka.
Dalam kasus Suriah, mereka mencoba mengambil oknum-oknum yang diklaim Sunni untuk membela thoghut Bashar al-Assad. Seperti Ahmad Hassoun, ulama munafiq, yang dalam sebuah video tersingkap belangnya bahwa ia mencela Sayyiduna Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah membinasakan orang yang melecehkan beliau, yang kami akan jelaskan kasus itu.
Mungkin kalau kami yang bilang Hassoun ini munafiq, maka mereka akan melancarkan kata-kata bahwa kami adalah takfiri, pemecah belah, penebar kebencian, kelompok teroris, tidak menghargai ulama, wahhabi, antek zionis dan lain-lain.
Namun kami akan menyajikan perkataan ulama yang disegani dan dihormati oleh seluruh kaum Sunni yang berpegang teguh pada Akidah Asy’ariyyah, saya tidak membawakan ulama Sa’udi karena nanti mereka akan bilang bahwa ulama Saudi adalah antek-antek zionis ‘ala za’mihim. Dan kami akan jelaskan nanti
Untuk kasusu Hassoun menghina sahabat, sangatlah jelas. Ahmad Hassoun melecehkan Sayyiduna Umar bin Khattab dengan mengatakan bahwa beliau tidak pantas dibilang Amirul Mukminin karena pembaiatan beliau secara paksa dan penuh manipulasi. Berikut adalah cuplikan video dari rekaman yang panjang yang berbicara tentang peringatan Karbala.
dan para pembaca bisa mengikuti khutbah lengkap itu pada link berseri dari seri awal
Pertanyaan Dr Mahmud kepada Hassoun
presenter al-Jazeera membongkar hakekat Hassoun yang mengelak dengan pertanyaan-pertanyaan di antaranya pertanyaan atas pernyataan para khathib-kathib Jumat fitnah membakar warga Suriah untuk protes terhadap Rezim, di mana mereka semua jadi korban peluru-peluru panas tentara Rezim Suriah, padahal demoantrasi sebelumnya hari Jumat. Dan sebelum terjadinya penyelidikan tentang pelaku, dia sudah menegaskan bahwa nanti pasti hasil investigasi mengatakan bahwa pelakunya adalah tangan-tangan asing. Dan presenter bertanya,”Mengapa anda bisa memastikan demikian, apakah anda pejabat bersangkutan (investigator)?”.
Dan kami sertakan pernyataan jelas tentang Ahmad Hassoun dan al-Buthy dari ulama besar dan muffassirul ‘ashr, Al-‘Allamah Al-‘Alim Al-Bahr Al-Mufassir Abuya Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuni Al-Halabi hafizhahullah, yang dengan jelas mengatakan bahwa Ahmad Hassoun adalah munafiq mudzabdzab penjilat rezim mujrim Bashar.
Beliau adalah ulama Sunni dan dibantah oleh Syaikh bin Baz karena qoul beliau dalam shifat-shifat Allah. Karena Abuya lebih condong pada madzhab Asy’ary dalam Shifat. Allamah Abuya Ash-Shobuni kelahiran tahun 1930 di Aleppo. Bahkan pada semester tiga pun kami diajarkan tafsir oleh Syaikh Abdullah As-Sibti memakai Kitab Allamah Ash-Shobuni Shafwatut Tafasir.
Syaikh Ash-Shobuni berkunjung ke Indonesia pada awal 2013, tepatnya di Pondok Pesantren Daarul Lugho wad Da’wah Raci Bangil yang didirikan oleh Abuya Habib Hassan Baharun, memberikan pencerahan tentang yang terjadi si Suriah beberupa kekejaman aliansi syiah, di mana “hizbullah” ikut membantai muslimin Suriah dan beliau menyebutnya Hizbullata wallata. Hasan Nashrullah adalah musuh Allah.
Berikut kami terjemahkan pernyataan beliau tentang Hassoun
Bismillahirrahmanirrahim
Ini adalah Keterangan bagi manusia
Duhai sangat menyayangkan bagi ulama zaman ini, dari golongan munafiqin, yang berdiri di samping thoghut. Mereka (ulama) mendukung mereka (para thoghut) di atas kebathilan. Mereka menyesatkan ummat atas nama agama seperti Mufti Ahmad Hassoun dan Dr al-Buthy serta orang-orang seperti mereka berdua, di mana Allah berfirman tentang mereka dalam kitab-Nya yang mulia:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya” [QS Al-Jatsiyah 23]
Duhai amat meruginya mereka. Mereka kembali dengan membawa murka Allah. Mereka melihat dengan mata kepala mereka apa yang dilakukan thoghut zalim, Bashar al-Asad, dan bala tentaranya yang melakukan pembunuhan terhadap muslimin, menghancurkan rumah-rumah Allah, menyobek mushaf dan memaksa para tahanan untuk mengatakan perkataan kufur nyata seperti Laa ilaaha illa Bashar, Laa ilaa illa Maher. Mereka (tentara) menyuruh para tahanan untuk sujud pada foto thoghut. Maka apakah ada kekufuran yang besar setelah ini?
Ada sebenarnya yang wajib bagi mereka berdua (Hassoun dan Dr al-Buthy) ketika sekedar mendengar hal semacam ini dan perbuatan keji ini, yang orang memiliki iman sebiji dzarrah tidak akan melakukan hal ini, jika mereka jujur hendaknya mereka berlepas diri dari rezim ini dan mengumumkan pengikaran terhadap kekufurannya, yang tidak ada orang awam yang memperselisihkannya, apalagi ulama.
Akantetapi Allah ‘Azza wa Jalla ingin menyingkap tabir dan hakekat mereka berdua di hadapan seluruh makhluk. Sungguh mereka berdua telah menyelisihi al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ ummat. Dan Maha benar Allah yang telah berfirman
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)”[QS Ali Imran:179]
Mereka berdua telah menampakkan hakekatnya dalam kemunafiqan dan taqarrub mereka kepada penguasa. Mereka telah menyelisihi ijma’ ulama salaf dan khalaf. Di mana sikap mulia mereka seperti syuyukh (ulama-ulama) yang terhormat seperti Syaikh Usamah ar-Rifa’i, Syaikh Karim Rajih (Syaikhul Qurra’), Syaikh Sari Abdul Karim ar-Rifa’i kemudian ulama-ulama Homs, Hama dan Aleppo serta seluruh propinsi di Suriah. Sungguh mereka telah mengecam rezim jahat ini dan berlepas diri dari kekufurannya yang nyata.
Sesungguhnya kemunafiqan itu buruk. Namun lebih buruk lagi jika hal ini terdapat pada ahlul ilm. Dan kedustaan adalah keji. Namun yang lebih keji jika terdapat pada penguasa. Mereka berdua (al-Buthy dan Hassun) bersama penguasa mereka telah menyatukan antara kemunafiqan dan dusta. Maka duhai celakalah mereka dari murka Allah.
Ya Allah kami berlepas diri kepada-Mu dari apa-apa yang didustakan oleh orang-orang dungu yang mengaku ahlul ilm terhadap Islam dan syari’at-Nya. Dan sungguh mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang tergelincir karena mereka. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
“Sesorang akan bersama orang yang ia cintai” dalam riwayat lain beliau bersabda “Orang akan dibangkitkan bersama orang yang mereka cintai”. Mereka akan dikumpulkan bersama ahlun nifaq dan sesat.
Sungguh Allah telah mengumpamakan ulama su’, di mana Ia telah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia tentang Bal’am bin Ba’uroh, dedengkot ulama Yahudi “Jika saja Kami menginginkan, niscaya kami mengangkat derajat mereka dengan ayat-ayat itu. Akantetapi ia mereka condong ke dunia. Maka perumpaan mereka seperti anjing  jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)” [QS al-A’raf:176]
Dan Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman tentang ulama bani Israil “perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat (yaitu dibebankan untuk menerapkannya), kemudian mereka tiada memikulnya (kemudian mereka tidak menerapkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” [QS al-Jumu’ah:5]
Inilah dua contoh buru yang Allah berikan bukan kepada pencuri, pezina dan pembegal. Meskipun kejahatan mereka besar. Namun keburukan itu Allah umpamakan bagi ulama yang tidak mengambil manfaat dengan ilmu mereka.
Dan mudah-mudahan Allah merahmati Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali, yang berkata dalam kitabnya Ihya ulumuddin, “Aku heran dengan orang yang menukar petunjuk dengan kesesatan. Akantetapi yang lebih aneh orang yang menukar agama dengan dunia”
Wahai Rabb kami jangan engkau gelincirkan hati-hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhny Engkau Maha Pemberi. Ya Allah jangan Engkau binasakan kami akibat perbuatan orang-orang bodoh di antara kami dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang zalim. Dan semoga shalawat dan salam terlimpahka kepada Nabi kami, keluarga dan para sahabatnya.
kami bertanya kepada Liputan Islam, apakah apa yang disampaikan Syaikh Ali Ash-Shoubi adalah hoax? Apakah Syaikh Ali Ash-Shobuni adlah takfir? Apakah Syaikh Ali Ash-Shobuni adalah penebar kebencian? Apakah ulama-ulama Suriah yang berada di bawah kepemimpinnan beliau dalam Komite Ulama Suriah yang Sunni penebar berita hoax? Mereka adalah takfiri?
Subhanallah dengan sikap orang-orang yang melabeli pembesar-pembesar ummat yang mencoba membeberkan dan mengungkap kebathilan serta menentangnya sebagai penebar kebencian dan takfiri. Hendaklah Liputan Islam bercermin kepada Ulama Syiah yang saling mengkafirkan  dan mengkafirkan sahabat (Kamal al-Haidari) sebelum melabeli ulama besar kami sebagai takfiri.
Walllahul Musta’an

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/03/29/29679/apakah-liputan-islam-mau-bilang-ulama-sunni-hoax-takfiri/#sthash.LjrQwzIQ.dpuf

Revolusi iran Bukan Revolusi Islam

Hasil gambar untuk revolusi iran

Hakekat revolusi iran

Sekitar tahun 80-an, banyak orang-orang yang menamakan anaknya dengan Ayatullah dan Al Khomeini, salah satunya adalah teman SD saya yang namanya Ramatullah Al Khomeini. Entah berapa banyak kaum muslimin yang terkagum-kagum dengan sosok ‘Khomeini’ sebagai pemimpin revolusi Iran. Kekaguman tersebut sebenarnya bisa dimaklumi mengingat banyaknya orang yang tertipu sejak dahulu oleh sosok kakek tua dengan jenggot putih lebat yang “Zuhud” ini. Kekaguman yang sama juga pernah terjadi pada sosok Saddam Hussein saat perang teluk tahun 90-an meletus. Bahkan saya masih ingat sebuah pemberitaan di salah satu stasiun televisi bahwa ada sekitar 300-an bayi yang lahir dinamakan Saddam Hussein, dan semua bayi tersebut adalah orang Indonesia!

Demikianlah karakter bangsa kita yang demikian latah dan mudah bersimpati. Sekali lagi itu bisa dimaklumi mengingat Indonesia sendiri adalah bukan negara Islam, namun negara Pancasila dan UUD ‘45. Artinya, meski mayoritas rakyat Indonesia adalah muslimin Ahlussunnah bermadzhab Syafi’i, akan tetapi mereka rata-rata jahil terhadap pokok-pokok ajaran Ahlussunnah itu sendiri. Ini merupakan salah satu buah manis dari sekulerisme yang diadopsi dalam pendidikan-pendidikan di sekolah Negeri selama ini.

Saya berkata demikian karena saya sendiri pernah mengenyam pendidikan Negeri selama enam tahun. Hasilnya? Ya beginilah… tidak bisa mengenali yang hak dari yang batil, dan tidak membedakan mana kawan dan mana lawan… kalau saja Allah tidak berkenan memberi hidayah kepada saya hingga tergerak untuk mempelajari agama lebih dalam dari sumber yang otentik.

Salah satu fitnah besar yang melanda kaum muslimin di era 80-an adalah fitnah Revolusi Iran. Bagaimanakah hakikat revolusi Iran tersebut? Siapakah tokoh-tokohnya? Benarkah Iran adalah negara Islam? Insya Allah kami akan mencoba memberikan jawaban atas itu semua melalui tulisan ini. Dan perlu diketahui, bahwa dalam menulis artikel ini saya banyak merujuk kepada sebuah buku yang ditulis oleh mantan orang dekatnya Khomeini, yaitu DR. Musa Al Musawi. Beliau adalah mantan tokoh Syi’ah yang kemudian taubat setelah mengetahui berbagai kesesatan dan kebobrokan ajaran Syi’ah. Beliau sendiri telah menulis beberapa buku tentang hal itu, dan mengalami beberapa percobaan pembunuhan karenanya. Yang terbaru dari tulisan-tulisan beliau adalah kitab Ats Tsaurah Al Baa-isah, yang tak lain adalah buku yang kami maksud.

Tulisan ini adalah sebagian kecil dari apa yang beliau paparkan dengan sangat indah dan ilmiah tentang Revolusi Iran, yang insya Allah jika tersisa waktu, saya akan menerjemahkannya secara keseluruhan.

Kondisi Iran Pra Revolusi

Sebelum tercetus revolusi tahun 1979, Iran berada di bawah kekuasaan Shah Muhammad Reza Pahlevi yang diktator dan tiran. Meski Iran merupakan negara penghasil minyak terbesar nomor tiga di dunia, yang meraup keuntungan 40 miliar dollar lebih tiap tahun dari penjualan minyaknya, akan tetapi rakyatnya hidup sangat menderita di bawah pemimpin yang diktator dan negara yang disetir sepenuhnya oleh Amerika Serikat ini. Pemerintah Iran bahkan mempekerjakan 50 ribu orang AS sebagai penasehat, dengan gaji total 4 miliar dollar tiap tahunnya. Namun di saat yang sama, rakyatnya hidup dalam keterpurukan sebagaimana yang digambarkan oleh Dr. Musa Al Musawi sbb:

70 % rakyat Iran tidak bisa baca-tulis, dan tidak memiliki sarana belajar-mengajar.
80 %  rakyat Iran masih kekurangan pelayanan medis.
85 %  kota dan desa kecil di Iran masih memerlukan jalur transportasi yang layak serta pengadaan air, listrik, dan perumahan modern.
Jumlah pengangguran mencapai 1,5 juta orang dan mereka berkeliaran di jalan-jalan atau hijrah ke negara-negara teluk demi mencari sesuap nasi.[1]
Seiring dengan terpilihnya Presiden AS yang baru, Jimmy Carter, kondisi tiba-tiba berubah drastis. Carter yang berasal dari Partai Demokrat ini membuat kejutan untuk dunia. Ia berpidato di depan rakyat AS tentang HAM dan selama memerintah ia akan menolong rakyat-rakyat yang ditindas oleh penguasanya, dan tidak akan menolong seorang penguasa pun yang menindas rakyatnya, meskipun AS terikat hubungan baik dengan mereka.

Jika Carter memang jujur ingin mewujudkan janjinya, maka urutan pertama dari daftar penguasa tiran tadi ditempati ole Shah Iran, yang ketika itu telah menandatangani 900 perjanjian dengan AS, baik dalam masalah ekonomi, militer, maupun politik.

Meski kepentingan AS menjadi target utama setiap presiden yang berkantor di gedung putih, akan tetapi Carter tidak bisa melupakan janjinya demikian saja setelah mengumbarnya di depan rakyat AS dan dunia. Maka mulailah Carter menasehati sahabat lama Amerika ini, agar memberikan sedikit kebebasan kepada rakyat Iran. Shah pun menurut, dan rakyat Iran jadi tahu bahwa perubahan politik Shah tak lain karena tekanan dari ‘tuan’-nya, yaitu AS.

Rakyat Iran segera tergerak untuk melepaskan diri mereka dari cengkeraman penguasa kejam yang tega berbuat apa saja terhadap rakyatnya selagi ia mampu, yang sekarang harus patuh kepada pengaruh asing hingga menampakkan sikap lunak terhadap rakyatnya. Rakyat Iran harus segera memanfaatkan situasi ini sebelum semuanya berubah dan kembali seperti semula.[2]

Mengapa Khomeini[3] yang Memimpin Revolusi?

Kelompok-kelompok yang memusuhi Shah tahu benar bahwa kesempatan sedang terbuka untuk mereka, dan mereka tidak boleh menyia-nyiakannya. Mengingat Shah mulai menuruti kemauan rakyat, maka rakyat harus terus menaikkan tuntutannya terhadap hak-hak mereka yang selama ini dirampas, maka kelompok-kelompok anti Shah pun bersatu melawan musuh bersama mereka.

Bangsa Iran saat itu boleh jadi merupakan bangsa muslim yang masih memiliki semangat keimanan, dan hal ini harus dimanfaatkan, lebih-lebih mengingat adanya permusuhan sengit antara Shah dengan banyak tokoh agama, dan di antara tokoh yang paling menentangnya adalah Khomeini yang saat itu sedang berada di Irak, jauh dari jangkauan Shah dan aman dari gangguan pasukannya. Maka kelompok-kelompok politik yang bersekutu tadi sepakat untuk mengangkat Si Kakek yang berusia 80 tahun ini sebagai pemimpin revolusi.

Semua orang mulanya mengira bahwa jatuhnya pilihan atas Khomeini sebagai pemimpin revolusi akan mengobarkan semangat persatuan bagi rakyat Iran dalam perjuangannya, sekaligus menyatukan berbagai kelompok dan unsur yang berbeda ideologi. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa bila revolusi ini berhasil maka pemimpinnya akan mengkhianati kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya, lalu melakukan pengkhianatan besar dengan memonopoli kekuasaan untuk pribadi dan golongannya (baca: Syi’ah), dengan cara-cara keji yang membuat bulu kuduk berdiri mendengarnya!

Yang diramalkan oleh banyak kalangan ialah bahwa Khomeini bersedia memimpin revolusi tanpa berhasrat terhadap kekuasaan, hingga dialah satu-satunya yang dianggap sesuai untuk menyatukan berbagai kelompok politik yang berlainan ideologi tersebut. Apalagi mengingat bahwa Khomeini telah bersumpah demi Allah di hadapan dunia bahwa ia dan kelompoknya tidak menginginkan keuntungan apa-apa dari revolusi tersebut jika berhasil, bahkan mereka menyatakan akan kembali ke madrasah-madrasah dieniyyah mereka di Qum, untuk mengkaji, menulis buku, dan mengajar. Sedangkan rakyat akan diberi kebebasan penuh untuk menentukan pemimpin baru yang mereka sukai.[4]

Selama enam bulan pada tahun 1979, perhatian pers dunia tertumpah pada revolusi Iran. Berbagai media massa internasional berusaha mewawancarai Khomeini yang kala itu bermukim di Prancis –setelah dia diusir dari Irak-. Banyak pula dari media massa tadi yang bercerita tentang kezuhudan, kewara’an, dan ‘ketaqwaan’ Khomeini; plus janjinya untuk menerapkan syariat Islam bila revolusinya berhasil.[5]

Khomeini dan Kepentingan AS

Perlu diketahui bahwa berhasilnya revolusi Iran di bawah pimpinan Khomeini dalam menggulingkan Shah yang sebelumnya didukung penuh oleh AS dengan 50 ribu penasehatnya, adalah perkara yang sulit diterima jika terjadi tanpa dukungan internal AS sendiri.

Berdasar pengakuan kelompok Khomeini, AS ternyata mengubah kebijakan politiknya terhadap Shah di bulan-bulan terakhir menjelang jatuhnya pemerintahan Shah, dan mulai mengontak Khomeini dan kelompoknya. Ada kemungkinan bahwa AS telah mengetahui penyakit kanker yang diderita oleh Shah dan menduga bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, dan bila ia mati maka belum ada pengganti yang sekuat dan seloyal dia. Intinya, AS harus mencari pengganti Shah yang kuat, bersahabat, dan mau didekte demi kepentingan AS. Dari sini, kita harus menyebutkan peran penting yang dimainkan Khomeini dan kelompoknya bersama orang-orang Amerika, yang menunjukkan bahwa kebijakan politik yang akan mereka terapkan pasca berhasilnya revolusi harus loyal terhadap AS; dan perlu kita ketahui bahwa perhatian politik AS yang pertama ialah untuk mengalahkan komunisme di Timur Tengah, lebih-lebih mengingat posisi strategis Iran yang demikian penting.[6]

Jadi, tersingkirnya Shah sebagai sekutu yang ’sakit’ bila digantikan dengan penguasa religius yang konservatif dan kaku, yang dapat menumpas komunisme dengan pedang Islam, bisa diangap sebagai sekutu alami buat AS. Intinya, menumpas komunisme hingga ke akar-akarnya atas nama agama dan keimanan –sebagaimana yang diketahui oleh dunia- tidak lain termasuk bagian dari skenario utama politik AS di wilayah yang sensitif tersebut, mengingat Timur Tengah memiliki 70% dari cadangan minyak dunia yang menjadi bahan bakar peradaban Eropa dan Amerika.[7]

Kronologi Revolusi

Ada sejumlah kelompok yang bersatu dan bekerja sama untuk menggulingkan Shah di waktu yang tepat. Kelompok-kelompok tersebut mampu melakukan penggalangan massa di semua tempat, contohnya adalah:

Garda Nasional (الجبهة الوطنية) di bawah pimpinan Dr. Mushaddiq.
Gerakan Perlawanan Rakyat (نهضة المقاومة الشعبية), yang didirikan oleh ‘Imam’ Az Zinjani dan Ir. Bazarkan setelah keduanya memisahkan diri dari Garda Nasional. Kedua kelompok ini memiliki penetrasi yang besar ke lingkungan kampus dan Bazar (pusat-pusat perdagangan).
Mujahidin Kholq (مجاهدين خلق), yaitu partai politik yang didirikan oleh Musa Khayabani, Mas’ud Rajawi, dan lain-lain. Mereka mulai merongrong pemerintahan Shah dengan berbagai perlawanan bersenjata. Pemimpin spiritual mereka adalah Ayatullah Ath Thaliqani, dan partai ini didukung oleh para pelajar dan mahasiswa. Shah konon menjuluki mereka sebagai ‘muslimin Marxis’ dan mereka berperan sangat besar dalam menjatuhkan Shah.
Tokoh-tokoh agama yang sebelumnya diintimidasi di bawah kekuasaan Shah selama bertahun-tahun pasca konfrontasi berdarah antara Shah dan para pemimpin spiritual. Mereka memiliki pengaruh yang luas di kalangan pemuda, seperti Ayatullah Ath Thaliqani, Imam As Sayyid Hasan Al Qummi, Imam Asy Syaikh Bahauddin Al Mahlaaty, dan Imam Al Khaqani. Mereka semuanya berseberangan dengan Khomeini dan kelompoknya baik dalam pemikiran maupun politik. Akan tetapi mereka disatukan oleh ‘musibah’ yang sama, hingga berada satu parit untuk melawan Shah, meski mereka tetap menjaga prinsip-prinsip yang mereka pegangi serta independen dalam mengambil keputusan.
Kelompok Dr. Shariati. Mereka sejak dahulu merupakan golongan akademisi yang bersemangat untuk melakukan tajdid Islami. Mereka semua telah dibius oleh pemikiran Shariati yang rumit, dan intinya memusuhi kelompok yang terdiri dari tokoh-tokoh agama yang loyal kepada Shah.
Khomeini dan kelompoknya yang terdiri dari tokoh-tokoh agama baik di dalam maupun di luar Iran.
Golongan-golongan ‘kiri’, termasuk di antaranya Partai Komunis Tawdah.

Berbagai kelompok dan unsur ini bersatu untuk menggulingkan Shah. Meski masing-masing kelompok menganggap bahwa pihaknya lah yang pantas memegang kendali pemerintahan setelah revolusi berhasil, namun akhirnya mereka sepakat untuk memilih seorang pemimpin untuk mengarahkan pergerakan, dan pemimpin tersebut menurut anggapan mereka ‘tidak tamak’ terhadap kekuasaan, hingga jatuhlah pilihan kepada Khomeini.

Khomeini memainkan peran besar dalam mengelabui rakyat dan berbagai kelompok anti-Shah tadi, dan tidak menunjukkan bahwa dialah yang paling pantas memimpin revolusi jika mereka semua bergabung di bawah panji-panjinya. Berangkat dari sini, Bazarkan ditunjuk sebagai perdana menteri pertama pasca revolusi dan hanya sedikit dari kelompok Khomeini yang menduduki kekuasaan. Ini merupakan bukti kongkrit bahwa Khomeini konsekuen dengan sistem yang diinginkan oleh seluruh rakyat. Khomeini sendiri tetap berada di neauphle-le-chateau (daerah dekat Paris, Prancis) dan mendapat kawalan dari Polisi Prancis. Berbagai radio internasional serta surat kabar besar rajin memberitakan statemen-statemennya yang anti-Shah, sedangkan pengikutnya di Iran menyebarkan kaset-kaset yang berisi khutbah patriotisme Khomeini bagi rakyat Iran. Bahkan BBC London pun ‘nimbrung’ bersama Khomeini untuk menyiarkan semua perkataan dan permintaannya kepada rakyat Iran, alias menjadi salah satu ‘jurkam’ Khomeini. Peran yang dimainkan BBC demikian besar dalam mensukseskan revolusi, sebab BBC adalah satu-satunya radio bahasa Persi yang diperhatikan oleh rakyat Iran, mengingat mereka meyakini bahwa BBC adalah jelmaan politik Inggris, dan sikap BBC yang ‘melindungi’ Khomeini dan revolusinya, adalah bagian dari politik Inggris, dan ini menunjukkan bahwa negara-negara besar itu telah sepakat untuk menyingkirkan Shah.

Prancis telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi Khomeini dan memberinya kebebasan untuk bergerak semaunya. Sedangkan Russia tentu berseberangan dengan Shah melalui partai komunis Tawdah yang bersahabat dengan Khomeini.

Intinya, semua kekuatan besar telah sepakat untuk menggulingkan Shah. Khomeini pun lantas kembali ke Teheran laksana pahlawan yang disambut oleh 6 juta warganya saat mendarat di bandara Maharabad. Pertahanan udara Iran sengaja tidak menembak jatuh pesawat Boeing yang membawa Khomeini di atas wilayah udaranya, padahal pemimpin angkata udara Iran kala itu masih loyal penuh kepada Shah. Pun demikian ia tidak menembak jatuh pesawat tersebut, padahal dialah harapan terakhir untuk mengembalikan kepemimpinan Shah di mata para pendukungnya.

Akan tetapi Khomeini justeru menghukum mati orang yang tadinya bisa saja menembak jatuh pesawat yang mengangkut dirinya, dan menewaskan dia bersama seluruh kelompoknya plus 150 wartawan dari seluruh dunia.

Begitu sampai di Teheran, Khomeini mengumumkan tidak syar’i-nya pemerintahan PM Bakhtiar dan menunjuk Ir. Bazarkan sebagai PM yang baru. Iran pun mulai memasuki babak baru yang penuh kekacauan dan instabilitas. Krisis ini harus dihentikan dengan memenangkan salah satu dari berbagai golongan yang berseteru. Hari-hari pun berlalu cepat, hingga pada tanggal 14 Februari 1979 pemerintahan Bakhtiar mengumumkan darurat militer dan melarang mobilitas. Akan tetapi Khomeini menyatakan pembangkangan umum hingga berjuta orang tumpah ruah di jalan-jalan menuju kamp-kamp militer, pangkalan AU, markas SAFAK (intelijen Iran), dan pasukan-pasukan gerak cepat yang berada di bawah komando kepala tentara nasional Shah.

Sempat terjadi konfrontasi kecil, akan tetapi rakyat segera menguasai fasilitas-fasilitas militer tersebut beserta seluruh persenjataan dan amunisi yang ada di dalamnya. Mereka sempat membunuh sejumlah petinggi militer dan menawan yang lainnya saat hendak mempertahankan fasilitas militer mereka.

Jenderal Korbaghi yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi angkata bersenjata pun datang kepada Khomeini dan menyerah atas semua yang telah terjadi. Ia menyatakan takluknya militer kepada Khomeini setelah selama ini menghadapi perlawanan di jalan-jalan Teheran dan di seluruh kota Iran lainnya. Militer pun kembali ke pangkalan mereka atas perintah komandan tertinggi mereka. Khomeini lantas mengumumkan lahirnya ‘Republik Islam Iran’, dan dengan begitu berakhirlah orde Shah dan mulailah orde Syi’ah.[8]

Khomeini Pasca Revolusi

Di hari-hari pertama pasca berhasilnya revolusi, Khomeini belum menunjukkan ambisi terpendamnya untuk menguasai negara beserta rakyatnya. Ia justeru mengangkat Ir. Bazarkan sebagai PM dan memberinya kebebasan untuk memilih menteri-menterinya kecuali tiga orang, yaitu Ibrahim Yazdi (warga negara AS), Jumran, dan Shadiq Thabathaba-i. Khomeini lantas kembali ke Qumm untuk bersua dengan massa selaku pemimpin revolusi. Ia menyampaikan khutbah-khutbah hariannya setiap ada massa yang berkumpul. Akan tetapi di saat yang sama, kelompoknya menguasai empat badan terpenting, yaitu: Tentara Revolusi, Lajnah Revolusi, Mahkamah Revolusi, dan Stasiun Radio serta Televisi.

Di minggu pertama pasca Revolusi, Mahakamah Revolusi menjatuhkan hukuman mati kepada lima tokoh orde lama yang salah satunya adalah kepala SAFAK. Peradilan pun dilakukan secara cepat dan tersembunyi hingga menyebabkan dunia tercengang, sebab kelima orang tadi adalah tokoh-tokoh utama orde lama yang bisa menjadi sumber informasi berharga tentang pemerintahan yang lalu. Bazarkan pun menyatakan tidak tahu menahu tentang peradilan tersebut dan ia tidak menyetujui kecuali pengadilan yang adil sesuai undang-undang internasional. Akan tetapi tuntutan Bazarkan ibarat angin lalu dan Mahkamah Revolusi terus melangsungkan peradilannya. Rakyat pun mulai sadar bahwa Khomeini lah yang berada di balik semua peradilan tadi, dan dia sendiri yang menunjuk hakim-hakimnya dengan istrusksi khususnya. Dengan begitu, mulai nampaklah kekuatan baru yang bisa berbuat semaunya dan berada di luar kekuasaan negara.[9]

‘Buah Manis’ Revolusi

Setelah terjadinya berbagai kekacauan pasca revolusi yang akhirnya dimonopoli oleh kelompok Khomeini, dan menimbulkan banyak kerusakan dan korban, Dr. Musawi menyebutkan bahwa Khomeini pernah ditanya oleh wartawan radio sebagai berikut:

“Apakah pesan-pesan jenius yang hendak Anda ekspor ke seluruh dunia?”

Kekacauan dan kerusakan total di seluruh infrastruktur negara.
Eksekusi terhadap remaja puteri dan pemuda yang belum baligh.
Eksekusi terhadap manula yang berusia di atas 80 tahun.
Eksekusi terhadap wanita-wanita hamil.
Perang saudara.
Perang terhadap negara tetangga dan pembunuhan sesama muslimin.
Membantai ribuan rakyat yang berasal dari berbagai etnis.
Keterpurukan ekonomi di semua lini kehidupan.
Mahkamah Revolusi yang mengeksekusi 100 orang dalam 100 menit.
Lima macam penjara dan lima macam mahkamah serta lima kekuatan pelaksana.
Tiga puluh ribu tahanan politik.
Empat juta pengangguran.
Tiga juta korban perang.
Inflasi yang mencapai 400 % dalam dua tahun.
Penutupan perguruan tinggi selama batas waktu yang tidak diketahui.
Penurunan mata uang negara hingga 500 % dari nilai resminya.
Lalu si wartawan menambahkan: “Saya kira di dunia ini tidak ada sebuah kuburan pun yang mau mengimpor revolusi Anda karena akan mengganggu ketenangan orang-orang yang telah mati, lantas bagaimana dengan yang masih hidup”.[10]

Bahkan dalam kurun 8 bulan pasca revolusi, sumber-sumber kepolisian di Scontlandia, Inggris memberitakan sbb: “Heroin Iran telah menyebar di London seperti hotdog dan hamburger”. Sumber tersebut juga mengisyaratkan bahwa Iran telah memasok 58% dari heroin yang diselundupkan ke pulau-pulau di Inggris.

Sejumlah informasi yang didapat oleh polisi internasional menyebutkan bahwa para mafia narkotika memanfaatkan kekacauan politik yang ada di Iran untuk mendirikan sejumlah pabrik pengolahan opium menjadi heroin, dan perekrutan sejumlah orang-orang Iran untuk menyelundupkan heroin dalam jumlah lebih banyak ke ibukota negara-negara di Eropa.

Iran diyakini menjadi pengedar obat bius terbesar kedua setelah Amerika Serikat jika dilihat dari besarnya jumlah pecandu heroin di sana. Bahkan 75% dari jumlah tersebut adalah pemuda yang umurnya berkisar antara 15-30 tahun.[11]

Belum lagi jika berbicara tentang degradasi moral rakyat Iran pasca revolusi syi’ah-nya Khomeini, mengingat tersebarnya praktek mut’ah yang tak lain adalah zina atas nama agama. Salah seorang cucu perempuan dari rujukan syiah terkenal Ayatullah Al Haa-iry yang bernama Syahla Ha-iry dalam penelitian akademiknya yang berjudul (المتعة، الزواج المؤقت عند الشيعة، حالة إيران 1978-1982م) mengatakan (hal 24): “Ketika Dinasti Keluarga Pahlevi (1925-1979) memperolok ‘nikah sementara’ dan tidak memperhatikannya, justeru ‘Pemerintahan Islam’ kontemporer (yakni Khomeini) mendukung dan membelanya terang-terangan”. Ia juga mengatakan (hal 25): “Pemerintahan Islam melakukan usaha-usaha intensif untuk mempropagandakan lembaga ini (maksudnya lembaga mut’ah) secara terperinci dan menjelaskan landasannya yang suci serta urgensinya kepada masyarakat”.[12]

Sedangkan dari sisi agama, tentu Ahlussunnah Iran lah yang paling tertindas semenjak berhasilnya rezim Syi’ah Rafidhah memegang tampuk kekuasaan. Hal ini terbukti dengan tidak adanya sebuah mesjidpun bagi Ahlussunnah di Teheran, padahal jumlah mereka lebih dari satu juta jiwa di sana. Sedangkan Yahudi yang jumlahnya sekitar 25 ribu orang saja memiliki 76 sinagog di seluruh Iran![13].

Bahkan sebagaimana yang diberitakan oleh surat kabar The Daily News, ketika salah seorang rujukan Syi’ah yang bernama Misbah Al Yazdi ditanya tentang sebab tidak diizinkannya Ahlussunnah mendirikan mesjid di Teheran, ia menjawab: “Kalau di Mekkah telah diizinkan untuk membangun Huseiniyyah, maka barulah di Teheran boleh didirikan mesjid Ahlussunnah”.[14]

فصدق الله القائل: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ [البقرة/114] وصدق إذ قال عن هؤلاء المشركين: مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ [التوبة/17] وصدق إذ قال عن المسلمين: إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ [التوبة/18].

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

 [1] Lihta: Ats Tsaurah Al Baa-isah, hal 5-6.
 [2] Idem, hal 7-8.
 [3] Lebih lanjut ttg jatidiri Khomeini silakan baca kitab: (الثورة البائسة) tulisan Dr. Musa Al Musawi hal 96-124 yang khusus berbicara tentang Khomeini.
 [4] Idem, hal 9-10. Lihat juga: “Wa jaa-a Daurul Majuus” hal 108.
 [5] Wa jaa-a Daurul Majuus, hal 108.
 [6] Hal senada juga disebutkan oleh koran Al ARAB 18/2/2009 dalam tulisan bertajuk (ثلاثون سنة على الثورة الإيرانية).
 [7] Idem, hal 12-13.
 [8] Lihat: Ats Tsaurah Al Baa-isah, hal 18-20 dengan sedikit perubahan.
 [9] Idem, hal 23-24.
 [10] Idem, hal 29.
 [11] Lihat:  “Wa jaa-a Daurul Majuus, hal 474-475.
 [12] Dinukil dari: (المتعة في إيران، تطبيق النظرية في الواقع المعاصر) www.alshomoa.net/todaynews/index.php?action=showDetails&id=8609
Lihat juga: Fashl (الرعب المدمر) di kitab: “Ats Tsaurah Al Ba-isah” untuk mengetahui detail-detail ‘buah manis’ revolusi Iran.
Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah al-Atsary hafizhahullah

Related articles

Kedutaan Besar Republik Syi’ah Iran Dan Tokoh-Tokoh Syi’ah Sangat Agresif Menyebarkan Faham Sesat Revolusi Syi’ah Iran/Khomaini Di IUN Jakarta/Di NKRI, Ada Apa ?
Revolusi Syiah Khumainiyah Iran, Wilayatul Faqih Syiah Rafidhah Harga Mati Untuk Merevolusi (Baca: Menumbangkan) Seluruh Pemerintah Negeri-Negeri Kaum Muslimin Di Berbagai Penjuru Dunia
Buka Mata Wahai Indonesiaku: Hakekat Pertukaran Budaya Bagi Iran Adalah Meng-Iran-Kan Indonesia ( Masukan Untuk Mendikbud )
Sekilas Tentang Pemikiran Khumaini
Jenderal Mulut Besar Majusyiah Iran: Memerangi Saudi Dan Bahrain Hanya Tinggal Tunggu Waktu. Mendukung Gagasan Untuk “Mengekspor” Revolusi Iran Di Luar Negeri Dan Menekankan Pentingnya “Rekayasa” Revolusi Dan Memperluas Domainnya Di Wilayah Internasional.
Iran: "Pahlawan" dunia Islam atau penjahat kemanusiaan?
Tokoh Oposisi Iran: Keterlibatan ( Syi’ah ) Iran Di Fallujah Tak Lepas Dari Peran AS ! Mantan PM Iraq Sesalkan Keterlibatan Iran Dalam Perang Fallujah Dan Apa Ambisi Iran ?
Jendral Majusyi’ah Iran Laknatullah Menghina Hasan Bin Ali RA : “Jika Dia Memiliki Pasukan Sebesar Pasukan Khemenei Saat Ini Tak Akan Terjadi Kesepakatan Tercela Dengan Muawiyah RA”. Umat Islam Wajib Memerangi Mereka.
Iran Adalah Negara Islam Titik! ( Kata Orang Buta, Tuli, Kurang Waras Alias Gila Dan Kurang Akal )
Misi Ideologis Iran Di Timur Tengah ( Menyingkap Proyek Syi’ahisasi Timur Tengah Di Tengah Rontoknya Solidaritas Dunia Arab )
Iran Adalah Negara Syiah Dengan Memakai Embel - Embel Islam
Iran bukanlah negara Islam tapi negara Syiah!!
Revolusi iran Bukan Revolusi Islam
Jangankan Taqrib, Tasamuh Saja Mustahil ! Konflik Sunni-Syi’ah Sangat Mudah Diselesaikan Jika Syi’ah Siap Melakukannya Dengan Syarat-Syarat.... ( Untuk Profesor Su’per Sunni Liberal/Syi’ah Lokal Yang Masih Gemar Seminar Taqrib )
Khomainiy = Nasr Hamid Abu Zaid = Nasaruddin Umar, Al-Qur'an Tidak Sempurna ( Belum Tuntas ) !
Hinaan Al-Khomainiy terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
Pandangan Imam Khomeini Dalam Kitab Al-Hukumah Al-Islamiah Dan Kasyfu Al-Asrar
Hakekat Imam Khomeini
Syiah dan Kitab-Kitab Perusak Kehormatan Rasulullah
Menguak kesesatan syiah
Sunni-Syiah Dalam Ukhuwah?
Rekayasa Sistematis Khomeini Dalam Menyatukan Sekte Syi'ah Dan Mengelabui Umat Islam
Politik Iran Dan Pengaruh Syiah