Monday, January 12, 2015

Beberapa Foto Lucu…

Berikut ini beberapa foto lucu yang diperoleh dari situs albashirah.com. Foto-foto ini menceritakan tentang suatu acara ritual-seremonial yang dilakukan militer dan para pejabat birokrasi di IRAN. Mereka hendak mengenang kembali kedatangan Khomeini yang semula tinggal di Perancis, lalu datang ke Iran untuk memimpin Revolusi 1979.
Perjalanan politik Khomeini itu persis seperti Mustafa Kamal Attaturk di Turki. Keduanya sama-sama didukung oleh Barat. Barat berusaha menciptakan drama sedemikian rupa, agar kedua tokoh itu tampak “sangat berjasa” di mata rakyatnya. Ini adalah drama tingkat tinggiyang sulit dipahami oleh awam. Apalagi media-media massa Barat sepakat untuk terus membuat kesan hebat perjuangan “sang imam”. Dulu Kamal Attaturk juga dibuatkan kesan “sangat hebat” di mata rakyat Turki.
Mungkin karena lagi “tak ada kerjaan”, kalangan Syiah di Iran berusaha melakukan ritual “napak tilas” dengan mengenang kembali saat-saat kedatangan Khomeini ke Iran. Agar upaya itu semakin khusyuk, mereka memakai beberapa foto Khomeini sebagai sarana ritual-seremonial. Mungkin ke depan, napak tilas ini akan dijadikan “obyek wisata spiritual” oleh kalangan Syiah Iran. Tak tahulah… (Sumber rujukan: Situs Albashirah.Com).
Mari kita lihat saja parade foto-foto ini, selamat “cuci mata”!

                         
                                                     “Acara sudah mau dimulai, hatiku deg deg sekali! Oh sang imam…”
                            
                                                             “Sang imam silakan turun dari pesawat, Graaakkkkk!”
                             
                               “Sang imam mulai berjalan, hormaaaaaat gubrakkkk…eh maksudnya, graakkkk!”           
                                                                                                    “Sang imam naik mobil, grakkkkkkkk!”                  
                              
                                            “Kami siap mengawal perjalanan sang imam….brum brum brum….”
                   
“Imam lagi duduk di majelis…semua diam…jangan berkata-kata…semua tenang! Mari kita dengarkan khutbah                                                                                                           revolusi imam"

                   

                    “Eh, aduh…maaf imam, tadi tangan saya menyenggol kaki imam. Maaf, maafin, saya kurang sopan.”

HIKMAH
Dulu, Rib’i bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu, beliau diutus oleh Panglima Sa’ad bin Abi WaqashRadhiyallahu ‘Anhu, untuk menjumpai Jendral Rustum, penguasa Persia. Mula-mula Rib’i hendak ditolak oleh Rustum, karena beliau adalah laki-laki kulit hitam. Tetapi para ShahabatRadhiyallahu ‘Anhum meyakinkan, bahwa Rib’i adalah laki-laki terbaik di tengah mereka.
Lalu Rustum bertanya kepada Rib’i: “Dengan membawa pesan apa Engkau datang kesini?”
Rib’i Radhiyallahu ‘Anhu menjawab: “Kami datang kesini diutus untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah saja; dari kezhaliman segala agama-agama, menuju keadilan Islam; dari sempitnya kehidupan dunia menuju keluasannya.”
Kata-kata Rib’i bin Amir ini begitu monumental, sehingga banyak dikutip oleh para ulama. Di balik kata-kata itu tercermin tujuan-tujuan asasi kedatangan Islam. Salah satunya, yang terpenting, ialah MEMBEBASKAN MANUSIA DARI HAKIKAT PENJAJAHAN & PENINDASAN, MENUJU KEMERDEKAAN SEBAGAI HAMBA-HAMBA ALLAH YANG HANYA MENGABDI KEPADA-NYA.”
Islam adalah Dinut Tauhid. Ciri kelurusan Islam, ketika disana manusia merdeka, bebas dari penindasan, penjajahan, dan penghambaan kepada sesama manusia (atau makhluk lain). Sedangkan ciri aliran sesat: pada akhirnya akan selalu menjajah kebebasan manusia sebagai hamba Allah. Dimana saja kebebasan beribadah kepada Allah dibelenggu oleh kultus individu, mengibadahi imam-imam, kasta, klas-klas, elitisme, eksklusivisme, kesenjangan sosial, ashabiyah (kesukuan), dll. waspadai disana ada kesesatan!
Kaum Persia sudah dibebaskan oleh Allah dari belenggu jahiliyah (penghambaan manusia ke atas manusia lainnya); tetapi kaum Syiah Rafidhah telah mengembalikan lagi era jahiliyyah itu. Banyak esensi ajaran Syiah itu yang mengandung makna: menyembah dan mengibadahi imam-imam Syiah (sesama manusia). Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa lil Muslimin.
AM. Waskito.

Syaikul Islam Ibnu Taymiyah berkata :
 الرافضةُ غالبُ حججهم أشعارٌ تليق بجهلهم وظلمهم ، وحكايات مكذوبة تليق بجهلهم وكذبهم ، وما يُثبت أصول الدين بمثل هذه الأشعار ، إلاّ من ليس معدوداً من أولي الأبصار
“Mayoritas argumen Rafidhah adalah ‘slogan-slogan kosong’ sesuai dengan kebodohan dan kezhaliman mereka. “Ditambah dengan dongeng-dongeng fiksi yang pantas dengan kedunguan dan dusta mereka. Ushuluddin tidak akan tegak hanya dengan argumen-argumen seperti ini, kecuali bagi orang yang tidak berakal!”
Ya Allah..kami bersyukur kepada-Mu atas nikmat akal dan pikiran sehat.
Sumber Gambar: Halaman FB, Dukung MUI Keluarkan Fatwa Syi’ah Sesat Dan Haram Di Indonesia
Sumber: alfathonah





Saturday, January 10, 2015

Inilah Scan Al-Qur'an Iran (Syiah) yang Dibagi-bagikan di Indonesia

SENIN, NOVEMBER 12, 2012  LPPI MAKASSAR  


                                    

IJABI menjawab tuduhan orang-orang kepada Syiah bahwa Al-Qur'an mereka tidak sama dengan Al-Qur'an yang berada di tangan kaum Muslimin saat ini dengan cara membagi-bagikan Al-Qur'an cetakan Iran atau Al-Qur'an cetakan orang-orang Syiah kepada kaum Muslimin Indonesia. Apakah Al-Qur'an yang dibagi-bagikan kaum Syiah tersebut ada bedanya dengan Al-Qur'an kita saat ini?, mari kita lihat lembar demi lembar, (dan gambar di atas adalah sampul Al-Qur'an cetakan Iran)

Lambang negara Syiah Iran di atas lafaz Innahu Laqur'anun Kariim

                                        

Masih dalam halaman-halaman awal, dalam kotak merah terdapat tulisan Al-Jumhuriyah Al-Islamiyah Iransebagai bukti bahwa Al-Qur'an ini dicetak oleh orang-orang Syiah di Iran



                                      
Kita mulai menilai Al-Qur'an cetakan Iran dengan surat Al-Fatihah, silakan baca,

                                           
Berikutnya surat Quraisy, Al-Maa'uun, dan Al-Kautsar cetakan Iran

                                    
Berikut daftar isi surat dan juz dalam Al-Qur'an edisi Iran ini

                                                         
Bagaimana menurut pembaca? apakah Al-Qur'an mereka beda dengan Al-Qur'an kita? yah, jawaban pembaca sama dengan kami, Al-Qur'an cetakan orang-orang Syiah di Iran SAMA dengan Al-Qur'an kaum Muslimin di seluruh dunia!

Inilah trik taqiyah tingkat tinggi yang sedang dijalankan oleh pemerintah Iran untuk menipu kaum Muslimin di dunia, bukan berarti bahwa mereka tidak membaca Al-Qur'an ini di Iran, mereka juga membacanya, bahkan Al-Qur'an yang sama juga menjadi Kitab yang dihafalkan oleh para peserta MTQ tingkat internasional yang selalu diselenggarakan oleh Iran. 

Ini hanyalah kamuflase, kenapa? karena keyakinan orang-orang Syiah mengatakan bahwa Al-Qur'an yang dikumpulkan oleh para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tersebut tidak asli lagi, dirubah, ditambah, dan telah dikurangi. 

Mereka memakai Al-Qur'an yang ada sekarang hanyalah untuk mengisi kekosongan, karena di akhir zaman nanti Imam Mahdi akan turun dari langit membawa Al-Qur'an yang asli menurut Syiah. Silakan cari di seluruh pelosok Iran dan kantong-kantong Syiah di dunia, kita akan dapati Al-Qur'an mereka sama dengan Al-Qur'an kita, namun  bagi mereka membacanya adalah sebuah beban, dan terpaksa.

Tidak percaya? silakan perhatikan bukti-bukti otentik berikut ini:

1. Ulama Syiah, Sayyid Adnan Al Bahrani, 

                              
“Hasilnya adalah bahwa riwayat-riwayat dari jalur Ahlul Bait juga banyak jika tidak dikatakan mutawatir, bahwasanya Al-Qur’an yang ada di tangan kita bukanlah Al-Qur’an secara sempurna sebagaimana yang diturunkan kepada Muhammad, bahkan di dalamnya terdapat kebalikan dari apa yang Allah turunkan, di dalamnya juga ada yang dirubah dan bahwasanya telah dihapus darinya perkara yang banyak, di antaranya nama Ali dalam banyak tempat, juga lafadz Aalu Muhammad (keluarga Muhammad), juga nama-nama orang Munafik, dan lain sebagainya. Dan juga Al Quran tidak pada pengurutan yang diridhai di sisi Allah dan di sisi Rasulullah, sebagaimana yang terdapat dalam tafsir Ali bin Ibrahim.” 

2. Ulama Syiah, Al-Mufid


                            
"Pembahasan tentang penyusunan Al-Quran serta perkataan sebuah kelompok tentang penambahan dan pengurangan di dalam Al-Quran.

Saya katakan: Riwayat-riwayat telah datang secaramelimpah dari para imam pemberi petunjuk dari keluarga Muhammad tentang perbedaan Al-Quran dan hal-hal baru yang dibuat-buat oleh sebagian orang-orang zalim berupa penghapusan dan pengurangan.

Adapun pembahasan tentang penyusunan Al-Quran, maka yang ada (sekarang) mengindikasikan dimajukannya ayat-ayat yang turun belakangan dan diakhirkannya ayat-ayat yang diturunkan lebih awal, dan siapa yang mengetahui nasikh dan mansukh, jugaal Makki dan al Madani (ia akan tahu bahwa Al Quran) tidak disusun sebagaimana dengan yang kami sebutkan.

Adapun pengurangan maka akal tidak mendustakan dan tidak menghalangi untuk terjadi."

3. Seluruh Ulama Ahli Hadis dan Ahli Tafsir Syiah sepakat Al-Qur'an telah dirubah

                          
                                 
Soal kelima: Siapakah mereka yang berpendapat tentang tahrif (perubahan) Al-Qur’an dan apa dalil mereka?

Jawab: Sekumpulan ahli hadis dan ulama ahli riwayat menyatakan adanya tahrif dalam Al-Qur’an dengan bentuk pengurangan, oleh karena itu
Mereka berpendapat tentang adanya tahrif Al-Qur’an dengan bentuk pengurangan.

Yang paling pertama yang berpendapat tentang itu yang saya ketahui adalah Ali bin Ibrahim dalam kitab tafsirnya, di dalamnya terdapat perkataan Abu Al-Hasan Ali bin Ibrahim Al-Hasyimi Al-Qummi: “Di dalam Al-Qur’an terdapat Nasikh dan Mansukh… ada juga yang terputus, bengkok, dirubah tempat hurufnya, dirubah-rubah dan di dalamnya juga terdapat kebalikan dari apa yang diturunkan Allah Azza Wajalla –sampai perkataannya- adapun yang dirubah darinya adalah firman-Nya: 

لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ
maksudnya tentang Ali, seperti ini diturunkan. 
أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلائِكَةُ يَشْهَدُونَ
Juga firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا
Maksudnya yang menzalimi keluarga Muhammad
لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا
وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا

Maksudnya yang menzalimi keluarga Muhammad
 أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

Juga firman-Nya:
وَلَوْ تَرَى
Maksudnya orang-orang yang menzalimi keluarga Muhammad
فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ
Dan yang semisal ini banyak. Kami sebutkan di tempatnya. Begitulah maksud dari perkataannya, hal itu nampak dari Al-Kulaini di mana dia meriwayatkan hadis-hadis yang jelas tentang itu dan dia tidak mengomentarinya sedikit pun.

Sayyid Al Jaza’iri juga berpendapat tentang terjadinya tahrif dalam dua syarahnya terhadap 2 tahdzib, beliau memperpanjang pembahasan tentang itu di dalam risalahnya yang ia beri judul Manba’ Al Hayat

(Ayatullah Al Uzhma Al Ashfahani menerangkan akidah Imamnya para mufassir, Al-Qummi, dan imamnya ahli hadis, Al-Kulaini, tentang tahrif Al-Quran)

4. An-Nuri Ath-Thibrisi dan sikap Khomeini yang sangat memuliakan ulama yang telah mengatakan Al-Qur'an dirubah.

Berkata seorang hamba yang penuh dengan dosa Husain bin Muhammad Taqy At Thabrisi- semoga Allah menjadikannya termasuk orang-orang yang senantiasa berhenti di depan pintu-Nya dan teguh dengan kitab-Nya-: Ini adalah buku yang lembut lagi mulia, yang saya kerjakan untuk  membuktikan telah terjadinya tahrif (penyelewengan/perubahan) Al Qur’an dan membuktikan kecurangan ahli kejahatan dan permusuhan (yang dimaksud adalah para shahabat radhiallaahu 'anhum). Dan saya menamakan buku ini Fashl al-Khithaab fii tahrif kitaab rabb al-arbaab.

Bagaimana sikap Khomeini terhadap ulama Syiah yang telah mengatakan Al-Qur'an ini dirubah?, mari kita baca bersama, 

Di dalam al-Arba'un Haditsan, Khomeini memperkenalkan masyaikhnya dalam bidang hadits, dan mereka mendapatkan dari :

al-Maula al-Aalim al-Zaahid al-Aabid al-Faaqih al-Muhaddits al-Mirza Husain al-Nuri - semoga Allah menerangi tempat peristirahatannya yang mulia.

Lihatlah, masuk akalkah orang yang jelas-jelas telah menghina kitabullah justru diberikan pujian seperti itu ? Dan bukan itu saja, bahkan al-Nuri penulis Fashl al-Khithaab tersebut dikuburkan berdekatan dengan makam Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib radhiallaahu 'anhu. Apakah menurut anda Amirul Mu'minin sudi berdekatan dengan orang seperti itu ? Itulah kekurangajaran yang sangat dari kaum syi'ah rafidhah. 


5. Al-Karmani, Ulama Syiah
 
“Terjadi perubahan dan pengurangan pada Al Quran!, Al Quran yang terjaga itu tidak ada melainkan ada pada Al Qa’im (Imam Mahdi), dan Syiah itu TERPAKSA membaca Al Quran ini (Al Quran sekarang) sebagai bentuk taqiyyah, karena ini perintah keluarga Muhammad alaihis salam” (Al Karmani, Ar Radd ‘ala Hasyim Asy-Syami, hal 13, cet Iran)


6. Ni'matullah Al-Jaza'iri, Ulama Syiah juga

“diriwayatkan dari berita-berita bahwa mereka (para Imam Syiah) alaihimus salam memerintahkan pengikut mereka membaca Al Quran yang ada sekarang ini di dalam shalat dan selainnya, juga mengamalkan hukum-hukumnya sampai muncul Maulana Shahibuz Zaman (Imam Mahdi) kemudian ia akan mengangkat Al Quran ini dari tangan manusia ke langit dan mengeluarkan Al Quran yang disusun oleh Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib ra) kemudian dibaca dan hukum-hukumnya dilaksanakan” (Ni’matullah Al Jaza’iri, Al Anwar An Nu’maniyyah, Jilid 2, hal 363-364)

Inilah Akidah Syiah tentang Al-Qur'an, sehingga apa yang mereka lakukan saat ini tidaklah merubah akidah mereka. Orang Syiah Indonesia yang membagi-bagikan Al-Qur'an tersebut hanyalah orang-orang biasa, sedangkan yang kami kutipkan adalah ijma (kesepakatan) seluruh ulama Syiah bahwa Al-Qur'an tidak asli lagi.

Selanjutnya, bagaimana sikap kita terhadap Al-Qur'an cetakan Iran yang dibagi-bagikan tersebut?

Menurut kami, ambillah Al-Qur'an itu, karena itu adalah Kalam Allah yang asli, mereka berusaha dengan sekuat tenaga agar Al-Qur'an mereka sama dengan kita. Jangan dibuang apalagi dibakar, karena itu melecehkan kitab Allah. Bacalah seperti kita membaca Al-Qur'an yang lainnya. Mudah-mudahan Allah memberikan pahala yang melimpah kepada pemerintah Iran yang telah membagi-bagikan Al-Qur'an tersebut secara gratis jika memang bebas dari taqiyah, dan sekali lagi perlu diingat bahwa keyakinan mereka tetaplah sama dengan apa yang diucapkan oleh ulama-ulama Syiah di atas bahwa Al-Qur'an saat ini tidak asli lagi, membacanya adalah terpaksa dan sebagai taqiyah, dan ketika Imam Mahdi turun membawa Al-Qur'an versi Syiah mereka akan membacanya dan melaksanakan hukum-hukumnya.

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Catatan tambahan :

kata Syiah disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur'an... namun bukan berarti itu menunjukkan bahwa Syiah merupakan ajaran yang benar... karena Syiah yang disebut dalam Al-Qur'an tidak ada yang bermakna Syiah yang kalian anut saat ini dan merupakan aliran sesat. begitu juga dengan Sunni, tidak ada sebutan sunni dalam Al-Qur'an, bukan berarti Sunni itu batil.
itu logika konyol.
sebaliknya kami tantang Anda uuntuk menyebutkan satu saja ayat dalam Al-Qur'an yang menyebut secara jelas Imamah Ali....karena Al-Maidah: 55 itu tidak jelas tertuju pada Ali. Tafsir tentang berzakat dalam ruku' itu buatan kalian, yang bahkan melecehkan Imam Ali karena tidak khusyu' dalam shalat.
Baca ini: 
http://www.lppimakassar.com/2013/03/kaidah-yang-meruntuhkan-akidah-syiah.html
Kemudian untuk yang komen pas di atas ini: silakan bikin screen shot yang jauh lebih bagus, jika memang anda punya bukti!

Yang bilang Syiah punya Al-Qur'an lain itu bukan Sunni, bukan pula selain Syiah, tapi ulama-ulama Syiah sendiri (seperti scan kitab mereka yang kami kutip di atas: Adnan Al-bahrani, Al-Mufid, An-Nuri Ath-Thibrisi, Khomeini yang setuju dng Thibrisi, dan seluruh Ulama Hadis dan Ulama Ahli Tafsir Syiah).... kalau begitu mereka ini -seperti kata anda- bukan hanya konyol, tapi tak punya logika karena sudah ditutup oleh fanatisme buta.

Ini tanggapa ringkas tentang Al-Maidah: 55
Dalil lain tentang Imamah adalah ayat ke 55 dalam surat Al-Maidah,
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
Syiah menafsirkan bahwa waliy/pemimpin yang dimaksud dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib. Karena menurut dalam salah satu riwayat, Ali mengeluarkan zakat berupa cincin kepada fakir miskin dalam keadaan rukuk. Suatu ayat yang butuh kepada penafsiran dan riwayat hadis, maka itu bukanlah ayat muhkam dan pokok agama.
Di samping riwayat di atas palsu, hadis itu juga merupakan pelecehan terhadap Ali. Kita meyakini bahwa Ali adalah seorang sahabat yang khusyu’ dalam shalat. Sungguh telah beruntung orang-orang beriman. (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalat. (Al-Mukminun: 1-2). Kekeliruan pertama, mengeluarkan zakat pada saat rukuk akan berimplikasi pada shalat yang kurang khusyu’, maka secara tidak langsung kaum Syiah menganggap Ali kurang khusyu’ dalam Shalatnya. Kekeliruan kedua, munculnya anggapan bahwa Ali r.a. adalah orang kaya hingga memakai cincin emas. Sebenarnya, cincin emas itupun telah ada larangannya dari Rasulullah dipakai oleh kaum pria. Bahkan sebaliknya, Ali tidak berhak mengeluarkan zakat. Sebagai contoh mahar Ali kepada Fathimah dibantu oleh Utsman bin Affan karena kebersahajaan beliau dalam kehidupannya.
 

Selengkapnya baca di sini: 

Jadi, Maksud ayat di atas adalah
Wali kaum Mukminin itu hanyalah Allah, Rasulnya dan orang-rang yang beriman yang melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat serta mereka itu tunduk patuh (bukan berzakat dalam keadan rukuk)

Logikanya begini..AL QUR'AN mulai dibukukan atau disusun ketika masa kekhalifahan sayyidina ustman bin affan, disaat itu syyidina Ali bin Abi thalib masih hidup bersama beliau...lantas kenapa beliau (Ali bin Abi thalib) tidk mengkritik susunan AL QUR'AN yang di susun oleh syyidina Ustman bin affan...ok lah..mungkin saat itu Ali bin abi thalib takut krn Ustman bin affan masih jadi khalifah...lantas setelah Ustman bin affan wafat..bukankah yng jadi penguasa atau khalifah setelah beliau adalah ali bin abi thalib...lntas kenapa tdk dirubah kembali kepad naskah asli nya oleh Ali bin abi thalib...jwbnnya sudah pasti krn tidk ada sedikitpun keragu raguan dari susunan AL QUR'AN tersebut untuk di rubah kembali oleh Ali bin Abi thalib..ok lah...mungkin Ali sudah lupa dengan naskah asli AL QUR"AN yang pertama..yaitu yg msih berupa suhub..kl sayyidina Ali bin Abi thalib ra..yg org syiah anggap sebagai Tuhan..kenapa memiliki sifat yang pelupa...yg pasti dn jelas jawabn yang pertama lah yang jelas.,,,



Jawaban Terhadap Penafsiran Ayat Al Qur'an Tentang "Mut'ah" Yang Difahami Syi'ah Selama Ini

Minggu, 13 Oktober 2013
Allah membolehkan Kawin Mut'ah ataukah Syi'ah???
Menjawab Pertanyaan menantang seorang 'pecinta Ahlul Bait' (baca : syiah)
-------------------------------------------------
Ada Seorang 'Pecinta Ahlul Bait (baca : syiah)' yang melayangkan pertanyaan menantang kepada saya di kronologi saya ketika saya menjawab pertanyaan seorang Wanita Muslimah (Yang kemungkinan baru mulai belajar Islam) tentang Definisi Kawin Kontrak/Zina Mut'ah..sesuai dengan kapasitas pengetahuan saya maka saya pun menjawabnya apa adanya dengan jawaban sederhana..lalu barusan saja saya membuka Laptop tiba2 ada seorang 'Pecinta Ahlul Bait' yang Bersembunyi di balik nama Facebook Mazhab Ahlul Kisa' Ahlul Bait mengomentari Jawaban singkat saya tersebut dengan komentar dan pertanyaan menantang.
Berikut Tulisannya:

ABU HUSEIN COBA JELASKAN MANA DALIL QUR'AN YANG MENGHARAMKAN NIKAH MUT'AH? JANGAN ASAL KOMEN. KALAU KOMEN HARUS PAKAI HUJJAH DAN DALIL YANG KUAT BUKAN HANYA KOMEN SEMPALAN.

ALLAH BERFIRMAN,"HAI NABI KATAKANLAH KEPADA ISTRI-ISTRIMU JIKA KAMU SEKALIAN MENGINGINI KEHIDUPAN DUNIA DAN PERHIASANNYA MAKA MARILAH SUPAYA KUBERIKAN KEPADAMU MUT'AH DAN AKU CERAIKAN DENGAN CARA YANG BAIK." ( QS.AL-AHZAB: AYAT 28 )

Maka saya ABU HUSEIN AT-THULLAIBI menjawab:

(MUQADDIMAH)
Hai Orang Kafir Syi'ah,Sebelum saya menjawab pertanyaan dan komentar anda,maka saya katakan pada anda bahwa LAKUM DIINUKUM WALIADIIN..Bagi Kalian agama kalian dan bagi kami agama kami...dalam agama kami (Agama Islam) Zina Mut'ah itu HARAM dan DOSA BESAR..meskipun dalam agama kalian (Agama Syi'ah) itu di bolehkan bahkan di anjurkan dan di sebut dengan "Nikah",namun pada Agama Kami (Agama Islam) Itu adalah ZINA. dan ini Kesepakatan SELURUH PARA 'ULAMA ISLAM dari kalangan AHLUS SUNNAH dan AHLUL BAIT Shalawatullah Wa Salaamuhu 'Alaihim, baik Hanafi,maliki,syafi'i,atau Hanbali....Begitu juga dengan Ulama Ahlul Bait Radhiyallahu'anhum. nah oleh karena itu jangan sekali2 memaksakan Kami untuk meyakini dan membenarkan Ajaran Agama Kalian yang KAAFIIRR dan SESAT itu....

Toh kami Kaum Muslimin tidak memaksakan Kalian untuk mengikuti Agama kami,Karena Allah Berfirman,"La Ikraahafiddiin",yang artinya tidak ada paksaan dalam Beragama. oleh sebab itu kalian juga jangan paksakan kami kaum ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal-Jamaah) dan Kaum Ahlul Bait untuk Mengikuti Ajaran Agama Syi'ah Rafidhah Majusiyah Farisiyah yang SESAATT dan KAAFIIRR itu.....karena Sejatinya Kalian orang2 Syi'ah Bukanlah pengikut Ahlul Bait,tapi Justru Musuh Utama Ahlul Bait 'Alaihim Shalatu Wa Salam,,Di antara buktinya adalah:

1.Pemuka Ahlul Bait Sayyidu Syabaabi Ahlil Jannah Raihaanul-Musthofa Hasan Bin 'Ali Radhiyallahu'anhuma Berkata,"Demi Allah,Mu'awiyah Bin Abi Sofyan LEBIH BAIK Daripada orang2 yang mengaku sebagai Syi'ah (Pengikut)-Ku,Mereka berupaya membunuhku dan merampas hartaku. (Kitab Al-Ihtijaj Karya At-Thabrasi di halaman 148.).

2.Pemuka Ahlul Bait,'Ali Bin Husein Zainal 'Abidin berkata,"Orang2 Syi'ah bukan dari kami dan kami pun bukan dari mereka".(Kitab Rijaaul Kisyi halaman 111).

3.Imam Ahlul Bait Imam Ja'far Shaadiq 'Alaihi Salam Berkata,"Allah berlepas diri dari Orang2 Yang benci terhadap Abu Bakar dan 'Umar". yang di maksud dengan "Orang2 Yang membenci Abu Bakar dan 'Umar" tentu saja adalah orang2 Syi'ah Rafidhah.!!!!

Kemudian,dalam Agama Syi'ah,Syi'ah Beribadah dengan Sujud Di Kuburan Husein,Syi'ah Menyeru-Nyeru Nama Husein,bahkan Syi'ah di Iraq pernah bikin spanduk besar bertuliskan Lafadz "Inna Lil-Husein Wa Inna Ilaihi Raaji'uun",yang artinya "Sesungguhnya Kami milik Husein dan Kepadanya lah kami kembali". Minimimal Orang2 Syi'ah baik yang di Timur Tengah maupun yg di Indonesia selalu Menyeru nama Husein degan Perkataan "Yaa Husein.." atau "Labbaika Yaa Husein.." yang artinya "Kami Sambut panggilanmu Yaa Husein".
sedangkan di Sisi Lain Orang2 Islam dengan penuh Ketauhidan dan keimanan mereka berseru "Labbaikallaahumma Labbaik..yang artinya "Kami Sambut Panggilan-Mu yaa Allah..".

Hal Ini menunjukkan bahwa Syi'ah Menyembah Husein,atau minimal Mensejajarkan Posisi Husein dengan posisi Allah Rabbul 'Alamin yang telah menciptakan Husein.Dan dalam agama kami (Agama Islam) ini adalah KEKUFURAN yang nyata,yang Dalam Hukum Islam Bila ada Khalifah atau Amirul Mukminin maka Orang2 Semacam ini Sudah Tidak akan di biarkan Hidup alias Di Sembelih bagaikan Hewan Qurban. kenapa demikian?? karena Tuhan Kami Adalah Allah Jalla Wa 'Ala yang telah menciptakan Kami dan Memberi Rezeki kami,Tuhan Kami adalah Allah yang telah menghidupkan Husein dan mematikannya...TIDAK ADA ILAH YANG BERHAK DI SEMBAH SECARA BENAR KECUALI DIA (ALLAH)...Dan ini adalah 'Aqidah Kami Kaum Muslimin,Ahlus Sunnah dan Ahlul Bait.

Thayyib,Jika kalian orang2 Syi'ah Kaafiirr Menyeru-nyeru Husein dan memanggil-manggil namanya Dan itu berindikasi kalian menuhankannya,padahal Allah berfirman,"Dialah Allah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam serta menundukkan matahari dan bulan,masing2 berjalan menurut waktu yang di tentukan,yang berbuat demikian adalah Allah Tuhan-Mu,Kepunyaannyalah Kerajaan,DAN ORANG2 YANG KAMU SERU SELAIN ALLAH,TIDAK MEMILIKI APA-APA MESKIPUN SETIPIS KULIT ARI."(QS.Faathir ayat 13).

Thayyib,Allah mengatakan "Orang2 yang kamu seru selain Allah Tidak memiliki apa2 meskipun setipis kulit ari",Ini menunjukkan Bahwa Husein Bin Ali adalah makhluq Selain Allah yang TIDAK MEMILIKI APA2 MESKIPIN SETIPIS KULIT ARI,Lantas mengapa kalian menyeru-nyeru Nama Husein wahai Orang2 Syi'ah????????
Lalu di ayat Selanjutnya (QS.Faathir ayat 14) Allah berfirman,"..Jika kamu menyeru mereka maka mereka tidak dapat mendengar seruanmu,dan kalau mereka mendengar seruanmu mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu,dan di hari kiamat nanti mereka akan mengingkari KEMUSYRIKANMU dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang di berikan oleh Allah yang maha mengetahui."

(MENJAWAB PERTANYAAN MENANTANG).
Baiklah,sekarang saya (Abu Husein At-Thullaibi) akan To The Point menanggapi Point masalah yang di tanyakan oleh orang Kafir Syi'ah ini,(Wal-'ilmu 'indallah).

anda mengatakan bahwa Allah berfirman dalam QS.Al-Ahzab ayat 28,"HAI NABI KATAKANLAH KEPADA ISTRI-ISTRIMU,'JIKA KAMU SEKALIAN MENGINGINKAN KEHIDUPAN DUNIA DAN PERHIASANNYA MAKA MARILAH SUPAYA KUBERIKAN KEPADAMU MUT'AH DAN AKU CERAIKAN DENGAN CARA YANG BAIK".

Wahai orang kafir Syi'ah,Semoga Allah memberi hidayah anda dan tidak mematikan anda dalam keadaan kafir.. Ayat ini berkenaan dengan Rasulullah yang ingin menceraikan istri2 nya dan memberikan "Mut'ah" kepada mereka. nah, Mut'ah di dalam ayat ini bermakna "Kesenangan yang di berikan Rasulullah kepada Istri2 beliau yang ingin beliau Ceraikan" semacam dana dalam jumlah tertentu yang di berikan seorang suami kepada istri yang di ceraikannya tanpa sang istri harus melayani sang suami. nah,di namakan "Mut'ah" dalam ayat ini karena "Mut'ah" bermakna kesenangan. karena Sang istri mendapatkan Kesenangan berupa Pemberian dari sang suami tanpa sang istri harus melayani sang suami

Wahai Syi'ah Kafir -Semoga Allah memberi anda Hidayah masuk Islam-,
Bila anda mengatakan bahwa kata2 "Mut'ah" dalam ayat ini bermakna Kawin Kontrak alias Zina yang dalam Agama Syi'ah di sebut "Nikah" Mut'ah.yang mana kawin Mut'ah bertujuan hanya untuk memuaskan nafsu sex syaithoniyyah Rajimiyyah semata,Nikah yang tidak perlu ada Wali,tidak memberi hak2 nafkah dengan baik,sang wanita yang di mut'ah tidak memiliki hak mewarisi harta sang suami,lalu kalau sang wanita hamil maka ia tidak bisa menggugat sang suami jika ikatan kontraknya sudah habis.yang mana posisi wanita yang di mut'ah (dalam ajaran agama syi'ah) sangatlah hina dan lebih buruk daripada binatang ternak.kalau yang anda maksud degan Mut'ah dalam ayat ini adalah Kawin Kontrak seperti yang anda maksudkan di atas,maka bagaimana dengan ayat 236 Surat Al-Baqarah ketika Allah berfirman,"
Tidak ada dosa bagimu jika kamu menceraikan istri-istrimu yang belum kamu sentuh atau belum kamu berikan maharnya,dan hendaklah kamu beri mereka 'Mut'ah' bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya,yaitu pemberian dengan cara yang patut yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan".(QS.Al-Baqarah ayat 236).

Lihat Wahai orang Kafir Syi'ah..Dalam Ayat ini Allah sendiri yang mendefinisikan Arti "Mut'ah" dalam firmannya yang mulia...Allah mendefinisikan 'Mut'ah' dalam firmannya itu dengan makna "Pemberian dengan cara yang patut",terkait dengan Istri-istri yang di ceraikan. Bukan 'Mut'ah" Kawin Kontrak Zina Cabul ala Agama Sesat Syi'ah Dhalalah..!!!! Kurang ajar sekali anda menafsirkan Ayat2 Allah yang mulia seenak Otak anda...Siapa anda...anda Tidak lebih baik daripada Kotoran hewan di belah dua bila anda memperlakukan Ayat2 Allah yang mulia dengan Kurang ajar seperti ini demi Membenarkan ajaran Kotor anda tentang kawin kontrak dan menghalalkan Zina. inilah di antara Bukti bahwa Syi'ah agama kotor yang menghalalkan segala yang di haramkan Allah dan merubah-rubah Ayat2 Allah....
Namun saya heran dengan kalian wahai orang2 Syi'ah..mengapa kalian mengambil sekian cuil ayat Al-Qur'an untuk membenarkan Zina ala Syi'ah tapi kalian tidak mengambil ayat Al-Qur'an yang lain tentang Jaminan Allah kepada Para Sahabat Nabi untuk masuk Surga??? hingga kalian membenci para Sahabat,mencaci maki mereka dan melaknati mereka?????!!!!!! mengapa kalian tidak mengambil sekian banyak ayat Al-Qur'an yang memuji Sayyidah 'Aisyah Radhiyallahu'anha dan mensucikan beliau dari langit ke tujuh?????!!!!!!!! MENGAPA Wahai Orang2 Syi'ah???? Apakah kalian menggunakan Al-Qur'an hanya sesuai dengan Otak kotor dan Hawa Nafsu bejad kalian?!!!!!!

Penutup dari saya,camkan ini baik2...
Anda menghalalkan Zina Mut'ah padahal Rasulullah mengharamkannya...Rasulullah MENGHARAMKAN Zina Mut'ah melalui Lisan Amirul Mukminin 'Ali Bin Abi Thalib (mertua tercinta 'Umar Bin Khathab),Beliau ('Ali) berkata,"Sesungguhnya Nabi telah melarang Nikah Mut'ah dan memakan daging keledai jinak pada saat perang Khaibar...Dan beliau mengharamkannya sampai hari kiamat".!!!!!!!

Hadits ini di Riwayatkan oleh Imam Bukhori Di dalam Kitab Shahihnya di Bab Nahyu An-Nabi'annikaahil-Mut'ah Akhiiron No Hadits 5115.

....dan INGAT!!! (Jangan Memperkosa Sejarah)
Dahulu setelah penaklukan kota Makkah,Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Aalhi Wa Sallam pernah Berkhutbah di Pintu Ka'bah di antara Hijir Isma'il,"wahai Ummat manusia,Dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk mut'ah (Kawin Kontrak) dengan wanita.dan siapa di antara kalian yang memiliki istri mut'ah (kawin kontrak) maka hendaklah ia menceraikannya.karena Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat..."

Namun,kendati Kawin Kontrak (Mut'ah) telah di haramkan Oleh Allah dan Rasulnya Sampai hari kiamat,tetap saja agama Syi'ah Menghalalkannya karena kalian akan menolak apa yang kami sampaikan,karena Riwayat-riwayat Tentang pengharaman Kawin Mut'ah seluruhnya bersumber dari Ulama-Ulama Islam Seperti Imam Bukhori,Imam Muslim dan yang lainnya,bukan dari Pendeta-pendeta Majusi Persia yang meriwayatkannya sejenis Al-Khomaini,Al-Majlisi,Al-Kulaini dan yang lainnya-Qatalahumullah- hingga kalian pun tentu menolaknya mentah-mentah...Apalagi Hadits-hadits Rasulullah tentang HARAMNYA Kawin Mut'ah di Riwayatkan oleh Para Sahabat Nabi yang mayoritasnya kalian kafirkan,di antaranya adalah Sahabat Rabi' Bin Sabrah Al-Juhani... Jadi wajar saja bila kalian menolaknya,dan kami tidak heran bila kalian tetap Menghalalkan Kawin Mut'ah,karena Riwayat2 pengharamannya di riwayatkan oleh "Orang-orang kafir" menurut anggapan Otak kalian.

Atau,ada Senjata tumpul terakhir yang kalian gunakan untuk membenarkan Ajaran Kotor Zina Mut'ah ala Syi'ah,yaitu kalian akan mengatakan bahwa 'umar Bin Khathab pernah melakukan Kawin Mut'ah di masanya....(?)(?).
Saya tidak akan menjawab Syubhat Tolol kalian ini,tapi saya akan menjawabnya dengan melontarkan pertanyaan: MENGAPA KALIAN MENGAMBIL SUMBER DARI 'UMAR BIN KHATHAB dan BERHUJJAH DENGANNYA?? BUKANKAH KALIAN MENGATAKAN BAHWA 'UMAR BIN KHATHAB ADALAH KAFIR,ZINDIQ,MUNAAFIQ,PENGHKIANAT dan MURTAD??!!!!!!!!!!!??????????
Yang bener aja berargumentasi dengan perbuatan "Orang Kafir,"Pengkhianat"dan "Murtad"!!!!!!!!!!!!!!!?????????? Berarti ajaran agama kalian bersunber dari "Orang Murtad"???

Terakhir,saya ingin bertanya kepada anda wahai Syi'ah Kaafirr,,Coba sebutkan Satu Saja Imam Ahlul Bait yang melakukan Mut'ah (Kawin Kontrak) dan siapa anak2 mereka dari Hasil Kawin Mut'ah itu????? Sebutkan Imam Ahlul Bait satuuuuuu saja ndak usah banyak-banyak..yang melakukan kawin Mut'ah,dan siapa Wanita2 yang Di Mut'ah.????? SEBUTKAN!!!!!!!!!!!!! Ingat! yang saya tanya adalah Imam dari kalangan Ahlul Bait...Jangan selain mereka,karena Syi'ah selalu mengotori Kesucian Ahlul Bait dengan mengaku-ngaku sebagai Pengikut setia Ahlul Bait. Bila ada,silahkan sebutkan dengan lengkap dan Ilmiah dan jangan lari dari pertanyaan saya....Bila jawaban anda ada dan benar,MAKA PERSAKSIKANLAH Demi Allah saya Abu Husein At-Thullaibi akan masuk Syi'ah dan meninggalkan Agama Islam ini...Wallahi.....!!!!!!!!

(saya tidak butuh Celaan,bualan,dan komentar2 kosong yang anak TK juga paling pinter seperti itu.Saya tunggu jawaban dari Kalian wahai Orang2 Kafir Syi'ah.Al-'Ilmu Wal-Haqqu 'Indallaah..)
Wallahu A'lam.

oleh : Abu Husein At-Thullaibi


Thursday, January 8, 2015

Syiah Meminjam Qur’an Sunni

Kamis, 18 Rabiul Awwal 1436 H / 8 Januari 2015

quran syiah

Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni
Associate Professor of Islamic Philosophy
Head of Programme Da’wah and Islamic Management
Univeristi Sains Islam Malaysia
            Goresan tulisan ini terdorong setelah membaca dan meneliti lembaran-lembaran beberapa naskah al-Qur’an yang dicetak dan dibaca oleh pemeluk syi’ah di Iran, Iraq dan Lebanon. Ada dua hal yang akan dijawab dalam tulisan ini iaitu pertanyaan:
1) Apakah Syi’ah memiliki al-Qur’an sendiri yang berbeda dengan al-Qur’an yang dibaca oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah?
2) Sejauh mana pandangan ulama syi’ah terhadap al-Qur’an Mushaf Utsmani?
Kepercayaan kepada kitab-kitab merupakan rukun iman yang ketiga. Kesemua ajaran agama disampaikan oleh malaikat dan dicatatkan di dalam kitab-kitab dan suhuf. Dan jumlah kitab-kitab suci tidak diketahui secara pasti berapa jumlahnya. Namun sekalipun tidak diketahui secara pasti jumlah kitab-kitab tersebut, yang jelas setiap rasul dibekalkan dengan kitab suci masing-masing.
Silang pendapat antara sunnah dan syi’ah pada masalah ini sangat tajam. Sunnah meyakini bahwa dalam agama Islam kitab yang diturunkan Allah swt kepada ummat Islam adalah al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dan pendapat ini disetujui oleh syi’ah. Atau dengan kata lain, sunnah dan syi’ah sepakat dan sekata bahwa pedoman ajaran agama Islam adalah kitab al-Qur’an yang dibekalkan oleh Allah untuk Nabi Muhammad saw.
Namun, perselisihan tajam terjadi ketika kalangan syi’ah berasumsi bahwa al-Qur`an yang dipegang oleh sunni, yaitu (Mushaf Utsmani) tidak originil alias palsu, sebab telah mengalami perubahan yang berupa penambahan dan pengurangan. Hal ini dijelaskan oleh ulama hadits terkemuka syi’ah Imamiyah, yaitu Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini: ”dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata:”Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril kepada Muhammad memiliki 17.000 ayat“[1].
Pada tempat lain disebutkan juga teks berikut:
عَنْ أَبِي بَصِيْر، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى أَبِي عَبْدِ اللهِ … : “وَإِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفُ فَاطِمَة عَلَيْهَا السَّلاَم، قُلْتُ (أَيْ قَوْلُ الرَّاوِي): وَمَا مُصْحَفُ فَاطِمَة عَلَيْهَا السَّلاَمْ؟ قَالَ: مُصْحَفٌ فِيْهِ مِثْلُ قرْآنِكُمْ هَذَا ثَلاَثُ مَرَّاتٍ مَا فِيْهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ”.
Dari Abi Bashir, ia berkata, Abu Abdillah berkata: “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah, Abu Bashir bertanya: apakah Mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ”yaitu Mushaf yang 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al- Qur’an kalian”[2]. Oleh karena itu, Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi menegaskan bahwa al-Qur’an yang dimiliki oleh ahlu sunnah telah mengalami perubahan besar dan mengalami banyak penyimpangan dan penyelewengan[3].
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan dalam kitab “Biharul Anwar”:
“مُصْحَفُ فَاطِمَة عَلَيْهَا السَّلاَم مَا فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ، وَإِنَّمَا هُوَ شَيْءٌ أُلْقِي عَلَيْهَا”
“Sesungguhnya isi kandungan Mushaf Fathimah adalah wahyu dari Allah yang langsung disampaikan kepadanya (Fathimah) ”[4].
Kesemua teks-teks riwayat di atas tidak memerlukan penjelasan lebih dalam dan rinci, sebab sudah sangat jelas maksudnya, bahwa terdapat mushaf yang diturunkan khusus untuk Fathimah.
Dalam kitab “Dalaai`l al-Imamah” terdapat riwayat yang menggambarkan isi dan kandungan daripada mushaf Fathimah, di antaranya adalah hal-hal ghaib. Seperti pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa apa yang sudah terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat kelak, bilangan jumlah malaikat, siapa saja utusan Allah, nama-nama para Imam syi’ah (dua belas imam), sifat-sifat penghuni surga dan neraka, jumlah orang yang akan berjaya masuk di dalam surga dan neraka, serta banyak lagi hal-hal lain[5].
Riwayat seperti ini sangat banyak ditemui dalam kitab-kitab syi’ah yang masuk dalam katagori autentik “al-Mu’tabarah”, seperti: “Bashaa`ir ad-Darajaat” karangan Ibnu al-Farruukh as-Shaffar, “Amaali as-Sudduuq”, karangan Ibnu Babwaih al-Qummi dll.
            Tentunya ilustrasi-ilustrasi ghaib yang tersebut dalam kitab-kitab di atas adalah sesuatu yang tidak masuk logika. Sebab Nabi Muhammad sendiri tidak mampu bercerita kepada ummatnya tentang hal-hal demikian, sebagaimana yang diungkapkan dalam firman Allah swt;
(قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ) –الأنعام:50-
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah:”Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat”. Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)”. (Q.S. al-An’aam: 50).
Di samping itu, syi’ah Imamiyah berasumsi bahwa masing-masing kedua belas imam mendapatkan suhuf (lembaran-lembaran) tersendiri[6], sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab “Ikmaal ad-Din”:
عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ: “إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْزَلَ عَلَى اثْنَى عَشَرَ خَاتِمًا، وَاِثْنَى عَشَرَ صَحِيْفَةً، اِسْمُ كُلَّ إِمَامٍ عَلَى خَاتِمِهِ، وَصِفَتِهِ فِي صَحِيْفَتِهِ”
“Sesungguhnya Allah swt menurunkan (membagikan) cincin kepada dua belas imam, dan bagi tiap-tiap imam dua belas diberikan lembaran masing-masing, dan pada setiap cincin tersebut tertulis nama imam, sedangkan sifatnya tersebut dalam lembaran”[7].
Dengan demikian, pada dasarnya syi’ah mengakui adanya kitab suci selain al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yang dikenal sebagai “Mushaf Fatimah”. Dan Allah membagikan shuhuf (lembaran-lembaran) kepada setiap imam yang dua belas.
Bagi sunni keotentikan mushaf Uthmani[8]. merupakan sebuah kepastian dan pegangan ideologi yang tinggi dan murni. Sebab al-Qur’an dan Hadits sudah cukup untuk dijadikan pedoman hidup bagi ummat, sesuai dengan firman Allah swt:
(وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ) -النحل،89-      
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS. An-Nahl: 89).
(مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ) -الأنعام، 38-
            “Tiadalah Kami alpakan (lalaikan) sesuatu apapun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. (QS. Al-An’aam: 38).
            Rasulullah saw juga bersabda:
(تَرَكْتُفِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ، وَسُنَّةَ نَبِيَّهِ)
“Saya meninggalkan kepadamu sekalian dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepadanya, yaitu: kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya (Hadits)”. (Muwatta’ Imam Malik, no: 2618).
           
PANDANGAN ULAMA SYI’AH TENTANG TAHRIF QUR’AN
Ulama syi’ah berbeda pendapat tentang adanya penyelewengan dan perubahan isi kandungan al-Qur’an, baik penambahan ataupun pengurangan jumlah ayatnya.
Seorang intelektual kontemporer syi’ah As-Sayyid Ali al-Husaini al-Milani mengarang sebuah buku yang berjudul “ عدم تحريف القرآن” yang artinya: Tidak ada penyelewengan al-Qur’an, beliau menegaskan bahwa sebagian ulama syi’ah (minoritas) baik klasik ataupun kontemporer didapati ada yang menyanggah keyakinan bahwa al-Qur’an yang di tangan sunni tidak orisinil[9]. Dalam artian lain, mereka mengakui bahwa Mushaf Utsmani tidak ada penyimpangan atau penyelewangan dalam isi kandungannya. Ulama tersebut adalah:
1)    Syaikh as-Suduuq [10].
2)    Al-Syarif al-Murtadza [11].
3)    Syekh at-Thuusi[12].
4)    Imam at-Tabarsi[13].
5)    Sayyed Muhsin al-Amin [14].
6)    Syekh Kasyif al-Ghita[15].
7)    Imam al-Khu’i [16].
8)    Al-Sayyed Husain Makki[17].
9)    Al-Sayyed Muhamad Husain al-Thabathaba’i [18].
10) Syekh Muhammad Jawwad Mughniyah[19].
Seorang lagi ulama Syi’ah al-Sayyed Murtadza al-Ridhawi menyebutkan dengan jelas dalam kitabnya “al-Burhan ‘Ala ‘Adami Tahrif al-Qur’an” bahwa pandangan mayoriti ulama syi’ah Imamiyah adalah tiada penyelewengan dalam al-Qur’an[20]. Ini bermakna al-Qur’an Mushaf Utsmani diterima dalam golongan Syi’ah.
Sunni menilai bahwa pengakuan sebahagian ulama syi’ah terhadap mushaf Ustmani bermotifkan “Taqiyyah”, alias bukan sikap hakiki mereka. Sikap ini mereka ambil hanya untuk meredakan pertikaian antara sunni dan syi’ah. Namun menurut hemat penulis, sebaiknya usaha demikian dari pihak syi’ah kita tanggapi secara positif, atau dengan kata lain bersifat baik sangka “Husnu ad-Zhan” terhadap mereka. Yang artinya kita merespon baik pandangan golongan minoritas ulama syi’ah Imamiyah di atas. Alangkah baiknya kalau kita mencari persamaan dan memperkecil ruang perbedaan, apalagi sekarang ini terbukti bahwa al-Qur’an yang dibaca oleh Syi’ah memang al-Qur’an yang sama dibaca oleh Ahlu Sunnah. Dalam hal ini telah ditegaskan sendiri oleh syekh Abdullah Darraz dalam desertasinya (Madkhal al-Qur’an al-Karim): Sesungguhnya mushaf Utsmani adalah satu-satunya mushaf yang beredar di dunia Islam, bahkan mushaf tersebut yang dimiliki oleh golongan-golongan syi’ah semenjak 13 abad lampau”[21].
Dalam konteks lain, DR. Musa al-Musawi (seorang intelektual syi’ah kontemporer) berusaha menipiskan perbedaan antara Sunni dan Syi’ah dalam masalah ini, beliau menegaskan bahwa sebenarnya yang berpendapat adanya “Tahrif” atau penyelewengan dalam mushaf utsmani adalah hanya dari golongan minoritas syi’ah dan bukannya mayoritas. Namun ketegasan ini dengan sendirinya tenggelam dengan realita dan pembuktian nyata dengan terdapatnya mayoritas ulama syi’ah meyakini adanya tahrif, bahkan beliau sendiri meyakinkan kita bahwa imam al-Khu’i dalam kitab tafsirnya “al-Bayan” telah menafikan sendiri unsur “Tahrif” yang ditujukan pada mushaf “Utsmani” oleh ulama-ulama syi’ah lain,  dan yang berpendapat demikian sebenarnya  hanyalah orang-orang yang lemah akal pikirannya[22].
Untuk melihat sejauh mana pandangan ulama syi’ah terhadap al-Qur’an Mushaf Utsmani dan unsur penyimpangan di dalamnya, ada baiknya kalau penulis sebutkan satu persatu pandangan ulama-ulama syi’ah yang berasumsi demikian:
Dari pembacaan dan pengamatan penulis selama mengkaji syi’ah, ada sebahagian besar ulama Syi’ah yang memang nyata-nyata menuduh bahwa al-Qur’an sunni tidak lengkap. Sehingga penulis dapat menegaskan bahwa sebenarnya  mayoritas ulama syi’ah tetap tidak mengakui Mushaf Utsmani[23]. Di sini dapat disebut satu persatu seperti berikut:

Ali bin Ibrahim al-Qummy ([24])
Ni’matullah al-Jazaairi. ([25]).
Al-Faydh al-Kasani. ([26]).
Abu al-Hasan al-‘Aamily ([27]).
Sultan Muhammad Haedar al-Khursaani([28]).
Muhamad bin Ya’qub al-Kulayini([29]).
Muhamad Baqir al-Majlisi. ([30]).
Syekh al-Mufied ([31]).
Mirza Habibullah al-Hasyimi al-Khuu’i ([32]).
Miytsam al-Bahrani([33]).
Muhamad bin Mas’ud al-‘Iyaasyi([34]).
Abu Ja’far al-Shaffar([35]).
Sayyed Adnan al-Bahraani ([36]).
Yusuf al-Bahrani([37]).
Al-Nuriy al-Tabrasi([38]).
Mulla Muhamad Taqi al-Kaasyaani([39]).
Agha Barzak al-Tahrani([40]).
Al-Ardabiliy([41]).
Karim al-Karamani([42]).
Daldaar([43]).

Dari sederetan nama-nama ulama Syi’ah di atas beserta kitabnya yang menyatakan unsur pengurangan dalam Mushaf Utsmani, sehingga pihak Sunni menilai bahwa masalah “Tahrif” adalah pandangan mayoritas golongan syi’ah. Seperti yang ditegaskan oleh syekh adz-Dzahabi dalam bukunya “al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur’an”[44].
Apapun halnya, sesungguhnya syi’ah saat ini mempercayai bahwa al-Qur’an yang ada sekarang ini atau mushaf Utsmani adalah benar dan mereka beramal dengannya. Dan inilah yang mendorong ulama syi’ah bernama al-Sayyed Murtadha al-Ridawi membuat sebuah buku khusus untuk membantah pandangan-pandangan ulama syi’ah yang tidak mengakui mushaf Utsmani. Bahkan dari segi judul dengan jelas beliau mencantumkan “al-Burhan ‘Ala ‘Adami Tahrif al-Qur’an” yang bermakna peniadaan tahrif al-Qur’an (Mushaf Utsmani). Dan bukti lain di Iran, syi’ah membaca dan memperdengarkan ayat al-Qur’an yang sama dengan sunni yang dikenal dengan Mushaf Uthmani, di samping itu al-Qur’an inilah yang dipertandingkan dalam peringkat internasional di Iran, baik dalam Musabah Hifdzi al-Qur’an (Hafalan al-Qur’an) ataupun Musabaqah Tarannum (Lagu al-Qur’an).

MOTIF ULAMA SYI’AH YANG BERPENDAPAT TAHRIF
Hemat penulis, setelah meneliti secara seksama pandangan ulama syi’ah yang bersikeras mengatakan adanya penyelewengan dalam al-Qur’an, sebenarnya faktor dan motif utama mereka sehingga mereka tidak mengakui Mushaf Utsmani, secara garis besarnya dapat dilihat kepada dua motif, seperti berikut: 
Pertama:Kekecewan yang mendalam dikalangan ulama syi’ah dengan tidak disebutkannya masalah Imamah (Kepemimpinan Politik Ahlul Bayt) dalam al-Qur’an.
Permasalahan imamah merupakan faktor utama yang menyebabkan perselisihan di kalangan umat Islam sampai saat ini, sehingga terpecah ke berbagai aliran, sekte dan mazhab. Dan konflik antar sekte Islam sepeninggalnya Nabi saw didasarkan pada suksesi politik untuk merebut tampuk kepemimpinan. Dalam istilah syi’ah politik dinamakan (al-Imamah), dan istilah yang digunakan sunni adalah (al-Khilafah), dan pada zaman modern saat ini dikenal dengan istilah (ar-Riasah). Dalam pandangan politik syi’ah dikatakan bahwa Imamah bukanlah masalah kepentingan pribadi yang diberikan kepada pilihan publik, tetapi adalah salah satu pilar agama atau asal-usul dan dasar perinsip agama (Arkan ad-Din) dimana iman seseorang tidaklah sempurna kecuali percaya dengan Imamah. Oleh karena itu Imam Ali merupakan pelanjut Nabi saw yang sah dengan penunjukan langsung dari Nabi saw (bukannya Abu Bakar). Dan para Imam memiliki kedudukan yang setara dengan Nabi saw. Berdasarkan asumsi diatas maka dalam setiap syi’ah memiliki pendirian bahwa hak politik adalah mutlak hanya dimiliki oleh kalangan ahlul bayt.
Pada dasarnya konsep politik ahlu sunnah didasari oleh tiga hal. Yaitu dengan cara pemilihan (ikhtiar) yang dibangun di atas syuraa, Ijma’ dan bay’ah. Adapun konsep politik syi’ah dilandaskan oleh penentuan yang dalam istilah syi’ah selalu disebut sebagai “Nash”. Disamping itu, penyifatan ‘Ishmah imam, sifat ‘ishmah ini tidak dapat dipisahkan dengan kepimpinan syi’ah.
Di sisi lain sunni menyerukan suksesi berdasarkan seleksi dan konsensus yang dilakukan oleh rakyat yang diwakili oleh Ahlul Halli wa al-Aqdi dalam memilih kelayakan seorang pemimpin atau presiden.
Di antara bukti-bukti teks ucapan syi’ah imamiyah yang menunjukkan bahwa imamah masuk ke dalam dasar agama adalah perkataan Ibnu al-Muthahhir al-Hulli al-Imami[45] dalam mukaddimah kitabnya “Minhaj al-Karamah”: “ amma ba’du, maka ini adalah sebuah risalah yang mulia, dan maqalah yang lembut, yang mencakup beberapa unsur yang paling penting dalam dasar agama, dan yang paling mulia di antara berbagai permasalahan kaum muslimin. Yaitu masalah imamah yang terbentuk dengan sebab dia mencapai derajat yang mulia, yang merupakan salah satu rukun iman, yang karena sebabnya orang yang memiliki hak untuk menjadi imam akan kekal berada di surga dan terbebas dari kemurkaan Yang Maha Pengasih”[46].
Sedangkan seorang ulama syi’ah imamiah modern Syaikh Muhammad Ridha al-Muzhaffar berkata: “ kami memiliki keyakinan bahwa imamah termasuk salah satu dasar agama, yang keimanan seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan meyakininya”[47].
Sedangkan teks ucapan syi’ah Isma’iliyah bathiniah yang berkaitan dengan imamah adalah sebagaimana yang dipetik dari perkataan seorang ulamanya Hamiduddin al-Karamani al-Bathini, yaitu: “sesungguhnya imamah adalah salah satu dasar islam, dan dia adalah dasar yang paling mulia dan paling afdhal, sehingga dasar ini tidak akan dapat sempurna tanpanya”[48].
Apapun halnya, sesungguhnya imamah menurut aliran syi’ah bukan sebuah permasalahan maslahat yang tunduk dengan pilihan dan aspirasi umum. Akan tetapi dia adalah sebuah permasalahan dasar dalam agama (ushuli), yang masuk ke dalam salah satu rukun agama, yang tidak boleh diabaikan dan diacuhkan oleh Rasulullah saw, atau diserahkan pemilihannya kepada masyarakat umum. Oleh karena itu, maka syarat untuk bergabung kepada aliran syi’ah adalah berkeyakinan bahwa imamah merupakan bagian dari dasar agama.
Berdasarkan hal ini, syi’ah memberikan perhatian yang besar bagi permasalahan imamah. Dan berbicara panjang lebar mengenainya, dan semua aliran dan kelompok syi’ah yang berbeda memberikan perhatian yang besar kepadanya[49].
Oleh karena itu, semenjak dari masa kekhilafahan khulafa`urrasyidin sehingga saat ini terjadi perselisihan di antara berbagai aliran islam mengenai siapakah di antara kaum muslimin yang paling berhak dalam memegang tampuk imamah atau kekhilafahan.
Kehebatan perkara imamah ini, para ahli sejarah kajian aliran-aliran dan perbandingan agama telah mengisyaratkan keistimewaan dan keperluan imamah dalam sebuah Negara. Dan ia merupakan awal perselisihan dan perdebatan dalam Islam sepeninggalnya Rasulullah saw. Sebagaimana yang dikatakan oleh imam al-Asy’ari:
(أَوَّلُ مَا حَدَثَ مِنِ الاِخْتِلاَفِ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ صلى الله عليه وسلم اْخْتِلاَفُهُمْ فِي الإِمَامَةِ)
Maksudnya: “Perselisihan pertama yang timbul di antara kaum muslimin setelah kematian Nabi saw adalah perselisihan mengenai imamah”[50]. Dan asy-Syahrastani memberikan penegasan bahwa ini adalah persoalan utama yang paling besar yang terkonsentrasi kepada pertikaian dalam bidang politik praktis antara kaum muslimin:
(وَأَعْظَمُ خِلاَفٍ بَيْنَ الأُمَّةِ خِلاَفُ الإِمَامَةِ، إِذْ مَا سُلَّ سَيْفٌ فِي الإِسْلاَمِ عَلَى قَاعِدَةٍ دِيْنِيَّةٍ مِثُلُ مَا سُلَّ عَلَى الإِمَامَةِ فِي كُلِّ زَمَانٍ)
Ucapan ini menunjukkan bahwa“Perselisihan yang paling besar di antara umat adalah perselisihan mengenai imamah, karena di dalam islam tidak pernah ada pedang yang teracung dalam perselisihan mengenai kaidah agama sebagaimana yang terjadi dalam persoalan imamah pada semua masa”[51].
Hal ini juga ditegaskan oleh Nisywan al-Humyari az-Zaidi dengan perkataannya: “sesungguhnya perselisihan pertama yang terjadi di antara umat setelah kematian Nabi saw dan keluarganya adalah perselisihan dalam permasalahan imamah pada peristiwa saqifah Bani Sa’idah”[52].
Dari teks-teks yang dipaparkan oleh para sejarawan aliran-aliran islam di atas ini dapat dilihat dengan jelas bahwa perselisihan utama di antara umat islam bukanlah perselisihan pemikiran ataupun aliran, akan tetapi hanya semata-mata perselisihan politik. Karena perselisihan yang timbul di antara umat islam setelah kematian Rasulullah saw hanya terbatas kepada tampuk kekhilafahan dan kepemimpinan negara. Promotor desertasi saya/Prof. DR. Muhammad al-Jalayand memberikan komentar mengenai hal ini: “Sesungguhnya perselisihan mengenai persoalan imamah pada masa awal sejarah islam ini bukanlah perselisihan pemikiran ataupun aliran, akan tetapi perselisihan fanatisme yang ditimbulkan oleh rasa fanatik keturunan dan aliran darah”[53].  Dan barangkali perselisihan inilah yang dikatakan sebagai perselisihan yang berat bagi umat islam oleh salah seorang imam syi’ah zaidiyah Ahmad bin al-Hasan ar-Rashshash, dalam perkataannya:“ dan tidak diragukan lagi bahwa imamah termasuk perkara yang berat dan meletihkan”[54].
Dengan demikian, sesungguhnya imamah adalah titik utama yang menjadi perpecahan umat islam kepada golongan ahlu sunnah dan syi’ah. Dan sensitivitasnya lebih terasa pada aliran syi’ah dibandingkan dengan berbagai aliran islam yang lain. Karena segala sesuatu di dunia ini mereka kembalikan kepada imamah dan berbagai perangkatnya. Oleh karena itu, mereka jadikan imamah sebagai dasar akidah mereka. Sedangkan ahlu sunnah menjadikan imamah sebagai bagian masalah fur’iyyah berdasarkan dalil-dalil yang ada.
Berdasarkan hal ini, maka para ulama ilmu kalam terpaksa memasukkan materi “imamah” dalam kitab akidah atau yang dikenal dengan ilmu ushuluddin sebagai reaksi terhadap tindakan syi’ah yang menjadikannya sebagai salah satu persoalan agama yang paling penting, sampai mereka memasukkannya sebagai salah satu rukun imam. Hal ini telah disinyalir oleh imam Shalih al-Muqbali dengan ucapannya, “ imamah adalah masalah fiqhiyyah, akan tetapi para ulama kalam telah memasukkannya ke dalam pembahasan mereka akibat besarnya polemik antara mereka (syi’ah dan sunni). Sebagaimana halnya sebagian ulama asy’ariyyah telah menjadikan persoalan membasuh di atas kasut sebagai salah satu masalah ilmu kalam”[55].

Kedua: Mereka berpendapat bahwa tahrif bertujuan menyingkirkan kontradiksi antara al-Qur`an dan hadits-hadits riwayat mereka yang menyudutkan para sahabat.
Golongan-golongan syi’ah saling berselisih pendapat mengenai definisi sahabat. Di mana syi’ah Zaidiyah membatasi sahabat hanya kepada golongan muhajirin dan anshar saja, artinya, orang yang menemani Rasulullah saw dalam masa yang lama[56].
Sedangkan syi’ah Imamiah dan syi’ah Isma’iliyah bathiniah mempersempit pemahaman mengenai sahabat, karena mereka membatasi sahabat hanya kepada orang-orang yang mendukung perjuangan imam Ali bin Abi Thalib saja[57].
Seorang ulama syi’ah Zaidiyah bernama al-Qasim bin Muhammad berkata dalam mendefinisikan sahabat: “mazhab kami adalah yang benar…sesungguhnya kami berkata: sahabat adalah yang menemani Nabi saw dalam masa yang lama, dan yang juga mengikuti beliau. Definisi ini dikenal dan diakui oleh orang yang mengerti bahasa. Kapan masanya orang-orang yang murtad yang berasal dari Bani Hunaifah menjadi sahabat Nabi saw? Dan kapan masanya orang-orang tersebut dekat dan dicintai oleh Nabi saw? Dan kapan masanya para sahabat Nabi saw menjadi seumpama punuk onta? Golongan muhajir dan anshar telah mencapai jumlah yang hanya dengan sebagiannya saja mampu untuk mengalahkan orang-orang yang murtad”[58].
Definisi sahabat juga telah diungkapkan oleh imam Muhammad bin al-Hadi: “sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw adalah orang-orang yang melaksanakan agama, mereka berada dalam keimanan yang hakiki, dan mereka ikuti Nabi saw dengan penuh ketaatan dan ihsan”[59].
Jika demikian, maka standar ukuran keadilan dan ketidak adilan sahabat dalam pandangan syi’ah Imamiah dan syi’ah Isma’iliyah bathiniah terfokus kepada sikapnya terhadap ahlul bait. Maka orang yang loyal kepada mereka adalah orang yang adil, seperti Salman al-Farisi, Abu Dzarr al-Ghiffari, Ammar bin Yasir, Jabir bin Abdullah, Bilal bin Rabbah, Miqdad bin Aswad, dan Huzaifah bin al-Yaman. Mereka itu adalah orang-orang yang loyal kepada ahlul bait.
Sedangkan orang yang melawan mereka adalah orang yang tercela  dan hina, seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik, sayyidah Aisyah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan yang lainnya. Karena dalam tuduhan mereka, mayoritas sahabat, dan terutamanya tiga khulafa`urrasyidun telah melenceng dari garis ahlul bait, oleh karena itu mereka tidak mengakui keadilannya, menolak untuk mengikutinya, dan tidak mau menerima riwayat mereka[60].
Ada satu hal yang sangat berbahaya dalam sikap syi’ah terhadap para sahabat. Yaitu mengenai sikap syi’ah Imamiah dan syi’ah Isma’iliyah terhadap kepemimpinan (imamah) para sahabat. Di mana mereka menuduh para sahabat dengan tuduhan yang tidak dapat diterima. Seperti tuduhan bahwasanya para sahabat tidak adil, khianat, pendusta dan sebagainya. Tuduhan ini sangat berbahaya, sebab akan menimbulkan suatu keragu-raguan terhadap agama, sebab para sahabat tersebutlah yang telah meriwayatkan hadits-hadits Nabi saw. Dan inilah yang dimaksudkan oleh orang-orang yang melakukan propaganda mengenai akidah imamah dan sifat ma’shum imam.
Karena manakala timbul keraguan dalam diri kaum muslimin terhadap para sahabat dalam agama mereka, maka keraguan terhadap apa yang mereka riwayatkan dari Rasulullah saw lebih besar lagi. Dan dengan rasa keraguan ini hilanglah kewibawaan agama dari dalam diri manusia. karena tidak ada periwayat yang jujur, dan tidak ada riwayat yang dapat dipercayai. Dari celah ini, maka kelompok rafidhah dari syi’ah Imamiah dan syi’ah Isma’iliyah dapat menyebarkan racun mereka dalam barisan kaum muslimin, yang membuat mereka selalu memiliki rasa keraguan terhadap kaum muslimin terdahulu serta agama islam[61].
Berbagai macam tudingan dan tuduhan yang tidak ada landasan ilmiah, sehingga al-Qur’an yang asli tidak pernah wujud dan dibaca oleh pemeluk Syi’ah sendiri sampai saat ini, kesemuanya dilakukan hanya semata-mata ingin menghindarkan diri dari mengaku akan kemuliaan para sahabat yang dijelaskan dan dibentangkan luas dalam al-Qur’an.  padahal mempelajari dan menyelidiki sifat dan karakteristik dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan suatu bukti bahwa al-Qur’an sebenarnya sebuah kitab yang sangat perhatian dalam pembentukan karakter bagi umat manusia sesuai apa yang digambarkan dari kehidupan Rasulullah dan para sahabat-sahabat yang ikut mulia disisinya.
Sebenarnya apabila membaca dan merenungi al-Qur’an serta memahami secara mendalam arti dan makanya, pasti akan ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan dan menerangkan kebesaran dan keutamaan para sahabat, serta ridha Allah pada mereka, disamping janji Allah untuk memasukkan mereka dalam surga.
Di antara firman Allah Swt mengenai kehebatan para sahabat Rasulullah Saw dan balasan-balasan jasa mereka adalah:
وَالسَّابِقُوْنَ الأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِيْنَاتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِىَ الله عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar”(QS. At Taubah : 100)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman :
وَالَّذِيْنَآمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالَّذِيْنَآوَوْاوَنَصَرُوْا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنِيْنَ حَقَّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ  وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.”( QS. Al Anfal : 74 )
Firman Allah yang lain :
لَقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَإِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِفَعَلِمَ مَا فِي قُلُوْبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًا
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min, ketika mereka berjanji setia kepadanya dibawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”( QS. Al Fath : 18 )
Begitupun dalam banyak hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw menghargai jasa para sahabatnya, bahkan beliau mencintai para sahabatnya, seperti hadits-hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ”

Dari Abdullah bin Mughaffal dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya”[62].
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ”
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra yang berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebanyak bukit uhud, tidak akan ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorangpun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya”[63].
Itulah diantara ayat-ayat dan hadist-hadist yang menunjukkan keutamaan, kemuliaan dan kebesaran para sahabat dalam memberikan pengorbanan tinggi dan tak terhingga untuk menegakkan agama Allah “al-Islam” di muka bumi. Sehingga dapat disimpulkan dari ayat dan hadits di atas:

1)    Pujian untuk para sahabat atas segala jasa yang disumbangkan.
2)    Sahabat adalah pendamping Rasulullah saw dalam masa senang dan susah, dalam suasana damai dan perang.
3)    Ancaman dari Allah dan Rasul-Nya bagi siapa saja yang memusuhi dan mencaci mereka.
4)    Allah menjanjikan surga untuk para sahabat sebagai balasan penghargaan tertinggi dari-Nya.
Perlu juga penulis sebutkan sesuatu hal yang sangat penting berkaitan jasa para sahabat,  iaitu merekalah sebagai perawi hadits, dan khususnya hadits yang berkaitan dengan syahadat yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : “سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : “بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ”
Dari Ibnu Umar dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam dibangun atas lima dasar: persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah”[64].
Dari sekian ayat dan hadits yang memaparkan jasa para sahabat terhadap perujuangan Islam, maka amat mengherankan jika golongan syi’ah memandang sebelah mata kedudukan tiga khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bahkan mereka alergi dan sangat membenci para sahabat dengan tuduhan takfir.

DI MANAKAH KEBERADAAN al-QUR’AN SYI’AH
Jika al-Qur’an syi’ah dan Mushaf Fatimah itu memang ada, lalu dia mana ia berada?
Pada realitanya di Iran al- Qur’an yang dibaca adalah sama dengan al-Qur’an yang dibaca oleh ahlu sunnah.  Al-Qur’an cetakan Iran sama dengan al-Qur’an cetakan negara-negara Islam lain, seperti negara-negara timur tengah, Saudi, Mesir, Irak. Begitu juga sama dengan yang dicetak oleh negara-negara Asean, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai dll.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa al-Qur’an yang dibaca oleh syi’ah adalah milik ahlu sunnah. Kaena seluruh perawial- Qur’an tersebut adalah dari kalangan ahlu sunnah dan bukan dari kalangan syiah. Karena syi’ah tidak mampu membuktikan urutan perawi al-Qur’an sendiri. Dan hal ini berbeda dengan ahlu sunnah, terutama para sahabat Nabi saw. Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa pengumpulan al- Qur’an dalam satu jilid seperti yang ada saat ini adalah hasil prakarsa dan dipelopori langsung oleh khalifah Utsman bin Affan. Begitu juga dari sejumlah sahabat lain yang berperan aktiv menyebarkan dan mengajarkan al-Qur’an kepada para tabi’in, seperti Abu Abdul Rahman Al-Sulami, yang menjadi sumber bagi riwayat Hafs dari ‘Ashim, yang merupakan riwayat Qur’an yang dibaca oleh mayoritas muslim saat ini. Begitu juga riwayat qira’at lainnya, yaitu yang dikenal dengan qira’ah sab’ah, seluruh perawinya adalah dari kalangan Ahlu Sunnah.
Namun sekali lagi timbul pertanyaan, kenapa al-Qur’an yang dipromosikan kewujudannya oleh sebagian ulama syi’ah sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab klasik mereka tidak wujud sampai saat ini?
Imam al-Kulayni telah menjawab pertanyaan di atas dalam kitabnya “al-Kaafi”[65], Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin Husein, dari Abdurrahman bin Abu Hasyim, dari Salim bin Salamah, mengatakan: seseorang membacakan pada Abu Abdullah dan saya mendengar huruf-huruf al-Qur’an yang tidak seperti yang dibaca oleh orang banyak, lalu Abu Abdullah berkata: jangan baca dengan bacaan ini, bacalah al-Qur`an seperti orang lain sampai datangnya al-Qa`im, jika al-Qa`im –alaihissalam telah datang, dia akan membaca Kitab Allah dengan benar, dan mengeluarkan mushaf yang ditulis oleh Ali Alaihissalam dan [Abu Abdullah] mengatakan: Ali memperlihatkan al-Qur`an itu pada manusia setelah selesai menuliskannya, dan berkata pada mereka: inilah kitab Allah seperti yang diturunkan oleh Allah pada Muhammad saw. Telah kukumpulkan menjadi satu jilid. Lalu mereka berkata: kami juga memiliki kitab al-Qur`an, kami tidak perlu al-Qur`an yang kau bawa. Ali berkata: sungguhnya demi Allah kalian tidak akan melihatnya setelah hari ini, aku hanya memperlihatkannya pada kalian setelah selesai kukumpulkan, agar kalian membacanya. Riwayat ini jelas menyebutkan adanya al-Qur`an lain yang dikumpulkan oleh Ali, yang isinya berbeda dengan al-Qur`an yang ada di tangan para sahabat saat itu. Dan ketika Ali memperlihatkan pada para sahabat, mereka menolaknya. Lalu Ali pun menyembunyikan al-Qur~an yang berisi petunjuk jalan yang lurus, agar tidak dibaca oleh para sahabat, dan hanya diedarkan di kalangan para imam dan pengikutnya saja. Hingga akhirnya para sahabat tidak berkesempatan untuk melihat al-Qur`an yang asli, dan berpegang teguh pada al-Qur`an yang palsu, yang ada di tangan para sahabat. Ketika ada pengikut imam yang membaca isi al- Qur`an asli, maka oleh imam diingatkan dan diperintahkan untuk membaca al-Qur`an yang “tidak asli” sampai nanti munculnya al-Qa`im.
“Di manakah al-Qur`an syi’ah saat ini”, maka ulama syi’ah lain yang mengatakan adanya penyelewangan dalam Mushaf Utsmani berusaha memberikan jawaban dan pembelaan kewujudan al-Qur`an mereka, namun sangat disayangkan jawaban mereka dengan mudah dapat dipatahkan
            Inilah jawaban-jawaban dari ulama syi’ah:
1) Abu al-Hasan al-‘Aamili, mengatakan:
إن القرآن المحفوظ عما ذكر الموافق لما أنزله الله تعالى، ما جمعه علي (ع) وحفظه إلى أن وصل إلى ابنه الحسن (ع)، وهكذا إلى أن وصل إلى القائم (ع) “المهدي” وهو اليوم عنده صلوات الله عليه
            “Sesungguhnya al-Qur`an yang terjaga dan sesuai dengan apa yang diturunkan Allah adalah al-Qur`an yang dihimpunkan oleh imam Ali, kemudian dijaga oleh imam Hasan dan imam-imam berikutnya sampai imam Mahdi (Muhammad bin al-Hasan), sebab saat ini al-Qur`an tersebut dalam penjagaan beliau”[66].

2) Ni’matullah al-Jazaa’iri, mengatakan:
         “روي في الأخبار أنهم عليهم السلام أمروا شيعتهم بقراءة هذا الموجود من القرآن في الصلاة وغيرها، والعمل بأحكامه حتى يظهر مولانا صاحب الزمان فيرتفع هذا القرآن من أيدي الناس إلى السماء ويخرج القرآن الذي ألفه أمير المؤمنين (ع) فيقرأ ويعمل بأحكامه
“Dalam akhbar (riwayat syi’ah), mereka diserukan membaca al-Qura’an yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) baik dalam melaksanakan shalat atau dalam merealisasikan kandungan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, sampailah nanti kedatangan sahibu al-Zaman (Imam al-Mahdi) menghapus Mushaf Utsmani yang tengah dipakai oleh masyarakat dan digantikan dengan al-Qur`an syi’ah yang disusun sendiri oleh imam Ali ra, dan inilah al-Qur`an yang dibaca dan diamalkan ketika itu”[67].
3) al-Haj Karim Khan al-Karamani, mengatakan:
         “إن الإمام المهدي بعد ظهوره يتلوا القرآن، فيقول أيها المسلمون هذا، والله هو القرآن الحقيقي الذي أنزله الله على محمد والذي حرف وبدل”
            “Sesungguhnya Imam Mahdi setelah menampakkan dirinya akan membacakan sebuah al-Qur`an, seraya berkata: wahai sekalian umat Islam, inilah al-Qur`an hakiki yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw yang selama ini diselewengkan dan dirubah”[68].
Dari keterangan para ulama syi’ah di atas, dapat kita simpulkan sebuah keanehan ideologi, yaitu kenapa mereka tetap membaca Mushaf Utsmani kalau memang ada al-Qur`an sendiri yang akan turun dan di bawa sendiri oleh imam kedua belas Muhammad bin al-Hasan yang dijadikan sebagai imam Mahdi mereka. Bukankah sebaiknya mereka bersabar (tidak membaca al-Qur`an) sambil menunggu kedatangan pembawa al-Qur`an imam tersebut. Dari sini dapat dilihat dengan jelas bahwa sebenarnya al-Qur`an Sunni atau Mushaf Utsmani adalah al-Qur`an yang murni tanpa terdapat penambahan dan pengurangan di dalamnya. Sehingga syi’ah dengan rela membaca dan menghafalnya untuk meraih pahala bacaan al-Qur`an yang telah dijanjikan oleh Allah swt. Karena setelah turunnya imam Mahdi yang membawa al-Qur`an versi mereka tersebut tentunya mereka tidak sempat untuk membaca dan mengamalkannya, sebab saat itu adalah masa penghujung umur dunia ini atau masa kiamat.
يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنٌ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Q.S. Asy Syu’ara : 88-89)

Tulisan ini telah membuktikan bahwa hari ini syi’ah sebenarnya tidak memiliki al-Qur`an versi mereka yang asli, sehingga mereka menumpang membaca “Mushaf Utsmani” yang dibaca oleh ahlu sunnah wal jama’ah. 
Wallahu A’lam ….


[1] Al-Kulaini, Kitab Al-Kaafi, 2/634. (kitab ini sama kedudukannya dengan kitab shahih Bukhari disisi Ahlu Sunnah).
[2] Al-Kulaini, Kitab al-Kaafi, 1/239-240.
[3] Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi, kitab Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, dinukil dari Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir.
[4] Biharul Anwar, 26/42.
[5] Muhammad Ibnu Jarir bin Rustum at-Thabari, Dalaail al-Imamah, hal: 27-28.
[6] Suhuf bentuk jama’ dari Shahiifah, artinya lembaran, memiliki beberapa sinonim dalam bahasa Arab, yaitu: Waraqah, Ruq’ah, Tirsun dan Qirthaasun. Lihat: DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni, kamus “Syawarifiyyah”, Sinonim Arab-Indonesia, hal: 368.
[7] Riwayat ini disebutkan di berbagai kitab-kitab Syi’ah, lihat: al-Kulayni, al-Kaafi, 1/527-528. Ikmaal ad-Din, Ibnu Babwaih al-Qummi, hal: 301-304.
[8] Mushaf Uthmani  ialah versi al-Quran yang diterbitkan oleh khalifah Uthman bin Afan. “Mushaf” ialah perkataan bahasa Arab yang secara harfiah, bermaksud “kulit”, iaitu kulit buku, tetapi digunakan dalam konteks ini untuk merujuk kepada senaskah kitab al-Quran. Mushaf ini disepakati oleh sekitar 12.000 sahabat atas keotentikan penulisannya.
[9]. Buku ini dicetak oleh Markaz  al-Abhats al-‘Aqadiyyah. Sebuah pusat kajian syi’ah di Iran.
[10] . Lihat: al-I’tiqaad, 63.
[11] . Lihat: Al-Asytiyaani, Bahr al-Fawaaid fi Syarh al-Faraaid, 99.
[12] Lihat: Tafsir at-Tibyaan, 1/3.
[13] Lihat: Tafsir Majma’ al-Bayaan, 1/15.
[14] Lihat: A’yaan as-Syi’ah, 1/43.
[15] Lihat: Aslu al-Syi’ah wa Usuliha, 133.
[16]Lihat: al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, 259.
[17] Lihat: ‘Aqidah as-Syi’ah fi al-Imam as-Shadiq, 161.
[18] Lihat: al-Qur’an fi al-Islam, 139.
[19] Lihat: al-Syi’ah fi al-Mizan, 314.
[20] Lihat: al-Burhan ‘Ala ‘Adami Tahrif al-Qur’an, hal: 239.
[21]Madkhal al-Qur’an al-Karim, DR. Abdullah Darraz, hal: 39.
[22] Lihat: DR. Musa al-Musawi, as-Syi’ah wa at-Tashih, hal: 131-132.
Hal yang sama dilakukan juga oleh as-Sayyed Mahdi as-Sawij dalam bukunya “Miah Mas’alah Muhimmah Haula as-Syi’ah”, hal 15-20. Dan yang menarik dalam sampul buku tertulis “Lastu Daa’iyah Ila as-Syi’ah, wa Lastu Dhiddan li as-Sunnah, Bal Masaailu Tawassaltu Ilaiha” maksudnya “Saya tidak mengajak orang masuk Syi’ah, dan bukan memusuhi Ahl Sunnah, namun buku ini adalah semata-mata hasil ijtihad sendiri”.
[23]Lihat ketegasan ulama-ulama syi’ah tentang “Tahrif” dalam tafsir “as-Shaafi”, imam al-Faidh al-Kaasyaani, tafsir “al-‘Iyasyi”  imam al-‘Iyasyi.
[24]Lihat: Tafsir al-Qummi, 1/36.
[25]Lihat: al-Anwar an-Nu’maaniyah, 2/357-358.
[26]Lihat: Tafsir as-Saafi,1/13.
[27]Lihat: Tafsir Miraat al-Anwar wa Misykaat al-Asraar, 36.
[28]Lihat: Tafsir Bayaan al-Sa’aadah fi Maqaamaat al-Ibadah, 19-20.
[29]Lihat: Ushul al-Kaafi, 1/284-285, 1/295, 1/492, 2/597.
[30]Lihat: Bihaarul Anwar, 89/66.
[31]Lihat: Awaail al-Maqaalat, 48-49.
[32]Lihat: Minhaaj al-Baraa’ah fi Syarh Nahjil Balaghah, 214-219.
[33]Lihat: Muqaddimah Syarh Nahj al-Balagha.
[34]Lihat: Tafsir al-‘Iyaasyi, 1/25.
[35] Lihat: Bashaair al-Darajaat, 213.
[36] Lihat: Masyaariq al-Syumuusy al-Dariih, 126.
[37] Lihat: al-Durar al-Najfih, 298.
[38] Lihat: Muqaddimah Fashl al-Khitab dan beberapa halaman berikut: 25-26, 35, 357.
[39] Lihat: Hidayat al-Talibin, 368.
[40] Lihat: Nuqabaa al-Basyr ketika menulis biografi imam al-Nuuri al-Tabrizi.
[41] Lihat: Hadiqat al-Syi’ah, 118-119.
[42] Lihat: Irsyaad al-‘Awaam, 3/221.
[43] Lihat: Istiqshaa al-Afhaam, 1/11.
[44] Lihat : Footnote hal: 53.
[45] Dia adalah Jamaluddin Yusuf bin al-Hasan bin Ali yang mempunyai julukan Ibnu al-Muthahhir al-Hully, seorang syaikh dan ahli fiqh syia’ah imamiyah. Dia lahir di kota al-Hullah, yang merupakan sebuah kota besar yang terletak di antara Kufah dan Bagdad.
[46] Lih, hal 27, 1379 H, Mu`assasah ‘Asyura lit-Tahqiqat wal-Buhuts al-Isma’iliyyah, Qum-Iran.
[47] Al-Muzhaffar, Muhammad Ridha, ‘Aqa`id al-Imamiyyah, hal 65.
[48] Ar-Risalah al-Kafiyah, hal 181.
[49] Musthafa Helmi, 1988M, Nizham al-Khilafah Bayna Ahli as-Sunnah wasy-Syi’ah, hal 153, Dar ad-Da’wah, Iskandariah-Mesir.
[50] Al-Asy’ari, Maqalatu al-Islamiyyin, hal 2.
[51] Asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, 1/24.
[52] Nasywan al-Humairi, Syarh Risalah al-Hur al-‘Ain, hal 212.
[53] Al-Jalayand, Muhammad as-Sayyid, 1981 M, Qadhiyyatu al-Khair wasy-Syarr Fi al-Fikri al-Islami, hal 338, Kairo, Mathba’ah al-Halabi.
[54] Ahmad bin al-Hasan ar-Rashshash, al-Khilafah an-Nafi’ah, hal 224.
[55] Al-Muqbili, al-Ilmi asy-Syamikh, hal 11.
[56] Lih, as-Sayyid Yahya bin Abdul Karim al-Fudhail, 1424 H-2003 M, Man Hum az-Zaidiyyah, hal 32, Shan’a-Yaman, Mu`assasah al-Imam Zaid bin Ali ats-Atsaqafiyyah.
[57] Lih, Shubhi, Ahmad Mahmud, Juni 1992 M, Nahwa Ilmi Kalam Jadid, hal 46-47, bagian dari riset yang diajukan kepada al-jam’iyyah al-Falsafiyyah al-Mishriyyah, dan diterbitkan oleh Markaz al-Kitab lin-Nasyr, Kairo, no 1/1.
[58] Al-Jawab al-Mukhtar, hal 50.
[59] Muhammad bin al-Hadi, Kitab al-Ushul, hal 46.
[60] Lih, Shalih al-Wardani, 1995 M, Aqa`id as-Sunnah Wa Aqa`id asy-Syi’ah, hal 200 dst, Kairo, Madbuli ash-Shaghir.
[61] Lih, al-Jalayand, Muhammad as-Sayyid, Qadhiyyatu al-Khair wasy-Syarr fil-Fikri al-Islami, hal 342.
[62] Sunan at-Tirmizi, no: 3797.
[63] Sahih Bukhari, no: 3397.
[64]Sahih Bukhari, no: 8. Sunan at-Tirmizi, no: 2534.
[65]Al Kafi, 2/633, riwayat no 23.
[66] Mir’atul Anwar wa Misykaatul Asrar, 36.
[67] Al-Anwar an-Nu’maaniyah, 2/360.
[68] Irsyad al-‘Awaam, 3/121.


baca : 
[Tanggapan untuk Haidar Bagir oleh Mohammad Baharun, ketua komisi hukum MUI Pusat, guru besar sosiologi agama, terkait "tuduhan tahrif?" oleh sunni,  Sumber : REPUBLIKA, 3Februari 2012]