Friday, April 3, 2015

Islamnya Seorang Penganut Syi’ah ( Hidayah di Sisi Kuburan Nabi Yang Mulia )

Putra sulung Abdushshamad Busyahri, Hamid Busyahri Abu Utsman menuturkan kepada saya salah satu kisah terunik dan paling mengesankan bagi saya. Dia berkata,
Lima puluh tahun yang lalu, ayah saya, H. Abdushshamad Busyahri adalah seorang penganut Syiah yang sangat rajin mengunjungi majlis-majlis syirik yang dengan penuh kepalsuan dan kepura-puraan yang mereka beri nama al-Husainiyyah. Sebuah penisbatan kepada al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, padahal beliau sendiri tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan majelis ini maupun orang-orang yang menghadirinya sampai hari kiamat kelak. Ayah adalah seorang laki-laki yang multazim (taat, konsisten) dan dermawan. Orang-orang fakir saban hari mendatangi kantornya. Meskipun tidak bisa baca-tulis, beliau memiliki perhatian besar terhadap majelis-majelis zikir dan kajian-kajian yang disampaikan oleh para ulama Syiah yang datang dari Najef dan Qumm.
Sebagaimana penganut syiah lainnya, sejak kecil ayah telah melahap dongeng dan kedustaan para sayid Rafidhah (setiap orang yang mengklaim dirinya bernasab kepada keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut sayyid, dan mayoritas orang yang mereka klaim sebagai sayyid, tidak benar penasaban mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa para khalifah kaum muslimin adalah musuh ahlulbait, musuh Rasulullah dan musuh Islam. Musuh terbesar Rasulullah dan keluarga beliau yang suci ialah Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab –mudah-mudhan Allah meridhai mereka dan menjadikan mereka ridha- demikian juga dengan kedua putri mereka yang suci, istri-istri Nabi, serta ibunda kaum mukminin, meskipun orang-orang zindik tersebut tiada menyukai kenyataan ini.
Ayah menelan mentah-mentah kedustaan demi kedustaan nista ini hingga membuatnya bereaksi mencaci kedua orang yang dikasihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut setiap kali mendengar nama mereka. Beliau pun tumbuh besar seperti orang-orang Rafidhah lainnya membeo mengulang-ulang caci-makian terhadap ash-shiddq dan al-Faruq serta sahabat mulia lainnya. Mereka mengulang-ulang apa yang mereka dengar dari para tokoh spiritual mereka, para sayid yang kafir lagi zindik, para mu’ammim (sebutan bagi para ulama Syi’ah yang kebanyakan mereka mengenakan imamah hitam membalut kepala mereka). Semoga Allah menimpakan kepada mereka hukuman yang berhak mereka terima.
Ketika usia beliau mendekat empat puluh lima tahun, ayah memutuskan untuk memperbaharui hidupnya dengan menunaikan ibadah haji ke Baitullah al-Haram. Ayah bermaksud bergabung dengan biro perjalanan haji Rafidhah, yang saat itu masih satu-satunya, karena populasi mereka saat itu tidak sampai 2% dari jumlah total penduduk.
Ayah saya Abdushshamad Busyahri tinggal di distrik al-Qaar, di Negara Kuwait. Distrik al-Qaar merupakan perkampungan orang-orang Rafidhah hingga saat ini. Beliau bekerja di kementerian Kesehatan kala itu. kebetulan, Kementerian Kesehatan memutuskan merekomendasikan beliau menjadi salah seorang tenaga tim kesehatan jemaah haji Kuwait di tanah Haram. Ayah pun bingung apakah bergabung dengan tim kesehatan Kuwait atau dengan biro haji Rafidhah.
Ayah bertukar pikiran dengan pimpinan Tim Kesehatan, Ibrahim al-Mudhaf. Beliau menyarankan untuk bergabung dengan Tim Kesehatan, karena bagaimanapun tim memiliki fasilitas dan kesiapan yang lebih lengkap dan lebih memadai. Dia juga berkata kepada ayah, “Saudaraku Abdushshamad, setelah kita sampai di tanah suci, anda dapat bergabung dengan rombongan tersebut, atau anda dapat mengunjungi siapa saja yang anda inginkan dalam kafilah itu. kita fleksibel saja, anda tidak selalu harus terikat dengan kami.” Akhirnya ayah saya Abdushshamad memutuskan bergabung dengan tim kesehatan kerajaan Kuwait. Jika telah sampai di sana ia akan bergabung dengan rombongan Syi’ah Rafidhah tersebut untuk melaksanakan manasik haji ala mereka.
Allah menakdirkan rombongan tim kesehatan tersebut menginap di Madinah an-Nabawiyah selama beberapa hari sebelum menuju ke Makkah al-Mukarramah, bertepatan dengan sampainya rombongan Rafidhah ke sana. H. Abdushshamad meminta izin dari pimpinan tim untuk bergabung dengan kafilah Rafidhah. Ketika sampai di sana mereka sedang bersiap-siap untuk menzirahi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Masjid an-Nabawiy dengan jalan kaki. Pimpinan rombongan, seorang sayid mu’ammim, berdiri di tengah mereka seraya berkata, “Sekarang, kita semua akan menziarahi kuburan Rasul yang paling agung….”
Dalam perjalanan, sayid berkata, “Saya akan berdoa di sisi kuburan Nabi, kalian semua ikutilah doa yang saya baca!”, Ayah saya, Abdushshamad, berkata, “Saya pun memasuki masjid an-Nabawiy dan merasa gemetar karena kewibawaan dan keagungannya. Ayah berjalan bersama anggota rombongan, sayid mu’ammim berada di depan kami. Rombongan berhenti di sisi kuburan Nabi yang mulia, kemudian berdo’a menirukan sayid.”
Ayah melanjutkan, “Saat kami berdiri di sisi kuburan Nabi, tiba-tiba seorang laki-laki tua Saudi berdiri tidak jauh dariku sehingga saya dapat mendengarkan ucapan salamnya kepada al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Rasulullah, semoga rahmat dan berkah Allah terlimpah kepada Anda. Semoga Allah memberikan imbalan kepada anda atas kebaikan dan jasa-jasa Anda kepada umat; semoga Dia melipat gandakan kebaikan bagi Anda, berbuat baik kepada Anda sebagaimana Anda telah berbuat baik kepada umat  ini. Saya bersaksi bahwa anda telah menyampaikan risalah, telah menunaikan amanah, telah menasihati umat dan telah bersungguh-sungguh menyampaikan agama Allah. Ya Allah berikanlah kepada Muhammad, al-Wasilah dan karunia, bangkitkanlah beliau kelak dengan kedudukan yang terpuji, sebagaimana yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.’ Saya pun kagum dengan adab dan ketenangan orang tua itu dalam berdoa.”
Ayah melanjutkan ceritanya, “Yang mengejutkan ialah saat orang tua itu melihat dan menoleh ke kanan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saya mendengar dia berkata, ‘Salam sejahtera kepadamu wahai Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepadamu, semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, semoga Allah memberikan imbalan kebaikan atas jasa-jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Saya pun terkejut mendengarkan ucapannya dan semakin heran ketika laki-laki tua itu menoleh ke arah kiri kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Umar bin al-Khaththab, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepada anda, semoga Allah meridhai anda wahai Umar, semoga Allah memberi imbalan atas jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam’.”
Ayah saya, Abdushshamad berkata, “Saya tidak bisa menahan diri, saya pun memegang pundak laki-laki tua itu sambil berkata kepadanya, ‘Apakah anda berziarah ke kuburan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam atau ke keburan Abu Bakar dan Umar hingga anda mengucapkan salam kepada keduanya di sini?!’
Lelaki tua itu menjawab, ‘Saudaraku, bagaimana aku tidak mengucapkan salam kepada keduanya, sementara di hadapanku ini kuburan keduanya?! Ini kuburan Abu Bakar dan ini kuburan Umar radhiyallahu anhuma’.
Dengan suara yang mulai meninggi saya menanggapi perkataannya, ‘Saya tidak pernah tahu bahwa kedua orang yang selalu kami caci pada pagi dan sore hari dalam majelis Husainiyyah, terbaring di sisi kuburan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?!’.
Kami menyebut mereka berhala dan thagut, seperti yang kami terima dari para sayid dan pemuka kami. Bagaimana mungkin musuh-musuh Islam, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dikubur di satu tempat bersama dengan penghulu para nabi dan seluruh manusia?!
Saya berkata kepada laki-laki tua itu, ‘Apakah anda bergurau? Apa yang anda katakan ini pak tua?’
Orang-orang pun mulai mendengarkan ucapan saya karena tanpa sadar suara saya telah meninggi, sementara lelaki tua itu terheran-heran dengan penolakan keras yang saya lontarkan terhadap apa yang telah dia katakan bahwa di sini juga terdapat kuburan Abu Bakar dan kuburan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Berikutnya saya segera mendatangi sayid kami. Saat itu dia berdiri di tengah domba-domba yang hilang, para anggota rombongan. Saya berkata kepadanya dengan suara tinggi, ‘Sayid kami, wahai sayid kami, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh laki-laki ini, dia berkata bahwa Abu Bakar dan Umar juga dikubur di sini.’
Sayid Mu’ammim itu pun berkata kepada saya, ‘Benar, Abdushshamad, benar, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar al-Faruq juga dikubur di sini.’
Saya spontan berteriak di tengah orang ramai menolak jawabannya, ‘Apa yang anda katakan ini? Ash-Shiddiq? Al-Faruq? Bukankah mereka itu berhala dan thagut, yang kalian ajarkan kepada kami, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa salah seorang digelari Shiddiq dan yang lain Faruq? Pahamkanlah saya wahai sayid kami!’
Sayapun melihat as-Sayyid memberikan isyarat dengan mata sambil berkata, ‘Abdushshamad, jangan membuat malu kita di tengah orang ramai, jika telah kembali ke penginapan, saya menjelaskan segala sesuatunya kepada Anda.’
Dengan suara yang semakin tinggi disertai orang yang semakin berkerumun saya justru membantah, ‘Tidak… tidak…. tidak…. Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan tempat ini sampai Anda memahamkan saya sekarang juga, bagaimana berhala dan thagut dikubur di sisi Rasulullah? Bagaimana kaum Muslimin menerima situasi ini? Bagaimana Sayiduna Ali bin Abi Thalib membiarkannya? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang kafir dikubur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Abu Bakar telah merampas hak Fathimah seperti apa yang telah kalian ajarakan kepada kami? Bukankah Umar telah mematahkan tulang rusuk Fathimah az-Zahra’ seperti yang kami hafal dari kalian? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang kafir itu dikubur bersama Rasulullah?’
Sayid berkata, ‘Abdushshamad, Daulah Umawiyah, merekalah yang tekah menguburkan mereka di tempat ini!’
Saya pun mengatakan, ‘Sayid!.....sekalipun saya ummi, tidak bisa baca tuis, tetapi Allah telah memberikan akal yang sempurna… bagaimana Daulah Umawiyah yang menguburkan mereka padahal mereka baru berkuasa setelah sayid kita, Ali?, sementara sayiduna Ali dan Abbas meninggal setelah Abu Bakar dan Umar? Anda sendiri telah mengatakan bahwa Sayyiduna Ali adalah Haidar (sang singa) dan al-Karar, dan tidak gentar menghadapi tekanan siapa pun dalam membela agama Allah?! Bagaimana mungkin beliau dan ahlulbait mengizinkan dua orang kafir ini dikubur bersandingan dengan penghulu para nabi?!’
Orang-orang pun berhamburan ke arah kami, sayid tersebut melarikan diri diiringi domba-dombanya yang tersesat meninggalkan area kuburan. Dengan suara lantang saya berteriak, ‘Hai orang-orang ramai pahamkanlah kepada saya, apakah saya ini sedang bermimpi atau apa?!’ orang-orang itu pun berusaha menenangkan saya, mereka berkata, ‘Berdzikirlah, ingatlah kepada Allah wahai Syaikh…. Berdzikirlah mengingat Allah!’
Sejenak kemudian seorang Masyayikh di al-Haram menghampiri dan memegang saya sambil berkata, ‘Ada apa dengan anda? Anda berteriak-teriak di sisi kuburan Nabi, ini tidak boleh…. Allah memerintahkan kita untuk merendahkan suara kita jika berada di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melalui firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ (٢)إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (٣)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Hujurat: 2-3)’.”
Ayahku, H. Abdushshamad melanjutkan ceritanya,
Ayah tidak menguasai diri, meratap dan menangis. Kemudian Syekh tersebut kembali berkata, ‘Ada apa dengan Anda, saudaraku? Apa yang telah terjadi?’
Ayah menjawab, ‘Anda mengatakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk merendahkan suara ketika berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam supaya kita tidak menyakiti beliau, bahwa Allah menguji kita melalui perintah ini… sementara saya, sejak kecil sampai saat ini tidak berhenti mencaci sahabat-sahabat beliau, tidak pernah berhenti mencaci istri-istri beliau! Jika dengan meninggikan suara saja telah menghapuskan amal-amal dan menyia-nyiakannya, seperti dalam ayat tersebut, bagaimana halnya dengan orang yang mencela sahabat-sahabat dan istri-istri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sepenjang hayatnya?’
Maka berkatalah Syeikh tersebut, ‘Aku berlindung kepada Allah… Anda mencaci sahabat-sahabat beliau, dan istri-istri beliau, ummahatul mukminin? Apakah anda seorang Rafidhah?!’
Ayah menjawab, ‘Betul, saya seorang penganut Rafidhah, saya adalah sampah… saya…!!! Sekarang saya tahu bahwa saya telah tersesat! Saya telah disesatkan, saya betul-betul telah tertipu. Demi Allah! Demi Allah! Saya tidak pernah tahu bahwa Abu Bakar dan Umar dikuburkan di sisi Nabi di tempat yang sama. Tuan Syeikh jelaskanlah kepada saya, apakah Allah telah menipu Nabi-Nya? Apakah Allah mengkhianati Nabi-Nya? Apakah Allah tidak memuliakan nabi-Nya di kuburnya?!! Bagaimana Allah membiarkan orang-orang kafir dan musuh-musuh-Nya dan musuh Rasul-Nya dikuburkan bersisian dengan pusara Nabi?! Mengapa?! Mengapa Sayyiduna Ali bin Abi Thalib dan ahlulbait tidak mampu melarang penguburan keduanya di sisi beliau? Bagaimana Allah membiarkan orang-orang kafir dikuburkan bersama Sayiduna Muhammad, di tempat yang paling diagungkan di permukaan bumi, di Raudhah yang mulia, hingga hari kiamat?! Mengapa?! Berilah saya jawaban!
Betulkah mereka yang telah mengajari kami mencaci dua orang laki-laki ini orang-orang muslim atau para penjahat?!
Demi Allah sekarang saya mengerti, hanya dua kemungkinannya: bisa jadi Allah teledor menyia-nyiakan hak Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, wal ‘iyadzu billah, atau sayyid-sayyid kami dan mu’ammim kami yang mengkhianati Allah dan Rasul-Nya!!!’
Syekh tersebut berkata kepada Ayah, ‘Saudaraku Abdushshamad, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq bukan hanya dikuburkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di satu lokasi, mereka bahkan adalah sanak keluarga beliau: putri-putri mereka, Aisyah dan Hafshah radhiyallahu anhuma merupakan istri-istri beliau, ibunda kaum Mukminin berdasarkan nash al-Qur’an.’
Ayah berkata, ‘Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah laknatlah para mu’ammim kami! Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah, laknatlah para mu’ammim kami! Jika benar yang mereka katakan berarti Allah telah menikahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wanita-wanita kafir dan keji, kemudian menguburkan beliau bersama ayah-ayah mereka yang kafir?! Bagaimana akal sehat bisa membenarkan ucapan ini?! Saya pun menangis tersedu-sedan.’ Syekh tersebut meraih dan merengkuh ayah dan berkata, ‘Alhamdulillah, Allah telah menghilangkan selaput yang menutup kedua bola mata anda. Marilah saya ajarkan kepada anda berwudhu dan shalat seperti yang diamalkan Rasulullah…’
Laki-laki itu pun menuntun saya keluar dari tengah kerumunan manusia, lalu kami menuju ke tempat khusus yang diperuntukkan untuk air zam-zam. Dia berkata, ‘Berwudhulah bersama saya seperti ini…’
Ayah pun berwudhu mengikutinya. ‘Demi Allah, begitu selesai, ayah merasakan betapa lapangnya dada ini, seolah-olah baru tahu bahwa Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.’
Setelah selesai ayah keluar dari Masjid Nabawy asy-Sayrif, begitu sampai ke tempat tim kesehatan dan melihat pimpinan rombongan, Ibrahmi al-Mudhaf yang sunni, ayah pun merangkulnya sambil menangis haru. Ayah berkata kepadanya, ‘Ibrahim al-Mudhaf, saudaraku, mulai saat ini saya tidak akan lagi mengatakan bahwa Allah telah menghinakan Rasul dan kekasihnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat ini saya berlepas diri dari menghina ahlulbait, mereka lebih mulia dan lebih terhormat untuk menjadi pengecut yang takut memperjuangkan ucapan yang haq. Sejak saat ini, saya berlepas diri dari fitnah yang menodai kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istri-istri beliau yang suci, yaitu ibunda kaum Mukminin sebagaimana yang telah dijelaskan oleh nash al-Qur’an yang mulia. Mulai detik ini, saya tidak akan lagi mencela Rasulullah dan menyebut beliau gagal dan tidak mengerti mendidik sahabat-sahabat bagaimana seharusnya bersikap sepeninggal beliau. Mulai saat ini, saya berlepas diri dari perilaku orang-orang Rafidhah, meniru orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’
Ayah pulang ke Kuwait dengan raut wajah yang berbeda dari saat berangkat. Beliau kembali dengan keimanan yang memenuhi hatinya. Dia kembali membawa ketenangan yang melapangkan dadanya. Dia kembali dengan cahaya pemahaman yang telah membebaskan akalnya dari kegelapan kebodohan, penyimpangan dan kesesatan.
Ayah segera menemui ibu, Ummu Hamid rahimahallah dan berkata kepada beliau, ‘Istriku sesungguhnya aku telah masuk Islam yang lain dari Islam yang telah menipu kita selama bertahun-tahun… saya telah masuk Islam, yang tidak ada kedustaan di dalamnya, tidak ada penipuan, kedengkian, kesyirikan, bid’ah, cacian dan kesesatan yang nyata… Jika engkau mengikuti langkahku, engkau tetaplah istriku. Jika tidak, kembalilah kepada keluargamu’, ibu pun berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah mendapatkan pada dirimu selain cinta kepada kebaikan, aku tidak memiliki prasangka selain bahwa Allah telah memberikan taufik kepadamu, kepada suatu kebaikan yang besar. Aku akan selalu bersamamu; sekarang aku adalah muslimah sunni yang mengesakan Allah rabbul ‘alamin, aku berlindung kepada Allah dari perbuatan mempersekutukan-Nya apa dan siapa pun’
Waktu pun berlalu berbilang tahun. Ibu, Ummu Hamid, melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Umar oleh ayah (orang-orang Syiah sangat membenci sahabat-sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dengan memberikan salah satu nama tersebut kepada anak bagi mereka menjadi salah satu tanda bahwa yang bersangkutan bukan penganut Syiah). Umar putra keempat ayah setelah saya (Hamid), Mahmud dan Adil. Ayah menghadapi penentangan yang keras dari tetangga-tetangga kami yang Rafidhi begitu mengetahui bahwa beliau telah meninggalkan agama mereka. Mereka melarang anak-anak mereka bergaul dan bermain dengan kami, anak-anak ayah, melarang istri-istri mereka mengunjungi ibu. Tetapi ayah mengahadapinya dengan penuh sabar dan tidak putus berdoa kepada Allah meminta jalan keluar. Hanya berapa tahun kemudian, Allah melimpahkan rezki yang tidak disangka-sangka, ayah memboyong kami pindah dari lingkungan Rafidhah tempat tinggal kami semula, ke distrik lain. Di sanalah ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir, berpulang ke rahmatullah, mewariskan kepada kami sebuah agama yang haq.
Hal yang mengagumkan kemudian terjadi dalam kisah ini, banyak jamaah masjid dan keluarga beliau bermimpi melihatnya dalam kondisi yang sangat baik, masing-masing mereka melihat beliau memakai baju yang sangat putih bersih, duduk-duduk di sebuah tempat duduk yang bagus, pada tempat yang mulia sambil berkata, “Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah ini kepada kami; kita tidak akan mendapatkan petunjuk seandainya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita.” Demikian Abu Utsman Hamid Busyahri menutup kisah sadarnya orang tua beliau.
Ya Allah terimalah dia, al marhum biidznillah, Abdushshamad Mahmud Busyahri, dan tempatkan beliau di tengah orang-orang shalih, dan pertemukanlah dia dengan para shiddiqin dan syuhada dan mereka adalah sebaik-baik teman… dan berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui, amin…amin ya Rabb’ al-‘Alamin.
Menutup kisah ini, saya sampaikan kepada setiap orang Rafidhah, tahukah anda semua, mengapa Abdushshamad diberi hidayah oleh Allah kepada kebenaran? Karena satu sebab yang sangat sederhana, karena dia membuka diri untuk memfungsikan akalnya. Oleh karena itu, kapankah anda semua meniru tindakan beliau? Adalah sebuah aib besar jika seorang yang ummi, tidak bisa baca-tulis seperti Abdushshamad Busyahri rahimahullah mampu memfungsikan akalnya dengan baik, sementara kalian membiarkan akal kalian dikendalikan orang lain. Sehingga mereka bisa memperlakukan kalian sesuka hati mereka.


Sumber: Majalah Islam Internasional Qiblati, Ramadhan 1433 H, Agustus 2012 M, Edisi 10 th. VII, hal 84-89.

Perkataan Ajaib Rasulullah Tentang Syi’ah Yang Terbukti Hari Ini

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Thalib
Syi’ah sebuah kelompok agama yang memiliki prinsip-prinsip ajaran:

Al-Qur’an sudah berubah dari aslinya, baik karena adanya tambahan atau pengurangan pada saat dikumpulkan oleh para sahabat di masa khalifah Abu Bakar. Hal ini dinyatakan oleh ulama Syi’ah bernama At-Tabrizi dalam bukunya Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab.
Mereka melebihkan imam-imam Syi’ah di atas seluruh para Nabi seperti yang ditulis oleh Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kafi dan tokoh Syi’ah modern Khomaini.

Sangat penuh rasa benci pada tokoh-tokoh utama sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafsah radhiyallahu ‘anhum. Mereka menganggap para tokoh sahabat yang menjadi kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini sebagai penjahat ulung terhadap ajaran Rasulullah.
Berkeyakinan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu yang belum terjadi, tetapi para imam Syi’ah mengetahui segala sesuatu di masa lalu, masa kini dan akan datang.

Dengan adanya doktrin-doktrin keagamaan semacam ini, patutkah Syi’ah dikategorikan sebagai salah satu komunitas muslim sebagaimana halnya komunitas ahlussunah wal jama’ah.

Syi’ah yang memiliki doktrin sebagaimana yang disebut di atas, telah dinubuwatkan oleh Rasulullah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir no. 12998

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قال : كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَعِنْدَهُ عَلِيٌّ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « يَا عَلِيُّ ، سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ قَوْمٌ يَنْتَحِلُوْنَ حُبَّنَا أَهْلَ الْبَيْتِ لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُوْنِ ».

Dari Ibnu Abbas ujarnya, saya pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersamaan dengan Ali. Saat itu Nabi bersabda kepada Ali: Wahai Ali, nanti akan muncul di tengah umatku suatu kaum yang berlebihan dalam mencintai kita ahlul bait, mereka dikenal dengan nama Syi’ah Rafidhah. Karena itu bunuhlah mereka sebab mereka adalah kaum musyrik.

Selain dari nubuwat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, khalifah Ali bin Abi Thalib sendiri berkata: di belakang kami kelak akan muncul suatu kaum yang mengaku cinta kepada kamu. Mereka suka berdusta dengan nama kamu, mereka sebenanya  keluar dari Islam. Ciri mereka yaitu gemar memaki Abu Bakar dan Umar.

Ammar bin Yasir berkata kepada seorang laki-laki yang mencerca Aisyah ketika berada di sisi Ammar bin Yasir: “Pergilah kamu wahai orang yang celaka, apakah engkau senang menyakiti kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR At-Tirmidzi, hadits hasan]
Semua golongan Syi’ah senang sekali mencera Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Demikianlah sebenarnya sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali bin Abi Thalib, dan Ammar bin Yasir yang oleh kaum Syi’ah dipandang sebagai tokoh-tokoh mereka, tetapi ternyata menyuruh kita untuk memerangi Syi’ah karena mereka musyrik atau keluar dari Islam.

Ibnu Taimiyyah :  Syi'ah Bukan Muslim, Lebih Kafir Dari Yahudi dan Nasrani 


Lebih Kafir dari Yahudi dan Nasrani. Begitu kesimpulan Ibnu Taimiyyah kepada sekte Syiah yang kini berkuasa di Suriah. Penjelasan ini disampaikan oleh pengajar Ma’had Hidayaturrahman Sragen, Ustadz Tengku Azhar Lc, di acara penggalangan dana Suriah, di Pondok Pesantren Imam Syuhodo, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo (18/05/2013).
“Ketika bertanya kepada orang-orang Yahudi, siapa orang terbaik di kalangan kalian, maka orang yahudi akan mengatakan: “Sahabat-sahabat Musa alaihissalam”, sedangkan kepada orang Nashara, maka mereka akan menjawab: “Sahabat Isa alaihissalam”. Tapi jika kita tanyakan kepada orang-orang Syiah, siapa manusia yang terburuk ? Maka Syiah menjawab: “ Mereka adalah sahabat nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam”, jadi Syiah menganggap sahabat nabi ini adalah orang yang terjahat, dan yang paling jahat di antara para sahabat adalah Abu Bakar dan Umar.” ujar Ustadz Tengku Azhar.
Membuka Topeng
Konflik Sunni-Syiah di Suriah ini merupakan peringatan bagi mereka yang masih nekat menganut pemikiran Syiah atau mereka yang tegas menyatukan antar Sunni-Syiah. Ustadz Tengku Azhar menyatakan bahwa mengingkari kenyataan konflik Sunni Syiah di Suriah merupakan ciri-ciri penganut madzhab sesat Syiah.
Dalam pernyataannya, Ustadz Tengku Azhar membantah isu bodoh lagi bohong bahwa mendukung pejuang Suriah untuk mendongkel Bashar Asad merupakan pesanan Amerika. “Mereka menuduh Hilal Ahmar sebagai kontra bashar, sedangkan dalam benak mereka satu-satunya yang kontra bashar adalah Amerika. Orang syiah menuduh kita yang membantu ahlussunnah di suriah berarti antek-antek dari amerika, padahal di dunia ini kekuatan di dunia bukan hanya kekuatan iran dan amerika saja.” begitu penjelasan beliau.
“Konflik dan peristiwa Suriah ini akan membuka siapa Syiah yang bertopeng, atau dia adalah orang-orang yang membela Syiah”, sebut ayah dari Tengku Hilya Aulia ini. [sksd]
  


Betapa Cerdasnya Raja Salman, Inilah Sesungguhnya Alasan Kenapa Syi'ah Yaman Harus Dimusnahkan

Syi'ah Houtsy di yaman adalah mega proyek Iran,jika yaman sudah dalam genggaman maka perjalanan selanjutnya ke haramain mekkah-madinah(saudi) lebih mudah karena yaman berbatasan langsung secara teritorial dengan saudi.


Kenapa yaman menjadi master plan Iran yang dikerjakan melalui tangan houtsiyyin?!
Rudal-rudal jelajah iran belum memiliki kapasitas yang menjangkau Saudi jika dilesakkan langsung dari Iran,Pesawat-pesawat tempur Iran(sejak diembargo) tidak memiliki daya jangkau yang cukup untuk menembak target di saudi jika dilepaskan dari pangkalan udara militer di Iran..
Ketika Yaman berhasil dikuasai,Yaman akan dijadikan jembatan dan benteng pertahanan Iran menembus Saudi,Pangkalan Udara akan dibangun dan Rudal-rudal akan diboyong ke Yaman..

Jika yaman sudah underhand maka tidak perlu melewati Kuwait,Qatar,UEA dan Bahrain yang pasti tidak akan mengizinkan Pesawat tempur Iran melewati wilayah udaranya dan jika Iran memaksa pastinya akan dicegat dengan Misil Anti pesawat..
[Lihatlah peta Iran-Saudi]
                                                       
                                             peta timur tengah
Ketika logistik telah memadai,Iran akan mulai melakukan provokasi militer secara massif dan bermain melalui Tangan-tangan kedua.

Apakah Engkau masih melihat serangan koalisi pimpinan Saudi ke yaman merupakan suatu kekeliruan?


Raja Salman berhasil membuat Iran Majusi sibuk,hal itu akan menguras Pikiran Iran dan menguras dana iran..sehingga proyek-proyek syiahisasi diseluruh dunia Islam akan terkendala pasokan dana karena Iran akan sekuat kemampuan menyuplai senjata dan amunisi mahal untuk Anak laki-lakinya yang bernama Houtsy ini..
Alutsista militer Koalisi Pimpinan Saudi adalah Alutsista upgraded dengan Tekhnolgi modern,yang pasti tidak akan mampu dihadapi senjata konvensional besutan Iran.,Maka Iran perlu merogoh kocek untuk membeli senjata yang sebanding dan menyuplaikanya ke Houtsy..
Namun,Perairan Yaman sudah berhasil di blokir oleh Koalisi,,Alhamdulillah,,
Sebenarnya,Kemampuan militer saudi saja sudah sangat mencukupi untuk sendirian menggempur Houtsy di Yaman,lalu kenapa Saudi merekrut Negara teluk?

Ini adalah perjuangan diplomasi,semakin banyak sekutu maka tekanan internasional akan melemah,,Beda jika saudi secara munfaridan menyerang Yaman tanpa disupport sekutu,maka tekanan diplomatik Internasional akan menguat karena menilai saudi tak punya kawan dan dukungan..
Silahkan di fahami,semoga tercerahkan..



Oleh: Syu'aib
muslimworldjournal.com
Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin mungkin memiliki hubungan yang tidak menentu, namun hubungan mereka jauh lebih tua daripada kebanyakan kemampuan untuk mengingat. Dengan pemikiran ini, Raja Arab Saudi Raja Salman bin Abdul Aziz telah mengulurkan tangan secara ramah kepada Ikhwanul Muslimin untuk memperbaiki perbedaan pendapat di antara mereka.
Ikhwanul Muslimin memiliki secercah harapan pertama kali ketika Menteri Luar Negeri Saudi Saud bin Faisal mengatakan, “Kami tidak memiliki masalah dengan Ikhwanul Muslimin, masalah kita adalah dengan sekelompok kecil orang yang berafiliasi dengan organisasi ini.” Komentar Menteri Luar Negeri lebih jauh ditunjukkan oleh suara tunggal dari pemerintah Raja Salman, Wakil Putra Mahkota Saudi melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Qatar, sebuah negara yang memberikan dukungan penuh bagi Ikhwanul Muslimin.
Kesempatan persahabatan itu merupakan isyarat paling kuat oleh Raja Salman sendiri ketika ia secara resmi mengundang Syaikh Al-Azhar Mesir untuk sebuah konferensi bersejarah mengecam terorisme, meskipun ada perbedaan ideologi. Sementara Ikhwanul Muslimin memiliki perbedaan ideologi politik dengan Arab Saudi, Raja telah membuat suatu indikasi untuk mencoba hal ini untuk memberikan Ikhwanul Muslimin peran di luar politik.
Sejarah yang Dilupakan
Perlu dicatat bahwa pendiri Ikhwanul Muslimin, Imam Hassan al-Banna, memiliki hubungan baik dengan Arab Saudi. Ketika beberapa anggota Ikhwanul Muslimin akan dibunuh pemimpin Mesir Jamal Abdun Nasser, Arab Saudi mengizinkan anggota Ikhwanul Muslimin ke Arab Saudi untuk perlindungan dan pemberian kewarganegaraan kepada para pemimpin mereka. Arab Saudi bahkan mengizinkan anggota Ikhwanul Muslimin untuk mengontrol beberapa lembaga swadaya masyarakat di Arab Saudi.
Sayangnya setelah bertahun-tahun dibantu Saudi, Ikhwanul Muslimin memihak revolusi Iran. Hal-hal semakin buruk ketika Ikhwanul Muslimin mendukung Saddam Hussein ketika dia membuat ancaman melawan Arab Saudi selama perang Teluk. Bahkan baru-baru ini ketika Ikhwanul Muslimin mendapatkan kekuasaan di Mesir, mereka mengundang kepemimpinan Iran, musuh bebuyutan Arab Saudi, untuk melakukan kunjungan resmi ke Mesir. Ini ternyata menjadi batu sejarah yang panas-ingin dan dari perspektif Saudi dipandang sebagai memutuskan persahabatan lama.
Kesempatan Baru
Para ahli telah mengatakan bahwa tampaknya Raja Salman siap untuk melupakan masa lalu dan mendamaikan perbedaan lama. Mereka telah menyarankan bahwa Raja berkeinginan agar kaum Sunni di seluruh dunia untuk bersatu meskipun ada perbedaan, sesuatu yang di banyak negara Arab dan dunia Muslim melihat sebagai langkah bijaksana.
“Ada tumbuh rasa harapan sekarang, hal-hal yang berubah di sekitar kita dengan pemimpin baru berkuasa dan sudah saatnya kami memiliki suara lagi dan menjelaskan kepada dunia siapa kami sebenarnya,” kata anggota Ikhwanul Muslimin yang tinggal di Qatar
Dalam beberapa minggu terakhir Raja Salman juga telah bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif dan Presiden Turki Tayyip Erdogan. Kedua negara telah menyatakan bahwa mereka tidak pernah merasa lebih dekat dengan Arab Saudi dibandingkan saat ini.

Saudi Akan Segera Perbaiki Hubungan Dengan Ikhwanul Muslimin
zahid – Jumat, 3 April 2015 10:00 WIB
Kantor berita Associated Press menyebut Arab Saudi akan segera memperlunak sikapnya dengan kelompok Ikhwanul Muslimin untuk mencegah pengaruh Syiah Iran yang terus meluas di kawasan Timur Tengah.
Analisis ini dikeluarkan Associated Press menanggapi pengaruh Iran yang terus meluas di kawasan paska berhasil menguasai Irak dan Suriah.
Kantor berita kenamaan asal Amerika Serikat ini memprediksi bahwa langkah perbaikan hubungan Saudi-Ikhwan bukan tanpa halangan, tentunya langkah ini dapat menyebabkan gesekan dalam koalisi regional dalam perang melawan pemberontak Syiah Houthi di Yaman, khususnya dengan Mesir yang mencap kelompk tersebut sebagai organisasi teroris.
Senada dengan kantor berita Associated Press, seorang analis politik AS Brian Downing mengatakan, “Alasannya adalah sederhana, pemerintah baru di bawah Raja Salman mungkin merasa bahwa cara lama yang diterapkan Saudi lama tidak bekerja.”
Brian Downing menambahkan, “Sudah saatnya hubungan Saudi-Mesir memasuki tahap baru.”
Sementara itu mantan anggota Dewan Syura Saudi Muhammad Zulfa mengatakan bahwa hubungan Saudi-Turki adalah yang terbaik, “Kedua negara memiliki tujuan yang sama yaitu mempersempit pengaruh Iran di kawasan.”
“Ini berarti perbaikan hubungan antara Saudi-Turki-Qatar, dan tentunya berimbas kepada Ikhwanul Muslimin,” tambah Muhammad Zulfa. (Rassd/Ram)

Thursday, April 2, 2015

Kabar Gembira Dari Negeri Saudi, Ulama Mujahid Dibebaskan Dari Penjara !!

Antum ingat kan dengan raja Saudi yang sekarang ??

Namanya raja Salman Bin Abdil Aziz... yang baru-baru ini mengundang pujian dari ummat islam seluruh dunia saat ia meninggalkan "Tamu terhormat" presiden Amerika Barrac Obama untuk melaksanakan shalat ashar, sebuah fenomena langka dan mengandung qudwah hasanah dari sosok seorang Ulil Amri.

Thoyyib, kita lanjutkan..... smile emotikon Antum ingat nggak tulisan-tulisan saya yang mengkritisi Pemerintah Arab Saudi yang saat itu di pimpin raja Sebelumnya ??

Saya mengkritisi kebijakan-kebijakan politik Raja Saudi yang banyak merugikan Islam dan Ummat Islam, terlepas dari banyaknya kebaikan dan kedermawanan Raja Saudi terhadap masyarakat dunia.

Namun, karena Raja Saudi itu bukan malaikat, alias manusia biasa, maka tentu dia tidak akan luput dari kesalahan-kesalahan atau bahkan penyimpangan-penyimpangan... Dia bukan Nabi yang harus di bela sampai mati, dia mesti kita bela kalau benar, di luruskan kalau salah, ya tentunya sesuai kapasitas masing-masing...

Namanya juga manusia. Iya to ? Nah, berangkat dari fakta itu maka wajar bila kita mengkritisi, meluruskan dan memperbaiki yang salah, tentunya dengan koridor yang tidak melanggar batasan-batasan cara mengkritik, misal dengan pembentukan opini dsb.

Nah, sikap kritis kita terhadap kebijakan-kebjikan Pemerintah Arab Saudi itu menuai kecaman dan hujatan dari segelintir pemuda sekte mulukiyah (neo murji'ah), yakni sekte yang menjadikan agamanya sebagai pemuas nafsu dan kepentingan para muluk (raja-raja),Wal-'Iyaadzu Billah...

Sikap kritis dan tidak sudi menjilat pemerintah itu dianggap sebagai sikap "Hizbiyah", "khawarij", "Sururi", "takfiri", dst. Padahal Wallahi tak sekalipun diri ini "MENGKAFIRKAN" individu muslim tertentu yang tidak dikafirkan Allah dan Rasul-Nya.

Bahkan, saya sendiri di tuduh oleh seorang Mahasiswa Universitas Islam Madinah sebagai "orang yang hobi menjelek-jelekkan arab saudi",

Ntah kapan saya menjelek-jelekkan Arab Saudi, Wallahi Billahi saya tak pernah menjelek-jelekkan arab saudi... Arab Saudi itu negeri Islam, Daulah Sunniyah, banyak para 'Ulama dan Mujahidin disana, bahkan negeri Tauhid di bumi ini salah satu diantaranya adalah Negeri Saudi In Syaa' Allah.. Lantas ntah apa yang menyebabkan pemuda itu menuduh saya di media sosial bahwa saya suka menjelek-jelekkan arab saudi... !? Sikap kritis dan berusaha mengatakan yang haq itu dianggap "menjelek-jelekkan", !? Ini kan fitnah namanya... smile emotikonsaya ini Ahlus Sunnah in syaa' Allah, bukan Syi'ah yang sangat benci Arab Saudi..

Mungkin anda bertanya-tanya; di sisi manakah saya mengkritisi pemerintah kerajaan Arab Saudi (waktu itu) ??

Tinta sejarah tidak akan mungkin pudar begitu saja, saudi waktu itu turut dalam koalisi menyerang Mujahidin di Suriah dengan Amerika dan sejumlah negara Kafir, dengan alasan "menyerang ISIS". Padahal yang jadi korban dan yang mereka habisi adalah Mujahidin. Itu fakta !

Selain itu, fakta sejarah membuktikan, Raja Saudi yang saat itu mendukung pemberontakan terhadap DR.Muhammad Mursi di mesir, ia mendukung sepenuhnya Militer mesir yang dipimpin Jendral Zhalim As-Sisi membunuhi dan membantai Ummat Islam di Mesir. !? alasannya karena satu hal: arab saudi sangat membenci ikhwanul muslimin, sebab ikhwanul muslimin waktu itu dianggap akan menggoyang eksistensi politik kerajaan arab saudi dimata dunia islam. Pembantaian berdarah pun terjadi, ribuan nyawa kaum muslimin, anak-anak, wanita, dsb melayang seketika, semua itu atas dukungan raja Saudi.....sehingga dukungannya itu mendapat kecaman dari banyak kalangan; baik Salafi maupun Haraki. termasuk mendapat kecaman dari sejumlah Ulama di Arab Saudi diantaranya Syaikh Muhammad Al-'Arifi, Syaikh Salman Al-Audah, dll. Ini adalah nama-nama Ulama Salafi yang yang dianggap Hizbi oleh sekte Mulukiyah karena berani nya mereka dalam mengkritisi pemerintah Arab Saudi yang di nilai zhalim, hingga hal itu berujung pada jerusi besi... Mereka keluar masuk penjara karena dianggap "Provokator" dan mengganggu kepentingan pemerintah.

Apakah ini anda anggap kebaikan ? Apakah ini anda anggap bukan kesalahan ?? Disinilah letak dimana kami mengkritisi tindakan dan kebijakan politik Raja Saudi waktu itu... Dan masih banyak lagi tentunya...

Nahimunkar.com mengabarkan bahwa sudah menjadi rahasia umum dimana selama Raja Abdullah bin Abdul Aziz berkuasa di Saudi, banyak sekali keputusan pemerintah yang dikrtiik oleh para Ulama Robbani, sehingga akibat dari kritikan tersebut, Ulama Robbani pun harus menelan pil pahit, masuk dalam sel penjara.

Raja Salman, selaku pemegang kekuasaan di Kerajaan Saudi saat ini memang sangat terlihat berbeda dengan raja sebelumnya. Banyak reformasi yang dilakukan untuk kembali kepada tatanan Islam yang sesungguhnya meski secara perlahan.

Kebijakan-kebijakan Raja Abdullah yang dinilai keluar dari jalur syariah dan terlalu condong kepada Barat mulai dihapus pelan-pelan. Sikap Raja Salman ini mendapatkan banyak simpatik dan acungan jempol dari masyarakat Saudi secara umum. Terlebih masyarakat Saudi yang menginginkan perubahan menuju Islam yang kaffah.dan menjadi poros perjuangan Islam.

Kerajaan Arab Saudi, pada hari Selasa (17/2/2015) yang lalu, menetapkan pencabutan cekal atas ulama dan dai, Syaikh DR. Salman Al-Audah, setelah lama menjalaninya di masa kekuasaan Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Pernyataan itu disampaikan sumber pejabat kerajaan. “Cekal atas Syaikh Salman Audah telah dicabut. Nama tertulis dalam daftar orang-orang yang dicabut cekalnya untuk bepergian ke luar negeri.”

Seperti yang banyak dikabarkan, Syaikh Salman Al Audah adalah Ulama Robbani yang lurus aqidahnya di atas manhaj ahlus sunah wal jamaah. Dimana dia berani terus terang mengkritik setiap kebijakan pemerintah yang dinilai menyimpang dari syariah.

Semoga dengan bebasnya Syaikh Salman Al Audah menjadikan dakwah manhaj nabawiyah kian semarak, dan menjadi tonggak lahirnya para pejuang Islam yang tambah banyak di Saudi.

ALLAHU AKBAR !!!

Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi.

Wednesday, April 1, 2015

54 Hal Yang Bukan Termasuk Manhaj Salaf

Asy-Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Umar Bazmuul hafizhahullah berkata:

Ilmu dan Amal

ليس من منهج السلف العمل قبل العلم، إنما كانوا يبدأونبالعلم قبل العمل، قال تعالى: فاعلم أنه لا إله إلا اللهواستغفر لذنبك وللمؤمنين) محمد19

1) Bukan termasuk manhaj salaf, beramal sebelum berilmu. Dahulu salaf memulai dengan ilmu sebelum beramal. Allah ta’ala berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) selain Allah, dan meminta ampunlah atas dosamu dan juga kaum mukminin” [QS. Muhammad: 19]

ليس من منهج السلف : ترك العمل بالعلم، فقد ورد: "هتف العلم بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل

2) Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan amal setelah berilmu. Disebutkan dalam sebuah riwayat: “Ilmu memanggil amal, apabila amal memenuhi panggilannya (maka ilmu akan tetap bersamanya), namun jika sebaliknya, maka ilmu akan pergi meninggalkannya”

ليس من منهج السلف أن يشتغل الطالب بأي شيء قبل القرآن والحديث، فإذا تفقه وتعلم ما يحتاجه لدينهطلب ما يريده بعد ذلك

3) Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu sebelum (menghafal dan mempelajari) Al-Qur’an dan hadits. Apabila seorang telah mempelajari ilmu yang ia butuhkan untuk agamanya, silahkan ia mempelajari ilmu yang ia inginkan

ليس من منهج السلف الأخذ عن أي أحد إلا بعد النظر في حاله مع السنة. فكان يقال: "إن هذا العلم دينفانظروا عمن تأخذون دينكم".         

4) Bukan termasuk manhaj salaf, mengambil (ilmu) dari setiap manusia kecuali setelah mengamati keadaannya apakah ia di atas sunnah. Dahulu dikatakan  “sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian”

ليس من منهج السلف ترك طلب العلم الواجب، وإهمال طلب العلم المستحب

5) Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan thalabul ilmi yang sifatnya wajib, serta meremehkan thalabul ilmi yang sifatnya sunnah.

ليس من منهج السلف الاهتمام بالعلوم العقلية البحتة، إنما علمهم قال الله قال رسوله قال الصحابة

6) Bukan termasuk manhaj salaf, lebih mementingkan ilmu-ilmu yang hanya bersandar pada akal. Ilmu salaf tidak lain adalah perkataan Allah dan Rasul-Nya, serta perkataan sahabat

Berpegang Teguh Dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Yang Shahih


ليس من منهج السلف ترك الاحتجاج بحديث الآحاد في العقائد

7) Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau berhujjah dengan hadits ahad dalam permasalahan aqidah

ليس من منهج السلف حصر افادة العلم في الحديث المتواتر

8) Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi ilmu hanya diambil dari hadits mutawatir

ليس من منهج السلف رد الحديث إذا لم تبلغه العقول والاعتراض عليه، بل منهجهم الاتباع والتسليم،لآمنا به كل من عند ربنا

9) Bukan termasuk manhaj salaf, menolak dan mengkritik hadits apabila tidak masuk akal. Bahkan manhaj salaf adalah mengikuti, menerima dan beriman dengan hadits, serta seluruh apa yang datang dari Rabb kita

ليس من منهج السلف التحزب والتحالف والإجتماع سراً دون الناس ؛ فقد ورد : "إذا رأيت من يجتمعفي المسجد من دون الناس فاعلم أنهم على ضلالة

10) Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kelompok-kelompok, persekutuan dan perkumpulan yang tersembunyi dari manusia. Diriwayatkan dari salaf: “apabila engkau melihat orang-orang berkumpul di masjid secara sembunyi-sembunyi, maka ketahuilah bahwa mereka berada di atas kesesatan”

ليس من منهج السلف الابتداع والاختراع. وشعارهم : اتبعوا و لا تبتدعوا فقد كفيتم، وعليكم بالأمرالعتيق

11) Bukan termasuk manhaj salaf, mengada-adakan kebid’ahan dan perkara-perkara baru (dalam agama). Syiar salaf adalah “Ikutilah, janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah dicukupkan. Berpegang teguhlah dengan perintah nabi”

Sikap Yang Benar Terhadap Nabi dan Para Sahabatnya

ليس من منهج السلف ترك الاقتداء والاتباع للرسول عليه الصلاة والسلام

12) Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mencontoh dan mengikuti Rasulshallallahu ‘alaihi wasallam !!!!!

ليس من منهج السلف الغلو في الرسول صلى الله عليه ، ومساواته بالله تعالى

13) Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ghuluw kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyamakan kedudukan Rasul dengan Allah ta’ala

ليس من منهج السلف : ترك الاتباع لما كان عليه الصحابة، واختراع معاني يخرج بها عما في الشرع

14) Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mengikuti jalan para sahabat, dan membuat kaidah-kaidah baru yang menyelisihi syariat

ليس من منهج السلف الطعن في الصحابة أو أحد منهم

15) Bukan termasuk manhaj salaf, mencela para sahabat nabi atau mencela salah seorang dari sahabat nabi

Sikap Yang Benar Terhadap Pemerintah Muslim

ليس من منهج السلف تهييج الناس على الحكام وتحريضهم على الخروج أو المظاهرات أو الثورات. أوالانتقاد العلني لهم ولوزرائهم أو عمالهم

16) Bukan termasuk manhaj salaf, memprovokasi manusia untuk melawan pemerintah dan menghasut mereka untuk keluar dari ketaatan baik berupa demonstrasi, pemberontakan maupun menyampaikan kritikan terbuka kepada pemerintah dan jajarannya terkait kesalahan-kesalahan mereka.

ليس من منهج السلف السكوت عن النصيحة لله ولرسوله ولكتابه ولأئمة المسلمين وعامتهم

17) Bukan termasuk manhaj salaf, diam dan enggan memberikan nasihat karena Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, serta nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dan manusia pada umumnya

ليس من منهج السلف إحداث بيعة لغير الإمام المتولي شأن المسلمين وجماعتهم

18) Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan bai’at kepada selain pemimpin yang menguasai urusan kaum muslimin

Prioritas Dakwah

ليس من منهج السلف إهمال الكلام في توحيد الله تعالى وتقرير ذلك في النفوس، فإنه الأساس الذي يقومعليه بناء الإسلام في كل أحد

19) Bukan termasuk manhaj salaf, meremehkan pembahasan tauhid dan tidak menanamkannya dalam jiwa, karena tauhid merupakan pokok agama setiap manusia yang Islam dibangun di atasnya

ليس من منهج السلف أن يكون موضوع الدعوة الأساس توزيع الثروات ولو باسم الاصلاح الاثتصادي،و لا العمل السياسي ولو باسم الإصلاح السياسي

20) Bukan termasuk manhaj salaf, memprioritaskan dakwah dengan menyebarkan kekacauan meskipun dengan alasan perbaikan ekonomi, demikian pula terjun dalam politik meskipun dengan alasan memperbaiki politik

Tarbiyah Adab dan Akhlak

ليس من منهج السلف : الاشتغال بما لا نفع فيه في الآخرة

21) Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat

ليس من منهج السلف الركون إلى الدنيا وترك العمل للآخرة

22) Bukan termasuk manhaj salaf, merasa puas dengan kehidupan dunia dan meninggalkan beramal untuk akhirat

ليس من منهج السلف الإكثار من الكلام والحديث، إنما كانوا يقولون: من كثر كلامه كثر سقطه.ويسكتون حتى يظن أن بهم عي وما بهم ذلك إنما خوف الله

23) Bukan termasuk manhaj salaf, banyak berbicara dan bercakap-cakap. Dahulu salaf menyatakan barangsiapa yang banyak bicara, maka akan banyak kesalahannya. Mereka diam hingga orang-orang mengira bahwa ia memiliki cacat. Tidaklah mereka melakukan demikian melainkan karena takut kepada Allah

ليس من منهج السلف الاستعلاء على الخلق، فهم دعاة خير، ورفق ورحمة

24) Bukan termasuk manhaj salaf, menyombongkan diri terhadap makhluk. Salaf adalah para da’i yang menyeru kepada kebaikan, bersikap lembut lagi penyayang.

ليس من منهج السلف طلب الشهرة، والارتفاع على الناس، فإن حب الظهور يقصم الظهور، وإذا تسودالحدث فاته خير كثير

25) Bukan termasuk manhaj salaf, mencari ketenaran dan kedudukan tinggi di tengah manusia, karena cinta ketenaran akan mematahkan punggung. Apabila seorang telah ditokohkan (sebelum waktunya), maka akan terluput darinya kebaikan yang banyak (maksudnya ia kehilangan kesempatan menuntut ilmu, Allahua’lam)

ليس من منهج السلف، الدخول في الكلام والجدال بل يستفرغون وسعهم في التفقه في الكتاب والسنةوالعمل بهما والدعوة اليهما

26) Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan dan perkataan yang sia-sia, bahkan salaf memfokuskan waktu mereka untuk mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah, mengamalkan keduanya dan mendakwahkannya

Kaidah Dalam Memahami Nash-nash Syariat

ليس من منهج السلف : الخروج بدلالات النصوص عن أصول العربية وفهم السلف الصالح

27) Bukan termasuk manhaj salaf, tidak memahami nash-nash syariat berdasarkan pokok bahasa arab dan pemahaman salaf yang shalih

ليس من منهج السلف : الكلام بالمجملات وترك التفصيل والبيان

28) Bukan termasuk manhaj salaf, membahas sesuatu secara global, tanpa merinci dan memberikan penjelasan

ليس منهج السلف الاستدلال بكل آية أو حديث، حتى تكون الآية محكمة والحديث سنة متبعة

29) Bukan termasuk manhaj salaf, berdalil dengan setiap ayat dan hadits hingga diketahui bahwa ayat tersebut muhkam dan hadits tersebut merupakan sunnah yang diikuti

ليس من منهج السلف وضع القواعد والضوابط بالرأي، وإنما كان سبيلهم تتبع ألفاظ القرآن والسنة .فلايغادر في الفتوى الآية أو الحديث ما امكنه

30) Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kaidah-kaidah dan aturan agama berdasarkan akal. Jalan salaf adalah mengkaji lafazh-lafazh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak tergesa-gesa dalam berfatwa terkait dengan ayat atau hadits sebisa mungkin

Sikap Yang Benar Dalam Permasalahan Ijtihadiyyah

ليس من منهج السلف التعصب للرأي والاعتداد به، فكان قائلهم يقول: ما أنا عليه صواب يحتمل الخطأ،وما مخالفي عليه خطأ يحتمل الصواب

31) Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ta’ashub dan ghuluw terhadap suatu pendapat. Mereka menyatakan: “Pendapat yang aku yakini pasti benar, tidak mengandung kesalahan sedikitpun, sedangkan orang yang menyelisihiku pasti salah, tidak sedikitpun mengandung kebenaran.”

ليس من منهج السلف المعاداة لمجرد وقوع اختلاف، فكانوا يفرقون في ذلك بحسب حال الرجل وواقعالمسألة، فالاختلاف مع صفاء النية لا يفسد للود قضية

32) Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan permusuhan hanya disebabkan oleh perselisihan. Salaf membedakan suatu perselisihan bergantung dengan keadaan seseorang dan permasalahan yang terjadi. Perselisihan yang dibarengi dengan niat yang bersih, tidak akan merusak kecintaan dan persaudaraan di antara mereka.

ليس من منهج السلف حصر الدين في مسألة فمن وافقني عليها هو سلفي ومن خالفني فيها فهو غيرسلفي. فالسلفية منهج وليست مسألة

33) Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi agama ini hanya dalam permasalahan tertentu, barangsiapa yang sejalan denganku dalam permasalahan tersebut, maka ia salafy, dan barangsiapa yang menyelisihiku dalam permasalahan tersebut, maka ia bukan salafy. As-Salafiyyah adalah manhaj, bukan permasalahan tertentu.

ليس من منهج السلف التقليد والتعصب بدون دليل

34) Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap taklid (mengikuti pendapat seseorang tanpa dalil) dan ta’ashub (fanatisme) tanpa disertai dalil

Sikap yang Benar dalam Masalah Takfir (Vonis Kafir), Tabdi’ (Vonis Mubtadi’) dan Udzur bil Jahl (Udzur Kebodohan)

ليس من منهج السلف تكفير الناس إلا بما ورد أنه كفر في الشرع

35) Bukan termasuk manhaj salaf, (bermudah-mudahan) dalam mengkafirkan manusia, kecuali yang ditunjukkan oleh syariat bahwa hal itu adalah penyebab kekufuran

ليس من منهج السلف الحكم على المعين بالكفر قبل إقامة الحجة بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

36) Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis kafir seseorang sebelum menegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya

ليس من منهج السلف الحكم على المعين ببدعته إلا بعد إقامة الحجة، بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

37) Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis (mubtadi’) seseorang karena kebid’ahan yang ia lakukan, kecuali setelah ditegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya

ليس من منهج السلف العذر بمطلق الجهل، إنما يعذرون بالجهل من بذل وسعه في التعلم وطلب العلم و لميقصر وكان الذي صدر منه هو مبلغه من العلم

38) Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan udzur jahl (kebodohan) secara mutlak, seorang diberikan udzur jahl hanyalah ketika ia telah berupaya untuk belajar dan menuntut ilmu, serta bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya. Dan ilmu yang ia peroleh merupakan hasil kesungguhannya dalam menuntut ilmu.

Kaidah Jarh dan Ta’dil

ليس من منهج السلف إعطاء العصمة لأحد غير رسول الله صلى الله عليه وسلم

39) Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan sifat ma’shum kepada seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

ليس من منهج السلف : ترك الرجوع للعلماء، بل كانوا يدعون الناس إلى مجالسة العلماء، ولزوم غرسهم

40) Bukan termasuk manhaj salaf, enggan untuk kembali kepada ulama, bahkan dahulu salaf menyeru manusia untuk duduk kepada ulama dan terus menapaki langkah mereka

ليس من منهج السلف : إعمال التعديل مع وجود الجرح المفسر إلا إذا ذكره المعدل ورده بعلم

41) Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan ta’dil (pujian) saat terdapatjarh (kritikan) yang terperinci, kecuali apabila ulama yang men-ta’dilmenyebutkan sebab jarh, kemudian menolak jarh tersebut dengan ilmu

ليس من منهج السلف : إعمال الجرح المجمل في حق من ثبتت عدالته، إلا إذا فسر، أو صدر من إمامكبير، فالنفس أميل إليه

42) Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan jarh yang masih global terhadap orang-orang yang telah nampak keadilannya, kecuali apabila jarhtersebut dirinci atau berasal dari seorang imam (ulama besar ahlus-sunnah), maka jiwa ini akan condong kepadanya

ليس من منهج السلف أن يعرف الحق بالرجال، فكل ما جاء عن فلان فهو حق، بل شعارهم أعرف الحقتعرف أهله، أعرف الحق تكن من أهله

43) Bukan termasuk manhaj salaf, mengukur kebenaran dengan seseorang yaitu setiap apa yang datang dari fulan, maka itulah kebenaran. Bahkan syiar salaf adalah kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal orang-orang yang berada di atasnya, dan kenalilah kebenaran, niscaya engkau termasuk ahlinya

ليس من منهج السلف رد خبر الثقة، وعدم قبوله إلا مسموعاً أو مقروءا

44) Bukan termasuk manhaj salaf, menolak khabar tsiqah, tidak mau menerimanya kecuali apabila khabar tersebut berupa rekaman suara atau tulisan

ليس من منهج السلف أن يخوض كل طالب علم في الجرح والتعديل،فإن لكل فن رجاله فكما لا يؤخذالعلم عن كل أحد فإنه لا يتكلم في الجرح والتعديل أي أحد

45) Bukan termasuk manhaj salaf, setiap penuntut ilmu berdalam-dalam dalam permasalahan jarh wat ta’dil, karena setiap cabang ilmu terdapat ahlinya, sebagaimana ilmu tidak diambil dari setiap orang, demikian pula setiap orang tidak berhak berbicara dalam permasalahan jarh wat ta’dil

Menyikapi Kesalahan Ulama Ahlus-Sunnah

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
           ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

46) Bukan termasuk manhaj salaf, menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat, kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya.

ليس من منهج السلف الهجوم على العلماء والكلام فيهم واطراح علمهم وكتبهم والدعوة إلى حرقهاوإتلافها وتارك الرجوع إليها لمجرد خطأ وقعوا فيه

47) Bukan termasuk manhaj salaf, memusuhi, melawan, membicarakan ulama, serta membuang ilmu dan kitab-kitab mereka. Demikian pula menyerukan untuk membakar kitab-kitab mereka, merusaknya dan tidak mengambil ilmu dari ulama hanya karena mereka terjatuh dalam kesalahan.

Sikap yang Benar Terhadap Ahlul-Bid’ah

ليس من منهج السلف : الركون إلى أهل البدع، والتبسط إليهم

48) Bukan termasuk manhaj salaf, bergaul bersama ahlul-bid’ah dan melapangkan majelis untuk mereka

ليس من منهج ألسلف محبة أهل البدع، أو إحسان الظن بهم، لا يغرهم فصاحتهم و لا بيانهم، يعلمون أنالمرء مع من أحب، كما في الحديث

49) Bukan termasuk manhaj salaf, mencintai ahlul-bid’ah atau berprasangka baik kepada mereka, tidak tertipu oleh kefasihan lisan dan penjelasan mereka. Salaf mengetahui bahwa seorang bersama orang yang ia cintai sebagaimana disebutkan dalam hadits

ليس من منهج السلف توقير صاحب البدعة

50) Bukan termasuk manhaj salaf, memuliakan ahlul-bid’ah

ليس من منهج السلف : الدخول في جدال مع أهل الباطل، فإن المسلم لا يعرض ديبنه للأهواء

51) Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan bersama orang-orang yang berada di atas kebatilan, karena seorang muslim tidak mempertaruhkan agamanya demi mengikuti hawa nafsu

Sikap yang Benar Saat Fitnah Datang

ليس منهج السلف الاستشراف للفتن والخوض فيها، بل كانوا يتجنبونها ويحذرون منها.

52) Bukan termasuk manhaj salaf, menjadi corong dalam fitnah-fitnah dan menyibukkan diri di dalamya. Bahkan dahulu salaf menjauh dan memperingatkan dari berbagai fitnah

ليس من منهج السلف الوقوع في الفرقة والاختلاف والتباغض، وشعارالسلف لا تباغضوا و لا تدابرواوكونوا - عباد الله  إخوانا

53) Bukan termasuk manhaj salaf, perpecahan, perselisihan dan saling membenci. Syiar salaf adalah “janganlah kalian saling membenci, saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

ليس من منهج السلف منازعة العلماء، في كلامهم، فالطالب يعلم أنه طالب وأن بحث هذه المسائل متروكللعلماء، فما بالكم بالنوازل والمسائل الكبار!

54) Bukan termasuk manhaj salaf, mempertentangkan perkataan ulama. Seorang penuntut ilmu harus tahu bahwa ia hanyalah seorang penuntut ilmu. Permasalahan kontemporer dan permasalahan yang besar hendaklah ditinggalkan dan diserahkan kepada ulama, seorang penuntut ilmu tidak diperkenankan membahas permasalahan-permasalahan tersebut

Sumber: Twitter Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah (judul tiap sub bab dan pengelompokan pokok pembahasan berasal  dari penerjemah –Abul-Harits) 
Posted by Abul-Harits at 3:25 AM 

1 comment:

Assalaamu alaykum,

Afwan ustadz, apa mungkin ada sedikit kesalahan dalam terjemahan berikut?

"31) Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ta’ashub dan ghuluw terhadap suatu pendapat. Mereka menyatakan: “Pendapat yang aku yakini pasti benar, tidak mengandung kesalahan sedikitpun, sedangkan orang yang menyelisihiku pasti salah, tidak sedikitpun mengandung kebenaran.”"

Apa mungkin seharusnya (kurang lebih) seperti ini:

"31) Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ta’ashub dan ghuluw terhadap suatu pendapat. Mereka menyatakan: “Pendapat yang aku yakini benar, tapi ada kemungkinan (ihtimal) salah, sedangkan orang yang menyelisihiku salah, tapi ada kemungkinan (ihtimal) benar.”"