Wednesday, June 24, 2015

Kesamaan Ahlussunnah Dan Syiah ( ? )

Ternyata banyak riwayat dalam kitab syiah yang sesuai dengan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam kitab ahlussunnah. Tapi kemana riwayat-riwayat itu? 
Pada dua artikel sebelumnya, kita menjelaskan tentang sisi lain dari ajaran syiah tentang puasa asyura dan juga masalah memukul-mukul dada. 

Seperti yang diketahui bersama, syiah di sekitar kita selama ini meyakini bahwa memukul-mukul dada ketika memperingati Imam Husein adalah amal shaleh. Tapi ternyata ahlulbait sendiri melarangnya. Dan mengancam bahwa memukul paha sekali saja karena ditimpa musibah, itu dapat menggugurkan amal shaleh.

Begitu juga puasa Asyura, syiah meyakini bahwa puasa pada hari Asyura adalahajaran bani Umayah, dan hari Asyura adalah hari duka cita, bukan hari untuk berpuasa. Ternyata kita temukan dalam kitab syiah perintah untuk berpuasa pada hari Asyura.

Di sini nampak adanya perbedaan antara yang diyakini syiah, dan yang ada di kitab-kitab syiah sendiri. Ini mengingatkan kita pada kaum Nasrani yang banyak menyimpang dari ajaran kitab yang mereka anggap suci. 

Dari Abu Abdillah dari ayahnya, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata: Berpuasalah pada hari Asyura, hari kesembilan dan kesepuluh, karena menghapuskan dosa setahun. 

Tahdzibul Ahkam jilid 4 hal 299, 

Al Istibshar jilid 2 hal 134, 

Al Wafi jilid 7 hal 13, 

Wasa’il Syiah jilid 7 hal 337, 

Jami’ Ahadits Syi’ah jilid 9 hal 474-475.


Ternyata riwayat dari ahlulbait ini “senada” dengan hadits yang ada dalam kitab ahlus sunnah, yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa di hari Asyura.


Dari Abu Qatadah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: berpuasa pada hari Asyura, aku beharap bahwa Allah akan mengampuni dosa setahun sebelumnya.

Riwayat Muslim

Abu Dawud

Tirmidzi 

Ibnu Majah

Ahmad 

Baihaqi
  

Begitu juga dengan masalah tepuk dada dan memukul-mukul diri, yang dilakukan oleh syiah karena bersedih akibat peristiwa yang sudah terjadi lebih 1000 tahun yang lalu. Kami menukil riwayat dari kitab syiah tentang larangan memukul diri saat tertimpa musibah.


Dari Muhammad bin Ali bn Husein, dengan sanadnya dari Shafwan bin Yahya dan Muhammad bin Abi Umair, dari Musa bin Bakr, dari Zurarah, dari Ja’far As Shadiq: Siapa yang memukulkan tangannya ke paha ketika ditimpa musibah, maka pahalanya akan gugur.

Dari Muhammad bin Ya’qub, dari Ali bin Ibrahim, dari ayahnya, dari An Naufali, dari As Sukuni, dari Abu Abdillah berkata: Rasulullah SAWW bersabda: orang muslim yang memukulkan tangannya ke paha saat musibah, maka itu menggugurkan pahalanya.

Wasa’il Syiah jilid 3 hal 270, Bab 81

Riwayat ini senada dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab-kitab ahlussunnah:

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: bukan golongan kami mereka yang memukul pipi ketika memisah, menyobek pakaian, dan memanggil dengan panggilan jahiliyah kala berduka.

Shahih Bukhari 

Shahih Muslim

Mushad Ahmad

Sunan Nasa’i

Sunan Tirmidzi



Dan yang menarik, riwayat-riwayat yang senada dengan riwayat ahlussunnah ini tidak pernah dikenal oleh banyak penganut syiah.

Ternyata ada kesamaan antara sumber-sumber ahlussunnah dan syiah, yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya ada banyak kesamaan antara ahlussunnah dan syiah, di mana riwayat-riwayat para imam syiah tidak melenceng dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. 

Ini sesuai dengan perintah Allah pada kaum muslimin untuk mentaati Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di mana ahlussunnah bergegas mengikuti perintah itu, dan meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan teliti, memisahkan mana yang valid dan mana yang cacat, hingga umat bisa mengikuti perintah Allah dan RasulNya shallallahu alaihi wasallam dengan baik.

Perintah ini diikuti juga oleh para imam ahlulbait, dan selama ini syiah selalu mengklaim bahwa merekalah pengikut ahlulbait sejati. Dan ahlulbait tidak akan keluar dari perintah Allah dan RasulNya, yang mana salah satu perintahNya adalah mengikuti ajaran Rasul shallallahu alaihi wasallam .

Selama ini sebagian syiah sering memprakarsai persatuan sunni syiah, tapi mereka menempuh jalan yang keliru, mereka memaksa ahlussunnah untuk bertoleransi pada syiah, dan tidak mengatakan syiah sebagai sesat, tapi di sisi lain syiah tetap bersikeras untuk meyakini akidah imamah, dan meyakini bahwa sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sesat dan kafir. 

Persatuan adalah dengan menemukan kesamaan antara syiah dan ahlussunnah, yaitu dengan mencari riwayat-riwayat yang senada dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dengan mentaati Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka syiah dan ahlussunnah bisa bersatu.

Dan riwayat-riwayat ini jumlahnya sangat banyak dalam kitab syiah, tapi memang riwayat-riwayat yang senada dengan ajaran Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam kitab-kitab ahlussunnah sengaja dikubur dalam-dalam oleh para ustadz dan ulama syiah, agar tidak terjadi persatuan antara sunni dan syiah.


Agar tetap ada perpecahan dalam tubuh umat Islam. Agar musuh tetap bisa melemahkan umat Islam.