Sunday, August 16, 2015

AS, Negara Pelopor Terorisme yang Bangga dengan Aksinya

Ketika musuh-musuh Amerika melakukan kejahatan, mereka disebut kriminal. Ketika Amerika Serikat melakukan kejahatan, mereka tidak disebut seperti itu.
Menurut Pentagon, AS memimpin serangan udara terhadap ISIS. Hanya dua orang sipil yang jadi korban dalam serangan, keduanya pun masih anak-anak. Ada kemungkinan kejadian itu terjadi di Suriah.
Lembaga non-profit, Airwars membuat sebuah laporan baru tentang serangan udara koalisi di Timur Tengah. Dari hasil penelusuran, ditemukan korban sipil sebanyak 591 jiwa dari 50 insiden yang diakui dalam 5.600 serangan udara.
Pada tahun 1928, Arthur Ponsonby, seorang politisi Inggris mengatakan, “Manakala perang mulai digelar, korban pertama adalah kebenaran.” Kebenaran tidak pernah ditentukan secara pasti, yang ada hanya pendistorsian maknanya. Jika seseorang memeriksa seluruh perang yang melibatkan AS dalam sejarah modern, dapat disimpulkan bahwa korbannya adalah rakyat sipil.
Pemerintah AS beserta supporternya –media-media mainstream—jarang mendiskusikan atau membicarakan tentang korban sipil. Ketika hal itu dilakukan, (sejatinya) akan mendorong sebuah pengakuan dosa. Yaitu kita mengakui dosa-dosa seiring pengakuan kita bahwa AS adalah kaum barbar dan biadab, seperti halnya saat AS berpura-pura menunjukkan sebuah ancaman potensial.
“Ketika musuh melakukan kejahatan, mereka disebut para kriminal. Lebih dari itu, kita dapat membesar-besarkan dan berbohong tentang mereka sebebas-bebasnya, “ kata Noam Chomsky dalam sebuah wawancara yang ditampilkan di program Imperial Ambitions tentang “Perbincangan terkait 9/11 atas Dunia”. “(Tetapi) saat kita melakukan kejahatan, (sebutan kriminal) tidak berlaku bagi kita.” imbuhnya.
 Serangan udara AS di Irak
Serangan udara AS di Irak
Sekarang ini, jika Anda mengajukan data korban sipil yang disebabkan AS, Anda harus mengajukan data akurat tentangnya. Padahal, AS sendiri sebenarnya memiliki banyak sejarah terkait korban sipil yang tidak dilaporkan dan secara proaktif terus disembunyikan.

Di tahun 2004, The New York Times memuat berita tentang rekaman percakapan antara Presiden Nixon dan Menlu Henry Kissinger. Dalam sebuah tanggapan, Kissinger mengatakan ia ingin menghapus data pembantaian My Lai tahun 1969, di mana Marinir AS membunuh 500 warga sipil.
Kampanye udara terhadap Vietnam Utara dan penduduk Vietnam Selatan, Viet Cong, yang terus saja gagal, membuat Nixon marah dan menyatakan kekesalannya. “Mereka tidak hanya kosong dari imajinasi, lebih dari itu mereka hanya berpikir tentang mengebom hutan saja, “kata Nixon. “Mereka harus benar-benar pergi dari sana. Saya ingin mereka menghantam segala sesuatu. Saya ingin mereka menggunakan pesawat besar, pesawat kecil, dan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk dapat keluar dari sana, selanjutnya mari mulai memberi mereka kejutan kecil.”
Setelah itu, Kissinger segera menyampaikan arahan itu ke Pentagon. Maka, “Sebuah kampanye pemboman yang massif pun terjadi di Kamboja, kepada apa saja yang terbang dan bergerak.”
Chomsky mengatakan bahwa ini adalah “sebutan paling jelas tentang tindakan genosida yang pernah saya lihat dalam catatan sejarah.”
Lebih dari Sekedar Permainan Angka
Jadi, berapa banyak warga sipil yang telah dibunuh AS di Vietnam dan Kamboja? Yah, itu tergantung kepada siapa Anda bertanya. Jika Anda bertanya kepada pemerintah AS dari “catatan resmi”nya, angka yang Anda dapati sekitar 2 juta jiwa. Namun jika Anda bertanya kepada LSM yang meneliti jumlah korban, angka yang akan Anda dapati mendekati 4 juta jiwa.
 May
Pembantaian May Lai oleh AS di Vietnam
Meskipun ada perbedaan besar antara 2 juta dan 4 juta, terdapat sebuah perbedaan yang lebih besar antara angka 4 juta dan angka korban sipil aksi militer AS di Vietnam yang rata-rata dipercayai orang Amerika. Dalam artikel yang berjudul The Gulf War: A Study of The Media, Public Opinion and Public Knowledge, Justin Lewis melakukan survei terhadap penduduk Amerika. Mereka diminta untuk memperkirakan jumlah rakyat Vietnam yang tewas dalam perang. Jawabannya adalah 100.000, merepresentasikan 5 persen dari perkiraan resmi AS dan 2,5 persen dari perkiraan yang lebih kredibel.
Tentu saja, hal di atas belum termasuk data resmi dan gambaran kredibel tentang kematian pelan-pelan dan menyakitkan 500.000 orang selama beberapa dekade pasca-perang akibat terkena senjata kimia.

Baru-baru ini disebutkan bahwa cerita invasi dan pendudukan AS di Irak di tahun 2003-2010 adalah cerita palsu pejabat pemerintahan Bush terkait angka korban di Irak. Dalam konferensi pers tahun 2005, Presiden Bush pernah ditanya tentang jumlah korban tewas di Irak. Dengan ciri khasnya yang membingungkan dan gayanya yang meremehkan, Bush menyatakan hanya “30.000 warga Irak” yang tewas dalam konflik sejauh ini.
Lancet, sebuah Jurnal Kedokteran Inggris yang sangat dihormati, menerbitkan sebuah “Studi Epidemiologi” pada bulan November 2004 menyimpulkan bahwa lebih dari 100.000 warga Irak telah tewas dalam “aksi kekerasan” sejak awal invasi. Pada tahun 2006, dua lembaga survei –dengan metodologi yang paling akurat untuk menghitung korban—menyebutkan data korban tewas Irak di sebuah tempat mencapai 400.000 sampai 650.000 jiwa. Hal ini tentu saja sebuah “sentilan” terhadap Bush yang hanya menyatakan 30.000 jiwa.

Menurut pengamatan John Tirman, penulis The Deaths of Others: The Fate of Civillians in American Wars, “Ketidakpedulian atas kematian warga sipil dalam perang Amerika bukanlah hal yang asing bagi Irak.” Terdapat sedikit bukti bahwa rakyat Amerika memberi banyak sumbangsih pikiran terhadap penduduk yang tinggal di wilayah negara yang diintervensi oleh militer.”
Tirman menyamakan kurangnya perhatian AS terhadap korban sipil ini dengan istilah dalam psikologi sosial sebagai “hanya sebatas teori dunia”. Ia berpendapat, “Manusia secara alamiah berasumsi bahwa dunia harus teratur dan rasional. Ketika sebutan –hanya sebatas teori dunia—itu terganggu, kita cenderung menjelaskan sebuah peristiwa sebagai penyimpangan. Dan ketika perang mulai berdampak buruk bagi AS, Amerika cenderung mengabaikan, bahkan menyalahkan korban.”
Ketidakpedulian AS
Ketidakpedulian Amerika terhadap korban sipil juga berakar pada rasisme. Sejarawan budaya, Richard Slotkin menyebutnya sebagai “Mitos Garis Perbatasan”, yang menyatakan bahwa Amerika selalu berusaha untuk menaklukkan “musuh liar”. Mitos itulah yang mendorong cara pandang Amerika dalam melihat diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.
“Musuh liar terus membunuh dan para teroris (muncul) tanpa henti… (tujuannya) untuk membasmi atau mengusir sebuah bangsa, (dan) bangsa itupun  belajar untuk merespon sesuatu hal. Sebuah siklus pembantaian dan dendam yang diresmikan dan dapat mendorong kedua belah pihak ke arah perang pemusnahan, “tulis Slotkin.
Ketidakpedulian terhadap orang-orang asing “liar” serta penderitaan mereka, termuat dalam sistem pendidikan umum AS. Susan Fujita, seorang asisten professor sejarah modern AS, melakukan studi tentang buku pelajaran sejarah AS yang diterbitkan di AS antara tahun 1949 dan 2010.
 Bom Atom oleh Amerika di Jepang
Bom Atom oleh Amerika di Jepang
Dari 58 buku pelajaran yang membahas tentang bom atom, hanya 42 buku yang menyebutkan terjadi korban sipil tewas di Hiroshima, sedangkan di Nagasaki hanya 18 buku. Terkait Hiroshima, 35 buku menyebutkan angka yang lebih rendah dari perkiraan jumlah resmi PBB. Sedangkan di Nagasaki, hampir semuanya menyebutkan angka yang lebih rendah dari perkiraan resmi PBB.
Lantas, berapa jumlah yang diperkirakan PBB? Dalam bom Hiroshima disebutkan 140.000 warga sipil tewas, sedangkan Nagasaki 70.000 warga yang tewas. Bandingkan dengan perkiraan resmi AS yang dikeluarkan oleh Badan Survei Bom Strategi AS, jumlahnya masing-masing adalah 70.000 dan 35.000
Penolakan kita untuk menyatakan jumlah kekerasan manusia akan menimbulkan perasaan bahwa kita berusaha untuk mendominasi, menaklukkan, dan menduduki sebagai efek realitas perang dan kedengkian imperialisme AS. “Ini adalah sifat imperialism, di mana penduduk negara yang berkuasa selalu mengetahui atau yang paling akhir peduli tentang kondisi mereka di koloni, “tulis filosof Bertrand Russel baru-baru ini.
Chomsky mengatakan bahwa kita yang terakhir mengetahui, karena “massifnya kampanye propaganda” menghalangi kita untuk mengetahui akan hal itu. Ketika Anda bersikap diam atas kejahatan Anda sendiri, maka hal itu juga disebut sebagai propaganda.
Selanjutnya, coba lakukanlah survei pribadi saat Anda sedang berbincang dengan orang Amerika. Tanyakan, berapa banyak warga sipil yang tewas di Vietnam, Hiroshima, Nagasaki, Irak, Suriah, Panama, Kuba, Nikaragua, Korea, dll… Saya yakin mereka tidak tahu atau peduli. Maka dari itulah Chomsky menulis pada 2014 menyebut Amerika sebagai “Negara Pemuka Terorisme yang Bangga dengan Aksinya”.
Penerjemah: Rudy
Sumber: stopwar.org.uk