Thursday, May 5, 2016

Sikap Munafik Gedung Putih, Ternyata Amerika Yang Izinkan Al-Kadzab Bashar Serang Aleppo. Menlu Saudi: Jika Tidak Bisa Dengan Jalan Politik, Maka Kami Akan Turunkan Syiah Assad Dengan Senjata

Hasil gambar untuk spokesperson

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
Surat al-baqarah (2) ayat 120

Mantan Dubes AS Kritik Kebijakan Washington 
di Suriah

May 4, 2016
Washington – Mantan dubes AS untuk Suriah, Robert Ford menganggap kebijakan Gedung Putih mengenai Suriah sangat “konyol” dan terbilang “munafik”.
“Pemerintah Amerika telah berada dalam situasi yang konyol. Hanya karena keberadaan Jabhah Nushrah, mereka membolehkan pemerintah Suriah menyerang Aleppo,” katanya kepada Anadolu Agency, Selasa (03/05).
Dalam kritikannya tersebut, Ford juga menyalahkan pemerintah AS karena telah mendukung dan mempersenjatai milisi Kurdi PYD, yang memiliki hubungan dengan kelompok Kurdi PKK.

“Saya pikir kebijakan Amerika itu tidak konsisten dan munafik. Saya tidak mengerti bagaimana mungkin orang Amerika memberikan senjata dan material kepada milisi PYD yang memiliki hubungan dengan PKK. Aku tidak tahu bagaimana pengacara Amerika membenarkan hal ini,” bebernya.
Perang di Suriah sendiri telah menjadi salah satu isu kebijakan luar negeri yang paling diperdebatkan oleh Obama. Hal ini dikarenakan, mereka ingin mengatasi kekejaman rezim Assad, namun di sisi lain pihak AS juga ingin memerangi ISIS.
Dengan adanya perdebatan tersebut, pemerintah AS lantas memberikan dukungan persenjataan dan sejumlah material lainnya kepada Kurdi PYD di Suriah utara dan tidak menghiraukan sekutu NATO mereka, Turki.
Ford juga membeberkan bahwa pemerintah AS dan Barat telah menghindari kerja sama dengan para pejuang oposisi Suriah yang menjadi musuh bebuyutan rezim Assad dikarenakan hubungan mereka dengan kelompok-kelompok jihadis seperti Jabhah Nushrah.
Beralih ke pembicaraan damai PBB di Jenewa, mantan dubes AS di Suriah ini menganggap bahwa kurangnya tekanan internasional terhadap pemerintah rezim Assad merupakan sebuah kesalahan.
Selain itu, ia juga mengaku bersalah karena tidak memberikan bantuan kepada pejuang oposisi Suriah pada tahun 2012 dan 2013 untuk menekan pemerintahan rezim Assad.
“Menurut saya, kesalahan kami dikarenakan tidak memberikan bantuan lebih lanjut kepada oposisi Suriah pada tahun 2012 dan 2013. Mungkin butuh dua atau tiga tahun untuk menekan rezim Assad. Jika kita sudah mulai dari 2012 atau 2013, mungkin kita telah melihat kemajuannya saat ini,” pungkasnya.
Sumber: Anadolu 

Menlu Saudi: Jika Tidak Bisa Dengan Jalan Politik, Maka Kami Akan Turunkan Syiah Assad 
Dengan Senjata

Rabu, 27 Rajab 1437 H / 4 Mei 2016 17:30 WIB
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir memperingatkan bahwa senjata akan menjadi pilihan utama kelompok pejuang revolusi jika rezim Syiah Bashar Al-Assad enggan menolak proses politik yang diajukan untuk menyelesaikan konflik di Suriah.
Ancaman ini dilontarkan Menlu Adel al-Jubeir dalam pertemuan dengan Menlu Amerika Serikat John Kerry di Jenewa, Swiss, pada hari Senin (02/05) kemarin, membahas upaya negosiasi damai konflik di Suriah serta pembantaian di kota Aleppo.
“Apa yang dilakukan Syiah Assad dan sekutunya dengan membombardir rumah sakit sipil bertentangan dengan hukum internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2254. Ini adalah tragedi kemanusiaan internasional dimana negara-negara duni menutup mata,” ujar Menlu Adel al-Jubeir dalam konferensi persnya seperti dilansir kantor berita resmi Saudi.
Menlu Adel al-Jubeir melanjutkan, “Jika tidak dapat melaksanakan perubahan dengan jalan politik maka perubahan tersebut akan datang melalui senjata, karena tidak mungkin bagi rakyat Suriah untuk menerima kembali pemimpin yang telah menyebabkan kematian 400 ribu orang tidak berdosa dan menelantarkan 12 juta warganya.”
Meski tidak turun langsung dalam konflik, informasi yang beredar menyebutkan bahwa Kerajaan Arab Saudi dan sejumlah negara Sunni lainnya ikut membiayai perang di Suriah untuk mencegah meluasnya hegemoni Syiah Iran ke kawasan Timur Tengah. (Cnnarabic/Ram)

Mantan Kepala NATO Salahkan AS soal Kebijakan di Suriah

Hasil gambar untuk wesley clark

Washington – Mantan kepala militer NATO mengungkapkan bahwa kelambanan Amerika Serikat dalam menyikapi perang Suriah telah memberikan Rusia kesempatan untuk menyebabkan kekacauan di Timur Tengah.
Dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh fakultas hukum Universitas California, Jenderal AS Wasley Clark berkomentar bahwa masuknya Rusia di Suriah dikarenakan adanya kelambanan AS dalam menyikapi perang Suriah.
“Keadaan konflik dan ketidakstabilan yang terus menerus di wilayah itu memberi Rusia kesempatan untuk mencapai tujuannya untuk hadir di Timur Tengah, menjual senjata dan teknologinya, dan untuk mendapatkan kembali kepemimpinan global di kawasan itu,” tandasnya seperti dikutip dari Middleeastmonitor.com, Sabtu (20/02).
Selain itu, dia juga mencontohkan hal lain, tentang perubahan di Timur Tengah sejak penggulingan Saddam Hussein di Iraq dan kemunculan Turki sebagai kekuatan baru di Timur Tengah.
Berbicara pada acara yang sama, Konsulat Turki di California, Raefa Izaz menyatakan bahwa negaranya telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai stabilitas di kawasan Timur Tengah.
“Turki menyarankan rezim Suriah untuk melaksanakan pemilu sebelum dimulainya krisis. Tetapi mereka lebih suka menggunakan kekerasan sebagai gantinya. Oleh karena itu mereka kehilangan legitimasinya,” bebernya.
Berbicara mengenai Suriah, profesor akademik AS, Damiel Triesman juga mengatakan bahwa Presiden Vladimir Putin telah menggunakan propaganda melawan Turki dengan pelanggaran yang dilakukan jet tempur mereka.
Dia juga mengkhawatirkan eskalasi potensial antara Turki dan Rusia, jika Rusia bergerak menuju perbatasan Turki dengan mengendalikan Aleppo, pemerintah di Ankara akan merespon dengan serangan militer dalam Suriah.
Sumber: Middle East Monitor

Mantan Dubes AS di Suriah: Pasukan Koalisi Internasional Mainkan Peran Sebagai Angkatan Udara Suriah

Washington – Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Suriah, Robert Ford, mengatakan serangan udara yang menargetkan Daulah Islamiyah (ISIS) telah membantu rezim Presiden Suriah, Bashar Assad. Apa yang dilakukan oleh koalisi justru memainkan peran angkatan udara Assad.
“Kampanye serangan udara yang kita mulai pada bulan September telah benar-benar merugikan oposisi moderat. Ini telah mendiskreditkan mereka, karena serangan kita menargetkan wilayah yang diduduki oleh Jabhah Nusrah, yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, yang telah berjuang melawan rezim Assad,” kata Ford dihadapan Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Rabu (19/11).
“ISIS tidak melawan oposisi moderat, mereka melawan rezim Assad,” imbuhnya.
“Bahkan, apa yang kita lakukan adalah kita memainkan peran angkatan udara Assad,” kata Ford.
Lebih dari 200.000 orang telah menjadi korban kebiadaban rezim Bashar Assad. Perang antara pejuang melawan pasukan rezim Suriah itu telah berlangsung sejak awal tahun 2011.
Amerika Serikat memimpin koalisi internasional, yang diantaranya diikuti oleh Perancis, Jerman, dan Arab Saudi. Setelah melancarkan serangan yang menargetkan ISIS di Iraq, pasukan udara koalisi juga menyerang wilayah Suriah. Tak hanya ISIS, serangan mereka juga menargetkan kelompok mujahidin lain di Suriah yang sedang berjuang menghadapi pasukan rezim Assad.
Sumber : Anadolu



Israel, Amerika, dan Iran di Balik Proyek Pecah Belah Umat Islam
Pesan Rahasia Antara 3 Teroris Besar: Obama, Khamenei dan Rouhani, Telah Terbongkar
Pesan Rahasia Antara 3 Teroris Besar: Obama, Khamenei dan Rouhani, Telah Terbongkar