Wednesday, December 17, 2014

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Tidak Mewariskan Tanah Fadak kepada Faathimah

Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa' : di 08.40 
Label: Syi'ah
Salah satu isu andalan kaum Syi’ah Raafidlah dalam mencerca Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu adalah isu tanah Fadak. Mereka mengklaim Abu Bakrradliyallaahu ‘anhu telah berlaku dhaalim dalam menahan tanah Fadak yang dianggap sebagai warisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Sayyidah Faathimah radliyallaahu ‘anhaa. Jika mereka (Syi’ah) mencukupkan diri pada ‘aqidah mereka dengan mengambil ulama-ulama mereka sebagai hujjah, niscaya kita tidak terlalu ambil pusing – karena kita tidak pernah menjadikan perkataan ulama mereka sebagai ushul hujjah dalam agama. Namun ketika mereka mencoba mengkais hadits-hadits dalam referensi Ahlus-Sunnah, maka kita perlu mencermati keakuratannya.

Kesesatan Syiah Menurut Ibnu Khaldun

Posted by Ilham Kadir on Dec 16, 2014 in Artikel, Syiah 
http://miumipusat.org/wp/kesesatan-syiah-menurut-ibnu-khaldun/
Akhir-akhir ini, para penganut, pendukung, dan pejuang Syiah di Indonesia merasa di atas angin. Selain terbitnya buku “Syiah Menurut Syiah, 2014″ oleh organisasi resmi Syiah, Ahlul Bait Indonesia (ABI) yang diberi kata pengantar oleh Bapak Menteri Agama, Drs. H. Lukman Hakim Saefuddin, juga dihelatnya sebuah acara Konferenasi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam “World Congress on Extremist and Takfiri Movements in the Islamic Scholar’s View” (23-24/11/2014) di Kota Qum Iran yang dihadiri 80 negara yang disaring dari 2000 tokoh di seluruh dunia, lalu dipilah dan diundang sekitar 420, dan akhirnya yang hadir 315 orang, dengan prosentase 40% Syiah dan 60% Ahlussunnah, tokoh-tokoh tersebut diambil dari mereka yang punya pengaruh dari kalangan ulama, intelektual, dan akademisi, yang memiliki semangat persatuan dan kesatuan serta melawan segala bentuk ekstrimisme takfiri, (www.abna.com. 23/11/2014).
Dari Sulawesi, ada beberapa tokoh akademis dan ulama yang turut diundang ke acara konferensi internasional tersebut. Melihat tema konferensinya, secara substansial pasti kita setuju semuanya, karena menekankan persatuan (al-ittihad), persaudaraan antarsesama muslim (ukhuwwah islamiyah), mereduksi segala bentuk kekerasan tanpa alasan syar’i, bahkan mengkafirkan sesama muslim tanpa merujuk pada ketetapan dalil baik Al-Qur’an, sunnah, dan fatwa para ulama muktabar.
Namun persoalannya tidak sampai di situ. Kedatangan para ulama dan akademisi dari kalangan Ahlussunnah ke Qom, Iran untuk menghadiri konferensi internasional tersebut menjadi bahan jualan para penganut dan pejuang Syiah Indonesia, lebih khusus yang kuliah di Iran dan mendapat beasiswa.
Ismail Amin misalnya, selain menulis artikel di koran-koran lokal Makassar, Ulama Susel dan Islam Rahmatan Lil-Alamin,(Tribun Timur. 28/11/2014); Pesan Perdamaian dari Rakyat Persia, (Harian Fajar, 29/11/2014) dengan menyebut sederet tokoh lintas organisasi dan lembaga pendidikan di Susel yang turut hadir dalam perhelatan ilmiah tersebut. Umpama nama-nama, Prof. Dr. Qadir Gassing sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, sebagai Dekan Fak. Ushuluddin dan Filsafat, Dr.KH. Mustamin Arsyad, atas nama MUI Makassar, dan seabrak nama tokoh lainnya, lokal maupun nasional.
Persoalannya semakin rumit, karena ia memaksakan kehendak–setidaknya dalam berbagai pernyataannya di media sosial, Facebook–bahwa kedatangan para ulama dan tokoh tersebut sebagai bentuk kekagumannya atas para ulama di Iran, bahkan menurut pria yang mengaku kuliah di Mostafa University of Iran, banyak dari ulama kita yang antre untuk hanya sekadar cipika-cipiki dengan para Ayatollah.
Kekaguman para ulama dan tokoh akademis, baik lokal (Makassar) maupun nasional, kepada ulama Syiah Iran dimanfaatkan sebagai legitimasi keshahihan ajaran Syiah, sekaligus sebagai propaganda penyebaran Syiah di Indonesia. Dan ini memang sudah menjadi taktik Syiah dalam melanggengkan penyebaran faham mereka di tengah masyarakat Ahlussunnah. Bahkan, nama saya pun dibawa-bawa yang konon sangat tertarik untuk berkunjung ke Iran, namun karena permasalahan visa sehingga tidak dapat mengunjungi negeri para mullah itu. Tentu saja, ini adalah tuduhan tak berdasar rekaan Ismail Amin.
Padahal sejatinya, para ulama, terutama dari Makassar yang berangkat ke Iran untuk menghadiri konferensi Internasional tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan legitimasi ajaran Syiah dan dukungan penyebarannya di kalangan masyarakat berpaham Ahlussunnah. Kedatangan mereka jelas dengan tujuan mulia, ukhuwah islamiyah dan mereduksi kekerasan atas nama agama.
Karena itu, perbuatan konyol, bahkan sebuah fitnah yang keji jika harus menjual nama para tokoh dan ulama kita untuk melegitimasi ajaran sesat Syiah, yang sudah difatwakan kesesatannya, mulai dari Imam Syafi’i pada abad ke-3 Hijriah hingga penganut mazhab Syiafi’i abad ke-15 Hijriah ini.
***

Karena para pengusung dan pengasong aliran sesat Syiah di Indonesia banyak menjual nama-nama tokoh dan ulama untuk melegitimasi dan menjustifikasi kebenaran ajaran mereka, supaya dapat disebarkan dengan mudah dan diterima masyarakat umum. Maka ada baiknya jika kita kembali menoleh ke masa lalu. Khususnya mengangkat pemikiran dan pemahaman ulama muktabar kita, yang telah diakui kepakarannya oleh para  ilmuan, Timur maupun Barat. Salah satunya adalah Ibnu Khaldun (1332-1406 M).
Dalam Magnum Opusnya, yang diberi judul “Al-Muqaddimah” sebagai pengantar kitab induknya “Al-Ibar, wa Diwan Al-Mubtada’ wa Al-Khabar, fi Ayyam Al-’Arab wa Al-’Ajam wa Al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi As-Sulthani Al-Akbar”.
Tentang kehebatan dan derajat keilmuan Ibnu Khaldun, saya kutip perkataan seorang orientalis sekaligus pakar sejarah, Arnold Toynbee, “In the Prolegomena [Almuqaddimat] to his Universal History he has conceived and formulated a philosophy of history which is undoubtely the greatest work of its kind that has ever yet been created by any time or place.” (Lihat, A Study of History: The Growths of Civilization [New York: Oxford University Press, 1962]). Syamsuddin Arif menyebutnya, Kitab “Al-Mukaddimah” Karya Ibnu Khaldun tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman manusia dari masa ke masa, (Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008).
Kepakaran Ibnu Khaldun dari berbagai disiplin ilmu, terutama sosiologis sudah diakui oleh jumhur ulama dan ilmuan, karena itulah dia mendapat gelar “Bapak Sosiologi”. Kali ini saya tidak mengangkat masalah sosiologis dalam kitab Al-Muqaddimah, melainkan pemaparan dan pandangannya terhadap aliran sesat Syiah.
Pada Pasal ke-27, Kitab “Kerajaan-Kerajaan Secara Umum, Kerajaan, Kekhalifahan, Jabatan Kepemimpinan, dan Semua yang Berhubungan dengannya.”. Dengan tema “Aliran-aliran Syiah dan Hukum Menegakkan Imamah”, Ibnu Khaldun memulai pembahasannya dengan memaparkan arti Syiah dari segi etimologi dan terminologi.
Katanya, Asy-Syi’ah secara etimologi berarti sahabat dan pengikut. Sedangkan dalam terminologi, para pakar hukum Islam dan pakar ilmu kalam, baik klasik maupun kontemporer diartikan sebagai pengikut Imam Ali bin Abi Thalib. Seluruh aliran Syiah bersepakat bahwa imamah bukanlah kepentingan umum, yang persoalannya diserahkan pada pilihan masyarakat dan pengangkatannya tergantung mereka. Imamah merupakan salah satu rukun Islam dan perinsip dalam Islam menurut Syiah.
Tidak seorang Nabi pun–lanjut Ibnu Khaldun–bagi Syiah boleh melalaikannya dan tidak pula melimpahkannya kepada masyarakat. Mereka harus mengangkat pemimpin dari golongan mereka sendiri, dan imam yang diangkat sebagai pemimpin itu harus bersifat ma’shum atau terbebas dari dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil.
Syiah meyakini, terang Ibnu Khaldun, bahwa Ali bin Abi Thalib telah diangkat Rasulullah menjadi imam berdasarkan teks-teks yang mereka kutif dan mereka takwilkan sesuai kehendak, yang sama sekali tidak dikenal oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, dan tidak pula terdapat dalam kitab hadis. Teks-teks yang mereka kutip sebagian besar adalah maudhu’ alias palsu belaka, terdapat cela dalam sanadnya, atau terjadi penakwilan yang menyimpang terlalu jauh. Bagi orang Syiah, teks-teks tersebut terbagi menjadi dua bagian, jali atau tersurat dan khafi atau tersirat, (Ibnu Khaldun, Al-Muqaddimah, [terj.], Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001). Penjelasan Ibnu Khaldun terkait kesesatan Syiah begitu panjang, gamblang, dan sistematis.
Pernyataan di atas sudah cukup memadai untuk menetapkan bahwa epistemologi akidah syiah sangat rapuh bahkan tidak berdasar karena berpijak di atas dalil yang absurd.
Segenap ajaran agama Syiah tidak terbangun di atas Al-Qur’an dan hadis sebagaimana dipahami Ahlussunnah, melainkan membangun ajaran sendiri dari dalil yang mereka tafsirkan secara serampangan, dan pada tahap tertentu menciptakan ayat dan hadis palsu untuk menjustufikasi ajaran mereka.
Wajar saja, jika pembahasan masalah Syiah, dalam Al-Muqaddimah, ditutup oleh Ibnu khaldun dengan perkataan, Allah berkuasa menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk menuju jalan yang lurus kepada siapa saja yang dikehendakinya.
Maksudnya, Allah menyesatkan Syiah dan membiarkan mereka terus berkubang dalam kesesatan, dan Allah senantiasa memberi petunjuk dan jalan yang lurus kepada golongan Ahlussunnah wal-Jamaah.Wallahu A’lam!
Setu-Bekasi, 3 Nop. 2014. Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas-DDII/Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor. [http://miumipusat.org/wp/kesesatan-syiah-menurut-ibnu-khaldun/]


Tuesday, December 16, 2014

Ulama Sunni Lebanon : Barat Tanam Syiah di Tubuh Umat Islam untuk Menjadi Duri

JUMAT, DESEMBER 12, 2014
LEBANON– Kamis (11/12/14) ulama ahlussunnah Lebanon, Syaikh Ahmad al-Asir, mengatakan bahwa peranng antara barat dan Iran tidak lain hanyalah perang sandiwara, lain halnya dengan perang mereka terhadap ahlussunnah.
Syaikh al-Asir dalam akun resminya di jejaring sosial twitter, “Musuh-musuh kami tidak mendapati kelompok yang baik selain rafidhah (syiah) untuk menjadi duri di tubuh umat kita. Oleh karena itu, kita melihat mereka hanya memerangi Iran di media saja, sementara mereka di lapangan dengan berbagai cara” tuturnya.
“Iran rafidhah membunuh kita (ahlussunnah.red) di Ahwaz, Yaman, Suriah, Irak dan Lebanon” tambahnya seaya menasehati Hamas agar tidak menjalin hubungan dengan Iran.[usamah/twtr]
Komentarku ( Mahrus ali ):
Orang – orang yang sangat memusuhi kaum muslimin adalah orang Yahudi dan orang syirik atau kaum muslimin yang tauhidnya amburadul – katanya bertauhid tapi menyekutukan Allah.Mereka bersama kaum kafirin dan Yahudi gandeng renteng dalam satu fron untuk menghalangi dakwah ahlus sunnah dan melancarkan dakwah ahli bid`ah dan Syirik . Syi`ah yang syirik tidak akan membantu kaum muslimin sunni, malah memusuhinya. Sudah cukup mereka telah membantai kaum sunni di Yaman, Irak, Libanon dan Suriah. Syi`ah bersama Yahudi bersatu padu untuk membantai kaum sunni apalagi yang komitmen kepada tauhid dan ajaran aslinya.
Saya ingat ayat:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ ءَامَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Al Maidah 82




Wednesday, December 10, 2014

NU dan Kekafiran syi'ah

Gus Aab: Kekafiran Syiah Karena Keyakinannya Bertentangan dengan Aswaja

KIBLAT.NET, Depok – “Seandainya ada orang yang mengatakan Ana Syi’iyun (Saya Syiah, red), tetapi dia tidak mengkafirkan para sahabat. Kalau perlu dia juga menerima kekhalifahan Khulafaur Rasyidin yang tiga, maka tidak perlu disesatkan kalau dia tidak meyakini terhadap aqidah-aqidah-aqidah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah.”
Itulah penggalan ceramah KH. Abdullah Syamsul Arifin dalam acaraSilaturahmi Nasional ‘Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional’ di Pesantren Mahasiwa Al-Hikam, Beji, Depok, pada Ahad (07/12).
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jember yang biasa disapa Gus Aab ini mengatakan NU menyesatkan Syiah bukan karena kesyiahannya, tetapi karena keyakinannya yang bertentangan dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja).
Menurutnya, jika seseorang mengaku Syiah tapi tidak memiliki keyakinan yang bertabrakan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal jamaah, maka dia tidak dapat disesatkan.
Maka, Syiah disesatkan bahkan dikafirkan bukan karena kesyiahannya. Tapi, karena keyakinan Syiahnya atau takfirnya terhadap para Sahabat.
“Itu yang dijawab tegas oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asyari bahwa kita harus baariun (berlepas diri, red). Terlepas dari orang-orang yangyukaffiru (mengkafirkan) Aba Bakrin (Abu Bakar Shiddiq RA) termasuk terhadap orang yang yukaffiru (mengkafirkan) Sayyidina Utsman bin Affan dan Umar bin Khattab dan sebagainya,” jelas pria yang akrab dipanggil Gus Aab ini.

Ini Perbedaan Tegas Antara Nahdliyyin dan Syiah dalam Menyikapi Ahlul Bait Nabi SAW

KIBLAT.NET, Depok – Mendiang Gus Dur pernah berkata NU=Syiah minus Imamah. Di kesempatan lain Gus Dur juga pernah menyatakan bahwa NU itu lebih Syiah daripada Syiah itu sendiri. Ungkapan itulah yang kerap digembar-gemborkan kaum Syiah di Indonesia untuk mendekati kaum nahdliyyin.
Namun, Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jember KH. Abdullah Syamsul Arifin menegaskan ada perbedaan yang tegas antara warga Nahdliyyin dengan kaum Syiah.
“Memang secara fungsionalis sosiologis ada kemiripan amaliyah kita (warga NU, red) dengan Syiah, tetapi jangan dianggap bahwa amaliyah kita mengambil dari Syiah,” ujar kyai yang akrab dipanggil Gus Aab ini dalam acara Silaturahim Nasional Penguatan Aswaja di Pesantren Al-Hikam, Depok, pada Ahad, (07/12).
Dia mencontohkan, memang ada persamaan antara NU dengan Syiah dalam hal mahabbah (kecintaan) Ahlul Bait, pujaan-pujaan kepada Rasulullah SAW dalam bingkai shalawat. Namun, ada perbedaan mendasar dalam hal tersebut.
“Kalau kita bicara Ahlul Bait, Ahlul Bait versi Syiah tidak ada yang ditolak oleh Sunni. Tapi, justru penyaringan oleh Syiah yang awalnya ketat menjadi lentur ketika tidak sesuai dengan keinginannya. Sekedar contoh, bagi Syiah, Ahlul Bait dibatasi pada lima, yaitu Rasulullah, Sayyidina Ali, Fatimah, Hasan dan Hussein,” ujarnya.
“Sementara di kalangan Sunni banyak definisi dari Ahlul Bait. Tapi, ketika bicara Syiah awalnya Ahlul Bait dibatasi lima, tapi ketika mereka harus memasukkan imam-imam mereka sebagai Ahlul Bait yang maksum, maka Imam 12 masuknya sekarang jadi Ahlul Bait, inilah ketidakkonsistenan Syiah, jadi beda dengan kita, dasarnya beda,” tambah Wakil Ketua MUI Jember ini.
Gus Aaab menegaskan, NU dengan Syiah memiliki kesamaan dalam konteks amal, tetapi memiliki perbedaan mendasar dalam konteks legal standing-nya (dasar hukum, red).
“Kalau boleh saya rumuskan, ada persamaan dalam tataran fungsional sosiologisnya, tetapi jelas berbeda dalam konteks strukturalis ideologis. Ketika kita punya mahabbah Ahlul Bait itu bukan dalam konteks yang diyakini oleh Syiah,” paparnya.
Bagi Syiah, mahabbah Ahlul Bait itu sebagai upah kenabian atau fungsional rasul. Namun bagi Sunni, mahabbah ahlul bait karena mengikuti mahabbah kepada Rasulullah SAW.
“Tapi, mahabbah ahlul baitpun harus dibatasi kepada ahlul bait yang aqidahnya, amaliyahnya, prakteknya yang sejalan dengan apa yang digariskan oleh Rasulullah. dengan demikian jika ada ahlul bait yang keluar dari konteks tersebut, kita tidak lagi mahabbah kepadanya, karena yang kita hormati itu selain ada unsur nasabnya tidak boleh keluar dari faktor aqidahnya,” jelas Gus Aab.


 Kyai NU: Syiah Mengkafirkan Sahabat untuk Hancurkan Otoritas Agama Islam

KIBLAT.NET, Depok – Wakil Ketua MUI Jember, KH. Abdullah Syamsul Arifin dalam acara Silaturahmi Nasional ‘Penguatan Aswaja’ menilai aksi caci-maki terhadap sahabat Nabi SAW yang kerap dilakukan oleh kelompok Syiah bukan persoalan besar ketika mereka mengaku tidak sebagai Islam, namun sebaliknya menjadi persoalan besar ketika mereka mengaku sebagai Islam.
“Kalau mereka tidak menganggap dirinya bukan Islam, sebetulnya selesai umat Islam. Tidak akan sakit hati dengan Syiah, Tapi, ketika mereka mengaku sebagai Islam kemudian mencederai keyakinanmainstream mayoritas, ini akan muncul masalah,” kata pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember ini di Ponpes Mahasiswa Al-Hikam, Depok pada Ahad, (07/12).
Karena, menurut pria yang akrab disapa Gus Aab ini, persoalan menghormati sahabat bukan sekedar menghormati pribadinya. Namun, itu berkaitan dengan legitimasi sumber keagamaan umat Islam. Berarti, Syiah mengkafirkan para sahabat dengan tujuan untuk menghancurkan otoritas keagamaan dalam Islam.
“Persoalannya apa, ketika mencaci sahabat, bukan hanya persoalan kita harus menghormati sahabat Nabi SAW. Kita harus ingat, jalur transmisi keagamaan kita melalui para sahabat,” ucapnya.
“Ketika sahabat sudah dikafirkan, darimana kita akan mendapatkan sumber otoritatif keagamaan? Hadis menjadi tidak ada karena hadis melalui jalur sahabat,” tambah tokoh yang akrab dipanggil Gus Aab.
Jadi, kata Gus Aab, tidak bisa dianggap sederhana, bukan sekedar satu pihak menghormati dan satu pihak lainnya mencaci maki para sahabatradhiyallahu anhum.
“Kita tidak akan pernah mendapatkan Kutubus Sittah kalau bukan karena jalur perentetan melalui para Sahabat, Ketika Sahabat dibongkar dan semuanya dikafirkan maka secara otomatis semua kitab-kitab hadis sudah tidak dapat dipakai,” tegasnya kembali.

DEPOK (Jurnalislam.com) - Berkembangnya Syi'ah di tengah-tengah umat Islam Indonesia yang mayoritasnya warga Nadliyin membuat tokoh Nadlatul Ulama (NU) Jember KH. Abdullah Syamsul Arifin khawatir. Beliau melihat, perkembangan Syi'ah itu disebabkan ketidaktahuan umat tentang perkembangan Syiah dan liberal secara umum, karenanya hingga warga NU bersikap tenang-tenang saja.
“NU tidak boleh lagi kalem terhadap Syi'ah. Kalau Hadratus Syaikh Hasyim Asyari saja sebelum Syi'ah mengancam dan potensinya berkembang seperti saat ini, sudah secara tegas mengatakan bahwa Syiah itu tidak boleh diikuti dan sebagai mazhab yang sesat. Tentu, NU harus terus menjaga komitmen ini, tidak boleh mengakomodir apalagi mengirim mahasiwanya ke Iran,” tegasnya dalam acara Silaturahmi Nasional ‘Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional’ di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Beji, Depok, Ahad (7/12/2014).
Menurut Gus Aab, sapaan akrabnya, sikap penolakan NU terhadap Syiah perlu ditegaskan kembali karena situasinya sudah sangat mengkhawatirkan, banyak pengaburan perbedaan antara Sunni dengan Syiah, terutama ketika terbentuknya lembaga pendekatan (taqrib) antara Sunni-Syiah.
“Ketika terbentuknya Lajnah Taqrib Baina Mazahib (Majelis Pendekatan Antar Mazhab, red) yang ada di Mesir, banyak tokoh kita yang berbicara di sana. Itu yang kemudian banyak mengkaburkan sekat antara Syiah dengan Sunni, seakan-akan Syiah dengan Sunni itu tidak ada perbedaan dan bisa dipertemukan, walaupun secara teologis berbeda tetapi dapat dipertemukan dalam aspek-aspek fungsionalis sosiologis. Ini yang sangat membahayakan bagi warga Jam’iyah Nahdlatul Ulama, dimana Syiah itu berada ditengah-tengah mereka,” paparnya.
Oleh karena itu, menurutnya, NU tidak boleh bersikap tenang-tenang saja terhadap Syiah, terlebih mengakomodirnya di Indonesia. Dia pun berharap, penolakan Syiah oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari dapat diteruskan oleh mantan Ketua PBNU KH.Hasyim Asyari selaku tuan rumah acara. (kiblat)

KH. Hasyim Asyari Telah Fatwakan Syi'ah Sesat Sebelum Berkembang di Indonesia
DEPOK (Jurnalislam.com) - Sebelum Syi'ah berkembang di Indonesia, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asyari telah menentang dan mewaspadainya. Lebih dari itu, KH. Hasyim Asyari juga telah memfatwakan kesesatan Syi'ah. Pernyataan tersebut disampaikan oleh tokoh NU Jember, KH. Abdullah Syamsyul Arifin dalam acara Silaturahmi Nasional ‘Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional’ di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Beji, Depok, Ahad (7/12/2014).
“Jika melihat fatwa Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari, beliau sangat mewaspadai Syiah, padahal pada masa itu di Indonesia Syiah belum berkembang. Syiah sendiri baru berkembang di Indonesia sejak terjadinya revolusi Iran tahun 1979,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Aab ini seperti dilansir kiblat.net pada Senin (8/12/2014).
Beliau menambahkan, KH. Hasyim Asyari telah dengan tegas memfatwakan mazhab Syiah ini sesat dan tidak boleh diikuti, tidak boleh diambil fatwanya serta tidak boleh diambil hujjahnya.
“Ini fatwa yang dikatakan Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dalam tulisan-tulisannya dan dalam Qanun Asasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujar Wakil Ketua MUI Jember ini.
Meskipun belum mengkafirkan, namun NU telah memandang Syi'ah sebagai aliran sesat yang tidal boleh diikuti oleh Nahdliyin. 
“NU sudah memandang Syiah itu sesat kalaupun tidak dikatakan kafir karena kehati-hatian kita, tidak boleh diikuti oleh Jamiyah Nahdlatul Ulama,” katanya. (kiblat)


Monday, November 24, 2014

Kedustaan Syiah Terhadap Allah, Malaikat, Para Nabi dan Rasul


1) Salah seorang imam Syiah, Al-Majlisiy berkata: “Bab Mereka (Para Imam Syi’ah) Lebih Berilmu dariPara Nabi ‘alaihimussalam”[1]. Kemudian imam Syi’ah tersebut membawakan beberapa riwayat dusta:

Riwayat pertama:  

Abu Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Tuhan Ka’bah ini –tiga kali- , seandainya aku berada di antara Musa dan Khidhir, sungguh aku akan memberitahukan pada mereka bahwa aku lebih berilmu dari mereka, aku akan menceritakan berita yang tidak mereka ketahui”[2]

Riwayat kedua:

Abu Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, tidaklah Adamdiciptakan Allah dengan tangan-Nya, tidak pula ditiupkan ruhnya, kecuali dengan kekuasaan Ali. Tidaklah Allah berbicara kepada Musa kecuali dengan kekuasaan Ali”[3]

Riwayat ketiga:

Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Allah menunjukkan kekuasaanku kepada penduduk langit dan bumi, orang yang mengakui akan mengakuinya dan orang yang mengingkari akan mengingkarinya. Yunus mengingkarinya, sehingga ia dipenjarakan oleh Allah dalam perut ikan hingga ia mengakui kekuasaanku”[4]

Riwayat keempat:

Ketika Ayub ‘alaihissalam ragu terhadap kekuasaan Ali, Allah berfirman kepadanya: “Demi kemuliaanku, sungguh Aku akan memberikan siksaan padamu dengan azabku hingga engkau bertaubat kepada-Ku dengan taat kepada Amirul Mukminin”[5]


2) Al-Majlisiy berkata: “Bab Dikabulkannya Doa Para Nabi Disebabkan Oleh Tawassul dan Syafa’at Mereka (Para Imam Syi’ah)”. Ia kembali membawakan beberapa riwayat dusta:

Riwayat pertama:

Ar-Ridha ‘alaihissalam berkata: “Ketika Nuh hampir tenggelam, ia berdoa kepada Allah dengan hak kami (para imam Syi’ah), maka Allah menyelamatkannya dari tenggelam. Ketika Ibrahim dilemparkan dalam api, ia berdoa kepada Allah dengan hak kami (para imam Syi’ah), maka Allah jadikan api itu dingin dan menjadi sebab keselamatan. Sungguh ketika Musaingin membelah lautan menjadi jalan, ia berdoa kepada Allah dengan hak kami, maka Allah jadikan laut itu kering. Sungguh ketika orang-orang Yahudi akan membunuh Isa, ia berdoa kepada Allah dengan hak kami, maka Allah menyelematkannya dan mengangkat Isa kepada-Nya”[6]  

3) Al-Majlisiy berkata: “Bab Mereka (Para Imam Syi’ah) Mampu Untuk Menghidupkan Orang Mati…”, kemudian ia membawakan empat riwayat hadits.[7]

4) Al-Kulainiy berkata: “Para Imam (Syi’ah) ‘alaihimussalam Mengetahui Kapan Mereka Mati dan Mereka Tidak Mati Kecuali Atas Pilihan Mereka Sendiri”. Kemudian ia membawakan lima riwayat hadits.[8]

5) Salah seorang imam Syi’ah menulis di kitabnya: “Bab Seandainya Bukan Karena Amirul Mukminin, Niscaya Jibril Tidak Mengenal Tuhannya, Tidak Pula Mengenal Namanya Sendiri”[9]

6) Abdul Husain Al-Aminiy An-Najafiy berkata:  “Para Imam (Syi’ah) ‘alaihimussalam adalah anak-anak Allah dari keturunan Ali”[10]. Maha suci Allah dari perkaatan mereka yang keji.

Lalu apa bedanya Syi'ah dengan Kristen dan Yahudi? Bukankah orang-orang Kristen menyatakan bahwa Isa anak Allah, demikian pula orang-orang Yahudi menyatakan Uzair anak Allah!! Allah telah mengkafirkan mereka dengan sebab perkataan tersebut. Allah ta'ala berfirman:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللّهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ. اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Kaum Yahudi berkata, ‘Uzair adalah anak Allah.’ Itulah pernyataan mereka dengan lisan mereka yang menyerupai perkataan orang-orang kafir sebelumnya. Allah melaknat mereka. Oleh karena itu, kemana mereka itu dipalingkan? Mereka telah menjadikan pendeta dan ulama mereka sebagai sesembahan selain Allah, begitu pula terhadap Isa bin Maryam. Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali suapaya hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada tuhan kecuali Dia, Tuhan Yang Mahasuci dari perbuatan syirik mereka.” [QS. At-Taubah: 30-31]

7) Al-Kulainiy berkata: “Bab Para Imam (Syi’ah) ‘alaihimussalam Memiliki Seluruh Kitab Yang Diturunkan Allah dan Mereka Mengetahui Kitab-kitab Tersebut Dengan Berbagai Ragam Bahasa”. Lalu ia membawakan riwayat 
berikut:

Buraid bertanya kepada Abu Abdillah ‘alaihissalam: “Apakah engkau memilikiTaurat, Injil dan kitab-kitab para nabi?.” Ia menjawab: “Kitab-kitab itu berada di sisiku sebagai harta warisan dari para nabi. Kami membacanya sebagaimana para nabi membacanya, kami menyampaikannya sebagaimana para nabi menyampaikannya…”[11]

8) Al-Kulainiy berkata: “Bab Para Imam (Syi’ah) Mengetahui Seluruh Ilmu yang Diberikan Kepada Para Malaikat, Para Nabi dan Rasul”[12]

9) Seorang Imam Syi’ah Kontemporer, Al-Khumainiy berkata: “Sesungguhnya diantara pokok madzhab kami (Syi’ah) bahwa para imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang didekatkan, tidak pula dapat dicapai oleh nabi yang diutus”.[13]

Sungguh tepat penilaian Al-Imam Asy-Syafi'i tentang mereka, beliaurahimahullah berkata:
لم أر أحدا أشهد بالزور من الرافضة

“Aku belum pernah melihat seorang yang lebih dusta dari (Syi'ah) Rafidhah" [As-Sunan Al-Kubra, 29/10]

Kedustaan mana lagi yang lebih besar dari apa yang mereka katakan? Apakah Anda masih ragu tentang kekafiran Syi’ah?

Sumber: Mukhtashar Su’al wa Jawab hal. 323-329

Ditulis oleh Abul-Harits di Madinah, 29 Muharram 1436
http://abul-harits.blogspot.com/2014/11/kedustaan-syiah-terhadap-allah-malaikat.html


[1] Bihaar Al-Anwaar, 26/196 karya Al-Majlisiy dan Ushuul Al-Kaafiy, 1/260-261 karya Al-Kulainiy
[2] idem
[3] BIhaar Al-Anwaar (26/294) dan (40/95)
[4] Bihaar Al-Anwaar (14/391) dan (26/282), Basha’ir Ad-Darajaat Al-Kubraa 
hal. 75
[5] Bihaar Al-Anwaar, 26/267, Kitab As-Saliim hal. 858, Al-Ikhtishaash hal. 250, Basha’ir Ad-Darajaat Al-Kubraa hal. 25-26, Kanzul Fawa’id hal. 264-265
[6] Bihaar Al-Anwaar (11/69) dan (26/325), Wasa’il Asy-Syi’ah (7/103), Al-Qashash hal. 105
[7] Bihaar Al-Anwaar (27/29-31), ‘Uyuun Al-Mu’jizaat hal. 17-32
[8] Ushuul Al-Kaafiy, 1/258-260
[9] Syarh Az-Ziyadah Al-Jami’ah Al-Kabirah, 2/371
[10] Al-Ghadiir, 1/214-216
[11] Ushuul Al-Kaafiy, 1/227
[12] Ushul Al-Kaafiy, 1/255
[13] Wilayatul Faqiih hal. 52, kitab ini telah dicetak pada tahun 1389


Thursday, November 6, 2014

Apakah Rasulullah SAW Sosok Pemimpin Gagal?


Bismillahirrahmaanirrahiim.
*) Baru-baru ini seorang pemimpin kaum paganis, yang biasa menjadikan Ali RA dan keturunannya sebagai sesembahan, menulis disertasi yang isinya mengkritik Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang gagal. Dia nyatakan pendapatnya itu dalam sebuah diskusi bertajuk: “Revolusi Mental: Dari Ali Hingga Jokowi”.
*) Tapi sebenarnya, apa disertasi ini sudah selesai? Sudah bisa dilihat wujudnya sebagai sebuah disertasi? Nah, itu perlu ditanyakan juga. Karena sosok JR itu berkali-kali melakukan manipulasi ilmiah, tanpa sadar dan rasa malu sedikit pun. Seperti contoh, bertahun-tahun dia menyatakan diri sebagai “Profesor” padahal tidak ada institusi akademik resmi di negara kita yang member anugerah profesor kepadanya. Hal seperti ini kan cukup sebagai alasan bahwa yang bersangkutan sudah tidak layak berbicara dalam forum kejujuran dan ilmu.
*) Kami masih ingat, sekitar tahun 1991 ketika JR mengeluarkan buku provokatif, “Islam Aktual”. Waktu itu kami baru masuk sebuah fakultas di Universitas Brawijaya Malang. Senat mahasiswa di sana secara berani mengundang JR untuk berorasi dan diskusi ilmiah (dua sesi). Saat diskusi ilmiah dihadirkan tokoh ustadz dari Persis Bangil sebagai pembanding. Sang ustadz –dengan izin Allah- berhasil membongkar berbagai kekeliruan atau pemalsuan JR terkait riwayat-riwayat yang dia muat dalam bukunya. Ada kalanya dia menyembunyikan teks, ada kalanya memotong teks, ada kalanya menyebut riwayat palsu/lemah, dan sebagainya. Sampai puncaknya, JR mengaku: “Memang, saya bukan seorang ahli hadits.”
*) Bahkan wahai JR, menurut kami, Anda itu bukan ahli ilmu agama apapun. Anda hanyalah “ahli komunikasi” dan orang yang kenyang dengan skandal ilmiah. Keahlian agama apa yang diandalkan dari Anda? Fiqih, Tauhid, Tafsir, Sastra, Sirah, Fikrah Islami, atau apa? Bahkan komunikasi yang Anda lakukan pun sebagian besar berisi propaganda, untuk memasarkan akidah Syiah; bukan komunikasi untuk menjalin kerjasama, saling menghormati, bantu-membantu, atau menyayangi sesama insan.
*) Apa pembaca masih ingat ketika JR mengatakan kata-kata seperti ini: “Apa perlu kami pindahkan perang di Irak ke Indonesia ini?” Atau kata-kata, bahwa dia sudah rindu ingin mengalirkan darah untuk mencapai syahid bersama Imam Husein. Coba tanyakan ke para guru besar komunikasi di seluruh Indonesia, apakah kata-kata seperti itu termasuk gaya komunikasi beradab?
*) Kembali ke soal kritik JR ke Rasulullah SAW. Katanya, dia mengutip pendapat Arnold Toynbee ketika berbicara tentang kepemimpinan Rasulullah SAW. Toynbee antara lain mengatakan: “Ajaib, Muhammad adalah seorang yang cerdas dan seorang manajer yang brilian. Ternyata, dia tidak berhasil mengorganisasi masyarakat sesudahnya, karena dia tidak meninggalkan siapa pemimpin masyarakat sesudahnya. Dia pergi begitu saja, tanpa meninggalkan siapa yang dia amanati untuk memimpin masyarakat.” (Sumber:Syiahindonesia.com).
*) Jujur, kami malas membahas pemikiran orang ini, part to part. Sudah terlalu banyak reputasi negatif menyertai orang ini. Andaikan kita pandang pendapat dia layak sebagai sebuah topik diskusi; dia tak pantas masuk area penghargaan itu. Pengelabuan-pengelabuan ilmiah yang dia lakukan sudah terlalu banyak. Buku-buku yang dia tulis tak lepas dari distorsi dan penyesatan yang diulang terus-menerus. Nas’alullah al ‘afiyah minal fitnah wa ahliha.
*) Kalau kita tanyakan: “Wahai JR, apa tujuanmu menulis kritik semacam itu? Apa dirimu merasa lebih hebat dari Rasulullah SAW?” JR dan kawan-kawannya sudah gerilya memasarkan akidah Syiah Imamiyah sejak tahun 80-an. Kalau dihitung tahun, sampai kini sudah 30-an tahun mereka berjuang. Hasilnya apa? Apakah akidah Syiah Imamiyah berhasil menguasai Nusantara? Bandingkan dengan Rasulullah SAW. Tuntas beliau memimpin 23 tahun, di Makkah dan Madinah. Sebelum wafat, beliau sudah berhasil membebaskan Madinah, Makkah, dan kota-kota di sekitarnya. Beliau berhasil memukul mundur pasukan Romawi, berhasil menggulung kaum Yahudi, berhasil membersihkan ancaman kaum musyrikin (paganis), serta meletakkan fondasi peradaban Islam yang kokoh. Tidak lama setelah Nabi SAW wafat, hanya sekitar 10 tahun kemudian, Islam telah menguasai Jazirah Arab, Persia, Mesir, Syam, Asia Tengah, dan wilayah sekitarnya. Bandingkan dengan kepemimpinan JR di komunitas Syiah Imamiyah!
*) Mungkin orang berkata: “Bukankah penaklukan-penaklukan Islam terjadi setelah Nabi Muhammad wafat? Bukan di zaman beliau sendiri.” Kami jawab: “Bagaimana Khalifah sesudah Nabi SAW bisa menaklukkan negeri-negeri, jika tidak memiliki fondasi kuat yang telah ditinggalkan beliau? Lagi pula, para Khalifah itu kan kader-kader beliau sendiri yang dididik dengan tangan, sentuhan hati, dan keteladanan beliau. Justru ciri keagungan Kenabian Rasulullah SAW, beliau sepenuhnya bertugas MENYEMPURNAKAN RISALAH, bukan menaklukkan wilayah-wilayah. Nabi SAW berbeda dengan Sulaiman atau Dzulqarnain yang semasa hidupnya banyak menaklukkan kaum-kaum. Bila akhirnya beliau menaklukkan Makkah, karena kota tersebut sudah dijanjikan Allah akan jatuh ke tangan kaum Muslimin dan kota itu amat sangat penting artinya bagi masa depan kaum Muslimin.”
*) Bagaimana dengan kritik JR, bahwa kepemimpinan Nabi SAW gagal? Ya intinya, kata-kata ini dan semisalnya, adalah kata-kata yang hendak MELAWAN FIRMAN ALLAH. Allah SWT sudah menegaskan: “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah, li man kaana yarjullaha wal yaumal akhira wa dzakarallaha katsira” (sungguh telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik, bagi siapa yang mengharap perjuampaan dengan Allah dan Hari Akhirat, sedangkan dia banyak berdzikir mengingati Allah; Al Ahzab: 21).
*) Bagi orang beriman, Rasulullah SAW adalah sosok teladan ideal, paripurna, tiada cacat dan kelemahan. Termasuk dalam kepemimpinan beliau. Kalau ada orang yang meragukan itu, bahkan mengkritik dan mencela kemampuannya. Berarti yang bersangkutan bukan termasuk kaum yang “yarjullaha wal yaumal akhira”. Orang semacam apa itu? Ya tafsirkan saja sendiri.
*) Selanjutnya, kita bicara tentang poin inti pemikiran JR atau Toynbee, sebagaimana disebutkan di atas. Mari kita uji, benarkah tuduhan mereka bahwa Nabi SAW gagal mengorganisir masyarakat? Nas’alullah al ilma wal irsyad war rahmah.
# Apakah gara-gara tidak menunjuk pemimpin pengganti, seorang pemimpin disebut gagal? Ini adalah logika yang aneh, bahkan menjurus koplak. Mengapa? Anda lihat sendiri bagaimana Presiden Amerika, Perdana Menteri Jepang, atau Kanselir Jerman; apakah ketika mereka lengser, mereka lalu menunjuk seseorang untuk menggantikan dirinya? Apakah ketika mereka tidak menunjuk pemimpin pengganti, lalu dianggap kepemimpinan mereka sudah gagal?
## Di Korea Utara, pemimpin republik komunis Kim Il Tsung sebelum lengser dari jabatan, dia telah mempersiapkan putranya sebagai pengganti, Kim Jong Il. Setelah Kim Il Tsung mangkat, dia diganti putranya. Aneh sekali, negara republik tapi tatacara seperti kerajaan. Apa cara semacam itu yang diingkan oleh JR, Toynbee, dan kawan-kawan?
## Mengangkat pemimpin pengganti sebenarnya boleh saja, sebagaimana kebiasaan di negara-negara kerajaan. Tapi atas legalitas apa hal itu dilakukan oleh Nabi SAW? Apakah beliau ingin mewariskan tahta kepada anak-keturunannya, sedangkan sistem politik yang beliau tinggalkan bukanlah kerajaan? Andaikan beliau secara tegas menunjuk seseorang sebagai penggantinya; berarti hal itu akan menjadi SYARIAT yang diikuti oleh pemimpin-pemimpin setelah beliau. Tunjuk-menunjuk ini bisa berakibat konflik, jika mental masyarakat yang ada di sana tidak siap menerima titah penunjukan. Bukankah sudah sering terjadi, ketika seorang raja menunjuk pemimpin pengganti, hal itu tidak diterima oleh para pejabat di sekitarnya, lalu menimbulkan konflik.
## Jalan terbaik untuk suksesi kepemimpinan adalah MUSYAWARAH di antara manusia-manusia pilihan yang ada di sebuah negara. Inilah yang kerap disebut sebagai konsep Majelis Syura; atau ada juga yang menyebut musyarawah di antara dewan Ahlul Halli wal Aqdi. Dan hal itu pula yang ingin ditinggalkan oleh Nabi SAW kepada Ummatnya, yaitu musyawarah dalam segala urusan; apalagi menyangkut masa depan kepemimpinan. Dan faktanya, beliau berhasil meninggalkan akhlak musyawarah ini sehingga kemudian terpilih pemimpin terbaik penggantinya, Khalifah Abu Bakar RA.
## Nabi SAW telah menempuh jalan terbaik untuk memilih penggantinya. Beliau tidak “main tunjuk hidung”, tapi dengan memberi isyarat. Isyarat itu kemudian menjadi bahan bagi para Shahabat RA untuk memilih pengganti yang paling tepat. Isyarat beliau berikan ketika menunjuk Abu Bakar RA sebagai imam shalat jamaah menggantikan posisi beliau. Hasil akhir kepemimpinan tetap diputuskan dengan musyawarah; tapi Nabi SAW sudah mengarahkan agar nanti kaum Muslimin sangat memperhatikan kandidat yang beliau rekomendasikan. Bukankah ini adalah kebijakan politik yang luar biasa? Tidak memaksa Ummat, tapi juga tidak melepaskan mereka 100 %? Apakah nalar berpikir JR atau Toynbee sudah sejauh itu? Kalau sehari-hari yang dipikir “siapa nih giliran yang akan gue mut’ah”; ya tak akan sampai kepada kesimpulan seperti itu.
# Kalau Anda (pembaca) seorang manajer, atau seorang pemimpin, atau seorang komandan, atau seorang ayah, dan sebagainya; lalu Anda menjalankan kepemimpinan sekian lama. Apa indikasi kepemimpinan Anda dianggap berhasil? Setujukah Anda jika aspek KEMANDIRIAN adalah identifikasi bagus untuk melihat kualitas kepemimpinan Anda? Maksudnya begini friends, kalau Anda telah memimpin, lalu melihat orang-orang yang Anda pimpin ternyata sudah mandiri, dewasa, bisa inisiatif sendiri; itu tandanya kepemimpinan Anda sudah sukses. Jadi Anda berhasil memberdayakan orang-orang yang Anda pimpin. Bukan semodel kata-kata ini: “Gue lapor ustadz dulu. Saya nunggu titah, Pak Kyai. Kami menantikan arahan Bapak XXX, pemimpin kami, guru kami, yang kami cintai.” Kemandirian bawahan/pengikut merupakan bukti keberhasilan sang pemimpin. Dan Nabi SAW sudah membuktikan hal itu. Beliau meninggalkan Ummat dalam keadaan dewasa, kritis, mandiri. Ini merupakan bukti keberhasilan kepemimpinan Nabi SAW, bukan kegagalan.
Terus apa lagi ya, sebentar dipikir-pikir dulu… Setahu kami saat Khomeini wafat, dia juga tidak mengangkat pemimpin pengganti. Ali Khameini baru diputuskan kemudian menjadi pengganti Khomeini, setelah dia wafat. Termasuk presiden Iran saat lengser juga tidak menunjuk seseorang pengganti. Apa ada presiden Iran menunjuk presiden pengganti?
*) Sedkit kami singgung soal tuduhan JR bahwa Ummul Mukminin Aisyah RA sebagai sosok pencemburu, pembuat makar, penghina Nabi, dan seterusnya. Haduh, orang ini ya, kelakuan sangat berlebihan. Berulang-ulang JR ini bikin skandal ilmiah, sudah banyak dibantah dan dibongkar; masih saja terus memproduksi hal-hal semacam itu. Kok tidak malu ya? Anda itu punya kehormatan apa tidak sih, Pak JR? Sebagai manusia wajar, mbok ada rasa malu gitu lho. (Saking malunya diskusi tentang orang ini, kami sampai enggan menulis namanya. Malu boss menulis nama dia).
*) Sudahlah kami tak usah berpanjang-panjang komentar soal penghinaan atau tuduhan JR kepada Ummul Mukminin RA. Begini saja JR, ini sebuah test mudah buat kamu. Ummul Mukminin Aisyah RA itu hafal ratusan atau mungkin ribuan hadits Nabi SAW. Sekarang kamu wahai JR, coba ambil buku riwayat hadits versi Syiah Imamiyah yang paling favorit bagi kamu. Terus kamu ambil 20 teks riwayat dari buku itu. Jangan ambil riwayat dari Ahlus Sunnah, tapi dari rujukan Syiah saja. Setelah itu kamu hafalkan 20 riwayat hadits Syiah itu baik-baik. Selanjutnya kamu di-test kemampuan hafalanmu. Apakah kamu bisa menghafal 20 riwayat itu persis seperti tertera dalam buku kamu? Itu sajalah. Kalau kamu mampu lakukan itu, hafalanmu baru 20 riwayat. Sedangkan Ummul Mukminin RA ratusan, hingga ribuan riwayat. Tapi kalau kamu gagal hafal, sampai ada salah sedikit saja, tidak sesuai teks; berarti kamu ini termasuk tipe orang BIG MOUTH; kemampuan cethek tapi hendak mengkritik manusia-manusia agung. Oh ya, metode TEST HAFALAN ini bisa dipakai untuk membantah para penganut Syiah Imamiyah yang sok mengkritik para Shahabat Nabi dan isteri-isteri beliau RA. Kalau mereka mencela ini dan itu, coba tantang untuk test hafalan riwayat. Test hafalan ayat Al Qur’an juga boleh. Kalau mereka merasa lebih pintar dari Shahabat coba tanya, seberapa banyak mereka hafal hadits atau ayat Al Qur’an!
*) Mungkin kaum Syiah Imamiyah itu ingin membantah balik: “Kalau begitu Anda kaum Sunni juga harus ditest tentang riwayat-riwayat Sunni!” Jawab kita sederhana: “Kan kami tidak menghina para Shahabat RA. Kami tidak merasa lebih baik dari mereka, apalagi sampai mengkritik mereka. Tidak, kami bukan seperti itu. Test tersebut kan berlaku bagi orang-orang sok suci yang hendak mengkritik manusia-manusia besar. Buktikan kalau para pengeritik itu lebih pandai dari yang dia kritik!”
*) Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala azwajihi wa dzurriyatihi, wa ashabihil kiram ajma’in; wa ‘alaihim barakah wa salamah wa ‘afiyah. Matur nuwun.
https://abisyakir.wordpress.com/2014/11/05/apakah-rasulullah-saw-sosok-pemimpin-gagal/



Wednesday, November 5, 2014

Bukti : Pernyataan Ulama Syi’ah Bahwa Al-Qur’an Kaum Muslimin Tidak Otentik (From Shiah’s TV Channel)

Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa' : di 13.31 
Label: Syi'ah

Ini adalah pernyataan dari Ayatullah (Dr.) Al-Qazwiiniy, salah seorang ulama besar Syi’ah yang sangat disegani saat ini, bahwasannya Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin tidak otentik. Menurutnya, firman Allah ta’ala :
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” [QS. Aali 'Imraan : 33].
Menurutnya, yang benar adalah :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ وَآلَ مُحَمَّدٍِ عَلَى الْعَالَمِينَ
““Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”.
Tambahan kalimat yang berwarna merah ini dihilangkan oleh para shahabatradliyallaahu ‘anhum – (dan ini adalah kedustaan yang sangat nyata !!).
Itulah yang dikatakan oleh Al-Qazwiiniy yang ia nisbatkan (secara dusta) kepada Ja'far Ash-Shaadiq rahimahullah, semoga Allah memberikan hidayah kepadanya. Dan inilah rekaman video yang memuat perkataannya itu :

Allah ta’ala berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [QS. Al-Hijr : 9].
Jika Anda tidak waspada, maka Anda akan digiring oleh pemahaman-pemahaman mereka, yang akhirnya (jika Anda membiarkan diri Anda larut dengan syubuhaat Syi’ah Raafidlah) - Anda akan mendustakan agama Islam dan membenarkan agama Syi’ah. Dan Syi’ah Raafidlah bukan Islam. Agama Syi’ah bukanlah agama yang dianut oleh Ahlul-Bait.
Wallaahul-musta’aan.
[abul-jauzaa’ – ngaglik, sleman, yogyakarta - 1432].

[http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/06/bukti-pernyataan-ulama-syiah-bahwa-al.html]