Sunday, January 18, 2015

Aqidah Syi'ah Mencela Sahabat = Mencela Qur'an = Mencela Hadits = Mencela Allah = Mencela Nabi = Mencela Ahlul Bait

Mencela, melaknat dan mengkafirkan para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ibadah yang sangat mulia di sisi kaum yang beragama Syi'ah. Kalau dahulu mereka bertaqiyah (baca berdusta) menyembunyikan aqidah busuk mereka terhadap para sahabat, akan tetapi kebusukan mereka itu terungkap juga, bahkan mulai banyak dari tokoh-tokoh mereka yang terang-terangan mencaci maki dan melaknat para sahabat, (silahkan baca kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/65-bau-busuk-syiah-akhirnya-tercium-juga, lihat juga tulisan al-akh al-kariim al-Ustadz Abul Jauzaa' di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan.html)
'Aaamir bin Syarahbil As-Sya'bi rahimahullah (salah seorang imam dari para tabi'in yang bertemu dengan sekitar 500 sahabat, dan beliau wafat tahun 103 H) berkata:

وَفَضُلَتِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى عَلَى الرَّافِضَةِ بِخَصْلَتَيْنِ : سُئِلَتِ الْيَهُوْدُ مَنْ خَيْرُ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوا : أَصْحَابُ مَوْسَى، وَسُئِلَتِ الرَّافِضَةُ : مَنْ شَرُّ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوْا : أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ، وَسُئِلَتِ النَّصَارَى : مَنْ خَيْرُ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوْا : حَوَارِيُّ عِيسَى، وَسُئِلَتِ الرَّافِضَةُ : مَنْ شَرُّ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوْا : حَوَارِيُّ مُحَمَّدٍ، أُمِرُوا بِالاِسْتِغْفَارِ لَهُمْ فَسَبُّوْهُمْ
"Kaum Yahudi dan Nashoro lebih mulia dari pada kaum syi'ah dari dua sisi. (*Pertama :) Kaum yahudi ditanya, "Siapakah umat kalian yang terbaik?", mereka menjawab, "Para sahabat Musa". Dan kaum Rofidhoh ditanya, "Siapakah kaum terburuk dari umat kalian?", mereka menjawab, "Para sahabat Muhammad". Dan kaum Nashooro ditanya, "Siapakah umat kalian yang terbaik?", mereka menjawab, "Para pengikut setia 'Isa", dan kaum Rofidhoh ditanya, "Siapakah dari umat kalian yang terburuk?", mereka menjawab, "Para pengikut (sahabat) setia Muhammad".(*Kedua :) Mereka (kaum Rofidhoh) diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para sahabat malah mereka mencela para sahabat" (*berbeda dengan kaum yahudi dan nashoro yang malah memuji dan mendoakan para sahabat Musa dan sahabat Isa-pent) (Syarh Ushuul I'tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah, karya Al-Laalikaai hal 1462-1463, dinukil juga oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya pada tafsir surat Al-Hasyr ayat 10)

Asy-Sya'bi mengisyaratkan firman Allah
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٠)
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang" (QS Al-Hasyr : 10).

Sesungguhnya konsekuensi dari mencela dan melaknat para sahabat serta meyakini bahwa mayoritas mereka telah kafir sangatlah berbahaya, diantaranya:

PERTAMA : Melazimkan timbulnya keraguan terhadap Al-Qur'an dan Hadits-Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena para sahabatlah yang telah meriwayatkan kepada kita Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Jika ternyata para perawinya adalah orang-orang fasik, terlaknat, bahkan murtad maka tentunya sangat diragukan kebenaran apa yang mereka riwayatkan, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karenanya mereka berkeyakinan bahwa telah terjadi penyimpangan dalam Al-Qur'an, diselewengkan oleh para sahabat !!!

KEDUA :  Keyakinan ini melazimkan bahwa umat ini adalah umat yang terburuk yang Allah keluarkan bagi manusia. Karena nenek moyang mereka (yaitu para sahabat) adalah orang-orang murtad, sehingga kita sekarang telah mengambil agama kita dari ajaran kaum murtad. Padahal Allah telah berfirman tentang para sahabat :
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia" (Qs Ali Imron : 110)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menekankan hal ini dalam sabdanya;
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu para sahabat)" (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

KETIGA : Konsekuensi dari keyakinan busuk ini adalah mencela Allah. Karena keyakinan kafirnya mayoritas para sahabat mengandung tiga kemungkinan.

Pertama : Allah adalah Jahil, sehingga memuji para sahabat dengan pujian yang luar biasa dalam Al-Qur'an yang akan dibaca oleh kaum muslimin hingga hari kiamat kelak, padahal mereka para sahabat akan murtad. Namun Allah tidak mengetahui akan kemurtadan mereka sehingga memuji para sahabat.

Kedua : Allah telah mengetahui bahwasanya para sahabat akan murtad, akan tetapi Allah tetap saja memuji mereka. Ini menunjukan Allah telah melakukan perkara yang sia-sia tanpa faedah. Apa faedah Allah memuji suatu kaum yang akan murtad??

Ketiga : Jika Allah telah mengetahui para sahabat akan murtad lantas tetap memuji mereka bukankah ini berarti Allah menghendaki hamba-hambanya sesat sebagaimana para sahabat??!!

KEEMPAT : Keyakinan busuk ini juga mencela hikmah Allah yang telah memilih kaum yang akan murtad menjadi para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan Nabi menikah dengan Aisyah putri Abu Bakar dan juga Hafsoh putri Umar bin Al-Khotthoob. Serta Nabi menikahkan kedua putrinya (Ruqoyyah dan Ummu Kaltsuum) dengan Utsmaan bin 'Affaan. Bagaimana bisa kok Allah menjadikan para sahabat, para penolong Nabi dan juga sebagai keluarga Nabi dari kaum yang akan murtad??!!

KELIMA : Keyakinan busuk ini melazimkan pencelaan terhadap syari'at Islam. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berjuang dengan keras selama 23 tahun untuk mendidik para sahabat agar menjadi masyarakat tauladan. Akan tetapi kaum syi'ah rofidhoh menyatakan bahwa perjuangan Nabi untuk mentarbiah para sahabatnya selama kurang lebih 23 tahun adalah perjuangan yang sia-sia. Tidak ada yang berhasil Nabi didik kecuali sekitar 4 orang atau kurang dari 10 orang. Adapun ratusan para sahabat yang lain semuanya langsung murtad begitu wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Hal ini melazimkan perkara yang sangat fatal, yaitu timbulnya keputusasaan untuk membina umat manusia dengan syari'at Islam. Jika syari'at yang dibawa bahkan dipraktekan oleh manusia terbaik (yaitu Nabi) dengan bentuk praktek tarbiyah/mendidik yang terbaik dengan waktu yang puluhan tahun itupun tidak bisa mendidik dan menciptakan suatu generasi yang sholeh…bahkan menimbulkan generasi yang murtad…??!! ini menunjukkan bahwa manhaj/syari'at Islam tidak mampu untuk mentarbiyah/mendidik umat manusia.

KEENAM : Hal ini juga menimbulnya keraguan akan kenabian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena jika sang pembawa Risalah dengan bimbingan Allah dalam waktu yang lama tidak mampu mendidik suatu kaum maka sangatlah diragukan kenabiannya.

Kalau memang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam benar dalam pengakuannya sebagai Nabi tentunya dakwahnya akan memberikan pengaruh kepada masyarakat/kaum yang ia dakwahi. Tentunya kaum yang dia dakwahi akan menerima dakwahnya dengan sepenuh hati. Akan tetapi kenyataannya malah mereka menjadi murtad??, masyarakat yang ia dakwahi tidak bisa mengambil manfaat darinya. Lantas bagaimana mungkin ia diutus sebagai rahmatan lil 'aalamiin (rahmat bagi seluruh alam)??!! (silahkan rujuk risalah I'tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah fi As-Shohaabah karya DR Al-Wuhaibi, hal 42-45)

Imam Malik berkata
إنما هؤلاءِ أقوامٌ أرادوا القدحَ في النبيِّ صلى الله عليه وسلم فلَمْ يُمكنهم ذلك , فقدَحُوا في أصحابه حتى يُقال : رجلُ سوءٍ ، ولو كانَ رجلاً صالحاً لكانَ أصحابهُ صالحين
"Sesungguhnya mereka adalah kaum yang ingin mencela Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi hal itu tidak memungkinkan mereka, maka merekapun mencela para sahabat Nabi, agar dikatakan : Muhammad adalah seorang lelaki yang buruk, kalau seandainya ia adalah seorang lelaki yang sholeh tentunya para sahabatnya juga kaum yang sholeh" (Risaalah fi sabb As-Shohaabah hal 47)

KETUJUH : Tatkala kaum agama Syi'ah Roofidoh mengkafirkan Ummul Mukminin Aisyah, bahkan menyatakannya sebagai wanita pezina maka hal ini sesungguhnya merupakan celaan keras bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sang suami. Allah telah berfirman
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (٢٦)
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)" (QS An-Nuur : 26)

Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa wanita-wanita keji (pezina) hanyalah buat para lelaki pezina pula. Menuduh Aisyah sebagai wanita kafir bahkan pezina sangatlah menyakitkan hati Rasulullah sebagai seorang suami. Bahkan terkadang lebih menyakitkan bagi seorang suami jika istrinya dikatakan pezina daripada dirinya sendiri yang dituduh berzina, karena hal ini melazimkan bahwasanya seorang suami telah rela dan betah tinggal bahkan seranjang dengan seorang pezina !!!.

Karenanya tatkala terjadi peristiwa al-ifk (yaitu dituduhnya Aisyah berzina dengan Shofwan bin Mu'atthol As-Sulami) maka Nabipun sangat tersakiti, sampai-sampai beliaupun mengeluhkan hal tersebut kepada para sahabat. Beliau berkata:
مَنْ يَعْذُرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْل بَيْتِي؟
"Siapakah yang menolongku untuk membalas yang telah menyakiti ahli baiti (istriku)?" (HR Al-Bukhari no 4750 dan Muslim no 2770, lihat syarah hadits ini di Fathul Baari 8/470)

Maka berkatalah Sa'ad bin Mu'aadz radhiallahu 'anhu pun berdiri dan berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ : أَنَا وَاللهِ أَعْذُرُكَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مِنَ الأَوْسِ ضَرَبْنَا عُنُقَهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا مِنَ الْخَزْرَجِ أَمَرْتَنَا فَفَعَلْنَا فِيْهِ أَمْرَكَ
"Wahai Rasulullah, demi Allah saya yang akan menolongmu terhadap orang tersebut, jika dia dari suku Al-Aus maka kami akan memenggal lehernya, dan jika ia berasal dari saudara-saudara kami suku Al-Kozroj maka silahkan perintahkan kepada kami apa yang harus kami lakukan padanya maka kami akan menjalankan perintahmu"

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkari perkataan S'ad bin Mu'adz yang sangat menggebu-gebu ini.

KEDELAPAN : Mengkafirkan para sahabat mulia seperti Abu Bakar dan Umar sesungguhnya merupakan celaan kepada Ali Bin Abi Thoolih radhiallahu 'anhu. Hal ini nampak dari beberapa sisi :

Pertama : Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu menamakan beberapa putranya dengan nama-nama sahabat, yang menunjukkan kecintaan Ali kepada mereka.

Nama merupakan perkara yang penting, karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan sebagian sahabat untuk merubah nama-nama mereka yang mengandung makna yang buruk. Terlebih lagi nama seorang anak sangatlah bermakna bagi orang tuanya. Orang tua akan berusaha memilihkan nama yang baik bagi anaknya. Bahkan dari nama seorang anak kita akan tahu pola berfikir atau aliran yang dianut oleh sang ayah, karena kerap kali sang ayah memberi nama anaknya dengan nama tokoh yang ia kagumi. Jika sang ayah sedang gandrung pada seorang artis maka iapun menamakan anaknya dengan nama artis tersebut, jika sang ayah sedang gandrung dan kagum dengan salah seorang tokoh agama maka iapun menamakan sang anak dengan nama tokoh tersebut. Tidak ada sejarahnya seorang ayah menamakan anaknya dengan nama tokoh yang ia benci dan ia laknati. Karenanya tidak seorangpun dari Yahudi dan Nasrani yang menamakan anaknya dengan nama Muhammad, karena kebencian mereka kepada Muhammad. Dan tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang menamakan anaknya dengan nama Abu Jahl, atau Abu Lahab, atau Fir'aun…karena kebencian kaum muslimin kepada mereka.

Ternyata….Ali bin Abi Thoolib radhiallahu 'anhu memiliki anak-anak yang bernama Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali, hal ini tentunya karena begitu cintanya beliau kepada Abu Bakar, Umar dan Utsman maka. Ketiga putra beliau tersebut termasuk orang-orang yang meninggal tatkala peristiwa karbala bersama saudara mereka yang terbunuh Al-Husain bin Ali radhiallahu 'anhumaa.

Demikian pula ternyata Al-Hasan bin Ali telah menamakan sebagian anak-anaknya dengan nama Abu Bakr, Umar, dan Tolhah. Yang ketiga putranya tersebut juga terbunuh dalam peristiwa karbala.

Demikian pula halnya dengan Al-Husain beliau memiliki seorang putra yang bernama Umar.

Demikian pula halnya dengan Ali bin Al-Husain bin Ali telah menamakan putrinya dengan nama Aisyah, serta menamakan salah seorang putranya dengan nama Umar !!!  

Kedua : Ali menikahkan putrinya Ummu Kaltsum dengan Umar bin Al-Khottoob, maka apakah Ali menikahkan putrinya dengan seorang toghuut…sungguh ini merupakan perbuatan seorang ayah yang tidak tahu diri bahkan menjerumuskan putrinya pada kesesatan bahkan kekafiran !!!.

Jika kita memiliki seorang putri maka apakah kita akan rela menikahkannya untuk hidup bersama bahkan seranjang dengan seorang fasiq dan mujrim??, apalagi dengan seorang kafir yang mujrim??!!. Lantas jika Umar bin Al-Khottoob adalah seorang kafir murtad yang mujrim maka kenapa begitu teganya Ali menikahkan putrinya dengan Umar??!!. Bukankah Ali mengetahui bahwa tidak boleh seorang wanita muslimah menikah dengan seorang lelaki dari Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani)??, apalagi dengan seorang lelaki yang murtad ??!!! Ataukah Ali menikahkan putrinya karena takut kepada Umar?? Ini merupakan celaan terhadap keberanian Ali yang sangat masyhuur. (Lihat pembahasan tentang dua poin di atas yang telah diakui oleh para ulama syi'ah sendiri dalam risalah Ruhamaa'u Bainahum karya Sholeh bin Abdillah Ad-Darwiisy)

Ketiga : Ali sangatlah terkenal pemberani…, lantas bagaimana bisa beliau selama berpuluh-puluh tahun (sejak masa pemerintahan Abu Bakar hingga berakhir pemerintahan Utsman bin 'Affaan) hanyalah berdiam diri, tidak menjelaskan kepada umat bahwasanya beliaulah yang berhak yang menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi !!!, kenapa beliau pula tidak berani berucap satu patah katapun untuk menjelaskan kepada umat bahwasanya Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah orang-orang kafir !!!, kenapa beliau berdiam diri membiarkan kaum muslimin dipimpin oleh orang-orang kafir??!!, sungguh ini benar-benar menunjukkan sikap pengecut yang luar biasa pada diri Ali !!!.

Keempat : Bahkan Ali akhirnya membaiat Abu Bakar radhiallahu 'anhu. Jika memang Abu Bakar kafir maka tentunya sikap Ali adalah pengkhianatan dan penipuan terhadap umat karena ia telah membaiat seorang kafir !!!

KESEMBILAN : Jika Mu'aawiyah adalah kafir (bahkan termasuk manusia yang paling kafir menurut syi'ah) maka sikap Al-Hasan yang menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Mu'aawiyah yang kafir merupakan bentuk pengkhianatan terbesar dalam sejarah terhadap Islam dan kaum muslimin. Maka ini jelas pencelaan yang besar kepada Al-Hasan bin Ali radhiallahu 'anhumaa.


KESEPULUH : Karena kebencian Syiah dan pengkafiran mereka kepada Utsaman bin Afaan maka sebagian ulama besar syi'ah mengingkari bahwa kedua istri Utsman (Ruqooyah dan Ummu Kultsuum) adalah putri-putri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mengatakan bahwa Ummu Kaltsuum dan Ruqoyyah adalah putri-putri Khodijah dari suami sebelum menikah dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan sebagian ulama syi'ah meragukan adanya dua putri Nabi yang bernama Ruqoyyah dan ummu Kaltsuum. Semua ini akibat kebencian dan pengkafiran mereka terhadap Utsman bin 'Affaan sehingga akhirnya mereka mencela Ahlul Bait putri-putri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (Untuk melihat nukilan-nukilan perkataan para ulama syi'ah silahkan melihat kitab Al-Aqidah fi Ahlil Bait, karya DR Sulaiman As-Suhaimi, 2/527-530)

PENUTUP :

Wahai kaum syi'ah…renungkanlah…apakah para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar yang :
- Telah rela hidup susah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan penuh intimidasi dari kaum kufar Quraisy tatkala mereka di Mekah…
- Telah rela mengorbankan seluruh hartanya…
- Telah rela meninggalkan kampung halamannya…
- Abu Bakar telah rela menemani perjalanan hijroh Nabi yang terancam dengan kematian…
- Telah rela ikut berperang dalam banyak peperangan demi untuk membela Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam…
Namun begitu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah meninggal dan mereka telah hidup di masa kejayaan Islam lantas kemudian mereka murtad???.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 15-02-1433 H / 09 Januari 2012 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com












Muktamar Persatuan Sunni-Syiah, Tapi Shalatnya Pisah-pisah

                         
                           Muktamar Persatuan Sunni-Syiah, Tapi Shalatnya Pisah-pisah

Di kota Teheran, Iran, diadakan Muktamar Lembaga Taqrib yang ke-28 pada 15-17 Rabiul Awwal 1436 Hijriyah. Acara ini dihadiri perwakilan lebih dari 60 negara yang bertujuan menyatukan Islam (Sunni) dengan agama Syiah.
Namun, pada kenyataannya ketika mereka melaksanakan shalat berjamaah tetap saja tidak bisa bersatu alias berpisah,sesuai dengan Imam shalat masing-masing.

Hal ini terjadi karena orang Islam  yang bersedekap tidak mau berimam dengan Imam Syiah, demikan pula orang Syiah yang tidak bersedekap tidak bakalan mau berimam dengan imam orang Islam yang tidak mengimani adanya 12 imam yang ma’shum.
Ulama Sunni, Imam Asy Syafi’i ditanya oleh Al-Buwaiti (murid Imam Syafi’i), “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah.” Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah.”
Demikian pula Syiah menyatakan tidak sah shalat di belakang orang Sunni. Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad Al Uzhma Husain Fadhlullah, dalam Al Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?” Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.”
Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.”
Gambar ini mentertawakan siapapun yang mengajak menyatukan Syiah dengan Islam.

Ulama Al Azhar: Syiah dan Sunni Berbeda dalam Pokok Agama

Syiah tidaklah sama dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dalam permasalahan pokok agama. Hal itu disampaikan  Prof. Dr. Thaha Hibisyi, Guru Besar Ilmu Akidah dan Filsafat Universitas al Azhar dalam seminar dengan tajuk “Syiah dan Problematika Takfir”, Rabu (26/3) di Rumah Limas, Kairo, Mesir.
Acara ini digelar Mahasiswa Jawa Timur (Gamajatim) dan Jawa Tengah (KSW), Senat Ushuludin Al-Azhar,  PCI Muhammadiyah, serta PCINU Mesir.
Prof. Dr. Thaha Hibisyi menjelaskan tentang mulai mencuatnya Syiah yang berawal dari perselisihan yang terjadi antara Ali  dengan Muawiyah, hingga menyebabkan terpecahnya kelompok Ali menjadi dua bagian: Syiah dan Khawarij.
Ia menjelaskan bahwa pada awal kemunculannya, Syiah lebih didominasi sebagai gerakan politik dari pada agama, hingga semakin lama berkembang menjadi aliran agama untuk melegitimasi kekuasan Ali dan keturunannya.
“Sifat ma’shum dimunculkan oleh kaum Syiah hanya untuk melegimitasi kepemimpinan Ali sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan cara  mengkafirkan para Sahabat yang lain, seperti Abu Bakar, Umar, dan Ustman Radhiyallahu ‘Anhum,” tulis Ruwaq Al Azhar.
“Syiah meyakini  bahwa para imam dua belas yang mereka agungkan adalah ma’shum (terjaga dari dosa). Sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa hanya para Nabi dan Rasul yang memiliki sifat ma’shum,” jelasnya.

Kementerian Agama Mesir Larang Penyebaran Syiah di Seluruh Wilayah
Jumat, 28 Desember 2012 (9:16 am) / Bumi Islam

Menteri Wakaf (Menteri Agama) Mesir DR. Thal’at Afifi, menegaskan bahwa seluruh masjid di Mesir harus tunduk dibawah pengawasan departemennya dan tidak diizinkan sama sekali mengajarkan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan mazhab Ahlus Snnah wal Jamaah.
Diapun mengabarkan bahwa departemennya secara praktis telah mengadakan beberapa pelatihan bagi para ulama dan imam untuk menghadapi arus pemikiran Syiah yang sama sekali tidak dibolehkan penyebarannya. Demikian dikutip Islamedia dari almoslim.net.
Terkait dengan informasi keikutsertaan salah seorang penasehat Departeman Wakaf pada acara seremonial yang disebut sebagai peringatan kematian Imam Husain, atau perayaan Asyura di Iran pada bulan lalu, menteri menjelaskan bahwa keikutsertaannya merupakan sikap pribadi dan tidak mewakili departemennya. Itupun sudah dilakukan investigasi terhadap yang bersangkutan.
Menteri tersebut juga menjelaskan bahwa departemennya telah menyusun panduan-panduang tertentu untuk pengangkatan imam baru, agar tidak ada basa basi terhadap seseorang atau perantara atau jual beli dalam proses penetapan.
Beliau juga menyambut penyebaran dakwah secara massif dan luas yang dahulu hal ini tidak dapat disaksikan. Kini, menurutnya, departemennya sedang menyiapkan aturan kerjasama dengan lembaga-lembaga dakwah, di antaranya lembaga Anshar Sunah dan Jam’ah Syar’iyah  untuk menyebarkan dakwah dan wawasan agama secara moderat. Karena lembaga-lembaga tersebut banyak memiliki masjid yang besar serta lembaga pendidikan pengkaderan dai.
Kini juga sedang diadakan penyeleksian untuk mengangkat 3 ribu imam. Yang sudah mendaftar mencapai 57 ribu orang. Proses pemilihan akan dilakukan berdasarkan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Yang paling utama adalah hafal Al-Quran dan mengerti bahasa Arab (fushah) serta memahami permasalah kontemporer dan wawasan ilmiah.
Sebelumnya, Sekjen Dewan Tinggi Urusan Islam Mesir, DR. Shalah Sulthan telah menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk pemikiran yang bersumber dari berbagai aliran Syiah. Karena berdasarkan UU Mesir, standar  dalam masalah Aqidah, Akhlak dan Syariah harus bersumber dari mazhab Ahlussunnah wal Jamaah.

Dilarang Al Azhar, Syiah Mesir Gagal Merayakan Asyura

Seorang tokoh Syiah Mesir yang bernama Thariq Al Hasyimi menyinggung peringatan Asyura di negara ini gagal dilaksanakan sesuai rencana dengan mengatakan, “Upaya pelaksanaan peringatan Asyura yang menurut rencana akan digelar di masjid Ra’sul Husein gagal.”
FNA (26/11) melaporkan, warga Syiah Mesir di berbagai propinsi gagal melaksanakan peringatan Asyura akibat seruan Al Azhar serta Departemen Urusan Wakaf Mesir (Kementerian Agama). Warga Syiah pun melaksanakan perayaan Asyura di rumah-rumah.
Acara Asyura di Mesir yang digelar di rumah-rumah warga Syiah, menurut Al Hasyimi, berupa pembacaan narasi pembunuhan (maqtal) di Padang Karbala.
Awal Oktober lalu, Al-Azhar membentuk sebuah komite ilmiah yang terdiri dari ulama dan Khatib untuk menghadapi gelombang Syiah di Mesir. Komite ini dibentuk setelah pertemuan Al-Azhar dengan ulama dari gerakan Salafi, Ikhwanul Muslimin, dan Shufi untuk bersama-sama menghadapi Syiah.


Friday, January 16, 2015

Tujuan Pengkafiran Shahabat Nabi oleh Syi’ah Rofidhoh

BUKTI PENGKAFIRAN sahabat Nabi oleh syiah:

“Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar adalah kafir, kafir pula setiap yang mencintai keduanya….” (“Biharul Anwar” Al-Majlisi, 69/137,138)
Al-Kulaini di dalam kitab Ar-Raudhah minal Kafi 8/245-246 meriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa dia berkata: “Para shahabat adalah orang-orang yang telah murtad, kecuali tiga orang saja.” Maka aku bertanya: “Siapa tiga orang itu?” Maka dia menjawab: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi.”
Muhammad Baqir Al-Majlisi di dalam kitab Haqqul Yaqin hal. 519 berkata: “Aqidah kami dalam hal kebencian adalah membenci empat berhala yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah dan empat wanita yaitu ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, Ummul Hakam serta seluruh orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk Allah di muka bumi ini. Tidaklah sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya dan para imam (menurut keyakinan mereka) kecuali setelah membenci musuh-musuh tadi.”

TUJUAN PENGKAFIRAN :

Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata dalam kitab beliau Syarh Al-Manzhumah Al-Haa’iyah berkata:“ Adapun ar-rafidhah –semoga Alloh menghinakan mereka-, tujuan mereka (mencela sahabat Nabi) adalah MENIKAM AGAMA. Karena jika mereka mencela para sahabat dan mencaci mereka, maka di antara kita dan Rasulullah TIDAK ADA PERANTARA. Sedangkan Islam tidaklah sampai kepada kita kecuali melalui para sahabat. Dan mereka menurut pandangan kaum rafidhah adalah tidak bisa diterima ucapannya! Dengan demikian (perbuatan rafidhah tersebut) merupakan celaan terhadap agama. Ini tujuan rafidhah.”
Beliau juga berkata: “Merekalah (para sahabat Nabi) perantara antara kita dan Rasulullah. Merekalah yang telah menyampaikan agama setelah mereka terima dari Rasulullah. Lalu mereka sampaikan agama tersebut kepada kita dengan amanah. Setiap hadits, anda dapati dari jalan fulan, dari, fulan, dari sahabat. Maka mereka adalah perantara antara kita dan Rasulullah dalam menyampaikan agama; yaitu orang-orang yang telah menjaga sunnah beliau untuk kita, menjaga Al-Qur’an untuk kita dan menyampaikannya kepada kita.”
Beliau juga berkata: “Jika mereka (syiah rafidhah) berhasil menikam para sahabat, yang merupakan perantara antara kita dan Rasulullah dalam menyampaikan agama, maka berarti mereka berhasil untuk mencela agama Islam, bahwa agama tersebut tidak benar datangnya dari Rasulullah; karena orang-orang yang membawa agama tersebut (para sahabat Nabi) tidak bisa dijadikan hujjah (tidak bisa dipercaya)! Ini adalah tujuan mereka.”

KESIMPULAN :

Syiah ropidoh ingin MENGHANCURKAN AGAMA ISLAM DARI DALAM.

SIKAP kaum muslimin terhadap agama syi’ah:

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)

Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka (Syiah Rafidhah) beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam Al-Nubala 10/31)

Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)

NASEHAT kepada orang yang ingin mendekatkan penganut agama Islam dengan syi’ah:

Syaikh Al Walid bin Muhammad Nabih An Nashr berkata, “Hendaklah bertakwa kepada Alloh orang-orang yang berusaha mengadakan pendekatan antara Ahlussunnah dan Syiah. Mereka (yang mengadakan pendekatan) adalah seperti apa yang difirmankan Alloh Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)” (An Nisaa: 150)
“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An-Nisaa: 143)
“Perumpamaan orang munafik adalah bagaikan kambing yang kebingungan antara dua kambing lainnya. Sekali ia mengarah ke sana dan sekali juga mengarah ke kambing lainnya. Ia tidak tahu harus mengikuti siapa.” (HR. Muslim) -(Syarh Ushulussunnah Imam Ahmad bin Hanbal)-



Wednesday, January 14, 2015

Menimbang Ajaran Syi'ah [ bagian 2 ]

Pertanyaan Tentang Taqiyyah, Imam Kedua Belas, Shahabat
Taqiyyah
1. Taqiyyah (berbohong untuk melindungi diri) tidak dilakukan kecuali karena ketakutan. Ketakutan itu ada dua macam :
Pertama, mengkhawatirkan dirinya. Kedua, takut terhadap kesulitan, gangguan fisik, celaan, cacian, dan dicerca kehormatannya.
Adapun kekhawatiran terhadap diri, maka dia ditiadakan dari imam karena dua sebab:
Pertama : Kematian para Imam sekte Itsna Asyariyah yang biasa adalah karena pilihan mereka sendiri – menurut klaim kalian.
Kedua : Para imam memiliki pengetahuan tentang apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Jadi, mereka tahu dengan ajalnya, bagaimana kematian mereka, dan waktunya secara khusus, sebagaimana yang mereka klaim. Sebelum waktu kematian, mereka tidak akan mengkhawatirkan dirinya, dan mereka tidak perlu berlaku munafik dalam agama mereka dan menipu kaum mukmin yang awam.
Adapun jenis takut yang kedua, yaitu takut terhadap kesulitan, gangguan fisik, celaan, cacian; maka tidak diragukan lagi bahwa bersabar menghadapi semua ini adalah tugas para ulama. Apalagi Ahli Bait Nabi, mereka lebih pantas lagi untuk tabah menghadapi semua ini untuk membela kakek mereka. Lantas jika demikian, untuk apa taqiyyah?

Imam Kedua Belas
1. Kalian mengatakan, sebab ghaibnya imam yang kedua belas di tempat persembunyiannya adalah karena takut dizalimi. Namun, mengapa keghaiban ini terus berlanjut meskipun kekhawatiran tersebut telah sirna dengan berdirinya negara-negara Syiah sepanjang sejarah, seperti Dinasti Ubaidiyyah, Dinasti Buwaihi, Shafawid, dan terakhir negara Iran sekarang?
Mengapa ia tidak keluar sekarang, padahal Syiah mampu membela dan melindunginya di negeri mereka? Jumlah mereka jutaan dan akan menebusnya dengan jiwa raga mereka sepanjang waktu.
2. Syiah menyebutkan bahwa Imam Mahdi mereka apabila telah muncul, maka ia akan memutuskan hukum dengan hukum keluarga Dawud!
Lantas dimanakah syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamyang menghapus syariat-syariat yang telah berlalu?!

Shahabat
1. Disaat kami melihat Syiah mendekatkan diri kepada Allah dengan mencaci-maki para pembesar Shahabat, terutama tiga khalifah: Abu Bakar, Umar dan Utsman. Ternyata kami tidak menjumpai seorang Sunni pun yang mencaci-maki seorang pun dari Ahlul Bait! Bahkan mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan mencintai Ahlul Bait. Ini adalah perkara yang tidak bisa dipungkiri oleh Syiah, walaupun dengan kedustaan.
2. Jika Syiah menyebutkan bahwa mereka yang hadir di Ghadir Khum itu ribuan Shahabat yang semuanya telah mendengar wasiat tentang kekhilafahan untuk Ali sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa tidak seorangpun dari ribuan shahabat itu datang dan marah kepada Abu Bakar?! Bahkan tidak pula Ammar, Miqdad ataupun Salman (yang merupakan pengikut setia Imam Ali menurut klaim Syiah).
3. Jika kaum munafik dan kaum yang murtad sedemikian banyak jumlahnya sebagaimana yang diklaim Syiah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bagaimana Islam berkembang?! Dan bagaimana Persia dan kekuasaan Romawi Timur bisa jatuh, serta Baitul Maqdis juga ditaklukkan?
4. Syiah menyangka bahwa Muawiyah adalah kafir. Lalu kami dapati al Hasan turun dari tampuk kekuasaan untuknya padahal ia adalah imam yang ma’shum. Maka konsekuensinya mereka harus mengakui bahwa al Hasan telah turun dari tampuk kekuasaan untuk diserahkan kepada orang kafir. Ini menyelisihi kema’shumannya, atau berarti Muawiyah itu seorang muslim.
5. Syiah mengutuk Muawiyah, sementara kami tidak mendapati Imam Ali ‘alaihissalam mengutuknya dalam surat-suratnya.
6. Agama Islam telah sempurna pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan firman-Nya : ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”. [terjemah QS al Ma-idah ayat 3]
Sementara madzhab Syiah baru muncul setelah wafatnya Nabishallallahu ‘alaihi wasallam?!

(Disadur dari buku As-ilah Qôdat Syabâb asy Syî’ah ilâ al Haqq, terjemahan Indonesia “Menimbang Ajaran Syiah, 188 Pertanyaan Kritis” oleh Sulaiman bin Shalih al Kharasyi)


Tuesday, January 13, 2015

Menimbang Ajaran Syi'ah [ bagian 1]

Pertanyaan seputar ajaran syi'ah tentang Ahli Bait

Pertanyaan Pertama:
Syi’ah meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang ma’shum, lalu kami jumpai —menurut pengakuan mereka—bahwa ia menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, saudara perempuan sekandung al-Hasan dan al-Husain, dengan Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu [1]Ini berkonsekwensi salah satu dari dua hal bagi Syi’ah yang paling manis dari keduanya terasa pahit, yaitu:
Pertama, Ali radhiyallahu ‘anhu tidak ma’shum, karena menikahkan putrinya dengan orang kafir (menurut keyakinan mereka, yaitu Umar ed.). Ini bertentangan dengan dasar-dasar madzhab, bahkan ini berkonsekwensi bahwa para imam selainnya tidak ma’shum pula.
Kedua, Umar radhiyallahu ‘anhu adalah Muslim. Ali ridha menjadikannya sebagai menantu. Ini adalah dua jawaban yang harus dipilih.

Pertanyaan Kedua:
Syi’ah menyangka, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah kafir. Lalu kami dapati bahwa Ali, seorang imam yang ma’shum menurut Syi’ah, telah ridha dengan kekhalifahan keduanya, membaiat masing-masing dari keduanya, dan tidak memberontak terhadap keduanya. Ini berkonsekwensi bahwa Ali tidak ma’shum, karena ia membaiat orang kafir, zhalim lagi membenci ahli bait, sebagai bentuk persetujuan kepada keduanya. ini merusak kema’shuman dan menolong orang zhalim atas kezhalimannya. Ini tidak mungkin dilakukan orang yang ma’shum sama sekali. Atau apa yang dilakukannya adalah kebenaran; karena keduanya adalah khalifah yang beriman, jujur lagi adil. Dengan demikian, kaum Syi’ah telah menyelisihi imam mereka, karena mengkafirkan, mencaci maki, melaknat, dan tidak ridha dengan kekhalifahan keduanya. Akibatnya, kita bingung dengan urusan kita: Apakah menempuh jalan yang ditempuh Abu al-Hasan (Ali), ataukah kita meniti jalan Syi’ah (pengikut)nya yang bermaksiat?!

Pertanyaan Ketiga:
Setelah wafatnya Fathimah radhiyallahu ‘anha, Ali radhiyallahu ‘anhu menikah dengan sejumlah wanita yang melahirkan sejumlah anak untuknya, di antaranya: Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Umm al-Banin binti Hizam bin Darim.[2]
Juga Ubaidullah bin Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah Laila binti Mas’ud ad-Darimiyah.’[3]
Juga Yahya bin Ali bin Abi Thalib, Muhammad al-Ashghar bin Ali bin Abi Thalib, ‘Aun bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Asma’ binti Umais. [4]
Juga Ruqayah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib—yang meninggal dunia pada usia 35 tahun. Ibu keduanya adalah Ummu Habib binti Robi’ah. [5]
Juga Umm al-Hasan binti Ali bin Abi Thalib, Ramlah al-Kubra binti Ali bin Abi Thalib. Ibu keduanya adalah  Ummu Mas’ud binti Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. [6]
Pertanyaan: Apakah mungkin seorang ayah menamakan buah hatinya dengan musuh bebuyutannya? lalu bagaimana halnya jika sang ayah ini adalah Ali bin Abi Thalib?
Bagaimana mungkin Ali menamakan anak-anaknya dengan nama orang-orang yang kalian anggap bahwa mereka adalah musuh-musuhnya?! Apakah seorang yang berakal menamakan anak-anak yang dicintainya dengan nama musuh-musuhnya?!
Tahukah kalian bahwa Ali adalah orang Quraisy Pertama yang dipanggil dengan (kunyah) Abu Bakar, Abu Umar dan Abu Utsman?

Pertanyaan Ke Empat
Penulis kitab Nahj al-Balaghah—suatu kitab pegangan di kalangan Syi’ah—meriwayatkan, Ali radhiyallahu ’anhu menolak menjadi khalifah dan mengatakan, “Tinggalkanlah aku, dan carilah orang selainku.”[7] Ini menunjukkan kebatilan madzhab Syi’ah. Sebab bagaimana mungkin ia menolak menjadi khalifah, padahal pengangkatannya sebagai imam dan khalifah adalah perintah fardhu dari Allah-menurut kalian- yang harus dituntut dari Abu Bakar seperti yang kalian duga?!

Pertanyaan Ke Lima
5.    Syi’ah menyangka bahwa Fathimah radhiyallahu ‘anha, darah daging Nabi terpilih, telah dihinakan pada zaman Abu Bakar, dipatahkan tulang rusuknya, rumahnya hendak dibakar, dan janinnya yang mereka namakan al-Muhsin digugurkan!
Di manakah Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu dari semua ini? Mengapa ia tidak menuntut hak istrinya, padahal dia seorang pemberani lagi kuat?!
Pertanyaan Ke Enam
Kami jumpai banyak para pemuka sahabat berbesan dengan ahli bait Nabi dan menikah dengan mereka, demikian pula sebaliknya. Tak terkecuali Abu Bakar dan Umar, sebagaimana telah disepakati di kalangan ahli sejarah, baik Sunnah maupun Syi’ah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri:

Menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar.

Menikah dengan Hafshah binti Umar.
Menikahkan kedua putrinya (Ruqayyah, kemudian Ummu Kultsum) dengan khalifah ketiga yang dermawan dan pemalu, Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu. Karena itu, dia diberi gelar dengan Dzun Nur’ain.
Putra Utsman, Abban bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsum binti Abdillah bin Ja’far bin Abi Thalib.
Marwan bin Abban bin Utsman menikah dengan Ummu al-Qasim binti al-Hawn bin al-Hawn bin Ali bin Abi Thalib.
Kemudian Zaid bin Amr bin Utsman menikah dengan Sakinah binti al-Husain.
Abdullah bin Amr bin Utsman menikah dengan Fathimah binti al-Husain bin Ali.
Kami cukup menyebut tiga khalifah dari kalangan sahabat, bukan para sahabat mulia lainnya yang juga menjalin ikatan pernikahan dengan ahli bait; untuk menjelaskan bahwa mereka mencintai ahli bait. Karena itu, terjadi hubungan pernikahan ini.[8]
Demikian pula kami mendapati bahwa ahli bait menamakan anak-anak mereka dengan nama para sahabat Nabi, sebagaimana disepakati di kalangan ahli sejarah dan ahli hadits, baik Sunnah maupun Syi’ah.
Ali radhiyallahu ‘anhu sendiri, seperti disebutkan dalam sumber-sumber Syi’ah, menamakan salah seorang anaknya dari istrinya, Laila binti Mas’ud al-Hanzhaliyah, dengan nama Abu Bakar. Ali adalah orang yang pertama menamai anaknya dengan Abu Bakar di kalangan Bani Hasyim. [9]
Al-Hasan bin Ali juga menamakan anaknya: Abu Bakar, Abdurrahman, Thalhah dan Ubaidillah.”[10]
Demikian pula al-Hasan bin al-Hasan bin Ali. [11]
Musa al-Kazhim menamakan putrinya dengan Aisyah.[12]
Di kalangan ahli bait terdapat orang yang berkunyah dengan Abu Bakar, dan bukan dengan namanya, seperti Zain al-Abidin bin Ali, [13] dan Ali bin Musa (ar-Ridha).[14]
Adapun orang yang menamakan anaknya dengan Umar, di antaranya adalah Ali. la menamakan anaknya dengan Umar al-Akbar, dan ibunya adalah Ummu Habib binti Rabi’ah. la terbunuh di Thaff bersama saudaranya, al-Husain. Anaknya yang lain diberi nama Umar al-Ashghar, dan ibunya adalah ash Sahhba’ at-Taghlabiyyah. Umar yang terakhir ini di umur panjang setelah kematian saudara-saudaranya  sehingga is mewarisi mereka. [15]

Al-Hasan bin Ali menamakan kedua anaknya Dengan Abu Bakar dan Umar.”[16]

Juga Ali bin al-Husain bin Ali.[17]

Juga Ali Zain al-Abidin.
Juga Musa al-Kazhim.
Juga al-Husain bin Zaid bin Ali.
Juga lshaq bin al-Hasan bin Ali bin al-Husain.
Demikian pula al-Hasan bin Ali bin al-Hasan bin al-Husain bin al-Hasan
Selain mereka masih banyak. Tapi kami mencukupkan sampai disini dari para pendahulu ahli bait, karena khawatir berpanjang kalam. [18]
Adapun ahli bait yang menamakan putrinya dengan Aisyah, diantaranya adalah Musa al-Kazhim[19] dan Ali al-Hadi. [20]
Kami cukupkan dengan Abu Bakar dan Umar serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha.
Bersambung insyaallah…
Foot Note:
[1] Pernikahan ini disebutkan oleh para ulama Syi’ah, di antaranya: al-Kulaini dalam Furu’ al-Kafi (6/115); ath-Thusi dalam Tandzib al-Ahkam, Bab ‘Adad an-Nisa’(8/148) dan (2/380), dan dalam kitabnya, al-Istibshar (3/356); al-Mazandarani dalam Manaqib Aal Abi Thalib (3/162); al-Amili dalam Masalik al-Afham (1/ kitab an-Nikah) dan Murtadha ‘Alam al-Huda dalam asy-Syafi, hat. 116; Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah (3/ 124); al-Ardabili dalam Hadiqah asy-Syi’ah, hal. 277; asy-Syusytari dalam Majalis al-Mu’minin, hal. 76, 82; dan al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar hal. 621. sebagai tambahan, lihat risalah Zawaj Umar Ibn al-Khatthab min Umm Kultsum binti Ali Ibn Abi Thalib – Haqiqah la Iftira’, karya Abu Mu’adz al-Ismai’li.
[2] Kasyf al-Ghummahfi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)
[3] Kasyf al-Ghummahfi Ma’rifah al-A’immah, Ali al-Arbili (2/66)
[4] Ibid
[5] Ibid
[6] Ibid
[7] Najh al-Balaghah, hal. 136. Lihat pula hal. 366-367, dan hal. 322
[8] Barangsiapa ingin memperluas mengenai jalinan pernikahan para sahabat dengan ahli bait, silakan merujuk kitab ad-Darr al-Mantsur min Turats AN al-Bait, karya al-Faqih al-Imami ‘Ala’uddin al-Mudarris. Baku ini berisi tambahan atas keterangan yang telah kami sebutkan.
[9] Al-Irsyad, al-Mufid, hal. 354; Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani asy-Syi’i, hal. 91; dan Tarikh al-Ya’qubi asy-Syi’i (2/213)
[10] At-Tanbih wa al-Isyraf, al-Mas’udi asy-Syi’i, hal. 263
[11] Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani asy-Syi’i hal. 188, cet. Dar al-Ma’rifah
[12]  Kasyf al-Ghummah, al-Arbili (3/26)
[13]  Kasyf al-Ghummah, al-Arbili (2/317)
[14] Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani asy-Syi’i hal. 561-562, cet. Dar al-Ma’rifah.
[15] Al-Irsyad, al-Mufid, hal. 354; Mu’jam Rijal al-Hadits, al-Khau’i (13/51); Muqatil ath-Thalibiyyin, Abu al-Faraj al-Ashbahani, hal. 84, cet. Beirut; Umdah ath-Thalib, hal. 361, cet. an-Najf; dan Jala’ al-’Uyun, al-Majlisi, hal. 570
[16] AI-Irsyad, al-Mufid, hal. 194; Muntaha al-Amal, (1/hal. 240); Umdah ath-Thalib, hal. 81; Jala’ al-’Uyun, al-Majlisi, hal. 582; Mu’jam Rijal al-Hadits, al-Khau’i (13/29, no. 8716); Kasyf al-Ghummah (2/294)
[17] AI-Irsyad, al-Mufid (2/155); dan Kasyf al-Ghummah (2/294)
[18] Uraian mengenai hal itu terdapat dalam Muqatil ath-Thalibiyyin dan sumber-sumber al-Imamiyah lainnya. Lihat, sebagai contoh, I, ‘Ala’uddin al-Mudarris, hal.65-69
[19] Al-Irsyad, hal.302; al-Fushul al-Muhimmah, hal.242; dan Kasyf al-Ghummah, (3/26)
[20] Al-Irsyad, al-Mufid, (2/312)
Sumber: Disalin ulang dari buku “Menimbang Ajaran Syiah – 188 Pertanyaan Kritis”, Sulaiman bin Shalih al-Kharasyi, Penerbit Tazkia, Hal.6-14




Monday, January 12, 2015

Berani Sekali... Dedengkot Syi'ah Menghina Kitab Imam Bukhari di Markas Muhammadiyah

Silat Lidah Jalal Syiah, Kitab Imam Bukhari Pun Dicelanya di Markas Muhammadiyah
[ seperti dedengkot syi'i lainnya kerap membuat tasykik atau membuat upaya keragu-raguan terhadap sunnah. Arahnya mau menyerang Abu Hurairah RA. kelakuan si jallang seperti seperti tokoh syi'ah Mesir Hasan Syahatah ] 

kenapa Muhammadiyah kasih panggung ke si Jallang, dimana ghirahnya terhadap Imam Bukhari. tidak ada pembelaan terhadap kemuliaan Imam Bukhari  ? 
baca juga :
Islamedia.co -  “Saya dulu mengharamkan Mauludan. Saya Muhammadiyah. Tapi karena saya sering diundang di acara Muludan. Jadi ya sekarang saya menghalalkannya,” ujar Jalaludin Rahmat ringan, dalam acara peluncuran Jurnal Maarif di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah, selasa (13/1/2015).
 “Mufti Arab Saudi baru-baru ini mengatakan, bahwa mauludan itu dosa besar,” tutur Jalal dalam nada mengadu domba. “Menurut Mufti itu, dosanya itu lebih besar daripada zina dan pembunuhan,” kata Jalal melanjutkan provokasinya. [ tipikal syi’i laknatullah, arah bicaranya mengadu domba antar ahlu sunnah ]

Jalaludin juga bercerita soal kitab Al-Iqna. Ia mengutip pernyataan orang yang disebutnya ulama Al-Azhar, Muhammad Abdullah Nashir, bahwa kitab Al-Iqna berisi soal istinja, soal cebok, yang membolehkan pakai kertas taurat dan injil.
Tak hanya itu, Jalaludin juga menyebut bahwa kitab shahih Imam Bukhari itu memalukan umat Islam.
“Karena itu buku pertama yang memberi dorongan untuk melakukan terorisme,” ujar Jalal bermain aman, dengan cara mengutip perkataan ulama yang direferensinya itu.

Tudingan yang disebarluaskannya di acara bertema “Politik Kebhinekaan di Indonesia” itu, kontan memancing tanggapan peserta pada sesi tanya jawab.

Makmun Murod Al-Barbasy, yang dikenal sebagai Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila Universitas Muhammadiyah Jakarta, langsung angkat bicara setelah diberi kesempatan.
 “Saya mengkaji Al-Iqna juga waktu pesantren. Bahkan kitab itu dikaji di banyak pesantren di Indonesia. Setahu saya, memang ada soal tatacara istinja dengan kertas, tapi tidak ada soal kertas Turat dan Injil. Jadi ini klarifikasi untuk Kang Jalal,” tandas Makmun menegaskan. [ si jallang gemar taqiyah !! ]

Ketika gilirannya memberi balasan, Jalal kembali menerangkan bahwa itu didapatnya dari internet. “Google saja,” katanya. Ia sendiri kemudian mengaku tidak pernah membaca kitab itu, karena latar belakangnya bukan dari pesantren. “Saya ini Muhammadiyah. Tidak pernah baca kitab-kitab seperti itu. Kalau Muhammadiyah itu kan bacaannya kitab Al-Maraghi, kitab tafsir Rasyid Ridho, apa namanya itu, ehh, nah itu, Al-Manar,” ungkap Jalal berkelit.
Ia melanjutkan bahwa dirinya bersyukur kalau memang di kitab Al-Iqna yang ada di Indonesia, tidak ada penulisan soal kertas Taurat dan Injil untuk istinja.
“Karena dengan beitu berarti ulama-ulama kita di sini dulu sudah bijak, mengedit isi kitab yang tidak sesuai,” ujar Jalal.
“Bahkan kita memang harus mengedit ajaran-ajaran (yang fundamentalis) seperti itu,” lanjutnya.[islamedia/zamrud.kh]

Ada Jalaluddin Syiah di Markas Muhammadiyah?

Islamedia.co - “Saya masuk PDIP karena anjuran Muhammadiyah,” ujar Jalaluddin Rahmat seraya melanjutkan cerita dengan nada meledek.
 “Waktu itu, di tempat ini juga, ada dialog Sunnah-Syi'ah. Seorang pimpinan Muhammadiyah berkata kepada saya marah-marah “Jalal, kamu berhenti dakwah di Muhammadiyah. Mending masuk PDIP sana!”' lanjut Jalal sembari menirukan perkataan orang yang disebutnya pimpinan Muhmmadiyah itu.
“Jadi ya, sekarang saya ada di PDIP!” ujar Jalal ditingkahi seringai senyum seperti merasa menang.
Jalal berbicara di hadapan peserta acara peluncuran Jurnal Maarif, pada Selasa (13/1/2015) malam. Puluhan orang memenuhi kursi yang tersedia di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya 62 itu.
 “Saya masuk politik ini membawa ideologi,” tandas Jalal berulang-ulang. Dengan kata terputus-putus, ia mengaku ingin menegakkan NKRI yang penuh kebhinekaan.
 “Saya akan memperjuangkan kepentingan minoritas. Mungkin untuk kepentingan saya sendiri, karena Syi'ah itu minoritas. Tapi juga untuk kelompok minoritas lainnya,” ungkap Jalal dengan yakin.
Ia juga menegaskan, akan meninjau ulang ratusan peraturan perundangan yang menjadi bagiannya di Komisi Agama DPR RI.
 “Termasuk soal penistaan agama, supaya orang tidak gampang dipenjara,” imbuhnya. Maarif Institute selaku penyelenggara acara, mengusung tema “Politik Kebhinekaan di Indonesia; Antara Tantangan dan Harapan.” Hadir sebagai pembicara ialah Jalaludin Rahmat, dan Ahmad Fuad Fanani.[islamedia/zamrud.kh] 







Keutamaan Yaman (Dari Manakah Fitnah itu Datang?)

[ keutamaan ini bukan/tidak untuk syi'ah rafidhah/zaidiyah/houtsi, mereka belum ada/ pendatang dari basra/kufah/golongan at tawwabun, pembunuh Utsman bin Affan RA ]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammendoakan keberkahan bagi penduduk Yaman, beliau bersabda:

اللهم بارك لنا في شامنا ، اللهم بارك لنا في يمننا

“Ya Allah berkahilah Syam kami, Ya Allah berkahilah Yaman kami” [HR. Al-Bukhari dalamShahih-nya; Kitab Al-Fitan, 8/95]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

ألا إن الإيمان يمان، والحكمة يمانية، وأجد نَفَسَ ربكم من قبل اليمن

“Ketahuilah, sesungguhnya iman berada di Yaman dan hikmah (bersama penduduk) Yaman. Aku mendapati Rabb kalian memberikan jalan keluar (dari kesempitan dan permasalahan) dari arah Yaman” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 10555 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Hadits di atas shahih, Al-Haitsami rahimahullah berkata:

رواه أحمد ورجاله رجال الصحيح غير شبيب وهو ثقة

“Diriwayatkan oleh Ahmad, para perawinya merupakan perawi kitab shahih (Al-Bukhari dan Muslim –pen) selain Syubaib, ia tsiqah” [Majma’ Az-Zawa’id(10/31) no. 16627]

Ibnu Faris rahimahullah berkata:

النَّفس: كل شيء يفرج به عن مكروب

“An-Nafas adalah segala sesuatu yang menjadi jalan keluar dari kesempitan dan permasalahan” [Maqayis Al-Lughah, 5/369]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

معنى الحديث: أن تنفيس الله تعالى عن المؤمنين يكون من أهل اليمن

“Makna hadits ini bahwa Allah ta’ala memberikan jalan keluar bagi orang-orang beriman melalui penduduk Yaman” [Al-Qawa’id Al-Mutslaa hal. 51]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وهؤلاء هم الذين قاتلوا أهل الردةوفتحوا الأمصار، فبهم نَفَّسَ الرحمن عن المؤمنين الكربات

“Mereka (penduduk Yaman -pen) lah yang memerangi orang-orang murtad, menaklukkan negeri-negeri dan dengan sebab mereka, Ar-Rahmanmemberikan jalan keluar bagi orang-orang beriman dari berbagai kesempitan dan permasalahan” [Majmuu’ Al-Fatawaa, 6/398]

Al-Imam Muslim rahimahullah membuat judul bab dalam kitab Shahih-nya:

باب تفاضل أهل الإيمان فيه ورجحان أهل اليمن فيه

“Bab Ahlul-iman Memiliki Iman yang Bertingkat-tingkat dan Kekokohan 

Penduduk Yaman dalam Iman” [Shahih Muslim:  Kitab Al-Iman]


Atau dengan ungkapan yang lebih tepat, judul bab dalam kitab Shahih Muslimyang tercetak sekarang dibuat oleh An-Nawawi rahimahullah sebagaimana diterangkan oleh guru kami Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullahdi berbagai majelisnya. Allahua'lam

Kemudian Al-Imam Muslim menyebutkan riwayat berikut: dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قد جاء أهل اليمن أرق الناس أفئدة الإيمان يمان والفقه يمان والحكمة يمانية

“Penduduk Yaman datang kepada kalian, hati mereka paling lembut diantara manusia. Iman berada di Yaman, fiqih (kedalaman ilmu -pen) berada di Yaman dan hikmah (dimiliki oleh penduduk) Yaman” [HR. Al-Bukhari no. 4129, Muslim no. 52 dan At-Tirmidzi no. 3935]

Al-Baghawi rahimahullah berkata:

هَذَا حَدِيثٌ مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ أَخْرَجَاهُ مِنْ طُرُقٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَة

“Hadits ini telah disepakati keshahihannya, dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari berbagai jalan dari Abu Hurairah” [Syarhus Sunnah, 1/957]

Dalam riwayat lain disebutkan:

أتاكم أهل اليمن هم ألين قلوباً وأرق أفئدة، الإيمان يمان والحكمة يمانية، رأس الكفر قبل المشرق

“Penduduk Yaman datang kepada kalian, hati mereka paling lembut dan penyayang. Iman berada di Yaman, hikmah (dimiliki oleh penduduk) Yaman, sedangkan pokok kekufuran berada di arah Timur”

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amiin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

"الإيمان يمان" أي: يتأخر الإيمان بها بعد فقده من جميع الأرض

“Iman berada di Yaman, maknanya iman akan keluar terakhir dari Yaman setelah iman itu hilang dari seluruh wilayah bumi” [Adhwa’ul Bayaan, 1/26]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

كان أهل المشرق يومئذ أهل كفر، فأخبر صلى الله عليه وسلم أن الفتنة تكون من تلك الناحية فكان كما أخبر، وأول الفتن كان من قبل المشرق فكان ذلك سبباً للفرقة بين المسلمين، وذلك ما يحبه الشيطان ويفرح به، وكذلك البدع نشأت من تلك الجهة

“Saat itu penduduk Timur merupakan orang-orang kafir, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa fitnah akan datang dari arah sana, maka terjadilah sebagaimana yang diberitakan oleh nabi. Fitnah pertama datang dari arah timur yang hal tersebut menjadi sebab perpecahan di antara kaum muslimin. Perpecahan sangat disukai setan dan membuat setan bergembira. Demikian pula bid’ah-bid’ah muncul dari arah sana.” [Fathul Bari, 8/98]

Badruddin Al-Ainiy rahimahullah berkata:

إنما أشار عليه الصلاة والسلام إلى المشرق لأن أهله يومئذ أهل كفر فأخبر أن الفتنة تكون من تلك الناحية، وكذا وقع فكان وقعة الجمل ووقعة صفين ثم ظهور الخوارج في أرض نجد والعراق وما وراءها من المشرق، وكان أصل ذلك كله وسببه قتل عثمان بن عفان رضي الله عنه، وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم

“Alasan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berisyarat ke arah Timur, karena penduduk Timur saat itu adalah orang-orang kafir. Nabi memberitahukan bahwa fitnah akan muncul dari arah sana. Demikian pula di sana lah terjadi perang Jamal, perang Shiffin, munculnya Khawarij di Najd, Irak, serta berbagai wilayah lain di arah Timur. Pokok dari itu semua merupakan sebab terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Inilah diantara bukti dari sekian banyak bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. [Umdatul Qari’, 35/156]

Al-Imam Ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan hadits dengan redaksi yang berbeda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

جاء الفتح ونصر الله وجاء أهل اليمن

“Penaklukan dan pertolongan Allah telah datang, penduduk Yaman telah datang.”

Seorang laki-laki bertanya:

يا رسول الله، وما أهل اليمن؟

“Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman?”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قوم رقيقة قلوبهم لينة قلوبهم، الإيمان يمان والفقه يمان

“Kaum yang memiliki hati lembut dan penyayang. Iman berada di Yaman dan fiqih (kedalaman ilmu –pen) berada di Yaman” [HR. Ath-Thabrani no. 11903]

Al-Haitsami rahimahullah berkata:

رواه الطبراني في الكبير والأوسط بأسانيد، وأحد أسانيد رجاله رجال الصحيح

“Ath-Thabrani meriwayatkan hadits itu dalam Al-Kabiir dan Al-Ausath dengan sanad-sanadnya. Seluruh perawi dalam salah satu sanadnya adalah perawi kitab Shahih (Al-Bukhari dan Muslim –pen)” [Majma’ Az-Zawa’id, 9/26]

Allahua’lam, semoga bermanfaat
Ditulis oleh Abul-Harits di Madinah, 9 Shafar 1436
Posted by Abul-Harits at 3:37 AM