Friday, February 20, 2015

Wow! Imam Bukhari Menyamakan Syiah dengan Yahudi

Perdebatan tentang kesesatan aliran Syiah dan masih menjadi perbincangan akhir-akhir ini semakin memanas. Terutama setelah hashtag#SyiahBukanIslam ramai di media sosial, disusul dengan spanduk-spanduk dengan kalimat yang sama di beberapa daerah merespon serangan Syiah ke jamaah Masjid Az-Zikra Sentul.
Konon, Syiah dibagi menjadi tiga: Syiah moderat, Syiah Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem. Apakah mereka semua sesat? Saya mencoba mengulasnya secara historis bagaimana sebenarnya faktanya berdasarkan analisis para ulama.

Asal Usul Syiah
Anda mungkin pernah mendengar dialog antara ulama Sunni dan Syiah tentang orang-orang Syiah yang suka mencuri sandal pada zaman Nabi SAW. Dialog berakhir setelah ulama Syiah membantah kebiasaan mencuri itu karena Syiah belum ada pada masa itu.
Tidak diketahui dari mana sumber kisah ini, ada yang mengatakan bahwa itu hanya lelucon untuk Syiah saja. Namun hal itu menimbulkan pertanyaan, yang bukan lelucon  bagaimana, benarkah Syiah belum ada pada masa Nabi? Lantas kapan Syiah muncul? Berikut beberapa pendapat, terutama dari ulama-ulama Syiah sendiri:

1.Syiah muncul pada awal Islam pada zaman Nabi saw dan dibawa oleh Beliau sendiri. Beliau menyeru kepada tauhid dan pengagungan Ali secara bersamaan. Pendapat ini diyakini oleh para ulama Syiah seperti Muhammad Husein Az-Zain,[1] An-Nubakhti,[2] Khamaeini.[3] Bahkan Hazan Asy-Syirazi mengatakan, “Tidak ada Islam kecuali Syiah. Tidak ada Syiah kecuali Islam. Islam dan Syiah adalah dua nama yang hakikatnya adalah satu yang diturunkan oleh Allah dan kabar gembira yang dibawa Rasul.”[4]
2.Syiah muncul pada perang Jamal, ketika Ali berperang dengan Thalhah dan Zubair. Pendapat ini diyakini oleh Ibnu Nadim (Abul Faraj Muhammad bin Ishaq Al-Baghdadi, dikenal sebagai penganut mu’tazilah dan syiah). Ia mengklaim bahwa orang-orang yang berjalan bersama Ali dan mengikutinya pada waktu itu, mereka disebut Syiah.[5]
3.Syiah muncul pada perang Shiffin. Ini adalah pendapat Al-Khuwansari, Ibnu Hamzah Ath-Thusi, Abu Hatim, Ibnu Hazm, dan Ahmad Amin.[6]
4.Syiah muncul setelah kematian Husein ra. Ini adalah pendapat Kamil Musthafa Asy-Syaibi. Ia  adalah ulama  Syiah. Mengklaim bahwa Syiah setelah kematian Husein berubah menjadi aliran yang memiliki ciri khas.[7]
5.Syiah muncul pada akhir kekuasaan Utsman dan menguat pada masa Ali.[8]

Pendapat yang mengatakan bahwa Syiah sudah ada pada zaman Nabi SAW dan kata-kata Syiah telah beredar luas pada masa itu beliau tidaklah bersandar kepada dalil apa pun kecuali kepalsuan.

Ulama Syiah, Muhammad Mahdi Al-Husaini Asy-Syirazi mengatakan,[9]“Mereka dinamai oleh Rasul dengan sebutan itu (Syiah) karena beliau memberikan isyarat kepada Ali as:
هَذَا وَشِيعَتُهُ هُمُ الْفَائِزُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ini (Ali) dan kelompoknya, merekalah yang menang pada hari kiamat.”[10]
Namun ini adalah pendapat palsu. Seperti disebutkan oleh Muhammad Al-Husein di Ashlusy Syi’ah wa Ushuliha, pendapat yang mengatakan bahwa lafaz Syiah sudah ada pada zaman Nabi hanya bersandar pada kepalsuan.
Syiah menguatkan pendapat itu dengan riwayat yang direka-reka atas nama Nabi saw. Tidak ada yang shahih satu pun. Ulama Syiah sendiri, Ibnul Hadid, mengatakan, “Sumber kepalsuan dalam hadits-hadits keutamaan (fadhail)adalah dari Syiah. Pada awal  masalah ini, Syiah membuat banyak hadits palsu tentang keutamaan imam-imam mereka. Mereka mereka-reka hadits ini untuk alat permusuhan.” [11]

Menurut para peneliti[12]pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga, yakni Syiah muncul setelah perang Shiffin, ketika khawarij membelot dan membentuk kelompok sendiri di Nahrawan. Pada sisi lain yang berlawanan dengan Khawarij, muncullah para pengikut dan pendukung Ali yang menjadi cikal bakal pemikiran Syiah dan menguat secara bertahap sampai ekstrem.

Analisis tersebut menunjukkan adanya kesamaan dalam proses lahirnya kesesatan dan aliran menyimpang, mulai dari kaum Nuh masa lalu, Syiah, Khawarij, Nawashib, sampai Yazidi di Irak. Khawarij lahir dari kekecewaan kepada pihak tertentu, lalu berkembang menjadi kebencian, pengafiran dan penghalalan darah.
Tidak berbeda, Syiah lahir dari dukungan kepada Ali bin Abi Thalib, lalu menjadi kecintaan yang berlebihan bahkan sampai menuhankannya. Ali bin Abi Thalib sendiri pada masa hidupnya telah membakar orang-orang yang menuhankan dirinya. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali).”

Syiah pada Masa Ulama Hadits dan Imam Mazhab

Tahapan perubahan keyakinan aliran Syiah terus berkembang. Definisi-definisi ulama ahli hadits dan rijalul hadits menunjukkan adanya perbedaan antara Syiah masa lalu dan masa itu. Hal ini dapat dilihat dari definisi yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar:

التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان ، وأن عليا كان مصيبا في حروبه ، وأن مخالفه مخطئ ، مع تقديم الشيخين وتفضيلهما ، وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا ، لا سيما إن كان غير داعية  
وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض ، فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة
 ‘Tasyayyu’ dalam definisi para ulama masa lalu (salaf), ialah meyakini bahwa Ali lebih utama daripada Utsman, atau bahwa Ali di pihak yang benar dalam semua peperangannya, dan bahwasanya pihak yang menyelisihinya adalah keliru, dengan tetap meyakini Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) lebih utama dan mulia daripada Ali. Sebagian dari kaum Syiah (masa lalu) mungkin saja menganggap Ali sebagai manusia paling mulia setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Bila orang yang berkeyakinan seperti itu adalah seorang yang wara’, taat beragama, jujur, dan berangkat dari hasil ijtihad; maka hadits yang diriwayatkannya tidaklah ditolak semata-mata karena keyakinan tersebut. Lebih-lebih bila ia tidak mengajak orang lain kepada pemikirannya.

Sedangkan istilah tasyayyu’ dalam definisi ulama masa sekarang (ulama setelah generasi salaf) ialah Rafidhah tulen. Maka seorang Syiah ekstrem tidak bisa diterima riwayatnya, dan tidak bernilai sama sekali. (Tahdzib At-Tahdzib,1/81)

Di tempat lain, Ibnu Hajar berkata:
والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو
“Tasyayyu’ adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding semua sahabat lain, dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka diatasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah, Jika diringi dengan mencela dan membenci keduanya maka disebut Rafidhah ekstrem. Jka mempercayai Raj’ah bahwa Ali kembali ke dunia maka disebut Rafidhah yang sangat ekstrem. (Hady As-Sari Muqaddimah Fathil Bari, 1/460)
Definisi Ibnu Hajar dalam dua kitab tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa karakter dalam aliran Syiah:
Tasyayyu’=Syiah: Mencintai Ali dan mengutamakannya daripada sahabat lain dengan tetap meyakini Abu Bakar dan Umar lebih utama daripada Ali.
Tasyayyu’ ekstrem=Rafidhah: Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar.
Rafidhah ekstrem: Mencela Abu Bakar dan Umar
Rafidhah sangat ekstrem: meyakini Raj’ah (hidupnya kembali imam-imam Syiah di akhir zaman).
Artinya, ada Syiah yang tidak ekstrem dan Syiah ekstrem yang disebut Rafidhah dengan tiga karakter masing-masing. Namun, menurut Imam Adz-Dzahabi, Syiah Ekstrem pada masa lalu dan masa sekarang memiliki perbedaan karakter. Hal ini diungkapkan dalam kitabnya:
فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا – رضي الله عنه وتعرض لسبهم والغالي في زماننا وعرفنا هو الذى يكفر هؤلاء السادة ويتبرأ من الشيخين ايضا فهذا ضال معثر ولم يكن ابان بن تغلب يعرض للشيخين اصلا بل قد يعتقد بأن عليا أفضل منهما (ميزان الاعتدال 1/118).
“Penganut Syiah ekstrem pada zaman para salaf dan menurut definisi mereka, ialah orang yang mengritik dan mencela Utsman, Zubair, Thalhah, Muawiyah dan sejumlah kalangan yang memerangi Ali.
Sedangkan penganut Syiah Ekstrem pada zaman kita dan yang kita definisikan ialah mereka yang mengkafirkan para tokoh itu (para sahabat) dan memusuhi Abu Bakar dan Umar. Orang seperti ini jelas sesat dan tergelincir.” (Mizanul I’tidal, I/118).
                syiah2
Adz-Dzahabi berbicara dalam konteks jawaban atas pertanyaan bagaimana penganut akidah Syiah bisa diambil haditsnya dan bisa dianggap tsiqah. Maka beliau menjelaskan bahwa Syiah masa lalu dan Syiah pada zamannya berbeda. Artinya, perawi Syiah yang diambil haditsnya pada masa lalu itu tidak sama dengan para penganut Syiah pada masa Imam Adz-Dzahabi. Syiah yang bisa dipercaya itu tidak ada dan tidak ditemukan pada masa hidup Imam Adz-Dhahabi. Hal ini diungkapkan olehnya:
 فما استحضر الان في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مامونا بل الكذب شعارهم والتقية والنفاق دثارهم فكيف يقبل نقل من هذا حاله حاشا وكلا
“Saat ini aku tidak mengetahui ada seorang pun (penganut Syiah) dalam masalah ini, yang memiliki kejujuran dan bisa dipercaya. Sebaliknya, berdusta telah menjadi semboyan mereka. Taqiyah (bermuka dua) dan kemunafikan telah menjadi jubah mereka. Bagaimana mungkin orang yang seperti ini bisa diterima riwayatnya? Sama sekali tidak mungkin.” (Mizanul I’tidal, I/118).
Perlu disebutkan bahwa definisi adalah uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.[13] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.[14] Definisi merupakan usaha para ilmuwan untuk membatasi fakta dan konsep.[15] Artinya, definisi berubah ketika faktanya berubah. Definisi Syiah oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi menunjukkan hal ini, karena fakta Syiah masa lalu tidak sama dengan Syiah masa sekarang.
                            SYiah   
Perubahan Sikap Ulama terhadap Syiah

Perbedaan karakter Syiah masa lalu dan masa selanjutnya melahirkan sikap yang jelas dan tegas dari para ulama. Imam Bukhari di kitab Khalqu Af’alil ‘Ibadmengatakan:
ما أبالي صليتُ خلف الجهمي والرافضي أم صليت خلف اليهود والنصارى؛ ولا يسلَّم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم
“Aku tidak membedakan apakah aku shalat bermakmum di belakang seorang penganut Jahmiyah atau Rafidhah, ataukah bermakmum di belakang Yahudi dan Nasrani (semuanya tidak sah). Mereka tidak boleh disalami, tidak boleh dibesuk ketika sakit, tidak boleh dinikahi (wanitanya), tidak dilayat jenazahnya, dan tidak boleh dimakan sembelihannya.”
Imam Bukhari sangat tegas. Penulis kitab hadits yang dinilai sebagai kitab paling shahih setelah Al-Qur’an tersebut menyamakan Syiah dengan Yahudi dan Nasrani. Tidak ada ucapan salam, tidak dilayat jenazahnya, tidak dinikahi wanitanya, dan tidak dimakan sembelihannya adalah konsekuensi terhadap orang yang murtad dan keluar dari Islam.
Para Imam Mazhab juga tidak kalah tegas dalam hal ini. Imam Ahmad seperti disebutkan dalam kitab As-Sunnah (1/493), pernah ditanya oleh Abdullah putranya:
سألت أبي عن رجل شتم رجلاً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ما أراه على الإسلام
“Aku bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang mencaci salah seorang sahabat Nabi SAW. Maka ayah menjawab, ‘Menurutku ia tidak berada di atas Islam’.”
Imam Asy-Syafi’i mengatakan:
لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة
“Saya tidak pernah melihat seorang pun di antara para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih bohong dalam kesaksian daripada Rafidhah.” (Al-Ibanah, II, 545).

Syiah Hari Ini dan Sikap Ulama

Syiah hari ini dapat dilihat dengan jelas di Iran. Karakter dan keberadaan Syiah di beberapa negara lain, termasuk Indonesia mulai tampak jelas dengan pecahnya revolusi Suriah. Terutama pada pertengahan 2013 saat kekuatan militer rezim Syiah Bashar Asad mulai melemah. Masuknya Hizbullah Lebanon dalam pertempuran Qushair pada pertengahan Mei-Juni 2013 telah mengundang perhatian ulama dunia untuk bersikap. Salah satunya adalah pertemuan ulama dunia di Kairo Mesir pasca peristiwa itu, yang melahirkan fatwa kewajiban umat Islam untuk menolong Ahli Sunnah Suriah yang dizalimi.

Yang terbaru adalah pemberontakan Syiah Hautsi Yaman yang telah merebut Ibukota Shan’a pada September 2014 lalu.
Yaman adalah basis Syiah Zaidiyah, yang dikenal dalam sejarah sebagai kelompok Syiah yang dekat dengan ahli Sunnah. Sebagian kalangan menyebutnya Syiah Moderat. Zaidiyah dinisbatkan kepada imam mereka, Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (80-122H). Imam Zaid memimpin revolusi melawan Bani Umayyah pada masa Hisyam bin Abdul Malik (122H).
Sekte Zaidiyah masih mengakui kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Mereka juga enggan untuk melaknat keduanya sebagaimana sekte-sekte Syiah yang lain. Namun, Syiah Zaidiyah hari ini telah berubah. (baca: Pergeseran Zaidiyah). Wilayah Saada, Yaman Utara tempat bermukim mereka telah menjadi basis kekuatan kelompok Hautsi, yang berkiblat kepada Iran, terutama setelah pemimpin mereka, Badrudin Al-Hautsi, pulang dari Iran.

Sebelumnya beberapa ulama ahli sunnah berupaya mendekatkan (taqrib) Suni dan Syiah. Salah satu wujudnya adalah penandatanganan Risalah Amman tahun 2004 oleh para ulama Suni dan Syiah, dengan tiga poin kesepakatan, yang mengarah kepada upaya saling menghormati.
Namun, tokoh besar yang ikut menandatangani Risalah tersebut, Dr Yusuf Al-Qardhawi,  hari ini menyatakan telah tertipu oleh Syiah. Kezaliman Syiah terhadap Ahli Sunah Suriah telah menyadarkannya. Ulama kelahiran Mesir tersebut menceritakan pengalamannya di banyak negara menjelaskan bahwa Syiah bukan hanya satu golongan saja. Namun fakta kekejaman Syiah di Suriah membuat beliau menyatakan:
 الشيعة خدعوني.. وحزب الله كذبة كبيرة
“Syiah telah menipuku.. dan Hizbullah adalah pendusta besar.”[16]
Ketua Persatuan Ulama Sedunia tersebut juga mengatakan, revolusi Suriah menampakkan dan menjelaskan hakikat Hizbullah dan  pendukungnya yang tertipu oleh setan. Mereka, menurutnya, tidak pantas disebut hizbullah (tentara Allah), tetapi hizbusy Syaithan (tentara setan).[17]

Konklusi
Sejarah telah menunjukkan perbedaan yang jelas antara Syiah masa lalu dan masa sekarang. Syiah yang bisa dipercaya itu sdh tidak ada pada zaman Imam Adz-Dzahabi yang hidup pada tahun 673-748 Hijriah, apalagi sekarang? Sikap ulama terhadap Syiah juga tegas, ketika hakikat Syiah telah jelas bagi mereka. (Agus Abdullah)
Referensi:
[1] Syi’ah wa At-Tasyayyu’, 19.
[2] Firaq Asy-Syi’ah, An-Naubakhati, 39.
[3] Al-Hukumah Al-Islamiyah, 136.
[4] Asy-Sya’air Al-Husainiyyah, 11.
[5] Al-Fahrasat, Ibnu Nadim, 249.
[6] Nama Ahmad Amin adalah dua orang. Kedua-duanya adalah penulis. Pertama adalah seorang Mesir penulis buku Dhuha Al-Islam wa Fajrul Islam wa bada’a Al-Islam. Kedua adalah seorang rafidhah penulis kitab At-Takamul fil Islam.
Syi’ah wa At-Tasyayyyu’, 25.
[7] As-Shilah baina At-Tashawwuf wa At-Tasyayyu’, 23.
[8] Risalah f Ar-Radd ala Ar-Rafidhah, 42.
[9] Qadhiyatu Asy_Syi’ah, 3.
[10] Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di Tarikh Dimasyq, 24/333 dan Ibnu Al-Ghathrif di Juz’inya dari Abu Sa’id Al-Khudri, Al-Albani mengatakan dalam Adh-Dhaifah, hadits ini palsu (maudhu’).
[11] Syarh Nahjul Balaghah, 1/783
[12] Lihat Ensiklopedi Aliran yang Berafiliasi kepada Islam,
[13] Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
[14] Departemen Pendidikan Nasional(2008);Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 303. Cet Pertama Edisi IV.
[15] Parera, J.D.(2004);Teori Semantik.Jakarta :Penerbit Erlangga.Hal 200- Cet. 2
[17] http://www.qaradawi.net/new/takareer/6663–q-q-

Rabu, 6 Jumadil Awwal 1436 H / 25 Februari 2015 08:39 wib
Apakah Golongan Syi'ah Lebih Berbahaya Dari Yahudi?
Bismillahirrahmanirrahim ..
“Apakah mereka (Syi’ah) lebih berbahaya dari Yahudi?”…….
Sebab hakikat dari pertanyaan ini adalah untuk membungkam lisan mereka yang sadar akan penderitaan umat, sekaligus membikin kikuk mereka yang berusaha menjaga dan melindungi kaum muslimin.
Saya akan menyanggah mereka dan mengatakan kepada mereka:
“Memang apa salahnya kalau umat Islam menghadapi dua bahaya yang mengintai secara bersamaan? Apakah muslimin Ahlussunnah yang mencari-cari alasan untuk menyerang Syi’ah, ataukah realita di lapangan membuktikan berulang kali bahwa merekalah yang memulai serangan?”
Kita menyaksikan gencarnya serangan Syi’ah terhadap umat Islam, dan saya rasa realita kita saat ini tak jauh berbeda dengan masa lampau. Bahkan saya bersaksi bahwa sejarah akan mengulangi dirinya, dan generasi muda akan mewarisi dendam kesumat nenek moyang mereka.
Tak ada kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari kelompok yang menganggap bahwa 99% sahabat Nabi adalah bejat, mengingat hal itu merupakan pengingkaran yang nyata akan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :
“خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي”
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku.” (HR. Bukhari no 3451 dan Muslim no 2533)
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya.
Realita Syi’ah –dari dulu sampai sekarang- adalah amat sangat menyakitkan…( + an RRZ: menikam dalam selimut )
Mari kita tengok kembali beberapa masalah yang akan menjadikan visi kita lebih jelas, sehingga dapat membantu kita untuk menentukan sikap paling tepat yang mesti kita ambil terhadap Syi’ah; lalu kita tahu: lebih baik bicara ataukah diam saja!
PERTAMA: 

Semua orang tahu bahwa sikap Syi’ah terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzin Nuurain, lalu isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama Aisyah radhiallahu ‘anha hingga para sahabat secara umum.

Sebagaimana yang dinyatakan terang-terangan oleh referensi dan nara sumber mereka yang telah mereka yakini; adalah bahwa para sahabat tadi adalah orang-orang fasik dan murtad. Mayoritas mereka telah sesat dan berusaha menyembunyikan serta menyelewengkan ajaran Islam.
Dari sini apakah kita harus mengawasi dan diam saja ‘demi menghindari fitnah’?
Fitnah apakah yang lebih besar dari pada menuduh generasi teladan sebagai masyarakat ‘bejat dan pendusta’?!?
Marilah kita merenungi sama-sama perkataan bijak salah seorang sahabat yang bernama Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu:
“إذا لَعَنَ آخرُ هذه الأمَّة أوَّلها، فَمَنْ كان عنده علمٌ فليظْهره، فإنَّ كاتم ذلك ككاتم ما أُنزل على محمدٍ صلى الله عليه وسلم”.
“Bila umat Islam di akhir zaman mulai melaknat pendahulunya, maka siapa saja yang berilmu hendaklah menunjukkan ilmunya. Bila ia menyembunyikan, maka ia seperti yang menyembunyikan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Nisbat riwayat ini kepada Nabi sanadnya dha’if, namun riwayat ini adalah dari perkataan Jabir bin Abdillah)
Bisakah Anda menangkap kedalaman makna ucapan ini?
Hujatan terhadap generasi sahabat bukan sekedar hujatan terhadap mereka yang telah tiada… tidak juga seperti ucapan sebagian orang bahwa: “Hujatan tersebut tidak berbahaya bagi para sahabat, karena mereka telah masuk Surga meski Syi’ah tidak suka.” Akan tetapi bahaya besar di balik ucapan ini ialah karena hujatan terhadap para sahabat pada hakikatnya adalah hujatan terhadap Islam secara langsung. Sebab kita tidak mendapatkan ajaran Islam kecuali melalui para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Kalau berbagai hujatan yang menimbulkan keraguan akan akhlak, niat, dan perbuatan para sahabat dibiarkan; lantas agama model apa yang akan kita anut?
Hilanglah agama kita kalau kita terima semua itu… hilanglah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran beliau.
Justeru kita bertanya kepada Syi’ah: “Al Qur’an apa yang kalian baca sekarang? Bukankah yang menyampaikannya adalah mayoritas sahabat yang kalian hujat? Bukankah yang berjasa mengumpulkannya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu, yang kalian anggap berbuat licik untuk menjadi khalifah? Lantas mengapa ia tidak merubah-rubah Al Qur’an sebagaimana merubah-rubah Sunnah menurut tuduhan kalian?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:
“عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المهديين مِنْ بَعْدِي”.
“Kalian wajib berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat hidayah sepeninggalku.” (HR. Tirmidzi no 2676, Ibnu Majah no 42 dan Ahmad no 17184)
Jadi, Sunnah Khulafa’ur Rasyidien adalah bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Hukum dan sikap yang diputuskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah hujjah (dalil) bagi setiap muslim, kapan, di mana pun, dan sampai hari kiamat… lantas bagaimana mungkin hujatan terhadap mereka kita biarkan?!


Sebab itulah, ulama-ulama kita yang mulia demikian berang bila mendengar ada orang yang berani menghujat sahabat. Imam Ahmad bin Hambal misalnya, beliau pernah mengatakan:

إذا رأيت أحدًا يذكر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بسوءٍ، فاتهمه على الإسلام
“Kalau engkau mendapati seseorang berani menyebut para sahabat dengan tidak baik, maka tuduhlah dia sebagai musuh Islam.”(Ash Sharimul Maslul ‘ala Syaatimir Rasul 3/1058 oleh Ibnu Taimiyyah)
Al Qadhi Abu Ya’la (salah seorang fuqaha mazhab Hambali) mengatakan: 
“Para fuqaha sepakat bahwa orang yang mencaci-maki para sahabat tak lepas dari dua kondisi: kalau dia menghalalkan hal tersebut maka dianggap kafir, namun jika tidak menghalalkannya maka dianggap fasik (bejat)” (Ibid, 3/1061)
Abu Zur’ah Ar Razi (salah seorang pakar hadits yang wafat th 264 H) mengatakan:
“إذا رأيتَ الرجلَ ينتقص من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فاعلم أنّه زنديق”
“Kalau engkau mendapati seseorang mengkritik sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu Zindiq (munafik).” (Al Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah hal 49 oleh Al Khatib Al Baghdadi)
Sedangkan Ibnu Taimiyyah berkata:
“Barang siapa menganggap bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali segelintir orang yang jumlahnya tak sampai belasan orang, atau menganggap fasik (bejat) mayoritas sahabat; maka orang ini kekafirannya tidak diragukan lagi.” (Ash Sharimul Maslul 3/1110 oleh Ibnu Taimiyyah)
Sikap yang keras terhadap para penghujat sahabat ini, tak lain adalah karena para sahabatlah yang menyampaikan agama ini kepada kita. Kalau salah seorang dari sahabat dihujat, berarti Islam jadi meragukan. Mengingat banyaknya pujian yang Allah berikan kepada mereka dalam Al Qur’an, maupun dalam Sunnah Nabi-Nya, jelaslah bahwa orang yang menghujat para sahabat berarti mendustakan ayat-ayat dan hadits yang cukup banyak tadi.
Mungkin ada yang berkata: 
“Lho, kami tidak pernah mendengar si Fulan dan si Fulan yang Syi’ah itu menghujat para sahabat?”
Kepada mereka, kami ingin agar memperhatikan poin-poin berikut:
Pertama: Kaum Syi’ah Itsna Asyariyah pada dasarnya meyakini bahwa para sahabat telah bersekongkol melawan Ali bin Abi Thalib, Ahlul Bait, dan Imam-imam yang diyakini oleh mereka. Intinya, tidak ada seorang Syi’i pun (baik di Iran, Irak, maupun Lebanon) melainkan ia meyakini kefasikan para sahabat. 
Sebab jika mereka menganggap para sahabat adalah orang shalih, hancurlah rukun iman mereka sebagai Syi’ah.
Jadi, telah menjadi suatu keniscayaan pabila setiap orang Syi’ah baik pejabat, ulama, maupun rakyat jelata untuk bersikap tidak hormat kepada para sahabat, dan tidak menerima agama yang mereka bawa dalam bentuk apa pun.
Kedua: Tokoh-tokoh Syi’ah senantiasa mengelak untuk menampakkan kebencian mereka kepada para sahabat, meski terkadang nampak juga dalam sebagian statemen atau perilaku mereka, sebagaimana firman Allah:
لَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ
“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (Qs Muhammad: 30)
Banyak di antara kita yang menyaksikan debat antara DR. Yusuf Al Qardhawi dengan Rafsanjani (mantan presiden Iran) di TV Al Jazeera. Kita sama-sama menyaksikan bagaiman Rafsanjani selalu mengelak dari setiap usaha DR. Qardhawi agar ia menyebut sahabat dan ummahatul mukminin (isteri-isteri Nabi) dengan baik.
Dan ketika Khamenei (pemimpin Revolusi Iran sekarang) ditanya tentang hukum mencaci-maki para sahabat, dia tidak mengatakan bahwa hal itu keliru atau haram. Namun ia menjawab secara dusta dengan berkata: “Semua perkataan yang mengakibatkan perpecahan di antara kaum muslimin pasti diharamkan dalam syari’at.” Intinya, haramnya mencaci-maki sahabat menurutnya ialah karena hal itu menimbulkan perselisihan di antara kaum muslimin, bukan karena haram menurut syari’at, sebagaimana yang dilansir oleh koran Al Ahraam Mesir tanggal 23 November 2006.
Ketiga: Kita harus waspasa terhadap akidah ‘taqiyyah’ (bermuka dua) yang menurut syi’ah adalah sembilan persepuluh dari agama mereka. Artinya, mereka biasa mengatakan perkataan yang bertentangan dengan keyakinan mereka selama mereka belum berkuasa. Namun setelah berkuasa mereka akan menampakkan jati dirinya terang-terangan.
Dalam sejarah Syi’ah, kita menyaksikan bahwa tatkala mereka menguasai beberapa wilayah Daulah Abbasiyah yang Sunni di Irak, Mesir, Afrika Utara (Maghrib) dan semisalnya; mereka langsung terang-terangan menghujat para sahabat, dan menjadikan hal itu sebagai pokok agama mereka.
Jadi, jelaslah bagi kita dari sini akan pentingnya menjelaskan hakikat Syi’ah terhadap para sahabat yang mulia. Kalau tidak, maka orang yang menyembunyikan kebenaran ini ibarat Syaithan yang bisu, dan sikap ini akan mengakibatkan kehancuran Islam…
KEDUA: Bahaya Doktrinasi Syi’ah di Dunia Islam…. tidak diragukan lagi bahwa doktrinasi Syi’ah (tasyayyu’) demikian gencar dilakukan di berbagai negara Islam. Ia tidak hanya marak di tempat asalnya seperti Iran, Irak dan Lebanon, namun kini berlangsung sangat kuat di Bahrain, Emirat Arab, Suriah, Yordania, Saudi Arabia, Mesir, Afghanistan, Pakistan dan negara-negara muslim lainnya…
(Termasuk Indonesia yang dalam lima tahun terakhir meningkat secara drastis, lewat tokoh-tokoh mereka macam Jalaluddin Rakhmat, Quraish Shihab dan sebagainya.
Bahkan menurut pengamatan sebagian pihak, jumlah murid Kang Jalal mencapai lebih dari 10 juta! –pent). +an dari RRZ: Belum lagi nanti para pelajar Indonesia yg telah lulus dari universitas2 Qoom/Iran, negeri Syiah, diperkirakan 10 ribu lebih. Maka semangkin berkobarlah Syiah di Republik tercinta Indonbesia ini. Dan hal tsb harus diantisipasi sejak dini oleh seluruh Komponent ummat Islam, khususnya Pemerintah Republik Indonesia dan MUI/para Ulama dan seluruh Ormas Islam.
Parahnya lagi, banyak orang yang menganut pemikiran-pemikiran Syi’ah tanpa mengira bahwa mereka adalah Syi’ah. Bahkan setelah menulis beberapa artikel ini, kami –yaitu Dr. Raghib Sirjani- mendapat banyak e-mail yang penulisnya mengaku Sunni, namun isinya penuh dengan pemikiran dan gaya Syi’ah.
Kita juga tidak menutup mata akan perang global yang ditujukan kepada para sahabat lewat media massa (Yakni media massa di Mesir tempat penulis tinggal -pent) dan saluran-saluran televisi di negeri-negeri Sunni. Yang paling masyhur ialah hujatan salah satu koran Mesir terhadap Siti Aisyah radhiallahu ‘anha beberapa hari terakhir. Demikian pula perang yang dilancarkan terhadap Shahih Bukhari, termasuk acara televisi yang dibawakan oleh wartawan terkenal dan selalu mengkritik para sahabat dalam setiap episode.
Masalah semakin rumit dan tidak bisa didiamkan, mengingat adanya perkawinan silang antara manhaj (metode) Syi’ah dengan Tasawuf, dengan klaim bahwa keduanya mencintai Ahlul bait.
Dan kita semua tahu bahwa faham tasawuf demikian merebak di banyak negara di dunia. Dan faham ini telah terjangkiti virus bid’ah, khurafat dan kemunkaran yang demikian banyak, dan bertemu dengan Syi’ah dalam hal mengultuskan Ahlul bait. Dari sini, penyebaran Syi’ah sangat mudah ditebak seiring dengan menyebarnya tarekat-tarekat Sufi.
KETIGA: Kondisi di Irak demikian mencekam. Pembunuhan muslimin Ahlussunnah tersebab identitas mereka adalah fenomena biasa yang sering terjadi. Sekjen ulama Ahlussunnah di Irak yang bernama Harits Adh Dhaary menyebutkan bahwa ada lebih dari 100 ribu muslim Sunni yang tewas di tangan Syi’ah sejak th 2003 hingga 2006.
Ditambah proses deportasi yang terus menerus di beberapa lokasi demi mempermudah kekuasaan Syi’ah di sana. Dan mayoritas mereka yang dideportasi (diusir) keluar dari Irak adalah Ahlussunnah; dan ini menyebabkan perubahan susunan masyarakat yang sangat berbahaya akibatnya nanti.
Pertanyaannya sekarang: “Apakah fitnah yang timbul ketika membahas masalah Syi’ah lebih berbahaya dari fitnah terbunuhnya sekian banyak warga Ahlussunnah tadi? Lantas sampai kapan masalah ini harus didiamkan? Padahal semua orang tahu betapa solidnya dukungan Iran dalam pembersihan mereka yang beridentitas Sunni?”
KEEMPAT: Ambisi Iran terhadap Irak demikian besar, bahkan hal nampak nyata. Mengingat kedua negara sebelumnya pernah terlibat perang sengit selama 8 tahun penuh, dan sekarang jalannya terbuka lebar bagi Iran. Apalagi Irak memiliki nilai religius penting bagi kaum Syi’ah, mengingat adanya wilayah-wilayah suci di sana, termasuk enam makam Imam Syi’ah.
Di Najaf terdapat makam Ali bin Abi Thalib, lalu di Karbala’ terdapat kuburan Husein, dan di Baghdad terdapat makam Musa Al Kadhim dan Muhammad Al Jawwad, tepatnya di wilayah Al Kadhimiyyah. Sedangkan di Samarra terdapat makam Muhammad Al Hadi dan Hasan Al ‘Askari; dan masih banyak kuburan-kuburan palsu lain yang diklaim sebagai kuburan para Nabi seperti Adam, Nuh, Hud dan Shalih di Najaf; namun semuanya palsu.
Selain Ambisi Iran terhadap Irak yang sangat berbahaya, Amerika juga mendukung terwujudnya ambisi tersebut. Kita semua menyaksikan bagaimana pemerintahan Syi’ah bentukan Amerika di Irak. 
Sandiwara saling tuduh antara Amerika dan Iran sudah tidak mempan lagi sekarang, sebab tidak pernah terlintas dalam benak Amerika untuk menyerang Iran sama sekali, akan tetapi yang sangat mencemaskan bukanlah ambisi untuk menguasai minyak atau kekayaan Irak saja, bukan pula sekedar memperluas kekuasaan Syi’ah;
Namun parahnya mereka menjadikan kebrutalan dan sadisme tersebut sebagai bagian dari agama mereka.
Sebab Syi’ah menuduh para sahabat dan pengikut mereka dari kalangan Ahlussunnah sebagai musuh-musuh Ahlulbait dan menjulukinya dengan naashibah atau nawaashib. Padahal kita lebih menghargai Ahlulbait daripada mereka.
Mereka lalu mengeluarkan vonis-vonis mengerikan atas tuduhan tersebut. Misalnya Khumaini yang mengatakan:
“Pendapat yang lebih kuat ialah memasukkan nawashib sebagai ahlul harbi (lawan perang), yang hartanya halal di mana pun didapati, dan dengan cara apa pun.” (Tahrirul Wasilah 1/352 oleh Al Khumaini)
Lalu tatkala imam mereka yang bernama Muhammad Shadiq Ar Ruhani ditanya tentang hukum orang yang mengingkari keimaman dua belas imam, dia mengatakan sesuatu yang sangat aneh:
“Sesungguhnya imamah (jabatan imam) lebih tinggi dari nubuwah (kenabian) dan kesempurnaan agama ini ialah dengan menjadikan Amirul mukminin alaihissalam sebagai imam;
Allah ta’ala berfirman: alyauma akmaltu lakum dienakum (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu). Maka siapa yang tidak mempercayai keimaman dua belas imam niscaya ia akan mati dalam kekafiran” (Lihat fatwa ini dalam link berikut: www.imamrohani.com/fatwa-ar/viewtopic.php)
Khumaini dalam bukunya Al Hukumatul Islamiyyah mengatakan bahwa para imam akan mencapai kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh malaikat terdekat maupun rasul sekalipun.( sebenarnya ada lanjutannya yi, bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sekalipun. Dengan kata lain merendahkan kedudukan Rasul.  )
 Karenanya, tidak mengakui keimaman menurut mereka lebih berat dari pada tidak mengakui kenabian, dan inilah tafsiran atas pengkafiran Syi’ah atas Ahlussunnah, yang diikuti dengan penghalalan darah mereka di Irak dan negeri-negeri lainnya. Oleh karena itu, Irak harus dimasukkan dalam kekuasaan mereka karena banyaknya tempat-tempat ‘suci’ mereka yang masih dikuasai oleh orang-orang yang mereka anggap kafir.
KELIMA: Ancaman langsung tak berhenti di Irak saja, namun ambisi mereka terus meningkat untuk menguasai daerah sekitarnya. Mereka menganggap Bahrain sebagai bagian dari Iran, sebagaimana pernyataan kepala pemeriksa umum Ali Akbar Nathiq Nuri di kantor pemimpin revolusi saat peringatan 30 tahun revolusi Iran. Ia mengatakan:
“Bahrain pada dasarnya adalah propinsi Iran yang keempat belas, yang diwakili oleh seorang legislatif di majelis permusyawaratan Iran.” (Lihat situs al jazirah berikut: www.aljazeera.net/NR/exeres/684338CB-837A-4879-8C7A-1A1B995DD286.htm)
Kita juga tahu bahwa Iran menduduki tiga pulau milik Emirat Arab di teluk Arab, dan jumlah mereka makin bertambah di Emirat hingga nisbahnya mencapai 15% dari total jumlah penduduk, dan menguasai pusat-pusat perdagangan terutama di Dubai.
Demikian pula kondisinya di Arab Saudi yang tidak statis; sebab sejak revolusi Iran tahun 1979, berbagai gangguan stabilitas terjadi berulang kali di Arab Saudi. Bahkan itu terjadi langsung setelah revolusi Iran, dengan munculnya demonstrasi Syi’ah di Qathif dan Saihat (dua wilayah Saudi), yang paling gencar di antaranya adalah tanggal 19 November 1979.
Masalah pun kadang semakin parah hingga berubah menjadi tindak anarkhis dan kejahatan di Baitullah Makkah. Sebagaimana yang terjadi pada musim haji tahun 1987 dan 1989. Bahkan pasca jatuhnya pemerintahan Saddam Husein, sekitar 450 tokoh Syi’ah di Saudi mengajukan proposal kepada putera mahkota ketika itu, yaitu Pangeran Abdullah dan meminta agar diberi jabatan-jabatan tinggi di dewan parlemen, jalur diplomasi, badan militer dan keamanan, serta menambah jumlah mereka di majelis syuro.
Bahkan Ali Syamkhani, yang merupakan penasehat tertinggi masalah militer bagi pimpinan umum revolusi Iran mengatakan, bahwa bila Amerika menyerang proyek nuklir Iran.
Iran tidak sekedar membalas dengan menyerang fasilitas milik Amerika di teluk, namun akan menggunakan rudal-rudal balistiknya untuk menyerang target-target strategisnya di teluk Arab. Pernyataan ini dilansir oleh majalah Times Inggris pada hari Ahad 10 November 2007. (oleh fizaro)



Benarkah Imam Syafi'i Mencintai Syiah?

SEBUAH tulisan aktivis liberal muncul dalam salah satu situs Ormas Syiah, IJABI belum lama ini. Dalam artikelnya ia menulis Imam Syafi’i sangat mencintai Syiah.


“Imam Syafi’i sangat mencintai Syiah (syadid al-tasyayyu’). Salah satu kecintaan Imam Syafi’i kepada Syiah ditunjukkan ketika fatwanya bertentangan dengan fatwa Imam Ali, maka Imam Syafi’i langsung mengubah fatwanya, dan memilih untuk mengikuti fatwa Imam Ali”, demikian klaimnya.

Benarkah demikian?

Tulisan tersebut menukil pendapat sejarawan Ibnu Nadim al-Warraq dalam kitabnya “al-Fihrst”. Kesimpulan tentang tasyayyu’-nya Imam Syafi’i tersebut ternyata hanya berdasarkan dari satu sumber, yakni Ibnu Nadim. Itu pun tidak langsung merujuk kepada kitab Imam Syafi’i atau muridnya. Karena itu, kesimpulan tersebut masih ‘belum matang’ dan perlu penelusuran keutuhan pemikiran Imam Syafi’i.

Penelitian yang valid adalah membaca keseluruan pemikiran-pemikiran Imam Syafi’i. Setelah itu baru menyusun kesimpulan. Jika hanya sepotong yang diungkap, maka pemahaman kita pun menjadi tidak utuh.

Menurut sejumlah informasi, tidak seluruh kabar dari Ibnu Nadim al-Warraq bisa dipercaya (tsiqah). Ada kecenderungan tulisan-tulisan Ibnu Nadim al-Warraq condong kepada Syiah.

Seorang ulama Syiah Abbas al-Qummi mengatakan Ibnu Nadim adalah seorang Syiah, dengan menyematkan nama Ibnu Nadim dengan gelar “al-Syi’i al-Imamiy” ketika menceritakan biografinya (baca Abbas al-Qummi,al-Kunya wa al-Alqab, hal. 405).

Para ulama Ahlus Sunnah juga mengenalnya sebagai orang Syiah. Ibnu Hajar mengutip informasi dari Imam al-Dzahabi mengatakan, “Dia (Ibnu Nadim al-Warraq) adalah seorang sastrawan, beraliran Syiah dan Mu’tazilah” (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan jilid 6, hal. 559).

Imam Ibnu Hajar menambahkan bahwa setelah ia menelah karya-karya Ibnu Nadim, ia berkesimpulan Ibnu Nadim adalah seorang Rafidhah. Ibnu Nadim, tambah Ibnu Hajar, menyebut orang yang bukan Syiah sebagai ‘orang awam’.

Dengan informasi itu, Ibnu Nadim bukan sekedar tasayyu’ tetapi sudah Rafidhi. Karena itu, kesimpulan Ibnu Hajar, bahwa khabar Ibnu Nadim ghairu mautsuq (tidak dipercaya). Dalam sebagaian karyanya terdapat kebohongan (tentang status perawi beraliran Syiah dapat dibaca di Lisanul Mizan jilid I).

Dari sini, informasi Ibnu Nadim tetang tasayyu’¬-nya Imam Syafi’i perlu diberi catatan. Sebab, jika dikontraskan dengan pemikiran-pemikiran imam Syafii lainnya terdapat kontradiksi. Baik dari kitab manaqib Imam Syafii maupun informasi para murid dan ulama bermadzhab Syafiiyah menyaatakan bahwa Rafidah bagi Imam Syafii sudah final ditolak dan sesat.

Imam al-Syafi’i tidak sekedar mengeluarkan fatwa kewaspadaan, namun juga memutuskan larangan shalat di belakang Syiah Rafidhah.

Ideologi taqiyah, merupakan salah satu yang hal yang paling diwaspadai. Beliau mengatakan: “Saya tidak pernah melihat seorangpun dari para pengikut hawa nafsu yang paling banyak berdusta dalam dakwaannya dan yang paling banyak bersaksi palsu dari pada Syiah Rafidhah” (Imam al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i I/hal.468).

Kelompok ini, menurut Imam al-Syafi’i harus dijauhi, termasuk dalam shalat. “Janganlah shalat di belakang orang Syiah Rafidhah, Qadariyah dan Murji’ah” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’ 10/31).

Fatwa Imam Syafi’i tersebut diikuti oleh para pengikut madzhabnya. Imam Nawawi al-Dimasyqi, penulis Syarh ala Shahih Muslim mengatakan: “Aliran Syiah terlalu lemah dan logikanya terlalu rusak untuk sekedar disanggah atau didebat secara ilmiah” (Imam Nawawi al-Dimasyqi, Syarh ala Shahih Muslim jilid 8, hal. 145).

Imam Bukhari yang mengikuti madzhab Syafi’i, tentu tidak jauh fatwanya dengan imam Syafi’i. Beliau menilai Rafidhah masuk dalam ‘ring kekufuran’. Sehingga dikeluarkan larangan shalat di belakang mereka, menikahi mereka, mengantar jenazah dan mengucapkan salam kepada mereka.

Beliau mengatakan: “Saya tidak akan shalat di belakangan orang Jahmiyah dan Rafidhah, sama seperti saya tidak shalat di belakang Yahudi dan Nasrani. Tidak boleh mengucapkan salam kepada mereka, menikah dengan mereka, menjenguk mereka, mengantar jenazahnya dan tidak memakan sembelihannya” (Imam al-Bukhari, Af’al al-Ibad, I/hal.148).

Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakar dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam al-Nubala 10/31).

Imam al-Ghazali, filsuf, teolog, faqih, dan ulama sufi bermadzhab Syafi’i menceritakan dalam kitabnya: “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar r.a, maka berarti dia telah menentang dan merusak ijma’ kaum Muslimin.

Padahal tentang diri mereka (para Sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”(Imam al-Ghazali,Fadhaih al-Batiniyah, hal. 149).

Para ulama dan pengikut madzhab Syafi’i tidak ada yang menginformasikan bahwa Imam Syafi’i seorang yang mencintai Syiah. Tuduhan yang dialamatkan kepadanya adalah vonis yang batil tidak memiliki sandaran sanad dan matan-nya.

Salah satu alasan klaim Syiah adalah ucapan Imam Syafii yang berbunyi: “Jika Rafidhah itu adalah cinta keluarga Nabi, maka saksikanlah bahwa aku ‘Rafidhi’. Ucapan Imam Syafi’i ini sebetulnya ada kelanjutannya. Di bait berikutnya, beliau mengatakan, “Jika Nawasib itu adalah mencintai Sahabat, maka saksikanlah bahwa aku adalah ‘Nasibi”. Sedangkan nawasib adalah julukan yang diberikan oleh orang Syiah terhadap kelompok non-Syiah. Nawasib menurut Syiah pembenci Ahlul Bait.

Imam Syafii adalah seorang Imam Ahlus Sunnah pecinta Ahlul Bait, sekaligus pecinta Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Kalimat “Jika Rafidhah itu adalah cinta keluarga Nabi, maka saksikanlah bahwa aku ‘Rafidhi’” ditujukan kepada kaum Khawarij yang membenci Saidina Ali dan Ahlul Bait. Ketika diketahui imam Syafi’I mencintai Ahlul Bait, kaum Khawarij menuduhnya beliau Syiah.

Sedangkan kalimat “Jika Nawasib itu adalah mencintai Sahabat, maka saksikanlah bahwa aku adalah ‘Nasibi” ditujukan kepada kelompok Syiah yang membenci Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Saat kaum Syiah mencaci maki Sahabat, Imam Syafii menjawabnya dengan syair tersebut, sebagai bukti bahwa ia pecinta Sahabat.

Maka, dapat disimpulkan bahwa ucapan itu merupakan kalimat retorika Imam Syafi’i. semua tahu bahwa Imam Syafii adalah seorang penyair, ahli balaghah. Banyak nasihat-nasihatnya berupa kalimat metaforis-retoris. Beliau adalah Imam Ahlus Sunnah pecinta Ahlul Bait dan Sahabat Nabi. Beliau bukan Syiah, juga bukan Khawarij.*
Oleh: Ust. Kholili Hasib, Peneliti InPAS Surabaya


STOP SIARAN LANGSUNG, KITA TEREKSPOS! Teriak ayatullah Syiah (Video)

“Ketika siaran satelit Syiah mulai ditayangkan, kita terekspos. Dulu kita berpikir karena Syiah berada di jalan yang benar dan saluran satelit dimulai, maka seluruh dunia akan berpindah menganut Syiah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya! Skandal demi skandal kita bertambah.. terbuka di depan umum.”
Seorang ahlus sunnah berkata, “Dulu saya berfikir tentang Syiah setelah revolusi Khomeini dan buku al-Shadr bahwa Syiah adalah orang-orang terdidik, filsafat dan mereka memiliki intelektualitas dan saya berharap seluruh dunia belajar dari mereka. Tapi kemudian ketika saya melihat saluran TV syiah al-Anwar, al-Zahra, Ahlul Bait dan melihat orang gila, dajjal (penipu) khutbah di atas mimbar-mimbar.” Dan saya bertanya sendiri, “Apakah mereka Syiah?”
“Orang akan malu menjadi syiah setelah mendengar orang-orang bodoh itu di saluran TV satelit Syiah.”
Ulama Syiah yang lain mengatakan, “Kita mesti mengadakan Majlis (perkumpulan di huseiniyat), tapi kita tidak boleh menyiarkannya secara langsung di TV. Apakah kita mesti menyiarkan langsung dan mengekspos ‘aurat’ (hal memalukan yang syiah ingin sembunyikan) di depan umum? Tidakkah ada saluran seperti Wesal TV, Safa TV dan saluran lainnya (Anti-Majos) yang giat mengekspos kita?”
Kebijaksanaan mensensor mulai diterapkan ke berbagai saluran TV Syiah guna menyaring kesyirikan dan kekufuran sebagai usaha untuk menyembunyikan wajah buruk Syiah yang sebenarnya (ajaran Syiah tanpa taqiyah).
“Jadi mereka (waqf Syiah) mengarahi dari mimbar di huseiniyat. Mereka menghalangi siaran langsung dari mimbar huseiniyat. Keputusan ini sedang dijalankan. Sampai detik ini, keputusan itu masih dijalankan. Di Raudhah suci Huseiniyah dan Raudhah suci abasiyat dan di Raudhah suci alawiyah al haidari dan di Raudhah suci Kazhimiyah. Mereka (Waqf Syiah) sedang melarang siaran langsung dari mimbar. Hari ini siaran langsung tidak diizinkan.” jelas seorang ulama Syiah.
Selanjutnya dalam acara Wesal TV tersebut, Syeikh Utsman al-Khamis mengatakan,
“Demi Allah kita mesti berterima kasih kepada mereka yang sudah memakai teknologi untuk mengekspos Syiah. Zaman sekarang Syiah merekam majlis di HP mereka. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.”
“Orang yang tidak suka berbohong, tidak akan punya masalah dengan ini (siaran langsung). Kadang kala orang mengingatkan saya. Lihat ada syiah disini. Jadi hati-hati berbicara. Atau berkata ‘Kami merekam isi ceramahmu.’ Saya menjawab, ‘Kenapa kalian berkata begitu pada saya? Tidak ada yang perlu saya sembunyikan. Tidaklah saya berkata sesuatu dalam majlis khusus melainkan saya juga berkata demikian di majlis umum.’ saya juga tidak akan berkata, ‘Tidak ada orang disini? Ayo kita bisa bicara apa adanya sekarang.’ Tidak. Saya tidak seperti itu. Saya selalu berbicara jelas.”
https://www.youtube.com/watch?v=qta7HiswBJg#t=71

             

“Orang-orang itu (Ayatullah) yang suka menyembunyikan, berbohong, berputar-putar, menipu orang, mereka perlu pintu tertutup. Mereka berkata,‘kita perlu kenyamanan, tidak ada yang boleh merekam (menyiarkan langsung) kita. Tidak ada yang boleh mengabarkan ceramah-ceramah kita.’ Mengapa?Jangan mencuri dan jangan takut (kalau bukan maling, kenapa takut?)”
RABU, JANUARI 14, 2015 
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Thursday, February 19, 2015

Kerap Mengaku Minoritas, Pertanda Syiah Bukan Islam

Kekejaman Syiah terhadap umat Islam telah terbukti di berbagai negara di Timur Tengah. Mereka tega membantai ulama dan kaum muslimin, seperti yang terjadi di Iraq dan Suriah, dan Yaman. Karenanya, umat Islam dihimbau untuk menangkal Syiah di Indonesia mengaku sebagai minoritas, yang secara tidak langsung menyatakan bukan bagian dari Islam.
Hal itu diutarakan oleh pengamat gerakan Syiah, Ustadz Farid Oqbah saat menyampaikan kekejaman Syiah yang terjadi di berbagai negara, dalam Kajian Umum Mengenal & Mewaspadai Bahaya Syiah di Islamic Centre Bekasi, Kamis (19/02). Milisi Syiah bersama penguasa di Suriah, Iraq, Lebanon dan Yaman melakukan pembantaian terhadap umat Islam.
“Lihatlah yang ada di Iraq. Ulama-ulama kita dibantai oleh mereka, umat Islam dibantai oleh mereka. Kekejaman yang luar biasa,” kata Ustadz Farid.
Dia juga menghimbau kepada ribuan umat Islam yang memadati Aula KH Noer Ali untuk menangkal Syiah. Dengan demikian peristiwa pembantaian sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah tidak terjadi di Indonesia.
“Untuk itu kita harus menangkal mereka ini (Syiah),” imbuhnya.
“Mereka harus jauh dari umat Islam, karena mereka sendiri telah menyatakan diri sebagai kelompok minoritas. Maknanya apa? Mereka bukan dari bagian umat Islam yang mayoritas,” ujar Pimpinan Yayasan Al-Islam ini.
Ustadz Farid menambahkan, selama ini orang-orang Syiah mengaku bagian dari Islam. Namun kenyataannya dalam banyak hal mereka berbeda dengan kaum muslimin, baik termasuk dalam hal-hal pokok seperti rukun Iman dan rukun Islam. Itu menandaskan bahwa Syiah bukan Islam.
“Mereka memisahkan diri, mereka menyatakan kelompok minoritas. Maknanya mereka orang lain. Mengatasnamakan Islam, mengatasnamakan Ahlul Bait, tetapi sebenarnya mereka menipu kita,” pungkas Ustadz Farid.

Abu Jibriel Heran, Syiah Mengaku Islam Tapi Juga Mengaku Minoritas

Wakil Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Abu Muhammad Jibriel mengaku heran dengan sikap orang Syiah di Indonesia, di satu sisi mereka mengaku sebagai Islam. Namun , di satu sisi mereka mengaku sebagai kelompok minoritas.
“Islam itu di Indonesia mayoritas, kalau mereka mengaku Islam kenapa mengaku minoritas dan minta perlindungan kepada undang-undang,” katanya saaat Rapat Dengar Pendapat antara Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) dengan Komisi VIII DPR-RI, pada Rabu (04/02).
Syiah berdiri untuk menghancurkan Islam, saat ini di Yaman ada upaya dari kalangan Syiah Houtsi untuk menghapuskan surah An-Nur dari dalam Al-Qur’an.
“Karena di dalam surah An-Nur terdapat firman Allah yang membantah tuduhan zina terhadap ummul mukminin Aisyah radhiallahu anhu,” ujar Abu Jibriel.
Jika peristiwa ini difahami dengan baik dapat dikatakan bahwa Syiah itu bukan Islam. Meski, menurutnya mungkin MUI masih segan mengatakannya. Padahal, syahadat, rukun islam, dan Al-Quran nya Syiah berbeda dengan Islam.
“Lantas atas dasar apa kita segan mengatakan Syiah Bukan Islam. karena itu, diusulkan kepada MUI agar membuat fatwa bahwa Syiah Bukan Islam,” tegasnya.
Seperti diketahui, para ulama lintas ormas dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis melalui Aliansi Nasional Anti Syiah mengunjungi Komisi VIII untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait maslah Rancangan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama (RUU PUB) dan penyebaran paham sesat Syiah di berbagai daerah yang dianggap mengancam keutuhan bangsa.



Tuesday, February 17, 2015

Pak Alwi Shihab, Provokator Yang Tidak Toleransi Dan Tidak Punya Hati

JUMAT, FEBRUARI 20, 2015

                                             
 
Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi.
Kami Ahlus Sunnah Wal Jama'ah turut prihatin atas pembantaian yang dilakukan oleh segerombolan pengikut aliran sesat Syi'ah terhadap warga Ustadz Arifin Ilham di komplek Az-Zikra. 

Pembantaian dan serangan ini menunjukkan bahwa Syi'ah di indonesia sudah kuat, meski mereka tak sekuat sarang laba-laba, menunjukkan bahwa mereka telah berani namun tak seberani ubur-ubur, menunjukkan bahwa mereka telah banyak walau tak sebanyak telur unta, dan menunjukkan bahwa mereka tengah menggigil bagaikan ulat yang terkena garam laut.

Peristiwa berdarah di malam itu membuat prihatin banyak fihak baik dari kalangan awam maupun intelektual, baik salafi maupun haraki, namun sayang seribu sayang, hal itu tidak membuat Yang terhormat bapak Alwi Shihab bersimpatik dan turut prihatin, namun justru mengaggap bahwa Ustadz Arifin Ilham melakukan tindakan "provokatif" yang seolah-olah "wajar" terjadi peristiwa penyerangan itu walau dengan bahasa "kurang terpuji".

Alwi Shihab adalah tua bangka saudara kandung Muhammad Quraish Shihab dan Umar Shihab, dua tokoh penting yang menjadi "singa" penjaga bagi kelompok sesat Syi'ah Rafidhah di indonesia.

Mereka adalah dua orang tokoh Liberal yang mengaku Sunni, namun tidak pernah membela Sunni, justru senantiasa membela kelompok Syi'ah yang telah di fatwakan SESAT oleh MUI.

Untuk Pak Alwi Shihab, mesti anda ketahui bahwa spanduk yang di pasang oleh Ustadz Arifin Ilham adalah spanduk yang resmi dan tidak melanggar undang-undang atau mengarah kepada provokasi, sebab bunyi spanduk yang menyuarakan bahaya kesesatan Syi'ah itu sesuai dengan apa yang telah di fatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia Jatim. Demikian pula MUI pusat yang mengeluarkan Fatwa akan sesatnya Syi'ah Rafidhah memalui diantaranya buku edaran yang di cetak dan disebarluaskan ke masyarakat Indonesia, tujuan dan motivasi MUI menerbitkan buku tersebut adalah untuk menjaga ideologi ummat Islam (mayoritas) di negeri ini dari berbagai penyimpangan dan aliran sesat yang mengancam keutuhan bangsa Indonesia semisal aliran sesat Syi’ah Rafidhah dari Iran yang menyusup ke Indonesia.

Karena Syi’ah Rafidhah yang berkembang di Indonesia sejak Revolusi Khomaini di Iran,apabila telah berkuasa dan semakin kuat maka dikhawatirkan akan melakukan hal yang serupa seperti di negeri-negeri Arab berupa konflik dan pembantaian berdarah terhadap ummat Islam, dan itu telah terjadi berupa PEMBANTAIAN BERDARAH YANG DILAKUKAN SEGEROMBOLAN PENGIKUT SYI'AH TERHADAP UMMAT ISLAM YANG TINGGAL DI KOMPLEK MASJID AZ-ZIKRA SENTUL PIMPINAN KH.ARIFIN ILHAM DIANTARANYA TERHADAP SEORANG HABIB KETURUNAN AHLUL BAIT.


Sebelumnya Syi'ah juga menyerang Masjid yang di jadikan sebagai kegiatan dakwah sunniyah oleh para pengikut Ustadz Ja'far Umar Thalib di jawa barat. Fakta ini membuktikan bahwa SYI'AH RAFIDHAH AKAN MELAKUKAN PEMBANTAIAN DAN KONFLIK BERDARAH YANG LEBIH DAHSYAT LAGI KE ATAS UMMAT ISLAM AHLUS SUNNAH YANG MEREKA ANGGAP KAFIR. SEBAGAIMANA MEREKA TELAH MERENCANAKAN MEMBUNUH SEJUMLAH DA'I DAN ULAMA DI NEGERI INI; DIANTARANYA ADALAH USTADZ FARID OKBAH, USTADZ ABU JIBRIL, USTADZ HARTONO AHMAD JAIZ DAN TEUNGKU SYAIKH ZULKARNAIN.



Dan yang perlu anda garis bawahi bapak Alwi Shihab, bahwasanya Syi’ah dengan Islam itu bukan “berbeda”, tapi “menyimpang”.


Syi’ah itu menyimpang dari Islam dan ajarannya sesat menyesatkan sebagaimana fatwa Kyai Haji Hasyim Asy’ari Rahimahullah (pendiri NU) dalam kitabnya Qanun Asasi dan fatwa Al-Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah, bila anda tidak bisa baca kitab, saya berkenan menjumpai anda dan menunjukkan kepada anda kitab-kitab Syi'ah Rafidhah yang penuh dengan kesyirikan, kekufuran dan kesesatan yang nyata.

Perlu anda ketahui bahwa “perbedaan” dengan “penyimpangan” itu tidak sama. Fahmi Salim,Lc.MA pernah menyebutkan bahwa,"Ikhtilaf dengan Inhirof itu berbeda".

Contoh misal, kelompok Salafiyah dengan kelompok Asy’ariyah itu memilik banyak perbedaan,baik Ushul maupun furu’, akan tetapi kedua kelompok ini tidak menyimpang dari pokok ajaran Islam, Aswaja Salafi dan Aswaja NU, memiliki rukun Iman dan rukun Islam yang sama, kiblat yang sama, kitab suci yang sama, tidak seperti Syi’ah Rafidhah yang kitab sucinya bukan Al-Qur’an akan tetapi mushaf Fathimah khayalan, Syi’ah juga tidak berkiblat ke Ka’bah akan tetapi berkiblat ke Najaf di Iran dan Karbala di Iraq, adapun ke ka'bah, itu adalah Taqiyyah. Tentu ini sudah jauh menyimpang dari ajaran pokok Islam.

Demikian pula, Aswaja NU dan aswaja Salafi yang notabene-nya memiliki marja’ yang sama dalam fiqih ibadah, yakni Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali,yang semuanya adalah mazhab ahlus sunnah wal-jama’ah. [lihat artikel tgl 15/2/2015, titik temu NU-Wahabbi]

Aswaja NU cenderung bermazhab Syafi’i, sedangkan Aswaja Salafi cenderung bermazhab Hanbali.yang didalam dua kelompok ini terjadi perdebatan internal secara ilmiah yang berkepanjangan, tidak sebagaimana Syi’ah, Syi’ah tidak mengacu pada empat imam mazhab. Namun Syi’ah menciptakan Mazhab sendiri yaitu “Mazhab Ja’fariyah” yang mereka klaim sebagai Mazhab “Ahlul Bait” yang didirikan Imam Ja’far Shadiq. 
Nah dengan demikian,ini bukan sekedar perbedaan, tapi ini penyimpangan!!

Ketika seluruh Ummat Islam sedunia melaksanakan Shalat dalam satu hari sebanyak lima waktu,sementara Syi’ah melaksanakan shalat satu hari tiga waktu sebagaimana yang baru-baru ini tersebar luas di daerah jawa, dengan alasan di Jama’. Nah ini bukan perbedaan namanya, tapi penyimpangan.

Dengan demikian, tidak ada toleransi dengan kesesatan para kelompok sesat, dan tidak ada toleransi dengan kekafiran orang-orang kafir.

Bilamana anda mengumandangkan sikap "toleransi" terhadap kekafiran, maka ketahuilah bahwa sejatinya anda sangat TIDAK TOLERANSI DAN TIDAK PUNYA HATI.

Bukannya anda membela dan bersimpatik terhadap musibah yang dihadapi Ustadz Arifin Ilham, namun anda justru menyatakan bahwa mereka "provokatif". Tanpa disadari, anda benar-benar tidak punya toleransi dan tidak punya hati. !

Terimakasih


si Alwi Shihab.....

peternak “kambing hitam jahiliyah” wahabi ??!! [ gemar menuding wahhabi/penghina ( sifat ) Allah, al-Wahhab ], terkuak topeng Syi'ahnya !!!


SENIN, FEBRUARI 16, 2015
Tokoh - tokoh Syi`ah komentar setelah kasus di Al zikra
Ahmad Aunul Haq berbagi foto Haniy Ummu Umar.                                                                                                           
                                                            
                          copas dari IJABI Web Muhsin Labib :   
"Menanggapi pernyataan dari ust. Arifin Ilham yg membara-bara dan provokatif kami warga Syi'ah tdk akan gentar dan takut sedikitpun selama kami ada diatas kebenaran,jangan sekelas arifin ilham,sekelas obama dan wahabi antek yahudi pun akan kami lawan.camkan itu."
Bersiap siagalah wahai ikhwah...!
https://www.facebook.com/groups/110143232555/
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Sebetulnya yang provokatif itu pernyataan anda sendiri bukan Ust Arifin Ilham. Terus  siapa yang memulai menyerang. Ust  Arifin  itu hanya menjawab dengan bijak  sekali, lalu di katakan provokatif. Omonganmu ini yang provokatif. Kalau perkataan anda ini jelas sumbar untuk menunjukkan keberanian. Hakikatnya licik sekali anda.

Bila anda benar  tidak takut  kepada orang sekelas Obama, maka  hadapi kepolisian yang sudah memenjarakan perajuritmu yang menyerang ke Yayasan Ust Arifin Ilham. Omonganmu itu adalah omongan kosong, tidak berbobot. Maklum ajaranmu  itu suka dusta dan anti kebenaran. Masak ajaran sedemikian ini di anggap ajaran benar. Masak ajaran yang mengkafirkan sahabat itu di anggap ajaran yang benar bukan ajaran yang salah.

Bila omonganmu benar , lihat Syi`ah sampang yang tidak berani kembali ke kampungnya. Apa pembelaanmu kepada mereka.

Omonganmu itu mengajak perang, tapi kita ini ketawa saja seperti omongan orang yang tak waras, omongan orang yang tidak berpikir positif.

Kamu jangan bawa nama wahabi, maunya  mencari simpati dari kalangan sunni. Realitanya yang kamu serang itu bukan wahabi. Dengan omongan bualanmu ini saya ingat ayat:

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.[1]

Bila anda merasa kuat, lalu anda melakukan aksi lagi ke tempat lain sebagaimana yang anda lakukan di tempat Al zikra. Saya ingatkan, jangan – jangan nanti anda akan mengalami nasib  seperti teman- temanmu di Sampang  yang tidak berani pulang itu


jangan lupa !!!
June 8, 2014
Astaghfirullah, Dr. Alwi Shihab Memunculkan issu Wahabi!
Kita sudah menulis bahwa NU, Muhammadiyyah, Irsyad, Persis, Washliyyah, SI, Wahhabi, Salafi adalah ahlussunnah, maka tidak boleh berpecah, dan tidak boleh mau diadu domba.
Sayyid Alwi bin Sayyid al-Maliki sendiri bahkan telah mengabadikan pujiannya untuk syaikh Muhammad bin abdul wahhab sebagai pemimpin ahli tauhid yang benar ucapannya dan bagus thariqatnya. Baca:
http://www.gensyiah.com/sayyid-alwi-al-maliki-imam-wahabi-adalah-imam-ahli-tauhid-buka-imam-sesat.html
Sudah kita terangkan bahwa yang mengangkat issu wahhabi untuk memecah belah ahlussunnah adalah politisi syiah. Baca:
http://www.gensyiah.com/issu-wahabi-dihembuskan-politikus-syiah.html
http://www.gensyiah.com/dari-dalam-sinagog-yahudi-pejabat-iran-memprovokasi-untuk-menghabisi-sunni-yang-disitilahkan-dengan-salafi-wahabi.html
sebenarnya Dr. alwi syihab sendiri pada tanggal 21 Desember 2013 di Aula Ahmad Soebardjo Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi, di hadapan kurang 80 orang masyarakat Indonesia telah mengatakan bahwa konflik wahabi vs syiah itu disebabkan karena politik, namun sepertinya beliau terjebak sendiri dalam kata-katanya tersebut. Karena sekarang ini beliau sebagai Ketua Tim Bravo 5, tim bentukan pasangan Capres Jokowi-JK untuk menangkal seputar kampanye hitam menyangkut isu SARA yang diarahkan kepada Jokowi, maka beliau mengangkat issu wahhabi karena kepentingan politik sesaat.
Sebenarnya sangat kita sayangkan pernyataan Bapak Alwi Syihab tersebut, sebab kami khawatir bisa semakin mengeruhkan suasana bukan sebaliknya, Namun kita bisa memaklumi sebab sebelum karena kepentingan politik ini, bapak Alwi Syihab ternyata sudah condong membela syiah dan sentiment dengan wahhabi, bahkan bisa difahami sentiment dengan fatwa MUI yang menyatakan bahwa Syiah itu sesat dan menyesatkan.
Di Abu Dhabi beliau sdh menyatakan bahwa perbedaan antara sunni syiah itu sedikit! Dan beliau mengklaim bahwa NU dan Muhammadiyyah telah menyerukan MUI untuk berhati-hati dalam menyatakan sesat syiah. Lalu beliau berkata: “Padahal perbedaan yang ada hanyalah sedikit, hanya menyangkut masalah-masalah kecil, bukan hal-hal besar”. [ ?????? ]
Masyaallah!! Kami tidak tahu yang dimaksud masalah-masalah kecil itu apa. Apakah meyakini al-Qur`an muharraf dengan segala takwilnya itu kecil? Apakah masalah mengkafirkan sahabat Nabi itu kecil? Apakah mengingkari istri-istri Nabi dan putri putri Nabi selain Fatimah sebagai ahlulbait itu kecil? Apakah mengkafirkan semua umat islam selain kelompoknya itu kecil? Apakah meyakini sahabat Muawiyyah itu musuh Rasulullah, pemalsu hadits-hadits nabi beserta sahabat yang lain itu kecil? Apakah ghuluw kepada ahlulbait dan mengkambing hitamkan ahlulbait untuk kesyirikan mereka itu kecil?
Silakan baca:
http://www.gensyiah.com/syiah-mengkafirkan-sufi-bagian-1.html
http://www.gensyiah.com/syiah-mengkafirkan-kaum-shufi-bagian-2.html
http://www.gensyiah.com/syiah-mengkafirkan-asyairah-kaum-asyariyyah.html
http://www.gensyiah.com/mengkafirkan-syiah-berarti-menyerang-dan-menghancurkan-ahlussunnah-bag-i.html
http://www.gensyiah.com/bukti-pensyiahan-indonesia-secara-sistematis.html
http://www.gensyiah.com/bukti-pensyiahan-indonesia-secara-sitematis-bag-2.html
http://www.gensyiah.com/mui-jawa-timur-resmi-menetapkan-ajaran-syiah-sesat-dan-menyesatkan.html
Bapak Alwi Shihab lalu berkata:
“Keduanya sama bersyahadat, menunaikan zakat, sholat menghadap kiblat, berhaji di Mekkah, dan terdapat pula kesamaan dalam hal-hal lain sebagaimana umat Islam yang bermazhab Ahlus Sunnah. Adapun perbedaan-perbedaan yang ada, mestinya tak perlu diperuncing karena memang tak begitu signifikan”.
http://ahlulbaitindonesia.org/berita/1550/dr-alwi-shihab-hindari-mengkafirkan-sesama-muslim/
Kalau hanya ini tolak ukurnya, lalu kenapa sentiment kepada wahhabi? Kenapa diperuncing?
Sikap beliau sekarang ini mirip dengan sikap kakak kandungnya (Bapak Quraisy Shihab), yang mana bapak Quraisy shihab sangat getol membela syiah, hingga bapak KH. Ma’ruf amin Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat mengatakan: “Quraisy Syihab itu jelas mendukung syiah”
http://www.gensyiah.com/dr-maruf-amin-buku-mui-kesesatan-syiah-adalah-amanat-fatwa-1984.html
http://www.gensyiah.com/mengkritik-quraish-shihab-secara-ilmiah-bukti-bahwa-quraish-shihab-seorang-syiah.html
Kami lebih prihatin lagi jika benar Bapak Alwi Syihab berkata seperti yang diberitakan oleh tempo:
NU Dukung Prabowo, Alwi Shihab: Pengkhianat
Alwi Shihab mengatakan Nadlatul Ulama yang mendukung pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa adalah pengkhianat. Menurut dia, mereka telah disusupi kelompok Wahabi Salafi dengan menyerang pasangan capres Jokowi-JK.
”Berarti mereka mengkhianati NU, rumahnya sendiri juga para pendirinya,” kata dia di Pondok Pesantren Al-Islam, Kota Yogyakarta, Jumat, 6 Juni 2014. (Baca: Kampanye SARA ke Jokowi, Alwi Shihab: Itu Wahabi)
Wahabi, kata Alwi, mengunakan cara-cara fitnah untuk berkuasa. Dia mencontohkan mereka menyebarkan isu menyesatkan tentang Jokowi jelang dan selama masa kampanye ini, mulai dari Jokowi seorang Kristen atau banyak dikelilingi orang Kristen. Hingga, Jokowi keturunan Tionghoa dan anti-Islam, makin menunjukkan kentalnya nuansa politis demi menjatuhkan citra Jokowi agar gagal terpilih.
”Model gerakan (penyebaran fitnah) ini, menghalalkan segala cara agar bisa berkuasa,” kata mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I itu. Baca selengkapnya di: http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/06/269583022/NU-Dukung-Prabowo-Alwi-Shihab-Pengkhianat
Inilah yang semakin membuat kami prihatin, menuduh orang lain SARA tetapi beliau sendiri menghembuskan issu SARA, sampai menuduh NU yang memilih Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa berkhianat?!
Kok mudah sekali menuduh para Kyai dan umat islam yang berjumlah banyak yang memeilih pasangan Prabowo-Hatta berkhianat, hanya karena memilih Bapak Prabowo, tidak memilih calon yang dijagokan Bapak Alwi shihab.
Dengan logika yang sama seharusnya bapak Alwi lebih getol menyuarakan bahwa orang NU yang mendukung Syiah itu pengkhianat, sebab mengkhianati Ahlulbait, Imam Syafi’I, dan KH Hasyim Asy’ari.
http://meleksyiah.wordpress.com/2012/04/28/kh-hasyim-asyari-pendiri-nu-kecam-syiah/
semoga pilpres 2014 berjalan lancar tanpa kerusuhan
dan Indonesia dipimpin oleh pasangan yang membawa bangsa Indonesia bermartabat dan berwibawa serta umat islam Indonesia yang sunni ini dihindarkan dari aliran sesat yang juga bisa mengancam NKRI semisal Syiah. Aamiin
mohon maaf jika ada yang kurang berkenan./gensyiah.com

Ulama NU Jawa Timur : Kalau Wahabi Masih Ahlu Sunnah, Kalo Syiah Bukan

Pengikut Syiah dan pendukungnya sering kali menuduh pihak yang menuding Syiah sesat adalah agen zionis, pemecah belah umat dan terakhir dituduh Wahabi. Hampir selalu Wahabi yang menjadi kambing hitam jika terkait isu gerakan yang membongkar kesesatan Syiah.
Menariknya justru kalangan yang sering diposisikan sangat berseberangan dengan kelompok yang dituduh Wahabi, menyatakan hal sebaliknya. Hal itu terungkap dalam konferensi pers setelah acara tabligh akbar bertajuk Mengokohkan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia, yang digelar Ahad kemarin (16/9 2012) di masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Jakarta.

Sewaktu ditanya soal kenapa setiap ada upaya membongkar kesesatan Syiah, kalangan Syiah sering menyerang balik dengan menyatakan bahwa Wahabi dibelakang aksi yang menuduh Syiah sesat, Habib Zein Al Kaff mengatakan: wahabi sama-sama Ahlussunnah, kalau mereka (Syiah) bukan. Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda, tegas Habib yang memimpin Yayasan Al-Bayyinat Jawa Timur dan anggota dewan Syuriah PWNU Jawa Timur tersebut.

Habib Zein dalam acara tabligh akbar Mengokohkan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia, juga kembali mengulang pernyataanya pada November tahun lalu bahwa Habib yang masuk Syiah sudah bukan habib lagi. Saya katakan tidak ada Habib yang masuk Syiah, Habib yang masuk Syiah bukan Habib lagi, tapi sudah mantan Habib. (Dia) bukan habib lagi.(fq) eramuslim.com, Furqan Senin, 1 Zulqadah 1433 H / 17 September 2012 10:57 WIB

- See more at: http://www.nahimunkar.com/habib-zein....4rOikaZP.dpuf
coba tiru Malaysia !!!
Malaysia Larang Keberadaan Syiah, Pengikutnya Dipantau Ketat
Rabu, 29 Rabiul Akhir 1436 H / 18 Februari 2015 09:00 WIB

Sepanjang sejarahnya, syiah selalu melakukan kudeta terhadap kekuasaan dan mengguncang stabilitas negeri. Pemerintah Malaysia menyadari bahaya Syiah di negerinya, sebab itu Malaysia melarang penyebaran ajaran Syiah di sana.
“Kita tidak ingin berlaku perpecahan antar masyarakat seperti yang terjadi di Bahrain, Irak, dan beberapa negara Muslim lainnya,” ujar Menteri Dalam Negeri Malaysia, Dr. Ahmad Zahid Hamidi pada acara Pelatihan Kepemimpinan Muda Muslim Indonesia-Malaysia di Bogor (5/10/13).
Menurut pria yang pernah menjabat Menteri Pertahanan Malaysia ini, jumlah pengikut Syiah di Malaysia saat ini ada sekitar 300.000 orang. Mereka terus dipantau dengan ketat dan dilarang menyebarkan ajaran-ajarannya secara terbuka.Dalam beberapa tahun terakhir,  langkah-langkah mengawasi dan mengharamkan syiah di Malaysia ditingkatkan.
Sekretaris Kementerian Dalam Negeri Malaysia, Jenderal Datuk Seri Abdul Rahim Mohamad Radzi, sebagaimana dikutip islamtimes.org, menyampaikan agar mewaspadi media online yang menjadi sarana penyebaran ajaran Syiah.
“Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu faktor pertumbuhan mereka karena ajaran-ajaran mereka menyebar lewat berbagai situs sosial,” kata Radzi sambil mendesak agar gerakan Syiah segera dibasmi.
Dia mengatakan, langkah-langkah pemberantasan akan melibatkan Kementerian Dalam Negeri, polisi, Registrar of Societies, kontrol publikasi di bawah Percetakan dan Publikasi Act, pembatasan produksi CD dan DVD oleh Dewan Sensor Film dan pemantauan oleh Departemen Imigrasi.
Radzi lebih lanjut menambahkan, sejauh ini 10 negara bagian telah melarang gerakan Syiah dengan UU anti Syariah. Sementara pemerintah di 4 negara bagian lain yaitu  Pahang, Kelantan, Sabah dan Serawak juga akan mengambil langkah yang sama. Sementara itu, di kota Perak Ipoh, Departemen Agama Islam Perak telah menangkap dua warga, di antaranya seorang dokter perempuan atas dugaan keterlibatan mereka dalam gerakan Syiah.
Pada 13 Oktober 2013, Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) Malaysia menggerebek markas Syiah di Taman Seri Gombak dan menyita banyak barang bukti yang terkait dengan ajaran-ajaran sesat tersebut.
Menurut Petugas Divisi Penegakan JAIS Mohd Sharom Mat Maarof, penggerebekan terhadap markas Syiah itu dilakukan berdasar pada pasal 12C Pidana Pelanggaran Syariah (Selangor) Pengesahan 1995 karena menentang fatwa mufti Selangor dan pasal 7 tentang larangan penyebaran ajaran sesat. Bagaimana dengan Indonesia?
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/malaysia-larang-keberadaan-syiah-pengikutnya-dipantau-ketat.htm#.VOQQwvmsUVB

 




Pendapat ulama rujukan NU sama dg wahabi

… agar Said Aqil Siradj Ketua Umum PBNU yang dikenal sangat membenci Wahabi dan para ulama muwahid hendaknya membaca kitab tersebut. “Pak Said Aqil Siradj suruh baca ini ya!”
Dalam acara bedah buku yang ditulis ustadz Aman Abdurrahman berjudul “Ya… Mereka Memang Thaghut” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, salah satu pembicara ustadz Fuad Al Hazimi menepis stigma bahwa pembahasan tentang thaghut selama ini hanya digaungkan oleh kaum Wahabi ekstrim, dimana di antara golongan yang termasuk  thaghut adalah orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.
Permasalahan ini menjadi syubhat di tengah-tengah umat lantaran pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah hanya dikatakan kufur Ashghar, dianggap muslim dan harus di taati.
Dari makalah yang disampaikan ustadz Fuad dipaparkan bahwa pada dasarnya ulama dari berbagai kalangan termasuk Imam Baidhawi yang merupakan ulama mufassir yang menjadi rujukan kalangan Nahdliyyin meyatakan dengan tegas bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah telah kafir dan wajib dijatuhi hukuman mati.
“Sekarang saya sampaikan fatwanya ulama orang Nahdliyyin, soalnya ada juga yang beranggapan ini  kelompok ekstrem Wahabi,” ungkap mantan Imam masjid Al Hijrah Sydney Australia, Ahad (11/3/2012).
Ia melanjutkan pembahasan dengan mengutip tulisan keterangan Imam Baidhowi dalam Tafsir Anwarut Tanzil Wa Asrarut Ta’wil.
“Imam Baidhowi, ulama tafsir panutan kaum Nahdliyyin menulis dalam Tafsir Baidhowi:
قال في تفسير قوله تعالى {وما أرسلنا من رسول إلاّ ليُطاع بإذن الله} [النساء: 64] : وكأنّه احتجّ بذلك على أنّ الذي لم يرضَ بحكمه -وإن أظهر الإسلام- كان كافراً مستوجب القتل، وتقريره أنّ إرسال الرسول لمّا لم يكن إلاّ ليطاع، كان من لم يطعه ولم يرض بحكمه، لم يقبل رسالتَه، ومن كان كذلك كان كافراً مستوجب القتل
( أنوار التنزيل وأسرار التأويل للإمام البيضاوي، 1/222)
Beliau menafsirkan ayat :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ
“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah”. (QS An Nisa’ 64).
“…Dengan ayat ini sepertinya Allah ingin menegaskan bahwasanya barangsiapa yang tidak ridho dengan hukum (keputusan) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam –walaupun ia menampakkan keislamannya- orang ini telah kafir dan wajib mendapatkan hukuman mati.
Penegasan ini (dapat kita pahami dari ayat di atas) bahwasanya diutusnya seorang Rasul tidak ada tujuan lain kecuali agar ia dipatuhi dan diikuti. Oleh karena itu barangsiapa yang tidak mau patuh dan ridho dengan ketetapan dan hukum yang telah diputuskannya, tidak mau menerima risalahnya, orang seperti ini telah kafir dan wajib mendapatkan hukuman mati.”  (Anwarut Tanzil Wa Asrarut Ta’wil – Imam Baidhowy juz 1 hal 222).” Papar ustadz Fuad di hadapan ratusan hadirin yang memenuhi ruangan.
Di sela-sela pemaparannya, sambil berkelakar ustadz Fuad juga menyampaikan agar Said Aqil Siradj Ketua Umum PBNU yang dikenal sangat membenci Wahabi dan para ulama muwahid hendaknya membaca kitab tersebut. “Pak Said Aqil Siradj suruh baca ini ya!” ujarnya. [Ahmed Widad] (voa-islam.com)  Senin, 12 Mar 2012. (nahimunkar.com, 13 March 2012)
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ada juga tokoh ulama yang di idolakan kalangan orang – orang NU, bahkan tafsir Jalalain karyanya juga menu pelajaran rutin di pesantren NU – Dia bernama Imam Suyuthi menyatakan  sebagaimana pendapat ulama wahabi sbb:
الدُّرُّ الْمَنْثُورُ ( ج 2 / ص 279 )

فَإذاً رَأَّوْا الامَامَ يَحْكُمُ بِغَيْرَ الْحَقَّ قَالُوا : قَدْ كَفَرَ فَمِنْ كَفَرَ عَدَلَهُ بِرَبِّهُ ،وَمِنْ عَدَلَ بِرَبِّهُ فَقَدْ أَشْرَكَ بِرَبِّهُ . فَهَؤُلَاءِ الأَئِمَّةُ مُشْرِكُوْنَ
Bila mereka melihat Imam menjatuhkan hukum yang tidak benar ( menurut al Quran ) , mereka  berkata: Imam telah melakukan kekufuran. Barang siapa yang menjalankan kekufuran ber arti telah mengenyampiungkan Tuhannya. Dan barang siapa berbuat demikian, sama dengan syirik. Para pemimpin itu musrik.  Durrul mantsur  279/2



Monday, February 16, 2015

Dari Suriah Untuk Yaman: Syiah Tidak Akan Mengalahkan Umat Islam

Jatuhnya Yaman ke tangan pemberontak Syiah Hautsi sejak September 2014 lalu telah mengundang perhatian umat Islam dan ulamanya. Salah satunya adalah Syaikh Abdullah Al-Muhaisini. Dari bumi jihad Suriah, beliau menyampaikan keutamaan Yaman, kondisi saat ini dan hal mendesak yang harus dilakukan oleh umat Islam. Berikut pesannya seperti diungkapkan di laman twitternya:
Saudara-saudaraku di mana pun kalian berada, kita mencintai saudara-saudara kita di Yaman karena Allah dan mereka pun mencintai kita dengan alasan yang sama! Saya berbicara terutama saya tujukan kepada para tokoh dan singa-singa Yaman, sekarang, kami tidak sedang berbicara kepada kalian tentang tenda-tenda Muslim Syam, tetapi tentang jatuhnya kota Shan’a.
Kota Shan’a telah melahirkan Imam As-Syaukani, Ibnu Amir Ash-Shan’ani, Ibnu Wazir, Al-Mu’alimi, dan masih banyak ulama lain.
Kabar gembira penaklukan Shan’a telah disampaikan oleh Nabi saw ketika sedang menggali parit perang Khandaq, beliau berkata, “Aku melihat gerbang Shan’a dari tempatku ini.” Maksudnya bahwa Yaman akan ditaklukkan sampai ke Baghdad dari Persia.
Shan’a dikabarkan oleh Nabi saw bahwa Islam akan menguasai dan mengaturnya. Beliau berkata, “… sehingga seorang yang berkendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak akan takut kecuali hanya kepada Allah dan dari serangan serigala.”
Beliau mengabarkan tentang penduduk Yaman bahwa mereka adalah masyarakat yang paling lembut hatinya. Beliau bersabda, “Keimanan ada di Yaman dan hikmah juga terdapat di Yaman.”

Sekarang saatnya kita membuktikan keyakinan tersebut wahai umatku dan para mujahidin di Yaman.

Apa yang terjadi hari ini pada negeri kalian adalah persekongkolan yang hampir-hampir langit terbelah karenanya.

Allah dan orang-orang mukmin akan melihat amal kalian. Demi Allah, kami tahu kalian adalah manusia yang kuat dalam peperangan, sabar ketika bertemu dengan musuh. Tidak mungkin 10% Syiah Hauthi akan mengalahkan 90% Ahlus Sunah. Mustahil, cucu-cucu Ibnu Saba’ bisa menghancurkan cucu-cucu Abu Bakar dan Umar.
Yaman adalah amanah di pundak kalian. Sejarah akan mencatat sikap kalian hari ini. Sungguh, Islam akan datang dari perjuangan kalian. Wahai singa-singa Yaman, kami mengetahui kekuatan dan keteguhan kalian ketika di Damaj, kalian mampu mengusir seluruh Syiah Hauthi.
Demi Allah tidak mungkin para pengikut Abdullah bin Saba’ akan menguasai Shan’a kalau bukan karena pengkhianatan Presiden Hadi dan antek-anteknya.
Wahai penduduk Yaman, ingatlah bahwa pendiri Syiah Rafidhah adalah Abdullah bin Saba’. Ia adalah seorang Yahudi dari Shan’a, yang pura-pura masuk Islam untuk menghancurkannya. Sekarang, cucu-cucunya telah menguasai Shan’a.
Dahulu, Baghdad telah dijajah oleh Tatar, dengan bantuan Ibnu Alqami, seorang Rafidhah pegawai pemerintahan sendiri. Hari ini anak cucunya membukakan pintu bagi penjajah Amerika di Irak.

Inilah yang mereka inginkan: jatuhnya Shan’a.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Demikian juga, jika orang-orang Yahudi memiliki negara di Irak, atau di wilayah lain, maka Syiah Rafidhah menjadi pendukung utama mereka! Mereka selalu setia kepada orang kafir.”

Ibnu Hazm berkata, “Kami tidak pernah mengetahui penduduk negeri mana pun yang lebih bernafsu untuk merusak Islam selain Rafidhah.” Kerusakan Rafidhah hari ini sudah tidak ada yang tersembunyi lagi bagi siapa pun.
Wahai para ksatria Yaman yang berwibawa, orang-orang memilih damai hingga Rafidhah datang dan menjajah San’a. Namun Allah telah memilih jihad untuk kalian.
Kami tahu tentang kalian bahwa kalian menolak kehinaan dan tidak akan tidur dalam kerendahan diri. Maka ingatlah sabda Nabi saw, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan menghinakan mereka.”
Demi Allah apa yang terjadi sekarang seolah-olah kami sedang membaca firman Allah, “Rencana yang jahat tidak akan menimpa kecuali orang yang merancang itu sendiri.” (Fathir: 43). Mereka telah membuat makar dan Allah pun membuat makar wahai para pejuang Yaman! Semoga Allah meneguhkan kalian
Saya tidak mengatakan besok, tetapi sekarang juga, wahai saudaraku para mujahid! Bersatulah dalam satu barisan dan janganlah berpecah belah wahai para ksatria!
Universitas Al-Iman—Allah telah memuliakan saya untuk mengunjunginya—adalah medan pertempuran tang terhampar di depan klaim, lantas apa yang masih kalian tunggu? Mereka menghancurkan rumah-rumah Allah dan menghina Bunda (Aisyah r.ah) kalian.
Wahai para pemuka kabilah, jika kalian berjihad maka bagi kalian pahala dan pahala bagi keluarga Anda. Jika kalian mundur—semoga Allah melindungi kalian—maka bagi kalian dosa kalian dan dosa orang-orang yang mundur karena kalian.
Wahai Syaikh yang mulia (Abu Basir Al-Wuhaisyi) dan segenap saudaranya, janganlah kalian mengabaikan saudara-saudara kalian. Kalian adalah para pahlawan dan ksatria perang. Ingatlah Allah!
Bukalah front untuk melawan musuh-musuh kalian, berlemah-lembutlah kepada saudara kalian, dan terimalah orang-orang baik dan satukanlah umat dalam satu barisan.

Wahai pasukan kuda Allah, majulah! Wahai tentara Ansharus Syariah, bertempurlah!

Perang telah dimulai! Gempurlah mereka dengan senjata dan bom kalian!

Allah telah memberi kenikmatan kepada kalian dengan menyadarkan kalian tentang keburukan Ali Saleh dan Hadi serta antek-anteknya. Mereka adalah serigala-serigala berbulu domba! Bagaimana dengan Syiah yang telah mencengkeramkan makarnya, apa reaksi kalian?
Wahai para pemuda Yaman, dari sini dan dari Syam aku ingatkan kalian, jika sekarang kalian tidak mau berjihad maka kalian telah melakukan dosa besar, dosa yang paling besar daripada dosa-dosa yang lain. Rasulullah saw bersabda, “Akan datang pada umat ini suatu zaman; para qari Qur’an mereka akan berkata, ‘Sekarang bukanlah zaman untuk berjihad.’ Barang siapa menemui masa itu, maka itulah masa jihad yang paling indah.
Jika mereka memalingkan kalian dari jihad, meninggalkan jihad, maka katakan kepada mereka, “Kami takut ancaman dari Allah Rabb semesta alam.”

“Jika kalian berpaling ke belakang maka kalian akan diazab dengan azab yang pedih.”

Apa yang kalian tunggu? Sekarang pintu-pintu jihad telah terbuka. Rumah-rumah di Surga telah dibuka. Bidadari-bidadari yang cantik telah berhias. Lalu adakah orang yang menjawab seruan ini?

Di manakah orang-orang yang siap?

Dan kalian wahai konglomerat Yaman, bantulah saudara kalian para mujahidin dengan harta kalian dan ketahuilah bahwa Allah telah mendahulukan jihad harta (sebelum jihad jiwa) dalam banyak firmannya.

Terakhir saya katakan (firman Allah), “Janganlah engkau menyangka bahwa itu buruk bagi kalian tapi itu adalah baik bagi kalian.”

Berapa banyak kita butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat tentang kejahatan Ali Saleh dan antek-anteknya, terutama dengan keberadaan para ulama su’. Dengan alasan penguasa telah membangun masjid agung, mereka menjadikan itu sebagai kebaikan yang menutupi semua bentuk kemurtadan yang dilakukan dan semua perang terhadap Islam yang dilancarkan. Allah telah membongkar aibnya dengan keadilan-Nya.
Ya Allah berilah kemenangan kepada para Mujahidin di Yaman dengan hikmah dan iman. Satukanlah barisan mereka. Tolonglah agama dan Kitab-Mu melalui mereka. Bimbingkanlah mereka untuk menapaki jalan nabimu.[]