Tuesday, May 19, 2015

Mengenal Kelompok Murji’ah Baru (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

                                                                               
                                                     
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahberkata:
و المرجئة أربع طوائف :
الطائفة الأولى :غلاةالمرجئة ، و هم هؤلاء الجهمية الذينيقولون الإيمان مجرد المعرفة .
الطائفة الثانية :الأشاعرة وهم الذين يقولون : الإيمان هوالتصديق بالقلب فقط و لو لم ينطق بلسانه لا مجردالمعرفة .
الطائفة الثالة :الكرَّامية الذين يقولون : إن الإيمان هو النطقباللسان و لو لم يعتقد بقلبه .
الطائفة الرابعة :مرجئةالفقهاء الذين يقولون : إن الإيمان قول باللسان و اعتقاد بالقلب و لا تدخل الأعمالفي حقيقة الإيمان . 
و هناك فرقة خامسة ظهرت الآن و هم الذين يقولون : إن الأعمال شرط في كمال الإيمان الواجب أوالكمال المستحب

“Murji’ah berpecah menjadi 4 kelompok:

Kelompok pertama; Ghullatul Murji’ah, mereka adalah Jahmiyyah yang menyatakan bahwa iman hanyalah ma’rifah (pengenalan)

Kelompok kedua; Al-Asya’irah, mereka menyatakan bahwa iman hanyalahtashdiq (pembenaran) dalam hati, meskipun ia tidak mengucapkan syahadat di lisannya. Mereka tidak hanya mencukupkan dengan ma’rifah

Kelompok ketiga; Al-Karraamiyyah, mereka menyatakan bahwa iman adalah ucapan lisan, meskipun hatinya tidak meyakini.

Kelompok keempat; Murji’atul Fuqaha’, mereka menyatakan bahwa iman adalah ucapan lisan dan i’tiqad dalam hati, sedangkan amal tidak termasuk hakikat iman.

Di sana terdapat kelompok kelima yang baru muncul sekarang, mereka menyatakan bahwa amal adalah syarat kesempurnaan iman wajib atau syarat kesempurnaan iman mustahhab” [At-Ta’liq Al-Mukhtashar ‘alal Qashidah An-Nuniyah, 2/647]

Mereka sangat getol menukilkan perkataan ulama Asya’irah untuk mendukung keyakinan mereka, sebab Murji’ah dan Asya’irah sedikit banyak memiliki kesamaan dalam masalah iman. Namun mereka tidak sedikitpun mengingatkan para pembaca tentang penyimpangan aqidah ulama yang mereka nukil, barangkali alasannya karena kebetulan perkataan ulama tersebut mencocoki keyakinan mereka.

Bagaimanakah aqidah Abul-Hasan Al-Asy’ari dalam permasalahan iman?

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata:

الإيمان هو التصديق بالجنان، وأما القول باللسان والعمل بالأركان ففروعه، فمن صدق بالقلب، أي أقربوحدانية الله تعالى، واعترف بالرسل تصديقا لهم فيما جاءوا به من عند الله صح إيمانه، حتى لو ماتعليه في الحال كان مؤمنا ناجيا، ولا يخرج من الإيمان إلا بإنكار شيء من ذلك

“Iman adalah tashdiiq (pembenaran) dalam hati. Adapun perkataan dan amal jawarih, keduanya hanyalah cabang-cabangnya. Barangsiapa yangmembenarkan dalam hati yaitu mengakui keesaan Allah ta’ala dan meyakini kebenaran ajaran yang dibawa oleh para rasul dari sisi Allah, maka sah imannya. Jika ia mati dalam keadaan tersebut, maka ia adalah seorang mukmin yang selamat. Tidak boleh mengeluarkan seseorang dari iman kecuali dengan mengingkari hal tersebut.” [Al-Milal wa An-Nihal karya Asy-Syihristani, hal. 101]

Kelaziman dari aqidah Asya’irah, Abu Thalib dan Iblis adalah muslim. Karena Abu Thalib meyakini keesaan Allah dan membenarkan ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hatinya (tashdiiq). Begitu pula Iblis, ia pun meyakini keesaan Allah dan meyakini kebenaran ajaran yang dibawa oleh para rasulshalawatullah ‘alaihim.

Berikut beberapa perkataan para ulama Asya’irah atau perkataan mutasyabih sebagian ulama salaf yang seolah-olah mendukung keyakinan Murji’ah:

Pertama, Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri Al-Asy’ari rahimahullah berkata:

فمن اتى بالعمل فقد حصل الكمال و من تركه فهو مؤمن لكنه فوت على نفسه الكمال اذا لم يكن مع ذلكاستحلال او عناد للشارع او شك في مشروعيته

“Barangsiapa yang beramal, sungguh ia telah memperoleh kesempurnaan. Barangsiapa yang meninggalkan amal, maka ia mukmin namun terluput kesempurnaan iman darinya, apabila tidak dibarengi dengan penghalalan, sikap membangkang terhadap syariat atau ragu terhadap disyariatkannya amal” [Tuhfatul Murid hal. 66]

Kedua, Badruddin Al-‘Aini menukilkan ungkapan Abu Ishaq Asy-Syirazi ketika menghikayatkan perkataan Asy-Syafi’i berikut:

الإيمان هو التصديق والإقرار والعمل، فالمخلُّ بالأول وحده منافق، وبالثاني وحده كافر، وبالثالث وحدهفاسق ينجو من الخلود النار ويدخل في الجنة

“Iman itu adalah tashdiiq, iqraar, dan amal. Ketiadaan hal pertama saja, maka ia munafik. Ketiadaan hal kedua saja, maka ia kafir. Dan ketiadaan hal ketiga saja, maka ia fasik yang selamat dari kekekalan neraka dan (kemudian) masuk ke dalam surga” [Dinukil Asy-Syiiraaziy dalam ‘Umdatul-Qaari’, 1/175]

Tahukah Anda bahwa Badruddin Al-Aini dan Abu Ishaq Asy-Syirazi, keduanya merupakan ulama Asya’irah? Ini beberapa buktinya:

Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah berkata:

وأبوالحسن الأشعري إمام أهل السنة، وعامة أصحاب الشافعي على مذهبه، ومذهبه مذهب أهل الحق
“Abul-Hasan Al-Asy’ari adalah seorang imam ahlussunnah. Kebanyakan para sahabat (ulama –pen) Asy-Syafi’i berada di atas madzhab beliau. Madzhab Asy’ari merupakan madzhab ahlul haq.” [Thabaqat Asy-Syafi’iyyah, 3/376]

Badruddin Al-Aini rahimahullah mengomentari hadits-hadits yang berbicara tentang sifat Allah:

والحديث من المتشابهات فحكمه التفويض أو التأويل بما يليق به

“Hadits ini termasuk hadits-hadits  mutasyabih, maka dihukumi tafwidh atauta’wil yang layak dengannya” [Umdatul Qari, 22/139]

Al-Aini berkomentar tentang hadits an-nuzuul:

وهذا من باب المتشابهات والأمر فيها قد علم أنه إما التفويض وإما التَّأويل بنزول ملك الرحمة

“Ini termasuk bab mutasyabihat, perkaranya telah diketahui yaitu dihukumitafwidh atau ta’wil dengan turunnya malaikat rahmat” [Umdatul Qari, 25/159]

Al-Aini mengomentari hadits “Pada hari kiamat nanti, Allah menjadikan langit-langit di satu jari, sedangkan bumi-bumi dan air di jari yang lain”:

وقد قلنا إن الحديث من المتشابهات والأمر فيه إما التَّفويض وإما التَّأويل

“Sungguh kami telah menyatakan bahwa hadits ini termasuk mutasyabih, perkaranya dihukumi tafwidh atau ta’wil.” [Umdatul Qari, 25/168]

Alasan lain karena Al-Aini bermadzhab Hanafi, barangkali ia mengikuti aqidah Abu Hanifah dalam masalah iman yaitu Murji'atul Fuqaha.  Allahua'lam

Ketiga, An-Nawawiy rahimahullah berkata:

مذهبُ أهلِ الحقِّ : أنّ الإيمانَ المُنجِي منَ الخلودِ في النّارِ لا بدّ فيه منَ الاعتقادِ والنّطق

“Madzhab ahlul-haq : bahwasannya keimanan yang terlindung dari kekekalan neraka adalah i’tiqaad dan pengucapan (dua kalimat syahadat)” [Syarh Shahiih Muslim, 1/240]

Jawaban dari nukilan di atas, telah diketahui secara pasti bahwa An-Nawawi bermadzاab Asy’ari dalam masalah aqidah. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri, sehingga tidak membutuhkan banyak nukilan tentang beliau.

Duhai, kenapa mereka mesti menukil perkataan ulama Asya’irah? Kenapa tidak mencukupkan denga nukilan-nukilan dari para ulama ahlus-sunnah? Apakah mereka tidak ridha dengan aqidah para ulama ahlus-sunnah? Ataukah hawa nafsu telah menguasai mereka, sehingga nekad mencomot semua nukilan yang mendukung, meskipun berasal dari orang-orang yang memiliki penyimpangan aqidah.

Keempat, seringkali mereka menukil perkataan Ibnu Hazm rahimahullahberikut:

وَمَن ضيّعَ الأعمالَ كلَّها فهُوَ مؤمِنٌ عاصٍ ناقصُ الإيمانِ ، لا يكفُر

“Dan barangsiapa yang menelantarkan seluruh amal, maka ia mukmin yang bermaksiat lagi kurang imannya. Tidak dikafirkan” [Al-Muhallaa, 1/40-41]

Jawaban dari syubhat ini dari dua sisi:

Sisi pertama, perkataan Ibnu Hazm dalam masalah aqidah tidak bisa dipegang, terutama dalam masalah shifaat karena beliau bergelimang dalam ilmu manthiq dan filsafat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

ابن حزم وأمثاله ممن وافقوا الجهمية على نفي الصِّفات

“Ibnu Hazm dan yang semisalnya mencocoki Jahmiyyah dalam peniadaan shifaat” [Dar’ut Ta’arudh Al-Aql wan Naql, 7/263]

Ibnu Abdil Hadi rahimahullah berkata:

ولكن تبين لي منه أنه جهمي جلد…
وقد كان ابن حزم قد اشتغل في المنطق والفلسفة، وأمعن في ذلك، فتقرر في ذهنه لهذا السَّبب معانيباطلة

“Namun telah jelas bagiku dari Ibnu Hazm bahwa ia adalah seorang Jahmi tulen… Dahulu Ibnu Hazm menyibukkan diri dengan ilmu manthiq dan filsafat serta memperdalamnya. Oleh karena itu, bercokol dalam pikirannya (perkataan-perkataan –pen) yang mengandung makna batil” [Mukhtashar Thabaqat Ulama Al-Hadits hal. 401]

Ibnu Aqil Az-Zhahiri rahimahullah berkata:

وإنما ضلَّ أبو محمد في العقائد لأنه لم يحسن تطبيق أصول الأخذ بالظاهر

“Abu Muhammad (Ibnu Hazm –pen) tersesat dalam masalah aqidah, karena ia tidak pandai dalam menerapkan ushul mengambil nash yang zhahir” [Ibnu Hazm Khilal Alfa ‘Am, 4/254]

Sisi kedua, Ibnu Hazm sendiri menukilkan ijma’ tentang kekafiran seorang yang meninggalkan shalat dalam perkataannya:

وقد جاء عن عمر وعبد الرحمن بن عوف ومعاذ بن جبل وأبي هريرة وغيرهم من الصحابة - رضي اللهعنهم - أن من ترك صلاة فرض واحدة متعمدا حتى يخرج وقتها فهو كافر مرتد ، ولا نعلم لهؤلاء منالصحابة مخالف

“Telah datang riwayat dari Umar, Abdurrahman bin Auf, Mu’adz bin Jabal, Abu Hurairah dan para sahabat yang lain bahwa barangsiapa yang meninggalkan satu shalat fardhu hingga keluar waktunya secara sengaja, maka ia kafir murtad. Kami tidak mengetahui adanya sahabat yang menyelisihi.” [Al-Muhalla, 2/15]

Bagaimana mungkin seorang yang meninggalkan satu shalat dikafirkan oleh Ibnu Hazm, sedangkan seorang yang meninggalkan seluruh amal dikatakan mukmin!! Akal siapakah yang bisa menjawab kontradiksi ini?

Kelima, mereka menerjemahkan perkataan Asy-Syafi’i rahimahullah dengan ungkapan berikut:

وكان الإجماع من الصحابة و التابعين من بعدهم ومن أدركناهم يقولون الإيمان قول وعمل ونية لا يجزئواحد من الثلاثة إلا بالأخر

“Para sahabat, tabi’in setelah mereka, dan para ulama yang kami temui, mereka telah bersepakat (ijma’) mengatakan iman adalah perkataan, amal, dan niat. Salah satu dari ketiganya tidaklah mencukupi kecuali dengan yang lainnya” 

Penafsiran mereka dalam memahami perkataan Asy-Syafi’i tidaklah mengeluarkan keyakinan mereka dari aqidah Murji’ah, karena tidak ada perselisihan di antara kelompok Murji’ah sendiri bahwa amal ketaatan adalah hal yang dituntut dalam syariat. Hanya saja beberapa sekte Murji’ah berselisih tentang konsekuensi bagi orang-orang yang meninggalkan amal. Sebagian  menyatakan imannya sempurna seperti iman malaikat Jibril, sebagian menyatakan iman mereka tidak berkurang dengan meninggalkan amal, sebagian menyatakan imannya tidak sempurna meskipun tidak beramal sama sekali.  

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فإن المرجئة لا تنازع في أن الإيمان الذي في القلب يدعو إلى فعل الطاعة ويقتضي ذلك، والطاعة منثمراته ونتائجه

“Sungguh Murji’ah tidak berselisih bahwa iman yang ada dalam hatimengharuskan amal ketaatan dan merupakan konsekuensinya, amal ketaatan merupakan buah dan hasilnya.. [Al-Iman hal. 45]

Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata:

فمن عرف ارتباط الظاهر بالباطن زالت عنه الشبهة في هذا الباب وعلم أن من قال من الفقهاء أنه إذاأقر بالوجوب وامتنع عن الفعل لا يقتل أو يقتل مع إسلامه فإنه دخلت عليه الشبهة التي دخلت علىالمرجئة والجهمية

“Barangsiapa yang mengetahui keterkaitan antara zhahir (amal jawarih) dan batin (ashlul-iman), maka akan terjawablah syubhat dalam bab ini. Ia akan mengetahui kenapa ada dari sebagian fuqaha’ yang menyatakan “ketika seorang mengakui kewajibannya, namun tidak mau beramal maka ia tidak dibunuh atau dibunuh dalam keadaan masih muslim (bukan karena kekafirannya –pen-)”. Sungguh mereka terpengaruh oleh syubhat yang masuk pada kelompok Murji’ah dan Jahmiyyah”. [Majmuu’ Al-Fatawa, 7/616]

Keenam, keganjilan berikutnya, kesamaan keyakinan mereka dengan aqidah pendahulu mereka dari kalangan Murji’ah bahwa meninggalkan amal tidak menyebabkan berkurangnya iman dalam satu kondisi, yaitu saat iman dalam hati tinggal tersisa ashlul-iman. Meninggalkan amal dalam kondisi ini sama sekali tidak mengurangi iman menurut mereka. Keyakinan “meninggalkan amal tidak mengurangi iman” bertentangan dengan aqidah ahlus-sunnah tanpa ada keraguan sedikit pun.

Al-Bukhari rahimahullah berkata:

وَسُئِلَ الأَوْزَاعِيُّ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنِ الإِيمَانِ، فَقَالَ: " الإِيمَانُ يَزِيدُ، وَيَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيمَانَ لا يَزِيدُ، وَلايَنْقُصُ فَهُوَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ فَاحْذَرُوهُ ".

“Al-Auzaa’iy pernah ditanya - dan waktu itu aku mendengarnya – tentang iman, lalu ia menjawab : “Iman dapat bertambah maupun berkurang. Barangsiapa yang menyangka iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang, maka ia adalah pelaku bid’ah. Waspadalah terhadapnya” [Juz’u Raf’il-Yadain fish-Shalaah hal. 154]

Al-Baghawi rahimahullah berkata:

المرجئة: هُم الّذين لا يرون الطاعة مِن الْإِيمَان، ويقولون: الْإِيمَان لا يزيد بالطاعة، ولا ينقص بالمعصية

“Murji’ah adalah mereka yang tidak memandang ketaatan termasuk bagian dari iman. Mereka berkata : ‘Iman tidak bertambah dengan ketaatan dan tidak pula berkurang dengan kemaksiatan” [Syarhus-Sunnah 13/129]

Abul-Qasim Al-Ashbahani rahimahullah berkata:

والمرجئة تقول: إن العمل ليس من الإيمان وإن مرتكب الكبيرة مؤمن، وإن الإيمان لا يزيد ولا ينقص

“Dan Murji’ah berkata: ‘Sesungguhnya perbuatan tidak termasuk keimanan, orang yang melakukan dosa besar adalah seorang mukmin, serta iman tidak dapat bertambah dan tidak pula berkurang” [Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah, 2/383]

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ إِدْرِيسَ، يَقُولُ: كَذَبَ مَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيمَانَ لا يَزِيدُ وَلا يَنْقُصُ

Dari ‘Abdullah bin Idriis, ia berkata : “Telah berdusta orang yang menyangka iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang” [Al-Muntaqaa no. 97]

Ketujuh, mereka juga selalu mengulang-ulang perkataan Al-Barbaharirahimahullah berikut untuk berlepas diri dari aqidah Murji’ah:

ومن قال : (الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص)، فقد خرج من الإرجاء كلِّه، أوَّله وآخره.

“Barangsiapa yang mengatakan : ‘iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah maupun berkurang’ ; sungguh ia telah keluar dari (bid’ah) irjaa’ secara keseluruhan, dari awal hingga akhirnya” [Syarhus-Sunnah, hal. 123, 161]

Syubhat ini juga dijawab dari dua sisi:

Sisi pertama, keyakinan mereka dalam masalah iman merupakan keyakinan yang baru muncul belakangan, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahmenggolongkan mereka termasuk sekte kelima dari sekte Murji’ah.

و هناك فرقة خامسة ظهرت الآن و هم الذين يقولون : إن الأعمال شرط في كمال الإيمان الواجب أوالكمال المستحب

“Di sana terdapat kelompok kelima yang baru muncul sekarang, mereka menyatakan bahwa amal adalah syarat kesempurnaan iman wajib atau syarat kesempurnaan iman mustahhab” [At-Ta’liq Al-Mukhtashar ‘alal Qashidah An-Nuniyah, 2/647]

Perkataan Al-Barbahari yang mereka nukil merupakan penyifatan tentang sekte Murji’ah di masa beliau, sehingga tidak tepat jika dikaitkan dengan sekte Murji’ah yang baru muncul belakangan ini. Seandainya Al-Barbahari hidup sekarang dan melihat kesesatan mereka, tentu Al-Barbahari akan mengingkari mereka dengan keras sebagaimana pengingkaran Al-Fauzan, Al-Luhaidan, Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, Abdullah Al-Ghudayyan, Abdul Aziz Ar-Rajihi dan para ulama kibar yang lain.

Sisi kedua, telah berlalu penjelasannya, mereka meyakini bahwa meninggalkan amal tidak mengurangi iman dalam satu kondisi yaitu saat iman dalam hati tinggal tersisa ashlul-iman. Meninggalkan amal dalam kondisi ini sama sekali tidak mengurangi iman menurut mereka. Sehingga perkataan Al-Barbahari di atas pada hakikatnya masih menyinggung keyakinan mereka.

Kedelapan, mereka juga menukilkan perkataan Ibnu Jarir At-Thabarirahimahullah berikut:

إذا عرف وأقر وفرط في العمل هو مؤمن بالله ورسوله، لا نقول مؤمن بإطلاق

“Apabila ia mengetahui, mengakuinya, namun meninggalkan amal, maka ia orang yang beriman (mukmin) terhadap Allah dan Rasul-Nya (= tidak kafir), namun kami tidak mengatakannya orang yang beriman (mukmin) secara mutlak” [At-Tabshiir fi Ma’alamid Din, hal. 196]

Syubhat ini juga dijawab dari dua sisi:

Sisi pertama, “mufarrith fil amal” tidak tepat jika diterjemahkan dengan “meninggalkan”, sebab seorang mufarrith belum tentu meninggalkan. Sebagai contoh, seorang yang melakukan tafriith dalam shalat, belum tentu ia meninggalkan shalat, artinya meninggalkan hal-hal yang wajib dan sunah dalam shalat dengan sengaja juga dinamakan tafriith. Sehingga perkataan At-Thabari di atas bukan dalam mahallun niza’ (letak perselisihan)

Sisi kedua, terdapat perkataan Ibnu Jarir At-Thabari yang lebih sharih dalam masalah iman yang mencocoki ahlus-sunnah, yaitu: 

عن علي بن سهل الرملي حدثنا الوليد بن مسلم قال : ( سمعت الأوزاعي ومالك بن أنس وسعيد بن عبدالعزيز رحمهم الله ينكرون قول من يقول: إن الإيمان إقرار بلا عمل ، ويقولون لا إيمان إلا بعمل ، ولاعمل إلا بإيمان

“Dari Ali bin Sahl Ar-Ramli, ia berkata: menceritakan pada kami Al-Walid bin Muslim, ia berkata: “Aku mendengar Al-Auza’i, Malik bin Anas dan Sa’id bin Abdul Aziz rahimahumullah mengingkari sebagian orang yang menyatakan: “sesungguhnya iman adalah iqraar (syahadat –pen-) tanpa amal.  Al-Auza’i, Anas bin Malik dan Sa’id bin Abdul Aziz menyatakan bahwa tidak ada iman tanpa amal, serta tidak ada amal tanpa iman.” [Shariihus Sunnah]

Seperti biasanya, mereka hanya menukil perkataan ulama yang mencocoki hawa nafsunya, tanpa menoleh pada nukilan perkataan ulama tersebut di kitab-kitab yang lain.

Kesembilan, mereka menukil perkataan Az-Zuhri berikut secara terpotong, sehingga menjadi rusak maknanya:

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ، عَنْ مَعْمَرٍ، قَالَ: وَقَالَ الزُّهْرِيُّ "قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْقُولُوا أَسْلَمْنَا، قَالَ: نَرَى أَنَّ الْإِسْلَامَ الْكَلِمَةُ وَالْإِيمَانَ الْعَمَلُ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Tsaur, dari Ma’mar, ia berkata : Telah berkata Az-Zuhriy tentang ayat : Akan tetapi katakanlah: ‘Kami telah tunduk’, ia berkata : “Kami berpendapat bahwa islam adalah kalimat (syahadat) dan iman adalah amal”

Dipahami dari nukilan terpotong di atas bahwa seorang cukup bersyahadat untuk menjadi seorang muslim, ia tidak dituntut untuk beramal, karena amal hanyalah dilakukan untuk memperoleh tingkatan mukmin. Mukmin adalah tingkatan di atas muslim. Allahulmusta’an

Syaikhul Islam rahimahullah menukil perkataan Az-Zuhri tersebut dengan sedikit tambahan dari apa yang mereka sebutkan. Az-Zuhri rahimahullah berkata:

كنا نقول الإسلام بالإقرار والإيمان بالعمل, والإيمان قول وعمل قرينان لا ينفع أحدهما إلا بالأخر

“Kami menyatakan bahwa Islam adalah iqraar dan iman adalah amal. Iman adalah perkataan dan amal, keduanya sangat dekat. Tidak bermanfaatmencukupkan salah satunya tanpa yang lain.” [Majmu’ Al-Fataawa, 7/295]

Bandingkan nukilan mereka dengan nukilan Syaikhul Islam, siapa yang lebih jujur dalam menukil?

Berkat taufiq dari Allah, saya telah menyebutkan ketidak-jujuran mereka dalam menukil perkataan ulama dalam artikel berikut:
Allahua’lam, semoga bermanfaat.
Ditulis oleh Abul-Harits di Madinah, 15 Rabi’uts Tsani 1436


Fatwa ulama terkini yang mengkafirkan syiah

1) FATWA SYEIKH SOLEH ALU SYEIKH HAFIZAHULLAH, MENTERI HAL EHWAL AGAMA ISLAM ARAB SAUDI :
س4/ هل الرافضة والجهمية ليستا من الاثنين والسبعين فرقة وكيف؟
ج/ أما الجهمية فأهل السنة جميعا على أنهم ليسوا من الثنتين والسبعين فرقة ليسوا من فرق الأمة.
وأما الرافضة فجمهور أهل السنة على خروجهم من الثنتين والسبعين فرقة، والمقصود من الرافضة الغلاة؛ غلاة الشيعة الذين يلعنون أبا بكر وعمر رضي الله عنهما، والذين يتدينون بسب الصحابة ويُبْغِضُون بعض أمهات المؤمنين ويقذفون عائشة ونحو ذلك، من معتقداتهم المعروفة.
TERJEMAHAN:
SOALAN 4 : Adakah al-Rafidah dan al-Jahmiah tidak termasuk dalam 72 golongan (Ahli Bidaah yang masih diiktiraf Islam) dan bagaimana?
JAWAPAN : Adapun al-Jahmiah maka Ahli Sunnah wal Jamaah sekaliannya berpendapat mereka bukanlah daripada 72 golongan yakni tidak termasuk dalam firqah umat ini (bermakna kafir).
Adapun al-Rafidah, Jumhur Ahli Sunnah wal Jamaah berpendapat mereka juga terkeluar daripada 72 firqah dan yang dimaksudkan dengan Rafidah adalah puak Ghulah (Pelampau Syiah); Ghulah Syiah adalah mereka yang melaknat Abu Bakar dan Umar radiallahu’anhuma dan yang beragama dengan mencela sahabat dan membenci sebahagian Ummul Mukminin dan menuduh Aisyah berzina dan seumpamanya daripada akidah mereka yang terkenal[1].
(Syarhu al-Tahawiah, 1/107)

2) FATWA SYEIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH AL-RAJHI, ULAMA BESAR ARAB SAUDI :
الجواب الخامس: أن الرافضة كفروا، من خالف الأمة يصيبه من الكفر؛ لأنهم يبطنون الكفر ويظهرون الإسلام -والعياذ بالله- وهم مع ذلك يصلون ويصومون ويصلون الجمعة والجماعة، ويؤذنون، فهذا ردّ عليهم في قولهم: نحن نشهد أن لا إله إلا الله، ونقيم الصلاة، ونؤتي الزكاة. إذا فعل الإنسان ناقضًا من نواقضِ الإسلام كفر، ولا ينفعه ما يقيمه من شعائر الإِسلام أو يعتقده.
TERJEMAHAN
“Jawapan Kelima : Bahawa sesungguhnya al-Rafidah adalah kafir, sesiapa yang menyalahi (ijmak) umat telah terkena ke atasnya (hukum) kufur; kerana mereka menyembunyikan kekufuran dan menzahirkan Islam-wal iyazubillah- dan mereka masih bersolat dan berpuasa, bersolat Jumaat dan Jemaah serta melaungkan azan, maka ini adalah penolakan ke atas perkataan mereka : ‘Kami bersyahadah bahawa tiada Tuhan yang berhak di sembah melainkan Allah, mendirikan solat, menunaikan zakat. Namun, jika seorang manusia melakukan suatu perkara daripada perkara yang membatalkan Islam dia menjadi kafir dan tidak bermanfaat segala syiar Islam yang dia dirikan”.
(Syarah Kasyf al-Syubhat, m/s 122)

3) FATWA ABDULLAH BIN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB R.H, ANAK SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB R.H :
وإذا كان كذلك فأصول الإيمان تقتضي وجوب الإيمان بالواجبات الظاهرة المتواترة وتحريم المحرمات الظاهرة المتواترة، والجاحد لها كافر، بالاتفاق، مع أن المجتهد في بعضها إذا أخطأ ليس بكافر بالاتفاق، مع أن كثيرا من أهل البدع يوجد فيهم النفاق الأكبر والردة عن الإسلام.فما أكثر ما يوجد في الرافضة والجهمية ونحوهم زنادقة منافقون، فأولئك في الدرك الأسفل من النار.
TERJEMAHAN :
“oleh itu, usul-usul Iman menatapkan wajibnya beriman dengan perkara-perkara wajib yang zahir dan mutawatir dan mengharamkan perkara-perkara haram yang zahir dan mutawatir serta mereka yang ingkar akannya adalah kafir dengan ijmak demikian juga yang tersalah dalam perkara ini dengan ijtihad tidaklah dia kafir dengan ijmak. Demikian juga kebanyakan ahli bidaah terdapat dalam kalangan mereka Nifaq Besar (kufur nifaq) dan murtad daripada Islam. Maka yang terbanyak (daripada nifaq dan riddah ini) dalam kalangan al-Rafidah, Jahmiah dan seumpama mereka di mana mereka ini Zindiq Munafiq maka mereka berada di neraka paling bawah”.
(Majmuah al-Rasail wal Masail al-Najdiah, 1/197)

4) FATWA SYEIKH ABDUL RAHMAN ABA BATIN R.H, MUFTI NEGERI NAJD (SEBELUM KERAJAAN SAUDI DIDIRIKAN) DAN MURID SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB R.H :
قال الشّيخ: وأمّا مَن جاوز ذلك كَمَن زعم أنّ الصّحابة ارتدّوا بعد موت النَّبِيّ ـ صلّى الله عليه وسلّم ـ إلاّ نفراً قليلاً، يبلغون بضعة عشرة، أو أنّهم فسقوا فلا ريب أيضاً في كفر قائل ذلك، بل مَن شكّ في كفره، فهو كافر.انتهى.
فهذا حكم الرّافضة في الأصل، فأمّا حكم متأخّريهم الآن، فجمعوا يبن الرّفض والشّرك بالله العظيم بالذي يفعلونه عند المشاهد وهم الذين ما بلغهم شرك العرب الذين بعث إليهم رسول الله ـ صلّى الله عليه وسلّم ـ.
TERJEMAHAN :
“Berkata al-Syeikh (Yakni Ibn Taimiah r.h) : ‘adapun mereka (Rafidah) yang melampaui batas dan beranggapan bahawa para sahabat telah murtad selepas kewafatan Nabi s.a.w. kecuali bilangan yang kecil dalam beberapa puluh sahaja atau mengatakan mereka menjadi fasiq maka tidak diragui lagi bahawa yang berkata sedemikian kufur bahkan sesiapa syak pada kekufurannya dia juga kafir’
Maka ini asal hukum Rafidah, adapun Rafidah mutaakhir sekarang mereka menghimpunkan antara al-Rafd (menolak Sahabat) dan Syirik kepada Allah yang Maha Agung dengan tindakan mereka beribadat di masyhad (kuburan) dan mereka itulah yang menyamai syirik arab yang Allah utuskan kepada mereka Rasulullah s.a.w”.
(Majmuah al-Rasail wal Masail al-Najdiah, 1/659)

5) FATWA SYEIKH ABDUL LATIF ALU SYEIKH R.H, ULAMA BESAR ARAB SAUDI:
ومن أهل البدع: الرافضة الذين يتبرؤون من أبي بكر وعمر، ويدعون موالاة أهل البيت؛ وهم أكذب الخلق وأضلهم، وأبعدهم عن موالاة أهل البيت، وعباد الله الصالحين. وزادوا في رفضهم حتى سبوا أم المؤمنين -رضي الله عنها وأكرمها-، واستباحوا شتم أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم عليه وسلمإلا نفرا يسيرا. وأضافوا إلى هذا المذهب الغالية الذين عبدوا المشايخ والأئمة وعظموهم بعبادتهم، وصرفوا لهم ما يستحقه -سبحانه- من التأله والتعظيم، والإنابة والخوف، والرجاء والتوكل، والرغبة والرهبة، وغير ذلك من أنواع العبادات. وغلاتهم يرون أن عليًّا ينزل في آخر الزمان. ومنهم من يقول غلط الأمين، وكانت النبوة لعلي. وهم جهمية في باب صفات الله، زنادقة منافقون في باب أمره وشرعه.
TERJEMAHAN :
“Antara Ahli Bidaah adalah al-Rafidah yang berlepas diri daripada (Khilafah) Abu Bakar dan Umar serta menyeru wala’ (ketaatan) kepada Ahli Bait; mereka adalah makhluk yang paling berdusta dan paling sesat dan paling jauh daripada mentaati Ahli Bait dan hamba-hamba Allah yang soleh. Mereka melampau dalam penolakan mereka (terhadap sahabat) sehingga mencerca dan mencela Ummul Mukminin r.a dan menghalalkan mencela sahabat Rasulullah s.a.w kecuali bilangan kecil daripada mereka dan menambah lagi terhadap mazhab yang melampau ini menyembah imam-imam dan mendewakan mereka dengan ibadat serta memberikan hak-hak Allah daripada peribadatan, pembesaran, inabah, takut, harap, tawakkal, harap dan gerun serta lainnya daripada jenis ibadat kepada imam-imam. Golongan pelampau daripada mereka berpendapat Ali akan kembali di akhir zaman dan ada antara mereka berkata al-Amin (Jibril a.s) tersalah dan Nabi yang sebenarnya adalah Ali. Mereka ini Jahmiah dalam masalah sifat-sifat Allah, zindiq, munafiq dalam perintah dan syarak-Nya”.
(Majumah al-Rasail wal Masail al-Najdiah, 3/211)

6) FATWA SYEIKH MUHAMMAD BIN SOLEH AL-USAIMIN R.H, ULAMA BESAR ARAB SAUDI :
Syeikh berkata ketika membahaskan masalah keimanan terhadap malaikat :
أمانة جبريل عليه السلام، حيث ينتهي بالوحي إلى حيث أمره الله عزوجل، فيكون فيه رد على الرافضة الكفرة الذين يقولون: بأن جبريل أمر أن يوحي إلى علي فأوحى إلى محمد صلى الله
TERJEMAHAN :
“Sifat Amanah Jibril a.s di mana dia menyampaikan wahyu kepada siapa yang Allah Azza wa Jalla perintahkan maka dalam akidah ini terdapat penolakan terhadap al-Rafidah yang kafir yang berkata : Bahawa Jibril diperintah menyampaikan wahyu kepada Ali lalu dia menyampaikan kepada Muhammad s.a.w”.
(al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab al-Tauhid, juz 1)

7) FATWA SYEIKH IBN BAZ R.H, BEKAS MUFTI BESAR ARAB SAUDI :
التقريب بين الرافضة وبين أهل السنة غير ممكن; لأن العقيدة مختلفة , فعقيدة أهل السنة والجماعة توحيد الله وإخلاص العبادة لله سبحانه وتعالى , وأنه لا يدعى معه أحد لا ملك مقرب ولا نبي مرسل ، وأن الله سبحانه وتعالى هو الذي يعلم الغيب , ومن عقيدة أهل السنة محبة الصحابة رضي الله عنهم جميعا والترضي عنهم والإيمان بأنهم أفضل خلق الله بعد الأنبياء وأن أفضلهم أبو بكر الصديق , ثم عمر , ثم عثمان , ثم علي , رضي الله عن الجميع , والرافضة خلاف ذلك فلا يمكن الجمع بينهما , كما أنه لا يمكن الجمع بين اليهود والنصارى والوثنيين وأهل السنة , فكذلك لا يمكن التقريب بين الرافضة وبين أهل السنة لاختلاف العقيدة التي أوضحناها .
TERJEMAHAN :
“Mendekatkan di antara al-Rafidah dan Ahli Sunnah tidak mungkin sama sekali kerana akidah keduanya berbeza, akidah Ahli Sunnah wal Jamaah adalah mentauhidkan Allah dan mengikhlas ibadah kepada Allah s.w.t, dan tidak diseru bersama dengan Allah malaikat yang dekat mahupun nabi yang diutus dan sesungguhnya Allah s.w.t sahaja yang mengatahui perkara ghaib. Antara akidah Ahli Sunnah juga mencintai para sahabat radiallahu’anhum jami’an serta meredai mereka dan beriktikad bahawa mereka adalah sebaik-baik makhluk selepas para Nabi, dan yang paling afdal antara mereka adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Usman kemudian Ali; Allah meredai mereka semua. Adapun Rafidah, mereka bersalahan dalam masalah-masalah ini maka tidak mungkin menghimpun antara keduanya seperti mana tidak mungkin menghimpun antara Yahudi, Nasrani, dan Penyembah berhala dengan Ahli Sunnah maka demikian juga tidak mungkin mendekatkan antara Rafidah dan Ahli Sunnah kerana berbezanya akidah seperti yang kami jelaskan”.
(Majmuk Fatawa Ibn Baz, 5/156)

8 ) FATWA AL-LAJNAH AL-DAIMAH LIL BUHUS AL-ILMIAH WAL IFTA’ (MAJLIS FATWA) ARAB SAUDI :
Soalan diajukan kepada Lajnah Daimah berkenaan golongan Jaafariah (Syiah Rafidah Imamiah) di sekitar Iraq (Syiah Iraq adalah Syiah yang sama di Iran) yang berdoa kepada Husein r.a dan Ali r.a adakah boleh memakan sembelihan mereka?
إذا كان الأمر كما ذكر السائل من أن الجماعة الذين لديه من الجعفرية يدعون عليا والحسن والحسين وسادتهم فهم مشركون مرتدون عن الإسلام والعياذ بالله، لا يحل الأكل من ذبائحهم؛ لأنها ميتة ولو ذكروا عليها اسم الله.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
TERJEMAHAN :
“Jika keadaan seperti apa yang disebut oleh penanya bahawa terdapat kumpulan Jaafariah berdoa menyeru Ali, al-Hasan, al-Husein dan imam-imam mereka maka mereka adalah musyrikin lagi murtad daripada Islam-wal iyazubillah- tidak halal memakan sembelihan mereka kerana ianya bangkai walaupun mereka menyebut nama Allah ketika menyembelihnya”.
(Fatwa Lajnah Daimah, 2/372)

Muhammad Asrie Sobri   http://bahayairan.wordpress.com


Syiah Benar-benar Ancaman Nyata terhadap NKRI

Oleh DR. Abdul Chair Ramadhan

Dalam acara yang digelar oleh Majelis Taqarrub Ilallah (MTI) / Temu Pembaca Suara Islam (TPSI) di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq Cawang, Jakarta Timur, Sabtu 28 Februari 2015 saya sangat mengapresiasi acara ini, semoga terus diberdayakan dan dikembangkan oleh seluruh elemen organisasi Islam. Sebagai pembicara utama dalam kajian tersebut, selain itu hadir pula KH. Lutfie Hakim (Ketua Umum FBR) dan KH Ahmad Sobri Lubis (Waketum FPI), saya nyatakan – dengan sejumlah informasi dan data – bahwa Syiah Iran benar-benar ancaman nyata terhadap NKRI, selain tentunya terhadap aqidah Islam. Syiah Iran adalah Rafidhah, semua Syiah di Inonesia tunduk dan patuh kepada Iran.

Dalam acara kajian tersebut, saya menilai masih banyak diantara kita yang tidak mengerti apa dan bagaimana sebenarnya ideologi Syiah. Imamah memang merupakan sebagai pokok ajaran elementer bagi Syiah, terutama Syiah Imamiyyah. Syiah Imamiyyah yang paling mendominasi saat ini adalah Itsna Asyariyah yang berpusat di Iran. Pasca Revolusi Iran tahun 1979, Syiah telah mengalami suatu evolusi dan transformasi ideologi Imamah, yakni dengan hadirnya kelembagaan Wilayat al-Faqih yang notabene produk pemikiran kaum Syiah Ushuli. Syiah Ushuli inilah yang sangat progresif revolusioner, menganggap semua pemerintahandi dunia ini tidak sah kecuali atas keberlakuan Imamah. Secara jelas dan nyata hal ini dapat dilihat pada Konstitusi Iran tepatnya, Pasal 2 jo Pasal 5 jo Pasal 12 jo Pasal 56 jo Pasal 57. Melalui kelembagaan Wilayat al-Faqih dengan Waly al-Faqih (Iran: Rahbar) semua orang di dunia ini harus tunduk dan patuh pada Rahbar, karena posisi Rahbar adalah sebagai Wakil Imam Kedua Belas (Imam Mahdi as) selama masa ghaib. Semua orang wajib mengangkat baiat kepada Imam Mahdi as yang dalam praktiknya diberikan kepada Rahbar, karena ia sebagai penguasa sementara selama masa ghaibnya sang Imam .

Syiah Iran menginginkan keberadaan Rahbar selalu abadi, boleh berganti orangnya namun tidak dapat dihapuskan jabatan Rahbar dalam kelembagaan Wilayat al-Faqih, untuk kepentingan ini, maka Iran melarang adanya penghapusan Imamah dan Wilayat al-Faqih dalam konsitusinya (Lihat: Pasal 12 jo Pasal 57). Maksud dan tujuan pelarangan itu tidak lain adalah dimaksudkan untuk melanggengkan jaran Syiah dengan menginduk kepada Iran untuk mewujudkan kembali kekuasaan Persia yang telah dihancurkan oleh Khalifah Syaidina Umar bin Khathab ra. Syiah Iran sengaja mengkultuskan Syaidina Husein bin Ali bin Abi Thalib ra, mengingat beliau ra menikah dengan Syahbanu putri Kaisar terakhir Persia yakni Yazirgid.Syiah Iran mengklaim dari keturunan Syaidina Husein ra akan muncul Imam Mahdi as. Padahal Imam Mahdi kelak nanti akan dilahirkan melalui keturunan Syaidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Menurut riwayat hadits Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa Imam Mahdi, namanya seperti namaku dan nama bapaknya seperti dengan nama bapakku, beliau adalah Muhammad bin Abdullah dan kemunculannya dari Madinah. Sedangkan Syiah mengklaim munculnya dari Isfahsan (daerah Iran) yang akan membangkitkan Syaidina Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Syaidina Umar bin Khathab ra lalu kemudian menghukumnya dalam rangka pembalasan dendam, karena Syiah Iran menuduh kedua sahabat mulia Nabi Muhammad SAW telah merebut hak imamah Syaidina Ali bin Abi Thalib ra.

Sesungguhnya yang dinantikan oleh Syiah Iran adalah Al-Masikhul Dajjal Al-Muntazar Laknatullah, bukan Imam Mahdi. Kondisi yang demikian, hampir serupa dengan keyakinan kaum Yahudi yang mengetahui akan hadirnya Nabi terakhir dari keturunan Nabi Ibrahim as, mereka menginginkan dari ras mereka melalui Nabi Ishak as, namun ternyata Nabi terakhir dari keturunan Nabi Ismail as. Nabi Ishak as melahirkan para Nabi , tidak demikian halnya dengan Nabi Ismail as. Ketika Nabi Muhammad SAW menjadi Nabi terakhir, mereka ingkar dan berbuat makar hingga saat ini dan berlanjut kelak sampai hadirnya Perang di Akhir Zaman (Al-Mahamah Al-Khubro/Armageddon). Hal yang sama terjadi pada Syiah Iran, mereka menduga Imam Mahdi dari keturunan Syaidina Husein ra, namun ternyata nanti dari keturunan Syaidina Hasan ra. Inilah siasat Yahudi untuk mengeksodus umat Islam menjadi Syiah dan otomatis menjadi pengikut Dajjal laknatullah dimasa yang akan datang.

Salah seorang pendeta Syiah Indonesia, Husein Ali Al-Habsyi turut hadir pada acara Asyuro di Balai Samudra, Jakrta Utara. Dia merupakan tokoh utama pada kasus peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (24 Desember 1984), Malang, Jawa Timur. Juga, kasus peledakan Candi Borobudur (21 Januari 1985), Magelang, Jawa Tengah. Serta, rencana peledakan gagal di Bali (Maret 1985).

Dalam acara Majelis Taqarrub Ilallah juga saya buktikan bahwa Syiah Iran merekrut berbagai preman-preman untuk menjadi tameng menghadang acara-acara sosialisasi tentang kesesatan Syiah, seperti yang terjadi di Karawang (2014), Bintaro (2014), Sentul (2015) hingga kasus Az-Zikra. Fakta telah berbicara, bahwa Syiah menggunakan tangan-tangan para preman, ditambah lagi dengan maraknya para imigran Syiah di berbagai wilayah seperti kawasan Bogor (Puncak) dan Kalimantan. Selain itu sejumlah pasukan siap mati mereka organisasikan, seperti pasukan Badar pimpinan Mayor (Laut) Isa Al-Mahdi Al-Habsyi, Pasukan Garda Kemerdekaan yang didirikan oleh Prof. Dawam Rahardjo, dan sejumlah pasukan lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Wacana pembunuhan terhadap para ulama Ahlussunnah dan tokoh-tokoh pegiat anti Syiah bukan “omong kosong”, terbukti pada tahun 2013 Syiah telah mengirim 16 orang untuk berlatih militer di Lebanon dengan kekhususan sebagai penembak jitu.

Saya siap untuk bermubahalah dengan siapa saja yang menolak pernyataan ini: bahwa Organisasi Syiah yang ada di Indonesia seperti IJABI ataupun ABI semuanya menginduk kepada Rahbar Iran.

Penamaan Republik Islam Iran harus kita tolak, jangan menyebut Revolusi Islam Iran dan jangan pula mengatakan Republik Islam Iran, cukup katakana Revolusi Iran dan Republik Iran. Wahai para pendukung dan simpatisan Syiah sadarlah akan sinyal ancaman Syiah Iran ini. Tidak benar jika dikatakan “tidak Sunni tidak Syiah tapi Jumhur Islamiyah”, itu adalah bahasa kamuflase Syiah dalam ranah taqiyyah. Kelak nanti ketika mereka (baca: Syiah) kuat taqiyyah akan berubah menjadi tabiah, yakni mobilisasi untuk melakukan perlawanan yang lebih dahsyat terhadap Islam dan NKRI.

Takutlah akan catatan sejarah yang akan menuliskan nama-nama pendukung dan simpatisan Syiah di Republik Indonesia yang akan menjadi bahan bacaan generasi selanjutnya. Terlebih lagi tanggung jawab kepada Allah SWT dan bagaimana kita ketika berhadapan dengan sang idola Nabi Muhammad SAW yang telah mewasiatkan kepada umat yang memiliki ilmu tentang kewajiban untuk membela sahabat-sahabat beliau SAW dari caci-maki Syiah Rafidhah, jika tidak maka laknat Allah, laknat seluruh malaikat dan seluruh manusia kepadanya (Lihat: Qanun Asasi Nahdlatul Ulama).

Syukur Alhamdulillah, penjelasan dari KH. Ahmad Sobri Lubis yang mewakili FPI sangat memuaskan. Beliau berkali-kali menegaskan bahwa FPI tidak akan membiarkan Syiah melaknat para sahabat Nabi SAW, Syiah Rafidah harus ditindak oleh aparat penegak hukum. Sebelumnya, saya mendengar ceramah Habib Rizieq Syihab dalam acara Maulid di Jl. Wedana Jakarta Timur, beberapa hari yang lalu, dikatakan bahwa Syiah tidak ada yang baik, Syiah sama dengan “Kecoa” suka dengan kotoran. Selanjutnya, Habib Rizieq Syihab mengatakan jika mereka menyerang, umat kita harus siap!. Suatu pernyataan yang sangat mendukung bagi umat Islam dalam rangka melawan radikalisme Syiah.

Begitupun pernyataan KH. Luthfie Hakim yang menegaskan, bahwa dirinya bukan Syiah, adalah suatu pernyataan klarifikasi yang tepat. Selama ini media Syiah selalu menggunakan nama besar FBR untuk kepentingan Syiahisasi. Dengan pernyataan ini, maka FBR bukan alat Syiah dan FBR sangat mendukung gerakan perlawanan terhadap aksi-aksi brutal/premanisme darimanapun datangnya, FBR akan tampil di depan, bukan di belakang.

Kita berharap kedua kekuatan ini (FPI dan FBR) senantiasa aktif menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dari segala aksi penyimpangan dan penodaan agama, amin ya Robbal alamin.

Kepada KH. Muhammad Al-Khaththat (Sekjen FUI) saya mengucapkan terima kasih yang sangat besar, jazakumullah khoiron katsier, semoga Suara Islam sebagai penyelenggara tetap Jaya, amin ya Robbal alamin

Jakarta, 28 Februari 2015
*Sumber: arrahmah.com



"Keteladanan Antara Wali Songo Vs Wali Dollar" [untuk ulama "su/penghujat wali jenggot !" ]

by @Hafidz_Ary
Chirpified By @M4ngU5il

Dulu wali songo mengIslamkan org kafir. Andaikan wali songo ada saat ini maka akan dianggap menebar kebencian dan sektarian oleh wali dollar

Wali Songo mengIslamkan org kafir dan mengkafirkan kekafiran. Yg terjadi skrg justru tidak mengkafirkan kekafiran. #WaliDollar

Kalo wali songo ada saat ini maka akan abis2an dituduh menebar kebencian krn mengajak org kafir pada Islam.

Mari kita teladani wali songo yang mengIslamkan org kafir dan mengkafirkan org kafir. Meski disebut menebar kebencian oleh wali dollar

Wali songo mengIslamkan nusantara jelas krn ndak mau nusantara ini diselimuti oleh gelapnya kekafiran

Kita harus segigih wali songo dalam mengkafirkan kekafiran dan mengIslamkan org kafir

Jangan mbebek wali dollar yg gak berani bilang bahwa menuhankan yesus adalah kekafiran. 

Kita harus segigih wali songo menjelaskan salahnya kekafiran

Kalo wali songo hidup hari ini maka setiap hari akan diteriaki "pustun" oleh wali dollar krn wali songo punya banyak istri 

Kalo wali songo hidup di zaman ini, maka mereka akan diteriaki para wali dollar "pustun , pustun" , krn mrk py banyak istri 

Kalo wali songo hidup saat ini , mrk juga akan diteriaki "onta , onta" oleh para wali dollar. Krn wali songo org arab

Jk anda bebek JIL, janganlah jadikan seolah2 anda mendukung wali songo . Krn wali songo hidup hr ini pasti anda bully juga

Kebayang lah wali songo akan anda bully "menebar kebencian" , "onta" , "pustun" "pedofili" "tekstual" "dungu, pekok" . #waliDollar

Jk wali songo hidup hari ini maka akan diteriaki "jenggot" "sorban onta" "tekstual" bahkan "teroris" oleh para wali dollar dan bebeknya 

Jd ayo semangat meneladani wali songo ... Mengajak kafir masuk Islam, tetap mengkafirkan kekafiran . Jangan dengarkan wali dollar

"Menuhankan yesus itu kafir nggak?" | para hamba dollar dan beasiswa takut utk menjawab ini . Twitmya dipantau 

Wali songo punya banyak istri , istrinya anak2 raja dan pejabat. Siap meneladani wali songo? siap diteriaki pustun? 

kalo sunan gunung jati hidup saat ini , pasti bebek2 JIL akan buat hestek #SunanGunungJatiPustun , krn beliau py banyak istri 

Bahkan akan ada hestek #tolakPoligami jk sunan gunung jati menikah laginya di saat ini
Mereka gak faham sejarah wali songo dan perjuangannya mengIslamkan nusantara

Jk wali songo hidup hari ini , maka mereka lah yang mendirikan Indonesia Tanpa JIL 

Pasti ... Biasanya Sekalian pedofili “@azwarsiregar: @hafidz_ary ngga sekalian Baginda Rasul aja para bebek JIL pustunkan,ya Tazd?”

meninggal dan menikah lg “@PakdeWinar: info dari mana Sunan Gunung jati beristri 6, masa seorang wali ga tau syariat?..please”

total bersamaannya tetap 4 “@PakdeWinar: info dari mana Sunan Gunung jati beristri 6, masa seorang wali ga tau syariat?..please”

Artikel terkait :

Ulama "Su" ini Gemar Menghina Allah`azza wa jalla [ Dagangannya " Wahhabi"/Al-Wahhab ] Sekarang Menghina Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam [ Menghujat "Jenggot/Lihyah" ] ..! KH. Hasyim Muzadi: Inilah Bedanya Wali Songo, Waliyullah dan Wali Jenggot

Untuk "Ulama ?" Penghina " Wali Jenggot" Baca Artikel ini : Perbedaan antara wali-wali Allah dan wali-wali syaithon