Monday, May 11, 2015

Abu Bakar Tidak Sah Jadi Khalifah? Paparan Dibawah Ini " Menjungkirbalikkan " Fitnah-fitnah Keji Syi'ah dan Antek-anteknya !

                                                      
Oleh : Syekh Mamduh Farhan Al Buhairi 
Syubhat: Kalian ahlussunnah mengekalim bahwa kalian memiliki empat sumber rujukan dalam pensyariatan. Yaitu al-Qur`an, as-sunnah, Qiyas, dan ijtihad. Sekalipun demikian, kami tidak menemukan bahwa dalam pemilihan kalian terhadap kekhalifahan Abu Bakar, kalian tidak mengambil sumber-sumber itu?


Jawab: pertama, saya ingin meluruskan ucapan Anda, bahwa sumber pensyariatan yang empat itu adalah al-Qur`an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Adapun ijtihad maka itu diperselisihkan dan bukanlah termasuk dalil-dalil yang disepakati.

Demikian pula wajib bagi Anda untuk mengetahui bahwa yang wajib dipegang erat oleh kaum muslimin adalah al-Qur`an dan sunnah, keduanya adalah dua wahyu yang diturunkan dari langit. Imam as-Syafi’i Rahimahullah berkata, ‘Setiap ucapan, dalam segala keadaannya, tidaklah mewajibkan sesuatu kecuali dengan (penguat) al-Qur`an, atau sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan selain keduanya maka mengikuti keduanya.’ (Jima’ul ‘Ilmi (11))

Kemudian, para ulama beristinbath dari kedua sumber ini dengan sebuah landasan lain yang diatasnyalah hukum-hukum itu memungkinkan untuk dibangun. Para ulama menyebut nama sumber syariat itu adalah Ijma’ dan qiyas.

Seluruh sumber-sumber hukum yang empat itu telah diambil ibrahnya saat pemilihian Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu sebagai seorang khalifah bagi kaum muslimin di Tsaqifah Bani Sa’idah.
Al-Qur`an yang mulia telah memuji Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, dan dalam sunnahpun terdapat nash yang menunjukkan  kekhilafahan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu.

Dalil-dalil sunnah telah datang lebih dulu dalam menetapkan kekhilafahan Abu Bakar, dan tidak adanya nash akan kekhilafahan selainnya. Dengan ini pula kitab-kitab Syi’ah berbicara selain kitab-kitab sunnah. Yang saya maksud adalah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memberikan nash atas Ali Radhiallahu ‘Anhu sebagaimana nash atas Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu.
Dan Ijma’, telah terjadi, seluruh kaum muslimin telah membaiat Abu Bakar dengan Ijma’ (sepakat bulat). Dan diantara mereka yang membaiat Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu adalah Ali Radhiallahu ‘Anhu dan seluruh Ahlul bait.

Adapun qiyas, maka sesungguhnya yang mengqiyaskan permasalahan ini adalah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu yang dia berkata,


فَرَضِينَا لِدُنْيَانَا مَنْ رَضِيَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِدِينِنَا
“Maka kami ridha untuk dunia kami terhadap orang yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ridha untuk agama kami.”


Ini adalah sebuah qiyas yang nyata atas sesuatu yang lebih jelas.

Jika urusan agama lebih agung, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengedepankan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dalam shalat yang itu merupaka tiang agama, sementara dunia itu mengikuti agama. Maka para sahabat mengedepankan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dalam urusan dunia mereka, yaitu kekhilafahan.

Dengan inilah, menjadi terkumpullah seluruh dalil dari al-Qur`an, sunnah, Ijma’ dan qiyas atas kekhilafahan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, dan tidak seperti yang Anda klaim bahwa kekhilafahan itu tidak diambil dengan jelas. Kami memohon hidayah kepada Allah bagi kami dan Anda.




Setelah Rasulullah wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak yang ditandai dengan perbedaan dalam menentukan pengganti Nabi sebagai pemimpin masyarakat. Puncak perpecahan itu terjadi pada akhir kepemimpinan Khulafa’ al-Rasyidun dengan terjadinya perepcahan di bidang politik yang berujung pada Perang Jamal dan Shiffin. (Prof. Dr. Ahmad M Sewang, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Alauddin Makassar).
                                            

Tanggapan Ust. Muh. Said Abd. Shamad, Lc

Allah SWT memuji rasulullah sebagai pribadi yang memiliki akhlak yang amat luhur, yang menjadi rahmat dan karunia Allah bagi kaum mukminin, sehingga mereka keluar dari alam jahiliah ke alam yang beradab. “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4). Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang memabcakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya dahulu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran: 164).
Karena kelebihan rasul SAW, maka para sahabat yang dididik lasngsung oleh beliau juga memiliki akhlak dan kepribadian yang luar biasa, dalam bidang akidah, ibadah, dan akhlak serta semangat ijtihad yang tinggi, sehingga mereka dijanji oleh Allah ta’ala sebagai golongan yang harus diteladani agar diridhai oleh Allah, mendapatkan surga dan kemenangan yang besar, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal padanya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100).
Di antara karekter yang berhasil ditanamkan oleh Nabi SAW dalam diri mereka adalah ukhuwah islamiyah (persaudaraan) dalam bentuk persatuan, tolong-menolong, kasih sayang, cinta mencintai, bahkan sampai kepada sifat itsar atau mendahulukan saudara seiman daripada diri sendiri.
“Muhammad utusan Allah dan orang-orang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka...” (QS. Al-Fathir: 29); “Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan tersebut terhadap apa yang diberikan kepada mereka (yang berhijrah), dan (bahkan) mereka lebih mengutamakan mereka yang berhijrah daripada mereka sendiri, meskipun mereka sendiri butuh”. (QS. Al-Hasyr: 9). “Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Anfal: 63).
Begitulah contoh-contoh di antara sekian banyak dalil yang membantah pendapat Prof Ahmad Sewang di atas, dan pendapat kaum Syiah yang mengatakan Nabi SAW telah mewasiatkan kepemimpinan umat (Imamah) kapada Ahli Baitnya (keluarga)nya, yaitu Ali ra dan keturunannya, dan dengan demikian (menurut Syiah) Abu Bakar, Umar, Utsman dan seluruh sahabat yang ridha atas kepemimpinan ketiganya adalah pengkhianat wasiat rasul SAW. Begitu kuatnya keyakinan ini pada orang Syiah sehingga mereka menjadikannya sebagai rukun agama, rukun iman dan rukun Islam. Salah satu rukun iman Syiah adalah imamah, kepercayaan kepada imam mereka yang dua belas. Siapa yang tidak percaya imam-imam tersebut, lalu mati, mati jahiliah, mati di luar Islam, (Jalaluddin Rakhmat (ed.) dalam Emilia Renita, 40 Masalah Syiah). Dan salah satu rukun Islam Syiah adalah ‘wilayah’, yaitu mengikrarkan bahwa sesudah nabi SAW wafat, maka kepemimpinan itu harus beralih secara langsung tanpa perantara kepada Ali ra. Itulah sebabnya, maka adzan orang-orang Syiah ditambah “Wa Asyhadu anna Aliyyan waliyullah”, sebagimana penuturan KH. Bukhari Maksum, ketua MUI Sampang pada kejaksaan Sampang, bahwa orang Syiah Sampang memiliki tiga kalimat syahadat, dengan tambahan, “Wa asyhadu anna Aliyyan waliyullah. Dan saya bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah”.
Tidak ada benih-benih perpecahan pada pemilihan Abu Bakar sepeninggal Rasulullah, tetapi yang ada ialah riak-riak kecil yang terjadi karena ijtihad pribadi atau kelompok yang dengan mudah dapat tertangani dan distabilkan setelah dalil-dalil agama jelas kepada mereka. Dalam Shahih Bukhari disebutkan, “Anshar berkumpul untuk memilih Saad bin Ubadah di Tsaqifah Bani Sa’adah, dan mereka berkata, “Kami memilih amir dan kalian (kaum Muhajirin) memilih amir (sendiri). Maka Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah mendatangi mereka. Lalu Umar ingin bicara namun didiamkan oleh Abu Bakr ra.
Bagaimana mungkin benih perpecahan itu mulai tampak karena perbedaan dalam menentukan pengganti Nabi SAW sebagai pemimpin masyarakat dan umat? padahal ayat-ayat di atas menegaskan bahwa mereka (para sabahat) telah dipersatukan hati mereka oleh Allah, telah dikeluarkan dari kesesatan yang nyata, telah diridhai oleh Allah, berkasih sayang di antara mereka. Bahkan mengikuti mereka dijadikan sebagai penentu bagi siapa saja yang ingin diridahi Allah. Lebih keliru lagi kalau dikatakan perpecahan itu mencapai puncaknya yang berujung pada Perang Jamal dan Shiffin.
Tidak ada perpecahan dalam pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah pasca Rasulullah wafat, yang ada ialah perbedaan pendapat yang disebabkan ijtihad pribadi atau kelompok yang tidak dipertajam bahkan setelah disampaikan dalil kuat dengan segera mereka ruju’ pada kebenaran sesuai firman Allah, “Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, apabila mereka diajak kepada [hukum] Allah dan rasul-Nya agar menjadi hukum di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami dengar dan kami patuh’ dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur: 51).
Pembaiatan Abu Bakar ra
Setelah tersiar berita duka wafatnya Rasulullah SAW, kaum Anshar, penduduk asli Madinah segera mengadakan pertemuan untuk memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri, yaitu Saad bin Ubadah. Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Jarrah segera mendatangi mereka. Lalu Abu Bakar mengemukakan alasan dan berkatan, “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya anda sekalian adalah orang-orang yang memiliki keutamaan, namun orang-orang Arab tidak mengenal alasan kepemimpinan kecuali harus dipegang oleh orang-orang Quraisy karena merekalah yang paling mulia di antara orang-orang Arab negeri dan keturunannya. Maka saya telah ridha, salah seorang di antara dua orang ini untuk kami pilih dan kami baiat, lalu Abu Bakar memegang tangan Umar dan tangan Abu Ubaidah ra, kemudian berdiri seseorang dan berkata, ‘Kami punya amir dan kamu punya amir tersendiri wahai orang-orang Quraisy. Maka terjadilah kegaduhan dan hiruk-pikuk. Umar berkata kepada Abu Bakar ulurkan tanganmu, saya membaiatmu.’ Maka Abu Bakar memberikan tangannya lalu dibaiat oleh Umar, lalu orang-orang Quraisy dan kemudian orang-orang Anshar menyusul membaiat Abu Bakr. (Difa’ ‘An Al-Aal wa Al-Washaab, Jam’iyyah Al-Aal Wa Al-Ashab, Bahrain, 2010, h. 422).
Umar mengkhawatirkan perbedaan pendapat ini berlarut-larut, maka ia bertanya kepada kaum Anshar, “Saya minta kamu menjawab karena Allah, apakah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW telah menyuruh Abu Bakar mengimami (shalatnya) manusia? Mereka menjawab, “Demi Allah, benar.” Umar kembali bertanya, “Siapa di antara kamu yang senang hati melengserkan Abu Bakar dari kedudukan yang telah ditetapkan Nabi SAW untuknya? Mereka menjawab, “Kami semua tidak mau demikian, kami mohon ampun kepada Allah.”
Ali ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah sakit beberapa hari tetapi mengajak untuk salat dan berkata, “Suruh Abu Bakar menjadi imam bagi manusia. Maka tatkala Rasulullah wafat, saya perhatikan ternyata salat menjadi bendera Islam dan tonggak agama, maka kami ridha untuk diatur dunia kami oleh orang yang Nabi SAW telah ridha kepadanya untuk memimpin agama kami sehingga kami membaiat Abu Bakar.” Said bin Zaid berkata, “Abu Bakar dibaiat ada hari wafatnya Rasulullah. Mereka (para sahabat) tidak senang tinggal beberapa hari tanpa berada dalam jamaah (yang dipimpin khalifah).”
Dari penjelasan di atas, nyatalah bahwa tidak ada sama sekali bibit-bibit perpecahan pasca wafatnya Rasulullah. Dan isu perpecahan itu berasal dari orang-orang yang ingin merusak Islam. Karena kalau demikian berarti para sahabat itu saling berebut kekuasaan, Nabi SAW tidak mampu mendidik mereka, dan Allah telah ‘salah’ memuji sahabat dalam Al-Qur’an, yang ternyata sahabat itu kepribadiannya tidak terpuji. Tentu tidak demikian.
Ada pun perpecahan dibidang politik pada zaman kepemimpinan Khalifa Ali ra dengan pengikut Aisyah, Zubair, Muawiayah ra. Maka itu adalah akibat perbedaan ijtihad di kalangan sesama Ahlussunnah dalam menangani masalah pembunuh Khalifah Ustman ra. Aisyah, Zubair, serta Muawiah dan para pengikutnya meminta supaya Ali ra sebagai Khalifah segera menghukum para pembunuh Ustman ra. Sedang Ali dan pengikutnya berpendapat dan bersikap menunda mengeksekusi para pembunuh Utsman ra karena jumlah mereka cukup banyak, sementara pemerintahannya masih belum stabil. Wallahu A’lam.
H. Muh. Said Abd. Shamad, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Indonesia Timur.(lppimakassar.com)

Artikel terkait :

Ahlul-Bait Tidak Mengakui Wasiat Estafet Imamah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – ‘Aliy – Al-Hasan – Al-Husain – ‘Aliy bin Al-Husain – Muhammad bin ‘Aliy

Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu Mengakui ‘Umar bin Al-Khaththaab sebagai Pemimpin bagi Kaum Mukminiin (Amiirul-Mukminiin)

Keutamaan Abu Bakr Dan Umar Di Atas Ali Radhiallahu 'Anhum

Aliy bin Abi Thaalib : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Tidak Pernah Berwasiat tentang Kepemimpinan Kepada Dirinya

Keutamaan Abu Bakr dan ‘Umar yang Disebutkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Depan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Tidak Berwasiat tentang Kepemimpinan kepada ‘Ali radliyallaahu ‘anhu [ 2 ]

Aliy bin Abi Thaalib Berbaiat kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhumaa [ 2 ]

Ali Khalifah Setelah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ( klaim kaum syi'ah ) ?????

Keutamaan Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu yang Lain

‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu Mempunyai Ilmu yang Lebih Tinggi daripada Semua Shahabat [ ?????? ]

Demi Allah, Jika Abu Bakar Tidak Jadi Khalifah, Allah Tidak Akan Disembah Lagi !

















Di Malaysia dan Brunei, Meski Berhubungan dengan Iran, Syiah Dilarang

Ada beberapa rekomendasi yang diberikan Ulama kepada Pemerintah, terkait aliran sesat Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah. Setidaknya, ulama Ahlusunnah Waljamaah memberikan warningakan bahaya Syiah dari sisi Hankamnas dan Pancasila.  Hal itu terungkap dalam Tabligh Akbar “Mengokohkan Ahlusunnah Waljamaah di Indonesia” di Masjid Al Furqon, Gedung DDII, Jakarta, Ahad (16/9) kemarin.
Berbeda dengan aliran sesat yang lain, aliran sesat Syiah mempunyai jaringan Internasional yang terorganisir. Oleh karena itu penanganannya agak berat apabila hanya dilakukan oleh para ulama, tapi turun tangan pemerintah dalam masalah Syiah sangat diharapkan.
“Pemerintah punya pengalaman dalam menghadapi bahaya komunisme di Indonesia, walaupun kita tetap berhubungan dengan Rusia dan RRT, tapi faham komunisme dilarang di Indonesia. Sama seperti di Malaysia dan Brunei, meskipun mereka berhubungan dengan Iran, tapi aliran Syiah dilarang di Malaysia dan Brunei,” ungkap Ketua Bidang Organisasi Al-Bayyinat, Habib Achmad Zein Alkaf.
Habi Zein AlKaf menghimbau kepada pemerintah agar secepatnya mengambil sikap yang tegas kepada mereka. Di dunia ini tidak ada satu Negara yang berada dalam keadaan aman dan tentram, apabila dinegara tersebut berkembang aliran Syiah.
“Sekarang tinggal pemerintah yang mengambil keputusan, apakah pemerintah masih akan membiarkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila berkembang terus di bumi pertiwi ini? Apakah pemerintah akan membiarkan paham yang sangat meresahkan masyarakat dan merusak persatuan dan kesatuan dan bangsa kita? Apakah pemerintah akan membiarkan gerakan Syiah yang jelas dapat membahayakan NKRI?” tegas Habib Zein.
Sekarang,  lanjut Habib Zein, bola ada ditangan pemerintah. Namun dalam hal ini, pemerintah harus bertanggungjawab, apabila sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.
Jika mau jujur, pemerintah sebenarnya sudah mencium adanya keresahan di masyarakat dari akibat penyebaran aliran sesat Syiah di Indonesia. Karena itu, pemerintah sudah berulang kali, baik melalui MUI maupun aparat di daerah, untuk menyerukan agar masyarakat mewaspadai aliran Syiah.
Pemerintah juga menyadari, apabila pemerintah tidak cepat bertindak, maka pemerintah akan kewalahan dan tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja pemerintah masih menunggu waktu yang tepat untu bertindak. Bahkan, aparat pemerintah sudah mengantongi nama-nama aktivis mereka.
Syiah Bukan Islam
Habib Zein Alkaf pernah ditanya dan diminta memberi masukan oleh pihak Mabes Polri terkait bahaya Syiah. Habib kemudian menjelaskan, dari sisi agama, para Ulama Islam sepakat bahwa ajaran Syiah Imamiyyah Itsna ‘asyariyyah (ahlul bait atau Syiah Ja’fariyah atau Khomainiyah), yang berpusat di Iran dan sedang dikembangkan di Indonesia itu sesat dan keluar dari Islam (kafir).
“Indonesia ini adalah bumi Ahlusunnah Waljamaah, meskipun mereka terpecah dalam berbagai ormas Islam, ada NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Rabithah Alawiyah dan lain-lain, tapi mereka adalah keluarga besar Ahlusunnah Waljamaah,” kata Habib.
Ada kekhawatiran yang mendalam, berkembangnya Syiah di Indonesia, bisa memicu apa yang terjadi di Iraq, Bahrain, Yaman, Pakistan, dan di kawasan Timur Tengah lainnya, yaitu saling bunuh antara Ahlusunnah dengan Syiah akan terjadi di Indonesia.
Di kalangan Ahlusunnah Waljamaah,  para sahabat, istri-istri Rasulullah Saw dan para Imam Ahlusunnah sangat dihormati dan dijunjung tinggi kehormatannya. Namun, setelah kedatangan orang-orang Syiah dari Iran atau orang-orang Indonesia  yang sudah dikader di Iran, kerap mencaci maki pemimpin-pemimpin kita yang selama ini jadi panutan. Bahkan, mereka mengkafirkan dan murtadkan di luar Syiah. Istri Nabi Saw, seperti Siti Aisyah, misalnya, mereka katakan telah bebuat serong.
Celaan ini membuat masyarakat sesah, sehingga tidak bisa menerima apa yang mereka ucapkan. “Bagaimana kita akan tinggal diam menerima kekurang ajaran mereka.
Sampai sekarang, mereka masih mempropagandakan ajaran Syiah melalui buku-buku dan door to door secara sembunyi-sembunyi. Apabila meraka merasa sudah kuat, mereka tak sungkan lagi untu mencela sahabat dan istri-istri nabi.
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah Swt membela Aisyah, ketika kaum munafik menuduh Aisyah telah berbuat serong. Seperti dijelaskan dalam QS. An-Nur, Allah menolak tuduhan  kaum munafiqin terhadap Aisyah ra. Ini, menujukkan, Syiah bukan hanya dianggap sesat, tapi keluar dari Islam, yang menyebut Aisyah telah berbuat serong.”
Di Iran sendiri, penduduk Sunni mencapai 20 juta jiwa, namun mereka hidup tertekan. Tak sedikit ulama Sunni banyak yang didekam dalam penjara, madrasah dan masjid Suni diratakan, bahkan di berapa kota, orang Sunni dilarang membangun masjid.
“Mereka itu lebih kejam dan biadab daripada kaum kuffar yang menyerang Islam. Banyak bukti yang menunjukkan terjadinya pertengkaran dan perpecahan antara ayah dengan anaknya, suami dengan istrinya, kakak dengan adiknya, ibu dengan anaknya, guru dengan muridnya, seseorang dengan teman dan tetangganya. Sehingga banyak rumah tangga yang dulu harmonis menjadi berantakan, suasana perkampungan yang sebelumnya saling sapa dan memberikan salam, menjadi saling bermusuhan.



Klaim Syi'ah Yang Perlu Diantisipasi : 5 Kekuatan Syiah Yang Tak Terkalahkan

Demikian informasi kami himpun dari situs pemberitahan Syiah sendiri. ABNA membantah atas apa yang telah di sampaikan MIUMI terkait bahaya syiah di tengah umat Islam. Demikian kami kutip atas pernyataan MIUMI yang telah di kutip oleh redaksi mereka (ABNA-IR) 

“Syiah memiliki lima kekuatan yang mengalahkan kekuatan apa pun. Pertama, Syiah memiliki negara; Kedua, mereka memiliki marja', ABI ke Iran, IJABI ke Libanon, mereka tunduk patuh pada marja', saat ini sudah banyak anak Indonesia yang berlatih perang dengan Hizbullah di Libanon. Ketiga, Mereka punya khumus, atau dana untuk memperkuat gerakan mereka. Keempat, kaderisasi yang terus terpelihara, saat ini saja, kurang lebih sekitar 12.000 pelajar Indonesia di Iran, sementara di Mesir hanya 5000. Kelima, Syiah memiliki kader ilmiah militan lulusan khauzah ilmiah di Iran seperti Qum.

Semua ini, bukan saja sekadar tantangan, tapi sudah menjadi bara yang menyala dalam rumah kita. Kata penulis buku, 

Ahlussunah wal Jamaah dan Dilema Syiah di Indonesia. Menurutnya, Ajaran Syiah tidak usah ditakuti karena sangat rapuh, dia hanya ibarat balon, begitu kena jarum akan langsung meletup. Maka kita, MIUMI harus menjadi jarum bagi Syiah."
Namun sayangnya mereka (ABNA-IR) tidak mencantumkan sumber yang ia kutip. Adapun syiah membantah fatwa MIUMI itu dengan tuduhan telah membuat fitnah serampangan. Anehnya bantahan tersebut juga terkesan serampangan menurut kami. Bantahan itu nadanya seperti ini :
Tentu selain pernyataan mengenai jumlah pelajar Indonesia di Iran yang jauh dari kenyataan, juga terdapat pernyataan yang kontradiksi. Kalau memang Syiah memiiliki lima kekuatan yang disebut Farid Okbah yang mampu mengalahkan kekuatan apapun, lantas bagaimana bisa disaat yang sama dia juga menyebut Syiah sangat rapuh dan hanya ibarat balon? Dengan menggunakan logika Farid Okbah, tentu dia bermaksud mengatakan, Syiah yang diumpamakannya balon, karena memilih kekuatan yang mengalahkan kekuatan apapun, tentu saja Syiahpun mampu mengatasi MIUMI yang diibaratkannya jarum. Layakkah umat Islam Indonesia menyematkan sebutan ulama dan intelektual pada Farid Okbah yang serampangan mengumbar data dan kontradiksi dalam pernyataannya?. Lihat selengkapnya :
Adapun Menurut redaksi Soffah kedua apa yang telah di utarakan MIUMI adalah benar adanya, yakni (kuat) dan (rapuh). Faktor kekuatan mereka (Syiah) salah satunya dari pendanaan dan sistem pembaiatan. Faktanya kru dari Soffah (Abu Bakar) melaporkan bahwa sekian persen dari warga yang berada di Bangil Pasuruan/Jawa Timur di pengaruhi dengan iming-iming Uang.

Dilaporkan bahwa siapa saja yang mau mengikuti mereka (Syiah) akan mendapat gaji atau bayaran Cuma-Cuma setiap bulannya. Hal ini telah di sampaikan Imam Husain (imam syiah) kepada ta’mir mesjid Bangil. Pasalnya Imam Husain ini salah satu petinggi syiah di Bangil yang mendapat pendana’an dari Iran sebesar 45 Juta perbulan. Bisa anda bayangkan sendiri, sedangkan di Bangil pasuruan petinggi Syiah tidak hanya satu. Belum lagi pengajian tiap pekan, siapa saja yang mau mengikuti di beri uang transportasi sebesar 100 ribu per-orang.

Adapun kekuatan dari segi Pem-Bai’atan. Syiah mampu membuat pengikutnya berpikir diluar kesadaran. Hal ini akan di alami oleh siapa saja yang mau di bai’at. Rata-rata yang sudah menyepakati pembai’atan itu daya pikirnya berubah total, bagaikan air putih dalam gelas yang di ganti dengan air kopi. Bahkan bila perlu ketika ada keluarga yang tidak setuju dengan Aqidah barunya ia tidak segan-segan untuk meninggalkan Istrinya. Tambahnya.

Kemudian dari sisi kerapuhan. Ahlussunah wal Jamaah sepakat bahwa dalam ke-Agamaan Syiah tidak memiliki sanad. Sehingga sulit baginya untuk merangkul berdakwah sesuai kebutuhan Ummat Islam pada umumnya yang berpijak kepada Al-Qur’an, Hadist, Qiyas dan Ijma’ Ulama. Mengingat hal ini bisa di buktikan secara Ilmiyah.



Sunday, May 10, 2015

Syi’ah di Malaysia

Malaysia merdeka sebagai sebuah negara yang menjadikan Islam a la Ahlu Sunnah wal-Jamaah sebagai agama resmi negara. Dengan   itu, negara berkepentingan memelihara dan melindungi agama Islam dari segala sesuatu yang berpotensi mengancam kesuciannya. Hal ini kemudian dituangkan dalam berbagai kebijakan dan perundangan  resmi negara.
Terkait masalah Syi’ah, awalnya, pemerintah Malaysia tampak kurang memberikan perhatian. Mungkin, karena jumlah dan aktivitasnya yang tidak begitu n mengusik ketenteraman kaum Muslim pada umumnya.  Namun dari catatan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) —  lembaga resmi yang bertanggung jawab terhadap kemajuan Islam di Malaysia — Syi’ah telah mengalami perkembangan cukup signifikan. Menurut catatan ini, paling tidak di Malaysia terdapat tiga kelompok Syi’ah yang berkembang semenjak beberapa tahun yang lalu:
(1)Syi’ah Taiyibi Bohra. Kelompok ini berasal dari India dan dikenal di Malaysia dengan golongan yang memiliki Kedai Bombay. Kelompok yang berpusat di Lembah Kelang ini mempunyai tanah pekuburan dan masjidnya sendiri dan pengikutnya diperkirakan 200-400-an orang.
(2)Syi’ah Isma’iliyah Agha Khan. Kelompok yang dikenal dengan nama  Kedai Peerbhai ini bergerak di sekitar Lembah Kelang juga. Jumlah pengikutnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi bilangannya lebih kecil dari kelompok Bohra.
(3)Syi’ah Ja’fariyah atau Imamiyah Itsna Asyariyah (Imam Dua Belas). Kelompok ini dipercayai mulai bertapak di Malaysia selepas Revolusi Iran tahun 1979. Pengaruh ajaran kelompok ini menular ke berbagai pelosok negara melalui bahan-bahan bacaan dan perorangan, baik yang berkunjung ke Iran atau yang datang dari Iran. Faham ini, kabarnya, semakin berkembang sejalan dengan semakin banyaknya mahasiswa asal Iran yang belajar di Malaysia.
Karena dinilai bertentangan dengan ajaran Ahlu Sunnah wal-Jamaah, pemerintah Malaysia menetapkan serangkaian kebijakan. Diantaranya, Enakmen Pentadbiran Perundangan Islam Negeri Selangor 1989,  berkenaan warta pengharaman Syi’ah.  Seksyen 31(1) dan Seksyen 32 Enakmen ini menyatakan: “Mana-mana orang Islam adalah dilarang berpegang kepada ajaran-ajaran dan fahaman tersebut (Syi’ah), kerana ia bertentangan dengan pegangan AhliSunnah Wal Jamaah. Larangan ini meliputi: untuk mengajar, mengamalkan berpegang kepada atau menyebarkan ajaran-ajaran atau fahaman-fahaman yang terkandung di dalam ajaran dan fahaman Syi’ah kecuali untuk amalan individu itu sendiri.”
Ketetapan Negeri Selangor itu kemudian disusul dengan warta pengharaman Syi’ah, Seksyen 34 – Akta Pentadbiran Undang-Undang Islam (Wilayah – Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur), 1993, yang menetapkan bahwa:  “Semua umat Islam warga Negara ini (Malaysia) adalah tertakluk kepada undang-undang Islam dan Hukum syarak yang berasaskan pegangan kepada ajaran AhliSunnahWal-Jama’ah sahaja.
Setelah itu, masih disusul lagi dengan Keputusan Jawatan Kuasa (Komite) Fatwa Kebangsaan (Malaysia) pada tahun 1996, tentang pengharaman ajaran-ajaran selain Ahlu Sunnah wal-Jama’ah. Tapi, serangkaian peraturan resmi negara tersebut tidak membuat kaum Syiah di Malaysia menghentikan penyebaran ajarannya. Apalagi, berbagai iklim kebebasan yang dipicu perkembangan politik global, seringkali memaksa Negara-negara Muslim untuk memberikan kebebasan terhadap aliran dan paham apa pun. (lihat: Angel M. Rabasa, U.S. Strategy in the Muslim WorldAfter 9/11(California: RAND, 2004).
Di Malaysia,  kaum Syi’ah juga memanfaatkan iklim kebebasan itu untuk menyuarakan dan menyebarkan ajaran-ajaran mereka. Itu bisa dilihat dalam sejumlah penerbitan Syiah di Malaysia, seperti: (i)Meniti Titian Kebenaran (Menyingkap Kebenaran Ilahi); (ii) Inilah Khulafa Ar-Rasyidin; (iii)Akhirnya Ku Temui Kebenaran; (iv) Dialog Mengenai Islam dan Akidah Islam yang Sebenar; dan lain-lain.
Itu juga terlihat dari aktivitas-aktivitas keagamaan kaum Syi’ah, termasuk prosesi Asyura yang cukup menonjol, sehingga pada 2011 yang lalu JAIS (Jabatan Agama Islam Selangor) bersama dengan aparat keamanan PDRM (Polisi Di Raja Malaysia) menggerebek sebuah markaz Syi’ah di Taman Sri Gombak, Selangor, dan menahan semua anggota kelompok ini yang sedang memperingati sebuah hari penting bagi kaum Syiah.
Kasus ini akhirnya berkembang menjadi issu yang cukup serius, sampai Parlemen Malaysia akhirnya pada 9 Maret 2011 memanggil pejabat-pejabat tinggi negara yang terkait, seperti  Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri, dan Menteri di Jabatan Perdana Menteri untuk memberikan keterangan. Dalam penjelasannya, Menteri di Jabatan Perdana Menteri,  Dato’ Seri Jamil Khir, menyatakan, bahwa tindakan pemerintah terhadap Syiah mengacu pada keputusan Jawatan Kuasa Fatwa Kebangsaan pada 1996 dan undang-undang pengharaman Syiah sebelumnya.
Akhirnya Parlemen Malaysia menyetujui keputusan: (1) Menetapkan bahwa umat Islam di Malaysia hendaklah hanya mengikut ajaran Islam yang berasaskan pegangan Ahlu Sunnah wal- Jamaah dari segi akidah, syariah dan akhlak. (2) Bahwa ajaran Islam yang lain dari pada pegangan Ahlu Sunnah wal-Jamaah adalah bertentangan dengan Hukum Syara’ dan Undang-Undang Islam. Dengan demikian,  penyebaran ajaran yang lain dari pada pegangan Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah dilarang.
Itulah keputusan Malaysia. Wallahu a’lam bil-shawab.


Alhamdulilah, Negeri Serumpun, Se-Aqidah "Ahlus Sunnah Waljamaah", Malaysia Bergabung Dengan Koalisi Teluk Memerangi Hutsy di Yaman !

Pemerintah Malaysia akhirnya mengirimkan pasukan militer untuk bergabung dengan koalisi teluk yang dipimpin arab saudi. Tentara Malaysia ini sudah mendarat di Arab saudi pada hari ini ahad 10 Mei 2015..
Rencana sebelumnya yang diumumkan oleh pemerintah Malaysia akhirnya terbukti juga dimana negara ini menjadi anggota ke 12 setelah Senegal dalam gabungan koalisi teluk.

Sebelumnya Senegal juga telah mengumumkan untuk mengirimkan sekitar 2.000 tentara mereka untuk membantu Arab Saudi dan Pemerintah Yaman yang Sah. Alasan lain yang membuat negara Afrika ini ikut andil adalah demi berpartisipasi dalam menjaga keamanan dua Tanah Haram yakni Makkah dan Madinah

                                        
http://www.sunnahcare.com/2015/05/malaysia-bergabung-dengan-koalisi-teluk.html
Malaysia Diam-Diam Kirim Pesawat Tempur Untuk Ikut Perangi Syiah Houthi di Yaman
Tanpa banyak pemberitaan di media, Malaysia ternyata telah menjadi negara Asia ke-12 yang mengirim kekuatan militernya untuk bergabung dengan koalisi anti-syiah  Houthi di Yaman.
Saudi Press Agencymemberitakan jet tempur Malaysia, Minggu (10/5), tiba di Riyadh dan siap melancarkan pemboman ke basis-basis pertahanan milisi syiah Houthi di sekujur Yaman.
Sebelumnya, Senegal mengirim 2.100 serdadu untuk memerangi Shiah Houthi jika Arab Saudi mengerahkan pasukan darat.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan pusat operasi koalisi sedang mempersiapkan penggabungan kekuatan militer Malaysia dan Senegal.
Jet-jet tempur Malaysia kemungkinan tidak akan terlibat dalam operasi pemboman sampai pekan depan, karena Arab Saudi dah milisisyiah  Houthi sepakat gencatan senjata kemanusiaan selama lima hari.
Koalisi Islam pimpinan Arab Saudi melancarkan pemboman terhadap kekuatan pemberontak syiah Houthi  dukungan Iran sejak 26 Maret. Sejauh ini serangan udara relatif sukses mencegah kejatuhan Aden, kota pelabuhan penting Yaman, ke tangan syiah Houthi.

Senegal Akan Kirim 2.100 Tentaranya Bergabung Dengan Koalisi Islam Untuk Hancurkan Pemberontak Houthi di Yaman
Senegal berkomitmen akan mengirim 2.100 tentaranya ke Arab Saudi sebagai bagian dari koalisi internasional memerangi pemberontak syiah Houthi di Yaman yang mengancam Mekkah dan Madinah. Presiden Senegal Macky Sall, mengatakan hal itu setelah kembali dari kunjungannya ke Arab Saudi bulan lalu.

“Koalisi internasional bertujuan untuk melindungi dan mengamankan tempat-tempat suci Islam, Madinah dan Mekkah,” kata Menteri Luar Negeri Senegal Mankeur Ndiaye (4/5).
“Presiden, telah memutuskan untuk merespons positif permintaan ini dengan mengerahkan kontingen dari 2.100 laki-laki di tanah suci Arab Saudi,” jelas Ndiaye.
Koalisi ingin mengembalikan Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi, termasuk delapan negara-negara Arab lain dan menerima dukungan logistik dari Amerika Serikat, Inggris dan Perancis.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi menuturkan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, kalau aliansi sedang mempertimbangkan untuk menghentikan serangan udara di daerah tertentu di Yaman untuk memungkinkan pasokan kemanusiaan. PBB menyebut kalau situasi kemanusiaan di Yaman telah putus asa setelah minggu pemboman.
Senegal sebelumnya mengerahkan pasukan ke Arab Saudi sebagai bagian dari aliansi pimpinan AS selama Perang Teluk melawan Irak, ketika 92 tentara yang tewas dalam kecelakaan 

sebuah pesawat transport Saudi pada tahun 1991.

tentaranya-bergabung-dengan-koalisi-islam-untuk-hancurkan-pemberontak-houthi-di-yaman.htm#.VU_Zgfmqqko

Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza” (جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا وَجَزَاكُمُ اللهُ اَحْسَنَ الْجَزَاء)

[ Negara-negara yang memiliki Ghirah Islam/Iman untuk melindungi Tempat Suci Mekkah dan Madinah. Mereka tidak Ridho Syiah Kufar Mengganggu/mendudukinya dan berkolaborasi dengan Iran karena kepentingan ekonomi ? ]

Kebohongan ( taqiyah ) Syi’ah Rafidhi dari Ayatullah Al-'Udhma, Menteri Luar Negeri, Presiden hingga Jendral-jendral di Garda revulusi “Tidak Terlibat Pembrontakan di Yaman” ternyata Terkuak ! Inilah Tipikal Syiah, Lebih Keji dari Yahudi !

Iran : Kami Sengaja Masuk ke Yaman dan Suriah untuk Melebarkan Ajaran Syiah

Salah satu pimpinan Garda Revolusi Iran, Mayjen Muhammad Ali Ja’fari menyebut bahwa negaranya memang sengaja masuk ke Suriah dan Yaman. Salah satu tujuan masuknya mereka adalah untuk memperkuat dan melebarkan pemahaman syiah ke dua negara tersebut. ( mengikuti jejak pendahulunya sejak abad 14 H untuk menghancurkan Makkah/Madinah.red lamurkha )
“Iran telah menyiapkan 100 ribu pasukan bersenjata untuk memberikan dukungan kepada pemerintah Suriah dan Revolusi Islam Iran, guna memerangi para pemberontak dan melebarkan sayap perjuangan,” kata Ja’fari dalam sebuah acara yang disiarkan televisi Iran,  Press TV.
Ja’fari menegaskan bahwa Barat begitu ketakutan dengan paham Syiah dan penyebarannya. Iran, menurutnya akan menjadi kekuatan yang lebih menakkutkan lagi jika berhasil menggabungkan negara-negara teluk seperti Suriah, Irak, Yaman dan Libanon [ Umat Islam yang Juga khawatir terhadap keganasan Agama Syiah ]
“Kaum muslimin akan bergabung dengan Iran, Suriah, Irak, Yaman dan Libanon,” tegasnya lagi. [ tidak mungkin Muslimin gabung dengan rafidhi syi'ah !! ]
Adapun Yaman, Ja’fari menegaskan bahwa intervensi negaranya bukanlah intervensi yang dilakukan secara langsung. Namun, Iran masuk ke Yaman melalui pergerakan kelompok pemberontak Hutsiyin, demikian seperti dikutip dari alarabiya, Jumat (8/5/2015) [ syiah gemar bersilat taqiyah ]
Pengakuan Ja’fari ini seolah menegaskan bahwa kasus-kasus yang kini terjadi di negara-negara Timur Tengah tak lepas dari campur tangan Iran. Bahwa semua negara yang disusupi oleh Iran mengalami kekacauan luar biasa, dan mengorbankan puluhan ribu warga negara yang dimaksud.

Jenderal Syiah Iran Akhirnya Akui Keterlibatan Mereka Di Yaman

Seorang pejabat tinggi militer Iran mengakui bahwa negaranya ikut membantu pemberontak Syiah Houthi dan sekutunya dalam menghadapi agresi militer Koalisi Negara Islam yang dipimpin Saudi dan sekutunya di Yaman.
Dalam wawancaranya dengan kantor berita Farsi Iran pada hari Minggu (26/04) kemarin, Jenderal Ali Hadmani mengakui bahwa negaranya ikut mendukung pemberontakan Syiah Houthi dengan menjadi penasehat militer dan memberikan sejumlah bantuan kepada meraka, tanpa mau menjelaskan apa bentuk bantuan tersebut.
“Kami mengumumkan secara terbuka dukungan dan bantuan kami kepada perlawanan Syiah Houthi di Yaman, sama seperti perlawanan Palestina, Lebanon, Irak dan Afghanistan,” ujar Jenderal Ali Hadmani.
Ini adalah konfirmasi pertama pemerintah Teheran mengenai keterlibatan mereka dalam konflik di Yaman, setelah sebelumnya Menlu Iran Javad Zarif membantahnya.
Menurut keterangan Menteri Luar Negeri Yaman, Riad Yassin, pada hari Minggu kemarin di ibukota London menyatakan bahwa sedikitnya Teheran telah melatih sekitar 1600 pemberontak Syiah Houthi sebelum memanasnya konflik di Aden pada bulan April lalu.
Info terkait :
Iran akan menguasai Timur Tengah melalui krisis Yaman

خطير.. أول حسينية شيعية تهاجم الملك سلمان وتشرح أحلام إيران في الشرق الأوسط
يرجى متابعة حسابنا على تويتر
https://twitter.com/Wa3iArabi
وزيارة الموقع الرسمي
http://www.wa3iarabi.com