Saturday, April 25, 2015

[ Mengenang Kembali ] Muawiyyah Ibnu Abu Sofyan

Sebagaimana banyak subhat masuk kepada kami dari para penganut agama Syi’ah atau orang yang mengusung pemahaman Syiah tentang sahabat Rasulullah -shalallahu alaihi wa salam- Muawiyah ibnu abi Sofyan, maka berikut beberapa kutipan yang kami ulang semoga menambah manfaat bagi kaum muslimin.
sahabat Nabi -shalallahu alaihi wa salam- adalah orang yang bertemu Nabi -shalallahu alaihi wa salam- dalam keadaan mukmin dan meninggal dalam keadaan mukmin, bukan munafik bukan murtad.
Sahabat muawiyyah berijtihad : menuntut qishash pembunuh khalifah Usman, dan khalifah ali berijtihad merasa dia khalifah dan meminta dibaiat dulu lalu memerangi para pembunuh bersama-sama. Muawiyyah sebagai keluarga Khalifah Usman, dan dia merasa punya pasukan kuat yang mampu menyeret pembunuh usman memandang qishash dulu baru baiat. jadi mereka berdua berijtihad, lalu para pembunuh tidak ingin mereka berdua bersatu sehingga mereka bikin kacau, maka terjadilah perang fitnah.
Maka jika ada ucapan bahwa sahabat muawiyyah memusuhi sayyidina ali dan memuat makar adalah ucapan yang biasa digunakan oleh ahli bidah yang sesat dari al-Quran, sunnah dan sejarah.
Dari Ibnu Tharif dan Ibnu Alwan dari Jafar dari ayahnya, bahwa Ali mengatakan pada pasukannya :

Kami tidak memerangi mereka karena mereka kafir, juga bukan karena mereka menganggap kami kafir, tetapi merasa kamilah yang benar, mereka pun demikian (Biharul Anwar jilid 32 hal 321-330, Bab hukum memerangi Amirul Mukminin Ali.Riwayat ini diriwayatkan juga oleh Himyari dari kitab Qurbul Isnad hal 45. )
Ketahuilah bahwa sahabat muawiyyah adalah tabir penutup para sahabat Nabi Muhammad saw, jika dia disingkap (dikritik dan dipermasalhakn) maka akan lancang atau lebih berani mempermasalahkan di balik itu. Sebagaimana ucapan al-Rabial-Halabi (8/139 ).
Muawiyyah adalah Tameng bagi para sahabat Nabi lainnya, jika dia disingkap maka akan berani merambah yang dibelakangnya.
Oleh karena membela muawiyyah adalah membela para sahabat Nabi saw, dan membela Islam, dan mengkritik muawiyyah adalah mencela Nabi saw dan mencela Islam. 
Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar yang sekaligus dikenal dengan jihadnya,  ditanya: “Mana yang lebih utama? Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?” Beliau menjawab:
“Debu yang masuk ke hidung Muawiyah saat berperang bersama Rasulullah, lebih baik dari Umar (bin Abdul Aziz) seribu kali.
Muawiyah pernah shalat di belakang Rasulullah , dan Rasulullah  berkata: Sami’allahu liman hamidah, lalu Muawiyah berkata: Rabbana walakal Hamd. Apa yang lebih utama dari ini?” (Wafayat Al A’yan, jilid 3 hal 33.)
sahabat Nabi yang besar, penulis wahyu, Ipar Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- dan raja islam yang agung; Muawiyyah bin abi sufyan
Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- menyebutkan keutamaan sahabat muawiyyah dalam banyak hadits yang masyhur, sebagiannya ada di shahih Bukhari dan shahih Muslim. Ibnu Asakir berkata: yang paling shahih dalam keutamaan sahabat muawiyyah adalah hadits Abu Hamzah dari Ibnu Abbas bahwa dia (Muawiyah) adalah juru tulis Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- sejak dia masuk Islam (HR. Muslim) dan setelah itu hadits al-Irbadh:
Ya Allah ajari dia al-Qur`an dan setelah itu hadits ibnu abi amirah:
Ya Allah Jadikanlah ia orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk. maka siapa yang melaknat sahabat Muawiyyah berarti melaknat Nabi dan al-Qur`an.
kepada para pecinta sahabat Muawiyyah ataupun kepada para pembenci muawiyah -Radiallahuanhu- kami nasehatkan anda agar membaca makalah-makalah berikut ini:


KHALIFAH MU’AWWIYAH DI MATA ORANG BESAR!

Salah satu sahabat besar yang dijamin masuk surga Saad bin Abi Waqqas berkata :
Tak pernah saya melihat seorang yang lebih pandai memutuskan hukum selepas Sayyidina Utsman selain daripada pemilik pintu ini (beliau maksudkan Muawiyah)”. (Al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid 8 m.s. 133)
Seorang lagi sahabat Qabishah bin Jabir berkata : Tak pernah saya melihat seorang yang lebih penyantun, lebih layak memerintah, lebih hebat, lebih lembut hati dan lebih luas tangan di dalam melakukan kebaikan daripada Muawiyah. (Al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid 8 m.s. 135)
Abdullah bin Mubarak, seorang tabiin terkenal pernah ditanya : Apa pendapat anda tentang Muaawiyah dan Umar bin Abdul Aziz, siapakah di antara mereka yang lebih utama?. Mendengar pertanyaan itu Abdullah Ibnu al-Mubarak naik Pitam lalu berkata: Kamu bertanya tentang perbandingan keutamaan antara mereka berdua. Demi Allah! Debu yang masuk ke dalam lubang hidung Muawiyah karena berjihad bersama-sama Rasulullah itu saja lebih baik dari Umar bin Abdul Aziz. (Al-Bidayah Wa an-Nihayah jilid 8 m.s. 139)
Umar bin Khattab berkata tatkala mengangkatnya sebagai Gubernur Syam, Janganlah kalian menyebut Muawiyah kecuali dengan kebaikan. (Al-Bidayah 8/125)
Zuhri berkata, Muawiyah bekerja dalam pemerintahan Umar bin Khattab bertahun-tahun tiada cela sedikit pun darinya. (As-Sunnah I/444 Al-Khallal).
Ali bin Abi Thalib berkata sepulangnya dari perang Shiffin, Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Muawiyah, seandainya kalian kehilangan dia, niscaya kalian akan melihat kepala kepala bergelantungan dari badannya (banyak pembunuhan). (Al-Bidayah 8/134)
Ibnu Umar ra berkata, Saya tidak melihat setelah Rasulullah orang yg lebih pandai memimpin manusia daripada Muawiyah. Dikatakan padanya, Sekalipun Ayahmu? katanya, Ayahku Umar lebih baik daripada Muawiyah, tetapi Muawiyah lebih pandai berpolitik darinya. (As-Sunnah I/443 Al-Khallal, Siyar Alam Nubala 3/152, Al-Bidayah 8/138)
Ibnu Abbas berkata, Saya tidak melihat seorang yang lebih arif tentang kenegaraan daripada Muawiyah (Al-Bidayah 8/138) Beliau juga mensifati Muawiyah dengan œfaqih (Shahih Bukhari 3765)
Mujahid berkata, Seandainya kalian melihat Muawiyah, niscaya kalian akan mengatakan : Inilah Al Mahdi. Ucapan senada juga dikatakan Qatadah (As-Sunnah I/438 Al-Khallal)
Zuhri berkata, Muawiyah bekerja dalam pemerintahan Umar bin Khattab bertahun-tahun tiada cela sedikit pun darinya. (As-Sunnah I/444 Al-Khallal).
Suatu kali pernah diceritakan kepada Amasy Sulaiman bin Mihran (seorang ulama besar yang hidup pada masa Muawiyyah dan menjumpai masa Umar bin Abdul Aziz) tentang keadilian Umar bin Abdul Aziz, maka dia berkata, Bagaimana kiranya seandainya kalian mendapati Muawiyah? Mereka berkata, Wahai Abu Muhammad apakah dalam kelembutannya? Dia menjawab, Tidak, demi Allah, bahkan dalam keadilannya. (As-Sunnah I/437)
Al-Muafa bin Imran pernah ditanya, Wahai Abu Masud, siapakah yang lebih utama: Umar bin Abdul Aziz atau Muawiyah? Beliau langsung marah sekali seraya berkata,
Seorang sahabat tidak boleh dibandingkan dengan seorang pun. Muawiyah adalah juru tulis Nabi i, sahabat Nabi, iparnya, dan orang kepercayaan Nabi atas wahyunya. (Tarikh Dimasyq 59/208)
Ibrahim bin Maisarah berkata, Saya tidak melihat Umar bin Abdul Aziz memukul sesorang kecuali seorang yang mencela Muawiyah, beliau mencambuknya dengan beberapa cambukan. (Tarikh Dimasyq 59/211)
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang mencela Muawiyah dan Amr bin Ash, Apakah dia Rafidhah? Katanya, Tak seorang pun berani mencela keduanya kecuali mempunyai tujuan jelek. (Tarikh Dimasyq 59/210)
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata, Muawaiyah adalah paman kaum mukminin, penulis wahyu Alloh, salah seorang khalifah muslimin- semoga Allah meridhai mereka. (Lumatul Itiqad hal 33)
Ibnu Taimiyah berkata, Para ulama sepakat bahwa Muawiyah adalah raja terbaik dalam umat, karena 4 pemimpin sebelumnya adalah para khalifah nubuwwah, adapun dia adalah awal raja dan kepemimpinannya adalah rahmat. (Majmu Fatawa 4/478, Minhaj Sunnah 6/232)
 Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata, Raja pertama kaum muslimin adalah Muawiyah, dan dia adalah sebaik-baiknya raja kaum muslimin. (syarh Aqidah Thahawiyah hal 722)
Adz-Dzahabi berkata dalam biografinya, Amirul mukminin, raja Islam. Muawiyah adalah raja pilihan yang keadilannya mengalahkan kezhaliman. (Siyar 3/120, 259)
Kaab al-Ahbar berkata : “Tidak ada orang yang akan berkuasa sebagaimana berkuasanya Muawiyah.”
Adz-Dzahabi berkata : “Kaab meninggal sebelum Muawiyah menjadi khalifah, maka benarlah apa yang dikatakan Kaab. Sebab Muawiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun, tidak ada pemberontakan dan tidak ada yang menandinginya dalam kekuasaannya. Tidak seperti para khalifah yang datang setelahnya. Mereka banyak yang menentang, bahkan ada sebagian wilayah yang menyatakan melepaskan diri.”
Muawiyah terlibat peperangan dengan Khalifah Ali, kemudian dia menyatakan dirinya sebagai khalifah. Kemudian dia juga terlibat peperangan dengan al-Hasan. Al-Hasan akhirnya mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada sahabat Muawiyyah. Kemudian Muawiyah menjadi khalifah pada bulan Rabiul Awal atau Jumadil Ula, tahun 41 H. Tahun ini disebut sebagai Aam Jamaah (Tahun Kesatuan), sebab pada tahun inilah umat Islam bersatu dalam menentukan satu khalifah. Pada tahun itu pula Muawiyah mengangkat Marwan bin Hakam sebagai gubernur Madinah.
Alhamdulillahirabbil alamin.

Pada tahun 43 H, kota Rukhkhaj dan beberapa kota lainnya di Sajistan ditaklukkan. Waddan di Barqah dan Kur di Sudan juga ditakÂlukkan. Pada tahun itu pulalah Muawiyah menetapkan Ziyad ibnu abihi. Ini -menurut ats-Tsalabi- merupakan keputusan pertama yang dianggap mengubah hukum yang ditetapkan Rasulullah.
Pada tahun 45 H, Qaiqan dibuka/ditaklukkan.
Pada tahun 50 H, Qauhustan dibuka/ditaklukkan lewat peperangan. Pada tahun 50 H, Muawiyah menyerukan untuk membaiat anaknya Yazid sebagai putra mahkota dan khalifah setelahnya jika dia meninggal.
Muawiyah meninggal pada bulan Rajab tahun 60 H. Dia dimakamkan di antara Bab al-Jabiyyah dan Bab ash-Shaghir. Disebutkan bahwa usianya mencapai tujuh puluh tujuh tahun. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah dan sebagian potongan kukunya. Dia mewasiatkan agar dua benda itu di diletakkan di mulut dan kedua matanya pada saat kematiannya. Dia berkata, Kerjakan itu, dan biarkan saya menemui Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang!.

Buka lagi :

Wilayah Sunni Di Irak

                           
                                                      
Ibnu Kautsar al-Kautsari
Diterjemah al-Ustadz Abu Hamzah:
saya akan berbicara tentang luas wilayah provinsi Sunni dan saya berharap saya menerbitkan ulasan ini sebagai sebuah artikel sederhana atau makalah di situs Anda yang mulia dengan judul (daerah provinsi Sunni) agar lebih berguna, karena akan diakses oleh jumlah yang lebih besar lagi dari pengunjung situs Anda. Dan seandainya saja anda mengirimkannya ke situs lain yang peduli dengan urusan Sunni Irak sebagai satu artikel maka saya sangat berterimakasih. Saya berharap Anda menyampaikan Salam hangat saya untuk syekh dan pemimpin kami, Dr Taha al-Dulaimi, semoga Allah melindunginya, yang dengannya Allah menghidupkan umat yang sekarat ini karena sebab penyesatan orang-orang yang menyesatkan. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan yang diberikan kepada seorang alim yang mengamalkan ilmunya, bukan alim yang hanya hafal sebagaimana kebanyakan orang yang menganggap dirinya ulama. Mereka sekedar penghafal, tidak memiliki pengaruh pada bumi kenyataan.

Kemudian Angka yang akan saya pergunakan semuanya menggunakan satu ukuran yaitu km (kilo meter persegi). Saya hanya mencukupkan diri dengan menyebut angkanya tanpa satuan ukurannya, supaya efektif.

A_ Luas wilayah Irak 434 290 yang merupakan urutan kesepuluh (X) di antara luas negara-negara Arab sebagai negara Arab terbesar adalah Aljazair, yang melebihi seluas 2 juta dan negara-negara Arab yang terkecil adalah Bahrain, yang memiliki luas 665
B _ total luas empat provinsi Sunni adalah 212 357, sebagai berikut:
– Anbar 138000 yang merupakan wilayah terbesar dari provinsi Irak
_ Niniwe 32 308
– Salahuddin 24.364
_ Diyala 17.685
C _ total luas dari sembilan provinsi Syiah adalah 163 213 sebagai berikut:
– Muthanna 51 029, provinsi Irak terbesar kedua dalam hal luas
_ Najaf 28.824
_ Basra 19.070
_ Wasit 17012
_ Maysan 16.072
_ Dhi Qar 12900
_ Qadisiyah 8153
_ Babel 5119
_ Karbala 5034
D _ total luas tiga provinsi Kurdi adalah 42 812 sebagai berikut:
_ Arbil 15074
_ Dohuk 10715 untuk
– Sulaymaniyah 17023
Dan _ provinsi Status Khusus
_ Kirkuk 10715
_ Baghdad 4555, wilayah terkecil provinsi di Irak
Kesimpulan:
1 - provinsi Diyala sendiri adalah sama dengan wilayah Negara Kuwait, di mana seluas 17.818 Kuwait
2 - provinsi Salahuddin lebih besar dari wilayah Qatar lebih dari dua kali lipat di mana total luas Negara Qatar 11521
3 - area Anbar lebih luas dari Bahrain 200 kali
4 - wilayah Anbar, lebih besar dari tiga negara gabungan adalah Yordania, Palestina dan Lebanon, di mana total luas negara-negara sebagai berikut:
- Jordan 92000 terdiri dari 12 kabupaten
- Sebuah total luas Palestina sebelum pendudukan 27000
- Lebanon 10000
Jadi total luas ketiga negara adalah 129.000 sedangkan wilayah Anbar sendiri 138000 artinya Anbar lebih besar dari padanya secara kolektif 9000
5- Empat provinsi Sunni (termasuk Kirkuk dan Baghdad), lebih besar dari sembilan provinsi Syiah sampai 49 144, yaitu sama dengan daerah provinsi Muthanna, kota terbesar kedua di Irak, beda seluas 2 kilometer persegi
6- luas dari empat provinsi Sunni lebih besar dari tiga provinsi Kurdi sampai 5 kali
7- keempat provinsi Sunni lebih besar dari Suriah, di mana wilayah Syria 185000, artinya lebih besar dari Suriah dengan 27.357 dan perbedaan ini adalah sama dengan luas Palestina dan lebih.
 
Saudara Ahlussunnah, luas tanah kalian lebih besar dari wilayah negara-negara tetangga, dan luas tanah saudara kita suku Kurdi lebih besar dari daerah saudara Syiah (saya katakana saudara Syiah biar warga Negara di sini tidak sewot sama kita). Lalu bagimana lagi kalau digabung dengan provinsi Kirkuk, atau bahkan sebabagian saja dari Kirkuk, lalu bagaimana lagi jika kalian bersatu dengan saudara Kurdi, Mereka itu sama-sama ahlussunnah seperti kalian secara pasti maka kalian akan menjadi kekuatan terbesar di Irak. Bukankah ini lebih baik dari situasi kita sekarang ini di mana wanita-wanita kita diperkosa dan laki-laki kita dibunuh secara membabi buta tanpa alasan, seperti yang terjadi kemarin di A’zhamiya, di mana militer menghentikan seorang pemuda Sunni dan membunuhnya tanpa pelanggaran dan secara terbuka di jantung ahlussunnah di Baghdad (A’zhamiya)!

tidakkah Anda menyadari sejauh mana kelemahan dan ketidakberdayaan kalian yang yang sampai pada kalian?! Jika Anda tertarik pada kesatuan Irak maka teguhkan wilayah Anda dan siapkan diri kalian untuk memperkuat keberadaan kalian di sana, jika Anda ingin memerdekakan irak seluruhnya dari titik tolak kekuatan, di mana Anda memiliki tentara dan polisi dan aparat keamanan, bukankah yang demikian itu lebih baik dari penghinaan yang kalian jalani? Bukankah ini lebih baik dari pada memaksa masuk dalam medan perang yang tidak ada jaminan keberhasilan di saat sekarang ini?
Ataukah kalian ingin tenag-tenang saja di tempat kalian saja, dan tidak ada yang Anda miliki selain shalat di jalan raya dan kemudian setelah itu khotbah menggelegar emosional dan lagu nasional dan hasilnya tidak ada dalam kenyataan, kecuali meningkatkan kerusakan pada ahlussunnah Baghdad dan sekitarnya, di mana semakin meningkat penahanan , pembunuhan dan pengusiran
Bahkan semakin meningkatkan kerusakan yang diterima para tahanan sunni yang memprihatinkan dimana al-Maliki melampiaskan dendamnya dengan menghukum gantung mereka! (……) akhirnya saya menutup dengan firman Allah swt (dan tidaklah nasehatku bermanfaat jika aku ingin menasehati klian jika Allah sudah menginginkan menyesatkan kalian. Dia Rabb kalian dan kepadanya kalian dikembalikan. (Hud 34)

(*) Artikel ini diterima sebagai komentar pada sebuah artikel Syeikh Dr Taha Hamed al-Dulaimi (“Kedutaan atau panggung sandiwara? Dari fantasi kaum rafidhah untuk federal / 4) yang diterbitkan dalam situs al-Qadisiyyah



Friday, April 24, 2015

Benarkah Ahlul Bait mengetahui yang Ghaib?


Dalam sebuah dialog di Facebook bersama beberapa 
orang Syiah mengenai siapakah sahabat yang paling alim antara Abu Bakar dengan Ali bin Abi Thalibradhiyallahu anhuma? Syiah meyakini bahwa yang paling alim adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Kita meyakini Abu Bakar radhiyallahu anhu yang paling alim di antara para sahabat -dengan tidak mempertentangkan antara Abu Bakar dengan Ali bin Abi Thalib-, karena mereka berdua bersahabat dan sama-sama berjuang membela Nabi-.

Dalilnya adalah hadis dalam Shahih Bukhari, 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: خَطَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ»، فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقُلْتُ فِي نَفْسِي مَا يُبْكِي هَذَا الشَّيْخَ؟ إِنْ يَكُنِ اللَّهُ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ، فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ العَبْدَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا، قَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ لاَ تَبْكِ، إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي المَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ، إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ»

Dari Abu Sa'id Al-Khudri, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah, "Sesungguhnya Allah memberi pilihan kepada seorang hamba antara dunia dengan apa yang ada di sisiNya, maka ia memilih apa yang ada di sisi Allah" Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhumenangis. Saya pun bergumam, "Apa yang membuat orang ini menangis? Ketika Allah memberi pilihan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisiNya, lalu ia memilih apa yang ada di sisi Allah" Setelah itu (akhirnya kita tahu) bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wasallam adalah hamba tersebut dan yang paling alim di antara kami adalah Abu Bakar. Nabi bersabda, "Jangan menangis, sesungguhnya orang yang paling kupercaya dalam hal persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya saya ingin memilih kekasih dari umatku ini tentu saya akan memilih Abu Bakar, akan tetapi ukhuwah islamiyah dan hubungan cinta. Jangan sisakan di masjid ini ada pintu yang terbuka, kecuali pintunya Abu Bakar." (No. 466, Bab al-Khaukhah wa al-Mamarru fi al-Masjid)

Ahlul Bait mengetahui kapan Rasulullah akan wafat?

Seorang facebooker Syiah berkomentar,"hahahaha......cuma karena dalil begitu di bukhari terus dibilang paling pinter..bhuakakak...???!!! para ahlulbaitnya sudh tau kapan Rasulullah wafatsebelum beliau mengucapkannya kepada siapapun"

                           


Padahal dalam Al-Qur'an kita diajarkan oleh AllahSubhanahu wa ta'ala bahwa tidak ada satupun yang mengetahui hal ghaib (yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera) kecuali Allah sendiri. Sesuai dengan firman Allah

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

"Dan di sisiNya terdapat kunci-kunci hal yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia" (QS. Al-An'am: 59)

Mengenai hal-hal ghaib yang diketahui oleh Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam maka itu adalah wahyu yang Allah wahyukan kepada Rasulullah, dan ini pun terbatas, tidak semua hal ghaib diketahui oleh Rasulullah, apatah lagi dengan Ahlul Baitnya.
Facebooker Syiah menjawab, "hahahahaha...kan Allah membukakannya kepada Rasul dan Ahlulbaitnya. jadi keghaiban yang bisa mereka lihat karena Allah, bukan mereka sendiri"

Orang Syiah tersebut melanjutkan jawabannya,"Ahlulbaitnya tahu, sebab mereka adalah Imam-imam penerus Rasulullah....itu kan keyakinan Syiah,...kalo kalian ga percaya ya sudah...makanya kalian lebih mengikuti orang2 yang banyak kesalahan ketimbangyang ma'shum"

(NB: Apa yang diucapkan/ dicelotehkan oleh facebooker syiah ini adalah akidah asli Syiah seperti yang terdapat dalam buku pedoman dakwah IJABI, 40 Masalah Syiah, Bab Imam Mengetahui Hal yang Ghaib, karya Emilia Renita Az,  istri Jalaluddin Rakhmat. Khawatir orang Syiah berkilah seperti yang disinggung oleh KH. Tengku Zulkarnain dalam opini Republika, 13/11/2012, "Di Indonesia dan negara lain, didapati para pengikut Syiah itu pandai berkelit. kalau ada hasil kajian dari kitab-kitab Syiah yang didapati menyimpang, mereka akan katakan bahwa kitab itu tidak muktabar. Jika kemudian dilakukan kajian lapangan dan didapati penyimpangan, mereka akan katakan bahwa itu adalah tindakan orang-orang jahil.")

                        

Pertanyaan kita, sejak kapan Ahlulbait nabi mendapat wahyu dari Allah? Mereka juga manusia seperti sahabat-sahabat Nabi yang lain. Ahlul bait nabi bukanlah kumpulan para nabi yang Allah bisa wahyukan kepada mereka firman-firmanNya. Dan tentunya kita lebih mengikuti ayat 59 surat Al-An'am di atas ketimbang apa yang diyakini oleh Syiah yang kita juga tidak tahu bersumber dari mana keyakinan itu.

Ahlulbait penyampai tunggal ajaran Rasul?

Begitu rapuhkah pendidikan Rasulullah sehingga hanya mampu mewariskan agama ini hanya kepada ahlulbaitnya? Apakah kita membatasi agama ini hanya kepada beberapa orang saja? tentu tidak. Karena jika begitu, Nabi Nuh alaihis salam lebih berhasil daripada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Padahal kita tahu Nabi Muhammad adalah sayyidul mursalin,penghulu para rasul. Seorang Nabi pejuang yang Allah siapkan bersamanya tentara-tentara tangguh yang rela bermandian keringat dan darah. Rela mengorbankan jiwa dan harta demi membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa aalihi wasallam.

Syiah Menodai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Oleh Syeikh Mamduh Farhan Al-Buhairi
Sebagai konsistensi kami menyingkap hakikat agama rafidhah (Syiah) yang berdiri di atas pondasi celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau yang suci, pada edisi ini kami ketengahkan salah satu riwayat nista yang seharusnya setiap penganut Syiah berpikir dan merenung tentang dirinya dan hakikat agamanya yang sesungguhnya tidak dia pahami. Sebagaimana Syi’ah telah menista fathimah radhiyallahu ‘anha seperti yang telah kami hadirkan pada edisi yang lalu, pada edisi ini kami singkapkan satu kejahatan Syiah terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kepada putri beliau radhiyallahu ‘anha sekaligus.
Dalam kitab-kitab Rafidhah disebutkan sebuah riwayat nista yang menjijikkan yang mereka akui berasal dari Imam mereka Al-Baqir dan Ash-Shadiq,
أن النبي صل الله عليه وسلم كان لا ينام حتى يقبل عرض وجنة فاطمة أو بين ثدييها
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pergi tidur sampai beliau mencium bagian tengah, dan pipi fathimah, atau antara kedua payudaranya.”
Dalam riwayat lain dalam kitab mereka juga,
حتى يضع وجهه بين ثدييها
“Sampai beliau meletakkan wajahnya di antara kedua payudaranya (Fathimah).”
(Manaqibu Ali bin Abi Thalib, Ibnu Syahraasyub (III/14), Biharul Anwar, Al-Majlisi (XXXIV/41, 55, 78), Majma’un Nuraini, al-Marnadi (30), Kasyful Ghimmah, al-irbily (III/95), al-Lum’at al-Baidha’, at-Tibrizy al-Anshariy (53))
Berikut riwayat teks tersebut secara lengkap,
عن حذيفة كان النبي صل الله عليه وأله وسلم لا ينام حتى يقبل عرض وجنة فاطمة أو بين ثدييها  وعن جعفر بن محمد علبه السلام لا ينام حتى يضع وجهه الكريم بين ثديي فاطمة
“Dari Hudzaifah, adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam tidak tidur hingga mencium bagian tengah, dan pipi Fathimah, atau mencium bagian di antara kedua payudaranya. Dan dari Ja’far bin Muhammad ‘alaihis salam dia berkata, Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, tidak tidur hingga meletakkan wajahnya yang mulia di antara kedua payudara Fathimah.”
Berikut scan kitab ulama Syiah tersebut:
Sesungguhnya Rafidhah telah membuat kita heran dengan tindak tanduk mereka. Kadang mereka mengangkat kedudukan Ahlulbait sedemikian rupa, meninggikan mereka melebihi manusia, tetapi kadang justru merendahkan kedudukan mereka hingga mengatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  menciumi putri beliau, Fathimah radhiyallahu anha, tiap hari; padahal beliau wanita baligh dan berakal. Kemudian lihatlah bagaimana mereka mengatakan tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan wajah beliau yang mulia?!
Entah akal bagaiamana yang dapat membenarkan perbuatan menjijikkan ini, menyelisihi fitrah, dilakukan oleh seorang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kepada umatnya akhlak-akhlak terpuji, adab-adab Islam yang di antaranya ialah perintah untuk memisahkan tempat tidur anak-anak kita antara anak laki-laki dan perempuan. Jika seperti ini mereka memperlakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak aneh mereka mengatakan yang aneh-aneh dan lancang tentang Ali dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma, padahal mereka sama sekali tidaklah demikian!!!
Berdasarkan riwayat nista ini, dan manhaj tarbiyah yang rusak lainnya, seorang rujukan Rafidhah, Ayatullah As-Sayyid Hasan al-Ibthahiy, ayah presiden Iran terdahulu, Khatami, berfatwa di websitenya pada fatwa nomor 456, menjawab pertanyaan seorang gadis sebagaimana berikut:
“Saya adalah seorang gadis, usia saya 15 tahun, ayah saya seorang laki-laki yang sangat agamis, saya mengenakan hijab yang sempurna di luar rumah, walhamdulillah. Akan tetapi, ayahku, sering menciumku di antara kedua dadaku, atau mencium bibirku, kadang-kadang memelukku dari belakang dan menciumi leherku.
Saya katakan kepadanya, ‘Bukankah ini perbuatan haram?’ Ayah berkata kepadaku, ‘Itu haram jika dilakukan dengan syahwat, sementara aku melakukannya kepadamu dengan kasih sayang seorang bapak, karena Rasulullah Muhammad mencium putrinya, Sayyidah Fathimah di lehernya, dan di antara kedua dadanya, mencium bibirnya, dan mengulum lidahnya; apakah Rasul berbuat keji kepada putrinya? Tidak. Jika Rasul melakukan yang demikian, maka itu adalah rukhshah bagi setiap bapak untuk melakukannya terhadap putrinya.’ Ayah saya juga berkata, ‘Saya tidak menyentuh aurat, yaitu qubul dan dubur, maka setiap yang bukan aurat boleh dilihat, disentuh atau dicium.’ Dia juga mengatakan bahwa beliau melakukannya, juga karena kekhawatirannya terhadap godaan para pemuda, maka dia kehilangan perasaan cinta dan kasih sayang dalam rumah.’ Apakah yang dilakukan oleh ayahku itu halal ataukah haram? Dan jika haram, bagaimanakah Rasul melakukannya terhadap putrinya, sayyidah Fathimah az-Zahra’. Terima kasih atas situs yang bermanfaat ini.
Berikut jawaban mufti tersebut:
‘Wa’alaikumussalam….   Sesungguhnya perbuatan ayahmu itu boleh dengan syarat sesuai dengan yang telah dia ucapkan. Dan itu ada dalam hatinya, dan janganlah berprasangka buruk kepadanya..’.”
Jika anda seorang Rafidhah dan meragukan apa yang saya sampaikan ini, tidak ada yang dapat dilakukan kecuali masuk ke situs tersebut dan membaca fatwa no. 465.
Demikianlah agama Rafidhah (Syi’ah), dan ini hanya salah satu penistaan mereka terhadap diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. setelah itu mereka berkoar-koar mencintai beliau, mencintai ahlulbait beliau dengan penuh kebohongan dan kepalsuan.
Catatan: Gambar scan kitab Syiah dan scan fatwa situs Ibtahi di atas adalah tambahan dari redaksi lppimakassar.com
Sumber: Majalah Islam Internasional Qiblati, Ramadhan 1433 H, Agustus 2012, Edisi 10 th. VII, hal 76-77.
lppimakassar.com



Sunni-Syiah Dalam Ukhuwah?

Tanggapan atas tulisan Dr. Muammar Bakri
Imam Malik pernah mengucapkan satu perkataan yang sangat masyhur, “Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan pemilik kubur ini” sembari menunjuk ke arah kuburan Nabi Muhammad saw.
Termasuk perkataan dan pendapat yang ingin mempersatukan Sunni-Syiah, bisa diterima dan bisa juga ditolak, menurut kami itu perlu melalui pertimbangan dan penelitian yang matang. Salah satu indikasinya adalah penyimpangan Syiah dari ajaran Islam yang murni sudah terlalu parah, buktinya, di antara 10 kriteria aliran sesat versi MUI, Syiah masuk ke dalam tujuh poin, padahal kalau satu poin saja sudah bisa divonis menyimpang bahkan sesat.(lihat  http://lppimakassar.blogspot.com/2012/02/10-kriteria-aliran-sesat-versi-mui.html)
Tidak hanya itu, Depag sejak dahulu telah mengeluarkan surat edaran nomorD/BA.01/4865/1983 pada 5 Desember 1983, dengan tegas menyatakan Semua itu (paham Syiah) tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Ditambah Fatwa MUI yang merekomendasikan untuk mewaspadai paham Syiah.
Kadang bahkan selalu fatwa ini dipahami bahwa ini bukan fatwa yang memvonis sesat paham Syiah. Namun bagi kami, ungkapan meningkatkan kewaspadaan jelas bermakna WARNING (peringatan). Ajaran Syiah dianggap berbahaya, maka umat islam diingatkan agar waspada oleh MUI. Kalau ajaran Syiah lurus dan sah sesuai syariat Islam, tidak mungkin umat akan diberi peringatan agar waspada oleh MUI.
Ahlus Sunnah di Iran
Tentang kehidupan Ahlus Sunnah di Iran yang dikatakan tenang dan bebas perlu diteliti kembali, karena data-data yang kami dapatkan menunjukkan kebalikannya, banyak masjid Sunni yang disita dan dihancurkan dan para ulama Ahlus Sunnah dipenjara dan dibunuh. Di antara masjid-masjid itu adalah Masjid Sunnah di Baah Waz, Masjid Turbat Jam, Masjid Syaikh Faidh, Masjid Nakur di kota Jabhar di daerah Balusytan dan sampai sekarang tidak ada Masjid Sunni yang diizinkan berdiri di Teheran.
Para ulama Ahlus Sunnah banyak  yang diracun, dipenjara, disiksa dan dibunuh,, di antaranya Syekh Maulawi Abdul Aziz Surbazy, Syekh Abdul Wahab Khofi, Syekh Qudratullah Ja’fari, Syekh Nashir Subhani, Dr. Mudho Faryan, Syekh Ahmad Mufti Zaadah, Syaikh Abdus Sattar Bazar Kazadah dan masih banyak lagi. (silakan dilihat di Kedholiman Syi’ah Terhadap Ahlus Sunnah di Iran, LPPI, Jakarta, 1999)
Adapun klaim tentang Hamas yang Sunni yang di-back up dengan senjata dan finansial oleh Iran perlu diteliti dengan data yang valid.
Perbedaan Prinsipil Sunni-Syiah
Kalau kita masuk ke rumah-rumah penduduk warga Iran atau bahkan langsung ke tempat percetakan Al Quran di Iran, kita akan dapati Al Quran yang sama dengan kita  dan tidak ada bedanya sama sekali. Namun betulkah mereka meyakini keaslian Al Quran yang ada sekarang?
Adanya kitab Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab (kata pemisah untuk menegaskan terjadinya perubahan pada Kitab Tuhannya para Tuhan) yang ditulis oleh ulama Syiah merupakan bukti bahwa mereka tidak meyakini keaslian Al Quran, di dalam kitab itu terdapat banyak contoh perubahan ayat-ayat Al Quran. (lihat daftarnya di buku “Mengapa Kita Menolak Syiah” terbitan LPPI Jakarta), bahkan dalam muqaddimah kitab itu penulisnya mencantumkan tidak kurang dari 30 nama ulama Syiah yang mendukung pendapatnya!, kemudian bagaimana menilai kondisi di Iran sekarang yang Al Qurannya sama dengan kita?, untuk menjawab ini mari kita simak penuturan ulama Syiah yang lain.
Al Kirmani mengatakan, “Terjadi perubahan dan pengurangan pada Al Quran!, Al Quran yang terjaga itu tidak ada melainkan ada pada Al Qa’im (Imam mahdi), dan Syiah itu terpaksa membaca Al Quran ini (Al Quran sekarang) sebagai bentuk taqiyyah (menyembunyikan yang diyakini) dari perintah keluarga Muhammad alaihis salam” (Al Kirmani, Ar Radd ‘ala Hasyim Asy-Syami, hal 13, cet Iran)
Tentang sahabat, bohong jika dikatakan bahwa orang Syiah tidak mencela sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw, Sebagai contoh, kuburan pembunuh Umar sangat diagung-agungkan, bangunan kuburannya seperti istana, bahkan ia dijuluki Pahlawan Pembela Agama, bukankah ini bukti konkret akan bencinya mereka terhadap Umar bin Khattab?
Al Majlisi berkata, “Perkataan alaihis salam ‘huma/ mereka berdua’ adalah Abu Bakar dan Umar, dan yang dimaksud dengan ‘Fulan’ adalah Umar, artinya Jin yang disebutkan di dalam ayat adalah Umar, dia dinamakan demikian karena dia merupakan setan, baik ia menyerupai setan karena ia anak zina atau karena makar dan tipu dayanya seperi setan, dan yang terakhir mengandung kebalikannya, yaitu yang dimaksud dengan ‘Fulan’ adalah Abu Bakar!!!” (Mir’aatul ‘Uquul, jilid 26, kitab Ar Raudhah, hal 488) bukankah ini bukti bahwa orang Syiah sangat membenci Abu Bakar dan Umar bin Khattab RA?
Ni’matullah Al Jaza’iri berkata, “Di Zaman Nabi Shallallahu alaihi wa aalihi, Utsman termasuk orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kemunafikan! ” (Al Anwar An Nu’maniyyah, jilid 1, hal 81)
Lebih dari itu, dalam acara-acara asyura mereka yang diadakan di Makassar juga di tempat lainnya mereka sangat mendiskreditkan sahabat (baca, Fajar, Selasa, 29 Des 2009)
Tentang Nikah Mut’ah MUI sudah memfatwakan keharamannya (silahkan lihat alasan dan dalil lengkapnya di Himpunan Fatwa MUI, tahun 2010, hal 350-355). Nabi Muhammad saw bersabda, “Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat” (HR. Muslim)
Olehnya, sangat baik jika ada ayatullah yang berpendapat bahwa dalam konteks Indonesia tidak ada alasan untuk melegalkan Nikah Mut’ah, namun bagaimana dengan fakta yang terjadi di lapangan, Beberapa mahasiswi di Makassar sudah melakukan Nikah Mut’ah, bahkan salah satu di antara mereka mengatakan bahwa yang meninggalkan Nikah Mut’ah bisa termasuk golongan kafir! (lihat Skripsi Mahasiswa Fakultas Psikologi UNM tahun 2011 “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” hal 59)
Penulis pernah mendapatkan tarif Nikah Mut’ah di internet (http://www.eramuslim.com/berita/dunia/tarif-nikah-mut-ah-di-iran.htm) apakah ini mengindikasikan bahwa Nikah Mut’ah mudah dilakukan di Iran atau tidak. Wallahu a’lam
Shalat di belakang orang Syiah menurut Dr. Muammar Bakry adalah sah, namun menurut Ulama besar Islam Al Qadhi Abu Yusuf (w. 182 H) itu tidak sah, beliau mengatakan, “Saya tidak Shalat di belakang seorang Jahmiyah, Rafidhi (Orang Syiah), dan orang Qadariyah” (Syarhu Ushuul I’tiqaadi Ahlus Sunnah, jilid 1, hal 178), Imam Bukhari juga memandang demikian (Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, hal 125)
Terakhir, Jika ingin dijabarkan lebih jauh kita akan menemukan perbedaan-perbedaan prinsipil antara Sunni dengan Syiah yang begitu banyak, perbedaan-perbedaan itu diungkap untuk menjaga aqidah umat Islam supaya tidak disusupi dengan aqidah yang rusak, karena jika aqidah rusak seluruh amalan tertolak. Hal ini dilakukan untuk memperjelas mana yang haq/ benar dan mana yang bathil/ salah, dan agar keduanya tak bercampur menjadi satu, bukan justru dikaburkan. Sunni dan Syiah akan bisa bersinergi untuk membangun peradaban Islam jika Syiah benar-benar berhenti menyakiti perasaan keagamaan kita. Apa  yang terjadi sekarang ini di Suriah menunjukkan bahwa jika mereka kuat tidak akan bertoleransi dengan kita.Wallahu a’lam
Oleh: Muhammad Istiqamah, Mahasiswa Semester 6 Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh, STIBA Makassar


Oleh: Prof. Dr. Muhammad Baharun

Sejauh pengamatan saya, isu Syiah dan Ahlussunnah wal Jama’ah (selanjutnya disebut Sunnah) di Indonesia selama ini, sebenarnya tidak dipengaruhi secara langsung kondisi objektif ketegangan Sunnah-Syiah di Timur Tengah. Kasus-kasus Indonesia hakikatnya dipicu oleh provokasi buku-buku dan ceramah. 
Seperti sudah difahami, bahwa karakter Syiah sangat identik dengan kritikan terhadap para pembesar sahabat (Amirul Mukminin) dan isteri Nabi saw (Ummul Mukminin) -- yang secara terbuka sering dicerca. Prinsip doktrin yang menganggap para sahabat Nabi yang agung sebagai perampas hak kekhilafahan Ali, kemudian berujung dan berlarut-larut meneruskan tradisi kritik, kecaman, bahkan hinaan terhadap para sahabat dan istri Nabi saw. 

Kondisi alami “Syiah” seperti ini perlu dipahami, agar solusi yang diberikan pun bukan bersifat basa-basi. Apalagi, dunia semakin terbuka. Informasi semakin bebas beredar.  Ketersinggungan pihak Sunni saat ajaran-ajaran dasar dan tokoh-tokohnya dicerca juga perlu dimaklumi. Bukan hanya melihat dari aspek kebebasan beragama dan berendapat saja.  Apalagi ini berkaitan dengahn masalah agama, yang bagi kebanyakan masyarakat Muslim sudah dianggap sebagai perkara hidup-mati.
Dalam pencermatan saya yang sudah puluhan tahun mengamati dan menulis masalah Syiah di Indonesia, hampir semua kasus konflik dipicu oleh peredaran buku dan ceramah dari kalangan Syiah. Sebutlah penerbitanbuku  “Dialog Sunnah-Syiah” karangan Abdul Husain Al-Musawy, yang merupakan terjemahan dari buku aslinya “Al-Muraja’at”.Buku ini dianggap sebagai buku lama yang populer, dan konon dianggap sebagai buku yang ampuh untuk ‘menaklukkan’ Ahlu Sunnah. Ada juga buku berjudul “Sudah Kutemukan Kebenaran” (terjemahan) dan “Saqifah: Awal Perselisihan Umat”, yang menyerang keyakinan kaum Sunni. 
Yang lebih menyinggung perasaan kaum Sunni adalah banyaknya buku-buku Syiah yang mendekonstruksi ajaran-ajaran dasar Sunni, tetapi menggunakan sumber-sumber kaum Sunni. Hanya saja, setelah diperiksa,  memang ditemukan daftar pustakanya, namun setelah dicermati lebih jauh, ternyata sumber-sumber itu diselewengkan isi dan maknanya. Inilah yang membuat kaum Sunni terus menjadi cemas dan masalah ini menjadi semacam “bara dalam sekam” yang suatu ketika bisa meledak seperti kasus di Sampang, pada akhir tahun 2011. 
Setelah kasus Sampang tersebut, semua pihak, baik Sunni maupun Syiah harus berusaha mencari solusi, agar kasus serupa itu tidak terjadi.  Apalagi, As’ad Said Ali (Wakil Ketua Umum PBNU), menulis banyaknya lulusan Qum Iran, yang pulang ke Indonesia, dan kemudian mendirikan Yayasan-yayasan Syiah, melakukan mobilisasi opini publik, penyebaran kader ke sejumlah partai politik dan upaya membuat lembaga Marja’iyati Taqlid seperti di Iran menjelang revolusi. (www.nu.or.id, judul “Gerakan Syiah di Indonesia”, 30/05/2011). 
Saat mengikuti kursus PPSA XVII  Lemhannas RI, ada seorang peserta diskusi yang mengajukan pertanyaan, apakah benar Syiah bisa menerima Pancasila dan NKRI seperti Ahlu Sunnah (Aswaja) yang diwakili dua ormas besar yakni NU dan Muhammadiyah? Itu mengingat konsep imamah yang absolut tidak memungkinkan penerimaan ideologi apa pun di dunia ini, kecuali menerima keniscayaan pemerintahan model imamah? 
Perlu dipahami, bahwa untuk menyelesaikan atau mendamaikan masalah Syiah di Indonesia tidaklah mudah. Itu terkait dengan adanya perbedaan mendasar dalam ajaran Sunni dan Syiah. Dalam disertasi saya di IAIN Sunan Ampel  Surabaya – sudah diterbitkan menjadi buku berjudul “Dari Imamah Sampai Mut’ah” (2004), saya mengingatkan perlunya Indonesia belajar dari kasus Sunni-Syiah yang terjadi di berbagai negeri Muslim lainnya. Pada 4 Juli 2003, di Pakistan, terjadi serangan bom yang menewaskan 47 orang dan mencederai 65 orang lainnya. Berikutnya pada 2 Maret 2004, terjadi serangan yang menewaskan 271 warga Syiah dan melukai 393 lainnya. Kasus-kasus seperti ini juga terjadi  di negara-negara Muslim lainnya. 
Di samping adanya perbedaan dalam berbagai ajaran dalam soal aqidah, satu masalah yang akan menjadi problema pelik di tengah masyarakat adalah disahkannya perkawinan mut’ah (nikah temporal). Dalam nikah jenis ini, seorang wanita bisa berpasangan mut’ah dengan berbagai laki-laki. Status anak-anak dalam perkawinan jenis ini pun bisa bermasalah. Biasanya pihak Syiah akan menyalahkan Umar bin Khatab karena telah berani melarang nikah mut’ah yang pernah dihalalkan oleh Nabi saw.
Padahal, faktanya tidak demikian. Umar bin Khatab justru melaksanakan ketetapan dari Nabi sendiri. Keputusan Umar itu pun juga disetujui oleh Ali bin Abi Thalib. Sebab, Ali adalah mustasyar (penasehat) pada pemerintahan Umar. Sampai-sampai Umar pernah menyatakan, “Tanpa keterlibatan Ali, gagallah Umar.”  Nikah jenis ini mutlak haram bagi kaum Sunni dan sebagian kelompok Syiah (Zaidiyah) yang mendekati Sunni. 
Begitulah, jika kita ingin membangun ukhuwah, maka perlu diperhatikan benar masalah-masalah mendasar dalam soal keagamaan ini. Hal-hal yang menimbulkan sensitivitas pihak lain, perlu dihindari. Sebaiknya, kaum Syiah sebagai minoritas di negeri Indonesia, bisa menahan diri untuk tidak bersifat agreasif dalam menyebarkan ajaran mereka, disertai dengan menyerang dan melecehkan ajaran-ajaran pokok kaum Sunni. Faktanya, kita tidak hanya bisa mendasarkan pada aspek kebebasan semata. Mudah-mudahan umat Islam Indonesia mampu mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi, baik masalah eksternal maupun internal mereka. Amin. (***).

Sumber: 
Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah yang hanya menerima amal ibadah hamba yang aqidah dan ibadahnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, Shalawat serta salam untuk sang Nabi pejuang aqidah islamiyah, Nabi yang kita yakini ajaran kebenarannya, Nabi yang kita harapkan syafaatnya kelak di hari kiamat yang tentunya didapatkan dengan izin Allah.

Sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan dunia ini kebenaran dan kebathilan akan terus berperang hingga pada akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh pengusung dan pejuang kebenaran. Keduanya sudah ada sejak diciptakannya manusia dan jin yaitu Adam alaihis salam sebagai pengusung kebenaran dan Iblis sebagai pengusung kebathilan, peperangan al haq dan al bathil telah melewati masa yang panjang sepanjang umur dunia ini dengan dua cara berperang, perang hakiki dengan terjun di medang pertempuran fisik dan perang majazi yaitu perang pemikiran (Ghazwul Fikri).

Paragraf di atas ini tidaklah menjelaskan bahwa kita cinta peperangan dan perselisihan. Sungguh tidak, namun itulah sunnatullah kehidupan di dunia ini dan tidak akan ada yang dapat merubah ketetapan Allah itu. Yaitu adanya penantang-penantang kebenaran, penantang-penantang syariat agama Allah, Dan ini, bukan berarti Allah ridha akan perpecahan dan perselisihan, sama sekali tidak, ketetapan Allah yang telah menakdirkan umat Islam ini berpecah-pecah hanyalah untuk menguji kita, siapa yang bisa bertahan di tengah banyak tawaran akidah rusak itu dan ketika ia sudah mendapatkan hidayah dari Allah dengan akidah yang benar, Allah akan mengujinya apakah ia termasuk yang memperjuangkannya atau termasuk yang mengaburkannya.

Justru karena cintanya kita akan kedamaian dan persatuan untuk kebangkitan umat Islam di masa yang akan datang, kita melakukan ini, memperjuangkan kemurnian akidah yang dulu dibawa dan menjadi misi Rasulullah saw, karena kita semua yakin bahwa dua akidah yang berbeda tidak akan pernah bisa bersatu dalam satu payung agama! Apalagi tiga, empat, lima akidah yang berbeda.

Bersatu berpadu dan berukhuwah tidak mungkin dalam ranah akidah yang berbeda.

Justru akidah sempalan itulah yang mengacaukan indahnya persatuan umat Islam yang dulu di bawah satu akidah islamiyah yang benar, akidah palsu itulah yang meruntuhkan kejayaan umat Islam dan menghilangkan wibawanya di mata umat-umat yang lain.

Hidup tak akan tentram jika satu konsep keberagamaan dalam menjalani kehidupan ini tidak disepakati oleh semua pihak. Jika masing-masing sekte mempunyai cara pandang sendiri mengenai keyakinannya tentang Allah, tentang Rasulullah saw, tentang sahabat-sahabat Rasulullah saw, tentang al Quran, dan tentang semua rukun Iman dan rukun Islam bagaimana kita akan menjalani hidup dengan tentram dan damai kemudian bersatu padu dalam satu barisan memperjuangkan agama Allah?

Rasulullah saw tidak pernah menyampaikan solusi gila di tengah perbedaan tajam umat ini seperti yang ditawarkan oleh orang-orang yang mengaku cendikiawan muslim yang menginginkan penyatuan semua sekte-sekte itu tanpa melihat bagaimana akidah mereka.

Rasulullah saw pernah menyampaikan solusi yang sangat baik, solusi yang datang dari wahyu ilahi yang mengetahui kondisi umat saat ini, yang mengetahui kemaslahatan umat Islam untuk kejayaannya di masa yang akan datang.

Suatu ketika Rasulullah saw mengabarkan suatu kondisi yang akan menimpa umatnya di masa yang akan datang, beliau mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan, sesungguhnya umat islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan hanya satu golongan di dalam surga, yaitu al jama’ah” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al Hakim dan Ad Darimi). Dalam riwayat lain disebutkan, “Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Ketika menyebutkan takdir dan ketetapan Allah yang beliau dapatkan informasinya dari langit yang ketujuh tidaklah dalam rangka meridhainya dan menyetujuinya. Jikalau begitu niscaya Rasulullah saw tidak memvonis 72 golongan dengan Neraka!, cobalah para cendikiawan berfikir bijak untuk kemaslahatan umat sebagaimana Rasulullah saw bersikap arif dalam masalah perpecahan ini.
Seruan dari para “cendikiawan” untuk menyatukan seluruh umat yang berkiblat ke ka’bah dalam shalatnya tanpa melihat separah dan serusak apa akidahnya adalah sama saja dengan membiarkan mereka dalam kesesatan dalam waktu yang lama, berjuanglah sebagaimana Rasulullah saw berjuang menegakkan agama ini, membersihkan manusia dari segala bentuk penyakit pemikiran dan pemahaman yang menyimpang.
Berukhuwah dengan Syiah
Syiah sebagai salah satu sekte dalam Islam tidaklah mungkin hidup berdampingan dan damai bertetangga dengan kaum Muslimin. Kaum Muslimin seluruh dunia menghormati sahabat-sahabat Nabi saw sebagai panutan mereka dalam beragama, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah saw lewat hadis di atas untuk menghindari perpecahan, sedangkan Syiah menjadikan sahabat-sahabat Nabi sebagai tujuan pencaci-makian, pelaknatan dan sumpah serapah.
Jika pun seandainya terjadi,  maka ukhuwah yang akan dijalin adalah ukhuwah palsu dan persaudaraan semu dengan topeng taqiyah (sikap munafik). Tidak pernah tercatat dalam sejarah perjalanan panjang agama Islam adanya suatu komunitas kehidupan yang damai dan tentram jika berdampingan dan hidup di dalamnya orang-orang Syiah.
Nikmatullah Al Jazairi berkata, “Sesungguhnya kami tidak sama dengan mereka dalam malasah ketuhanan, tidak pula nabi, begitu pula Imam, itu karena mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka yang Nabinya Muhammad, khalifah setelahnya adalah Abu Bakar!!!”
Ulama Syiah sendiri yang mengakui bahwa Tuhan dan Nabi kita tidak sama, itu mereka katakan karena Khalifah setelah Nabi adalah Abu Bakar.
Orang-orang Syiah sangat benci dengan sahabat-sahabat Nabi, semakin besar jasanya terhadap Nabi maka akan semakin dibenci, seperti Aisyah, istri Nabi sendiri, Abu Bakar, Umar, Utsman dan yang lainnya.
Sahabat di mata kaum Muslimin adalah generasi gemilang, generasi pertama yang mengambil tongkat estafet melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad saw. Generasi yang telah dididik dan digodok oleh Rasulullah saw.
Menyatakan keadilan sahabat termasuk di antara akidah umat Islam, karena mencela sahabat merupakan perbutan dosa besar, di tangan merekalah Al Quran dikumpulkan, lewat kegigihan merekalah sabda-sabda dari sang Nabi tetap terjaga.
Merendahkan dan mencaci-maki mereka adalah meragukan Al Quran yang telah mereka kumpulkan dan hadis-hadis yang mereka sebarkan, Jika mereka para sahabat itu pantas dicaci dan dihina, maka bagaimana kualitas keaslian Al Quran dan hadis yang mereka bawa? Juga,  menilai sahabat dengan penilain negatif adalah mencela Allah swt yang telah memuji dan menyanjung mereka dengan pujian yang tinggi dan menjamin mereka dengan surga.
Mulut para ulama Syiah tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata yang keji untuk mencela sahabat-sahabat Nabi saw, Dalam kitab mereka “Miftah al Jinan” mirip “Dalail al Khairat”milik orang Sufi, tedapat wirid yang mencela keduanya, bunyinya, “Ya Allah berilah salawat kepada Rasulullah dan ahlu baitnya dan laknatlah dua berhala Quraisy, dua setan mereka, dua thagut mereka dan juga kedua anak mereka berdua” dan yang mereka maksud adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Aisyah, dan hafshah radiallahu ‘anhum.
Wirid ini sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Hasan al Musawi, “Khumaini berdzikir dengannya tiap hari selesai shalat shubuh”

Ni’matullah Al Jaza’iri berkomentar tentang Amirul Mukminin, Umar, “Sesungguhnya Umar ditimpa suatu penyakit pada duburnya yang tidak dapat sembuh kecuali dengan mani laki-laki”
Ali bin Yunus al Bayadhi berkomentar tentang Utsman ra, “Sesungguhnya Utsman termasuk orang yang dipermainkan, dia termasuk khuntsa (seseorang yang mempunyai dua kelamin)”

Ibnu Rajab Al Bursi berkomentar tentang Ummul Mukminin, Aisyah, Istri Sayyidul Mursalin, “Sesungguhnya Aisyah mengunmpulkan empat puluh dinar pengkhianatan”

Kebencian orang Syiah sampai pada tahap memberi nama anjing-anjing mereka dengan nama “Abu Bakar” dan “Umar” ra, sekarang mereka membunuh di Irak sesuai dengan hawa nafsu mereka, setiap orang yang namanya Abu Bakar atau Umar atau Utsman maka akhir perjalanannya adalah pembunuhan.

Mereka sangat memuliakan Abu Lu’luah al Majusi, si pembunuh Umar, mereka juga menggelarinya dengan Abu Syuja’ (Sang Pemberani), mereka marayakan hari syahidnya (kematian) Umar, Al Qummi berkata, “Sesungguhnya hari dibunuhnya Umar bin Khattab adalah hari raya yang terbesar, hari berbangga, hari penghormatan (kepada pembunuh Umar-pent), hari penyucian yang besar dan hari keberkahan”

Dapatkah kita menerima, orang-orang yang menjadi panutan dan teladan kita itu dicaci dan dimaki oleh orang yang hidup berdampingan dengan kita sedangkan hati kita tidak panas mendengarnya? Kedamaian dan ketentraman yang bagaimanakah yang diimpikan oleh para “cendikiawan” itu?

K.H. Hasyim Asy’ari Tentang Syiah

(Fatwa dan Himbauan)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
K.H. Hasyim Asy’ari
Jauh-jauh hari sebelum Khomeini mencuci otak pemuda-pemuda kita di Iran dan melalui mereka mengexport revolusi Syi’ahnya ke Indonesia, KH Hasyim Asy’ari (pendiri N.U.) ketika menbuat Qanun Asasi Li Jam’iyah Nahdlatul Ulama, beliau sudah mewanti-wanti agar kaum …Nahdliyyin berpegang teguh dengan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali) serta waspada dan tidak mengikuti Madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah. Hal mana karena keduanya adalah Ahli Bid’ah.
Dalam halaman 7 (tujuh) Qanun Asasi tersebut beliau menyampaikan Hadits Rosulillah SAW, yang berbunyi:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (إِذَا ظَهَرَتِ الْفِتَنُ أو الْبِدَعُ , وَسُبَّ أَصْحَابِي , فَعَلَى الْعَالِمِ أَنْ يُظْهِرَ عِلْمَهُ , فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ , وَالْمَلاَئِكَةِ , وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا ، وَلاَ عَدْلاً.)  (أخرجه الخطيب فى الجامع بين أداب الراوى والسّامع )
“Apabila timbul fitnah atau Bid’ah, dimana Sahabat Sahabatku dicaci maki, maka setiap orang yang berilmu diperintahkan untuk menyampaikan ilmunya (menyampaikan apa yang ia ketahui mengenai kesesatan Syi’ah). Dan barang siapa tidak melaksanakan perintah tersebut, maka dia akan mendapat laknat dari Alloh dan dari Malaikat serta dari seluruh manusia. Semua amal kebajikannya, baik yang berupa amalan wajib maupun amalan sunnah tidak akan diterima oleh Alloh”.
Kemudian di halaman 9 (sembilan) Qanun Asasai tersebut beliau juga berfatwa, bahwa Madzhab yang paling benar dan cocok untuk di ikuti di akhir zaman ini adalah empat Madzhab, yakni Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali (keempatnya Ahlussunnah Wal Jamaah).
Selanjutnya beliau berkata; “Selain empat Madzhab tersebut juga ada lagi Madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah, tapi keduanya adalah Ahli Bid’ah, tidak boleh mengikuti atau berpegangan dengan kata kata mereka”.
Adapun mengenai Assawadul A’dhom (golongan terbanyak) sebagai tanda golongan yang selamat dan akan masuk Surga, maka di halaman 9 (sembilan) Qanun Asasi tersebut, KH Hasyim Asy’ari telah mengutib sabda Rosululloh SAW. sbb:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَم.
“Ikutlah kalian kepada Assawadul A’dhom (Golongan terbanyak)”
Menanggapi Hadits Assawadul A’dhom tersebut, KH Hasyim Asy’ari berfatwa; “ Karena fakta membuktikan bahwa empat Madzhab, yakni Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali (kesemuanya Ahlussunnah Wal Jamaah) tersebut merupakan Madzhab yang paling banyak pengikutnya, maka barang siapa mengikuti Madzhab empat tersebut berarti mengikuti Assawadul A’dhom dan siapa saja keluar dari empat Madzhab tersebut, berarti telah keluar dari Assawadul A’dhom ”.
Dengan adanya fatwa fatwa tersebut diatas, jelas bagi kita bahwa KH. Hasyim Asy’ari sudah berusaha agar kaum Nahdiyyin berpegang teguh dengan empat Madzhab Ahlussunnah serta waspada dan tidak sampai terpengaruh dengan propaganda Syi’ah.
Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, bagaimana dengan oknum pengurus N.U. yang sampai sekarang menjadi jurkamnya Syi’ah dan terus berusaha mensyiahkan orang-orang N.U. ?.
Demikian telah kami sampaikan kepada pembaca terutama kepada kaum Nahdliyyin, fatwa fatwa serta himbauan dari Hadrat Asy-Syaih KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama, ayah dari KH. Yusuf Hasyim.
Semoga fatwa dan himbauan diatas bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita semua.
http://satuislam.wordpress.com/tentang-kami/