Thursday, May 7, 2015

Apakah Point ke ( 2 ) Risalah Amman "Iman Kepada para Nabi" Sesuai Dengan Keyakinan Syi'ah Rafidhi ?

3.Iman Kepada para Nabi
Meski Syiah meyakini eksistensi nubuwwah (kenabian)—bahkan menurut mereka, siapa saja yang memungkiri kenabian dapat distempel sebagai kafir—namun demikian, mereka tetap menjadikan imamah (kepemimpinan 12 imam) sebagai sentral dari hukum kekafiran itu. Berkenaan dengan hal ini, salah seorang ulama Syiah kenamaan, at-Thusi, menegaskan sebagai berikut:
وَدَفْعُ الإِمَامَةِ كُفْرٌ كَمَا أَنَّ دَفْعَ النُّبُوَّةِ كُفْرٌ لِأَنَّ الْجَهْلَ بِهِمَا عَلَى حَدٍّ وَاحِدٍ.
“Menolak imamah hukumnya kufur, seperti halnya menolak kenabian. Karena tidak mengetahui keduanya berada dalam satu batas yang sama.”[1]
Selain itu, Syiah juga beriman kepada para Rasul Ulul ‘Azmi. Menurut mereka, Ulul ‘Azmi ada lima, yaitu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad ‘alaihim ash-shalatu wa as-salam, persis seperti yang diyakini Umat Islam. Diriwayatkan oleh al-Kulaini dalam salah satu haditsnya sebagai berikut:
عَنْ سَمَاعَةَ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ قُلْتُ لأبِي عَبْدِ الله (عَلَيهِ السَّلام) قَوْلَ الله عَزَّ وَجَلَّ فَاصْبِرْ كَما صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فَقَالَ نُوحٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمُحَمَّدٌ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِه)
Dari Sama’ah bin Mahran, ia berkata, “Aku bertanya pada Abu Abdillah As. (Ja’far as-Shadiq) mengenai firman Allah Swt. (Yang artinya) ‘Bersabarlah kamu seperti sabarnya para utusan Ulul ‘Azmi.’ Maka Abu Abdillah menjawab, ‘Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw’.”[2]
Meski demikian, tentu tak bisa dipungkiri, bahwa dalam kitab-kitab rujukan mereka banyak dijumpai riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa para ImamAhlul Bait lebih utama daripada para nabi, bahkan para rasul Ulul ‘Azmi. Dalam hal ini, tanpa menggunakan taqiyyah (secara terang-terangan), al-Majlisi mengatakan bahwa keutamaan para Imam yang masih berada di atas para nabi adalah salah satu keyakinan yang harus dipegang oleh setiap penganut Syiah:
إعلم أنّ ما ذكره رحمه الله من فضل نبيّنا و أئمّتنا صلوات الله عليهم على جميع المخلوقات و كون أئمّتنا أفضل من سائر الأنبياء هو الذي لا يرتاب فيه من تّبع أخبارهم عليهم السلام على وجه الإذعان و اليقين, و الأخبار في ذلك أكثر من أن تحصى … و عليه عمدة الإمامية ولا يأبى ذلك إلا جاهل بالأخبار.
“Ketahuilah, bahwa apa yang disampaikan oleh beliau (Ibnu Babawaih) – semoga rahmat Allah untuknya – tentang keutamaan Nabi dan para Imam kita – semoga shalawat Allah untuk mereka semua – atas semua makhluq yang lain, dan bahwa para A’immah lebih utama daripada para nabi, adalah (keyakinan) yang tak perlu diragukan lagi oleh orang yang sering membaca hadits para Imam, atas dasar ketundukan dan keyakinan. Hadits-hadits yang menjelaskan hal ini sangat melimpah . . . dan itulah yang dipegang oleh Syiah Imamiyah. Tak akan ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak mengerti tentang hadits.”[3]
Dalam kitab yang sama, al-Majlisi menulis bab khusus mengenai hal ini. Pada bab spesifik itu, tulisan-tulisan al-Majlisi memberikan kesan kuat, bahwa Syiah tidak hanya gemar menghina umat Islam-Ahlussunnah, akan tetapi juga para utusan Allah Swt. yang maksum. Dengan penuh kemantapan, al-Majlisi menyatakan bahwa para Rasul Ulul ‘Azmi tersebut bisa sampai pada derajat yang tinggi disebabkan mereka mencintai para Imam Ahlul Bait. Artinya, andai saja mereka tidak mempercayai wilayah (kepemimpinan) Imam Dua Belas, tentu mereka tidak akan mendapat gelar Ulul ‘Azmi, serta tidak akan mendapatkan derajat dan keutamaan yang tinggi itu. Al-Majlisi menulis:
باب تفضيلهم عليهم السلام على الأنبياء و على جميع الخلق و أخذ ميثاقهم عنهم و عن الملائكة و عن سائر الخلق, وأنّ أولى العزم إنّما صاروا أولى العزم بحبّهم صلوات الله عليهم.
“Bab mengenai keutamaan para Imam di atas para nabi dan semua makhluq yang lain, serta pengambilan sumpah setia dari para nabi, malaikat dan makhluk yang lain untuk menjadi para Imam. Dan sesungguhnya Ulul ‘Azmi menjadi Ulul ‘Azmi sebab mencintai para Imam.”[4]
Dalam Bihar al-Anwar pada bab tersebut, al-Majlisi mengutip sedikitnya 88 (delapan puluh delapan) hadits yang diafiliasikan kepada para Imam Syiah Itsna Asyariyah (12 imam). Dalam hal ini, al-Majlisi tentu tidak sendirian. Para ulam Syiah yang lain juga menyuarakan pendapat yang sama. Ibnu Babawaih, yang mendapat predikat ash-Shaduq di kalangan Syiah, dalam kitabnya al-I’tiqadatmenyatakan sebagai berikut:
يجب أن يعتقد أنّ الله عزّ و جلّ لم يخلق خلقا أفضل من محمد صلّى الله عليه و السلام و الأئمّة و أنّهم أحبّ الخلق الى الله عزّ و جلّ و أكرمهم و أوّلهم إقرارا به لما أخذ الله ميثاق النبيّين …
“Wajib diyakini bahwa Allah Swt. tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia daripada Muhammad saw. dan para Imam, serta meyakini bahwa mereka adalah makhluk yang paling dicintai Allah Swt., paling mulia dan yang paling dahulu mengakui ketuhanan Allah, ketika Allah Swt. mengambil sumpah setia dari para nabi...”[5]
Keekstriman Syiah tidak hanya sampai disini. Lebih jauh, mereka mengatakan bahwa Allah Swt. tidak menciptakan Nabi Adam As. Melainkan karena wilayah (kepemimpinan) para Imam. Begitu pula halnya dengan nabi-nabi yang lain. Mereka tidak diciptakan dan diutus melainkan karena wilayah para Imam Syiah. Mengenai hal ini, Muhammad bin an-Nu’man al-Mufid menulis sebagai berikut:
ما استوجب آدم أن يخلقه الله بيده و ينفخ فيه من روحه إلّا بولاية عليّ عليه السلام , و ما كلّم الله موسى تكليما إلّا إلّا بولاية عليّ عليه السلام, و لا أقام الله عيسى بن مريم آية للعالمين إلّا بالخضوع لعليّ عليه السلام …
“Tidaklah Adam harus diciptakan oleh Allah dengan kekuasaan-Nya dan ditiupkan ruh padanya, melainkan karena wilayah Imam Ali AS. Tidaklah Allah berbicara dengan Musa melainkan sebab wilayah Imam Ali, dan Allah tidaklah menjadikan Isa putra Maryam sebagai tanda bagi alam semesta melainkan sebab tunduk kepada Imam Ali AS.[6]

Berkenaan dengan topik yang sama, Dr. Muhammad Kamil al-Hasyimi dalam kitabnya Aqaid asy-Syi’ah fi Al-Mizan mengutip Ibnu Babawaih al-Qummi sebagai berikut:
إنّ الكلمات الّتي تلقّاها آدم من ربّه , فتاب عليه, هي سؤاله بحقّ محمد و عليّ و فاطمة والحسن والحسين.
“Sesungguhnya kalimat yang diterima oleh Adam As. dari Tuhannya hingga dia diterima taubatnya adalah permintaan (ampunnya) dengan kedudukannya Nabi Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.”[7]
Lebih ekstrem lagi, adalah pendapat mereka yang menyatakan bahwa Nabi Ayyub AS. ditimpa berbagai musibah disebabkan beliau menolak wilayahnya Imam Ali As. Begitu pula dengan Nabi Yunus As., menurut Syiah, beliau dibuang dalam perut ikan sebab enggan mengakui imamah Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘Anhu. Bahkan, Nabi Adam As. dan Nabi Yusuf As. diusir dari rumahnya juga karena menolak imamah Imam Ali AS. Pernyataan ini antara lain termaktub dalam kitab tafsir mereka sebagai berikut:
إنّ حوت يونس قال: يا سيّدي : إنّ الله تعالى لم يبعث نبيّا من آدم الى أن صار جدّك محمد الّا و قد عرّض عليه ولايتكم اهل البيت, فمن قبلها من الأنبياء سلم و تخلّص, و من توقّف عنها و تتعتع في حملها لقي ما لقي آدم من المصيبة, و ما لقي نوح من الغرق, و ما لقي ابراهيم من النار, و ما لقي يوسف من الجبّ, و ما لقي أيّوب من البلاء, و ما لقي داود من الخطيئة, إلى أن بعث الله يونس فأوحى الله إليه أن يايونس, تولّ أمير المؤمنين.
“Sesungguhnya ikan Hut Nabi Yunus berkata, “Wahai tuan, sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutus seorang nabi mulai Adam hingga Muhammad kecuali telah menawarkan wilayah kalian wahai Ahlul Bait. Siapa pun dari para nabi yang menerimanya, dia akan selamat dan terbebas, dan siapa pun yang tidak menjawab atau ragu-ragu, dia akan merasakan musibah yang pernah dirasakan Adam, akan tenggelam seperti yang terjadi pada Ibrahim, dibuang ke sumur seperti yang terjadi pada Yusuf, ditimpa musibah sebagaimana yang menimpa Ayyub, berbuat salah seperti yang dilakukan Dawud. Hingga Allah Swt. mengutus Yunus As., maka dia mewahyukan kepadanya, ‘Hai Yunus, jadikan Ali Amirul Mukminin sebagai walimu’.”[8]
Selepas pemaparan data-data di atas, maka disini perlu dimaklumi, bahwa stigma-stigma negatif seperti itu memang sudah menjadi karakter ajaran Syiah, yang membuatnya berbeda dari sekte Islam yang lain, utamanya Ahlussunnah. Karenanya, pemujaan terhadap para Imam yang melampaui batas hingga berubah menjadi pengkultusan, tidak hanya memenuhi literatur-literatur dan menjadi cara pandang Syiah klasik, namun juga masih berlanjut pada Syiah kontemporer.
Namun yang perlu menjadi catatan adalah, trik yang digunakan Syiah kontemporer jauh berbeda dengan Syiah klasik. Jika Syiah klasik berani bicara apa adanya, misalnya, maka Syiah kontemporer tidak. Jika Syiah klasik monoton memakai dalil-dalil mereka sendiri, Syiah kontemporer justru menggunakan dalil-dalil umat Islam dengan segenap pemelintirannya. Akan tetapi kendati demikian, Syiah kontemporer pun tetap masih banyak yang mengikuti gerak langkah Syiah klasik.[9] Khomaini, pemuka Syiah konservatif penggerak revolusi Iran, menjadi salah satu contoh dari model ini. Dalam salah satu karyanya, al-Hukumah al-Islamiyah, Khomaini mengatakan:
إنّ للإمام مقاما محمودا و درجة سامية و خلافة تكوينيّة تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرّات هذا الكون, و إنّ من ضروريّات مذهبنا أنّ لأئمتنا مقاما لم يبلغه ملك مقرب ولانبي مرسل …
“Sesungguhnya Imam mempunyai kedudukan yang terpuji, derajat yang mulia dan kepemimpinan mendunia, dimana seisi alam ini tunduk dibawah wilayah dan kekuasaannya. Dan termasuk hal yang aksiomatis adalah bahwa para Imam kita mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqarrabin ataupun nabi yang diutus. . .[10]
Bersamaan dengan streotype hitam yang dipajang Khomaini dalam bukunya tersebut, muncul pula fatwa-fatwa para ulama dunia Islam yang mengkafirkannya. Hujan fatwa tersebut dapat dimaklumi, sebab aksi Khomaini memang terlalu jauh melampaui batas. Tak tangggung-tanggung, Khomaini malah berani bersuara lantang di depan publik, bahwa para nabi telah gagal dalam menegakkan keadilan di muka bumi, termasuk Nabi Muhammad saw. pidato itu dia sampaikan pada tanggal 15 Sya’ban 1400 H. dan dipancar-luaskan oleh Radio Nasional Iran. Berikut petikan dari pidato tersebut:
لقد جاء الأنبياء جميعا من أجل إرساء قواعد العدالة في العالم, لكنهم لم ينجحوا, حتى النبي محمد خاتم الأنبياء الذي جاء لإصلاح البشرية وتنفيذ العدالة, وتربية البشر لم ينجح في ذلك, وأن الذي سينجح في ذلك و يرسي قواعد العدالة في جميع أنحاء العالم في جميع مراتب إنسانية الإنسان وتقويم الإنحرافات هذا المهدي المنتظر …
“Benar-benar telah datang para nabi untuk menegakkan dasar-dasar keadilan di alam ini, namun mereka semua telah gagal, hingga Nabi Muhammad saw. yang menjadi penutup para nabi, yang diutus untuk memperbaiki kemanusiaan, menegakkan keadilan dan mendidik manusia, juga masih gagal. Yang akan berhasil menegakkan keadilan di seluruh dunia dalam setiap sektor kehidupan manusia dan memperbaiki segala kerusakan adalah al-Mahdi al-Muntadzar…”[11]
Namun memang harus diakui jika tidak semua versi Syiah mengklaim bahwa para imam lebih utama daripada para nabi. Syiah model ini adalah bagian dari aneka ragam karakter Syiah yang berbeda-beda. Secara garis besar, dalam konteks ini Syiah dapat dikelompokkan dalam tiga tipe:
  • Berpendapat bahwa para nabi lebih utama daripada para Imam, hanya ada sebagian dari mereka yang berpendapat jika para Imam lebih utama daripada para Malaikat.
  • Mempercayai bahwa para Imam lebih utama daripada para nabi dan Malaikat. Ini adalah pandangan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (12 imam.
  • Meyakini bahwa para nabi dan Malaikat tetap lebih utama daripada para Imam Ahlul Bait. Mereka adalah Syi’i Mu’taziliy (Syiah dengan mainstreamMu’tazilah).
Terlepas dari klasifikasi ini, dari uraian di atas kita dapat menilai, bahwa literatur-literatur yang menyebutkan keutamaan para Imam Ahlul Bait berada di atas para nabi adalah kitab-kitab yang menjadi acuan utama dan terpercaya di kalangan Syiah. Kitab-kitab itulah yang senantiasa dijadikan rujukan, terus dibaca dan diajarkan dari generasi- ke generasi.[12]
By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)
[1]Periksa, Muhammad bin Hasan ath-Thusi, Talkhish asy-Syafi, juz 4 hlm. 131, al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 8 hlm. 368 dan al-Qifari, Ushul Madzhab Syi’ah, juz 2 hlm. 227.
[2]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 17.
[3]Lihat, Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Juz 26, hlm. 297-298.
[4]Ibid, hlm. 267.
[5]Lihat, Ibnu Babawih, al-I’tiqadat, hlm. 106-107.
[6]Lihat, Muhammad bin Muhammad an-Nu’man al-Mufid, al-Ikhtishash, hlm. 250, al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 26 hlm. 294 dan al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 784.
[7]Lihat, Dr. Muhammad Kamil al-Hasyimi, ‘Aqa’id asy-Syi’ah fi Al-Mizan,hlm. 108, Ibnu Babawaih al-Qummi, Al-Khishal, hlm. 270.
[8]Lihat, Al-Huwaizi, Tafsir al-Tsaqalain, juz 3 hlm. 435 dan Dr. Muhammad Kamil al-Hasyimi, ‘Aqa’id asy-Syi’ah fi Al-Mizan, hlm. 108.
[9]Lebih lanjut, penjelasan tentang ini akan diuraikan lebih detail dalam pembahasan Syiah Kontemporer.
[10]Lihat, Khumaini, al-Hukumah al-Islamiyah, hlm. 52.
[11]Lihat, Wajih al-Madini, Limaadzaa Kaffara ‘Ulamaa al-Muslimiin al-Khomaini?,hlm. 14.
[12]Lihat, Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2, hlm. 743-753

Apakah Point ke ( 2 ) Risalah Amman "Iman Kepada Qadha’ dan Qadar" Sesuai Dengan Keyakinan Syi'ah Rafidhi ?



Syiah dan Rukun Iman: Qadha’ dan Qadar
Keyakinan Syiah tentang 5 rukun iman telah selesai dibahas pada beberapa dua edisi sebelumnya. Pada edisi ini hendak ditampilkan keyakinan Syiah tentang rukun iman terakhir (Qadha’ dan Qadar). Tentang Qadha’ dan Qadar, Syiah—seperti pada rukun Iman yang lain—juga punya pandangan yang jauh berbeda dengan umat Islam.
Jika kita kembali menelaah literatur-literatur salaf yang mengupas tentang aliran-aliran teologi dalam Islam berikut pemikirannya, maka akan kita dapatkan bahwa jajaran ulama Syiah periode awal sepakat menetapkan eksistensi Qadar. Pendapat bahwa perbuatan makhluk tidak terkait dengan takdir Allah SWT. Muncul pada saat pemikiran teologis Syiah mulai bergesekan dengan pemikiran Mu’tazilah, tepatnya pada abad keempat hijriah.
Agaknya, periode itulah yang dijadikan patokan oleh para ahli untuk menentukan awal pengingkaran Syiah terhadap Qadar.[1]  Buku-buku teologi Islam mencatat, bahwa maraknya pengingkaran Qadar Allah SWT. Di kalangan Syiah ini diperkirakan terjadi sejak munculnya Muhammad bin an-Nu’man al-Mufid bersama para pengikutnya.
Pandangan Syiah terhadap Qadha’ dan Qadar ini antara lain diuraikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Dalam Maqalat al-Islamiyin,[2] beliau menegaskan bahwa dalam menyikapi Af’al al-Ibad (pekerjaan-pekerjaan hamba), pandangan Syiah Rafidhah terbagi menjadi tiga kategori:
Meyakini bahwa semua perbuatan makhluk diciptakan oleh Allah SWT.
Tidak mempercayai bahwa perbuatan makhluk adalah ciptaan Allah SWT.
Bersikap netral. Kelompok ini mengatakan tidak ada pemaksaan pada setiap perbuatan makhluk—pendapat ini sama dengan pendapat sekte Jahmiyah. Namun seorang hamba juga tidak boleh menyerah pada nasib—yang ini lebih dekat pada pendapat sekte Mu’tazilah (Qadariyah).
Tentu saja klasifikasi terhadap kerangka pemikiran Syiah yang dibuat oleh al-Asy’ari ini berlandasan pada data-data otentik dari Syi’ah, berikut data empiris berdasarkan penelitian dan pengalaman beliau. Hal itu terbukti, bahwa ketika menjelaskan akidahnya mengenai qadar, Ibnu Babawaih al-Qummi agaknya menunjuk pada salah satu klasifikasi yang dibuat al-Asy’ari tadi. Dengan tanpa ketegasan teoritis, Ibnu Babawaih dalam Aqaid ash-Shaduq menyatakan sebagai berikut:
إِعْتِقَادُنَا فِي أَفْعَالِ العِبَادِ أَنَّهَا مَخْلُوْقَةٌ خَلْقَ تَقْدِيْرٍ لَا خَلْقَ تَكْوِيْنٍ, وَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَمْ يَزَلِ اللهُ عَالِماً بِمَقَادِرِهَا.
“Keyakinan kami mengenai perbuatan makhluk ialah: bahwa perbuatan itu diciptakan dengan penciptaan takdir, bukan penciptaan pembentukan. Artinya adalah bahwa Allah SWT. Senantiasa mengetahui takdirnya makhluq.”[3]
Namun, ketidak-lugasan penyampaian Ibnu Babawaih tersebut memberikan indikasi bahwa Allah SWT. hanya mengetahui segala perbuatan makhluk saja, tidak memberi arti Allah SWT. bisa berkehendak apa saja pada setiap makhluknya, sesuai dengan arti qadar yang sesungguhnya.
Kemudian, ulama Syiah yang lain memberikan penjelasan akan keyakinan Syiah Itsna Asyariyah yang sesungguhnya terhadap qadar Allah SWT., seperti yang dikemukakan al-Mufid dalam penegasannya berikut:
الصَحِيْحُ عَنْ آلِ مُحَمَّدٍ صلّى الله عليه و سلّم أَنَّ أَفْعَالَ العِبَادِ غَيْرُ مَخْلُوْقَةٍ لله,َ وَ الَّذِيْ ذَكَرَهُ أَبُوْ جَعْفَرٍ قَدْ جَاءَ بِهِ حَدِيْثٌ غَيْرُ مَعْمُوْلٍ بِهِ, وَ لَا مَرْضِيِّ الْإِسْنَادِ, وَ الأَخْبَارُ الصَّحِيْحَةُ بِخِلَافِهِ.
“Yang benar dari keluarga Muhammad SAW. Ialah: bahwa sesungguhnya perbuatan makhluk itu tidak diciptakan oleh Allah SWT. Sementara apa yang disampaikan Abu Ja’far adalah hadits-hadits yang tidak bisa dipakai. Selain sanadnya tidak baik, hadits-hadits yang shahih juga bertentangan dengannya.”[4]
Senada dengan penegasan diatas, adalah jawaban dari pertanyaan yang pernah diajukan kepada Abu al-Hasan ar-Ridha AS (diklaim pihak Syiah sebagai Imam ke-8). bahwa ketika beliau ditanyakan oleh seseorang mengenai keyakinannya tentang qadar Allah SWT; apakah qadar itu diciptakan Allah SWT. Atau tidak? Lalu beliau menjawab:
لَوْ كَانَ خَالِقًا لَهَا لَمَا تَبَرَّأَ مِنْهَا وَ قَدْ قَالَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى أَنَّ اللهَ بَرِيْءٌ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَ رَسُوْلُهُ, وَ لَمْ يُرِدْ البَرَاءَةَ مِنْ خَلْقِ ذَوَاتِهِمْ وَ إِنَّمَا تَبَرَّأَ مِنْ شِرْكِهِمْ وَ قَبَائِحِهِمْ.
“Andaikan Allah SWT. Yang menciptakan perbuatan makhluk, tentu Dia tidak akan melepaskan diri darinya, sementara Dia telah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya terbebas diri dari orang-orang musyrik.” Allah SWT. Tidak bermaksud melepaskan diri dari menciptakan mereka, namun melepaskan diri dari kesyirikan dan kejelekan mereka.”[5]
Lebih tegas lagi, al-Hurr al-Amili (w. 1104 H), salah seorang ulama Syiah terkemuka, mengupas kajian seputar qadar dalam bab spesifik dengan judul “Sesungguhnya Allah SWT. menciptakan segala sesuatu selain perbuatan makhluk.” Dalam kitabnya al-Fushul al-Muhimmah fi Ushul al-Aimmah, dia mengatakan bahwa Syiah Imamiyah dan Mu’tazilah meyakini bahwa semua perbuatan makhluk timbul dari dirinya sendiri, merekalah yang menciptakan perbuatan-perbuatan itu.[6]
Ulama Syiah yang lain, Muhammad Shadiq ath-Thabathaba’I, juga memberikan ketegasan yang sama: “Syiah Imamiyah dan Mu’tazilah berkeyakinan bahwa semua perbuatan dan gerak-gerik makhluk itu terjadi dengan kekuatan dan keinginan mereka sendiri. Merekalah yang menjadikan pekerjaan-pekerjaan itu. Sedangkan ayat-ayat yang menerangkan bahwa Allah SWT. yang menciptakan segala sesuatu, itu adakalanya sudah di takhsis (dikhususkan maksud dan tujuannya) dengan selain perbuatan makhluk, atau ditakwil bahwa Allah SWT. Yang menciptakan segala sesuatu dengan tanpa perantara, atau dengan perantara makhluk-Nya.”[7]
Dari beberapa penegasan ulama-ulama Syiah ini, jelaslah kiranya, bagaimana sebenarnya kepercayaan mereka berkenaan dengan qadar Allah SWT. bahwa akidah mereka dalam hal ini sebetulnya tidak ada bedanya dengan sekte Mu’tazilah – yang menyimpang.
Namun, sebagaimana disinggung di atas, tampaknya keyakinan qadar ala Mu’tazilah ini dianut oleh orang-orang Syiah pasca abad ketiga hijriah, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Taimiyah. Sedangkan Syiah yang hidup pada abad-abad sebelumnya malah memiliki keyakinan yang berseberangan. Hal ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang disampaikan langsung oleh A’immah Ahlul Bait, al-Kulaini antara lain meriwayatkan hadits sebagai berikut:
قَالَ أَبُو جَعْفَر وَأَبُو عَبْدِ اللهِ: إِنَّ اللهَ أَرَحْمُ بِخَلْقِهِ مِنْ أَنْ يُجْبِرَ خَلْقَهُ عَلَى الذُّنُوبِ ثُمَّ يُعَذِّبَهُمْ عَلَيْهَا وَاللهُ أَعزُّ مِنْ أَنْ يُرِيْدَ أَمْرًا فَلَا يَكُوْنُ، قَالَ: فَسُئِلَا عَلَيْهِمَا السَّلَامُ هَلْ بَيْنَ الْجَبْرِ وَالْقَدَرِ مَنْزِلَةٌ ثَالِثَةٌ؟ قَالَا: نَعَمْ أَوْسَعُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْاَرْضِ.
Abu Ja’far dan Abu Abdillah berkata: “sesungguhnya Allah SWT. Tidak akan memaksa hamba-Nya untuk mengerjakan perbuatan dosa lalu menghukumnya, sebab betapa besar kasih sayang-Nya. Dan Allah SWT. Tidak mungkin menginginkan sesuatu lalu tidak terjadi, karena Dia sangat berkuasa. Rawi berkata: Lalu keduanya ditanyakan: “apakah antara pemaksaan dan takdir ada tempat ketiga? Beliau menjawab: “Ya, (tempat itu) lebih luas dari ruangan yang ada di antara langit dan bumi.[8]
Kedua Imam ini menegaskan bahwa pendapat mereka tentang qadar adalah tidak membenarkan al-Jabr dan at-Tafwidh (fatalisme). Mereka memegangmaqam ketiga yang lebih netral, tidak mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lebih tegas lagi, Abu Abdillah AS (Diklaim Syiah sebagai Imam ke-6). Mengatakan: “Kamu bertanya tentang perkataan orang-orang Qadariyah (kelompok yang meniadakan qadar pada Allah SWT.), (apa yang mereka katakan) bukanlah agamaku dan bukan pula agama leluhurku, tak kutemukan seorang pun dari keluargaku berpendapat seperti itu.”[9] Abu Abdillah AS. Melanjutkan: “Celakalah Qadariyah (free will), apakah mereka tidak membaca firman Allah ‘Kecuali istri Luth, kami tetapkan dia temasuk orang-orang yang dihukum.’ Celaka mereka, kalau bukan Allah yang menaqdirkannya, lalu siapa?”
Al-Qummi meriwayatkan dalam kitab tafsirnya: “. . .Orang-orang Qadariyah yang menafikan takdir, yang mengira bahwa mereka bisa berbuat baik atau sebaliknya, kapan pun mereka mau, adalah orang-orang Majusi dari umat Muhammad SAW. Padahal musuh-musuh Allah SWT. Itu mengingkari Masyi’ahdan Takdir.”[10]
Yang perlu menjadi catatan disini adalah, kendati Syiah generasi awal menetapkan eksistensi takdir Allah SWT., akan tetapi pendapat yang umum dipegang oleh mayoritas umat Syiah masa kini adalah pendapat generasi kemudian yang menafikan takdir, yang diadopsi dari teologi Mu’tazilah. Sementara status dari teologi Mu’tazilah (Syiah) yang menafikan takdir sama halnya dengan teologi Jabariyah yang hanya menetapkan takdir. Kedua teologi ini hanya menggunakan sebagian dalil dan meninggalkan dalil yang lain. Sementara yang mengambil jalan tengah adalah teologi yang menggunakan nash-nash dan argumentasi secara sempurna, yang sesuai dengan Kitabullah. Ayat-ayat al-Qur’an telah menegaskan bahwa makhluk memiliki kemauan, kemampuan dan perbuatan, namun semuanya bergantung pada kehendak Allah SWT.[11] Inilah akidah yang dipedomani oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Allah SWT. Berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan [76]: 30).
Paparan data dan fakta tentang keyakinan Syiah terhadap 6 rukun iman—yang telah disampaikan pada beberapa edisi yang lalu dan sekarang—menunjukkan betapa Syiah telah menyimpang dari ajaran Islam, sehingga tidak mudah untuk dikatakan bahwa penganut Syiah sebagai orang Islam.
By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)
[1]Ibn Taimiyah, Minhaj as-Sunnah, juz 2 hlm. 29.
[2]Al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, juz 1 hlm. 114-115.
[3]Ibnu Babawaih al-Qummi, Aqaid ash-Shaduq, hlm. 78.
[4]Al-Mufid, Syarh Aqa’id ash-Shaduq, hlm. 12.
[5]Ibid, hlm. 13.
[6]Al-Hurr al-Amili, al-Fushul al-Muhimmah fi Ushul al-Aimmah, hlm. 80-81.
[7]Muhammad Shadiq ath-Thabathaba’I, Majalis al-Muwahhidin fi Bayani Ushul ad-Din, hlm. 21 dan al-Qazwini, Qala’id al-Kharaid, hlm. 60.
[8]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 159.
[9]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 5 hlm. 56.
[10]Al-Qummi, Tafsir Al-Qummi, juz 1 hlm. 226-227 dan al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 5 hlm. 9.
[11]Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 774-785.
http://www.sigabah.com/menimbang-syiah-bagian-ke-11/

Apakah Point ke ( 2 ) Risalah Amman "Iman Kepada Hari Akhir " Sesuai Dengan Keyakinan Syi'ah Rafidhi ?

Syiah dan Rukun Iman: Hari Akhir
Keyakinan Syiah tentang al-Qur’an dan klaim mereka tentang kitab-kitab yang diturunkan langsung oleh Allah SWT. telah selesai dibahas pada dua edisi sebelumnya. Pada edisi ini hendak ditampilkan keyakinan Syiah tentang hari Akhir. Selamat membaca, semoga Anda “semakin kenal” dengan berbagai penyimpangan Syiah.
Tentang hari Akhir, Syiah—seperti pada rukun Iman yang lain—juga punya pandangan yang jauh berbeda dengan umat Islam. Sudah menjadi suatu kelaziman, bahwa Syiah mesti menghubungkan segala urusan agama dengan doktrin sentral mereka, yakni imamah. Percaya pada keberadaan hari akhir tidak sah jika tidak percaya pada imamah. Menurut Syiah, bagaimana beriman kepada hari akhir dapat diterima tanpa keimanan kepada para Imam Ahlul Bait, padahal urusan akhirat sepenuhnya berada di genggaman mereka. Merekalah yang berhak memasukan seseorang ke dalam surga atau neraka. Hal ini telah dinyatakan­ oleh al-Kulaini dalam al-Kafi sebagai berikut:
الآخِرَةِ لِلْإِمَامِ يَضَعُهَا حَيْثُ يَشَاءُ وَ يَدْفَعُهَا اِلَى مَنْ يَشَاءُ جَائِزٌ لَهُ ذَلِكَ مِنَ اللهِ.
“Akhirat adalah milik Imam, dia boleh meletakannya di manapun dia suka, dan memberikan kepada siapa saja yang dia kehendaki. Hal itu sudah direstui oleh Allah.”[1]
Syiah mengigau sedemikan karena dalam keyakinan mereka, Allah SWT. Menciptakan surga dan neraka hanya untuk menghormati a’immat Ahl al-Bait(para Imam Ahlul Bait). Dalam hal ini, salah satu pemuka ulama Syiah, Ibnu Babawaih, menyatakan sebagai berikut:
وَ يَجِبُ أَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّهُ لَوْ لَا هُمْ لَمَا خَلَقَ اللهُ سُبْحَانَهُ السَّمَاءَ وَ الأَرْضَ وَ لَا اْلجَنَّةَ وَ لَا النَّارَ, وَ لَا آدَمَ وَ لَا حَوَّاءَ, وَ لَا الْمَلاَ ئِكَةَ, وَ لَا شِيْئاً مِمَّا خُلِقَ.
“Wajib diyakini bahwa andai bukan karena para Imam, Allah tidak akan menciptakan langit, bumi, surga, neraka, Adam, Hawa, malaikat dan segala apa yang Dia ciptakan.”[2]
Bagi Syiah, para Imam memegang peran yang demikian sentral, baik mengenai urusan dunia maupun urusan akhirat seseorang, juga mengenai kehidupan dan kematiannya. Syiah percaya, bahwa sesaat sebelum orang mukmin meninggal dunia, para Imam ikut andil dalam proses keluarnya ruh. Mereka meyakini bahwa para Imam hadir saat seseorang menghadapi ajal. Para Imam itulah yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) kepada orang-orang yang mempercayai wilayah (kepemimpinan Ali dan keturunannya), sehingga keluarnya ruh tidak terlalu menyiksa. Syiah juga percaya bahwa para Imam bisa membuat orang yang akan meninggal semakin menderita disebabkan keengganannya mengakui wilayah.[3]
Kepercayaan semacam itu demikian menjiwai penganut Syiah, hingga tradisi danamaliyah keseharian mereka sesak dengan khurafat, takhayyul dan mitos. Hal itu dapat kita lihat, semisal setelah orang Syiah meninggal, biasanya kerabatnya memasukkan debu kuburan Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu ke dalam kafannya. Mereka percaya bahwa abu tersebut akan menjadi perisai dari api neraka.
Lebih dari semua itu, Syiah juga percaya bahwa saat seseorang masuk ke liang lahad, pertanyaan pertama yang diajukan malaikat adalah berkenaan denganAhlul Bait. Al-Majlisi memberikan ilustrasi yang amat lugas tentang hali itu:
أَوَّلُ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ العَبْدُ حُبُّنَا أَهْلَ البَيْتِ.
“Pertanyaan pertama yang diajukan pada seorang hamba adalah kecintaan kita kepada Ahlul Bait.”[4]
Lebih lanjut, al-Majlisi dalam karyanya yang lain, al-I’tiqadat, juga mengatakan sebagai berikut:
فَيَسْأَلُهُ مَلَكَانِ عَنْ مَنْ يَعْتَقِدَهُ مِنْ الْأَئِمَّةِ وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ, فَإِنْ لَمْ يُجِبْ عَنْ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَضْرِبَانِهِ بِعَمُودٍ مِنْ نَارٍ يَمْتَلِئُ قَبْرَهُ نَارًا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
“Maka dua malaikat itu menanyainya tentang Imam yang dia (orang yang berada didalam kubur) percayai satu persatu. Jika ia tidak bisa menjawab satu saja, dua malaikat itu akan memukulnya dengan tongkat dari api yang akan membuat kuburannya terbakar hingga hari kiamat.”[5]
Ulama Syiah yang lain, Muhammad al-Husaini al-Jalali, juga mengatakan:
وَ أَمَّا إِذَا كَانَ فِي حَيَاتِهِ مُعْتَقِدًا بِهِمْ (يعني الإثني عشر) فَإِنَّهُ يَسْتَطِيْعُ الرَدَّ عَلَى أَسْئِلَتِهِمْ (أسئلة الملائكة) وَ يَكُوْنُ فِي رَغَدٍ إِلَى يَوْمِ الحَشْرِ.
“Jika sewaktu hidup ia mempercayai para Imam (Dua Belas), maka ia akan dapat menjawab semua pertanyaan malaikat, dan akan mendapatkan kenikmatan hingga hari pengumpulan.”[6]
Lebih jauh, mengenai hari kebangkitan, Syiah juga mempunyai kepercayaan tersendiri. Mereka meyakini bahwa tidak semua orang akan dikumpulkan di Padang Mahsyar, namun akan ada sekelompok orang yang akan masuk surga tanpa dikumpulkan di Padang Mahsyar terlebih dahulu. Mereka adalah penduduk Qum, kota suci Syiah di Iran. Dalam hal ini, ulama Syiah rupanya cukup bersemangat membikin riwayat aspal (asli tapi palsu) guna mengesankan keutamaan kota ini, antara lain apa yang diungkapkan oleh Syekh Abbas al-Qummi, salah seorang ulama Syiah kontemporer yang membidangi hadits dan sejarah. Ia mengatakan sebagai berikut:
أَنَّ أَهْلَ مَدِيْنَةِ قُمْ يُحَاسَبُوْنَ فِيْ حُفَرِهِمْ وَ يُحْشَرُوْنَ مِنْ حُفَرِهِمْ إِلَى الخَنَّةِ.
“Sesungguhnya penduduk kota Qum akan dihisab di kuburnya, dan digiring ke surga dari kuburnya.”[7]
عَنْ أَبِي الحَسَنِ الرِّضَا قَالَ: إِنَّ لِلْجَنَّةِ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابٍ, وَ لِأَهْلِ قُمْ وَاحِدٌ مِنْهَا فَطُوْبِى لَهُمْ ثُمَّ طُوْبَى.
“Dari Abu Hasan ar-Ridha, ia berkata: “Sesungguhnya surga memiliki delapan pintu, satu pintu untuk penduduk kota Qum. Alangkah bahagianya mereka, sungguh alangkah bahagianya mereka.”[8]
Masih berkenaan dengan kota Qum, al-Majlisi menambahkan komentarnya sebagai berikut:
وَ هُمْ خِيَارٌ شِيْعَاتِنَا مِنْ بَيْنِ سَائِرِ البِلَادِ خَمَّرَ اللهُ تَعَالَى وِلاَيَتَنَا فِي طِيْنَتِهِمْ.
“Dari sekian negara, penduduk Qum-lah pengikut kita yang paling baik. Allah SWT. Selalu menutupi wilayah kita dengan tanah air Qum.”[9]
Tegasnya, segala urusan akhirat, mulai dari hisab, timbangan amal, melewati jembatan, surga dan neraka, semuanya ditangani oleh para Imam, sebagaimana perkataan yang mereka afiliasikan kepada Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) As, yang diklaim Syiah sebagai imam ke-6, sebagai berikut:
إِلَيْنَا الصِّرَاطُ وَ إِلَيْنَا المِيْزَانُ وَ إِلَيْنَا حِسَابُ شِيْعَتِنَا.
“Kamilah yang akan mengurusi shirath, timbangan amal dan perhitungan amal pendukung kita.”[10]
Senada dengan pernyataan di atas, seorang ulama besar Syiah, al-Hur al-Amili, menetapkan bahwa di antara pokok hukum Syiah Imamiyah adalah beriman bahwa perhitungan semua amal makhluk akan ditangani oleh para Imam.[11]
Jadi, sebagaimana telah kami nyatakan sebelumnya, bahwa yang diinginkan Syiah dengan mengusung doktrin imamah tidak hanya hendak mendominasi kekuasaan duniawi secara politis, baik dengan bertopeng dibalik doktrinmahdiyyah, Ghaibah, Wilayat al-Faqih dan sebagainya. Dengan imamah, Syiah juga hendak mendominasi wilayah kiamat dan akhirat, yang seharusnya merupakan hak prerogatif Allah SWT. Inilah puncak ke-ekstrimitas sebuah ideologi. Padahal di dalam al-Qur’an telah dijelaskan antara lain sebagai berikut:
فَلِلَّهِ ٱلأخِرَةُ وَٱلأُولَىٰ
“Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” (QS. An-Najm [53]: 25)
لَهُ ٱلحَمدُ فِي ٱلأُولَىٰ وَٱلأخِرَةِ وَلَهُ ٱلحُكمُ وَإِلَيهِ تُرجَعُونَ
“Bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashash [28]: 70)
إِنَّ إِلَينَا إِيَابَهُم ثُمَّ إِنَّ عَلَينَا حِسَابَهُم
“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 25-26).
By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)
[1] al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 409.
[2]Ibnu Babawaih, al-I’tiqadat, hlm. 106-107.
[3]Ibid, hlm. 93-94.
[4]Mulla Muhammad Baqir Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 27 hlm. 79 dan Ibnu Babawaih, Uyunu Akhbar ar-Ridha, hlm. 222.
[5]Mulla Muhammad Baqir Al-Majlisi, al-I’tiqadat, hlm. 95.
[6]Muhammad al-Husaini al-Jalali, al-Islam Aqidah wa Dustur, hlm. 77.
[7]Syekh Abbas al-Qummi, al-Kuna wa al-Alqab, juz 3 hlm. 71. Bandingkan dengan Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 60 hlm. 218.
[8]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 60 hlm. 215, dan Syekh Abbas al-Qummi, Safinat al-Bihar, juz 1 hlm. 446.
[9]Bihar al-Anwar, juz 60 hlm. 216.
[10]Muhammad bin Abdul Aziz al-Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm. 337.
[11]Dr. Nashir bin Abdullah Ali al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 769.