Sunday, May 10, 2015

Kebohongan ( taqiyah ) Syi’ah Rafidhi dari Ayatullah Al-'Udhma, Menteri Luar Negeri, Presiden hingga Jendral-jendral di Garda revulusi “Tidak Terlibat Pembrontakan di Yaman” ternyata Terkuak ! Inilah Tipikal Syiah, Lebih Keji dari Yahudi !

Iran : Kami Sengaja Masuk ke Yaman dan Suriah untuk Melebarkan Ajaran Syiah

Salah satu pimpinan Garda Revolusi Iran, Mayjen Muhammad Ali Ja’fari menyebut bahwa negaranya memang sengaja masuk ke Suriah dan Yaman. Salah satu tujuan masuknya mereka adalah untuk memperkuat dan melebarkan pemahaman syiah ke dua negara tersebut. ( mengikuti jejak pendahulunya sejak abad 14 H untuk menghancurkan Makkah/Madinah.red lamurkha )
“Iran telah menyiapkan 100 ribu pasukan bersenjata untuk memberikan dukungan kepada pemerintah Suriah dan Revolusi Islam Iran, guna memerangi para pemberontak dan melebarkan sayap perjuangan,” kata Ja’fari dalam sebuah acara yang disiarkan televisi Iran,  Press TV.
Ja’fari menegaskan bahwa Barat begitu ketakutan dengan paham Syiah dan penyebarannya. Iran, menurutnya akan menjadi kekuatan yang lebih menakkutkan lagi jika berhasil menggabungkan negara-negara teluk seperti Suriah, Irak, Yaman dan Libanon [ Umat Islam yang Juga khawatir terhadap keganasan Agama Syiah ]
“Kaum muslimin akan bergabung dengan Iran, Suriah, Irak, Yaman dan Libanon,” tegasnya lagi. [ tidak mungkin Muslimin gabung dengan rafidhi syi'ah !! ]
Adapun Yaman, Ja’fari menegaskan bahwa intervensi negaranya bukanlah intervensi yang dilakukan secara langsung. Namun, Iran masuk ke Yaman melalui pergerakan kelompok pemberontak Hutsiyin, demikian seperti dikutip dari alarabiya, Jumat (8/5/2015) [ syiah gemar bersilat taqiyah ]
Pengakuan Ja’fari ini seolah menegaskan bahwa kasus-kasus yang kini terjadi di negara-negara Timur Tengah tak lepas dari campur tangan Iran. Bahwa semua negara yang disusupi oleh Iran mengalami kekacauan luar biasa, dan mengorbankan puluhan ribu warga negara yang dimaksud.

Jenderal Syiah Iran Akhirnya Akui Keterlibatan Mereka Di Yaman

Seorang pejabat tinggi militer Iran mengakui bahwa negaranya ikut membantu pemberontak Syiah Houthi dan sekutunya dalam menghadapi agresi militer Koalisi Negara Islam yang dipimpin Saudi dan sekutunya di Yaman.
Dalam wawancaranya dengan kantor berita Farsi Iran pada hari Minggu (26/04) kemarin, Jenderal Ali Hadmani mengakui bahwa negaranya ikut mendukung pemberontakan Syiah Houthi dengan menjadi penasehat militer dan memberikan sejumlah bantuan kepada meraka, tanpa mau menjelaskan apa bentuk bantuan tersebut.
“Kami mengumumkan secara terbuka dukungan dan bantuan kami kepada perlawanan Syiah Houthi di Yaman, sama seperti perlawanan Palestina, Lebanon, Irak dan Afghanistan,” ujar Jenderal Ali Hadmani.
Ini adalah konfirmasi pertama pemerintah Teheran mengenai keterlibatan mereka dalam konflik di Yaman, setelah sebelumnya Menlu Iran Javad Zarif membantahnya.
Menurut keterangan Menteri Luar Negeri Yaman, Riad Yassin, pada hari Minggu kemarin di ibukota London menyatakan bahwa sedikitnya Teheran telah melatih sekitar 1600 pemberontak Syiah Houthi sebelum memanasnya konflik di Aden pada bulan April lalu.
Info terkait :
Iran akan menguasai Timur Tengah melalui krisis Yaman

خطير.. أول حسينية شيعية تهاجم الملك سلمان وتشرح أحلام إيران في الشرق الأوسط
يرجى متابعة حسابنا على تويتر
https://twitter.com/Wa3iArabi
وزيارة الموقع الرسمي
http://www.wa3iarabi.com


Jawaban Syubhat Syiah : Tuduhan ahlussunnah waljama’ah telah membunuh Imam al-Husain ‘Alaihi Sallam.

                                                                            oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Syubhat: Kalian wahai Nawashib, wahai orang yang mengaku bahwa kalian adalah ahlussunnah waljama’ah, kalian telah membunuh Imam al-Husain ‘Alaihi Sallam.
Jawab: pertanyaan Anda ini merupakan satu kesempatan baik bagi kalangan awam kaum muslimin untuk mengetahui pokok agama kalian yang dibangun diatas dendam, serta ajakan perang. Setelah lebih dari 1300 tahun apa yang Anda inginkan? Apakah kalian ingin menuntut balas? Jika kalian ingin menuntut balas, maka dari siapa? Dan apakah karena tujuan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita; yaitu menjadikan landasan ibadah kita adalah dendam bagi terbunuhnya al-Husain Radhiallahu ‘Anhu, lalu kita hidup dan mati diatasnya?
Sekalipun demikian telah tetap dalam kitab-kitab kalian, dalil-dalil yang menegaskan bahwa Syi’ah sendirilah yang telah membunuh al-Husain Radhiallahu ‘Anhu, dan saya tidak tahu apakah Anda mengetahuinya ataukah tidak?
Al-Husain berkata Radhiallahu ‘Anhu dalam do’anya atas syi’ahnya (pendukungnya) saat dia yakin bahwa mereka mengkhianatinya:
اَللَّهُمَّ إِنْ مَتَّعْتَهُمْ إِلَى حِيْنٍ فَفَرِّقْهُمْ فَرْقاً، وَاجْعَلْهُمْ طَرَائِقَ قِدَداً، وَلاَ تُرْضِ اْلوُلاَةَ عَنْهُمْ أَبَداً، فَإِنَّـهُمْ دَعَوْنَا لِيَنْصُرُوْنَا ثُمَّ عَدَوْا عَلَيْنَا فَقَتَلُوْنَا
“Ya Allah, jika Engkau memberikan kenikmatan kepada mereka hingga sautu waktu, maka cerai beraikanlah mereka menjadi berkelompok-kelompok, jadikanlah mereka jalan-jalan yang bermacam-macam, janganlah Engkau membuat para ulil amri ridha terhadap mereka selamanya, karena sesungguhnya mereka mengundang kami untuk menolong kami, kemudian mereka memusuhi kami dan membunuh kami.” (al-Irsyad lil Mufid (241))
Dia juga berdo’a atas mereka sekali lagi:
لكنكم استسرعتم إلى بيعتنا كطيرة الدّبا، وتـهافتم كتهافت الفراش، ثم نقضتموها، سفهاً وبعداً، وسحقاً لطواغيت هذه الأمة وبقية الأحزاب ونَبَذة الكتاب، ثم انتم هؤلاء تتخاذلون عنا وتقتلوننا، ألا لعنة الله على الظالمين
“Akan tetapi kalian tergesa-gesa kepada baiat kami seperti terbangnya belalang kecil, kalian serampangan (berjatuhan) seperti serampangannya kupu-kupu, kemudian kalian mencabut baiat itu; secara bodoh, jauh, lagi jauh (dari rahmat Allah) bagi thaghut umat ini, dan sisa kelompok-kelompok, serta orang-orang yang mencampakkan al-Qur`an. Kemudian kalian mengkhianati kami, dan membunuhi kami, ingat, laknat Allah atas orang-orang zhalim.” (al-Ihtijaj, at-Thabrusiy (2/24))
As-Sayyid Muhsin al-Amin berkata,
بَايَعَ الْحُسَيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ عِشْرُوْنَ أَلْفاً، غَدَرُوْا بِهِ وَخَرَجُوْا عَلَيْهِ وَبَيْعَتُهُ فِي أَعْنَاقِهِمْ، وَقَتَلُوْهُ
Teah berbaiat kepada ‘al-Husain sebanyak dua puluh ribu orang dari penduduk Iraq, kemudian mereka mengkhianatinya, lalu mereka keluar menentangnya sementara baiatnya masih ada pada leher-leher mereka, kemudian mereka membunuhnya.’ (A’yanus Syi’ah, Bagian pertama (34))
Imam Zainul ‘Abidin berkata kepada penduduk Kufah:
هَلْ تَعْلَمُوْنَ أَنَّكُمْ كَتَبْتُمْ إِلَى أَبِي وَخَدَعْتُمُوْهُ، وَأَعْطَيْتُمُوْهُ مِنْ أَنْفُسِكُمْ العَهْدَ وَالْمِيْثَاقَ ثُمَّ قَاتَلْتُمُوْهُ وَخَذَلْتُمُوْهُ؟ بِأَيِّ عَيْنٍ تَنْظُرُوْنَ إِلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وآله وَهُوَ يَقُوْلُ لَكُمْ : قَاتَلْتُمْ عِتْرَتِي وَانْتَهَكْتُمْ حُرْمَتِي، فَلَسْتُمْ مِنْ أُمَّتِي
“Apakah kalian tahu bahwa kalian telah menulis (surat) kepada bapakku, lalu kalian menipunya, dan kalian berikan perjanjian dan janji setia dari jiwa kalian kemudian kalian perangi dia dan kalian mengkhianatinya? Dengan mata mana kalian akan melihat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sementara beliau akan berkata kepada kalian, ‘Kalian telah memerangi keluargaku, kalian telah mencabik kehormatanku, maka kalian bukanlah termasuk umatku.” (al-Ihtijaj (2/32))
Dia juga berkata:
إن هؤلاء يبكون علينا فمن قتلنا غيرهم ؟!
“Sesungguhnya mereka menangisi kami, maka siapakah yang telah membunuh kami selain mereka sendiri?’ (al-Ihtijaj (2/29))
Fathimah as-Sughra berkata dalam pidatonya kepada penduduk Kufah:
يا أهل الكوفة، يا أهل الغدر والمكر والخيلاء، إنا أهل البيت ابتلانا الله بكم، وابتلاكم بنا فجعل بلاءنا حسناً. فكفرتمونا وكذبتمونا ورأيتم قتالنا حلالاً وأموالنا نـهباً. كما قتلتم جدنا بالأمس، وسيوفكم تقطر من دمائنا أهل البيت. تباً لكم ! فانتظروا اللعنة والعذاب فكأن قد حلّ بكم … ألا لعنة الله على الظالمين. تباً لكم يأهل الكوفة، كم قرأت لرسول الله صلى الله عليه وآله قبلكم، ثم غدرتم بأخيه علي بن أبي طالب وجدي، وبنيه وعترته الطيبين
“Wahai penduduk Kufah, wahai para pengkhianat, pembuat makar dan orang-orang sombong! Sesungguhnya kami ahlul bait, Allah menguji kami dengan kalian, dan Allah menguji kalian dengan kami. Maka Dia jadikan musibah kami sebagai sebuah kebaikan. Kemudian kalian mengkafirkan kami, mendustakan kami, dan kalian berpandangan bahwa membunuh kami adalah halal dan harta kami sebagai rampasan perang. Sebagaimana kalian telah membunuh kakek kami kemarin, dan pedang-pedang kalian telah meneteskan darah-darah kami ahlul bait. Celaka kalian! Maka tunggulah laknat dan adzab.. seakan-akan hal itu hampir datang menimpa kalian… ingat laknat Allah atas orang-orang zhalim. Celaka kalian wahai orang-orang Kufah. Betapa aku telah membaca untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum kalian, kemudian kalian mengkhianati saudara beliau, Ali bin Abi Thalib, kakekku dan anak-anaknya dan seluruh keturunannya yang baik.” (al-Ihtijaj (2/28))
Zainab binti Amiril Mukminin berkata kepada penduduk Kufah:
أما بعد يا أهل الكوفة، يا أهل الختل والغدر والخذل. إنما مثلكم كمثل التي نقضت غزلها من بعد قوة أنكاثاً، هل فيكم إلا الصلف والعجب والشنف والكذب؟ أتبكون أخي؟ أجل والله فابكوا كثيراً واضحكوا قليلاً فقد ابليتم بِعارِها. وأنى ترخصون قتل سليل خاتم النبوة
“Amma ba’du, wahai penduduk Kufah, wahai para pengkhianat, sesungguhnya perumpamaan kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Bukankah di tengah kalian tidak ada sesuatu melainkan pembualan, ujub, kebencian, dan kedustaan? Apakah kalian menangisi saudaraku? Baik, demi Allah, banyak menangislah kalian, dan sedikitlah tertawa, sungguh kalian diberi bencana dengan aibnya. Dan bagaimana kalian menjadikan murah pembunuhan keturunan penutup kenabian?” (al-Ihtijaj 2/29-30)
Inilah yang ditetapkan oleh sumber-sumber syi’ah sebelum selain mereka.!
Maka apakah Anda sekarang sudah tahu siapakah pembunuh al-Husain sebenarnya? Siapakah yang telah mengundangnya kemudian mengkhianatinya? Hakikat ini telah disaksikan oleh para ulama Syi’ah sendiri. Dan kami memaklumi Anda akan kebodohan Anda terhadap agama Syi’ah, karena keberadaan Anda yang termasuk orang-orang yang tertipu di dalamnya. Kami memohon kepada Allah hidayah bagi kami dan Anda.


Syubhat ( klaim ) Syiah Sebagai Kelompok Yang Benar, menganggap “ Khurasan ( keberadaan al-Mahdi ) adalah bagian dari Iran !

oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Syubhat: Yang menguatkan bahwa syi’ah adalah kelompok yang benar adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi:
«إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ خَرَجَتْ مِنْ قِبَلِ خُرَاسَانَ فَأْتُوهَا وَلَوْ حَبْوًا، فَإِنَّ فِيهَا خَلِيفَةَ اللَّهِ الْمَهْدِيَّ»
“Jika kalian melihat bendera-bendera hitam yang keluar dari arah Khurasan, maka datangilah ia sekalipun dengan merangkak, karena di dalamnya terdapat khalifah Allah, yaitu al-Mahdi.” Sedangkan penduduk Khurasan adalah penduduk Iran, hadits tersebut telah dishahihkan oleh ulama kalian; Imam Dzahabi dan Ibnul Qayyim.
Jawab: Percayalah kepada saya, kami di majalah Qiblati akan bersikukuh untuk memberikan sebuah hadiah sekalipun pada saat sulit kepada seorang syi’ah yang jujur. Telah tetap dengan dalil tersebut bahwa seorang syi’ah itu tidak akan menjadi seorang syi’ah kecuali saat dia menjadi pendusta, atau orang bodoh. Sesungguhnya riwayat yang telah Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda tersebut tidak sah penisbatannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saya berharap Anda menjadi seorang yang jujur saat Anda menyebutkan para ulama tersebut saat menyebut hadits itu dalam kitab-kitab mereka, mereka menyebut hadits itu dari sisi bahwa hadits itu tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bukan seperti yang Anda inginkan untuk membuat kerancuan atas manusia.
Imam adz-Dzahabi berpendapat bahwa itu adalah hadits mungkar, saat beliau menyebutkan hadits tersebut dalam Siyar al-‘A’lam (6/132) dia berkata, ‘Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Haditsnya (perawi) dalam (hadits) rayah (bendera-bendera) tidak bernilai sesuatupun.”
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam al-Manarul Munif (150) berkata, ‘Dalam sanadnya terdapat Yazid bin Abi Ziyad, dia adalah seorang yang buruk hafalannya, kacau pada akhir usianya, dan memalsu uang.’
Maka bagaimana Anda mengklaim bahwa adz-Dzahabiy dan Ibnul Qayyim telah menshahihkan hadits tersebut?
Kemudian siapa yang telah berkata kepada Anda bahwa negeri Khurasan dalam riwayat ini yang dimaksud adalah Iran?
Negeri Khurasan dalam sejarah masa lalu terbentuk dari sejumlah kota, yaitu, Naisabur, Herat, Merw, dan Balkh. Dan tidak ada hubungan yang menggabungkan negeri Persia dan Khurasan. Negeri Persia memiliki batas-batas yang telah diketahui sekalipun bagian utara dari negeri Khurasan masuk dalam batas Iran saat ini. akan tetapi Khurasan secara umum ada pada Negara Turkmenistan, dan Afghanistan. Bolehlah Anda kembali kepada at-Thobari dalam kitabnya Tarikhul Ummam wal Muluk, dan itu merupakan kitab sejarah terpenting yang menetapkan wilayah dan negeri-negeri agar Anda mengetahui hakikatnya.
Saya akan memberikan kepada Anda sebuah dalil kuat yang menetapkan bahwa negeri Khurasan bukanlah Persia. Yaitu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut Negeri Persia secara jelas dalam hadits:
تَغْزُونَ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
“Kalian akan memerangi Persia, lalu Allah menundukkannya.” (HR. Ahmad)
Maka hadits ini menunjukkan bahwa Negeri Persia adalah Negara lain, dan Khurasan adalah negeri lain lagi yang berbeda. Saya memohon hidayah kepada Allah untuk kami dan Anda.



Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas 

Salah satu tanda Kiamat yang besar adalah munculnya Imam Mahdi. Ahlus Sunnah memahami Imam Mahdi sebagai berikut: [1]

Di akhir zaman akan muncul seorang laki-laki dari Ahlul Bait. Allah memberi kekuatan kepada agama Islam dengannya. Dia memerintah selama 7 tahun, memenuhi dunia dengan keadilan setelah (sebelumnya) dipenuhi oleh kezhaliman dan kezhaliman. Ummat di zamannya akan diberikan kenikmatan yang belum pernah diberikan kepada selainnya. Bumi mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya, langit menurunkan hujan, dan dilimpahkan harta yang banyak.

Orang ini mempunyai nama seperti nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan nama ayahnya seperti nama ayah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi, namanya Muhammad atau Ahmad bin ‘Abdullah. Dia dari keturunan Fathimah binti Muhammad dari anaknya Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu anhum. Di antara ciri-ciri fisiknya adalah lebar dahinya, dan mancung hidungnya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Al-Mahdi akan muncul dari arah timur, bukan dari Sirdab Samira’ sebagaimana yang disangka oleh kaum Syi’ah (Rafidhah). Mereka menunggu sampai sekarang, padahal persangkaan mereka itu adalah igauan semata, pemikiran yang sangat lemah dan gila yang dimasukkan oleh syaithan. Persangkaan mereka tidak mempunyai alasan baik dari Al-Qur-an maupun As-Sunnah, bahkan tidak sesuai dengan akal yang sehat.”[2]

Di antara dalil dari Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih tentang munculnya al-Mahdi adalah:

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

يَخْرُجُ فِي آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ، يُسْقِيْهِ اللهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ اْلأَرْضُ نَبَاتَهاَ، وَيُعْطِى الْمَالَ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ، وَتَعْظُمُ اْلأُمَّةُ، يَعِيْشُ سَبْعاً أَوْ ثَمَانِيًا.

“Al-Mahdi akan keluar di akhir kehidupan umatku, Allah akan menurunkan hujan kepadanya sehingga, bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya, diberikan kepadanya harta yang melimpah, semakin banyak binatang ternak, dan pada saat itu ummat semakin mulia, dan ia memerintah selama 7 atau 8 tahun.” [3]

Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

اَلْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ، يُصْلِحُهُ اللهُ فِيْ لَيْلَةٍ.

“Al-Mahdi berasal dari Ahlul Bait, Allah memperbaikinya dalam satu malam.” [4]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي، مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ.

“Al-Mahdi berasal dari keturunanku, dari anak Fathimah.” [5]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا أَوْ لاَ تَنْقَضِي الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ يُوَاطِىءُ اِسْمُهُ اسْمِيْ.

“Tidak akan lenyap atau tidak akan sirna dunia ini, hingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang laki-laki dari keturunanku, yang namanya sama seperti namaku.” [6]

Dalam riwayat yang lain disebutkan: “...Dan nama ayahnya seperti nama ayahku.” [7]

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ، وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟

“Bagaimana dengan kalian, apabila Nabi ‘Isa bin Maryam turun kepada kalian, sedangkan imam kalian dari kalangan kalian sendiri.” [8]

Hadits ini menunjukkan bahwa Imam Mahdi adalah sebagai Imam kaum Muslimin pada waktu itu, termasuk Nabi ‘Isa Alaihissallam bermakmum kepadanya.

Hadits-hadits tentang Imam Mahdi mutawatir. [9]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat keterangan lebih lengkap di an-Nihaayah fil Fitan wal Malaahim oleh Ibnu Katsir, Asyraathus Saa’ah (hal. 249-273) oleh Dr. Yusuf bin ‘Abdillah al-Wabil.
[2]. Lihat an-Nihaayah fil Fitan wal Malaahim (hal. 26) oleh Ibnu Katsir.
[3]. HR. Al-Hakim (IV/557-558), dikatakan bahwa hadits ini shahih disepakati oleh Dzahabi, dari Sahabat Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 711).
[4]. HR. Ibnu Majah (no. 4085), Ahmad (I/84), dari Sahabat ‘Ali Radhiyallahu anhu. Hadits ini di-shahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiiq Musnad Imaam Ahmad (no. 645) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2371).
[5]. HR. Abu Dawud (no. 4284), Ibnu Majah (no. 4086), al-Hakim (IV/557), dari Ummu Salamah x. Lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir (no. 6734).
[6]. HR. At-Tirmidzi (no. 2230), Abu Dawud (no. 4282) dan Ahmad (I/377, 430) dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dan lafazh ini milik Ahmad. Dikatakan shahih menurut Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Ahmad (no. 3573).
[7]. Lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir (no. 5304) dan Asyraathus Saa’ah (hal. 256).
[8]. HR. Al-Bukhari (no. 3449) dan Muslim (no. 155 (244)), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[9]. Lihat Asyraathus Saa’ah oleh Dr. Yusuf bin ‘Abdillah al-Wabil (hal. 259-265).


Saturday, May 9, 2015

Jawaban Syubhat Syiah : Shalawat hanya untuk Nabi dan keluarganya saja, tidak berlaku untuk para sahabat Nabi. Allah memerintahkan untuk bershalawat kepada Nabi dan keluarganya, bukan shalawat yang terputus model Wahhabi.

Jawab:  Pertama, apakah kebencian Anda kepada para sahabat akan menambah derajat Anda di sorga?!
Kedua, adapun berkenaan dengan perkara shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Anda telah menjerumuskan diri Anda sendiri pada sebuah kesalahan besar. Anda telah menjadikan seluruh kaum muslimin Wahhabi, karena shalawat mereka yang terputus menurut Anda.
Kesalahan kedua, bahwa orang yang bershalawat kepada Nabi dengan shalawat yang terputus adalah Syi’ah itu sendiri, bukan ahlussunnah wal jama’ah. Anda sekalian hanya bershalawat saja dan tidak bersalam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan di dalam al-Qur`an agar kita bershalawat dan bersalam kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Pada ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk bershalawat dan salam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja. Oleh karena itulah kaum muslimin pada setiap tempat bershalawat dan salam kepada beliau. Sementara Anda sekalian hanya bershalawat tanpa salam kepada beliau. Maka tampaklah perselisihan Anda dengan perintah Allah yang ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin.
Adapun klaim Anda, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita bershalawat kepada Nabi dan keluarga beliau, maka sesungguhnya saya bertanya kepada Anda, dimana hal itu disebutkan di dalam al-Qur`an? Kemudian saya bertanya kepada Anda, dan juga kepada ulama Syi’ah, seandainya keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada pada tempat yang berlebihan seperti itu menurut Anda sekalian, lantas mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi dan keluarganya. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan keluarganya serta ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”?!
Adapun klaim Anda, bahwa tidak boleh bershalwat kepada selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ini menyelisihi nash-nash al-Qur`an yang mulia dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ

“Dialah yang bershalawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), …” (QS. Al-Ahzab: 43)
Dia Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka Itulah yang mendapat (shalawat) keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka …” (QS. Al-Baqarah: 157)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan bershalawatlah (mendoalah) untuk mereka. Sesungguhnya shalawat (doa) kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Dan telah datang dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata:

كَانَ النَّبِىُّ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ « اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلاَنٍ » . فَأَتَاهُ أَبِى بِصَدَقَتِهِ ، فَقَالَ « اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِى أَوْفَى »

“Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika datang kepada beliau suatu kaum dengan membawa shadaqah mereka, beliau bersabda, ‘Allahumma shalli ‘ala Ali Fulan (ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keberkahan kepada keluarga Fulan)’. Maka datanglah bapakku kepada beliau dengan membawa shadaqahnya, maka beliau bersabda, ‘Allahmumma shalli ‘ala Ali Abi Aufa (Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keberkahan kepada keluarga Abu Aufa)’. (HR. al-Bukhari Muslim)
Dari Jabir bin ‘Abdillah, dia berkata

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ لِلنَّبِىِّ  : صَلِّ عَلَىَّ وَعَلَى زَوْجِى. فَقَالَ النَّبِىُّ  « صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكِ وَعَلَى زَوْجِكِ »

‘Bahwasannya ada seorang wanita berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Bershalawatlah kepada saya dan suami saya.’ Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Shallallahu ‘alaiki wa ‘alaa zaujiki (Mudah-mudahan shalawat (limpahan rahmat dan keberkahan) Allah tercurah atasmu dan suamimu).’ (HR. Abu Dawud, ad-Darimi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan lainnya dengan sanad shahih)
Syubhat: Jangan karena kekuasaan dan harta lalu keluarga Nabi diabaikan. Yang paling mengerti tentang sunnah Nabi adalah keluarga Nabi sendiri, bukan orang lain atau sahabat. Cinta keluarga Nabi adalah wajib bagi umat Islam. Sahabat hanya berlaku bagi orang-orang Wahabi fanatik.
Jawab: Anda dan orang-orang Syi’ah selain Anda telah sampai kepada suatu kebodohan yang Anda tidak tahu bahwa jika Anda meragukan keadilan dan amanah para sahabat, maka Anda telah meragukan apa yang telah mereka nukil untuk kita, baik berupa al-Qur`an maupun sunnah. Jika tidak, maka siapa yang telah mengumpulkan al-Qur`an, serta menjaga sunnah? Bukankah mereka itu adalah para sahabat Radhiallahu ‘Anhu? Jadi, akal ini tidak bisa menerima bahwa orang yang kita ragukan keadilannya akan dapat berbuat amanah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kemudian, apa bisa kita pahami dari ucapan Anda bahwa para sahabat tidak memiliki kedudukan sama sekali bagi kaum muslimin secara umum termasuk di antara mereka adalah para ulama Indonesia? Anda tidak mengetahui bahwa dengan klaim tersebut, Anda telah menjadikan seluruh kaum muslimin, sama saja Indonesia atau selainnya adalah Wahhabi. Bahkan Anda tidak tahu bahwa Anda, dan pemilik pertanyaan yang lalu telah menampakkan Wahhabi dengan tampilan yang indah. Yaitu bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai para sahabat, serta membela mereka dan ummahatul mukminin. Mereka membela al-Qur`an, menegaskan bahwa al-Qur`an terjaga dari tahrif (perubahan), pengurangan, dan penambahan. Mereka berpegang teguh dengan sunnah nabi yang shahih. Mereka memuliakan keempat imam, dan para salafus shalih, ya mereka adalah Wahhabi. Maka jika setiap orang yang membela sahabat adalah Wahabi menurut Anda, maka jadilah Imam Syafi’i Rahimahullah, Imam Nawawi Rahimahullah, Imam Ibnu Hajar Rahimahullah, Imam al-Bukhari Rahimahullah, Imam Muslim Rahimahullah, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, dan seluruh imam-imam besar selain mereka adalah Wahhabi.
Wahai para pembaca Qiblati yang budiman,
Anda bisa memperhatikan, dari sela-sela penyampaian syubhat orang-orang Syi’ah tersebut, bahwa itu adalah syubhat-syubhat yang naïf, dan bahwa pemilik syubhat itu adalah jahil, tidak memiliki walau sedikit ilmu. Kebodohan mereka terhadap Islam, dan aqidah ahlussunnah telah memudahkan orang-orang yang menyimpang menanamkan kebencian dan penghinaan kepada para sahabat di hati mereka. Mereka pun mengambil manfaat dari kekerdilah akal mereka, serta menjadikan mereka menghadapi masyarakat dengan pemikiran baru mereka, sementara mereka bersembunyi di tempat yang gelap dengan tujuan untuk membuat fitnah di antara umat Islam. Kami memohon kepada Allah, agar menjauhkan kaum muslimin dari keburukan tersebut, dan mengakhiri akhir kehidupan kita dengan kebaikan.
Mamduh Farhan al-Buhairi

Persangkaan Keji Syi'ah : Nabi baru saja wafat, tetapi Abu Bakar malah pergi untuk mengurus kekuasaan, bukan mengurus jenazah Nabi

             Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi
Syubhat: Nabi baru saja wafat, tetapi Abu Bakar malah pergi untuk mengurus kekuasaan, bukan mengurus jenazah Nabi. Begitu rendahnya akhlaq Abu Bakar!! Hanya orang-orang tolol yang menjadikannya petunjuk.
Jawab: Sesungguhnya kami tidak heran, saat hakikat kebenaran itu berputar balik dari orang-orang semacam Anda. Anda adalah sebuah biji yang telah dirawat dan disiram oleh para pendosa yang tujuannya adalah memisahkan para sahabat dari Islam, serta melenyapkan peran mereka sebagai bentuk balas dendam terhadap penaklukan mereka terhadap negeri Persia. Seandainya mereka berfikir sedikit, maka pastilah mereka akan mengetahui bahwa orang yang menyebabkan mereka muslim adalah para sahabat Radhiallahu ‘Anhum.
Termasuk di antara pemutar balikan fakta adalah persangkaan kalian akan kesibukan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dari jenazah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di sini, saya harus merinci dengan ringkas agar Anda bisa memahami fakta sebagaimana apa adanya. Di saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, seluruh manusia tergoncang dan terkejut. Di antara mereka ada yang terduduk dan tidak mampu untuk berdiri. Ada yang kelu lisannya dan tidak bisa berbicara, ada yang mengingkari kematian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara mutlak, dan mengambil pedang atas setiap orang yang mengumumkan kematian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Pada keadaan genting yang dilalui umat kala itu, Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu berdiri dengan keberanian dan keyakinan seorang mukmin seraya berkata kepada manusia:

مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّداً فَإنَّ مُحَمَّداً قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ

“Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha hidup tidak akan mati.”
Itu adalah sikap kepahlawanan satu-satunya di antara sikap para pemimpin umat. Dialah yang telah membangunkan kaum muslimin dan mengembalikan mereka kepada petunjuk setelah sebelumnya mereka menolak untuk membenarkan hakikat kematian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan sikap agung dari Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu ini, terjagalah manusia dari dahsyatnya tragedi kala itu. Terutama setelah dia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”(QS. Ali ‘Imran: 144)
Maka kuam muslimin pun menyadari bahwa harus menanggung beban kesabaran. Diantaranya adalah pengangkatan khalifah (pengganti) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atas musibah mereka, dan penguburan Nabi mereka Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan yang harus pertama kali dilakukan adalah mengangkat Khalifah pengganti beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sekalipun demikian para sahabat Radhiallahu ‘Anhum kala itu mereka dalam keadaan menangis, berdo’a, berdzikir, dan membaca al-Qur`an, dan segala yang serupa dengan kondisi manusia saat terjadi satu musibah besar yang menimpa mereka.
Alih-alih mereka menjadikan sikap pahlawan ini termasuk bagian dari manaqib (karamah) Abu bakar Radhiallahu ‘Anhu, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya itu malah ingin menjadikan sikap itu sebagai sisi negatif dari Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu.
Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, dan para sahabat besar, saat mereka sibuk memilih Khalifah, karena pemilihan Khalifah lebih utama daripada memakamkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sekalipun penguburan mayat adalah wajib, tetapi pengangkatan seorang khalifah lebih wajib daripadanya. Yang menguatkan hal itu adalah bahwa para sahabat yang sibuk mengurus jenazah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengingkari mereka sama sekali, bahkan mereka berbaiat saat pemilihan Khalifah selesai. Maka jadilah hal itu sebagai ijma’ (kesepakatan) bahwa pengangkatan Khalifah lebih didahulukan daripada perkara lain. Dan hal ini karena banyak sebab;
Misal, seandainyanya orang-orang murtad dan lainnya menyerang Madinah disela-sela hari itu, maka siapakah yang akan menyatukan manusia dan mengatur barisan mereka?
Misal lain, seandainya terjadi permasalahan di antara masing-masing suku di Madinah, siapakah yang akan menyelesaikan permasalahan itu di antara mereka dan siapakah yang akan ditaati perintahnya?
Misal lain, prosesi penyelenggaraan jenazah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menshalatinya, serta mengebumikannya membutuhkan seorang pemimpin yang ucapannya menjadi rujukan jika mereka berselisih pendapat terhadap sesuatu dari perkara penyelenggaraan jenazah, shalat, dan mengebumikannya, yang kemudian mereka akan menuruti perintahnya? Barangkali perkara ini akan menghantarkan kepada persengketaan dan perselisihan ucapan, maka jadilah pekrara ini menjadi perkara yang terpenting.
Adalah manusia kala itu menshalati Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri-sendiri; sekelompok orang masuk kemudian shalat sendiri-sendiri lalu keluar, kemudian masuk lagi sekelompok orang, kemudian masuklah kaum wanita setelah kaum laki-laki, kemudian anak-anak.
Di saat sebagian sahabat tidak sibuk dalam penyelenggaraan jenazah Nabi, maka sebabnya adalah karena ada orang lain selain mereka yang mempersiapkan penyelenggaraan jenazah. Maka telah diketahui oleh bangsa Arab dan selainnya, bahwa yang menyelenggarakan jenazah adalah kerabatnya. Sebagaimana tidak mungkin secara akal, ribuan orang ikut sibuk mengurusi jenazah, terutama tempat yang di sana terdapat jenazah itu sempit sebagaimana diketahui, sebagaimana pula difahami bahwa menyelenggarakan jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah. Kemudian, bahwa para sahabat tidak bermaksud mengakhirkan pengebumian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akan tetapi itu adalah sebuah kesempatan bagi orang-orang yang datang dari segenap tempat untuk menshalati beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dan tidaklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikebumikan kecuali setelah pemilihan Khalifah selesai. Di sana, saya menantang Anda, dan setiap orang yang memperdayakan Anda untuk mendatangkan satu dalil akan tuntutan Ali Radhiallahu ‘Anhu, atau salah satu putra paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kerabatnya untuk menguburkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum pengangkatan khalifah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bahwa pengebumian beliau lebih wajib daripada pengangkatan Khalifah. Atau dalil yang menunjukkan pengingkaran dan kemarahan mereka. Lihat, saya hanya meminta satu dalil saja, tidak dua.
Berdasarkan keyakinan saya, bahwa Anda tidak akan bisa menemukannya, maka saya bertanya kepada Anda, apakah Anda sekalian lebih berambisi untuk menyelenggarakan jenazah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Ali Radhiallahu ‘Anhu?
Sesungguhnya kalian ingin membangunkan api fitnah ditengah-tengah umat dengan tuntutan kalian untuk mengembalikan sejarah dengan cara yang difahami oleh musuh-musuh umat ini setelah 1400 tahun. Perkara ini menjadikan saya bertanya kepada orang-orang berakal dari Anda sekalian dengan sebuah pertanyaan hipotesis; seandainya kita berfikir sama dengan cara akal-akal Anda sekalian yang menyimpang, dan kami menerima bahwa Ali Radhiallahu ‘Anhu marah terhadap pengangkatan Khalifah sebelum pengebumian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi beliau mendiamkannya serta tidak menyatakannya demi menjaga persatuan umat, maka saya bertanya kepada Anda sekalian, ‘Mengapa Anda sekalian tidak diam juga demi menjaga persatuan umat sebagaimana dilakukan oleh Ali Radhiallahu ‘Anhu?! Maka jka Ali Radhiallahu ‘Anhu diam, sementara dia ma’shum menurut Anda sekalian, maka mengapa kalian semua berbicara pada hari ini? Apa yang Anda sekalian inginkan dibalik penghidupan api fitnah tersebut? Apakah diamnya Ali Radhiallahu ‘Anhu, yang beliau adalah Imam ma’shum disisi Anda sekalian adalah satu perbuatan yang salah?, sementara perbuatan kalian yang tidak ma’shum telah berbuat benar?
Kemudian, apakah Anda sekalian lebih banyak keberaniannya daripada Ali Radhiallahu ‘Anhu, dan ahlul bait?
Anda dan selain Anda, dari orang-orang yang sok alim, tidak mengetahui bahwa dengan syubhat ini, Anda telah menafikan sikap jantan, dan ucapan hak dari Sang Pahlawan Pemberani Ali Radhiallahu ‘Anhu. Jika tidak demikian, bagaimana dia diam dari penundaan penyelenggaraan jenazah, dan bagaimana dia diam dengan kesibukan mereka untuk mengangkat Khalifah jika dia menyatakan kesalahan perbuatan itu?
Terakhir, bukanlah orang tolol yang menjadikan Abu Bakar sebagai petunjuk, akan tetapi yang tolol adalah orang yang menyia-nyiakan nikmat akal dan menjual agamanya karena untuk mendapatkan sedikit nasi, minyak, dan mie.
Bagaimana pendapat Anda? daripada Anda sibuk mencaci para sahabat dan isteri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lebih baik Anda mencari seseorang yang mau berdialog damai dengan majalah Qiblati. (AR)*