Monday, April 27, 2015

Syiah Musuh Yahudi? Jawab 10 Pertanyaan Ini Dulu, Bro!

Sebuah tantangan kembali populer di media sosial menyusul pemberontakan Syiah Hautsi di Ibukota Yaman, San’a pekan ini. Tantangan ini berupa sepuluh pertanyaan dari ahli sunah kepada Syiah Hautsi untuk menjawabnya. Bila terjawab, siapa saja yang ikut serta dalam tantangan itu berjanji akan masuk ke aliran Hautsi.
Sejatinya, tantangan yang bertujuan membongkar kedok Syiah Hautsi tersebut telah diumumkan sejak September 2012 lalu, namun tidak ada jawaban dari mereka untuk menampik kenyataan. Isi pernyataan tantangan tersebut adalah:
“Saya umumkan kepada semua orang dan dunia menjadi saksi, bila Syiah Hautsi bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, saya akan bergabung dengan Hautsi dan tidak akan menarik keputusan saya meski dibayar dengan harga berapa pun. Saksikanlah wahai manusia! Saya menyampaikan pernyataan ini di depan kalian semua.
Dapatkah orang-orang Hautsi atau pendukung Syiah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut? Aku menantang mereka! Sampai saat ini belum ada satu pun orang Hautsi yang sanggup menjawabnya. Mereka bungkam!
1.    Pertempuran apakah yang pernah diperjuangkan oleh orang-orang Hautsi untuk melawan Amerika dan Israel? Apakah pertempuran Damaj, Al-Jauf, atau Hujjah Kasyr Hajur?
2.    Mengapa Amerika dan Israel tidak memasukkan kelompok Hautsi dalam daftar kelompok teroris? Padahal slogan ancaman selalu mereka ulangi lebih daripada bacaan surat Al-Fatihah dalam shalat?
3.    Mengapa pesawat Amerika tidak menargetkan penduduk Hautsi, baik pemimpin, individu maupun perkumpulan mereka, seperti Amerika menargetkan “teroris” dari organisasi Al-Qaidah di setiap tempat?
4.    Mengapa para pemimpin Hautsi yang hidup di antara orang Yahudi tidak ditangkapi? Padahal secara lisan, mereka melaknat Yahudi. Contohnya Yahya Al-Hautsi yang mencela Yahudi dan meneriakkan slogan-slogan perlawanan secara aman dan tenang di tengah-tengah orang Yahudi. Mengapa ia menikmati semua hak dan perlindungan penuh, dari orang-orang Yahudi?
5.    Mengapa perdana menteri Israel mengatakan bahwa jatuhnya Bashar Assad tidak berpengaruh bagi kepentingan Israel? Beri tahu kami, wahai Abdul Malik Al-Hautsi (pendiri Hizbul Ummah) dan Hassan Nasallah (maaf; Hassan Khanallah) tentang rahasia penting yang berlangsung sejak lama ini. Kalian mengatakan Suriah adalah negara yang melindungi kaum muslimin, tetapi mengapa hari ini tampak melindungi Israel? Cerita apa yang begini, wahai Abdul Malik?
6.    Mengapa Bashar Assad membunuh hampir 150.000 rakyat Suriah dan kebanyakan orang yang menuntut perubahan? Mengapa kita tidak mendengar sekali pun Bashar membunuh satu saja orang Yahudi?
7.    Apa yang kalian persembahkan kepada rakyat Yaman selain sakit kepala dan fitnah di setiap tempat yang kalian kunjungi? Di Saada, Hajjah, Taiz, Al-Jauf dan di mana saja?
8.    Bagaimana cerita pertemuan-pertemuan rahasia para pemimpin kalian di Hizbul Ummah dengan para penanggung jawab di Kedutaan Besar Amerika? Di manakah ancaman kematian untuk Amerika dan Israel, kutukan untuk Yahudi, sementara kalian juga mengutuk Inisiatif negara-negara Teluk serta mengancam rakyat Yaman bila mereka tidak mengikuti nafsu kalian? Nasihatilah Kami bila kalian berkenan!
9.    Mengapa kita tidak pernah mendengar para pemimpin Hautsi satu kali pun mengecam rezim Bashar Assad atau simpati kepada rakyat Suriah yang sedang menghadapi pembantaian brutal?
10.Bagaimana cerita tentang pernyataan Duta Besar Amerika, saat mengatakan di depan dunia bahwa ia selalu bertemu dengan orang-orang yang mewakili Hauthi?

Hasan Nasrullah petinggi Hizbullah Lebanon (kiri) dan Abdul Malik Al-Hautsi pendiri Hizbul Ummah Yaman (kanan). [foto: google Image]
Hasan Nasrullah petinggi Hizbullah Lebanon (kiri) dan Abdul Malik Al-Hautsi pendiri Hizbul Ummah Yaman (kanan). [foto: google Image]
Selain sepuluh tantangan tersebut, orang-orang yang bergabung menambahinya dengan enam pertanyaan lain:
Merdekakanlah otakmu dari tipuan!
1) Mengapa tidak ada Syiah dipenjara di Guantanamo?
2) Mengapa Barat tidak menambahkan kelompok-kelompok Syiah ke dalam daftar teroris?
3) Apa peran nyata Hizbullah di Lebanon Selatan?
4) Mengapa drone Amerika membombardir Ansar Syariah (Al-Qaidah) dan tidak membom Hauthi, padahal kedua kelompok ini sama-sama di Yaman?
5) Mengapa Prancis bersikeras mencegah upaya untuk memasukkan Hizbullah ke dalam daftar terorisme?
6) Mengapa Barat tidak membolehkan kekuasaan Islam Sunni untuk membentuk negara, baik di Afghanistan, Somalia, Mali, Yaman dan lainnya? Di sisi lain, mengapa Barat membolehkan untuk Syiah Iran untuk menjadi negara adidaya di Teluk?
7) Mengapa Syiah dibolehkan berkembang di Afrika, sedangkan yayasan-yayasan sosial Sunni dilarang?
Berhenti dan renungkanlah!!                                                                   
Sebuah pemandangan yang menunjukkan kesiapan Hautsi untuk melakukan perlawanan bersenjata pada Agustus 2014 lalu di Yaman [foto: yemen-press.com]

Sebuah foto yang menggambarkan kesiapan Hautsi untuk melakukan perlawanan bersenjata pada Agustus 2014 lalu di Yaman [foto: yemen-press.com]
Perlu disebutkan bahwa Syiah memakai cara-cara kekerasan untuk mendapatkan kekuasaan. Sebelum dunia hari ini menyaksikan pemberontakan Syiah Hautsi di Yaman, sejarah telah mencatat ulah mereka yang selalu menikam dari belakang. Dr. Majdi Ar-Rab’i, seorang spesialis dalam bidang sejarah mengatakan:
Saya telah menghabiskan sepuluh tahun hidup saya di lingkungan Syiah. Saya mempelajari sejarah, menggali jejak dan leluhur, serta konflik mereka dengan ahli sunah wal jamaah.
Hal itu saya lakukan selama menempuh perjalanan ilmiah untuk jenjang master dan doktoral dalam sejarah Syiah di Irak, khususnya, dan Iran.
Saya mengamati dengan seksama Syiah Bathiniyah yang menghalalkan darah kaum muslimin. Syiah disebarkan dengan besi dan api (kekerasan), sampai berhasil memaksa rakyat Iran untuk menerima Syiah. Mereka memaksa jutaan Sunni untuk masuk ke sekte Syiah hingga para sejarawan menghitung jumlah ahli sunnah yang dibunuh oleh negara Safawi mencapai jutaan jiwa. Mereka disembelih dengan pedang di tangan para Syiah Rafidhah. Iran telah berubah dari Iran Sunni menjadi Iran Majusi Rafidhah.
Bahkan Syiah telah melalui masa sejarah yang paling menjijikkan ketika mereka masuk ke dalam aliansi dengan orang-orang Yahudi dan Kristen melawan ahli sunah wal jamaah.
Syiah menjadi sebab terhentinya penaklukan-penaklukan di Eropa pada masa Utsmani setelah menaklukkan Eropa Timur. Padahal kaum muslimin sudah masuk ke jantung Eropa dan mampu memblokade Wina. Tetapi, serangan Syiah Safawi dari belakang memaksa kekuatan Utsmani melepaskan pengepungan Wina dan kembali lagi ke negara timur. Mimpi penaklukan Eropa dan masuknya orang-orang mereka ke dalam Islam lenyaplah sudah.
Hal tersebut mendorong seorang sejarawan senior Barat, untuk mengatakan, “Kalau bukan karena pengkhianatan Syiah Safawi terhadap kekhalifahan Utsmani, dan serangan mereka dari belakang, kekuatan Utsmani pasti sudah bisa merebut seluruh Eropa, dan Eropa berubah menjadi benua Islam.
Peristiwa-peristiwa yang saya dalami dalam jangka waktu lama dan saya hampir tidak percaya adalah bagaimana seseorang tega melakukannya padahal ia mengaku sebagai muslim.
Yaitu yang dilakukan oleh Syiah Qaramithah (salah satu sekte bathiniyah syiah) di Baitullah pada tahun 317 Hijriah. Tepatnya pada hari Tarwih, mereka menyerang para jamaah haji dan membunuh lebih daripada 30 ribu jiwa. Mereka menghancurkan kubah Zamzam, mencopot pintu Ka’bah, dan membongkar kiswahnya. Mereka menyembelih jamaah haji meskipun berlindung di balik tirai Ka’bah. Mereka mengubur para korban di sumur Zamzam. Kemudian mereka mengambil Hajar Aswad dari tempatnya dan membawanya pulang.
Ketika itulah saya percaya hakikat pernyataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah tentang Syiah Bathiniyah, bahwa mereka lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani. Bahwa memerangi mereka lebih wajib daripada memerangi orang kafir karena mereka masuk dalam hukum orang-orang murtad.
Hari ini, kita menyaksikan budak-budak Assad di Suriah membunuh dan menyembelihi ahli Sunah dalam serangkaian pembantaian keji yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Tatar. Mereka menghancurkan masjid-masjid dan menodainya. Setelah melihat fakta ini, saya yakin bahwa Bashar Assad dan kelompoknya Syiah Nushairiyah (Al-Alawiyah) adalah keturunan dari sekte Bathiniyah dan Qaramithah itu. Mahabenar firman Rabbku, ‘Sebagian mereka bagi sebagian yang lain adalah satu keturunan.’ Sejarah seperti terulang kembali!” ungkap Dr Majdi Al-Rab’i mengakhiri tulisannya. (Agus Abdullah)

Tokoh Syiah dan Sikapnya Pada Ulama Sunni

Imam Al Ghazali, bahkan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dikenal tegas sikapnya terhadap Syiah, apakah layak disebut badut dan orang yang kuper?
Oleh: Kholili Hasib
SEJAK dikeluarkan buku panduan berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” yang diterbitkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, kelompok Syiah sudah nampak kepanikannya. Setidaknya ini terlihat dengan berbagai usaha dan aksi-aksi menangkal sikap MUI.
Namun begitu berganti pemerintahan baru, komunitas Syiah Indonesia makin menunjukkan ‘kenekatannya’. Terkadang, muncul pernyataan-pernyataan yang tidak rasional dan emosional.
Seperti pada Kamis lalu (27/11/2014), Muhsin Labib, tokoh Syiah menyebut para ulama Sunni sebagai ‘badut’. “Ada sekelompok badut-badut yang ingin membubarkan. Mereka kuper dan tidak gaul,”ujar Muhsin dalam sebuah acara yang diadakan ABI (Ahlul Bait Indonesia) di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. [Baca:Muhsin Labib Sebut Ulama Yang Menyesatkan Syiah Adalah Badut]
Pada kesempatan itu, tokoh Syiah alumni Qum Iran ini secara terang-terangan menyebut ulama yang menyesatkan Syiah sebagai ulama yang berpikiran sempit dan pemikirannya terbatas.
Siapa yang disebut Muhsin badut? Tidak lain para ulama yang telah memfatwakan sesat ajaran Syiah. Pernyataan dosen UIN Jakarta sungguh tidak patut. Kita semua tahu, mayoritas ulama telah menyatakan Syiah sebagai ajaran sesat. Dengan logika itu, berarti dari ulama madzhab empat, pendiri NU (Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari), MUI sampai ulama Madura semuanya (dalam logika Muhsin),  semuanya adalah badut.
Sejak dahulu kehadiran Syiah selalu ditolak para ulama. Pada perang Salib mereka menjadi duri kaum Muslimin. Prof. Ali Muhammad al-Shalabi menceritakan peran Imam al-Ghazali dalam menghalau Syiah.
Beliau mengatakan: “Imam al-Ghazali dengan pemikirannya yang mendalam, serta pengharuhnya yang luas, telah mampu memberikan peranan kuat dalam melawan gerakan Syiah Batiniyah dan mendolong madzhab Ahlus Sunnah. Imam al-Ghazali telah mampu meletakkan ilmu-ilmu syariat dan ilmu logika yang dimilikinya sesuai porsinya; sehingga hal itu merupakan metode yang kuat untuk mencabut dan meruntuhkan Syiah Batiniyah sampai ke akar-akarnya” (Ali Muhammad al-Shalabi,Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis, hal. 219).
Dilaporkan dalam buku itu, betapa imam al-Ghazali yang ahli tasawuf menunjukkan keberanian yang tinggi dalam menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan Syiah pada masa itu. Imam al-Ghazali membuka kedok Syiah dengan menunjukkan kotradiksi dan pemikiran Syiah. Dan membukan tabir kejahatan perilaku pengikutnya yang merugikan umat Islam pada saat Perang Salib I. Syaikh Yusuf Nabhani dalam kitab Syawahidul Haq membeber sejumlah ulama yang memfatwakan Syiah sesat.
Kurang lebih 50 ulama Madura yang tergabung dalam organisasi BASSRA (Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura) pada tahun 2012 mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syi’ah yang dibawa Tajul Muluk. Mereka adalah ulama-ulama terhormat yang memiliki pesantren. Ulama yang tergabung dalam organisasi ini bukan orang bodoh, bukan pula ulama yang gila jabatan. Lihatlah, mereka memperjuangkan Ahlus Sunnah sampai ke pemerintah pusat, PBNU dan MUI.
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, figure sentral dalam jama’iyyah NU, tidak kalah tegas menyesatkan Syiah. Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syiah Imamiyyah dan Syiah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, halaman 9).
Dalam kitab tersebut, beliau mengecam golongan Syiah yang mencaci bahkan mengkafirkan Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Mengutip hadis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa’iq al-Muhriqah, Syeikh Hasyim Asy’ari menghimbau agar para ulama’ yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi Saw itu.
Hadis Nabi Saw yang dikuti itu adalah: “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap Sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci Sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”.
Warga Nahdliyyin terutama Madura jelas tersinggung oleh Muhsin Labib. Menyebut ulama sebagai badut adalah pelecehan. Ia harusnya meminta maaf terhadap ulama NU dan Madura. Bagaimana bisa seorang doktor bidang filsafat mengeluarkan statemen kasar dan emosional. Semestinya seorang doktor filsafat berbicara dengan landasan-landasan berpikir mantiqi(rasional), terstruktur dan tidak emosional.
Jika tidak terima dengan fatwa ulama yang menyesatkan Syiah, tunjukkan argument-argumen dan buat proposisi-proposisi yang menunjukkan kesalahan fatwa ulama tersebut. Dari sisi mana kelirunya? Dalil, istinbath hukum nya, ataukah dari data-data yang dimiliknya? Semua perangkat dasar ini tidak ditunjukkannya. Artinya keseluruhan argumennya tidak dapat diterima. Jika tanpa perangkat dasar berargumen ini tidak diajukan, maka soerang siswa SMA pun tidak diragukan mampu melakukan seperti statemen Muhsin Labib.
Karena dia seorang doktor bidang filsafat, maka emosional dan tidak rasional semestinya ia hindari. Akan tetapi, ternampak akhir-akhir ini panik, meski mendapatkan ‘kran’ untuk melebarkan sayapnya.
Namun, memang paradigma berpikir Syiah berasas dari pelecehan dan kebencian. Dalam kitab “al-Syiah Hum Ahlus Sunnah” dikatakan bahwa empat imam madzhab fikih Ahlus Sunnah menurut Syiah adalah kafir (Muhammad al-Tijani, al-Syiah Hum Ahlus Sunnah). Aliran ini dibangun atas dasar kebencian politis terhadap Sahabat Abu Bakar dan Umar. Sehingga kebencian terhadap mereka menjadi pandangan hidupnya. Hari ini, klaim-klaim kaum Syiah bahwa mereka tidak lagi melecehkan Sahabat Nabi Saw terbukti tidak benar. Tradisi melecehkan ini susah ditinggalkan meski dibungkus dengan rapi dan halus namun pasti akan ternampak dalam hati mereka kebencian.*
Penulis adalah Anggota MIUMI Jawa Timur


Sebuah Catatan untuk Prof. A. Syafii Maarif. Sunni Biang Perpecahan dan Diberhalakan?

Muhammadiyah menolak konsep kesucian Imam-imam (ma’shumnya imam-mam) dalam ajaran Syi’ah
Jika rumusan akidah dan manhaj Muhammadiyah itu adalah Sunni, apakah Muhammadiyah yang berusia lebih 100 tahun dianggap memberhalakan Sunni?
Oleh: Fahmi Salim
DI KOLOM Resonansi Harian Umum Republika tanggal 9 Desember 2014, Buya Maarif, sapaan akrab Prof. A. Syafii Maarif, mantan Ketum PP Muhammadiyah, menumpahkan uneg-unegnya seputar sejarah perpecahan politik dalam Islam yang melahirkan 3 sekte besar yaitu: Sunni, Syi’ah dan Khawarij. Lihat http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/12/08/ng9s7l-islam-dalam-krisis-1
Beliau, sebagai ahli sejarah, membentangkan ringkas krisis politik pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam terutama peristiwa Perang Onta (35 H/656 M) yang melibatkan para sahabat dan isteri Nabi pasca terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, dan Perang Shiffin (657 M) yang berujung kepada tahkim (arbitrase) di Daumatul Jandal. Beliau lalu menulis;
“Saya rekamkan kejadian tragis ini bukan untuk membuka luka yang telah berusia belasan abad, tetapi untuk menyadarkan kita semua bahwa sengketa yang berdarah-darah di atas sepenuhnya adalah gejala Arab, bukan mewakili Al-Quran yang dengan tegas memerintahkan agar orang beriman itu bersaudara dan berdamai. (QS: Al-Ĥujurât: 10)”
Di penghujung Resonansi-nya beliau menyatakan, “Sunni yang muncul sebagai golongan mayoritas merasa diri selalu berada di pihak yang benar dengan menuduh kelompok Syi’ah dan khawarij sebagai pihak yang salah. Cara pandang yang semacam ini harus dihalau jauh-jauh dengan menjadikan Alquran sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi.”
Tak lupa beliau dengan gemas menyatakan, “Sunni, Syi’ah, dan khawarij adalah buah dari perpecahan politik, mengapa kemudian diberhalakan? Pemberhalaan inilah yang selama ratusan tahun telah menghancurkan persaudaraan sejati umat Islam,…” (Lihat Republika tanggal 9 Desember 2014]
Pertama, saya ingin mengapresiasi buah fikiran Buya Maarif sebagai seorang pakar sejarah dan politik Islam, yang telah meluangkan waktunya untuk menuliskan kegundahannya seputar sejarah konflik sekte-sekte Islam sejak awal kemunculannya, yang kemudian direfleksikan beliau dalam konteks saat ini. Konteks sejarah modern yang masih pula melanjutkan dan mewarisi konflik sektarian masa silam. Kita semua tentu berkeinginan agar seluruh muslim bersatu, apa pun sektenya di dunia ini. Tak ada lagi mengusung sunni, syiah atau khawarij dan saling menuduh pihak-pihak lain sebagai sesat atau keluar dari Islam. Namun sejarah dan alur pemikiran Islam tidak sesederhana yang kita bayangkan, dan kadang tidak sesuai dengan yang kita idealkan.
Kedua, saya juga mengapresiasi pernyataan Buya Maarif yang masih kental “kesunnian-nya”, meski beliau bersikeras tidak ingin diasosiasikan kepada aliran Islam tertentu. Bukti kesunnian Buya adalah pernyataannya dalam bagian Resonansi itu, “Menurut hadist, sebagai sahabat nabi, mereka yang terlibat dalam peperangan ini telah dijamin masuk surga.”. Juga yang ini, “Adapun mereka itu dijamin masuk surga sepenuhnya adalah urusan Allah dengan mereka, kita tidak tahu.”
Kedua pernyataan itu hemat saya yang bodoh ini, mencerminkan alam fikiran Sunni yang memegang teguh hadis-hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang menjamin beberapa orang sahabat Nabi masuk sorga. Artinya sebenarnya beliau sangat menghormati para sahabat Nabi itu, meskipun terlibat dalam konflik politik sesama mereka. Dan tidak saya dapatkan cacian ataupun celaan Buya terhadap fakta sejarah Islam itu, sebagaimana yang khas di kalangan Syi’ah maupun Khawarij yang suka mencela, melaknat dan mengkafirkan para sahabat Nabi bahkan istri Nabi Aisyah RA. (Berbagai bukti yang melimpah soal celaan dan pengkafiran yang dilakukan Syi’ah dan Khawarij itu bisa dibaca dalam buku Khawarij dan Syi’ah dalam Timbangan Ahlus Sunnah wal Jamaah karya Prof. Dr. Ali Muhammad al-Shallabi [Pustaka al-Kautsar: 2012] dan Panduan MUI Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia [Formas: 2013], pen)
Ketiga, saya sepakat dan mendukung 100 persen lontaran positif Buya Maarif yang menyatakan, ”Cara pandang yang semacam ini (menyalahkan Syi’ah dan khawarij, pen.) harus dihalau jauh-jauh dengan menjadikan Al-Quran sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi.”
Kenapa demikian? Karena memang para ulama Islam (Ahlus Sunnah/Sunni) yang berwibawa sepanjang sejarah ketika mengkritisi dan menyalahkan doktrin dan pola pikir aliran Syi’ah dan Khawarij selalu menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Nabi sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi. Tidak pernah para ulama sunni berlaku semena-mena ketika menyalahkan (baca: menyesatkan) doktrin Syi’ah dan Khawarij, tanpa dalil-dalil yang kuat dan tegas.

Dengan fikiran positif seperti inilah, pada tahun 1997 Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. M. Amien Rais menuliskan kata pengantar untuk buku “Mengapa Kita Menolak Syi’ah?” sebagai berikut; “Kami berpendapat bahwa ada kelemahan dan kekurangan dari golongan Syi’ah itu. Oleh sebab itu kepada segenap ummat Islam dianjurkan untuk mempelajari Syi’ah secara kritis dengan tetap menjadikan Al-Qur’an dan Al-Sunnah Al-Shahihah sebagai alat dan standar penelitiannya.” (Penerbit LPPI: 1997, hlm.xiv).
Jadi lontaran Buya di kolom Resonansi tak jauh berbeda dengan apa yang dianjurkan oleh Dr. M. Amin Rais, Ketua PP Muhammadiyah (1995-2000). Hal ini pula yang melandasi keluarnya 4 butir poin hasil Pleno PP Muhammadiyah menyikapi Syi’ah sebagai berikut;
Pertama: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad yang ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian Imam-imam (ma’shumnya imam-mam) dalam ajaran Syi’ah.
Kedua: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad tidak menunjuk siapa pun pengganti beliau sebagai Khalifah. Kekhalifahan setelah beliau diserahkan kepada musyawarah umat, jadi kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum adalah sah. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep Rafidhahnya Syi’ah.
Ketiga: Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.
Keempat: Syi’ah hanya menerima hadis dari jalur Ahlul Bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun diriwayatkan Bukhari Muslim- ditolak oleh Syi’ah. Dengan demikian, banyak sekali perbedaan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah baik masalah Aqidah, Ibadah, Munakahat, dan lain-lainnya.
Sikap tersebut hendaknya menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya, sehingga dengan demikian kita bersikap waspada terhadap ajaran dan doktrin Syi’ah yang memang sangat berbeda dengan faham Ahlus Sunnah yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia. [Sumber: Majalah Tabligh No. 7/IX/ Jumadal Awal-Jumadil Akhir 1433 H, hal 5. (lihat http://koepas.org/index.php/berita/372-sikap-resmi-muhammadiyah-terhadap-syi-ah)]
TENTU saja 4 butir sikap resmi PP Muhammadiyah itu keluar setelah mengkaji doktrin dan ajaran Syi’ah Imamiyah (Rafidhah, yang berkembang di Indonesia) dengan menjadikan Al-Quran dan Sunnah Shahihah sebagai alat dan standar penelitiannya. Apalagi, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Ketua MUI Pusat bidang Pengkajian telah mensupervisi langsung buku Panduan MUI tentang “Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”.
Ijinkan saya yang bodoh ini bertanya kepada Buya Maarif yang mumpuni ilmunya melebihi kapasitas saya yang fakir ilmu. Apakah ada di dalam Al-Qur’an, ada ayat yang menyatakan bahwa imam (pemimpin politik dan agama) itu maksum (infallible, suci dari dosa)?
Adakah ayat Qur’an atau satupun hadis Nabi yang sahih menegaskan penunjukan Ali bin Abi Thalib dan 11 keturunannya sebagai imam pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam? Adakah ayat Qur’an atau hadis shahih yang menyatakan imamah Ali dan keturunannya itu adalah salah satu pokok ajaran agama Islam (termasuk Rukun Iman yang Enam)? Adakah ayat Qur’an atau hadis Nabi yang membolehkan bahkan menganjurkan kita mencela dan mengkafirkan para Sahabat dan istri Nabi sebagaimana yang diamalkan oleh kaum Syi’ah [plus Khawarij]? Adakah ayat Qur’an atau hadis sahih yang membenarkan doktrin bahwa Al-Qur’an yang di tangan muslimin se-dunia sejak wafatnya Nabi hingga saat ini dan nanti adalah palsu, tidak lengkap dan tidak orisinil, juga telah hilang karena turut hilangnya (ghaib) Imam Mahdi yang ditunggu kaum Syi’ah itu? Sebagaimana yang diimani dan didoktrinkan Syi’ah selama ini, sehingga meresahkan umat Islam di tingkat akar rumput, dengan penyebarannya yang massif.
Pertanyaan sederhana saya itu adalah dalam rangka memverifikasi doktrin-doktrin Syi’ah itu dengan Al-Qur’an dan Sunnah Shahihah yang menjadi pedoman akidah Muhammadiyah, sebagaimana keinginan Buya Maarif.
Keempat, benarkah Sunni lahir karena perpecahan politik? Tentu saja hemat saya, tidak benar seperti itu. Sunni adalah doktrin dan ajaran Islam yang diyakini dan dipraktekkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya pada masa Nabi hidup maupun sesudah wafatnya, bahkan jauh berpuluh tahun sebelum terjadinya konflik politik (Perang Onta dan Perang Shiffin) seperti yang diuraikan oleh Buya Maarif. Ia adalah akidah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah yang diturunkan langsung dari Al-Qur’an berupa penjabaran rukun Iman, Islam dan Ihsan, sikap terhadap keutuhan dan keaslian Al-Qur’an, sikap terhadap sahabat Nabi dan lain-lain. Berbeda dengan Sunni, maka Syi’ah dan Khawarij lah yang merupakan produk sejarah konflik politik tersebut. Ajaran dan doktrin mereka tidak pernah dikenal di jaman Rasulullah, sebagai puncak sempurnanya ajaran Islam sebagaimana diwahyukan Allah dalam surah al-Maidah ayat 3.
Lalu apa benar Sunni diberhalakan? Yang lalu dituding penyebab hancurnya persaudaraan sejati umat Islam? Apa pernyataan Buya tersebut tidak paradox dan justeru bertentangan dengan rumusan akidah yang baku dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah? Apakah pendapat Buya yang khas Sunni mengatakan, “Menurut hadist, sebagai sahabat Nabi, mereka yang terlibat dalam peperangan ini telah dijamin masuk surga” itu juga sebagai suatu yang diberhalakan?
Mari kita lihat pedoman akidah dalam Kitab Iman HPT Muhammadiyah halaman 22 sebagai berikut:
“Inilah pokok-pokok akidah [Rukun Iman yang Enam] yang benar sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta didukung oleh atsar yang mutawatir. Barang siapa yang meyakini semuanya itu dengan mantap maka ia adalah termasuk ahlul haq wal sunnah (golongan yang menetapi kebenaran dan konsisten dengan sunnah Nabi), dan berlepas dari ahlul bid’ah wal dholal (golongan yang menetapi bid’ah dan kesesatan).” (lihat HPT Muhammadiyah, cet. Penerbit Suara Muhammadiyah, November 2011, hlm.22-23)
Begitu pula teologi Muhammadiyah menegaskan mengikuti manhaj Ahlus Sunnah yang diistilahkan oleh HPT Muhammadiyah (hlm.13) sebagai al-Firqoh an-Najiyah min al-Salaf, yaitu firqoh yang terjamin keselamatannya dari kalangan salaf. Dimana istilah itu merujuk kepada hadis Abdullah bin ‘Amr RA, yang dimaktubkan pada halaman 23 Kitab Iman HPT, bahwasanya Rasulullah Shallahu ‘aihi Wassallam bersabda, “Niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah datang kepada Bani Israil, teladan jejak kaki mengikuti jejak kaki (hadzwan na’li bil-na’li) sampai kalau ada orang yang menggagahi ibunya dengan terang-terangan pastilah diantara ummatku ada pula yang berbuat demikian. Dan bahwa Bani Israil telah bercerai-berai menjadi 72 aliran dan ummatku akan bercerai-berai menjadi 73 aliran; semuanya masuk neraka, kecuali satu aliran”. Kata sahabat: “Siapakah aliran yang satu itu ya Rasulullah?” Jawab beliau: “Ialah mereka yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku.” (HR. at-Tirmidzi)
Jika demikian halnya rumusan akidah dan manhaj Muhammadiyah itu adalah Sunni, apakah Muhammadiyah yang telah lewat berusia 100 tahun ini pula dianggap memberhalakan Sunni, dan turut pula dituding sebagai penyebab hancurnya persaudaraan sejati umat Islam?
Pun tokoh besar ulama Muhammadiyah, Buya Prof. HAMKA, dalam artikelnya di Kompas pada tanggal 11-Desember-1980, telah menulis, “Kita di Indonesia ini adalah golongan Sunni”, “Dan saya pun tetap seorang Sunni yang tak perlu berpegang pada pendapat orang Syi’ah dan ajaran-ajaran Ayatullah”. Apakah lalu Buya Maarif berani dan tega mengatakan bahwa Buya HAMKA dengan ketegasan ucapannya itu, adalah telah menjadikan Sunni sebagai ‘berhala’, dan karena afiliasi Sunni-nya lalu dianggap ikut menghancurkan persaudaran sejati ummat Islam? Insya Allah Buya Maarif tidak setega itu.
Semoga saya tidak berlebihan menilai Buya Maarif dengan tulisan ringan ini. Dan semoga juga ada yang berbaik hati menyampaikan guratan pena ini kepada Buya Maarif, tokoh yang saya hormati. Wallahu a’lam bil-shawab.*
Penulis adalah anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah 2010-2015


Sunday, April 26, 2015

Syafi’i Ma’arif Sebut Sunni & Syi’ah Tak Ada Dizaman Nabi, Habib Zein Alkaf: Dia Sudah Pikun!

Jum`At, 27 Jumadil Tsaniyah 1436h / April 17, 2015
Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Ma’arif menilai Sunni dan Syi’ah bukanlah ajaran asli dari Al Qur’an. Ia mengumpamakan bila ingin mengambil air yang bersih itu di hulu, jangan di hilir. Sedangkan Sunni dan Syi’ah keduanya ada di hilir, maka hal itu bukan persoalan yang pokok.
Sepeti dilansir Republika pada Kamis (16/4/2015), ia mengatakan jika Sunni dan Syi’ah tidak ada di zaman nabi. Sunni dan Syiah adalah hasil yang diciptakan oleh sejarah karena pertentangan politik orang arab waktu itu. Kemudian hal itu menjalar ke theologi atau aqidah, dan sistem berfikir yang berlanjut hingga sekarang.
Menanggapi hal itu, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf menyatakan bahwa Syafi’i Ma’arif sudah pikun dan tidak tahu menahu tentang sejarah persoalan antara umat Islam Ahlu Sunnah dengan Syi’ah.
“Lebih baik saya katakan dia sudah pikun, dari pada saya katakan sebagai penjual Aqidah. Untung sudah tidak jadi Ketua Muhammadiyah,” tegas anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim ini kepada Panjimas.com pada Kamis (16/4/2015).
Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini menambahkan, dengan adanya statemen-statemen nyleneh dari sejumlah tokoh Islam dan lebih cenderung membela Syi’ah telah membuktikan kepiawaian orang-orang Syi’ah dalam melobi dan mempengaruhi para tokoh Islam di Indonesia.
“Ini semua menunjukkan kepandaian tokoh-tokoh Syi’ah melobi tokoh-tokoh kita. Dia kira perbedaan Syi’ah dengan Ahlu Sunnah itu seperti perbedaan NU dengan Muhammadiyah. Maklum bermilyar-milyar dolar Syi’ah hamburkan dalam pemurtadan di Indonesia,” jelasnya. [GA]

Ust Mustaqim, Lc : Omongan Syafii Maarif Jangan Di Gubris

Kemunculan Video Syafii Maarif beberapa waktu silam yang mengatakan bahwa Suny dan Syiah itu tidak ada di Jaman Nabi, Mendapat reaksi keras dari para asatidz. Diantaranya Ustadz Mustaqim,Lc, beliau minta omongan Syafii Maarif tidak usah di gubris.

Sepeti dilansir Republika pada Kamis (16/4/2015), ia mengatakan jika Sunni dan Syi’ah tidak ada di zaman nabi. Sunni dan Syiah adalah hasil yang diciptakan oleh sejarah karena pertentangan politik orang arab waktu itu. Kemudian hal itu menjalar ke theologi atau aqidah, dan sistem berfikir yang berlanjut hingga sekarang.

Bukan hanya itu, Mantan Pimpinan Muhamadiyah ini juga mengatakan bahwa itu semua bukan asli ajaran Al Quran. Ia mengumpamakan bila ingin mengambil air yang bersih itu di hulu, jangan di hilir. Sedangkan Sunni dan Syi’ah keduanya ada di hilir, maka hal itu bukan persoalan yang pokok.

Jumat (24/4) di Masjid Darusalam Blora, seorang alumni santri Tambak Beras Jombang, Ustadz Mustaqim mengajak Umat Islam untuk tidak menggubris apa yang di sampaikan oleh Syafii Maarif.

“Saya tahu arah tujuannya kemana apa yang di omongkan dia, jadi Omongan Syafii Maarif itu jangan di gubris, tidak layak dia itu di panggil buya, jauh sekali dengan buya Hamka, nah kalo Buya Hamka itu baru cocok” Cetus ustadz yang juga pernah menjadi Pimpinan Pondok Muhamadiyah di Klaten.

Ustadz Mustaqim menerangkan “ Seharusnya dia itu membaca sejarah islam dulu secara lengkap, agar omonganya tidak ngawur. Kalau dia berkata seperti itu gaya fikirnya, nanti kan di ketawain banyak orang”imbuhnya dengan sedikit senyuman

Ustadz Mustaqim dalam kesempatan Sarasehan Jumat Pon saat itu menerangkan dengan jelas sejarah asal muasal adanya Syiah dan siapa di balik Syiah itu sendiri. Sehingga sangat jelas jikalau ada statmen bahwa Suny dan Syiah itu bukan masalah pokok maka pemikiran tokoh tersebut telah tercampuri liberal 


Indonesia Dicaplok Syi'ah Iran Untuk Menggayang Radikalisme

Menjadi semakin gamblang bagaimana posisi Indonesia terhadap Syi'ah. Indonesia sudah masuk perangkap Syi'ah dengan adanya perjanjian antara Indonesia-Iran. Di mana Presiden Jokowi dan Presiden Republik Iran Hassan Rouhani sepakat melakukan kerja sama memberantas radikalisme dan terorisme.

Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan bilateral antara Presiden Jokowi dan Presiden Iran Hassan Rouhani di sela-sela acara Konferensi Asia Afrika 2015, di Jakarta Convention Center, Kamis (23/04/2015).

Rezim Syi'ah Iran berhasil  menyusup dalam Konferensi KAA, dan memasukan isu tentang radikalisme dan terorisme, dan semua itu bagian dari setrategi Iran yang ingin mencaplok negara-negara Islam dengan membuat isu radikalisme dan terorisme. Semua itu hanyalah membawa keuntungan bagi Syi'ah secara global. Seperti sekarang ini negara-negara Arab seperti kartu 'domino' satu-satu jatuh ke tangan Syi'ah.

Indonesia - Iran bersepakat segera mengaktifkan kembali Komisi Bersama (SKB) kedua negara untuk meningkatkan kerja sama bilateral dan kerja sama antara kedua negara dan negara Islam untuk memberantas radikalisme dan mengentaskan terorisme dengan mengedepankan sisi kebudayaan dan agama, serta kerja sama tukar informasi untuk mengatasi terorisme.

Sebagaimana dikutip laman resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia, kerja sama ini disepakati saat kedua presiden bertemu dalam pertemuan bilateral di Jakarta Kamis, (23/04/2015).

“Pertemuan bilateral juga membahas berbagai upaya peningkatan kerja sama antar kedua negara terutama di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi. Presiden RI juga  meminta agar akses ekspor kelapa sawit dari Indonesia ke Iran dapat didorong lebih banyak. Presiden juga mengundang pengusaha Iran untuk berinvestasi di bidang infrastruktur di Indonesia yang masih terbuka luas,” demikian dikutip laman Kemenlu.go.id.

Presiden Iran, Hassan Rouhani menegaskan  bahwa hubungan Iran dan Indonesia sangat penting, karenanya Presiden Rouhani setuju untuk  mendorong pihak swasta Iran hadir di Indonesia.

Menurut anggota Komisi Hukum & Perundang-undangan MUI Pusat Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, SH kerja sama ini dinilai sangat terburu-buru dan akan membawa banyakmudharat (mendatangkan keburukan) dibanding kebaikan.


Sebab menurut penulis buku “Syiah Menurut Sumber Syiah, Ancaman Nyata NKRI” ini, definisi radikalisme yang dipahami Iran (dalam hal ini Syiah, red) tidak sama dengan yang dipahami Indonesia.

“Kita harus paham dulu, apa pengertian radikalisme dalam pikiran Iran. Bagi Iran yang Syiah, semua yang melawan usaha-usaha syiahisasi dinilai intoleran dan takfiri. Jikatakfiri akan melahirkan gerakan radikal. Dan gerakan radikal bisa berujung tindakan terorisme, begitu cara pikir Iran,” ujar Abdul Chair Ramadhan.

“Nampaknya, istilah radikalisme, akan dijadikan palu godam bagi Syiah-Iran untuk menghalangi sekaligus mengamankan usaha syiahisasi di Indonesia.” Kerja sama dengan Iran ini menurut Abdul Chair, termasuk salah satu bagian keberhasilan Syiah Iran mempengaruhi pemerintah Indonesia.

Indonesia hanya mengikuti irama 'gendang' Amerika, sekarang ini Amerika sedang berangkulan dan bergandeng tangan dengan Iran, dan mengganyang terorisme dan radikalisme yang terus dikobarkan oleh Iran. Di Indonesia sedang gencar pemerintah melakuakn perlawanan terhadap terorisme  dan radikalisme . Sumbernya dari Iran. (abimontrono/dbs/voa-islam.com)

MUI kritik keras kerja sama Jokowi dengan republik Syi'ah Iran terkait isu "Radikalisme"
Presiden RI atau yang bagi sebagian kalangan dianggap sebagai "Ulil Amri" Indonesia, Ir. Joko Widodo, telah melakukan kesepakatan peningkatan kerja sama bilateral dengan Hassan Rouhani, presiden Iran. Selain bidang ekonomi, kerja sama ini termasuk menyangkut isu radikalisme dan pemberantasan terorisme.

Hal ini mendapat respon keras dari Anggota Komisi Hukum & Perundang-undangan MUI Pusat, Dr. H. Abdul Chair Ramadhan SH., yang menilai kerja sama ini adalah tindakan yang sangat terburu-buru dan akan membawa banyak mudharat (keburukan) dibanding kebaikan.

Sebab menurut penulis buku “Syiah Menurut Sumber Syiah, Ancaman Nyata NKRI” ini, defenisi radikalisme yang dipahami oleh Iran (Syi'ah) tidak sama dengan yang dipahami Indonesia.

“Kita harus paham dulu, apa pengertian radikalisme dalam pikiran Iran. Bagi Iran yang Syi'ah, semua yang melawan usaha-usaha Syi'ahisasi dinilai intoleran dan takfiri. Jika takfiri akan melahirkan gerakan radikal. Dan gerakan radikal bisa berujung tindakan terorisme, begitu cara pikir Iran,” ujar Abdul Chair Ramadhan yang dimuat oleh Hidayatullah.

Abdul Chair menyebut jika isu "Radikalisme" ini akan dimanfaatkan oleh Syi'ah-Iran sebagai senjata untuk melindungi Syi'ahisasi dan memberangus setiap upaya penolakan terhadap penyebaran Syi'ah.

Kerja sama dengan Iran ini menurut Abdul Chair, termasuk salah satu bagian keberhasilan Syi'ah Iran mempengaruhi pemerintah Indonesia.

Kekhawatiran Abdul Chair bukan tanpa alasan. Di Timur tengah, republik Syi'ah Rafidhah Iran tengah gencar menancapkan taring politiknya di berbagai negara dengan menggunakan tangan antek lokal atau milisi Syi'ah radikal-bersenjata setempat. Sedangkan di Indonesia, dalam beberapa tahun belakangan penyebaran agama Syi'ah Rafidhah makin gencar dengan banyaknya beasiswa ke Iran dan propaganda ideologi Syi'ah.

Abdul Chair juga menyayangkan presiden Jokowi yang tidak paham persoalan menyangkut masalah keumatan. Padahal pemerintah harusnya bisa berkonsultasi dahulu dengan berbagai pihak seperti MUI. (hidayatullah/rslh)

Alumni Iran Sebut Indonesia Ditargetkan Jadi Suriah Kedua
Senin 16 Jamadilakhir 1436 / 6 April 2015 19:41
MANTAN Da’i Syiah lulusan Iran, Ali Saefulloh memaparkan pengalamannya selama menjadi juru dakwah untuk merekrut masyarakat.
Menurut alumni Universitas Imam Khomeini, Qom ini, kelompok Syiah memiliki strategi yang sistematis dan terstruktur untuk mensyiahkan Indonesia. Mereka memiliki 7 divisi untuk mendekati berbagai kalangan dari mulai ulama, intelektual hingga politisi.
“Di Indonesia kelompok Syiah memiliki lembaganya. Ada 7 divisi (di antaranya) Divisi Mustasyar, Divisi Ulama, Divisi Intelek, Divisi Legislatif, Divisi Pertahanan dan Keamanan, Divisi Industri, Divisi Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Di Divisi pendidikan (ilmu pengetahuan), kita memiliki orang penting,” kata Ali Saefullah yang menghabiskan waktunya belajar Syiah di Iran selama 4 tahun.
Hal itu diungkapkan Ali dalam Maulid Nabi bertema “Memperkokoh Akidah Ahlussunah wal Jamaah dari Ancaman Aliran Sesat Syiah” di Masjid Al Kamiliyyah, Jakarta Timur.
Hadir dalam acara ini di antaranya Habib Tohir Al Kaff, Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun (MUI Pusat), Dr. Abdul Chair Ramadhan SH.MH (MUI Pusat), Drs. Ahmad Subki Saiman (Lisan Hal) beserta para habaib dan asatidz di Jakarta.
Menurut Ali, kelompok Syiah memiliki rencana matang karena sudah menargetkan Indonesia menjadi negeri Syiah.
“Saya tergabung di sebuah laskar ankatab. Itu laskar yang disiapkan untuk menajdikan Indonesia Negara Syiah. Kami merencanakan Indonesia menjadi Syria kedua. Sebelum kakek saya meninggal, beliau berpesan Indonesia sudah ditakdirkan menjadi negeri Syiah,” beber Ali. Dia mengatakan kakeknya belajar langsung di Suriah dan menjadi pengikut ajaran Syiah Nushairiyah.
Dari hasil dakwahnya, Ali mengaku telah mensyiahkan banyak orang. Dia ditugaskan khusus untuk berdakwah setelah menuntut ilmu Syiah di kampus dan hauzah Syiah di Qom, Iran.
“Kami dakwahi mereka dari Aceh hingga Irian. Saya sudah masukkan umat Islam menjadi Syiah sebanyak 300 orang. Naudzubillah,” terang dia yang memilih untuk bertaubat. [Pz/Islampos] 

Syiah Iran Membawa Misi Politik Transnasional ke Indonesia
SYIAH Iran tidak hanya membawa misi ideologi namun juga membawa misi politik transnasional. Syiah Imamiyah yang bersembunyi di balik nama ahlul bait dikendalikan secara terpusat dan sistemik di Iran kemudian disebarkan ke negeri-negeri ahlussunnah wal jamaah.
Begitulah penjelasan Dr.H. Abdul Chair Ramadhan, dalam ceramahnya di Majelis Ta’lim Asy-Syafiiyah pimpinan KH.Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Bukit Duri, Jakarta Selatan, Ahad (26/4/2015).
Penulis buku Syiah Menurut Sumber Syiah, Ancaman Nyata NKRI ini kemudian mengungkapkan apa yang pernah terjadi di Lebanon, Bahrain, Iraq, dan Yaman baru-baru ini merupakan akibat dari Syiah yang berkespansi.
“Tidak ada suatu negara yang tidak terjadi konflik akibat ekspansi Syiah. Contohnya apa yang terjadi di Lebanon, Bahrain, Iraq, dan terbaru di Yaman,” ungkapnya
Ia menilai, Indonesia sebagai negeri muslim Ahlussunnah terbesar di dunia sedang menjadi bagian target politik Syiah. Sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya, Syiah berupaya merubah nasionalisme NKRI menjadi nasionalisme Syiah.
“Faham wilayah Syiah semenjak revolusi Khomeni mengharuskan baiat. Maka dari itu yang tidak berbaiat kepada wali faqih dihukumi mati dalam jahiliyyah, tidak terkecuali Syiah Indonesia. Inilah pokok pertentangan ideologi, ushuluddin, hingga politik ” pungkasnya.
Ia juga menyerukan agar umat Islam memperkokoh persatuan dan kesatuan. Tinggalkan perpecahan di bidang furu’ yang mengarah memecah belah umat.
“Perkokoh ukhuwah Islamiyah, akidah ahlussunnah wal jamaah. Tinggalkan perpecahan dan saling membidah-bidahkan yang mengarah perpecahan umat,” tutupnya. [suandri ansyah/Islampos]