Monday, April 27, 2015

Kapolri dan Sunnah Nabi

Kemarin, Minggu (26/4), kita dikejutkan dengan kabar gembira yang kali ini datang dari kapolri baru, Jenderal Badrodin Haiti
Tanpa paksaan dan terang-terangan beliau ucapkan kalimat yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumya.
Kata-kata yang selama ini sering diucapkan oleh banyak umat Islam yang sering didiskriminasi akibat keteguhannya menjalankan ajaran Nabi.
“Tidak bisa hanya dengan celananya gantung (di atas mata kaki) dan berjenggot, lalu dicurigai IS (pelaku teror, pen),” inilah yang diucapkan Haiti di depan banyak wartawan kemarin. Ringkas, padat dan melegakan umat Islam.
Penulis tahu, andai kapolri tidak menuturkan kalimat tersebut, kita tetap akan mempertahankan jenggot dan celana cingkrang. Tapi setidaknya kapolri telah melakukan pembelaan.
Melalui pernyataannya, kapolri jelas ingin meluruskan pemahaman keliru yang beredar di banyak kalangan tentang ciri teroris
Dengan pembelaan ini, kepongahan seorang tokoh agama yang mencela, menuduh dan mencemooh pemilik jenggot sebagai radikalis wali jenggot, rontok sudah.
Dengan pernyataan ini, keangkuhan masyarakat yang menganggap jahat pria bercelana cingkrang bisa diruntuhkan.
Dengan ucapan tersebut, diskriminasi terhadap professional yang tidak mencukur jenggotnya bisa dibantah
Kalau saja pengucapnya bukan seorang jenderal berbintang empat, tentu kita tidak akan mengira bahwa negara tidak menganggap jenggot dan cingkrang sebagai musuh bersama.
Kalau saja penuturnya bukan pucuk pimpinan kepolisian, mungkin kita akan semakin curiga dan membenci aksi densus 88 yang sering menangkapi pria berjenggot yang juga cingkrang.
Harus diakui, ucapan sang perwira sangat berarti bagi kita, muslim Indonesia. Kini kita tidak perlu lagi repot-repot menepis tuduhan teroris dari para pembenci dengan dalil yang panjang berbaris.
Cukup katakan kepada mereka yang berpenyakit hati, “Menurut kapolri ini bukan ciri teroris”.
Mari kita doakan agar Jenderal Haiti diberi kesehatan, diberi keberanian dan diberi tambahan iman untuk membela kebenaran
Beliau telah memberi kita harapan. Asa bahwa masih ada pejabat baik di Indonesia tercinta
Beliau telah memuluskan jalan. Jalan dakwah dalam menyebarkan sunnah ke penjuru nusantara
Mari syukuri nikmat ini, agar semakin banyak pejabat yang dianugrahi kebaikan hati
Mari doakan pemimpin negeri, agar semakin mudah menerima kebenaran ilahi



Kerancuan Teologi Syafi’i Ma'arif

“Zullatul ‘Alim Zullatul ‘Alam,Ketergelinciran seorang alim adalah ketergelinciran alam” kata seorang ulama yang menegaskan peran alim yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup alam semesta.
Kolom resonansi Koran Nasional Republika, 21 Mei 2013, menurunkan artikel terakhir dari 2 serial tulisan Ahmad Syafi’i Ma’arif tentang Pergumulan Teologis dan Realitas Hidup. Membaca artikel berseri tersebut sangat menarik untuk kita kaji secara mendalam terutama pada seri yang kedua. Dimana pernyataan beliau yang dimaksudkan sebagai solusi dari keterpurukan umat Islam hari ini sangat lantang dan berani.
Analisa beliau tentang kondisi umat berawal dari pembacaan kata-kata Iqbal yang menurutnya sangat keras terasa dan menyinggung kita sebagai umat Islam yang hidup hari ini. Konklusinya adalah penyakit sektarianisme yang masih menggerogoti umat sebagaimana yang diungkapkan Syafi’i Ma’arif, “Sektarianisme yang dipuja itu adalah pengkhianatan telanjang terhadap doktrin tauhid yang menjadi inti teologi Islam.”
Selanjutnya mari kita simak penuturannya yang saya katakan lantang dan berani,
“Saya sudah lama berpendapat bahwa baik sunisme maupun syi’isme tidak lain dari ciptaan sejarah yang tidak muncul di era Nabi, tetapi mengapa masih diberhalakan sampai sekarang? Masing-masing pendukung sekte berkata merekalah yang mewakili Islam secara benar. Bukankan klaim serupa ini adalah sifat manusia takabbur? Bagi saya, kita harus punya keberanian teologis untuk membongkar klaim-klaim palsu hasil sejarah sengketa karena berebut kuasa di kalangan internal umat itu. Tanpa keberanian itu, saya khawatir, darah masih akan tertumpah lebih banyak lagi dari kalangan umat yang bernasib malang ini.”
Lebih jelasnya, “Sektarianisme adalah penyakit kronis peradaban, tetapi masih saja dibela orang karena dianggap benar” pungkas lulusan University of Chicago ini.
Saya mencoba untuk membandingkan solusi dan jawaban dari Syafi’i ma’arif di atas tentang kondisi umat yang kita lihat hari ini dengan solusi dan jawaban yang diungkapkan oleh utusan Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan dari Ibnu Umar,
“Jika kalian berjual beli dengan model al-‘Inah,memegang dan mengikuti ekor-ekor sapi, ridha dengan pertanian dan meninggalkan jihad maka Allah akan susupkan kepada kalian (umat Islam) kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian!”
Beberapa gambaran kondisi umat Islam yang digambarkan oleh Rasulullah dan menyebabkan keterpurukan umat diatas oleh beliau diringkas sendiri dalam riwayat lain dengan ungkapan,  Hubb al-Dunya wa karahiyat al-maut, cinta dunia dan takut mati.
Lengkapnya, ketika Rasulullah mengabarkan kepada para sahabatnya kondisi yang akan dilalui umat Islam di kemudian hari,
“Hampir tiba masanya umat-umat lain mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang mengerumuni tempat makan” ada seorang sahabat yang bertanya, “Apakah waktu itu kita (umat Islam) sedikit?” Sang Rasul menjawab, “Bahkan pada waktu itu kalian banyak, tapi kalian seperti buih/ riak yang ada di lautan. Dan pasti Allah akan mencabut wibawa kalian dari hati mereka lalu menyusupkan ke dalam hati kalian al-Wahn”, seorang sahabat bertanya lagi, “Apakah al-Wahnu itu wahai Rasulullah?”, sang Rasul pun kembali menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”
Kedua riwayat di atas dikumpulkan oleh Imam Abu Dawud dalam sunan-nya dan dinilai shahih oleh Nashiruddin al-Bani, sang Muhaddits besar abad ini.
Teks (nash) yang sangat gamblang ini membuat kita bertanya-tanya, apakah Bapak Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif lupa hadis ini atau tidak membacanya? Wallahu A’lam mana yang benar atau keduanya salah.
Karena itu, sektarianisme dalam penilaian Rasulullah bukanlah penyebab utama dari kondisi internal umat yang membuatnya rapuh, tapi umat Islam yang jauh dari agama Islam karena terpana dengan kehidupan dunia sehingga terlalu mencintainya dan takut mati itulah yang membuatnya mundur dan tertinggal dari peradaban lain. Solusi yang tepat adalah al-Ruju’ Ila al-Diin, back to Islam.
Sungguh tepat ketika Amir Syakib Arselan mengatakan,
“Kaum muslimin menjadi mundur dikarenakan mereka meninggalkan agama mereka dienullah al-Islam. Sedangkan pihak barat kafir justeru menjadi maju karena mereka meninggalkan agama mereka!” dalam bukunya yang berjudul Mengapa Kaum Muslimin Mundur Dan Kaum Selainnya Maju?
Pendapat Arselan diperkuat oleh argumen Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, yang berpandangan bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah terkait erat dengan ilmu pengetahuan sebagai akar dari sebuah peradaban, katanya,
“Peradaban Islam hakekatnya dibangun atas dasar ilmu pengetahuan Islam yang merupakan produk dari pandangan hidup islam yang dipancarkan oleh al-Qur’an dan Sunnah. Maka dari itu, tantangan yang mendasar dihadapi yang dihadapi oleh peradaban Islam masa kini adalah problem ilmu pengetahuan. Konsep dan tujuan ilmu dalam Islam telah bercampur dengan konsep dan tujuan dari wordlview Barat sekuler. Dari sini masalah berkembang ke bidang social, politik, ekonomi, pendidikan dan bahkan merambah ke bidang budaya dan gaya hidup. Ide-ide para pemikir seperti decorates, Karl Marx, Memanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya dapat mempengaruhi dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dulu dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Imam Ghazali, Ibnu Khaldun dan lain sebagainya mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. jadi ringkasnya, membangun peradaban Islam harus merupakan kerja strategis dan sinergis membangun pemikiran umat Islam, melalui tradisi ilmu dan selanjutnya disebarkan secara sinergis pula ke tengah masyarakat sehingga ide-ide cendikiawan atau ulama yang otoritatif dapat menjadi motor perubahan.” (orasi ilmiah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam rangka ulang tahun Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) yang disampaikan di Tawangmangu, 26 Januari 2013).
Takabbur
Selain itu, komentar beliau terhadap orang-orang yang masih memberhalakan sektarianisme yang dikatakannya takabbur perlu dicheck and recheck lebih dalam. Apakah benar orang tersebut benar-benar takabbur? Ataukah mereka melakukan itu karena melihat agama ini dinodai oleh ajaran yang menyesatkan sehingga merekapun tampil membela kesucian agama ini.
Sebutlah para ulama, zuama dan cendikiawan muslim yang duduk dalam Majelis Ulama Indonesia, dimana mereka katakan bahwa metode berislam yang benar haruslah sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975, hal 46 tentang faham Syiah dan hal 841 tentang Taswiyat al-Manhaj; Penyamaan Pola Pikir dalam Masalah-masalah Keagamaan).
Apakah para ulama, zuama dan cendikiawan muslim itu adalah manusia-manusia takabbur ketika menetapkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah manhaj yang benar dalam mengamalkan Islam?
Lebih dari itu Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Saya belum pernah melihat orang-orang ahli bid’ah yang paling pembohong dalam pengakuan-pengakuannya dan paling sering bersaksi palsu lebih dari Rafidhah (sekte Syiah).” Lihat Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra, 2/545.

Apakah Ahmad Syafi’i Ma’arif menilai Imam Syafi’i melalui ucapannya pada paragraf di atas adalah orang takabbur? siapa yang tidak mengenal kebesaran dan kehebatan Imam Syafi’i dalam menelorkan hukum-hukum fiqh? Na’uzubillah. (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)


[ Peristiwa Lama ] Syiah dan Kesalahpahaman “Pembelanya”

Oleh: Fahmi Salim, MA

DALAM artikelnya di Republika (27/1/2012), saudara Haidar Bagir kembali menanggapi artikel bantahan yang ditulis oleh Muhammad Baharun dan saya dengan judul "Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat (Tanggapan untuk Muhammad Baharun dan Fahmi Salim), (Republika, 27 Januari 2012). Sebelumnya, perlu disampaikan, dalam setiapmunazharah (debat ilmiah) perlu ada kode etik (adabul baths). Dan salah satu kode etik yang selalu saya pegang dari Al-Azhar Mesir, -- almamater saya -- adalah kaidah yang menyatakan, “in kunta naqilan fa’alayka bil-shihhat wa in kunta mudda’iyan fa’alayka bi-d-dalil” (jika Anda menukil pendapat, maka harus benar-benar diverifikasi dan jika Anda mendakwa maka harus mendatangkan dalil).



Dalam konteks inilah, Haidar keliru. Saat menyebutkan satu-dua dakwaan atau nukilan, ia tidak menyebut sumber apalagi memverifikasi kesahihannya. Jadi harap dimaklumi. Tak bermaksud semena-mena, tetapi menaati kode etik, yang mungkin ditafsirkan lain. Ini berbeda dengan ulama salaf yang dengan amanah telah menyebutkan sanad lengkap, dan menjadi tugas peneliti selanjutnya untuk memverifikasi kebenarannya.

Pertama, masih soal Tahrif (distorsi dan ketidaklengkapan) Al-Qur’an di kalangan Syiah dan Sunnah. Saya tegaskan bahwa Ahlusunnah secara mutlak menerima keotentikan, kelengkapan dan kemutawatiran mushaf Usmani yang ada saat ini --tanpa ada pengurangan dan tambahan sedikitpun. Namun tak jarang, kalangan Syiah menuduh balik bahwa indikasi tahrif banyak ditemukan dalam riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab hadis standar di kalangan sunnah. Saudara Haidar telah menyebutkan di antara contoh sebagiannya.

Contoh-contoh riwayat yang berbau ‘Tahrif’, yang disebut Haidar, sangat akrab di kalangan pengkaji ilmu Al-Qur’an dalam kajian Nasikh-Mansukh. Berbagai literatur seperti Al-Burhan (vol.2/41-46) karya Az-Zarkasyi, Al-Itqon (hlm.332&336) karya As-Suyuthi dan Manahil Irfan (vol.2/154-155) karya Az-Zarqani memberi contoh hadis Sayidah Aisyah tentang hukum 10 kali susuan yang dinasakh oleh 5 kali susuan (HR.Muslim) untuk kategori nasakh (konsep abrogasi) baik pada hukum dan bacaan Al-Qur’an. Sedangkan riwayat Sayidina Umar tentang ayat rajam (HR.Bukhari) dan riwayat Ubay ibn Ka’ab tentang ayat rajam (HR.Ibnu Hibban), dijadikan contoh untuk kategori nasakh pada bacaan saja, dan hukumnya tetap berlaku.

Menilai riwayat-riwayat yang dikategorikan nasikh-mansukh menurut konsep ‘Ahlusunnah’, dan menyamakan dengan ‘Tahrif’ adalah suatu kekeliruan yang mendasar. Ulama Ahlusunnah memandang adanya nasakh di dalam Al-Qur’an, --- yang tentunya adalah hak prerogatif Allah SWT dan hanya bisa terjadi selama Rasulullah hidup dan atas kewenangannya –bukan suatu distorsi (Tahrif) dan ketidaklengkapan Al-Qur’an.

Nukilan dari Aisyah, seperti dikutip Haidar, bahwa surah Al-Ahzab aslinya 200 ayat lalu tersisa hanya 73 ayat dalam mushaf Usmani, ditinjau dari sanadnya dhoif. Karena hadits itu diriwayatkan oleh Abu Ubaid (penulis Fadha’il Al-Qur’an) sampai ke Aisyah, yang rawinya Ibnu Lahi’ah dinilai mukhtalit (hafalannya amburadul) setelah kitab-kitabnya hangus terbakar, sehingga sanadnya dhoif/lemah (Mizan Al-I’tidal vol.2/475-477). Demikian pula nukilan dari Ubay ibn Ka’ab bahwa jumlah surah Al-Ahzab setara dengan Al-Baqarah (286 ayat), ternyata seorang rawinya Al-Mubarak ibn Fadhalah adalah mudallis yang dinilai dhoif/lemah, seperti penilaian Abu Dawud dan Abu Zur’ah dalam Al-Mudallisin(vol.1/80).

Nah, tidak seperti dikesankan Haidar bahwa fakta itu ditengarai bentuk Tahrif, lagi-lagi jika mau jujur, justru riwayat Aisyah dan Ubay di atas ditempatkan oleh As-Suyuthi dalam kategori nasakh tilawah (lihat hlm.336). Artinya, Suyuthi ingin menegaskan bahwa sisa 127 ayat atau 213 ayat semuanya telah dinasakh bacaan dan hukumnya. Kecuali ayat Rajam yang hukumnya tetap berlaku meski bacaannya telah dinasakh. Inilah yang ditegaskan kembali oleh Al-Bayhaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (vol.8/211), Qadhi Abu Bakr Al-Baqillani dalam Al-Intishar lil Qur’an (vol.1/406), dan Ibnu Hajar Asqallani dalam Fathul Bari (vol.12/144).

Jadi kesimpulannya, riwayat-riwayat itu hanya untuk konteks nasikh-mansukh, dan bukan pembuktian terjadinyaTahrif dalam Qur’an menurut ulama sunni. Saudara Haidar sebagai pendukung Syiah seharusnya memahami masalah ini. Menyamakan atau sengaja mengaburkan konsep Naskh dengan Tahrif jelas kesalahan fatal. Jangan memaksakan cara pandang Syiah pada referensi kaum Sunni.

Selanjutnya, yang kedua, soal riwayat pengutukan Ali ibn Abi Thalib. Saya tidak memungkiri ‘adanya’ cerita-cerita fantastis yang tertuang dalam buku-buku tarikh yang Saudara Haidar sebutkan. Namun sekali lagi, sumber tertua pangkal dari cerita itu adalah riwayat Ibnu Sa’d dalam Thabaqat. Jika Ali Al-Madaini bisa sedikit ditolerir, namun kelemahan riwayat lebih berat karena faktor guru al-Madaini yaitu Luth ibn Yahya Al-Kufi. Dia lah yang saya maksud semua pakar dan imam hadits menilainya lemah. Al-Dzahabi dalam Siyar A'lam An-Nubala (vol.7/301-302) menulis: "Abu Mikhnaf Luth ibn Yahya Al-Kufi, penulis kitab tasnif dan tarikh, meriwayatkan dari Jabir al-Ju'fi, Mujalid ibn Sa'id, Sha'qab ibn Zuhair, dan sekelompok orang tak dikenal (majhulin)…Yahya ibn Ma'in berkata: (orang ini Luth ibn Yahya) tidak tsiqoh, Abu Hatim berkata: hadisnya ditinggalkan, Ad-Daruquthni berkata: tukang pemberi kabar yang lemah. Selain itu, Abu Mikhnaf adalah tukang berita yang rusak dan tak dipercaya. (Mizan Al-I’tidal, vol.3/409)

Mengutip riwayat Sahih Muslim dari Sahl ibn Sa’ad (no.2409) juga kurang tepat dalam konteks pengutukan. Sebab Imam Muslim justru memasukkan hadits itu dalam Bab Min Fadha’il Aly ibn Abi Thalib (Keutamaan Ali R.A.).

Memang tidak mudah menyeleksi riwayat yang tertuang dalam buku-buku sejarah, juga menganalisanya secara adil. Apalagi sering dijumpai oknum-oknum tertentu dengan motif politis memperkeruh suasana dalam setiap periode penulisan sejarah. 

Penting dicatat, Ahlusunnah sepanjang sejarah tidak pernah membela, merestui dan apalagi menjadikan pengutukan terhadap para sahabat dan ahlul bait Nabi – terlebih Sayidina Ali -- sebagai akidah atau dendam kesumat yang tertanam kuat secara resmi.
Bisa dibayangkan, dengan asumsi cerita kutukan terhadap Sayidina Ali selama 70 tahun (yang diragukan kebenarannya) itu sudah sangat tercela, bagaimanakah lagi pengutukan terhadap Khalifah Abu Bakr dan Umar, serta istri Nabi yang dilestarikan lebih dari 1000 tahun–dan entah sampai kapan-?

Dalam I’tiqad Ahlusunnah, semua sahabat dan keluarga Nabi, tanpa terkecuali, adalah orang-orang mulia yang terdidik dalam madrasah nubuwwah dan berjuang bertahun-tahun menegakkan panji Islam bersama Rasulullah. 

Pengorbanan nyawa, harta dan keluarga sudah tak terhitung. Mustahil rasanya, manusia-manusia yang disanjung berkali-kali dalam Al-Qur’an dan hadis nabi, mereka sontak berubah menjadi manusia tak bermoral dan beragama seketika hanya karena rebutan tahta dunia. Kecuali jika kita hendak katakan, bahwa Rasul telah gagal total dalam dakwahnya dan Allah SWT salah karena telah memuji kualitas iman mereka. Ini sama artinya merendahkan Allah dan Rasul-Nya, Wal’iyadzu billah!

Polemik ini semoga lebih membuka wawasan umat, bahwa masih ada ganjalan-ganjalan teologis dan historis dalam hal hubungan muslim Sunni dan Syiah. Jurang perbedaan antara keduanya juga lebar baik dalam aspek ushul akidah maupun furu’ agama.
Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan bersama, juga demi keutuhan bangsa ini, maka benarlah ajakan Saudara Haidar agar semua elemen Syiah tidak mendakwahkan ajarannya di tengah mayoritas mutlak Sunni. Jika himbauan itu tidak diindahkan serius, terus terang saya kuatir nasib persatuan bangsa ini, dimana muslim sebagai mayoritas, akan terkoyak dan tercabik-cabik. Cukup sudah pengalaman konflik sektarian di Iraq, Libanon dan Pakistan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Sayangnya, Penerbit Mizan yang dipimpin Saudara Haidar, sejak 1983 terus-menerus menerbitkan buku berjudul Dialog Sunnah-Syi’ah –sebuah dialog fiktif yang dikarang Syarafuddin Al-Musawi- yang mengandung fitnah dan penghinaan terhadap Istri Nabi Muhammad saw, terutama Aisyah R.A.

Terakhir, apa yang saya tulis ini adalah bagian dari tawashaw bil-haq dan tawashaw bil-shabr secara objektif, ikhlas, dan tajarrud pada al-haq seperti harapan Sdr. Haidar. Agar umat semakin cerdas dan dewasa. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)


Artikel terkait :


Update Perang Yaman, Membendung Hegemoni Syiah Iran di Timteng

Oleh Abdullah Haidir
Riyadh, Saudi

1. Saya coba meneropong lagi peristiwa2 yang terjadi di timteng beberapa hari belakangan ini...

2. Dalam perang Yaman, pasukan koalisi masih terus serang basis2 militer pemberontak houthi dan pasukan loyalis Ali Abdullah Saleh (mantan presiden Yaman sebelum Arab Spring)...

3. Sementara di sisi lain, di darat, pasukan rakyat Yaman semakin terus merangsek dan berhasil merebut beberpa pos2 militer pemberontak houtsi

4. Meskipun belum dpt dikatakan bhw houthi berhasil dilumpuhkan, namun hingga kini tidak ada berita perlawanan berarti yg mrk lakukan...

5. Justeru yg banyak mrk lakukan adalah taktik2 jahat, spt menculik tokoh2 politik dn masyarakat, arahkan senjata ke perkampungan sipil, dll

6. Untuk hindari serangan udara thd simpanan persenjataan, pemberontak houtsi simpan senjata2 mereka di lapangan2 olahraga dan sekolah2...

7. Kalaupun diserang juga, tentu mrk akan buat opini serangan koalisi yang menyasar bangunan2 sipil. Ada juga cara busuk lain yg mereka lakukan

8. Yaitu memutus suplay air dan listrik utk rakyat di daerah2 yang mereka kuasai. Sebagai bentuk hukuman terhadap rakyat yg melawan mereka.

9. Di sisi lain, pemberontak houthi ingin memindahkan medan pertempuran ke perbatasan Yaman Saudi.. tentu bertujuan ganggu stabilitas Saudi...

10. Beberap hari lalu diberitakan 3 perwira Saudi gugur dan puluhan luka2 u/ hadang pasukan houthi yg coba terobos perbatasan..

11. Hal ini bangkitkan kesadaran ribuan warga saudi utk ikut2an menjaga perbatasan. pemandangan cukup menarik... http://sabq.org/6L3gde

12. Entah ada kaitannya atau tidak, mufti Saudi, Syekh Alu Syaikh, dlm khutbah jumatnya usulkan adanya wajib militer kpd para pemuda Saudi..

13. Beliau katakan, tujuan dari usulnya ini adalah agar para pemuda terdidik dlm amal soleh dan siap berjihad bela agama dan Tanah air..

14. Namun harus diakui, pasukan houthi ini memang cukup kuat. Diperkirakan, persenjataan mereka lebih lengkap dari militer Yaman sendiri...

15. Saat mereka berhasil kuasai Negara, memang getol jarah senjata dari gudang2 senjata milik pemerintah, belum yg disuplay dari luar...

16. Seblumnya ramai diberitakan, berhasilnya pasukan rakyat menawan dua orang pasukan garda revolusi Iran yg ikut berperang bersama houthi..

17. Jadi memang houthi ini benar2 sudah dipersiapkan utk menjadi satelit Iran utk ekspansi Negara tsb di dunia Arab...

18. Tentu semua masih ingat, ketika houthi berhasil rebut ibukota Shana'a, Iran menyambut hangat hal itu, kaum syiah bergembira ria....

19. Bahkan saaat itu, mereka katakan Shana'a kini menjadi ibukota keempat Iran setelah Beirut (Lebanon), Baghdad (Irak) dan Damaskus (Suriah)..

20. Maka wajar, Negara yg paling menentang keras atas penyerangan thd houthi ini adalah Iran dan 'anak buahnya' khususnya Hizbullah Lebanon..

21. Dari mulai pemimpin spiritualnya, Khamenei, hingga presidennya Ruhani, keluarkan statement keras agar Saudi hentikan serang thd houthi..

22. Tak sampai di situ, mereka pun sudah mulai menggerakkan armada mliter lautnya ke perairan internasional mendekat perairan Yaman...

23. Namun Saudi dengan tegas nyatakan menolak ajakan Iran tersebut. Hingga kini memang belum tampak adanya arah ke meja perundingan...

24. Maklum saja, saat houthi menguasai Shana'a, berkali2 mereka diajak berunding dg semua elemen yaman, mereka menolak.... jumawa betul

25. Jadi, melihat kasus Yaman, jangan hanya dilihat sekarang ini saja, lihat pula kejadian2 kebelakang, betapa houthi ini sangat melampaui batas

26. Kemana mereka yg kini 'menangisi' houthi karena diserang koalisi, saat houthi menyerang dan menduduki kota2 di Yaman satu persatu...

27. Di kota Dammaj, saking bencinya syiah Houthi dg apa yg mereka sebut 'Wahabi' setelah di perangi, penduduknya diharuskan migrasi ke kota lain...

28. Puncaknya adalah ketika mereka menduduki Shana'a dan mengkudeta pemerintah sah Abdul hadi manshur.  Semua ini harus dilihat juga...

29. Tapi memang, media syiah sangat kuat, berbagai opini mereka munculkan seakan mereka terzalimi. Padahal merekalah sumber kezaliman itu..

30. Bayangkan saja, Bashar Asad jatuhkan ratusan bom gentong di atas pnduduk sipil Suriah, luput dr perhatian, lalu mrk kecam serangn thd houthi

31. Perhatikan, dlm 12 hari terakhir ini, rezim Bashar yg kalap telah bunuh 1500 rakyat Suriah dg pesawat2 tempurnya http://t.co/e7uepxjguq

32. Atas nama membela hak2 rakyat Yaman, kaum Syiah tuntut hentikan serangan thd houthi. kemana mereka saat houthi buat kerusakan thd Yaman?

33. Lagipula rakyat Yaman mana yg mrk maksud? sebagian besar rakyat Yaman  justeru bangkit dn bentuk pasukan perlawann thd mrk...

34. Sekali lagi, kemampuan media syiah menggiring opini memang hebat. Isu Israel ikut pasukan koalisi pun mereka goreng.... dan banyk yg percaya

35. Memang banyak yg perkirakan, Iran sangat terkejut dan panik dengan serangan koalisi ini. Tidak mereka perkirakan sebelumnya...

36. Rencana mereka untuk menancapkan kukunya di gerbang jazirah Arab bisa gagal jika operasi militer koalisi ini berhasil.

37. Yg lebih menakutkan mereka lagi tentu saja jika perlawanan thd upaya hegemoni Iran ini berlanjut di Suriah dan Irak...

38. Bahkan di dalam negeri Iran sendiri, sebenarnya bukan tanpa masalah. secara politik mrk terpolarisasi antara kubu konservatif dan reformis..

39. Sementara itu, beberapa wilayah bagian di Iran seperti di Ahwaz dan Blusistan sudah sejak lama terjadi perlawanan rakyat thd rezim Iran..

40. Ahwaz adalah wilayah yg dihuni etnis Arab suni dan kaya minyak. Ratusan aktifis yg telah digantung rezim Iran dg tuduhan lawan penguasa.

41. Hingga kini daerah ini terus bergolak. Rezim Iran pun semakin represif. Ironis kalau berikutnya mereka pura2 menangisi rakyat Yaman...

42. Tentu tak banyak terekspos media, apalagi di Tanah air ttg perlakuan rezim Iran thd rakyatnya yg suni khususnya di Ahwaz sana....

43. Perang Yaman ini awalnya memng masalah politik, tapi muatan idiologisnya sangat kuat. Ada yg pura2 tdk tahu soal fakta idiologis ini.

44. Implikasinya pun diperkirakan dpt merubah konstelasi politik regional bahkan internasional, khususnya terkait dg terbangunnya poros baru...

*dari twit @abdullahhaidir1 (13/4/2015)


Kontradiksi Syiah: Catatan untuk Buku “Kesesatan Sunni-Syiah”

Oleh: Kholili Hasib
POLEMIK Ahlus Sunnah-Syiah tentang kesesatan Syiah di harian Republika tahun lalu ternyata membuat kelompok Syiah meradang. Kemarahan dan kegalauan Syiah ditumpahkan dalam buku berjudul “Kesesatan Sunni-Syiah, Respon atas Polemik di harian Republika” ditulis oleh Babul Ulum (BU), mahasiswa s-3 UIN Jakarta dan alumni pesantren Gontor.
Diterbitkan oleh Aksara Pustaka Depok pada Januari 2013. Bahasa yang ditulis dalam buku tersebut cenderung tidak memakai etika serta adab terhadap tokoh dan institusi terhormat.
Dalam pengantarnya, BU menuduh MUI memprofokasi umat Islam Sampang untuk berbuat anarkis, “Para pelaku kriminal tersebut berbuat anarkis karena merasa telah memperoleh lampu hijau dari para provokator yang bergabung dalam MUI Sampang dan Jatim”.
Dalam pengantarnya tersebut BU juga melemparkan tuduhan bahwa MUI Jawa Timur dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menebar virus kebencian antarsesama umat Islam.
Tentu saja, bagi yang sudah menelaah fatwa MUI Jawa Timur yang diterbitkan pada 21 Januari 2012 akan mudah menyimpulkan bahwa si penulis dan mungkin saja tokoh-tokoh Syiah lainnya sedang ‘terbakar emosinya’, sehingga tidak utuh membaca butir-butir fatwa MUI Jatim.
Sebab, tidak ada sama sekali himbauan, surat resmi apalagi fatwa untuk menyerang pemeluk Syiah di Sampang Madura. Fatwa itu diterbitkan juga bukan untuk memancing amarah Syiah, tapi justru untuk mengamankan antara Sunnah dan Syiah. Syiah pasti keberatan dengan fatwa tersebut, karena kedok-kedok kesesatannya terbuka.
Mari kita telaah fatwa itu secara utuh. Dalam rekomendasinya MUI Jatim menulis tujuh butir.
Pada butir (b) tertulis: “Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam”.
Pada butir (e) rekomendasi fatwa itu tertulis, “Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga harus ada penanganan secara komprehensif”.
Latar belakang diterbitkannya fatwa sesat tersebut justru karena dipicu ajaran Tajul Muluk yang menghina sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Tajul dihukum dua tahun penjara.
Jadi, siapakah yang provokator di Sampang? Akal sehat pasti akan menyimpulkan bahwa pelaknatan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam oleh Tajul-lah yang memicu Sampang membara. Sebelum ada ajaran pelaknatan, umat Sampang aman, dan damai. Jika BU dan kelompok Syiah Indonesia membela Tajul, berarti sama saja menyokong tumbuhnya benih-benih permusuhan terhadap umat.
Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, Syiah selalu menghindar untuk berdalil menggunakan kitab-kitab standar mereka. Mereka mencari-cari dalil di kitab Ahlus Sunnah dengan cara memutilasi penafsiran dan kalimat. Strategi ini untuk mengelabuhi umat Ahlus Sunnah bahwa basis ideologi Syiah juga ditemukan di referensi Ahlus Sunnah. Inilah bentuk taqiyah akademik Syiah.
Di antaranya menyodorkan riwayat Ibnu Asakir yang terdapat dalam Tarikh Dimasyqa yang berbunyi:
لكل نبي وصي ووارث وإن عليا وصيي ووارثي
“Setiap Nabi mempunyai seorang washi dan pewaris. Sesungguhnya Ali adalah wahiku dan pewarisku”.
Padahal riwayat ini menurut Imam al-Suyuthi palsu (lihat Lu’lu’ al-Mashnu’ah fi Ahadits al-Maudhu’ah jilid I hal. 368). Begitupula imam al-Zarqani, menurutnya hadits ini tertolak, sanadnya tidak jelas.
Hadits berikutnya berbunyi:
أنت مني بمنزلة هارون من موسى
“Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa.” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini menjadi andalan Syiah untuk melakukan tipuan terhadap jamaah Ahlus Sunnah. Bahwa akidah Syiah telah dilegitimasi oleh hadits Sunni.
Syeikh Ali Ahmad as-Salus dalam Ma’a al-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah fi al-Ushul wa al-Furu’ (mausu’ah syamilah) Dirasa Muqaranah fi al-‘Aqoid wal Tafsir yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia “Ensiklopedi Sunnah-Syiah”, menjelaskan secara utuh asabab al-wurud hadits tersebut.
Ketika perang Tabuk, Ali dipercaya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk menggantikan tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di Madinah. Ali bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mempercayaiku sebagai pengganti tugasmu bagi kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau tidak mau untuk aku jadikan seperti kedudukan Harun dari Musa, akan tetapi ketahuilah bahwa tidak ada Nabi sesudahku”.
Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali sebagai orang kepercayaan Rasulullah saat Rasulullah berangkat perang di Tabuk. Hadits ini tidak menunjukkan pengangkatan Ali sebagai Khalifah.

Tidak ada term yang jelas dan lugas dalam hadits itu. Penunujukan Rasulullah itu ternyata sudah biasa beliau lakukan kepada sahabat-sahabat yang lain, selain Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah mengangkat Ibn Abi Maktum untuk mengganti tugas Rasul sebagai kepala pemerintahan di Madinah saat Rasul perang dengan Bani Nadhir dan Khandaq.
Begitupula pernah menunjuk Ustman bin Affan ketika beliau keluar dalam perang Dzaturriqa’ dan menunjuk Abdul Mundzir ketika Nabi berangkat perang Badar.
Jika penunjukkan Ali pada perang Tabuk itu oleh BU dianggap sinyal bahwa Ali menjadi Khalifah Rasul atau Imam, tentu konsekuensinya Ibnu Abi Maktum, Ustman, dan Abdul Mundzir juga harusnya menjadi Khalifah Rasul dan imam bagi kaum Syiah. Tapi kenyataannya justru kaum Syiah melempar sahabat Ustman dari barisan murid Rasul yang adil. Bahkan dicela dan dimaki.
Lagi-lagi, Syiah melakukan manipulasi penafsiran. Sejatinya ini bukan perbedaan penafsiran hadits, tapi penyelewengan atau penyesatan hadits Rasul. Tentu saja berbeda antara penafsiran dan penyesatan. BU membela diri bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah itu pada perbedaan interpretasi. Ia menulis, “Jadi masalahnya di sini pada perbedaan interpretasi. Dalam masalah ini semestinya tidak boleh ada klaim kebenaran dan saling menyesatkan. Masing-masing pihak memiliki kaca mata kebenaran yang berbeda” (hal. 22).
Pembelaan diri Syiah biasanya dengan mengangkat logika relativisme dan menutupi dalil dalam referensi standar Syiah. Relativisme adalah ajaran bahwa tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai agama. Satu keyakinan tidak boleh mengklaim memiliki kebenaran absolut yang paling benar. Ajaran ini merupakan inti paham liberalisme. Jika telah terpojok Syiah biasanya memakai pisau ini untuk membela diri.
Klaim syiah bahwa Ali sebagai Imam itu bagian dari akidah Syiah. Bahkan dari akidah ini syiah memperlihatkan sebagai sekte Takfiri. Al-Kulaini, penyusun kitab al-Kafi, mengatakan bahwa orang yang tidak mengakui Ali sebagai imamah adalah musyrik (Muhammad bin Ya’qub al-Kulayni, al-Kafi juz I hal. 427). Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya ungkapan lafadz Syirik dan kufur itu ditujukan untuk orang yang tidak beriman terhadap keimamahan amirul mu’minin (Ali)” (al-Majlisi, Bihar al-Anwar juz 23 hal. 390).
Dua hadits di atas dalam pandangan Syiah, merupakan hadits-hadits dalam kategori akidah. Sehingga penyelewangan Syiah terhadap makna hadits sangat terlampau jauh. Oleh sebab itulah, maka ini bukan sekedar beda tafsir. Yang tepat ini penyesatan makna hadits. Perbedaan penafsiran itu memang ada di kalangan ulama’. Tapi perbedaan penafsiran pendapat itu biasanya terjadi dalam ranah ijtihadiyah dalam teks-teks yang bersifat dzaniyyat. Perbedaan ini dapat pula disebut tanawwu’ (variatif) (Ibn Taimiyah, Iqtida’ Shirat al-Mustaqim,124).
Kontradiksi cukup kelihatan ketika BU menyodorkan hadits riwayat Bukhari, bahwa terdapat satu riwayat tentang murtadnya sebagaian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diakui shahih oleh Ahlus Sunnah. Hadits tersebut berbunyi:
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, ‘Pada hari kiamat segolongan dari sahabatku (ashabiy) akan menghampiriku. Tiba-tiba mereka dijauhkan dari telaga. Maka aku berkata, ‘Tuhan! Mereka para sahabatku’. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah murtad dari apa yang telah diperintahkan.” (HR. Bukhari).(hal. 34).
BU mengomentari hadits tersebut, “ … tidak berlebihan sekiranya kita simpulkan bahwa hadits murtadnya sahabat adalah mutawatir”. Menurut BU, MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin menuduh Syiah memurtadkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah keliru. Sebab, katanya, justru Syiah mengetahui kemurtadan sahabat dari riwayat Ahlus Sunnah (baca hal. 35).
Logika BU tampak makin terlihat kebingungan. Pada halaman-halaman sebelumnya ia menolak Syiah dikatakan memurtadkan sahabat, dan membela Tajul Muluk. Namun, di halaman 34-35 ia menyodorkan hadits Bukhari bahwa Syiah mengetahui kemurtadan shabat dari hadits Bukhari tersebut. Artinya, BU sesungguhnya mengakui ada sahabat yang murtad, meski itu diakui ‘nyontek’ dari hadits Bukhari.
Lantas bagaiman hadits riwayat Bukhari di atas? Dalam kitab Fath al-Bari 13 hal.197, al-Khattabiy menjelaskan hadits ini:
قال الخطابى: لم يرتد من الصحابة أحد وانما ارتد قوم من حفاة الاعراب ممن لا نصرة له فى الدين وذلك لا يوجب قد حا فى الصحابة المشهرين
Al-Khathaby berkata: “Tidak seorangpun dari sahabat-sahabat Nabi telah murtad, tiada lain sesungguhnya yang murtad adalah kelompok dari pembelot-pembelot di kalangan bangsa Arab pedesaan, itu kelompok yang tidak pernah menolong kepentingan Islam.”
Pada kitab dan halaman yang sama Imam ‘Iyadl dan al-Baji mengatakan bahwa yang tidak bisa minum air di al-Haudl adalah orang-orang yang murtad di masa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Mereka adalah orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar. Pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, terdapat orang-orang yang baru masuk Islam murtad dari Islam. Namun yang murtad tidak ada dari para pembesar-pembesar sahabat. Orang yang murtad ini bukan lagi al-shahabat, sebab definisi sahabat adalah orang yang beriman yang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan meninggal dalam keadaan beriman.

BU menyontek matan hadits tersebut namun mengkreasi sendiri makna yang jauh dari yang sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam kitab Fath al-Bari syarah kitab al-Bukhari. Inilah yang disebut Kalimatun haq urida biha Bathil (kalimat benar digunakan untuk kepentingan kebatilan).
Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan penistaan apalagi pemurtadan sahabat. Di kalangan Syiah, ajaran cacian sahabat itu sudah tidak bisa ditutup-tutupi. Dari dulu hingga kini doktrin cacian itu terpelihara dan diamalkan oleh Syiah. Kelompok Syiah tentu saja membela diri bahwa Syiah sekarang tidak mengamalkan ajaran itu. BU menulis, “Ayatullah Ali Khamanei dan Ayatullah Ali Sistani mengharamkan penistaan terhadap simbol-simbol yang dimuliakan Ahlus Sunnah” (hal. 32).
Tapi, ternyata tokoh panutan Syiah kontemporer, Khumaini, secara keci mencaci sahabat. Dalam buku Kitab al-Thaharah jilid III halaman 457 karya Khumaini mengatakan bahwa Aisyah, Talhah, Zubair dan Mu’awiyah dan orang-orang sejenisnya secara lahir tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikkan dari anjing dan babi (Kanu akhbas min al-kilab wa al-khanazir).
Harusnya, BU dalam bukunya serta kaum Syiah, jika memang benar tidak mecaci sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyelesaikan keanehan-keanehan pendapat para tokoh-tokoh mereka sendiri, seperti Khumaini. Kenyataannya, tidak ada koreksi, justru tokoh-tokoh baik klasik maupun kontemporer jadi panutan Syiah dalam mengamalkan ajarannya. Tidak perlu BU mencari-cari dalil dalam kitab Ahlus Sunnah. Apalagi merendakan secara tidak etis tokoh Ahlus Sunnah Indonesia dan para penulis majalah Gontor yang ia sebut ‘tidak berkelas’. Syiah secara keji menghina para sahabat dan Aisyah, tapi mereka keberatan disesatkan dan dicaci ajarannya. Salah satu ciri aliran sesat memang loginya cenderung kontradiksi.*
Penulis adalah Alumni Pascasarjana ISID Gontor-Peneliti InPAS Surabaya