Friday, May 15, 2015

Ahlul-Bait dan Taqiyyah

                                                         
Al-Imaam Ibnu Sa’d rahimahullah berkata :
أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسْرَائِيلَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ، قَالَ: " إِنَّا لَنُصَلِّي خَلْفَهُمْ فِي غَيْرِ تَقِيَّةٍ، وَأَشْهَدُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي خَلْفَهُمْ فِي غَيْرِ تَقِيَّةٍ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Fadhl bin Dukain, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Israaiil, dari Al-Hakam, dari Abu Ja’far, ia berkata : “Sesungguhnya kami benar-benar shalat di belakang mereka (penguasa) tanpa taqiyyah. Dan aku bersaksi atas diri ‘Aliy bin Al-Husain bahwasannya ia juga shalat di belakang mereka tanpa taqiyyah” [Ath-Thabaqaat, 5/110].

Al-Fadhl bin Dukain, tsiqah lagi tsabat. Abu Israaiil (Ismaa’iil bin Khaliifah Al-‘Absiy);shaduuq, namun jelek hapalannya. Al-Hakam bin ‘Utaibah Al-Kindiy; tsiqah lagi tsabat, namun kadang melakukan tadlis.
Riwayat ini dikuatkan oleh :
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، ثَنَا بَسَّامٌ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْأُمَرَاءِ؟ فَقَالَ: صَلِّ مَعَهُمْ، فَإِنَّا نُصَلِّي مَعَهُمْ. قَدْ كَانَ الْحَسَنُ، وَالْحُسَيْنُ يَبْتَدِرَانِ الصَّلَاةَ خَلْفَ مَرْوَانَ " قَالَ: فَقُلْتُ: النَّاسُ يَزْعُمُونَ أَنَّ ذَلِكَ تُقْيَةٌ ؟ قَالَ: وَكَيْفَ ؛ إِنْ كَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، يَسُبُّ مَرْوَانَ فِي وَجْهِهِ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ حَتَّى يُوَلَّى "
Telah menceritakan kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Bassaam, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Abu Ja’far tentang shalat bersama para penguasa (umaraa’), lalu ia menjawab : “Shalatlah bersama mereka, karena sesungguhnya kami pun shalat bersama mereka. Al-Hasan dan Al-Husain saling mendahului shalat di belakang Marwaan”. Aku berkata : “Orang-orang mengatakan bahwa hal itu dilakukan karena taqiyyah”. Ia menjawab : “Bagaimana bisa, padahal Al-Hasan bin ‘Aliy mencela/menghardik Marwaan di depannya langsung saat berada di atas mimbar, hingga ia berpaling” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/378-379 no. 7650; shahih].
Tentang shalatnya Al-Hasan dan Al-Husain di belakang Marwaan, maka mereka berdua tidak mengulangnya ketika sampai di rumah, sebagaimana riwayat :
حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ " أَنَّ الْحَسَنَ، وَالْحُسَيْنَ كَانَا يُصَلِّيَانِ خَلْفَ مَرْوَانَ، قَالَ: فَقَالَ: مَا كَانَا يُصَلِّيَانِ إِذَا رَجَعَا إِلَى مَنَازِلِهِمَا؟ فَقَالَ: لا وَاللَّهِ، مَا كَانَا يَزِيدَانِ عَلَى صَلاةِ الأَئِمَّةِ "
Telah menceritakan kepada kami Haatim bin Ismaa’iil, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya : Bahwasannya Al-Hasan dan Al-Husain shalat di belakang Marwaan. Ada yang berkata : “Tidakkah keduanya mengulangi shalatnya saat kembali ke tempat kediamannya ?”. Muhammad bin ‘Aliy berkata : “Tidak demi Allah, keduanya tidak menambah shalat yang telah mereka lakukan bersama para pemimpin/penguasa” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad no. 298; shahih].
Atsar ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah[1] 2/378 no. 7642, Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm[2] 1/175, ‘Abdurrazzaaq[3] no. 3801, Al-Bukhaariy[4] dalam Al-Ausathno. 417, Ad-Duulabiy dalam Al-Kunaa[5] 1/417, serta Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa[6]3/122 dan dalam Al-Ma’rifah[7] 2/399-400 no. 1541.
Inilah madzhab Ahlul-Bait. Tetap shalat di belakang penguasa tanpa taqiyyah, tanpa mengulang. Artinya, shalat mereka adalah sah karena imam mereka adalah imam muslim.
Tentu saja kenyataan ini berbeda dengan kelakukan mengada-ada dari Syi’ah Raafidlah. Mereka (Syi’ah Raafidlah) mengkafirkan Bani Umayyah dan kaum muslimin pada umumnya yang tidak sehaluan dengan agama rusak mereka.[8] [Jika memang Bani Umayyah itu kafir, bukankah menjadi kelaziman shalat yang dilakukan Al-Hasan dan Al-Husain itu tidak sah ?[9]]. Keyakinan rusak itu terwariskan hingga detik ini dimana mereka (Syi’ah Raafidlah) mengharamkan shalat di belakang Ahlus-Sunnah, kecuali karena alasan taqiyyah. Ada riwayat menarik yang perlu kita cermati :
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، ثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي حَفْصَةَ، قَالَ: " قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ: إِنَّ أَبَا حَمْزَةَ الثُّمَالِيَّ، وَكَانَ فِيهِ غُلُوٌّ، يَقُولُ: لَا نُصَلِّي خَلْفَ الْأَئِمَّةِ، وَلَا نُنَاكِحُ إِلَّا مَنْ يَرَى مثل مَا رَأَيْنَا؟ فَقَالَ عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنٍ بَلْ نُصَلِّي خَلْفَهُمْ، وَنُنَاكِحُهُمْ بِالسُّنَّةِ "
Telah menceritakan kepada kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Ibraahiim bin Abi Hafshah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada ‘Aliy bin Al-Husain : “Sesungguhnya Abu Hamzah Ats-Tsamaliy – ia adalah orang yang berlebih-lebihan terhadapnya (‘Aliy bin Al-Husain) – berkata : ‘Kami tidak shalat bersama para penguasa, dan kami tidak mengadakan pernikahan kecuali dengan orang yang sependapat dengan kami”. Maka ‘Aliy bin Al-Husain berkata : “Bahkan kami shalat di belakang mereka, dan kami mengadakan pernikahan dengan mereka dengan sunnah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/379 no. 7651; shahih].
Ibraahiim bin Abi Hafshah adalah seorang yang tsiqah [Mishbaahul-Ariib, 1/27 no. 276].
Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua orang pemimpin pemuda ahli surga yang tidak takut celaan orang yang mencela. Berkata dan berbuat sesuai dengan apa yang ada di dalam hati mereka berupa kebenaran. Tidak berperilaku seperti orang-orang munafik yang bertopeng kedustaan dimana perkataan dan perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati mereka. Mereka (Ahlul-Bait) tetap berani menampakkan kebenaran, bersikap tegas, dan siap mengkritik/mengkoreksi jika melihat kekeliruan, siapapun orangnya. Apakah ia penguasa ataupun sekedar rakyat jelata.
Sifat Al-Hasan dan Al-Husain itulah yang diwarisi oleh anak cucu mereka dari kalangan Ahlul-Bait yang shaalih; namun tidak diwarisi oleh kaum yang mengaku-aku mencintai mereka, Syi’ah Raafidlah.
Para Pembaca dapat membandingkannya berbagai intrik taqiyyah ala Syi’ah. Bahkan, banyak kasus yang tidak dapat kita mengerti mengapa taqiyyah mesti dilakukan. Misalnya :
وعن سماعة قال: قلت لأبي عبدالله عليه السلام في المغرب: انا ربما صلينا ونحن نخاف ان تكون الشمس خلف الجبل أو قد سترها الجبل فقال: ليس عليك صعود الجبل
Dari Samaa’ah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaamtentang Maghrib : “Sesungguhnya kami seringkali khawatir apabila matahari masih di belakang gunung atau tertutup gunung (yaitu belum masuk waktu Maghrib- Abul-Jauzaa’)”. Maka ia menjawab : “Tidak wajib bagimu untuk memanjat/menaiki gunung (untuk melihat matahari apakah telah tenggelam)”.
Al-Majlisiy dan Al-‘Aamiliy berkata : “Lebih patut membawa khabar tersebut padataqiyyah” [Bihaarul-Anwaar oleh Al-Majlisiy 83/85 dan Wasaailusy-Syii’ah oleh Al-Hurr Al-‘Aamiliy 4/198].
Apa perlunya taqiyyah dalam keadaan itu ?
وعن أبي العرندس انه رأي الكاظم في رمضان حين قال المؤذن: الله أكبر صب له غلامه فناوله وشرب.
Dari Abul-‘Arandas : Bahwasannya ia pernah melihat Al-Kaadhim dalam bulan Ramadlaan saat muadzdzin mengumandangkan : ‘Allaahu Akbar’, budaknya menuangkan air minum dan memberikan kepadanya, dan ia pun meminumnya”.
Al-Majlisiy berkata : “Dimungkinkan membawa khabar tersebut pada taqiyyah” [Bihaarul-Anwaar, 83/62].
Apa kepentingan taqiyyah dalam keadaan tersebut ? Apa yang ditakuti ? Apakah hal itu dilakukan hanya untuk ‘menutupi kekeliruan’ imam yang minum setelah adzan berkumandang ?.
عن الرضا أنه نهى عن قراءة المعوذتين في صلاة الفريضة، ولا بأس في النوافل، لأنها من الرقية ليستا من القرآن ادخلوها في القرآن، قال المجلسي: النهي عن قراءة المعوذتين في الفريضة محمول على التقية
Dari Ar-Ridlaa : “Bahwasannya ia melarang membaca surat Al-Mu’awwidzatain dalam shalat fardlu, namun tidak mengapa dalam shalat sunnah. Karena surat tersebut termasuk ruqyah yang bukan termasuk bagian dari Al-Qur’an, namun dimasukkan ke dalam Al-Qur’an”.
Al-Majlisiy berkata : “Larangan untuk membaca Al-Mu’awwidzatain dalam shalat fardlu dibawa pada taqiyyah” [Bihaarul-Anwaar, 85/42].[10]
Apa urusannya taqiyyah dalam melarang membaca surat Al-Mu’awwidzatain dalam shalat fardlu ?. Apa yang ia takutkan dari ‘musuh mereka’ (yaitu Ahlus-Sunnah), padahal mereka (Ahlus-Sunnah) membolehkan membacanya dalam shalat apapun ?. Ketakutan dan kekhawatiran macam apa yang mengharuskan taqiyyah ?.
عن الصادق قال: قال الله عزوجل لموسى عليه السلام: فأخلع نعليك، لأنها كانت من جلد حمار ميت،
Dari Ash-Shaadiq, ia berkata : Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Musa ‘alaihis-salaam : “Lepaskan kedua sandalmu, karena ia terbuat dari (kulit) bangkai keledai”.
Al-Majlisiy berkata : “Nampak bahwa khabar dibawa pada taqiyyah”. Hal yang sama dikatakan oleh Al-‘Aamiliy [Bihaarul-Anwaar oleh Al-Majlisiy 83/237 dan Wasaailusy-Syii’ah oleh Al-Hurr Al-‘Aamiliy 4/344].
Jika Pembaca merasa bingung dalam memikirkan alasan taqiyyah dalam riwayat sebelumnya, niscaya akan lebih bingung memikirkan riwayat ini. Siapakah yang menjadi subjek yang melakukan taqiyyah ?. Allah ? Musa ? atau Ash-Shaadiq ?. Seandainya itu dinisbatkan kepada Ash-Shaadiq, ancaman apa kira-kira yang membuatnya bertaqiyyah sehingga berani berdusta atas nama Allah dan Musa ?.
عن علي عليهم السلام قال : ((حرم رسول الله صلى الله عليه وآله يوم خيبر لحوم الحمر الأهلية ونكاح المتعة)).
Dari ‘Aliy ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi telah mengharamkan pada hari Khaibar daging keledai kampung/jinak dan nikah mut’ah” [Tahdziibul-Ahkaam oleh Ath-Thuusiy, 7/251].
Ath-Thuusiy berkata : “Pemahaman terhadap atas riwayat ini adalah kami membawanya sebagai satu taqiyyah karena riwayat tersebut berkesesuaian dengan madzhabnya orang-orang awam (baca : Ahlus-Sunnah)” [Al-Ibtishaar 3/142 dan Tahdziibul-Ahkaam7/251].
Jadi, dalam kasus ini, klaim taqiyyah ini semata-mata hanya karena perkataan ‘Aliy itu kebetulan cocok dengan perkataan Ahlus-Sunnah.
Para Pembaca dapat lihat bagaimana praktek taqiyyah orang-orang Syi’ah. Masih banyak lagi riwayat yang dapat disebutkan, namun saya rasa sedikit contoh di atas cukup memberikan keterangan bagi mereka yang masih sehat akalnya.
Semoga keterangan singkat ini ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – 1432].
NB : Kita tidak pernah menafikkan keberadaan taqiyyah, karena ia disyari’atkan dalam kondisi-kondisi tertentu.Taqiyyah menurut legalitas syari’at bermakna menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka.


      [1]      Atsar :
حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: " كَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، وَالْحُسَيْنُ، يُصَلِّيَانِ خَلْفَ مَرْوَانَ، قَالَ: فَقِيلَ لَهُ أَمَا كَانَ أَبُوكَ يُصَلِّي إِذَا رَجَعَ إِلَى الْبَيْتِ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ، مَا كَانُوا يَزِيدُونَ عَلَى صَلَاةِ الْأَئِمَّةِ "
      [2]      Atsar :
أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا حَاتِمٌ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا كَانَا " يُصَلِّيَانِ خَلْفَ مَرْوَانَ، قَالَ: فَقَالَ: أَمَا كَانَا يُصَلِّيَانِ إِذَا رَجَعَا إِلَى مَنَازِلِهِمَا؟ فَقَالَ: لَا وَاللَّهِ، مَا كَانَا يَزِيدَانِ عَلَى صَلَاةِ الْأَئِمَّةِ "
      [3]      Atsar :
عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ: " أَنَّ حَسَنًا، وَحُسَيْنًا، كَانَا يُسْرِعَانِ إِذَا سَمِعَا مُنَادِيَ مَ   رْوَانَ، وَهُمَا يَشْتُمَانِهِ يُصَلِّيَانِ مَعَهُ "
      [4]      Atsar :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ أَبُو سَعْدٍ، قَالَ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ، وَالْحُسَيْنَ يُصَلِّيَانِ خَلْفَ مَرْوَانَ
      [5]      Atsar :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَعْبَدِ بْنِ نُوحٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أحْمَد الزُّبَيْرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ، عَنْ شُرَحْبِيلَ أَبِي سَعْدٍ، قَالَ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ، وَالْحُسَيْنَ يسرعان إلى الصلاة خلف مروان "
      [6]      Atsar :
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ، أنبأ الرَّبِيعُ، أنبأ الشَّافِعِيُّ، أنبأ حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ الْحَسَنَ، وَالْحُسَيْنَ رضي الله عنهما، كانا يصليان خلف مروان، قَالَ: فَقَالَ: مَا كَانَا يُصَلِّيَانِ إِذَا رَجَعَا إِلَى مَنَازِلِهِمَا؟ فَقَالَ: " لا وَاللَّهِ، مَا كَانَا يَزِيدَانِ عَلَى صَلاةِ الأَئِمَّةِ "
       [7]      Atsar :
وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، وَأَبُو زَكَرِيَّا، وأبو سعيد، قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ، قال: أخبرنا الشافعي قَالَ: أَخْبَرَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ الْحَسَنَ، وَالْحُسَيْنَ " كَانَا يُصَلِّيَانِ خَلْفَ مَرْوَانَ، قَالَ: فَقَالَ: مَا كَانَا يُصَلِّيَانِ إِذَا رَجَعَا إِلَى مَنَازِلِهِمَا؟ فَقَالَ: لا وَاللَّهِ مَا كَانَا يَزِيدَانِ عَلَى صَلاةِ الأَئِمَّةِ "
       [8]      Misalnya riwayat dusta mereka :
عَمِيرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) أَهْلُ الشَّامِ شَرٌّ أَمْ أَهْلُ الرُّومِ فَقَالَ إِنَّ الرُّومَ كَفَرُوا وَ لَمْ يُعَادُونَا وَ إِنَّ أَهْلَ الشَّامِ كَفَرُوا وَ عَادَوْنَا
Muhammad bin Yahyaa, dari Ahmad bin Muhammad bin ‘Iisaa, dari Al-Husain bin Sa’iid, dari Fadlaalah bin Ayyuub, dari Saif bin ‘Amiirah, dari Abu Bakr Al-Hadlramiy, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam : “Manakah yang lebih jelek, orang-orang Syaam ataukah orang-orang Romawi ?”. Ia berkata : “Sesungguhnya orang-orang Romawi itu kafir, namun tidak memusuhi kami. Adapun orang-orang Syaam itu kafir lagi memusuhi kami” [Al-Kaafiy, 2/410 – kata Al-Majlisiy dalam Mir’atul-‘Uquul 11/220 : Hasan].
Catatan : Marwan termasuk orang-orang Syaam yang berdiri di belakang barisan Mu’aawiyyah bin Abi Sufyaan radliyallaahu ‘anhu.
عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عِيسَى عَنْ سَمَاعَةَ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلام قَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .
Sejumlah shahabat kami, dari Ahmad bin Muhammad bin Khaalid, dari ‘Utsmaan bin ‘Iisaa, dari Samaa’ah, dari Abu Bashiir, dari salah seorang dari dua imam ‘alaihimas-salaam, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Makkah kafir kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Makkah 70 kali”  [Al-Kaafiy, 2/410 – kata Al-Majlisiy : Muwatstsaq].
Catatan : Riwayat ini berbicara tentang kekafiran para shahabat serta ulama tabi’iin danatbaa’ut-taabi’iin dari kalangan Ahlus-Sunnah yang tidak sehalauan dengan Syi’ah Raafidlah.
Dan ini adalah perkataan orang Syi’ah yang sedang marah-marah tidak jelas :
Saya hanya meminta kejujuran kalian dalam beragama! Pikirkan, sampai kapan kalian terus membela aimmatul kufri,para pemimpin kaum kafir/munafik seperti Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid, Hajjâj bin Yusuf, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan dkk. dengan mengatas-namakan Ahlusunnah wal Jama’ah?! Dengan mengatas-namakan Salaf Shaleh?!
Catatan kecil tentang riwayat :
حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ: نا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ مُنْذِرٍ الثَّوْرِيِّ، عَنْ سَعْدِ بْنِ حُذَيْفَةَ، قَالَ: قَالَ عَمَّارٌ: " وَاللَّهِ مَا أَسْلَمُوا وَلَكِنَّهُمُ اسْتَسْلَمُوا، وَأَسَرُّوا الْكُفْرَ حَتَّى وَجَدُوا عَلَيْهِ أَعْوَانًا، فَأَظْهَرُوهُ "
Telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Jariir, dari Al-A’masy, dari Mundzir Ats-Tsauriy, dari Sa’d bin Hudzaifah, ia berkata : Telah berkata ‘Ammaar : “Demi Allah, mereka tidaklah beragama Islam. Akan tetapi mereka pura-pura masuk Islam dan menyembunyikan kekafiran. Hingga ketika mereka mendapati para pembela, mereka pun menampakkannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam As-Safaruts-Tsaaniy minat-Taariikh no. 3430].
Atsar ini tidak shahih. Al-A’masy, meskipun seorang yang tsiqah, namun ia seorang mudallis pada tingkatan ketiga menurut pendapat yang raajih, dan di sini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah [lihat pembahasannya di sini].
    [9]      Atau,…. menurut agama Syi’ah, shalat di belakang orang kafir itu boleh ?. Jika memang demikian, jangan heran jika satu waktu Pembaca menemukan orang-orang Syi’ah beribadah di belakang orang-orang Yahudi dan Nashrani. Lihat saja gejalanya :
    [10]     Pembaca sekalian akan mendapati banyak ‘keajaiban’ dalam agama Syi’ah dimana ada beberapa surat yang dilarang dibaca dalam shalat. Saya ajak Pembaca untuk mencermati fiqh Syi’ah dalam penjelasan Ayatullah Muhammad Al-Ya’quubiy dalam situsnya :
Pertanyaan :
هل هناك سور قرآنية يكره قراءتها في الصلاة؟
“Apakah ada surat Al-Qur’an yang dimakruhkan membacanya dalam shalat ?”.
Jawaban :
بسمه تعالى

‏ يحرم قراءة سور العزائم (العلق, فصلت, النجم, السجدة) والأحوط تجنب الضحى والانشراح ‏والفيل والايلاف.‏
“Dengan menyebut nama-Nya ta’ala.
Diharamkan membaca surat Al-‘Azaaim (Al-‘Alaq, Fushshilat, An-Najm, dan As-Sajdah). Dan yang lebih hati-hati juga menjauhi membaca surat Adl-Dluhaa, Al-Insyiraah, Al-Fiil, dan Al-Iilaaf (Al-Quraisy – Abul-Jauzaa’)”.
Sumber :

                                   

Syiah Iran Bernafsu Ingin Menguasai Timur Tengah ?

Kenapa syiah iran sangat ingin menguasai jazirah arab? jawaban cukup mudah karena agama syiah merupakan bayangan dari persia dan majusi, keinginan syiah iran tidak lain kalau bukan ingin mendirikan kerajaan persia yang terbaru dengan mengkambinghitamkan Ahlul Bait.


Dalam sejarah yang sebenarnya saja syiah suka membunuh Ahlul Bait dan melakukan taqiyah dengan menuduh tuduhan dusta atas sunni kalangan Muawiyah.

Kenapa syiah seperti itu? karena kedengkian dan kebencian yang ada dalam hati syiah kepada sunni, sedangkan sunni tidak ada kebencian sedikitpun atas syiah, lihat saja kalau engkau berdebat dengan syiah pasti jawabannya sangat kasar dengan memandang rendah kaum sunni yang berdebat dengan dia.

Akibat kedengkian dan kebencian syiah kepada sunni maka dari itulah dimanfaatkan oleh syiah iran untuk mengacaukan politik negara mayoritas sunni dengan mengandalkan minoritas syiah dengan melakukan berbagai usaha baik yang haram sekalipun dilakukan seperti pembunuhan dan pemerkosaan.

Syiah iran menjadikan orang syiah yang selain persia sebagai budak-budak yang dikorbankan dalam peperangan sebagai tentara bayaran untuk mati dan membunuhi kalangan sunni baik anak-anak atau wanita sekalipun akan dihabisi, tujuannya hanya untuk merampas tanah yang diduduki oleh sunni.

Lihat saja apa yang terjadi di irak dimana tentara milisi bayaran syiah iran membunuh, memerkosa dan membakar semua perumahan sunni setelah mereka kuasai dan mengalahkan isis, tujuannya bukan ingin memerangi isis karena agama syiah melainkan karena tanah untuk tuannya syiah iran, bahkan iran mengajukan usulan untuk menyatukan irak-iran.

Dulunya baghdad merupakan ibu kota persia yang sekarang merupakan ibu kota irak maka jangan heran jika baghdad dipertahankan oleh syiah dan milisinya mati-matian dan membunuh semua sunni yang ada pada distrik baghdad. Sekarang syiah iran telah berhasil memprovokasi minoritas syiah yang ada di irak, suriah, yaman dan libanon untuk mengendalikan negara tersebut atau menghancurkannya dengan cara membunuhi kalangan mayoritas sunni agar berkurang dan nantinya kalangan minoritas syiah akan menjadi mayoritas dinegara tersebut di irak dulunya syiah cuma 30-40% sekarang sudah menjadi 60% begitu juga dengan yaman dulunya syiah hanya 10% sekarang sudah menjadi 35% karena kalangan sunni sudah berkurang akibat banyaknya kematian yang dibunuh oleh milisi syiah.

Dengan menjadikan syiah sebagai agama mayoritas di negara arab maka iran bisa dengan mudah mengontrol semua orang-orang syiah tanpa perlawanan dari kalangan syiah, karena semua syiah sudah menjadi budak dari syiah persia iran, dengan begitu terciptalah sebuah empire atau kekaisaran persia baru dimana wilayah yang dulunya persia sudah dipersatukan kembali dibawah syiah iran dengan agama lanjutan dari majusi yaitu agama syiah.

Agama syiah merupakan agama lanjutan dari agama majusi (zoroaster) karena terdapat 75% ajaran agama majusi dalam agama syiah seperti boleh mut'ah dengan anak atau ibu sendiri dan berbagai macam aliran majusi lainnya yang ada dalam agama syiah selain itu juga sebagian perawi dari syiah berasal dari orang-orang majusi dan para mantan-mantan majusi selain itu juga terdapat perawi dari yahudi dan nasrani. 



Tafsir Ngawur Ala Syiah Disebarkan Ke Masyarakat Sunni

                                             

Poin-Poin Kesesatannya : -Sahabat Ali bin Abu Thalib yang membagi manusia, dia penghuni Neraka dan dia penghuni Surga. Selain Syiah akan dimasukkan ke neraka, sedangkan Syiah saja yang akan dimasukkan ke dalam Surga. Nb : ini adalah di antara kesesatan aqidah Syiah dan ditanamkan kepada para pengikutnya. Selain Syiah akan mendapatkan neraka meski dia beriman dengan Rukun Iman yang lain. Kalau warga Syiah di Indonesia beralasan bahwa itu bukan yang kita yakini, itu Syiah luar negeri. Pernyataan itu terbantahkan dengan fakta bahwa mereka mencetak buku tersebut dan menyebarkannya kepada masyarakat Sunni. Aqidah yang bagi Sunni hanya akan menjadi bahan tertawaan.

                                      

Syarat dia mukmin harus mengetahui Imam Syiah….ajaran apa lagi ini. Kalau ada orang yang tidak mengikuti Imam Syiah maka bukan mukmin. Bahkan menjadi syarat diterimanya amal. Jadi menurut keyakinan Syiah, seluruh muslim yang tidak Syiah amalannya tidak diterima. Buktinya mana? Anda jangan asal tuduh….lihat halaman 79 dari buku tersebut.

                                       

Pada halaman 93, Surga ada 8 pintu, yang 5 pintu adalah bagi para penganut Syiah. Enak dong! Warga Syiah pintu surganya banyak?! Mereka rupanya sudah punya kafling di Surga dan juga pintunya.

                                        

Tafsir sesat ala Syiah. Kebaikan dalam ayat Asyura ayat 23 adalah wilayah dalam ajaran Syiah. Ini adalah salah satu di antara tafsiran ngawur ala Syiah yang berdalil dengan ayat yang benar tapi dengan tafsiran sesuai dengan kehendak mazhabnya

                                                 


Di halaman 144, seorang hamba kakinya tidak akan beranjak sampai dia ditanya 4 hal, eh yang terakhir adalah pertanyaan tentang anda Syiah pa bukan, kalau Syiah maka berhasil, kalau bukan….celakalah dia…

                                           

Hal 149, timbangan yang adil dalam ayat Al Anbiya’ 47 adalah para nabi dan para Washinya (Para Imam Syiah)

                                            

                                              

Hal 173 : orang mukmin dalam ayat At Taubah 105 adalah Para Imam. Tafsir ini sejalan dengan hawa nafsu mereka. Dalam ayat lain, yang bisa menjadi saksi hanya para Imam mereka, yang lain tidak. Amat kejilah keyakinan mereka. Nauzubillah min dzalik. (Tim Peneliti syiahindonesia.com)

Nahjul Balaghoh Bukan Asli dari Ali Radhiallahu Anhu , Kenapa ?

                                       
Berikut beberapa komentar ulama mengenai kitab Nahjul Balaghoh yang dikarang oleh seorang Syi’ah Rafidhah bernama al-Murtadla Abi Thalib Ali bin Husein bin Musa Al Musawi (w th. 436 Hijriyah): Imam adz-Dzahabi berkata –ketika membahas biografi orang ini– sebagai berikut: “Dia adalah penghimpun kitab Nahjul Balaghoh yang menyandarkan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab ini kepada Imam Ali radhiallahu ‘anhu tanpa disebutkan sanad-sanadnya. Sebagian besar kalimat-kalimat itu batil, meskipun juga di dalamnya ada hal yang benar. Namun ucapan-ucapan palsu yang terdapat dalam kitab ini mustahil diucapkan oleh Imam Ali”. (Siyar A’lamin Nubala,17/589-590). Beliau juga berkata:”…Barang siapa yang melihat buku Nahjul Balaghoh ini, maka ia akan yakin bahwa ucapan-ucapan itu adalah dusta atas nama Amirul Mukminin Ali radhiallahu ‘anhu , karena di dalamnya terdapat caci-makian yang sangat jelas terhadap dua tokoh besar shahabat yaitu Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma . Juga tedapat ungkapan-ungkapan yang kaku (menurut kaidah sastra arab, pent) yang bagi orang yang telah mengenal jiwa bangsa Quraisy (dan tingginya bahasa mereka, pen. ) dari kalangan para shahabat dan orang-orang setelahnya akan mengerti dengan yakin bahwa kebanyakan isi kitab tersebut adalah batil. (Mizanul i’tidal 3/124 Lisanul Mizan 4/223). Ibnu Sirin menilai bahwa seluruh apa yang mereka (kaum Syi’ah) riwayatkan dari Ali radhiallahu ‘anhu semuanya kedustaan. (Al-‘ilmus Syamikh, hal 237) Demikian pula Al-Khathib al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Jami’ Li Akhlaqir rawi wa adibis sami’ telah memberikan isyarat tentang Kedustaan kandungan kitab ini”. Beliau berkata : “Adapun yang mirip dengan apa yang kita sebutkan tadi adalah hadits-hadits tentang malahim (peperangan). Tidaklah didalamnya itu terdapat hadits-hadts nabi, namun sesungguhnya kebanyakan yang ada adalah palsu, dan mayoritas hanya dibuat-buat, seperti kitab yang dinisbatkan kepada daniyal (daniel), dan khutbah yang (dinisbatkan) periwayatannya kepada ali bin abi thalib.” (juz 2 hal. 161) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “… sebagian besar khutbah-khutbah yang dinukil penyusun kitab Nahjul Balaghoh adalah dusta atas nama Ali radhiallahu ‘anhu . Beliau terlalu mulia dan terlalu tinggi kapasitasnya untuk berbicara dengan ucapan seperti itu. Tetapi mereka mereka-reka kebohongan dengan anggapan bahwa hal itu sebagai sanjungan. Sungguh Itu bukanlah kebenaran, bukan pula merupakan sanjungan…. (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 8/55-56) Al qodhiy muhammad bin 'abdillah abu bakr bin al 'arobiy al ma'aririfiy al asybiliy al maliki (W 543 H) berkata : “Kitab Nahjul Balaghoh adalah satu diantara kitab-kitab yang dijadikan referensi oleh Syi’ah. Mereka menyandarkan (perkataan2 didalanmnya) kepada ‘ali radhiyallahu ‘anhu. Namun hakikatnya adalah sebagian saja. Malahan kebanyakan adalah (perkataan2nya) ridho dan murtadho dua orang yang bermadzhab Syi’ah. Didalam kitab tersebut terdapat tipu muslihat, fitnah (kebohongan) yang sangat banyak.” (Al'awashim Minal Qowashim Fie Tahqiq Muwafaqoshohabah Ba'da Wafatinnabiy Shalallahu 'Alaihi Wasalam, Darul Jil, Berut, Lebanon, Cet 2, Tahun 1987 M/1407 H, Juz 1hal 274). 
sumber : syiahindonesia.com
http://faktasyiah.blogspot.com/2014/10/kampanye-syiah-oktober-2014-di-jakarta.html

Sejauh Manakah Nahjul Balaghah Itu Benar-benar Dari Ali r.a?
Oleh zain-ys
Kitab Nahjul Balaghah itu amat popular di kalangan penganut Islam dan penganut Syiah. Isinya mengandungi ucapan, khutbah dan surat yang disandarkan kepada saidina Ali r.a.
Timbul persoalan di sini, apakah benar isi Nahjul Balaghah itu benar-benar asli dari Ali r.a.?
Nantikan artikel dari al-ahkam.net menjawab persoalan ini..
Bagi mereka yang biasa dengan pengajian hadis, sudah pasti menjawabnya dengan kata-kata Ibnu al-Mubarak:
الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء
Maknanya: Sanad itu sebahagian dari agama. Dan, kalaulah tiada sanad, nescaya seseorang itu akan berkata apa sahaja semahunya.
Kata imam al-Zahabi di dalam Siyar A'lam al-Nubala' ketika menulis biografi al-Murtadha Ali bin Husain bin Musa al-Musawi:
Menurutku dia adalah penulis kitab Nahjul Balaghah, yang disnibahkan lafaznya kepada Imam Ali r.a. Tanpa sanad. Sebahagiannya mengandungi kebatilan dan terselit juga di dalamnya kebenaran. Namun di sana terdapat topik-topik yang tak mungkin diucapkan oleh imam Ali r.a. 
Ada yang mengatakan: Malah ia (Nahjul Balaghah) disusun oleh saudaranya yang bernama al-Syarif al-Radhi...
Kata al-Zahabi lagi: Di dalamnya terdapat cercaan terhadap para sahabat Rasulullah s.a.w. maka kami mohon perlindungan dari Allah dari ilmu yang tidak memberi manfaat.
Web islamqa.info kelolaan Syeikh al-Munajjid ada menyebutkan;
Sebahagian ulama yang menyatakan kedustaan yang terdapat di dalamnya ialah al-Khatib al-Baghdadi di dalam al-Jami' Li Akhlaqi al-Rawi Wa Adabus Sami'. Begitu juga dengan Ibnu Khalikan, al-Shofadi dan selain mereka. Kesimpulan yang dapat diambil dari semua itu ialah:
·        Jarak masa antara penyusun kitab dan antara Ali r.a. adalah tujuh genarasi perawi. Penyusunnya telah membuang semua perawi berkenaan. Sebab itulah perkataannya tidak boleh diterima tanpa sanad.
·        Seandainya pengarangnya ada menyebutkan sanad, tidak boleh tidak ia mestilah dikaji dan disiasat tahap kepercayaan mereka itu.
·        Al-Murtadha, tuan punya kitab ini bukanlah ahli riwayah melainkan dia adalah seorang mutakallim agama dan tahap kepercayaannya.
·        Cercaan terhadap para sahabat yang terdapat di dalamnya memadai untuk menolaknya.
·        Cercaan dan makian yang ada di dalamnya bukanlah dari akhlak mukmin, lebih-lebih lagi di kalangan para imam mereka seperti Ali r.a.
·        Terdapat di dalamnya percanggahan dan ibarat yang tidak kemas yang pasti ia bukanlah dari imam-imam dalam bidang Balaghah dan Bahasa.
Kitab Nahjul Balaghah ini diterima oleh golongan Syiah Rafidhah secara pasti kesahihannya sebagaimana al-Quran sedangkan ia dalam keadaan penuh dengan percanggahan. Ini menjadi bukti bahawa mereka tidak mengambil tentang berat hal ehwal agama mereka dalam urusan yang melibatkan penapisan dan pengesahan sumber samada ia sahih dan kukuh atau sebaliknya.
Atas asas ini, jelas kitab ini tidak sah dinisbahkan kepada Ali r.a. Ia juga dengan segala isikandungannya samasekali tidak menjadi hujah di dalam masalah syarak. Adapun untuk membacanya kerana mahu menelaah isikandungannya dari sudut balaghah, maka hukumnya sama seperti membaca mana-mana kita lughah/bahasa tanpa menisbahkannya kepada Amiril Mukminin Ali r.a.
Teks penuh rujuk sini: http://www.islamqa.info/ar/30905
Kesimpulan
Kitab Nahjul Balaghah BUKAN ASLI DARI ALI R.A. KENAPA?
·        Ditulis selepas 4 genarasi periwayatan
·        Tiada sanad
·        Penyusunnya bukan ahli riwayah
·        Ada cercaan ke atas para Sahabat
·        Ada caci maki yang pasti bukan dari Ali r.a.
·        Ucapannya ada yang pasti bukan dari pakar Balaghah dan bahasa


Pengakuan Syiah Sendiri: Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as

Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, "Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran". Sebagian Muslimin menuduh bahwa mushaf Fathimah az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di tangan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian mempersoalkan keberadaan mushaf itu. Pertanyaannya adalah mengapa sebagian Muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran sendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Ada beberapa kemungkinan terkait sikap permusuhan ini: 1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah. 2. Mereka tidak mau menerima  bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah mushaf. 3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti itu apalagi dirinya. 4. Mereka berpikir bahwa mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu, mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang isinya adalah pembicaraan malaikat Jibril kepada Sayidah Fathimah sepeninggal ayahnya. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah "Mushaf Syarif".(1) Abu Basyir berkata, "Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?' Beliau menjawab, ‘Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah! Tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.(2) Hadis ini menjelaskan  bahwa mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran dan tidak satu kata pun, namun dari sisi kandungan dan topik, kendati satu kata pun dari zahirnya al-Quran tidak tampak di sana. Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang "al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang", lalu untuk apa mushaf Fathimah itu dan bagaimana memahami hadis berikut ini: Allamah Majlisi menjelaskan, "Iya memang al-Quran demikian, tetapi mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang  anda maksud adalah lafad zahirnya al-Quran, dan itu tidak ada dalam mushaf Fathimah.(3) Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya mushaf Fathimah? Sejak kapan ia ada? Mushaf ini mencakup pembahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjelasan berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya. Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, "Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran". Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya adalah Sayidah Fathimah, maka Jibril berkata demikian, "Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku".(4) Suatu malam, Sayidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata, "Bukankah Maryam; putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?" Para malaikat menjawab, "Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir.(5) Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan mereka. Antara lain: 1. Maryam; ibu Nabi Isa as. 2. Istri Imran; ibu Nabi Musa dan Maryam as. 3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as. 4. Sayidah Fathimah as.(6) Ketika Rasulullah Saw sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayidah Fathimah as bertanya, "Siapa?" Ia menjawab, "Aku orang asing. Aku punya pertanyaan kepada Rasulullah. Apakah Anda mengizinkan saya untuk masuk?" Sayidah Fathimah menjawab, "Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan."  Ia pergi dan beberapa waktu kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu sambil berkata, "ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?" Pada saat itu Rasulullah Saw bangun dan berkata kepada putrinya, "Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?" "Tidak, ya Rasulullah!" jawab Fathimah as Beliau bersabda, "Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan dan menghapus kelezatan duniawi. Ia adalah malaikat maut! Demi Allah! Sebelum aku, ia tidak pernah meminta izin dari seorang pun dan sepeninggalku ia juga tidak akan meminta izin dari seorang pun. Karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!" Sayidah Fathimah berkata, "Masuklah, semoga Allah merahmatimu!" Kemudian malaikat maut masuk bagaikan angin semilir seraya berkata, "Assalamu Ala Ahli Baiti Rasulillah!"(7) Munculnya Mushaf Fathimah Imam Shadiq as berkata, "Sepeninggal Rasulullah Saw, Sayidah Fathimah as hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesyahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah mushaf sehingga disebut sebagai mushaf Fathimah".[8]  Poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah as Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah. Imam menjelaskan kandungannya: 1. Tentang berita sekarang dan kabar yang akan datang sampai Hari Kiamat. 2. Tentang berita langit dan nama-nama malaikat langit. 3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah Swt. 4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah. 5. Nama-nama seluruh orang Mukmin dan Kafir dari awal sampai akhir penciptaan. 6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia. 7. Jumlah orang-orang Mukmin dan Kafir setiap kota. 8. Ciri-ciri orang-orang pendusta. 9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka. 10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya. 11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang. 12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga. 13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka. 14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.(9) Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af. Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayidah Fathimah. Imam Baqir menjawab, "Sayidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.(10) (IRIB Indonesia) *) Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Mohammad Hassan Amani. Catatan: 1. Lisanul Arab, jilid 10 kata Shahafa dan Mufradat Raghib. 2. Ringkasan hadis, Ushul Kafi, jilid 1, hal 239, Bashair ad-Darajat, hal 151 dan Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28. 3. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 40. 4. Awalim Al-ulum wa al-Ma'arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36 5. Ibid. 6. Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336, penerbit Intisyarat Allamah. 7. Ibid. 8. Lihat: Ushul Kafi, jilid 1, hal 240,  Bashair ad-Darajat, hal 157, Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282 dan Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80, jilid 26, hal 44-46 dan 48 dan jilid 47, hal 271. 9. Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291. 10. Ibib, hal 292. 
sumber : (salah satu media syiah) Abna.ir
http://faktasyiah.blogspot.com/2013/02/mengenal-mushaf-sayidah-fathimah-az.html


Buku Sesat Fiqih Syiah: Sahabat Dihujat Sebagai Ahli Bid'ah, Taqiyah Agama Kami

                                                  

Point-point kesesatan buku : 15 Masalah Fikih Yang Hangat Dan Kontroversial Bismillah, kali ini tim peneliti syiahindonesia.com akan membongkar kesesatan salah satu buku syiah yang berjudul 15 Masalah Fikih Yang Hangat Dan Kontroversial, karangan Prof J Subhani. Buku tersebut diterbitkan beberapa kali, dan yang kami teliti adalah buku cetakan ke 3 Oktober 2013. Buku setebal 438 halaman, di dalamnya banyak memuat ajaran Syiah, yang menurut mereka adalah yang paling benar. Mereka juga menuduh para Sahabat semoga Allah meridlai mereka adalah orang yang lalai, membuat bid’ah dan berbuat karena hawa nafsunya. Rumus dalam buku tersebut adalah : syiah benar dan yang lain salah. -      Pada halaman 76 disebutkan bahwa shalat dengan bersedekap adalah haram dan membatalkan shalat. Apa sebabnya, di antaranya bahwa mereka tidak percaya dengan Hadis yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Salla Allahu alaihi wa Sallam shalat dengan sedekap. Dalam keyakinan mereka, kaum sunni yang shalat dengan sedekap, shalatnya batal sehingga shalatnya tidak sah. Bagaimana yang sah? Yang sah adalah yang menurut mereka. Kalau mereka shalat bersama masyarakat sunni, maka mereka akan bertaqiyah. Pada bagian akhir kita akan singgung tentang taqiyah, yang mestinya dilakukan di depan orang kafir bukan di depan orang sunni. 

                                           

Syiah menganggap bahwa shalat bersedekap adalah sesuatu yang bid’ah. Mengapa demikian, karena apa yang dilakukan sahabat Rasul Salla Allahu alaihi wa Sallam bukan hal yang bisa kita ikuti. Bagi syiah, menghormati sahabat semoga Allah meridlai mereka, adalah sesuatu yang hal yang tabu. 

                                          


Syiah menganggap bahwa shalat bersedekap adalah sesuatu yang bid’ah. Mengapa demikian, karena apa yang dilakukan sahabat Rasul Salla Allahu alaihi wa Sallam bukan hal yang bisa kita ikuti. Bagi syiah, menghormati sahabat semoga Allah meridlai mereka, adalah sesuatu yang hal yang tabu. 


                                           

Memperkuat poin di atas, bahwa shalat di atas permadani adalah bid’ah. Mereka berarti memiliki sikap tabdi’ dong, suka membidah-bidahkan orang.

                                            


Para khulafa’ rasyidin adalah banyak yang melawan nas. Bukan syiah kalau tidak menuduh para khalifah sebagai penentang rasul Salla Allahu alaihi wa Sallam. Ini adalah hujatan secara halus, tapi mengena sekali.


                                              


Bukan syiah kalau tidak adalah nikah mut’ah. Mereka menuduh yang mengharamkan adalah sahabat Umar semoga Allah meridlainya. Mereka menutup mata bahwa hadis pengharaman mut’ah diriwayatkan oleh sahabat Ali semoga Allah meridlainya


                                              


Tidak syiah kalau tidak taqiyah. Padahal taqiyah menampakkan kekufuran padahal hatinya beriman. Sejarahnya adalah karena disiksa orang kafir. Syiah di hadapan orang yang dikafirkan, yaitu sunni, maka mereka melakukan taqiyyah. Kali ini berlakulah rumus, boleh taqiyah terhadap sunni. Sampai-sampai dalam prakteknya, terhadap sesama mereka pun terkadang masih bertaqiyah, sampai mereka bingung, ni sedang bertaqiyah atau tidak ya?


                                            

                                          


Taqiyah adalah agamaku, ini rujukan mereka perkataan tersebut. Mau kursus bohong dan dusta agar lihai, belajarlah dengan orang syiah. (Tim Peneliti syiahindonesia.com)


Thursday, May 14, 2015

Turki dan Saudi Pasang Badan Dukung Kelompok “Garis Keras” Suriah

                                  Ilustrasi Mujahidin Suriah
Turki dan Arab Saudi secara aktif menyatakan mendukung koalisi “garis keras” dari gerilyawan untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad yang termasuk didalamnya kelompok afiliasi al-Qaeda di Suriah,dan langkah ini membuat pemerintah Barat khawatir.
Kedua negara memfokuskan dukungan mereka untuk pejuang Suriah kelompok Jaish al-Fatah, atau The Army of Conquers, kelompok ini merupakan struktur komando untuk kelompok jihad di Suriah yang mencakup Jabhat al-Nusra.
Keputusan oleh dua negara ini untuk kembali mendukung kelompok di mana al-Nusra memainkan peran utama telah memunculkan kekhawatiran pemerintah Barat, karena bertentangan dengan AS, yang dengan tegas menentang mempersenjatai dan mendanai “ekstremis jihad” yang berperang di perang Suriah.
Ini mengancam upaya Washington sendiri untuk melatih pejuang oposisi pro-Barat, yang diumumkan oleh Presiden Barack Obama tahun lalu, namun baru benar-benar dilaksanakan minggu lalu. Permasalahannya jumlah pejuang pro Barat yang terlibat program kecil dan, yang terpenting, Departemen Luar Negeri menegaskan bahwa mereka akan lebih difokuskan untuk melawan Isis daripada melawan rezim.
Pendekatan kerjasama berikut kesepakatan baru, dicapai pada awal Maret ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Raja Saudi, King Salman, sesaat setelah dinobatkan di Riyadh, menurut informasi seorang diplomat kepada The Independent.
Hubungan antara Presiden Turki dan almarhum Raja Abdullah sempat renggang, terutama karena Turki memberi dukungan untuk Ikhwanul Muslimin, yang menurut monarki Saudi merupakan ancaman, sekarang hubungan tersebut mulai diperbaiki.

Erdogan menekankan kepada para pejabat Saudi bahwa lambatnya tindakan Barat di Suriah, terutama kegagalan untuk memberlakukan “zona larangan terbang”, mendesak kekuatan regional untuk bersatu dan membantu oposisi.

Jaish al-Fatah – dengan tujuh anggotanya, yang didalamnya termasuk kelompok “garis keras” Ahrar al-Sham dan Jund al-Aqsa – memiliki pusat komando di Idlib, Suriah utara. Para pejabat Turki mengakui memberikan dukungan logistik dan intelijen ke markas komando. Meskipun mereka menolak memberikan bantuan langsung kepada al-Nusra, mereka mengakui bahwa kelompok itu akan menjadi penerima manfaat dari bantuan dari Turki.
Dukungan material – senjata dan uang – telah datang dari Saudi, menurut informasi resmi dari pejuang, Turki memfasilitasi pengiriman dan distribusinya. Desa-desa perbatasan Guvecci, Kuyubasi, Hacipasa, Besaslan, Kusakli dan Bukulmez adalah rute distribusi utama, menurut sumber-sumber dari pejuang.
Semakin kuatnya kerjasama antara Turki dan Arab Saudi menggambarkan bagaimana kepentingan kekuatan regional Ahlusunnah, tidak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat di Suriah. Washington tegas menentang mempersenjatai dan pendanaan kelompok jihad ekstrimis dalam perang sipil Suriah. AS juga memerangi mereka yang diwujudkan dengan serangan udara terhadap posisi al-Nusra di Aleppo – karena alasan mengklaim kelompok itu merencanakan serangan teroris di Barat – pada hari pertama kampanye pengeboman saat melawan Isis.
Kecaman datang dari Saudi menyatakan bahwa AS, membutuhkan dukungan dari Syiah Iran untuk memerangi Isis di Irak, adanya kesepakatan AS terhadap program nuklir Iran, membuat AS menjadi tidak lagi tertarik pada penggulingan rezim yang didukung Teheran di Damaskus.
Bukti lebih lanjut dari ketidakpuasan atas pendekatan AS di antara negara-negara Sunni datang kemarin dengan berita bahwa Raja Salman menarik diri dan tidak menghadiri puncak pertemuan dengan Barack Obama di Gedung Putih pada pembicaraan nuklir Iran minggu ini: ia akan diwakili oleh bukan Putra Mahkota Mohammed bin Nayef . Dari enam kepala negara Teluk yang diundang, hanya emir Qatar dan Kuwait yang hadir.
Selama krisis Suriah, para penguasa Teluk menilai bahwa tindakan AS sangat sedikit dan terlalu lamban. Tidak banyak kemajuan, sejak hampir setahun sejak Obama pertama kali mengumumkan program $ 500 juta untuk pelatihan pejuang oposisi.
Para pejabat AS beralasan lamanya pelaksaan program dikarenakan penjangnya prosedur pemeriksaan dan perekrutan pejuang. Beberapa agen yang direkrut CIA di masa lalu telah gagal untuk berdiri dengan kelompok garis keras dan memilih mundur.
Salah satu kejadian yang paling terkenal dan, untuk Washington, memalukan, adalah kasus tahun lalu ketika Harakat al-Hazm menyerahkan basis dan persenjataan canggih yang telah didanai US untuk al-Nusra. Ada juga munculnya tuduhan pelanggaran hak asasi manusia oleh kelompok dukungan Barat dari warga lokal.
Sejauh ini, 400 calon telah diseleksi oleh Amerika untuk menerima pelatihan senjata ringan dalam program tersebut. 90 personel akan memulai program di kamp-kamp pelatihan di Turki, Yordania dan Arab Saudi, tetapi belum siap tempur selama beberapa bulan. Pentagon memperkirakan bahwa mereka akan mengambil masa tiga tahun sebelum mencapai kekuatan penuh sebanyak 15.000 personel siap tempur, waktu yang terlalu lama untuk sebuah krisis yang harus ditangani secepatnya.
Tanda utama dari perbaikan hubungan antara Turki dan Arab Saudi adalah tentang isu Ikhwanul Muslimin. Sikap Saudi menyambut kudeta terhadap pemerintah Mohamed Morsi di Mesir, sebaliknya kelompok tersebut didukung oleh Turki sejak Erdogan berkuasa. Sekarang, menurut informasi dari para diplomat dan pejabat, Arab Saudi telah menerima peran Ikhwan dalam oposisi Suriah.
Pejuang di Suriah mengklaim bahwa setelah kelompok yang disponsori Barat menyerahkan kendali kepada al-Nusra tahun lalu, Washington mulai memotong dana untuk sebagian besar kelompok moderat lainnya. Harakat al-Hazm, awalnya adalah kelompok yang paling didukung US,selanjutnya Farouq Brigade, sekarang aliran dana untuk mereka telah dihentikan
Abdulatif al-Sabbagh, seorang perwira Ahrar al-Sham, mengatakan: “Amerika mendukung orang-orang yang mengatakan mereka revolusioner, tetapi orang-orang ini korup dan tidak kompeten … Jaish al-Fatah berhasil karena kita semua berjuang bersama-sama. Tapi kita semua menetang Daesh [Isis] seperti kami menentang Bashar. Amerika membom Daesh tetapi tidak melakukan apa-apa terhadap rezim, itu sebabnya kami bersatu untuk melawan mereka. ”
Jaish al-Fatah telah membuat terobosan baru dalam melawan rezim dengan berhasil membebaskan Idlib serta kota-kota dan desa-desa lainnya. Al-Nusra memiliki 3.000 pejuang untuk operasi yang dan menempatkan para pejuang dalam posisi untuk melancarkan serangan terhadap posisi rezim di wilayah Latakia di jalur pantai Suriah.
Secara terpisah, Jaish al-Fatah dikatakan sedang mempersiapkan serangan terhadap rezim untuk membebaskan seluruh wilyah Aleppo, kota terbesar di negara itu.


Sunni Anti ISIS Pun Lebih Benci Milisi Syiah Dan Iran !

Sunni di Irak yang Anti ISIS pun lebih membenci Syiah yang lebih biadab daripada ISIS.



             

Iran Terus Mengalami Kegagalam Dalam Perang, Terus Merugi Dan Melemah!

13 mei 2015
Website al-ashr dalam analisanya mengatakan bahwa Jendral Qasim sulaimani, pemimpin milisi quwat al-quds dalam garda pengawal revolusi iran mengalami kegagalan yang beruntun di daerah-daerah ekspansi iran di negara-negara Arab. Kondisi ini membuat dia tiba-tiba menghilang, tidak terdengar lagi beritanya.
Kemampuan iran lebih rendah dari yang diberitakan. Kini iran terjebak dalam konflik, sedikit-demi sedikit tenggelam dalam perang di Yaman dan Suria. Kemampuan ekonominya juga terbatas akibat membiayai pemberontak Khoutsi. Sehingga bantuan ke hizbillah juga berkurang. Oleh karena itu iran segera menarik milisi syiah irak guna membantu basyar asad di suria. Tetapi karena sengitnya perang antara ISIS dengan Syiah di Tikrit Irak akhirnya terpaksa pasukan dipulangkan ke Irak oleh Jendral Qasim Sulaiman sebagai syarat amerika untuk menyerbu ISIS. Jadi tidak menyelamatkan mereka kecuali gempuran Amerika atas Isis.
Setelah kegagalan jendral Qasim di semua front ekspansi iran maka dia tiba-tiba menghilang.

Peralatan Tempur Rezim Syiah Iran Jadi Bahan Tertawaan


Situs stasiun TV Deutche Welle Jerman dalam bahasa Prancis mempublikasikan kumpulan foto album beberapa alutsista yang diproduksi oleh Iran, produk-produk buatan Iran ini dipamerkan kepada publik di acara hari tentara nasional Negara Syiah itu.
Situs alarabiya.net menulis bahwa foto-foto peralatan tempur yang diperlihatkan oleh Negara yang bertetangga dengan Iraq ini lumayan menggelitik, pasalnya peralatan-peralatan perang yang disebut produk asli Iran ini sangat tidak berbanding lurus dengan ancaman-ancaman serta ultimatum-ultimatum keras Iran untuk melakukan penyerangan terhadap Negara-negara yang menjadi saingan dan seterunya.
Situs Deutche Welle mengambil foto-foto album tentang peralatan-peralatan tempur terbaru Iran itu dari situs-situs resmi pemerintah Iran yang dipamerkan dalam rangka memperingati hari angkatan bersenjata Iran.
Acara hari angkatan bersenjata Iran ini sendiri telah dimulai tepatnya pada hari Sabtu kemarin, acara ini dibuka dengan sambutan resmi dari pucuk pimpinan tertinggi pemerintah Iran yaitu presiden Hasan Rouhani, dalam pidatonya Hasan Rouhani kembali menegaskan bahwa tujuan-tujuan damai Iran dalam melakukan berbagai tindakan-tindakan sangat perlu untuk mendapatkan dukungan masyarakat dunia, sementara itu terkait dengan Negara-negara yang bertetangga dengan Iran, Rouhani mengatakan bahwa menurutnya tidak ada keinginan untuk melakukan agresi atau invasi ke Negara-negara tetangga di timur tengah, dalam kesempatan ini Iran juga memamerkan sistem pertahanan udaranya yang dikirimkan oleh Rusia yaitu S-200. Pada kesempatan itu juga tak lupa presiden Rouhani menekankan pentingnya Negara-negara tetangga mencontoh keberhasilan Iran dalam bidang militer dan pertahanan.
Situs Deutche Welle menulis judul terkait pameran alutsista yang dilakukan oleh Iran pada hari angkatan bersenjata itu dengan mengatakan “Negara Syiah Iran Memamerkan Peralatan Senjata yang Berhasil Mereka Produksi Dalam Rangka Menyambut Hari Angkatan Bersenjata, Saksikanlah Foto-foto Peralatan Senjata Militer Mereka”.
Namun yang menarik bahwa beberapa rakyat Iran yang mungkin membuka halaman resmi Deutche Welle di situs jejaring sosial Facebook justru merasa “minder” dan seolah-olah merasa malu dengan kehadiran album foto-foto dalam acara perhelatan resmi Negara itu dengan mengatakan, “(Dengan peralatan perang seperti ini) kita menjadi bahan ketawaan Negara-negara arab.” Bahkan di antara mereka ada yang berkomentar mengatakan,”Kalian telah mempermalukan kami di hadapan Negara Saudi.”

3 Juta Negeri Syiah Iran Menjadi Pecandu Narkoba

Iran terletak tepat di jalur aliran terbesar di dunia heroin. Sejumlah analis menyebutkan bahwa jumlah pecandu narkoba di Iran mencapai angka 3 juta atau sekitar 8% dari populasi orang dewasa.
Heroin siap pakai, sebagian heroin halus dalam bentuk morfin, atau opium mentah meninggalkan ladang-ladang di Afghanistan dan masukkan Iran – diperkirakan 140 metrik ton per tahun itu. Hanya sekitar 23 persen dari angka itu yang disita setiap tahun, atau 32 metrik ton. Sebagian besar sisanya memasuki Turki dan kemudian berjalan melalui Balkan dalam perjalanan ke Eropa. Pada tahun 2008, setengah dari seluruh kasus penyitaan heroin di dunia terjadi di Turki atau Iran. Demikian dikutip dari Narconon.org.

Sementara penyitaan ini masih meninggalkan sejumlah besar obat melewati jalurnya ke Eropa, proporsi obat disita di Iran dan Turki jauh lebih tinggi dari yang disita di negara-negara lain pada rute ini.
Perbedaan harga heroin di perbatasan Afghanistan-Iran dan perbatasan Iran-Turki berarti bahwa pedagang bisa mengantongi US $ 450-600 juta setiap tahun. Keuntungan tinggi ini membuat kebrutalan dan kekejaman yang telah mengakibatkan kematian ribuan penjaga perbatasan Iran selama tiga puluh tahun terakhir.
Etnis Kurdi mengisi banyak daerah perbatasan Iran-Turki, dan dianggap sangat terlibat dalam gerakan obat melintasi perbatasan ini. Mereka kemudian mengontrol beberapa pengiriman ini semua jalan ke Eropa.
Mulai tahun 2005, Iran melihat peningkatan besar dalam jumlah amfetamin yang disita di negara ini. Secara kebetulan, Iran juga mengalami pertumbuhan permintaan yang sah untuk pseudoefedrin. Di mana pun ada pasokan dari pseudoefedrin, amphetamine juga dapat diproduksi. Peningkatan pasokan bahan kimia prekursor ini membuat negara lebih menarik bagi orang-orang yang ingin mencuri prekursor untuk kebutuhan manufaktur terlarang mereka.
Pada tahun 2008, 1,4 metrik ton obat-obatan terlarang dari kelas amfetamin (yang mencakup Capatgon dan methamphetamine) disita, diikuti oleh 2,4 metrik ton tahun depan. Juga pada tahun 2008, lebih dari 23 metrik heroin disita.

Ada beberapa analis yang menjelaskan masalah kecanduan heroin Iran sebagai “yang terburuk di dunia.” Perkiraan jumlah pecandu bervariasi – dari satu juta menjadi lebih dari tiga juta pengguna narkoba. Sebuah laporan tahun 2006 memperkirakan bahwa 8 persen dari populasi orang dewasa kecanduan obat.
Pada tahun 2009, dikatakan bahwa setiap tahun, 130,00 orang baru menjadi kecanduan obat di negeri ini dari 70 juta orang. Selama periode enam tahun, setengah juta orang menerima pengobatan dalam program rehabilitasi dari kecanduan obat. Tidak diketahui berapa banyak dari orang-orang ini berhasil selamat dan hidup terbebas dari narkoba di pusat-pusat perawatan tersebut.
Angka pengangguran yang tinggi menyebabkan rasa putus asa di dalam warga Iran. Dan putus asa itu dapat mendorong penggunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba dan kecanduan kemudian dapat baik mendorong pengguna narkoba ke dalam kejahatan untuk mendukung kebiasaan nya, atau membawa orang ke penjara karena penangkapan untuk penjualan atau kepemilikan obat.
Dari 170.000 orang di penjara di Iran, 68.000 yang ada untuk perdagangan narkoba dan 32.000 yang ini karena mereka pecandu. (bi/fimadani)

DIBOMBARDIRNYA KUBURAN THAGHUT HUSEIN BADRUDDIN AL HUTSY, Pendiri Milisi Syi’ah Pemberontak ANSHARULLAH (Baca: Ansharussyaithon)

Bismillahirrohmanirrohim. o
Dibombardirnya kuburan thaghut Husein Badruddin al Hutsy

DIBOMBARDIRNYA KUBURAN THAGHUT HUSEIN BADRUDDIN AL HUTSY, 
PENDIRI MILISI SYIAH PEMBERONTAK ANSHARULLAH

updated
Sebuah sumber di Angkatan Udara mengungkap arahan dari Putra Mahkota Kedua sekaligus Wakil Kedua Majelis Para Menteri dan Menteri Pertahanan, yaitu Al-Amir Muhammad bin Salman, yang disampaikan sebelum sebelum pengeboman yang dilakukan Pasukan Koalisi di Yaman.
Sumber tersebut menjelaskan pada sebuah penjelasan khusus kepada surat Kabar “Tamma” bahwa Al-Amir Muhammad bin Salman menyampaikan briefing kepada tentara Kerajaan Arab Saudi yang pemberani dengan mengatakan: “Mulailah dengan menghancurkan kuburan Al-Hutsy sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah dan dalam rangka menjaga tauhid. Setelah itu bomlah semua sarang Al-Hutsy!”
تم ـ نداء عادل ـ الرياض : كشف مصدر في القوّات الجويّة، عن توجيهات سموِّ ولي ولي العهد، النائب الثاني لرئيس مجلس الوزراء، وزير الدفاع، الأمير محمد بن سلمان، قبل الضربات التي باشرها تحالف دعم الشرعية في اليمن.
وأوضح المصدر، في تصريح خاص لصحيفة “تم”، أنَّ “الأمير محمد بن سلمان، خاطب جنود المملكة البواسل، موجّهًا إياهم، بالقول (ابدأوا بضرب قبر الحوثي، قربة لله، وصونًا لجناب التوحيد، وبعدها اقصفوا كل مقرات الحوثي”.
Masih ingat dengan Thaghut yang satu ini? Husain Badruddin Al Hutsy
Dan…..
Kuburan yang dimuliakan, dipuja-puja oleh kaum penyembah kubur Rafidhah Hutsy itu …. telah dihancurleburkan. Walhamdulillah
kuburan husein badruddin dibombardir1
Gambar 1. (Sebelum dibombardir pesawat tempur negeri Tauhid, atas) Berjubel-jubel Hutsiyun Rafidhah mendatangi kuburnya & pemandangan pasca dibombardir (bawah)
kuburan husein badruddin dibombardir2
Gambar 2. Gambar setelah dibombardir (atas) dan sebelum dibombardir (bawah)
Berikut video tatkala  burung besi negeri tauhid (pasukan koalisi) membombardir kuburan Thaghut Hutsy:
Penyembahan kubur* adalah bisnis “Menguntungkan”
Dan sudah dikenal bahwa agama Syiah Rafidhah adalah agama pemuja-penyembah kubur. Wal’iyadzubillah