1. SYIAH
Showing posts sorted by relevance for query syiah jerusalem. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query syiah jerusalem. Sort by date Show all posts
Monday, September 14, 2020
Wednesday, May 12, 2021
Bisakah Negara Palestina Berdiri Dengan Intervensi Turki Dan Iran ?
Mujahidin Palestina Di Pront Terdepan, Yang Ditakuti Yahudi Israel, Bermanhaj Salafi, Sama Dengan Aqidah Sahabat Yang Pernah Menaklukan Jerusalem. Mereka “Al Akhfiya” (Orang-Orang Yang Tidak Suka Popularitas)
http://lamurkha.blogspot.com/2017/12/mujahidin-palestina-di-pront.html?m=0
By : admin lamurkha Mukadimah :
●Kekalahan Zionis Israel masuk kelaut, kekalahan Arab diduduki tanahnya.●Tidak ada Perang Arab Israel tanpa Mesir, Tidak ada Perdamaian tanpa Suriah,
tidak ada keduanya tanpa Arab Saudi.●Semua paragraf pada tulisan dibawah ini ada referensi ilmiyahnya.●Silahkan bantah dengan tulisan - no lisan.
Fakta Kekuatan Militer Zionis Israel ●Israel
= Amerika Kecil, Amerika = Israel Besar.●Semua senjata Canggih Amerika dimiliki Israel, bahkan dimodifikasi Israel
lebih canggih yg dimiliki Amerika.●Zionis Israel memiliki 200 hulu ledak nuklir, Tidak ada satupun Negara Arab,
Islam di Timur Tengah yg punya. Anda faham Nuklir ? Saya pernah kerja direaktor
nuklir.●Kekuatan Angkatan Udaranya termasuk terkuat didunia. Israel memiliki total 595
pesawat militer, 241 pesawat tempur termodern (upgrade) jet siluman F-35,
23 pesawat serangan khusus, 15 unit pesawat transportasi, 154 unit pesawat
latih, 23 pesawat misi khusus, 128 helikopter, dan 48 helikopter serang.●Dari segi pertahanan darat, Israel memiliki 1.650 tank tempur tercanggih,
7.500 kendaraan lapis baja, 650 unit self-propelled artillery, 300 unit
artileri darat, dan 100 proyektor roket.●Angkatan laut terkuat di Timut tengah.●Ada "Dokrin" “superioritas militer kualitatif” Israel atas
tetangganya. Amerika Serikat menjamin, Israel akan memperoleh senjata Amerika
yang lebih canggih dari pada negara-negara Arab. Sikap Turki Dan Iran Dalam Perang Arab – Israel
Thursday, May 20, 2021
Syiah (Kitabnya) Mengingkari Eksistensi Al Haramain Dan Al Aqsa, Juga Mengkafirkan Ahlu Sunnah, Mustahil Terjadi Taqrib, Bahkan Sejarah Kelam Hingga Saat Ini Banyak Membunuh (Menghalalkan Nyawa) Ahlus Sunah. Apakah Mungkin Berasyik Mansyuk (Al-Walâ Wa Al-Barô) Dengan Rafidhah Dalam Perjuangannya ?
Khamenei Percaya Sholat Sunni Ditolak AllahSyiah Katakan Ibadah Sunni Ditolak Allah (lihat Comments)
An-Nawashib (Para
Pembangkang) Menurut Syiah Adalah Sunni Ahlussunnah WaljamaahBagi syiah membunuh ahluh
sunnah halal. Syiah Mengkafirkan Kaum
MusliminBenarkah Syi’ah Rafidhah
(Iran dan Sekutunya) Peduli Pada Palestina? [Inilah Faktanya]Bukti-bukti Syiah
Mengkafirkan dan Menghalalkan Darah Umat IslamBagi Syiah; Abu Hanifah Adalah Nashibi, Kafir Dan Halal
Darahnya.Kriteria Nashibi (Nawashib) Dan Sikap Syiah Terhadapnya
Wednesday, October 30, 2019
Dagelan Majusi Syi’ah (Iran) - Zionis Yahudi (Iran). Fakta Ilmiyah Membuat Anda Terperangah !
Pidato presiden Israel, Binyamin
Netanyahu “Kami Hanya menonton”
Dusta syiah memerangi (Zionis) israel
Iran: Kami Akan Serang Israel (Omong
Kosong)
https://youtu.be/MXdnieYVvMk
Syiah, Israel Dan Amerika Bersatu Untuk
Membantai Kaum Muslimin
Friday, November 3, 2017
Para Ulama Menyebut Daulah Fatimiyah (3H) Dengan Daulah Ubaidiyah (Ubaidullah Al-Mahdi). Tidak Ada Bukti Ilmiyah (Jahr Wat Ta’dil) Dari Ulama-Ulama Tsiqah Yang Hidup Diabad Ke 3H-7H Terkait Klaim Nasab Mereka Kepada Fathimah RA. Daulah Peneror Terkejam (Syi’ah Ismailiyah) Terhadap Ahlu Sunnah.


Pada
masa kekuasaan Fatimiyah, orang-orang Sunni dilarang memasuki Kota Jerusalem
Kenapa Dinasti Fathimiyyun yang besar dan
mengklaim Memiliki Nasab Sampai Fatimah RA, saat ini tidak meninggalkan jejak
keturunannya (terdata)?
Mengenal
Kerajaan Syiah, Daulah Fatimiyah
Pembahasan mengenai Daulah Fatimiyah
adalah pembahasan yang menarik, karena kontroversi yang ditimbulkan oleh daulah
ini cukup menggegerkan dunia Islam. Ada yang mengatakan kerajaan ini memiliki
sumbangsih besar mengenalkan umat Islam pada ilmu pengetahuan, karena merekalah
yang membangun Universitas al-Azhar. Di sisi lain, kerajaan ini dikatakan
sebagai kerajaan ekstrim yang intoleran, menindas muslim Sunni atau Ahlussunnah
wal Jamaah. Sejarah kerajaan yang dipenuhi dengan penindasan, penipuan, dan
penyimpangan dari ajaran Islam juga menjadi sisi lain yang perlu diangkat dan
diketengahkan.
Sunday, April 7, 2024
𝗕𝗶𝗻𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘁, 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗹𝗮 𝗠𝗮𝗷𝘂𝘀𝗶 𝗦𝘆𝗶'𝗮𝗵 𝗜𝗿𝗮𝗻 ? 𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝘀𝗶𝗸𝗮𝗽 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝗔𝗿𝗮𝗯 𝗸𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗯𝗮𝘁 𝗦𝘆𝗶'𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗷𝘂𝘀𝗶 𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗩𝗦 𝗭𝗶𝗼𝗻𝗶𝘀 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 ?
𝗕𝗶𝗻𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘁, 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗹𝗮 𝗠𝗮𝗷𝘂𝘀𝗶 𝗦𝘆𝗶'𝗮𝗵 𝗜𝗿𝗮𝗻 ? 𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝘀𝗶𝗸𝗮𝗽 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝗔𝗿𝗮𝗯 𝗸𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗯𝗮𝘁 𝗦𝘆𝗶'𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗷𝘂𝘀𝗶 𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗩𝗦 𝗭𝗶𝗼𝗻𝗶𝘀 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 ?
Thursday, September 4, 2014
Mengenal Kerajaan Syiah, Daulah Fatimiyah
Mengenal Kerajaan Syiah, Daulah Fatimiyah
Pembahasan mengenai
Daulah Fatimiyah adalah pembahasan yang menarik, karena kontroversi yang
ditimbulkan oleh daulah ini cukup menggegerkan dunia Islam. Ada yang mengatakan
kerajaan ini memiliki sumbangsih besar mengenalkan umat Islam pada ilmu
pengetahuan, karena merekalah yang membangun Universitas al-Azhar. Di sisi
lain, kerajaan ini dikatakan sebagai kerajaan ekstrim yang intoleran, menindas
muslim Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah kerajaan yang dipenuhi dengan
penindasan, penipuan, dan penyimpangan dari ajaran Islam juga menjadi sisi lain
yang perlu diangkat dan diketengahkan.
Akidah Syiah Ismaailiyah
Sebelum membahas
kekuatan politik Daulah Fatimiyah, terlebih dahulu kita membahas ideologi
kerajaan ini, karena inilah yang melandasi gerakan politiknya. Daulah Fatimiyah
adalah sebuah kerajaan yang berideologi Syiah, lebih tepatnya Syiah Ismailiyah.
Syiah Ismailiyah adalah sekte Syiah yang meyakini bahwa Ismail bin Ja’far
adalah imam ketujuh, adapun mayoritas Syiah (Syiah Itsna Asyriyah) meyakini
bahwa Musah bin Ja’fa-lah imam ketujuh setelah Ja’far ash-Shadiq. Perbedaan
dalam permasalahan pokok ini kemudian berkembang ke berbagai prinsip ajaran
yang lain yang semakin membedakan ajaran Syiah Ismailiyah dengan Syiah arus
utama, Syiah Itsna Asyriyah, sehingga ajaran ini menjadi sekte tersendiri.
Ismailiyah memiliki
keyakinan yang menyimpang jauh dari ajaran dan akidah Islam. Sebagaimana sekte
Syiah lainnya, Syiah Ismailiyah juga meyakini bahwa para imam terjaga dari
perbuatan dosa, mereka adalah sosok yang sempurna, dan tidak ada celah sama
sekali. Para imam juga dianggap memiliki kemampuan-kemampuan rububiyah, pendek kata, para imam merupakan perwujudan
Tuhan di muka bumi.
Tentu saja pandangan
Ismailiyah ini bertentangan dengan nilai-nilai tauhid yang diajarkan Islam.
Mereka mengultuskan para imam mereka sebagaimana Nasrani mengultuskan Nabi Isa
‘alaihissalam. Atas dasar ini, para ulama menyimpulkan bahwa
Syiah Ismailiyah bukanlah bagian dari Agama Islam. Dengan demikian, otomatis
Daulah Fatimiyah tidak dianggap sebagai kerajaan Islam dan
peninggalan-peninggalan mereka juga tidak dikategorikan sebagai warisan budaya
Islam.
Munculnya Dinasti Fatimiyah
Setelah mengetahui
dasar ideologi Syiah Ismailiyah, umat Islam menolak ajaran ini dengan
terang-terangan, akibatnya orang-orang yang berpegang pada ajaran ini
menyembunyikan keyakinan kufur mereka. Sepanjang tahun 800-an hingga awal
900-an M, mereka menyebarkannya kepada orang-orang awam secara
sembunyi-sembunyi. Strategi ini mereka lancarkan mulai dari Maroko hingga ke
India. Akhirnya pada tahun 909 M, mereka mulai menetapkan berdakwah secara
terang-terangan dan mulai berpengaruh di dunia Islam.
Pada tahun 909 M, di Tunisia,
seseorang yang bernama Said bin Husein yang memiliki laqob Ubaidullah al-Mahdi
Billah memproklamirkan diri sebagai khalifah Daulah Fatimiyah. Ubaidullah
al-Mahdi menuntut kepada pengikut sekte Syiah Ismailiyah untuk menaatinya
karena dia mengklaim dirinya sebagai imam dalam sekte Syiah Ismailiyah yang
memiliki hubungan darah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdari
jalur putri beliau Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dari
sini terambil nama Fatimiyah). Para ulama telah membantah klaim nasab
Ubaidullah al-Mahdi ini, oleh karena itu mereka menyebut Daulah ini dengan
Daulah Ubaidiyah bukan Daulah Fatimiyah.
Untuk memperkuat
kerajaan barunya, Ubaidullah al-Mahdi mengakomodir orang-orang Barbar di Afrika
Utara sebagai kekuatan militer. Ia berhasil mempengaruhi orang-orang Barbar
yang sudah kecewa dengan Dinasti Aghlabiyah di Afrika Utara dan menjanjikan
posisi yang baik dan balasan yang memuaskan apabila mereka bergabung dengan
Daulah Fatimiyah.
Usaha Ubaidullah
al-Mahdi tidak sia-sia, orang-orang Barbar dengan berbagai sukunya berhasil
diajak bergabung dan membantunya menaklukkan Daulah Aghlabiyah. Di Kota
Raqqadah bekas istana Aghlabiyah pemerintahan Ubaidullah al-Mahdi dimulai. Dari
sini kekuasaanya mulai meluas dari Afrika Utara, Maroko, Aljazair, Tunisia,
Libia, Sisilia, dan Malta berhasil jatuh dan tunduk di bawah kekuasaannya.
Keberhasilan Daulah Fatimiyah ini tentu saja menjadi teror bagi mayoritas umat
Islam, terlebih khusus kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.
Daulah Fatimiyah Menguasai Mesir
Pada tahun 969 M,
Fatimiyah sudah memiliki kekuatan yang cukup besar, inilah saatnya menakulkkan
wilayah yang besar, strategsi, dan memiliki pengaruh dan prestise, yaitu Mesir.
Saat itu, Mesir dipimpin oleh Dinasti Iksidiyah yang dipercayakan penguasa
Abbasiyah untuk bertanggung jawab di Mesir dan wilayah kota suci: Mekah,
Madinah, dan Jerusalem. Daulah Fatimiyah berhasil menaklukkan Dinasti Iksidiyah
sehingga secara otomatis tiga kota suci tersebut jatuh ke wilayah kekuasaan Fatimiyah.
Setelah itu, mereka menjadikan Kairo sebagai ibu kota kekhalifahan.
Di akhir tahun 900-an
M, daulah ini menjadi sebuah kekuatan adidaya, mereka menguasai sebagian besar
dunia Islam, kekuasaan mereka terbentang dari Maroko hingga Suriah. Saat inilah
para orientalis menyebut bahwa Daulah Fatimiyah mencapai masa keemasan dan
mempraktikkan nilai-nilai toleran antara umat beragama. Namun kenyataannya,
teloransi di masa Daulah Fatimiyah hanyalah mitos belaka, bahkan nilai-nilai
toleran itu semakin buruk saat mereka berhasil menaklukkan Mesir. Para
orientalis menyebut masa itu sebagai masa toleransi semata-mata karena saat itu
populasi Yahudi dan Kristen semakin besar di dunia Islam.
Mengapa kita katakan hal itu hanya mitos? Berikut ini data-data sikap intoleran
yang dipraktikkan Daulah Fatimiyah, sekaligus membantah klaim para orientalis
tersebut.
Orientalis berpendapat bahwa pada
masa Fatimimiyah pertumbuhan populasi Yahudi dan Kristen cukup besar dan
orang-orang Fatimiyah secara terbuka bekerja sama dengan orang-orang ahlul
kitab ini. Kita katakan, hal ini bukanlah hal yang baru dalam perjalanan sejarah
umat Islam. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah juga terbuka dan profesional bekerja
sama dengan orang-orang non-Islam. Bahkan pada masa Abbasiyah hal itu sangat tampak
kentara. Pemerintah Abbasiyah terbuka mengundang orang-orang ahlul kitab,
bahkan orang-orang pagan (penyembah berhala) Yunani untuk memasuki Baghdad.
Mereka dimanfaatkan oleh Abbasiyah untuk membangun kejayaan umat Islam.
Pada masa
kekuasaan Fatimiyah, orang-orang Sunni dilarang memasuki Kota Jerusalem
Dalam perspektif Islam, justru
Fatimiyah tidak menerapkan sistem yang longgar bagi orang-orang Sunni atau
Ahlussunnah. Sunni dipaksa menyebutkan nama-nama kahlifah Fatimiyah dalam
setiap khutbah Jumat, orang-orang Syiah Ismailiyah diperbolehkan bahkan
dimotivasi untuk berkunjung ke Jerusalem, sedangkan orang-orang Sunni dilarang
melakukan hal itu (Jerusalem: The Biography, Hal.
204).
Fatimiyah juga memiliki hubungan
yang dekat dengan orang-orang Qaramitah di Semenanjung Arab. Duet ini
bertanggung jawab atas tindakan-tindakan ofensif terhadap kaum muslimin di
wilayah tersebut. Tahun 906 M, mereka menyerang kafilah jamaah haji yang hendak
menuju Mekah yang mengakibatkan 20.000 jamaah terbunuh. Tahun 928 M, Qaramitah
dipimpin oleh Abu Thahir menyerang Mekah, membantai penduduknya, danmencongkel Hajar
Aswad. 22 tahun kemudian baru mereka kembalikan Hajar Aswad ke Mekah setelah
diberikan tebusan (A History of Medieval Islam, Hal: 130).
Imam Ibnu Katsir “Dia (Abu
Thahir) telah melakukan ilhad (kekufuran)
di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang
sesudahnya.” (al-Bidayah wan Nihayah, 11:190-192).
Secara keseluruhan, masa pemerintahan Fatimiyah adalah penderitaan bagi
Ahlussunnah, mereka melakukan penganiayaan dan memaksa Ahlussunah untuk
menganut keyakinan kufur Ismailiyah. Ribuan Ahlussunnah dibunuh lantaran mereka menolak untuk menghina para
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam(The History of Islam, Hal: 269). Puncaknya terjadi pada
masa khalifah Fatimiyah, al-Hakim bi Amrillah (996-1021 M), ia menyiksa
orang-orang selain dari Syiah Ismailiyah termasuk juga orang-orang Yahudi dan
Kristen. Semua gereja dan sinagog di Jerusalem dihancurkan atau minimal
ditutup, sampai-sampai orang-orang Yahudi dan Kristen harus berpura-pura
menganut agama Syiah Ismailiyah (Jerusalem: The Biography,
Hal: 208). Ia memerintahkan
penghancuran makam suci bagi umat Kristen (History of The Arabs,
Hal: 792). Buah dari perbuatannya ini adalah pecahnya Perang Salib. Sehingga kita bisa
menggarisbawahi bahwa Perang Salib bukanlah dipicu oleh Islam dan umat Islam,
hal itu disebabkan oleh tingkah laku al-Hakim bi Amrillah dan doktrin Syiah
Ismailiyahnya, terlebih dia juga termasuk imam dalam ajaran Syiah Ismailiyah
bahkan dia mengklaim bahwa dirinya adalah penjelmaan Allah (History of The Arabs, Hal: 792).
Keruntuhan Kerajaan
Kemunduran Daulah
Fatimiyah dimulai ketika Khalifah al-Zahir wafat dan digantikan oleh anaknya
yang masih berumur sebelas tahun, Ma’ad al-Muntashir. Ia berkuasa hampir selama
enam puluh tahun, dari 1035-1094 M. Pada masa pemerintahannya wilayah Fatimiyah
yang luas menyusut sedikit demi sedikit hingga lebih kecil dari wilayah Mesir
sekarang. Pada masa itu kekacauan terjadi dimana-mana; kericuhan dan pertikaian
terjadi di antara orang Turki, Barbar, dan Sudan, kekuasaan negara lumpuh,
kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun pun melumpuhkan perekonomian negara.
Kemudian masa-masa setelahnya terus digantikan oleh khalifah-khalifah belia
yang bahkan belum menginjak usia akil balig.
Wilayah
kekuasan Daulah Fatimiyah di masa keemasannya
Pembunuhan dan
perebutan tahta mulai terjadi, perekonomian kacau, pajak naik untuk mencukupi
kebutuhan kerajaan, dan ketidakstabilan terjadi dalam banyak hal. Keadaan semakin parah dan
rumit dengan datangnya Pasukan Salib dan serangan balasan dari Almaric, Raja
Jerusalem. Keadaan menyedihkan itu diakhiri oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada 1171 M, ia meruntuhkan
Daulah Fatimiyah dan menurunkan khalifahnya yang terakhir dari tahtanya.
Diantara peninggalan Daulah Fatimiyah yang paling berharga adalah
Universitas al-Azhar yang semula mencetak sarjana-sarjana Syiah kemudian
diganti oleh Shalahuddin menjadi universitas yang mencetak tokoh-tokoh Sunni.
Sumber:
- Hitti, Philip K. 2008. Terj: History of The Arabs. Jakarta: Serambi.
- lostislamichistory.com
- islamstory.com
- Hitti, Philip K. 2008. Terj: History of The Arabs. Jakarta: Serambi.
- lostislamichistory.com
- islamstory.com
Ditulis oleh Nurfitri
Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com
Artikel www.KisahMuslim.com
Saturday, December 9, 2017
Mustahil Ahlus Sunnah Bisa Menguasai Al Quds (Al Aqsha) Sebelum Mengusir Syi’ah Dari Syam (Suriah Dan Sekitarnya), Seperti Yang Dilakukan Salahuddin Al Ayyubi. Syiah Mengingkari Al-Quds (Kamuflase) Dan Dendamnya Karena Penaklukan Oleh Umar RA. Dalam Perang Arab-Israel, Syiah Menggunting Dalam Lipatan. Penguasaan Israel Karena Peran Syiah.
Silahkan baca beberapa artikel Menarik
dibawah (stabilo).
Bagaimana Merebut Kembali Al Quds?
كيف
نسترد القدس ؟
Oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
*كلام
نفيس للعلامة ابن عثيمين رحمه الله .*
ولا يمكن أن يستردوها إلا باسم الإسلام على ما
كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم، وأصحابه، كما قال تعالى:{ إن الأرض لله يورثها
من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين } ؛ *ومهما حاول العرب، ومهما ملؤوا الدنيا من
الأقوال والاحتجاجات، فإنهم لن يفلحوا أبداً*
*حتى
ينادوا بإخراج اليهود منها باسم دين الإسلام ، بعد أن يطبقوه في أنفسهم* ؛
ولهذا أقول: إننا لن نقضي على اليهود باسم
العروبة أبداً؛ لن نقضي عليهم إلا باسم الإسلام؛ ومن شاء فليقرأ قوله تعالى: {
ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكر أن الأرض يرثها عبادي الصالحون }
فجعل الميراث لعباده الصالحين؛ وما عُلِّق بوصف
فإنه يوجد بوجوده، وينتفي بانتفائه؛ فإذا كنا عبادَ الله الصالحين ورثناها بكل يسر
وسهولة، وبدون هذه المشقات، والمتاعب، والمصاعب، والكلامِ الطويل العريض الذي
لا ينتهي أبداً!!
نستحلها بنصر الله عزّ وجلّ،
وبكتابة الله لنا ذلك . وما أيسره على الله .!
ونحن نعلم أن المسلمين ما ملكوا فلسطين في عهد
الإسلام الزاهر إلا بإسلامهم؛ ولا استولوا على المدائن عاصمة الفرس، ولا على عاصمة
الروم، ولا على عاصمة القبط إلا بالإسلام؛
ولذلك ليت شبابنا يعون وعياً صحيحاً بأنه
لا يمكن الانتصار المطلق إلا بالإسلام الحقيقي ،
لا إسلام الهوية بالبطاقة الشخصية .!
فنحن إذا رأينا صدر هذه الأمة،
نجد أنها انتصرت على أساس التوحيد ..
الإخلاص لله ..
الاتباع لرسول الله صلى الله عليه وسلم ..
البعد عن سفاسف الأمور ..
عن الأخلاق الرديئة ..
عن الفحشاء والمنكر ..
عن تقليد الأعداء.
*فعلينا
-أيها الإخوة- أن نرجع؛ لنقرأ ونتأمل فيما سبق في صدر هذه الأمة، حتى نأخذ بما
كانوا عليه من تمسك وعبودية وحينئذ يكتب لنا النصر.*
ونسأل الله تعالى أن يكتب لنا ولكم النصر لدينه،
وأن ينصرنا به وينصره بنا، وأن يجعلنا من أوليائه وحزبه إنه جواد كريم، وصلى الله
وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.
____
مختصر من كتب ورسائل للعثيمين رحمه الله - (ج 8 /
ص 117)
Bagaimana merebut kembali Al Quds?
Saturday, January 1, 2022
Index “Kesesatan Syi’ah”
Index ”Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”
Index "Bid'ah"
Index "Kesesatan Sufi (Tarekat)"
Saturday, April 25, 2015
Untuk "Pedagang Palestina/Gaza ( LSM)" ! HAMAS Dukung Serangan Koalisi Arab Terhadap Syiah Houthi, Tolak Bantuan Hizbullah, Serta Palestina Hanya Kenal Madzhab Sunni
Gerakan
perlawanan Hamas menyatakan dukungannya terhadap keabsahan konstitusi Yaman.
Hamas juga memberikan dukungan kepada Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi. Pesan
ini dinilai sebagai bentuk dukungan mereka atas kampanye militer negara Teluk.
“Hamas berdiri bersama keabsahan di Yaman,”
demikian pernyataan Hamas dikutip Middleeasteye (28/03).
Dalam pernyataan tersebut Hamas mendukung
pilihan demokratis rakyat Yaman. “Kami menggarisbawahi pentingnya persatuan,
keamanan dan stabilitas Yaman,” lanjut pernyataan itu.
Pernyataan ini dinilai merupakan pesan
pertama yang disampaikan Hamas, sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye
militer negara Teluk terhadap kelompok Syiah Hautsi di Yaman.
Pemerintah Turki juga menyatakan dukungan
pada operasi militer pimpinan Arab Saudi terhadap pemberontak Houthi di Yaman.
Operasi yang disebut sebagai “Operation Decisive Storm”.
Turki juga menyerukan agar Houthi dan para
pendukung asingnya (Iran dkk, red) segera menghentikan aksi-aksi mereka yang
dapat mengancam perdamaian dan kestabilan kawasan tersebut.
Menurut pemerintah Ankara, operasi militer
ini adalah upaya untuk mengembalikan posisi pemerintahan yang sah di Yaman dari
rongrongan atau aksi grup teroris.
Seperti diberitakan oleh Al-Arabiya yang
mengutip wawancara dengan France 24, Erdogan menyatakan bahwa Turki siap
memberikan bantuan logistik untuk mendukung operasi militer ini.
“Kami mendukung intervensi (yang dipimpin)
Arab Saudi,” kata Erdogan dalam wawancara tersebut.
“Turki mungkin mempertimbangkan untuk
memberi dukungan logistik berdasarkan perkembangan situasi,” lanjutnya.
“Iran dan grup teroris itu harus mundur,”
tambah Erdogan.
Hamas Tolak Syiah: Palestina Hanya Kenal
Madzhab Sunni

Jika ada yang mengatakan Hamas dan Hizbullah Syiah adalah sekutu dan sesama
aliran syiah itu adalah fitnah. Kementrian Dalam Negeri di Jalur Gaza, Senin
(16/01) kemarin menegaskan bahwa satu-satunya madzhab yang ada di Palestina
hanyalah Sunni. Dia mengatakan bahwa tidak ada sedikitpun tempat untuk
kegiatan-kegiatan madzhab Syiah.
Dalam pernyataannya, pihak kementrian tidak keberatan dan menerima
madzhab-madzhab yang ada termasuk Syiah dan kegiatan-kegiatan mereka. Pihaknya
tidak akan ikut campur dalam kegiatan berbagai madzhab tadi. Sebaliknya, mereka
juga tidak senang jika madzhab Syiah campur tangan dalam kegiatan dan tradisi
rakyat Palestina yang notabene beradzhab Sunni, sebagaimana dilaporkan agen
berita Timur Tengah.
Menanggapi insiden penangkapan terhadap sejumlah warga Syiah, Sabtu (15/01)
lalu, Kementrian menjelaskan bahwa hal itu dilakukan karena perkumpulan warga
Syiah pada saat itu sudah melampaui hukum yang berlaku dan menjurus pada tindak
kriminal. Walaupun begitu, pihaknya tetap akan menindak aparat yang bertugas,
jika terjadi pelanggaran HAM pada saat penangkapan itu.
Komisi Independen untuk HAM Diwan Al-Madzolim,
Ahad (16/01) kemarin di Jalur Gaza menuding aparat kepolisian Palestina
melakukan tindak kekerasan atas 20 warga Syiah yang sedang merayakan
Arba'iniyah (40 hari) syahidnya Imam Husain. Insiden ini mengakibatkan sejumlah
warga Syiah luka-luka.
Komisi Independen juga mendesak Kementrian Dalam Negeri di Jalur Gaza untuk
segera menyelidiki serta menindak oknum yang terbukti bersalah dalam kasus ini.
sumber :
http://alislamu.com/dunia-islam/4702-hamas-tolak-syiah-palestina-hanya-kenal-madzhab-sunni.html
Benarkah Syiah Peduli
Palestina ??
Jalur Gaza kembali
membara. Tahukah Anda mengapa Zionis Israel kembali menbantai Muslimin
Palestine di Ramadhan ini? Yahudi Israel ingin mengesankan bahwa saudara
kandungnya-lah yang paling peduli akan penderitaan muslimin di Gaza.
Lantas siapa saudara kandung Yahudi?Yaa tepat, SYIAH jawabnya.
Sudah menjadi jadwal rutin tahunan Syiah (khususnya di Indonesia), untuk
melakukan solidaritas besar-besar an untuk Muslimin Palestine di setiap jumat
terakhir di Bulan Ramadhan.
Perlu kita ketahui, tujuan utama Syiah bukanlah ikhlas membantu Muslimin Gaza,
melainkan hanya untuk menggaet muslimin Indonesia agar salut akan kepedulian
Syiah kepada Muslimin Gaza dan menganggap Syiah tidaklah sesat.
Voice of Palestine adalah organisasi milik Syiah di Indonesia yang paling vokal
menyuarakan solidaritas untuk palestine. Setiap Jumat terakhir pada Bulan
Ramadhan mereka selalu berorasi besar2an dengan tema solidaritas untuk Muslimin
Gaza. Mujtahid Hashem adalah Direktur organisasi tersebut.
Mirisnya, alumni SMA Al Islam Surakarta ini besar dan berkembang dengan ajaran
Syiah bersama Syiah Solo yang lantas terbang ke Qum-Iran untuk menyempurnakan
pemahaman Syiahnya.
Siapa Syiah Solo? Tentu kita semua mengetahuinya.
Bisa Anda buktikan sendiri dari fakta-fakta yang ada sebagai berikut:
1. Orasi Mujatahid Hashem untuk Palestine pada tahun 2010 dengan menyanjung2
Khomeini di tengah orasi (sangat aneh).http://m.youtube.com/watch?v=Ls8hJ6ItAW8
2. Pamflet kegiatan VOP bersolidaritas
untuk Palestine pada setiap Jumat terakhir di Bulan Ramadhan. (Perhatikan
gambar)
3. VOP bersama Jose Rizal Mer-C masuk ke
Gaza bersama Garda Revolusi Iran pada tahun 2010. http://m.voa-islam.com/…/merc-tembus-gaza-bersama-garda-re…/
4. Syiah Indonesia lagi-lagi bersama
Mujtahid Hashem dengan VOP nya seakan2 peduli dengan Muslimin Gaza melalui
website resmi Syiah Indonesia.
http://ahlulbaitindonesia.org/…/2214/menolak-lupa-palestina/
5. Status FB terakhir Direktur VOP
mengajak umat Islam bergabung bersama Syiah dalam bersolidaritas untuk Muslimin
Gaza (lihat gambar)
#PerselingkuhanYahudiDanSyiah
SEBARKAN!!! ORANG-ORANG TERDEKATMU HARUS TAHU SANDIWARA SYIAH
INDONESIA!!!
Benarkah
Syiah Serius akan Bebaskan al-Quds?
Benarkah Syiah Serius akan
Bebaskan al-Quds? Perhatian mereka kepada isu Palestina dan Al-Quds memang
disebabkan faktor politis non ideologis, memperluas Syiah
Oleh: Fahmi Salim, MA
SEMENJAK tahun 2006, ketika
Hizbullah Libanon mengalahkan mesin perang Israel dan mampu mengusir mereka
keluar dalam perang 33 hari, berita ini akhirnya menjadi komoditas dan merek
dagang baru jualan Syiah untuk banyak mengelabui umat Muslim yang mayoritas
mutlak berakidah Ahlusunnah wal jamaah.
Jauh sebelumnya memang sudah
pernah ada usaha Syiah untuk mengeksploitasi isu Palestina ini misalnya dengan
fatwa Imam Khomeini, Rahbar Iran, yang menetapkan hari jumat terakhir bulan
Ramadhan sebagai Hari Al-Quds Internasional. Namun sepertinya, tidak begitu
berpengaruh dan ‘ngefek’ untuk menarik simpati kaum muslimin sunni untuk
melirik akidah Syiah.
Baru setelah kisah heroism
perlawanan milisi Hizbullah tahun 2006 itulah, terjadi titik balik fitnah
tasyayyu di dunia Islam terutama di Syam (Mesir, Suriah, Libanon dan Yordania)
dan Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia).
Hanya karena sekali peristiwa
perlawanan Syiah terhadap Zionis-Israel, yang sebelumnya selalu bekerjasama
menghancurkan perlawanan bangsa Palestina, yang lebih didorong faktor politis
untuk menguasai Selatan Libanon sebagai basis milisi Syiah secara nasional
dengan tidak menyatakan kepentingan perang itu demi Palestina.
Sekali lagi, hanya karena sekali
itu saja, kita lalu dibuat –akibat bombardir media massa pro Syiah di dunia-
buta dan tidak kenal sama sekali kepahlawanan para tokoh-tokoh pejuang Sunni
yang puluhan ribu gugur untuk membela isu Al-Quds dan Masjidil Aqsha.
Nama besar seperti Hasan
Al-Banna, Mustafa Siba’I, Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantisi, Yahya Ayyash, dan
sederet martir-martir Ahlusunnah lenyap sirna seolah tertelan dan tenggelam
oleh kehebatan sosok milisi Hizbullah dengan pemimpinnya Hasan Nasrallah.
Waktu
itu, saya pun ikut mengagumi Nasrallah, sambil tetap mengenal baik jasa-jasa
martir Sunni di kepala saya. Sehingga doa selalu kami kirim untuk arwah mereka.
Namun
tidak sedikit, kawan-kawan saya wartawan media massa sudah termakan jualan
Syiah ini. Sambil meledek saya, ada yang berkata, mana orang-orang Sunni yang
seberani Hizbullah dan Ahmadinejad menentang dan menantang Israel dan AS?
Subhanallah, dia lupa akan nama-nama tadi dan jadi korban
media-media Syiah yang rajin membombardir kita dengan Hizbullah sehingga kita
lupa terhadap jasa para martir Ahlusunnah.
Selain faktor media itu dan
kondisi memalukan dari sikap politik resmi rejim pemerintahan Negara-negara
sunni yang lebih tunduk kepada tekanan AS dan ikut memusuhi Hamas, tidak banyak
yang mengetahui bagaimana sebenarnya sikap keimanan Syiah terhadap Al-Quds dan
Masjidil Aqsha, baik dari kalangan para mufasirnya maupun dari kalangan ulama
akidah yang menjadi marja’ utama kaum Syiah di dunia.
Masjidil Aqsha dalam Literatur
Syiah
Seorang peneliti masalah-masalah
Syiah, Thoriq Ahmad Hijazi dalam bukunya yang berjudul “As-Syi’ah wa Al-Masjid
Al-Aqsha”, telah memaparkan hasil penelitiannya tentang kedudukan Masjidil
Aqsha ini di mata ulama dan marja Syiah.
Hijazi memaparkan bahwa, hampir
semua kitab-kitab tafsir Syiah Imamiyah ketika menafsirkan ayat Isra Mi’raj
yang populer dalam QS. Al-Isra: 1, menyatakan bahwa posisi Masjidil Aqsha yang
sebenarnya itu adalah di langit atau baytul ma’mur. Ketika dinyatakan bahwa
orang awam (Ahlusunnah) menganggapnya itu adalah masjid yang ada di atas bukit
di kawasan kota Al-Quds, para ulama Syiah menyatakan bahwa Masjid Kufah lebih
utama dari Masjidil Aqsha yang di bumi itu. (lihat Tafsir As-Shafi karya
Al-Faydh Al-Kasyani vol.3/166; Tafsir Nur Al-Tsaqalain karya Al-Huwaizi
vol.3/97; Tafsir Al-‘Iyasyi vol.2/302; Tafsir Bayan As-Sa’adah vol.2/431)
Hakikat Masjidil Aqsha yang
dinyatakan oleh para mufasir Syiah itu juga sama dengan yang diungkapkan oleh
ulama marja’ Syiah di dalam kitab-kitab akidah mereka, yaitu di antaranya:
Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam Bihar Al-Anwar vol.97/405; Abbas Al-Qummi dalam
Muntaha Al-Amal hal.70; Ja’far Al-‘Amili dalam As-Sahih min Sirah Ar-Rasul
Al-A’zham vol.3/101; Al-Kulayni dalam kitab Al-Kafi vol.1/481).
Bahkan Al-Hurr Al-Amili dalam kitab
Tafshil Wasail Syiah ila Tahsil Masail Al-Syari’ah menyatakan bahwa hanya ada 3
tempat suci bagi umat Islam (tentu saja Syiah maksudnya) yaitu Masjidil Haram
di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Kufah karena ia adalah haram-nya
Imam Ali b. Abi Thalib (lihat vol.14/360). Ungkapan Hurr Amili ini didukung
oleh Syeikh Al-Shaduq penulis kitab “Man La Yahdhuruh Al-Faqih” yang merupakan
satu dari 4 kitab rujukan utama Syiah, seperti dikutip Hurr Amili dalam
kitabnya, yang meriwayatkan hadis dari Amirul Mu’minin Ali b. Abi Thalib bahwa:
“Tidak dianjurkan mengencangkan perjalanan kecuali kepada 3 Masjid: Al-Haram di
Mekkah, Nabawi di Madinah dan Masjid Kufah” (vol.3/525)
Anehnya, ketika mengagungkan
Masjid Kufah karena didalamnya Imam Ali b. Abi Thalib dimakamkan, Syiah sudah
melupakan fakta bahwa Masjid tersebut dibangun oleh panglima muslim salah satu
sahabat nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqqas, satu dari 10 orang sahabat yang
dijamin masuk surga, atas perintah Khalifah Umar bin Khattab saat ummat Islam berhasil
menaklukkan ibukota kerajaan Persia.
Sebagaimana maklum Umar bin
Khattab dianggap dajjal dan ‘kafir’ oleh Syiah karena ikut merampas hak
kekhalifahan Ali, demikian pula Sa’ad bin Abi Waqqas dikafirkan oleh mereka
karena tidak membaiat khalifah Ali. Sa’ad bahkan dijuluki oleh mereka Qarun-nya
umat Islam. Bagaimana bisa Masjid yang dibangun oleh panglima Sa’ad yang
“murtad” dan atas perintah khalifah Umar yang “kafir” itu demikian mulia di
mata para ulama rujukan kaum Syiah dan para pengikutnya?
Hubungan Masjidil Aqsha dan
Proyek Syiah
Sebelum rejim partai Ba’ats di
Iraq pimpinan Presiden Saddam Husain terguling oleh koalisi ‘halus’ Amerika
Serikat dan Syiah Iraq pada tahun 2003, pada tahun 2002 sebuah majalah Syiah
“Al-Minbar” di Kuwait membuat reportase ekslusif tentang Karbala dan Al-Quds.
Majalah itu dipimpin oleh Yasir Habib, yang heboh pada tahun 2006 melaknat
Aisyah dan sahabat Nabi secara terbuka di Youtube sehingga memaksa Rahbar Iran
Ayatullah Ali Khamenei mengeluarkan fatwa haram mencaci symbol-simbol tokoh
ahlusunnah demi persatuan Islam.
Di dalam majalah Al-Minbar edisi
23, bulan Maret 2002, Yasir Habib menulis tajuk redaksi berjudul “Sebelum
Al-Quds, Bebaskan Dulu Karbala!”, di situ ia mengatakan bahwa “Meskipun Al-Quds
istimewa dan suci namun tetap urutannya ada setelah Karbala, kedudukan Quds
tidak sama dengan Karbala dan kedudukan Dome of Rock juga tidak lebih istimewa
dari Hussein, Masjid Aqsha juga tidak sama dengan Haram Masjid Kufah… Quds
bukanlah fokus perhatian pertama kami (Syiah), Karbala lah fokus utama kami,
maka sebelum membebaskan Al-Quds maka kita wajib membebaskan Karbala (yang
masih dijajah oleh rejim Saddam Husein saat itu tahun 2002).” Setelah itu bisa
dibebaskan, lanjut Yasir, maka barulah kita bergerak ke Palestina, dan dari
sana lah kita akan bergerak ke seluruh dunia menyebarkan cahaya dan petunjuk.
Ia kembali menegaskan, “Telah
kami jelaskan bahwa Al-Quds tidak akan kembali ke pangkuan umat Islam selama
umat Islam belum kembali ke pangkuan Muhammad dan Ali alayhima assalam!
(maksudnya mengikuti akidah Syiah) Ia menambahkan seruannya, “Kembalilah kalian
semua kepada Muhammad dan Ali, niscaya Al-Quds akan kembali ke pangkuan kalian
dengan Al-Mahdi! Bebaskan Karbala dahulu sebelum segala sesuatunya, baru
pikirkan (langkah membebaskan) Al-Quds dan wilayah-wilayah sekitarnya. (Majalah
Al-Minbar edisi 23, Maret 2002 M)
Syiah, Propaganda Yahudi dan
Orientalis
Kaum Zionis-Yahudi selalu
berusaha untuk meninjau ulang penafsiran ayat-ayat alquran yang menyatakan
keistimewaan Masjidil Aqsha dan meragukan hadis-hadis nabi yang dinyatakan
kesahihannya oleh ijma’ ulama ahlusunnah wal jama’ah.
Mereka menyatakan bahwa kata
Al-Aqsha berarti tempat shalat di langit, dan untuk tujuan itu mereka
mendapatkan pembenaran dari riwayat-riwayat Syiah yang menyatakan bahwa
Masjidil Aqsha adalah nama Masjid di langit yang mirip namanya dengan Masjid
yang terletak di Al-Quds sekarang ini.
Pandangan Zionis semacam ini
mudah didapatkan di dalam beberapa literatur seperti entri Al-Quds yang ditulis
F. Buhl, cendekiawan Yahudi di dalam Encyclopedia of Islam. Ia menulis,
“barangkali Rasul (Muhammad) mengira bahwa Masjidil Aqsha adalah suatu tempat
di langit”. (lihat buku Fadhail Bayt Al-Maqdis fi Makhtutat ‘Arabiyyah Qadimah
karya Dr. Mahmud Ibrahim hlm.47, terbitan Ma’had Al-Makhtutat Al-‘Arabiyyah,
cet.1 tahun 1985)
Salah satu peneliti senior di
Akademi Studi Asia dan Afrika di Universitas Hebrew Jerussalem, Yitzhak Hasson,
pernah meneliti manuskrip kitab Fadhail Bayt Al-Maqdis karya Abu Bakr Muhammad
bin Ahmad Al-Wasithi.
Ia menulis dalam kata
pengantarnya, “telah dimaklumi bahwa sekte-sekte Syiah tidak memandang adanya
keistimewaan Masjid Bayt Al-Maqdis ini di atas Masjid-Masjid lainnya”.
Yitzhak Hasson juga mengajukan
dalil hadis-hadis yang tertera di dalam kitab Bihar Al-Anwar karya Al-Majlisi,
seorang marja utama Syiah, dengan menulis bahwa “ulama Islam tidak pernah
bersepakat bahwa Masjid al-Aqsha yang dimaksud adalah Masjid yang sekarang ada
di kota Al-Quds sekarang ini, karena sebagian mereka menganggap bahwa Masjidil
Aqsha adalah Masjid yang letaknya di langit berada tepat di atas kota Al-Quds
atau Mekkah” (ibid, Dr. Mahmud Ibrahim, hlm.41)
Propaganda Yahudi yang
menyangsikan posisi dan kedudukan Masjidil Aqsha di dalam keyakinan umat Islam
yang mayoritas berakidah ahlusunnah wal jamaah, juga didukung oleh beberapa
serpihan pemikiran orientalis.
Ignas Goldziehr (Orientalis
Hongaria berdarah Yahudi, 1850-1920 M) adalah orang pertama yang meragukan
hadis-hadis keutamaan Masjidil Aqsha yang ada sekarang ini dengan mengklaim
bahwa khalifah Abdul Malik bin Marwan pada masa Umawiyah, telah melarang orang
pergi haji ke Mekkah pada masa fitnah yang terjadi pada masa Abdullah ibnu
Az-Zubair yang memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang menguasai kota
Mekkkah.
Sebagai tandingannya, Abdul Malik
ibnu Marwan membangun The Dome of Rock (Qubbat Sakhra) di Masjidil Aqsha agar
umat Islam pergi haji ke sana sebagai alternatif berhaji ke Mekkah yang sedang
dikuasai oleh Ibnu Zubair.
Untuk memuluskan politik ‘haji’
ala Abdul Malik bin Marwan inilah, menurut Ignas Goldziehr, ia meminta Imam
Ibnu Syihab Az-Zuhri untuk membuat hadis-hadis palsu yang menerangkan keutamaan
Masjidil Aqsha seperti hadis populer tentang syaddu rihal ke Masjid Haram,
Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.
Goldziher mengklaim bahwa semua
hadis keutamaan baytul maqdis itu melalui jalur periwayatan ibnu Syihab
Az-Zuhri. (lihat pembahasan ini dalam kitab As-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri’
Islami, karya Dr. Musthafa As-Siba’I, hlm. 189-199, cet. Maktab Islami, tahun
1985)
Dari paparan tersebut, jelaslah
bahwa Yahudi memanfaatkan hadis-hadis Syiah yang bertujuan politis untuk
melawan para khalifah Bani Umayyah dan untuk memberikan keistimewaan bagi
kota-kota suci Syiah yang melebihi kedudukan Masjidil Aqsha.
Dengan demikian jelas pula
kedudukan Masjidil Aqsha di mata Syiah. Karena mereka tidak mengakui
keistimewaan Masjid suci ketiga dan kiblat pertama umat Islam, yang dibebaskan
oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA dan dipugar oleh para khalifah Bani
Umayyah, serta dibebaskan kedua kali dari Pasukan Salib oleh Sultan An-Nashir
Shalahudin Ayyubi.
Jadi mana mungkin mereka mengakui
keistimewaan Masjid yang dimuliakan oleh tokoh-tokoh Ahlusunnah yang dimata
mereka semua sangat dibenci. Khalifah Umar bin Khattab jelas dituding merampas
hak kekhalifahan Ali, Bani Umayyah apalagi jelas dituding membantai dan
menindas Ahlul Bayt dan pengikutnya, dan Sultan Shalahudin Ayyubi jelas sekali
menghancurkan kekuatan daulah Syiah ismailiyah, saudara kembar Syiah imamiyah,
yaitu Daulah Fatimid di Mesir, sebelum beliau mengalahkan kekuatan Salib.
Kenapa Al-Quds?
Sekarang, pertanyaannya mengapa
kelompok Syiah dunia saat ini menaruh perhatian besar terhadap persoalan
Al-Quds dan Masjidil Aqsha? Sudah beberapa seminar internasional digelar dan
juga seminar-seminar nasional yang diadakan oleh pihak-pihak Indonesia yang pro
Syiah yang mengangkat tema pembebasan Al-Quds.
Saya menduga, bahwa perhatian
mereka terhadap persoalan Al-Quds dan Masjid Aqsha belakangan ini lebih
disebabkan faktor-faktor politis, non ideologis keagamaan murni.
Salah satu blog Syiah (www.yahosein.com)
di dunia Arab pernah pertanyakan status dan kedudukan Masjidil Aqsha di mata
Syiah.
Uniknya, salah satu peserta
diskusi jelas menyatakan bahwa “Masjid Al-Quds itu menurut Syiah dan
golongan-golongan sesat (Ahlusunnah, di dalamnya) diakui telah dibangun oleh
perampok nomor dua (kiasan untuk Khalifah Umar), dan di dalamnya ada kayu
minbar yang populer dengan sebutan mimbar shalahuddin, di mana sultan
kharabuddin (perusak agama, julukan buat Shalahudin Ayyubi di kalangan Syiah)
membacakan khutbah, amat disayangkan ada umat Syiah yang bersedih dan menangis
ketika Yahudi menggali di kawasan sekeliling Masjidil Aqsha.”
Hemat saya, perhatian mereka
belakangan ini kepada isu Palestina dan Al-Quds memang disebabkan faktor
politis non ideologis. Sebab jika ditilik akidah atau ideologi Syiah tentang
Masjid Al-Aqsha jelas sekali dianggap tidak suci dan tidak istimewa melebihi
Masjid Kufah, Karbala, Kubah Samarra, Najaf dan lain-lain. Satu-satunya alasan
yang tersisa adalah faktor politis.
Seperti kita maklumi, Iran sejak
revolusi Khomeini bersemangat ingin mengekspor revolusi Syiahnya ke seluruh
dunia Islam dan bekerja siang malam untuk menyebarkan paham Syiah dengan segala
sumber daya yang dimiliki.
Untuk tujuan itu, mereka berpikir
keras agar paling tidak sebagai tahap awal bisa diterima oleh mayoritas mutlak
umat Islam yang ahlusunnah ini dan tidak dicurigai membawa paham Syiah. Mereka
melihat bahwa isu Palestina dan Al-Quds sejak beberapa dekade silam menjadi isu
sentral sekaligus seksi di mata umat Islam dunia. Oleh sebab itulah, para
politisi dan ulama Syiah mengangkat isu ini sebagai ‘jualan’ komoditas mereka
(trademark).
Mereka juga sejak dekade lalu
menetapkan Hari Al-Quds Internasional pada setiap jum’at terakhir bulan
Ramadhan. Isu sentral Al-Quds memang sangat sentral dan empuk untuk meraih
kepercayaan dan simpati publik Muslim Sunni di dunia Islam.
Persoalan utamanya justru yang
bisa menjadi pembenar dugaan saya bahwa isu ini dieksplotasi secara politis
untuk menyebarkan paham Syiah dengan seolah menggambarkan kepahlawanan Syiah
lah sesungguhnya yang mengalahkan Israel dalam perang Hizbullah tahun 2006 dan
manuver Ahmadinejad, presiden Iran, yang terus menerus berkoar akan melumatkan
Israel dan menghapusnya dari peta dunia.
Strategi ini cukup sukses untuk
membius dan menipu ulama dan cendekiawan sunni yang awam terhadap strategi
Syiah ini, sehingga secara langsung atau tidak ikut membantu dan membela hak
Syiah menyebarkan ajarannya di tengah komunitas Ahlusunnah.
Padahal tanah yang diberkahi
yaitu Palestina dan Al-Quds tidaklah dimuliakan dan disucikan oleh Allah dan
Rasul-Nya melainkan karena di dalamnya terdapat Masjid Al-Aqsha. Untuk itulah,
terdapat hadis-hadis mutawatir yang menyebutkan keutamaan shalat di dalamnya,
dan bepergian kesana. Namun, seperti yang sudah saya singgung, sikap dan
pendirian para mufasir dan ulama-ulama rujukan utama Syiah tidak menganggap
sama sekali adanya Masjidil Aqsha, apalagi keistimewaannya seperti dijelaskan
oleh sumber-sumber Ahlusunnah.
Oleh sebab itu tidak ada tafsir
lain yang bisa menjelaskan perhatian besar mereka terhadap isu Al-Quds dan
palestina, selain faktor politis yang saya kemukakan di atas. Silahkan pembaca
menilainya sendiri secara objektif. Diterima atau tidak terserah pembaca.
Mamduh Ismail, seorang kolumnis
Palestina menulis di situs Islamway.com bahwa poros aliansi Syiah
Iran-Suriah-Hizbullah adalah kaum munafik yang memanfaatkan isu Palestina untuk
kepentingan mereka sendiri sebagai jualan heroisme kepada rakyatnya dan
bangsa-bangsa muslim dunia. Namun pada saat Gaza digencet Israel dan
dibombardir Zionis selama lebih dari 20 hari di akhir tahun 2008 sampai Januari
2009, poros Syiah yang tampil heroik di depan publik muslim dunia ternyata
tidak menolong sedikitpun kepada ‘saudara-saudara’ mereka kaum muslimin di Gaza
yang menderita akibat agresi Israel. Tidak satupun roket atau senjata yang mereka
kirim untuk membantu Hamas yang berjuang sendirian mempertahankan Gaza dari
agersi Israel. Padahal katanya mereka adalah Negara kuat yang memiliki kekuatan
militer yang bisa menghancurkan pasukan Zionis. Namun apa yang terjadi? Apa
yang mereka lakukan hanyalah bentuk kemunafikan yang menjijikkan (lihat link
berbahasa arab http://ar.Islamway.com/article/4939 diunduh
oleh penulis pada tanggal 4 Juli 2012)
Kesimpulannya, saya berkeyakinan
bahwa kelompok yang ‘terbiasa’ menghina Khalifah Umar bin Khattab dan
mendiskreditkan Shalahuddin Ayyubi pada masa silam, tentu saja tidak akan bisa
membebaskan Palestina dan Al-Quds pada masa kini.
Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha hanya
bisa dibebaskan oleh kelompok yang mendapat pertolongan Allah ta’ala, mereka
disebut At-Thoifah Al-Manshurah yang teguh dan istikamah memegang Kitabullah
dan Sunnah Rasulullah saw, dan memiliki akidah yang sahih tidak bercampur
sedikitpun dengan bid’ah-bid’ah dhalalah seperti akidah kemaksuman manusia
biasa selain Rasul, dan apalagi yang meyakini Al-Qur’an ini palsu dan
terdistorsi. Wallahu A’lam.*
Penulis adalah pemerhati Al-Quds
dan Wakil Sekjen MIUMI
Bantuan Hizbullah
Ditolak Hamas
UPAYA kelompok Syiah untuk
menancapkan eksistensinya di Palestina dilakukan dengan berbagai macam cara.
Namun segala upaya itu selalu ditolak oleh Hamas.
Wartawan Indonesia di Gaza, Abdillah Onim,
menerangkan, selama lima tahun Iran berencana membuat kantor cabang di Gaza
dengan biaya senilai USD 250.000.000. Akan tetapi, rencana Iran ini ditolak
keras oleh Hamas.
Langkah serupa juga dilakukan Hizbullah.
Garda Syiah itu mengaku siap menggelontorkan bantuan perlengkapan sekolah bagi
anak-anak Gaza. Dengan syarat di masing-masing tas sekolah anak-anak Gaza
dipasang foto Hasan Nasrullah. Hal ini dilakukan agar Syiah bisa eksis di Gaza.
Sontak, rencana ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Hamas.
“Lagi-lagi ditolak keras oleh pihak Hamas.
Sebesar apapun bantuan dan sepenting apapun bantuan yang diberikan kepada warga
Gaza jika ada motif tertentu maka di tolak mentah-mentah oleh pemerintah di
Gaza,” ujar Onim dalam keterangannya, Sabtu (6/9).
Manuver Syiah di Gaza kembali terulang
pada tahun 2011. Menurut informasi yang dikumpulkan Onim, pada akhir tahun 2011
akhir, ada beberapa oknum di Gaza mencoba mengadakan ritual syiah.
Tak lama berselrang, rencana ini kemudian
tercium aparat militer di Gaza. 20 orang yang mencoba menggelar ritual Syiah
itu langsung ditangkap. Pihak militer di Gaza akhirnya menjatuhkan hukuman
kepada mereka.
“Mereka dipukul dengan menggunakan balok
dan kayu,” ucap Onim. [Pz/Islampos]
Pejuang
Hamas secara tegas menolak bantuan Hizbullah dalam peperangan melawan
Israel.
“Untuk Zionis Israel, biar kami yang
hadapi, dan kami minta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata Hamas
sebagaimana dilaporkan Abdullah onim dari Gaza
Abdullah onim menambah, Hamas mempunyai
roket dari hasil usaha sendiri bukan bantuan dari negara lain. Roket-roket itu
dihasilkan Hamas dari jantung kota Gaza.
Jika ada negara yang mengatakan, ‘Kami
yang membekalkan roket ke Gaza’, “Itu Bohong,” lapor onim.
Sebelumnya, Hamas juga mengecam campur
tangan Hizbullah dalam perang Syria yang telah membunuh beratus-ratus ribu
Muslim Syria dan ribuan pelarian Palestin.
Pada Disember 2012, petinggi Hamas Bara
‘Nizar Rayyan putra Asy-Syahid DR Nizar Rayyan melontarkan kritikan pedas
terhadap pemimpin Hizbullah, Hasan Nashrallah. Dengan tegas, Nizar meminta
Hasan berhenti cari muka.
“Ya Hasan Nashrallah, jangan kau cari sensasi
di Gaza, sedangkan penjenayah Bashar Asad kau bela …!” Kritiknya.
*Diterjemahkan oleh Detik Islam dari sumber
islampos.com
(http://detikislam.blogspot.com/2014/07/hamas-tolak-bantuan-syiah-hizbullah.html#)
(nahimunkar.com)
sumber :
http://alislamu.com/dunia-islam/4702-hamas-tolak-syiah-palestina-hanya-kenal-madzhab-sunni.html
Benarkah Syiah Peduli
Palestina ??
Jalur Gaza kembali
membara. Tahukah Anda mengapa Zionis Israel kembali menbantai Muslimin
Palestine di Ramadhan ini? Yahudi Israel ingin mengesankan bahwa saudara
kandungnya-lah yang paling peduli akan penderitaan muslimin di Gaza.
Lantas siapa saudara kandung Yahudi?Yaa tepat, SYIAH jawabnya.
Sudah menjadi jadwal rutin tahunan Syiah (khususnya di Indonesia), untuk melakukan solidaritas besar-besar an untuk Muslimin Palestine di setiap jumat terakhir di Bulan Ramadhan.
Sudah menjadi jadwal rutin tahunan Syiah (khususnya di Indonesia), untuk melakukan solidaritas besar-besar an untuk Muslimin Palestine di setiap jumat terakhir di Bulan Ramadhan.
Perlu kita ketahui, tujuan utama Syiah bukanlah ikhlas membantu Muslimin Gaza,
melainkan hanya untuk menggaet muslimin Indonesia agar salut akan kepedulian
Syiah kepada Muslimin Gaza dan menganggap Syiah tidaklah sesat.
Voice of Palestine adalah organisasi milik Syiah di Indonesia yang paling vokal
menyuarakan solidaritas untuk palestine. Setiap Jumat terakhir pada Bulan
Ramadhan mereka selalu berorasi besar2an dengan tema solidaritas untuk Muslimin
Gaza. Mujtahid Hashem adalah Direktur organisasi tersebut.
Mirisnya, alumni SMA Al Islam Surakarta ini besar dan berkembang dengan ajaran
Syiah bersama Syiah Solo yang lantas terbang ke Qum-Iran untuk menyempurnakan
pemahaman Syiahnya.
Siapa Syiah Solo? Tentu kita semua mengetahuinya.
Bisa Anda buktikan sendiri dari fakta-fakta yang ada sebagai berikut:
1. Orasi Mujatahid Hashem untuk Palestine pada tahun 2010 dengan menyanjung2
Khomeini di tengah orasi (sangat aneh).http://m.youtube.com/watch?v=Ls8hJ6ItAW8
2. Pamflet kegiatan VOP bersolidaritas untuk Palestine pada setiap Jumat terakhir di Bulan Ramadhan. (Perhatikan gambar)
3. VOP bersama Jose Rizal Mer-C masuk ke Gaza bersama Garda Revolusi Iran pada tahun 2010. http://m.voa-islam.com/…/merc-tembus-gaza-bersama-garda-re…/
4. Syiah Indonesia lagi-lagi bersama Mujtahid Hashem dengan VOP nya seakan2 peduli dengan Muslimin Gaza melalui website resmi Syiah Indonesia.
2. Pamflet kegiatan VOP bersolidaritas untuk Palestine pada setiap Jumat terakhir di Bulan Ramadhan. (Perhatikan gambar)
3. VOP bersama Jose Rizal Mer-C masuk ke Gaza bersama Garda Revolusi Iran pada tahun 2010. http://m.voa-islam.com/…/merc-tembus-gaza-bersama-garda-re…/
4. Syiah Indonesia lagi-lagi bersama Mujtahid Hashem dengan VOP nya seakan2 peduli dengan Muslimin Gaza melalui website resmi Syiah Indonesia.
http://ahlulbaitindonesia.org/…/2214/menolak-lupa-palestina/
5. Status FB terakhir Direktur VOP mengajak umat Islam bergabung bersama Syiah dalam bersolidaritas untuk Muslimin Gaza (lihat gambar)
#PerselingkuhanYahudiDanSyiah
5. Status FB terakhir Direktur VOP mengajak umat Islam bergabung bersama Syiah dalam bersolidaritas untuk Muslimin Gaza (lihat gambar)
#PerselingkuhanYahudiDanSyiah
SEBARKAN!!! ORANG-ORANG TERDEKATMU HARUS TAHU SANDIWARA SYIAH
INDONESIA!!!
Benarkah
Syiah Serius akan Bebaskan al-Quds?
Benarkah Syiah Serius akan
Bebaskan al-Quds? Perhatian mereka kepada isu Palestina dan Al-Quds memang
disebabkan faktor politis non ideologis, memperluas Syiah
Oleh: Fahmi Salim, MA
SEMENJAK tahun 2006, ketika
Hizbullah Libanon mengalahkan mesin perang Israel dan mampu mengusir mereka
keluar dalam perang 33 hari, berita ini akhirnya menjadi komoditas dan merek
dagang baru jualan Syiah untuk banyak mengelabui umat Muslim yang mayoritas
mutlak berakidah Ahlusunnah wal jamaah.
Jauh sebelumnya memang sudah
pernah ada usaha Syiah untuk mengeksploitasi isu Palestina ini misalnya dengan
fatwa Imam Khomeini, Rahbar Iran, yang menetapkan hari jumat terakhir bulan
Ramadhan sebagai Hari Al-Quds Internasional. Namun sepertinya, tidak begitu
berpengaruh dan ‘ngefek’ untuk menarik simpati kaum muslimin sunni untuk
melirik akidah Syiah.
Baru setelah kisah heroism
perlawanan milisi Hizbullah tahun 2006 itulah, terjadi titik balik fitnah
tasyayyu di dunia Islam terutama di Syam (Mesir, Suriah, Libanon dan Yordania)
dan Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia).
Hanya karena sekali peristiwa
perlawanan Syiah terhadap Zionis-Israel, yang sebelumnya selalu bekerjasama
menghancurkan perlawanan bangsa Palestina, yang lebih didorong faktor politis
untuk menguasai Selatan Libanon sebagai basis milisi Syiah secara nasional
dengan tidak menyatakan kepentingan perang itu demi Palestina.
Sekali lagi, hanya karena sekali
itu saja, kita lalu dibuat –akibat bombardir media massa pro Syiah di dunia-
buta dan tidak kenal sama sekali kepahlawanan para tokoh-tokoh pejuang Sunni
yang puluhan ribu gugur untuk membela isu Al-Quds dan Masjidil Aqsha.
Nama besar seperti Hasan
Al-Banna, Mustafa Siba’I, Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantisi, Yahya Ayyash, dan
sederet martir-martir Ahlusunnah lenyap sirna seolah tertelan dan tenggelam
oleh kehebatan sosok milisi Hizbullah dengan pemimpinnya Hasan Nasrallah.
Waktu
itu, saya pun ikut mengagumi Nasrallah, sambil tetap mengenal baik jasa-jasa
martir Sunni di kepala saya. Sehingga doa selalu kami kirim untuk arwah mereka.
Namun
tidak sedikit, kawan-kawan saya wartawan media massa sudah termakan jualan
Syiah ini. Sambil meledek saya, ada yang berkata, mana orang-orang Sunni yang
seberani Hizbullah dan Ahmadinejad menentang dan menantang Israel dan AS?
Subhanallah, dia lupa akan nama-nama tadi dan jadi korban
media-media Syiah yang rajin membombardir kita dengan Hizbullah sehingga kita
lupa terhadap jasa para martir Ahlusunnah.
Selain faktor media itu dan
kondisi memalukan dari sikap politik resmi rejim pemerintahan Negara-negara
sunni yang lebih tunduk kepada tekanan AS dan ikut memusuhi Hamas, tidak banyak
yang mengetahui bagaimana sebenarnya sikap keimanan Syiah terhadap Al-Quds dan
Masjidil Aqsha, baik dari kalangan para mufasirnya maupun dari kalangan ulama
akidah yang menjadi marja’ utama kaum Syiah di dunia.
Masjidil Aqsha dalam Literatur
Syiah
Seorang peneliti masalah-masalah
Syiah, Thoriq Ahmad Hijazi dalam bukunya yang berjudul “As-Syi’ah wa Al-Masjid
Al-Aqsha”, telah memaparkan hasil penelitiannya tentang kedudukan Masjidil
Aqsha ini di mata ulama dan marja Syiah.
Hijazi memaparkan bahwa, hampir
semua kitab-kitab tafsir Syiah Imamiyah ketika menafsirkan ayat Isra Mi’raj
yang populer dalam QS. Al-Isra: 1, menyatakan bahwa posisi Masjidil Aqsha yang
sebenarnya itu adalah di langit atau baytul ma’mur. Ketika dinyatakan bahwa
orang awam (Ahlusunnah) menganggapnya itu adalah masjid yang ada di atas bukit
di kawasan kota Al-Quds, para ulama Syiah menyatakan bahwa Masjid Kufah lebih
utama dari Masjidil Aqsha yang di bumi itu. (lihat Tafsir As-Shafi karya
Al-Faydh Al-Kasyani vol.3/166; Tafsir Nur Al-Tsaqalain karya Al-Huwaizi
vol.3/97; Tafsir Al-‘Iyasyi vol.2/302; Tafsir Bayan As-Sa’adah vol.2/431)
Hakikat Masjidil Aqsha yang
dinyatakan oleh para mufasir Syiah itu juga sama dengan yang diungkapkan oleh
ulama marja’ Syiah di dalam kitab-kitab akidah mereka, yaitu di antaranya:
Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam Bihar Al-Anwar vol.97/405; Abbas Al-Qummi dalam
Muntaha Al-Amal hal.70; Ja’far Al-‘Amili dalam As-Sahih min Sirah Ar-Rasul
Al-A’zham vol.3/101; Al-Kulayni dalam kitab Al-Kafi vol.1/481).
Bahkan Al-Hurr Al-Amili dalam kitab
Tafshil Wasail Syiah ila Tahsil Masail Al-Syari’ah menyatakan bahwa hanya ada 3
tempat suci bagi umat Islam (tentu saja Syiah maksudnya) yaitu Masjidil Haram
di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Kufah karena ia adalah haram-nya
Imam Ali b. Abi Thalib (lihat vol.14/360). Ungkapan Hurr Amili ini didukung
oleh Syeikh Al-Shaduq penulis kitab “Man La Yahdhuruh Al-Faqih” yang merupakan
satu dari 4 kitab rujukan utama Syiah, seperti dikutip Hurr Amili dalam
kitabnya, yang meriwayatkan hadis dari Amirul Mu’minin Ali b. Abi Thalib bahwa:
“Tidak dianjurkan mengencangkan perjalanan kecuali kepada 3 Masjid: Al-Haram di
Mekkah, Nabawi di Madinah dan Masjid Kufah” (vol.3/525)
Anehnya, ketika mengagungkan
Masjid Kufah karena didalamnya Imam Ali b. Abi Thalib dimakamkan, Syiah sudah
melupakan fakta bahwa Masjid tersebut dibangun oleh panglima muslim salah satu
sahabat nabi yaitu Sa’ad bin Abi Waqqas, satu dari 10 orang sahabat yang
dijamin masuk surga, atas perintah Khalifah Umar bin Khattab saat ummat Islam berhasil
menaklukkan ibukota kerajaan Persia.
Sebagaimana maklum Umar bin
Khattab dianggap dajjal dan ‘kafir’ oleh Syiah karena ikut merampas hak
kekhalifahan Ali, demikian pula Sa’ad bin Abi Waqqas dikafirkan oleh mereka
karena tidak membaiat khalifah Ali. Sa’ad bahkan dijuluki oleh mereka Qarun-nya
umat Islam. Bagaimana bisa Masjid yang dibangun oleh panglima Sa’ad yang
“murtad” dan atas perintah khalifah Umar yang “kafir” itu demikian mulia di
mata para ulama rujukan kaum Syiah dan para pengikutnya?
Hubungan Masjidil Aqsha dan
Proyek Syiah
Sebelum rejim partai Ba’ats di
Iraq pimpinan Presiden Saddam Husain terguling oleh koalisi ‘halus’ Amerika
Serikat dan Syiah Iraq pada tahun 2003, pada tahun 2002 sebuah majalah Syiah
“Al-Minbar” di Kuwait membuat reportase ekslusif tentang Karbala dan Al-Quds.
Majalah itu dipimpin oleh Yasir Habib, yang heboh pada tahun 2006 melaknat
Aisyah dan sahabat Nabi secara terbuka di Youtube sehingga memaksa Rahbar Iran
Ayatullah Ali Khamenei mengeluarkan fatwa haram mencaci symbol-simbol tokoh
ahlusunnah demi persatuan Islam.
Di dalam majalah Al-Minbar edisi
23, bulan Maret 2002, Yasir Habib menulis tajuk redaksi berjudul “Sebelum
Al-Quds, Bebaskan Dulu Karbala!”, di situ ia mengatakan bahwa “Meskipun Al-Quds
istimewa dan suci namun tetap urutannya ada setelah Karbala, kedudukan Quds
tidak sama dengan Karbala dan kedudukan Dome of Rock juga tidak lebih istimewa
dari Hussein, Masjid Aqsha juga tidak sama dengan Haram Masjid Kufah… Quds
bukanlah fokus perhatian pertama kami (Syiah), Karbala lah fokus utama kami,
maka sebelum membebaskan Al-Quds maka kita wajib membebaskan Karbala (yang
masih dijajah oleh rejim Saddam Husein saat itu tahun 2002).” Setelah itu bisa
dibebaskan, lanjut Yasir, maka barulah kita bergerak ke Palestina, dan dari
sana lah kita akan bergerak ke seluruh dunia menyebarkan cahaya dan petunjuk.
Ia kembali menegaskan, “Telah
kami jelaskan bahwa Al-Quds tidak akan kembali ke pangkuan umat Islam selama
umat Islam belum kembali ke pangkuan Muhammad dan Ali alayhima assalam!
(maksudnya mengikuti akidah Syiah) Ia menambahkan seruannya, “Kembalilah kalian
semua kepada Muhammad dan Ali, niscaya Al-Quds akan kembali ke pangkuan kalian
dengan Al-Mahdi! Bebaskan Karbala dahulu sebelum segala sesuatunya, baru
pikirkan (langkah membebaskan) Al-Quds dan wilayah-wilayah sekitarnya. (Majalah
Al-Minbar edisi 23, Maret 2002 M)
Syiah, Propaganda Yahudi dan
Orientalis
Kaum Zionis-Yahudi selalu
berusaha untuk meninjau ulang penafsiran ayat-ayat alquran yang menyatakan
keistimewaan Masjidil Aqsha dan meragukan hadis-hadis nabi yang dinyatakan
kesahihannya oleh ijma’ ulama ahlusunnah wal jama’ah.
Mereka menyatakan bahwa kata
Al-Aqsha berarti tempat shalat di langit, dan untuk tujuan itu mereka
mendapatkan pembenaran dari riwayat-riwayat Syiah yang menyatakan bahwa
Masjidil Aqsha adalah nama Masjid di langit yang mirip namanya dengan Masjid
yang terletak di Al-Quds sekarang ini.
Pandangan Zionis semacam ini
mudah didapatkan di dalam beberapa literatur seperti entri Al-Quds yang ditulis
F. Buhl, cendekiawan Yahudi di dalam Encyclopedia of Islam. Ia menulis,
“barangkali Rasul (Muhammad) mengira bahwa Masjidil Aqsha adalah suatu tempat
di langit”. (lihat buku Fadhail Bayt Al-Maqdis fi Makhtutat ‘Arabiyyah Qadimah
karya Dr. Mahmud Ibrahim hlm.47, terbitan Ma’had Al-Makhtutat Al-‘Arabiyyah,
cet.1 tahun 1985)
Salah satu peneliti senior di
Akademi Studi Asia dan Afrika di Universitas Hebrew Jerussalem, Yitzhak Hasson,
pernah meneliti manuskrip kitab Fadhail Bayt Al-Maqdis karya Abu Bakr Muhammad
bin Ahmad Al-Wasithi.
Ia menulis dalam kata
pengantarnya, “telah dimaklumi bahwa sekte-sekte Syiah tidak memandang adanya
keistimewaan Masjid Bayt Al-Maqdis ini di atas Masjid-Masjid lainnya”.
Yitzhak Hasson juga mengajukan
dalil hadis-hadis yang tertera di dalam kitab Bihar Al-Anwar karya Al-Majlisi,
seorang marja utama Syiah, dengan menulis bahwa “ulama Islam tidak pernah
bersepakat bahwa Masjid al-Aqsha yang dimaksud adalah Masjid yang sekarang ada
di kota Al-Quds sekarang ini, karena sebagian mereka menganggap bahwa Masjidil
Aqsha adalah Masjid yang letaknya di langit berada tepat di atas kota Al-Quds
atau Mekkah” (ibid, Dr. Mahmud Ibrahim, hlm.41)
Propaganda Yahudi yang
menyangsikan posisi dan kedudukan Masjidil Aqsha di dalam keyakinan umat Islam
yang mayoritas berakidah ahlusunnah wal jamaah, juga didukung oleh beberapa
serpihan pemikiran orientalis.
Ignas Goldziehr (Orientalis
Hongaria berdarah Yahudi, 1850-1920 M) adalah orang pertama yang meragukan
hadis-hadis keutamaan Masjidil Aqsha yang ada sekarang ini dengan mengklaim
bahwa khalifah Abdul Malik bin Marwan pada masa Umawiyah, telah melarang orang
pergi haji ke Mekkah pada masa fitnah yang terjadi pada masa Abdullah ibnu
Az-Zubair yang memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang menguasai kota
Mekkkah.
Sebagai tandingannya, Abdul Malik
ibnu Marwan membangun The Dome of Rock (Qubbat Sakhra) di Masjidil Aqsha agar
umat Islam pergi haji ke sana sebagai alternatif berhaji ke Mekkah yang sedang
dikuasai oleh Ibnu Zubair.
Untuk memuluskan politik ‘haji’
ala Abdul Malik bin Marwan inilah, menurut Ignas Goldziehr, ia meminta Imam
Ibnu Syihab Az-Zuhri untuk membuat hadis-hadis palsu yang menerangkan keutamaan
Masjidil Aqsha seperti hadis populer tentang syaddu rihal ke Masjid Haram,
Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.
Goldziher mengklaim bahwa semua
hadis keutamaan baytul maqdis itu melalui jalur periwayatan ibnu Syihab
Az-Zuhri. (lihat pembahasan ini dalam kitab As-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri’
Islami, karya Dr. Musthafa As-Siba’I, hlm. 189-199, cet. Maktab Islami, tahun
1985)
Dari paparan tersebut, jelaslah
bahwa Yahudi memanfaatkan hadis-hadis Syiah yang bertujuan politis untuk
melawan para khalifah Bani Umayyah dan untuk memberikan keistimewaan bagi
kota-kota suci Syiah yang melebihi kedudukan Masjidil Aqsha.
Dengan demikian jelas pula
kedudukan Masjidil Aqsha di mata Syiah. Karena mereka tidak mengakui
keistimewaan Masjid suci ketiga dan kiblat pertama umat Islam, yang dibebaskan
oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA dan dipugar oleh para khalifah Bani
Umayyah, serta dibebaskan kedua kali dari Pasukan Salib oleh Sultan An-Nashir
Shalahudin Ayyubi.
Jadi mana mungkin mereka mengakui
keistimewaan Masjid yang dimuliakan oleh tokoh-tokoh Ahlusunnah yang dimata
mereka semua sangat dibenci. Khalifah Umar bin Khattab jelas dituding merampas
hak kekhalifahan Ali, Bani Umayyah apalagi jelas dituding membantai dan
menindas Ahlul Bayt dan pengikutnya, dan Sultan Shalahudin Ayyubi jelas sekali
menghancurkan kekuatan daulah Syiah ismailiyah, saudara kembar Syiah imamiyah,
yaitu Daulah Fatimid di Mesir, sebelum beliau mengalahkan kekuatan Salib.
Kenapa Al-Quds?
Sekarang, pertanyaannya mengapa
kelompok Syiah dunia saat ini menaruh perhatian besar terhadap persoalan
Al-Quds dan Masjidil Aqsha? Sudah beberapa seminar internasional digelar dan
juga seminar-seminar nasional yang diadakan oleh pihak-pihak Indonesia yang pro
Syiah yang mengangkat tema pembebasan Al-Quds.
Saya menduga, bahwa perhatian
mereka terhadap persoalan Al-Quds dan Masjid Aqsha belakangan ini lebih
disebabkan faktor-faktor politis, non ideologis keagamaan murni.
Salah satu blog Syiah (www.yahosein.com)
di dunia Arab pernah pertanyakan status dan kedudukan Masjidil Aqsha di mata
Syiah.
Uniknya, salah satu peserta
diskusi jelas menyatakan bahwa “Masjid Al-Quds itu menurut Syiah dan
golongan-golongan sesat (Ahlusunnah, di dalamnya) diakui telah dibangun oleh
perampok nomor dua (kiasan untuk Khalifah Umar), dan di dalamnya ada kayu
minbar yang populer dengan sebutan mimbar shalahuddin, di mana sultan
kharabuddin (perusak agama, julukan buat Shalahudin Ayyubi di kalangan Syiah)
membacakan khutbah, amat disayangkan ada umat Syiah yang bersedih dan menangis
ketika Yahudi menggali di kawasan sekeliling Masjidil Aqsha.”
Hemat saya, perhatian mereka
belakangan ini kepada isu Palestina dan Al-Quds memang disebabkan faktor
politis non ideologis. Sebab jika ditilik akidah atau ideologi Syiah tentang
Masjid Al-Aqsha jelas sekali dianggap tidak suci dan tidak istimewa melebihi
Masjid Kufah, Karbala, Kubah Samarra, Najaf dan lain-lain. Satu-satunya alasan
yang tersisa adalah faktor politis.
Seperti kita maklumi, Iran sejak
revolusi Khomeini bersemangat ingin mengekspor revolusi Syiahnya ke seluruh
dunia Islam dan bekerja siang malam untuk menyebarkan paham Syiah dengan segala
sumber daya yang dimiliki.
Untuk tujuan itu, mereka berpikir
keras agar paling tidak sebagai tahap awal bisa diterima oleh mayoritas mutlak
umat Islam yang ahlusunnah ini dan tidak dicurigai membawa paham Syiah. Mereka
melihat bahwa isu Palestina dan Al-Quds sejak beberapa dekade silam menjadi isu
sentral sekaligus seksi di mata umat Islam dunia. Oleh sebab itulah, para
politisi dan ulama Syiah mengangkat isu ini sebagai ‘jualan’ komoditas mereka
(trademark).
Mereka juga sejak dekade lalu
menetapkan Hari Al-Quds Internasional pada setiap jum’at terakhir bulan
Ramadhan. Isu sentral Al-Quds memang sangat sentral dan empuk untuk meraih
kepercayaan dan simpati publik Muslim Sunni di dunia Islam.
Persoalan utamanya justru yang
bisa menjadi pembenar dugaan saya bahwa isu ini dieksplotasi secara politis
untuk menyebarkan paham Syiah dengan seolah menggambarkan kepahlawanan Syiah
lah sesungguhnya yang mengalahkan Israel dalam perang Hizbullah tahun 2006 dan
manuver Ahmadinejad, presiden Iran, yang terus menerus berkoar akan melumatkan
Israel dan menghapusnya dari peta dunia.
Strategi ini cukup sukses untuk
membius dan menipu ulama dan cendekiawan sunni yang awam terhadap strategi
Syiah ini, sehingga secara langsung atau tidak ikut membantu dan membela hak
Syiah menyebarkan ajarannya di tengah komunitas Ahlusunnah.
Padahal tanah yang diberkahi
yaitu Palestina dan Al-Quds tidaklah dimuliakan dan disucikan oleh Allah dan
Rasul-Nya melainkan karena di dalamnya terdapat Masjid Al-Aqsha. Untuk itulah,
terdapat hadis-hadis mutawatir yang menyebutkan keutamaan shalat di dalamnya,
dan bepergian kesana. Namun, seperti yang sudah saya singgung, sikap dan
pendirian para mufasir dan ulama-ulama rujukan utama Syiah tidak menganggap
sama sekali adanya Masjidil Aqsha, apalagi keistimewaannya seperti dijelaskan
oleh sumber-sumber Ahlusunnah.
Oleh sebab itu tidak ada tafsir
lain yang bisa menjelaskan perhatian besar mereka terhadap isu Al-Quds dan
palestina, selain faktor politis yang saya kemukakan di atas. Silahkan pembaca
menilainya sendiri secara objektif. Diterima atau tidak terserah pembaca.
Mamduh Ismail, seorang kolumnis
Palestina menulis di situs Islamway.com bahwa poros aliansi Syiah
Iran-Suriah-Hizbullah adalah kaum munafik yang memanfaatkan isu Palestina untuk
kepentingan mereka sendiri sebagai jualan heroisme kepada rakyatnya dan
bangsa-bangsa muslim dunia. Namun pada saat Gaza digencet Israel dan
dibombardir Zionis selama lebih dari 20 hari di akhir tahun 2008 sampai Januari
2009, poros Syiah yang tampil heroik di depan publik muslim dunia ternyata
tidak menolong sedikitpun kepada ‘saudara-saudara’ mereka kaum muslimin di Gaza
yang menderita akibat agresi Israel. Tidak satupun roket atau senjata yang mereka
kirim untuk membantu Hamas yang berjuang sendirian mempertahankan Gaza dari
agersi Israel. Padahal katanya mereka adalah Negara kuat yang memiliki kekuatan
militer yang bisa menghancurkan pasukan Zionis. Namun apa yang terjadi? Apa
yang mereka lakukan hanyalah bentuk kemunafikan yang menjijikkan (lihat link
berbahasa arab http://ar.Islamway.com/article/4939 diunduh
oleh penulis pada tanggal 4 Juli 2012)
Kesimpulannya, saya berkeyakinan
bahwa kelompok yang ‘terbiasa’ menghina Khalifah Umar bin Khattab dan
mendiskreditkan Shalahuddin Ayyubi pada masa silam, tentu saja tidak akan bisa
membebaskan Palestina dan Al-Quds pada masa kini.
Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha hanya
bisa dibebaskan oleh kelompok yang mendapat pertolongan Allah ta’ala, mereka
disebut At-Thoifah Al-Manshurah yang teguh dan istikamah memegang Kitabullah
dan Sunnah Rasulullah saw, dan memiliki akidah yang sahih tidak bercampur
sedikitpun dengan bid’ah-bid’ah dhalalah seperti akidah kemaksuman manusia
biasa selain Rasul, dan apalagi yang meyakini Al-Qur’an ini palsu dan
terdistorsi. Wallahu A’lam.*
Penulis adalah pemerhati Al-Quds
dan Wakil Sekjen MIUMI
UPAYA kelompok Syiah untuk
menancapkan eksistensinya di Palestina dilakukan dengan berbagai macam cara.
Namun segala upaya itu selalu ditolak oleh Hamas.
