Friday, July 10, 2015

Cukupkah Sebutan MUSLIM Saja, Atau AHLUSUNNAH Saja, Tanpa Embel-embel lain nya? Untuk Saat Ini, TIDAK CUKUP,. Kenapa? " Islam Nusantara,Naudzubillahi mindzalik?!"


Sebut Saja Muslim, Bukan Salafy
Allah telah menamakan kita Muslim, lalu mengapa menisbatkan diri kepada Salaf?
Keraguan ini telah dijawab dengan sangat indah oleh Imam Al-Albani dalam diskusinya dengan seseorang pada topik ini, direkam dalam kaset dengan judul “Saya Salafi” (Ana Salafi), dan berikut adalah pemaparan bagian penting dari diskusi tersebut.
Syaikh Al-Albani: “Jika ditanyakan kepadamu, “Apa madzhabmu?”, apa jawaban anda?
Penanya: “Saya seorang Muslim”
Syaikh Al-Albani: “Itu tidak cukup.”
Penanya: “Allah telah menamakan kita dengan sebutan Muslim“,
lalu penanya membacakan ayat Allah Subhanahu Wata’ala(yang artinya) “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu“ (QS Al-Hajj [22] : 78)
Syaikh Al-Albani: “Ini akan merupakan jawaban yang benar jika kita berada pada masa paling awal (Islam) sebelum golongan-golongan bermunculan dan tersebar. Akan tetapi jika kita bertanya, saat ini, kepada setiap Muslim dari golongan-golongan ini yang mana kita berbeda dengannya dalam hal akidah, jawabannya tidak akan berbeda dari kata ini (muslim- pent).
Semuanya, Syiah Rafidhah, Khawarij, Nusayri Alwi – akan berkata, “Saya seorang Muslim.”Karenanya hal itu tidak lagi cukup untuk masa sekarang ini.”
Penanya: “Jika demikian saya akan menjawab, ‘Saya seorang Muslim yang mengikuti Qur’an dan Sunnah‘”
Syaikh Al Albani: “Ini pun tidak cukup.”
Penanya: “Mengapa?”
Syaikh Al Albani: “Apakah anda menemukan siapa saja diantara contoh yang telah kita sebutkan tadi berkata “Saya seorang Muslim yang tidak berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah?”
Siapa diantara mereka yang berkata, “Saya tidak berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah?”
Pada point ini, Syaikh mulai menjelaskan secara rinci mengenai pentingnya berpegang terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman para salafush-shalih.
Penanya: “Jika demikian Saya adalah seorang Muslim yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman Salafush-Shalih”
Syaikh Al Albani: “Jika seseorang bertanya kepada anda, apa madzhabmu, apakah ini yang akan anda katakan kepadanya?”
Penanya: “Ya.”
Syaikh Al Albani: “Bagaimana pendapat anda jika kita menyingkat kalimat itu, karena kata-kata yang terbaik adalah kata-kata yang sedikit tetapi menggambarkan tujuan yang diinginkan,‘Salafi?’
Artikel ini dari 
reposting: 
https://kangaswad.wordpress.com/2011/06/07/sebut-saja-muslim-bukan-salafy/

Ada Yang Bingung Dengan Istilah SALAFI, Ada Pula Yang Sok Tahu , Bahkan Memberikan Sebutan WAHABI..

Mengenal Salaf dan Salafi
Para pembaca yang budiman -semoga Allah menunjuki kita kepada kebenaran-. Salaf dan salafi mungkin merupakan kata yang masih asing bagi sebagian orang atau kalau toh sudah dikenal namun masih banyak yang beranggapan bahwa istilah ini adalah sebutan bagi suatu kelompok baru dalam Islam. Lalu apa itu sebenarnya salaf? Dan apa itu salafi? Semoga tulisan berikut ini dapat memberikan jawabannya.
Pengertian Salaf
Salaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56), yakni kami menjadikan mereka sebagai SALAF -yaitu orang yang terdahulu- agar orang-orang sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dari mereka (salaf). Oleh karena itu, Fairuz Abadi dalam Al Qomus Al Muhith mengatakan, “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang dan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu.” (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani, ‘Amr Abdul Mun’im Salim dan Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih, Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary)
Kata ‘Salaf’ Tidaklah Asing di Kalangan Ulama
Mungkin banyak orang saat ini yang merasa asing dengan kata salaf, namun kata ini tidaklah asing di kalangan ulama. Imam Bukhari -ahli hadits terkemuka- menuturkan, “Rasyid bin Sa’ad mengatakan, ‘Dulu para SALAF menyukai kuda jantan, karena kuda seperti itu lebih tangkas dan lebih kuat’.” Kemudian Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa salaf tersebut adalah para sahabat dan orang setelah mereka.
Imam Nawawi -ulama besar madzhab Syafi’i- mengatakan dalam kitab beliau Al Adzkar, “Sangat bagus sekali doa para SALAF sebagaimana dikatakan Al Auza’i rahimahullah Ta’ala, ‘Orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat istisqo’ (minta hujan), kemudian berdirilah Bilal bin Sa’ad, dia memuji Allah …’.” Salaf yang dimaksudkan oleh Al Auza’i di sini adalah Bilal bin Sa’ad, dan Bilal adalah seorang tabi’in. (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani)
Siapakah Salaf?
Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan ‘kebaikan’ tiga generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at Allah, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih dan Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi)
Wajib Mengikuti Jalan Salafush Sholih
Setelah kita mengetahui bahwa salaf adalah generasi terbaik umat ini, maka apakah kita wajib mengikuti jalan hidup salaf?
Allah telah meridhai secara mutlak para salaf dari kaum muhajirin dan anshor serta kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ta’alaberfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100). Untuk mendapatkan keridhaan yang mutlak ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti salafush sholih.
Allah juga memberi ancaman bagi siapa yang mengikuti jalan selain orang mukmin. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115). Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat (para salaf). Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam. Oleh karena itu, mengikuti jalan salaf adalah wajib.
Menyandarkan Diri Pada Salafush Sholih
Setelah kita mengetahui bahwa mengikuti jalan hidup salafush sholih adalah wajib, maka bolehkan kita menyandarkan diri pada salaf sehingga disebutsalafi (pengikut salaf)? Tidakkah ini termasuk golongan/kelompok baru dalam Islam?
Jawabannya kami ringkas sebagai berikut: [1] Istilah salaf bukanlah suatu yang asing di kalangan para ulama, [2] Keengganan untuk menyandarkan diri pada salaf berarti berlepas diri dari Islam yang benar yang dianut oleh salafush sholih, [3] Kenapa penyandaran kepada berbagai madzhab/paham dan pribadi tertentu seperti Syafi’i (pengikut Imam Syafi’i) dan Asy’ari (pengikut Abul Hasan Al Asy’ari) tidak dipersoalkan?! Padahal itu adalah penyandaran kepada orang yang tidak luput dari kesalahan dan dosa!! [4] Salafi adalah penyandaran kepada kema’shuman secara umum (keterbebasan dari kesalahan) sehingga memuliakan seseorang, [5] Penyandaran kepada salaf bertujuan untuk membedakan dengan kelompok lainnya yang semuanya mengaku bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah, namun tidak mau beragama (bermanhaj) seperti salafush sholih yaitu para sahabat dan pengikutnya. (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh al-Albani).
Kesimpulannya sebagaimana dikatakan Syaikh Salim Al Hilali, “Penamaan salafi adalah bentuk penyandaran kepada salaf. Penyandaran seperti ini adalah penyandaran yang terpuji dan cara beragama (bermanhaj) yang tepat. Dan bukan penyandaran yang diada-adakan sebagai madzhab baru.” (Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salaf)
Solusi Perpecahan Umat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusi mengenai perpecahan umat Islam saat ini untuk berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah khulafa’ur rasyidin -yang merupakan salaf umat ini-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian terhadap sunnahku dan sunnah khulafa’rosyidinyang mendapat petunjuk. Maka berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.” (Hasan Shohih, HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Jalan Salaf Adalah Jalan yang Selamat
Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi)
Sebagai nasihat terakhir, ‘Ingatlah, kata salafi -yaitu pengikut salafush sholih– bukanlah sekedar pengakuan (kleim) semata, tetapi harus dibuktikan dengan beraqidah, berakhlak, beragama (bermanhaj), dan beribadah sebagaimana yang dilakukan salafush sholih.’
Ya Allah, tunjukilah kami pada kebenaran dengan izin-Mu dari jalan-jalan yang menyimpang dan teguhkan kami di atasnya. Alhamdulillahillazi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Syamsuri (Pengajar Ma’had Jamilurrohman)
Artikel http://www.muslim.or.id
SALAFI, Apakah Itu Kelompok, Organisasi, Atau Jamaah Tertentu? Ingin Tahu Jawabnya, Baca Dengan Seksama
Apa Makna Salaf, Salafi, atau Salafiyun?
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum ustadz. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada ustadz, karena ada yang kurang jelas.
    1.     Apa makna Salaf, Salafi, atau Salafiyyun?
    2.     Ada buku yang pernah saya baca, dikatakan bahwasalaf itu berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah,akan tetapi ada beberapa orang yg saya kenal bermanhaj salaf tapi mereka mudah sekali untuk menyalahkan atau mengatakan bahwa ini bid’ah atau sesat, mereka juga jarang senyum. Padahal kalau yang saya baca Rasulullah itu murah senyum. Bagaimana memaknai salaf dalam hal ini?
Maaf jika pertanyaan saya ada yg tidak berkenan di hati. Saya bertanya karena saya baru kenal dengan manhaj Salaf
Ahmad Iqbal
Alamat: Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

Email: ahmad.ixxxx@gmail.com
Al Akh Yulian Purnama menjawab:

Salaf secara bahasa arab artinya ‘setiap amalan shalih yang telah lalu; segala sesuatu yang terdahulu; setiap orang yang telah mendahuluimu, yaitu nenek moyang atau kerabat’ (LihatQomus Al Muhith, Fairuz Abadi).
Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah 3 generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya”(HR. Bukhari-Muslim)
Tiga generasi yang dimaksud adalah generasi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat, generasi tabi’in dan generasi tabi’ut tabi’in. Sering disebut juga generasi Salafus Shalih.
Tidak ada yang meragukan bahwa merekalah orang-orang yang paling memahami Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka bila kita ingin memahami Islam dengan benar, tentunya kita merujuk pada pemahaman orang-orang yang ada pada 3 generasi tersebut.
Seorang sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata,
“Seseorang yang mencari teladan, hendaknya ia meneladani para sahabat Rasulullahshallallahu ’alaihi wa sallam karena mereka adalah orang-orang yang paling mulia hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya, paling benar bimbingannya, paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, dan untuk menegakkan agamanya. Kenalilah keutamaan mereka. Ikutilah jalan hidup mereka karena sungguh mereka berada pada jalan yang lurus.” (Lihat Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)
Kemudian dalam bahasa arab, ada yang dinamakan dengan isim nisbah, yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ‘ya’ yang di-tasydid dan di-kasroh, untuk menunjukkan penisbatan (penyandaran) terhadap suku, negara asal, suatu ajaran agama, hasil produksi atau sebuah sifat (Lihat Mulakhos Qowaid Al Lughoh Ar Rabiyyah, Fuad Ni’mah).
Misalnya yang sering kita dengar seperti ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, yang merupakannisbah kepada kota Bukhara (nama kota di Uzbekistan) karena Imam Al-Bukhari memang berasal dari sana.
Ada juga yang menggunakan istilah Al-Hanafi, berarti menisbahkan diri pada madzhab Hanafi. Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbatkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih.
Atau dengan kata lain “Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka”. (Lihat Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, hal. 10)
Sehingga dengan penjelasan ini jelaslah bahwa orang yang beragama dengan mengambil sumber ajaran Islam dari 3 generasi awal umat Islam tadi, DENGAN SENDIRINYA ia seorang Salafi.
Tanpa harus mendaftar, tanpa berbai’at, tanpa iuran anggota, tanpa kartu anggota, tanpa harus ikut pengajian tertentu, tanpa harus mengaji pada ustadz tertentu dan tanpa harus memakai busana khas tertentu.
Maka Anda yang sedang membaca artikel ini pun seorang Salafi bila anda selama ini mencontoh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam beragama.
Jika pembaca sekalian memahami penjelasan di atas, maka seharusnya telah jelas bahwadakwah salafiyyah adalah Islam itu sendiri.
Dakwah Salafiyyah adalah Islam yang hakiki. Mengapa?
Karena dari manakah kita mengambil sumber pemahaman Al Qur’an dan hadits selain dari para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?
Apakah ada sumber lain yang lebih terpercaya?
Apakah Islam dipahami dengan selera dan pemahaman masing-masing orang?
Bahkan jika seseorang dalam memahami Al Qur’an dan hadits mengambil sumber dari yang lain, maka dapat dipastikan ia telah mengambil jalan yang salah.
Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilaly setelah menjelaskan surat An Nisa ayat 115 berkata, “Dengan ayat ini jelaslah bahwa mengikuti jalan kaum mu’minin adalah jalan keselamatan.
Dan ayat ini dalil bahwa pemahaman para sahabat mengenai agama Islam adalah hujjah terhadap pemahaman yang lain.
Orang yang mengambil pemahaman selain pemahaman para sahabat, berarti ia telah mengalami penyimpangan, menapaki jalan yang sempit lagi menyengsarakan, dan cukup baginya neraka Jahannam yang merupakan seburuk-buruk tempat tinggal.” (Lihat Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)
Salah Kaprah Tentang Salafi
Di tengah masyarakat, banyak sekali beredar syubhat (kerancuan) dan kalimat-kalimat miring tentang Salafi. Dan ini tidak lepas dari dua kemungkinan. Sebagaimana dijelaskan Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri ketika ditanya tentang sebuah syubhat, “Kerancuan tentang Salafi yang berkembang di masyarakat ini tidak lepas dari 2 kemungkinan:
Disebabkan ketidak-pahaman atau disebabkan adanya i’tikad yang buruk. Jika karena tidak paham, maka perkaranya mudah. Karena seseorang yang tidak paham namun i’tikad baik, jika dijelaskan padanya kebenaran ia akan menerima, jika telah jelas baginya kebenaran dengan dalilnya, ia akan menerima.
Adapun kemungkinan yang kedua, pada hakikatnya ini disebabkan oleh fanatik golongan dan taklid buta, -dan ini yang lebih banyak terjadi- dari orang-orang ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan pelaku bid’ah yang mereka memandang bahwa manhaj salaf akan membuka tabir penyimpangan mereka.” (Ushul Wa Qowa’id Fii Manhajis Salafi, Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri )
Dalam kesempatan kali ini akan kita bahas beberapa kerancuan tersebut.
1. Salafi Bukanlah Sekte, Aliran, Partai atau Organisasi Massa
Sebagian orang mengira Salafi adalah sebuah sekte, aliran sebagaimana Jama’ah Tabligh, Ahmadiyah, Naqsabandiyah, LDII, dll.
Atau sebuah organisasi massa sebagaimana NU, Muhammadiyah, PERSIS, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dll. Ini adalah salah kaprah.
Salafi bukanlah sekte, aliran, partai atau organisasi massa, namun salafi adalah manhaj (metode beragama), sehingga semua orang di seluruh pelosok dunia di manapun dan kapanpun adalah seorang salafi jika ia beragama Islam dengan manhaj salaf tanpa dibatasi keanggotaan.
Sebagian orang juga mengira dakwah Salafiyyah adalah gerakan yang dicetuskan dan didirikan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab.
Ini pun kesalahan besar!
Dijelaskan oleh Syaikh ‘Ubaid yang ringkasnya, “Dakwah salafiyyah tidak didirikan oleh seorang manusia pun. Bukan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab bersama saudaranya Imam Muhammad Bin Su’ud, tidak juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya, bukan pula oleh Imam Mazhab yang empat, bukan pula oleh salah seorang Tabi’in, bukan pula oleh sahabat, bukan pula oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan bukan didirikan oleh seorang Nabi pun.
Melainkan dakwah Salafiyah ini didirikan oleh Allah Ta’ala. Karena para Nabi dan orang sesudah mereka menyampaikan syariat yang berasal dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat dijadikan rujukan melainkan nash dan ijma” (Lihat Ushul Wa Qowaid Fii Manhajis Salaf)
Oleh karena itu, dalam dakwah salafiyyah tidak ada ketua umum Salafi, Salafi Cabang Jogja, Salafi Daerah, Tata tertib Salafi, AD ART Salafi, Alur Kaderisasi Salafi, dan tidak ada muassis (tokoh pendiri) Salafi.
Tidak ada pendiri Salafi melainkan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada AD-ART Salafi melainkan Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.
2. Salafi Gemar Mengkafirkan dan Membid’ahkan?
Musuh utama seorang muslim adalah kekufuran dan kesyirikan, karena tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya agar makhluk-Nya hanya menyembah Allah semata. Allah Ta’alaberfirman, “Sungguh kesyirikan adalah kezaliman yang paling besar” [QS. Luqman: 13].
Setelah itu, musuh kedua terbesar seorang muslim adalah perkara baru dalam agama, disebut juga bid’ah. Karena jika orang dibiarkan membuat perkara baru dalam beragama, akan hancurlah Islam karena adanya peraturan, ketentuan, ritual baru yang dibuat oleh orang-orang belakangan. Padahal Islam telah sempurna tidak butuh penambahan dan pengurangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim)
Maka tentu tidak bisa disalahkan ketika ada da’i yang secara intens mendakwahkan tentang bahaya syirik dan bid’ah, mengenalkan bentuk-bentuk kesyirikan dan kebid’ahan agar umat terhindar darinya. Bahkan inilah bentuk sayang dan perhatian terhadap umat.
Kemudian, para ulama melarang umat Islam untuk sembarang memvonis bid’ah, sesat apalagi kafir kepada individu tertentu. Karena vonis yang demikian bukanlah perkara remeh. Diperlukan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah serta memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ulama dalam hal ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata, “Dalil-dalil terkadang menunjukkan bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur, atau perkataan tertentu adalah perkataan kufur. Namun di sana terdapat faktor yang membuat kita tidak memberikan vonis kafir kepada individu tertentu (yang melakukannya). Faktornya banyak, misalnya karena ia tidak tahu, atau karena ia dikalahkan oleh orang kafir dalam perang.” (LihatFitnah At Takfir, Muhammad Nashiruddin Al Albani)
Dari sini jelaslah bahwa menjelaskan perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur bukan berarti memvonis semua pelakunya itu per individu pasti kafir. Begitu juga menjelaskan kepada masyarakat bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan bid’ah bukan berarti memvonis pelakunya pasti ahlul bid’ah. Syaikh Abdul Latif Alu Syaikh menjelaskan: “Ancaman (dalam dalil-dalil) yang diberikan terhadap perbuatan dosa besar terkadang tidak bisa menyebabkan pelakunya per individu terkena ancaman tersebut” (Lihat Ushul Wa Dhawabith Fi At Takfir, Syaikh Abdul Latif bin Abdurrahman Alu Syaikh).
Bahkan Salafiyyin berada dibarisan terdepan dalam membantah paham takfir, yaitu gemar mengkafirkan secara serampangan.
3. Salafi Memecah-Belah Ummat?
Untuk menjelaskan permasalahan ini, perlu pembaca ketahui tentang 3 hal pokok.
Pertama, perpecahan umat adalah sesuatu yang tercela. Sebagaimana firman Allah Ta’alayang artinya, “Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah-belah” (QS. Al-Imran: 103).
Kedua, perpecahan umat adalah suatu hal yang memang dipastikan terjadi dan bahkan sudah terjadi. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi].
Ketiga, persatuan Islam bukanlah semata-mata persatuan badan, kumpul bersama, dengan keadaan aqidah yang berbeda-beda. Mentoleransi segala bentuk penyimpangan, yang penting masih mengaku Islam. Bukan itu persatuan Islam yang diharapkan. Perhatikan baik-baik hadits tadi, saat umat Islam berpecah belah seolah-olah Rasulullah memerintahkan untuk bersatu pada satu jalan, yaitu jalan yang ditempuh oleh para sahabat, inilah manhaj salaf.
Sehingga ketika ada seorang yang menjelaskan kesalahan-kesalahan dalam beragama yang dianut sebagian kelompok, aliran, partai atau ormas Islam, bukanlah upaya untuk memecah belah ummat. Melainkan sebuah upaya untuk mengajak ummat BERSATU di satu jalan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tersebut.
Bahkan adanya bermacam aliran, sekte, partai dan ormas Islam itulah yang menyebabkan perpecahan ummat. Karena mereka tentu akan loyal kepada tokoh-tokoh mereka masing-masing, loyal kepada peraturan mereka masing-masing, loyal kepada tradisi mereka masing-masing, bukan loyal kepada Islam!!
Selain itu, jika ada saudara kita yang terjerumus dalam kesalahan, siapa lagi yang hendak mengoreksi kalau bukan kita sesama muslim?
Tidak akan kita temukan orang kuffar yang melakukannya. Dan bukankah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Agama adalah nasehat” (HR. Muslim).
Dan jika koreksi itu benar, bukankah wajib menerimanya dan menghempas jauh kesombongan? Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)
4. Salafi Kasar dan Berakhlak Buruk
Manhaj salaf mengajarkan bahwa setiap muslim wajib berakhlak mulia. Akhlaq mulia yang paling utama adalah terhadap Allah Ta’ala. Yaitu dengan menyembah Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan serta menjalani apa yang Ia perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Kemudian berakhlak mulia terhadap makhluk Allah. Inilah yang dimaksud dalam hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid, 24/333. Di shahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 45 )
Manhaj salaf menghasung ummat agar bergaul dan bermuamalah dengan akhlak mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Dan kerjakan banyak kebaikan setelah engkau terjerumus dalam keburukan hingga terhapus dosamu. Dan bergaullah terhadap manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits in hasan’)
Maka setiap muslim, lebih lagi yang bersemangat untuk berpegang teguh dengan manhaj salaf, selayaknya berakhlak dengan akhlak yang mulia.
Oleh karena itu, jika ada sebagian orang yang mengaku berpegang pada manhaj salaf namun belum berakhlak yang baik, tentu ini tidak dapat menjadi justifikasi terhadap manhaj salaf. Karena manhaj salah justru mengajarkan sebaliknya. Dan kita perlu menyadari bahwa tidak mungkin kita menuntut semua orang yang berpegang pada manhaj salaf harus bebas dari kesalahan dan dosa. Setiap kita pasti bisa salah dan lupa. Bisa jadi karena kejahilan ataupun karena doronganhawa nafsu sehingga manusia belum dapat berakhlak yang baik. Semoga Allah menolong kita agar dapat memupuk akhlak yang mulia dalam diri kita.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun pernah berdoa:
“Ya Allah, sebagaimana engkau baguskan rupaku maka baguskanlah akhlakku” (HR. Al Baihaqi dalam Da’awaat Al Kabir, 2/82. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 2657)
Nasihat Untuk Ummat
Terakhir, agama adalah nasehat. Maka penulis menasehati diri sendiri dan kaum muslimin sekalian untuk menjadi Salafi. Bagaimana caranya?
Menjadi seorang Salafi adalah dengan menjalankan Islam sesuai dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan dipahami oleh generasi Salafus Shalih.
Dan wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk ber-Islam dengan manhaj salaf.
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam semua diampuni oleh Allah. Wajib mengikuti metode beragama para sahabat, perkataan mereka dan aqidah mereka sebenar-benarnya” (I’lamul muwaqqi’in, (120/4), dinukil dari Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, Abdussalam Bin Salim As Suhaimi)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat.
Penulis: Yulian Purnama

Tokoh Syiah Houthi yang Ingin Serang Ka’bah Tewas di Tangan Tentara Arab?

Abdul Karim al Khiwani (Muslim World Journal)
Sebuah broadcast beredar di sejumlah grup WhatsApp. “Allahuakbar. Salah satu pimpinan Syiah Houthi ini mengancam akan menyerang Ka’bah di musim haji tahun ini. Allah binasakan dia terlebih dahulu di hari pertama serangan Arab Saudi dan Koalisi,” demikian bunyi pesan itu disertai foto mayat Abdul Karim al-Khiwani.

Mengikuti Langkah Sang Nabi Muhammad Saw Menuju Kejayaan Islam [ Bukan Mengikuti Islam Nusantara ]

islamgif
Masih terngiang dalam ingatan, sebuah sejarah tentang lika-liku perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam. Hinaan, cercaan, bahkan lemparan dan pukulan merupakan hal biasa yang selalu menyertai hari-hari dakwah beliau saw.

Dua puluh tiga tahun berada di tengah ombang ambingbadai lautan perjuangan, menahan serpihan karang yang dilemparkan oleh kecamuk lautan jihad fisabillah, menghujani tubuh para pejuang hingga tak hentinya bercucuran darah. Kemudian dilanjutkan oleh generasi sahabat yang masih setia dan kokoh dalam kapal perjuangan. Lalu setelahnya disambung lagi pada masa khilafah Bani Umayyah, kemudian diteruskan oleh Khilafah Abbasiyah dan seterusnya, kemudian pada akhirnya sampailah kepada kita yang kurang lebih berada lima belas abad setelah kepergiannya Nabi Muhammad SAW. Dan berikutnya akan lahir generasi yang melanjutkan perjuangan kita mempertahankan Aqidah ini, Insya Allah.

Mengapa Ulama Syiah Sangat Perhatian dengan Taqiyah?

Mengapa Ulama Syiah Sangat Perhatian dengan Taqiyah?
Oleh: Ustadz Syafruddin Ramly, Lc.
Taqiyyah adalah pondasi terpenting dalam idiologi syiah. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal:
  1. Syiah menjadikan taqiyyah sebagai sarana untuk membunglon diri agar dapat masuk jauh ke dalam kelompok sosial atau masyarakat tertentu tanpa dapat dideteksi bahaya keberadaan mereka. Karena akidah dan ideologi mereka benar-benar berlawanan dengan akidah kaum muslimin. Begitu juga dengan tujuan sekte Syiah yang sangat kotor yaitu ingin menjatuhkan negara-negara Muslim dan mencegah serta menghalangi perkembangan Islam. Oleh karena itu mereka harus melakukannnya dengan diam-diam agar tidak terbongkar, khususnya ketika kondisi mereka masih lemah dan pendukungnya masih sedikit. Namun, jika mereka sudah kuat dan berkuasa mereka akan memperlihatkan jati dirinya, jika tidak mereka akan terus berlindung dibalik taqiyyah dan akan terus berdusta.

Apresiasi Raja Saudi, Bayi Yaman Selatan Banyak Dinamai “Salman”

Yaman Dukung Salman
Ratusan keluarga yang menamai anaknya dengan nama Raja Salman adalah sebagai apresiasi atas dukungan KSA kepada Perlawanan Rakyat Selatan sehingga mampu mengalahkan pasukan kudeta, “Houthi dan pro-Saleh Ali” di sebagian besar wilayah provinsi Dalea beberapa minggu yang lalu.

Mengapa Syiah Begitu Akrab Dengan Non Muslim ( Mendukung Pemimpin dari Non Muslim ) ?

Oleh: Ustadz Syafruddin Ramly, Lc.
Masih ingatkan pemilu terakhir kemarin?
Di saat Ummat Islam dan partai-partai Islam bersatu dalam sebuah koalisi yang merekomendasikan untuk memilih presiden harapan ummat, maka syiahpun berkoalisi dengan partai-partai dan koalisi yang anti-Islam dan tempat berlindungnya para non muslim, liberal, sekuler, pendukung dolly, waria, raja-raja koruptor, dan bahkan PKI; untuk memilih calon presiden yang sudah diwanti-wanti oleh tokoh-tokoh Islam agar tidak dipilih memimpin rakyat Indonesia karena akan memberi dampak negatif buat mayoritas kaum muslimin, Islam dan NKRI.

Apakah Yang Di Seludup Oleh Syiah Ke Dalam Sejarah Islam ( Malaysia )

Oleh  Shaikh Soleh bin Abdullah al-Muhaisin,
Dekan Fakulti Dakwah dan Usuluddin, Universiti Islam Madinah.
Sesungguhnya segala pujian untuk Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan daripada-Nya, meminta keampunan-Nya, meminta petunjuk-Nya dan kami meminta perlindungan dengan Allah daripada kejahatan diri kami dan amalan-amalan kami yang buruk. Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dia terpimpin dan sesiapa yang disesatkan Allah maka tiada yang dapat memimpinnya. Saya bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah hamba dan pesuruh Allah. Semoga Allah menselawati Baginda, kaum keluarga dan para sahabat Baginda.

Perbedaan Said Aqil Siradj ( Islam Nusantara ) dan Muslim Turki ( Manhaj Salaf ) Dalam Penindasan Muslim di Cina dan Uighur, Terkait Duit !! ( Ghirahnya Lenyap )

"Islam Nusantara" duit Segala-galanya dengan segala cara”, "Islam Manhaj Salafush-shalih" Ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Entah mengapa Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj bersikap lunak terhadap Cina. Diduga pemberian santunan Duta Besar Republik Rakyat Cina untuk Indonesia Xie Feng kepada 500 anak yatim piatu dan santri NU menjadi sebabnya.

Thursday, July 9, 2015

Siap Perangi Arab Saudi, Iran Berikan Pelatihan Militer untuk Anak-Anak [ Mau Rebut Makkah/Madinah dan curi Hajar Aswad ? ]

MASYHAD (gemaislam) – Pelatihan militer terhadap anak-anak tidak hanya dilakukan oleh kelompok ISIS saja. Iran, juga melakukan hal yang sama dalam rangka penguatan militer mereka. Foto-foto pelatihan militer anak-anak di kota Masyhad beredar dalam jejaring sosial beberapa hari terakhir.

HAMAS Larang Seluruh Gerakan Syiah dan Pro-Iran di Palestina [ Dagangan Syiah Jadi Tidak Laku ! ]

Otoritas Palestina di Gaza telah mengumumkan pembubaran dan pelarangan gerakan Ash Shabirin, sebuah gerakan pro-Syi’ah. Diberitakan Middle East Monitor, pihak Hamas juga telah memerintahkan supaya semua gerakan yang pro-Iran dilarang dan diberhentikan segala aktivitasnya.

Qonun Asasi Nu Serukan Lawan Syiah !!!

JANGAN TAKUT MESKI KETUM PBNU MENJADI PEMBELA SYIAH

Biadab ! Ustadz Ali 'Eks Syiah' diculik dan dianiaya oleh 4 orang anggota Syiah !

Ya Allah Ya Rabb, Binasakanlah Gerombolan  Syiah Laknatullah, Pembunuh Husain bin ‘Ali RA dan Keturunannya, Seperti “Kaum-kaum Terdahulu” Yang Telah Engkau Binasakan.

Ancaman aliran sesat syiah di Indonesia bukanlah utopia dan bualan semata, faktanya beberapa peristiwa berdarah telah dilayangkan kepada para ustadz yang konsisten mengabarkan kesesatan syiah.
Sebut saja kasus terbaru pada Selasa (7/7) pagi yang menimpa Ustadz Ali Shofiyurrahman, ia terkapar dengan baju penuh darah akibat luka di sekujur tubuhnya dan ditemukan di Masjid At Tiin, Jakarta Timur dan posisi terakhir sudah dirawat di Rumah Sakit Kramatjati.

Wednesday, July 8, 2015

Kebencian Habib Rizieq Syihab terhadap " Wahhabi ( Salafi ? )" Sampai Ubun-ubun ! Manhaj Talaqqi Kaum Asy’ariyyah Dengan Manhaj Talaqqi Kaum Ahlus Sunnah (Salafi), Merupakan “Sudara Kandung/Kaum Muslimin”, Tidak Seperti Syi’ah Rofidhoh Yang SESAT Bahkan KAFIR. [ Bagian 2 ]

Kedua Kelompok Besar Manhaj Talaqqi Kaum Asy’ariyyah Dengan Manhaj Talaqqi Kaum Ahlus Sunnah (Salafi), Merupakan “Sudara Kandung” Yang  Tidak Bisa Di Pisahkan, Mereka Adalah Kaum Muslimin, Tidak Seperti Syi’ah Rofidhoh Yang SESAT Bahkan KAFIR

Sebuah Renungan:

Sejatinya, terjadi beberapa perbedaan mendasar antara Manhaj Talaqqi kaum Asy’ariyyah dengan Manhaj Talaqqi kaum Ahlus Sunnah (Salafi), namun tidak bisa di pungkiri bahwa kedua kelompok besar ini merupakan “Sudara Kandung” yang seolah tidak bisa di pisahkan, mereka adalah Kaum Muslimin, tidak seperti Syi’ah Rofidhoh yang SESAT bahkan KAFIR.

Kenapa harus di Iran ?

UMMAT HARUS TAHU!! INILAH JAWABANYA!!
KENAPA AGAMA SYI’AH BERPUSAT DI IRAN & KENAPA IRAN SANGAT BENCI DENGAN BANGSA ARAB???
——————————————————————————————-
Ayyuhal-Ikhwah,Seperti yang kita ketahui,Iran adalah salah satu negara Syi’ah terbesar di dunia. Iran terkenal dengan sejarahnya yaitu ‘Revolusi Islam Iran’ yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini,seorang pendeta besar Agama Syi’ah Rafidhah.

Namun,pernahkah kita bertanya,“MENGAPA AGAMA SYI’AH BERPUSAT DI NEGARA IRAN DAN TIDAK DI NEGARA LAIN? dan MENGAPA IRAN SANGAT BENCI DENGAN ISLAM DAN BANGSA ARAB?”

Peristiwa Karbala : Siapa Periwayatnya ?

Peristiwa Karbala : Siapa Periwayatnya ?

Cerita berkenaan peristiwa Karbala itu tidak lebih dari hikayat yang tidak mampu bertahan apabila diuji dengan batu menguji sistem riwayat. Ini ialah kerana tidak ada seorang pun pewarta kisah tersebut terdiri daripada orang – orang yang menjadi saksi mata kepala bagi peristiwa ini . Pewarta paling awal bagi peristiwa Karbala ini ialah Abu Mukhnaf Lut bin Yahya yang hidup di kurun ke 2H ! Boleh dikatakan 90% dari kisah-kisah daripada peristiwa Karbala adalah berpunca daripada Abu Mukhhaf Lut bin Yahya ini. Dia adalah seorang yang telah dihukum oleh tokoh-tokoh ilmu rijal sebagai seorang Syiah yang ” hangus” atau Syiah pekat , pembohong dan pereka banyak hadis – hadis palsu . Dia telah menulis beberapa buah buku yang memuatkan cerita – cerita perang saudara di permulaan Islam seperti peperangan Jamal, Siffin , perang di Naharwan juga pertempuran di medan Karbala yang terkenal dengan nama ”Maqtal Abi Mikhnaf “

Hadis Syiah : Wafatnya al Hasan r.a Kerana Di Racun ?

(823)-3. Beberapa orang daripada sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Ali bin al-Nu‘man, daripada Saif bin ‘Umairah, daripada Abu Bakr al-Hadhrami berkata: Sesungguhnya Ja‘dah[1][335] binti As ‘ath bin Qais al-Kindi telah meracuni al-Hasan bin Ali a.s dan seorang hamba perempuannya (al-Hasan a.s). Hamba perempuannya telah terhidu racun, sementara al-Hasan a.s telah termakan racun dan ia telah meresap kedalam perutnya, lalu beliau mati.
– al Kafi

Biadab ! Iran Belum Sadar Juga Mengacaukan Negara Islam/Arab, Jordania Berhasil Gagalkan Serangan Teroris Milisi Syiah Iran

Senin malam 6 Juli 2015, pemerintah Kerajaan Yordania mengumumkan berhasil menggagalkan rencana serangan berdarah yang akan dilakukan sayap teroris Iran.

Biadab ! Tidak Tahlilan dan Maulidan, Rumah Komunitas Salafi Di Lombok Dirusak ! ( Kemungkinan Dalangnya Syiaher ! )

Ya Allah Ya Rabb, Binasakanlah Gerombolan  Syiah Laknatullah, Pembunuh Husain bin ‘Ali RA dan Keturunannya, Seperti “Kaum-kaum Terdahulu” Yang Telah Engkau Binasakan.
Senin (8/6/2015), delapan rumah milik komunitas Salafi di Desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, dirusak oleh sekelompok orang.

Tuesday, July 7, 2015

Kebencian Habib Rizieq Syihab terhadap " Wahhabi " Sampai Ubun-ubun ! Why ? [bagian I]

Sunday, 28 June 2015  11:00 

Muslimedianws.com ~ Jum'at Malam Sabtu, 15 Mei 2015 bertepatan dengan 26 Rajab 1436, digelarTabligh Akbar dalam Rangka Haul KH Ishaq Yahya & Israa' Mi'raj 1436 H di Masjid Al Awwabin (Pesantren Miftahul Ulum) Jl H Nawi 2/JL Madrasah Gandaria Selatan Cilandak Jakarta Selatan.
Dalam acara tersebut, menghadirkan Habib Muhammad Rizieq Syihab (Imam FPI) dan KH Hasyim Muzadi (Rais Syuriah PBNU) sebagai penceramah. 
Diantara yang disampaikan oleh Habib Rizieq adalah tentang kejahatan Wahhabi yang sering menuduh Syi'ah secara serampangan.  

Berikut diantara petikannya :

Dan jahatnya Wahabi saudara... kalau mulai Habib cerita tentang Sayyidina Ali, Sitti Fatimah, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein, langsung dituding oleh Wahabi "Ini Syi'ah, Awas". Kurang ajar!

Monday, July 6, 2015

Pemerintah Turki Protes Keras Cina Yang Larang Muslim Uighur Berpuasa. Ulama dan Umat islam Di Indonesia gemar ribut, mikirin perut, dan nyatut aqidah.

Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan keprihatinan yang mendalam ke Cina tentang laporan bahwa Beijing telah menetapkan larangan puasa kepada penduduk Muslim Uighur.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Selasa, pihak Kementerian telah memberitahu duta besar Cina di Ankara atas kekhawatiran tersebut.
“Turki Telah mendengar bahwa ada laporan dari publik bahwa Mulslim Uighur dilarang untuk melaksanakan kewajiban agamanya untuk berpuasa,” kata pernyataan tersebut.

Arab Saudi dan Pakistan Ajukan Resolusi kepada PBB Terkait Genosida Rohingya. Inilah Islam Dunia Arab, Bukan Islam Indonesia ( Padahal Tetangga/ASEAN) dan Dimana Syiah Iran ?

[ untuk Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Polhukam ]
KERAJAAN Arab Saudi dan Pakistan mewakili negara-negara Islam, mengusulkan resolusi kepada PBB terkait penindasan pemerintah Myanmar terhadap Rohingya, demikian seperti dilansir Arab News pada Sabtu (05/07/2015).
Kedua negara tersebut meminta PBB agar menyeru pemerintah Myanmar untuk melindungi hak semua orang di wilayahnya termasuk Muslim Rohingya.

Imam Syafi’i Menggugat Syi’ah Rofidhoh

Tidak samar lagi bagi setiap orang yang berakal bahwa kaum Rofidhoh adalah kaum yang memiliki banyak penyimpangan, kesesatan dan sisi kesamaan dengan kaum Yahudi . Oleh karenanya, Imam Syafi’I memperingatkan keras kepada kita akan bahaya mereka. Berikut ini beberapa nukilan dari Imam Syafii tentang Rofidhoh . Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuka mata sebagian kalangan yang masih tertipu oleh tipu muslihat Syi’ah:

Hegemoni Syi’ah

Penulis : Dr. Ragheb Sirjani
Diterjemahkan Oleh : Abo Hozaifah Al Atsary

Dapat dipastikan bahwa banyak dari pembaca kaget saat membaca sejarah perkembangan Syi’ah. Tentunya kami tidak menulis sejarah untuk sekedar tambah wawasan, akan tetapi agar mengambil ‘ibrah dan pelajaran, lalu dapat berinteraksi dengan berbagai krisis yang menyelimuti kita dengan cara lebih baik dan visi yang lebih jelas.
Oleh karenanya, mengabaikan sejarah tadi merupakan kejahatan terhadap generasi mendatang. Kita seakan menutup diri dari cahaya saat enggan mempelajari akar masalah ini, apalagi kita telah diperintah jauh sebelumnya untuk mempelajari kisah umat-umat terdahulu dan menerapkan pelajaran yang dikandungnya pada realita kita sekarang.

Fanatik kepada ulama

Definisi Fanatik
  • Fanatik atau dalam bahasa arabnya disebut dengan “Ta’ashub” adalah anggapan yang diiringi sikap yang paling benar dan membelanya dengan membabi buta. Benar dan salahnya, wala’ dan bara’nya diukur dan didasarkan keperpihakan pada golongan. Fanatik ini bisa terjadi antar madzhab, kelompok, organisasi, suku atau negara. (Lihat kembali Majalah Al-Furqon hal. 13 edisi 5 Th. 11) -majalah yang dikelola Ustadz Abu Ubaidah (editor)-Adapun madzhab ialah pendapat seseorang mujtahid tentang hukum sesuatu, yaitu pendapat yang digali dari Al-Qur’an dan hadits dengan kekuatan ijtihadnya.
  • Madzhab yang masyhur ada empat: Madzhab Hanafi (Abu Hanifah rahimahullah), madzhab Maliki (imam Malik rahimahullah), madzhab Syafi’i (imam Syafi’i rahimahullah), madzhab Hanbali (imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah)
  • Sekalipun sebenarnya ada beberapa madzhab lainnya seperti madzhab Dhahiriyyah, Zaidiyyah, Sufyaniyyah dan sebagainya. Semua madzhab dapat diambil pendapatnya jika benar dan dapat pula ditinggalkan jika salah, karena memang tidak ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali Al-Qur’an dan sunnah Nabi. (Lihat Syarh Lum’ah Al-I’tiqad hal. 166-167 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah).
Fenomena Fanatik Mazdhab

Sunday, July 5, 2015

Yahudi di Iran; Sebuah Fakta Mencengangkan

LIHATLAH ke Iran. Bagaimana Yahudi di negara yang presidennya selalu gembar-gembor akan menghancurkan, mencaci maki bangsa Yahudi.
Di Iran, Yahudi tersebar di tiga kota besar; Tehran, Hamdan, Isfahan. Dan menurut data resmi Iran, ada sekitar 30.000 orang Yahudi di Iran. Sebuah jumlah yang sangat besar di sebuah negara yang katanya  anti-Zionis!

Sunni-Syiah, Minyak-Air

Oleh: Ilham Kadir, Mahasiwa Pascasarjana UMI, Peneliti Lppi Indonesia Timur
POLEMIK Sunni-Syiah adalah problem masa lalu yang tetap aktual hingga akhir zaman, keduanya tidak akan mungkin bersatu sebagaimana minyak dan air. Bersatunya Syiah atau Sunni dengan para pengkut agama lain jauh lebih mudah dibanding menyatukan kedua aliran yang memiliki Tuhan dan Nabi yang sama ini. Di Iran, terutama di Taheran dengan mudah kita temui tempat-tempat ibadat agama lain selain Islam, seperti gereja milik umat Kristen dan Sinagoge sebagai tempat beribadah orang Yahudi, namun tak satu pun masjid milik pengikut Sunni yang bisa diguna pakai melakukan salat Jumat, sebagaimana di Mesir dan Malaysia yang tidak membolehkan kepada para penganut Syiah mendirikan masjid sendiri.

[ IT ] Azab Para Da’i yang Tidak Menjalankan Nasihatnya Sendiri,

[IT] : Interlude of Topics
Kamis 8 Ramadhan 1436 / 25 Juni 2015 17:20
SIAPA yang tahu di akhirat nanti kita akan termasuk ke dalam penghuni neraka atau bahkan penghuni surga. Semua amal perbuatan yang telah dilakukan di dunia akan diperhitungkan dengan adil. Di neraka nanti tidak dapat ada yang mengetahui siapa yang akan menjadi penghuninya, tidak menutup kemungkinan untuk para da’i. Bisa saja orang yang sudah shaleh setingkat da’i masuk ke dalam neraka. Mengapa bisa demikian?

Hakekat Iran Dan Kebusukan Syiah [ Youtube/3 ]

Ulama Syiah Ahli Debat Menjadi Senjata Makan Tuan
Sayid Kamal Al Haydari salah seorang ahli debat yang sering dibangga-banggakan syiah, sekarang malah berbalik membuka borok kepercayaan tahrif Al Qur'an ulama besar syiah



ROL Republika Disebut Media ‘Berbau’ Syiah

This summary is not available. Please click here to view the post.

Saturday, July 4, 2015

Inilah Pesan Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari kepada Warga Nahdliyyin tentang Kesesatan Syiah

PENDIRI NU, KH Hasyim Asy’ari, sudah sejak lama mewanti-wanti agar kaum Nahdliyyin berpegang teguh dengan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali) serta waspada dan tidak mengikuti Madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah.

Idul Baqr, Potret Kebencian Syiah terhadap Umar?


KEBENCIAN kaum Syiah kepada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, yang setan pun takut sama beliau telah sangat memuncak. Bahkan untuk mengekspresikan kebencian mereka kepadanya dibuatkan satu hari raya khusus untuk mengenang kematiannya, na’udzubillah min dzalik. Bahkan pembunuh Umar bin Khattab, Abu Lu’luah Al-Majusi sangat dimuliakan oleh pemerintah Iran, kuburannya sangat diagungkan bak istana yang sangat megah. Hari raya tersebut mereka namakan Idul Baqr, simak tanya-jawab ulama Syiah di bawah ini,

3 Kecenderungan Orang Syiah

SYIAH di atas dunia mempunyai tiga kecenderungan yang besar. Mereka terpecah kepada banyak kelompok tetapi kebanyakan adalah tiga kelompok besar seperti berikut.
Kelompok pertama dipanggil syiah mufaddholah, yaitu yang cenderung memuliakan ahlul bait (kaum keluarga Nabi). Mereka banyak berbicara tentang kemuliaan ahli keluarga Nabi; Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan lain-lain tetapi mereka tidak mengafirkan sahabat Nabi.

Apakah Syiah Merayakan Idul Fitri?

IDUL Fitri, Itulah hari raya kaum Muslimin sedunia, syiar terbesar umat Islam, dan satu lagi di bulan Dzulhijjah Hari raya Idul Adha, hari raya terbesar kedua dalam syariat Islam, sebagaimana keterangan Nabi:
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, dan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya. Pada masa Jahiliyyah, mereka bermain pada dua hari raya tersebut. Beliau bersabda, ’Aku datang dan kalian mempunyai dua hari, yang kalian bermain pada masa Jahiliyah. Kemudian Allah mengganti dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr dan hari Fithri’.” [Dr. Abdullah Ath Thayyar, Ahkam Al ‘Idain Wa ‘Asyri Dzil Hijjah, hlm. 9].
Bagaimana dengan kaum Syiah, apakah mereka juga merayakan hari ini juga dikarenakan ajaran mereka sering kali “menyerempet” ajaran Islam?

Ini Dia Kaidah Yang Meruntuhkan Syiah

SEMUA pokok agama (ushuluddin) dibangun di atas ayat-ayat Al Quran yang muhkam, yaitu ayat yang jelas, tegas dan mudah dipahami. Ayat Muhkam dapat langsung dipahami dengan jelas maknanya, tidak butuh interpretasi (tafsir, hadis, riwayat atau penjelasan ulama) untuk memahaminya. Sebaliknya, kelompok ayat-ayat yang mutasyabihat, untuk memahaminya dengan benar harus disertai dengan interpretasi tadi. Allah berfirman mengenai ayat muhkam dan ayat mutasyabihat.

Ushul Kafi, Kitab Rujukan Syiah, Berisi Ribuan Hadits Palsu

KAUM Syiah adalah golongan terdepan yang memalsukan hadits. Salah satu langkah yang ditempuh golongan batil untuk mencari pengikut, yaitu melalui pengadaan hadits-hadits palsu dan menyebarluaskannya di tengah manusia. Pasalnya, mereka tahu benar bahwa kaum Muslimin sangat mencintai sunnah (hadits-hadits) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ingin mengetahui lebih mendalam.

Maka Tibalah Giliran Imperium Persia-Majusi Modern

FAKTA sejarah yang mungkin luput dari perhatian kaum muslimin; bahwa Syi’ah adalah aktor utama dibalik runtuhnya ketiga Khilafah Islamiyah; Umawiyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah.

Saddam Hussein dan Agama Syiah

DI era 80-90-an, tak ada yang paham mengapa Saddam Hussein membunuh sebagian rakyat Iraq di negerinya sendiri. Jutaan orang mengecam dan menyumpahserapi Saddam. Ia ditahbiskan sebagai seorang pembantai kejam.
Dua puluh tahun kemudian, terungkap bahwa orang-orang yang dihabisi oleh Saddam tersebut adalah penganut Syiah di negerinya. Selama lebih dari dua dekade, kenyataan ini dilindungi dan disembunyikan oleh pers Barat.

Friday, July 3, 2015

Sunnah/Hadits Itu Dibuat Setelah Rasulullah Wafat?? Ini Adalah Anggapan Yang Keliru Dan Konyol, Hadits Shahih Dari Rasul Adalah Wahyu Dari Allah

Kedudukan-As-sunnah-dalam-Syariat-Islam-D
Sunnah, Juga Merupakan Wahyu
Oleh :Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Sesungguhnya agama Islam telah sempurna, nyata, terang lagi jelas, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali pasti binasa. Dan Islam, adalah agama yang berlandaskan wahyu Allah Ta’ala, bukan berlandaskan akal fikiran maupun perasaan manusia. Barang siapa mengikuti wahyu, maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus. Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Maka berpegang teguhlah kepada yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. [az-Zukhruf/43:43].

Stempel Wahabi adalah cara Syiah memadamkan cahaya Al Quran dan Sunnah

Oleh: Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman

Siapa saja yang anti syi’ah, mereka labelkan Wahabi, maka Wahabi adalah senjata ampuh kaum syi’ah mengadu domba umat Islan dan menutupi kejahatan syi’ah.
Musuh orang-orang syiah sejak dahulu sampai sekarang adalah orang Islam yang faqih dan ‘Aalim tentang Al Quran dan As sunnah.

Pasukan Iran Persia Majusi di Suriah Bantai Islam

Pasukan Iran Persia Majusi di Suriah Bantai Islam


Muhammad Ali Jafari Komandan Pasukan Garda Revolusi Syiah Persia Iran al-Majusi
Menit 00:20
Dikarenakan situasi yang khusus di Lebanon dan Suriah, sejumlah pasukan (Iran Persia Majusi) Quds telah berada di negeri tersebut.
[https://www.youtube.com/watch?v=Irk02X-zVGE]

Nubuwwah Persia Iran Negeri Syiah

[Goresan Pena Tanya Syiah Part 23]

Nubuwwah Persia Iran Negeri Syiah

Syiah Rafidhah al-Majusi Persia Iran, selama ini telah melakukan propaganda dan tipu daya terhadap kaum Muslimin dengan mengklaim bahwasanya merekalah (Syiah Rafidhah al-Majusi Persia Iran) adalah generasi penerus Salman al-Farisiy Radhiyallahu ‘anhu dalam meraih Iman dan Islam yang penuh dengan pengorbanan dan hujjah (ilmu).


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ الدِّينُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَذَهَبَ بِهِ رَجُلٌ مِنْ فَارِسَ أَوْ قَالَ مِنْ أَبْنَاءِ فَارِسَ حَتَّى يَتَنَاوَلَهُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seandainya agama (Islam) itu berada di (bintang) Tsurayya, niscaya seorang laki-laki yang berasal dari Persia akan pergi ke sana.” Atau beliau bersabda, “Yang berasal dari anak laki-laki Persia hingga meraihnya.” [Muslim no.4618]

Risalah Amman Message Syiah Indonesia

Risalah Amman Message Syiah Indonesia

محاور رسالة عمان الثلاثة
Tiga Point Risalah ‘Amman
(1) إنّ كل من يتّبع أحد المذاهب الأربعة من أهل السنّة والجماعة (الحنفي، والمالكي، والشافعي، والحنبلي) والمذهب الجعفري، والمذهب الزيدي، والمذهب الإباضي، والمذهب الظاهري، فهو مسلم، ولا يجوز تكفيره. ويحرم دمه وعرضه وماله. وأيضاً، ووفقاً لما جاء في فتوى فضيلة شيخ الأزهر، لا يجوز تكفير أصحاب العقيدة الأشعريّة، ومن يمارس التصوّف الحقيقي، وكذلك لا يجوز تكفير أصحاب الفكر السلفي الصحيح
(1) Siapa saja yang mengikuti salah satu Madzhab empat yang berasal dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, Hanbaliy) serta madzhab Ja’fariy, Zaidiy, Ibadhiy dan Dzahiriy, maka ia adalah seorang Muslim. Sehingga tidak diperbolehkan untuk mengkafirkannya, haram darahnya dan kehormatannya serta hartanya. Dan juga, berdasarkan fatwa yang berasal dari Fadhilatusy Syaikh al-Azhar, yakni tidak diperbolehkan mengkafirkan orang yang memiliki ‘Aqidah al-Asy’ariyyah, serta orang yang mempraktekkan at-Tasawwuf al-Haqiqiy, dan begitupula tidak diperbolehkan mengkafirkan orang yang memiliki pemahaman as-Salafiy ash-Shahih. ?????

Perang Media Syi’ah Harus Diimbangi

Amin Muchtar: Perang Media Syi’ah Harus Diimbangi

Upaya Syi’ah untuk mempropagandakan ajarannya seolah tak mengenal lelah. Berbagai cara ditempuh demi bertambahnya jumlah pengikut kelompok yang dinyatakan sesat oleh MUI ini. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah propaganda lewat media. Tak hanya dalam bentuk tulisan, namun propaganda Syi’ah juga dilakukan melalui arena lain, yang dinilai lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat.

Husen al Athas Rasil Mutah di Eropa Masih Dapat Diterima



Husen al Athas Rasil
Menit 06:45 – 07:10

Orang di Eropa belajar, dia khawatir dirinya terjerumus ke dalam perzinahan, mau menikah secara permanen, dia merasa tidak mampu dan khawatir kalau permanen dia menikah, maka dia akan berpasangan dengan wanita yang tidak cocok. Untuk menghindari perzinahan selagi masa belajar, dia melakukan Mut’ah bersama Ahlul Kitab, menjaga wanita yang tidak berbuat yang tidak-tidak. Hingga dia kembali ke tanah airnya, itu masih dapat diterima.

“Titik Temu NU - Wahhabi “ , Bahasan “ Isu-isu Pokok” Secara Ilmiyyah Tanpa Hujatan, Untuk Mendamaikan Sesama Ahlus Sunnah [ Bagian I ]

Sekiranya dalam bahasan ini ada tulisan yang bertentangan dengan judul diatas dan mengindikasikan "menang sendiri tanpa dalil yang shahih/sarih " silahkan kirim comments ke abuhuseinalqadisiah@gmail.com. Jazakallah khairan.
" Sekiranya disediakan dua meja, masing-masing kelompok NU-Wahhabi-Syiah diminta untuk mengumpulkan kitab-kitab rujukannya, niscaya NU dan Wahhabi akan terkumpul dimeja yang sama, Syiah dimeja yang lain ! "
Permasalahan timbul dimana syiah menyamar/taqiyah, memakai jaket NU untuk menghujat Wahhabi sesuai instruksi " imamnya di Iran" dan menjauhkan NU dengan Salafi "Wahhabi".
Perlu tampilnya Intelektual NU yang berpegang teguh/ikhlas pada mazhab Syafi'i ( bukan wahm syiah/liberal ) untuk memaparkan pemahamanya terutama yang pokok-pokok terkait dengan manhaj yang dipegang/didakwahkan Salafi "Wahhabi". Diperlukan sikap yang arif dan bermartabat tanpa menghujat/ saling menjatuhkan. sebaiknya secara tertulis dan ada baiknya dibuat Blog khusus yang disetujui kedua belah pihak, dengan skala prioritas pembahasan. juga perlu dikumpulkan semua tulisan-tulisan di media elekronik/cetak yang selama ini tercecer di berbagai blog-blog pribadi yang menjadi ajang perdebatan terkait masala-masalah krusial di tataran umat. Umat Islam cukup mereview pemahaman/pembahasannya di Blog bersama yang akan dibuat. wallahu a'lam

Wahhabiyah dan Nahdlatul Ulama' Titik Temu Nu dan Wahhabiyah
Wahhabiyah dan Nahdlatul Ulama’
Titik Temu Nu dan Wahhabiyah
Rujukan Pertama :

Titik Temu Wahabi-NU

Tampaknya selama ini ada kesalahan informasi tentang Wahabi dan NU. Banyak orang Wahabi yang mendengar informasi tentang NU dari sumber-sumber lain yang bukan karya tulis ulama NU, khususnya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, banyak orang NU yang memperoleh informasi tentang Wahabi tidak dari sumber-sumber asli karya tulis ulama-ulama yang menjadi rujukan paham Wahabi. Akibatnya, sejumlah orang Wahabi hanya melihat sisi negatif NU dan banyak orang NU yang melihat sisi negatif Wahabi. Penilaian seperti ini tentulah tidak objektif, apalagi ada faktor eksternal, seperti yang tertulis dalam Protokol Zionisme No 7 bahwa kaum Zionis akan berupaya untuk menciptakan konflik dan kekacauan di seluruh dunia dengan mengobarkan permusuhan dan pertentangan.
selama ini dikesankan bahwa paham Wahabi yang dianut oleh pemerintah dan mayoritas warga Arab Saudi itu berseberangan dengan ajaran Nahdlatul Ulama yang merupakan mayoritas umat Islam Indonesia.