Monday, September 23, 2019

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah


●Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke : 1-8)
Noda-Noda Hitam Buku Putih Mazhab Syi’ah
Resensi buku : Hitam di Balik Putih, Bantahan terhadap Buku Putih Madzhab Syiah

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-1)

Alhamdulillah, dengan mengucapkan syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala, saya alfaqir menyambut baik terbitnya buku berjudul Hitam Dibalik Putih: Bantahan Terhadap Buku Putih Mazhab Syiah, karya tulis seorang ulama muda yang tumbuh di lingkungan PERSIS yaitu ustadz al-fadhil al-mukarram Amin Muchtar. Buku ini semakin memperkaya khazanah kepustakaan Islam dan wacana kritik ilmiah terhadap aliran menyimpang seperti syi’ah di Indonesia. Melalui karya ini, ustadz Amin Muchtar membuktikan dengan cerdas dan tangkas bahwa premis-premis epistemologis yang dibangun oleh Buku Putih Mazhab Syiah tidak berakar dan tidak berpijak kepada metodologi ilmiah, bahkan naifnya—seperti diungkapkan oleh buku ini—lebih cenderung mengedepankan prinsip taqiyah dan kesadaran untuk mengaburkan fakta-fakta penting penilaian ulama Syiah sendiri terhadap rujukan utama agama syiah yaitu Kitab Al-Kafi susunan Syekh Al-Kulaini dan bahkan tiga sumber rujukan pokok lainnya yaitu Al-Istibshar, Man La Yahdhuruh Al-Faqih, dan Tahdzibul Ahkam.
Dengan rujukan sumber-sumber primer dan sekunder yang kaya dan otoritatif, kritik-kritik tajam nan ilmiah yang dilancarkan ustadz Amin Muchtar membuat karya ini sangat argumentatif, dan dalam pandangan saya lebih bisa dipercaya sebagai outsider yang jujur dan objektif apa adanya. Seringkali ketika ulama Sunni membahas dan mengkritisi pelbagai aspek teologi Syi’ah dikesankan oleh pihak Syi’ah sebagai tidak adil, tidak berimbang, dan subjektif. Dan dengan kerangka itu, seringkali kaum Syi’ah menikmati dan mengeksploitasi kesan teraniaya dan terzalimi yang muncul dari efek pencitraan ketidakadilan dan subjektifitas penilaian ulama Sunni. Hemat saya, sejauh mana kajian kritik ilmiah itu dikatakan subjektif atau objektif, bukan dikarenakan pelaku kritiknya itu orang internal atau eksternal dari komunitas Syiah. Tetapi yang paling utama adalah validitas data, verifikasi sumber-sumber primer dan sekunder yang memenuhi standar ilmiah dan netralitas setiap premis yang dibangun seorang pengkaji. Hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja, baik pihak insider atau outsider Syiah, asalkan jujur, amanah dalam menukil, tidak menggunakan data fiktif atau yang dinilai para ulama yang muktabar sebagai fiktif (maudhu’).
Yang orisinil dan menarik bagi saya dalam kajian ustadz Amin Muchtar ini adalah beliau membantah satu persatu premis-premis dasar yang diangkat dan seolah dikramatkan sebagai KEBENARAN MUTLAK oleh Buku Putih Mazhab Syiah, sehingga meninggalkan kesan seperti itulah mazhab syiah yang sesungguhnya, tak lebih dan tak kurang. Premis-premis mereka yang menyatakan bahwa: 1) Jumhur ulama syiah tidak meyakini keshahihan hadis pada empat kitab standar hadis syiah, 2) Seluruh hadis dalam empat kitab standar itu shahih adalah pandangan kelompok Akhbari, 3) Contoh perawi Al-Kafi yang dinyatakan lemah dan tertolak riwayatnya, 4) Ulama syiah sepakat bahwa semua riwayat yang bertentangan dengan Al-Quran dan akal sehat harus ditolak, dan 5) Tidak ada bukti bahwa Al-Kulaini menshahihkan seluruh hadis dalam Al-Kafi, kesemuanya dibantah dan digugurkan secara telak dan jitu berdasarkan rujukan-rujukan primer ulama syiah sendiri. Sehingga dalam kesimpulannya, ustadz Amin Muchtar menulis, “Dengan demikian pihak Syiah tidak perlu menyalahkan pihak lain yang menimbang—bahkan menilai sesat—ajaran Syiah dengan menggunakan empat kitab standar hadis syiah pada umumnya, kitab Al-Kafi khususnya. Seandainya terdapat perbedaan pandangan di internal ulama syiah, sejatinya para ulama atau cendekiawan syiah dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri tanpa menyalahkan pihak lain”.
Walhasil, saya dan umat Islam Indonesia sangat bangga dan berterima kasih kepada ijtihad dan mujahadah ilmiah al-mukarram ustadz Amin Muchtar dalam menangkal ajaran syiah secara cerdas dan bernas. Semoga Allah ta’ala menganugerahkan kesehatan dan keberkahan usia kepada beliau dan segenap ulama yang berijtihad dan mujahadah menegakkan aqidah Islam yang shahih di mana pun mereka berada di bumi Allah ini. Semoga karya ini menjadi amal shalih bagi penulisnya dan bermanfaat dunia akhirat bagi para pembacanya. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil.
By KH. Fahmi Salim, Lc. MA., (Wakil Sekjen MIUMI, Sekretaris Bidang Wakaf & Hukum Dewan Masjid Indonesia), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah, hlm. 62-64

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-2)

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga dan para sahabatnya serta semua pengikutnya sampai akhir zaman, amma ba’du.
Layaknya seorang pedagang, para pengusung ajaran Syiah juga melakukan trik-trik dagang yang jitu agar dagangannya laris di pasaran. Di antara trik tersebut adalah dengan mengemas ajaran mereka seolah-olah bersumber dari ajaran Rasulullah saw. dan tidak ada penyimpangan sedikit pun. Di antara konsep yang berhasil dibangun oleh Syi’ah yaitu Syi’ah berhasil membuat konsep “mengentengkan” ajaran agama Islam. Yaitu Syiah meyakini bahwa prinsip beragama yang paling utama hanya cukup dengan berwilayah kepada Ali (meyakini bahwa Ali adalah wali/penguasa mereka). Siapa yang menerimanya, maka dia akan beruntung dan selamat di akhirat. Karena pada hari Kiamat, Ali akan memberikan penyelamatan terhadap seluruh umat manusia yang mencintainya. Bahkan menurut Syiah, Ali lah yang telah mengajari malaikat Jibril. “Ketika Jibril menghampiri Nabi saw, tiba-tiba Ali juga menemui beliau saw. Jibril berdiri untuk memuliakan dan menghormati Ali as. Rasulullah saw bersabda kepada Jibril, “Apakah engkau berdiri untuk menghormati pemuda ini? Jibril memaparkan, ‘Ya, dikarenakan dia memiliki hak pengajaran kepadaku.’” Rasul saw berkata, “Apakah hak itu? Jibril menjelaskan, ‘Ketika Allah menciptakanku, lalu Dia menanyaiku, ‘Siapakah engkau, siapa namamu, siapa Aku dan siapa nama Aku?’ Saya merasa kikuk, apa yang harus aku jawab, secara tiba-tiba seorang pemuda (Ali as), manifestasi dari Alam Nuraniyah berkata, ‘Katakanlah! Engkau adalah Tuhan Yang Mahaagung, nama-Mu Indah, dan aku adalah hamba-Mu yang hina-dina, namaku Jibril.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 35).
Selain itu, Syi’ah juga berani membuat konsep ibadah yang selalu berseberangan dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah, karena mereka berkeyakinan bahwa Ahlu Sunnah wal Jama’ah lah yang telah membunuh Imam Husein yang Syi’ah agungkan. Misalnya Syi’ah mengatakan bahwa tatacara shalat Rasulullah saw. adalah sebagai berikut, “Sayid Ibnu Thawus meriwayatkan bahwa Imam Ali Ridha as pernah ditanya tentang shalat Ja’far at-Thayyar. Beliau menjawab, “Mengapa kalian lupa dengan shalat Rasulullah saw? Mungkin Rasulullah saw belum pernah melakukan shalat Ja’far tersebut, dan Ja’far juga belum pernah melaksanakan shalat beliau itu!” Perawi berkata, “Jika begitu, ajarkanlah shalat (Rasulullah saw) tersebut kepadaku!” Beliau berkata, “Kerjakanlah shalat 2 rakaat, dan di setiap rakaat bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan inna anzalnahu (surah al-Qadr) 15 kali. Bacalah juga surah al-Qadr tersebut ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud pertama, sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua masing-masing 15 kali. Setelah itu bacalah tasyahud dan salam…” (Kunci-kunci Surga jilid 1, Syekh Abbas Al-Qummi, hal. 150).
Selain membuat tatacara shalat Rasulullah saw. versi Syi’ah, Syi’ah juga membuat tatacara shalat yang dilakukan oleh para imam mereka, mulai dari tatacara shalat Ali bin Abi Thalib As, shalat Imam Hasan dan Husain As dan imam-imam yang lainnya yang sangat berbeda dengan tatacara shalat kaum muslimin di dunia yang bermazhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Misalnya tatacara shalat Ali As adalah sebagai berikut, “Syekh Thusi dan Sayid Ibnu Thawus ra meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq As berkata, “Sesiapa di antara kalian melaksanakan shalat Amirul Mukminin As yang berjumlah 4 rakaat, niscaya ia akan terbersihkan dari dosa seperti ia baru lahir dari perut ibunya dan segala keperluannya akan dipenuhi. Pada setiap rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan surah al-Ikhlash 50 kali.” (Kunci-kunci Surga jilid 1, Syekh Abbas Al-Qummi, hal. 152).
Selain perbedaan dalam masalah ibadah, juga Syiah berani berbeda dalam masalah aqidah. Misalnya Syiah berkata, “Imam Shadiq As dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah Allah….”berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali As.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda, hal. 22).
Hal-hal inilah yang menjadi penyebab lakunya paham Syiah, yaitu beragama di dalam Syiah sangat mudah, hanya cukup cinta dan setia kepada Ali As. akan menyelamatkan seseorang di akhirat. Mereka telah berhasil menyesatkan banyak orang. Aqidah batil tersebut telah merusak keimanan kepada Allah saw. dan Rasul-Nya, dan seluruh ajaran Islam. Ahlu Sunnah wal Jama’ah meyakini jika rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya belum tentu akan menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya jika tidak dibarengi dengan iman dan amal shalih, lalu bagaimana mungkin rasa cinta kepada Ali dianggap cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab-Nya?
Kecintaan kepada Ali as yang diusung oleh Syiah adalah dikarenakan Rasulullah saw. telah mengangkat Ali As di Ghadir Khum sebagai pemimpin setelah beliau saw. Untuk masalah ini, ada baiknya Syiah merenungkan beberapa hal di bawah ini :
Jika masalah kepemimpinan adalah sangat penting adanya, seharusnya Nabi Saw menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin di Arafah, sebelum beliau meninggal dunia, tepatnya pada saat haji Wada. Karena ketika di Arafah, semua jamaah haji dari berbagai negeri berkumpul. Tidak hanya penduduk Madinah, tapi dari seluruh penjuru Jazirah Arab. Sehingga apabila penduduk Madinah berkhianat, dan mereka lebih memilih Abu Bakar Ra sebagai khalifah, maka kaum muslimin yang lainnya yang datang dari luar Madinah bisa menjadi saksi akan hal itu.
Apabila benar bahwa Rasulullah Saw telah berwasiat kepada Ali Ra untuk menjadi khalifah, mengapa Ali tidak menyampaikan hal tersebut di hadapan para sahabat? Apakah Ali takut untuk menjadi syahid membela wasiat Rasulullah Saw? Bukankah ini bertentangan dengan sejarah hidup Ali As. yang terkenal dengan keberanian dan kejujurannya?
Hadits Ghadir Khum sebenarnya adalah hadits yang berisi pemulihan nama baik Ali Ra. oleh Rasulullah Saw. Hal ini dikarenakan ada beberapa orang para shahabat yang tidak berkenan oleh sikap Ali Ra dalam masalah ghanimah/rampasan perang dari Yaman dan bukan sebagai pengangkatan Ali sebagai khalifah pengganti Rasulullah saw.
Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka perlahan namun pasti akan merongrong kelestarian ajaran Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Karena ajaran Syiah mengusung cinta kepada Ali As dan membenci para shahabat lain yang dianggap telah merampas hak kepemimpinan Ali as seperti membenci Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khaththab dan Usman bin Affan.
Oleh karena itu, sebagai bentuk pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban kita, saya secara pribadi menyambut baik terbitnya buku Hitam Dibalik PutihBantahan Terhadap Buku Putih Mazhab Syiah. Semoga buku ini bisa bermanfaat untuk umat Islam dan menjadi bahan rujukan bagi semua pihak yang berkepentingan dalam menjaga kelestarian ajaran Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah di Indonesia.
By KH. M. AMIN DJAMALUDDIN., (Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam Jakarta), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah, hlm. 37-41

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-3)

Kelompok-kelompok (Firaq) keagamaan yang muncul di tengah-tengah kaum Muslimin, yang ada sejak ribuan tahun yang lalu, di antaranya Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah. Kelompok ini mengaku sebagai kelompok yang paling dekat dengan Ali bin Abi Thalib dan ahlul bait, bahkan lebih dari sekedar menghormat, tetapi juga mengagungkan melebihi para sahabat lain, hingga Rasulullah Saw itu sendiri. Munculnya kelompok tersebut sebagai implikasi dari munculnya kelompok Khawarij yang mengecam peristiwa Shiffin dengan arbitrasi (hakam) antara Ali Ra dan Muawiyah Ra. Kaum Khawarij yang semula amat teguh dan membela Ali Ra, berubah menjadi memusuhi dan menganggap bahwa Ali, Muawiyah, dan sahabat-sahabat yang terlibat dalam peristiwa hakam itu, berdosa besar dan kafir maka harus dibunuh. Maka doktrin yang semula politik berubah menjadi teologi, pengkafiran itu membuat Ali Ra terbunuh. Para pengikut Ali yang selanjutnya disebut Syi’atu Aliyin, kelompok Ali Ra inilah yang dengan berbagai macam cara dan usaha membela dan mengangkat segala persoalan yang berkaitan dengannya, bahkan pada putra-putra, sampai ke cucu-cucunya yang selanjutnya disebut Ahlul Bait.
Ahlul Bait, sebagaimana dicitrakan oleh Syiah, ternyata menimbulkan perbedaan di kalangan mereka, sehingga bukan hanya Dua belas Imam, tetapi ada yang menganggap sebelumnya juga sudah selesai dan memunculkan Sabaiyah, Ismailiyah, Fathimiyah, Qaramithah, dan lain-lain yang akhirnya merupakan mazhab Syiah yang banyak itu dan terakhir, bukan paling akhir ada yang disebut Syiah Nushairiyah, sebagaimana yang menguasai Suriah sekarang yang sedang dalam konflik yang belum berhenti. Memang, penghormatan terhadap Ahlul Bait merupakan ajaran Islam, bahkan dalam ibadah selalu terbawa, ketika seseorang membaca Salawat dengan, “Allahumma Shalli Aala Muhammad wa ‘ala ‘Ali Muhammad”. Namun, tidak dibenarkan untuk melebihi yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Kemunculan yang satu pihak memusuhi Ali dan yang lain membelanya habis-habisan, maka muncullah kelompok yang moderat pada semuanya yang disebut dengan Ahlu Sunnah atau sering disebut dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Hiruk pikuk aliran teologi saat itu ditambah dengan adanya kaum Murjiah, Jabariyah, dan Qadariyah atau selanjutnya memunculkan yang disebut Mu’tazilah.
Era politik dan teologi yang berkepanjangan sampai sekarang dengan pendapat-pendapat ulamanya yang amat banyak menyinggung Ahlu Sunnah karena fatwanya yang amat kontroversial, baik terhadap Allah, sebagai Khaliq, Al-Quran, Nabi Saw, Sahabat Ra, Ibadah pada Allah, Umat Islam, merendahkan para Nabi dan Malaikat, merendahkan Ali bin Abi Thalib, dan Al-Quran itu sendiri. Demikian paling tidak ungkapan dan kesimpulan Syaikh Ahmad bin Said Hamdan al-Ghamidi, Prof di Pasca Sarjana Ummul Qura dalam bukunya, “Bara’atu Ahlul Bait minar Riwayat” (Bebasnya Ahlu Bait dari riwayat-riwayat (dusta)). Buku yang terdiri atas 9 jilid kecil itu, mengungkapkan dengan jelas pendapat dan keyakinan para ulama Syiah terhadap Allah dan Rasulnya, Al-Quran, Sahabat, dan Ahlul Bait.
Memang kelompok ini amat eksklusif, yaitu jika khawarij sudah “selesai” dengan caci makiannya pada sahabat tertentu dan memunculkan kelompok yang moderat. Namun, ternyata cacian terhadap sahabat, orang beriman dari mazhab lain, cacian, hujatan, takfir (pengkafiran) makin lama makin berkembang, bahkan umat Islam selain mereka disebut Kaum Nashibi yang halal darahnya, sementara kaum khawarij yang ghulat (berlebihan) sudah amat sedikit, sebagaimana yang tinggal di kesultanan Oman, Zanzibar, dan beberapa negara Afrika Utara pun sudah banyak yang moderat. Mereka hanya mengkafirkan Ali, Muawiyah, dan sahabat yang telibat dalam peristiwa hakam (arbitrase itu). Kelompok yang disebut Syiah Imamiyah-Jafariyah—pengakuannya, sebagai Pembela Ahlul Bait, ternyata jauh dari ajaran Ahlul Bait itu sendiri dan ini pula memunculkan Mazhab Syiah yang amat banyak itu, menurut seorang ahli lebih dari tujuh puluh aliran atau firqah. Syiah Imamiyah bahkan amat menghina Allah dan Rasulnya, termasuk Quran, dan malaikat dengan alasan menggunakan Ali dan Ahlul Bait.

Inilah beberapa cacatan yang tercantum dalam kitab-kitab yang disusun oleh ulama mereka:
Memutuskan hubungan dengan para Sahabat Nabi Saw.
Pernyataan ini tercantum Kitab al-Ikhtishash hal. 10, Biharul Anwar vol. 28., hal. 239, Qamusu ar-Rijal,vol, 10 hal. 228, dan lain-lain. Tuduhan pada para Sahabat sebagai berikut: Murtad orang-orang itu, kecuali tiga orang”. Selanjutnya antara lain dalam Al-Kafi vol. 8, hal. 245, Tafsir as-Shafi, vol. 1, hal. 389, yang katanya dari al-Baqir: “Adalah orang-orang itu murtad sesudah (wafat Nabi Saw) kecuali tiga orang; ketiga ditanyakan, yang dijawabnya, Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi”.
Merendahkan para Nabi, Malaikat, dan Ali Ra.
Pernyataan bahwa para Imam memiliki kedudukan dari para Nabi.
Pernyataan ini tercantum dalam kitab Mustathrafus Sara’ir hal. 575 dan Biharul Anwar, vol. 27, hal. 575: “Tidak ada seorang Nabi pun, tidak juga (keturunan) Adam, manusia, jin, dan tidak juga Malaikat yang ada di langit dan di bumi, kecuali kami adalah argumen-argumen buat mereka. Tidaklah Allah menciptakan suatu ciptaan kecuali telah ditampilkan wilayah kami kepadanya dan berargumen kepada kami atasnya. Maka ada yang percaya dan menolaknya sampai langit-langit dan bumi”.
Pernyataan seluruh ciptaan tergantung pada Rasul Muhammad saw dan Ahlul Bait.
Pernyataan dalam muqaddimah kitab Tafsir Miratul Anwar wa Misykatul Asrar, hal. 31 pada bab 5 yang berjudul, Al-Fashul Khamis fi anna Rasulallah wal Aimmah illatu khalqi khalqi. Fasal lima bahwa Rasulullah saw dan para Imam adalah alasan (Allah) menciptakan makhluk”.
2. Pernyataan bahwa Ali bin Abi Thalib Ra, hafal seluruh kitab nabi waktu dilahirkan, lebih dari Nabi-nabi terdahulu.
Pernyataannya tercantum dalam kitab Raudhatul Waidin hal. 48, Biharul Anwar, vol. 35, hal. 22, dan Holayatul Abrar, vol. 2, hal. 58: “………….Kemudian, Ali membaca Taurat Nabi Musa, hingga seandainya Musa ada, pasti ia mengakui bahwa Ali lebih hafal daripadanya. Kemudian Ali membaca Zabur Nabi Dawud, hingga seandainya Dawud ada, pasti mengakui bahwasanya Ali lebih hafal daripadanya. Selanjutnya, dibaca pula Injil, hingga seandainya Isa ada Ali lebih hafal daripadanya. Lalu ia membaca al-Quran, aku temukan Ali—kata Nabi– hafal seperti hafalanku saat ini, dengan tidak terdengar ayat yang dibacanya”.
Memutuskan hubungan dengan al-Quran
Alquran yang sekarang ada dinilai tidak orisinal karena hasil persekongkolan sahabat-sahabat Rasulullah saw, seperti Abu Bakar, Umar, Abdullah bin Amr, dan lain-lain, sehingga banyak lafal-lafal yang dibuang, dan juga surat-surat dihilangkan seperti surat an- Nuraian, surat al-Wilayah, surat al-Khala’, dan surat al-Hafd. Tuduhan penghilangan ini tercantum pada kitab-kitab, seperti Tadzkiratul Aimmah, hal. 19, dan Tadzkiratul Fuqaha. Dan pada itu ada yang lebih parah dari pernyataan ini yang menyatakan bahwa al-Quran yang asli yang riwayatnya dinisbahkan pada Imam al-Shadiq, “Sesungguhnya al-Quran yang dibawa oleh Jibril pada Muhammad Saw adalah 17.000 ayat dan ada yang meyebut 18.000 ayat. Pernyataan ini, yang pertama tercantum dalam al-Kafi—kitab hadis mereka yang amat dibanggakan—vol. 2, hal. 634 dan kedua Kitab Sulaim bin Qais, hal. 146.
Ini hanyalah contoh kecil yang tercantum dalam kitab-kitab mereka sebagaimana diambil dalam tulisan Prof. Dr. Ahmad bin Said Hamdan al-Ghamidi, Guru Besar Univ. Ummul Qurra, yang penulis kutip yang dalam catatannya disebutkan, Bara’atu Ahlu Bait minar-Riwayat”, Bebasnya Ahlu Bait dari riwayat-riwayat (dusta) . Oleh karena itu dengan telah disusunnya buku, “Hitam di Balik Putih: Bantahan Terhadap Buku Putih Mazhab Syiah” akan makin terungkaplah kebohongan-kebohongan Syi’ah Rafidhah ini, termasuk yang ada dan berkembang di Indonesia saat ini yang dalam ormasnya disebut IJABI.
Untuk itu buku karya al-Akh Ustadz Amin Muchtar, dapat menjadi rujukan dalam membendung ajaran Syiah ar-Rafidhah ad-dhalalah dari bumi NKRI Ahlu Sunnah wal Jama’ah ini. Persatuan dan kesatuan umat dengan Ahlu sunnah wal Jamaah NKRI akan tetap terpelihara. Namun, dengan Syiah yang menganggap kaum Nashibi kepada Sunni yang dihalalkan darahnya akan menimbulkan konflik berkepanjangan dan NKRI akan dipecah-belah dan penuh konflik, seperti kasus Suriah saat ini. Basyr al-Asad Syiah Nushairah, pecahan Syiah Rafidhah, Itsna Asyriyah, sudah membunuh warganya yang Sunni yang amat banyak. Konflik intern umat akan terjadi dengan berkembangnya para pencaci para Sahabat Nabi, mertua Rasul, istri-istrinya, dan Ahlu Sunnah itu, sebagaimana peristiwa SAMPANG.
Mudah-mudahan pula buku pertama ini menjadi inspirasi juga bagi para muballig Ahlu Sunnah wal Jamaah untuk terus memagari bangsa ini dari segala ajaran dan aliran yang bertentangan dengan ajaran al-Quran dan Sunnah, termasuk aliran sesat Ahmadiyah.
Allahummahfizhna fi dinina ya Rabbana ya Karim wa Allahu yakhudzu bi aidina ila ma fihi khairun lil Islam wal Muslimin.
By Prof. Dr. M.Abdurrahman, MA., (Ketua Umum PP Persis Masa Jihad 2010-2015), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah, hlm. 17-22

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-4)

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Wasshalatu Wassalamu ‘ala Assyrafil Anbiya wal Mursalin. Wa ‘ala Alihi Wa Ashabihi Ajma’in.
Sejak Revolusi Iran dicanangkan, tahun 1979, maka semenjak itu pula euforia revolusi Persi menyebarkan propaganda Syiah ke mana-mana. Khususnya di negara-negara Arab sebagai tetangga – dan juga negara Islam lainnya. Apalagi Indonesia, sebagai negara terbesar mayoritas Muslim di dunia, menjadi incaran pertama dan utama syiahisasi di sini dengan mengusung retorika revolusi dan anti Amerika, isu nuklir, serta pro Palestina yang tidak pernah kongkret.
Padahal, siapapun tahu bahwa Revolusi Iran (1979) saat itu disiarkan media internasional sebagai revolusi yang telah memakan anak kandungnya sendiri. PM Sadeq Qotbzadeh (PM pertama pasca revolusi) dihukum gantung oleh Khomeini. Presiden pertama, Bani Shadr divonis mati, andai tak lari mencari suaka ke Prancis (sampai kini) pasti ia mengalami nasib yang sama dengan Qotbzadeh. Ayatullah Bahesti dibom bersama konon puluhan anggotanya di parlemen, dan Ayatullah Syariat Madari dikucilkan dari revolusi karena bersaing dengan Ayatullah Khomeini.
Revolusi Iran sampai kini tercatat belum memberikan perubahan yang berarti, sampai terpilihnya Presiden Rouhani yang dianggap moderat. Semasa pemerintahan Ahmadinejad yang dekat dengan Rusia (padahal Khomeini saat revolusi menyebut Rusia sebagai syaitan bozor=setan besar) gagal membangun hubungan baik dengan negara-negara Arab sebagai tetangga, membangun ekonomi dalam negeri hingga riyal Iran anjlok, banyak migrasi Iran (mencari penghidupan dan suaka) ke Australia bahkan terdampar di Indonesia, juga ada sindikat perdagangan narkoba. Pasca perang Iran-Irak, mencuat kasus skandal Iran-Contra (perdagangan senjata yang melibatkan AS dan Israel). Sementara euforia revolusi dan anti Barat terus dijadikan sebagai kekuatan diplomasi propaganda yang intensif di Dunia Islam.
Orang lupa bahwa sesungguhnya Revolusi Iran adalah milik Iran sendiri, karena tidaklah mungkin dan tak akan pernah – minoritas Syiah Iran dapat mewakili mayoritas Muslim di Dunia yang menganut akidah dan mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Sementara perbedaan aqidah, manhaj, mazhab dan ideologi politik tidak saja berbeda prinsip dengan Sunni, melainkan berlawanan dengan prinsip keyakinan mayoritas.
Karena sebab-sebab itulah, maka pendekatan yang pernah dilakukan, sebut saja kesepakatan Yordan dan Qatar tidak akan pernah menghasilkan solusi yang kongkret. Karena memang kedua pihak tak mungkin dapat dipertemukan, tidak ada contohnya antara Sunni dan Syiah ini bisa bersatu. Jika umat Islam internal Ahlussunnah wal Jamaah, berbeda mazhab dan aliran bisa shalat berjama’ah (sebagai simbol persatuan/ukhuwwah) maupun bersepakat untuk kepentingan bersama, maka dengan Syiah Rafidhah hal itu mustahil bisa terwujud. Niat baik ulama Sunni untuk melakukan taqrib (hidup rukun dengan masing-masing aqidah) selalu gagal karena terhalang tradisi keyakinan mereka yang selalu menistakan pemuka sahabat dan isteri Nabi Muhammad saw.
Dengan semangat intervensi keyakinan inilah maka semangat dan kebiasaan Syiah Rafidhah untuk mendekonstruksi hadis-hadis Sunni, melecehkan Bukhari-Muslim, menggugat sejarah Ahlussunnah wal Jama’ah, sejak itu membuat cemas para ulama (baik mutaqaddimin maupun mutaakhirin) dan akhirnya jadi sumber perpecahan umat dan permusuhan abadi yang laten.

Hal tersebut dapat dibuktikan dari buku-buku propaganda Syiah di Indonesia sendiri selama ini. Katakanlah dimulai dari buku berjudul “Dialog Sunnah-Syiah”, terjemahan dari “Al-Muraja’at” karangan Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy. Buku propaganda Syiah yang fiktif ini sempat mempengaruhi banyak orang awam, dan akhirnya sempat dicetak berulang-ulang memberi kesan seakan buku ini sudah diterima kebenarannnya. Padahal ada bantahannya, “Al-Bayyinat” yang ditulis oleh Az-Zaabi, sengaja tidak diterbitkan secara seimbang dan adil oleh penerbitnya.
Ada pula buku berjudul Saqifah, yang mengesankan seakan pemilihan Abu Bakar Asshiddiq sebagai khalifah (penerus ajaran, bukan penerus kenabian) itu sebagai suatu kesapakatan yang salah, dengan mengabaikan kompromi Ali bin Abi Thalib sendiri dengan beliau. Juga terbit meluas buku propaganda lain “Sudah Kutemukan Kebenaran” yang menggambarkan klaim kebenaran penulis Syiah. Belum lagi buku-buku kontroversial dan polemis lainnnya yang begitu banyak diterbitkan oleh penerbit-penerbit Syiah – yang sekaligus mengambil keuntungan besar dari pembaca Sunni. Bahkan beredarnya buku-buku yang menghujat ini, masih sempat-sempatnya seolah tanpa beban mengulurkan ajakan persatuan dan ukhuwwah. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bagaimana bisa bersatu jika disebut nama pemuka sahabat Nabi kita mengucap radhiallahu Anhum, sedangkan mereka menyebut Laknatullah Alayhim?
Untuk melangggengkan pengaruh dan propaganda kemudian diwujudkan dalam bentuk mobilisasi pelajar kita ke Qum (Iran) yang begitu tamat langsung melakukan syiahisasi. Sejumlah yayasan didirikan di mana-mana, pengajian Syiah digelar dengan ceramah-ceramah “panas” yang berkisar meremehkan bahkan menistakan pembesar sahabat dan isteri Nabi. Abu Hurairah dilecehkan dengan mengabaikan sumber primer Sunni, dan sengaja secara selektif mengutip hadis-hadis musykil Sunnah tanpa dijelaskan latar-belakang, riwayah dan dirayahnya secara holistis.
Akar permasalahannya adalah egoisme keberagamaan Syiah yang disertai militansi ideologi yang tinggi, dengan jargon “Kullu Ardhin Karbala, Kullu ‘Amin ‘Asyuro” (Setiap Bumi Karbala dan Setiap Tahun Asyuro) yang jelas mengisyaratkan ambisi besar untuk meluaskan ekspansi ideologi dan Syiahisasi di kalangan Sunni akhir-akhir ini yang sudah semestinya diantisipasi. Salah satu antisipasi berupa buku koreksi total atas ‘Buku Putih’ yang mereka terbitkan. Kini sudah dibantah oleh penulis buku di tangan Anda ini. Saudara Amin Muchtar, penulis buku berjudul Hitam Dibalik Putih Syiah: Bantahan Terhadap Buku ‘Putih’ Mazhab Syiah ini dapat memperjelas hal-hal yang syubhat mengenai Syiah Rafidhah yang berkembang secara sistemik di Indonesia belakangan ini. Semoga buku ini banyak memberikan manfaat, Wallahu a’lam, Wallahul Muwaffiq ila Aqwam at-Thariq.
By Prof. Dr. Mohammad Baharun (Guru Besar Sosiologi Agama, Ketua Komisi Hukum MUI Pusat), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah.

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-5)

Sikap kritis dalam bentuk karya tertulis merupakan suatu tradisi dalam sejarah peradaban Islām. Imam al-Ghazālī (m. 1111), misalnya, menulis Tahāfut al-Falāsifah (Ketidakkoherenan Para Filosof) karena menolak pemikiran al-Fārābī dan Ibnu Sīnā. Menanggapi pemikiran al-Fārābī, Ibnu Sīnā dan khususnya al-Ghazālī, Ibnu Rushd menulis Tahāfut al-Tahāfut (Tidak Koherennya Ketidakkoherenan). Al-Shahrastānī juga menulis Muṣāra’ah al-Falāsifah (Pergulatan Para Filosof) yang menolak pemikiran para Filosof khususnya terkait dengan keazalian alam. Fakhr al-Dīn al-Rāzī juga menulis banyak komentar kepada Ibnu Sīnā, seperti Sharh ‘Uyūn al-Ḥikmah (Komentar Inti Hikmah)dan Sharh Ishārāt wa al-Tanbīhāt (Komentar Isyarat dan Peringatan). Sebenarnya, Fakhr al-Dīn al-Rāzī bukan sekadar mengomentari, tapi, juga mengkritik pemikiran Ibnu Sīnā. Jadi, tradisi kritis melalui buku memang telah berkembang mapan dalam sejarah peradaban Islām.

Tentu perdebatan, pertentangan, apalagi perbedaan bukan hanya dalam ranah Filsafat. Perdebatan, pertentangan apalagi perbedaan pemikiran juga terjadi dalam akidah dan syariah. Berbagai aliran mazhab telah menulis banyak sekali karya yang menunjukkan keunggulan mazhabnya dan menunjukkan kekeliruan mazhab lainnya.

Syiah dan Sunni telah menjalani pertentangan dalam waktu yang sangat panjang. Banyak sekali buku, baik dari kalangan Sunni dan Syiah yang saling menghujat dan menunjukkan kekeliruan masing-masing mazhab. Selain buku yang saling mengkritik, upaya-upaya perdamaian juga dilakukan untuk mendekatkan Syiah dan Sunni, baik pada tingkat nasional ataupun internasional. Upaya mendamaikan keduanya dilakukan seperti Majma’ Taqrīb bayn al-Madhāhib. Namun, terkadang upaya tersebut juga bukannya tanpa kekeliruan. Sebabnya, hal-hal yang jelas bertentangan disederhanakan menjadi persoalan yang tidak mendasar. Selain itu, kesepakatan-kesepakatan mungkin terjadi di atas kertas dan di dalam forum, namun di lapangan, kesepakatan-kesepakatan itu sama sekali tidak dilaksanakan.

Pertentangan Sunni dan Syiah berimbas juga pada adu fisik yang menimbulkan korban jiwa seperti yang terjadi di berbagai negara seperti: di Saudi Arabia, Iran, Syiria, Irak, Mesir, Pakistan, Afghanistan, Indonesia, dan di berbagai wilayah lainnya.

Baru-baru ini, Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia telah menerbitkan Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Ulama Syiah yang Muktabar, Sebuah Uraian untuk Kesepahaman demi Kerukunan Umat Islām (2012). Buku yang diterbitkan dari kalangan Syiah ini bertujuan untuk menjelaskan anggapan-anggapan yang keliru tentang Syiah. Seakan-akan Buku Putih Mazhab Syiah ingin menunjukkan inilah Syiah yang sebenarnya. Kekeliruan-kekeliruan pandangan tentang Syiah telah dilakukan, baik dari kalangan Syiah sendiri apalagi dari kalangan Sunni. Jadi, Buku Putih Mazhab Syiah seperti memberikan jawaban atas berbagai kekeliruan pandangan terhadap Syiah.

Buku Putih Mazhab Syiah ini menggambarkan posisi Syiah dalam berbagai aspek pemikiran. Di antara isi Buku Putih Mazhab Syiah adalah menegaskan jika Syiah menerima al-Qur’ān dan al-Sunnah al-Mu’tabarah, menegaskan prinsip al-Imāmah (kepemimpinan), menerima sebagian para Sahabat, dan membenarkan nikah Mut’ah.

Buku Putih Mazhab Syiah menggambarkan jika ada di antara penganut Syiah yang menolak al-Qur’ān, maka penganut Syiah tersebut termasuk orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islām. Mengenai para Sahabat, Buku Putih Mazhab Syiah menunjukkan jika Syiah juga menerima para Sahabat Nabi. Buku Putih Mazhab Syiah memuat 197 nama para Sahabat Nabi yang diterima kalangan Syiah. Namun, diantara nama-nama tersebut, Abū Bakr al-Ṣiddīq, ‘Umar bin al-Khattāb, ‘Uthmān bin ‘Affān, ‘Abd al-Rahmān bin ‘Auf, Ṭalḥah bin ‘Ubayd Allāh, al-Zubayr bin al-Awwām, Sa’d bin Abī Waqqās, Sa’īd bin Zayd, Abū ‘Ubaidah bin al-Jarrāh, sama sekali tidak disebutkan. Memang, kalangan Syiah menolak Abū Bakr ra, ‘Umar ra, ‘Uthmān ra, dan para Sahabat Nabi lainnya. Padahal, mereka telah mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk Islām. Konsep Sahabat kalangan Syiah memang bertentangan dengan apa yang diyakini mayoritas umat Islām di dunia. Buku-buku Syiah banyak sekali yang melaknat, menghujat, mencaci maki, mengumpat dan menghina Abū Bakr, ‘Umar , ‘Uthmān dan para Sahabat Nabi lainnya. Abbas Rais Kirmani, dalam bukunya, kecuali ‘Alī, menyebut Abū Bakr dan ‘Umar sebagai Iblis (Al-Huda, 2009, hal. 155-156). Emilia Renita AZ, istri Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya 40 Masalah Syi’ah, menyebutkan “Syiah melaknat orang yang dilaknat Fatimah.” (Bandung: IJABI, editor Jalaluddin Rakhmat, Cet ke 2. 2009, hal. 90). Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Meraih Cinta Ilahi, menyebutkan dan yang dilaknat Fatimah adalah Abū Bakr dan ‘Umar . (Depok: Pustaka IIman, 2008. Dalam catatan kaki, hal. 404-405, dengan mengutip riwayat kitab al-Imāmah wa al-Siyāsah).

Mengenai Imāmah, Buku Putih Mazhab Syiah menegaskan jika Allāh telah menetapkan garis Imāmah sesudah Nabi Muḥammad ṢAW ada pada orang-orang suci dari dhurriyah-nya atau keturunannya, yang berjumlah 12 orang. Buku Putih Mazhab Syiah juga menegaskan jika Syiah meyakini bahwa ucapan seorang imam maksum, perbuatan, dan persetujuannya, adalah ḥujjah shar’iyyah, kebenaran agama, yang mesti dipatuhi. Konsep Imāmah kalangan Syiah memang rancu dan keliru. Kalangan Sunni menolak kemaksuman 12 imam yang disucikan oleh kalangan Syiah. Buku Putih Mazhab Syiah keliru tatkala membahas isu-isu Ikhtilāf Ahl al-Sunnah dan Syiah, tidak memasukkan pembahasan mengenai Imāmah. Padahal, isu Imāmah ini merupakan persoalan utama antara Sunni dan Syiah.

Buku Putih Mazhab Syiah berusaha untuk menunjukkan perbedaan pendekatan Akhbārī dan Uṣūlī. Seolah-olah jika kekeliruan dilakukan oleh kalangan Syiah, maka itu disebabkan pendekatan orang Syiah tersebut adalah Akhbārī . Pendekatan Akhbārī adalah pendekatan tekstualis dan skripturalis. Sedangkan pendekatan Uṣūlī adalah pendekatan yang menerima prinsip-prinsip rasional dalam memahami teks al-Qur’ān dan Sunnah dan menyimpulkan dari kedua sumber tersebut. Buku Putih Mazhab Syiah menyatakan jumhur ulama Syiah zaman ini mengikuti pendekatan Uṣūlī. Sebenarnya, pendekatan Uṣūlī yang dilakukan kalangan Syiah tidak menyebabkan pemikiran mereka terlepas dari kekeliruan-kekeliruan. Buku Putih Mazhab Syiah yang menggunakan pendekatan Uṣūlī juga memuat kekeliruan-kekeliruan tersebut.

Masih banyak kekeliruan yang terdapat dalam Buku Putih Mazhab Syiah. Amin Muchtar dalam karyanya ini menunjukkan berbagai kekeliruan Buku Putih Mazhab Syiah. Amin Muchtar, misalnya, menunjukkan pada akhirnya hadis-hadis yang beredar di kalangan Syiah justru lebih banyak yang diriwayatkan oleh para imam ketimbang Nabi Muḥammad saw.

Upaya Amin Muchtar menunjukkan kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam Buku Putih Mazhab Syiah perlu dihargai. Ia melihat banyak inkoherensi, penyederhanaan masalah, kekeliruan logika, kesalahan-kesalahan lainnya yang terdapat dalam buku tersebut.

Namun, buku karya Amin Muchtar ini belum mengungkap sepenuhnya kekeliruan yang terdapat dalam Buku Putih Mazhab Syiah. Sangat bisa dimaklumi karena ini adalah kritik bagian pertama. Oleh sebab itu, kritik lanjutan dari Amin Muchtar sangat diperlukan. Ini untuk memberi gambaran bahwa Buku Putih Mazhab Syiah memang mengandung kekeliruan-kekeliruan. Semoga Allāh Ta’ālā memberi daya dan upaya kepada Amin Muchtar untuk melanjutkan upaya ilmiah, yang memang diperlukan dalam pergulatan pemikiran.

By ADNIN ARMAS, M.A.

(Direktur Eksekutif INSISTS), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah, hlm. 49-53

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-6)

الحمد لله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير واشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسو له اما بعد
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Pemilik kekuasaan dan Pemilik segala pujian dan Allah-lah yang menguasai segalanya.
Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah Swt. dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Allah Swt. telah menetapkan bahwa orang-orang kafir tidak kenal henti dengan berbagai gerakan, fitnah dan tipu-dayanya untuk membawa umat Islam kembali kepada jalan kekufuran. Dengan dukungan segala sumber daya yang mereka miliki, gerakan, tipu daya yang masif ditebarkan bahkan mempersonakan sebagian ummat Islam, sehingga sebagian umat tersebut tenggelam dalam kesesatan.
Dari sekian banyak tipu daya, fitnah itu adalah penyusupan ke dalam Islam dengan lahirnya nabi-nabi palsu, ajaran-ajaran palsu bahkan lahirnya tandingan Al-Quran itu sendiri.
Sejak lahirnya Nabi dan penyebar kebohongan seperti Musailamah al-Kadzaab, Abdullah bin Saba, Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyyah-nya sampai pada pemikiran yang menyesatkan dari sebagian besar kaum orientalis yang membenci Islam dan disebar-luaskan oleh para pengikutnya.
Fitnah gerakan tipu daya yang sedemikian licin, salah satunya adalah karya Abdullah bin Saba, mantan pendeta Yahudi dari Yaman, dengan ajaran Syiahnya atau menamakan diri Ahlul Bayt. Gerakan Syiah telah mampu memperlemah keutuhan umat, meniupkan nafsu permusuhan, perpecahan sejak terbunuhnya sahabat Rasulullah saw. sekaligus menantunya yaitu khalifah Utsman bin Affan Ra.
Ajaran Syiah dengan sekian banyak sempalannya telah banyak memperdaya dan menjerumuskan sebagian umat Islam kedalam kesesatan. Semakin bertambahnya ajaran sesat yang menyesatkan di lingkungan kaum muslimin, namun malangnya seringkali pula oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam.
Alhamdulillah, Persatuan Islam dengan dakwahnya berjihad untuk menjelaskan dan menelanjangi segala bentuk kesesatan. Sejak awal berdirinya pada 1923, Persatuan Islam berupaya dengan dakwahnya untuk membawa umat ini kembali kepada Islam yang berlandaskan kepada Al-Quran dan Sunnah.
Salah satu bentuk dakwah Persatuan Islam diawal perjalanan dakwahnya adalah debat. Persatuan Islam adalah pelopor di Indonesia untuk menelanjangi kebohongan Ahmadiyyah dalam debat A. Hassan dengan dedengkot Ahmadiyyah yang diselenggarakan di Gang Kenari, Jakarta, saat pemerintahan kolonial Belanda.
Cara tersebut diulang oleh generasi berikutnya, telah diadakan debat terbuka di Masjid Al-Husaini, Jl. Mardani Raya dengan penyelenggara PW Pemuda Persatuan Islam DKI Jakarta bersama PC Persatuan Islam Johar Baru, Jakarta Pusat. Debat antara kader Persatuan Islam, Ustadz Amin Muchtar dengan salah satu pengikut ajaran Syiah, yakni Wakil Ketua Umum DPP Ahlul Bait Indonesia (ABI), Sdr. Abdullah Beik, MA, alumni Universitas Qum, Iran, sekaligus dosen Universitas Paramadina, Jakarta.
Kali ini Ustadz Amin Muchtar yang menekuni ajaran Syiah dari sumber kitab-kitab rujukan yang paling utama bagi Syiah atau yang menamakan diri ajaran Ahlul Bayt, mempersembahkan penelitiannya sekaligus menjawab buku yang diterbitkan oleh Ahlul Bait Indonesia, dengan judul: Buku Putih Mazhab Syiah, Menuru Para Ulamanya yang Muktabar. Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam buku Hitam Dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Mazhab Syiah.
Dalam buku ini, dipaparkan dengan jelas, gamblang tentang bagaimana perbedaan yang jauh ajaran Syiah dengan ajaran Islam. Jelasnya ungkapan cara-cara pemimpin–ulama Syiah mengubah Islam yang Rahmatan lil‘alamin menjadi ajaran yang penuh kebencian kepada sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad saw. Syiah telah membuat ajaran tandingan, lalu menamakan sebagai Islam dalam bentuk yang lain dari apa yang diajarkan Allah Swt. dan Muhammad saw. itu sendiri.
Pandangan kami Pimpinan Wilayah Persatuan Islam DKI Jakarta terhadap Syiah atau yang menyebut dirinya sebagai ajaran Ahlul Bayt adalah gerakan yang menghancurkan Islam dari dalam, sesat dan menyesatkan.
Buku ini sangat bermanfaat bagi cerdik—pandai, pemerhati gerakan, atau siapapun yang ingin jujur menempatkan persoalan Syiah atau yang menamakan Ahlul Bait dalam kehidupan ummat Islam. Bahkan bagi kalangan Syiah itu sendiri dengan buku ini kami berharap untuk bersegera taubatan nasuha kembali ke pangkuan Islam, insya Allah.
Semoga Allah Swt. senantiasa menuntun kita untuk mendapat perlindungan-Nya, meneguhkan hati kita dalam Iman dan Islam. Senantiasa meneguhkan hati kita memelihara keikhlasan dituntun oleh Muhammad saw. serta generasi dahulu yang ikhlas dalam naungan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad saw.
الله يأخذ بأيدينا إلى ما فيه خير للإسلام والمسلمين
By KH. Kahfie Amin (Ketua Pimpinan Wilayah Persatuan Islam DKI Jakarta, Masa Jihad 2011-2015), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah, hlm. 27-30

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-7)

Sebelum Revolusi Iran tahun 1979, perbincangan mengenai gerakan Syiah di Indonesia boleh dikatakan hampir tidak ada, sekalipun bukan berarti gerakan ini tidak ada. Sebagai sebuah gerakan ideologis, Syiah tentu saja selalu ingin mengembangkan kepercayaan dan keyakinannya di manapun. Oleh sebab itu, sangat mungkin sejak lama Syiah sudah mengincar Indonesia. Akan tetapi, sampai tahun 1979, sejarah Islam di Indonesia tidak mencatat Syiah sebagai salah satu aktor yang ikut meramaikannya.
Memang ada yang meyakini bahwa Syiah telah ada sejak masa awal kedatangan Islam ke Indonesia. Bahkan diyakini bahwa “raja-raja” Aceh (Pasai) yang mula-mula adalah penganut Syiah yang kemudian pada periode berikutnya di-Sunnikan. Di antara ilmuwan yang meyakini teori ini antara lain Ali Hasymi dan Yusuf Syo’ub. Akan tetapi, bukti-bukti yang disodorkan lebih banyak yang sifatnya “konspiratif” (baca: teori konspirasi) yang sulit sekali untuk dijadikan pegangan. Misalnya, hikayat tentang Raja Perlak pertama Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz Shah. Ia dianggap sebagai anak dari Ali ibn Muhammad ibn Ja’far Al-Shadiq. Ia adalah rombongan 100 orang angkatan dakwah Syiah dari Persia yang diusir karena melakukan pemberontakan pada masa kekuasaan Al-Makmun. Lalu ia dinikahkan dengan putri penguasa setempat dan mendirikan kekuasaan Islam pertama di Perlak (Aceh).[1] Jadi, kerajaan awal Islam di Nusantara adalah kerajaan yang rajanya beraliran Syiah. Argumen ini kemudian diperkuat dengan kesimpulan berikut.
Khusus di Nusantara, kegiatan dakwah kerajaan Fathimiyah yang beraliran Ismailiyah itu dikatakan turut mempengaruhi kawasan Sumatera. Bahkan pernah pula dikatakan agama Islam di Pasai (1042-1444) itu mulanya beraliran Syiah, kemudian dihapuskan oleh Malik Al-Shalih pada abad ke-13. Propaganda golongan Ismailiyah ini sungguh berkesan dan pernah dikatakan bahawa sepanjang abad ke-11 dan ke-12, Indonesia berada di bawah pengaruh Syiah. Ini sesuailah dengan suasana di Tanah Arab ketika itu yang juga sedang dipengaruhi oleh aliran Syiah.[2]

Dengan amatan sepintas mungkin saja berita ini benar. Akan tetapi, melihat pada argumen dan bukti-bukti yang ditunjukkan amat lemah. Pertama, argumen yang ditunjukkan terlalu banyak menggunakan teori konspirasi, yaitu mengaitkan perkembangan Syiah di Indonesia dengan pengusiran dan kekalahan orang-orang Syiah di tanah Arab dan Persia pada masa Umawiyah dan Abbasiyah. Mereka berdiaspora ke mana-mana termasuk ke Indonesia. Akan tetapi, sampai saat ini sama sekali tidak ditemukan bukti kongkrit bahwa, baik orang Arab maupun Persia, yang datang ke Indonesia benar-benar mengajarkan Syiah, apalagi dikaitkan dengan politik yang seringkali sangat kompromis, tanpa mempertimbangkan ajaran. Bukankan Abbasiyah sendiri dapat mengalahkan Umawiyah salah satunya didukung oleh kelompok Syiah, sekalipun tidak berarti Abbasiyah menjadi Syiah. Ini yang sampai sekarang menyebabkan teori berkembangnya Syiah di Indonesia lebih banyak bersifat klaim daripada kenyataan.
Kedua, kalau mempertimbangkan beberapa sumber lain yang menyebut para da’i Islam telah hadir sejak zaman Umar ibn Abdul Aziz dari Bani Umawiyah, maka Islamisasi awal Indonesia sudah pasti Sunni. Kalaupun ada Syiah zaman itu, belum terindikasi sebagai Syiah dari segi akidah, hanya syiah politik. Tidak mengherankan kalau di zaman-zaman itu, ada juga beberapa perawi hadis Imam Bukhori dan lainnya yang terindikasi Syiah. Akan tetapi, bukan Syiah dari segi akidah yang menyimpang seperti anggapan dari sebagian penulis Syiah yang ingin menunjukkan peran Syiah dalam penulisan hadis, melainkan Syiah politik yang secara akidah tetap Islam (baca: Sunni).[3]

Ketiga, sampai saat ini pengaruh yang paling kuat dalam tradisi Islam di Indonesia adalah Ahlus-Sunnah. Tidak ditemukan satupun komunitas Syiah yang hidup berkembang sebelum tahun 1979. Kalaulah Syiah pernah datang ke sini sejak periode awal, kemungkinan masih harus tersisa komunitas-komunitas Syiah sekecil apapun. Apalagi mempertimbangkan keyakinan Syiah yang bersifat ideologis dan berjejaring internasional yang mengharuskannya tetap mempertahankan kepercayaan mereka sampai titik darah penghabisan. Kalau melihat tidak bersisanya komunitas Syiah hanya ada dua kemungkinan: Syiah tidak pernah ada di Indonesia atau Syiah hanya numpang lewat sebelum menancapkan akarnya di bumi Indonesia ini.
Walaupun secara umum sulit dibuktikan secara meyakinkan bahwa Syiah pernah menapakkan kakinya di bumi Indonesia, apalagi sempat memiliki kekuasaan seperti di Perlak dan Pasai, akan tetapi semenjak Revolusi Iran tahun 1979, ekspansi Syiah ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia, terlah menyebabkan pertumbuhan Syiah cukup spektakuler. Selama lebih dari tiga puluh tahun berada di Indonesia, saat ini jumlah penganut Syiah di Indonesia sudah lumayan banyak dan menyebar hampir di seluruh pelosok Nusantara. Berbagai yayasan sosial dan pendirikan didirikan. Dua ormas Syiah (ABI dan IJABI) juga telah berdiri. Itu semua menandakan bahwa keberadaan Syiah di negeri ini sudah cukup serius. Pengaruhnya semakin besar manakala gerakan ini masuk ke jantung kekuasaan negara.

Tahun 1980-an, kelompok Syiah pernah melakukan pengeboman kompleks Candi Borobudur karena terlalu bersemangat untuk mewujudkan Revolusi Iran di Indonesia. Akan tetapi, usaha ini sia-sia karena jumlah mereka masih sangat kecil. Oleh sebab itu, Syiah Indonesia kemudian mengubah haluan gerakannya melalui pendekatan intelektual. Mereka mulai menerbitkan buku-buku karangan para intelektual Syiah kontemporer seperti Khumaini, Murtadho Muthahhari, Ja’far Subhani, Ali Syariati, dan sebagainya. Di antara penerbit besar yang menyokong penerbitan ini adalah Mizan, Pustaka Hidayah, dan Lentera. Buku-buku yang diterbitkan bukan fikih dan ajaran ibadah, melainkan pemikiran Islam sehingga dapat masuk ke kalangan terpelajar Ahlus-Sunnah. Beberapa di antara mereka menjadi sangat tertarik pada Syiah dan kemudian benar-benar menjadi Syiah seperti Jalaludin Rahmat yang saat ini menjadi ikon Syiah di Indonesia.
Tahun 2000 boleh dikatakan sebagai tonggak kebangkitan gerakan Syiah di Indonesia ketika Jalaludin Rahmat bersama jamaah Syiahnya di Bandung mendeklarasikan berdirinya IJABI (Ikatan Jamaah Ahli Bait Nabi) pada 1 Juli 2000. Berdirinya IJABI menandakan kepercayaan diri penganut Syiah di Indonesia untuk menunjukkan eksistensi mereka. Tentu saja, mereka telah berhitung soal pengikut yang kelihatannya sudah cukup untuk menopang tegak dan berkembangnya Syiah di Indonesia. Ini dibuktikan hingga saat ini organisasi ini tetap eksis berdiri. Bahkan, tidak lama setelah itu sejak tahun 2006 selalu digelar Silaturahmi Nasional jamaah Syiah yang akhirnya merekomendasikan berdirinya ormas Syiah ABI (Ahlul Bait Indonesia). Ini menandakan bahwa kian kemari perkembangan aliran ini kian pesat.

Strategi dakwah yang digunakan oleh kedua ormas ini dalam menghadapi masyarakat Islam di Indonesia hampir sama, yaitu mengkampanyekan ukhuwah dan persaudaraan antar-mazhab dan golongan. Kedua ormas ini seperti saling berlomba menunjukkan bahwa ajaran mereka bukan ajaran sesat dan juga tidak menyesatkan, apalagi mengkafirkan kelompok lain. Berbagai buku diterbitkan oleh para aktivis kedua ormas Syiah ini. Jalaludin Rahmat, misalnya, menerbitkan buku berjudul Dahulukan Akhlak Daripada Fikih yang ingin menunjukkan kepada kaum Muslim Indonesia bahwa ia termasuk orang yang senang hidup damai berdampingan tanpa memperhatikan perbedaan pandangan fiqih. Aktivis IJABI lainnya, Muhammad Babul Ulum menulis buku Merajut Ukhuwah Memahami Syiah yang juga ingin menunjukkan secara paksa bahwa Syiah hanyalah satu jenis mazhab di dalam Islam, bukan aliran dan sekte sempalan. Selain itu, IJABI bersama beberapa oknum di DMI (Dewan Masjid Indonesia) mendeklarasikan MUHSIN (Majlis Ukhuwah Sunni Syiah) yang sangat controversial pada tahun 2010.

Tidak kalah agresifnya, ABI pun melakukan hal yang sama. Mereka ingin menunjukkan bahwa Syiah di Indonesia adalah gerakan yang ingin berdampingan menjalin ukhuwah bersama masyoritas masyarakat Ahlus-Sunnah di Indonesia. ABI ingin menyangkal berbagai tuduhan kepada Syiah yang dianggap aliran sesat dan bukan mazhab di dalam Islam. Untuk itu tahun 2012 mereka menerbitkan buku bertajuk Buku Putih Mazhab Syiah. Sambutan terhadap buku sangat luar biasa. Hanya dalam waktu sekitar 4 bulan, buku ini telah dicetak ulang sebanyak empat kali. Bahkan kemudian buku ini disebarkan secara gratis dalam bentuk e-book oleh situs resmi www.ahlulbaitindonesia.org.

Buku ini dari segi isi sebetulnya sangat tipikal. Argumennya dibangun berdasarkan apa yang ditulis oleh para intelektual Syiah kontemporer di Iran dan Irak yang ingin menghindarkan stigma Syiah berbeda dengan Islam. Misalnya, selama ini Syiah dituduh melakukan pengkafiran terhadap para sahabat, memiliki Al-Quran yang berbeda, rujukan sunnah yang berbeda, dan tata cara ibadah yang berbeda. Seandainya pandangan itu terus menyebar dan diyakini oleh mayoritas umat Islam di dunia, maka akan dengan sangat mudah Syiah akan dinyatakan sebagai kepercayaan yang lain dari kepercayaan umat Islam; atau minimal Syiah dinyatakan sebagai “aliran sesat”. Dalam konteks dakwah Syiah di kalangan Ahlus-Sunnah tentu saja stigma-stigma semacam itu akan sangat merugikan. Belum apa-apa kalangan Ahlus-Sunnah pasti akan segera menolak kedatangan pada pendakwah Syiah. Oleh sebab itu, buku ini diterbitkan oleh ABI untuk menjawab stigma-stigma tersebut.

Bagi para pembaca awam yang tidak mendalami pemikiran Syiah, buku ini bisa jadi sangat menyihir. Stigma-stigma yang selama ini dilekatkan kepada Syiah selama ini berhasil dinetralisir dengan cara-cara yang sangat halus dan elegan. Penulisnya menunjukkan penguasaannya yang sangat baik terhadap berbagai literatur, baik yang ditulis oleh kalangan Ahlus-Sunnah yang menyerang mereka maupun dari kalangan Syiah sendiri. Kemahiran penulisnya dalam mengolah kata-kata pun sudah tidak diragukan lagi sehingga siapapun yang membacanya tidak akan segara dapat menunjukkan di mana letak kesalahan argumennya. Tidak mengherankan buku ini cepat diserap pasar dan sangat mungkin dapat mengikis pandangan-pandangan sebagian Ahlus-Sunnah Indonesia yang sudah kadung menyesatkan Syiah.
Akan tetapi, Syiah tetap Syiah. Ia sejak lama telah menjelma menjadi satu keyakinan yang utuh dan kokoh di luar keyakinan mayoritas umat Islam (al-jamâ’ah). Standar keyakinan, perangkat ajaran, hingga konsep keilmuan dalam Syiah telah terbentuk relatif matang. Siapapun yang mau mempelajarinya agak mendalam dapat mengaksesnya secara terbuka. Buku-buku yang ditulis ulama dan intelektual Syiah jumlahnya sangat banyak karena telah beradab-abad dimapankan. Sekalipun terdapat banyak sekte yang berkembang di dalam tubuh Syiah sendiri, hal-hal mendasar yang tipikal sudah cukup mapan, terutama dalam sekte Syiah Imamiyah (Rafidhah).

Kalau tradisi intelektual dan ajaran Syiah telah mapan seperti itu sesungguhnya agak sulit untuk mengubahnya dalam bentuk ajaran baru yang berbeda sama sekali. Misalnya tentang status kekafiran orang-orang yang tidak mempercayai imâmah Ali ibn Abi Thalib dan 11 imam lainnya atau kekafiran mereka yang—dianggap—merebut imâmah dari Ali. Di dalam Al-Kâfi dan kitab-kitab standar yang ditulis ulama-ulama Syiah mengenai hal ini adalah sesuatu yang qoth’i (tegas dan jelas). Oleh sebab itu, di dalam keyakinan Syiah, para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Aisyah, Abu Hurairah, dan lainnya dianggap kafir. Begitu juga para pengikut mereka yang belakangan disebut Ahlus-Sunnah. Selain tentang takfîr, juga ada juga keyakinan tentang posisi Al-Quran Mushaf Usmani yang ada sekarang yang dianggap telah diubah oleh Usman dan kawan-kawan. Ajaran-ajaran semacam ini merupakan bagian dari aqidah dan sistem kepercayaan dasar mereka. Kepercayaan dasar ini seperti hendak diubah dan ditolak dalam Buku Putih Mazhab Syiah.

Dalam bukunya itu, ABI ingin mencoba menolak akidah takfîr terhadap sahabat dan Ahlus-Sunnah dengan mengkritik sumber rujukannya, di antaranya kitab Al-Kâfi yang sering dirujuk untuk menunjukkan ajaran-ajaran Syiah yang sesungguhnya. Disebutkan bahwa tidak semua riwayat dalam Al-Kafi dapat diterima sebagai dasar kepercayaan dan ajaran. Riwayat-riwayat yang secara tegas menunjukkan hal tersebut disanggah dengan argumen dhaif dan sebagainya. Bahkan ada kesan bahwa Buku Putih Mazhab Syiah ini menolak Al-Kâfi sebagai rujukan ajaran Syiah yang sah dan valid. Benarkah semua itu?

Sekali lagi, argumen seperti ini sangat tipikal di kalangan penulis Syiah kontemporer yang ingin diterima di masyarakat Ahlus-Sunnah. Para ulama Islam pun telah banyak yang menunjukkan ketidakseriusan mereka dengan pendapat barunya. Mereka sebetulnya tetap saja pada pendirian awalnya yang telah mapan seperti keyakinan bahwa semua yang ada di dalam Al-Kâfi adalah shahih dan dapat diterima. Itu artinya semua informasi yang ada di dalamnya seperti akidah takfîr dan Al-Quran versi imam mereka masih diyakini sebagai ajaran pokok mereka. Itu artinya, kalau mereka mengatakan tidak ada takfîr dan tidak ada tahrîf Al-Quran, mereka sebetulnya tengah melakukan taqiyyah (pura-pura). Sayangnya, taqiyyah ini bagi Syiah merupakan suatu bentuk ibadah demi melindungi ajaran dan keyakinan ajaran mereka yang asli. Sehingga kita akan sulit membedakan kapan Syiah sedang jujur dan kapang sedang ber-taqiyyah seperti yang akan terbaca dalam Buku Putih Mazhab Syiah yang diterbitkan ABI ini.

Kajian-kajian tentang usaha-usaha Syiah kontemporer mengelabui Ahlus-Sunnah seperti dapat terbaca dalam Buku Putih Mazhab Syiah dalam bahasa Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya. Sebagian besar masih ditulis dalam bahasa Arab. Tentu saja, ini cukup menyulitkan bagi pembaca Indonesia yang umumnya tidak menguasai bahasa Arab. Oleh sebab itu, apa yang telah diusahakan oleh Ustadz Amin Muchtar dengan menulis bantahan terhadap Buku Putih Mazhab Syiah ini merupakan suatu ikhtiar yang sangat berharga. Buku yang akan direncanakan beberapa jilid ini sangat tepat dimulai dengan pembahasan Al-Kâfi dan kedudukannya di kalangan ulama dan penulis-penulis Syiah. Sebab, ini merupakan rujukan pokok akidah dan ajaran Syiah yang di Indonesia oleh kalangan Syiah sedang ditutup-tutupi keberadaannya. Mudah-mudahan jilid-jilid berikutnya dapat segera terbit mengupas berbagai isu lain seperti takfîr, tahrîf al-Qur’ân, dan lainnya.

By DR. Tiar Anwar Bachtiar, M.HUM (Ketua Umum PP Pemuda Persis Masa Jihad 2010-2015), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah, hlm. 54-61
[1] Mengenai kisah ini dapat dilihat dalam buku Abdul Rahman Haji Abdullah, Pemikiran Umat Islam di Nusantara; Sejarah dan Perkembangannya hingga Abad ke-19. (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990) hal. 36-38
[2] Ibid. hal. 38-39
[3] Tentang perowi-perowi hadis Syiah yang dituduhkan leh para penulis Syiah terdap dalam kitab-kitab Ahlus-Sunnah ini dapat dilihat dalam Muhammad Ja’far Al-Tibsyi. Rijâl Al-Syi’ah fî Asânid Al-Sunnah. (Teheran: Muassasah Al-Ma’arif Al-Islamiyyah, 1420 H). Sedangkan yang meluruskan pandangan yang salah tentang pada perawi Syiah dalam kitab-kitab hadis Ahlus-Sunnah dalam dirujuk salah satunya di situs www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=243042 yang menurunkan artikel panjang berjudul “Asmâ’ Al-Syi’ah wa Man Rumiya bi Al-Tasyayyu’ fi Kutub Al-Sunnah.

Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah (Bagian Ke-8/Selesai)

Pendahuluan Buku Hitam Dibalik Putih
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Segala puji bagi Allah Rab semesta alam yang telah menunjuki kita semua kepada cahaya Islam dan sekali-kali kita tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kita petunjuk. Kita memohon kepada-Nya agar kita senantiasa ditetapkan di atas hidayah-Nya sampai akhir hayat, sebagaimana difirmankan Allah Swt:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.” QS. Ali Imran: 102.

Begitu pula kita memohon agar hati kita tidak dicondongkan kepada kesesatan setelah kita mendapat petunjuk, sebagaimana diajarkan Alquran:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Allah, janganlah engkau palingkan hati-hati kami setelah engkau memberi kami hidayah.” QS. Ali Imran: 8.

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa kesetiaan umat Islam terhadap Rasulullah adalah monoloyalitas (kesetiaan tunggal). Kesetiaan itu terwujud dalam bentuk memberikan perhatian sepenuh hati terhadap sunah-sunah beliau, sebagaimana sikap mereka terhadap Alquran. Mereka berusaha keras untuk memeliharanya dari berbagai dusta dan kesalahan yang dapat menodai kemurniannya.

Dalam hal ini, kelompok Sy’iah berbeda dengan umat Islam. Kesetiaan mereka terhadap Rasulullah Saw. ternyata tidak monoloyalitas, karena kesetiaan mereka terbagi kepada para imam yang dipandang ma’shum (suci dari dosa dan kesalahan). Bahkan kecintaan mereka kepada para imam melebihi kencintaan kepada Nabi.

Syi’ah Imamiyah, Ja’fariyah, Itsna ‘Asyariyah (atau menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait) meyakini para imam ma’shum itu sebanyak 12 Imam (Itsna ‘Asyariyah) yaitu: 1. Ali ibn Abu Thalib, 2. Hasan ibn Ali Al-Mujtaba, 3. Husain ibn Ali Sayyidussyuhada, penghulu para syuhada, 4. Ali ibn Husain, 5. Muhammad Al- Baqir, 6. Ja’far ibn Muhammad Ash-Shadiq, 7. Musa ibn Ja’far, 8. Ali ibn Musa Ar-Ridha, 9. Muhammad ibn Ali Al-Taqi Al-Jawad, 10. Ali ibn Muhammad an-Naqi Al-Hadi, 11. Hasan ibn Ali Al-Askari, dan terakhir, 12. Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi. Syi’ah meyakini bahwa Imam Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi
masih hidup hingga sekarang ini, tapi dalam keadaan gaib, namun akan muncul kembali pada akhir zaman. [1]

Posisi imam dalam keyakinan Syi’ah memiliki kedudukan teristimewa, bahkan lebih tinggi kedudukannya daripada Nabi Saw. Dalam keyakinan mereka, para imam itu mengetahui hal ghaib, dan mengetahui seluruh ilmu yang dikeluarkan (diajarkan) kepada para malaikat, para nabi dan para rasul, dan sesungguhnya mereka mengetahui ilmu yang terdahulu dan sekarang, dan tidak ada yang tersembunyi bagi mereka sesuatu apapun, dan sesungguhnya mereka mengetahui seluruh bahasa alam semesta, dan sesungguhnya seluruh bumi ini adalah milik mereka.

Imam al-Kulaini, dalam kitabnya al-Kafi, telah menuliskan berbagai karakteristik kedua belas imam Syiah. Karakteristik dan sifat-sifat tersebut telah mengangkat derajat para imam Syiah dari manusia biasa hingga tingkatan Tuhan.

Seandainya kita hendak menampilkan berbagai karakteristik itu secara keseluruhan dari kitab al-Kafi dan kitab-kitab terpercaya mereka lainnya, niscaya akan terkumpul satu jilid kitab besar.

Karena itu, kami cukupkan dengan kutipan beberapa judul bab secara utuh dan dengan apa adanya dari kitab al-Kafi, di antaranya sebagai berikut:
بَابُ أَنَّ الأَئِمَّةَ عليهم السلام يَعْلَمُونَ جَمِيعَ الْعُلُومِ الَّتِي خَرَجَتْ إِلَى الْمَـلاَئِكَةِ وَ الأَنْبِيَاءِ وَ الرُّسُلِ عليهم السلام
“Bab: Bahwa Para Imam Mengetahui Segala Ilmu Yang Turun Kepada Para Malaikat, Nabi Dan Rasul.” [2]

بَابُ أَنَّ الأَئِمَّةَ عليهم السلام يَعْلَمُونَ مَتَى يَمُوتُونَ، وَأَنَّهُمْ لاَ يَمُوْتُوْنَ إِلاَّ بِاخْتِيَارٍ مِنْهُمْ
“Bab: Bahwa Para Imam Mengetahui Kapan Mereka Akan Meninggal, Dan Bahwa Mereka Tidaklah Meninggal Melainkan Atas Kehendak Mereka Sendiri.” [3]
بَابُ أَنَّ الأَئِمَّةَ عليهم السلام يَعْلَمُونَ عِلْمَ مَا كَانَ وَ مَا يَكُونُ، وَ أَنَّهُ لاَ يَخْفى عَلَيْهِمُ الشَّيْءُ صَلَوَاتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ
“Bab: Bahwa Para Imam Mengetahui Perihal Yang Telah Lalu Dan Perihal Yang Akan Datang, Dan Sesungguhnya Tidak Ada Yang Tersembunyi Bagi Mereka Sesuatu pun.” [4]
بَابُ أَنَّ الأَئِمَّةَ عليهم السلام عِنْدَهُمْ جَمِيعُ الْكُتُبِ الَّتِي نَزَلَتْ مِنْ عِنْدِ اللّهِ عَزَّ وَ جَلَّ ، وَأَنَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا عَلَى اخْتِـلاَفِ أَلْسِنَتِهَا
”Bab: Bahwa Para Imam Memiliki Seluruh Kitab, Dan Mengetahuinya Dengan Segala Perbedaan Bahasanya.” [5]
بَابُ أَنَّهُ لَمْ يَجْمَعِ الْقُرْآنَ كُلَّهُ إِلاَّ الأَئِمَّةُ عليهم السلام وَ أَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ عِلْمَهُ كُلَّهُ
”Bab: Bahwa Tidaklah Ada Orang Yang Pernah Menyatukan Alquran Secara Utuh Selain Para Imam, Dan Bahwa Mereka Mengetahui Seluruh Ilmu Yang Terkandung Dalamnya.”[6]
بَابُ مَا عِنْدَ الأَئِمَّةِ مِنْ آيَاتِ الاْءَنْبِيَاءِ عليهم السلام
”Bab: Apa-Apa Yang Dimiliki Oleh Para Imam Dari Mukjizat Para Nabi.” [7]

بَابُ أَنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ مِنَ الْحَقِّ فِي يَدِ النَّاسِ إِلَا مَا خَرَجَ مِنْ عِنْدِ الْأَئِمَّةِ عليهم السلام وَ أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ لَمْ يَخْرُجْ مِنْ عِنْدِهِمْ فَهُوَ بَاطِلٌ
”Bab: Bahwa Tidak Ada Sedikit pun Kebenaran Yang Ada di Masyarakat Selain Yang Pernah Diajarkan Oleh Para Imam, Dan Bahwa Segala Sesuatu Yang Tidak Diajarkan Oleh Mereka, Maka Itu Adalah Bathil.” [8]
بَابُ أَنَّ الْأَرْضَ كُلَّهَا لِلْإِمَامِ عليه السلام
”Bab: Bahwa Bumi Seluruhnya Adalah Milik Para Imam.” [9]

Keyakinan akan keistimewaan para imam sangat mempengaruhi sikap kaum Syi’ah terhadap hadis atau sunah, baik berkaitan dengan kriteria terminologis maupun metodologisnya, bahkan sumber syariat itu sendiri.

Dalam konteks ini dapat kita maklumi jika hadis atau sunah versi mereka bukan semata-mata bersumber dari Nabi Saw. melainkan juga dari para imam dua belas tesebut. Demikian itu dinyatakan oleh ulama Syi’ah, antara lain:
Syekh Muhammad Baha’uddin al-‘Amili (w. 1031 H) berkata:
عُرِّفَ الْحَدِيْثُ بِأَنَّهُ كَلاَمٌ يَحْكِيْ قَوْلَ الْمَعْصُوْمِ أَوْ فِعْلَهُ أَوْ تَقْرِيْرَهُ
“Hadis didefinisikan yaitu perkataan yang menceritakan perkataan orang yang ma’shum, perbuatannya atau ketetapannya.” [10]

Pengertian hadis menurut mereka berbeda dengan Sunah. Menurut mereka, sunah secara istilah adalah:
نَفْسُ قَوْلِ الْمَعْصُوْمِ، وَفِعْلِهِ،وَتَقْرِيْرِهِ
“Hakikat perkataan orang yang ma’shum, perbuatannya atau ketetapannya.” [11]

Dalam redaksi Sayyid Muhammad Taqiy al-Hakim:
فَهِيَ كُلُّ مَا يَصْدُرُ عَنِ الْمَعْصُوْمِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ
“Dan sunah adalah segala sesuatu yang bersumber dari al-ma’shum, berupa perkataan, perbuatan dan taqrir.” [12]

Sayyid Muhammad Taqiy al-Hakim berkata:
وَأَلْحَقَ الشِّيْعَةُ الإِمَامِيَّةُ كُلَّ مَا يَصْدُرُ عَنْ أَئِمَّتِهِمْ الإِثْنَي عَشَرَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ بِالسُّنَّةِ الشَّرِيْفَةِ
“Syi’ah imamiyah menghubungkan dengan sunah segala sesuatu yang bersumber dari para imam mereka yang dua belas, berupa perkataan, perbuatan dan taqrir.” [13]

Latar belakang pembentukan istilah dan sumber sunah di kalangan Syi’ah, lebih jauh diterangkan oleh Syekh Muhammad Ridha al-Muzhaffar—Pakar Ushul Fiqih Syi’ah kontemporer—sebagai berikut:
السُّنَّةُ فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ: (قَوْلُ النَّبِيِّ أَوْ فِعْلُهُ أَوْ تَقْرِيْرُهُ)… أَمَّا فُقَهَاءُ الإِمَامِيَّةِ بِالْخُصُوْصِ فَلَمَّا ثَبَتَ لَدَيْهِمْ أَنَّ الْمَعْصُوْمَ مِنْ آلِ الْبَيْتِ يَجْرِيْ قَوْلُهُ مَجْرَى قَوْلِ النَّبِيِّ مِنْ كَوْنِهِ حُجَّةً عَلَى الْعِبَادِ وَاجِبَ الإِتِّبَاعِ فَقَدْ تَوَسَّعُوْا فِي اصْطِلاَحِ السُّنَّةِ إِلَى مَا يَشْمُلُ قَوْلَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمَعْصُوْمِيْنَ أَوْ فِعْلَهُ أَوْ تَقْرِيْرَهُ، فَكَانَتِ السُّنَّةُ بِاصْطِلاَحِهِمْ: (قَوْلُ الْمَعْصُوْمِ أَوْ فِعْلُهُ أَوْ تَقْرِيْرُهُ)
As-Sunah menurut istilah fuqaha’ adalah “Sabda Nabi, perbuatan dan taqrirnya”…Adapun menurut fuqaha Syi’ah Imamiyah—setelah  kokoh keyakinan mereka bahwa perkataan al-Ma’shum dari kalangan Ahlul Bait setingkat dengan perkataan Nabi Saw. sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba—sungguh mereka memperluas batasan Sunah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Ma’shum (dari Ahlul Bait). Sehingga Sunah dalam terminologi mereka adalah “perkataan, perbuatan atau taqrir al-Ma’shum.”
وَالسِّرُّ فِي ذلِكَ أَنَّ الأَئِمَّةَ مِنْ آلِ الْبَيْتِ عليه السلام لَيْسُوْا هُمْ مِنْ قَبِيْلِ الرُّوَاةِ عَنِ النَّبِيِّ وَالْمُحَدِّثِيْنَ عَنْهُ لِيَكُوْنَ قَوْلُهُمْ حُجَّةً مِنْ جِهَةِ أَنَّهُمْ ثِقَاتٌ فِي الرِّوَايَةِ بَلْ لِأَنَّهُمْ هُمُ الْمَنْصُوْبُوْنَ مِنَ اللهِ تَعَالَى عَلَى لِسَانِ النَّبِيِّ لِتَبْلِيْغِ الأَحْكَامِ الْوَاقِعَةِ، فَلاَ يَحْكُمُوْنَ إِلاَّ عَنِ الأَحْكَامِ الْوَاقِعِيَّةِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى َكَمَا هِيَ، وَذلِكَ مِنْ طَرِيْقِ الإِلْهَامِ كَالنَّبِيِّ مِنْ طَرِيْقِ الْوَحْيِ أَوْ مِنْ طَرِيْقِ التَّلَقِّيْ مِنَ الْمَعْصُوْمِ قَبْلَهُ
Rahasia di balik itu semua adalah karena para imam dari kalangan Ahlul Bait tidaklah sama dengan para perawi dan ahli hadits yang meriwayatkan dari Nabi—hingga perkataan mereka baru dapat dijadikan hujjah jika mereka ‘tsiqah’ dalam periwayatannya—namun mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya untuk menyampaikan hukum-hukum yang bersifat realita. Maka mereka tidak mungkin menetapkan hukum, kecuali jika hukum-hukum realita itu memang berasal dari Allah Ta’ala apa adanya. Dan itu semua (diperoleh) melalui jalur ilham—seperti Nabi melalui jalur wahyu—atau  melalui penerimaan dari (imam) ma’shum sebelumnya…
وَعَلَيْهِ فَلَيْسَ بَيَانُهُمْ لِلأَحْكَامِ مِنْ نَوْعِ رِوَايَةِ السُّنَّةِ وَحِكَايَتِهَا، وَلاَ مِنْ نَوْعِ الإِجْتِهَادِ فِي الرَّأْيِ وَالإِسْتِنْبَاطِ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيْعِ، بَلْ هُمْ أَنْفُسُهُمْ مَصْدَرٌ لِلتَّشْرِيْعِ فَقَوْلُهُمْ سُنَّةٌ لاَ حِكَايَةُ السُّنَّةِ
Berdasarkan ini, maka penjelasan mereka terhadap hukum bukan termasuk dalam kategori periwayatan Sunah atau ijtihad dalam menggali sumber-sumber tasyri’, akan tetapi karena merekalah sumber hukum (tasyri’) itu sendiri. Maka perkataan mereka adalah sunah, bukan hikayat sunah.” [14]

Dengan demikian, Syi’ah mempunyai keyakinan bahwa wahyu tidak terhenti sepeninggal Rasulullah. Karena itu, imam-imam Syi’ah dapat mengeluarkan hadis dan Sunah. Jadi, tidak heran jika surat-surat dan khutbah para imam serta hal-hal lain yang disangkut pautkan dengan ajaran agama diposisikan sebagai hadis dan Sunah. Ini menjadikan kajian hadis Syi’ah berbeda dengan kalangan Islam. Itulah yang menjadikan penyebab jumlah hadis Syi’ah jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah hadis Islam.

Dari sini dapat dimaklumi, jika di kalangan Syi’ah jumlah hadis yang bersumber dari para imam itu jauh lebih banyak dibanding dengan hadis Nabi Saw., bahkan hadis Ali sendiri. Demikian itu tampak jelas terlihat jika kita merujuk kepada empat kitab hadis Syi’ah yang standar: al-Kafi, Man La Yahdhuruh al-Faqih, Tahdzib al-Ahkam, al-Istibshar. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kandungan hadis dalam empat kitab tersebut sebanyak 43.850 hadis. Jika kita merujuk kepada angka itu, akan didapatkan hasil bahwa kapasitas hadis Nabi Saw. dalam empat kitab itu hanya sebesar 11.30 % (4.956 hadis). Sementara kapasitas hadis Ja’far ash-Shadiq (Imam Syi’ah ke-6) sebesar 25 %  (10.967 hadis).

Berangkat dari fakta ini, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sumber ajaran Syi’ah itu bukan Sunah Rasulullah, melainkan Sunah Ja’fariyyah. [15]
Selanjutnya, hadis-hadis pada masa imam Syi’ah, terutama masa Imam Syi’ah ke-5 Abu Ja’far Muhammad al-Baqir (w. 114 H) dan Imam Syi’ah ke-6 Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq (w.  148 H), telah ditulis dalam ushul dan atsar riwayat, yang kemudian dikenal dengan sebutan al-Ushul al-Arba’umi’ah (400 kitab himpunan fatwa Ja’far as-Shadiq). [16]

400 kitab tersebut tulis oleh 400 di antara 4.000 orang (rawi) yang meriwayatkan hadis dari Ja’far as-Shadiq. Ulama Syi’ah, Muhammad bin Jamaluddin Makiy bin Syamsuddin Muhamad ad-Dimasyi al-’Amili (734-786 H) atau yang lebih populer dengan sebutan Syahid Awal, berkata:
إِنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ الصَّادِقَ عليه السلام كُتِبَ مِنْ أَجْوِبَةِ مَسَائِلِهِ أَرْبَعُمِئَةِ مُصَنَّفٍ لِأَرْبَعِمِئَةِ مُصَنِّفٍ وَدُوِّنَ مِنْ رِجَالِهِ الْمَعْرُوْفِيْنَ أَرْبَعَةُ آلاَفِ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ
”Sesungguhnya Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq ’alaihi as-salam, jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya telah ditulis dalam 400 karya tulis oleh 400 penulis, dan para rijalnya yang populer dari penduduk Irak telah dikodifikasi.” [17]

Ke-400 kitab itu menjadi sumber akidah, ilmu, dan amal bagi orang-orang Syi’ah pada periode berikutnya. Meski demikian, memasuki abad IV, sebagian besar riwayat para imam dalam 400 kitab tersebut mulai terlupakan seiring pergantian zaman dan sebagian lagi terbakar. [18]

Sehubungan dengan itu, abad ini (abad IV) dipandang sebagai masa keterputusan Syi’ah secara langsung dari imam mereka. Demikian itu, karena kegaiban Imam ke-12, Muhammad bin Hasan, yang disebut Imam al-Mahdi, pada tahun 329 H. [19]
Sejak itu sebagian besar riwayat para imam pada kitab tersebut ”berubah wujud” setelah mendapat editing, dan dikodifikasi kembali dalam empat kitab hadis Syi’ah yang standar, yang disebut al-Kutub al-Arba’ah atau al-Jawami’ al-Awwaliyyah. Keempat kitab tersebut adalah sebagai berikut:
Al-Kafi, karya Tsiqah al-Islam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini atau al-Kuliini ar-Raziy (w. 329 H), berisi 16.199 hadis. [20]
Man La Yahdhuruh al-Faqih, karya Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin al-Husen bin Musa bin Babawaih al-Qummi (w. 381 H), berisi 9.044 hadis.[21]
Tahdzib al-Ahkam, berisi 13.095 hadis. [22]
Al-Istibshar fii maa Ukhtulifa min al-Akhbar, berisi 5.511 hadis. [23]
Keduanya karya Abu Ja’far Muhamamd bin Hasan At-Thusi (w. 460 H), yang populer dengan sebutan Syekh at-Tha’ifah. [24]

Kodifikasi hadis-hadis para imam Syi’ah berakhir pasca periode mutaakhir (Abad XI hingga XIII H). Beberapa kitab hadis Syi’ah terpenting abad itu, antara lain:

Al-Wafi’ fii al-Ushul wa al-Furu’ wa as-Sunan wa al-Ahkam, [25] karya Muhammad Muhsin (w. 1091 H) atau yang populer dengan sebutan al-Faidh al-Kasyani.

Tafshil Wasa’il asy-Syi’ah ila Tahsil Masa’il asy-Syari’ah, [26] karya Muhammad bin Hasan Al-Hurr al-‘Amili (w. 1104 H), yang dianggap sebagai kitab terlengkap yang memuat hadis hukum fiqih bagi Syi’ah Imamiyah.

Bihar al-Anwar al-Jami’ah Li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar, [27] karya Muhammad Baqir al-Majlisi (w. 1110/1111 H).
Ulama Syi’ah menyatakan bahwa Bihar al-Anwar adalah kitab terbesar yang memuat hadis dari kitab-kitab rujukan Syi’ah.[28]

Mustadrak al-Wasaa’il wa Mustanbath al-Masaa’il, karya Haji Mirza Husein an-Nuri At-Thabrasi (w. 1320 H).
Agho Bazrak ath-Thahraniy[29] mengatakan, “Kitab Mustadrak al-Wasa’il menjadi seperti kitab kumpulan hadis lainnya yang harus ditelaah dan dijadikan rujukan oleh para mujtahid dalam memutuskan hukum syariat. Kebanyakan ulama kami saat ini tunduk mengikuti kitab itu.”[30] Lalu Agho Bazrak memperkuat pernyataannya dengan nukilan dari ulama-ulama Syi’ah yang menjadikan kitab Mustadrak al-Wasa’il sebagai rujukan utama mereka.[31]
Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa hadis-hadis para imam Syi’ah, khususnya Imam ke-6 Ja’far ash-Shadiq, terhimpun dalam literatur utama sebanyak delapan kitab. Ulama Syi’ah menyebutnya dengan “Al-Jawami’ Ats-Tsamaniah” (kitab kumpulan yang delapan). [32]

Empat di antaranya ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup terdahulu, tiga lagi ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup setelah tiga yang pertama, yang kedelapan ditulis oleh Al-Husein an-Nuri At-Thabrasi.
Kitab pertama dan yang tershahih di antara delapan kitab di atas ialah al-Kafi. Hal itu seperti disebutkan oleh para ulama Syi’ah, antara lain Syekh ath-Thusi (w. 461 H), sebagaimana dinyatakan oleh Syekh Ali an-Namazi asy-Syahirudi:
وَنَقَلَ فِي كِتَابِ الْعُدَّةُ الإِجْمَاعَ عَلَى صِحَّةِ الْكُتُبِ الأَرْبَعَةِ، وَمَجَّدَ فِي كِتَابِهِ الْفَهْرَسَتُ الشَّيْخَ الْكُلَيْنِيَّ كَثِيْرًا وَقاَلَ : إِنَّ كِتَابَ الْكَافِي هُوَ أَصَحُّ الْكُتُبِ الأَرْبَعَةِ .
“Dan beliau mengutip pada kitab al-‘Uddah ijma ulama Syi’ah atas keshahihan kitab yang empat dan dalam kitabnya al-Fahrasat, beliau banyak memuji Syekh al-Kulaini, dan beliau berkata, ‘Sesungguhnya kitab al-Kafi adalah kitab tershahih di antara kitab yang empat’.” [33]

Juga oleh Syekh al-Hurr al-‘Amili[34] (w. 1104 H), Syekh an-Nuri ath-Thabarsi[35] (w. 1320 H), dan Syekh ath-Thahrani[36] (w. 1389 H).

Para ulama Syi’ah di atas menyebutkan bahwa kitab al-Kafi adalah kitab yang tershahih dari empat kitab utama mereka, karena kitab al-Kafi ditulis pada era Ghaibah Sughra, yang mana saat itu masih mungkin untuk mengecek validitas riwayat yang ada dalam kitab itu. Karena pada era Ghaibah Sughra, Imam Mahdi versi mereka masih dapat dihubungi melalui “duta yang empat” yang dapat berhubungan dengan Imam Mahdi dan menerima seperlima bagian dari harta Syi’ah. [37]

Status kitab al-Kafi dipertegas pula oleh ulama besar Syi’ah Abdul Husain al-Musawi[38] (W. 1377 H) sebagai berikut:
وَأَحْسَنُ مَا جُمِعَ مِنْهَا الْكُتُبُ الأَرْبَعَةُ الَّتِي هِيَ مَرْجِعُ الإِمَامِيَّةِ فِي أُصُولِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ مِنَ الصَّدْرِ الأَوَّلِ إِلَى هَذَا الزَّمَانِ وَهِيَ: الْكَافِي, وَالتَّهْذِيْبُ, وَالاِسْتِبْصَارُ, وَمَنْ لاَيَحْضُرُهُ الْفَقِيْهُ, وَهِيَ مُتَوَاتِرَةٌ وَمَضَامِيْنُهَا مَقْطُوْعٌ بِصِحَّتِهَا, وَالْكَافِي أَقْدَمُهَا وَأَعَظْمُهَا وَأَحْسَنُهَا وَأَتْقَنُهَا
“Sebaik-baik himpunan sabda Imam Ja’far Shadiq ialah empat kitab yang menjadi rujukan utama syi’ah imamiyah dalam masalah-masalah pokok dan cabang sejak generasi syi’ah yang pertama sampai dengan zaman ini yaitu al–Kafi, al-Tahdzib, al-Istibshar, dan Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Kitab-kitab tersebut mutawatir dan isinya dipastikan shahih, sedangkan al-Kafi ialah yang paling dahulu, paling agung, paling baik, dan paling teliti.” [39]
Sehubungan dengan itu, Pakar hadis Syi’ah kontemporer, Khadim Ahlul Bait, Dr. Husain Ali Mahfuzh berkata:
وَقَدِ اتَّفَقَ أَهْلُ الإِمَامَةِ وَجُمْهُوْرُ الشِّيْعَةِ عَلَى تَفْضِيْلِ هذَا الْكِتَابِ وَالأَخْذِ بِهِ وَالثِّقَةِ بِخَبَرِهِ وَالإِكْتِفَاءِ بِأَحْكَامِهِ
“Ahlul imamah dan Jumhur Syi’ah telah bersepakat atas pengutamaan kitab ini (al-Kafi), memegang teguh kitab itu, mempercayai hadis-hadisnya dan mencukupkan diri dengan hukum-hukumnya.” [40]

Pernyataan dan fakta di atas menunjukkan bahwa dalam rentang waktu sekitar 390 tahun—pada periode mutaqaddimin—tidak ada seorang pun ulama Syi’ah yang menolak kedudukan al-Kafi sebagai rujukan utama Syi’ah Imamiyah, dan hal itu terus berlanjut hingga periode mutaakhirin serta dikukuhkan pula oleh ulama Syi’ah dewasa ini.

Sehubungan dengan itu, Pakar Hadis Syi’ah kontemporer, Syekh Dr. Abdurrasul Abdul Hasan al-Ghaffar mengatakan:
فَمُنْذُ أَحَدَ عَشَرَ قَرْنًا وَإِلَى الآنِ إِتَّكَا الْفِقْهُ الشِّيْعِيُّ الإِمَامِيُّ عَلَى هذَا الْمَصْدَرِ ، لِمَا فِيْهِ مِنْ تُرَاثِ أَهْلِ الْبَيْتِ سلام الله عليهم ، وَلِكَوْنِهِ أَصَحَّ الْكُتُبِ الأَرْبَعَةِ ، وَأَكْثَرَهَا فَائِدَةً ، وَأَفْضَلَهَا مِنْ حَيْثُ الشُّمُوْلِيَّةُ وَالتَّرْتِيْبُ وَالتَّقْسِيْمُ ، وَأَنَّ مُصَنِّفَهُ جَمَعَ بَيْنَ الأُصُوْلِ وَالْفُرُوْعِ وَالآثَارِ وَالسُّنَنِ ، كَمَا أَنَّ تَبْوِيْبَهُ حَسْبَ كُتُبِ الْفِقْهِ ، مِمَّا يُعِيْنُ الْمُجْتَهِدَ وَالْمُسْتَنْبِطَ لِلأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ
“Maka sejak sebelas abad yang lalu hingga sekarang ini, fiqih orang Syi’ah imamiyah bersandar pada sumber ini, karena di dalamnya terdapat warisan Ahlu Bait salaamullah ‘alihim, dan karena ia kitab tershahih di antara empat kitab, paling banyak manfaatnya, paling utama dari aspek kelengkapan, sistematika, dan klasifikasi. Penyusunnya telah mengkombinasikan antara Ushul, furu, atsar, dan sunan, sebagaimana pula sistematika topiknya selaras dengan kitab-kitab fiqih yang dapat membantu para mujtahid dan pengistinbat hukum syariat.“ [41]
Demikian itu menunjukkan bahwa mayoritas ulama Syi’ah meyakini betul keshahihan al-Kafi secara keseluruhannya tanpa keraguan sedikit pun, sehingga mereka menerima kehujahan hadis-hadis dalam kitab itu.

Bagi orang Syi’ah,  berbagai pernyataan ulama mereka tersebut di atas tentu saja harus diyakini bukan isapan jempol belaka, karena tidak semata-mata mereka memberikan predikat seperti itu, kecuali setelah mengadakan penelitian-penelitian terhadap kitab tersebut.
Jadi, tampak aneh—bahkan mungkin lucu sekali—jika kini, di Indonesia, muncul berbagai pernyataan:
Bahwa tidak semua hadis yang ada dalam kitab al-Kafi sebagai shahih.
Bahwa al-Kafi, karya al-Kulaini memang menjadi rujukan Syi’ah tetapi tidak ada ulama Syi’ah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat al-Kafi
Bahwa al-Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait Ia hanyalah mengumpulkan hadis-hadis dari Ahlul Bait. Menurut mereka tidak ada sedikitpun pernyataan al-Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan shahih.

Tentu dapat dimaklumi, jika berbagai pernyataan itu muncul dari para ustadz Syi’ah yang tidak akrab dengan kitab-kitab mereka, apalagi terlontar dari kalangan umat Syi’ah awam. Namun lain ceritanya jika hal itu dilakukan oleh para tokoh Syi’ah di Indonesia, apalagi yang pernah mengenyam pendidikan di Qum, Iran, seperti Tim Penulis Buku Putih Mazhab Syiah, Menurut Para Ulama yang Muktabar. Buku ini diterbitan oleh DEWAN PENGURUS PUSAT AHLUL BAIT INDONESIA, tahun 2012.

Bagi orang awam pengikut Syi’ah, atau para ustadz mereka yang tidak mengetahui kandungan kitab-kitab Syi’ah, buku ini bisa dianggap “benar” dan menganggap seperti itulah gambaran akurat mengenai Syi’ah. Tetapi, bagi yang paham mengenai kitab-kitab Syi’ah,  buku ini dipandang tidak benar karena tidak seperti itu gambaran akurat mengenai Syi’ah.

Ke-tidakbenar-an pertama dan utama pada buku ini paling tidak terindikasi dalam beberapa aspek, antara lain:
tidak transparan dalam menampilkan data dan informasi yang sesungguhnya. Pasalnya, berbagai fakta dan data yang dikemukakan oleh para ulama Syi’ah sendiri banyak yang tidak ditampilkan. Entah jika dipandang berbeda haluan dengan para penulis “Buku Putih”.
Pembajakan istilah “Jumhur ulama Sy’iah”. Pasalnya, penulis “Buku Putih” sering menyebut istilah Jumhur ulama Sy’iah[42] namun tidak menampilkan teks asli pendapat—yang diklaim sebagai pendapat—jumhur ulama yang dimaksud dan tidak pula menyebutkan sumber-sumber primer dalam dakwaannya itu.

Dengan cara demikian, buku ini tidak memberi pemahaman seutuhnya tentang Syi’ah. Bukankah kehadiran “Buku putih” tersebut—seperti diharapkan Ketua DPP ABI, Hasan Alaydrus—memberi pemahaman seutuhnya tentang Syiah? Bukankah keberadaan Buku putih tersebut—seperti diharapkan Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A. dalam pengantarnya di buku itu— memperkenalkan Syiah agar difahami dengan benar?
Semoga saja cara demikian itu tidak termasuk metode yang disinyalir oleh Bang Haidar Bagir, dalam tulisannya di Harian Republika dengan judul “Syi’ah dan Kerukunan Umat” (Republika, 20 Januari 2012).

Dari sekian banyak fakta dan data yang tidak ditampilkan dalam buku ini berkenaan dengan sikap para ulama Syi’ah terhadap status kitab al-Kafi. Betapa tidak, fakta dan data tentang itu—yang sejatinya terekam sekitar 1.100 tahun lamanya—hanya ditampilkan dalam  empat paragraf di dua halaman (30 dan 31).

Kami tidak tahu, sikap para penulis demikian itu didasarkan atas keyakinan taqiyah[43] atau argumentasi ilmiah? Agar sikap mereka itu tidak berada pada grey area (wilayah abu-abu) maka berbagai pernyataan tentang al-Kafi di “Buku Putih” yang tidak putih itu kami konfrontasikan dengan beberapa fakta dan data yang terekam dalam kitab-kitab Syi’ah sendiri, terutama Imam al-Kulaini dalam kitabnya, al-Kafi. Selain itu, argumentasi mereka kami uji pula sesuai standar ilmiah versi ulama Syi’ah agar diketahui kadar keshahihan dan konsistensinya.

Untuk keperluan itu, buku bantahan ini secara garis besar memuat tentang kerancuan konsepsi metodologis hadis kaum Syi’ah, karakteristik kitab al-Kafi, dan Sikap Penulis “Buku Putih”terhadap al-Kafi, Taqiyyah Atau Ilmiah?

Tentang kerancuan konsepsi metodologis hadis kaum Syi’ah, diawali dengan uraian tentang konstruk epistemologi hadis yang dibangun oleh Syi’ah, yaitu (1) persoalan asal pengetahuan atau sumber, dalam hal ini siapa sumber utama yang bisa mengeluarkan hadis; (2) apa hakekatnya, artinya bagaimana kedudukan hadis menurut Syi’ah; dan (3) persoalan verifikasi, yaitu bagaimana mengukur validitas atau otentisitas hadis, sehingga bisa dijadikan dasar hukum yang kuat.

Dalam uraian ini, pembaca akan mengetahui sumber hadis dalam keyakinan Syi’ah, yang membedakannya dengan pandangan Ahlus Sunah. Selanjutnya, akan diketahui pengaruh Imamiyah pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi, hadis tidak sampai pada tingkatan shahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan. Selain itu dapat diketahui pula perbedaan kriteria yang ditetapkan oleh ulama Syi’ah baik antara periode mutaqaddimin dengan mutaakhirin, maupun antara ulama Syi’ah mutaakhirin dengan mu’ashirin (modern). Perbedaan ini berimplikasi terhadap kualitas hadis di kalangan Syi’ah. Pembahasan ini diakhiri dengan pemaparan kriteria keshahihan hadis versi al-Kulaini, penyusun kitab al-Kafi.

Berbagai aspek ini penting disampaikan untuk menunjukkan suatu fakta bahwa di kalangan ulama Syi’ah terdapat problem metodologis. Selain itu, agar diketahui tolok ukur kelayakan metodologi yang problematik ini digunakan sebagai standar validitas kitab al-Kafi yang telah mapan.

Selanjutnya tentang karakteristik kitab al-Kafi, dijelaskan siapa penulis kitab al-Kafi dan apa saja yang terkandung di dalamnya. Hal ini penting disampaikan untuk menunjukkan suatu fakta bahwa di kalangan ulama Syi’ah terdapat perbedaan dalam menetapkan beberapa aspek dalam kitab itu, baik aspek kitab (topik), bab, maupun hadis. Selain itu, juga diuraikan tentang unsur epistemologi kitab al-Kafi, sesuai kajian teoritis pada pembahasan sebelumnya, berkaitan dengan sumber hadis atau asal pengetahuan, hakekat hadis, dan persoalan verifikasi hadis yang terkandung di dalam kitab al-Kafi.

Dalam uraian ini, pembaca akan mengetahui bahwa unsur-unsur epistemologi itu pada dasarnya telah terpenuhi di dalam kitab al-Kafi. Dari situ dapat dipahami mengapa ulama Syi’ah sepakat menetapkan bahwa semua hadis dalam kandungan al-Kafi derajatnya shahih. Selain itu, dapat diketahui pula kelemahan argumentasi pihak Sy’iah “yang menolak” kehujahan hadis-hadisnya.

Terakhir, tentang sikap penulis “Buku Putih” terhadap al-Kafi. Pada bagian ini ditampilkan beberapa pernyataan dari penulis “Buku Putih Mazhab Syi’ah” yang menunjukkan sikap penolakan terhadap status hadis-hadis dalam kitab al-Kafi. Lalu sikap mereka dikonfrontasikan dengan beberapa fakta dalam kitab-kitab Syi’ah sendiri, yaitu pandangan para tokoh yang sama sekali tidak disinggung oleh penulis.

Pandangan para tokoh ini penting kami sampaikan—dengan tanpa  bermaksud ikut campur urusan “rumah tangga” Syi’ah—mengingat pentingnya transparansi arus data dan informasi untuk penyadaran umat, khususnya umat Syi’ah di Indonesia, karena pandangan “Kubu” ini sangat jarang diungkap oleh para tokoh Syi’ah di Indonesia. Untuk keperluan itu,  kami  menggunakan metode verifikasi (tahqiq) dan pengunjukan teks (takhrij an-nash) yang dikemukakan penulis “Buku Putih” dalam rangka penguatan argumentasi ilmiah, atau….taqiyyah-nya?

Selain itu, pernyataan dari penulis kami uji dengan standar ilmiah versi ulama Syi’ah mutaakhirin, untuk diketahui validitas argumentasi dan konsistensi mereka.

Dalam pengungkapan fakta dan data, kami berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan teks asli setiap pendapat ulama Syi’ah yang dirujuk dan tidak lupa menyebutkan sumber-sumber primer dan sekundernya, baik yang ditulis oleh “Kubu Akhbari” maupun “Kubu Ushuli”, seperti diklaim oleh mereka. [44]

Teks asli setiap pendapat ulama Syi’ah itu sengaja kami tampilkan apa adanya—tanpa syakal atau baris—demi menjaga keasliannya. Adapun bagi pembaca awam yang belum faham gramatika bahasa Arab, kami berupaya menyertakan terjemahan yang paling mendekati maksud dari setiap pendapat itu.

Hadirnya buku ini semoga saja dapat menyelamatkan orang awam pengikut Syi’ah dari satu keadaan yang sering diungkap dalam kata pepatah: “sudah jatuh tertimpa tangga.“  Pasalnya, dengan kehadiran “buku putih“ “yang hitam” itu bisa jadi mereka yang awam bukan malah mendapatkan hidayah melainkan mendapatkan kebodohan dan kesesatan.

Oleh karena itu, sebagai nasehat bagi orang awam pengikut Syi’ah dan tambahan ilmu bagi saudara-saudara Ahlus Sunah, kami tulis tanggapan dan bantahan terhadap “Buku Putih” “yang hitam” ini secara berseri agar tidak terlalu tebal, dan yang paling penting tentu saja agar mudah dicerna. Semoga buku tanggapan dan bantahan ini bermanfaat dan menjadi amal saleh di sisi Allah.
By Amin Muchtar, Mubaligh Persis, Penulis Buku Buku “Hitam”

Kajian selengkapnya dapat dibaca dalam Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah.
[1] Lihat, Buku Putih Mazhab Syiah, hal. 22-23.
[2] Lihat, al-Kafi,  jilid 1, hal. 255, pada kitab al-Hujjah.
[3] Ibid., hal. 258.
[4] Ibid., hal. 260.
[5] Ibid., hal. 227.
[6] Ibid., hal. 228.
[7] Ibid., hal. 231.
[8] Ibid., hal. 339.
[9] Ibid., hal. 407.
[10]Lihat, Masyriq asy-Syamsain, hal. 268 dan al-Wajizah fi ad-Dirayah, hal. 2. Lihat pula keterangan  Syekh Abdullah bin Muhammad Hasan al-Mamqani dalam Miqbas al-Hidayah, Juz 1, hal. 57; Syekh Hasan ash-Shadr, dalam Nihayah ad-Dirayah, hal. 80.
[11]Lihat keterangan Syekh Hasan ash-Shadr, Nihayah ad-Dirayah, hal. 85; Syekh I’dad Abu al-Fadhl al-Babuli, Rasa’il fi Dirayah al-Hadis, Juz 2, hal. 530; Syekh Muhammad Husen al-Anshari, al-Ma’ayir al-’Ilmiyyah li Naqd al-Hadits, hal. 20; Syekh Muhammad Kazhim al-Khurasani, Kifayah al-Ushul, hal. 8; Syekh al-Anshari, Fara’id al-Ushul, hal. 365; Syekh Hasan bin Ali Asghar al-Musawi, Muntaha al-Ushul, Juz 2, hal. 117; Sayyid Muhsin al-Hakim, Haqa’iq al-Ushul, hal. 12.
[12]Lihat, al-Ushul al-’Ammah li al-Fiqh al-Muqaran, hal. 122. Lihat pula keterangan Syekh Abu Thalib at-Tajlil at-Tibrizi dalam Tanzih ay-Syi’ah al-Itsna ’Asyariyah ’an asy-Syubuhat al-Wahiyah, hal. 57.
[13]Lihat, Sunah Ahl al-Bait, hal. 9.
[14]Lihat, Ushul al-Fiqh, hal. 331-332.
[15] Sehingga mereka disebut kelompok Syi’ah Ja’fariyyah dan fikihnya disebut fikih Ja’fari, padahal Imam Ja’far berlepas diri dari apa yang mereka katakan. Baca kitab Usthurah al-Fiqh  al-Ja’fari, karya Syaikh Dr. Thaha al-Dulaimi yang diterjemahkan oleh Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc. M.Ag, dengan judul: Mitos Fikih Ja’fari.
[16] Para ulama Syi’ah sendiri berbeda pendapat dalam mendefinisikan kata Ashal yang dimaksud. Antara lain menurut Sayyid Mahdi Bahrul Ulum (w. 1212 H), ”Ashl menurut istilah para ahli hadis bermakna kitab sandaran yang tidak diambil dari kitab lain.” (Lihat, Tanqih al-Maqal, Juz 1, hal. 464) Sementara menurut Mula Ali Kaniy, ”Kata al-ashl dalam ucapan para sahabat imam dan ulama Syi’ah abad VI hingga XI bermakna kompilasi riwayat yang dikumpulkan oleh para murid imam agar tetap abadi selamat dari terlupa, kerusakkan, dan dapat diakses pada saat diperlukan. Dan hadis-hadis ini pada umumnya berupa ucapan para imam ma’shum, yang diambil dari mereka secara langsung. Atau dapat pula para penyusun itu menghimpunnya tanpa disertai syarah (komentar) dari mereka sendiri. Karena itu, terkadang disebut pula kitab dan Mushannaf.” (Lihat, Tawdhih al-Maqal fi ’Ilm ar-Rijal, hal. 48).
[17] Lihat, Dzikra asy-Syi’ah fi Ahkam asy-Syari’ah, Juz 1, hal. 59. Lihat pula keterangan Muhammad Muhsin bin Muhammad Ridha ar-Razi, populer dengan sebutan Agho Bazrak ath-Thahraniy dalam kitabnya adz-Dzari’ah ilaa Tashaanif asy-Syi’ah, jilid. 2, hal. 129.
[18] Lihat, keterangan Agho Bazrak ath-Thahraniy dalam kitabnya adz-Dzari’ah ilaa Tashaanif asy-Syi’ah, jilid. 2, hal. 136.
[19] Lihat, keterangan Sayyid Muhsin al-Amin dalam A’yan as-Syi’ah, jilid. 2, hal. 48.
[20] Al-Kafi terdiri atas tiga bagian besar: al-Ushul, al-Furu’, ar-Rawdhah. Al-Ushul min al-Kafi telah dicetak berulang kali, yang pertama tahun 1278 H di Syiraz. Selanjutnya,  tahun 1278 H di Teheran; Tahun 1281 H. di Tibriz; Tahun 1302 di Lucknow, India; Tahun 1307 H. di Teheran; Tahun 1311 H. dicetak lagi di Tibriz dan dalam tahun yang sama dicetak pula di Teheran; Tahun 1318 H, 1325 H, 1331 H, 1374 H, 1375-1378 H semuanya di Teheran; Tahun 1376 di Najf. Sementara cetakan dalam format komplit, antara lain diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, Iran, pada tahun 1388 H. dalam 8 jilid, dengan Tahqiq Ali Akbar al-Ghifari; diterbitkan pula oleh Dar al-Hadis, Qum, Iran, tahun 1430 H. dalam 15 jilid, dengan tahqiq Markaz Buhuts Dar al-Hadis.
[21] Dicetak di Teheran, Iran, tahun 1324 H, dan di India tahun 1306 H.
[22] Dicetak di Teheran, Iran, tahun 1318 H, dalam dua jilid.
[23] Dicetak di Lucknow, India, tahun 1307 H, dalam dua jilid.
[24]Kandungan hadis dalam keempat kitab itu sebanyak 43.850 hadis. Sementara dalam  tujuh kitab hadis yang standar di kalangan  Islam (al-kutub as-Sittah) sekitar 61.907 atau 63.865 hadis, meliputi: Musnad Ahmad sebanyak 27.688 hadis; Shahih al-Bukhari, 7.124 atau 9.082 hadis; Shahih Muslim, 7.748 hadis; Sunan Abu Dawud, 5.276 hadis; Sunan at-Tirmidzi, 3.956 hadis; Sunan an-Nasai, 5.774 hadis; Sunan Ibnu Majah, 4.341 hadis. Jadi, perbandingan kapasitas hadis dalam kitab al-Kafi sebesar 25 % dari total hadis dalam tujuh kitab hadis yang standar di kalangan Islam.
[25] Dicetak di Teheran, Iran, tahun 1310 H, dan 1324 H.
[26] Dicetak di Teheran, Iran, tahun 1324 H, dalam 3 jilid, dan telah dicetak pula sebelum tahun itu.
[27] Dicetak di Teheran, Iran, dalam 26 jilid. Pada perkembangan selanjutnya, kitab ini dicetak dalam 110 jilid.
[28] Keterangan mengenai kitab ini bisa dilihat dalam Adz-Dzari’ah ilaa Tashaanif asy-Syi’ah, karya Syekh Agho Bazrak ath-Thahraniy, Juz 3, hlm. 27; A’yan asy- Syi’ah, Juz 1, hlm. 293.
[29] Namanya Muhammad Muhsin bin Muhammad Ridhaa (w. 1389 H), populer dengan sebutan Agho Bazrak ath-Thahraniy.
[30] Lihat, Adz-Dzari’ah, jilid. 2, hal. 110-111.
[31] Ibid., hal. 111.
[32] Lihat, Sayyid Muhsin al-Amin dalam A’yan as-Syi’ah, jilid. 1, hal. 288. Sebagaimana disebutkan pula oleh Sayyid Mahmud bin Sayyid Mahdi al-Musawi dalam Miftah al-Kutub Al-Arba’ah, jilid. 1, hal. 5.
[33]Lihat, Mustadrak Safinah al-Bihar, Juz 2, hal. 17 dan Mustadrakat ‘Ilm Rijal al-Hadits, hal. 13.
[34] Namanya Muhammad bin Hasan Al-Hurr Al-Amili dalam kitabnya Tafshil Wasa’il asy-Syi’ah ila Tahsil Masa’il asy-Syari’ah, jilid. 20, hal. 71.
[35] Lihat, Mustadrak al-Wasa’il wa Mustanbath al-Masaa’il, jilid. 3, hal. 432.
[36] Lihat, adz-Dzari’ah ilaa Tashaanif asy-Syi’ah, jilid. 17, hal. 245.
[37] Lihat pula, pernyataan Tsamir Hasyim Habib dalam Difa’ ‘an al-Kafi, jilid I, hal. 31.
[38] Nama lengkapnya Abdul Husein bin Sayid Yusuf bin Sayid Jawad Syarafuddin Al-Musawi Al-Amili.
[39] Lihat, al-Muraja’aat, hal 419. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad al-Baqir dan dipublikasikan oleh Penerbit Mizan pada tahun 1403 H/1983 M, dengan judul “Dialog Sunah Syiah”.
[40] Lihat, Muqaddimah kitab al-Kafi, terbitan Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, Cet. III tahun 1388 H, hal. 26.
[41] Lihat, al-Kulaini wa al-Kafi, hal. 422.
[42] Menurut perhitungan kami istilah itu disebut oleh penulis “Buku Putih” sebanyak 11 kali (hal. vi, 1 kali; hal. 6, 3 kali; hal. 29, 2 kali; hal. 31, 1 kali; hal. 34, 1 kali; hal. 50, 1 kali; hal. 217 (lampiran) 1 kali; hal. 220 (lampiran) 1 kali. Selain itu, penulis “Buku Putih” juga membajak istilah Jumhur ulama sebanyak 2 kali; hal. 85 dan hal. 170.
[43] Salah seorang ulama kenamaan Syi’ah, Muhamad bin Muhamad bin al-Nu’man al-‘Akbari al-Baghdadi (w. 413 H), yang populer dengan sebutan Syekh Mufid, menjelaskan, “Taqiyyah adalah menyimpan kebenaran dan menyembunyikan keyakinan, serta merahasiakannya terhadap orang-orang yang tidak se–akidah dan tidak minta bantuan mereka dalam hal-hal yang dapat mengakibatkan bahaya, baik dalam urusan agama maupun keduniaan.” (Lihat, Syarh Aqa’id as-Shaduq, hal. 261).
[44] Menurut mereka, Akhbari adalah pendekatan tekstualis dan skripturalis yang mirip pendekatan Ahlul Hadis yang menolak prinsip-prinsip rasional dalam penyimpulan hukum-hukum agama (istinbathul hukm). Sedangkan Ushuli adalah pendekatan yang menerima prinsip-prinsip rasional dalam memahami teks Alquran dan Sunah, serta menyimpulkan hukum-hukum dari kedua sumber tersebut.  (Lihat, Buku Putih Mazhab Syiah, hal. 29)


Bantahan “Buku Putih Madzhab Syiah” Terkait Dengan Keyakinan “Tahrif Al-Quran”

Farid Achmad Okbah, M.A

PENGANTAR

Sudah sekitar seribu lebih buku Syiah disebarkan ke seluruh Indonesia untuk memasarkan dagangan ideologi transnasional ini. Tulisan yang paling anyar  adalah Buku Putih Madzhab Syiah. Kelebihan buku ini adalah tidak ada pengarangnya(hanya tertulis tim perumus buku putih DPP ABI), daftar isinya dan tulisan bismillah. Buku ini, ketika beredar, mendadak sudah cetakan ke-2, September 2012. Pertanyaannya adalah apakah posisi buku ini bisa mewakili ulama-ulama Syiah yang muktabar karena mereka pun juga bukan ulama yang muktabar. Atau, jangan-jangan buku ini hanyalah justifikasi atau pembenaran terhadap berbagai isu ajaran Syiah dalam rangka melunakkan pihak Ahlussunah agar bisa menerima ajaran syiah yang dikesankan seakan perbedaan antara keduanya tidak bersifat prinsip. Meskipun ketika membaca buku putih ini, ternyata tidak putih, justru hitam kelam, hanya mengulang apa yang dilakukan oleh berbagai ulama kontemporer untuk menutupi belangnya. Bahkan, tidak jarang penulis buku ini berbohong. Ia mengatakan menurut ulama syiah yang muktabar tapi tidak sedikitpun menyebutkan referensi Syiah. Contohnya tentang rukun iman dan rukun Islam, hal 31-33, tentang sahabat, hal: 35-49, dan tentang perkawinan mut’ah, hal 49-54. Dan banyak lagi kejanggalan-kejanggalan dalam buku putih yang tidak putih ini.

BANTAHAN:

Prinsip-prinsip tentang Al-Quran:

A. Bahwa Allah SWT telah menjamin Al Quran dari mulai diturunkan sampai akhir zaman.   Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr: 9)

B. Bahwa Rasulullah saw telah menyampaikan Al Quran kepada para sahabat. Mereka menghafalkannya dan menulisnya hingga dibukukan menjadi mushaf yang sampai kepada kita sekarang. Al Quran itu sampai  kepada kita secara mutawatir melalui jalur ahlus sunah tetapi sayangnya tidak terdapat dari sumber ahlul bait versi Syiah. Kami bawakan seputar riwayat dari para qurra’[1] sebagaimana berikut:

1. Qari Madinah, Imam Nafi’. Perawinya adalah Warasy dan Qaalun.

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Umar bin Khattab, Zaid bin Tsabit, Ubay  bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ayyas, dan Abu  Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

2. Qari Makkah Mukarramah, Imam Ibnu Katsir. Perawinya adalah Al Bazzi dan Qanbal.

Qiraah ini dari lima sahabat yaitu Umar bin Khattab, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Saib Radhiyallahu ‘anhum.

3. Qari Bashrah, Imam Abu Amru Al Bashri. Perawinya adalah Ad Duuri dan As-Susi.

Qiraah ini dari sebelas sahabat yaitu Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Abi Musa Al –Asy’ari, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Saib, , Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Abu  Hurairah, Radhiyallahu ‘anhum.

4. Qari Syam, Imam bin Amir. Perawinya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan.

Qiraah ini dari Ustman bin Affan dan Abi Darda.

5. Qari Kufah, Imam Ashim bin Abi Nuaid. Perawinya adalah Syu’bah dan Hafs (mayoritas kaum muslimin pada hari ini membawa Quran dengan riwayat perawi Hafs dari Imamnya  ‘Asim).

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.

6. Imam Hamzah Az-Zayyat. Perawinya adalah Khalaf dan Khelad

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Masud,  dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, Radhiyallahu ‘anhum.

7. Imam bin Hamzah Al Kasai. Perawinya adalah Abul  Haris dan Hafs Ad Duuri.

Qiraah ini dari sepuluh sahabat yaitu Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit , Abdullah bin Masud, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ayyasy, Abu  Hurairah dan Husein bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum.

8. Imam Ya’qub Al-Hadhrami. Perawinya adalah Ruwaish dan Ruh

Qiraah ini dari sebelas sahabat yaitu Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit , Abdullah bin Masud, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ayyasy, Abdullah bin Saib, Abu  Hurairah Radhiyallahu ‘anhum.

9. Imam Khalaf Al-Bazzar. Perawinya adalah Idris dan Ishak

Qiraah ini dari enam sahabat yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum.

10. Imam Abu Ja’far Al-madani. Perawinya adalah Ibnu Wardan dan Ibnu Jamaz

Qiraah ini dari lima sahabat yaitu Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Abdullah bin ‘Ayyasy dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhum.

C. Para ulama sepakat bahwa keyakinan yang mengatakan Al Quran itu telah terdapat tahrif (ditambah dan dikurangi oleh manusia) adalah kufur.

Qadhi Abu Ya’la berkata:

“Al-Quran tidak diubah, diganti, dikurangi dan ditambah. Berbeda dengan Rafidhah (Syiah yang mencela sahabat) yang mengatakan bahwa Al Quran telah diubah dan diganti dan diselisihi nadham dan urutannya. Ia berkata, “Al Quran dikumpulkan dengan keberadaan para sahabat. Mereka telah sepakat dan tidak ada yang mengingkarinya. Tidak ada salah seorangpun dari sahabat yang membantah dan menyerangnya. Seandainya Al Quran telah diganti dan diubah pastilah ia akan dinukil oleh salah seorang sahabat bahwa ia telah diserang. Karena dalam kebiasaan, hal seperti ini tidak disembunyikan. Dan seandainya Al Quran itu telah  diubah dan diganti,  pastilah akan mengharuskan Ali untuk menjelaskan dan meluruskannya dan menjelaskan kepada manusia dan menjelaskan secara umum kepada manusia bahwa ia lebih baik meskipun telah mengalami perubahan. Maka ketika Ali tidak melakukan hal itu, dan justru tetap membaca dan menggunakannya, ini pertanda bahwa Al Quran tidaklah dirubah dan diganti.”[2]

Imam Ibnu  Hazm rahimahullah berkata,

“Ucapan bahwa apa yang di antara lembaran mushaf (yaitu Al Qur’an)  telah mengalami penggantian adalah kekafiran yang nyata dan kedustaan terhadap Rasulullah saw.[3]

Imam Abu Amri Ad-Dani rahimahullah berkata, “

Kitab Allah Ta’ala tertulis di dalam mushaf, yang dikumpulkan, dan yang mengumpulkannya adalah Utsman rahimahullah. Umat telah sepakat bahwa Al Quran itu terdiri dari 114 surat.  Barang siapa  yang menambah atau menguranginya atau mengatakan sampai ada bagian darinya yang berubah, maka ia sesat, penyesat, kafir, dan mubthil.”[4] Lalu bagaimanakah Syiah yang mengaku bahwa riwayat-riwayat memberikan keraguan di dalam Al Quran? Dan Apakah orang yang berakal percaya kalau ucapan ahlul bait  itu membuat keraguan di dalam Al Quran. Lalu di manakah janji Allah bahwa Ia akan menjaga kitabnya? Allah berfirman, “

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr: 9)
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Fakhrurrazi berkata, “Sesungguhnya Kami menjaga kitab itu dari perubahan, tambahan, dan kekurangan. Kepada orang yang mengatakan, “Jika seseorang berupaya untuk merubah huruf atau titik maka penduduk dunia akan mengatakan kepadanya, ‘Ini adalah kedustaan dan perubahan terhadap firman Allah.’  sampai-sampai jika ada orang tua yang menakutkan yang menyetujui bahwa di dalam Al Quran terdapat kekeliruan atau kesalahan dalam hurufnya,  maka anak kecil akan mengatakan kepadanya, “Wahai Bapak anda telah salah, yang benar adalah begini dan begini. Ketahuilah bahwa tidak ada kitab yang  mengalami penjagaan seperti Al Quran ini. Tidak ada kitab kecuali telah dimasuki perubahan baik sedikit ataupun banyak. Tetapnya Al Quran terjaga dari segala perubahan yang diupayakan oleh orang Kafir, Yahudi, dan Nasrani merupakan mukjizat yang paling agung[5]

Hal indah yang dibawakan oleh para Salafus Shalih kita adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Asy-Syatibi rahimahullah dari Abu Amru Ad-Dani dari Abul Hasan Al-Muntab berkata, “Pada suatu hari saya bersama Qadhi Abu Ishaq Ismail bin Ishaq. Seseorang lalu berkata kepadanya, “Wahai Syaikh mengapa Ahlut Taurah diperbolehkan untuk mengganti Taurat, sementara Ahlul Quran tidak diperbolehkan? Maka Qadhi tersebut menjawab, “Allah  berfirman kepada Ahlutt Taurah,

Disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah (Al-Maidah: 44).

Penjagaan kitab Taurat diserahkan kepada ahlut taurah, maka mereka diperbolehkan untuk melakukan penggantian. Adapun terhadap Al Quran, Allah berfirman,

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr: 9)

Penjagaan Al Quran telah dijamin oleh Allah, maka mereka tidak diperbolehkan untuk melakukan penggantian. Ali (perawi ini) berkata, ‘Aku pergi menuju Abi Abdillah Al Muhamili lalu aku menyebutkan cerita itu kepadanya. Ia berkata, “Saya belum pernah mendengar ucapan yang lebih baik daripada ini sebelumnya. “[6]

Ahlus sunah berkeyakinan bahwa siapa yang meyakini adanya tahrif dalam Al Quran maka ia telah kafir. Karena itu, tidak ada seorangpun ulama ahlus sunah yang meyakininya. Berbeda dengan ulama-ulama Syiah  yang secara terang-terangan meyakini adanya tahrif di dalam Al Quran, terutama ulama-ulama Syiah mutaqaddimin  yang jumlahnya sangat banyak.  Sebaliknya, ulama Syiah yang tidak meyakini adanya tahrif sangat sedikit, tetapi dalam Buku Putih Madzhab Syiah disebutkan jumlahnya puluhan bahkan ratusan (lihat halaman 111). Kuat dugaan mereka mengatakan demikian hanya taqiyyah saja. Buktinya, tokoh ulama Syiah An-Nuuri (1254-1320H) yang mengumpulkan seribu riwayat lebih dari ulama ulama Syiah muktabarah bahkan katanya sampai tingkat mutawatir, ketika meninggal dihormati dan  dikubur di dekat para imam di Najaf.

Dalam Buku Putih ini mereka mengatakan “menurut ulama Syiah yang muktabar” tetapi ternyata tidak banyak menunjuk kepada  ulama Syiah yang muktabar, sekedar contoh pada halaman ke-34 tentang teks “Wa Aliyyun Waliyullah sama sekali tidak ditemukan dalam buku-buku rujukan Syiah. Bahkan disebut bid’ah menurut jumhur ulama Syiah”, tapi justru Imam Ali Khameini menyebutnya lambang tasyayyu’ adalah baik dan penting (halaman 35).

Meskipun buku ini berusaha membersihkan Syiah dari keyakinan tahrif, tapi tetap saja memberikan alasan-alasan yang menjustifikasi keyakinan tersebut seperti, “Kalaupun kita anggap … (hal. 26).

Di bawah ini kami bawakan 15 ulama Syiah yang menyatakan keyakinan tahrif ini.

    An-Nuuri Ath-Thibrisi, dalam kitabnya Fashlul Khitab Fi Tahrif Kitab Rabbul Arbab
    Adnan Al-Bahrani, dalam kitabnya Masyariqusy Syumus Ad-Duriyah
    Al Mufid, dalam kitabnya Awailil Maqalat
    Al-Asfahany dalam kitabnya Aaraa’ haulal Quran
    Al Qumy
    Al Kulainy
    Al Jazairy dalam kitab syarakhnya At-Tahdzibaini dan Man’ul Hayah
    Ali bin Ibrahim
    Yusuf Al Bahrani dalam kitabnya Ad-Durar An-najafiyah
    Al Majlisi dalam  kitab syarkh atas kitab Al-Kafi, Miraatul Uqul
    Abbas Al Qummy dalam kitabnya Mafatihul Jinan
    Ali Al Khaairy dalam kitabnya Ilzamun Nasib Fi Itsbatil Hujjah Al-Ghaib
    Abul Qasim Al Khui, dalam kitabnya At-Tibyan fi Tafsiril Quran
    Abdullah Syabbar, dalam kitabnya Masabih Al-Anwar
    Husein Al Bahrani dalam kitabnya Al-Anwar Al-Wadhiyyah Fil ‘Aqaid Ar-    
    Radhwiyyah

Buku putih ini bertambah gelap dengan memuji Sayyid Husain Nashr dalam  buku yang disuntingnya Antologi Islam pada halaman ke-27. Begitu pula kepada penerbitnya Al Huda, Jakarta (hal 64). Isi buku tersebut menguatkan adanya keyakinan tahrif pada Syiah sebagaimana terdapat pada halaman ke-694 yang berbunyi,

“Hal ini dengan jelas membuktikan bahwa meskipun Al Quran yang dipakai sekarang lengkap, kitab suci ini tidak tersusun dalam urutan sebagaimana telah diturunkan. Beberapa kesalahan penempatan ini dilakukan oleh beberapa sahabat, baik dengan sengaja atau sedikitnya dikarenakan oleh ketidaktahuan.”

Dan pada halaman ke-695 yang berbunyi,

“Transkrip ini berisi komentar dan tafsiran yang bersifat hermeneutik(tafsir dan takwil) dari Rasulullah yang  beberapa di antaranya telah diturunkan sebagai wahyu tapi bukan bagian dari teks Quran. Sejumlah kecil teks-teks seperti itu bisa ditemukan dalam beberapa hadits dalam Ushulul Al-Kafi. Bagian informasi ini merupakan penjelasan ilahi atas teks Quran yang diturunkan bersama ayat-ayat Quran jika dijumlahkan mencapai tujuh belas ribu ayat.”

Hal itu menguatkan pernyataan pada buku putih halaman ke-106 dan 107. Dan sesuai riwayat Al-Kulani juz 2 hal 634 yang berbunyi dengan jelas

 إن القرآن الذي جاء به جبريل عليه السلام الى محمد صلى الله عليه وسلم سبعة عشرألف آية

“Sesungguhnya Al Quran yang dibawa Jibril ‘alaihis salam kepada Muhammad SAW adalah  17 ribu ayat.”

Dalam kitab Miraatul Uqul juz 12, hlm 525, Al-Majlisi mengatakan bahwa riwayat hadits di atas shahih dan beliau termasuk ulama Syiah yang muktabar.

Walhasil, buku putih ini penuh dengan penyimpangan pada masalah-masalah prinsip yang justru lebih meyakinkan kita bahwa benar kalau Syiah itu sesat dan menyesatkan. Wallahu A’lam.

Bekasi, 27 September 2012
Farid Achmad Okbah
[1] Hadits tsaqalaini, karangan Ali bin Muhammad Al-Qudhaibi, cet. Ke-1, tahun 1429 H- 2008 M, menukil dari kitab النشر في القرءات العشر لإبن الجزري ( 1/82 – 103)
[2] Al Mu’tamad fi Ushulid Din, hal. 258
[3] Al Fashl Fil Milal wan Nihal, 5/22
[4] Ar Risalah Al Wafiyah, hal 141
[5] Mafatihul Ghaib, 19/ 160-161.
[6] Al Muwafaqat 2/59

Noda-Noda Hitam Buku Putih Mazhab Syi’ah

Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Buku Putih Mazhab Syiah. Secara global buku ini adalah salah satu buku yang membela ajaran-ajaran agama Syi’ah dan berusaha membela kesesatan-kesesatan mereka.

Buku ini juga penuh dengan propaganda pemikiran-pemikiran Syiah dan melontarkan syubhat-syubhat yang membahayakan aqidah dan pemahaman seorang muslim.
Karena itulah Insya Alloh dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai pembelaan terhadap manhaj yang haq dan nasehat kepada kaum muslimin secara umum.


PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku yang memiliki judul lengkap Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Para Ulamanya yang Mukhtabar ini ditulis oleh Tim Ahlul Bait Indonesia cetakan keempat Desember 2012, dengan kata pengantar dari Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, MA.

Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, MA juga telah menulis buku yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan ! Mungkinkah ? Kajian Atas Konsep Ajaran Dan Pemikiran diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati Ciputat Tangerang cetakan pertama Maret 2007 M / Rabiul Awwal 1428. Bukunya ini penuh dengan tikaman-tikaman terhadap para sahabat seperti Umar bin Khaththab dan Muawiyah, berdusta atas Abu Hanifah, dan menyatakan bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif ( Lihat bahasan atas buku ini didalam Majalah Al-Furqon Tahun ke-8 Edisi 8 Rubrik Kitab ).

TIKAMAN PENULIS TERHADAP PARA SAHABAT NABI

Penulis mengatakan bahwa di antara sahabat ada yang munafik, sebagaimana di dalam hal. 52 : Al-Quran bercerita tentang kaum munafik yang notabene adalah orang Muslim yang hidup pada waktu hidup Nabidan, karena itu, dalam definisi umum yang berlaku, dapat disebut sebagai sahabatdan mengecam mereka dengan keras .

Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan miring yang lainnya dari penulis kepada para sahabat.
Kami katakan : Demikianlah penulis mencela para sahabat Rasulullah ( dengan menyatakan bahwa di antara sahabat ada yang munafik padahal orang-orang munafik berada di kerak paling dalam dari neraka, ini menunjukkan kebodohan yang sangat dari tim penulis terhadap para sahabat. Para ulama telah menjelaskan tentang siapakah yang dimaksud dengan para sahabat Nabi :
Al-Imam Bukhari berkata tentang definisi sahabat :
من صحب النبي صلى الله عليه وسلم أو رآه من المسلمين
” Orang yang bersahabat dengan Nabi ( atau yang melihat beliau dari kaum muslimin ” ( Shahih Bukhari 4/188 ).
Al-Imam Ali bin Madini berkata :
من صحب النبي صلى الله عليه وسلم أو رآه ولو ساعة من نهار
” Orang yang bersahabat dengan Nabi ( atau melihat beliau walau hanya sesaat dari siang ” ( Lihat Thabaqah Hanabilah 1/243, Fathul Baari 7/5, dan Fathul Mughits 3/86 ).
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
كل من صحبه سنةً أو شهراً أو يوماً أو ساعةً أو رآه .له من الصحبة على قدر ما صحبه وكانت سابقته معه ،وسمع منه، ونظر إليه .
” Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi ( selama satu tahun atau satu bulan atau satu hari atau satu saat atau yang melihat beliau. Dia memiliki kedudukan sahabat sesuai dengan kadar pertemuannya dengan beliau, dan pernah bersama dengan beliau, mendengar dari beliau dan melihat kepada beliau ( Lihat kitab Tahqiiqir Rutbah Liman Tsabata Lahu Syarafush Shuhbah hal. 30-31 dan Al-Kifayah hal. 51 ).
Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata :
وأجمعوا على أن الخيار بعد العشرة في أهل بدر من المهاجرين والأنصار على قدر الهجرة والسابقة ، وعلى أن كل من صحب النبي صلى الله عليه وسلم ولو ساعة ، أو رآه ولو مرةً مع إيمانه به وبما دعا إليه أفضل من التابعين بذلك
” Para salaf telah sepakat bahwa orang-orang yang terbaik sesudah sepuluh orang sahabat yang terbaik pada Ahli Badar dari kaum Muhajirin dan Anshor sesuai dengan kadar hijrah dahulunya keislamannya, dan sepakat atas bahwa setiap orang yang bersahabat dengan Nabi ( walau sesaat, atau melihat beliau walaupun hanya sekali dengan mengimani beliau dan apa yang beliau dakwahkan, adalah lebih afdhol dengan hal itu dibandingkan dengan para tabi’in ” ( Risalah Ila Ahli Tsaghr hal. 171 ).
Definisi-definisi di atas membantah kebohongan tim penulis buku hitam Syiah ini yang menyatakan bahwa di antara para sahabat ada yang munafik, bahkan para sahabat semuanya adalah mulia dengan pemuliaan Alloh dan RasulNya, Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdady menyebutkan ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat di antaranya :
( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُِ (
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. ( At-Taubah : 100 ).
Kemudian beliau berkata : Hadits-hadits yang semana dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash Al-Quran, yang semuanya menunjukkan pada kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi kepada siapapun setelah rekomendasi Allah kepada mereka, Allah Dzat Yang Maha Mengetahui isi hati mereka… Ini adalah madzhab seluruh ulama dan yang dianggap perkataaannya dari fuqaha ( Al-Kifayah hal. 96 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Di antara pokok-pokok ahli sunnah adalah : selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah ( sebagaimana pensifatan Allah ( dalam firmanNya :
( وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. ( Al-Hasyr : 10).
Sikap ahli sunnah ini adalah merupakan ketaatan kepada Rasulullah ( terhadap sabdanya : Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya; seandainya seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infaq seorang dari mereka dan tidak juga mencapai separuhnya ( Muttafaq Alaih, Bukhary : 3673 dan Muslim : 2540 ).
Maka ahli sunnah menerima apa saja yang yang datang dalam Kitab, Sunnah, dan Ijma tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan mereka, ahli sunnah berlepas diri dari cara orang-orang rafidhah yang membenci dan mencaci para sahabat, dan berlepas diri dari cara orang-orang nawashib yang menyakiti ahlil bait dengan perkataan atau perbuatan… ( Aqidah Wasithiyyah hal. 142-151 ).
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi’ah yang batil adalah celaan mereka terhadap para sahabat Nabi !.

MENGIMANI IMAM 12

Di dalam hal. 22-23 penulis mengatakan : Oleh karena itu, Syiah meyakini bahwa sesudah Nabi Muhammad Saw. wafat ada seorang imam untuk setiap masa yang melanjutkan misi RasulullahSaw. Mereka adalah orang-orang yang terbaik padamasanya. Dalam hal ini, Syiah (Imamiyah) meyakini bahwa Allah telah menetapkan garis imamah sesudahNabi Muhammad Saw. pada orang-orang suci dari dzuriyat-nya atau keturunannya, yang berjumlah 12 orang yaitu: 1. Ali ibn Abu Thalib (Lihat Lampiran

1: Keutamaan Imam Ali r.a.), 2. Hasan ibn Ali Al-Mujtaba, 3. Husan ibn Ali Sayyidussyuhada, penghulu para syuhada, 4. Ali ibn Husain, 5. Muhammad Al Baqir, 6. Jafar ibn Muhammad Ash-Shadiq, 7. Musa
ibn Jafar, 8. Ali ibn Musa Ar-Ridha, 9. Mohammad ibn Ali Al-Taqi Al-Jawad, 10. Ali ibn Mohammad an-Naqi Al-Hadi, 11. Hasan ibn Ali Al-Askari, dan terakhir,12. Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi. Syiah meyakini bahwa Imam Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi masih hidup hingga sekarang ini, tapi dalam keadaan gaib, namun akan muncul kembali pada akhir zaman. Syiah meyakini bahwa kedua belas Imam tersebut di atas telah dinyatakan oleh Rasulullah Saw. (lihat Lam piran 2: Hadis 12 Imam) sebagai imam-imam sesudahnya Akan tetapi, perlu ditegaskan bahwa konsep imamah dan kemaksuman hanya berlaku pada 12 Imam penerus Rasulullah “.
Kami katakan : Demikianlah Syiah membatasi imamah hanya pada imam 12 ini, ini sangat mirip dengan orang-orang Yahudi membatasi imamah ( kepemimpinan ) pada keluarga Dawud sebagaimana tertera di dalam kitab-kitab mereka :
Bagi Dawud dan keturunannya dan rumahnya dan kursinya keselamatan selama-lamanya di sisi Rabb ( Al-Ishhah Tsani paragraf 33 ).
Raja Sulaiman diberkahi dan kursi Dawud tetap di depan Rabb selama-lamanya ( Al-Ishhah ke-2 paragraf 45 ).
Tidak henti-hentinya orang-orang Yahudi hingga saat ini terus meyakini aqidah ini dan memimpikan kembalinya singgasana Israel dan diangkatnya seorang keturunan Dawud atasnya. Di dalam Protokolat Zionis tertera : Dan sekarang aku akan membahas metode yang bisa menguatkan negara Raja Dawud, hingga berlangsung sampai hari akhir ( Protokolat ke-24 hal. 210 ).
Jumlah imam yang 12 ini dikatakan oleh orang-orang Syiah sebagai kesesuaian dengan jumalah asbath Bani Israil, hal ini menunjukkan begitu sangatnya kegandrungan orang-orang Syiah untuk menyerupai orang-orang Yahudi. Ash-Shaduq menulis sebuah judul dalam kitabnya Al-Khisal ( hal. 465 ) : Alloh telah mengeluarkan dari Bani Israil 12 sibthan, dan menebarkan dari Hasan dan Husain 12 sibthan .
Keyakinan orang-orang Yahudi dan orang-orang Syiah bahwa imamah terbatas pada orang-orang tertentu adalah keyakinan yang batil, di antara dalil yang menunjukkan kebatilannya adalah firman Alloh ( :
Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. ( Al-Anbiya : 105 ).
Dalam ayat ini mensyaratkan keshalihan dalam mempusakai bumi dan menguasainya dan tidak membatasinya pada kelompok atau ras sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Syiah.
Dan Alloh ( berfirman:
Dan kami jadikan di antara mereka itu para imam ( pemimpin ) yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami. ( Al-Anbiya : 105 ).
Ayat di atas menunjukkan bahwa bahwa imamah sesungguhnya didapatkan dengan dengan keimanan dan kesabaran dan bukan secara warisan sebagaimana sangkaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Rafidhah.

BERARGUMEN DENGAN HADITS-HADITS PALSU

1. Di dalam hal. 115-116 penulis membawakan riwayat dari Abu Dzar yang menyatakan bahwa Ali bershadaqah dengan sebuah cincin dalam keadaan dia sedang ruku, maka Nabi ( bertanya kepada peminta : Siapakah yang memberimu cincin ini ? , maka dia menjawab : Orang yang ruku itu . Maka Alloh ( menurunkan ayat :

(( إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ…(
Kami katakan : Ini adalah riwayat yang palsu dengan kesepakatan ulama ( Lihat Al-Fawaidul Majmu’ah hal. 316 dan Tadzkiratul Maudhu’at hal. 84 ).
2. Penulis di dalam hal. 113-114 membawakan riwayat tentang tafsir surat Al-Maidah ayat 67 :
(( يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ …(
Bahwa ayat ini turun atas Rasulullah ( pada hari Ghadir Khumm tentang Ali bin Abi Thalib Nabi Saw. diperintahkan oleh Allah untuk meng angkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali a.s. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya.
Kami katakan : Ini adalah riwayat yang palsu sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Al-Jauraqani di dalam Al-Abathil wal Manakir 2/366 ).
3. Di dalam hal. 137-138 penulis membawakan hadits Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya .
Kami katakan : Ini adalah hadits yang palsu, Al-Imam Yahya bin Main berkata : Hadits ini adalah dusta tidak ada asalnya.
Al-Imam Ibnu Adi berkata : Hadits ini adalah palsu.
Al-Imam Ibnu Hibban berkata : Hadits ini tidak asalnya ( Lihat Al-Maudhuat 1/354 dan Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wal Maudhuah 6/518 ).

KEDUSTAAN-KEDUSTAAN BUKU INI

Penulis berkata di dalam hal. 167-168 membawakan riwayat Dari Jabir Al Jufi, ia menuturkan: Aku pernah mendengar Abu Jafar alaihissalaam berkata: Tidaklah ada seseorang yang mengaku telah menghafal Al Quran semuanya sebagaimana tatkala diturunkan melainkan ia adalah seorang pendusta, dan tidaklah ada orang yang berhasil mengumpulkan dan menghafalnya secara utuh sebagaimana ketika diturunkan selain Ali bin Abi Tholib dan para imam setelahnya.

Kemudian penulis berkata : perlu diketahui bahwa dalam hadis tersebut tidak ada penegasan akan terjadinya pengurangan pada Al-Quran Al-Karîm. Sebab kata جمع disusul dengan kata حفظ , yang memberikan makna bahwa yang dihafal dan dikumpulkan oleh Imam Ali dan para Imam suci Syiah a.s. adalah ilmu tentang seluruh teks ayat Al-Quran beserta takwil, tafsir, dan kandungannya baik yang zhahir maupun yang bathin. Dan bukan sekadar menghafal teks ayat-ayat suci Al-Quran.
Selain itu, pemaknaan seperti itu sangat sejalan dengan ke yakinan Al-Kulaini yang memasukkan hadis di atas dalam bab khusus dengan judul: Bahwa sesungguhnya tidak ada yang mengumpulkan Al-Quran seluruhnya, kecuali para imam dan mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Quran .
Kami katakan : Demikianlah penulis bersikeras mengimani riwayat di atas yang merupakan tuduhan bahwa Al-Quran yang utuh adalah yang ada pada mushaf Ali Radhiyallahu Anhu.
Ini adalah kedustaan Syiah atas nama Al Baqir Abu Jafar rahimahullah dengan bukti sahabat Ali radhiallahu anhu sendiri selama masa khilafahnya -padahal beliau berada di kota Kuffah- tidak pernah beramal selain dengan Mushaf yang telah dikumpulkan dan disebar luaskan serta ditetapkan untuk diamalkan di seluruh penjuru -sebagai karunia dari Allah taala- oleh khalifah Utsman radhiallahu anhu, hingga zaman kita dan hingga hari kiamat. Seandainya sahabat Ali radhiallahu anhu memiliki mushaf lain, -sedangkan ia adalah seorang khalifah dan penguasa, di seluruh wilayah kekuasaannya tidak ada yang berani menentangnya- niscaya ia akan mengamalkannya, dan memerintahkan kaum muslimin untuk menyebar luaskan dan mengamalkannya. Dan seandainya ia memiliki mushaf lain, sedangkan ia menyembunyikannya dari kaum muslimin, maka ia adalah seorang pengkhianat terhadap Allah, Rasul-Nya dan agama islam!!
Sedangkan Jabir Al Jufi yang mengaku mendengar ucapan keji tersebut dari Imam Abi Jafar Muhammad Al Baqir, walaupun dianggap berkredibilitas tinggi (dapat dipercaya) menurut mereka, akan tetapi sebenarnya ia telah dikenal oleh imam kaum muslimin sebagai pendusta. Abu Yahya Al Himmani berkata: Aku mendengar Abu Hanifah berkata: Aku tidak pernah melihat dari orang-orang yang pernah aku temui seorang pun yang lebih utama dibanding Atha, dan tidak seorang pun yang lebih pendusta dibanding Jabir Al Jufi.( Lihat Al-Khuthuth al-Aridhah hal. 17-18 oleh Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib ).
Di antara kedustaan lain yang mereka bawakan di dalam buku ini adalah dongeng mereka tentang adanya Mushaf Fathimah yang mereka koarkan dengan mengatasnamakan Al-Imam Jafar Ash-Shadiq, penulis buku ini berkata di dalam hal. 205-206 : Al-Kulaini telah meriwayatkan dengan sa nad bersambung kepada Husain ibn Abu Al-Alâ, yang di dalamnya dia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ash-Shadiq) berkata, “Ada padaku Al-Jafr Al-Abyadh (putih) Dan Mushaf Fathimah. Aku tidak mengatakan bahwa di dalamnya terdapat ayat Al-Quran. Akan tetapi, di dalamnya terdapat apa-apa yang umat manusia butuh kepada kami dan kami tidak butuh kepada seorang pun .
Kemudian penulis membawakan lima riwayat lain yang semakna dan menyetujuinya.

PENUTUP

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat .

Semoga sedikit yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat buku ini dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalanNya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan. Amin.
والله أعلم بالصواب

Resensi buku : Hitam di Balik Putih, Bantahan terhadap Buku Putih Madzhab Syiah

Sikap kritis dalam bentuk karya tertulis merupakan suatu tradisi dalam sejarah peradaban Islām, sebut saja misalnya Imam al-Ghazālī (W. 1111), menulis Tahāfut al-Falāsifah (Ketidakkoherenan Para Filosof) karena menolak pemikiran al-Fārābī dan Ibnu Sīnā. Selain Ghazali, Fakhruddīn ar-Rāzī juga menulis banyak komentar kepada Ibnu Sīnā. Sebenarnya, Fakhruddīn ar-Rāzī bukan sekadar mengomentari, tetapi lebih dalam lagi, beliau juga mengkritik pemikiran Ibnu Sīnā. Maka dari dua penulisan tersebut, tradisi kritis melalui buku memang telah berkembang mapan dalam sejarah peradaban Islām. Ketika sebuah pemikiran yang lebih komprehensif dan mendalam berusaha meluruskan kekeliruan dalam pemikiran lain yang disusun dalam misi tertentu.
Kita sepakat, pastinya perdebatan, pertentangan, apalagi perbedaan bukan hanya dalam ranah Filsafat. Perdebatan, pertentangan apalagi perbedaan pemikiran juga terjadi dalam akidah dan syariah. Berbagai aliran mazhab telah menulis banyak sekali karya yang menunjukkan keunggulan mazhabnya dan menunjukkan kekeliruan mazhab lainnya.
Syiah dan Sunni telah menjalani pertentangan dalam waktu yang sangat panjang. Banyak sekali buku, baik dari kalangan Sunni dan Syiah yang saling menghujat dan menunjukkan kekeliruan masing-masing mazhab. Akan tetapi selain buku yang saling mengkritik, upaya-upaya perdamaian juga dilakukan untuk mendekatkan Syiah dan Sunni, baik pada tingkat nasional ataupun internasional. Upaya mendamaikan keduanya dilakukan seperti oleh Majma’ Taqrīb bayn al-Madzāhib, sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Namun, terkadang upaya tersebut juga bukan terjadi tanpa kekeliruan. Sebabnya adalah hal-hal yang jelas bertentangan disederhanakan menjadi persoalan yang tidak mendasar. Selain itu, kesepakatan-kesepakatan mungkin terjadi di atas kertas dan di dalam forum, namun di lapangan, kesepakatan-kesepakatan itu sama sekali tidak dilaksanakan.
Belum lama ini, Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia telah menerbitkan Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar, Sebuah Uraian untuk Kesepahaman demi Kerukunan Umat Islām (2012). Buku yang diterbitkan dari kalangan Syiah ini bertujuan untuk menjelaskan anggapan-anggapan yang keliru tentang Syiah. Seakan-akan Buku Putih Mazhab Syiah ingin menunjukkan inilah Syiah yang sebenarnya. Kekeliruan-kekeliruan pandangan tentang Syiah yang telah dilakukan, baik dari kalangan Syiah sendiri apalagi dari kalangan Sunni mereka jelaskan duduk perkaranya di sini. Dalam niatannya Buku Putih Mazhab Syiah seakan-akan memberikan penjelasan atas berbagai kekeliruan pandangan terhadap Syiah.
Buku Putih Mazhab Syiah ini menggambarkan posisi Syiah dalam berbagai aspek pemikiran. Di antara isi Buku Putih Mazhab Syiah adalah menegaskan jika Syiah menerima al-Qur’ān dan al-Sunnah al-Mu’tabarah, menegaskan prinsip al-Imāmah (kepemimpinan), menerima sebagian para Sahabat, dan membenarkan nikah Mut’ah.
Buku Putih Mazhab Syiah menggambarkan jika ada di antara penganut Syiah yang menolak al-Qur’ān, maka penganut Syiah tersebut termasuk orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islām. Mengenai para Sahabat, Buku Putih Mazhab Syiah menunjukkan jika Syiah juga menerima para Sahabat Nabi. Buku Putih Mazhab Syiah memuat 197 nama para Sahabat Nabi yang diterima kalangan Syiah. Namun, di antara nama-nama tersebut, Abū Bakr Ṣiddīq, ‘Umar bin Khattāb, ‘Usmān bin ‘Affān, ‘Abdur Rahmān bin ‘Auf, Ṭalḥah bin ‘Ubaydillāh, Zubayr bin Awwām, Sa’d bin Abī Waqqās, Sa’īd bin Zayd, Abū ‘Ubaidah bin Jarrāh, sama sekali tidak disebutkan. Memang, kalangan Syiah menolak Abū Bakr ra, ‘Umar ra, ‘Usmān ra, dan para Sahabat Nabi lainnya. Padahal, mereka telah mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk Islām. Konsep Sahabat kalangan Syiah memang bertentangan dengan apa yang diyakini mayoritas umat Islām di dunia.
Buku-buku Syiah banyak sekali yang melaknat, menghujat, mencaci maki, mengumpat dan menghina Abū Bakr, ‘Umar , ‘Utsmān dan para Sahabat Nabi lainnya. Abbas Rais Kirmani, dalam bukunya, kecuali ‘Alī, menyebut Abū Bakr dan ‘Umar sebagai Iblis (Al-Huda, 2009, hal. 155-156). Emilia Renita AZ, istri Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya 40 Masalah Syi’ah, menyebutkan “Syiah melaknat orang yang dilaknat Fatimah.” (Bandung: IJABI, editor Jalaluddin Rakhmat, Cet ke 2. 2009, hal. 90). Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Meraih Cinta Ilahi, menyebutkan dan yang dilaknat Fatimah adalah Abū Bakr dan ‘Umar . (Depok: Pustaka IIman, 2008. Dalam catatan kaki, hal. 404-405, dengan mengutip riwayat kitab al-Imāmah wa al-Siyāsah).

Mengenai Imāmah, Buku Putih Mazhab Syiah menegaskan jika Allāh telah menetapkan garis Imāmah sesudah Nabi Muḥammad Ṣaw ada pada orang-orang suci dari dhurriyah-nya atau keturunannya, yang berjumlah 12 orang. Buku Putih Mazhab Syiah juga menegaskan jika Syiah meyakini bahwa ucapan seorang imam maksum, perbuatan, dan persetujuannya, adalah ḥujjah shar’iyyah, kebenaran agama, yang mesti dipatuhi. Konsep Imāmah kalangan Syiah memang rancu dan keliru. Kalangan Sunni menolak  kemaksuman 12 imam yang disucikan oleh kalangan Syiah. Buku Putih Mazhab Syiah keliru tatkala membahas isu-isu Ikhtilāf Ahl al-Sunnah dan Syiah, mereka tidak memasukkan pembahasan mengenai Imāmah. Padahal, isu Imāmah ini merupakan persoalan utama antara Sunni dan Syiah. Mungkin luput atau sengaja digeserkan fokusnya?
Bila ingin menguntainya satu per satu, sangat banyak kekeliruan yang terdapat dalam Buku Putih Mazhab Syiah. Ustadz Amin Muchtar, dalam buku Hitam dibalik Putih ini, menunjukkan secara spesifik dan bertanggung jawab tentang berbagai kekeliruan Buku Putih Mazhab Syiah. Buku bantahan terhadap Buku Putih ini, secara garis besar memuat tentang kerancuan konsepsi metodologis hadis kaum Syi’ah, karakteristik kitab al-Kafi, dan sikap penulis “Buku Putih”terhadap al-Kafi, Taqiyyah Atau Ilmiah?
Tentang kerancuan konsepsi metodologis hadis kaum Syi’ah, penulis buku mengawalinya dengan uraian tentang konstruk epistemologi hadis yang dibangun oleh Syi’ah, yaitu (1) persoalan asal pengetahuan atau sumber, dalam hal ini siapa sumber utama yang bisa mengeluarkan hadis; (2) apa hakekatnya, artinya bagaimana kedudukan hadis menurut Syi’ah; dan (3) persoalan verifikasi, yaitu bagaimana mengukur validitas atau otentisitas hadis, sehingga bisa dijadikan dasar hukum yang kuat.

Sebagai dua hal yang bertentangan, justru “Buku Hitam”lah yang mengungkapkan kebenaran, sementara Buku Putih hanya membuat pembenaran atas kekeliruan. Dalam uraian “Buku Hitam” ini, Ustadz Amin Muchtar ingin mengajak pembaca agar mengetahui sumber hadis dalam keyakinan Syi’ah, yang membedakannya dengan pandangan Ahlus Sunah. Selanjutnya, akan diketahui pengaruh Imamiyah pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi, hadis tidak sampai pada tingkatan shahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan. Selain itu agar diketahui pula perbedaan kriteria yang ditetapkan oleh ulama Syi’ah baik antara periode mutaqaddimin dengan mutaakhirin, maupun antara ulama Syi’ah mutaakhirin dengan mu’ashirin (modern). Perbedaan ini berimplikasi terhadap kualitas hadis di kalangan Syi’ah. Pembahasan ini diakhiri dengan pemaparan kriteria keshahihan hadis versi al-Kulaini, penyusun kitab al-Kafi.

 “Hitam di Balik Putih”, karya Amin Muchtar buku yang menelanjangi kekeliruan “Buku Putih Mazhab Syiah” keluaran Ijabi.
Penulis memandang penting menyampaikan berbagai aspek ini sebagai suatu fakta bahwa di kalangan ulama Syi’ah terdapat problem metodologis. Selain itu, agar diketahui tolak ukur kelayakan metodologi yang problematik ini digunakan sebagai standar validitas kitab al-Kafi yang telah mapan.
Selanjutnya tentang karakteristik kitab al-Kafi, penulis “Buku Hitam” ini menjelaskan siapa Imam Al-Kulaini, sebagai penulis kitab al-Kafi, dan apa saja yang terkandung di dalam kitab al-Kafi itu. Lagi-lagi penulis Buku Hitam memandang penting menyampaikan hal ini sebagai suatu fakta bahwa di kalangan ulama Syi’ah terdapat perbedaan dalam menetapkan beberapa aspek dalam kitab itu, baik aspek kitab (topik), bab, maupun hadis. Selain itu, juga diuraikan tentang unsur epistemologi kitab al-Kafi, sesuai kajian teoritis pada pembahasan sebelumnya, berkaitan dengan sumber hadis atau asal pengetahuan, hakekat hadis, dan persoalan verifikasi hadis yang terkandung di dalam kitab al-Kafi.

Dalam uraian ini, penulis “Buku Hitam” hendak mengajak pembaca agar mengetahui bahwa unsur-unsur epistemologi itu pada dasarnya telah terpenuhi di dalam kitab al-Kafi. Dari situ pembaca akan faham, mengapa ulama Syi’ah sepakat menetapkan bahwa semua hadis dalam kandungan al-Kafi derajatnya shahih. Selain itu, dapat diketahui pula kelemahan argumentasi pihak Sy’iah “yang menolak” kehujahan hadis-hadis dalam al-Kafi.
Terakhir, tentang sikap penulis Buku Putih terhadap al-Kafi. Pada bagian ini, penulis Buku Hitam di balik Putih menampilkan beberapa pernyataan dari penulis Buku Putih Mazhab Syi’ah yang menunjukkan sikap penolakan terhadap status hadis-hadis dalam kitab al-Kafi. Sikap ini dikonfrontasikan oleh Ustadz Amin Muchtar dengan beberapa fakta dalam kitab-kitab Syi’ah sendiri, yaitu pandangan para tokoh yang sama sekali tidak disinggung dalam Buku Putih itu.
Pandangan para tokoh Syiah ini dipandang penting oleh Ustadz Amin Muchtar untuk disampaikan dalam buku Hitam di balik Putih—dengan tanpa  bermaksud ikut campur urusan “rumah tangga” Syi’ah—mengingat pentingnya transparansi arus data dan informasi untuk penyadaran umat, khususnya umat Syi’ah di Indonesia, karena pandangan “Kubu” ini sangat jarang diungkap oleh para tokoh Syi’ah di Indonesia. Untuk keperluan itu,  penulis buku Hitam di Balik Putih  menggunakan metode verifikasi (tahqiq) dan pengunjukan teks (takhrij an-nash) yang dikemukakan penulis Buku Putih dalam rangka penguatan argumentasi ilmiah, atau….taqiyyah-nya?
Selain itu, penulis “Buku Hitam” ini berupaya menguji berbagai pernyataan dalam Buku Putih dengan mengunakan standar ilmiah versi ulama Syi’ah mutaakhirin, untuk diketahui validitas argumentasi dan konsistensi mereka.
Dalam pengungkapan fakta dan data, penulis “Buku Hitam”  berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan teks asli setiap pendapat ulama Syi’ah yang dirujuk dan tidak lupa menyebutkan sumber-sumber primer dan sekundernya, baik yang ditulis oleh “Kubu Akhbari” maupun “Kubu Ushuli”, seperti diklaim oleh penulis Buku Putih.
Dengan demikian, upaya Ustadz Amin Muchtar menunjukkan kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam Buku Putih Mazhab Syiah perlu dihargai. Karena ia melihat banyak inkoherensi, penyederhanaan masalah, kekeliruan logika, kesalahan-kesalahan lainnya yang terdapat dalam buku tersebut.
Namun, buku Hitam di balik Putih karya ustadz Amin Muchtar ini belum mengungkap sepenuhnya kekeliruan yang terdapat dalam Buku Putih Mazhab Syiah. Sangat bisa dimaklumi, karena ini adalah kritik bagian pertama. Oleh sebab itu, kritik lanjutan dari Ustadz Amin Muchtar sangat diperlukan, agar dapat memberikan gambaran bahwa Buku Putih Mazhab Syiah memang mengandung kekeliruan-kekeliruan dan memperdalam kekeliruan tersebut dengan penjelasan mereka.
Apad Ruslan
Penulis, Pembina Majelis Taklim (MT) Khumaira, tinggal di Bandung

Sumber :

http://www.suara-islam.com/read/index/12416/Membongkar-Kesalahan-Buku-Putih-Mazhab-Syiah



Kebetulan Buku Putih Mazhab Syiah akan dikaji (diperdebatkan) dalam sebuah debat ilmiah antara seorang ulama muda NU dan dua orang pakar Syiah beberapa hari lagi (26-01-2015) di IAIN Jember. Hati saya pun tergelitik untuk memberi sedikit kesan saya tentang buku tersebut, bukan untuk menggurui, hanya sebagai info bagi teman-teman yang barangkali belum terlalu memahami perihal konten buku tersebut. Tentu saja, siapa pun boleh berbeda pendapat.

Buku tersebut dibuat dengan tujuan sebagai sarana pendekatan antara Sunni-Syiah yang sampai detik ini kerap diwarnai konflik. Saya secara pribadi tentu saja menyambut hangat kehadiran buku tersebut. Sebagai seorang akademisi, saya sangat mendukung niatan baik di balik penyusunan buku tersebut. Sudah tak terhitung jumlahnya darah kaum muslim yang mengalir akibat perseteruan abadi dua kubu ini. Sudah saatnya masing-masing pihak saling berdamai dalam penuh kerukunan. Di lain pihak, sebagai seorang pengkaji Ahlussunnah Wal Jamaah dan aliran-aliran ekstrem, saya juga gembira karena buku tersebut, seperti halnya kebanyakan buku Syiah berbahasa Indonesia lainnya, bukanlah buku yang terlalu sulit dipatahkan argumennya. Tetapi tidak etis rasanya bila saya bahas dahulu kelemahan-kelemahan buku tersebut sekarang tatkala bedah bukunya belum terjadi.

Jadi, saya hanya akan menulis tentang sisi lain konten buku tersebut yang bagi saya sangat menarik untuk dikomentari. Mungkin saja ini akan luput dari bahasan di bedah buku nanti. Apa itu? Tak lain adalah kata pengantar yang ditulis oleh tokoh besar yang kajian tafsirnya di televisi tiap bulan Ramadhan intens saya ikuti. Beliau adalah Prof. Dr. Quraish Shihab. Ya, ulama pakar tafsir ini memang seringkali tampil mengejutkan dengan pembelaannya terhadap Syiah meskipun di pengantar buku tersebut juga beliau menampik tuduhan bahwa beliau adalah Syiah. Di buku tersebut beliau mengatakan: Buku Putih Mazhab Syiah merupakan upaya memperkenalkan Syiah agar difahami dengan benar.

Dalam kata pengantarnya, Pak Quraish menulis beberapa hal yang menurut saya aneh. Kata aneh ini dalam peristilahan kitab berbahasa Arab biasa disebut gharib atau syad. Ungkapan ini biasa dipakai bila ada pendapat seseorang yang dianggap ahli tapi beda sendiri/menyalahi konsensus. Hemat saya, kata ini adalah versi halus dari kata ngawur, seandainya yang berkata bukan dianggap ahli, biasanya redaksinya lebih kasar seperti fasid, bathil dan sebagainya. Langsung saja, berikut ini beberapa keanehannya:

Pertama, yang paling aneh dari semua keanehan, Pak Quraish menulis tentang dialog yang terjadi antara Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii. Dialognya begini: Pernah terjadi dialog ulama dari berbagai mazhab. Imam Abu Hanifah berkata, Yang tidak shalat, kafir. Lalu Imam Syafi i berkata, Tidak, dia tidak kafi r, lalu bertanya, Bagaimana caranya orang yang tidak shalat yang Anda katakan sebagai kafi r tersebut agar dapat masuk Islam kembali? Jawab Imam Abu Hanifah, Dia ucapkan dua kalimat syahadat. Lalu, Imam Syafii menyanggahnya dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah meninggalkan dua kalimat syahadat. Sehingga menjadi aneh kalau mengucapkan dua kalimat syahadat harus menjadi syarat agar dirinya dapat kembali menjadi Islam. Jadi, dia tidak kafi r, dia adalah Muslim yang berdosa, lanjut Imam Syafii. Apa keanehannya? Imam Abu Hanifah meninggal dunia tahun 150 H, tepat setelah meninggalnya beliau, lahirlah Imam Syafii. Aneh bukan bila bayi yang baru lahir berdialog dengan orang yang sudah meninggal sebelum ia lahir. Saya jadi teringat salah satu professor saya dulu yang berkata: Enak jadi professor; kalau benar dimaklumi karena sudah professor, tapi kalau salah juga dimaklumi karena sudah professor, maklum sudah tua. Tanpa mengurangi hormat saya pada Pak Quraish, dalam dunia ilmu hadis beliau bisa disebut sudah taghayyara yang menyebabkan hadis yang diriwayatkan tidak lagi kredibel seperti sebelumnya. Anehnya lagi, kenapa editor buku dan tim dari ABI tidak mengingatkan beliau akan hal sefatal ini? Sekedar bercanda, mungkin saja mereka semua sudah taghayyara.

Kedua, ketika Pak Quraish membantah bahwa dirinya Syiah, salah satu argumennya adalah: Syaikh Abdul Halim Mahmud, guru saya, dan saya akrab dengan beliau, berkata: Jangan beranggapan bahwa seorang yang berpendapat bahwa Sayyidina Ali ibn Abu Thalib lebih utama daripada Sayyidina Abu Bakar atau Utsman itu Syiah. Karena, seperti ditulis Syaikh Abdul Halim Mahmud, sejarah menunjukkan ada kelompok Mutazilah Bashrah yang bahkan memusuhi Syiah, tetapi menganggap Sayyidina Ali lebih afdhal daripada Sayyidina Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Yang beliau katakan itu memang benar, tidak semua yang menganggap Sayyidina Ali lebih utama dari ketiga tokoh itu adalah Syiah, tak perlu jauh-jauh pada kelompok Mutazilah Bashrah, di antara sahabat Nabi pun ada beberapa tokoh yang berpendapat seperti itu seperti halnya sudah maklum dari kitab-kitab tarikh. Yah, namanya saja ajang politik, wajar bila ada yang pro ini dan pro itu. Namun keanehannya adalah beliau menulis ini di buku yang nyata-nyata membela syiah dan menyebut bahwa pihak Sunni kerap kali berbohong tentang hakikat Syiah.

Sepertinya beliau lupa bahwa dalam sejarah, istilah Syiah pada saat munculnya pertama kali sudah tidak sama dengan istilah Syiah yang ada sekarang. Kalau dulu pertama kali yang dimaksud hanyalah Syiatu Ali atau pengikut Ali (dalam hal politik), tapi sekarang sudah jelas beda. Sayangnya pak Quraish menyampaikan itu di buku orang Syiah yang sekarang, bukan yang dulu itu. Tentu ini menimbulkan bias pemahaman.

Masalah bertambah rumit tatkala di buku tersebut Syiah menyebut 197 nama sahabat yang mereka akui periwayatannya dan ternyata nama ketiga sahabat utama (Abu Bakar, Umar dan Utsman) tidak masuk di antaranya dan kita semua sudah tahu alasannya bukan hanya karena menganggap Ali lebih utama dari mereka bertiga seperti yang disinyalir dari perkataan Pak Quraish. Sekedar info, Syiah, sebagaimana di buku tersebut dan banyak yang lain, membagi sahabat menjadi dua, ada yang baik dan yang munafik. Buku tersebut sudah menyebut 197 nama sahabat yang diakui baik, lalu kira-kira ketiga khalifah yang tidak disebut itu masuk dalam kategori mana? Sudah bisa ditebak.

Ketiga, dalam upayanya merajut kesepahaman, beliau berkata: Hal terpenting dalam upaya menuju kesepahaman ini adalah kebersatuan dalam akidah. Ini pun rumusannya tidak harus seragam atau sama persis. Yang terpenting adalah kesamaan kandungan dan substansinya. Syaikh Muhammad Abduh berkata bahwa Rukun Iman itu yang terpenting ada dua, yakni percaya kepada Allah dan Hari Kemudian. Perinciannya, menurut beliau, bahwa uraian tentang Hari Kemudian tak dapat diterima oleh akal kecuali melalui utusan Allah (Rasul), sehingga kita pun perlu beriman kepada Rasul. Rasul tak mungkin mengungkapkan itu melalui nalar nya sendiri, melainkan menerimanya dari malaikat. Maka iman kepada malaikat adalah hal yang sangat penting. Jadilah rumusan Rukun Iman berkembang dari situ. Keanehannya, bila betul substansi kesepahaman akidah sesederhana itu, maka tentu hampir tidak ada golongan yang bisa dianggap sesat karena semua sekte yang ada sekarang mengakui itu. Tetapi kenyataannya di buku tersebut juga Pak Quraish mengatakan: Kita tidak bisa memungkiri bahwa ada Syiah yang sesat. Memang ada sempalan Syiah yang menuhankan Ali atau yang mengatakan bahwa Ali lebih utama dari Nabi Muhammad saw tapi itu sudah musnah dan tidak ada yang membahas itu lagi sekarang.

Selain simplifikasi yang berlebihan, keanehan lain dari statemen di atas adalah Pak Quraish seolah melupakan siapa pihak yang menganggap persoalan imamah menjadi masalah Akidah yang tidak boleh diselisihi. Kalau hanya soal beriman pada Allah, hari akhir, Malaikat, Rasul dan kitab, tidak ada masalah dengan itu semua. Masalah utamanya adalah Syiah meyakini bahwa kepemimpinan Ali (dan keturunannya) merupakan wasiat dari Allah dan Rasul sehingga mengangkat orang lain berarti berkhianat pada Allah dan Rasul-Nya. Beda dengan Sunni yang menganggap imamah hanya soal kegiatan politik semata. Selama Syiah masih berpikir ekstrem seperti ini, kesepahaman apa yang mungkin terjalin? Dan siapakah yang selayaknya dinasihati untuk legowo mau menerima pihak lain yang berbeda?

Keempat, masalah penafsiran al-Quran dan hadis. Sudah maklum juga bahwa penafsiran itu berbeda-beda. Seperti halnya disebutkan di buku tersebut, kalangan Sunni pun punya banyak versi penafsiran tentang berbagai hal mulai tentang akidah, fikih dan tasawuf. Perbedaan-perbedaan penafsiran inilah yang menurut Pak Quraish menjadi sebab ketidaksepahaman. Beliau berkata: Perbedaan terjadi tatkala sudah memasuki wilayah penafsiran. Itu benar sekali, tetapi dalam kasus Sunni-Syiah, penafsiran siapakah yang selayaknya diperbaiki untuk menuju kesepahaman? Penafsiran Sunni yang memuliakan para Sahabat seluruhnya atau Syiah yang seringkali melewati batas dalam mengkritik sahabat tertentu yang dianggap mulia oleh Sunni? Penafsiran Sunni yang seluruhnya sepakat bahwa al-Quran terjaga dari tahrif atau penafsiran Syiah yang sampai detik ini tak seluruhnya sepakat apakah al-Quran yang ada sekarang betul-betul asli atau sudah dipalsu? Penafsiran Sunni yang memuliakan seluruh seluruh keluarga Nabi termasuk para istri beliau dan seluruh Bani Hasyim dan Bani Mutholib (yang berarti termasuk seluruh imam Syiah) atau penafsiran Syiah yang hanya getol memuliakan Ashabul Kisa saja (Ali, Siti Fatimah, Hasan dan Husain) dan terkesan menyepelekan yang lain (untuk tidak mengatakan kadang menghina)?

Itulah di antara pernyataan Pak Quraish yang menurut saya layak dikritisi. Namun harus diakui pula bahwa banyak poin yang benar dalam pengantar beliau dalam buku tersebut yang patut diapresiasi seperti bahwa Syiah itu banyak macamnya sehingga tidak ilmiah bila pernyataan satu golongan digeneralisir pada semuanya, bahwa Syiah sekarang sudah berbeda dengan Syiah yang dahulu (setidaknya sampai derajat tertentu), bahwa yang harus dirujuk adalah ulamanya bukan kaum awamnya dan bahwa ketegangan Sunni-Syiah harus diakhiri.

Perbedaan mendasar antara saya dan Pak Quraish sepertinya ada pada tahapan praktis ketika hendak merukunkan Sunni-Syiah. Dari uraiannya, Pak Quraish sepertinya lebih menyalahkan Sunni atas konflik dan ketaksepahaman yang ada sedangkan saya justru sebaliknya. Bila saja Pak Quraish membaca tulisan ini, mungkin beliau akan menyebut saya termasuk dari orang yang diistilahkannya sebagai terlambat lahir. Tapi biarlah, al-haqqu ahaqqu ˜an yuttaba.
Wallahu Alam. Bila ada yang benar, itu dari Allah dan bila ada yang salah, itu murni dari Saya.
======
*Catatan: Untuk penganut Syiah yang barangkali membaca ini, harap diperhatikan bahwa Saya (penulis) bukanlah penganut Wahabiyah. Seringkali bila ada yang mengkritik Syiah, maka langsung dituduh sebagai Wahabi sebagaimana para pengkritik Wahabi sering dituduh sebagai Syiah.
22 Januari 2015 pukul 16.22 ·
Publik

Grand Syaikh Al-Azhar (Bidang Hadith Dan Tafsir) : Menghina Sahabat Nabi Bukan Islam. Ulama Al-Azhar Menolak Syiah. Dewan Ulama Senior Saudi (Imam Masjid Al-Haram ) : Yang Menghina Istri Dan Sahabat Nabi (Ulama Madzhab Syi'ah) Kafir. Syiah (rafidhah) Kafir Tanpa Keraguan.
Bongkar Kepalsuan Buku Putih Mazhab Syiah
Buku "Syiah Menurut Syiah" Membongkar Semua Kesesatan Syiah Di Indonesia
Bahasan lengkap terkait “Kesesatan Syi’ah”
Musa Kazhim Al Habsyi (Militan Syi’ah, Pendengki Arab Saudi) : Syiah Dan Ilmu Hadis ? Bantahan Ilmiyah Dan Comprehensive.
Bantahan tambahan terhadap Quraish Shihab (syi'i) dan Ulil Abshar Abdalla (sepilis) yang membolehkan ucapan selamat natal
Koreksi Pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Quran
Kritik Atas Tafsir Al-Mishba [bagian 1]
Kritik Ilmiyyah Atas Pemikiran Dr. Quraish Shihab (Bagian Pertama)
Kritik Ilmiyyah Terhadap Pemikiran Dr. Muh. Quraish Shihab (Bagian 2)
Membongkar hubungan Quraish Shihab dengan Syi'ah dan Penyimpangannya mengenai tafsir Jilbab.
Membongkar Pemikiran Menyimpang Ulama Metro TV Quraish Shihab
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Telah Dijamin Surga
Grand Syaikh Al-Azhar (Bidang Hadith Dan Tafsir) : Menghina Sahabat Nabi Bukan Islam. Ulama Al-Azhar Menolak Syiah. Dewan Ulama Senior Saudi (Imam Masjid Al-Haram ) : Yang Menghina Istri Dan Sahabat Nabi (Ulama Madzhab Syi'ah) Kafir. Syiah (rafidhah) Kafir Tanpa Keraguan.
Biografi Syaikh Ali Musthafa Thantawi Rahimahullah 
(أديب الفقهاء و فقيه الأدباء )
Quraish Shihab, Syi’ah, dan Jilbab
Quraish Shihab, Tokoh Tafsir yang Akrab Dengan Kontroversi
QURAISY SYIHAB [bagian 2] Membolehkan "Selamat Natalan" dan Jilbab Tidak Wajib (bag 1) ?
Sahabat Melakukan Bid’ah Pada Masa Rasulullah ??
Sanggahan untuk :
(4). Bid’ah Menurut M. Quraish Shihab 
Sebut Nabi Muhammad tak dijamin surga, Quraish Shihab keliru tafsirkan dalil
Sederet Kekeliruan Quraish Shihab dan Kurangnya Amanah Ilmiah
Siapa Bilang Perdebatan Sunni-Syiah Sudah Usang
Taqrib Sunni – Syiah Gagasan Usang Yang Diulang. Pengakuan Syeikh Al-Qaradhawi: ‘Iran Menipu Saya’
[Peristiwa Lama Melawan Lupa] Prof. Dr. Quraish shihab, Umar Shihab, Azyumardi Azra, Amien Rais, dan Din Syamsuddin menyatakan mazhab syi’ah tidak sesat
Siapa Penggagas Agama Syiah?
Tafsir Husein Tabatabai [Syi’ah]
Tanggapan Terhadap M. Quraish Shihab Tentang Masalah Riba
Apa Kata Ulama Tentang SYIAH? Meraka Mengatakan, SYIAH BUKAN ISLAM..
Jika Engkau Berkata Syiah Tidak Sesat, Maka…
Nasihat Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-'Utsaimin Dan Syaikh Ali Hasan Al Halabi Bagi Pelaku Bid'ah. Hakikat Bid’ah Oleh As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki, Habib Umar Bin Hafidz, Mufti Mesir DR. Ali Jum'ah, DR. M. Quraish Shihab, Buya Yahya, Ust. Abdul Somad LC , Ust. Adi Hidayat, Habib Novel, Habib Rizieq Sihab Dan Abdullah Hadromi.
Takfiri Syiah ( ABI ) Jadi Bunglon Di Kantor Deputi VI Kemenko Polhukam, Dengan Memutar Balikan Dan Menyembunyikan Kejahatan Takfirinya Terhadap Al-Qur'an, Istri Dan Sahabat Nabi Serta Ahlus Sunnah !
Untuk Quraish Shihab, Umar Shihab, Alwi Shihab, Umar Shihab (Ketua Majelis Syuro IJABI), .....para Syi’aher militan……kamuflaser syi'aher.......para peternak “kambing hitam jahiliyah” wahabi dan pengadu domba NU-Wahhabi ??!! [gemar menuding wahhabi/penghina (sifat) Allah, al-Wahhab]….…..dan taqiyaher sejenis!!!!
Musa Kazhim Al Habsyi (Militan Syi’ah, Pendengki Arab Saudi), Kar-Bala (Haram Al-Husein) : AL-HUSEIN tak pernah MATI! Tak mungkin MATI! A-SYU-RA dan AR-BA-‘IN adalah setiap hari ! Labbayka YA HUSEIN ??!! Pembunuh Keji Husein Bin Ali RA Dan Ali Bin Abu Thalib RA Adalah Syi’ah Kufah (Keturunan Majusi-Persia, Tempat Keberadaan Abdullah Bin Saba’)
Mengapa Ulama Syiah Sangat Perhatian dengan Taqiyah?
Ustadz Farid: " Syiah Ini Agama Karangan, Jelas Berbeda Dengan Islam, Asyura Adalah Pendahuluan Untuk Revolusi Syiah”. Lakukan Penyimpangan Terhadap Agama, Syiah Melanggar Hukum Dan Berantas Kesesatan Syiah Lebih Efektif Dengan Kekuasaan
Ustadz Farid Okbah: Semua Syiah di Indonesia Rafidhah dan Menyesatkan

Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?
Al Qur’an Syi’ah = Al Qur’an Umat Islam ?! Apa Kata “Ulama Syi’ah” ?
Syi’ah Meyakini Kesucian Al-Qur’an Al Karim Yang Ada Saat Ini ?
Ulama Syiah Meyakini Adanya Tahrif (Perubahan) Al Qur’an, Bukan Kitab Petunjuk Dan Kuasa Allah Tidak Berlaku Sekarang !
Bualan Syi’ah Terkait Klaim Risalah Amman, Pengakuan Al-Azhar, Fiqh Ja’fari Dan Bagian Dari Islam.
Agama Syi’ah Mulai Terbentuk (Terorganisir) Pada Akhir Abad 3 H, Dengan Baru Memiliki Kitab Rujukan Tersendiri (Aqidah-Fiqih- Cara Ibadah-Dll), Yang Dibuat 200 Tahun Setelah Ja’far Shadiq Wafat. Sebelumnya Mereka Masih Sama Dengan Umat Islam (Ahlus Sunnah).
Laknat Allah Kepada Orang Yang Menyembunyikan Kebenaran Dan Tidak Ada Ke Imanan Bagi Orang Yang Membiarkan Kebid’ahan.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Percaya Sholat Sunni Ditolak Allah
Keluarga Nabi Dalam Pandangan Al-Qur’an Dan As Sunnah.

[akan tidak wajibnya jilbab, bukanlah produk beliau pribadi, akan tetapi pada hakekatnya hanyalah bentuk mengekor kepada salah seorang da'i liberal dari Mesir yang bernama Muhammad Sa'id Al-'Asymawi yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul "Haqiqot Al-Hijaab wa Hujjiyatul Hadits". Buku inilah yang menjadi pegangan dan menjadi bahan penukilan oleh Bpk Quraish Shihab dalam menelurkan fatwanya akan tidak wajibnya jibab !!!]
[rujukannya bukan Al-Quran dan Hadits tapi orang yang lahir di abad 19-20 ]
[Tayangan Tafsir Al-Misbah yang dibawakan Quraish Shihab di Metro TV pada Sabtu (12/7), ramai diperbincangkan di media sosial. Hal tersebut setelah mantan menteri agama terakhir era orde baru itu menyebut bahwa Nabi Muhammad tidak mendapat jaminan di surga.Sungguh berani lontaran ucapan ini, saya rasa tidak seorang Islampun di bumi ini -apalagi muslim berpendidikan- yang berani menyatakan "Nabi Muhammad tidak dijamin masuk surga". Sungguh ini adalah pernyataan yang menyakiti hati-hati kaum muslimin]
[Setelah mengagetkan kaum muslimin Indonesia dengan fatwa sesatnya yang intinya "Boleh tidak berjilbab", ternyata Prof. DR. Quraiys Syihab –semoga Allah memberi hidayah kepadanya- juga mengagetkan rakyat muslim Indonesia dengan fatwanya "Boleh mengucapkan selamat hari natal"]
Jika Merujuk Pada Fatwa Super Grand Syaikh Al-Imam Malik Rahimahumallah Dan Al-Imam Al-Bukhari Rahimahumallah, Maka Prof.DR. (Aqidah Dan Filsafat) Ahmad Thayyib Kafir ?(berikut artikel terkait syiah lainnya)
Habib Zein Alkaf : Syi’ah Bukan Saudara, Tapi Musuhnya Ahlu Sunnah. Terkuak, Syaikh Al-Azhar Ke Indonesia Bersama Mufti Syi’ah Lebanon. MUI Sesalkan Pernyataan Muhammad Ath Thayyib Dan Tetap Akan Mengeluarkan Fatwa Tentang Kesesatan Syi'ah
Kehadiran Grand Syeikh Al Azhar At Thayyeb Di Indonesia Memperkuat Propaganda Sesat Syiah. Empat Imam Mazhab Dan beberapa Ulama Islam Terkemuka Menyatakan Syiah Bukan Islam. Syi’ah Saudara Muslim ? Jangankan Taqrib, Tasamuh Saja Mustahil ! Apakah Dia Pernah Baca Kitab-Kitab Rujukan Syiah ? Ulama Saudi (Juga Penguasanya, Membela Umat Islam, Tidak Berlumuran Darah) Gemanya Lebih Didengar Di Seluruh Dunia Islam.
Menimbang Syi’ah Ajaran Syi’ah, Rukun Iman: Hari Akhir
Apakah Point ke (2) Risalah Amman "Iman Kepada Qadha’ dan Qadar" Sesuai Dengan Keyakinan Syi'ah Rafidhi ?
Ucapan Dungu (Ahmaq) dan Bodoh (Jaahil) tokoh umat Islam dan tokoh masyarakat yang empati dan simpati dengan syiah.
Cuplikan Aqidah Busuk Syiah : Pantas Syiah Menghina Para Sahabat, Allah Saja Dihina
Mengapa Syiah Begitu Akrab Dengan Non Muslim (Alwi Shihab Mendukung Pemimpin dari Non Muslim) ?
Terbukti Syi’ah Lahir Dari Rahim Yahudi.
Fatwa Al-Imam Al-Albani Rahimahullah Tentang Pengkafiran Khumaini (Rujukan Taqlid Agung Pemerintah Iran)

Arab Saudi Melarang Sufi (Tasawuf) : Tarekat Tijaniah, Qadiriyah Dan Naqsyabandiyah, Makanya Tidak Ada Aliran Sesat. Indonesia Perlu Lembaga Semacam Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta.
Ahlul Bait Ahlus Sunnah Beda dengan Ahlul Bait Syiah
Ahlul-Bait Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam
Apakah Syiah Dikategorikan Sebagai Orang Kafir
Abu Lahab, Paman Nabi, Putranya Abdul Muthalib (Saudaranya Abdullah Ayah Rasulullah), Masuk Neraka ! Nasab Tidak Tidak Menolongnya.
Alwi Shihab ar Rafidhi : Iran dan Indonesia Siapkan “Islam yang Benar dan Moderat ” ? !
AWAS!! Risalah Amman - Seruan Sesat Penyatuan Semua Madzhab Sahihah & Sesat
Bagi Syiah; Abu Hanifah Adalah Nashibi, Kafir Dan Halal Darahnya.Kriteria Nashibi (Nawashib) Dan Sikap Syiah Terhadapnya
Habib Salim Al-Muhdor: Mazhab Ahlul Bait Itu Bohong!
Habib Ahmad Zein Al Kaff : Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda, kita hanya berbeda dalam masalah furu’iyah (cabang) dengan Wahabi/salafi
Habib Zein Alkaf : Syi’ah Bukan Saudara, Tapi Musuhnya Ahlu Sunnah. Terkuak, Syaikh Al-Azhar Ke Indonesia Bersama Mufti Syi’ah Lebanon. MUI Sesalkan Pernyataan Muhammad Ath Thayyib Dan Tetap Akan Mengeluarkan Fatwa Tentang Kesesatan Syi'ah
Islam (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) VS Syiah !! , BUKAN Syiah VS Wahhabi !
“Islam Moderat” Dan Misi Barat
Imam Besar Al-Azhar Serukan Eropa Dukung Lembaga Islam Moderat. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi: Islam Moderat Isinya Ya Liberalisasi , sesat
Kaum Munafik Dan Perang Pemikiran
Kejinya Syi’ah (Majusi), Menuduh Asya’irah ('Asyariyah) Kafir, Musyrik, Majusinya Umat Ini, Lebih Hina Dan Rendah Dalam Memaknai Sifat Dan Asma Allah SWT.
Kesepakatan Umat (Ulama) Kitab Shahih Al-Bukhari Dan Muslim, Kitab Yang Paling Shahih Setelah Al-Qur’an,Kecuali Golongan Syi’ah/Taqiyaher/Kamuflaser Yang Tidak Mengakui Keberadaan Keduanya.
Kedudukan Shahih Bukhari Muslim [bagian I]
Ketika Banyak Ulama Yang Membingungkan,Carilah Ilmu Syar'i Di Madinah
Kenapa menghadapi Syiah lebih sulit, inilah masalahnya
Kejahatan Takfirinya Terhadap Al-Qur'an, Istri Dan Sahabat Nabi Serta Ahlus Sunnah !
Konferensi “Bagaimana Cara Mengalahkan Islam?” Rencana Mereka, Kyai-Kyai Kelompok Mayoritas Mengubah Tafsir Al-Qur`An Dan Hadits-Hadits, Dengan Target Menghentikan Otoritas Ulama.
Larangan Menafsirkan Al-Qur’an Dengan Pendapat Sendiri. Kaedah Penting Dalam Memahami Al Qur’an Dan Hadits.
Mantan Presiden Iran, Hashemi Rafsanjani, Mengakui Syi’ah Takfiri Tulen, Penyebab Lahirnya Al-Qaida/ISIS. Respons Ulama Sunni Terhadap Pengkafiran Sahabat Rasulullah SAW
Masih Ada Yang Bilang Syiah Tidak Sesat, Ngaji Dimana? Hindari Penyebutan Islam Sunni Dan Islam Syiah. Jangan Duduk-Duduk Dengan Syiah,Syiah Indonesia Menganggap Abu Bakar, Umar, Dan Utsman Bukan Pemimpin Yang Sah !
Masukan Untuk Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Terkait Risalah Amman
Pendapat ulama rujukan NU sama dg wahabi
Prof. Dr. Ali Musthofa Ya’kub: Jangan Mau Jadi Jangkrik!
[Untuk Orang NU yang Mau Diadu Domba Dengan Wahhabi]
Prof Dr KH Ali Mustofa Ya’qub : Target Syiah di Tahun 2030, NU Bakal Hancur
Persatuan, Dengan Syarat Tak Mengusik (Mengkritik) 'Aqidah Dan Amalan Mereka ? Tidak Akan Terwujud Diatas Perbedaan Manhaj Dan Akidah (Manhaj Bunglon, Mutalawwin)
Persatuan yang dipertuhankan , Apa Sih Definisi Persatuan Yang BENAR?
Syi’ah Lebih Bahaya Dari Dajjal, Penyesat Umat, Berlawanan Dengan Aqidah Ahlul Bait. Di Indonesia Mereka Berani Menghujat Semua Sahabat, Istri Nabi Dan Imam-Imam Ahlus Sunnah (ucapan habaib)
Standar Kebenaran Bukan Pada Amalan Semata
Standarisasi Kebenaran Dalam Islam
Syiah – Grup Takfiri Terbesar Dunia. Kejahatan Syi'ah Khomeini Dan Iran
Sebelum Ada “ Tuduhan Wahabi (Salafi) “ , Sejak Abad 14 H Kejahatan Takfiri Syiah Mendominasi Sejarah Islam ! Hegemoni Syi’ah Sejak Hasan Al ‘Askari (Imam Ke-11).
syi'ah termasuk dalam klasifikasi /golongan Kafir Harbi
Syi'ah di Indonesia Sering Lakukan Kebohongan Publik
SYIAH jauh Lebih Berbahaya Dari ISIS [ Untuk Pendusta Yang Kebiasaan bersumpah " Demi Allah " ]
Siapa yang menyatakan beda antara Ahlus Sunnah dan Syiah termasuk masalah furu' dan Tidak Semua Syi’ah Sesat, maka Dia… Syi’ah !
Syiah adalah bagian dari madzhab dalam islam? Yang bener saja, ini lho fatwa-fatwa agama syiah, bagi yang belum pernah membacanya..
Soal Mengkafirkan Syiah
syi'ah termasuk dalam klasifikasi /golongan Kafir Harbi
Saudi Arabia Memimpin Umat Islam Memerangi Syi’ah. Wajib Atas Setiap Muslim Di Seluruh Belahan Dunia Untuk Bekerjasama Dengan Pemerintah Arab Saudi. Syukur Dan Dukungan Terhadap Kerajaan Islam Saudi Arabia.
Syi’ah, Jika Menerapkan Ilmu Al Jarh Wat Ta`Dil Sebagaimana Ahlus Sunnah, Maka Tidak Tersisa Sedikitpun Dari Hadits Mereka (Sampah). Mereka Banyak Berdusta Atas Ja`far Ash Shadiq, Menasabkan Dari Riwayat-Riwayat Yang Dibuat-Buat, Menukil Tanpa Sanad Atau Sanad Maudhu` (Dipalsukan) Atau Dhaif Atau Maqthu` (Terputus), Agama Masyayikh.
Sebagian Besar Isi Deklarasi Pemimpin Munafiqun Moderat Semata-Mata Kedengkian Kepada Saudi Dan Salafi /Ahlus Sunnah (Terutama Point 8,9,10,11). Imam Masjidil Haram: Tidak Ada Islam Moderat Atau Islam Ekstrem, Munculnya Klasifikasi Karena Kepentingan Kelompok Tertentu Yang Membenci Islam Sebagai Agama Yang Benar (Manhaj Yang Satu) Dan Tetap (Al-Haq) !
Tokoh Penyesat Umat
Takfiri Syiah (ABI) Jadi Bunglon Di Kantor Deputi VI Kemenko Polhukam, Dengan Memutar Balikan Dan Menyembunyikan Kejahatan Takfirinya Terhadap Al-Qur'an, Istri Dan Sahabat Nabi Serta Ahlus Sunnah !
“Titik Temu NU - Wahhabi “ , Bahasan “ Isu-isu Pokok” Secara Ilmiyyah Tanpa Hujatan, Untuk Mendamaikan Sesama Ahlus Sunnah [Bagian I]
Titik Temu Wahabi-NU
Tanggapan Majlis Islam Suriah Atas Kebusukan Mulut Ali Khamenei Laknatullah 'Alaihi. Menunjukan Iran Dan Gerombolan Qum Kelompok Takfiri Tulen.
Tidak Peduli Desakan Internasional, Malaysia/Brunei Berani Melarang Syiah, Singapura Perlakukan Syi'ah Dan Ahmadiyah Bukan Bagian Dari Islam. Indonesia Kapan/Takut ??!
Titik Temu Wahabi-NU
Tolok Ukur Kebenaran Adalah Secara Syar'i
Ukhuwah Salafi “Wahabi” – “Aswaja NU” Membuat Syi’ah Laknatullah Meradang ! Enak Dibaca Dan Perlu
Untuk Para Provokator/Hasader/Herder Syi’ah dan Ulama2 “SU’/Namimah” yang ingin membenturkan NU dengan Salafi “Wahhabi”, perhatikan tulisan dibawah ini !!
Ustadz Firanda:ISIS Memang Berbahaya, Tapi Syiah Jauh Lebih Berbahaya
Waspada, Politik Adu Domba Sesama Ahlussunnah Meningkat, Sedangkan Syiah Bersiap-Siap!
Yunahar Ilyas: Jangan Menganggap Enteng Masalah Syiah, Kalau Tidak Mau Menyesal
Yang Bilang Rafidhah Adalah Muslimin, Saudara Kita, Tidak Mengharuskan Pengkafiran Terhadap Mereka Adalah Orang Jaahil Murakkab!! Rafidhah Dan Syi’ah Lebih Berbahaya Dari Yahudi Dan Nashara
Yahudi Dan Syiah (Dr. Ihsan Ilahi Dhahir)