Wednesday, August 13, 2014

Quraish Shihab, Syi’ah, dan Jilbab

Maret 31, 2012
Salah satu mata acara saat Sahur, di Metro TV, Jakarta, disajikan tanya jawab keagamaan (Islam) antara sejumlah audiens dengan narasumber kesohor yaitu Quraish Shihab. Dia ini pria kelahiran Rappang (Sulawesi Selatan) pada 16 Februari 1944, pernah menjabat sebagai rector IAIN Jakarta, kemudian menjadi Menteri Agama RI selama 70 hari di akhir masa pemerintahan Soeharto yang lengser Mei 1998.
Di acara Metro TV, salah seorang peserta ketika mengajukan pertanyaan berkenaan dengan latar belakang adanya kebiasaan memperingati atau merayakan hari anak yatim (10 Muharram), Quraish Shihab menjawabnya dengan memasukan doktrin Syi’ah tentang perang Karbala yang menewaskan cucu Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam yakni Husein radhiyallahu ‘anhu. (Metro TV edisi Selasa 02 Ramadhan 1429 H bertepatan dengan 02 September 2008)
 Menurut Quraish Shihab, perayaan anak yatim yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram itu adalah untuk mengenang kematian Husein radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya yang tewas pada perang Karbala. Dari peperangan itu menghasilkan banyak anak yatim. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husein radhiyallahu ‘anhu  terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah.
Jawaban khas Syi’ah ala Quraish Shihab itu, menunjukkan bahwa ia memang penganjur Syi’ah yang konsisten dan gigih. Di berbagai kesempatan, bila ada peluang memasukkan doktrin dan ajaran Syi’ah, langsung dimanfaatkannya, apalagi di hadapan audiens yang awam (tidak mengerti apa itu Syi’ah, dan bagaimana ajarannya yang sesat dan menyesatkan).
Pada dasarnya, Islam sangat memuliakan anak yatim. Semasa Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup, anjuran untuk menyantuni anak yatim sudah disosia-lisasikan bahkan dipraktekkan sendiri. Artinya, anjuran dan praktek itu sudah ada jauh sebelum Huseinradhiyallahu ‘anhu  wafat. Sehingga pernyataan Quraish Shihab tersebut terkesan ahistoris, bila menyantuni anak yatim dikaitkan dengan kematian Husein radhiyallahu ‘anhu  di Karbala.
Dalam salah satu hadits riwayat An-Nasa’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
9150 – عن أبي شريح الخزاعي قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : { اللَّهُمَّ إنِّي  أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ : حَقَّ الْيَتِيمِ وَ حَقَّ الْمَرْأَةِ } (سنن النسائي الكبرى – (ج 5 / ص 363)
 Ya Allah sungguh saya mengharamkan (penyia-nyiaan) hak dua macam manusia yang lemah yaitu: hak anak yatim dan hak wanita. (HR An-Nasaai nomor 9150).
Namun demikian, dalam ajaran Islam tidak ada waktu-waktu khusus yang ditetapkan untuk memperingati atau merayakan anak yatim. Tanggal 10 Muharram yang oleh sebagian kalangan dijadikan momentum merayakan atau memperingati atau menyantuni anak yatim –sebagaimana dilakukan oleh sejumlah masjid yang secara madzhab dan kultural dekat dengan NU– pada dasarnya tidak ada contohnya. Pada tangal 9 dan 10 Muharram ummat Islam disunahkan berpuasa.
Dalam Hadits Shahih Riwayat Muslim,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ .( رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari ‘Asyura’, maka beliau menjawab, “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin.” (HR Muslim).

Benarkah Quraish Shihab penganut paham Syi’ah?

LPPI pernah mendapatkan surat pernyataan dari Osman Ali Babseil (PO Box 3458 Jedah, Saudi Arabia, dengan nomor telepon 00966-2-651 7456). Usianya kini sekitar 74 tahun, lulusan Cairo University tahun 1963.
Dengan sungguh-sungguh seraya berlepas diri dari segala dendam, iri hati, ia menyatakan:
Sebagai teman dekat sewaktu mahasiswa di Mesir pada tahun 1958-1963, saya mengenal benar siapa saudara Dr. Quraish Shihab itu dan bagaimana perilakunya dalam membela aqidah Syi’ah.
Dalam beberapa kali dialog dengan jelas dia menunjukkan sikap dan ucapan yang sangat membela Syi’ah dan merupakan prinsip baginya.
Dilihat dari dimensi waktu memang sudah cukup lama, namun prinsip aqidah terutama bagi seorang intelektual, tidak akan mudah hilang/dihilangkan atau berubah, terutama karena keyakinannya diperoleh berdasarkan ilmu dan pengetahuan, bukan ikut-ikutan.
Saya bersedia mengangkat sumpah dalam kaitan ini dan pernyataan ini saya buat secara sadar bebas dari tekanan oleh siapapun.
Pernyataan itu dibuat Osman Ali Babseil sepuluh tahun lalu (Maret 1998), namun hingga kini masih relevan, karena Quraish Shihab pun hingga kini terbukti masih menyebarluaskan doktrin Syi’ah.
Ke-Syi’ah-an Quraish Shihab juga terlihat ketika ia meluncurkan Ensiklopedi Al-Qur’an: Kajian Kosa Kata dan Tafsirnya, yang diterbitkan oleh Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal bekerjasama dengan Yayasan Bimantara (2007). Salah satu indikasinya, dalam Ensiklopedi itu terlalu gandrung menggunakan tafsir Syi’ah Al Mizan karangan Tabataba’i sebagai referensi dalam penulisan entri. Bahkan dapat dikatakan, rujukan utama Ensiklopedi ini adalah tafsir Syi’ah yang memberikan penafsiran terhadap Al-Qur’an sesuai dengan pemahaman aliran Syi’ah yang memusuhi sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam.
Contoh lain ketika ia menerbitkan buku berjudul Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Pada buku itu antara lain dikatakan, bahwa di antara Sunnah-Syi’ah terdapat kesamaan dalam prinsip-prinsip ajaran, sedang dalam rinciannya terdapat perbedaan. Namun persamaannya jauh lebih banyak. Ini bisa dilihat dari masalah keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari kemudian, ketaatan kepada Rasul dan mengikuti apa yang dinilai sah bersumber dari beliau, serta melaksanakan Rukun Islam yang lima.
Benarkah demikian?
Dalam buku Syi’ah sendiri dinyatakan: Abi Abdullah berpesan; sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan Imam, diberikannya kepada yang dikehendakinya dan ditolaknya bagi yang tak diingininya. Ini kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada Imam. Sebagaimana ditulis oleh Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitab Ushul Kafi, khususnya pada bab yang berjudul Bumi Seluruhnya Adalah Milik Imam.
Salah satu ulama Syi’ah lainnya, Jakfar as-Shadiq  diklaim mengatakan:
“Yang punya bumi adalah Imam, maka apabila Imam keluar kepadamu cukuplah akan menjadi cahaya (nur). Manusia tidak akan memerlukan matahari dan bulan.” (lihat Tarjumah Maqbul Ahmad, hal. 339). Tarjumah Maqbul Ahmad. (bahasa Urdu) hal. 339. Diterjemahkan secara harfiyah
Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan dalam Al-Qur’an, surat al-Araf:
إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada orang yang dikehendaki-Nya”.(QS Al-A’raf: 128)
Menurut Quraish pula, secara bahasa Suni atau Sunah berarti perilaku atau tindakan Rasulullahshallallohu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Syi’ah berarti mengikuti, maksudnya adalah menjadi pengikut Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, semua Sunah adalah Syi’ah, dan semua Syi’ah adalah Sunah. Karena mereka yang mengikuti perilaku Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam adalah pengikutnya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam dan begitu juga sebaliknya.
Padahal, makna Syi’ah adalah pengikut (‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu). Quraish jelas telah memanipulasi makna Syi’ah. Kalau Sunnah dan Syi’ah tidak ada perbedaan, tentu tak perlu repot-repot mengidentifikasikan dirinya dengan nama yang berbeda. (lihat tulisan berjudul Ahmadiyah, Syi’ah dan Liberal, April 7, 2008 2:30 am).

Masalah Jilbab

Selain berpaham Syi’ah militan, Quraish Shihab juga berbanjar bersama-sama dengan sejumlah orang yang menempatkan berjilbab (menutup aurat) pada posisi khilafiyah, sebagaimana ditulisnya dalam sebuah buku berjudul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer di tahun 2006.
Menurut Quraish, ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Selain itu, ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy yakni dugaan semata. Quraish juga bersikap, bahwa adanya perbedaan pendapat para pakar hukum tentang batasan aurat adalah perbedaan antara pendapat-pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam konteks situasi zaman serta kondisi masa dan masyarakat mereka, serta pertim-bangan-pertimbangan nalar mereka, dan bukannya hukum Allah yang jelas, pasti dan tegas.
Sikap seperti itu jelas menepis Al-Qur’an. Sebab, Allah sudah secara tegas berfirman melalui surat Al-Ahzaab ayat 59:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(59)
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS Al-Ahzab/ 33: 59).
Sedangkan berkenaan dengan batasan aurat, sudah secara tegas difirmankan melalui surat QS An Nuur ayat 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(31)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur/ 24: 31).
   Sebab turunnya ayat ini, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Asma’ binti Murtsid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya, demikian juga dada dan sanggul-sanggul mereka. Berkatalah Asma’: langkah buruknya (pemandangan) ini. Turunlah ayat ini (S.24:31) sampai عَوْرَاتِ النِّسَاءِ  auratinnisa (aurat wanita) berkenaan dengan peristiwa tersebut yangmemerintahkan kepada Kaum Mu’minat untuk menutup aurat mereka. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin Abdillah.)
   Sebab turunnya ayat (penggalan selanjutnya QS 24: 31) ini, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang wanita membuat dua kantong perak yang diisi untaian batu-batu mutu manikam sebagai perhiasan kakinya. Apabila ia lewat di hadapan sekelompok orang-orang, ia memukul-mukulkan kakinya ke tanah sehingga dua gelang kakinya bersuara beradu . Maka turunlah kelanjutan ayat ini ( S. 24 : 31, dari وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ  “wala yadlribna bi arjulihinna” sampai akhir ayat) yang melarang wanita menggerak-gerakan anggota tubuhnya untuk mendapatkan perhatian laki-laki. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Hadhrami). (KHQ Shaleh dkk, Asbabun Nuzul, CV Diponegoro, Bandung, cetakan 7, tt, hlm 356)
Fatwa-fatwa tentang jilbab.
Mari kita bandingkan pendapat Quraish Shihab tersebut di atas dengan fatwa-fatwa berikut ini.
1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh berfatwa: Bahwa wanita itu adalah aurat, diperintahkan untuk berhijab dan menutup. Dan dilarang tabarruj (membuka aurat yang diperintahkan untuk ditutupi, atau berhias dan bertingkah laku untuk dilihat lelaki) dan dilarang memperlihatkan perhiasannya, kecantikannya, dan bagian-bagian tubuh yang menimbulkan fitnah. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59, QS An-Nur: 31, dan QS Al-Ahzab: 33.
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS Al-Ahzab/ 33: 33). (Fatawa dan surat-surat Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh juz 2/ halaman 124).
2. Fatwa dari Qitho’il Ifta’ di Kuwait: Wajib atas perempuan muslimah sejak umur baligh untuk menutup seluruh badannya selain wajah dan dua tapak tangannya. Hal itu apabila ia keluar dari rumahnya atau adanya laki-laki bukan mahramnya, maka tidak boleh bagi perempuan muslimah menampakkan kepada lelaki ajnabi (bukan mahramnya) sebagian tubuhnya seperti: rambutnya, atau lehernya, atau hastanya (lengan/ dzira’) atau betisnya yang oleh sebagian wanita muslimah biasa terbuka pada masa kini menirukan orang bukan Islam. Apabila wanita muslimah menampakkan sebagian dari tubuhnya itu maka sungguh dia telah berbuat haram yang telah pasti haramnya.
Dalil atas wajibnya wanita menutup seluruh badannya selain wajah dan dua tapak tangan adalah nash-nash yang banyak dari Al-Qur’anul karim dan sunnah Nabi yang shahih. Di antaranya firman Allah Ta’ala dalam QS An-Nur: 31. Maksud dari firman-Nya  إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا (kecuali yang (biasa) nampak daripadanya) adalah wajah dan dua tapak tangan. Sebagaimana hal itu telah ditunjukkan oleh As-Sunnah dan atsar dari sahabat.  Maksud dari firman-Nya { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } (Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya), adalah hendaknya wanita melabuhkan kerudung yakni tutup kepalanya dimana agar menutup jaibuts tsaub yaitu bukaan leher. Oleh karena itu Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(59)
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS Al-Ahzab/ 33: 59).
Dan dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
يَا أَسْمَاءُ  إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لا يَصْلُحُ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى كَفِّهِ وَوَجْهِهِ  (أخرجه أبو داود (4/62 ، رقم 4104) ، والبيهقى فى السنن الكبرى (7/86 ، رقم 13274) . وأخرجه أيضًا : فى شعب الإيمان (6/165 ، رقم 7796) ). – ( ضعيف ) وصححه الشيخ الألباني في صحيح سنن أبي داود وقال في  الترغيب  والترهيب : ( حسن لغيره برقم 2045)
Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita apabila telah sampai haidh maka tidak pantas untuk dilihat daripadanya kecuali ini dan ini, dan beliau menunjuk ke telapak tangan beliau dan wajah beliau.  (HR Abu Dawud, dan Al-Baihaqi, dhaif, tetapi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, dan dihasankan lighoirihi dalam At-Targhib wat Tarhib).
Atas dasar yang demikian itulah maka telah terjadi ijma’ ulama ummat sejak zaman Nabi, maka siapa yang menganggap bolehnya wanita muslimah di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) membuka rambutnya atau lehernya atau semacamnya dari apa-apa yang diperintahkan untuk ditutupnya, maka sungguh telah menyelisihi Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’, dan telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fatawa Qitha’il Ifta’ bil-Kuwait juz 6 halaman 223-224).
Kembali ke sikap dan pemahaman yang dihembuskan Quraish Shihab:
Anak perempuan Quraish Shihab, Najwa Syihab (penyiar televisi swasta?), dalam salah satu edisi majalah buatan kelompok yang dekat dengan liberal, menjadi gambar sampul, dengan tulisan mencolok, terhormat tanpa memakai jilbab. Dia menganggap, jilbab tidak wajib, dan dia mengaku bahwa itu mengikuti fatwa bapaknya.
Begitulah watak Quraish Shihab, terhadap urusan yang sudah jelas landasannya saja ia masih berani membantah. (haji/tede).
الفتاوى:
1- أَن المرأَة عورة، ومأْمورة بالاحتجاب والستر. ومنهية عن التبرج وإِظهار زينتها ومحاسنها ومفاتنها، قال الله تعالى: (*) الآية(1). وقال تعالى: (*)(2). وقال تعالى: (*)(3).
(1) سورة الأحزاب آية 59 .
(2) سورة النور آية 31 .
(3) سورة الأحزاب آية 33 .
)فتاوى ورسائل محمد بن إبراهيم آل الشيخ – (ج 2 / ص 124)(
2- يجب على المرأة المسلمة منذ سنّ البلوغ أن تستر جميع بدنها ما عدا الوجه والكفين ، وذلك إذا خرجت من بيتها أو كانت بمحضر رجال من غير محارمها ، فلا يجوز لها أن يظهر منها للرجال الأجانب عنها شئ من شعرها أو رقبتها أو ذراعيها أو ساقيها ممّا اعتادت بعض النساء المسلمات كشفه في هذا العصر تقليداً لغير المسلمات ، فإن ظهرت المرأة المسلمة شيئاً من ذلك فقد فعلت محرما مقطوعاً بتحريمه.
 والدليل على وجود ستر المرأة جميع بدنها ما عدا الوجه والكفين نصوص كثيرة من القرآن الكريم ، والسنة النبوية الصحيحة منها قول الله تعالى :{ وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلاّ ما …ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن ولا يبدين زينتهن إلاّ لبعولتهن أو آبائهن أو آباء بعولتهن أو أبنائهن أو أبناء بعولتهن أو إخوانهن أو بني إخوانهن …أو نسائهن أو ما ملكت أيمانهن أو التابعين غير أولى الإربة من الرجال أو الطفل الذين لم يظهروا على عورات النساء ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون } (سورة النور الآية رقم 31)، والمراد بقوله تعالى في هذه الآية {إلاّ ما ظهر منها} هو الوجه والكفان. كما دلتّ على ذلك السنة والآثار عن الصحابة والمراد بقوله تعالى: { ولْيضربْن بخُمُرهن على جيوبهن} أن تلوي المرأة الخمار وهو (غطاء الرأس ) بحيث يستر جيب الثوب وهو ( فتحة العنق ) ومن ذلك قول الله تعالى { يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن …يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفوراً رحيماً } (سورة الأحزاب الآية رقم59 ) ومن السنة النبوية قول الرسول صلى الله عليه وسلم ( يا أسماء إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يُرى منها إلا هذا وهذا ، وأشار إلى الوجه والكفين ) رواه أبو داود عن عائشة رضى الله عنها.
…وعلى ذلك انعقد إجماع علماء الأمة منذ عهد النبوة ، فمن ادعى جواز كشف المرأة المسلمة أمام الرجال الأجانب شعرها أو عنقها أو نحوهما مما أمرت بستره فقد خالف الكتاب والسنة والإجماع واستحل ما حرمه الله تعالى ورسوله صلى الله عليه وسلم 0
)فتاوى قطاع الإفتاء بالكويت – (ج 6 / ص – 224 -223)
November 21, 2012 pada 8:54 am | #1
Sebagai orang awam mengenai agama, sebelumnya saya pernah beli buku Pintar/tanya jawab islam (judul lupa), karangan Quraish shihab di salah satu tokobuku ternama…
isinya tentang tanya jawab islam…
sy & istri tidak pernah menemukan kepuasan jawaban2 QS dalam rangkuman2 pertanyaan dibuku tersebut,..
pada saat itu sy masih proses blajar mendalami Islam…
paman saya pernah mengingatkan… hati2 itu syiah… krna sya juga blum serius menanggapinya…
alhamdulillah tahun ini sya dan istri mulai mendalami agama Islam yg sesuai denga Qur’an dan Sunnah Rasulullah.. sekalian mau tanya…
- sya suka share isi2 posting di blog ini ke facebook, ataupun kirim email ke teman2… dengan harapan mereka dapat lebih mengerti mengenai Islam yng sebenarnya..
- ada rencana saya untuk membuat hard copy/selebaran untuk di bagikan, mengenai manhaj salaf, sunnah, bidah2… karna umumnya msh banyak bidah2 yg dilakukan di lingkungan saya.. karna keterbatasan kemampuan saya …

Bolehkah hal2 tersebut sy lakukan? terimaksih

Sehingga anda bisa menyampaikan kebenaran ini kpd masyarakat dengan hikmah, dibawah bimbingan ustadz,
Jazakallahu khairan
innalillahi wa innailaihi rojiun.. apakah syiah itu kafir?
Untuk tokoh-tokohnya, iya, kafir, seperti khomeini, sebagaimana para ulama ahlussunnah sudah mengkafirkannya,

tapi bagi para pengikutnya, tidak demikian, sebab banyak dari mereka yg bodoh, tdk mengerti hakekat syiah yg sebenarnya, hanya ikut2an saja,

Barangsiapa ada orang islam yang mengingkari satu huruf saja dalam alquran, itu bisa menyebabkan pelakunya kafir,

Apalagi menganggap alquran kita yg sekarang itu sdh tdk asli lagi, alquran yg dimiliki syiah 3 kali lipat dari alquran kita yg sekarang, gimana dengan keyakinan sesat seperti ini??

Sedangkan Allah mengatakan kalau Alquran itu terjaga, sebab Allah yang menjaganya, mustahil ada ayat yg dirubah atau dihapus oleh manusia,

Alquran akan selalu terjaga, tidak akan bertambah dan berkurang, tidak seperti keyakinan syiah yang menganggap alquran kit sdh berubah,

Masalahnya adalah, kita belum mau menghargai perbedaan…
Terimakasih mas farid ma’roef atas komentarnya, mudah-mudahan Allah menunjuki anda

Masalahnya, perbedaan yang seperti apa yang kita beri toleransi,..

Kalau ajaran tersebut menyelisihi ajaran Rasulullah, berarti yang melakukan perbuatan tersebutlah yang berbeda, tidak mau mengikuti perintah rasulullah , lalu melakukan amalan yg menyerupai ritual ibadah,tapi tdk dicontohkan oleh rasulullah,

acitomeo
pemahamannya si qs ini sesat & menyesatkan! kelembutan omongan & kejagoannya dalam diskusi hanya kedok taqiyah belaka.. semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari fitnah syi’ah rafidhah ini..
seayahrahakha
Quraish Shihab memang parah, bahkan sangat parah… Pake gaya bahasa apapun, dibuat selemah-lembut apapun, tetap saja keanehan dan keganjilan yg disampaikan. Benar2 nyeleneh…
Ahlulbait
Orang yang berdendang dengan genderang Setan-setan Syiah

pasti nyeleneh.

knapa Quraish Shihab tdk merujuk kpd tafsir ulama masyhur? apakah ia telah menyetarakan dirinya dg ulama ahli tafsir?
nah, itu dia,..

Alhamdulillah kitab tafsir yang jauh lebih baik, dan disusun oleh ulama yang mumpuni ilmunya juga banyak, seperti tafsir ibnu katsir,tafsir qurtubi,tafsir assa’di,. daripada tafsir misbah susunan qurais sihab, banyak pemikiran2 aneh ada dalam tafsir misbah tersebut,.. bahkan pemikiran syiah juga ada, sebab beliau termasuk orang yang terpengaruh pemikiran syiah

Ahlulbait
izinkan saya menambahkan

QS bukan penafsir

maaf sebelumnya saya bukan mengaku ahli tafsir

Beberapa kali saya mengikuti acara yang dibawakan QS di TV. Sengaja saya mengikuti

Bukan untuk megambil pengetahuan darinya tapi saya ingin tahu sampai dimana orang ini

dan bagaimana wawasan dan pengetahuannya..

dia lama bertahun-tahun sekolah di Kairo

yaitu dari tingkatan thanawiyah (menengah) karena lamanya ya kalau membaca bahasa arab sih ya bisa. Jadi untuk mencari arti kata di Alquran dari kitab-kitab ulama tidak ada kesukaran.

Dalam acara yang dibawakan di TV yang juga dihadiri para undangan yang tertentu dan hampir seluruhnya ibu-ibu.

Dia tidak pernah menafsirkan atau menjabarkan kecuali hanya mengartikan kalimat kalimat

Dalam Alquran.

Itupun dia tidak pernah pasti .
saya perhatikan setiap selesai mengartikan kalimat

Dengan nyengir ia berkata “Saya rasa begitu” “boleh jadi….”

Jika mentafsirkan alquran tidak mengikuti pemahaman para sahabat, maka akan salah dalam memahami alquran tsb, bukankah rasulullah mengajarkan alquran kepada para sahabat, kenapa kita tidak mengikuti pemahaman sahabat yang merupakan generasi terbaik, malah mentafsirkan alquran dgn penafsiran sendiri,.. innalillahi wa inna ilaihi raji’uun,
Dewi
pada waktu sahur saya menonton metro tv (8 Agustus 2012) acara tafsir al mishbah yg dibawakan Quraish Shihab, dikatakannya bahwa diperbolehkan mengucapkan selamat natal kepada umat kristiani sepanjang kita tidak mengimaninya. Padahal MUI (pd saat Buya Hamka sebagai ketua MUI) pernah mengeluarkan fatwa haram mengucapkan selamat natal
Di hari sebelumnya juga dikatakan bahwa kalau ada yg ceramah untuk memecah persatuan jangan diterima. Ini terkait isi ceramah Rhoma Irama mengenai jangan memilih pemimpin selain beragama Islam. Ini semakin memperlihatkan kalau Quraish Shihab syi’ah
Kok ada yah, orang yang dianggap cendikiawan islam, orang yang paham islam berkata seperti itu?.. aneh tapi nyata, silahkan baca pandangan orang ini tentang jilbab, ada dalam tafsir misbah yg disusun oleh pak quraish ini

Benarkah Prof. Quraish Shihab itu Agen Syiah?
Kitab “Tafsir Al-Mishbah” y`ang berjilid-jilid itu adalah salah satu karya monumental dari seorang tokoh Islam Indonesia, Prof. Dr. H. Muh. Quraish Shihab, yang diterima oleh umat Islam yang tidak hanya di dataran Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara secara umum. Bahkan beliau ditahbis sebagai ahli tafsir terkemuka masa kini, di kawasan Asia Tenggara. Selain itu buku “Membumikan Al-Qur’an” juga merupakan satu di antara sekian banyak karya beliau yang luar biasa. Dengan deretan karya yang beliau telurkan, sangatlah pantas jika ia sebagai tokoh ulama masa kini yang dielu-elukan oleh masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara.
Namun dengan ketokohan serta ilmu yang beliau miliki tak membuatnya menjadi manusiama’sum alias terlepas dari salah dan dosa. Tidak membuat kita bertaqlid buta kepada seluruh pendapatnya. Hanya nabi yang dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari salah dalam menyampaikan risalah yang diemban olehnya. Kita mestinya bersikap adil dan inshofdalam mengambil pendapat dan perkataan manusia, seperti yang diucapkan oleh Imam Malik,Semua perkataan bisa diterima dan ditolak, kecuali penghuni kubur ini (Pusara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam).
Agen Syiah?
Syiah, sebagaimana kita yakini bersama sebagai aliran pemikiran dan akidah dalam Islam. Jika tidak disebut sebagai aliran sesat maka minimal yang kita sepakati adalah sebagai salah satu sekte dari sekian banyak sekte yang memecah persatuan umat.
Majelis Ulama Indonesia, dalam fatwanya tentang Syiah 1984 telah menyebutkan bahwa yang terjadi antara Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah) dan Syiah adalah perbedaan-perbedaan pokok yang dalam fatwa tersebut ditelurkan dalam lima poin.
Banyak kalangan yang menyebut Bapak. Prof. Quraish Shihab sebagai agen Syiah, namun secara pribadi beliau menolak tuduhan itu dalam pengantar buku Buku Putih Mazhab Ahlul Bait, ABI, Cet IV, hal xv, “Ketika ada sebagian anggapan orang bahwa pak Quraish itu Syiah, saya tegas menolaknya. Penolakan saya disebut Syiah bukan karena ikut pendapat bahwa Syiah itu sesat, tetapi karena saya tahu siapa yang dimaksud Syiah, saya sangat memahami siapa yang pantas disebut Syiah.”
Bukti-bukti nyata dukungan terhadap Syiah
1. Tulisan Quraish Shihab dalam buku Satu Islam Sebuah Dilema, penerbit Mizan, Cet VII, Juni 1994, hal 122,
“Ada juga pengelompokan-pengelompokan seperti Ahlussunnah waljamaah, Syiah dan sebagainya. Wallah, semua mengaku Ahlussunnah waljamaah. Apalagi kita di Indonesia, lebih sempit lagi. NU menganggap hanya kelompoknya yang Ahlussunnah waljamaah. Ya Akhi, kita semua Ahlussunnah Waljamaah. Semua kita, baik Muhammadiyah, NU, maupun Syiah.”
Bagi kita yang mendengar ini tentu saja akan bertanya-tanya, rumusan apa yang beliau pakai dalam memasukkan Syiah ke dalam Ahlussunnah?, terlebih MUI telah menyebutkan perbedaan-perbedaan pokok antara Ahlussunnah Wal Jamaah dengan Syiah tahun 1984.
2. Buku Sunnah-Syiah Begandengan Tangan! Mungkinkah?, Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran. Prof. Quraish Shihab  dengan sekuat tenaga berusaha menanamkan kepada kaum Muslimin bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syiah itu meskipun ada tapi tidak prinsipil, tidak menyangkut akidah. Seperti ungkapannya dalam hal. 93,
Tauhid pada prinsipnya adalah keesaan Tuhan dalam sifat, perbuatan, dan Dzat-Nya, serta kewajiban mengesakan dalam beribadah kepada-Nya. Dalam butir-butir makna Tauhid di atas, tidak dijumpai perbedaan prinsipil antara Ahlussunah dan Syiah, walau harus digarisbawahi bahwa kelompok Syiah, dalam hal sifat Tuhan, lebih cenderung sependapat dengan Mu’tazilah.” (Penerbit Lentera Hati, Cet III, Juni 2007)
Padahal buku ini sudah dibantah oleh para ustaz dari Pondok Pesantren Sidogiri dengan buku yang berjudul, “Mungkinkah Sunnah-Syiah Dalam Ukhuwah; Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab” Buku ini mengungkap data-data asli dari kitab induk dan muktabar Syiah yang (sengaja) tidak dikutip oleh Prof. Quraish Shihab dalam bukunya tersebut, sehingga membuat kesimpulan yang tidak semestinya, seperti ungkapan beliau, “Tidak dijumpai perbedaan prinsipil antara Ahlussunah dan Syiah.”
3. Buku karya Prof. Quraish Shihab, “Perempuan, Dari cinta Sampai Seks, Dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, Dari Bias Lama sampai Bias Baru”, hal. 187-212 membahas mengenai hukum nikah mut’ah. Kesimpulannya berbunyi sebagai berikut ini,
“Anda telah membaca di atas tentang pendapat yang berbeda menyangkut mut’ah –kehalalan atau keharamannya serta syarat-syaratnya. Masing-masing mengemukakan alasannya sehingga ulama sepakat menyatakan bahwa nikah mut’ah yang memenuhi syarat-syaratnya tidak identik dengan perzinaan. Kita juga dapat berkata bahwa, seandainya alasan ulama Syiah diakui oleh ulama sunnah,  tentulah ulama sunnah tidak akan menyatakan haramnnya mut’ah, demikian juga sebaliknya, seandainya ulama Syiah puas dengan alasan-alasan kelompok ulama sunnah, tentulah mereka tidak menghalalkannya. Namun, kalau hendak menempuh jalan kehati-hatian, tidak melakukan mut’ah jauh lebih aman ketimbang melakukannya –kendati Anda menilainya halal- karena tidak ada perintah, bahkan anjuran, untuk melakukannya. Kalau hendak menempatkan perempuan dalam kedudukan terhormat, tentu seseorang pun tidak akan rela melakukan mut’ah. Lalu, yang tidak kurang pentingnya adalah kalau hendak meraih kesucian jiwa, menghindari sedapat mungkin panggilan debu tanah –seperti makan, minum, dan hubungan seks- merupakan jalan mendaki yang wajar ditempuh.” (Penerbit Lentera Hati, Cet III, April 2006)
Meskipun ungkapan ini cukup bijak, namun sayangnya tidak tegas. Bandingkanlah dengan sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan janganlah kamu mengambil sedikitpun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR. Muslim)
berpelukan mesra dengan Ali Khamenei
Tentang pelarangan Umar di masanya adalah karena masih ada beberapa orang yang tidak mendengar Sabda Nabi di atas, sehingga mengira bahwa mut’ah itu masih boleh dalam keadaan darurat dan melakukannya di masa Abu Bakar dan Umar. Dengan ketegasan yang beliau miliki, Umar kembali menegaskan sabda Nabi di atas. (Al-Majmu’, An-Nawawi)
4. Kata Pengantar Prof. Quraish Shihab yang berjudul, “Kesefahaman, Urat Nadi Persaudaraan Islam” dalam buku “Buku Putih Mazhab Syiah” yang diterbitkan oleh Tim Ahlul Bait Indonesia. Pada hal xix Bapak Prof. Quraish Shihab mengatakan, “Sejatinya kita adalah saudara dan tidak perlu saling menimbulkan ketegangan. Surga terlalu luas sehingga tidak perlu memonopolinya hanya untuk diri sendiri.” (Penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, Cet IV, Desember 2012)
Keempat pernyataan di atas, terutama yang pertama dan terakhir, serta fakta-fakta lain yang tidak sempat kami tuangkan di sini merupakan bukti tentang beliau yang pro terhadap tumbuh dan berkembangnya sekte Syiah di Indonesia dengan konsep kesefahaman, padahal ini sangat bertentangan dengan Keputusan Muktamar Doha tahun 2007 poin no. 7 yang beliau kutip sendiri dalam bukunya, “Sunnah-Syiah Begandengan Tangan! Mungkinkah?, Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran”, hal 268, “Mengajak para pemimpin dan tokoh rujukan agama dari kalangan Sunnah dan Syiah agar tidak mengizinkan adanya penyebaran tasyayyu’ (paham-paham Syiah) di negeri-negeri (penganut aliran) Sunnah, tidak juga penyebaran tasannun (paham-paham khas sunnah) di negeri-negeri (penganut aliran) Syiah, demi menghindari kekacauan dan perpecahan antara putra-putri umat yang satu (umat Islam).”

Walhasil, apakah Prof. Quraih Shihab itu benar agen Syiah atau bukan? Andalah yang berhak menyimpulkan! Semoga pemaparan ini bisa dijadikan bahan perenungan kita.  Wallahu a’lam!
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)


Mengkritik Quraish Shihab Secara Ilmiah, Bukti Bahwa 
Quraish Shihab Seorang Syi’ah

Posted by John MuhammadDalam NegeriThursday, March 20th, 2014 - 09:21 am 
Oleh: DR. Adian Husaini

JAKARTA (KompasIslam.Com) – Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur (Jatim). Judulnya cukup panjang, “Mungkinkah Sunnah-Syi’ah dalam Ukhuwah?”, yang merupakan jawaban atas Buku Prof. Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)”.
Penulis buku “Mungkinkah Sunnah-Syi’ah dalam Ukhuwah?” adalah Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri Jatim, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.
Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya.
Cetakan pertamanya keluar pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007. Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk para penulis dari Pesantren tersebut.
Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Ahlu Sunnah atau Sunni dan Syi’ah adalah dua madzhab yang berbeda.
“Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua madzhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua madzhab -dimana pun ditemukan- adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan rukun-rukun Islam”. (Cetakan II, hal. 265).
Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri Jatim, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Jatim yang menegaskan:
“Mungkin saja, Syi’ah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlu Sunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syi’ah.”
Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pondok Pesantren Sidogiri Jatim terhadap Quraish Shihab (selanjutnya Quraish Shihab disingkat “QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat “PPS”). Kutipan dan pendapat QS dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.
1. Tentang Abdullah bin Saba‘.
QS: “Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syi’ah. Ia (Abdullah bin Saba’ -red) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain -ilmuwan kenamaan Mesir- adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syi’ah”. (hal. 65).
PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syi’ah yang diakui ke-tsiqah-annya (kepercayaannya -red) oleh kaum Syi’ah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syi’ah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyyah.
Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, ‘Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum.
Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syi’ah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam.
Atas dasar ke-Yahudiannya, ia menggambarkan Ali radhiyallahu ‘anhu setelah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa alaihisallam Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).
2. Tentang Hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Hurairah :
QS: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyangkut Nabi shalalahu ‘alaihi wa sallam berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah radhiyallahu ‘anha” (hal. 160).
QS: “Ulama-ulama Syi’ah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlu Sunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syi’ah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syi’ah.” (hal. 150).
PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah.
Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”
Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafi’i juga menyatakan, “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).
Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan :
“Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu seperti ditulis Dr. Quraish Shihab:
“Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).
“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah).
Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ‘ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).
Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja.
“Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).
Memang dalam pandangan Syi’ah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh Syi’ah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syi’ah masa kini), yang juga dikutip oleh QS :
“Syi’ah tidak menerima hadits-hadits Nabi SAW kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul Bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syi’ah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).
PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlu Sunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari imam-imam Syi’ah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlu Sunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syi’ah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).
3. Tentang Pengkafiran Ahlu Sunnah  :
QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syi’ah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut madzhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syi’ah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).
PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syi’ah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlu Sunnah Kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syi’ah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syi’ah. Bahwa sejatinya, Syi’ah tetap Syi’ah.
Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka. Dalam banyak literatur Syi’ah dikemukakan, bahwa orang-orang Syi’ah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep Taqiyyah…
“Suatu ketika, tokoh Syi’ah terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syi’ah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?”
Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan Taqiyyah.” (348-349).
Seorang dai Syi’ah, Muhammad Tijani, mengungkapkan bahwa, “Mereka (orang-orang Syi’ah) seringkali shalat bersama Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan menggunakan Taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).
Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syi’ah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlu Sunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syi’ah.
PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana “Persatuan umat Islam” dari kaum Syi’ah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlu Sunnah dan memposisikannya di posisi dzalim, sementara Syi’ah diposisikan sebagai “yang terdzalimi”.
Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syi’ah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ‘ala asy-Syi’ah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hokum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).
Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260 tahun.
Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.
Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.
PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: “Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlu Sunnah dari serbuan berbagai aliran sesat”.
“Di website www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik “Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme, sekularisme, dekonstruksi syari’ah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri”.
Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu juga dari berbagai pondok pesantren lainnya. [John/PS2-Pecinta Sunnah Pembenci Syi’ah]

Sibak Topeng Quraisy Shihab, Benarkah Ia Penganut Syiah? 

Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1435 H / 11 Januari 2014 11:03 wib
Sibak Topeng Quraisy Shihab, Benarkah Ia Penganut Syiah?
Satu persatu tokoh syiah mulai dipaparkan ke publik dengan izin Allah, baik ustadz Mudzakir Gumuk, Haddad Alwi dan kini kita ungkap topeng Quraisy Shihab, benarkah ia penganut Syiah?

“Kendati Sayyidina Ali merasa bahwa beliau wajar untuk menjadi Khalifah setelah Rasulullah, tetapi beliau tidak ingin menuntut itu sebelum ummat menyerahkannya kepada beliau…..”


Meskipun itu adalah kutipan dari Abbas Al Aqqad, tetapi sebenarnya apa yang dia yakini adalah seperti itu jika kita mau lebih mencermati kelanjutan ceramahnya. 

Pada video kedua, perhatikan sholawat pembuka yang diucapkan oleh Quraisy Shihab : 

“Bismillah, washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillah, wa’alaa Aalihii WA ASHHABIHIL AKHYAR…!!!!”

Bismillah, semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Rasulullah, ahlul bayt nya SERTA PARA SHAHABAT YANG TERPILIH…”
Waspada, Jika Mengikuti Kedustaan Syiah, Maka Ali Bin Abi Thalib & Imam Telah Kafir!
Dalam Kitab Taqribul Ma’arif karangan Abu Sholah Al Halaby diriwayatkan dari Ali Al Khurasani dari seorang hamba sahayanya Ali Zainul Abidin, dia berkata :

كنت مع علي بن الحسين عليه السّلام في بعض خلواته؛ فقلت إنّ لي عليك حقّا، ألا تخبرني عن الرجلين، عن أبي بكر وعمر؟ فقال: كافران، كافر من أحبّهما

“Suatu hari aku menemani Ali bin Husain (Ali Zainul Abidin) dalam beberapa khalwat nya, lalu aku bekata kepadanya : “Sesungguhnya aku mempunyai hak atasmu, tidakkah engkau beritahukan kepadaku tentang dua orang ini : Abu Bakar dan Umar ? Maka beliau menjawab : 

“MEREKA BERDUA KAFIR DAN ORANG YANG MENCINTAI MEREKA PUN KAFIR”

(Taqribul Ma’arif – Abu Sholah Al Halaby hal 244, dikutip oleh Muhammad Baqir Al Majlisi dalam Biharul Anwar )

Jika mengikuti riwayat dusta alias hadits maudhu’ (palsu) Syi’ah ini maka Ali bin Abi Thalib telah kafir karena menikahkan putrinya, Ummu Kultsum yang saat itu baru berusia 16 tahun dengan Umar bin Khattab yang usianya jauh di atasnya. Mustahil seorang ayah menikahkan putrinya kepada orang yang dibencinya sembari melarang sang putri untuk mencintai suaminya, karena jika mengikuti logika Syiah mencintai Umar bin Khattab adalah sebab kekafiran. 

Kemudian Ali dan Imam-imam Syiah lainnya pun telah kafir -jika mengikuti kedustaan Syiah- karena memberi nama anak mereka dengan Abu Bakar dan Umar. Karena sangat mustahil seseorang memberi nama anaknya dengan nama orang yang dibencinya. 
Bahkan Imam Ali Zainul Abidin yang dikatakan dan didustakan oleh Syi’ah telah menjadi sumber riwayat ini pun kafir karena menikahkan puteranya yaitu Imam Muhammad Al Baqir dengan cicit Abu Bakar Ash Shiddiq yaitu Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq , maka lahirlah Imam Ja’far Ash Shadiq …!!!!
Berikut ini Imam-imam Syiah yang memberi nama anak mereka dengan Abu Bakar dan Umar :

– 3 dari 17 putra Ali bin Abi Thalib diberi nama Abu Bakar, Umar dan Utsman. Ketiganya menyertai Al Husain bin Ali saat syahid di Karbala
– Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib memberi nama 2 di antara putranya dengan Abu Bakar dan Umar
– Al Husain bin Ali bin Abi Thalib memberi nama 2 di antara putranya dengan Abu Bakar dan Umar
– Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (Ali Zainul Abidin) memberi nama anaknya Umar dan Utsman
– Imam Muhammad bin Ali Zainul Abidin (Al Baqir), Imam Ja’far Ash Shadiq, Imam Musa Al Kadzim memberi nama 2 di antara putranya dengan Abu Bakar dan Umar

LUAR BIASA … !!! JIKA MENGIKUTI KEDUSTAAN SYI’AH MAKA 7 DARI 12 IMAM SYIAH TELAH KAFIR 

BAHKAN 4 DI ANTARA IMAM ITU MEMBERI NAMA PUTRINYA DENGAN NAMA AISYAH …. !!!!– Imam Ja’far Ash Shadiq, Musa Al Kadzim, Ali Ar Ridho, Ali Al Hadi memberi nama salah satu putrinya dengan nama Aisyah 

CATATAN PENTING :

1) Semua keterangan ini termaktub dalam kitab-kitab Syi’ah seperti Al Irsyad Al Mufid, Kasyful Ghummah Fi Ma’rifatil A’immah, Al Kaafi fil Furu’, Tahdzibul Ahkam dan sebagainya…!!!
2) 12 Imam yang disebutkan oleh Syiah sebagai Imam mereka adalah para Imam Ahlus Sunnah bukan Syi’ah. Bahkan Imam Ja’far Ash Shadiq adalah guru dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam-imam Ahlus Sunnah
3) Penyebutan Imam di sini bukan mengikuti kebiasaan Syiah yang mema’shumkan para Imam ini, namun sesuai kebiasaan Ahlus Sunnah yang menyebut para ulama nya dengan gelar Imam seperti Imam Asy Syafi’i, Imam Bukhari dsb
Lihatlah betapa tersembunyinya kalimat ini. Sholawat hanya disampaikan untuk shahabat yang terpilih bukan seluruh shahabat beliau. WA ASHHABIHIL AKHYAR bukan WA ASHHABIHI AJMA’IN sebagaimana lazimnya kita ucapkan
Masih belum percaya orang ini Syi’ah ? Lihatlah dia bahkan menjadi pembicara pada acara Arbain Imam Husain di Islamic Cultural Centre (pusatnya Syi’ah di Jakarta)

Penulis: Ustadz Fuadz Al Hazimi/ voa-islam.com
http://www.nahimunkar.com/sibak-topeng-quraisy-shihab-benarkah-ia-penganut-syiah/#sthash.RKi4NzS6.dpuf

Debat’ Quraish Shihab vs Pesantren Sidogiri tentang Syi’ah

Rabu, 19 Maret 2014 (12:05 pm) / FirqahSyariah
Prof. Dr. Quraish Shihab, pernah membela Syi’ah dengan menulis buku berjudul “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?”. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati pada Maret 2007.
Namun, pembelaan Prof. Dr. Quraish Shihab tersebut mendapat kritikan tajam dari Tim Penulis Buku Pustaka Pondok Pesantren Sidogiri. Tim penulis ini menulis buku sanggahan pembelaan Quraish Shihab terhadap Syiah yang berjudul “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” pada September 2007.
Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).
KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan, dalam sambutannya atas buku yang ditulis tim penulis tersebut mengatakan: “Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”
Berikut ini beberapa topik yang dibahas oleh Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya dan dikritisi oleh Tim Penulis Buku Pustaka Pondok Pesantren Sidogiri dalam buku sanggahannya.
1. Tentang Abdullah bin Saba’
Quraish Shihab:
“Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).
Pondok Pesantren Sidogiri:
Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’.
Sa’ad Al Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, Al Maqalat wa Al Firaq, (hal. 20), Al Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a.
Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan Al Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).
2. Tentang hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu
Quraish Shihab:
“Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).
Quraish Shihab:
“Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far Ash Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).
Pondok Pesantren Sidogiri:
“Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi saw tersebut, diantaranya adalah Al Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min Al Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi Al Mizan, Muhammad ?Ajjaj Al Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat Al Islam dan lain-lain.”
Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan, “Abu Hurairah r.a. adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).
Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka Pondok Pesantren Sidogiri menegaskan: “Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).
“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah). Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ‘ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).
Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Dr. Al A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja. “Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).
Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif Al Ghitha’ (tokoh Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh Quraish Shihab: “Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).
Pondok Pesantren Sidogiri juga menjawab tuduhan bahwa Ahlus Sunnahdiskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).
3. Tentang Pengkafiran Ahlusunnah:
Quraish Shihab:
“Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).
Pondok Pesantren Sidogiri:
“Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab?
Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah. Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka.
Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad Al Uzhma Husain Fadhlullah, dalam Al Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?” Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).
Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersama Ahlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).
***
Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. Pondok Pesantren Sidogiri juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana “Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.
Buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ?ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hukum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).
Redaktur: Shabra Syatila
http://www.fimadani.com/debat-quraish-shihab-pesantren-sidogiri-tentang-syiah/

Pemahaman JIL dan Quraish Shihab tentang JILBAB, sungguh pemahaman yang nyeleneh

JILBAB MENURUT AJARAN JIL (JARINGAN ISLAM LIBERAL)
Jilbab adalah tidak wajib, hanya budaya Arab!
- Muhammad Sa’id Al-Asymawi, seorang tokoh liberal Mesir, yang memberikan peryataan kontroversial bahwa jilbab adalah produk budaya Arab. Pemikirannya tersebut dapat dilihat dalam buku Kritik Atas Jilbab yang diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal dan The Asia Foundation.
Dalam buku tersebut diyatakan bahwa jibab itu tak wajib. Bahkan Al-Asymawi dengan lantang berkata bahwa hadits-hadits yang menjadi rujukan tentang kewajiban jilbab atau hijâb itu adalah Hadis Ahad yang tak bisa dijadikan landasan hukum tetap. Bila jilbab itu wajib dipakai perempuan, dampaknya akan besar. Seperti kutipannya: “Ungkapan bahwa rambut perempuan adalah aurat karena merupakan mahkota mereka. Setelah itu, nantinya akan diikuti dengan pernyataan bahwa mukanya, yang merupakan singgasana, juga aurat. Suara yang merupakan kekuasaannya, juga aurat; tubuh yang merupakan kerajaannya, juga aurat. Akhirnya, perempuan serba-aurat.” Implikasinya, perempuan tak bisa melakukan aktivitas apa-apa sebagai manusia yang diciptakan Allah karena serba aurat.
Buku tersebut secara blak-blakan, mengurai bahwa jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan sahabat dan tabi’in, menurut Al-Asymawi, lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.[http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=339]
- M. Quraish Shihab (beliau adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al- Qur’an dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998). Ia dilahirkan di Rappang, pada tanggal 16 Februari 1944. Ia adalah kakak kandung mantan Menko Kesra pada Kabinet Indonesia Bersatu, Alwi Shihab),

Dalam menafsirkan surat Al-Ahzab: 59,  M. Quraish Shihab memiliki pandangan yang aneh dengan manyatakan bahwa Allah tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab. Pendapatnya tersebut ialah sebagai berikut:
“Ayat di atas tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab, karena agaknya ketika itu sebagian mereka telah memakainya, hanya saja cara memakainya belum mendukung apa yang dikehendaki ayat ini. Kesan ini diperoleh dari redaksi ayat di atas yang menyatakan jilbab mereka dan yang diperintahkan adalah “Hendaklah mereka mengulurkannya.” Nah, terhadap mereka yang telah memakai jilbab, tentu lebih-lebih lagi yang belum memakainya, Allah berfirman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.”[M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2003), cet I, vol. 11, hal. 321.]
Demikianlah pendapat yang dipegang oleh M. Quraish Shihab hingga sekarang. Hal ini terbukti dari tidak adanya revisi dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Misbah, meskipun sudah banyak masukan dan bantahan terhadap pendapatnya tersebut.
Di samping mengulangi pandangannya tersebut ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31, M. Quraish Shihab juga mengulanginya dalam buku Wawasan Al-Qur’an. Tidak hanya itu, ia juga menulis masalah ini secara khusus dalam buku Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, yang diterbitkan oleh Pusat Studi Quran dan Lentera Hati pada Juli 2004. Ia bahkan mempertanyakan hukum jilbab dengan mengatakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa jilbab bagi wanita adalah gambaran identitas seorang Muslimah, sebagaimana yang disebut Al-Qur’an. Tetapi apa hukumnya?[M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1998), cet VII, hal. 171]
M. Quraish Shihab juga membuat Sub bab: Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang jilbab yang menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pendapat ganjilnya tersebut. Ia menulis:
Di atas—semoga telah tergambar—tafsir serta pandangan ulama-ulama mutaqaddimin (terdahulu) tentang persoalan jilbab dan batas aurat wanita. Tidak dapat disangkal bahwa pendapat tersebut didukung oleh banyak ulama kontemporer. Namun amanah ilmiah mengundang penulis untuk mengemukakan pendapat yang berbeda—dan boleh jadi dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menghadapi kenyataan yang ditampilkan oleh mayoritas wanita Muslim dewasa ini.[Ibid, hal. 178.]
Selanjutnya, M. Quraish Shihab menyampaikan bahwa jilbab adalah produk budaya Arab dengan menukil pendapat Muhammad Thahir bin Asyur:
فنحن نوقن أن عادات قوم ليست يحق لها بما هي عادات أن يحمل عليها قوم آخرون فى التشريع ولا أن يحمل عليها أصحابها كذلك (مقاصد الشريعة ص 91)
Kami percaya bahwa adat kebiasaan satu kaum tidak boleh—dalam kedudukannya sebagai adat—untuk dipaksakan terhadap kaum lain atas nama agama, bahkan tidak dapat dipaksakan pula terhadap kaum itu.
Bin Asyur kemudian memberikan beberapa contoh dari Al-Quran dan Sunnah Nabi. Contoh yang diangkatnya dari Al-Quran adalah surat Al-Ahzab (33): 59, yang memerintahkan kaum Mukminah agar mengulurkan Jilbabnya. Tulisnya:
و فى القرآن: يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَفهذا شرع روعيت فيه عادة العرب فالأقوام الذين لا يتخذون الجلابيب لا ينالهم من هذا التشريع نصيبمقاصد الشريعة ص 19
Di dalam Al-Quran dinyatakan, Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab, tidak memperoleh bagian (tidak berlaku bagi mereka) ketentuan ini.[M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1998), cet VII, hal. 178-179.]
Untuk mempertahankan pendapatnya, M. Quraish Shihab berargumen bahwa meskipun ayat tentang jilbab menggunakan redaksi perintah, tetapi bukan semua perintah dalam Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula, menurutnya hadits-hadits yang berbicara tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya.[Ibid, hal. 179.]
M. Qurash Shihab juga menulis hal ini dalam Tafsir Al-Misbah ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31. Di akhir tulisan tentang jilbab, M. Qurais Shihab menyimpulkan:
Memang, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi teks ayat itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan tangannya, bahwa mereka “secara pasti telah melanggar petunjuk agama.” Bukankah Al-Quran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.[Ibid, hal. 179.]
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa M. Quraish Shihab memiliki pendapat yang aneh dan ganjil mengenai ayat jilbab. Secara garis besar, pendapatnya dapat disimpulkan dalam tiga hal. Pertama, menurutnya jilbab adalah masalah khilafiyah. Kedua, ia menyimpulkan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi dan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut batas aurat. Ketiga, ia memandang bahwa perintah jilbab itu bersifat anjuran dan bukan keharusan, serta lebih merupakan budaya lokal Arab daripada kewajiban agama. Betulkah kesimpulannya tersebut? Tulisan ini mencoba untuk mengkritisinya.
["Meluruskan Qurais Sihab dan JIL tentang Jilbab" oleh FAHRUR MU’IS].
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah? ” (al-Baqarah : 140).
Allah Ta’ala berfirman,”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS. AL MAA’IDAH: 50).
Allah Ta’ala berfirman, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (ar-Rum: 6-7).
Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.

Kekeliruan Najwa Shihab tentu bermula dari penyimpangan pendapat dari jumhur ulama oleh ayahnya Prof Dr Quraish Shihab. Qurasih Shihab berpendapat bahwa ia sampai pada titik kesimpulan bahwa perintah berjilbab di dalam Al Qur’an tidak tegas.

Terlepas dari sumbangsih Quraish Shihab melalui karya-karyanya dibidang tafsir yang patut kita apresiasi, bermanfaat insya Allah bagi ummat, namun sisi pemahaman Qurasih Shihab tidak lepas dari cacat yang patut kita kritisi, tentu dengan standar ulama yang muktabar pula, di antaranya:

1) Memandang jilbab tidak wajib.

2) Syiah tidak sesat

3) Pengutipan hadis-hadis dalam buku tafsir beliau kurang ilmiah. Jarang menyertakan sanad dan rawi, apalagi no hadits, dan kadangkala hanya ditulis dengan kata “alhadits”. Suatu sikap yang juga banyak dilakukan oleh tokoh yang katanya intelektual Muslim. Ironis memang, ketika mengutip buku orang, ilmiah nya luar biasa, tapi ketika mengutip hadits Nabi hanya dengan menulis “alhadits”. Di sini kita patut mengapresiasi terbitan buku dan majalah ulama-ulama Salafi yang luar biasa transparan dan jelas sumber2 rujukan mereka terutama di bidang hadits dan kitab2 klasik ulama.
4) tafsir Quraish Shihab kadangkala mengenyampingkan tafsir ulama-ulama klasik tentang suatu persoalan.

wallahu a’lam

MUI Pusat Tegaskan Quraish Shihab Sebagai Pendukung Kelompok Sesat Syi’ah
Posted by John MuhammadDalam Negeri, March 13th, 2014 - 08:46 pm

JAKARTA (KompasIslam.Com)  Selain mengatakan bahwa Buku Panduan MUI berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” tetap harus diterbitkan karena ada amanah fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tahun 1984, Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Dr (HC) KH Ma’ruf Amin juga menegaskan jika Prof Quraish Shihab sebagai pendukung sejati kelompok sesat Syi’ah.
Hal ini sebagaimana disampaikan KH Ma’ruf Amin dalam perbincangan dengan pengurus Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar, Muh Istiqamah, Senin (10/3/2014) malam lalu, saat berkunjung ke rumah pribadi KH Ma’ruf Amin di Jakarta.
“Quraish Shihab itu jelas sekali mendukung Syi’ah dalam bukunya “Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?”. Kemudian Tim Penulis Pesantren Sidogiri mematahkan semua argumen Quraish Shihab dalam buku bantahan yang mereka tulis. Namun sayang, buku ini tidak terlalu menyebar,” tegasnya.
Seperti diberitakan KompasIslam.Com sebelumnya, pengurus LPPI Makassar datang kerumah KH Ma’ruf Amin di Tanjung Priok Jakarta Utara untuk memberikan data “Mapping Kebohongan Publik Jalaludin Rahmat”, Ketua Dewan Pembina organisasi Syi’ah Ikatan Jama’ah Ahlu Bait Indonesia/IJABI (lihat disini: http://www.nahimunkar.com/mapping-pemetaan-kebohongan-publik-jalaluddin-rakhmat/) yang disertai dengan lampiran data yang lengkap mengenai gelar abal-abal yang dimiliki oleh Jalaluddin Rahmat.

Setelah memberikan data mapping kebohongan publik Jalaluddin Rahmat dan menjelaskan gelar abal-abal yang dimiliki oleh pembesar kelompok sesat Syi’ah di Indonesia itu, pengurus LPPI Makassar dan KH Ma’ruf Amin berbincang mengenai Syi’ah di Indonesia, pergerakannya, solusi fatwanya dari MUI, dan seterusnya. [Khalid/LPPI Makassar]

Membongkar Hubungan Quraish Shihab Dengan Kelompok Sesat Syi’ah

Quraish Shihab Bermesraan dengan Imam Besar Negara Syi’ah Iran Ali Khamenei
JAKARTA (KompasIslam.Com) – Saat menemui pengurus Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar, Senin (10/3/2014) malam lalu dirumah pribadinya di Jakarta, Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Dr (HC) KH Ma’ruf Amin dengan tegas mengatakan jika Prof Quraish Shihab sebagai pendukung sejati kelompok sesat Syi’ah.
Data dan fakta dukungan Quraish Shihab yang juga sering mengisi materi Tafsir Al-Misbah disalah satu TV swasta nasional ini terhadap kelompok sesat Syi’ah menurut KH Ma’ruf Amin bisa dilihat dalam salah satu buku karangannya berjudul “Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?”.
“Quraish Shihab itu jelas sekali mendukung Syi’ah dalam bukunya “Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?”. Kemudian Tim Penulis Pesantren Sidogiri mematahkan semua argumen Quraish Shihab dalam buku bantahan yang mereka tulis. Namun sayang, buku ini tidak terlalu menyebar,” tegasnya.
Setelah berita berjudul “MUI Pusat Tegaskan Quraish Shihab Sebagai Pendukung Kelompok Sesat Syi’ah”diposting, redaksi KompasIslam.Com kemudian mendapatkan kiriman artikel berita tentang data dan fakta kemesraan Quraish Shihab dengan Syi’ah berjudul “Membongkar hubungan Quraish Shihab dengan Syi’ah”. Artikel ini dikirim oleh aktivis Islam yang menamakan dirinya “Pecinta Sunnah, Pembenci Syi’ah”.
…Di acara Metro TV, salah seorang peserta ketika mengajukan pertanyaan berkenaan merayakan hari anak yatim (10 Muharram), Quraish Shihab menjawabnya dengan memasukkan doktrin Syi’ah tentang perang Karbala yang menewaskan cucu Rasulullah yakni Husein…
Karena artikel yang dikirimkan cukup panjang, maka untuk lebih simpel dan mudah serta enak dibaca, maka redaksi memutuskan untuk membuat dan memuatnya menjadia beberapa judul berita. Berikut ini data dan fakta yang pertama tentang kemesraan Quraish Shihab dengan kelompok sesat Syi’ah ;
Apakah Hukum Usaha Mendekatkan Antara Ahli Sunnah yang Bertauhid Dengan Rafidhah yang Musyrik?
Saudaraku pembaca yang budiman, saya cukupkan saja dalam masalah ini, dengan mencantumkan tulisan dari tulisan-tulisan DR. Nashir Al Qafari di dalam kitabnya : “Masalah At Taqrib”, yaitu tulisan yang ke tujuh, dimana beliau berkata -semoga Allah menjaganya- :
“Bagaimana mungkin mendekatkan antara orang yang mencaci kitab Allah dan menafsirkannya tidak sesuai dengan tafsirannya, dan mendakwakan turunnya kitab-kitab ilahi (wahyu) kepada imam-imamnya setelah Al Qur’anul Karim?, dan ia memandang keimaman itu adalah kenabian, para imam baginya seperti para nabi dan bahkan lebih mulia, dan ia menafsirkan mengibadati Allah semata yang mana itu adalah inti dari misi (ajaran) para rasul seluruhnya tidak sesuai dengan maknanya yang hakiki, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya ibadah itu adalah ta’at kepada para imam”.
“Dan sesungguhnya syirik kepada Allah adalah mentaati selain mereka (para imam) bersama mereka, ia mengkafirkan orang-orang yang terbaik dari para sahabat Rasulullah, dan mengklaim seluruh para sahabat dengan murtad, kecuali tiga atau empat atau tujuh sesaui dengan perbedaan riwayat mereka. Dan orang ini (orang Syi’ah -red) tampil berbeda dengan keganjilan dari jama’ah kaum muslimin dengan masalah-masalah akidah dan keyakinan di dalam keimaman, kemaksuman (terjaga dari dosa),Taqiyyah (kemunafikan), dan mengatakan raj’ah (imam kembali ke dunia), Al Qaibah (menghilangnya As Kaari) danAl Bada’”. [Masalah At Taqriib - DR. Nashir Al-Qafari 2/302]
…Pada dasarnya, Islam sangat memuliakan anak yatim. Semasa Rasulullah masih hidup, anjuran untuk menyantuni anak yatim sudah disosialisasikan bahkan dipraktekkan sendiri oleh Rasulullah…
Salah satu mata acara saat Sahur, di Metro TV, Jakarta, disajikan tanya jawab keagamaan (Islam) antara sejumlah audiens dengan narasumber kesohor yaitu Quraish Shihab. Quraish Shihab ini pria kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan (Sulsel) 16 Februari 1944, pernah menjabat sebagai rector IAIN Jakarta, kemudian menjadi Menteri Agama RI selama 70 hari di akhir masa pemerintahan Soeharto yang lengser Mei 1998.
Di acara Metro TV, salah seorang peserta ketika mengajukan pertanyaan berkenaan dengan latar belakang adanya kebiasaan memperingati atau merayakan hari anak yatim (10 Muharram), Quraish Shihab menjawabnya dengan memasukkan doktrin Syi’ah tentang perang Karbala yang menewaskan cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyakni Husein radhiyallahu ‘anhu. (Metro TV edisi Selasa 02 Ramadhan 1429 H bertepatan dengan 02 September 2008)
Menurut Quraish Shihab, perayaan anak yatim yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram itu adalah untuk mengenang kematian Husein radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya yang tewas pada perang Karbala. Dari peperangan itu menghasilkan banyak anak yatim. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husein radhiyallahu ‘anhu terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah.
Jawaban khas Syi’ah ala Quraish Shihab itu menunjukkan bahwa ia memang penganjur Syi’ah yang konsisten dan gigih. Di berbagai kesempatan, bila ada peluang memasukkan doktrin dan ajaran Syi’ah, langsung dimanfaatkannya, apalagi di hadapan audiens yang awam (tidak mengerti apa itu Syi’ah, dan bagaimana ajarannya yang sesat dan menyesatkan).
…Anjuran dan praktek itu sudah ada jauh sebelum Husein wafat. Sehingga pernyataan Quraish Shihab tersebut terkesan ahistoris, bila menyantuni anak yatim dikaitkan dengan kematian Husein di Karbala…
Saudaraku, pada dasarnya, Islam sangat memuliakan anak yatim. Semasa Rasulullah masih hidup, anjuran untuk menyantuni anak yatim sudah disosialisasikan bahkan dipraktekkan sendiri oleh Rasulullah. Artinya, anjuran dan praktek itu sudah ada jauh sebelum Husein wafat. Sehingga pernyataan Quraish Shihab tersebut terkesan ahistoris, bila menyantuni anak yatim dikaitkan dengan kematian Husein di Karbala.
Dalam salah satu hadits riwayat An-Nasa’i, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
9150 – عن أبي شريح الخزاعي قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :{اللَّهُمَّ إنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ : حَقَّ الْيَتِيمِ وَ حَقَّ الْمَرْأَةِ}(سنن النسائي الكبرى – (ج 5 / ص 363)
“Ya Allah sungguh saya mengharamkan (penyia-nyiaan) hak dua macam manusia yang lemah yaitu: hak anak yatim dan hak wanita”. (HR. An-Nasa’i no. 9150)
Namun demikian, dalam ajaran Islam tidak ada waktu-waktu khusus yang ditetapkan untuk memperingati atau merayakan anak yatim. Tanggal 10 Muharram yang oleh sebagian kalangan dijadikan momentum merayakan atau memperingati atau menyantuni anak yatim –sebagaimana dilakukan oleh sejumlah masjid yang secara madzhab dan kultural dekat dengan NU– pada dasarnya tidak ada contohnya. Pada tangal 9 dan 10 Muharram umat Islam disunahkan berpuasa.
Dalam hadits shahih riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ .( رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari ‘Asyura’, maka beliau menjawab, “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin”. (HR. Muslim). [John]


SABTU, NOVEMBER 16, 2013  LPPI MAKASSAR  
HARIAN FAJAR (16/11/2013) halaman 4,  menurunkan berita dengan judul, “Quraish: Perdebatan Sunni Syiah Sudah Usang”, berikut di antara isi beritanya, “Ahli tafsir, Profesor HM Qurasih Shihab mengajak semua pihak menyudahi perdebatan terkait Sunni dan Syiah. Banyak persoalan yang lebih urgen untuk di bahas. ‘Sudahlah. Itu sudah usang. Perbedaan itu hanya dibuat-buat. Masih terlalu banyak persoalan besar yang mesti kita pikirkan’. Quraish menegaskan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga. Intinya kata dia, boleh berbeda dalam hal mazhab, tetapi tidak dalam akidah Islam. ‘Ibarat jalanan, tujuan kita sama. Namun, untuk menuju ke sana ada banyak mobil yang harus melalui jalanan itu,’... Nabi Muhammad kata dia, tidak lagi bertanya, lima tambah lima sama dengan berapa. Namun yang dipertanyakan 10 itu berapa tambah berapa. Itu sebabnya terjadi perbedaan’.” Statemen tersebut di sampaikan pada acara diskusi bertema “Makna dan Urgensi Hijrah” yang digelar oleh DPP Ikatan Masjid Mushalla Indonesia (IMMIM) di jalan Jenderal Sudirman, Makassar pada hari Jumat 15 Nopember 2013.

Tanggapan

Menanggapi pernyataan Prof. Quraish tersebut, Ustad Said Shamad yang selama ini concern mengcounter masalah Syiah yang berkembang di Makassar sangat menyayangkan. Oleh karena itu, dalam Kultum (kuliah tujuh menit) di Masjid Sulthan Alauddin Kompleks Perumahan UMI Makassar beliau menegaskan bahwa pernyataan Prof Quraish tersebut keliru dan bertentangan dengan pendapat dan pandangan Majelis Ulama Pusat yang dalam Kitab Himpunan Fatwa MUI dengan jelas menegaskan bahwa ajaran Syiah menyelisihi Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi anutan mayoritas masyarakat Indonesia. Ustad Said lantas mengutif Fatwa Majelis Ulama dengan terang, “MUI dalam Rakernas Jumadil Akhir 1414 H/Maret 1984 M, merekomendasikan tentang paham Syi’ah sebagai berikut: Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlussunnah wal Jama'ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya : (a) Syi’ah menolak Hadis yang tidak diriwa-yatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlussunnah wal Jama'ah tidak membeda-bedakan asalkan Hadis itu memenuhi syarat Ilmu Mustalah Hadis; (b) Syi’ah memandang "Imam" itu ma'sum (orang suci), sedangkan Ahlussunnah wal Jama'ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan); (c) Syi’ah tidak mengakui Ijma' tanpa adanya "Imam", sedangkan Ahlussunnah wal Jama' ah mengakui Ijma' tanpa mensyarat-kan ikut sertanya "Imam"’ (d) Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/Pemerintahan (imamah)    adalah termasuk rukun agama, sedang-kan Sunni (Ahlussunnah wal Jama'ah) me-mandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan ummat; (e) Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Shiddiq, Umar  Ibnul Khaththab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlussunnah wal Jama'ah mengakui keempat Khulafa' Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib)”.

Ustad Said, yang sekaligus sebagai Ketua LPPI Indonesia Timur itu mengutip kesimpulan pandangan MUI Pusat yang tertuang dalam “Himpunan Fatwa MUI: Jakarta, MUI Pusat, 2010,  haaman 48-49” terkait status Syiah, “Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlussunnah wal Jama'ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang "Imamah" (Pemerintahan)", Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlussunnah wal Jama'ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.”

Kecuali itu, Ustad Said mengutip perkataan Imam Malik (93-178 H), yang pada suatu saat berkata. “Kullun yu’khadzu wa yuraddu qauluhu illah shohiba hadzal qabr, [Setiap orang boleh diterima atau ditolak pendapatnya kecuali yang punya kuburan ini]” sambil menunjuk pada kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk itu—lanjut Ustad Said—dengan tidak mengurangi penghargaan dan pandangan kita terhadap ketinggian ilmu dan kepakaran beliau, khususnya dalam bidang tafsir, dengan mengacu pada pendapat Imam malik, maka pernyataan Prof. Quraish Shihab harus ditolak karena bertentangan dengan Fatwa MUI dan para ulama muktabar termasuk KH Hasyim Asy’ari rahimahullah.(Ilham Kadir/lppimakassaar.com)

Prof. Quraish Shihab Menjawab Tuduhan Dirinya Syiah

Fiqhislam.com - Prof. Dr. M. Quraish Shihab, seorang ulama ahli tafsir di Indonesia, menanggapi rumor yang beredar di beberapa kalangan yang menyebut dirinya sebagai syiah. Dalam wawancaranya dengan Harian Republika, Quraish Shihab menjawab tudingan tersebut dengan santai.
"Nabi SAW saja difitnah, apalagi cuma Quraish Shihab," ujarnya sambil tertawa ringan. Quraish pun meminta orang-orang yang menyebutnya berpaham syiah untuk membuktikan apakah prinsip-prinsip paham yang berkembang di Iran tersebut ada dalam karyanya.
Dia menjelaskan, prinsip syiah sangat jelas seperti percaya kepada imamah. Tak hanya itu, terdapat ritual khas yang kerap dijalankan penganut syiah seperti shalat di batu karbala dan menangguhkan puasa.

"Orang-orang yang menuding saya syiah, apakah pernah melihat saya shalat di atas batu Karbala? Apakah, ketika Ramadhan, pernah melihat saya tangguhkan buka puasa 10 hingga 15 menit, sebagaimana kayakinan Syiah."

Meski demikian, Quraish mengaku mempelajari beberapa pendapat dari ulama syiah, bahkan muktazilah. Menurutnya, semua itu dilakukan demi mempelajari keragaman yang merupakan kekayaan intelektual umat Islam.

"Jika pendapat ulama Syiah, ada yang saya ambil, bahkan Muktazilah, karena keragaman itu kita pelajari," jelasnya. Quraish pun menegaskan penghormatannya kepada para sahabat Rasulullah SAW, termasuk Abu Hurairah.

"Tanya semua mahasiswa saya bagaimana sikap saya kepada sahabat, terhadap Abu Hurairah. Saya kira tuduhan mereka salah," ujar Direktur Pakar Pusat Studi Quran tersebut. [yy/nabawia.com]

Astaghfirullah, Dalam Video Ini Quraish Shihab Berkata 
Jilbab Itu Gak Wajib

Dalam sebuah tayangan video di salah satu stasiun televisi swasta, Prof. DR. Quraish Shihab menjelaskan bahwa jilbab itu tidak wajib. Hal ini menyulut reaksi dari para asatidz. Salah satunya DR. Ahmad Zain An Najah, salah satu ustadz alumnus Al Azhar Kairo Mesir yang membuat video bantahan terhadap pendapat Quraish Shihab yang bertentangan dengan Islam. 

Quarish Shihab mengatakan bahwa jilbab itu tidak boleh dipaksakan karena itu pilihan. Padahal dalam Islam, jilbab itu harus ditutup dan sifatnya mutlak bukan pilihan. Tidak ada perbedaan dari para ulama akan wajibnya. Perbedaan hanyalah pada bercadar atau tidak.

Pernyataan nyeleneh pun keluar dari lisan Quraish Shihab bahwa pakaian formal itu sudah bisa disebut jilbab. Hal ini jelas bertentangan.

Kita simak video pernyataan Quraish Shihab dan bantahannya dari Dr. Ahmad Zain An Najah.


Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ‘alas Sunnah al-Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323, Buku Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?”).
A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri: “Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”
Inilah sorotannya.
***
PANJIMAS.COM – AHAD, 29 JUMADIL TSANIYAH 1436H / APRIL 19, 2015

Jauh sebelum orang-orang ramai meributkan ketidakberesan pemikiran ulama Metro TV Prof. Dr. Quraish Shihab di kalangan liberal di Indonesia, Sudah jamak diketahui beliau sebagai seorang yang bermasalah.
“Jilbab tidak wajib” dan “Tak ada jaminan Rasulullah SAW masuk surga”hanyalah dua hal kontroversi beliau yang mengemuka ke publik. Dan terakhir adalah kajian tafsir di Metro TV membolehkan “ucapan selamat natal”.
Beliau pernah menulis buku, “Sunnah -Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati pada Maret 2007.Di antara yang ditegaskan QS di buku ini bahwa perbedaan sunni dan syi’ah bukan pada ushul. QS juga menyanggah keberadaan Abdullah bin Saba’. Beliau menyebut Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh fiktif. Dalam buku ini QS juga ingin mendegradasi posisi Abu Hurairah RA sebagai sahabat Rasulullah SAW yang paling banyak meriwayatkan hadis.
Menanggapi buku tersebut, teman-teman santri Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur) menulis buku bantahan, “Mungkinkah Sunnah Syiah Bersatu Dalam Ukhuwah?” Semua pembelaan Quraish Shihab terhadap Syiah telah dimentahkan santri-santri Sidogiri di buku ini.
Dari Jakarta, QS mengirim pesan ketidaksukaannya terhadap buku yang telah membantah bukunya. Santri (pelajar) gitu loh, membantah bukunya profesor. Dari pelosok Pasuruan, teman-teman Sidogiri pun merespon, “Kalau memang sanggahan kami ada yang perlu disanggah balik, silakan saja. Atau mari kita ketemu, kita duduk dalam satu majelis, kita bedah bareng buku kita masing-masing!”
Namun ajakan para santri ini sampai sekarang belum dipenuhi oleh Sang Profesor. Pada Haul Habib Muhammad bin Salim al Aththas di Masjid Baalawi, Singapura, Quraish Shihab pernah berceramah. Dalam ceramahnya, beliau mengkritisi kitab maulid, Diba’. Tepatnya pada bait: “Mauliduhu bi Makkah, wa hijratuhu bil Madinah wa shulthonuhu bis-Syam.”
Salah seorang yang hadir ketika itu adalah Habib Umar bin Muhsin Al Aththas, Lawang. Habib Umar sebenarnya bermaksud mendebat QS. Namun Habib Hasan Al Aththas sebagai tuan rumah mencegah beliau.
Berikut Pengakuan Dr Adian Husaini Terhadap Buku Pesantren Sidogiri
Di tengah malasnya tradisi ilmiah, buku terbitan Pesantren Sidogiri tentang “ukhuwah” Sunni-Syiah patut diacungi jempol.Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang: “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)”. Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka Sidogiri, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.
Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya. Cetakan pertamanya keluar pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007. Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk para penulis dari Pesantren tersebut.
Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).
Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan: “Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”
Sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab
Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab (selanjutnya Quraish Shihab disingkat “QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat “PPS”). Kutipan dan pendapat QS dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.
Tentang Abdullah bin Saba‘.
QS: “Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).
PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).
Tentang hadits Nabi saw dan Abu Hurairah r.a.:
QS: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).
QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).
PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi saw tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”
Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan, “Abu Hurairah r.a. adalah orang yang memiliki hafalan paling cemerlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).
Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan: “Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).
“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah). Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ‘alas Sunnah al-Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).
Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja. “Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).
Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh QS: “Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).
PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafii dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).
Tentang pengkafiran Ahlusunnah:
QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).
PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah. Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka. Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?” Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).
Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersama Ahlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).
Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana “Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.
Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ‘ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hukum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).
Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260 tahun. Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.
Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.
PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: “Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlusunnah dari serbuan berbagai aliran sesat. Di website www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik “Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme, sekularisme, dekonstruksi syariah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri.”
Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu juga dari berbagai pesantren lainnya.
JUDUL BUKU: MUNGKINKAH SUNAH SYIAH DALAM UKHUWAH?
Tak ada maksud lain dari kehadiran buku ini, selain sebagai upaya mendudukkan dua faham yang memang berbeda ini (Sunni-Syiah) secara proporsional. Menegaskan perbedaan, tidak berarti menutup ruang untuk saling menghormati dan bertoleransi. Justru adalah absurd, jika mimpi persatuan itu diharapkan muncul dari ranah yang memang berhadap-hadapan secara diametral.
Ajakan untuk menjalin ukhuwah adalah baik, namun jika harus mengorbankan akidah, maka itu akan menjadi musibah. Mari kita bangun ukhuwah, dengan tanpa mengorbankan akidah. [AW/NU Garis Lurus]/ PANJIMAS.COM
(nahimunkar.com)

Jika saya syiah; adili saya seperti abu zayd

“Saya minta diadili, silahkan adili saya!”
Suara Quraish Shihab meninggi saat menanggapi tudingan, termasuk dari seorang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa dirinya penganut syiah. Ia merujuk kasus Nasr Hamid Abu Zaid, intelektual Mesir yang divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir pada 1996. Dosen falultas sastra Universitas Kairo itu diadili karena pemikirannya dianggap menyimpang
Abu Zayd, antara lain berpendapat bahwa perkara-perkara gaib yang disebut dalam Qur’an seperti ar’sy, malaikat, setan, jin, syurga, dan neraka hanyalah mitos belaka. Abu Zayd juga menyatakan bahwa Qur’an adalah produk budaya (muhtaj tsaqafi), dan karenanya mengingkari status azalinya sebagai kalamullah yang telah ada dalam laul mahfuz
Di pegadilan tingkat pertama, tuntutan yang di dukung lebih dari dua ribu ulama alumnus Universitas Al-Azhar atas Abu Zayd di tolak. Namun di pengadilan banding (mahkamah isti’naf) yang kemudian diperkuat Mahkamah Agung Mesir, Abu Zayd divonis murtad dan status pernikahannya dibatalkan
“Adili saya seperti Abu Zayd!, tantang Quraish”
Quraish mempersilahkan pegadilan itu mengadili semua buku dan karyanya, baik cetak maupun audio visual. Dalam pengadilan itu, Quraish akan meminta Syeikh Azhar atau ulama yang ditunjuk Mesir menjadi jurinya. “Kalau terbukti saya syi’ah, seluruh biaya peradilan saya tanggung. Tapi kalau yang menuding saya tidak bisa menemukan bukti maka biayanya dia yang tanggung”- tegas Qurais Shihab
Bukan kali ini saja Quraish mengumbar tantangan. Ketika tudingan dirinya syiah kencang berembus tahun lalu Quraish menantang pihak yang menuduhnya untuk menunjukkan bukti melalui karya-karyanya. “kalau ada yang bisa menunjukkan saya syiah, silahkan ambil royaltinya”
Tapi mengapa tantangannya sering melibatkan Syeikh Azhar atau ulama Mesir?, sebagai alumnus Universitas Al-Azhar Quraish paham betul bahwa para ulama Mesir yang mayoritas sunni, akan bersikap objektif dalam menilai pemikirannya. Mereka memiliki parameter yang ketat sebelum memvonis seseorang menganut syiah atau tidak
Bahkan orang yang berkata Sayyidina Ali lebih utama dari Sayyidina Umar ibu belum tentu tanda ia seorang Syiah. Karena penganut syiah mempercayai imamah, bahwa Tuhan sudah menunjuk Ali sebagai khalifah. Itulah beda antara sunni dan syiah, yakni pada kepercayaan imamah, kepemimpinan pengganti Rasulullah- kata Quraish
Qurasih sesungguhnya tak peduli dirinya dicap syiah atau bahkan mu’tazilah sekalipun. Tapi benarkah ia pemganut syiah?, menurutnya, meskipun prinsip dasarnya tekait kepercayaan akan imamah, secara simbolis mudah saja untuk melihat pertanda seorang menhanut syiah atau tidak. “lihat saja waktu saya menunaikan ibadah haji, apakah saya kalau naik bus menggunakan atap terbuka seperti yang dilakukan jamaah haji syiah. Kalau saya shalat apakah menggunakan batu karbala di tempat sujud?, kalau saya berbuka puasa, apakah meundanya 10 hingga 15 menit seperti orang syiah?”
Quraish menduga, boleh jadi orang menilainya syiah karena dalam sejumlah ceramah atau karya tulisnya tersurat kecintaannya yang teramat kepada ahlul bait keluarga nabi Muhammad saw dan keturunannya dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. “saya memang cinta Ahlul bait karena saya punya hubungan darah dengan mereka. Jadi cinta saya berganda. Yang pertama karena saya tahu akhlak luhur mereka, kedua karena mereka nenek-kakek saya”
Cintai Ahlul Bait!, itulah yang ditanamkan dan kerap diingatkan sejak masa kanak-kanak Quraish oleh Aba Abdurrahman Shihab dan Habib Abdul Qadir Bilfaqih, pimpinan Darul Hadis Al Faqihiyah
Setahu Quraish, memang tidak ada cela pada ahlul bait. “kalaupun ada cela, itu bukan dari mereka. Imam Ja’far Shadiq itu gurunya sekian banyak ulama mazhab. Sayyidina Hesein dan Imam Ali Zainal Abidin sangat dijunjung tinggi di Mesir bahkan oleh orang-orang sunni. Demikian juga orang NU mereka sangat mencintai ahlul bait”
Quraish tak tahu kapan persisnya tudingan syiah muncul pertama kali. Seingatnya cap syiah mulai berembus ketika ia meluncurkan edisi percobaan Ensiklopedia Qur’an pada 1997. Quraish-lah yang menggagas sekaligus memimpin penyusunannya sejak 1992, melibatkan puluhan dosen dan mahasiswa pascasarjana IAIN Jakarta (kini UIN)
Terhalang kesibukannya sebagai Menteri Agama, lalu Duta besar RI untuk Mesir dan Djiboti, Quraish baru bisa menlanjutkan proyeknya beberapa tahun kemudian. Kali ini melibatkan lebih banyak lagi pakar ilmu tafsir, termasuk sejumlah Doktor lulusan Universitas Al-Azhar. Pada 2007, Ensiklopedia Al-Qur’an; kajian kosa kata dan tafsirnya setebal 2100 halaman dan terbagi dalam tiga jilid itu akhirnya diterbitkan atas kerjasama pusat studi Al-Qur’an, lentera hati, dan yayasan paguyuban Ikhlas
Quraish dicap syiah, karena beberapa bagian dari buku ini mengutip tafsir Mizan karya Muhammad Husain Thabatthabai, karya cendekiawan kelahiran Tabriz Iran tahun 1903 itu, termasuk tafsir Mizan memang sangat dikenal dan menjadi rujukan para ulama kontemporer syiah. Meski tak selalu sepakat dengan sejumlah pemikiran Thabatthabai, namun Qurasih merasa perlu mengutip pendapat cendikiawan syiah ini. “amanah ilmiah mendorong kami mengutip pendapat yang kami yakini kebenarannya, dan bermanfaat bagi pembaca” kata Quraish
Karena panggilan amanah ilmiah pula Quraish mengutip sejumlah pemikiran Thabattabai dalam tafsir Al-Misbah, disamping ulama tafsir lain seperti Sayyid Muhammad Thantawi, Syeikh Mutawali Sya’rawi, Sayyid Qutb, Ibnu Asyur dan Ibrahim bin Umar Al Biqai. Tafsir Al-Misbah yang terdiri dari 10.000 halaman lebih, terbagi dalam 15 jilid dan ditulis Quraish Shihab selama empat tahun, tuntas lebih dulu dibanding Ensiklopedia Al-Quran. Dan cap syiah usai menerbitkan Al Misbah juga bertebaran lantaran kutipan yang ia pakai banyak merujuk pada Thabattabai
Namun tudingan dan “cap syiah” usai menerbitkan karya ilmiah, tak segencar dibanding ketika Quraish disebut-sebut bakal ditunjuk sebagai Menteri Agama oleh Presiden Soeharto pada kabinet pembangunan VII, maret 1998. Saat itu, aktifis dari lembaga penelitian dan pengkajian Islam (LPPI) bahkan melansir surat pernyataan Osman Ali Babseil warga Saudi lulusan Universitas Kairo yang mengaku pernah berkawan dengan Quraish pada priode 1958-1963 di Mesir
Pada pernyataannya Osman mengaku sangat mengenal perilaku Quraish dalam membela aqidah Syiah. Dalam sejumlah dialog, menurut Osman Quraish juga menunjukkan sikap dan ucapan yang membela syiah. Saya bersumpah soal kesahihan pengakuannya. Osman yakin sikap Quraish tak berubah seiring perjalanan waktu meski puluhan tahun berlalu
Quraish santau menanggapi pengakuan itu. “bisa jadi ucapan pak Osman itu lahir dari kealpaan dan lupanya. Ketika studi di Mesir, pak Osman sudah bertugas sebagai guru di sekolah Indonesia. Saya tidak bergaul dengannya, apalagi tempat tinggalnya cukup jauh dari asrama mahasiswa Al-Azhar. Dia pun jarang bergaul dengan mahasiswa. Atau mungkin juga pak Osman menduga bahwa yang mencintai ahlil bait adalah syiah, apalagi pak Osman tidak berlatar belakang pendidikan agama. lebih-lebih soal aliran dalam Islam”
Benar juga pribahasa Arab yang mengatakan; “tidak semua yang putih itu lemak, tidak juga yang hitam itu kurma”. Dalam kontek ini, menurut Quraish “pak Osman mempersamakan sesuatu yang tidak sama”
Pada kali lain Quraish juga menanggapi; “menyetujui pendapat satu kelompok, tidak otomatis menjadikan yang bersangkutan bagian dari kelompok itu. Membela pemikiran syiah tidak otomatis membuat saya menjadi syiah, saya bukan syiah. Tapi saya tidak setuju untuk menyatakan syiah itu sesat”
Tapi rupanya tudingan itu sampai juga ke telinga presiden Soeharto dan menjadi perhatiannya sebelum menunjuk Quraish sebagai Menteri Agama. pak Harto memang tidak bertanya langsung, melainkan lewat putranya Bambang Triharmojo. “pak Quraish dituduh syiah, gimana ini?”
“Jangan tanya saya, tanya saja pak Rally” jawab Quraish, meunjuk Rally Siregar Direktur utama RCTI stasiun televisi yang saat itu masih milik Bambang Tri. Quraish sering mengisi acara-acara keagamaan di RCTI termasuk sahur bersama M.Quraish Shiahab yang tayang selama bulan ramadhan 1417 atau 1997
Suatu hari RCTI diprotes karena menayangkan ceramah keagamaan seorang dai yang disebut-sebut menganut syiah. Sebelum menghentikan sang da’i Rally Siregar dirut RCTI 1991-1999 ini meminta pendapat Qurais. “saya setuju pak Rally,  orang syiah itu tidak perlu dikasih tempat di RCTI, karena bisa memunculkan suasana tidak enak dan menimbulkan perpecahan” jawab Quraish. Sikap Quraish itu menjadi jawaban Rallay saat ditanya Bambang Tri terkait tudingan syiah
Penyelidikan pak Harto tak terhenti lewat Bambang. Dia pun mengutus putri sulungnya Sri Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Dalam beberapa kesempatan, Mbak Tutut dan Quraish Shihab terlibat perbincangan seputar isu syiah. “bukan hanya tudingan syiah, Mbak Tutut bahkan bertanya; “pak Quraish ini NU apa Muhammadiyah?” saya menduga Mbak Tutut juga bertanya pada banyak sumber soal tuduhan saya syiah” kata Quraish
Dari pengalaman itu, Qurais yakin muatan politis di balik tudingan syiah lebih kental dibanding tudingan ideologis. Itulah kenapa tudingan dirinya syiah lebih kencang berhembus saat ia akan ditunjuk sebagai menteri agama dibanding ketika meluncurkan karya ilmiah yang dianggap bermuatan pemikiran ulama syiah seperti tafsir Al-Misbah dan Ensiklopedia Al-Qur’an
Menjelang pemilu presiden 2014, isu syiah kembali santer. Maklumlah Quraish di akhir masa kampanye secara terbuka mengisyaratkan dukungan pada salah satu kandidat, pasangan JOKOWI dan JK. Karuan saja tak lama setelah kemunculannya di arena panggung terbuka, salam dua jari di stadion gelora Bung Karno, media sosial membincangkan ke syiahannya lagi.
Demikian ketika seorang ketua MUI secara terbuka menyebutnya syiah, Quraish menganggap tudingan koleganya itu cenderung bermuatan politis ketimbang sebagai upaya menjaga kemurnian Ahlussunnah. “Saya merasa ada udang dibalik batu, meskipun tidak berpartai beliau kan politisi” kata Quraish. Sayangnya ucapan tokoh kerap menjadi rujukan ummat. Dan ketika menjadi isu publik, orang-orang yang tak memahami persoalan, dan tak mengerti syiah pun ikut-ikutan mengumbar tudingan
Ada kerisauan di mata Quraish mendapati realitas terkini betapa sejumlah orang merasa hanya kelompoknya yang paling benar dan enggan menerima perbedaan. dan lebih merisaukan lagi menyaksikan betapa mudahnya orang menuduh pihak lain sesat atau kafir. Menurut Quraish, “penyakit lama” sikap intoleran itu menunjukkan tanda-tanda kambuh lagi dan berpotensi mengancam kerukunan antar ummat beragama di Indonesia
“ghirah keagamaan mereka sangat kuat, tapi picik. Apalagi sekarang adanya ISIS” katanya menyebut kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah, yang “merasa benar sendiri”, dan karena kepicikannya bahkan tega menghabisi nyawa orang-orang yang tak sepaham dengan mereka, termasuk penganut syiah.
Jiwa Quraish kembali terpanggil untuk mempertemukan dua hal yang berbeda, atau bahkan bertolak belakang. Quraish mengakui prinsip mempertemukan telah mewarnai perjalanan hidupnya. Dan prinsip ini pula yang mendorongnya menulis buku sunnah-syiah bergandengan tangan, mungkinkah? (lentera hati 2007). Pada kata pengantar Qurasih menulis; “tiada lain tujuan penulis kecuali terjalinnya hubungan harmonis antar semua kelompok ummat Islam bahkan seluruh ummat manusia”
Mengutip pendapat para ulama dan pakar sunnah syiah, dalam buku tersebut Quraish ingin menegaskan, memang terdapat sejumlah perbedaan antara sunnah dan syiah, tapi persamaannya jauh labih banyak dari perbedaannya. “perbedaan antara keduanya adalah perbedaan cara pandang  dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul atau prinsip-prinsip dasar keimanan juga dalam rukun-rukun Islam”
Quraish juga mengajak pembacanya untuk melihat syiah dalam konteks kekinian. Syiah sebagai mazhab yang masih dianut di sejumlah negara, bukan dalam konteks historis. “bicaralah tentang syiah masa kini. Kalau masa lalu, memang ada syiah ghulat yang sesat, yang percaya bahwa Ali itu nabi. Sebagaimana di kalangan sunni juga ada perkembangan pemikiran” kata Qurash
Perbedaan perspektif, antara masa lalu da kini inilah yang diingatkan Qurasih saat menanggapi buku mungkinkah sunnah-syiah dalam ukhwah? Terbitan pustakan Sidogiri Kraton Pasuruan (2007). Buku yang disusun tim penulis dari pondok Pesantren Sidogiri, Jawa Timur itu merupakan tanggapan atas buku Qurash; sunnah syiah bergandengan tangan, mungkinkah?
Karena perbedaan perspektif tadi, awalnya Qurasih enggan menanggapi buku dari Sidogiri, namun atas desakan sejumlah pihak, Quraish kemudian menulis tanggapan dalam kata pengantar Sunnah syiah bergandengan tangan, mungkinkah? Edisi terbaru, mei 2014. Disini Qurash menegaskan pentingnya mencari titik temu dan meningkatkan sikap toleransi, bukan malah mempertajam perbedaan
“amat disayangkan ada diantara ummat Islam yang termakan oleh isu yang ditumbuh suburkan oleh musuh-musuh (Islam) sehingga lahirlah sekian orang atau kelompok yang enggan melakukan pendekatan, bahkan mengajak untuk menoleh, lalu kembali ke masa lalu yang kelam dan diliputi perpecahan. Kita mestinya mengarah ke depan karena kita adalah putera puteri masa kini, bukan masa lalu”
Pada bagian lain Quraish menjelaskan bahwa; “upaya mendekatkan” adalah keniscayaan yang dituntun agama, demi kepentingan jangka pendek dan jangka panjang ummat
“pendekatan itu bukanlah bermaksud menjadikan mereka menyatu, tapi mengundang mereka memahami sikap masing-masing secara objektif dan adil, lalu bergandengan  dengan tanpa melebur identitas, yakni biarlah yang sunni tetap sunni dan yang syiah pun tetap syiah. Namun keduanya berjalan seiring mengarah ke depan menuju kejayaan umat dan bangsa”
Quraish juga menyayangkan tiadanya sanggahan baru dari para santri muda pesantren Sidogiri itu terhadap bukunya; “yang ada hanya pengulangan pendapat-pendapat lama yang telah usang, yang hidangannya bila disodorkan pada masa kini sudah basi atau sangat membosankan, seakan-akan kita hidup pada masa lalu atau seakan-akan kita terlambat lahir”
Qurasih mengingatkan, sudah saatnya para pemimpin ummat meninggalkan wacana soal khilafiyah mazhab yang berpotensi memecah belah ummat. “bukankah banyak hal yang lebih penting, seperti menegakkan keadilan yang menjadi inti ajaran Islam serta mendorong upaya pemberantasan korupsi”
Disadur dari buku Cahaya, Cinta dan Canda M.Quraish Shihab- Mauludin Anwar,dkk (Letera Hati:2015),

Siapa Prof Quraish Shihab Sebenarnya?

Yang menjadi permasalahan utama bagi umat Islam di Indonesia adalah ketidakmampuan mereka untuk mengenali ulama-ulama yang benar manhajnya. Ketidakmampuan ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan agama yang mereka miliki. Akibatnya mereka tidak memiliki penyaring untuk membedakan ajaran-ajaran sesat.

Kali ini kita akan membahas seorang ilmuwan tafsir yang terkenal di Indonesia namanya Quraish Shihab. Siapa Quraish Shihab ini sebenarnya? Untuk mengetahui apa manhaj dia, maka kita perlu dengan seksama mengikuti ceramah-ceramahnya, buku-bukunya, atau tulisan-tulisannya.
1. Melalui Buku-Bukunya
Quraish Shihab terlalu gandrung menggunakan tafsir Syi’ah Al Mizan karangan Tabataba’i sebagai referensi dalam penulisan entri di bukunya yang berjudul Ensiklopedi Al-Qur’an: Kajian Kosa Kata dan Tafsirnya. Bahkan dapat dikatakan, rujukan utama Ensiklopedi ini adalah tafsir Syi’ah yang memberikan penafsiran terhadap Al-Qur’an sesuai dengan pemahaman aliran Syi’ah.
Dalam buku lainnya yang berjudul Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah, Quraish Shihab menyatakan bahwa sesungguhnya tidak banyak perbedaan antara Sunni dan Syi’ah. Mereka sama-sama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta melaksanakan rukun Islam yang lima. Hujah-hujah dalam buku ini, khas pendukung Syi’ah.
2. Melalui Ceramah-Ceramahnya
Di acara Metro TV, salah seorang peserta ketika mengajukan pertanyaan berkenaan dengan latar belakang adanya kebiasaan memperingati atau merayakan hari anak yatim (10 Muharram), Quraish Shihab menjawabnya dengan memasukan doktrin Syi’ah tentang perang Karbala yang menewaskan cucu Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam yakni Husein radhiyallahu ‘anhu. (Metro TV edisi Selasa 02 Ramadhan 1429 H bertepatan dengan 02 September 2008)
Menurut Quraish Shihab, perayaan anak yatim yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram itu adalah untuk mengenang kematian Husein radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya yang tewas pada perang Karbala. Dari peperangan itu menghasilkan banyak anak yatim. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husein radhiyallahu ‘anhu  terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah.
Jawaban khas Syi’ah ala Quraish Shihab itu, menunjukkan bahwa ia memang penganjur Syi’ah yang konsisten dan gigih. Di berbagai kesempatan, bila ada peluang memasukkan doktrin dan ajaran Syi’ah, langsung dimanfaatkannya, apalagi di hadapan audiens yang awam (tidak mengerti apa itu Syi’ah, dan bagaimana ajarannya yang sesat dan menyesatkan).
3. Masukan Dari Teman Dekatnya
LPPI pernah mendapatkan surat pernyataan dari Osman Ali Babseil (PO Box 3458 Jedah, Saudi Arabia, dengan nomor telepon 00966-2-651 7456). Usianya kini sekitar 74 tahun, lulusan Cairo University tahun 1963.
Dengan sungguh-sungguh seraya berlepas diri dari segala dendam, iri hati, ia menyatakan:
Sebagai teman dekat sewaktu mahasiswa di Mesir pada tahun 1958-1963, saya mengenal benar siapa saudara Dr. Quraish Shihab itu dan bagaimana perilakunya dalam membela aqidah Syi’ah.
Dalam beberapa kali dialog dengan jelas dia menunjukkan sikap dan ucapan yang sangat membela Syi’ah dan merupakan prinsip baginya.
Dilihat dari dimensi waktu memang sudah cukup lama, namun prinsip aqidah terutama bagi seorang intelektual, tidak akan mudah hilang/dihilangkan atau berubah, terutama karena keyakinannya diperoleh berdasarkan ilmu dan pengetahuan, bukan ikut-ikutan.
Saya bersedia mengangkat sumpah dalam kaitan ini dan pernyataan ini saya buat secara sadar bebas dari tekanan oleh siapapun.
Pernyataan itu dibuat Osman Ali Babseil sepuluh tahun lalu (Maret 1998), namun hingga kini masih relevan, karena Quraish Shihab pun hingga kini terbukti masih menyebarluaskan doktrin Syi’ah.
Taqiyyah Yang Kental
Orang-orang seperti Alwi Shihab, Quraish Shihab, Haidar Bagir dan semacamnya merupakan jalur yang sering orang sebut sebagai dekat dengan Syi’ah, hingga Quraish Shihab yang punya rubrik tanya jawab Agama Islam di koran Republika waktu lalu mengambil kesempatan untuk mengemukakan bahwa Sunni dengan Syi’ah hanya beda masalah politik.  Modal taqiyyah (menyembunyikan keyakinan yang asli) rupanya diamalkan pula, sambil mengeliminir masalah.
Kesimpulan
Setelah mengetahui siapa itu Quraish Shihab sebenarnya, sudah sepatutnya kita berhati-hati dengan segala fatwa yang keluar dari dia, begitu juga dengan buku-bukunya. Kalau merasa pemahaman agama masih lemah, lebih baik hindari bersentuhan dengan pendapat-pendapat Quraish Shihab.


Related articles :

Silahkan buka dan bantah puluhan artikel ilmiyyah berdalil ( shahih dan sharih ) di lamurkha terkait kesesatan dan kekafiran ajaran syiah ( rafidhah) 
[akan tidak wajibnya jilbab, bukanlah produk beliau pribadi, akan tetapi pada hakekatnya hanyalah bentuk mengekor kepada salah seorang da'i liberal dari Mesir yang bernama Muhammad Sa'id Al-'Asymawi yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul "Haqiqot Al-Hijaab wa Hujjiyatul Hadits". Buku inilah yang menjadi pegangan dan menjadi bahan penukilan oleh Bpk Quraish Shihab dalam menelurkan fatwanya akan tidak wajibnya jibab !!!.]
[rujukannya bukan Al-Quran dan Hadits tapi orang yang lahir di abad 19-20 ]
[Tayangan Tafsir Al-Misbah yang dibawakan Quraish Shihab di Metro TV pada Sabtu (12/7), ramai diperbincangkan di media sosial. Hal tersebut setelah mantan menteri agama terakhir era orde baru itu menyebut bahwa Nabi Muhammad tidak mendapat jaminan di surga.Sungguh berani lontaran ucapan ini, saya rasa tidak seorang Islampun di bumi ini -apalagi muslim berpendidikan- yang berani menyatakan "Nabi Muhammad tidak dijamin masuk surga". Sungguh ini adalah pernyataan yang menyakiti hati-hati kaum muslimin. ]
[Setelah mengagetkan kaum muslimin Indonesia dengan fatwa sesatnya yang intinya "Boleh tidak berjilbab", ternyata Prof. DR. Quraiys Syihab –semoga Allah memberi hidayah kepadanya- juga mengagetkan rakyat muslim Indonesia dengan fatwanya "Boleh mengucapkan selamat hari natal"]
http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/623-kerancuan-prof-dr-quraisy-syihab-dalam-membolehkan-selamat-natalan
Kritik Ilmiyyah Atas Pemikiran Dr. Quraish Shihab (Bagian Pertama)
Kritik Ilmiyyah Terhadap Pemikiran Dr. Muh. Quraish Shihab (Bagian 2)
Tanggapan Terhadap M. Quraish Shihab Tentang Masalah Riba
Siapa Bilang Perdebatan Sunni-Syiah Sudah Usang
Koreksi Pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Quran
Membongkar hubungan Quraish Shihab dengan Syi'ah dan Penyimpangannya mengenai tafsir Jilbab.
Quraish Shihab, Tokoh Tafsir yang Akrab Dengan Kontroversi
Sebut Nabi Muhammad tak dijamin surga, Quraish Shihab keliru tafsirkan dalil
Sederet Kekeliruan Quraish Shihab dan Kurangnya Amanah Ilmiah
Bantahan tambahan terhadap Quraish Shihab ( syi'i) dan Ulil Abshar Abdalla (sepilis) yang membolehkan ucapan selamat natal
QURAISY SYIHAB [ bagian 2 ] Membolehkan "Selamat Natalan" dan Jilbab Tidak Wajib ( bag 1) ?
Membongkar Pemikiran Menyimpang Ulama Metro TV Quraish Shihab
Kritik Atas Tafsir Al-Mishba [bagian 1 ]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam Telah Dijamin Surga
Tafsir Husein Tabatabai [ Syi’ah ]
Membongkar hubungan Quraish Shihab dengan Syi'ah dan Penyimpangannya mengenai tafsir Jilbab.
Untuk Quraish Shihab, Umar Shihab, Alwi Shihab, Umar Shihab (Ketua Majelis Syuro IJABI), .....para Syi’aher militan……kamuflaser syi'aher.......para peternak “kambing hitam jahiliyah” wahabi dan pengadu domba NU-Wahhabi ??!! [ gemar menuding wahhabi/penghina ( sifat ) Allah, al-Wahhab ]….…..dan taqiyaher sejenis!!!!
[ Peristiwa Lama Melawan Lupa ] Prof. Dr. Quraish shihab, Umar Shihab, Azyumardi Azra, Amien Rais, dan Din Syamsuddin menyatakan mazhab syi’ah tidak sesat
Siapa Penggagas Agama Syiah?
Taqrib Sunni – Syiah Gagasan Usang Yang Diulang. Pengakuan Syeikh Al-Qaradhawi: ‘Iran Menipu Saya’
Jika Merujuk Pada Fatwa Super Grand Syaikh Al-Imam Malik Rahimahumallah Dan Al-Imam Al-Bukhari Rahimahumallah, Maka Prof.DR. ( Aqidah Dan Filsafat ) Ahmad Thayyib Kafir ?( berikut artikel terkait syiah lainnya )
Habib Zein Alkaf : Syi’ah Bukan Saudara, Tapi Musuhnya Ahlu Sunnah. Terkuak, Syaikh Al-Azhar Ke Indonesia Bersama Mufti Syi’ah Lebanon. MUI Sesalkan Pernyataan Muhammad Ath Thayyib Dan Tetap Akan Mengeluarkan Fatwa Tentang Kesesatan Syi'ah
Kehadiran Grand Syeikh Al Azhar At Thayyeb Di Indonesia Memperkuat Propaganda Sesat Syiah. Empat Imam Mazhab Dan beberapa Ulama Islam Terkemuka Menyatakan Syiah Bukan Islam. Syi’ah Saudara Muslim ? Jangankan Taqrib, Tasamuh Saja Mustahil ! Apakah Dia Pernah Baca Kitab-Kitab Rujukan Syiah ? Ulama Saudi ( Juga Penguasanya, Membela Umat Islam, Tidak Berlumuran Darah ) Gemanya Lebih Didengar Di Seluruh Dunia Islam.
Tahukah Anda Di Mana Allah?
Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?
Menimbang Syi’ah Ajaran Syi’ah, Rukun Iman: Hari Akhir
Apakah Point ke ( 2 ) Risalah Amman "Iman Kepada Qadha’ dan Qadar" Sesuai Dengan Keyakinan Syi'ah Rafidhi ?
Ucapan Dungu ( Ahmaq ) dan Bodoh ( Jaahil ) tokoh umat Islam dan tokoh masyarakat yang empati dan simpati dengan syiah.
Cuplikan Aqidah Busuk Syiah : Pantas Syiah Menghina Para Sahabat, Allah Saja Dihina
Apa Kata Ulama Tentang SYIAH? Meraka Mengatakan, SYIAH BUKAN ISLAM..
Jika Engkau Berkata Syiah Tidak Sesat, Maka…
Mengapa Syiah Begitu Akrab Dengan Non Muslim ( Alwi Shihab Mendukung Pemimpin dari Non Muslim ) ?
Mengapa Ulama Syiah Sangat Perhatian dengan Taqiyah?