Thursday, September 4, 2014

Trilogi Kisah Iran dan Daulah Shafawi: Munculnya Daulah Shafawi [ bagian 1 ]

Trilogi Kisah Iran dan Daulah Shafawi: Munculnya Daulah Shafawi (1/3)
BY HADI · APRIL 7, 2014

Dalam perjalanan sejarah Islam terdapat beberapa negeri yang memiliki pemikiran yang menyimpang dan melakukan kekerasan terhadap umat Islam untuk memaksakan pemikiran mereka. Seperti yang dilakukan negeri-negeri berpaham Syiah semisal; Daulah Fatimiyah, Qaramithah, Buwaihiyah, dan Shafawiyah. Cara negeri-negeri ini bergaul dengan masyarakat Islam yaitu dengan cara permusuhan, menolak pemikiran-pemikiran pihak lain dengan kekerasan dan terorisme, siapa saja yang menolak pemikiran mereka, maka kematian adalah jawaban yang tak terbantahkan. Selain itu, negara-negara ini tidak malu-malu menjalin aliansi dengan negara-negara Salib saat Perang Salib antara muslim dan Kristen sedang berkecamuk.
Oleh karena itu, apa yang hendak kami sampaikan ini sangat penting untuk kita petik hikmahnya agar kita bisa memahami realitas kekinian dengan membandingkan apa yang terjadi pada sejarah kita. Tidak diragukan lagi, dan kita melihat dengan mata kepala kita bahwa apa yang terjadi di masa lampau terulang kembali di era modern ini. Sulit bagi kita memahami apa yang terjadi saat ini, kecuali dengan membandikannya dengan peristiwa-peristiwa di masa lalu yang mirip keadaannya dengan masa kini.
Jika kita mendalami sejarah, maka kita bisa menentukan sikap dimana kita akan meletakkan kaki kita. Dengan memahami sejarah Daulah Shafawi, maka kita bisa melihat negara mana di era modern ini yang rekam jejaknya mirip dengan Daulah Shafawi.
Siapakah Yang Disebut Shafawi?
Nasab orang-orang Shafawi merujuk kepada Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili (650-735 H/1251-1334 M), ia adalah kakek kelima dari Syah Ismail as-Shafawi, pendiri Daulah Shawafiyah di Iran. Ardabil adalah sebuah wilayah yang terletak di Azerbaijan. Wilayah itu banyak dihuni oleh orang-orang Turki dan Armenia atau secara umum bangsa Turk menghuni daerah tersebut.
Sebagian orang menyatakan bahwa nasab Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili sampai kepada salah seorang putra ahlul bait, Musa bin Ja’far rahimahullah, orang Syiah menyebut beliau dengan Imam Musa al-Kazhim. Namun pendapat ini disanggah oleh para sejarawan dengan beberapa alasan:
- Istri dari Shafiyuddin Ishaq al-Ardabili, yang merupakan kerabatnya yang paling dekat tidak mengetahui nasab suaminya sampai kepada Musa al-Kazhim ‘alaihissalam (Tarikh ash-Shafawiyin wa Hadharatihim, Hal: 29).
- Para sejarawan Syiah di masa hidup Shafiyuddin Ishaq al-ardabili, tidak pernah menuliskan bahwa ia termasuk ahlul bait dari keturunan Musa bin Ja’far (Shilatun baina Tasawwuf wa Tasyyau’, Hal: 140.).
- Penulis-penulis pada masa Daulah Shafawi menisbatkan nasab Shafiyuddin Ishaq kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib, namun anaknya, Musa bin Shafiyuddin Ishaq, tidak tahu nasab ayahnya ini terhubung ke Husein atau Hasan.
- Pengakuan nasab tersebut hanya bertujuan politis untuk menjadi penguasa dan mendapat simpatik rakyat.
Berdirinya Kerajaan Shafawi, Rakyat Dipaksa Menjadi Syiah
Sebelum Daulah Syiah Shafawi berkuasa di Iran, wilayah tersebut dikuasai oleh orang-orang Mongol Dinasti Ilkhan. Madzhab resmi negeri ini adalah Ahlussunnah namun sudah terkontaminasi dengan paham tasawwuf.
Pada masa Shafiyuddin Ishaq, situasi politik di Iran dan sekitarnya dalam kondisi tidak stabil, rakyat merasa tidak puas terhadap pemerintahnya, perbuatan keji tersebar di kalangan penguasa, dll. Syiah membaca hal ini sebagai peluang mereka. Pada awalnya Syiah hanya sebagai gerakan keagamaan, namun pada masa al-Junaid –cucu Shafiyuddin Ishaq- gerakan madzhab ini berubah menjadi gerakan politik dan Sultan Haidar menetapkan bahwa nasab keluarga Shafawi bersambung dengan Musa bin Ja’far al-Kazhim (Tarikh ad-Daulah ash-Shafawiyah fi Iran, Hal: 38).
Deklarasi Syiah sebagai gerakan politik atau pengakuan masuknya kader Syiah dalam ranah politik bertujuan untuk memperluas pengaruh mereka dan sebagai sinyal perlawanan terhadap Dinasti Ilkhan yang mulai sakit. Gerakan perlawanan mereka dimulai pada masa Fairuz Syah yang memimpin revolusi perlawanan terhadap Ilkhan dan puncaknya dicapai pada masa Syah Ismail ash-Shafawi dengan berdirinya Daulah Syiah ash-Shafawi tahun 1501. Saat itulah madzhab resmi Iran berganti menjadi Syiah, dan rakyat dipaksa untuk memeluk pemahaman ini. Syah Ismail tidak peduli bahwa mayoritas rakyatnya adalah orang-orang berpaham Ahlussunnah. Ia mengerahkan seluruh kemampuan dan pengaruhnya untuk memaksa warga beralih madzhab menjadi Syiah.
Tidak berhenti memberlakukan kebijakan tersebut di dalam negerinya, Syah Ismail juga berupaya menyebarkan paham Syiah di Daulah Ahlussunnah seperti Daulah Utsmaniyah. Masyarakat Utsmani menolak keras ajaran Syiah yang pokok pemikirannya adalah mengkafirkan para sahabat Nabi, melaknat generasi awal Islam, meyakini adanya perubahan di dalam Alquran, dll. Ketika Syah Ismail memasuki wilayah Irak, ia membunuhi umat Islam Ahlussunnah, menghancurkan masjid-masjid, dan merusak pekuburan.
Pemimpin Utsmaniyah, Sultan Salim, menanggapi serius upaya yang dilakukan oleh Syah Ismail terhadap rakyatnya. Pada tahun 920 H/1514 M, Sultan Salim membuat keputusan resmi tentang bahaya pemerintah Iran ash-Shafawi. Ia memperingatkan para ulama, para pejabat, dan rakyatnya bahwa Iran dengan pemerintah mereka ash-Shafawi adalah bahaya nyata, tidak hanya bagi Turki Utsmani bahkan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan. Atas masukan dari para ulama, Sultan Salim mengumumkan jihad melawan Daulah Shafawiyah. Sultan Salim memerintahkan agar para simpatisan dan pengikut Kerajaan Shafawi yang berada di wilayahnya ditangkap dan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dijatuhi sangsi hukuman mati (Juhud al-Utsmaniyin li Inqadz al-Andalus).
Persekutuan Daulah Shafawiyah dengan Pasukan Salib Melawan Umat Islam
Peperangan antara Daulah Syiah Shafawi dengan umat Islam yang diwakili Turki Utsmani pun benar-benar terjadi. Sadar bahwa Turki Utsmani begitu besar untuk ditaklukkan, ash-Shafawi menjalin sekutu dengan orang-orang kafir Eropa yakni orang Kristen Portugal kemudian Kerajaan Inggris. Di antara poin kesepatakan kedua kelompok ini adalah Portugal membantu Shafawi dalam perang terhadap Bahrain, Qathif, dan Turki Utsmani.
Panglima Portugal, Alfonso de Albuquerque, mengatakan, “Saya sangat menghormati kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Nasrani di negeri kalian. Sebagai balas jasa, saya persiapkan armada dan tentara saya untuk kalian dalam menghadapi Turki Utsmani di India. Jika kalian juga ingin menyerang negeri-negeri Arab atau Mekah, saya pastikan pasukan Portugal ada di sisi kalian, baik itu di Laut Merah, Teluk Aden, Bahrain, Qathif, atau di Bashrah, Syah Ismail akan melihat saya di Pantai Persia dan saya akan melakukan apa yang dia inginkan.” (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin).
Tawaran kerja sama Portugal ini bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, mereka menginginkan membangun sebuah pangkalan di Teluk Arab. Bantuan kerja sama militer ini juga menjanjikan pembagian wilayah taklukkan; Shafawi mendapatkan Mesir dan Portugal diiming-imingi dengan tanah Palestina (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin). Pasukan Salib Portugal mengtahui, bekerja sama dengan negeri-negeri muslim Teluk atau mengadakan kontak senjata dengan mereka akan berbuah kegagalan terhadap misi mereka. Shafawi adalah pilihan tepat bagi mereka untuk masuk memuluskan misi mereka di dunia Arab.
Selain bekerjasama dengan Portugal, Shafawi juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Inggris untuk memerangi umat Islam di Irak. Di Irak mereka membunuh 7000 warga Ahlussunnah dari Suku Kurdi, melarang mereka menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan memaksa umat Islam di sana untuk berhaji ke Kota Masyhad, Iran, kota yang mereka yakini tempat kelahiran imam mereka, Imam Ali bin Musa ar-Ridha.
Inilah fakta yang terjadi, dibalik slogan-slogan persatuan ternyata ada tikaman dari belakang. Di balik kesan pahlawan, Syiah bagaikan serigala yang mengindati domba-domba yang akan dimangsa.
Pelajaran:
Sejarah mengajarkan kepada kita sebuah pengalaman berharga, betapa orang-orang Syiah melalui Daulah Shafawiyah (dan Daulah Fatimiyah, Qaramithah, dll) menaruh kebencian terhadap umat Islam. Mereka tidak pernah mengumandangkan jihad terhadap tentara salib berbeda halnya dengan umat Islam, mereka benar-benar menunjukkan permusuhan, melakukan pembunuhan dan pengrusakan, serta mengumandangkan peperangan. Sebaliknya mereka menjalin hubungan yang harmonis dengan pasukan salib dan Yahudi, bahkan terhadap orang-orang majusi penyembah api.
Hal serupa kita dapatkan di era modern ini, dimana kerajaan Shafawi modern, Republik Syiah Iran, melakukan hal yang sama dengan pendahulunya. Mereka berteriak-teriak lantang memerangi Amerika dan Israel, tapi tidak pernah kita dapati mereka berperang melawan Amerika dan Yahudi di Palestina. Sementara ribuan bahkan jutaan Ahlussunnah mereka bunuh. Dengan kekuatan media, mereka putar balikkan fakta bahwa negara-negara Ahlussunnah lah yang menjadi kaki tangan Barat Amerika dan pelindung Israel.
Pelajaran lainnya adalah Syiah selalu memanfaatkan instabilitas politik di suatu negeri untuk mencuri kekuasaan. Mereka memanfaatkan status ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahnya dengan iming-iming perubahan dan janji manis, namun kenyataannya jauh lebih parah dari yang kita bayangkan. Semoga Allah senantiasa melindungi negeri kita dari maker-makar yang dibuat oleh orang-orang Syiah..
Sumber:
- Tarikh ad-Daulah ash-Shafawiyah di Iran
- Majalah al-Furqon al-Kuwaitiyah, dll.
Oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com


Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir Ulama Pembela Sunnah

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir Ulama Pembela Sunnah
BY HADI · FEBRUARY 25, 2014

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir adalah seorang ulama yang layak digelari singa pembela sunnah dan ia juga merupakan salah satu tokoh yang paling dimusuhi oleh aliran-aliran sesat. Syaikh Ihsan merupakan seorang ahli hadits terpercaya dan ahli fikih yang dalam pemahamannya. Hidupnya diisi dengan khidmat menjaga syariat dari kelompok-kelompok yang menyimpang dan akhir kehidupannya adalah ibadah, menyampaikan ilmu di hadapan umat.
Masa Kecil
Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dilahirkan di Kota Siyalkut Provinsi Punjab, Pakistan pada tahun 1943. Ia tumbuh besar di keluarga sunni yang taat, yang terkenal memiliki perhatian dengan ilmu hadits. Kecerdasannya sudah tampak di usia yang sangat dini, terbukti dengan menghafalkan Alquran secara sempurna saat berusia 9 tahun. Pendidikan sekolah dasarnya tidak ia tempuh di sekolah agama (baca: pesantren), akan tetapi ia menempuh pendidikan di sekolah negeri.
Sejak kecil, beliau rajin menuntut ilmu agama di masjid-masjid. Kemudian belajar hadis di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Jundulawi dan Athallah Hanif di Kota Faisalabad.
Perjalanan Menuntu Ilmu
Pada tahun 1961 Ihsan Ilahi Zhahir mendapatkan gelar Licence-nya (Lc) dari  Universitas Islam Madinah jurusan syariah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Madinah, ia kembali ke negerinya Pakistan dan kembali belajar di Universitas Punjab mengambil jurusan Hukum dan Ilmu Politik. Dengan demikian beliau mendapatkan dua gelar Lc dengan jurusan yang berbeda.
Syaikh Ihsan terus menyibukkan dirinya dengan belajar di Universitas Punjab dan universitas-universitas lainnya dengan berbagai spesialisasi ilmu, di antaranya ilmu-ilmu syariat, politik, bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Ketekunannya dalam mengkaji ilmu di berbagai bidang membuatnya berhasil memperoleh sembilan gelar magister, luar biasa!.
Kesungguhannya dalam belajar begitu berkesan bagi Dr. Muhammad Luqman as-Salafi sehingga ia mengatakan, “Aku benar-benar mengenal mujahid ini (Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir). Ia telah menjual dirinya di jalan Allah lebih dari selama 25 tahun sejak dekat denganku di Universitas Islam Madinah. Selama empat tahun kebersamaan kami di Madinah, aku mengenalnya sebagai seorang yang cerdas melebihi pelajar-pelajar lainnya dalam belajar, membahas, dan diskusi. Dia telah menghafal ribuan hadits Nabi.
Saat keluar kelas, ia selalu membuntuti Syaikh al-Albani. Duduk bersamanya di pelataran kampus, lalu bertanya tentang permasalahan hadits, kaidah-kaidahnya, perawi-perawinya, dan berdiskusi bersama Syaikh al-Albani (tentang masalah-masalah lainnya pen.). Syaikh al-Albani pun sangat gembira mendengar dan menjawab pertanyaan darinya…”
Kesungguhannya Dalam Menjaga Syariat
Ketika menempuh studi di ilmu hukum, Syaikh Ihsan Ilahi Zahir juga menjadi imam dan khotib Masjid Ahlul Hadits di Lahore, pimpinan komunitas akademisi Islam, dan pimpinan redaksi Majalah Turjuman al-Hadits yang menginduk pada Universitas Ahlu al-Hadits di Lahore.
Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir memiliki perhatian yang besar dalam memerangi pemikiran-pemikiran menyimpang (baca: aliran sesat) yang banyak tersebar di negaranya, Pakistan. Karya-karya ilmiahnya dalam membantah pemikiran Syiah Itsna ‘Asyriyah, al-Qadiyaniyah (Ahmadiyah), dan Shufiyah menjadi rujukan yang berharga bagi umat Islam, khususnya dalam membantah pemikiran Syiah, buku-bukunya dikategorikan buku terbaik yang membahas pemikiran Syiah. Bantahannya yang ilmiah dan mendalam terhadap aliran-aliran sesat tersebut membuat para tokoh-tokoh kesesatan cukup kelimpungan dan tidak mampu membalasnya dengan argumentasi ilmiah serupa. Mereka hanya mampu melakukan ancaman dan tekanan terhadap Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, agar ia berhenti membicarakan kesesatan mereka.
Tidak hanya melalui buku dan karya tulis ilmiah, Syaikh Ihsan terus menyeru umat agar waspada terhadap pemikiran-pemikiran yang menyimpang tersebut melalui seminar-seminar, mimbar, dan pertemuan-pertemuan, di Pakistan, Kuwait, Irak, Arab Saudi, hingga Amerika. Semua itu beliau lakukan demi menjaga kemurnian syariat Islam.
Percobaan Pembunuhan
Jihad ilmiah yang dilakukan oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir tentu saja memicu kemarahan para pengekor hawa nafsu yang menyelisihi kebenaran sehingga menjadikan dirinya berada dalam ancaman bahaya. Khomeini, tokoh revolusi Iran, mengadakan sayembara untuk kepala Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir. Khomeini mengatakan, “Siapa yang bisa membawa kepala Ihsan, bagi dia ganjaran $2000.” 2000 dolar tentu saja bukan jumlah yang sedikit, apalagi di tahun 1988, angka senilai itu cukup menggiurkan. Beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap dirinya terjadi, Syaikh diberondong dengan peluru, namun ia masih selamat.
Wafatnya Sang Mujahid
Kehidupan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, kian hari kian terancam. Orang-orang ekstrimis Syiah kian geram dengan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang ia serukan, namun mereka tidak mampu membantahnya dengan pena-pena dan lisan-lisan mereka. Mengakhiri hidup Syaikh Ihsan adalah satu-satunya jalan bagi para pengikut hawa nafsu ini. Akhirnya kematian menjemputnya ketika beliau sedang berjihad menyebarkan ilmu dan membela sunnah.
Sehari sebelum wafatnya, Syaikh Ihsan duduk dalam acara debat yang berlangsung selama 6.30 jam dengan pihak-pihak yang meminta penetapkan Fiqih Hanafi Ja’fari (Madzhab Syiah) dengan fiqih-fikih yang lain. Ia menjawab, “Kami tidak menginginkan sebuah pengganti bagi Alquran dan sunah.” Nampak dalam perdebatan ini, bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir sangat kuat pendiriannya dalam membela kebenaran. Hingga, kemudian pada hari kedua, para hakim memutuskan hasil sidang bahwa kebenaran berada di pihak Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir.
Pada tanggal 23 Rajab 1407 H, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menghadiri sebuah seminar di Univeristas Ahlul Hadits. Peserta yang hadir sangat banyak, sekitar 2000 orang. Saat malam mulai larut, hampir menunjukkan pukul 11 malam, giliran Syaikh berbicara di hadapan khalayak. Kurang lebih 20 menit menyampaikan ceramahnya, sebuah pot yang terletak di depan podiumnya meledak. Jasad Syaikh Ihsan terpelanting 20 atau 30 m dari tempat berdirinya. Di masa-masa akhir hayatnya ia mengatakan, “Tinggalkan aku, pergilah perhatikan bagaimana keadaan yang lain.” Lalu ada seseorang yang menangis karena melihat Syaikh dalam keadaan sekarat, Syaikh menasihatinya, “Kalau engkau menangis, bagaiman engkau bisa menguatkan orang lain (atas kejadian ini).” Syaikh Ihsan segera dilarikan ke rumah sakit Lahore.
Kabar ini terdengar oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Pemerintah Arab Saudi segera mengambil tindakan cepat terhadap ulama pemberani ini, ia dirujuk ke rumah sakit militer di Riyadh agar ditangan dengan intesif. Namun sayang upaya itu tidak berhasil, pagi hari di awal bulan Sya’ban 1407 H, ruh Syaikh Ihsan terpisah dari jasadnya, ia pergi menghadap Rabnya Yang Maha Mulia.
Kehidupan Syaikh Ihsan telah ia isi dengan ilmu, amal, dakwah, dan jihad membela kemurnian syariat. Jasadnya diterbangkan ke Kota Madinah, kota yang memberikan banyak kesan dan kenangan untuknya, lalu ia dishalatkan di Masjid Nabawi dan dimakamkan di pemakaman Baqi’.
Sebuah kematian yang indah setelah mengisi usia dengan perjuangan dan pengorbanan demi Islam di berbagai negara. Imam Ibnu Katsir mengatakan
أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya barangsiapa menyibukkan diri/hidup dalam suatu hal, ia akan diwafatkan dalam melakukan hal tersebut.” (Shahih Tafsir Ibnu Kastir, 1: 347)

KARANGAN-KARANGAN BELIAU

1. SYIAH DAN SUNNAH (الشيعة و السنة)
Buku ini ditulis dan dicetak pada 18 Rabiutsani 1393 H atau 1973 M.
Yang mana kitab ini membuat para ayatullah heboh dan gundah, sehingga banyak kaum syiah bahkan Ulamanya yang taubat dari agama Syiah dan kembali ke pangkuan islam. Kitab ini telah membuka borok Syiah yang selama ini mereka tutup dengan topeng Taqiyahnya. Serta memberikan bukti otentik dari kitab rujukan asli mereka tentang hakikat sejati agama mereka yang berisi penghinaan terhadap Allah, Rasulnya, para sahabat nabi serta para imam Ahlussunnah waljamaah. Sekaligus buku ini menjadi pelopor akan kemunculan buku-buku setelahnya yang berbicara tentang aliran sempalan islam. Terlebih dari sisi keindahan bahasa serta argumentasi beliau yang sangat khas membuat para Ayatullah mati kutu.
2. SYIAH DAN AHLU BAIT (الشيعة و أهل البيت)
Dicetak terakhir pada tahun 1403 H atau 1983 M. Sebuah kitab yang membuka kedok busuk para Ayatullah dan syiah yang mengaku-ngaku mencintai Ahlibait Rasulullah. Namun didalam ini ternyata mereka justru membantai Ahlibait Rasulullah dengan berbagai tuduhan dan fitnah dusta yang tak terperi. Terlebih beliau juga sertakan bukti-bukti itu dari kitab suci mereka seperti Al-Kafi yang konon sebagai kitab paling suci setelah AlQur’an.
3. SYIAH DAN PERGERAKANNYA (الشيعة والتشيع)
Sebuah penelitian ilmiah dari sisi sejarah dan pecahan dari Syiah itu sendiri. Dianggap sebagai kitab yang terakhir yang beliau karang tentang agama Syiah. Yang mana buku ini apabila dibaca orang berakal maka akan kelihatan konyol dan dungunya agama mereka. Sampai-sampai otak terlemah pun akan menolak ajaran sesat yang dipenuhi hawa nafsu syahwat itu. Adapun kelebihan kitab ini, berisi sejarah tentang perubahan yang terjadi pada Agama Syiah dari masa ke masa.
4. SEKTE ISMAILIYAH( الإسماعيلية)
Sebuah kitab bantahan tentang sekte Ismailiyah yang terdiri dari dua bahasan utama, sejarah dan Akidah.
5. AL-BABIYAH    (البابية)
6. AL-QADIYANIYAH atau AHMADIYAH القاديانية))
Sebuah buku yang juga dikarang untuk bantahan bagi mereka yang mengaku ada nabi setelah Rasulullah SAW. Yang mana sejarah kemunculan Nabi palsu ini yaitu Mirza Gulam Ahmad tidak terlepas dari suruhan kaum penjajah Inggris yang menjajah India dan sekitarnya. Yang mana tujuan kaum Ahmadiyah sendiri adalah untuk memalingkan kiblat kaum muslimin dari Makkah Al Mukarromah ke India. Supaya kaum muslimin terpecah belah sehingga mudah bagi kaum penjajah Inggris menguasai mereka. Yang mana ketika itu, kaum muslimin sangat kuat lantaran persatuan mereka di kota makkah sehingga bala bantuan dari segala penjuru timur dan barat datang membantu mereka melawan penjajah.
7. Masih banyak lagi kitab-kitab karangan beliau tentang kesesatan Tarekat, Tasawuf, agama Kristen sebagai bawaan penjajah dan lain lain.

Di antara karya-karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah: Sejarah Hitam Tasawuf, Darah Hitam Tasawuf, Virus Syiah: Sejarah Alienisme Sekte, Mengapa Ahmadiyah Dilarang, dll.
Sumber:
- Ihsan Ilahi Zhahir wa Juhuduhu fi Taqriri al-Aqidah wa al-Rad ala al-Firaq al-Mukholafah
- Ihsan Ilahi Zhahir
- Islamstory.com
Disusun oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com


“Wahabi”, Black propaganda dan aroma “Syiah Rafidhah” –

“Wahabi”, Black propaganda dan aroma “Syiah Rafidhah”

Sebetulnya  mereka yang senang  atas gerakan wahabisasi ini adalah kalangan  orang – orang yang konsis kepada al Quran dan hadis, dimana dan kapanpun. Sebab, gerakan wahabi itu merujuk kepada tuntunan bukan kepada kebid`ahan, anti syirik dan senang tauhid. Mereka yang resah secara realita hanya kalangan ahli bid`ah dan syirik atau syi`ah. Dan sekarang sering kita membaca artikel yang sangat getol menyerang wahabi adalah artikel syi`ah. Lihat artikel sbb:

Oleh: AM Waskito
penulis buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi”

Di pojok kawasan Tebet, bermarkas sebuahmedia online, namanya Merdeka.com. Media apa ini ya? Ia media online umum yang memuat aneka macam berita, mulai dari politik, kasus sosial, gossip artis, gaya hidup, olah-raga, otomotif, bisnis, dan lain-lain. Pokoknya sejenis media online umum, tanpa ciri keislaman tertentu. 
Tetapi anehnya, media online yang koordinator liputannya bernama Anwar Khumaini ini sepertinya memiliki kavling khusus untuk membahas isu-isu seputar “Wahabi” dari perspektif orang-orang yang anti “Wahabi”. Banyak artikel yang berbicara tentang isu “Wahabi” dengan nada nyinyir, ketus, stigmatif, dan semacam black propaganda.  

Uniknya, berita-berita instan dari Merdeka.com menjadi rujukan banyak orang untuk memandang isu “Wahabi”. Dalam sebuah perdebatan dengan seorang penganut Syiah, dia merujuk berita dari situs online itu. Di forum FB ada yang memberikan link ke sumber yang sama. Melalui email juga ada yang memberikan link ke situs tersebut. 
Di sini terasa dilematik. Kalau kita anggap besar situsMerdeka.com ini, nanti akan menjadi promo tersendiri. Tetapi kalau didiamkan saja fitnah-fitnah atau black propaganda yang disebarkan, itu juga tidak benar. Mungkin sekali waktu kita perlu mengingatkan kaum Muslimin akan bahaya situs “recehan” semacam ini.  
Salah satu artikel yang dimuat dalam situs itu judulnya: ”Persekongkolan Bedebah Wahabi dan Bani Saud.”Dari model judulnya saja, kita bisa mencium aroma permusuhan layaknya kaum Syiah Rafidhah di balik tulisan ini.
Syiah Rafidhah dunia memang merasa perlu untuk memerangi dakwah Salafiy sebab mereka ini dianggap sebagai musuh paling sengit bagi Syiah Rafidhah. Agenda Syiah Rafidhah untuk menguasai negeri-negeri Muslim akan selalu terhalang, selama masih bercokol “Wahabi” disana
Sayyid M. Saidi, seorang tokoh Syiah Iran, pernah terus-terang menunjukkan kebenciannya kepada “Wahabi”. Dia mengatakan: “Kami menghormati semua mazhab Islam kecuali Wahabi karena mereka menentang dialog ilmiah, logis dan argumentatif. Mereka membunuh Muslim tak berdosa dan merusak masjid-masjid dengan mengatasnamakan Islam. Pesan kami kepada kaum Wahabi adalah jika mereka memiliki dalil untuk membuktikan kebenaran mereka, maka sampaikan kepada orang lain sesuai dengan logika, prinsip-prinsip, dan argumentasi, bukan dengan radikalisme dan pembunuhan massal.” (hidayatullah.com, 23 September 2013). 
Omongan sejenis ini kan tidak ada buktinya kalau dikaitkan dengan tulisan-tulisan stigma yang terus diproduksi oleh kaum Syiah seputar isu “Wahabi dan Saudi”.
Secara teori, mereka seperti pro dialog ilmiah dan argumentatif; tetapi secara kenyataan mereka menghalalkan penghancuran Ahlus Sunnah secara massif di negeri-negeri Muslim, seperti di Iran, Iraq, Suriah, Afghanistan, dan lain-lain
Sayyid Husein Al Mausawi, tokoh ulama Syiah yang bertaubat, mereka bunuh. Dr. Ihsan Ilahi Zhahir asal Pakistan yang sangat anti Syiah, juga mereka bunuh. Banyak ulama/da’i Ahlus Sunnah juga mereka bunuh, pasca Revolusi Khomeini tahun 1979
Kembali ke artikel Merdeka.com di atas. Di sana dijelaskan beberapa poin, antara lain: 
Muhammad bin Abdul Wahhab (sering dinisbatkan pendiri “Wahabi”) oleh gurunya disebut bodoh, arogan, suka melawan; Muhammad bin Abdul Wahhab menjalin aliansi dengan Muhammad bin Saud, aliansinya berlaku sampai sekarang; Kerajaan Saudi menyokong penyebaran dakwah “Wahabi” US$ 2 miliar setiap tahun; dan menyebutkan beberapa pendapat sumir dari sebagian ulama-ulama “Wahabi”. 
Gaya tulisan demikian persis sekali seperti model tulisan Idahram lewat buku-bukunya. Tidak ada niat dialog atau diskusi, selain menyebarkan propaganda hitam belaka.
Nanti ujungnya mempromokan akidah Syiah Rafidhah; supaya umat manusia kembali ke zaman penyembahan manusia kepada manusia lainnya (baca: imam dan ulama Syiah), setelah Allah anugerahkan Tauhid kepadanya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik
Pendapat-pendapat yang sumir harus dilihat konteksnya secara lengkap, tidak bisa “main crop” begitu saja. Ada kaidah yang berlaku, bahwa pendapat yang mengandung syak (keraguan) harus dipulangkan ke pendapat yang tsabit (teguh).
Kemudian tentang tuduhan bahwa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah itu bodoh, arogan, keras kepala. Ya, tergantung siapa yang memandang. Seorang ulama biasanya gurunya banyak; bisa puluhan, bisa ratusan. Kalau ada satu guru yang mencela, mungkin guru-guru yang lain memuji. 
Lalu aliansi Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Muhammad Al Saud pada tahun 1744 terus berlaku sampai sekarang. Hal ini dipertanyakan, sebab Kerajaan Saudi itu sifatnya jatuh-bangun hingga tiga kali. 
Ketika Saudi Jilid I dilenyapkan, maka semua perjanjian yang berlaku saat itu otomatis berakhir. Begitu juga ketika Saudi Jilid II dilenyapkan, maka perjanjian-perjanjian di dalamnya juga berakhir. 
Sebenarnya, dukungan Kerajaan Saudi kepada dakwah “Wahabi”, hal ini semata karena kesadaran mereka saja (atau pertimbangan politik karena melihat besarnya pendukung dakwah Salafiy di Saudi). Jadi tidak mesti dikaitkan dengan aliansi 1744 tersebut, sebab bukan rahasia lagi bahwa seringkali terdapat perbedaan persepsi antara ulama “Wahabi” dengan kebijakan kerajaan. 
Sedangkan nilai dukungan Kerajaan Saudi hingga US$ 2 miliar (setara Rp. 18 triliun) per tahun; ya itu perlu dijelaskan kalkulasi keuangannya secara rinci, tidak bisa “main teplok” begitu saja. 
Mungkin situs Merdeka.com mau berbagi kepada masyarakat tentang kalkulasi keuangan yang mereka ketahui. Termasuk juga mereka perlu membuat perbandingan kalkulasi keuangan anggaran-anggaran dari Iran untuk membiayai dakwah Syiah Rafidhah di Indonesia. Kalau mau fair, begitu kan?   
Ya akhirnya, black propaganda seputar dakwah “Wahabi” ini perlu kita jawab dengan komitmen “Laa ilaha illallah” yaitu untuk menghidupan peradaban Tauhid dan membersihkan dunia dari segala bentuk paganisme (kemusyrikan); dan“Muhammad Rasulullah” yaitu menghidupkan Sunnah Nabi Saw dan menjauhi ajaran-ajaran bid’ah yang berpotensi merusak Sunnah-nya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.*
AM Waskito, penulis buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi”
(hidayatullah.com)

[Kenapa Aliran Syi'ah Rafidhah Paling Benci Pada Aliran Salafy?]

Syi’ah Rafidhah adalah aliran yang di belakang berdusta, di depan berpura-pura. Betapa tidak, bukankah taqiyyah alias berdusta adalah salah satu asas agama penganutnya?! Karena itu, ulama mereka tanpa bergelar akademik formal pun, sebenarnya sudah bergelar profesor dalam bidang dusta dan pura-pura. Di antara kedustaan: memalsukan hadits, memelintir nash, menambah surat dalam Al-Qur’an dan masih banyak lagi.
Keaslian aqidah Rafidhah adalah borok, dan kesungguhan ritual Rafidhah adalah buruk. Namun, keduanya ditutupi mukena putih kebaikan. Covernya ‘Cinta Ahlul Bait’, atau semacamnya.
Dan Salafy -main jujur-jujuran- adalah aliran satu-satunya (ya, satu-satunya) yang paling konsisten membuka mukena-mukena mereka. Tampaklah keburukan aslinya wajah-wajah mereka.
Individu atau golongan yang tidak berintisab dengan Salaf mungkin tidak terima dengan paragraf sebelum ini. Mereka akan menggugatnya. Silahkan menggugat, tapi buktikan sekarang: ‘Aliran apa sekarang yang paling konsisten membuka borok-borok Syi’ah? Aliran Anda sendiri? Buktikan seberapa banyak dan seberapa konsisten!’ Gugatan mereka terhadap kenyataan ini bukan karena ini bukan kenyataan, melainkan karena:

–> Mereka sudah terlanjur sinis dengan yang disebut Salafy, atau:
–> Mereka tahu golongan mereka sendiri lesu sangat dalam memerangi Syi’ah, atau malah jangan-jangan:
–> Mereka tahu bahwa beberapa tokoh atau awam dari golongan mereka malah main mata dengan Syi’ah.
Nah, karena ‘Salafy’ (atau biasa mereka sebut ‘Wahabi’ saking tidak terimanya) rajin membongkar syubhat atau kekufuran Syi’ah Rafidhah, maka ia menjadi aliran yang paling paling dibenci.
Andai, andai saudara-saudara kita dari Ikhwanul Muslimin -misalnya-, adalah golongan yang paling menonjol dan nomor wahid dalam memerangi Syi’ah, pasti Syi’ah akan menjadikan IM sebagai pusat kebencian. Tetapi, karena itu tidak terjadi alias hanya permisalan saja di status ini, maka tidak terjadi. Dan semoga kita semua dapat bersama-sama bekerja sama belajar bersama mulai dari perkara kecil hingga besarnya agar dapat membentengi diri dan kaum muslimin dari Syi’ah Rafidhah, tidak peduli entah dia ternisbatkan pada Salaf, atau Ikhwan, atau Muhammadiyyah, atau Nahdliyyah, atau Persis, atau apapun itu namanya.
[Ketika Tersingkap, Seketika Mengamuk]
Jika orang jahat tersingkap kejahatannya, setelah berlarut tersembunyikan ia, maka orang jahat tersebut akan mengamuk, atau minimal melawan. Dan orang yang paling dia lawan sungguh-sungguh adalah orang yang paling menyingkap kejahatannya.
Begitu pula dengan Rafidhah, aliran yang bawahnya, atasnya, asasnya dan cabangnya penuh dengan virus-virus bid’ah, khurafat dan kufur. Mereka tidak bisa menyingkap kejahatan Ahlus Sunnah karena pada dasarnya Ahlus Sunnah tak punya kejahatan. Ahlus Sunnah (kita semua -alhamdulillah-) pada dasarnya mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah tanpa menganggap ada kemakshuman terpatri pada siapapun setelah wafatnya Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Begitu pula dengan pemuja kubur, atau golongan yang sedari dahulu dekat sekali (atau bahkan sudah terlanjur basah tenggelam dalam) syubhat kebid’ahan bahkan kesyirikan. Ketika diberikan pada mereka bayaan dan penjelasan yang sejelas-jelasnya dari kalam Allah, kalam Rasul, dan juga kalam para ulama pengikut kalam keduanya, dengan pemahaman generasi terbaik atau pengikut murni generasi terbaik, tiba-tiba mereka kesurupan. Yang tadinya tak pernah membaca kitab tebal dan merasa cukup dengan kitab Muqarrar golongannya, tiba-tiba jadi rajin baca kitab-kitab tebal. Bukan mencari kebenaran tujuannya, melainkan mencari-cari bagaimana kebenaran itu bisa sesuai hatinya.
Karena itu, seorang teman, yang mengetahui dengan baik beragam permasalahan antara kedua kutub atau kedua kubu tersebut, berkata, “Kehadiran Salafy ada keberkahan tersendiri. Jadi, teman-teman kami tiba-tiba mulai menelaah kitab-kitab besar. Andai golongan semacam Salafy tidak ada, tetaplah kami seperti ini.”
Sebenarnya penisbatan terhadap Salafy itu bukan hak khusus bagi orang-orang khusus dari golongan khusus; melainkan untuk siapapun dari kaum Muslimin yang sadar dan memang berusaha mengikuti jejak kaum salaf yang diwartakan oleh Nabi kita sebagai sebaik-baik generasi. Siapapun, dari manapun. Jikalau ada seorang yang sudah berusaha menujunya dan berjalan di atas jalur tersebut tergelincir sesekali, maka siapalah kita tak pernah tergelincir.
Dan, untuk mengikuti manhaj Salaf, Anda tidak harus ikut organisasi khusus, mencatat nama, harus berteman dengan orang tertentu dan harus punya logo tertentu. Anda hanya diwajibkan untuk berusaha mengetahui (mengilmui) nya, mengamalkannya, mendakwahkannya. Klaim ‘saya adalah Salafy’ tidaklah wajib dan tidaklah pula terlarang. Yang terlarang adalah klaimnya saja, padahal tiada usaha. Dan apalah arti klaim atau apalah arti dianggap sebagai ‘Salafy’ jika ternyata keseharian kita tak mencerminkannya?!
Namun, jika seseorang ingin menjadi seorang pro-Syi’ah, ia tak harus berikrar pula bahwa ia adalah seorang Syi’ah. Cukuplah menjadi simpatisan. Cukuplah membela Basyar Asad atau membela ulama yang membela Basyar Asad. Cukuplah juga Anda sinis terhadap suatu golongan karena kesinisan mereka terhadap Syi’ah.
Karena, untuk membela Syi’ah Rafidhah, tidak harus menjadi pemeluknya. Jadilah simpatisannya.
Jadi, tidak semua orang yang terkesan membela Syi’ah Rafidhah lantas layak disebut sebagai orang Syi’ah. Karena mungkin saja ia hanya simpatisan yang tidak tahu apa-apa tentang Rafidhah sementara hatinya memang menginginkan tidak ada pertengkaran. Yang semacam ini, kita selalu doakan kebaikan padanya dan semoga Allah berikan ilmu padanya dan pada kita untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Namun, adakalanya simpatisan Rafidhah itu sebenarnya TAHU kegilaan aliran kufur tersebut, namun disebabkan hiqd (kedengkian) atau intiqaam (dendam) atau memang ghill (kebencian) terhadap aliran Salafy, maka yang seperti inilah yang disukai oleh ulama-ulama Rafidhah, sehingga saya pernah mendengar seorang dari mereka berkata (melalui rekaman yang tak jauh dari ini maknanya):
“Di antara masyarakat Sunni, ada orang yang asalnya bukanlah orang kami (Syi’ah), namun mereka membantu dan membela kami di hadapan orang-orang Sunni. Merekalah sebenar-benar orang Syi’ah!”
(Saya tidak concern Anda tidak terima golongan Anda tidak disebut sebagai golongan yang paling melawan Syi’ah; sebagaimana tidak concern-nya ulama-ulama golongan Anda terhadap serangan Syi’ah pada Ahlus Sunnah. Bisakah kelak kita semua bekerjasama melawan Syi’ah? Harus bisa!)
Ya! Harus bisa!
(nahimunkar.com)

Mempreteli Syi’ah Rafidhah

Decrease Font SizeIncrease Font SizeText SizePrint This Page Send by Email
Kenapa Syi'ah Rafidhah Paling Benci pada Salafy?


Ilustrasi: Kota Qom di Iran mencatat angka tertinggi kedua penderita AIDS.Demikian juga dengan angka pecandu kokain jenis “crack”, tercatat bahwa satu dari tiga orang di kota Qom adalah pecandu opium.
Kota Qom juga tercatat sebagai kota yang paling banyak menggunakan minuman keras oplosan yang mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan kematian atau hilangnya penglihatan, sebagaimana yang pernah terjadi dalam peristiwa peringatan “Iedun Nairuz”./ fairuz-ahmad

Mau main jujur-jujuran atau main bohong-bohongan?
Kalau mau main jujur-jujuran, Syi’ah Rafidhah paling benci pada Salafy, atau yang biasa sebagian orang sebut ‘Wahabi’, atau yang kini malah dituduh sebagai ‘Takfiry’, atau yang sebagian ulama Rafidhah sebut sebagai ‘Bakry’, atau ‘Umary’, atau ‘Nashiby’; yang ketiga sebutan terakhir lebih condong dimutlakkan pada keumuman Ahlus Sunnah (istilah umum, mencakup seluruh aliran non-Ahlusy-Syi’ah).
Dan kalau mau main jujur-jujuran, di antara aliran-aliran yang ada dalam kontemporer Islam, yang sebenarnya paling dekat dengan aliran Syi’ah Rafidhah (entah sengaja atau tidak) adalah aliran Tasawwuf; yakni jenis keumuman Tasawwuf yang bergelimang dengan ritual-ritual baru bahkan keyakinan batil.
Keseragaman Rafidhah dan Tasawwuf ada di beberapa gambaran. Mulai dari suka main macam-macam ke kuburan, berlebihan dalam mengagungkan para imam atau wali, glamour dalam masalah hadits-hadits palsu, berbangga dengan kebid’ahan (yang katanya sebagian bid’ah adalah hasanah), mendahulukan tradisi nenek moyang yang tak valid dalam agama dibandingkan dalil yang valid dalam agama, hingga dari segi perlawanan terhadap apa yang disebut kini aliran ‘Salafy’, atau ‘Wahabi’ (kata mereka), atau sebutan lainnya.

Tentu banyak yang tidak terima Salafy disebut Ahlus Sunnah.
Tentu mereka tidak terima Salafy disebut Salafy, tetapi ‘Wahabi’ instead.
Tidak cukup dengan perendahan itu, maka tambahlah dengan sebutan ‘Takfiry’, ‘Khawarij’, ‘Bakry’, ‘Umary’, ‘Nashiby’ dan seterusnya. Yang penting: Salafy tidak boleh disebut Salafy. Ya sudah, silahkan.


Diterbitkan pada 03 June 2013

PENGAKUAN SYAIKH AL-QORDOWI : ULAMA SAUDI LEBIH PAHAM DARI PADA DIRINYA
(oleh : Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyah hafizohulloh)

Syaikh Al-Qordhowi berkata :

مشايخ السعودية كانوا أنضج مني لأنهم عرفوا حقيقة ما يسمى "حزب الله" في حين كنت أدافع عنه إنه حزب الشيطان

"Para ulama Saudi mereka lebih matang dari pada saya, karena mereka mengetahui hakekat kelompok yang disebut Hizbullah, di saat aku membela kelompok tersebut, sesungguhnya kelompok tersebut adalah Hizbus Syaithon" (Al-Qordhowi juga berkata : "Aku beberapa lama menentang para ulama Saudi dan demi Allah aku dulu membela dan mengajak untuk menolong Hasan Nasrullah (penolong Allah), padahal ia adalah penolong syaitan, ia menamakan kelompoknya dengan hizbullah akan tetapi hakekatnya adalah hizbut Thooguut, hizbus Syaitan), mereka adalah pendusta…"  silahkan lihat pernyataan beliau di http://www.youtube.com/watch?v=sWBF9Pd3A04, lihat juga http://m.al-marsd.com/c-72534/, lihat juga http://m.eramuslim.com/berita/dunia-islam/qardhawi-bagaimana-mungkin-100-juta-syiah-di-seluruh-dunia-mengalahkan-muslim-17-miliar.htm)

Syaikh Al-Qordhowi hidup dalam kebingungan dan kebimbangan. Beliau memiliki sikap-sikap yang berubah-rubah dan kontradikitif, terutama yang berkaitan dengan syi'ah.

Terkadang beliau berkata ايران لنا فيها قدوة حسنة "Iran adalah teladan yang baik bagi kita", terkadang beliau berkata, لا تتدخلي يا ايران في شؤون مصر "Wahai Iran janganlah engkau ikut campur urusan Negara Mesir", diwaktu yang lain ia berkata, لا يجوز دعوة السني الي التشيع ولا حتى دعوة الشيعي إلى التسنن "Tidak boleh mendakwahi seorang sunni kepada ajaran syi'ah, dan demikian pula bahkan tidak boleh mendakwahi seorang syi'ah kepada ajaran sunnah".

Lalu ia menunggangi hawa nafsunya –dan dia menyangka bahwa dirinya pantas untuk memimpin kaum muslimin-, bahkan agar ia menjadikan dirinya pemimpin para ulama maka iapun segera mendirikan "Persatuan Ulama Muslimin", ia menjadikan dirinya sebagai pemimpin dan menjadikan wakilnya seorang syi'ah rofidhoh dari Iran yaitu Ayatullah At-Taskhiri. Dan nama wakilnya tersebut sesuai dengan hakikat orangnya (makna At-Taskhiri adalah yang dikuasakan) yaitu ia adalah dikuasakan untuk kepentingan Iran, dimana jika beliau Al-Qordhowi meninggal maka jadilah seorang syi'ah rofidoh dari Iran ini menjadi pemimpin ulama kaum muslimin…??!!

          Akan tetapi pada hari ini beliau Syaikh Al-Qordowi telah mengucapkan pengakuannya yang hakekatnya merupakan pukulan terhadap fatwa-fatwa beliau yang lalu…

Sesungguhnya kami berterima kasih kepada Syaikh Al-Qordhowi atas pengakuannya bahwa para ulama saudi lebih matang daripada beliau, karena para ulama Saudi telah mengetahui hakikat Hizbullah yang sesungguhnya.

Akan tetapi sungguh indah jika beliau Syaikh Al-Qordowi –yang sudah berusia lanjut dan akan berpisah dari dunia yang hina ini- juga mengakui bahwasanya para ulama Saudi lebih matang daripada dirinya tentang hukum haramnya riba, haramnya music, haramnya berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram), haramnya nikah seorang wanita muslimah dengan lelaki kafir, haramnya mendoakan rahmat bagi orang-orang kafir yang meninggal, haramnya persaudaraan boneka dengan orang-orang kafir, yang semua ini melemahkan aqidah al-walaa' wal baroo' dan mendatangkan kemurkaan Allah, takala beliau menjadikan Fir'aun, Abu Lahab, dan George Bush merupakan saudara-saudara bagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam..

Sungguh sangat indah jika beliau syaikh Al-Qordhowi juga mengakui kesalahannya yang telah melukai perasaan satu setengah milyar kaum muslimin tatkala beliau siaran langsung di hadapan kamera lalu berdoa kepada Allah agar Allah merahamati Paus (pengusung) salib dan akidah trinitas, dan aqidah Allah punya anak, dan beliau juga berdoa agar Allah menganugerahkan kepada umat Nasrani "Paus yang lebih baik" dalam rangka berkhidmah kepada salib dan trinitas…

Yang sesungguhnya merugi (akibat fatwa-fatwa beliau yang menyimpang-pen) adalah orang-orang awam yang mengikuti fatwa-fatwanya yang menghalalkan perkara-perkara yang haram. Betapa banyak wanita muslimah yang akhirya rido dinikahi oleh lelaki nasrani dengan dalih fatwanya Syaikh Al-Qordhowi…, betapa banyak muslim pemiliki café di Kanafa dan Amerika yang menjual bir karena fatwa beliau… betapa banyak kaum muslimin yang melakukan transaksi riba lalu membeli sebuah rumah atau dua dan tiga rumah dikarenakan fatwa beliau…

Yang semakin membuat jengkel adalah setiap waktu beliau Syaikh Al-Qordhowi senantiasa mencari-cari kesempatan untuk mencela salafiyin dengan perkataannya, terkadang beliau mencela salafiyin yang tidak paham fikih realita (kontemporer), terkadang beliau membanggakan fatwa Syaikh Abdullah bin Judai' yang menghalalkan music (karena Abdullah bin Judai' dahulu salah satu da'i salafiyin) yaitu Abdullah bin Judai' telah bertaubat dari salafiyah sehingga menghalalkan music.

Betapa tersakitinya kaum muslimin dengan perkataan beliau أنا شخصيا أستمع لفيروز وفائدة احمد وأم كلثوم "Saya sendiri mendengarkan nyanyia Fairus, Faidah Ahmad, dan nyanyian Ummu Kaltsum".

Seandainya beliau juga sadar dari kesalahan-kesalahannya yang lain dan mengakui bahwasanya para ulama Saudi lebih matang dari pada beliau tentang fikih mereka tentang hukum-hukum Islam dan dalam mengenal halal dan haram.
Ditulis oleh : Abdurrahman bin Muhammad Dimasyqiyah pada 22 Rojab 1434 H. (Diterjemahkan dan diringkas oleh Firanda Andirja)
www.firanda.com



Mengenal Kerajaan Syiah, Daulah Fatimiyah

Mengenal Kerajaan Syiah, Daulah Fatimiyah
BY HADI · DECEMBER 9, 2013

Pembahasan mengenai Daulah Fatimiyah adalah pembahasan yang menarik, karena kontroversi yang ditimbulkan oleh daulah ini cukup menggegerkan dunia Islam. Ada yang mengatakan kerajaan ini memiliki sumbangsih besar mengenalkan umat Islam pada ilmu pengetahuan, karena merekalah yang membangun Universitas al-Azhar. Di sisi lain, kerajaan ini dikatakan sebagai kerajaan ekstrim yang intoleran, menindas muslim Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah kerajaan yang dipenuhi dengan penindasan, penipuan, dan penyimpangan dari ajaran Islam juga menjadi sisi lain yang perlu diangkat dan diketengahkan.
Akidah Syiah Ismaailiyah
Sebelum membahas kekuatan politik Daulah Fatimiyah, terlebih dahulu kita membahas ideologi kerajaan ini, karena inilah yang melandasi gerakan politiknya. Daulah Fatimiyah adalah sebuah kerajaan yang berideologi Syiah, lebih tepatnya Syiah Ismailiyah. Syiah Ismailiyah adalah sekte Syiah yang meyakini bahwa Ismail bin Ja’far adalah imam ketujuh, adapun mayoritas Syiah (Syiah Itsna Asyriyah) meyakini bahwa Musah bin Ja’fa-lah imam ketujuh setelah Ja’far ash-Shadiq. Perbedaan dalam permasalahan pokok ini kemudian berkembang ke berbagai prinsip ajaran yang lain yang semakin membedakan ajaran Syiah Ismailiyah dengan Syiah arus utama, Syiah Itsna Asyriyah, sehingga ajaran ini menjadi sekte tersendiri.
Ismailiyah memiliki keyakinan yang menyimpang jauh dari ajaran dan akidah Islam. Sebagaimana sekte Syiah lainnya, Syiah Ismailiyah juga meyakini bahwa para imam terjaga dari perbuatan dosa, mereka adalah sosok yang sempurna, dan tidak ada celah sama sekali. Para imam juga dianggap memiliki kemampuan-kemampuan rububiyah, pendek kata, para imam merupakan perwujudan Tuhan di muka bumi.
Tentu saja pandangan Ismailiyah ini bertentangan dengan nilai-nilai tauhid yang diajarkan Islam. Mereka mengultuskan para imam mereka sebagaimana Nasrani mengultuskan Nabi Isa ‘alaihissalam. Atas dasar ini, para ulama menyimpulkan bahwa Syiah Ismailiyah bukanlah bagian dari Agama Islam. Dengan demikian, otomatis Daulah Fatimiyah tidak dianggap sebagai kerajaan Islam dan peninggalan-peninggalan mereka juga tidak dikategorikan sebagai warisan budaya Islam.
Munculnya Dinasti Fatimiyah
Setelah mengetahui dasar ideologi Syiah Ismailiyah, umat Islam menolak ajaran ini dengan terang-terangan, akibatnya orang-orang yang berpegang pada ajaran ini menyembunyikan keyakinan kufur mereka. Sepanjang tahun 800-an hingga awal 900-an M, mereka menyebarkannya kepada orang-orang awam secara sembunyi-sembunyi. Strategi ini mereka lancarkan mulai dari Maroko hingga ke India. Akhirnya pada tahun 909 M, mereka mulai menetapkan berdakwah secara terang-terangan dan mulai berpengaruh di dunia Islam.
Pada tahun 909 M, di Tunisia, seseorang yang bernama Said bin Husein yang memiliki laqob Ubaidullah al-Mahdi Billah memproklamirkan diri sebagai khalifah Daulah Fatimiyah. Ubaidullah al-Mahdi menuntut kepada pengikut sekte Syiah Ismailiyah untuk menaatinya karena dia mengklaim dirinya sebagai imam dalam sekte Syiah Ismailiyah yang memiliki hubungan darah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdari jalur putri beliau Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dari sini terambil nama Fatimiyah). Para ulama telah membantah klaim nasab Ubaidullah al-Mahdi ini, oleh karena itu mereka menyebut Daulah ini dengan Daulah Ubaidiyah bukan Daulah Fatimiyah.
Untuk memperkuat kerajaan barunya, Ubaidullah al-Mahdi mengakomodir orang-orang Barbar di Afrika Utara sebagai kekuatan militer. Ia berhasil mempengaruhi orang-orang Barbar yang sudah kecewa dengan Dinasti Aghlabiyah di Afrika Utara dan menjanjikan posisi yang baik dan balasan yang memuaskan apabila mereka bergabung dengan Daulah Fatimiyah.
Usaha Ubaidullah al-Mahdi tidak sia-sia, orang-orang Barbar dengan berbagai sukunya berhasil diajak bergabung dan membantunya menaklukkan Daulah Aghlabiyah. Di Kota Raqqadah bekas istana Aghlabiyah pemerintahan Ubaidullah al-Mahdi dimulai. Dari sini kekuasaanya mulai meluas dari Afrika Utara, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libia, Sisilia, dan Malta berhasil jatuh dan tunduk di bawah kekuasaannya. Keberhasilan Daulah Fatimiyah ini tentu saja menjadi teror bagi mayoritas umat Islam, terlebih khusus kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.
Daulah Fatimiyah Menguasai Mesir
Pada tahun 969 M, Fatimiyah sudah memiliki kekuatan yang cukup besar, inilah saatnya menakulkkan wilayah yang besar, strategsi, dan memiliki pengaruh dan prestise, yaitu Mesir. Saat itu, Mesir dipimpin oleh Dinasti Iksidiyah yang dipercayakan penguasa Abbasiyah untuk bertanggung jawab di Mesir dan wilayah kota suci: Mekah, Madinah, dan Jerusalem. Daulah Fatimiyah berhasil menaklukkan Dinasti Iksidiyah sehingga secara otomatis tiga kota suci tersebut jatuh ke wilayah kekuasaan Fatimiyah. Setelah itu, mereka menjadikan Kairo sebagai ibu kota kekhalifahan.
Di akhir tahun 900-an M, daulah ini menjadi sebuah kekuatan adidaya, mereka menguasai sebagian besar dunia Islam, kekuasaan mereka terbentang dari Maroko hingga Suriah. Saat inilah para orientalis menyebut bahwa Daulah Fatimiyah mencapai masa keemasan dan mempraktikkan nilai-nilai toleran antara umat beragama. Namun kenyataannya, teloransi di masa Daulah Fatimiyah hanyalah mitos belaka, bahkan nilai-nilai toleran itu semakin buruk saat mereka berhasil menaklukkan Mesir. Para orientalis menyebut masa itu sebagai masa toleransi semata-mata karena saat itu populasi Yahudi dan Kristen semakin besar di dunia Islam.
Mengapa kita katakan hal itu hanya mitos? Berikut ini data-data sikap intoleran yang dipraktikkan Daulah Fatimiyah, sekaligus membantah klaim para orientalis tersebut.
Orientalis berpendapat bahwa pada masa Fatimimiyah pertumbuhan populasi Yahudi dan Kristen cukup besar dan orang-orang Fatimiyah secara terbuka bekerja sama dengan orang-orang ahlul kitab ini. Kita katakan, hal ini bukanlah hal yang baru dalam perjalanan sejarah umat Islam. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah juga terbuka dan profesional bekerja sama dengan orang-orang non-Islam. Bahkan pada masa Abbasiyah hal itu sangat tampak kentara. Pemerintah Abbasiyah terbuka mengundang orang-orang ahlul kitab, bahkan orang-orang pagan (penyembah berhala) Yunani untuk memasuki Baghdad. Mereka dimanfaatkan oleh Abbasiyah untuk membangun kejayaan umat Islam.

Pada masa kekuasaan Fatimiyah, orang-orang Sunni dilarang memasuki Kota Jerusalem
Dalam perspektif Islam, justru Fatimiyah tidak menerapkan sistem yang longgar bagi orang-orang Sunni atau Ahlussunnah. Sunni dipaksa menyebutkan nama-nama kahlifah Fatimiyah dalam setiap khutbah Jumat, orang-orang Syiah Ismailiyah diperbolehkan bahkan dimotivasi untuk berkunjung ke Jerusalem, sedangkan orang-orang Sunni dilarang melakukan hal itu  (Jerusalem: The Biography, Hal. 204).
Fatimiyah juga memiliki hubungan yang dekat dengan orang-orang Qaramitah di Semenanjung Arab. Duet ini bertanggung jawab atas tindakan-tindakan ofensif terhadap kaum muslimin di wilayah tersebut. Tahun 906 M, mereka menyerang kafilah jamaah haji yang hendak menuju Mekah yang mengakibatkan 20.000 jamaah terbunuh. Tahun 928 M, Qaramitah dipimpin oleh Abu Thahir menyerang Mekah, membantai penduduknya, danmencongkel Hajar Aswad. 22 tahun kemudian baru mereka kembalikan Hajar Aswad ke Mekah setelah diberikan tebusan (A History of Medieval Islam, Hal: 130). Imam Ibnu Katsir “Dia (Abu Thahir) telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya.” (al-Bidayah wan Nihayah, 11:190-192).
Secara keseluruhan, masa pemerintahan Fatimiyah adalah penderitaan bagi Ahlussunnah, mereka melakukan penganiayaan dan memaksa Ahlussunah untuk menganut keyakinan kufur Ismailiyah. Ribuan Ahlussunnah dibunuh lantaran mereka menolak untuk menghina para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam(The History of Islam, Hal: 269). Puncaknya terjadi pada masa khalifah Fatimiyah, al-Hakim bi Amrillah (996-1021 M), ia menyiksa orang-orang selain dari Syiah Ismailiyah termasuk juga orang-orang Yahudi dan Kristen. Semua gereja dan sinagog di Jerusalem dihancurkan atau minimal ditutup, sampai-sampai orang-orang Yahudi dan Kristen harus berpura-pura menganut agama Syiah Ismailiyah (Jerusalem: The Biography, Hal: 208). Ia memerintahkan penghancuran makam suci bagi umat Kristen (History of The Arabs, Hal: 792). Buah dari perbuatannya ini adalah pecahnya Perang Salib. Sehingga kita bisa menggarisbawahi bahwa Perang Salib bukanlah dipicu oleh Islam dan umat Islam, hal itu disebabkan oleh tingkah laku al-Hakim bi Amrillah dan doktrin Syiah Ismailiyahnya, terlebih dia juga termasuk imam dalam ajaran Syiah Ismailiyah bahkan dia mengklaim bahwa dirinya adalah penjelmaan Allah (History of The Arabs, Hal: 792).
Keruntuhan Kerajaan
Kemunduran Daulah Fatimiyah dimulai ketika Khalifah al-Zahir wafat dan digantikan oleh anaknya yang masih berumur sebelas tahun, Ma’ad al-Muntashir. Ia berkuasa hampir selama enam puluh tahun, dari 1035-1094 M. Pada masa pemerintahannya wilayah Fatimiyah yang luas menyusut sedikit demi sedikit hingga lebih kecil dari wilayah Mesir sekarang. Pada masa itu kekacauan terjadi dimana-mana; kericuhan dan pertikaian terjadi di antara orang Turki, Barbar, dan Sudan, kekuasaan negara lumpuh, kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun pun melumpuhkan perekonomian negara. Kemudian masa-masa setelahnya terus digantikan oleh khalifah-khalifah belia yang bahkan belum menginjak usia akil balig.
Daulah Fatimiyah
Wilayah kekuasan Daulah Fatimiyah di masa keemasannya
Pembunuhan dan perebutan tahta mulai terjadi, perekonomian kacau, pajak naik untuk mencukupi kebutuhan kerajaan, dan ketidakstabilan terjadi dalam banyak hal. Keadaan semakin parah dan rumit dengan datangnya Pasukan Salib dan serangan balasan dari Almaric, Raja Jerusalem. Keadaan menyedihkan itu diakhiri oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada 1171 M, ia meruntuhkan Daulah Fatimiyah dan menurunkan khalifahnya yang terakhir dari tahtanya.
Diantara peninggalan Daulah Fatimiyah yang paling berharga adalah Universitas al-Azhar yang semula mencetak sarjana-sarjana Syiah kemudian diganti oleh Shalahuddin menjadi universitas yang mencetak tokoh-tokoh Sunni.
Sumber:
- Hitti, Philip K. 2008. Terj: History of The Arabs. Jakarta: Serambi.
- lostislamichistory.com
- islamstory.com
Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com